Komunitas DUDUNG.NET

TOPIK ISLAMI => Gaul dan gaya hidup Islami => Topik dimulai oleh: Jillan Zahwa Salsabilla pada Juni 12, 2007, 02:04:12 pm

Judul: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Jillan Zahwa Salsabilla pada Juni 12, 2007, 02:04:12 pm
“Aih, Kenapa sih,…kok islam melarang pacaran?? Begitu keluhan fulanah.Buat Fulanah ia melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari pacaran ini. Pacaran atau menurutnya ‘penjajakan’ antara dua insan lain jenis sebelum menikah sangat penting agar masing-masing fihak dapat mengetahui karakter satu sama lainnya (dan biasanya untuk memahami karakter pasangannya ada yang bertahun-tahun berpacaran lho!!).Fulanah menambahkan ,”Jadi dengan berpacaran kita akan lebih banyak belajar dan tahu, tanpa pacaran ?? Ibarat membeli kucing dalam karung!! Enggak deh…!” kemudian ia menambahkan “Bila suka dan serius bisa diteruskan ke pelaminan bila tidak ya,..cukup sampai disini..bay-bay!!, Mudahkan?”…hmm…Fulanah tidakkah engkau melihat dampak buruk dari berpacaran ini, ketika masing-masing fihak memutuskan berpisah??...Fulanah apakah engkau yakin benar apabila “putus dari pacaran” hati ini tidak sakit? Benarkah hati ini bisa melupakan bekas-bekas dari pacaran itu? Tidakkah hati ini kecewa, pedih, atau ikut menangis bersama butiran air mata yang menetes?? Sulit dibayangkan!Karena memang begitulah yang saya lihat didepan mata menyaksikan orang yang baru saja putus pacaran...

Bila memang kita tanya semua wanita muslimah seusia Fulanah (yang sedang beranjak dewasa) maka akan melihat ‘pacaran’ ini dengan sejuta nilai positif.Jadi, jangan merasa aneh bila kita dapati mereka merasa malu dengan kawannya karena belum punya pacar!!.. Duh,..kasihan sekali…Wahai ukhti muslimah…Mari kita telaah bersama dengan lebih dalam.Berdasarkan fakta yang ada, bila anda mau menengok sekilas ke surat kabar, tetangga sebelah atau lingkungan sekitar ,siapa sebenarnya yang banyak menjadi korban ‘keganasan’ dari pacaran ini? Wanita bukan??.. Bila anda setuju dengan saya, Alhamdulillah berarti hati anda sedikit terbuka.Ya,… coba lihat akibat dari berpacaran ini.Awalnya memang hanya bertemu, ngobrol bareng,bersenda gurau, ketawa ketiwi,lalu setelah itu??tentu saja setan akan terus berperan aktif dia baru akan meninggalkan keturunan Adam ini setelah terjerumus dalam dosa atau maksiat.Pernahkah anda ,.. mendengar teman atau tetangga ukhti hamil di luar nikah? Suatu klinik illegal untuk praktek aborsi penuh dengan kaum wanita yang ingin menggugurkan kandungannya? Karena sang pacar lari langkah seribu atau tidak mau kedua orangtuanya tahu? Atau pernahkah engkau membaca berita ada seorang wanita belia yang nekat bunuh diri minum racun serangga karena baru saja di putuskan oleh kekasihnya??Sadarkah kita, bahwa sebenarnya kaum hawalah yang banyak dieksploitasi dari ‘ajang pacaran ini?

Sungguh, islam telah memuliakan wanita dan menghormati kedudukan mereka.Tidak percaya??lihat hadits ini..”janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”  (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).Islam melarang laki-laki untuk berduaan tanpa ada orang ketiga karena islam tidak menginginkan terjadinya pelecehan ‘seksual’ terhadap wanita.Sehingga jadilah mereka wanita-wanita muslimah terhormat dan terjaga kesuciannya.Untuk kaum laki-laki pun islam melarang mereka menyentuh wanita yang bukan mahramnya coba simak hadits ini “Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”(HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

Nah, jelas bukan mengapa islam melarang pacaran??Bila memang seorang laki-laki ingin serius menjalin hubungan dengan seorang wanita, maka islam telah menyediakan sarananya, yaitu menikah.Karena islam Bukanlah agama yang kaku, maka islam menganjurkan kepada masing-masing fihak untuk saling berkenalan (ta’aruf).Tentu saja tidak berduaan lho,..harus ada pihak ketiganya.Setelah itu? Ya,.selamat bertanya tentang biografi calon pasangan anda,apabila kurang jelas, masih kurang yakin..islam menganjurkan mereka untuk shalat istikharah agar di berikan pilihan yang mantap yang nantinya insya Allah akan berakibat baik bagi dunia dan akhirat kedua belah pihak.Setelah mantap dan yakin akan pilihannya..kuatkan azzam (tekad), dan Bismillah…menikah..!! Indah bukan??
 
 B-) B-) B-)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: rho_me pada Juni 13, 2007, 05:55:32 pm
diberi yang enak kok malahan cari yang ga enak, diberi jalan yang ga dosa kok berani resiko jalan yang dosa.......
heran deh

hari gini pacaran = dah kuno..........
enakan nikah mo gitu2an halal, malahan ibadah........
mo kemanapun cuma berduaan ga masalah........

isinya Halal, halal dan halal................... ;D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: khanafi pada Januari 20, 2008, 11:00:24 am
assalamualaikum
hai teman2 dudungers aku mau minta pendapat kalian nih
aku sering baca buku tentang remaja islami,disitu dijelaskan bahwa pacaran dalam islam tu dilarang karena menyalahi syariat.tapi kenapa kok masih banyaj yah teman2 muslim dan muslimah yang melakukan pacaran?atau mungkin kita sendiri juga melakukanya?ngaku aja.
terus bagaimana ya caranya nasehatin teman2 kita yang pacaran itu bahwa pacaran dalam islam itu memang 'DILARANG'
MINTA SARAN DONK.
thanks
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Januari 20, 2008, 12:22:54 pm
jawabannya adalah karena pacaran dalam Islam tidak dilarang.
lihat penjelasan berikut


Begitu kah ?
Saya masih awam soal struktur-menytruktur ini pak そら 
(harap maklum ;D)

Saya pikir pembahasan thread itu tentunya sesuai dengan pemahaman orang indonesia tentang yang namanya 'pacaran'...
sehingga temen2 dudunger yang lainnya juga menanggapinya sesuai dengan 'kapasitas pemahaman' orang Indonesia...
Tepat
dengan pemahaman Bahasa Indonesia
sayangnya makna yang digunakan adalah yang sempit, bukan yg luas.
'Berpacaran' memiliki 2 makna.
1. Yang tepat sama dengan 'dating'(sempit) => (pertemuan 'fisik' antar sepasang kekasih)
2. Yang tepat sama dengan 'courting'(luas) => (perkenalan menuju pernikahan)

Makna yang kedua adalah ada, dan jelas. Saya yakin setiap guru Bahasa Indonesia pasti mengetahuinya.
hanya saja nilainya telah disusutkan sehingga tidak populer di kalangan remaja. Hasilnya adalah banyak remaja Indonesia sekarang menganggap yang dilakukan pra-perkawinan adalah 'dating', bukan 'courting'. Efek negatif lanjutannya ya, hal hal 'kurang islami' yang banyak terdapat dalam 'dating'-lah yang populer dilakukan.


disini saya melihat tindak dari para 'aktivis dakwah'<dengan kutip>(para 'ikhwan'-'akhwat') yang kontraproduktif. Mereka bukan menjelaskan bahwa "pacaran seharusnya/aslinya tidak seperti itu", tetapi justru ikut ikutan menyusutkan makna literal 'pacaran'.


Konklusi:
Pacaran(courting) tidak dilarang dalam Islam. Pembatasan makna pacaran pada 'dating' seperti kalimat anda "nasehatin teman2 kita yang pacaran itu bahwa pacaran dalam islam itu memang 'DILARANG'" justru semakin memperburuk minset bahwa pacaran hanyalah 'dating'.

Buku buku yang anda baca (termasuk anda sendiri) adalah sekelompok bagian yang paling perperan dalam mengukir mindset bahwa jika seseorang berpacaran, ia harus melakukan hal hal yang ada dalam 'dating'. Mengerti?

Bagaimana rasanya berperan dalam religious backfire?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ajeng pada Januari 20, 2008, 02:32:34 pm
assalamualaikum
hai teman2 dudungers aku mau minta pendapat kalian nih
aku sering baca buku tentang remaja islami,disitu dijelaskan bahwa pacaran dalam islam tu dilarang karena menyalahi syariat.tapi kenapa kok masih banyaj yah teman2 muslim dan muslimah yang melakukan pacaran?atau mungkin kita sendiri juga melakukanya?ngaku aja.
terus bagaimana ya caranya nasehatin teman2 kita yang pacaran itu bahwa pacaran dalam islam itu memang 'DILARANG'
MINTA SARAN DONK.
thanks

wa'alaikumussalam..

beritahukanlah dengan maruf, apalagi kalo  juga pernah melakukan, menjelaskan kenapa memilih untuk "tidak/berhenti berpacaran" tambah mudah ( asal udah insaf lo :p)...jadi kalo ditanya bagaimana kalo masih sayang, berat untuk meninggalkan, perlu penjejakan... bisa kasih tips berdasarkan pengalaman dan sudah pernah dipraktekkan :). kalo tetap ditolak penjelasanya...bersabar, lalu..cari cara lagi untuk menjelaskannya ;)

Selamat Menjauhi Zina :cool: :cool:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: mamat pada Januari 20, 2008, 11:22:50 pm
Ane gak peduli apa definisi pacaran, apakah diartikan sebagai dating ataupun courting. Parameter ane hanya satu, "KHALWAT". Selama ada aktivitas khalwat didalamnya, mau disebut pacaran, temenan, adik/kakak angkat atau apalah... khalwat tetap saja khalwat dan itu dilarang. Berkomunikasi intim lewat sms-pun bisa masuk kategori ini. So...be careful and jangan mendekati zina
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: mentari pada Januari 22, 2008, 10:04:45 am
apapun namanya yang penting isinya......
mo disebut taaruf ato pacaran its ok selama tidak melanggar syariah.....
biar pun disebut temenan klo melanggar syariah ya dosa  :-j
karena klo dilihat definisi kata pacaran pun didefinisikan berbeda2.......
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada Januari 23, 2008, 08:11:54 am
maka, kembalikanlah definisinya ke yang baku, ilmiah atau yang resmi.

karena pacaran adalah bahasa indonesia, jadi silakan merujuk ke KBBI untuk definisi pacaran. kalo ga sepakat dengan KBBI silakan berikan saran ke balai bahasa.

kebanyakan orang indonesia menggunakan definisi pribadinya atau orang yang dihormatinya dalam membahas suatu permasalahan.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: lin_yank pada Januari 25, 2008, 11:19:29 am
Pacaran..???!!  :)

Jujur...,Dulu aq pernah nglakuinnya...,n Alhamdulillah skrg udah nggak lagi n InsyaAllah skrg dlm proses tobat. minta doanya y, biar istiqomah....  :)

Dulu kami, bisa dibilang, sama2 aktivis da'wah, tapi kami malah nglakuin hal itu..! g etis banget khan?!
dah tau hukumnya tapi malah nglakuin..., tp Alhamdulillah itu g berlangsung lama, bisa dibilang singkat banget... Allah telah menyadarkan n mengingatkan kami berdua, n akhirnya kami putuz.  :) :)

awal2nya berat bagi kami..(terutama bagiq), coz mgkn qt msh sm2 sayang. tp stlh kami ngejalaninnya, yang berat jadi mudah... kami putuskan komunikasi diantara kami, biar bisa "jaga hati"...
stlh kejadian itu, aq curhat ma murobiq n dikasih beberapa tips biar bisa nglupain dia, diantaranya dengan puasa, sering2 baca n ngapalin AlQuran, biar bisa nglupain dia.
Alhamdulillah setelah tips itu aq jalani, aq diberi kemudahanNYA untuk nglupain dia.walaupun itu butuh proses, g instant...

Aduh...,kq malah jadi curhat nich...

smg pengalamanq ni, g terulang lagi...
Amin..

saranQ sich, coba ingetin dia pelan2, ajak ke acara kajian2, biar dia sadar dg sendirinya...
doain juga biar dia cpt diberi kesadaran, biar g pcrn lagi...





Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 11, 2008, 11:01:01 am
assalamualaikum
sebelumnya maaf saya posting di kategori ini :)


Saya Seorang remaja
Akhi2 sekalian yang lebih pahim dari saya, pen tanya sesuatu yang masih mengganjal di hati saya pribadi.

saya mempunyai Pacar dan sama sekali belum prnah menyentuh apapun, kami sudah 1,5 tahun berpacaran dan pacar saya sekarang tinggal di medan sedangkan saya di jakarta, kita berkomunikasi seperti biasa contohnya:

saling mengingatkan dalam beribadah
saling mendengarkan curhat masing2
saling mendoakan satu sama lain

dan pasti kami menjadikan semuanya sebagai motivasi kami b2 "tapi kan status kami pacaran"!!

gmana neh tmen2 yang lebih pahim menanggapinya???

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 11, 2008, 11:15:57 am
'alaikum salam wr wb

saya tanya dulu..
udah ada rencana nikah belum?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 11, 2008, 11:21:50 am
'alaikum salam wr wb

saya tanya dulu..
udah ada rencana nikah belum?

umur saya Baru 18 thn, ada rencana NIKAH c, tapi tetep sama dy

gmana neh, tapi "saya tw suatu saat panah setan pasti dateng"
tapi kalo kita menjaga hati kita masing2 dan saling mengingatkan????

hehehehehe, kalo udah NGELAMAR GMANA???
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 11, 2008, 11:40:35 am
oh yach, saya juga udah baca postingan masalah pacaran....

apakah di larang sorang manusia yang ingin Berdakwah tapi ia  "pacaran"
setiap kali liqo saya sangat sulit menjelaskan tentang ini, bahkan saya berfikir untuk tidak ikut liqo lagi
itu berarti jalan dakwah saya terhenti hanya karena tidak boleh berpacara "SETIAP ORANG PUNYA GAYA PACARAN MASING2 LHO"

oh yach sekali lagi, apakah jalan dakwah saya terhenti hanya di sebabkan minder atau ga enak sama orang2 yang bilang TIDAK boleh pacaran????

