Komunitas DUDUNG.NET
July 29, 2010, 08:09:49 PM *
Welcome, Guest. Please login or register.
Did you miss your activation email?

Login with username, password and session length
News: Selamat Datang Di Komunitas DUDUNG.NET, manfaatkan forum ini, dan kembangkanlah pengetahuan anda tanpa batas..!!
 
   Home   Help Search Calendar Login Register  
Pages: [1]   Go Down
  Print  
Author Topic: Antara pluralis dan toleransi  (Read 2409 times)
0 Members and 1 Guest are viewing this topic.
abu_ahmad syafiq
Hero Member
*****

Reputasi: 0
Gender: Male
Posts: 608


Rumah sederhana tapi penuh cinta


View Profile Email
« on: February 12, 2008, 09:20:55 PM »

Anis Malik: ”Pluralisme Agama, Ancaman bagi Agama-agama”     
Kamis, 16 Agustus 2007 
Hidup tanpa toleransi sangat tidak mungkin. Tapi toleransi bukan pluralisme. Sebab, pluralisme agama, justru musuhnya agama-agama

Hidayatullah.com—Kesimpulan ini disampaikan oleh Dr. Anis Malik Toha, dosen perbandingan agama di Universitas Islam Antarbangsa (UIA) Malaysia saat diskusi INSISTS, Malaysia  bertajuk ’pluralisme agama’ yang dihadiri tidak kurang 20-an orang. Anis, demikian panggilannya, adalah pakar bidang ’pluralisme agama’ yang pertama di Indonesia.

Menurut Anis, istilah ''pluralisme agama' sudah banyak sekali ditulis di media dan diuraikan di berbagai forum ilmiah.Dari segi istilah, sebenarnya, bukan suatu yang asing. 

Dalam penjelasannya, Anis menjelaskan bahwa ’pluralisme agama’ ini sangat  menantang kita semua, karena yang dilakukakan oleh pengusung ide ini memang secara terang-terangan ingin membongkar dan mempertanyakan sesuatu yang mapan, establish, di dalam agama.

Mereka, kata Anis,  menganggap kemapanan ini merupakan biang keladi kemunduran dan keterpurukan umat Islam secara umum. Oleh karena itu, semua konsep, tatanan yang mapan dalam Islam ingin dirombak sedemikian rupa, sehingga menurut tujuan mereka, umat Islam betul-betul searah dan seirama dengan perkembangan zaman. Dari sinilah zaman itu menjadi segala ukuran, sementara apa yang ada dalam tataran agama ini menjadi tunduk kepada zaman.

Karenanya, apa-apa yang dipahami dan di yakini secara tradisional oleh umat beragama dianggap salah (jika perlu, dibetulkan) karena harus disesuaikan dengan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), kesetaraan gender, sekularisme, humanisme, dan lainnya. Hal itulah yang kemudian mengkristal menjadi pluralisme agama.

Munculnya ideologi-ideologi modern itu, ujar Anis, sebenarnya sudah merupakan ”semi-agama”. Hal ini, sudah dikemukakan oleh beberapa kalangan filosof dan teolog Barat, semisal Paul Tillich. Tillich, (1886–1965) dalam bukunya ”Christianity and the World Religion”,  memandang, mengemukanya ideologi-ideologi modern --seperti humanisme, demokrasi, sekularisme, marxisme, ateisme dan isme-imse lainnya-- dipahami tidak sekedar ideologi semata, tapi lebih merupakan ”semi agama” atau quasi religion. Dikatakan seperti itu karena, ideologi-ideologi di atas nyatanya menjadi pemasok utama terhadap nilai-nilai, norma-norma yang membingkai cara pandang manusia (worldview) di dalam melihat dan menghukumi segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Sehingga, quasi religion ini tidak saja sebagai saingan bagi agama yang resmi (propper religion), tapi lebih merupakan ancaman yang sangat berbahaya.

