Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - whitenetral

Halaman: [1]
1
Kritik, Saran & Pertanyaan / RALAT SANGAT PENTING POSTINGAN LAMA
« pada: April 15, 2010, 08:33:49 pm »
ASsalamu'alaikum

DEngan sangat, saya mohon agar admin forum dudung meralat postingan saya pada topik lama "Apa yang kau benci dari salafy"

Saya terburu-buru dalam menyampaikan dan karena banyaak pikiran juga, sehingga tidak dicek lagi sebelum mengirim postingan.

SEhingga pada postingan tulisan saya "ada yang tak sinkron". Yakni pada postingan saya dengan kalimat awal "Tauhid Asma Wa shifat (manhaj Salaf) ". BIsa tersebar dosa besar di antara kita semua kalau begini.....tolong diralat please, saya mohon dengan sangat, afwan jiddan jiddan


POstingan sebelumnya:
Menurut para ulama salaf, tafwidh (penyerahan) terhapap makna itu wajib, sedangkan tafwidh dalam hal menggambarkan bagaimana sifat sifat Allah itu haram dilakukan. Misalnya, kata "bersemayam", para salaf menetapkan makna kata "bersemayam" itu artinya tinggi, namun tetap tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana dan seberapa tingginya, kecuali Allah saja.

RALAT:
Menurut para ulama salaf, tafwidh (penyerahan/tidak menetapkan)  makna itu haram, sedangkan tafwidh (penyerahan/tidak menetapkan) dalam kaifiyat (hal menggambarkan bagaimana sifat sifat Allah) itu wajib dilakukan. SEhingga Misalnya, kata "bersemayam", para salaf menetapkan makna kata "bersemayam" itu artinya tinggi, namun tetap tidak ada seorang pun yang mengetahui bagaimana dan seberapa tingginya, kecuali Allah saja. Jadi kita Menyerahkan pada Allah, dalam hal kaifiyatnya saja.

2
Alhamdulillah, ada forum yang cukup ramai dan intelek di forum dudung ini. Semoga menjadi forum yang
penuh manfaat untuk umat islam. Smoga bisa menyaingi kaskuskers (becanda ding).

Saya mohon agar admin berhati-hati dalam menyimpulkan sesuatu (belum juga menyimpulkan, udah di wanti2).

Ya...bukan melihat asas saling menghargai aja bung, tapi juga memperhatikan asas kebenarannya.

Sehingga generasi yang baru gabung di forum ini dapat pelajaran berharga, gak ngulang2 diskusi yang samaaa terus tiap tahun. Buat kesimpulannya se-intelek mungkin ya.

by
-kata orang saya "tidak intelek" gara2 mengikuti manhaj salaf-

Ckckck kasihan saya...padahal gini2 juga mahasiswa PT I_B

3
Kajian Quran dan Hadits / ANDA INGIN MASUK SURGA TANPA HISAB DAN ADZAB?
« pada: April 14, 2010, 11:05:37 am »
ANDA INGIN MASUK SURGA TANPA HISAB DAN ADZAB?

   PERTANYAAN di atas sekiranya kita lontarkan kepada setiap insan niscaya serta merta mereka akan mengatakan “ya” sebagai jawabannya. Siapakah gerangan orangnya yang tidak ingin masuk surga tanpa hisab dan adzab? Tentu semua orang menginginkannya sebab kita semua tahu bahwa neraka adalah tempat yang sangat jelek dan pemandangan di dalamnya mengerikan serta siksaannya pun begitu dahsyat dan menakutkan. Sekalipun hanya sebentar, seorang manusia pasti akan menolak kalau dimasukkan kedalamnya.
   Lantas bagaimanakah caranya agar kita dapat masuk surga tanpa hisab dan adzab? Apakah tingginya kedudukan di dunia dan banyaknya harta yang dimiliki oleh seorang hamba dapat menjadi jaminan baginya? Untuk menjawabnya, simaklah pembahasan berikut ini. Allahul Musta’an.
Tauhid Kunci Utama Masuk Surga
   Wahai saudaraku – semoga Alloh SWT senantiasa merahmatimu – ketahuilah bahwasannya tauhid itu memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, tatkala Rosululloh SAW diutus oleh Alloh SWT untuk berdakwah kepada kaumnya, beliau memulai dakwahnya dengan tauhid. Demikian pula tatkala beliau mengutus para sahabatnya untuk berdakwah, maka beliau mengajarkan dan berpesan kepada mereka agar memulai dakwah mereka dengan tauhid. Alloh SWT menurunkan kitab-kitab-Nya serta menciptakan jin dan manusia juga karena tauhid. Memang, tauhid adalah kunci utama bagi setiap hamba yang mendambakan surganya Alloh Ta’ala. Barang siapa yang mewujudkan tauhid secara nyata, niscaya ia akan masuk surga tanpa hisab dan adzab.
   Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin menjelaskan bahwa arti mewujudkan tauhid secara nyata ialah membersihkannya dari syirik. Dan ini tidak akan terjadi kecuali dengan tiga hal, yaitu:
1.   Mengilmui (memahami) tauhid
Sebab orang tidak akan dapat mewujudkan sesuatu secara nyata sebelum ia memahaminya. Sebab itu, ia harus mengetahui gambaran tauhid secara jelas dengan cara mengilmui (memahami)nya. Lihat QS. Muhammad [47]: 19.
2.   Meyakini (kebenaran) tauhid
Maknanya, jika orang sudah memahami tetapi tidak meyakini dan bahkan sombong berarti ia tidak mewujudkan tauhid secara nyata. Alloh SWT berfirman tentang perkataan orang-orang kafir:
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shod [38]: 5)
Jadi mereka tidak mau meyakini keesaan Alloh SWT dalam hal uluhiyyah.
3.   Patuh
Apabila seseorang sudah memahami tauhid dan sudah meyakininya namun tidak mau patuh berarti ia tidak mewujudkan tauhid secara nyata. Lihat QS. ash-Shoffat [37]: 35-36.
Jika ketiga hal tadi telah terwujud dan terbukti secara nyata pada seseorang (secara umum) maka masuk surga tanpa hisab menjadi jaminan baginya. Dan kita tidak lagi mengatakan insya Alloh sebab hal ini sudah menjadi ketetapan hukum yang jelas menurut syari’at. Adapun terhadap seseorang tertentu (secara khusus dengan disebutkan personnya) maka kita katakan insya Alloh.” (Lihat al-Qoulul Mufid ‘Ala Kitabi at-Tauhid kar. Ibnu Utsaimin: 1/85-86)
Kabar dari Rosululloh SAW
   Wahai saudaraku, Sahabat yang mulia Abdulloh bin Abbas, telah meriwayatkan bahwa Rasululloh SAW bersabda: “Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat. Maka aku melihat seorang nabi disertai oleh beberapa orang, aku juga melihat seorang nabi hanya disertai satu orang, ada lagi yang disertai dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai seorang pun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku sejumlah besar orang, aku mengira mereka adalah umatku, ternyata dikatakan kepadaku: “Ini adalah Musa dan kaumnya. Akan tetapi, lihatlah ke arah ufuk.’ Maka aku melihat, ternyata ada sejumlah banyak orang. Kemudian dikatakan kepadaku: Lihatlah ke arah ufuk yang lain.’ Maka aku pun melihat, ternyata (di sana) ada sejumlah besar manusia. Maka dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah umatmu, bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab.’” Kemudian Rasululloh SAW bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Maka orang-orang ramai membicarakan mereka yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Sebagian sahabat ada yang berkata: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rosululloh SAW.” Sebagian lagi ada yang mengatakan: “Barangkali mereka adalah orang-orang yang dilahirkan di dalam masa Islam dan tidak menyekutukan Alloh SWT.” Begitulah, mereka menyebutkan banyak kemungkinan. Kemudian Rosululloh SAW keluar menemui mereka seraya bersabda: “Apa yang sedang kalian perbincangkan?” Para sahabat menceritakan perbincangan mereka. Maka Rosululloh SAW bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah (jampi), tidak meminta di-kayy, tidak ber-tathoyyur, dan mereka bertawakal hanya kepada Robb mereka.” Lalu Ukhasyah bin Mihshon berdiri dan berkata: “(Ya Rosululloh) mohonkanlah kepada Alloh SWT agar Dia menjadikan saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau termasuk mereka.” Kemudian berdirilah seorang yang lain dan berkata: “(Wahai Rosululloh) do’akanlah kepada Alloh SWT agar menjadikan saya termasuk mereka.” Rosululloh SAW menjawab: “Kamu sudah didahului Ukasyah.” (HR. al-Bukhori: 6541 dan Muslim: 220)
   Dan dalam hal yang sama Imam Ahmad dan Imam al-Baihaqi2 meriwayatkan hadits yang bersumber dari sahabat Abu Huroiroh dengan lafazh: “Maka saya minta tambah kepada Robbku, kemudian Alloh SWT memberi saya tambahan setiap seribu orang itu membawa tujuh puluh ribu orang lagi.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata mengomentari sanad hadits ini: “Sanadnya jayyid (bagus).” (Fathul Bari: 11/410)
Agar Bisa Masuk Surga Tanpa Hisab dan Adzab
   Wahai saudaraku, telah kami jelaskan di atas tadi bahwa golongan yang masuk surga tanpa hisab dan adzab adalah mereka yang telah berhasil merealisasikan tauhid secara bersih dan nyata dalam kehidupannya. Dan termasuk bentuk realisasi tauhid adalah bersikap hati-hati terhadap hal-hal yang mungkin dapat merusakkan tauhid. Mereka itu adalah orang-orang yang:
1.   Tidak minta di-ruqyah
Ruqyah artinya memberikan pengobatan dengan cara membacakan ayat al-Qur’an kepada orang yang sakit atau kerasukan jin, dan boleh dilakukan dengan disertai memberikan semburan ludah pada tempat yang terkena gigitan binatang berbisa atau yang lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mustarqi (orang yang meminta di-ruqyah) adalah orang yang minta diobati, dan hatinya sedikit berpaling kepada selain Alloh SWT. Hal ini akan mengurangi nilai tawakalnya kepada Alloh SWT. Sedangkan ar-roqi (orang yang me-ruqyah) adalah seorang yang muhsin (murah hati) atau orang yang hanya ingin berbuat baik dan memberi manfaat kepada saudaranya.3 (Majmu’ Fatawa: 1/182, 328)
2.   Tidak minta di-kayy
Kayy adalah menempeli luka dengan besi yang dipanaskan. Tidak minta di-kayy maknanya ialah mereka tidak minta kepada orang lain untuk meng-kayy sebagaimana mereka tidak minta di-ruqyah. Mereka menerima qodho’ (ketentuan) dan menikmati musibah yang menimpanya mereka.
Hukum kayy itu sendiri dalam Islam tidak dilarang. Islam membolehkan selama tidak menjadi pilihan pertama. Hanya, seorang yang tidak minta di-kayy itu menunjukkan akan kesempurnaan tawakalnya kepada Alloh SWT.
3.   Tidak melakukan tathoyyur
Tathoyyur adalah beranggapan sial (merasa pesimis) berdasarkan burung-burung, suara-suara burung, arah terbangnya burung, atau berdasarkan tempat-tempat tertentu, lafazh-lafazh tertentu, hari-hari tertentu, angka-angka tertentu, bulan-bulan tertentu dan seterusnya. Ini batil menurut Islam karena termasuk syirik.
4.   Mereka bertawakal kepada Alloh SWT
Ini yang paling utama, seseorang harus bertawakal hanya kepada Alloh SWT. Insya Alloh dengan tawakal yang utuh, tauhid akan dapat terwujud secara bersih dan nyata. Dan ketahuilah bahwa makna hadits di atas tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mencari sebab sama sekali. Karena mencari sebab (supaya sakitnya sembuh) termasuk fitrah dan sesuatu yang tidak terpisahkan darinya. Mereka meninggalkan perkara-perkara makruh walaupun mereka sangat butuh dengan cara bertawakal kepada Alloh SWT. Seperti kayy dan ruqyah, mereka meninggalkan hal itu karena termasuk sebab yang makruh. Apalagi perkara yang haram.
Adapun mencari sebab yang bisa menyembuhkan penyakit dengan cara yang tidak dimakruhkan, maka hal itu tidak membuat cacat dalam tawakal. Dengan demikian kita tidaklah meninggalkan sebab-sebab yang disyari’atkan sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang bersumber dari Abu Huroiroh bahwa Rosululloh SAW bersabda: “Tidaklah Alloh SWT menurunkan suatu penyakit melainkan (Dia pun) menurunkan obat untuknya, ada yang mengetahui obat itu dan ada (pula) yang tidak mengetahuinya.” (HR. al-Bukhori: 5678 dan Ahmad: 1/377)
Beliau SAW juga bersabda: “Wahai hamba-hamba Alloh SWT, bertobatlah kalian. Sesungguhnya Alloh SWT tidaklah menimpakan sesuatu melainkan Dia telah meletakkan obat baginya, kecuali satu penyakit saja, yaitu pikun.” (HR. Ahmad: 4/278, Abu Dawud: 3855, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 2/461)
Wallohu A’lam.
Abu Harits as-Sidawi