TOLONG JELASKAN SECARA TERPERINCI, menurut ALQURAN HADIST dan jangan Lupa diikuti Perkembangan ZAMAN "bukan zaman dalam arti PERZINAHAN BEBAS lho"
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 11, 2008, 11:49:31 am
umur saya Baru 18 thn, ada rencana NIKAH c, tapi tetep sama dy
baguslah kalo udah ada rencana  :)
berarti tinggal merealisasikannya..
mengatur target dan menyusun langkah2 untuk mencapainya

gmana neh, tapi "saya tw suatu saat panah setan pasti dateng"
tapi kalo kita menjaga hati kita masing2 dan saling mengingatkan????
nah tu udah tau resikonya khan..
saran saya harus ada pihak ketiga yang paham mengenai hubungan tsb dan berfungsi untuk mengingatkan..  karena kalo yang jadi pengawasnya adalah orang2 yang menjalankan juga sepertinya akan sulit untuk menjaga langkah kalian berdua.
pihak ketiga itu sebaiknya orangtua atw sanak saudara yang bisa dipercaya, yang sudah dewasa dan paham tentang masalah tsb.

hehehehehe, kalo udah NGELAMAR GMANA???
lebih bagus lagi..
berarti orang tua kedua belah pihak sudah sama2 tau hubungan tsb
dan itu bisa berfungsi sebagai kontrol buat kalian berdua
hanya saja yang perlu dipahami..
setelah proses lamaran, hubungan kalian berdua tetap belum halal (ini udah tau pasti khan  :) )
jadi tetap harus dijaga batas2annya supaya tetap syar'i

btw,
mo nanya nih..
capek ga jalanin hubungan yang belum sepenuhnya halal?
gimana cara mengelola hati dan pikiran supaya ga terus2an kepikiran dia?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 11, 2008, 11:59:04 am
yups. orang tua KAMI/KELUARGA pun sudah tw semua "BAHKAN DEKET"

Biasa aja "kalo kita b2 saling memberikan motivasi", kita komunikasi seperti biasa, walaupun dy di medan saya di jakarta

oh yach jawab dong
yang tadi
cara bilangin ke temen LIQO?

bentar??? saya punya "puisi yang di tulis teman saya namanya DENDA" tapi agak panjang

http://dendaaristiara.blogspot.com/2008/02/perkenankanlah-aku-mencintaimu.html
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 11, 2008, 12:05:00 pm
yups. orang tua KAMI/KELUARGA pun sudah tw semua "BAHKAN DEKET"
mudah2an malah disuruh segera menikah  :p
kaya cerita nyata di novel "pernikahan dini"  ;D

Biasa aja "kalo kita b2 saling memberikan motivasi", kita komunikasi seperti biasa, walaupun dy di medan saya di jakarta
hmm..
ga pernah marahan
atw salah satu ada yang tersinggung karena suatu hal?

oh yach jawab dong
yang tadi
cara bilangin ke temen LIQO?
emang temen liqo udah pada tau hubungan kamu?
kalo belum tau apa kepentingannya harus dikasihtau?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 11, 2008, 01:01:30 pm
yups. orang tua KAMI/KELUARGA pun sudah tw semua "BAHKAN DEKET"
mudah2an malah disuruh segera menikah  :p
kaya cerita nyata di novel "pernikahan dini"  ;D

Biasa aja "kalo kita b2 saling memberikan motivasi", kita komunikasi seperti biasa, walaupun dy di medan saya di jakarta
hmm..
ga pernah marahan
atw salah satu ada yang tersinggung karena suatu hal?

oh yach jawab dong
yang tadi
cara bilangin ke temen LIQO?
emang temen liqo udah pada tau hubungan kamu?
kalo belum tau apa kepentingannya harus dikasihtau?

saya lom kasih tw alesan saya pacaran
"sebenerbnya c satu alesannya "ga mw pilih2 wanita lain selain dy"
sama untuk tmen dalam segala hal, sahabat tmen sekaligus pacar
hehehehehe
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 11, 2008, 01:44:07 pm
saya lom kasih tw alesan saya pacaran
"sebenerbnya c satu alesannya "ga mw pilih2 wanita lain selain dy"
sama untuk tmen dalam segala hal, sahabat tmen sekaligus pacar
hehehehehe
ya.. kalo kemudian pacaran yang sedang kamu jalani berakibat menimbulkan fitnah/omongan2 miring (misalnya jadi omongan temen2 satu liqo kamu.. )
itu adalah resiko yang harus kamu tanggung karena menempuh jalan tsb
dan tanggung jawab kamu juga untuk meluruskannya kalo kamu memang merasa yakin tidak ada yang salah dengan hubungan yang sedang kamu bina..

jalan paling baik sebenarnya ya..
menyegerakan menikah kalo memang sudah mampu
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 11, 2008, 01:59:39 pm
ya.. kalo kemudian pacaran yang sedang kamu jalani berakibat menimbulkan fitnah/omongan2 miring (misalnya jadi omongan temen2 satu liqo kamu.. )
itu adalah resiko yang harus kamu tanggung karena menempuh jalan tsb
dan tanggung jawab kamu juga untuk meluruskannya kalo kamu memang merasa yakin tidak ada yang salah dengan hubungan yang sedang kamu bina..

jalan paling baik sebenarnya ya..
menyegerakan menikah kalo memang sudah mampu

seep2 dah saran loe man. emang TOP!!! thx bwt semuanya...
oh yach tapi ada salah satu tmen udah tw!!!

mw nikah,???? ntar ngumpaninnya pake paan? ;))
cara terbaik mungkin bersabar yach??? yaudah thx for a solution
;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: azzura pada Maret 11, 2008, 03:30:40 pm
udah pernah ngapain aja sama si doi?
pegangan tangan???

awalnya kau hanya cukup bersama dengannya
lalu kau minta ia ungkapkan cinta
tak sampai di situ, kau akan pegang tangannya
lalu menjauh..
lebih..
u'll expect the unexpectable

lalu bosan...
atau ada kontradiksi dalam bathinmu
kau tinggalkan dia...
cari yang baru

dan mulai kembali ke awal...



menurutku, kira2 begitulah akan yang terjadi 1 tahun lagi...
masih 18 kan??
apalagi masih 18...
pikiran masih belum stabil

hati2 aja deh...
prediksiku 90% akan terjadi
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada Maret 11, 2008, 07:03:49 pm
pegangan tangan?gimana caranya tuh?

medan-jakarta ra... (azzura :D )

emang waktu kamu 18taun kemaren gitu juga? ;))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: yudi_321 pada Maret 11, 2008, 07:57:09 pm
sapa bilang gak boleh?
kita tuh boleh pacaran!!!  X( X( X(

tapi pacarannya setelah menikah!!!  :D
 :great: :great: :great:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dark_elf pada Maret 11, 2008, 08:20:21 pm
hati2 aja,, walaupun jarak terbentang
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 12, 2008, 09:21:02 am
hati2 aja,, walaupun jarak terbentang

dah ngapain aja?? hmmmm belum ngapain2, pegangan tangan pun belum
hehehehehehehe
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: jubaidah pada Maret 12, 2008, 11:48:51 am
dah ngapain aja?? hmmmm belum ngapain2, pegangan tangan pun belum
hehehehehehehe

ada recana?
ayo atuh nikahin az,jangan tunggu lama-lama.....
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 12, 2008, 04:12:48 pm
dah ngapain aja?? hmmmm belum ngapain2, pegangan tangan pun belum
hehehehehehehe

ada recana?
ayo atuh nikahin az,jangan tunggu lama-lama.....

kan amal dah bilang JUBAIDAH, Ngumpaninnya pake apaan???
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: amal pada Maret 12, 2008, 04:26:26 pm
Ya ALLAH
Seandainya aKu Jatuh cinta
jangan biarkan cintaku kepadamu sirna

Ya ALLAH
Aku tidak bisa mencentaimu
Seperti
Cintanya Syuhada
Cintanya Sahabat
Cintanya Ulama :(( :(( :((
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Maret 13, 2008, 09:25:25 am
^
hmh
hiperbolis
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: .::senyum chandra::. pada Maret 13, 2008, 05:16:53 pm
^
hmh
hiperbolis

sepakat...
memang hiperbolu banget...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Maret 13, 2008, 05:26:30 pm
saya lom kasih tw alesan saya pacaran
"sebenerbnya c satu alesannya "ga mw pilih2 wanita lain selain dy"

1 question, gimana seandainya, besok dia memutuskan untuk tidak memilihmu?

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: .::senyum chandra::. pada Maret 13, 2008, 07:29:57 pm
saya lom kasih tw alesan saya pacaran
"sebenerbnya c satu alesannya "ga mw pilih2 wanita lain selain dy"

1 question, gimana seandainya, besok dia memutuskan untuk tidak memilihmu?




masih banyak bintang di langit...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Maret 14, 2008, 08:03:56 am
1 question, gimana seandainya, besok dia memutuskan untuk tidak memilihmu?
masih banyak bintang di langit...

yups.itu yang aku maksud mbak.
@TS, gimana tuh?

pantes kan ada yang bilang
hmh
hiperbolis
jika kamu
Ya ALLAH
Seandainya aKu Jatuh cinta
jangan biarkan cintaku kepadamu sirna

Ya ALLAH
Aku tidak bisa mencentaimu
Seperti
Cintanya Syuhada
Cintanya Sahabat
Cintanya Ulama :(( :(( :((
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: azzura pada Maret 15, 2008, 02:45:13 pm
pasti selingkuh..

karena lagi terbentang jarak...
trus sama Tuhan dipertemukan...jadi deket..
pasti ladas...

dari pengalaman dan pengamatan(katanya pengalaman dan survey itu akurasinya tinggi loh);
namanya hubungan kaya gini tuh CANDU
EKSTASI
sekarang sih bisa ngomong gitu..
mengemukakan rencana2 yang indah2
memalsukan nafsu atas nama Tuhan
simple lah
apalagi lidah ini tak bertulang

Seperti kata ibnu Avicena
'dulu kau bilang 'cinta' itu haram, dan kini kau bilang 'harum'"
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada Maret 15, 2008, 07:33:33 pm
iseng mode on

kalo udah ibnu ga erlu pake avi :D
ibnu sinna or avicenna is same person
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada Maret 15, 2008, 07:42:41 pm
menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan

begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan

tapi bukan berarti hal itu menjadi pemboleh pacaran, tapi bukan juga saya melarang pacaran.

bagi saya sih... silakan aja pacaran, tapi...... inget ada tapinya, jangan dipotong ya....ok, lanjut... tapi.... jangan melanggar syariat islam (larangan khalwat yang paling utama), yang berarti tidak boleh bersentuhan, tidak boleh berduaan kalo ga darurat, ga boleh berkomunikasi kalo ga ada keperluan syar'i.

nah, yang jadi masalah apakah pacaran yang seperti itu mau dianggap pacaran?

jawab aja sendiri :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada Maret 15, 2008, 07:50:40 pm
@ atas...
nah kalu itu aku juga setuju..... :D

yang penting mah syar'i...

emang gimana pacaran yang syar'i ya(sebelum menikah)? :-?

saling mengingatkan dalam kebaikan?just it?atau bagaimana? ;;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: azzura pada Maret 17, 2008, 02:19:13 pm
ga ada pacaran yang syar'i
sampai sekarang kalau ditanya pacaran itu sosa, maka aku jawab dosa
lalu kenapa aku pacaran?

bagiku, pacaran itu dosa termanis dalam hidup...lagunya Tere...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ^_^chusni@.maniez pada Maret 17, 2008, 02:31:19 pm
@atasku......ente pacaran atau gak?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada Maret 19, 2008, 07:36:16 am
Assalammu'alaikum wr wb...

Saya bingung dan kadang-kadang tertawa ...
Terutama masalah pacaran ...
Tau gak kenapa?
Massa' ada pacaran secara syar'ie atau secara islam atau apalah ...
Yang jadi bahan tertawanya saya bukannya karena istilahnya
Klo emang ada pacaran secara Islami, emang islam ngajarin pacaran??? =))
Deketin zinah aja gak boleh, apalagi berzinah...
Duh... malangnya bagi orang2x yang masih terbelenggu dengan dunia...
Bukannya kenapa... kita hidup hanya sebentar... tapi rela di tangisi... rela dikorbanin

Akhi ukhti... juallah dirimu dengan Cinta Kepada Siapa Pencipta Kalian :x
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. AtTaubah: 111

Nasihat ini adalah untuk ku dan untukmu

Wassalam
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada Maret 22, 2008, 02:48:13 pm
Assalamu’alaikum...

Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, AlBaqoroh: 2

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Yunus: 94)

Maaf saya tidak bermaksud menjatuhkan kamu dihadapan orang-orang. Hanya saja saya bermaksud agar kita semua tidak terjerumus oleh syaitan.

Kutip
Assalamualaikum
Walaikum salam
Kutip
sebelumnya maaf saya posting di kategori ini


Saya Seorang remaja
Akhi2 sekalian yang lebih pahim dari saya, pen tanya sesuatu yang masih mengganjal di hati saya pribadi.

saya mempunyai Pacar dan sama sekali belum prnah menyentuh apapun, kami sudah 1,5 tahun berpacaran dan pacar saya sekarang tinggal di medan sedangkan saya di jakarta, kita berkomunikasi seperti biasa contohnya:

saling mengingatkan dalam beribadah
saling mendengarkan curhat masing2
saling mendoakan satu sama lain

dan pasti kami menjadikan semuanya sebagai motivasi kami b2 "tapi kan status kami pacaran"!!

Jawab:
   Wow... berarti saya juga boleh dong mencuri uang di bank, trus duitnya saya infaqkan?. Motivasi saya untuk mengamal, jadi bolehkan saya muncuri?.

Kutip
gmana neh tmen2 yang lebih pahim menanggapinya???

Jawab:
   Janganlah kamu mencampurkan sesuatu yang benar kepada sesuatu yang bathil? Dekatkanlah dirimu dengan orang-orang shaleh sehingga dirimu akan terjaga. Lantas mengapa kamu/ (terutama aku) tidak menjadikan Allah dan Rasulnya serta sahabat-sahabatnya yang berperang untuk syahid sebagai motifator yang baik?



Kutip
umur saya Baru 18 thn, ada rencana NIKAH c, tapi tetep sama dy

Jawab:
Rencana?. Maksud kamu sudah pasti?. Jika belum pasti, apakah kamu tahu bahwa kamu telah menjanjikan kawin untuknya?. Dan apakah kamu tahu bahwa jani kawin itu dilarang?.
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (AlBaqoroh: 235)


Kutip
gmana neh, tapi "saya tw suatu saat panah setan pasti dateng"
tapi kalo kita menjaga hati kita masing2 dan saling mengingatkan????

Jawab:
Jaga hati. Kaya nuno donk?. Maksud kamu jaga hati apa?. Apakah hanya dengan menjaga hati kita bisa bertahan padahal kamu mempunyai hubungan “spesial” dengan orang yang bukan mahram bagimu? Bukankah kamu telah membuka “sedikit” pintu untuk mendekati zinah? Dan bukankah mendekati zinah saja sudah berdosa?.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra’: 32)



Kutip
hehehehehe, kalo udah NGELAMAR GMANA???

Jawab:
   Resmi apa nggak?. Klo enggak kamu udah melakukan janji kawin.



Kutip
umur saya Baru 18 thn, ada rencana NIKAH c, tapi tetep sama dy
baguslah kalo udah ada rencana 
berarti tinggal merealisasikannya..
mengatur target dan menyusun langkah2 untuk mencapainya

gmana neh, tapi "saya tw suatu saat panah setan pasti dateng"
tapi kalo kita menjaga hati kita masing2 dan saling mengingatkan????
nah tu udah tau resikonya khan..
saran saya harus ada pihak ketiga yang paham mengenai hubungan tsb dan berfungsi untuk mengingatkan..  karena kalo yang jadi pengawasnya adalah orang2 yang menjalankan juga sepertinya akan sulit untuk menjaga langkah kalian berdua.
pihak ketiga itu sebaiknya orangtua atw sanak saudara yang bisa dipercaya, yang sudah dewasa dan paham tentang masalah tsb.