Dalam paparannya, Anis yang juga Khatib 'Aam Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia ini dalam paparannya juga menjeskan bahwa pluralisme agama  pada awalnya lebih terkait dengan ideologi politik, dengan mulai munculmnya ide-ide demokrasi pada periode modern, yang diperkenalkan oleh John Locke (1632–1704), Montesquieu (1689-1755), dan Jean Jacques Russou (1712–1778), yang kemudian nilai-nilai politik ini mau tidak mau harus bersinggungan dengan agama. Hal itu karena masyarakat pada umumnya tidak pernah bisa lepas dari a state of belief system.

Para pendiri Amerika Serikat, dan yang paling getol adalah Benjamin Franklin (1706–1790), sangat menyadari keberagaman ideologi masyarakatnya, sehingga sangat bernafsu memunculkan”public Religion”, agama pemersatu ideologi-ideologi masyarakatnya. Menurutnya, suatu negara yang plural memerlukan suatu agama yang sepatutnya dipeluk oleh semua penguhuni negara tersebut. Agama publik, menurutnya, diambil dari unsur-unsur yang baik dari semua agama, agama yang dipeluk oleh masyarakat Amerika Serikat. Agama inilah yang diharapkan memberi framework kepada masyarakat untuk hidup secara damai dengan berbagai latar belakang agama dan keyakinan.

Hal senada juga diungkap Russou dengan bukunya ”The Social Contract and Discource”, yang sezaman dengan Benjamin Franklin, ternyata menteorikan juga tentang cita-cita ”Civil Religion”. Dan dari dialah istilah ini pertama kali muncul.

Pluralisme Agama Bukan Pluralitas Agama

Munculnya pemahaman pluralisme agama ini sebenarnya banyak aspek yang ikut memberikan konstribusi. Baik aspek politik, agama, sosial, dll, dengan mesin perobahnya adalah metode hermeneutik untuk merombak pemhaman yang lama. Pada akhirnya, di dunia Kristen, baik Protestan dan Katolik, sama-sama menggelindingkan dan mendukung paham pluralisme agama, antara thn 1960-1970-an, sehingga istilah pluralisme agama ini sudah mulai masuk ke istilah-istilah akademis, baik di universitas-universitas, di ensiklopedi-ensiklopedi, buku-buku dan media.

Teori pluralisme agama tidak bisa dipahami secara simplistis sebagaimana selama ini berlaku di media-media. Kebanyakan media menganggap bahwa pluralisme agama dianggap sama dengan toleransi beragama. Padahal kedua istilah ini merupakan entitas berbeda, yang tidak sama. Bedanya, kalau pluralisme agama adalah mengakui agama lain sebagai absah atau ”valid and authentic” (mengikuti istilah John Hick). Valid dan otentik inilah sebenarnya suatu pengakuan bahwa agama lain di luar agama seseorang sebagai yang absah. Sedangkan toleransi hanya mengakui keberadaan agama-agama lain sebagai gejala kemajemukan, tanpa harus menghilangkan keyakinan dalam agama diri sendiri. Tidak harus mengakui agama orang lain absah secara akidahnya, valid dan otentik. Toleransi, singkatnya, menghargai perbedaan. ”Jadi toleransi ada karena ada perbedaan. Kalau tidak ada perbedaan, maka tidak muncul istilah toleransi,” ujar Anis.

Sayangnya, keragaman ini kurang dipahami secara baik oleh mereka. Seperti Allah menciptakan keberagaman dalam agama, semua agama dianggap sama-sama absah secara syara’ karena sama-sama diciptakan Allah Swt. Memang semua agama yang ada adalah ciptaan Allah, tapi tidak semuanya diridhoi secara syara’. Tidak semua yang Allah kehendaki (iradah) dikehendaki secara ontologis (kaunan) dan diridhoi (syar’an). Ada yang Allah kehendaki secara ontologis tapi tidak secara syara’, seperti diciptakannya setan. Ada juga yang dikehendaki secara ontologis, tapi dikehendaki juga secara syara’, seperti diciptalannya Muhammad Saw. Contoh lain, Allah Swt dalam Al-Quran berfirman: In Tasykuru yardhahu lakum wa la yardha li’ibadihi al-kufur. Syukur dikehendaki dan diridhoi oleh Allah, tapi kufur dicipta tapi tidak diridhoi. Begitu juga tatanan-tatanan keagamaan ada yang dikehendaki dan diridhoi dan ada pula yang dikehendaki tapi tidak diridhoi.