1.   Yakni tanpa dihitng-hitung kesalahannya.
2.   Imam Ahmad dalam al-Musnad: 2/359 dan Imam al-Baihaqi dalam Kitabul Ba’tsir: 416.
3.   Lihat HR. Muslim: 2199
4.   Lihat Fathul Majid: 167 tentang penjamakan (pemaduan) dalil-dalil dengan sangat bagus oleh Ibnul Qoyyim dalam masalah kayy ini.


Buletin Al-Furqon
SAHABAT NABI SAW GENERASI TERBAIK UMAT ISLAM

   SAHABAT Rosululloh SAW adalah perantara antara kita dengan Rosululloh SAW. Semua ilmu agama, baik ushul (pokok) maupun furu’ (cabang)nya, dan dalam memahami ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan tafsirnya maupun hadits yang sampai kepada kita saat ini, semua itu datang melalui perantara para sahabat Rosululloh SAW. Merekalah generasi terbaik umat ini. Lalu bagaimanakah sikap Ahlus-Sunnah kepada mereka? Marilah kita simak pembahasan ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Siapakah para “sahabat”?
   Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani mengatakan: “Sahabat adalah orang yang bertemu dengan Rosululloh SAW, beriman kepada beliau, dan meninggal di atas Islam, termasuk orang yang bermajelis dengan beliau meskipun hanya sebentar, termasuk pula orang yang meriwayatkan hadits dari beliau maupun tidak. Demikian juga orang yang pernah melihat beliau meskipun tidak duduk dalam majelis beliau, atau orang yang tidak pernah melihat beliau karena buta akan tetapi pernah bertemu dengan beliau. Dan yang juga termasuk dalam definisi ini, orang yang beriman lalu murtad (keluar dari Islam) kemudian kembali lagi ke dalam Islam dan wafat dalam keadaan Islam, seperti Asy’ats bin Qois.” (al-Ishobah fi Tamyizish-Shohabah: 1/7-8)
   Adapun orang yang beriman kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, hidup satu masa dengan beliau tetapi belum pernah berjumpa dengan beliau maka tidak dinamai “sahabat”, seperti halnya Raja Najasyi. (Lihat Jami’usy-Syuruh al-Aqidah ath-Thohawiyyah: 2/1199)
   Kemudian persyaratan yang paling pokok agar bisa disebut “sahabat” adalah beriman kepada Rosululloh SAW dan meninggal di atas agama Islam. Oleh karena itu, orang yang bertemu dengan beliau dan beriman kepada beliau namun meninggal dalam keadaan murtad – wal ‘iyadzu billah – bukan termasuk kategori sahabat, seperti Ubaidillah bin Jahsy suami Ummu Habibah. Pasutri ini masuk Islam kemudian hijrah ke Habasyah, namun setelah itu Ubaidillah bin Jahsy memeluk agama Nasrani dan meninggal dalam kekufurannya.
Pujian Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW Kepada Para Sahabat
   Para ulama Ahlus-Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa semua sahabat Rosululloh SAW adil. Maksudnya, periwayatan mereka diterima tanpa proses penelitian, karena Alloh SWT dalam al-Qur’an telah memuji mereka dan meridhoi mereka. Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian Alloh SWT. Sungguh banyak dalam nash al-Qur’an dan as-Sunnah maupun atsar Shohih yang menyebutkan tentang pujian dan keutamaan para sahabat, namun kami akan menyebutkan hanya sebagiannya saja karena keterbatasan tempat.
•   Alloh SWT berfirman dalam al-Qur’an (artinya):
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. at-Taubah [9]: 100)
Al-Hafizh Imaduddin Ibnu Katsir mengatakan: “Alloh SWT mengabarkan bahwa Dia telah meridhoi orang-orang yang terdahulu dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshor, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka alangkah celaka orang-orang yang membenci dan mencela mereka atau sebagian dari mereka. Apalagi terhadap pemuka/tokoh para sahabat setelah Rosululloh SAW, yaitu sahabat pilihan, kholifah paling agung, ash-Shiddiq al-Akbar, (yaitu) Abu Bakar bin Abu Quhafah”. (Tafsir Ibnu Katsir: 2/422)
•   Dalam ayat lain Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. al-Fath [48]: 18)
•   Rosululloh SAW bersabda (artinya): “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Bukhori: 2652, Ahmad: 1/378, 442, Tirmidzi: 3859)
Ibnu Mas’ud mengatakan: “Barang siapa di antara kalian yang ingin mencari teladan, maka teladanilah para sahabat Nabi SAW. Sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit membebani dirinya, paling lurus petunjuknya, dan paling bagus keberadaannya. Mereka adalah kaum yang Alloh pilih untuk menemani Rosululloh SAW. Ketahuilah, pada mereka ada banyak keutamaan, ikutlah atsar-atsar mereka, sesungguhnya mereka berada pada petunjuk yang lurus.” (Syarhus-Sunnah Imam Ahmad bin Hanbal: 26, dinukil dari Jami’ Bayan al-Ilmi Ibnu Abdil Bar: 1810)
Hukum Mencela Para Sahabat SAW
   Telah menjadi keharusan sebagai hamba yang beriman kepada Alloh SWT untuk mencintai para sahabat Rosululloh SAW, karena merekalah yang menyebarkan agama Islam. Mereka senantiasa menemani Rosululloh SAW di saat-saat yang susah payah dalam berjihad di jalan Alloh SWT, terjun langsung di medan pertempuran, seperti ketika perang Badar, Uhud, Khondaq, dan yang lainnya. Mereka pun dengan setia menemani beliau ketika berdakwah.
   Akan tetapi, kita tidak boleh cinta kepada mereka secara berlebih-lebihan, apalagi sampai mendewa-dewakan salah satu dari mereka, seperti halnya kelompok Rofidhoh (Syi’ah) yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlu bait (keluarga Rosululloh SAW) dan mengkafirkan sahabat yang lain. Mereka lebih terkenal dengan nama “kelompok Syi’ah” atau “agama Syi’ah” karena aqidah mereka berbeda dengan aqidah kaum muslimin. Di antara mereka ada yang menganggap Ali sebagai ilah (tuhan yang berhak disembah).
Awal munculnya kebid’ahan mereka adalah pada masa kholifah Ali bin Abi Tholib, salah satu satu tokoh gembong Rofidhoh yaitu Abdulloh bin Saba’ mengatakan kepada Ali: “Engkau adalah ilah.” Kemudian Ali pun memerintah para sahabat untuk memerangi orang-orang yang mengikuti paham ini.
   Kita juga tidak boleh membenci mereka para sahabat, apalagi sampai memusuhi mereka seperti halnya kelompok Khowarij yang keluar untuk memerangi sahabat Ali bin Abi Tholib, karena tahkim (berhukum) kepada selain Alloh SWT.1 Madzhab mereka adalah berlepas diri dari sahabat Utsman dan Ali serta keluar dari imam yang tidak berhukum dengan hukum Alloh SWT, mengkafirkan pelaku dosa besar dan menganggapnya kekal di dalam neraka (lihat Lum’atul I’tiqod: 161-162). Oleh karena itu, barang siapa yang membenci dan mencela sahabat Rosululloh SAW berarti ia telah menancapkan tonggak permusuhan terhadap Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW.
   Perhatikanlah sabda Rosululloh SAW (artinya): “Janganlah kalian mencela salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah satu di antara kalian berinfaq sebesar Gunung Uhud, maka tidaklah bisa menyamai mereka walau satu mud atau setengahnya (dari apa yang mereka infaqkan).” (HR. Bukhori: 3673. Muslim: 6435)
Atas dasar ini, barang siapa yang mencela dan membenci para sahabat maka berarti ia telah menerjang larangan rosul, dan ini merupakan dosa besar.
Sikap Ahlus-Sunnah Terhadap Sahabat
   Alangkah bagusnya perkataan Imam Abu Ja’far ath-Thohawi: “Kita mencintai para sahabat Rosululloh SAW namun tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kita juga tidak bersikap meremehkan seorang pun dari mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka dan yang menyebut mereka dengan kejelekan. Kita pun hanya menyebut mereka dalam kebaikan. Mencintai mereka adalah bentuk pengamalan ad-Din (agama), keimanan, dan ihsan. Sedang membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan melampaui batas.” (al-Aqidah ath-Thohawiyyah: 18)
Ancaman Bagi Orang yang Menyelisihi Jalan Para Sahabat
Alloh Ta’ala berfirman (artinya):
Dan barang siapa yang menentang rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu’min (para sahabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang dikuasainya itu dan Kami memasukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. an-Nisa’ [4]: 115)
Merealisasikan Cinta Kepada Para Sahabat Rosul SAW
   Al-‘Allamah Syaikh Sholih Alu-Syaikh (Jami’usy—Syuruh al-Aqidah ath-Thohawiyyah: 1/1204) menuturkan: “Cinta kepada sahabat adalah kewajiban. Dan inilah bentuk loyalitas (kesetiaan) kepada sahabat Rosul SAW. Cinta kepada mereka dapat diwujudkan dengan:
1.   Menanamkan rasa cinta kepada mereka di dalam hati.
2.   Memuji mereka pada setiap keadaan, dengan mengucapkan (artinya: semoga Alloh meridhoi mereka) tatkala disebut nama mereka.
3.   Tidak membawa perbuatan mereka kecuali di atas kebaikan. Mereka semua hanya mengharap wajah Alloh SWT.
4.   Menolong mereka sebagai wujud cinta dan Loyalitas kepada mereka, yaitu menolong mereka tatkala disebut dengan kejelekan, tatkala ada orang yang merendahkan mereka, atau ada orang yang ragu terhadap sifat shidq (kejujuran) dan keadailan mereka. Dalam keadaan semacam ini kita wajib menolong mereka.
Di akhir risalah ini, kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin dimanapun berada, marilah kita wujudkan rasa cinta kepada sahabat Rosululloh SAW, membela mereka tatkala mereka dicela dan dihina. Ketahuilah bahwa mereka adalah sebaik-baik umat ini, sebagaimana Rosululloh SAW bersabda (artinya): “Sebaik-baik manusia adalah geerasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Bukhori: 2652, Ahmad: 1/378, 442, Tirmidzi: 3859)
Mukhlis Abu Dzaar

1.   Yakni ketika kholifah Ali bin Abi Tholib menunjukkan wakil dari pihak sahabat Mu’awiyah untuk merundingkan perjanjian damai (dan tidak lagi saling berperang. Maka dengan alasan inilah mereka (Khowarij) menganggap bahwa sahabat Ali terlah berhukum kepada selain hukum Alloh. Jelas ini adalah suatu anggapan yang batil.