Kutip dari: amal pada Maret 11, 2008, 11:21:50 am
hehehehehe, kalo udah NGELAMAR GMANA???
lebih bagus lagi..
berarti orang tua kedua belah pihak sudah sama2 tau hubungan tsb
dan itu bisa berfungsi sebagai kontrol buat kalian berdua
hanya saja yang perlu dipahami..
setelah proses lamaran, hubungan kalian berdua tetap belum halal (ini udah tau pasti khan   )
jadi tetap harus dijaga batas2annya supaya tetap syar'i

btw,
mo nanya nih..
capek ga jalanin hubungan yang belum sepenuhnya halal?
gimana cara mengelola hati dan pikiran supaya ga terus2an kepikiran dia?



Kutip
oh yach, saya juga udah baca postingan masalah pacaran....

apakah di larang sorang manusia yang ingin Berdakwah tapi ia  "pacaran"
setiap kali liqo saya sangat sulit menjelaskan tentang ini, bahkan saya berfikir untuk tidak ikut liqo lagi

Jawab:
Anda tahu khan bahwa hal ini adalah salah satu kelemahan pacaran. Bayangkan kamu gak liqo karena kamu pacaran?. Dan alasannya karena orang yang pacaran gak boleh berdakwah serta karena pacaran itu kamu takut di hakimi oleh teman-teman kamu?.
Liqo?, bukankah liqo/ taklim itu adalah alternatif terbaik untuk saling mengingatkan karena isinya mahram semua?. Jika demikian, mengapa malah dakwah di salahkan lantaran karena hati terikat kepada seorang wanita?. Apakah cara ini LEBIH efektif, akh?. Ingat Akh, kita diharuskan untuk bergabung dengan jama’ah orang-orang shaleh.



Kutip
itu berarti jalan dakwah saya terhenti hanya karena tidak boleh berpacara "SETIAP ORANG PUNYA GAYA PACARAN MASING2 LHO"

Jawab:
Sudah kesekian kalinya saya mendengar PEDE-nya seorang IKHWAN/ AKHWAT dengan entengnya mengatakan bahwa dia PACARAN. Malu saya mendengarnya. Saya malu sama dia karena hati yang Diberikan kepada Siapa Yang Menciptakannya itu diisi dengan bukan Pemiliknya. Pencuri macam apa itu?, 
Pacaran?. Apakah yang dimaksud pacaran menurut kamu?. Apakah dia dapat membuat manfaat tentang dakwah sehingga mendapatkan sesuatu yang HAK(benar) padahal Hak itu diambil dari yang Bathil(Pacaran).  

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” AlBaqoroh: 42


Kutip
oh yach sekali lagi, apakah jalan dakwah saya terhenti hanya di sebabkan minder atau ga enak sama orang2 yang bilang TIDAK boleh pacaran????

Jawab:
Mungkin kamu tidak minder karena pacaran itu sendiri tetapi sepertinya kamu takut “ putus” lantaran kamu diserang oleh pernyataan-pernyataan yang tidak sesuai dengan nurani kamu?. Betapa kasihannya saya, mengapa kamu lebih memilih dia daripada dakwah lantaran wanita itu dapat “menyenangkan” hatimu?.
 
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al ‘Araaf: 27)

Ada yang mengatakan TIDAK kepada pacaran?. Maksud kamu?. Teman kamu kah?. Apa tujuan dia mengatakan demikian? Apakah tujuannya untuk menjerumuskan kamu?. Atau dia iri lantaran kamu pacaran dan dia tidak pacaran dikarenakan dia takut kepada Siapa Yang Menggengamnya?.


Kutip
TOLONG JELASKAN SECARA TERPERINCI, menurut ALQURAN HADIST dan jangan Lupa diikuti Perkembangan ZAMAN "bukan zaman dalam arti PERZINAHAN BEBAS lho"

Jawab:
Perkembangan zaman?. Bukankah itu jalan fikiran orang-orang materialistis?. Apakah islam mengajarkan demikian, wahai saudaraku?.
Kenapa kita harus mengikuti orang-orang yang merubah zaman, mengapa bukan kita yang merubah zaman itu sendiri?. Itupun jika kita menginginkan syariah. Bukankah orang-orang yang mengikuti suatu kamu maka dia termasuk kaum tersebut?.

Bukankah petunjukk kita adalah AlQur’an Yang Diturunkan Oleh Tuhan Semesta Alam?.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra’: 32)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” AnNur: 21

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Istra’: 36)

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,” (Al Mu’minuun: 5)

“kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (Al Mu’minuun: 6)

“Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al Mu’minuun: 7)

Apakah yang di atas ini adalah apa yang kamu maksud?. Jika kamu meminta yang lain dari apa yang kamu harapkan mungkin saya tidak bisa jawab.


Kutip
yups. orang tua KAMI/KELUARGA pun sudah tw semua "BAHKAN DEKET"

Biasa aja "kalo kita b2 saling memberikan motivasi", kita komunikasi seperti biasa, walaupun dy di medan saya di jakarta

oh yach jawab dong
yang tadi
cara bilangin ke temen LIQO?
Jawab:
   Mungkin kamu harus mengatakan apa adanya. Atau,
“Wahai temanku, aku pacaran dan aku nggak mau meninggalkan dia lantaran aku cinta mati sama dia sehingga Dakwah dan mungkin liqoku bentar lagi terlantar, gmana boleh ga?.

Kutip
saya lom kasih tw alesan saya pacaran
"sebenerbnya c satu alesannya "ga mw pilih2 wanita lain selain dy"
sama untuk tmen dalam segala hal, sahabat tmen sekaligus pacar
hehehehehe
Jawab:
   Gak mau pilih-pilih wanita lain?. Kamu takut klo tidak mendapatkan pacar?. Bukankah Allah sudah menentukan jodohmu?. Kenapa kamu tidak percaya?. Kenapa kamu lebih cenderung kepada ke kemaksiatan padahal kamu mengingini kesucian?.

“... Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu...” (AnNisa: 33)


Mungkinkah Tuhan akan mengecewakanmu dengan memberikan Istri kepadamu yang tidak sesuai dengan keimananmu?. Tuhan macam mana yang tega melakukan hal itu kepada hambaNya?.
   
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (AnNur: 26)

Klo emang bener demikian, kenapa kita harus pacaran sih?




seep2 dah saran loe man. emang TOP!!! thx bwt semuanya...
oh yach tapi ada salah satu tmen udah tw!!!

Kutip
mw nikah,???? ntar ngumpaninnya pake paan?
Jawab:
   Pake DeDeK...(makanan bebek)

 
Kutip
cara terbaik mungkin bersabar yach??? yaudah thx for a solution

Jawab:
   Afwan. Sabar untuk apa nih?. Bersabar Untuk menikah, sedangkan kalian pacaran?. Mungkinkah iman kalian akan terjaga?. Apakah fikiran kalian terjaga?. Dan halalkah itu?. Dan apakah di akhirat perlakuan kalian itu tidak dipertanggung jawabkan?. Dengan apa kalian dapat mempertanggung jawabkannya?.
   
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Istra’: 36)
   
   Dan sekali lagi saya tekankan bahwa mendekati zinah saja sudah dosa apalagi berzinah ya khan?.

Udah deh janganlah kita pacaran, tanpa sadar hal itu dapat mengurangi Cinta kita sama Allah, kenapa?. Kita lebih mendominasi si doi untuk kita curhat dan kita berusaha untuk menjadi pendengar yang baik kepada si doi? Cukuplah Allah di Hatimu. Cukuplah Allah di Hatimu.... Dia Cintamu... Jangan sia-siakan Dia... Sesungguhnya Hatimu membutuhkan Dia bukan si doi, terkecuali syahwatmu...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 24, 2008, 12:12:20 pm
Saya pernah mendengar dari teman saya tentang hadist mengungkapkan perasaan kepada orang yang dicintai. Katanya, bagi seseorang yang bisa menjaga perasaannya kepada orang yang di cintai dalam keadaan belum menikah, maka jika orang itu mati maka dia telah mati syahid.
bisa ditanya temannya ga landasannya apa? apa hadits yang berbunyi:
Orang-orang yang dalam keadaan isyiq/cinta, lalu ia menahan dirinya dan berlaku sabar, kemudian ia mati, maka matinya itu dalam keadaan syahid.
hadits ini setau saya termasuk hadits dha'if..
CMIIW

kalo landasannya adalah hadits dhaif di atas, merujuk pada ceritamu selanjutnya..

Dan adapaun cerita tentang peristiwa yang sejenis, tpi sebenarnya ceritanya sih gak kayak gini:
Pada suatu ketika ada seorang ikhwan yang bersekolah pesantren. Dengan begitu secara sendirinya dari pertama masuk pesantren dia dibiasakan untuk menjaga hijabnya oleh gurunya. Pada suatu saat teman-temannya mengajaknya untuk melaksanakan rapat tentang rihlah dengan para akhwat pesantren tersebut. Sampai di tempat rapat itu pastilah ada hijabnya –untuk menutup batas antara para ikhwan dan para akhwat. Ketika dimulainya rapat tersebut tiba-tiba ada angin yang membuat hijab tersebut berkibar, sehingga si ikhwan itu tak sengaja melihat seorang akhwat yang tidak tertutup hijab lantaran hijabnya telah berkibar oleh angin.  Otomatis si ikhwan kaget dan perasaannya gundah gulana(Hiperbolik bgt). Setiap malam dia memikirkan si akhwat itu terus-menerus.

..... dst


sejauh mana cerita tsb bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dan bisa dijadikan hujjah?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada Maret 29, 2008, 05:18:04 pm
Assalamu'alaikum...
bisa ditanya temannya ga landasannya apa? apa hadits yang berbunyi:
Orang-orang yang dalam keadaan isyiq/cinta, lalu ia menahan dirinya dan berlaku sabar, kemudian ia mati, maka matinya itu dalam keadaan syahid.
hadits ini setau saya termasuk hadits dha'if..
CMIIW


Dhaif?. Yaudah saya juga berpendapat demikian... jadi saatnya saya hapus...

sejauh mana cerita tsb bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dan bisa dijadikan hujjah?

Eggghhhh... saya tidak bisa pastikan dari mana dan dipertanggung jawabkan...
tetapi... saya mengambil IBRAH dari cerita yang telah saya daptkan dri guru saya...
Jadi maaf saja...
Jika Anda tidak terima,,, ya silahkan... org itu yang saya dapatkan. Lalu apakah karena ini anda keberatan??? Oooh sillahkan...
Saya bertujuan buat dakwah, bukan buat MENGOREKSI orang "yang" gak jelas apa yang dia koreksi...

Oooh makasih yaaa...
wassalam

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 29, 2008, 08:21:56 pm
'alaikum salam..

Eggghhhh... saya tidak bisa pastikan dari mana dan dipertanggung jawabkan...
poin pentingnya, anda menyampaikan cerita yang tidak bisa dipastikan dan dipertanggungjawabkan, kemudian menjadikannya sebagai landasan kebenaran dengan mengatasnamakan dakwah

tetapi... saya mengambil IBRAH dari cerita yang telah saya daptkan dri guru saya...
Jadi maaf saja...
Jika Anda tidak terima,,, ya silahkan... org itu yang saya dapatkan. Lalu apakah karena ini anda keberatan??? Oooh sillahkan...
Saya bertujuan buat dakwah, bukan buat MENGOREKSI orang "yang" gak jelas apa yang dia koreksi...
jadi dengan tujuan dakwah seseorang boleh berbohong atw menulis hal2 yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya?
ajaran islam sudah sempurna untuk dijadikan hujjah dalam mendakwahi orang lain
berdakwah dengan cerita yang dibuat2 atw dilebih2kan untuk dijadikan dasar kebenaran hanya mencemari nilai ajaran islam itu sendiri
tapi kalo yang demikian buat anda adalah hal yang sah2 saja untuk dilakukan.. mau bilang apa saya..
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada Maret 30, 2008, 12:55:15 am
[evil mode on]
guru juga masih seorang manusia. tidak semua yang disampaikannya pasti benar atau pasti salah. bahkan adakalanya mengalami perubahan, menjadi benar atau menjadi salah. itulah mengapa perlu adanya penambahan wawasan di luar pendidikan bersama seorang guru. manfaatkan sumber-sumber wawasan dari manapun, dan jadikan apapun, dimanapun, kapanpun sebagai guru.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 01, 2008, 04:06:30 am
Kutip
Maaf... saya tidak seperti dugaan orang...
Sebenarnya saya tidak MEMPERTUHANKAN guru saya untuk menjadikan "perkataannya" selalu benar. Bukankah sebaik-baiknya contoh adalah Rasulullah???.
Hanya saja saya ingin menyampaikan apa yang saya TAHU dan TELAH saya selidiki walaupun saya kurang mendapat karakteristik ceritanya.
(Saya bisa bilang cerita itu adalah HAKIKAT)

Yaudah... sekarang begini aja....
Apakah seseorang di sini ada yang risih dengan cerita saya??? Jika ada maka saya hapus.
Dan perlu diketahui bahwa saya tidak merasa rugi atas apa yang telah saya hapus itu...

Waduh mas..jangan sensi gt dong...Dari pada ga ada kerjaan, mending kita diskusi aja masalah pacaran mas.....

Kutip
Jawab:
   Wow... berarti saya juga boleh dong mencuri uang di bank, trus duitnya saya infaqkan?. Motivasi saya untuk mengamal, jadi bolehkan saya muncuri?.

Qiyas ini tidak sah untuk pengambilan hukum. Asl dan Far' nya mana ?anda berani menqiyaskan dg ini, tentu tahu ushul qiyas dong..

Kutip
Jawab:
Rencana?. Maksud kamu sudah pasti?. Jika belum pasti, apakah kamu tahu bahwa kamu telah menjanjikan kawin untuknya?. Dan apakah kamu tahu bahwa jani kawin itu dilarang?.
Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (AlBaqoroh: 235)

Ayat ini madlulnya tidak pas untuk mendalili kasus diatas.

Kutip
Jawab:
Jaga hati. Kaya nuno donk?. Maksud kamu jaga hati apa?. Apakah hanya dengan menjaga hati kita bisa bertahan padahal kamu mempunyai hubungan “spesial” dengan orang yang bukan mahram bagimu? Bukankah kamu telah membuka “sedikit” pintu untuk mendekati zinah? Dan bukankah mendekati zinah saja sudah berdosa?.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra’: 32)

Bagaimana mungkin seseorang yang berazam untuk menjaga hati dikatakan membuka pintuuntuk mendekati zina ?

Kutip
padahal Hak itu diambil dari yang Bathil(Pacaran).   

Ini namanya klaim. harusnya sampean tabayun terlebih dahulu.ini hukum mu'allal mas. dalam hukum mu'allal, tidak ada klaim.

Kutip
“... Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu...” (AnNisa: 33)

ya allah mas..ini dalil sih dalil, tapi tidak pada tempatnya. terlalu memaksakan banget.

jadi cuma ini dalil( walaupun agak terkesan dipaksakan, tapi ga papa )sampean dalam menghukumi pacaran ?







Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 01, 2008, 11:50:25 am
Yang perlu ditekankan kepada Anda adalah apakah cerita-cerita orang terdahulu itu tidak bisa dijadikan contoh? agar kita nantinya tidak melakukan kesalahan yang sama????
bisa..
cerita2 orang terdahulu yang tercantum dalam Al-Quran atau secara historis bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya bisa dijadikan contoh untuk mengambil ibrah..

tapi untuk cerita yang menurut anda sendiri
Eggghhhh... saya tidak bisa pastikan dari mana dan dipertanggung jawabkan...

coba pahami maksud saya dengan kepala dingin
bisa bedakan ga..
cerita dalam Al-Quran yang bisa diambil sebagai ibrah dengan cerita karangan entah siapa yang ga jelas sumbernya darimana?

back to topic..