Lalu pertanyaan yang akan muncul kemudian adalah, bagaimana Islam mengharmonikan keberagaman ini? Menurut Dr. Anis, Islam menawarkan penyelesaikan non-teologis, karena secara teologis Islam sudah tuntas dan selesai membahasnya. Sehingga penyelesaian yang mendesak adalah penyelesaian praktikal administratif, bagaimana mengatur kehidupan bersama, berdampingan, saling membantu, dan kerjasama. Semua itu diluar teologis. Itulah sebenarnya yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dengan Piagam Madinah. Piagam Madinah mengatur hubungan antara umat beragama secara administratif, tak menyinggung masalah teologis.

Jadi toleransi adalah suatu hajat bagi individu penganut agama. Mereka tak mungkin eksis tanpa adanya toleransi. Tapi toleransi bukan pluralisme. Ia hanya sebatas menghargai penganut agama lain dan hak hidupnya. Sementara pluralisme agama, pada hakekatnya, akan menghacurkan agama-gama yang ada. Ketika ia mengklaim sebagai tafsir agama yang paling benar, justru ia hendak memaksakan paham-paham agama lain ditinggalkan dan mengambil tafsir agama versi di pihaknya. Pada titik ekstrimnya, target pluralisme agama adalah untuk menghabisi agama-agama. Minimalnya akan membiarkan agama-agama bergentayangan tanpa ruh atau esensi dari agama-agama tersebut.

Ancaman ini sebenarnya sudah banyak disadari oleh para pemikir, filosof, dan pemukan agama. Untuk Indonesia, misalkan, ada beberapa tokoh yang menolak gagasan Pluralisme agama. Antara lain, dari kalangan Kristen. Menurut Anis, ada tesis doktoral yang ditulis oleh Pdt. Stephly Lumintang, yang dibukukan dengan judul ”Ideologi Abu-Abu”. Disebut abu-abu karena tidak jelas. Menurut buku ini, pluralime agama ini akan membabat habis agama-agama, termasuk Kristen. Sedangkan dari kalangan Hindu ada buku juga yang diedit oleh Ngakam Made Madra Suta, yang diterbitkan thn 2006, dengan judul ”Semua Agama Tidak Sama.” Buku ingin merespon beberapa argumen yang dipkai oleh kalangan pluralis, utamanya John Hick. Sementara Romo Franz Magnes Suseno, nampaknya, bersikap mendua. Maksud mendua di sini ia dalam beberapa tulisannya tidak setuju dengan pluralisme agama, tapi dalam beberapa diskusi, ia mengaku mendukung pluralisme agama.

Jadi kalau boleh disimpulkan, pluralisme agama bukanlah toleransi agama. Sebab pluralisme agama berbeda dengan pluralitas. Hal-hal yang digaungkan oleh pengusungnya sebagai pendamai dan solusi untuk mendamaikan antara agama-agama justru menunjukkan sebaliknya, yakni akan memusnahkan agama-agama lainnya.

”Pluralisme Agama melarang klaim kebenaran (truth claim), ternyata ia sendiri yang mengklaim dirinya paling benar, dan agama-agama yang ada adalah salah,” ujar Anis. Dengan demikian,  tambah Anis, pluralisme gama ini bukanlah solusi, tapi lebih merupakan ancaman bagi eksistensi agama-agama.
[amj/dimyati/www.hidayatullah.com]

 
Logged

Tidak terbatas dengan apapun kekuasaan_Nya. Tidak terbilang dengan apapun karunia_NYa. Terukurlah cintakau manakala akau bersua dengannya(istriku)...
azzura
Sr. Member
****

Reputasi: -1
Posts: 415


Love


View Profile Email
« Reply #1 on: February 13, 2008, 08:59:21 AM »

bisa dikatakan
saya seorang pluralis
Logged

I am writing My Live to laugh at my self
- G. Cassanova -
abu_ahmad syafiq
Hero Member
*****