4
Belajar memaknai hakikat cinta yang sesungguhnya…bisakah?
abu hanzhalah zevian
http://algozely.wordpress.com/2008/01/15/
belajar-memaknai-hakikat-cinta-yang-sesungguhnyabisakah/

Manusia tercipta dengan sempurna. Ia terlahir dengan jasmani dan ruhaninya. Didalamnya terkumpul dua unsur yang selalu bersandingan, entah itu bersanding dengan satu hal yang sejalan dengannya atau bahkan mungkin bersanding dengan sifat-sifat yang menjadi kebalikannya. Sungguh Maha Besar Allah Subhanahu wa Ta'ala yag telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (Ali `Imran: 14)

Asy-Syaikh `Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya mengatakan: "Allah memberitakan dalam dua ayat ini (Ali `Imran: 13-14) tentang keadaan manusia kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Allah menjelaskan memberitakan bahwa perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Allah hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa. Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat cepat."

Diantara bentuk perasaan yang Allah telah ciptakan dan menyatu dalam diri seorang manusia salah satunya adalah perasaan cinta. Cinta yang dimaksud disini masih bermakna fitrawiyah, dimana ada sebuah bentuk perasaan ketika seseorang merasa ingin mengasihi dan menyayangi sesamanya makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itulah makna sederhana nya cinta….

Walaupun terkadang kita juga belum mengetahui apa sebenarnya makna dari cinta itu yang sesungguhnya. Karena untuk mendefinisikan cinta sungguh begitu sulit dijangkau oleh kalimat dan diraba dengan kata-kata. Subhanallah…Ibnul Qayyim mengatakan: "Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan (sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya adalah adanya cinta itu sendiri." (Madarijus Salikin, 3/9) begitulah cinta….semakin orang memaknainya semakin tidak jelas pula apa hakikat cinta yang diinginkan dan yang diangankannya.

Tapi walaupun kita sulit untuk mendefinisikan makna cinta yang sesungguhnya, lima huruf yang kita bicarakan ini selalu ramai dan asyik diperbincangkan oleh orang-orang. Mengapakah? Bahkan dengan alasan dan dalih "cinta" pula orang-orang banyak yang melanggar apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan. Wal'iyaudzubillah…Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, "Kami sama-sama cinta, suka sama suka." Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.

Cinta memang selalu mengikuti tujuan orang yang memakanainya. Ketika cinta itu dilandaskan kepada Allah dan Rasul-Nya maka cinta yang seperti ini merupakan cinta yang mulia bahkan menjadi derajat cinta yang paling tinggi selain cinta-cinta kepada selain-Nya. Fa Subhanallah….

"Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

Tapi ketika cinta ini dilandaskan kepada yang selain-Nya sehingga melalaikan dan melupakannya dari mencintai Allah Subhanahu wa Ta'ala maka jenis cinta ini merupakan jenis cinta yang tercela dan menempati derajat cinta yang rendah dan hina. Wal iya'udzubillah….bahkan bias mengakibatkan kita terjatuh ke dalam lubang-lubang kesyirikan yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa Ta'ala dengan selain-Nya yang sebenarnya tidak pantas kita cintai melebihi cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.


"Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

Di antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin `Abdulwahhab Al-Yamani dalam kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada empat macam:


Pertama, cinta ibadah.


Yaitu mencintai Allah dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di atas.


Kedua, cinta syirik.


Yaitu mencintai Allah dan juga selain-Nya. Allah berfirman:

"Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi Allah), mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Allah." (Al-Baqarah: 165)

Ketiga, cinta maksiat.


Yaitu cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Allah dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Allah berfirman:

"Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat." (Al-Fajr: 20)


Keempat, cinta tabiat.


Seperti cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan. Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Allah berfirman:

"Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf `alaihis salam) berkata: `Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita daripada kita." (Yusuf: 8)


Jika cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Allah sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat. Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut sehingga sama seperti cinta kita kepada Allah atau bahkan lebih, maka cinta tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.

Jelaslah kini..bahwa cinta itu sungguh sangat indah, mungkin seindah pelangi ketika hujan berhenti di senja hari dan seindah bunga-bunga yang mekar di musim semi. Tapi bagaimanakah cinta yang indah itu? Tentunya Cinta yang diandasi iman kepada Allah subahanhu wa Ta'ala, cinta yang akan menghasilkan kebaikan yang banyak dan sangat berharga.

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: "Sebagian salaf mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Allah lalu Allah menurunkan ayat ujian kepada mereka:


"Katakanlah: jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian." (Ali `Imran: 31)


Mereka (sebagian salaf) berkata: "(firman Allah) `Niscaya Allah akan mencintai kalian', ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta faidahnya. , faidah dan Bukti dan tanda (cinta kepada Allah) adalah mengikuti Rasulullah buahnya adalah kecintaan Allah kepada kalian. Jika kalian tidak mengikuti maka kecintaan Allah kepada kalian tidak akan terwujud dan akan Rasulullah hilang."
Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Allah.

Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik :


"Tiga hal yang barangsiapa ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan karena Allah, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)


Ibnul Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Allah) ada sepuluh perkara:


Pertama, membaca Al Qur'an, menggali, dan memahami makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.


Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah setelah amalan wajib.


Ketiga, terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.

Keempat, mengutamakan kecintaan Allah di atas kecintaanmu ketika
bergejolaknya nafsu.

Kelima, hati yang selalu menggali nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan dan mengetahuinya.


Keenam, menyaksikan kebaikan-kebaikan Allah dan segala nikmat-Nya.


Ketujuh, tunduknya hati di hadapan Allah


Kedelapan, berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat) bersama-Nya ketika Allah turun (ke langit dunia).


Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.


Kesepuluh, menjauhkan segala sebab-sebab yang akan menghalangi hati dari Allah . (Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)

Demikianlah cinta…..ia tak selamanya jelek walaupun banyak orang-orang yang mengotorinya dengan segala kepalsuan dan kehinaan juga syahwat-syahwat yang terlarang. Cinta yang sejati akan senantiasa hidup dan bersemayam disetiap hati-hati orang yang beriman dan merindukan perjumpaan dengan Rabb-nya. Membuahkan rasa takut dan harap yang besar kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala, sebagaimana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah katakan: "Ketahuilah bahwa yang menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta, takut, dan harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat."

(Majmu' Fatawa, 1/95)


Asy-Syaikh `Abdurrahman menyatakan: "Dasar tauhid dan ruhnya adalah keikhlasan dalamtAs-Sa'di mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya juga sempurna." (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)

Ya Allah…karuniakanlah kepada kami cinta yang sejati itu. Yakni Cinta Tulus kepada-Mu ya Rabbku..Allahumma Amiin..

Pagi Hari di Awal Muharram 1429 H

Diiringi lantunan AlQuran Surah Arrahman…

Tulisan diatas banyak mengutip Ayat AlQur an dan hadits juga perkataan para `ulama dalam sebuah Risalah yang berjudul " Arti Sebuah Cinta " dalam Majalah Asysyariah pada rubrik Syariah, Aqidah, 19 – November – 2003 yang ditulis oleh :