@mas fahmie
mumpung ada ahli tafsir nih..  :p
ada ayat yang menyatakan:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (Al Isra' [17]: 32)
tafsir dari "mendekati zina" itu batasannya sejauh apa mas?
kalo ada orang yang punya komitmen dengan seseorang (tapi belum sampai tahap khitbah) dan menjaga supaya tidak terjerumus ke perbuatan zina, misalnya dengan menghindari khalwat..
apa sudah masuk dalam kategori "mendekati zina"? atw sering orang menyebutnya sebagai zina hati?

gimana mas?
syukron sebelumnya..  :)


Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada April 01, 2008, 12:20:17 pm

@mas fahmie
mumpung ada ahli tafsir nih..  :p
OOT

maaf pak arif,siapa yang ahli tafsir?mas fahmi?
ah dia mah rocker.... (http://oggix.com/shout/smileys/preview/rock.gif) (http://oggix.com/shout/smileys/preview/rock.gif) (http://oggix.com/shout/smileys/preview/rock.gif)

@semua
(http://myquran.org/forum/Smileys/default/peace.gif)

kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.......................... :D
(http://oggix.com/shout/smileys/preview/runaway.gif)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 01, 2008, 11:36:13 pm
ikutan pak arief ah... mumpung ada "tukang" tafsir >:)

berhubung pacara itu adalah bahasa indonesia, maka kita akan merujuk ke KBBI. berdasarkan KBBI, definisi pacar, pacaran, dan memacari tidak ada satu pun yang secara eksplisit melanggar syariat islam. coba perhatiin :
Kutip
“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807),
pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar].
Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.”
kencanberjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.(lihat halaman 542)
silakan di cek validitasnya

nah, apakah dengan definisi tersebut pacaran adalah sesuatu yang haram?

saya sih untuk saat ini tidak menganggap pacaran itu haram, yang haram itu aktivitas yang UMUMnya dilakukan oleh orang-orang yang berpacaran.

nah, adakah yang mau membantah?

cat:
untuk sementara cobalah gunakan pola pikir orang yang awam terhadap islam
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 02, 2008, 05:27:50 am
@ mas dafid..keep on rock!!! :)) :))

@ mas arif..saya bukan ahli tafsir. perjalanan saya masih jauh untuk sampai kesitu...jauuuuuhhhh banget. belum pants sama sekali.  ;;) ;;)

Tapi saya coba semampu saya memberikan gambaran mengenai hukum pacaran.

Ibnu katsir dalam tafsirnya mengatakan :

{ وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا (32) } .
يقول تعالى ناهيًا عباده عن الزنا وعن مقاربته، وهو مخالطة أسبابه (6) ودواعيه { وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً } أي: ذنبًا عظيمًا { وَسَاءَ سَبِيلا } أي: وبئس طريقًا ومسلكًا.


bahwa allah melarang zina dan hal-hal yang bisa mendekatkan pada zina.

kemudian kita tahu bersama adanya larangan khalwat, larangan bersentuhan dg non muhrim,begitu juga larangan ciuman ( bagi yang belum nikah ), istimta' ( muqaddimah sebelum dukhul ), nah..ini semua oleh ulama dikatakan muqaddimatuzzina atau awal mula zina( bagi orang-orang yang belum nikah ).

Maka, yang dimaksud oleh ayat "la taqrabuzzina" sebagai hal-hal yang mendekati zina adalah muqaddimatuzzina.

Maka secara tidak langsung, mendalili haramnya pacaran dg ayat tadi madlulnya tidak tepat. karena pacaran masih terlalu umum untuk dikatakan muqaddimatuzzina. artinya terlalu umum, muqadimatuzzina adalah bagian dari pacaran. bukan hakikat pacarannya sendiri.

maksud saya, jika mengatakan : pacaran haram. dalilnya adalah  wa la taqrabuzzina. ini salah sasaran.

tapi benar jika : pacaran yang didalamnya ada khalwat, pegang pegangan, dll, itu haram. dalilnya adalah : wa la taqrabuzzina. inilah yang tepat.

jadi kesimpulannya, pacaran bisa punya dua kemungkinan :

1. pacaran yang tidak dibarengi muqaddimatuzzina
2. pacaran yang dibarengi muqaddimatuzzina. yang kedua inilah yang haram.

yang saya pelajari tentang pacaran, dalil-dalil mereka yang mengharamkan rata-rata ada dua :

1. dg ayat " wa la taqrabuzzina."
    ayat ini madlulnya ada dua :

   1. hal-hal yang mendekati zina
   2. zinanya itu sendiri. ini namanya qiyas aulawi. maksudnya, walaupun ayat tadi tidak secara gamblang mengatakan bahwa zina haram, tapi itu sudah tercukupi dg mengatakan " mendekati zina haram ". karena jika mendekati zina saja haram, apalagi zinanya.

Adapun hal-hal yang mendekati zina, pendapat rata2 ulama sudah saya sebutkan diatas.itulah batasannya. maka tidak sah mengatakan bahwa pacaran itu haram dg alasan pacaran itu adalah hal-hal yang mendekati zina. tapi jika pacarannya ada unsur muqadimatuzinanya, inilah yang haram.

ga hanya pacaran, sekiranya pertemanan yang bisa mengantarkan pada muqaddimatuzzina, maka pertemanan pun menjadi haram.

2. dg saddudzari'ah ( menutup jalan kemaksiatan ). artinya begini...mendekati zina adalah haram, maka segala sesuatu yang bisa mendekatkan pada hal yang bisa mendekatkan zina (muqaddimattuzzina) itu juga haram. Nah..mereka mendakwa hal-hal yang bisa mendekatkan pada muqaddimatulzzina adalah pacaran.

saya kira hal ini tidak akan dikatakan oleh orang yang mengikuti ilmu ushul. karena kalau dilihat, sudah kelihatan tidak masuk akalnya. orang-orang yang bisa mendekati zina, bisa juga dilakukan oleh yang tidak pacaran khan ?.

itu namanya mendakwa dg sesuatu yang masih umum. dan itu tidak dibenarkan.

sekarang misalnya si A ke pelacuran. disana sekedar cium-cium atau meraba-raba. tapi si A ini tidak Dukhul ( bersetubuh ). bukankah si A tidak pacaran ? alias tidak pacaran tapi mendekati zina.

kemudian yang masalah saddudzari'ah contoh penqiyasannya, bohong haram, hal-hal yang bisa mendekatkan pada kebohongan adalah bicara. apakah lantas bicara menjadi haram ? tentu tidak. karena bicara itu tidak selalu dg kebohongan. bisa juga berbicara kebenaran. Oleh karena itu nabi SAW bersabda : fal yaqul khairan au liyasmuth. ( berkatalah yang baik-baik, kalau ngga ya diam ).

sama halnya dg pacaran..'illat ( alasan )diharamkannya pacaran jika ada  muqaddimatuzzina, kalau ga ada, ya sah-sah saja. artinya..kalau memang tidak akan ada apa2 ya sah-sah saja pacaran. tapi kalau dirasa akan ada apa-apa nah ini baruuu..... :)) :))

Oleh karena itu saya katakan, yang namanya pacaran adalah haram ( jika dibarengi muqadimatuzzina ), tapi haramnya lighairihi. bukan lidzatihi. ( sepertinya saya sudah pernah menulis tentang pembagian haram ini ).Haram lighairihi yang hukum asalnya mubah ( halal ).

karena sebagaimana kita tahu, hukum asal haram lighairihi itu adakalanya sunat, mubah, dan wajib. ( untuk lebih jelasnya, coba dibaca tulisan saya tentang haram ).

tapi model-model hukum mu'allal seperti ini kondisional sifatnya. oleh karena itu salah satu syarat seorang mufti, harus tahu kondisi dan hal yang sedang menimpa mustafti ( orang yang diberi fatwa ). karena begini...mufti yang berfatwa bahwa pacaran haram, tanpa melihat kondisi mustafti ( yang diberi fatwa ), padahal misalkan, orang tadi karena pacaran jadi hidupnya semangat, belajarnya semangat dll,maka si mufti tadi sudah salah besar. dan harus segera taraju' ( mencabut fatwanya ). maka itu saya bilang kondisional...tergantung siapa yang tanya...tapi kalau saya yang tanya hukumnya pacaran apa, tentu oleh seorang mufti akan dijawab haram..karena iman saya masih tipis. :)) :)) :))

Ohya..ini semua bukan berarti saya pacaran. suer deh saya tidak pacaran. karena rata-rata orang bilang, "ah..orang-orang yang menghalalkan pacaran khan untuk dirinya sendiri. alias mencari-cari jalan agar pacaran menjadi boleh."

sesudahnya...syukran jaziilan.

     


Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: najzwa pada April 02, 2008, 03:29:47 pm
waah... seru-seru....  ;;)

cuman maw nebeng nge-post 'sesuatu' :

ijinkan aku menunduk (pandangan)....

Demi Allah,
Aku tak tahu apa harus ku kecam hawa
nafsuku, atas cinta
Atau mataku yang menggoda, ataukah hati
ini...
Jika ku kecam hati, ia berkata :
"Gara-gara mata yang memandang"
Dan jika ku hardik mata, ia berdalih :
"ini kesalahan hati!"
Mata dan hati telah dialiri darah
Maka wahai Rabbii, jadilah Penolongku
atas mata dan hati ini...


[kata-kata seorang penyair yang dikutip
Syaikh 'Abdul 'Aziz Ghazuli
dalm Ghadul Bashar

hmmmh...yah...mengenai 'pacaran' kayaknya kok udah obvious banget yah bahwasannya itu dilarang...
tapi manusia kan slalu cari pembenaran untuk itu..
yang alasan "kan pacaran long-distance " , " kan cuma sms-an", "kan cuman telpon2an", " kan kita saling mengingatkan untuk beribadah.."

halah...
macem2 aja deh alasan2 nya

yang pasti klo emang udah dirasa 'siap' ataupun 'takut malah terjerumus'
udaah... sok atuh...nikah ajia....
 :x  ;;)

meanwhile...
sementara itu...
klo belum..., yaah... kayak syair di atas..
jaga hati.....jaga mata...
kedua-duanya sama lemah...

insyaAllah,,klo jodoh gak akan lari kemana,,

lha..klo larii..
ya brarti bukan jodoh...

cuma Allah yang maha mengetahui yang terbaik bagi kita

 :x  :x  :x
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 02, 2008, 03:37:15 pm
@mas fahmie

syukron ya sharing-nya..   :great:
rep +1 buat mas fahmie
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 02, 2008, 07:06:34 pm
@kang fahmie
sama2 pendukung pacaran yang ga pacaran :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 02, 2008, 07:47:51 pm
waah... seru-seru....  ;;)

cuman maw nebeng nge-post 'sesuatu' :

ijinkan aku menunduk (pandangan)....

Demi Allah,
Aku tak tahu apa harus ku kecam hawa
nafsuku, atas cinta
Atau mataku yang menggoda, ataukah hati
ini...
Jika ku kecam hati, ia berkata :
"Gara-gara mata yang memandang"
Dan jika ku hardik mata, ia berdalih :
"ini kesalahan hati!"
Mata dan hati telah dialiri darah
Maka wahai Rabbii, jadilah Penolongku
atas mata dan hati ini...


[kata-kata seorang penyair yang dikutip
Syaikh 'Abdul 'Aziz Ghazuli
dalm Ghadul Bashar

hmmmh...yah...mengenai 'pacaran' kayaknya kok udah obvious banget yah bahwasannya itu dilarang...
tapi manusia kan slalu cari pembenaran untuk itu..
yang alasan "kan pacaran long-distance " , " kan cuma sms-an", "kan cuman telpon2an", " kan kita saling mengingatkan untuk beribadah.."

halah...
macem2 aja deh alasan2 nya

yang pasti klo emang udah dirasa 'siap' ataupun 'takut malah terjerumus'
udaah... sok atuh...nikah ajia....
 :x  ;;)

meanwhile...
sementara itu...
klo belum..., yaah... kayak syair di atas..
jaga hati.....jaga mata...
kedua-duanya sama lemah...

insyaAllah,,klo jodoh gak akan lari kemana,,

lha..klo larii..
ya brarti bukan jodoh...

cuma Allah yang maha mengetahui yang terbaik bagi kita

 :x  :x  :x


Wahh Alhamdulillah,,, Ukhty udah baca buku Ghudhul Bashar ya???. Buku terindah bagi orang-orang yang "mengerti" ayat AnNur:30-31 dan AlMu'minuun:19(Ayat terindah dalam hidupku setelah ArRahman:13++)

Makasih.... JAga hati jaga pandangan Istiqomah....
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 02, 2008, 08:53:15 pm
Kutip
cuma Allah yang maha mengetahui yang terbaik bagi kita

Allah memberikan yang terbaik dari apa-apa yang kita anggap baik...

Itu jelas!!!
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 03, 2008, 04:45:03 pm
Sebagai wawasan. Anda belum dapat bukti mungkin. INI KISAH NYATA!!!!. Saya punya teman yang pernah berpacaran,, sebelumnya dia sering buang sampah ke tempatnya di manapun dia berada dan insya Allah zikirnya itu sering sekali. Tetapi hanya beberapa hari teman saya itu berpacaran dan setelah itu putus. Memang hafalannya tidak hilang,,, malah bertambah... Tetapi ,, ternyata amalan-amalannya yang disebutkan diatas hampir-hampir punah!!!!
BAhayakan... makanya jangan pacaran!!!

hm....

saya juga punya kisah nyata
ada teman saya (laki-laki) yang sholat kalo lagi mau. tidak pernah ngaji. dan ga suka denger kajian. kemudian dia tertarik sama seorang wanita. wanita ini berkerudung tapi ga berjilbab. kata temennya dia (wanita) rajin sholat (saya deket sama teman sekostannya karena satu organisasi), dan sangat suka mendengar kajian. singkat cerita keduanya jadian (menjadi pacar). yang laki-laki jadi selalu sholat lima waktu walau kadang telat. suka mendengar kajian-kajian. gaya bahasa pun berubah.
hebatnya, mereka ga pernah berkhalwat, ga pernah berpegangan tangan. interaksi pun tidak intens baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

sekarang mereka sudah putus, saya ga tau alasannya. tapi dari segi keagamaan keduanya semakin baik, malah yang wanita sekarang berkerudung dan berjilbab.

ini kisah nyata, kisah salah seorang temen saya yang pernah kost ditempat yang sama meski ga sekamar.

ada tanggapan?


menurut saya kedua efek yang dimunculkan dari kedua kisah di atas  (kisah tean kang zikirulqulub dan kisah teman saya) tidak bisa dijadikan dasar pikiran pelarangan atau pembolehan pacaran, tapi bisa dijadikan info tambahan aja.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 03, 2008, 05:55:23 pm
Kutip
Jawab:
Maaf,,, anda kurang mengerti maksud saya yah??? Makanya jangan seudzon dulu. Saya menuliskan kalimat itu untuk menyangkal statemen seseorang yang menghalal kan apa yang di haramkan.
Mana mungkin saya mencuri untuk di amalkan. Apakah Allah menerima. Jelas tidak. Itu maksud dari surah AlBaqoroh:42

anda menqiyaskan pacaran dan mencuri..apa anda kira qiyas ini sah ? pacaran hukumnya masih mukhtalaf sedangkan mencuri muttafaq haramnya. ah..ada ada aja sampean ini.