Reputasi: 0
Gender: Male
Posts: 608


Rumah sederhana tapi penuh cinta


View Profile Email
« Reply #2 on: February 14, 2008, 03:19:05 PM »

Bagaimana bila pluralisme dikaitkan dengan agama yang ada di Indonesia? Bagaimana pendapat Bapak?Definisi pluralisme dalam Oxford Dictionary of Philosophy mengandung elemen realitivisme. Dan ketika dikaitkan denganagama pluralisme menjadi prinsip agar tidak ada klaim kebenaran oleh setiap agama. Keberagamaan orang di Indonesialain dengan di Barat. Intensitas ketaatan ummat beragama di Indonesia lebih besar. Artinya fanatisme terhadap agamamasing-masing seperti itu tidak mungkin menerima ide pluralisme seperti ini. Ya kalau keyakinan terhadap agamadireduksi agar lebih bersikap toleran, berarti kita harus beragama secara ragu-ragu. Saya tidak yakin semua penganutagama, khususnya di Indonesia akan menerima doktrin ini. Prinsip relativisme kebenaran tidak mungkin bisa diterima.Kalau prinsip bahwa suatu agama harus mengakui keberadaan agama lain, bersikap toleran dan saling memahamidalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bukan pluralisme agama namanya. Dan saya kira bukan itu yangdiharamkan MUI

selengkapnya:

http://209.85.173.104/search?q=cache:oH-tEMRSZHwJ:www.insistnet.com/index2.php%3Foption%3Dcom_content%26do_pdf%3D1%26id%3D41+definisi+pluralisme&hl=id&ct=clnk&cd=3&gl=id
Logged

Tidak terbatas dengan apapun kekuasaan_Nya. Tidak terbilang dengan apapun karunia_NYa. Terukurlah cintakau manakala akau bersua dengannya(istriku)...
abu_ahmad syafiq
Hero Member
*****

Reputasi: 0
Gender: Male
Posts: 608


Rumah sederhana tapi penuh cinta


View Profile Email
« Reply #3 on: February 14, 2008, 03:24:33 PM »

Atas Nama PluralismeJika dicermati, mencuatnya kembali kasus Ahmadiyah yang kemudian terkesan menyudutkan umat Islam dan MUImaupun munculnya fenomena Perayaan Natal Bersama (PNB ) sama-sama dilandasi oleh paham dan semangatPluralisme. Pluralisme—yang berarti paham mengenai keniscayaan kemajemukan agama dan kepercayaan—adalah ideturunan dari demokrasi yang memang menjamin adanya kebebasan beragama. Namun, kebebasan beragama ini jugapada faktanya mentoleransi kebebasan untuk menodai agama. Buktinya, Ahmadiyah yang telah lama difatwakan sesatoleh MUI karena dianggap menodai Islam—di antaranya karena mengklaim pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad,sebagai nabi—tetap dibela. Sebaliknya, fatwa MUI tersebut justru dikecam oleh kalangan aktivis HAM dan kaum Liberal;sebuah sikap yang tentu saja bertentangan dengan ajaran demokrasi sendiri, yang katanya menjamin kebebasanberpendapat. Kecaman kalangan Liberal dan para aktivis HAM terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkanmelahirkan opini agar MUI dibubarkan. Bukan kali ini saja kalangan Liberal mengecam MUI. Pada tahun 2005 lalu,misalnya, mereka juga menggugat MUI sesaat setelah MUI mengeluarkan fatwa tentang sesatnya paham sekularisme,liberalisme dan pluralisme.Buruknya Paham PluralismePluralisme (agama) sebenarnya mengandung 2 (dua) hal sekaligus: (1) Kenyataan bahwa di sana ada keanekaragamanagama; (2) Pandangan tertentu dalam menyikapi realitas keanekaragaman agama yang ada. Kesimpulan ini dapatditelaah, misalnya, dalam penjelasan Josh McDowell mengenai definisi pluralisme. Menurut McDowell, ada dua macampluralisme: (1) Pluralisme tradisional. Pluralisme ini didefinisikan sebagai “menghormati keimanan dan praktik ibadahpihak lain tanpa ikut serta bersama mereka”. (2) Pluralisme baru yang menyatakan bahwa “setiap keimanan, nilai, gayahidup dan klaim kebenaran dari setiap individu adalah sama”. (http://www.ananswer.org/mac/answeringpluralism.html,diakses 11/6/2005).