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

5
Suami & Istri Sholehah / Istri Yang Membahagiakan
« pada: April 14, 2010, 10:55:47 am »

Istri Yang Membahagiakan

   Kebahagiaan rumah tangga yang menjadi tujuan setiap keluarga terbentuk di atas beberapa faktor, yang terpenting adalah faktor anggota keluarga. Mereka inilah faktor dan aktor pencipta kebahagiaan dalam rumah tangga, atau sebaliknya, kesengsaraan rumah tangga juga bisa tercipta oleh mereka. Dari anggota rumah tangga, faktor yang paling berperan besar dalam perkara ini adalah istri, karena dia adalah ratu dan ikon utama sebuah rumah tangga, ia adalah rujukan suami dan tempat kembali anak-anak, maka dalam bahasa Arab dia disebut dengan ‘Um’ yang berarti induk tempat kembali.
   Sebagai pemeran utama dalam panggung rumah tangga, karena perannya yang cukup signifikan di dalamnya, maka istri harus membekali diri dengan sifat-sifat dan kepribadian-kepribadian sehingga dengannya dia bisa mengemban tugas dan memerankan perannya sebaik mungkin, dengan itu maka kondisi yang membahagiakan dan situasi yang menentramkan di dalam rumah akan terwujud.
Mengetahui skala prioritas
   Dunia memang luas dan lapang, namun tidak dengan kehidupan, yang akhir ini, selapang dan seluas apa pun tetap terbatas, ada tembok-tembok yang membatasi, ada rambu-rambu yang mengekang, namun pada saat yang sama tuntutan dan hajat kehidupan terus datang silih berganti seakan tidak akan pernah berhenti, kondisi ini mau tidak mau, berkonsekuensi kepada sikap memilah skala prioritas, mendahulukan yang lebih penting kemudian yang penting dan seterusnya.
   Sebagai ikon dalam rumah tangga, istri tentu mengetahui benar keterbatasan rumah tangga di berbagai sisi kehidupan, keterbatasan finansial dan ekonomi misalnya, sebesar apapun penghasilan suami plus penghasilan istri (jika istri bekerja), tetap ada atap yang membatasi, ada ruang yang menyekat, tetap ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh uang hasil usaha mereka berdua, ditambah dengan jiwa manusia yang tidak pernah berhenti berkeinginan, keadaannya selalu berkata, “Adakah tambahan?”, maka sebagai istri yang membahagiakan, dia harus mengetahui dengan baik prinsip dasar ini, mendahulukan perkara yang tingkat urgensinya tertinggi kemudian setelahnya dan seterusnya.
   Keterbatasan dalam hubungan di antara suami dan istri, mungkin karena latar belakang keduanya yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, keluarga yang berbeda, tabiat dan watak yang berbeda, hobi dan kesenangan yang berbeda, waktu yang tersedia untuk berdua minim, semua itu membuat hubungan suami-istri serba terbatas, namun hal ini bukan penghalang yang berarti, selama istri memahami kaidah prioritas ini.
   Istri yang baik adalah wanita yang mengetahui tatanan prioritas dengan baik, dengan tataran hubungan suami istri, secara emosional dan fisik, dalam tatanan rumah tangga, secara formalitas dan etika, ia menempati deretan nomor wahid.
Realitas dalam menuntut
   Di hari-hari pertama pernikahan, biasanya dalam benak orang yang menjalani tersusun rencana-rencana yang hendak diwujudkan, tertata target-target yang hendak direalisasikan, terlintas harapan-harapan yang hendak dibuktikan. Umum, lumrah dan jamak. Kata orang, hidup ini memang berharap, karena berharap kita bisa tetap eksis hidup dengan berbagai macam situasi dan kondisinya. Demikian pula dengan sebuah rumah tangga. Tahun pertama harus memiliki anu. Tahun kedua harus ada ini. Tahun ketiga, keempat dan seterusnya.
   Sekali lagi wajar, selama hal itu masih realistis. Dan soal harapan dan ambisi biasanya istri selalu yang menjadi motornya. Dalam sebuah ungkapan dikatakan, “Wanita menginginkan suami, namun jika dia telah mendapatkannya, maka dia menginginkan segalanya.” Memang tidak semua wanita, karena ini hanya sebuah ungkapan dan tidak ada ungkapan yang general. Namun dalam batas-batas tertentu ada sisi kebenarannya, karena tidak jarang kita melihat beberapa orang suami yang banting tulang dan peras keringat demi kejar setoran yang telah dipatok istrinya.
   Maka alangkah bijaknya jika dalam menuntut dan mencanangkan target memperhatikan realita dan kapasitas suami, jika sebuah harapan sudah kadung digantung tinggi, lalu ia tidak terwujud, maka kecewanya akan berat, bak orang jatuh dari tempat yang sangat tinggi, tentu sakitnya lebih bukan?
   Sebagian istri memaksa suami menelusuri jalan-jalan yang berduri dan berkelok-kelok, di mana dia tidak menguasainya, jika suami mengangkat tangan tanda tak mampu mewujudkan sebagian dari tuntutannya, maka istri berteriak mengeluh. Hal ini, sesuai dengan tabiat kehidupan rumah tangga, menyeret kehidupan rumah tangga kepada jalan buntu selanjutnya yang muncul adalah perselisihan, jika ia menyentuh dasar kehidupan, maka bisa berakibat keruntuhannya.
   Seorang istri shalihah selalu mendahulukan akalnya, dia tidak membuat lelah suaminya dengan tuntutan-tuntutan yang irasional, tidak membebaninya di luar kemampuannya dan tidak memberatkan pundaknya dengan permintaan-permintaan demi memenuhi keinginan-keinginannya semata.
   Salah satu contoh yang jarang ditemukan yang terjadi dalam sejarah tentang keteladanan sebagian istri yang begitu memperhatikan keadaan suami tanpa batas walaupun hal tersebut berarti mengorbankan kemaslahatannya sendiri adalah apa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab ath-Thabaqat tentang Fathimah az-Zahra’ pada saat dia dan suaminya Ali bin Abu Thalib mengalami kesulitan hidup yang membuatnya bermalam selama tiga malam dalam keadaan lapar, pada saat Ali melihatnya pucat, dia bertanya, “Ada apa denganmu wahai Fathimah?” Dia menjawab, “Telah tiga malam ini kami tidak memiliki apa pun di rumah.” Ali berkata, “Mengapa kamu diam saja?” Fathimah menjawab, “Pada malam pernikahan bapakku berkata kepadaku, ‘Hai Fathimah, kalau Ali pulang membawa sesuatu maka makanlah, kalau tidak maka jangan memintanya.”
Bermental kaya
   Mental kaya, dalam agama dikenal dengan istilah qana’ah, rela dengan apa yang Allah SWT bagi sehingga tidak menengok dan berharap apa yang ada di tangan orang lain.
   Kaya bukan kaya dengan harta benda, namun kaya adalah kaya hati, artinya hati merasa cukup. Sebanyak apa pun harta seseorang, kalau belum merasa cukup, maka dia adalah fakir. Kata fakir dalam bahasa Arab berarti memerlukan, jadi kalau seseorang masih memerlukan [baca: berharap dan menggantungkan diri] kepada apa yang dimiliki oleh orang lain tanpa berusaha, maka dia adalah fakir alias miskin.
   Kebahagiaan rumah tangga bergantung kepada perasaan istri dalam skala lebih besar daripada yang lain, jika istri tidak bermental kaya, maka dia akan selalu merasa kekurangan, akibatnya dia akan mengeluh kemana-mana dengan kekurangannya. Kurang ini, kurang itu, kurang anu dan seterusnya. Mentalnya adalah mental sengsara, mental miskin, minim syukur, memposisikan diri sebagai orang miskin sehingga seolah-olah dirinya patut diberi zakat.
   Padahal seorang wanita bisa saja memiliki segala keutamaan di kolong langit ini, akan tetapi semua keutamaan ini tidak ada nilai dan harganya jika yang bersangkutan mempunyai tabiat sengsara dan mental miskin. Kedua tabiat ini bagi wanita menyebabkan kesengsaraan bagi suami dan kenestapaan bagi rumah tangga.
   Banyak wanita sejak zaman batu sampai hari ini merasa nyaman dengan tabiat sengsara dan mental miskin ini. Dalam kehidupan sejarah, Nabiyullah Ibrahim pernah menemukan dua orang wanita, yang pertama bermental miskin dan yang kedau bermental kaya, keduanya pernah menjadi istri bagi anakya, Ismail. Dengan bahasa sindiran, Nabi Ibrahim pernah meminta Ismail untuk berpisah dari istri pertamanya. Ibrahim melihat istri pertama anaknya bukan istri yang layak, karena dia bermental miskin. Ketika Ibrahim bertanya kepadanya tentangnya kehidupannya dengan suaminya, yang Ibrahim dengar dari mulutnya hanyalah keluh kesah. Sebaliknya istri kedua, jawabannya kepada mertuanya mengisyaratkan bahwa dia adalah istri yang pandai bersyukur dan bersikap qana’ah, maka Ibrahim meminta Ismail untuk mempertahankannya.
   Dalam kehidupan ini tidak sedikit kita menemukan istri model seperti ini. Ditinjau secara sepintas dari keadaan rumahnya, rumah milik sendiri, lengkap dengan perabotan elektronik yang modern, didukung kendaraan keluaran terbaru, tapi dasar mentalnya mental miskin, maka yang bersangkutan tetap mengeluh seolah-olah dia adalah orang termiskin di dunia. Apakah hal ini merupakan kebenaran dari firman Allah SWT, yang artinya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. al-Ma’arij: 19). Tanpa ragu, memang.
   Jika istri bermental kaya, maka keluarga akan merasa kaya dan cukup. Ini menciptakan kebahagiaan. Jika istri bermental melarat, maka yang tercipta di dalam rumah adalah iklim melarat dan ini menyengsarakan. (Izzudin Karimi)
Menjaga Kehormatan Istri
Besarnya perkara kehormatan
   Kehormatan merupakan salah satu dari hak asasi muslim di mana Islam hadir untuk menjaga dan melindunginya, dan untuk menjaganya Islam meletakkan langkah-langkah preventif dengan mengharamkan seseorang membicarakan kehormatan saudaranya atau menciderainya dengan melayangkan tuduhan-tuduhan palsu, hal ini berlaku di antara satu muslim dengan muslim yang lain, lalu bagaimana jika hal itu di antara muslim dengan muslimah yang terikat tali perkawinan?
   Allah SWT berfirman, artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar: Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar; lagi yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” (QS. an-Nur: 23-25).
   Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu?” Beliau SAW menjawab, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan kebenaran, makan riba, makan harta anak yatim, berlari dari medan perang dan menuduh wanita mukminah yang terjaga yang tidak mengerti.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Suami tidak boleh menuduh istri hanya karena anak yang dia lahirkan beda warna kulit dengannya
   Dari Said bin al-Musayyib dari Abu Hurairah ra bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, dia berkata, “Ya Rasulullah, anakku lahir berkulit hitam.” Nabi SAW bersabda, “Adakah kamu mempunyai unta?” Dia menjawab, “Ya.” Nabi SAW bertanya, “Apa warnanya?” Dia menjawab, “Merah.” Nabi SAW bertanya, “Adakah yang berwarna abu-abu?” Dia menjawab, “Ada.” Nabi SAW bertanya, “Dari mana ia?” Dia menjawab, “Mungkin dari keturunan nenek moyangnya.” Nabi SAW bersabda, “Bisa jadi anakmu itu dari keturunan nenek moyangnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
   Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, laki-laki itu berkata, “Ya Rasulullah SAW istriku melahirkan anak berkulit gelap.” Dia bermaksud mengingkarinya. Di akhir hadits terdapat tambahan, dan Nabi SAW tidak membolehkannya untuk mengingkarinya.
Suami tidak berhak mengingkari anaknya dengan alasan dia melakukan senggama putus
   Jika suami menggauli istri dan membuang spermanya di luar lalu istrinya ternyata hamil maka suami tidak boleh menuduhnya atau mengingkari kehamilannya, karena sperma mungkin mendahuluinya sehingga istrinya hamil tanpa dia merasa. Hal ini ditetapkan oleh sunnah yang shahih, dari Jabir bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW maka dia berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai hamba sahaya, dia adalah pelayan kami dan pengambil air bagi kami, aku menggaulinya tetapi aku tidak ingin dia hamil.” Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah azl jika kamu ingin, apa yang ditakdirkan untuknya tetap akan datang kepadanya.” Beberapa waktu setelah itu laki-laki datang lagi, dia berkata, “Sesungguhnya hamba sahaya tersebut hamil.” Nabi SAW bersabda, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu bahwa apa yang ditakdirkan untuknya akan datang kepadanya.” (HR. Muslim).
   Dari Abu Said al-Khudri berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang azl, maka beliau bersabda, “Tidak semua sperma membentuk anak, tetapi jika Allah hendak menciptakan sesuatu maka tidak ada sesuatu yang mencegahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Tidak boleh berburuk sangka kepada istri
   Allah SWT berfirman, artinya, “Hai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. al-Hujurat: 12).
   Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW bersabda, “Jauhilah prasangka karena prasangka adalah pembicaraan yang paling dusta, jangan memata-matai, jangan mengawasi, jangan saling membenci dan jadilah kalian bersaudara, seseorang tidak melamar di atas lamaran saudaranya sehingga dia menikahinya atau meninggalkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Suami tidak boleh memata-matai istrinya
   Allah SWT berfirman, artinya, “Jangan memata-matai.” (QS. al-Hujurat: 12).
   Dari Jabir berkata, “Rasulullah SAW melarang suami pulang kepada keluarganya pada malam hari untuk mencari kesalahan mereka atau mengendus aib mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, ini adalah lafazhnya).
Cemburu adalah wajib
   Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang yang Allah haramkan surga bagi mereka; pecandu khamr, pendurhaka kepada bapak ibunya dan dayyuts yang membiarkan keburukan pada keluarganya.” (HR. Ahmad, ini adalah lafazhnya, an-Nasa’i, dishahihkan oleh al-Albani).
Cemburu ada batasnya
   Dari Jabir bin Atik al-Anshari dari bapaknya berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Di antara cemburu ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Di antara kesombongan ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Adapun cemburu yang dicintai Allah maka ia adalah cemburu dalam sesuatu yang mencurigakan. Adapun cemburu yang membenci Allah maka ia adalah cemburu dalam sesuatu yang tidak mencurigakan.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, ad-Darimi dan Ahmad dihasankan oleh al-Albani).
   Dari Muawiyah ra berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jika kamu mengendus-ngendus kesalahan-kesalahan manusia niscaya kamu merusak mereka atau hampir merusak mereka.” Abu ad-Darda’ ra berkata, “Sebuah kalimat yang didengar oleh Muawiyah dari Rasulullah SAW, Allah SWT memberikan manfaat kepadanya karenanya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh an-Nawawi).
Jika suami mengakui anak atau kehamilan istri maka dia tidak boleh mengingkarinya setelah itu
   Asy-Syafi’i berkata, “Jika seorang suami mengakui kehamilan istrinya lalu istri melahirkan seorang anak dari kehamilan tersebut atau lebih kemudian dia mengingkarinya anak itu atau dua anak kembarnya dari kehamilan itu maka anak tersebut tidak dinafikan dari suami, tidak dengan li’an atau selainnya.” (Al-Um 5/311).
   Lanjut asy-Syafi’i, “Suami tidak berhak menafikan anaknya setelah dia mengakuinya sekali atau lebih hanya karena dia melihat anaknya tidak mirip dan indikasi-indikasi lainnya jika suami mengakui bahwa anak itu lahir di atas ranjangnya, dia tidak boleh mengingkarinya dalam keadaan apa pun kecuali jika dia sudah mengingkarinya sebelum mengakuinya.” (al-Um 5/141).
   Jika suami mengakui salah satu bayi kembar maka dia tidak boleh mengingkari kembarannya.
   Ibnu Qudamah berkata, “Pasal, jika istrinya melahirkan bayi kembar kurang dari enam bulan lalu dia menasabkan salah satunya kepada dirinya dan mengingkari yang lain, maka keduanya terindukkan nasabnya kepadanya, karena keduanya dalam satu kehamilan, tidak mungkin salah satu bayi darinya sedangkan bayi yang lain dari orang lain, jika nasab salah satu dari keduanya ditetapkan kepadanya maka secara otomatis nasab yang lain juga terinduk kepadanya, kami menjadikan anak yang dia ingkari seperti anak yang dia akui, tidak sebaliknya, karena sebisa mungkin kita mengindukkan nasab daripada mengingkarinya.” (Al-Mughni 8/57). (Izzudin Karimi).
FATWA ISLAMI
Hukum Mengambil Harta Suami Tanpa Sepengetahuannya
Tanya:
Suami saya tidak memberi nafkah kepada saya dan tidak pula kepada anak-anak saya. Kadang kami mengambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya, Apakah kami berdosa?
Jawab:
Seorang istri boleh mengambil dari harta suaminya tanpa sepengetahuannya sebanyak yang dibutuhkannya dan dibutuhkan anak-anaknya dengan cara yang baik, tidak berlebihan dan tidak tabdzir, jika memang sang suami tidak memenuhi kebutuhannya, berdasarkan riwayat yang disebutkan dalam ash-Shahihain, dari Aisyah, bahwa Hindun binti ‘Utbah mengadu kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan tidak memberiku (nafkah) yang mencukupiku dan mencukup anakku.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Ambillah dari hartanya dengan cara yang baik sebanyak yang bisa mencukupi keperluanmu dan mencukupi anakmu.” Hanya Allahlah pemberi petunjuk. (Fatawa Al-Mar’ah, hal. 65-66, Syaikh Ibnu Baz)