Kutip
Jawab:
Maaf saudaraku.. aku tidak sensi akan masalah ini. Hanya saja aku merasa risih kepada orang-orang yang dia tidak mengerti bahwasanya tindakannya itu nantinya di pertanggung jawabkan. Klo gak percaya lihat deh Al'Isra: 36

Sebelum saya lanjutkan apakah anda pernah membaca Buku Ghudhul Bashar???
Saya yakin jika Anda sudah membaca dan memahaminya pasti benar-benar Anda tidak akan mengatakan hal-hal seperti di atas.
Apakah anda tahu jika seandainya mereka(orang yang berpacaran itu) berjauh-jauhan akan menghindari yang namanya zinah??? Apa kah anda tidak tahu bahwa mereka memiliki hati??? Yang dimana hati itu ketika masa mudanya sedang "mencari senderan" ketika kesepian karena "dia" mengalami masa transisi???. Apakah Anda yakin jika Allah akan “tetap berada” di dalam hatinya??? sedangkan dia lebih banyak cerita dan curhat kepada lawan jenisnya itu serta syahwat??? Ingat hatinya dia tidak ada dua sehingga jika "pacar"nya itu ada di dalam hatinya,, lalu "Ruang" buat Tuhannya dimana???. Kita harus tahu bahwa kita cuma punya hati SATU. Dan Cukup ALLAH-lah di Hatimu… Ini bukan statement tetapi REALITAS seorang MUSLIM.

Ini yang perlu diingat!!!

ini adalah pencampur adukkan anda masalah tasawwuf terhadap fiqh..anda seolah menarik 'illat dari tasawwuf, tapi mengambil konklusi atas dasar fiqh. ini jahil saya kira. 'illatnya diambil karena allah ga akan ada lagi dihati kalau pacaran, tapi natijah dari fiqh.

jangankan pacaran mas..orang main-main internet aja kalau menurut sufi ga boleh kok..yang saya bahas bukan masalah pacaran dari aspek tasawwuf, tapi dari aspek fiqh. tapi berbeda kalau itu dari fiqh,,,internet disamping ada manaatnya juga ada madharatnya, nah klau menurut orang sufi ? ya tidak ada hal yang patut dilakukan kecuali mengingat dan mengingat allah.

maka dalam istilah sufi ada : man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu. orang disuruh memahaminya dirinya sendiri bahwa didalam dirinya juga terdapat kekuasaan allah. ayatnya : "wa fi anfusikum afalaa tubsiiruun"

Kutip
Jawab:
Maksud Anda apa???... Anda seharusnya dapat mengerti arti "Janji kawin". Jika bukan itu lalu apa???.
Sekarang begini bolehkah kita "menggantung" wanita untuk mengiming-imingkannya agar menikah dengannya???
Dzalim taahu nggak!!!!! Klo suka ya Nikahi,,,, itu baru Cinta... Bukannya di "ZINAHI"(Manfaati)

ini baca tafsir tabari dulu ya sebelum ngomong terlalu banyak :

وكأن قائل هذا القول، تأول الكلام: ولا جناح عليكم فيما عرضتم به من ذكر النساء عندهن. (2) وقد زعم صاحب هذا القول أنه قال:"لا تواعدوهن سرا"، لأنه لما قال:"ولا جناح عليكم"، كأنه قال: اذكروهن، ولكن لا تواعدوهن سرا.


Kutip
Jawab:
Apakah anda tahu zinah Pandangan???
Apakah anda tahu zinah Pendengaran???
Apakah Anda tahu Zinah Fikiran???
Apakah Anda tahu zinah Sentuhan???
Jika anda tahu maka pasti juga anda tahu bahwa ada zinah hati!!!!

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Apakah seseorang yang memikirkan seseorang yang bukan mahramnya yang ternyata di hatinya terbesit di dalam hatinya adalah syahwat, tidak berdosa???

sekarang jawab saya..syahwat untuk menikah berdosakah ? lalu ketika misalkan sekarang ada seorang dilamar ketika 12 tahun, kemudian si wanitamencintai laki-lakinya. nah dalam perjalanan masa dari 12 tahun ke 20 tahun si wanita sering memikirkan si laki-laki yang melamar..dosa atau tidak ?? zina hati itu maksudnya apa ? zina mata itu maksudnya apa ?

mata saya zina jika saya melihat sesuatu yang tidak pantas saya lihat. itu zina mata. zina kaki jika kaki saya melangkah ke tempat yang tidak seharusnya saya melangkah ke situ, ini zina kaki. dan sterusnya.kemudian kalau memikirkan laki-laki yang dicintai untuk menikh, unsur diharamkannya dari mana ??karena memikirkan laki-laki yang bukan mahram ? sehingga hati jadi tidak cinta pada allah ?

kemudian... syahwat ada berapa sih ?

Kutip
Jawab:
Saya tidak bermaksud klaim terhadap pendapat seseorang hanya saja saya binggung Apakah di islam mengajarkan pacaran. Klo tidak diajarkan rasulullah(ritualnya) berarti amalan itu ditolakkan?? dan apakah anda pernah mendengar hadist ini:

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5114), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8327), Ibnu Manshur dalam As-Sunan (2370). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)
mas mas..anda itu menyangku-nyangkutkan sesuatu hal yang tidak berhubungan sama sekali. mau mbahas bid'ah atau apa ?

masalah hadis itu, menyerupai apa maksudnya ?

Kutip
Jawab:
yang perlu di tekankan adalah kalimat: "...sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi..."

Ok...
Jadi sudah mengerti khan????
Yang jadi masalahnya bukan hanya "dipegang-peganggnya" saja. Apakah anda tahu bahwa pandangan dan hati juga berpengaruh???
Bagaimana bisa(ingin) pegang-pegangan klo memang orang itu tidak melihat????

Apakah anda lupa dengan Surat AnNur:30-31 dan AlMu'minuun:19???

[24:30] Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

yang terakhir ini..kalau anda menilai ayat ini dari sudut pandang fiqh, tentu akan sangat berguna bagi anda...

ketahuilah mas, fiqh dan tasawwuf adalah suatu hal yang berbeda.

BUktinya apa ? saya nuqilkan tafsir al-kabinya arrazi :

حكم النظر
اعلم أنه تعالى قال : { قُلْ لّلْمُؤْمِنِينَ } وإنما خصهم بذلك لأن غيرهم لا يلزمه غض البصر عما لا يحل له ويحفظ الفرج عما لا يحل له ، لأن هذه الأحكام كالفروع للإسلام والمؤمنون مأمورون بها ابتداء
،

diskusinya ga nyambung mas sampean.







Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 03, 2008, 06:22:12 pm
@mas fahmie

terjemahin dong mas tulisan arab gundulnya..
masih banyak yang awam nih..
syukron sebelumnya
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: open your heart pada April 03, 2008, 06:27:39 pm
@mas Fahmie....

Akhirnya Sang master dateng juga....

Mas Fahmie...bisa tolong diuraikan gak mas Hadist yang ini....aku masih bingung memahaminya....
apakah hadist ini menerangkan Zina secara keseluruhan (melakukan hubungan suami istri --> non muhrim)
atau ada pengertian lain???


“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).


Teng kyu yaa Mas... B-)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 03, 2008, 09:08:37 pm
Kutip
“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.”  (HR Bukhari).


maksud hadis ini....semua anggota tubuh itu sebenarnya ingin kemaksiatan. kaki, tangan, mata...nah semua ini belum dikatakan zina jika alat kelamin belum berzina.

zina itu apa sih dalam tnjauan syari'at ? zina ya masuknya alat kelamin laki-laki pada alat kelamin perempuan tanpa aqad syar'i ( nikah ). kemudian maknanya digelincirkan menjadi ada zina mata, kaki dll...kalau begitu, sekarang sah-sah saja kalau saya sebutkan misalkan, saya berbohong, ini zina mulut, saya mencuri, ini zina tangan...tapi ini semua keluar konteks dari pembahasan tentang pacaran.

Untuk memperjelas begini...mas zikirulqulub mengatakan bahwa, dalam pacaran itu ada unsur-unsur zina mata, kaki, dll...maka saya jawab : ini bukan hanya pada pacaran. tapi semua tingkah laku manusia di alam ini. ( jika memang semua maksiat diqiyaskan dg zina )

Nah..makna zina tangan, hati, kaki dll pada hadis hanyalah majaz dari kemaksiatan. sedangkan makna zina yang hakiki ada pada kata yang saya bold pada hadis diatas.

mas zikirul qulub mengatakan ; bahwa dalam pacaran ada unsur2 zina hati, yaitu memikirkan lawan jenis, padahal dia tidak halal.  maka itu saya tanya mas dzikrulqulub...dari mana mengatakan memikirkan lawan jenis itu haram ?

penqiyasannya sangat sederhana...wanita belum halal oleh laki-laki. wanita selalu ingin menikah dengan laki-laki sehingga terpikirkan bagaimana cara untuk menikahinya.

dengan....saya belum jadi orang kaya. saya memikirkan seandainya saya kaya, saya akan bangun rumah, supermarket dll. Bukankah saya memikirkan harta yang belum halal alias belum jadi milik saya ? sama saja si perempuan memikirkan laki-laki yang belum halal. Bisa jadi dipetik hikmah dari sini, si perempuan akan berusaha mencari jalan untuk menikahinya. sedangkan saya bekerja keras untuk mencari harta dengan sebanyak banyaknya.

Seandainya saya menerima dakwaan bahwa memikirkan laki-laki yang belum halal itu maksiat ( tapi kenyataannya saya tidak menerima ), maka saya ingin tanya lebih lanjut pada zikirul qulub, dalam kajian tauhid dikatakan, malaikat tidak mencatat amal buruk yang baru di niati, tapi mencatat amal baik yang baru diniatkan. apa yang menyebabkan malaikat tidak mencatat amal buruk yang cuma baru niat saja ?

Ohya mas open your heart..saya bukan master. masih banyak yang lebih master. aya-aya wae sampean.....( mohon dibetulkan kalau salah bahasa sundanya )

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 03, 2008, 09:26:57 pm
@mas arif

Untuk yang dari tafsir alkabirnya arrazi..terjemah bebasnya : ghaddulbashar itu masalah furu' saja. sedangkan konsekwensi masalh furu', adalah mahallul khilaf( tempatnya khilaf ).

saya sebutkan kurang lebihnya khilaf mengenai ghaddul bashar seingat saya ( jika salah diingatkan karena saya tidak lihat kitab ) :

1. Ada ulama yang mengatakan batasan ghaddul bashar itu adalah pada pandangan kedua. ini jika pandangan yang pertama tidak disengaja. sehingga ketika melihat dg pandangan yang kedua, itu sudah berdosa.

2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

3. pendapat yang mengatakan bolehnya melihat perempuan non muhrim dg mutlak, tapi jika tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ). artinya, sepanjang memandangnya itu untuk mu'amalah misalkan, atau keperluan apapun, dan itu tidak tasyaddud, maka itu boleh-boleh saja.

Nah inilah gambaran khilaf mengenai ghaddulbashar. jadi itu bukan sesuatu yang mutlak batasannya yaitu tidak boleh sama sekali melihat perempuan. tapi ini makhallul khilaf. saya harap mas zikirulqulub bisa lebih bijak dalam melihat persoalan.

 
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada April 03, 2008, 09:34:50 pm
OOT ah....
aya-aya wae sampean.....( mohon dibetulkan kalau salah bahasa sundanya )
:)) kalau g bisa bahasa sundo,ojo ngomong sundo mas,iso iso dimarahin ;))

@open your heart,mas fahmi bukan master,tapi rocker :D

mas fahmie,nyantai bae bro.....mentang-mentang banyak tugas jadi sensi gini :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: wied pada April 04, 2008, 09:32:52 am
Tadinya nggak tertarik dg topik ini,tapi setelah baca ini jadi tertarik

saya sebutkan kurang lebihnya khilaf mengenai ghaddul bashar seingat saya ( jika salah diingatkan karena saya tidak lihat kitab ) :

1. Ada ulama yang mengatakan batasan ghaddul bashar itu adalah pada pandangan kedua. ini jika pandangan yang pertama tidak disengaja. sehingga ketika melihat dg pandangan yang kedua, itu sudah berdosa.

2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

3. pendapat yang mengatakan bolehnya melihat perempuan non muhrim dg mutlak, tapi jika tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ). artinya, sepanjang memandangnya itu untuk mu'amalah misalkan, atau keperluan apapun, dan itu tidak tasyaddud, maka itu boleh-boleh saja.

Nah inilah gambaran khilaf mengenai ghaddulbashar. jadi itu bukan sesuatu yang mutlak batasannya yaitu tidak boleh sama sekali melihat perempuan. tapi ini makhallul khilaf. saya harap mas zikirulqulub bisa lebih bijak dalam melihat persoalan.

 
@mas fahmie...tanya...
maaf menyimpang dikit(OOT dikit)
bagaimana hukumnya dengan menonton TV..?,setiap hari kita lihat perempuan(yang tidak halal untuk kita) berkali-kali....apakah termasuk Zina mata...?

dadi bingung aku...zina tiap hari....
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: layla azzahra pada April 04, 2008, 11:35:12 am
Pacaran adalah sebuah istilah yang kehilangan definisi.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 04, 2008, 08:54:00 pm
Kutip
@mas fahmie...tanya...
maaf menyimpang dikit(OOT dikit)
bagaimana hukumnya dengan menonton TV..?,setiap hari kita lihat perempuan(yang tidak halal untuk kita) berkali-kali....apakah termasuk Zina mata...?

dadi bingung aku...zina tiap hari..

ga mas...makanya saya sebutkan khilafnya diatas. biar kita semua bisa lebih bijak menilai persoalan. selama memandang peremupuan tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ), maka itu bukanlah zina. ini hanyalah masalah khilafiah....dan tidak ada klaim dalam masalah khilafiah. ;) ;)

kalau yang mau tasyaddud ( suka yang berat-berat ), ya monggo. berarti TV jadi haram. kalau mau yang sedang-sedang saja, juga tidak salah.

syukran jaziilan.

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 09:14:10 pm
Pacaran adalah sebuah istilah yang kehilangan definisi.

Betuul....
Judul: Absen To hurth,,, cek-cek-cek...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 09:16:20 pm
Asslamu’alaikum

Kutip
Tapi saya coba semampu saya memberikan gambaran mengenai hukum pacaran.

Ibnu katsir dalam tafsirnya mengatakan :

{ وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا (32) } .
يقول تعالى ناهيًا عباده عن الزنا وعن مقاربته، وهو مخالطة أسبابه (6) ودواعيه { وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً } أي: ذنبًا عظيمًا { وَسَاءَ سَبِيلا } أي: وبئس طريقًا ومسلكًا.

bahwa allah melarang zina dan hal-hal yang bisa mendekatkan pada zina.

kemudian kita tahu bersama adanya larangan khalwat, larangan bersentuhan dg non muhrim,begitu juga larangan ciuman ( bagi yang belum nikah ), istimta' ( muqaddimah sebelum dukhul ), nah..ini semua oleh ulama dikatakan muqaddimatuzzina atau awal mula zina( bagi orang-orang yang belum nikah ).

Jawab:
Mengapa ulama tidak mencantumkan “pandangan liar” di dalamnya???. Padahal pandangan adalah anak panah syaitan.
Dan dari pandangan itulah asal mula zinah itu sendiri.
Mungkin “ulama” itu belum baca buku Ghudhul bashor kali yaa???