selengkapnya:

http://209.85.173.104/search?q=cache:w_e8pqFs4uwJ:web.cidensw.net/component/option,com_fireboard/Itemid,27/id,256/catid,18/func,fb_pdf/+definisi+pluralisme&hl=id&ct=clnk&cd=27&gl=id
Logged

Tidak terbatas dengan apapun kekuasaan_Nya. Tidak terbilang dengan apapun karunia_NYa. Terukurlah cintakau manakala akau bersua dengannya(istriku)...
azzura
Sr. Member
****

Reputasi: -1
Posts: 415


Love


View Profile Email
« Reply #4 on: February 14, 2008, 07:08:56 PM »

banyak yang bilang alm nurcholis madjid itu liberal
tapi dalam pandanganku dia itu seorang pluralis

yang aku suka dari para pluralis adalah kedamaian berpikir mereka
untuk apa sih berselisih antar agama
toh sama-sama manusia
Logged

I am writing My Live to laugh at my self
- G. Cassanova -
abu_ahmad syafiq
Hero Member
*****

Reputasi: 0
Gender: Male
Posts: 608


Rumah sederhana tapi penuh cinta


View Profile Email
« Reply #5 on: February 14, 2008, 07:16:38 PM »

Akhir-akhir ini beredar pema-haman yang menggoyahkan keimanan, mengaburkan,
dan membuat keragu-raguan (tasykik) dalam dada Muslimin. Maka diacak-acaklah
bibit fitrah keimanan kaum terpelajar bahkan eksekutif -yang kondisi
ekonominya mapan dan ingin mencari kedamaian lewat agama - dengan trik-trik
yang cukup memukau, namun sebenarnya adalah racun penghapus keimanan. Yaitu
di antaranya ditawarkan faham-faham yang membabat Islam, misalnya faham
pluralisme yang menganggap semua agama itu sama saja, tujuannya sama, semua
mengajarkan kebaikan, semuanya masuk surga, sama dan sejajar, paralel, dan
kita tidak boleh memandang agama lain dengan kacamata agama kita sendiri.
Dengan tawaran yang tampaknya toleran, adil, humanis, dan sesuai dengan
kondisi itu, si Muslim yang awam yang telah terseret ke penawaran ini
kemudian masuk ke jerat yang mencopot keimanan tanpa terasa. Sehingga,
sebenarnya fahamnya telah berbalik dari faham fitrah Islami menjadi faham
yang membuang Islam dan mengakui semua agama itu sama. Dan itulah titik temu
dari faham pluralisme yang dicanangkan oknum Nasrani, John Harwood Hich
dalam bukunya God and the Universe of Faiths (1973), dan faham tokoh sufi/
tasawuf sesat Ibnu Arabi (560-638H/1165-1240M) yang menca-nangkan Wihdatul
Adyan, penyatuan agama-agama, di samping faham kemusyrikan bikinan Ibnu
Arabi yang terkenal dengan sebutan wihdatul wujud , menyatunya kawula
(hamba) dengan Gusti (Tuhan). Dianggapnya itu adalah maqom (tingkatan)
tertinggi, padahal justru itulah tingkatan yang paling jauh sesatnya, karena
telah musyrik sekaligus kafir.