6
Jodoh & Pernikahan / Pernikahan Islamy
« pada: April 14, 2010, 10:55:03 am »

Pernikahan Islamy
Kapankah Kita Akan Mengamalkannya?
Oleh: Abu Faiz Makarim Al-Faruq

   Nikah merupakan Sunnah para Nabi pada umumnya dan merupakan Sunnah Muthoharoh (yang suci dan mensucikan) yang dianjurkan dan dipraktekkan juga oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Selain itu Nikah juga merupakan jalan yang penting dan utama untuk mencapai kesucian diri, karena padanya ada benteng yang mampu membendung perkara-perkara yang diharamkan Alloh. Sehingga bagi seorang muslim dan muslimah proses dari awal sampai akhirnya pun haruslah sejalan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Alloh dan Rasul-Nya. Oleh Karena itu hendaknya laki-laki atau perempuan yang hendak menikah terlebih dahulu mempertimbangkan keadaan agama pasangannya. Dengan melihat bagaimanakah sikap beragamanya taat atau lalai atau lebih jauh lagi tidak peduli agama. Karena ini merupakan dasar yang utama yang akan sangat mempengaruhi baik tidaknya sebuah rumah tangga. Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Dinikahi wanita itu (umumnya) karena 4 perkara: yaitu karena hartanya, karena nasabnya, karena cantiknya dan karena agamanya, maka pilihlah wanita yang baik beragama, niscaya engkau bahagia.” (Mutafaqun ‘Alaihi)
I.   Tata Cara Pelaksanaan Pernikahan dan Akad Nikah
Bentuk pelaksanaan akad nikah yang sekarang ada umumnya adalah kedua calon mempelai duduk bersama didepan penghulu kemudian kepala kedua mempelai ditutup dengan kain. Lalu petugas pencatat dari KUA membimbing pengantin laki-laki sebelum mengucapkan ‘Saya terima nikahnya fulan bin fulan’ dengan bacaan-bacaan seperti ucapan istighfar, sholawat, dan syahadat.
Pertanyaannya darimana dasar dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi sebelum mengucapkan qobul ‘Saya terima nikahnya fulan bin fulan’ seorang pengantin laki-laki itu harus ber-istighfar, bersholawat dan ber-syahadat dulu? dalam kitab hadits mana Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam melakukan praktek demikian serta kepala kedua calon mempelai harus ditutup kain?
Hal ini patut ditanyakan supaya kita terbangun dari tidur kita yang panjang ini, bahwa praktek-praktek seperti itu bukan ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam, bahkan menutup kepala kedua mempelai ketika menikah kalau kita rajin mebaca sejarah, ternyata hal itu merupakan ciri khasnya orang-orang YAHUDI. Mungkin sebagian kita bertanya bukankah ber-istighfar, bersholawat dan ber-syahadat itu baik? kita katakan benar, akan tetapi menempatkan bacaan-bacaan tersebut pada waktu-waktu tersebut bukanlah kebaikan buktinya Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salami dan para shahabatnya tidak melakukannya, lalu apakah berani kita mengatakan bahwa Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya tidak tahu bahwa membaca bacaan-bacaan itu adalah suatu kebaikan jika dibaca sebelum ijab qobul?! Yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam cukuplah sang pengantin pria sendiri mengucapkan qobul dihadapan walinya dan saksinya walaupun tanpa keikutsertaan mempelai wanita karena pada saat itu kedua calon mempelai belum boleh bersentuhan apapun karena mereka masih bukan mahromnya. Oleh karena itu salah besar kalau mempelai wanita di dudukan bersama berdampingan dengan pengantin laki-lakinya karena pada saat itu mereka belum sah untuk saling bersentuhan, kecuali setelah beres ijab qobulnya. Maka bagi siapa saja yang ingin benar-benar mengikuti Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam hendaknya menjauhi hal itu. Termasuk kepada para petugas pencatat hendaknya mereka juga kembali membuka lembaran-lembaran sejarah bagaimana Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya melakukan proses yang skaral ini agar kita tidak melenceng dari cara-cara yang telah diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam, karena segala amalan yang keluar dari jalur yang telah dicontohkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam adalah amalan sia-sia saja. (HR. Muslim). Maukah acara sacral kita menjadi sia-sia dihadapan Alloh subhanahu wa Ta’ala?
II.   Tata Cara Walimatul Urusy/ Resepsi Pernikahan Dalam Ajaran Islam.
Walimah dianjurkan sekali meskipun dilaksanakan dengan sangat sederhana. Disebutkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam:
‘Adakanlah walimah walaupun dengan seekor kambing’. (Shahih Sunan Abu Daud no 1854)

III.   Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan walimah/resepsi:
1.   Para undangan pria dan wanita tidak bercampur baur
Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya, beliau tidak pernah mengumpulkan laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya dalam satu ruangan untuk saling bertatap muka dan bercengkerama. Bentuk pelaksanaannya bisa didua ruangankan atau ditempat yang besar lalu diberi pembatas dengan kain pembatas.

2.   Tidak diperbolehkan adanya tarian-tarian yang diiringi alat-alat musik
Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam pernah berkata kepada ‘Aisyah ketika ‘Aisyah mengarak pengantin wanita untuk menemui pengantin laki-lakinya beliau berkata “Wahai ‘Aisyah kenapa kamu tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshor senang dengan hiburan. (HR. Bukhari 9/184-185, Al-Hakim 2/184, Baihaqi 7/288). Yaitu hiburan berupa nyanyian yang berisi nasihat yang baik tanpa disertai instrument musik orang-orang kafir (seperti biola, piano dsb). Yaitu nyanyian yang sederhana, yang hanya menggunakan tabuhan gendang dari kulit. Ini dilakukan untuk membedakan walimah dengan acara berkabung. Karena dalam acara berkabung tidak ada makan-makan dan lagu-lagu walaupun orang-orang sama-sama berkumpul.

3.   Tidak ada contohnya mengadakan walimah lebih dari 3 hari
Ketika Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam menikahi Shofiyah, beliau mengadakan walimah selama 3 hari. (HR. Abu Ya’la hadis semakna terdapat juga dalam shahih Bukhari 7/387) hal ini pelaksanaannya tergantung kepada kesiapan finansial yang ada.

4.   Hendaklah mengundang orang-orang yang shaleh, baik miskin ataupun kaya.
Sebagaimana wasiat Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam
“Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu kecuali orang yang bertakwa”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim). Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam juga bersabda: “Makanan yang paling buruk adalah makanan dimana orang-orang kaya diundang makan sedangkan orang-orang miskin tidak diundang” (HR. Muslim)

IV.   Tuntunan Islam untuk para tamu undangan
1.   Hendaknya para undangan mengetahui bahwa menghadiri undangan seseorang apapun bentuknya adalah WAJIB kecuali undangannya orang-orang kafir.
Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan walimah atau lainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan itu berarti dia telah bermaksiat kepada Alloh dan RosulNya”. (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, Ahmad 6337, Baihaqi 7/262)
Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang didalamnya terdapat kemungkaran dan kemaksiatan seperti campur baurnya laki-laki dan perempuan yang notabenenya berpakaian membuka auratnya. Musik-musik yang diiringi tarian-tarian laki-laki dan perempuan, sanding party dsb. Diceritakan pada suatu kesempatan Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam diundang oleh Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu Anhu beliau sempat masuk kedalam rumah, tetapi ketika dalam rumah terdapat tirai yang bergambar (makhluk bernyawa) maka beliau keluar dan bersabda:
“Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke suatu rumah yang didalamnya ada gambar”. (HR. Nasa’i, dan Ibnu Majah shahih lihat jami’us shahih mimma laisa fis shahihain syaikh Muqbil)

2.   Memberikan hadiah kepada pengantin
Memberi hadiah sangat dianjurkan sekali oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam. Disebutkan dalam tarikh bahwa itu termasuk kebiasaan para shahabat Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam. Yang diantara faidahnya adalah semakin menambah ‘kecintaan’ antar sesama.

3.   Mendoakan pengantin
Abu Hurairah Radhiyallohu Anhu menyebutkan bahwa Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam jika mengucapkan selamat kepada mempelai beliau mengucapkan doa:
“Baarakalloohu laka wa barokalloohu ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoiir”.

Semoga keberkahan Alloh berikan kepadamu dan senantiasa tercurah atasmu, dan semoga Alloh mempersekutukan kalian berdua dalam kebaikan. (HR. Abu Daud 1/332 Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya)

Adapun ucapan “Semoga mempelai banyak rizki dan banyak anak” adalah ucapan yang dilarang dalam Islam, karena disebutkan dalam tarikh itu adalah ucapan orang-orang jahiliyyah zaman dulu.

Demikianlah tata cara pernikahan yang disyari’atkan oleh Alloh dan RosulNya, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelapangan bagi orang-orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dengan segala sesuatunya. Dan mudah-mudahan digolongkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala kedalam firmanNya:
Yaitu orang-orang yagn berdoa: “Ya Robbi, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqon: 74)

V.   Dibawah ini adalah hal-hal yang bukan dari ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam:

1.   Pacaran
Disinilah tempatnya setan melancarkan berbagai macam godaannya, mulai dari saling menatap, berpegangan sampai pada tingkat berzina, sehingga tak sedikit mereka yang membudidayakan produk setan ini, hamil diluar nikah. Naudzubillah semoga Alloh melindungi keluarga kita dari jeratan iblis ini.

2.   Tunangan
Pertunangan biasanya dikenal dengan acara tukar cincin, dalam Islam ada istilah khitbah (meminang) sebagai bentuk keseriusan seorang laki-laki terhadap seorang perempuan yang dicintainya dengan menyatakan kepada sang wali. Dalam tahap ini pertunangan yang umumnya dilakukan hampir sama. Akan tetapi dalam prakteknya ada beberapa tradisi-tradisi orang-orang kafir yang sering dipakai oleh umat Islam ini seperti tukar cicin. Sebetulnya cukuplah bagi sang peminang untuk memberikan semacam hadiah tanpa harus dengan simbol cincin. Hal lain yang juga sangat disayangkan orang tua kedua belah pihak adalah mereka beranggapan bahwa, setelah dilamar kedua calon mempelai bebas melakukan apa saja, pikir mereka kalau hamilpun sudah jelas siapa orang yang akan bertanggung jawabnya! Naudzubillah padahal mereka masih bukan mahromnya, belum halal apapun yang ada pada wanitanya kecuali setelah ijab qobul selesai dilaksanakan. Dalam Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda “Kepada seseorang itu lebih baik ditusuk jarum besi daripada menyentuh wanita yang bukan mahromnya.” (Al-Hadits).