Kutip
Maka secara tidak langsung, mendalili haramnya pacaran dg ayat tadi madlulnya tidak tepat. karena pacaran masih terlalu umum untuk dikatakan muqaddimatuzzina. artinya terlalu umum, muqadimatuzzina adalah bagian dari pacaran. bukan hakikat pacarannya sendiri.

Jawab:
Saya memperkuat pernyataan TS hanya untuk “istilah pacaran” apakah anda tahu tentang suatu hal yang lebih berbahaya lagi?? Apakah anda lupa dengan HTS atau hubungan tanpa status yang “sering” di alami ikhwan-akhwat??? Sehingga diantara mereka ada yang merasa tergantung??? Dan apakah anda lupa juga dengan TTM atau Teman tapi mesra??? Yang lebih tidak jelas lagi “riwayatnya”.
Yang dimaksud pacaran disini bukan hanya pegangan tangan aja tetapi keterikatan hati kepada orang yang bukan mahramnya “lewat” suatu media yang “khusus”. Artinya bukan pacaran menurut bahasa dan istilah.
Dan dari keterikatan hati itu akan timbul zinah hati,, yang jelas-jelas sudah berzinah dibanding dengan mendekati zinah itu sendiri.
Saya minta agar tidak mengistilahkan pacaran dengan referensi yang telah terdefinisi oleh sebaigian orang saja. Karena definisi pacaran itu sungguh luas!!! Ini adalah masalah perspektif seseorang terhadap apa yang dia lihat.

Kutip
maksud saya, jika mengatakan : pacaran haram. dalilnya adalah  wa la taqrabuzzina. ini salah sasaran.

Kalau dilihat dan di-convert keistilah yang anda maksud pasti tidak nyambung,, karena berbeda.

1.   pacaran yang tidak dibarengi muqaddimatuzzina
2.   pacaran yang dibarengi muqaddimatuzzina. yang kedua inilah yang haram.
Jawab:
Ok. Tetapi aneh mengapa yang nomor satu tidak dibilang haram???. Apakah anda tahu bahwa sekarang memang hal itu tidak “terjadi” kepada orang yang berpacaran di nomor 1. Tetapi apakah anda lupa bahwa setan itu membisikkan kedalam hati manusia agar nantinya manusia itu terjerumus?? Apakah anda lupa bahwa syaitan itu diam saja???

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-‘Araaf: 27)

Tipu daya syaitan??? Lupakah anda…

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (AnNur: 21)


yang saya pelajari tentang pacaran, dalil-dalil mereka yang mengharamkan rata-rata ada dua :

Jawab:

Maaf.. itukhan hal yang anda pelajari… tetapi apakah anda belajar tentang apa yang orang pelajari???


Kutip
1. dg ayat " wa la taqrabuzzina."
    ayat ini madlulnya ada dua :

   1. hal-hal yang mendekati zina
   2. zinanya itu sendiri. ini namanya qiyas aulawi. maksudnya, walaupun ayat tadi tidak secara gamblang mengatakan bahwa zina haram, tapi itu sudah tercukupi dg mengatakan " mendekati zina haram ". karena jika mendekati zina saja haram, apalagi zinanya.

Jawab:
Benar!!!. Tetapi zinah itu ada macamnya khan??? Nah apa saja yang mendekatinya pun berdosa???. Saya yakin anda mengikuti pendapat saya ini

Kutip
ga hanya pacaran, sekiranya pertemanan yang bisa mengantarkan pada muqaddimatuzzina, maka pertemanan pun menjadi haram.

Jawab:
Saya juga berpendapat demikian. Apalagi selingkuh dan “pelampiasan”. Inilah yang saya sebut juga sebagai “pacaran”.

Kutip
mereka mendakwa hal-hal yang bisa mendekatkan pada muqaddimatulzzina adalah pacaran.

saya kira hal ini tidak akan dikatakan oleh orang yang mengikuti ilmu ushul. karena kalau dilihat, sudah kelihatan tidak masuk akalnya. orang-orang yang bisa mendekati zina, bisa juga dilakukan oleh yang tidak pacaran khan ?.

Jawab:
Tampaknya…. Ada miscommunication yaa???. Saya tidak menspecialisasikan “pacaran” itu sendiri dengan keterikatahn. Tetapi juga khalwat.

Kenapa saya menulis kata “pacaran”. Masalah “pacaran” itu makananya luas. Klo saya bilang hanya satu definisi saja nanti makin lebih sulit lagi bagi saya untuk menjelaskan yang lainnya. Iya khan???

Kutip
itu namanya mendakwa dg sesuatu yang masih umum. dan itu tidak dibenarkan.

Jawab:
Tidak dibenarkan bagaimana??? Itu perspektif Anda saja kaleee…


Kutip
sama halnya dg pacaran..'illat ( alasan )diharamkannya pacaran jika ada  muqaddimatuzzina, kalau ga ada, ya sah-sah saja. artinya..kalau memang tidak akan ada apa2 ya sah-sah saja pacaran. tapi kalau dirasa akan ada apa-apa nah ini baruuu.....


Oleh karena itu saya katakan, yang namanya pacaran adalah haram ( jika dibarengi muqadimatuzzina ), tapi haramnya lighairihi. bukan lidzatihi. ( sepertinya saya sudah pernah menulis tentang pembagian haram ini ).Haram lighairihi yang hukum asalnya mubah ( halal ).

Jawab:
Setan akan membiarkan nya sekarang. Tetapi nanti siapa tahu??? Apakah anda lupa. Mereka sedang mengatur siasat agar MENGHALALKAN SEGALA CARA…

Waahhh… ini lebih parah lagi!!!. Apa dalilnya klo pacaran yang kamu maksud itu “SAH”????

Kamu tanpa sengaja telah menghalalkan apa yang diharamkan TANPA PENGETAHUAN YANG JELAS.
KAMU MEMBERIKAN FATWA DENGAN MENGGUNAKAN AKAL FIKIRAN DAN REFERENSI YANG KAMU LIHAT SAJA.
DAN KAMU MENJELASKANNYA DI DEPAN ORANG BANYAK.
Apakah “fatwamu” itu tidak diminta pertanggung jawabannya????

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al’Isra: 36)


Kutip
karena sebagaimana kita tahu, hukum asal haram lighairihi itu adakalanya sunat, mubah, dan wajib. ( untuk lebih jelasnya, coba dibaca tulisan saya tentang haram ).

Jawab:
Itu tentang adab FIKIH dan bukan karena itu anda “berhak” untuk MEMFIKIHKAN hal yang tidak “berhak” untuk DIFIKIHKAN… seperti “fatwa” anda.

Kutip
tapi model-model hukum mu'allal seperti ini kondisional sifatnya. oleh karena itu salah satu syarat seorang mufti, harus tahu kondisi dan hal yang sedang menimpa mustafti ( orang yang diberi fatwa ). karena begini...mufti yang berfatwa bahwa pacaran haram, tanpa melihat kondisi mustafti ( yang diberi fatwa ), padahal misalkan, orang tadi karena pacaran jadi hidupnya semangat, belajarnya semangat dll,maka si mufti tadi sudah salah besar. dan harus segera taraju' ( mencabut fatwanya ). maka itu saya bilang kondisional...tergantung siapa yang tanya...tapi kalau saya yang tanya hukumnya pacaran apa, tentu oleh seorang mufti akan dijawab haram..karena iman saya masih tipis.

Jawab:

Saya bukannya membuat orang menderita karena pendapat saya. Tetapi, pernyataan saya sudah di buktikan oleh suatu kebenran yang pernah saya alami. Dan bukan karena masalah yang saya miliki itu lantas orangpun harus ikut pendapat saya karena perbuatan itu salah. Tidak!!!. Tidak sekali. Hanya saja saya ingin memberitahukan bahwa   syaitan itu membisikkan kedalam dada anak adam dengan perlahan. Sehingga hal-hal yang pertamanya bisa menjaga diri untuk tidak berzinah, tetapi sedikit-demi sedikit ketahan iman berkurang karena adanya godaan. Ini diperkuat dengan hadist Nabi Saw yang mengatakan bahwa seseorang apabila dia berzinah maka imannya “ngambang”. Jadi jelas dari hal-hal yang mulai sedikit demi sedit akhirnya hal itu tidak terasa perbedaannya sehingga nantinya hal yang sudah biasa mereka lakukan menjadi sah-sah saja karena mereka menganggap hal itu sama seperti itu dari dulu hanya saja ada perubahan “sedikit”,,, padahal iman mereka sudah menjadi sedikit dan karena takut “dianggap” berdosa akhirnya mereka menghalalkan apa yang dulunya mereka diharamkan. Jahat gak tuh???

Klo memang untuk motifasi,, Kenapa bukan Rassuluiullah, Ali, atau pemuda Kahfi??? Itu khan suatu motifasi besar??? Apakah lupa???. Ok… jika ada yang menginginkan dari kaum perempuan,,, bisakhan kita mengambil Aisyah, Fatimah Azzahra, Istrinya Fir’aun yang Shalehah atau Istrinya Nabi Ibrahim yang sabar. Jika “kurang tertarik” bisakan kita “mengambil” Ibu kita sebagai motifasi kita?? Atau adik atau kakak kita???. Klo “tidak tertarik” juga kenapa nggak Syurga aja??? Klo nggak juga,,, kenapa tidak AlQur’an(yang didalamnya terdapat hal-hal yang dapat meningkatkan semangat) yang selalu setia berada di hati anda??? Dan mengapa nggak Allah aja Yang maha Mengawasi lagi Maha Lemah Lembut?
Kenapa harus mencari yang bukan muhrim??? Klo demikian berarti ada udang di balik batu kan? Dengan mengatasnamakan motifasi lalu menghalalkan pacaran???. Sehingga ujung-ujungnya… . OFDBA
(Out from Dakwah By Accident).
Aneh yaa? Masa Agar membuat “pasangannya” bangga, akhirnya memberikhan motifasi semu? Pembohong macam apakah ini?

Bagi orang-orang yang “pacarannya” “hiding” dengan tidak berkhalwat di muka umum tetapi mereka mungkin berkhalwat virtual.. lewat telepon. Memang zinah hanya dengan sentuh-sentuhan saja???. Ketika bertelepon apakah fikiran tidak melayang dengan mengatakan hal-hal yang manis? Sehingga makin ngelantur ucapannya. Sehingga di luar, fikirannya melayang entah kemana ketika memikirkan si doi. Betapa banyak waktu yang terbuang yang diakibatkan oleh masalah ini yang ditukar dengan kenikmatan semu?
Apakah mereka tidak berfikir, bahwasanya nantinya mereka akan mendapatkan masalah antara mereka?? Sehingga mereka mudah sakit hati bahkan hancur hatinya?

Eithhh… kyaknya ada kata telepon.  Telepon dan SMS?. Memang murah sih pulsanya. Tetapi, apakah mereka tidak berfikir bahwa nantinya mereka akan ditanya untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka “buang-buang” itu? Dan apakah perkatan mereka itu tidak akan dipertanggung jawabkan, ketika mereka pernah “menghambur-hamburkannya”? Klo, nanti si doi itu jodoh mu?. Klo tidak?. Emang mau memaafkan diri sendiri?.
Tobat memang belakangan dan Allah pun memaafkan tetapi apakah kalian akan tenang jika selalu dihantui rasa penyesalan atas dosa-dosa itu? Tidak!! Kalian akan tiada henti-hentinya menyalahi diri sendiri. Dan dengan itu mungkin kalian zalim kepadanya karena telah “mengutuknya”. Dan kalian “bergerak” serba salah. Nyaman gak?. Mungkin ingin mati saja kali yah?. Eith,,, kok udah tobat, tapi pesimis sih?Hayo loo...

Perlu diketahui, cerita ini bukan untuk mempromosikan bahwa saya pernah “patah hati” sehingga saya melakukan hal ini, Ooh sungguh tidak!!!. Klo boleh jujur… Banyak banget yang bakal tidak menjaga hatinya bila saya zalim(menginginkan pacaran). Bahkan kalo perlu mereka yang saya buat “patah hati”. Yaa Allah maafkan aku… jauhkan aku dari ujub.

Kondisional???. Apakah anda tahu “jebakan” syaitan yang berpotensi untuk menjerumuskan anak adam…

Syetan bergerak belakangan… mungkin kita berada dalam targetnya… hanya kita lalai untuk itu..

Kutip
Ohya..ini semua bukan berarti saya pacaran. suer deh saya tidak pacaran. karena rata-rata orang bilang, "ah..orang-orang yang menghalalkan pacaran khan untuk dirinya sendiri. alias mencari-cari jalan agar pacaran menjadi boleh."

Jawab:
Mau pacaran atau tidak itu adalah urusan kamu. Tetapi aku mencoba untuk tidak mengikuti langkah-langkah syaitan..

Kebenaran adalah milik Allah… oleh karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu…

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (AlMaidah: 50)

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 09:20:26 pm
Sebagai wawasan. Anda belum dapat bukti mungkin. INI KISAH NYATA!!!!. Saya punya teman yang pernah berpacaran,, sebelumnya dia sering buang sampah ke tempatnya di manapun dia berada dan insya Allah zikirnya itu sering sekali. Tetapi hanya beberapa hari teman saya itu berpacaran dan setelah itu putus. Memang hafalannya tidak hilang,,, malah bertambah... Tetapi ,, ternyata amalan-amalannya yang disebutkan diatas hampir-hampir punah!!!!
BAhayakan... makanya jangan pacaran!!!

hm....

saya juga punya kisah nyata
ada teman saya (laki-laki) yang sholat kalo lagi mau. tidak pernah ngaji. dan ga suka denger kajian. kemudian dia tertarik sama seorang wanita. wanita ini berkerudung tapi ga berjilbab. kata temennya dia (wanita) rajin sholat (saya deket sama teman sekostannya karena satu organisasi), dan sangat suka mendengar kajian. singkat cerita keduanya jadian (menjadi pacar). yang laki-laki jadi selalu sholat lima waktu walau kadang telat. suka mendengar kajian-kajian. gaya bahasa pun berubah.
hebatnya, mereka ga pernah berkhalwat, ga pernah berpegangan tangan. interaksi pun tidak intens baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

sekarang mereka sudah putus, saya ga tau alasannya. tapi dari segi keagamaan keduanya semakin baik, malah yang wanita sekarang berkerudung dan berjilbab.

ini kisah nyata, kisah salah seorang temen saya yang pernah kost ditempat yang sama meski ga sekamar.

ada tanggapan?


menurut saya kedua efek yang dimunculkan dari kedua kisah di atas  (kisah tean kang zikirulqulub dan kisah teman saya) tidak bisa dijadikan dasar pikiran pelarangan atau pembolehan pacaran, tapi bisa dijadikan info tambahan aja.