Masalah pencampur adukan antara yang haq dengan yang batil itu adalah puncak
pengaburan, sehingga tidak jelas lagi batilnya. Padahal di dalam Islam,
seseorang hanya mengaburkan jati dirinya yang mestinya laki-laki namun
meniru-niru perempuan atau perempu-an namun meniru-niru laki-laki saja
sangat dilaknat. Namun kini pengaburan-pengaburan itu bukan sekadar
penga-buran jenis kelamin, namun bahkan pengaburan agama Islam sebagai
satu-satunya agama yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Paradigma plural (pluralisme): Setiap agama adalah jalan keselamatan.
Perbedaan agama satu dengan yang lain, hanyalah masalah teknis, tidak
prinsipil. Pandangan plural ini tidak hanya berhenti pada sikap terbuka,
melainkan juga sikap paralelisme. Yaitu sikap yang memandang semua agama
sebagai jalan-jalan yang sejajar. Dengan itu, klaim kristianitas bahwa ia
adalah satu-satunya jalan (paradigma ekskulsif) atau yang melengkapi jalan
yang lain (paradigma inklusif) harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan
fenomenologis (Rahman: 1996). (Abdul Moqsith Ghazali, Mahasiswa Pascasarjana
IAIN Jakarta, Media Indonesia, Jum'at 26 Mei 2000, hal 8).

Dalam ayat berikut ditegaskan, yang artinya: "Sebahagian diberiNya petunjuk
dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka
menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka
mengira bahwa mereka mendapat petunjuk." (QS Al-A'raf: 30).

Kita tanyakan kepada kaum pluralis. Kalau menurut pandangan pluralis: Bahwa
semua agama itu sama, sejajar, hanya beda teknis; Ini apakah artinya, semua
itu tidak ada yang mendapat petunjuk? Ataukah tidak ada yang sesat? Ataukah
semuanya mendapat petunjuk, atau semuanya sesat? Apakah Semuanya tunduk
kepada Allah, ataukah semuanya tunduk kepada syetan?

Jelas-jelas paradigma pluralis itu bertentangan dengan ayat. Dan juga
bertentangan dengan do'a kita setiap shalat, yang artinya: "Tunjukilah kami
jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan
ni'mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan
(pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)." (Al-Fatihah: 6,7).

Dalil-dalil menjawab ahli tasykik

Untuk menjawab golongan tasykik (menyebarkan keragu-raguan) itu, perlu
disimak ayat-ayat, hadits, sirah Nabi Muhammad yang riwayatnya otentik,
murni.

Kalau semua agama itu sama, sedang mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan
Shabi'in itu cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi
Muhammad n, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah dalam
Al-Qur'an. Di antaranya ayat, yang artinya:

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia."
(As-Saba': 28).

"Katakanlah (hai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah
kepada kamu semua." (Al-A'raaf: 158).

Apakah mungkin ayat itu dianggap tidak berlaku? Dan kalau tidak meyakini
ayat dari Al-Qur'an, maka hukumnya adalah ingkar terhadap Islam itu sendiri.
Kemudian masih perlu pula disimak hadits-hadits.

Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasalam :

"Dahulu Nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku (Muhammad) diutus
untuk seluruh manusia." (Diriwa-yatkan Al-Bukhari 1/ 86, dan Muslim II/ 63,
64).

Dalam hadits lain disebutkan: Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah
saw bahwa beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya,
tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu
seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan
apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka."
(Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa
jamii'in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah
Nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama
beliau).

Konsekuensi dari ayat dan hadits itu, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi
wasalam sebagai pengemban risalah yang harus menyampaikan kepada umat
manusia di dunia ini, maka terbukti Nabi Shallallahu alaihi wasalam
mendakwahi raja-raja yang beragama Nasrani dan bahkan raja atau kaisar
beragama Majusi. Seandainya cukup orang Yahudi dan Nasrani itu menja-lankan
agamanya saja dan tidak usah memasuki Islam, maka apa perlunya Nabi Muhammad
n mengirimkan surat kepada Kaisar Heraclius dan Raja Negus (Najasi) yang
keduanya beragama Nasrani, sebagaimana Kaisar Kisra di Parsi (Iran) yang
beragama Majusi (penyembah api), suatu kepercayaan syirik yang amat dimurkai
Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Sejarah otentik yang tercatat dalam kitab-kitab hadits menyebutkan
bukti-bukti, Nabi berkirim surat mendakwahi Kaisar dan raja-raja Nasrani
maupun Majusi untuk masuk Islam agar mereka selamat di akhirat kelak. Bisa
dibuktikan dengan surat-surat Nabi n yang masih tercatat di kitab-kitab
hadits sampai kini. Di antaranya surat-surat kepada Raja Najasi di Habasyah
(Abesinea, Ethiopia), Kaisar Heraclius penguasa Roma-wi, Kisra penguasa
Parsi, Raja Muqouqis di Mesir, Raja al-Harits Al-Ghassani di Yaman, dan
kepada Haudhah Al-Hanafi. (Ustadz Hartono A Jaiz dkk, Kematian lady Diana
Mengguncang Akidah Umat, Darul Falah, Jakarta, cetakan I, 1418H, halaman
44-46.)