3.   Mensyaratkan mas kawin yang tinggi
Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Sebaik-baik mas kawin itu adalah yang paling murah (bagi laki-lakinya)”. (HR. Hakim dan Ibnu Majah)

4.   Menghambur-hamburkan harta atau uang (untuk hal-hal yang tidak ada kebaikannya untuk dunia dan akhirat kita)
Diantara contohnya melangsungkan walimah selama 7 hari 7 malam, mereka beranggapan bahwa pernikahan hanya sekali seumur hidup jadi harus diramaikan dengan berbagai macam acara-acara, sehingga tak sedikit uangnya didapatkan dari hutan. Ini merupakan perakara yang tidak mulia dan bisa jadi haram. Alloh dan RasulNya tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan.

5.   Kemusyrikan
Dalam menetapkan hari H-nya ada yang memberikan sesajen-sesajen agar mendapat restu dan kelancaran dari dewa-dewa atau roh-roh selain Allah Naudzubillah. Padahal mereka tahu bahwa melakukan kemusyrikan adalah dosa terbesar yang tidak ada ampun apabila meninggal sebelum bertobat. Dalam suasana yang sacral seperti ini (walimatul Ursy) biasanya para malaikat ikut hadir untuk meng-amin-kan doa-doa dan waktu itu pula termasuk waktu maqbulnya doa, namun dalam acara itu jika banyak penyimpangan dan hal-hal yang melanggar syari’at bagaimana mungkin malaikat rahmat akan hadir disana? Dan bagaimana doanya bisa dikabul? Apa jadinya rumah tangga yang akan dijalani kelak oleh pengantin tadi jika tidak adanya iringan doa-doa dan orang-orang yang hadir pada saat itu.

Inilah sebagian fenomena yang umumnya dilakukan oleh sebagian masyarakat kita. Apa-apa yang dijelaskan diatas bukanlah ajaran dari kelompok tertentu, tetapi demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya.
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin
Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Alloh menjadikan pahala kebaikan yang banyak (Q.S. An-Nisa’: 19)

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S. Ar-Ruum: 21)

Wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh karena Alloh telah memelihara (mereka) (Q.S. An-Nisa’: 34)

Sejenak bersama wasiat-wasiat Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam

Rasululloh shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda:
Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya (HR. Tirmidzi)

Termasuk kebaikan dari wanita adalah, mudah melamarnya, ringan maharnya, dan subur kandungannya (HR. Ahmad dan yang lainnya)

Apabila datang kepadamu seorang pemuda yang engkau senangi akhlaq dan agamanya, maka kawinkanlah (dengan putrimu), jika tidak kamu lakukan, maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Pesan nabi untuk para suami

Kamu beri makan bila kamu makan dan kamu beri pakaian bila kamu berpakaian –atau bila kamu memperolehnya- dan janganlah kamu memukul wajah, jangan kamu mejelek-jelekan…..(HR. Abu Daud)


7
Aqidah & Akhlaq / BAGAIMANA MENYIKAPI PERPECAHAN UMAT
« pada: April 14, 2010, 10:45:51 am »
BAGAIMANA MENYIKAPI PERPECAHAN UMAT
   Derap langkah perkembangan dakwah Islamiyyah semenjak kepergian Rosululloh SAW mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan dalam satu sisi. Hal ini terbukti dengan makin melebarnya perluasan wilayah Islam yang telah dilakukan oleh para kholifah dan pemimpin kaum muslimin sepeninggal beliau. Namun, di sisi lain, umat ini pun mengalami kemerosotan yang memprihatinkan dengan munculnya benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin sendiri. Berbagai kelompok dan aliran bermunculan dengan latar belakang dan demi kepentingan rezim yang berbeda-beda. Akibatnya, persatuan yang sebelumnya menghiasi tubuh kaum muslimin mulai memudar tertutup oleh mendung fanatisme kelompok yang sangat berbahaya.
   Namun, di tengah-tengah perpecahan umat yang kian hari kian kritis ini, kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW dituntut untuk bisa menyikapinya dengan penuh kebijaksanaan sesuai dengan yang telah dituntunkan oleh Rosululloh SAW. Maka dari itu, dengan memohon kemudahan dari Zat yang Maha Rohman, kami akan menyajikan satu bentuk tulisan yang mudah-mudahan bisa menjadi sebagai spirit (penyemangat) dalam menghadapi segala bentuk fitnah dan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin. Wallohul Muwaffiq.
Perpecahan Adalah Sunnatulloh
   Perpecahan dan perselisihan yang selama ini banyak mengotak-ngotakkan kaum muslimin bukanlah fenomena baru dalam realitas umat. Demikian, karena sesungguhnya hal ini merupakan sunnah kauniyyah yang pasti terjadi dan tidak dapat dipungkiri dalam roda kehidupan umat manusia itu sendiri. Alloh SWT telah menandaskan dalam firman-Nya bahwa manusia akan senantiasa terbelenggu dalam lingkaran perselisihan:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rohmat oleh Tuhamnu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka…(QS. Hud [11]: 118-119)
   Demikian pula Rosululloh SAW, dalam sebuah hadits beliau mengabarkan bahwasannya umat ini akan berpecah-pecah layaknya umat-umat terdahulu. Sabda beliau: “Ketahuilah bahwasannya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat adapun umat ini maka akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di antaranya berada di neraka dan hanya satu golongan yang akan berada di surga yaitu mereka yang berpegang teguh dengan al-jama’ah.” (HR. Imam Ahmad: 4/102, Abu Dawud: 4597, dihasankan oleh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 3/115)
Bagaimana Menyikapi Perpecahan Umat
   Sesungguhnya perpecahan dan perselisihan sebagai realitas umat merupakan sunnatulloh yang pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan. Kendati demikian, bukan berarti kita sebagai umat Islam hanya diam berpangku tangan dan menyerah pada kenyataan ini. Semestinya hal ini malah menjadi motivator bagi kita untuk semakin berpegang teguh dengan agama yang hanif ini serta menjauhi segala bentuk perpecahan dan perselisihan. Alloh SWT berfirman:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai….(QS. Ali Imron [3]: 103)
   Sidang pembaca yang diromhati Alloh SWT, di tengah-tengah kemelut perpecahan yang tak terkendalikan ini, Rosululloh SAW sebagai utusan Alloh SWT yang mengeluarkan manusia dari gelapnya lingkaran hizbiyyah (kelompok/golongan) telah memberikan solusi jitu bagi umatnya sehingga mereka tidak akan tersesat dari jalan yang diridhoi Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW. Nasihat beliau tersebut terhimpun dalam satu untaian sabdanya yang diriwayatkan dari sahabat mulia Irbadh bin Sariyah. Beliau bersabda:
“… Barang siapa yang hidup sepeninggalku sungguh akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak. Oleh karenanya, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapat petunjuk setelahku. Berpegangteguhlah dengan sunnah(ku) tersebut dan gigitlah dengan gigi gerahammu, kemudian hindarilah segala bentuk perkara baru dalam agama karena setiap perkara baru adalah bid’ah sedangkah setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud: 4607, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 3/119)
Dalam hadits yang mulia ini terangkum tiga wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai perpecahan dan perselisihan setelah kepergian beliau: PERTAMA: kewajiban berpegang teguh dengan sunnah beliau, KEDUA: wajib menggandengkan sunnah beliau dengan pemahaman para sahabat, dan KETIGA: menjauhi segala bentuk hal yang baru dalam agama.
PERTAMA: BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH ROSULULLOH SAW
   Kewajiban bagi umat Islam ketika gemuruh perpecahan semakin menghantam adalah mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada al-Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW. Alloh SWT berfirman:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian …. (QS. an-Nisa’ [4]: 59)
   Syaikh Abdurrohman as-Sa’di berkata: “Kaum muslimin diperintahkan untuk mengembalikan setiap apa yang mereka perselisihkan baik dalam masalah aqidah (ushuluddin) maupun dalam cabang-cabang agama lainnya (furu’) kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW yaitu kepada al-Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW.” (Taisir Karimirrohman: 171)
   Dan dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwasannya suatu ketika Rosululloh SAW membuat satu garis di hadapan kami (para sahabat) lantas beliau bersabda: “Ini adalah jalan Alloh SWT.” Kemudian beliau kembali membuat beberapa garis di sisi kanan dan kiri garis sebelumnya seraya bersabda: “Ini adalah beberapa jalan dan di ujungnya setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat: “Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu hanya akan mencerai-beraikan kamu dar jalan-Nya.“ (HR. Imam Ahmad: 1/435, dengan sanad hasan sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)
KEDUA: WAJIB MENGGANDENGKAN SUNNAH ROSULULLOH SAW DENGAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT
   Mengamalkan sunnah Rosululloh SAW sesuai dengan pemahaman para sahabat adalah sebuah kewajiban yang telah diwasiatkan oleh Rosululloh SAW kepada umatnya di dalam banyak hadits. Di antaranya adalah sabda beliau ketika mengabarkan bahwasannya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya berada dalam api neraka kecuali satu golongan yang akan selamat, lantas para sahabat bertanya kepada beliau: “Siapakah mereka wahai Rosululloh?” Maka beliau pun menegaskan bahwasannya golongan yang akan selamat adalah mereka yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah para sahabatnya. (HR. Tirmidzi: 2641, dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunah Tirmidzi: 3/54)
   Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi berkata: “Menapaki sunnah para sahabat Rosululloh SAW merupakan biduk keselamatan. Hal ini dikerenakan mereka menyaksikan langsung bagaimana wahyu diturunkan, dan mereka pun menerima suguhan al-Qur’an dan as-Sunnah berserta realisasinya dari Rosululloh SAW sendiri dengan pemahaman yang sebenar-benarnya. Maka pantaslah jika Rosululloh SAW bersabda, ‘Apa yang saya dan para sahabat saya berada di atasnya.’ Dan sabdanya ‘Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapatkan petunjuk (sepeninggalku).” (Syarah Ushulus Sunnah: 15)
KETIGA: MENJAUHI SEGALA PERKARA BARU DALAM AGAMA
   Di akhir hadits iftiroq (perpecahan) ini Rosululloh SAW menutup wasiatnya dengan perintah untuk menghindari segala bentuk bid’ah dalam agama, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun mu’amalah, dan hal ini beliau peringatkan karena sesungguhnya di setiap jalan yang ditempuh oleh tujuh puluh dua golongan tersebut terdapat setan yang selalu menyeru menuju kepada jalan kebinasaan yang berpangkal pada bid’ah itu sendiri. Imam Ibnul Qoyyim pernah berkata: “Sesungguhnya pangkal setiap kejelekan dan keburukan kembali kepada bid’ah.” (I’lam al-Muwaqqi’in: 1/134)
   Saudaraku, itulah tiga rangkaian wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai kabut perpecahan di akhir zaman. Oleh karenanya, tiada pilihan bagi kita melainkan harus menjadikannya sebagai pegangan dalam menghadapi dan menyikapi perpecahan umat yang kian hari makin menjamur di tubuh kaum muslimin. Dan akhirnya, kita memohon semoga Alloh SWT menjaga kita semua dari belenggu setan yang selalu mengajak kepada jalan yang tiada Dia ridhoi. Amin ya Sami’ad du’a’.
Abu Kholid al-Atsari