Dalam surat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasalam yang ditujukan kepada
Kaisar Heraclius (lafazh lengkapnya bisa dilihat dalam riwayat Al-Bukhari
IV/57 dan Muslim II/90-91), beliau menegaskan, Apabila Anda menolak, maka
Anda akan menanggung dosa-dosa orang-orang arisiyyin (penganut) Arianisme
(ajaran Arius, uskup Iskandariyah 256-336M, pen). Perlu diketahui Arianisme
adalah ajaran Arius (256-336M), seorang ahli ilmu agama bangsa Libia, Uskup
di Iskandariah, mengajarkan bahwa sebelum penciptaan umum, Tuhan telah
menciptakan dan melahirkan seorang putera, makhluk yang pertama, tetapi
tidak abadi dan tidak sama dengan Sang Rama (Ensiklopedi Umum, hal. 79).
Kepercayaan itu menurut Islam jelas syirik, orangnya disebut musyrik, suatu
dosa yang paling besar karena menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala .

Bagaimana bisa dikatakan bahwa orang-orang ahli kitab sekarang pun akan
masuk surga nantinya seperti yang didakwakan oleh sebagian ahli tasykik,
padahal Nabi Muhammad n menyurati Kaisar Heraclius sejelas itu? Kalau
Heraclius yang Nasrnai itu tidak mau masuk Islam, maka akan menanggung dosa
orang-orang Arianisme, yaitu kepercayaan yang menurut Islam adalah musyrik.
Dan karena Nasrani itu termasuk ahli kitab, maka masih ditawari pula untuk
menjalankan yang sama dengan Islam:

Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) dalam satu kalimat (ketetapan) yang
tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali
Allah, dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula)
sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika
mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami
adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Ajakan itupun kalau diikuti, berarti mengikuti ajakan Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi wasalam yakni mempercayai Nabi terakhir yang mengajak
Kaisar kepada kalimatun sawaa' (kalimat yang sama) itu. Dan risikonya, kalau
ajakan itu diikuti, berarti ambruklah sistem kepasturan dan kerahiban di
dalam tatacara ahli kitab. Dengan ambruknya sistem kependetaan, kepasturan,
dan kerahiban itu hapus pula segala sabda-sabda dalam kitab-kitab maupun
aturan-aturan yang mereka bikin-bikin. Yang ada justru ajaran murni di
antaranya adalah khabar tentang akan adanya utusan Allah yang bernama Ahmad
yaitu Muhammad . Dari sini tidak bisa mengelak lagi kecuali mengikuti ajaran
Nabi Muhammad alias masuk Islam.

Jalan keluarnya

Bagaimana menghadapi itu semua? Tentu saja kita harus kembali kepada
Al-Qur'an dan As-Sunnah shahihah sesuai dengan pemahaman yang disampaikan
oleh Nabi Shallallahu alaihi wasalam , difahami dan diamalkan oleh para
Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'it Tabi'in. Itulah jalan dan manhaj yang perlu
ditempuh oleh Ummat Islam, setelah aneka jenis penyelewengan telah
dibidikkan dan bahkan dijejalkan kepada Ummat ini dengan aneka cara. Ibarat
cara-cara munafiqin dalam membangun masjid dhirar adalah dengan dalih untuk
menolong kaum tua, kaum lemah yang tidak tahan dinginnya malam, agar dekat
tempatnya dsb. Dalih-dalih itu wajib dipatahkan, sedang bangunan mereka pun
wajib dihancur leburkan. Demikian pula bangunan berupa pemahaman dan
pemikiran yang merusak Islam, wajib dihancur leburkan, dibalikkan kepada
pencetus dan penganjur-penganjurnya, agar menimbuni mereka bagaikan
longsoran bangunan yang akan menimpa mereka di jahannam, sebagaimana
digambarkan dalam Al-Qur'an. (Dept. Ilmiyah)

Rujukan:
1. Shahih Al-Bukhari,
2 Shahih Muslim,
3 Zaadul Ma'ad,
4 Tsawuf Pluralisme dan Pemurtadan.
5 Berbagai sumber lain.

dicopy dari : alsofwah
Logged

Tidak terbatas dengan apapun kekuasaan_Nya. Tidak terbilang dengan apapun karunia_NYa. Terukurlah cintakau manakala akau bersua dengannya(istriku)...
abu_ahmad syafiq
Hero Member
*****

Reputasi: 0
Gender: Male
Posts: 608


Rumah sederhana tapi penuh cinta


View Profile Email
« Reply #6 on: February 14, 2008, 07:19:05 PM »

gak nanya devil Dancing
Logged

Tidak terbatas dengan apapun kekuasaan_Nya. Tidak terbilang dengan apapun karunia_NYa. Terukurlah cintakau manakala akau bersua dengannya(istriku)...
azzura
Sr. Member
****

Reputasi: -1
Posts: 415


Love


View Profile Email
« Reply #7 on: February 14, 2008, 07:28:27 PM »

emang aku menjawab pertanyaanmu??

tongue
kan cuma sebuah statement dariku tongue
Logged

I am writing My Live to laugh at my self
- G. Cassanova -
teroriscool
Full Member
***

Reputasi: 2
Gender: Male
Posts: 158



View Profile Email
« Reply #8 on: February 14, 2008, 11:35:30 PM »

jangan berantem!!

mana toleransinya.... whew!
Logged
teroriscool
Full Member
***

Reputasi: 2
Gender: Male
Posts: 158



View Profile Email
« Reply #9 on: February 14, 2008, 11:46:37 PM »

yang aku suka dari para pluralis adalah kedamaian berpikir mereka
untuk apa sih berselisih antar agama
toh sama-sama manusia


islam emang melarang untuk berselisih agama, ayatnya dah jelaskan..di surat al kafirun.

kita dilarang untuk menjelekan agama mereka, karena itu akan menyebabkan mereka balik menjelekan agama islam.

kita tetap meyakini islam sebagai satu-satunya agam yang benar/diridhoi, yang lain tidak. tapi kita tetp menghargai keyakinan mereka yang mengaggap agama mereka juga satu-satunya yang benar. ingat bukan menganggap agama selain isalm juga benar, tapi menghargai keyakinan umat non islam... ini yang disebut toleransi.

tapi toleransi juga ada batasnya, selama mereka tidak menggagu islam , maka kita tetap harus bertoleransi.






Logged
teroriscool
Full Member
***

Reputasi: 2
Gender: Male
Posts: 158



View Profile Email
« Reply #10 on: February 14, 2008, 11:48:09 PM »

kang, banyak amat tread tentang pluralismenya? kenapa ga di satukan aja?
Logged
smilezero
Newbie
*

Reputasi: 1
Gender: Male
Posts: 45


pencarian kebenaran


View Profile WWW Email
« Reply #11 on: October 14, 2009, 08:47:00 PM »

       Pada dasarnya kalau anda menyatakan bahwa pluralisme adalah abungan dari agama-agama maka anda menyatakan bahwa semua agama salah dan agama anda(pluralisme)lah yang benar, terlalu absolutis.... Bingung
Logged
Pages: [1]   Go Up
  Print  
 
Jump to:  

Powered by MySQL Powered by PHP Powered by SMF 1.1.11 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC Valid XHTML 1.0! Valid CSS!