8
Aqidah & Akhlaq / SYUBHAT SEPUTAR DAKWAH TAUHID
« pada: April 14, 2010, 10:44:29 am »
SYUBHAT SEPUTAR DAKWAH TAUHID
   Dakwah tauhid adalah dakwah yang haq (benar). Tidaklah Alloh SWT mengutus para rosul-Nya kecuali agar mereka mendakwahkan tauhid kepada segenap kaum mereka. Alloh SWT menciptakan kita dan menurunkan kitab-Nya juga karena tauhid, yakni agar umat manusia beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya semata. Oleh sebab itu, merupakan sesuatu yang sangat penting, pokok, dan bahkan paling utama, sehingga setiap da’i harus mencurahkan perhatian kepadanya sebagaimana yang telah ditempuh dan dilakukan oleh para utusan Alloh SWT. Namun demikian, suara sumbang selalu saja bermunculan. Tak jarang kita dengar berbagai macam alasan dan kerancuan untuk menjatuhkan citra dakwah tauhid ini. Terutama para “dai’i politik” yang selalu menitikberatkan dakwah mereka pada kursi kekuasaan. Menurut mereka dengan adanya kekuasaan inilah kita akan kembali jaya dan dapat menerapkan hukum Alloh SWT di muka bumi. Itulah sekelumit dari sekian banyak syubhat (kerancuan) yang mereka lontarkan. Mudah-mudahan pada pembahasan kita kali ini dapat menjadi lentera dan pengokoh hati bagi saudara-saudaraku seiman sekaligus sebagai nasihat bagi mereka yang telah menyimpang dari manhaj (metode) para nabi dan rosul ‘alaihimushsholatu wassalam. Allohul Musta’an.
Dakwah Adalah Ibadah
   Wahai saudaraku, ini sangat penting untuk kita cermati sebelum masuk pada inti pembahasan. Ketahuilah bahwasannya dakwah di jalan Alloh SWT adalah ibadah. Sedangkan ibadah itu tidak akan diterima oleh Alloh SWT kalau tidak terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:
1.   Pelaku dakwah harus muslim bukan orang kafir.
2.   Harus ikhlas karena Alloh SWT (ingin mencari ridho-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan ingin mencari pahala serta karena takut akan siksa-Nya).
3.   Ibadah harus mutaba’ah (mengikuti Nabi SAW dan para sahabat). Demikian pula dengan manhaj (metode/cara) berdakwah.2
Dua syarat yang pertama mungkin sudah banyak yang memenuhinya namun untuk syarat yang ketiga ini banyak yang lalai darinya, sehingga muncullah berbagai macam metode dakwah baru yang sebenarnya itu tidak diizinkan oleh Alloh SWT. Banyak sekali dalil yang menjelaskan bahwa sarana dakwah adalah tauqifi (terima jadi dari Nabi SAW) bukan iftihadi (hasil kebijakan atau gagasan pendapat seseorang).
   Rosululloh SAW bersabda: “Sungguh telah kutinggalkan kepadamu din yang terang-benderang ini, malamnya seperti siang, tidaklah seorang pun yang berpaling darinya melainkan dia akan celaka.” (HR. Ibnu Majah: 43, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahadits ash-Shohihah: 937)3
Sungguh sangat mustahil apabila Rosululloh SAW telah menjelaskan kepada umatnya adab buang air lalu tidak menjelaskan sarana dan manhaj (metode) dakwah padahal dengan dakwahlah agama Islam akan tegak. Sesungguhnya petunjuk beliau telah menyinari kegelapan, hujjah (argumen)nya kuat tak terbantahkan, dilanjutkan oleh para sahabat dan pengikutnya yang setia. Mereka akan sangat marah bila para da’i menyelisihinya atau mengadakan cara dakwah yang baru. maka tiada cara untuk mewujudkan masyarakat seperti kehidupan para sahabat dan pengikutnya melainkan dengan manhaj dan cara yang syar’i. Imam Malik berkata: “Tidaklah mungkin akan menjadi baik akhir umat ini melainkan dengan hal yang membuat baik para pendahulu mereka.” (Lihat al-Hujajul Qowiyah: 54-57)
   Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: Rosululloh SAW, para sahabat, dan para tabi’in (generasi setelah sahabat) menyeru orang-orang kafir, ahli maksiat, dan orang-orang fasik agar meluruskan tauhid mereka sesuai dengan apa yang disyari’atkan Islam. Alloh SWT telah mencukupkan tata cara berdakwah bagi mereka daripada tata cara bid’ah.” (Majmu’ Fatawa: 11/624)
Bagaimana Rosululloh SAW Berdakwah?
   Wahai saudaraku, kalau memang sudah jelas bagi kita bahwa dakwah adalah ibadah yang harus didasarkan pada petunjuk Rosululloh SAW maka kita harus tahu bagaimanakah sebenarnya manhaj (metode). Rosululloh SAW dalam berdakwah. Ketahuilah wahai saudaraku – semoga Alloh SWT merohmatimu – bahwa manhaj rosululloh SAW dalam berdakwah di jalan Alloh SWT adalah dengan menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Demikian pula para nabi dan rosul ‘alaihimushsholatu wassalam-. Alloh SWT banyak menceritakan kepada kita dalam kitab-Nya tentang kisah-kisah sebagian rosul, dari Nabi Nuh AS sampai zaman Nabi Muhammad SAW. Mereka, walaupun dalam sisi tempat, masa, maupun keadaan umat yang mereka dakwahi sangat berbeda, serta jauhnya rentang waktu antara para rosul, tetapi asas risalah yang disampaikan – titik mula dan pusat perhatian dalam dakwah – sama sekali tidak pernah berubah, baik obyek dakwahnya muslim atau pun kafir. Semua risalah para rosul adalah tegak untuk mengemban dakwah pengesaan terhadap Alloh SWT dalam ibadah dan meniadakan sekutu bagi-Nya. (Lihat QS. an-Nahl [16]: 36, al-Anbiya’ [21]: 25, al-Bayyinah [98]: 5)4
   Sungguh perhatian Rosululloh SAW terhadap masalah tauhid sangatlah besar hingga pada detik-detik akhir kehidupan beliau. Diriwayatkan dari sahabat Jundab bin Abdulloh al-Bajaly bahwa beliau mendengar Nabi SAW bersabda saat lima hari sebelum wafatnya: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu menjadikan kuburan-kuburan para nabi dan orang-orang sholih sebagai masjid (tempat ibadah), oleh karena itu jangan sekali-kali kamu menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid. Karena saya melarang yang demikian itu.” (HR. Muslim: 532)
Demikian pula sahabat Abu Ubaidah bin Jarroh, beliau berkata: Kata-kata terakhir yang disampaikan Nabi SAW adalah sabdanya: “Dan ketahuilah bahwa sejelek-jelek manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat ibadah).” (HR. Ahmad: 1691, 1694, ath-Thohawi: 4/13, dishohihkan Syaikha al-Albani dalam Tahdzir as-Sajid: 23)
   Lihatlah wahai saudaraku, betapa besarnya perhatian beliau terhadap tauhid. Mulai dari awal mula berdakwah hingga akhir hayatnya beliau SAW selalu memperhatikan dan mendakwahkan tauhid. Sesungguhnya dakwah tauhid adalah manhaj dakwah para nabi ‘alaihimushsholatu wassalam. Ia adalah suatu manhaj yang penuh hikmah, bersih, dan suci, sekaligus penuh dengan kendala dan ujian, serta jauh dari slogan-slogan yang menyilaukan dan menarik bagi pengikut hawa nafsu dan pencari kedudukan. Oleh karena itu, tidak ada yang mengikuti dan beriman kepada mereka (para nabi) kecuali orang-orang yang jujur, ikhlas, dan jauh dari segala macam tendensi-tendensi (tujuan) pribadi.
   Wahai saudaraku, apabila Alloh SWT adalah Zar yang paling tahu tentang keadaan para hamba-Nya dan apa saja yang bisa memperbaiki mereka – bagaimanapun keadaannya. Alloh telah memilih manhaj ini untuk semua rosul dan umat mereka, maka tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk mengubah agama Alloh SWT dengan memilih jalan hidayah selain jalan ini, untuk dirinya maupun orang lain, dan tidak boleh pula bagi kita untuk keluar dari jalan Alloh SWT dan jalan para rosul-Nya dalam berdakwah dengan alasan apa pun juga.
Dengan Kekuasaan Semua Tercapai?!!
   Tidak, sekali-kali tidak. Ini hanyalah angan-angan kosong dan impian semu serta cita-cita yang tidak akan pernah ada wujud nyatanya! Sebab setiap sesuatu yang menyimpang dari apa yang telah digariskan oleh Alloh SWT dan rosul-Nya – sekalipun mereka berusaha memunculkan segala macam argument dan alasan untuk mendukung manhaj dakwah mereka – maka yakinlah dengan seyakin-yakinnya, wahai saudaraku, pada akhirnya niscaya mereka akan mengalami kegagalan yang takkan terelakkan.
   Rosululloh SAW – sebagai panutan dan teladan kita dalam beribadah kepada Alloh SWT – selalu mentarbiyah (mendidik) para sahabatnya dengan al-Qur’an dan Sunnah, membina mereka pada kejujuran dan keikhlasan kepada Alloh SWT dalam setiap amalan, dan jauh sekali dari cara-cara politis dan iming-iming kedudukan. Tidaklah Rosululloh SAW membai’at para sahabatnya kecuali atas surga. Adalah bai’at pada Anshor di dalam keadaan yang sangat genting tidaklah pada janji-janji kedudukan, kekuasaan, harta, dan yang selainnya dari iming-iming dunia. Maka selayaknya kita mengambil faedah dari manhaj nubuwwah ini. Merupakan hal yang sangat berbahaya sekali jika para pemuda ditumbuhkan atas kecintaan pada kedudukan dan kekuasaan, sebagaimana ini terjadi pada sebagian besar jama’ah-jama’ah dan organisasi-organisasi Islam pada saat ini. Ini semua akan membawa mereka kepada kebinasaan dan kehancuran. (Lihat Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ila Alloh: 115-122)
   Sesungguhnya tegaknya daulah (negara) Madinah pada zaman Rosululloh SAW adalah buah dari dakwah tauhid, bukan sebaliknya. Tauhid adalah kunci kejayaan dan pemersatu umat. (Lihat QS. Ali Imron [3]: 105). Dan tauhid merupakan pokok kemaslahatan. Apabila tauhid telah dijadikan sebagai prioritas utama dalam dakwah sehingga ia tumbuh subur dan berkembang di dalam hati manusia, maka syari’at-syari’at yang lainnya akan dapat mereka terima secara  mudah.
Rosululloh SAW bersabda: “Ketahuilah bahwa dalam diri manusia terdapat sekerat daging, apabila baik, maka seluruh jasad menjadi baik. Dan apabila rusak, maka seluruh jasad pun rusak. Ketahuilah itu adalah hati.” (HR. Bukhori: 52 dan Muslim: 1599)
   Sungguh termasuk suatu kesalahan fatal yang banyak dilakukan oleh jama’ah-jama’ah islamiyyah dewasa ini, mereka mengabaikan segi aqidah dan hanya menyeru kepada penegak hukum Islam. Bagaimana mungkin hukum Islam tegak tanpa pembersihan aqidah-aqidah yang menyeleweng dan kesyirikan-kesyirikan?!! Sesungguhnya penegakkan hukum Islam semisal hudud, qishosh (hukum balasan terhadap kejahatan yang telah dilakukan), melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal yang diharamkan adalah hak-hak tauhid, bagaimana hak-hak tauhid diperhatikan sedangkan tauhid sendiri diabaikan?! Bagaimana bisa jama’ah-jama’ah Islamiyyah ini menuntut penguasa untuk menegakkan hukum Islam, sedangkan masyarakat di sekeliling mereka dalam keadaan jahil (bodoh) akan hukum Islam, jahil akan aqidah yagn shohih dan konsekuensinya?
   Maka wajib atas jama’ah-jama’ah Islamiyyah sekarang ini untuk mendidik umat dengan aqidah yang shohih, menjelaskan kepada mereka hukum Islam yang hakiki, tidak menyia-nyiakan waktu pada hiruk-pikuk politik, tidak berusaha memaksakan penegakan hukum dengan cara merebut kekuasaan, tetapi dengan menumbuhkan hukum Islam ini pada tubuh kaum muslimin dan mengajak mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka, yang pada akhirnya hukum Islam akan tegak dalam kehidupan mereka biidznillah (dengan izin Alloh). Sekian. Allohu A’lam.
Abu Harits as-Sidawi

1   Hal ini dikarenakan manfaatnya yang bukan untuk perorangan saja, melainkan untuk kemaslahatan (kebaikan) umat di dunia dan akhirat. Di samping itu, ia juga merupakan tugas setiap utusan Alloh SWT. Alloh SWT juga mengaitkan dakwah ini dengan ibadah yang lainnya seperti sholat, zakat, dan ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya. (Lihat dalam QS. Fushshilat [41]: 33, HR. Bukhori: 2787, Abu Dawud: 3774 dan Tirmidzi: 2095)
2   Tiga syarat tersebut tercantum dalam firman-Nya QS. al-Kahfi [18]: 110.
3   Lihat dan cermati pula QS. al-Maidah [5]: 3, an-Nisa’ [4]: 69, al Jin [72]: 23, al-A’rof [7]: 175, asy-Syuro [42]: 52-53, dan HR. Muslim: 1844.
4   Ini sekaligus sebagai bantahan kepada mereka yang mengatakan akan pentingnya perubahan metode dakwah karena tuntutan zaman. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kebutuhan zaman sekarang – bahkan setiap zaman – yang paling penting adalah ibadah yang murni kepada Alloh SWT dan menjauhi kesyirikan, yang itu merupakan tujuan  diciptakannya jin dan manusia, dan merupakan modal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi perkara-perkara yang tiada keraguan di dalamnya, yaitu: kematian, pertanyaan di alam kubur, kebangkitan, hari perhitungan, dan hari pembalasan.

9
Artikel Pilihan / HUKUM PAKAIAN POTONGAN BAGI WANITA
« pada: April 14, 2010, 10:40:11 am »
HUKUM PAKAIAN POTONGAN BAGI WANITA


Sebagian muslimah multazimah (yang komitmen dengan berbagai aturan syariat) beranggapan bahwa pakaian muslimah yang syar’i harus berupa memakai jubah, gamis panjang atau terusan. Akhirnya mereka beranggapan bahwa muslimah yang memakai pakaian potongan (ada atasan dan ada bawahan) bukanlah muslimah yang mengenakan pakaian yang syar’i. Di samping itu muncul anggapan bahwa itu adalah gaya berpakaian ala haroki atau hizbi. Padahal jika kita tahu bahwa model pakaian muslimah semacam itu adalah model pakaian yang masih diperkenankan oleh syariat tentu tidak sepantasnya kita memiliki anggapan-anggapan semisal di atas.

Kita semua memiliki kewajiban untuk berilmu sebelum beramal dan berucap. Berikut ini kami bawakan fatwa ulama ahli sunnah dalam masalah ini. Setelah mentelaahnya, kita akan mengetahui komentar apa yang tepat untuk model pakaian muslimah di atas.

السؤال الخامس من الفتوى رقم  7791
س5: ما هي شروط الحجاب، أيجب أن يكون الجلباب قطعة واحدة أم يمكن أن يكون قطعتين، وإذا فعل هذا أيكون بدعة أم لا؟ أفيدونا.

Pertanyaan kelima pada fatwa no 7791

1. Pertanyaan [Hukum Pakaian Potongan]

“Apa saja syarat hijab (pakaian muslimah)? Apakah jilbab (pakaian muslimah) itu wajib terdiri dari satu potong kain ataukah diperbolehkan jika terdiri dari dua potong kain? Jika pakaian muslimah tersebut terdiri dari dua potong kain apakah itu bid’ah ataukah tidak? Beri kami jawaban”.

ج5: الحجاب سواء كان قطعة أو قطعتين فليس في ذلك بأس إذا حصل به الستر المطلوب المشروع. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Jawaban,

“Tidaklah mengapa seandainya hijab (pakaian muslimah) itu terdiri dari satu potong kain ataukah dua potong asal pakaian tersebut menutupi aurat dengan baik sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat”.

[Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai ketua Lajnah Daimah dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota. Lihat: Fatawa Lajnah Daimah tepatnya pada jilid 17 halaman 177]


2. Pertanyaan [Hukum Pakai Pakaian Kulot]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :Anda mengetahui tentang serangan terus menerus dari musuh-musuh Islam kepada orang-orang muslim, khususnya wanita muslimah. Di antara cara mereka untuk merusak wanita adalah membanjiri pasar-pasar wanita dengan berbagai jenis pakaian yang berasal dari dunia barat dengan alasan mode. Yang disayangkan dan sangat mengherankan, banyak wanita yang terperdaya olehnya. Pada akhir-akhir ini muncul yang disebut dengan celana kulot yang membanjiri pasar dengan berbagai model dan warna-warni yang memukau, dipakai oleh perempuan yang mengaku beragama dan taat dengan ajaran agamanya. Kami harap anda memberikan pendapt anda tentang pakaian ini, karena sudah banyak pertanyaan mengenai hal ini. Semoga Allah memberi anda pahala kebaikan.

Jawaban

Sebelum menjawab pertanyaan ini saya memberikan nasehat saya kepada para laki-laki yang beriman agar bisa menjadi pemimpin bagi keluarganya yang berada dalam tanggung jawabnya, dari mulai anak laki-laki, anak perempuan, isteri-isteri, saudara wanita dan lainnya. Hendaknya ia takut kepada Allah atas mereka yang berada dalam pimpinannya dan tidak membuka peluang kepada pihak yang bisa merusak kaum wanita, Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Saya tidak melihat makhluk yang kurang akal dan agamanya lebih mampu mengalahkan orang yang berakal daripada salah seorang di antara kalian (para wanita)”.

Menurut saya, hendaknya seorang tidak terlena dengan berbagai mode pakaian yang diimpor ke sini. Banyak dari mode pakaian itu yang tidak sesuai dengan pakaian Islam, baik karena bentuknya yang pendek, sempit sekali atau tipis. Termasuk disini adalah jas yang menampakkan bentuk tubuh laki-laki maupun wanita. Bahkan perut, dada, ******* dan sebagainya. Maka wanita yang mengenakannya akan tergolong dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Ada dua golongan ahli neraka dari umatku, saya tidak melihat mereka sebelumnya, suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi *******, sesat dan menyesatkan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan mencium baunya, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak sekian dan sekian”.

Maka nasehat saya bagi para isteri lelaki yang beriman dan suami wanita yang beriman, hendaklah mereka takut kepada Allah dan senantiasa berusaha mengenakan pakaian yang Islami, yang menutupi tubuh dan tidak menyia-nyiakan hartanya untuk membeli pakaian sejenis ini. Wallahul muwaffiq.

(Wahai Syaikh, alasan mereka bahwa pakaian tersebut lebar dan bisa menutup tubuh)

Syaikh Ibnu Utsaimin menjawab : Bahkan seandainya pakaian tersebut lebar, karena ada sebagian yang tidak tertutup, juga dikhawatirkan akan menjadikan wanita itu menyerupai laki-laki, karena celana panjang adalah pakaian khusus laki-laki. [Fatwa tertulis dan ditanda tangani oleh Syaikh Ibnu Utsaimin]


3. Pertanyaan [Hukum Pakaian Tipis]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apa hukum wanita yang mengenakan pakaian tipis yang tidak menutup badannya dan pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuhnya.

Jawaban

Pakaian wanita harus tebal dan tidak menampakkan warna kulitnya, dan tidak pula sempit yang menampakkan potongan tubuhnya, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Ada dua golongan ahli neraka dari umatku, saya tidak melihat mereka sebelumnya, wanita-wanita yang berpakaian tetapi *******, sesat dan menyesatkan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan mencium baunya, Dan para lelaki memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuki hamba Allah”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Majmu’ul Fatawa menafsirkan arti “kasiyatun ‘aariyatun” yaitu wanita yang mengenakan pakaian namun tidak menutup tubuhnya. Ia berpakaian tapi pada hakekatnya tetap *******, seperti mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya, atau pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuhnya, seperti lengannya dan lain-lainnya. Sesungguhnya pakaian wanita adalah yang menutup tubuh, tebal dan lebar sehingga tidak tampak bentuk tubuhnya dan postur badannya. [At-Tanbihat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal.23]


4. Pertanyaan [Hukum Celana Panjang]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Bolehkah seorang pria ataupun wanita melaksanakan shalat dengan menggunakan celana panjang ? Jika wanita mengenakan pakaian tipis namun tidak menampakkan auratnya, apa hukumnya ?

Jawaban

Pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuh wanita dan potongan badannya tidak boleh dipakai. Pakaian sempit ini tidak boleh dipakai baik oleh wanita maupun pria, akan tetapi wanita lebih dilarang, karena fitnah yang ditimbulkannya bisa lebih besar.

Sedangkan shalat yang dilakukan dengan mengenakan pakaian sempit dan menutup seluruh badannya, tetap sah karena telah memenuhi syarat menutup. Akan tetapi pelakunya berdosa karena ada syarat shalat yang tidak sempurna dikarenakan pakaiannya yang sempit tersebut. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, akan menjadi pengundang fitnah dan mendorong orang melihat kepadanya, apalagi bila yang mengenakannya adalah wanita.

Oleh karena itu, diwajibkan bagi wanita untuk menutup tubuhnya dengan pakaian yang lebar yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya, tidak menyebabkan pandangan orang tertuju padanya dan tidak pula tipis dan transparan. Akan tetapi haruslah pakaian yang menutup auratnya secara sempurna, tidak menampakkan tubuhnya, tidak pendek yang menampakkan betis, pergelangan atau telapak tangannya dan tidak menampakkan wajah di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya. Tidak boleh dia mengenakan pakaian yang tipis, yang bisa menampakkan tubuh dan warna kulitnya, karena pakaian itu tidak dianggap sebagai pakaian penutup aurat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mejelaskan tentang hal ini dalam hadits shahih, beliau bersabda.

“Artinya : Ada dua golongan ahli neraka dari umatku, saya tidak melihat mereka sebelumnya, suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi *******, sesat dan menyesatkan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga”.

Yang dimaksud dengan “kasiyatun’ (berpakaian) bahwasanya mereka mengenakan pakaian, akan tetapi pada dasarnya ‘’aariyatun” (*******) karena pakaiannya tidak menutup auratnya, karena bentuknya saja yang bisa disebut pakaian, tapi tidak menutup bagian yang harusnya tetutupi,baik karena tipisnya, karena pendeknya atau karena sempit dan menampakkan bentuk tubuh. Maka bagi para wanita hendaknya berhati-hati dalam masalah ini. [Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih-Al-Fauzan, juz 3 hal.308-309]

5. Pertanyaan [Hukum Pakaian Yang Menyerupai Pria]

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Hukum wanita mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian pria

Jawaban

Kaum wanita diwajibkan untuk mengenakan pakaian yang berbeda dengan pakaian pria, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat para wanita yang menyerupai pria dan wanita yang bertingkah laku seperti pria. Yang termasuk dalam menyerupai pria dalam berpakian adalah memakai pakaian yang menjadi ciri khas pria pada suatu masyarakat tertentu. [At-Tanbihat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal.23]


6. Pertanyaan [Hukum Memakai Celana Panjang]

Lajnah Daimah Lil Ifta ditanya : Bolehkah wanita mengenakan celana panjang sebagaimana pria ?

Jawaban

Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk mengenakan pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuhnya karena itu akan menjadikan penyebab fitnah. Biasanya celana itu sempit dan menampakkan bentuk tubuh, disamping mengenakannya berarti telah menyerupai pria dalam berpakaian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda telah melaknat para wanita yang menyerupai pria. [Majalatul Buhuts Al-Islamiyah]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq

Halaman: [1]