Jawab:
Apakah Anda menjamin bahwa kedua teman anda itu tidak sedang diintai Syaitan?
Apa alasan anda tidak?
Apakah anda tahu jika syaitan itu sangat licik?
Atau anda melupakannya?
Hati-hati!! semakin tinggi tiang maka semakin kencang anginnya pula.
Judul: Replyment
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 09:41:54 pm
Kutip
2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

Jawab:
Ehh…eh… anda salah mengerti ya?
Sama sekali? Masud anda apa? Saya lebih pro ke nomor 3 tuh. Jadi seandainya saya melihat patung yang seksi, jadi tidak haram begitu? Trus nonton kartun “sexy” di tv atau di game tidak dosa begitu? lantaran mereka bukan "perempuan" beneran. Trus gak dosa pula jika saya harus melihat banci yang "seksi"?. Please dehhhh

Anda salah duga!!!
Maaf saya tidak sok suci!!!. Tetapi, saya merasa tidak nyaman karena pandangan saya liar. Terkecuali tidak sengaja.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 09:49:53 pm
Kutip
@mas fahmie...tanya...
maaf menyimpang dikit(OOT dikit)
bagaimana hukumnya dengan menonton TV..?,setiap hari kita lihat perempuan(yang tidak halal untuk kita) berkali-kali....apakah termasuk Zina mata...?

dadi bingung aku...zina tiap hari..

ga mas...makanya saya sebutkan khilafnya diatas. biar kita semua bisa lebih bijak menilai persoalan. selama memandang peremupuan tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ), maka itu bukanlah zina. ini hanyalah masalah khilafiah....dan tidak ada klaim dalam masalah khilafiah. ;) ;)

kalau yang mau tasyaddud ( suka yang berat-berat ), ya monggo. berarti TV jadi haram. kalau mau yang sedang-sedang saja, juga tidak salah.

syukran jaziilan.



Jawab:
"Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)". (QS. An-Nahl : 69).
Judul: Uhh..our home work!!!
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 10:08:29 pm
Kutip
maksud hadis ini....semua anggota tubuh itu sebenarnya ingin kemaksiatan. kaki, tangan, mata...nah semua ini belum dikatakan zina jika alat kelamin belum berzina.

Jawab:
Mengapa Rasul melampirkan kata ZINAH di setiap anggota tubuh?


Kutip
zina itu apa sih dalam tnjauan syari'at ? zina ya masuknya alat kelamin laki-laki pada alat kelamin perempuan tanpa aqad syar'i ( nikah ). kemudian maknanya digelincirkan menjadi ada zina mata, kaki dll...kalau begitu,
Jawab:
Maksud anda di gelincirkan apa?

Kutip
sekarang sah-sah saja kalau saya sebutkan misalkan, saya berbohong, ini zina mulut, saya mencuri, ini zina tangan...tapi ini semua keluar konteks dari pembahasan tentang pacaran.

Jawab:
Mas ini bukan masalah tentang zinah tetapi masalah hukum.


Masalah
Kutip
Untuk memperjelas begini...mas zikirulqulub mengatakan bahwa, dalam pacaran itu ada unsur-unsur zina mata, kaki, dll...maka saya jawab : ini bukan hanya pada pacaran. tapi semua tingkah laku manusia di alam ini. ( jika memang semua maksiat diqiyaskan dg zina )

Jawab:
Ingat pacaran yang saya maksud bukan hubungan dengan status saja tetapi juga hubungan tanpa status. OK. Anda terlalu… kepada saya kyaknya ya???


Kutip
Nah..makna zina tangan, hati, kaki dll pada hadis hanyalah majaz dari kemaksiatan. sedangkan makna zina yang hakiki ada pada kata yang saya bold pada hadis diatas.

Jawab:
Ya sudah… berarti saya tidak berzinah jika saya melihat atau memegang orang yang bukan mahram? Kan saya tidak bersetubuh. Klo begitu islam memperbolehkannya ya?
Lalu apa gunanya Surat Al’Isra’ 32? Katanya larangan menjauhi zinah?
 


Kutip
mas zikirul qulub mengatakan ; bahwa dalam pacaran ada unsur2 zina hati, yaitu memikirkan lawan jenis, padahal dia tidak halal.  maka itu saya tanya mas dzikrulqulub...dari mana mengatakan memikirkan lawan jenis itu haram ?

Jawab:
Sampai seseorang terlena karenanya . Dan skala terlena itu tergantung pada orang yang memikirkannya.


Kutip
penqiyasannya sangat sederhana...wanita belum halal oleh laki-laki. wanita selalu ingin menikah dengan laki-laki sehingga terpikirkan bagaimana cara untuk menikahinya.

Jawab:
Ini beda? Pernikahan adalah ibadah. Dan karenanya seorang wanitapun dihalalkan untuk mengatakan kepada seorang pria yang diidamkannya ketika ingin menikah(bukan karena tidak ingin menikah). Tetapi sebatas ingin dan tidak terlena karena fikirannya itu. Sehingga perbuatan2x yang nantinya akan di lakukan akan tidak sia-sia.


Kutip
dengan....saya belum jadi orang kaya. saya memikirkan seandainya saya kaya, saya akan bangun rumah, supermarket dll. Bukankah saya memikirkan harta yang belum halal alias belum jadi milik saya ? sama saja si perempuan memikirkan laki-laki yang belum halal. Bisa jadi dipetik hikmah dari sini, si perempuan akan berusaha mencari jalan untuk menikahinya. sedangkan saya bekerja keras untuk mencari harta dengan sebanyak banyaknya.

Jawab:
Ini cita-cita mas!!! Dan ini bias berdosa jika anda hanya memikirkan barang-barang tersebut lantaran hal lain terlupa.


Kutip
Seandainya saya menerima dakwaan bahwa memikirkan laki-laki yang belum halal itu maksiat ( tapi kenyataannya saya tidak menerima ), maka saya ingin tanya lebih lanjut pada zikirul qulub, dalam kajian tauhid dikatakan, malaikat tidak mencatat amal buruk yang baru di niati, tapi mencatat amal baik yang baru diniatkan. apa yang menyebabkan malaikat tidak mencatat amal buruk yang cuma baru niat saja ?

Jawab:
Wallahu ‘Alam. Saya tidak tahu menahu atas ini karena itu bukan urusan saya. Masalah amal itu bisa bernilai ajaib. Bisa saja yang kecil itu menjadi sangat berarti.

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 10:09:45 pm
Kutip
Yang perlu ditekankan kepada Anda adalah apakah cerita-cerita orang terdahulu itu tidak bisa dijadikan contoh? agar kita nantinya tidak melakukan kesalahan yang sama????
bisa..
cerita2 orang terdahulu yang tercantum dalam Al-Quran atau secara historis bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya bisa dijadikan contoh untuk mengambil ibrah..

tapi untuk cerita yang menurut anda sendiri

Eggghhhh... saya tidak bisa pastikan dari mana dan dipertanggung jawabkan...

coba pahami maksud saya dengan kepala dingin
bisa bedakan ga..
cerita dalam Al-Quran yang bisa diambil sebagai ibrah dengan cerita karangan entah siapa yang ga jelas sumbernya darimana?

Jawab:
OK…ok…ok. Itu terserah anda, saya ikuti kemauan anda yang mengeksklusifkan diri anda dengan “pertanggung jawaban” atas segala “milik” orang lain. Ooh… saya harus menghargai ini… masalahnya ini adalah kemauan Anda!. Ok saya hapus cerita itu… demi ke-eksklusifan anda terhadap pendapat saya. Tetapi saya yakin saya tidak berbohong.
Tetapi yang saya sayangkan kenapasih harus ekslusif???
Judul: HARUS LEBIH DIPERHATIKAN!!!!
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 10:11:02 pm
Kutip
syukron ya sharing-nya..   
rep +1 buat mas fahmie


Jawab:
Bisakah anda pertanggung jawabkan ini???. Atas dasar pemahaman apa sehingga anda memberikannya????
ITU HAK ANDA,,,TETAPI,, INGAT SEMUA ADA PERTANGGUNG JAWABANNYA TERMASUK MEMBERIKAN NILAI MINUS/PLUS TERHADAP SESEORANG.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. AlIsra: 27
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada April 04, 2008, 10:38:29 pm
maaf mau nimbrung sedikit.

Asslamu’alaikum
wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh


sepertinya pembahasan ini akan melebar

Kutip dari: ZikrulQulub
Jawab:
Atas dasar pemahaman apa sehingga anda memberikannya????
ITU HAK ANDA,,,TETAPI,, INGAT SEMUA ADA PERTANGGUNG JAWABANNYA TERMASUK MEMBERIKAN NILAI MINUS/PLUS TERHADAP SESEORANG.
akhi,pemahaman orang itu berbeda-beda,antum tidak bisa memaksakannya....
pak arif memberikan plus kepada akhi fahmie mungkin beliau merasa akhi fahmie sudah jadi media menambah pengetahuan beliau....

sudahkah baca signatureku? ;)

sudah yakinkah apa yang menurut antum benar saat ini adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak ada kebenaran lain yang kadar kebenarannya lebih benar dari apa yang antum yakini?

"Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku" al-kafirun[109] : 6

menurut pemahamanku,
ayat tersebut bukan hanya untuk kafirun,tapi juga merupakan ayat agar kita bisa memahami keyakinan orang lain,meskipun seiman.

CMIIW bagi yang lebih faham tentang tafsir :)
Judul: OK...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 10:38:55 pm
Kutip
anda menqiyaskan pacaran dan mencuri..apa anda kira qiyas ini sah ? pacaran hukumnya masih mukhtalaf sedangkan mencuri muttafaq haramnya. ah..ada ada aja sampean ini.

Jawab:
Anda bilang masih!!!


Kutip
ini adalah pencampur adukkan anda masalah tasawwuf terhadap fiqh..anda seolah menarik 'illat dari tasawwuf, tapi mengambil konklusi atas dasar fiqh. ini jahil saya kira. 'illatnya diambil karena allah ga akan ada lagi dihati kalau pacaran, tapi natijah dari fiqh.
Jawab:
Jahil. Mungkin. Tetapi ini argument.
Saya lupa hadistnya- tolong koreksi- Rasulullah pernah bersabda bahwa seseorang yang sedang berzinah maka imannya "ngambang".-Tolong cari...


Kutip
jangankan pacaran mas..orang main-main internet aja kalau menurut sufi ga boleh kok..yang saya bahas bukan masalah pacaran dari aspek tasawwuf, tapi dari aspek fiqh. tapi berbeda kalau itu dari fiqh,,,internet disamping ada manaatnya juga ada madharatnya, nah klau menurut orang sufi ? ya tidak ada hal yang patut dilakukan kecuali mengingat dan mengingat allah.

Jawab:
Kenapa nggak dua-duanya aja?. Apakah nggak mungkin?. Internet berbahaya jika digunakan tidak sepantasnya. Dan ini juga berlaku untuk semuanya dan bahkan ibadah.
“Ibadah” baik? Tidak selalu mas. Jika orang itu “salat” lantaran dia riya’ gimana? Ini masalah control diri. Atau apa mas menyebutnya.


Kutip
maka dalam istilah sufi ada : man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu. orang disuruh memahaminya dirinya sendiri bahwa didalam dirinya juga terdapat kekuasaan allah. ayatnya : "wa fi anfusikum afalaa tubsiiruun"

Kutip
Jawab:
Maksud Anda apa???... Anda seharusnya dapat mengerti arti "Janji kawin". Jika bukan itu lalu apa???.
Sekarang begini bolehkah kita "menggantung" wanita untuk mengiming-imingkannya agar menikah dengannya???
Dzalim taahu nggak!!!!! Klo suka ya Nikahi,,,, itu baru Cinta... Bukannya di "ZINAHI"(Manfaati)

ini baca tafsir tabari dulu ya sebelum ngomong terlalu banyak :

وكأن قائل هذا القول، تأول الكلام: ولا جناح عليكم فيما عرضتم به من ذكر النساء عندهن. (2) وقد زعم صاحب هذا القول أنه قال:"لا تواعدوهن سرا"، لأنه لما قال:"ولا جناح عليكم"، كأنه قال: اذكروهن، ولكن لا تواعدوهن سرا.


Kutip
Jawab:
Apakah anda tahu zinah Pandangan???
Apakah anda tahu zinah Pendengaran???
Apakah Anda tahu Zinah Fikiran???
Apakah Anda tahu zinah Sentuhan???
Jika anda tahu maka pasti juga anda tahu bahwa ada zinah hati!!!!

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Apakah seseorang yang memikirkan seseorang yang bukan mahramnya yang ternyata di hatinya terbesit di dalam hatinya adalah syahwat, tidak berdosa???

sekarang jawab saya..syahwat untuk menikah berdosakah ? lalu ketika misalkan sekarang ada seorang dilamar ketika 12 tahun, kemudian si wanitamencintai laki-lakinya. nah dalam perjalanan masa dari 12 tahun ke 20 tahun si wanita sering memikirkan si laki-laki yang melamar..dosa atau tidak ?? zina hati itu maksudnya apa ? zina mata itu maksudnya apa ?

Jawab:
Ingat mas masalah pandangan itu adalah skala orang yang melihat, bukan kita dan bukan siapapun. Karena itu jika sedikit saja seseorang telah tergoda maka itulah skala “zinah”nya. Walaupun yang kecil itu tidak ada “berpengaruh” pada fikiran kita.

Melamar?? Sekali lagi, itu masalah pernikahan. Dan itu nggak apa-apa. Terkecuali
 
“…dan hati yang berhazrat dan berharap….” [/i]

Berharap untuk apa? Saya yakin bahwa anda tahu jawabannya.

Kutip
mata saya zina jika saya melihat sesuatu yang tidak pantas saya lihat. itu zina mata. zina kaki jika kaki saya melangkah ke tempat yang tidak seharusnya saya melangkah ke situ, ini zina kaki.

 dan sterusnya.kemudian kalau memikirkan laki-laki yang dicintai untuk menikh, unsur diharamkannya dari mana ??karena memikirkan laki-laki yang bukan mahram ? sehingga hati jadi tidak cinta pada allah ?

Jawab:
Sehingga lupa kepada Allah?. Makanya nikah biar ingat selalu ingat. Klo nggak mau cinta ya cobalah untuk tahu diri agar tidak jatuh cinta. Kok susah?

Klo menikah. Sekali lagi itu halal!!!



Kutip
Kemudian... syahwat ada berapa sih ?

Jawab:
Anda salah orang untuk mengajukan ini. Tanyakanlah kepada ahlinya.


Kutip
Jawab:
Saya tidak bermaksud klaim terhadap pendapat seseorang hanya saja saya binggung Apakah di islam mengajarkan pacaran. Klo tidak diajarkan rasulullah(ritualnya) berarti amalan itu ditolakkan?? dan apakah anda pernah mendengar hadist ini:

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5114), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8327), Ibnu Manshur dalam As-Sunan (2370). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)
mas mas..anda itu menyangku-nyangkutkan sesuatu hal yang tidak berhubungan sama sekali. mau mbahas bid'ah atau apa ?

masalah hadis itu, menyerupai apa maksudnya ?

Jawab:
Suatu kaum… apakah islam mengajarkan pacaran??? Bukankah Islam tidak mengajarkannya??? Dan pacaran itu sendiri dari “ajaran” lain bukan??? Klo kita iyakan apakah kita ”masih” beragama Islam???


Kutip
diskusinya ga nyambung mas sampean.

Jawab:
Saya juga bingung!!! maaf klo terlihat gak nyambung.


Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 10:45:37 pm
maaf mau nimbrung sedikit.

Asslamu’alaikum
wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh


sepertinya pembahasan ini akan melebar

Kutip dari: ZikrulQulub
Jawab:
Atas dasar pemahaman apa sehingga anda memberikannya????
ITU HAK ANDA,,,TETAPI,, INGAT SEMUA ADA PERTANGGUNG JAWABANNYA TERMASUK MEMBERIKAN NILAI MINUS/PLUS TERHADAP SESEORANG.
akhi,pemahaman orang itu berbeda-beda,antum tidak bisa memaksakannya....
pak arif memberikan plus kepada akhi fahmie mungkin beliau merasa akhi fahmie sudah jadi media menambah pengetahuan beliau....

sudahkah baca signatureku? ;)

sudah yakinkah apa yang menurut antum benar saat ini adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak ada kebenaran lain yang kadar kebenarannya lebih benar dari apa yang antum yakini?

"Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku" al-kafirun[109] : 6

menurut pemahamanku,
ayat tersebut bukan hanya untuk kafirun,tapi juga merupakan ayat agar kita bisa memahami keyakinan orang lain,meskipun seiman.

CMIIW bagi yang lebih faham tentang tafsir :)

Jawab:

"Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku" al-kafirun[109] : 6
Ingat!!!. Reputasi itu dilihat oleh orang banyak!!! bukan buat "sendiri".

Trus karena adanya HAK itu lalu boleh secara seenaknya menghukum sesuatu. Ingat!!! saya tidak mengkritik orang yang tidak sepaham dengan pendapat saya. Hanya saja saya "JIJIK" sama orang yang salah menggunakan WEWENANGNYA!!!.
SOK IDEAL!!!. SOK KRITIS!!!

 Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Al Maidah:8)

NB:
Mendingan bikin forum baru aja deh
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 04, 2008, 10:48:35 pm
Kutip
sudah yakinkah apa yang menurut antum benar saat ini adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak ada kebenaran lain yang kadar kebenarannya lebih benar dari apa yang antum yakini?

Jawab:
Saya belajar untuk mencari kebenaran,, dan bukan artinya membenarkan apa yang salah.
Mutlak?? Itu Milik Allah. Dan bukan karena itu saya zolim atas pemikiran saya terhadap orang lain. Itu perspektif.

[2:147] Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada April 04, 2008, 10:55:08 pm
Jawab:

"Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku" al-kafirun[109] : 6
Ingat!!!. Reputasi itu dilihat oleh orang banyak!!! bukan buat "sendiri".
Trus karena itu boleh secara seenaknya mengiyakan sesuatu. Ingat saya tidak mengkritik orang yang tidak sepaham kepada saya. Hanya saya sangat JIJIK sama orang yang salah menggunakan WEWENANGNYA!!!.
itu yang mana akhi?

ada  yang salah dengan reputasi? :-??

ayolah 'agak dewasa' dikit ;)

kita fokus dengan diskusinya,bukan dengan reputasinya :)

tenangkan dulu pikiran,jangan gegabah...

afwan OOTnya terlalu banyak :)

sok dilanjutkan ;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 05, 2008, 12:39:28 am
tapi model-model hukum mu'allal seperti ini kondisional sifatnya. oleh karena itu salah satu syarat seorang mufti, harus tahu kondisi dan hal yang sedang menimpa mustafti ( orang yang diberi fatwa ). karena begini...mufti yang berfatwa bahwa pacaran haram, tanpa melihat kondisi mustafti ( yang diberi fatwa ), padahal misalkan, orang tadi karena pacaran jadi hidupnya semangat, belajarnya semangat dll,maka si mufti tadi sudah salah besar. dan harus segera taraju' ( mencabut fatwanya ). maka itu saya bilang kondisional...tergantung siapa yang tanya...tapi kalau saya yang tanya hukumnya pacaran apa, tentu oleh seorang mufti akan dijawab haram..karena iman saya masih tipis.

saya kira kalau anda dewasa dikit bisa memahami perkataan saya diatas.

anda tetap keras kepala dg pendapat anda, tapi menyanggahnya tidak nyambungsama sekali.

sama saja ketika saya mengatakan : jama' sholat itu rukhsah ketika dalam perjalanan yang masafahnya ( jaraknya lebih dari 81 KM) . kemudian anda bantah...hey!!! mana bisa rukhsah. itu sholat. dan sholat harus komplit rakaatnya. sebuah jawaban yangmenandakan bahwa anda tidak tahu ada jama' sholat dibolehkan, ketika saya sebutkan dalil-dalilnya anda masih tetap ngotot.

mas...terserah sampeanmau bilang saya bodoh, atau ga tahu buku ghaddulbashar atau apalah, yang jelas, anda itu adalah orang yang ga tahu, tapi keras kepala.

Tulisan disini bukan hanya kita yang melihat, dilihat oleh orang banyak...biarkan mereka yang menilai. siapa yang misscomunication. gt aja..

tulisan-tulisan anda itu bukanlah bantahans secara syar'i. sehingga tidak perlu saya meladeni. tapi lebih tepat saya katakan bantahan yang penuh dg emosional.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 05, 2008, 12:42:58 am
Kutip
1. Ada ulama yang mengatakan batasan ghaddul bashar itu adalah pada pandangan kedua. ini jika pandangan yang pertama tidak disengaja. sehingga ketika melihat dg pandangan yang kedua, itu sudah berdosa.

2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

3. pendapat yang mengatakan bolehnya melihat perempuan non muhrim dg mutlak, tapi jika tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ). artinya, sepanjang memandangnya itu untuk mu'amalah misalkan, atau keperluan apapun, dan itu tidak tasyaddud, maka itu boleh-boleh saja.

Nah inilah gambaran khilaf mengenai ghaddulbashar. jadi itu bukan sesuatu yang mutlak batasannya yaitu tidak boleh sama sekali melihat perempuan. tapi ini makhallul khilaf. saya harap mas zikirulqulub bisa lebih bijak dalam melihat persoalan.

pahami ini dulu bung...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 05, 2008, 01:09:48 am
Kutip
1. Ada ulama yang mengatakan batasan ghaddul bashar itu adalah pada pandangan kedua. ini jika pandangan yang pertama tidak disengaja. sehingga ketika melihat dg pandangan yang kedua, itu sudah berdosa.

2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

3. pendapat yang mengatakan bolehnya melihat perempuan non muhrim dg mutlak, tapi jika tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ). artinya, sepanjang memandangnya itu untuk mu'amalah misalkan, atau keperluan apapun, dan itu tidak tasyaddud, maka itu boleh-boleh saja.

Nah inilah gambaran khilaf mengenai ghaddulbashar. jadi itu bukan sesuatu yang mutlak batasannya yaitu tidak boleh sama sekali melihat perempuan. tapi ini makhallul khilaf. saya harap mas zikirulqulub bisa lebih bijak dalam melihat persoalan.

pahami ini dulu bung...

Jawab:
Saya tahu maksud anda.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 05, 2008, 01:58:26 am
hm... sebelum lanjut lagi.. ada baiknya menyamakan definisi pacaran...
diskusi yang sehat adalah diskusi yang sama-sama menggunakan definisi yang sama tentang sebuah permasalahan. dan definisi itu harus sudah diakui kebakuannya.

setahu saya pacaran adalah bahasa indonesia, maka definisinya harus berasal dari ahli yang berbahasa indonesia. adakah yang tidak setuju?
setahu saya pacaran merupakan gejala sosial, maka perlu melihat definisi dari ahli sosial. adakah yang tidak setuju?
setahu saya sumber yang memenuhi kedua syarat tersebut adalah KBBI yang merupakan patokan dasar dan sudah umum diterima oleh masyarakat indonesia dalam membahas sebuah permasalahan.

tapi semua kembali ke anggota diskusi, mau menggunakn definisi dari siapa? yang jelas definisi nya harus jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. saya mengangkat masalah ini, sebab hal ini sering dilupakan dalam diskusi-diskusi di forum maya. atau forum-forum non ilmiah.

jadi agar diskusi ini bermanfaat dan tidak menjadi debat kusir sebaiknya samakan persepsi tentang apa itu pacaran, kalo tahap itu saja tidak bisa tercapai, maka tidak ada gunanya lagi mendiskusikannya.

seandainya setiap orang berhak mengeluarkan definisinya sendiri untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, maka akan terjadi kekacauan dalam pembahasan sebuah permasalahan.


NB: jangan samakan arti pacar dalam pacaran dengan pacar dalam pohon pacar cina. itu adalah sebuah kebodohan, dan penyesatan berpikir. saya menulis hal ini bukan bermaksud merendahan orang yang pernah melakukannya. saya hanya berusaha meluruskan pemahaman sekaligus mengonfirmasi kebenaran pemikiran saya


@kang zikrulqulub
hm....

saya juga punya kisah nyata
ada teman saya (laki-laki) yang sholat kalo lagi mau. tidak pernah ngaji. dan ga suka denger kajian. kemudian dia tertarik sama seorang wanita. wanita ini berkerudung tapi ga berjilbab. kata temennya dia (wanita) rajin sholat (saya deket sama teman sekostannya karena satu organisasi), dan sangat suka mendengar kajian. singkat cerita keduanya jadian (menjadi pacar). yang laki-laki jadi selalu sholat lima waktu walau kadang telat. suka mendengar kajian-kajian. gaya bahasa pun berubah.
hebatnya, mereka ga pernah berkhalwat, ga pernah berpegangan tangan. interaksi pun tidak intens baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

sekarang mereka sudah putus, saya ga tau alasannya. tapi dari segi keagamaan keduanya semakin baik, malah yang wanita sekarang berkerudung dan berjilbab.

ini kisah nyata, kisah salah seorang temen saya yang pernah kost ditempat yang sama meski ga sekamar.

ada tanggapan?


menurut saya kedua efek yang dimunculkan dari kedua kisah di atas  (kisah tean kang zikirulqulub dan kisah teman saya) tidak bisa dijadikan dasar pikiran pelarangan atau pembolehan pacaran, tapi bisa dijadikan info tambahan aja.


Jawab:
Apakah Anda menjamin bahwa kedua teman anda itu tidak sedang diintai Syaitan?
Apa alasan anda tidak?
Apakah anda tahu jika syaitan itu sangat licik?
Atau anda melupakannya?
Hati-hati!! semakin tinggi tiang maka semakin kencang anginnya pula.
saya tahu pasti teman saya sedang diintai oleh syetan, karena syetan selalu bersama manusia.

saya mengemukakan kisah tersebut karena akang mengemukakan sebuah kisah yang intinya menurut saya:
teman anda menghilangkan kebiasaan baiknya menyimpan sampah pada tempatnya karena pacaran (entah setelah putus atau ketika pacaran)

oleh karena itulah saya memunculkan kisah yang menunjukkan kalo ada juga orang yang berpacaran menjadi lebih islami karena pacaran
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 05, 2008, 02:15:45 am
Kutip
Jawab:
Mengapa ulama tidak mencantumkan “pandangan liar” di dalamnya???. Padahal pandangan adalah anak panah syaitan.
Dan dari pandangan itulah asal mula zinah itu sendiri.
Mungkin “ulama” itu belum baca buku Ghudhul bashor kali yaa???
sudah saya jawab dg ini :

Kutip
kemudian kita tahu bersama adanya larangan khalwat, larangan bersentuhan dg non muhrim,begitu juga larangan ciuman ( bagi yang belum nikah ), istimta' ( muqaddimah sebelum dukhul ), nah..ini semua oleh ulama dikatakan muqaddimatuzzina atau awal mula zina( bagi orang-orang yang belum nikah ).
Kutip
Maka, yang dimaksud oleh ayat "la taqrabuzzina" sebagai hal-hal yang mendekati zina adalah muqaddimatuzzina.

Kutip
Jawab:
Saya memperkuat pernyataan TS hanya untuk “istilah pacaran” apakah anda tahu tentang suatu hal yang lebih berbahaya lagi?? Apakah anda lupa dengan HTS atau hubungan tanpa status yang “sering” di alami ikhwan-akhwat??? Sehingga diantara mereka ada yang merasa tergantung??? Dan apakah anda lupa juga dengan TTM atau Teman tapi mesra??? Yang lebih tidak jelas lagi “riwayatnya”.
Yang dimaksud pacaran disini bukan hanya pegangan tangan aja tetapi keterikatan hati kepada orang yang bukan mahramnya “lewat” suatu media yang “khusus”. Artinya bukan pacaran menurut bahasa dan istilah.
Dan dari keterikatan hati itu akan timbul zinah hati,, yang jelas-jelas sudah berzinah dibanding dengan mendekati zinah itu sendiri.
Saya minta agar tidak mengistilahkan pacaran dengan referensi yang telah terdefinisi oleh sebaigian orang saja. Karena definisi pacaran itu sungguh luas!!! Ini adalah masalah perspektif seseorang terhadap apa yang dia lihat.

sudah saya jawab dg ini :

Kutip
Maka secara tidak langsung, mendalili haramnya pacaran dg ayat tadi madlulnya tidak tepat. karena pacaran masih terlalu umum untuk dikatakan muqaddimatuzzina. artinya terlalu umum, muqadimatuzzina adalah bagian dari pacaran. bukan hakikat pacarannya sendiri.

saya tidak mengingkari pacaran itu umum sekali..karena keumuman itu, maka untuk mengatakan bahwa pacaran haram, perlu pembahasan yang sangat tafshil sekali. karena itu, saya tidak menyebutkan definisi pacaran.

@mas dajal, saya kira definisi kami sama. jadi sudah tidak perlu lagi menyamakan definisi. karena sama-sama melihat pacaran itumasih terlalu umum. cuma bedanya..saya melihat karenakeumuman pacaran menjadi tafshil dalam menghukuminya, sedangkanmas zikirulqulub, karenakeumuman tadimenjadi hara. saya kira ini yang saya tangkap dari penjelasan mas zikirulqulub diatas.


Kutip
Kalau dilihat dan di-convert keistilah yang anda maksud pasti tidak nyambung,, karena berbeda.

1.   pacaran yang tidak dibarengi muqaddimatuzzina
2.   pacaran yang dibarengi muqaddimatuzzina. yang kedua inilah yang haram.
Jawab:
Ok. Tetapi aneh mengapa yang nomor satu tidak dibilang haram???. Apakah anda tahu bahwa sekarang memang hal itu tidak “terjadi” kepada orang yang berpacaran di nomor 1. Tetapi apakah anda lupa bahwa setan itu membisikkan kedalam hati manusia agar nantinya manusia itu terjerumus?? Apakah anda lupa bahwa syaitan itu diam saja???

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-‘Araaf: 27)
sudah saya jawab dg iNi :

Kutip
Oleh karena itu saya katakan, yang namanya pacaran adalah haram ( jika dibarengi muqadimatuzzina ), tapi haramnya lighairihi. bukan lidzatihi. ( sepertinya saya sudah pernah menulis tentang pembagian haram ini ).Haram lighairihi yang hukum asalnya mubah ( halal ).
Kutip
Jawab:
Tampaknya…. Ada miscommunication yaa???. Saya tidak menspecialisasikan “pacaran” itu sendiri dengan keterikatahn. Tetapi juga khalwat.

Kenapa saya menulis kata “pacaran”. Masalah “pacaran” itu makananya luas. Klo saya bilang hanya satu definisi saja nanti makin lebih sulit lagi bagi saya untuk menjelaskan yang lainnya. Iya khan??

Kutip
Jawab:
Itu tentang adab FIKIH dan bukan karena itu anda “berhak” untuk MEMFIKIHKAN hal yang tidak “berhak” untuk DIFIKIHKAN… seperti “fatwa” anda.

maksudnya.....?? sungguh..suatu kebodohan yang dibarengi dg kekerasan kepala..jujur...sekian tahun saya suka diskusi, baru menemukan lawan yang keraskepala seperti sampean mas.

Kutip
Jawab:
Ehh…eh… anda salah mengerti ya?
Sama sekali? Masud anda apa? Saya lebih pro ke nomor 3 tuh. Jadi seandainya saya melihat patung yang seksi, jadi tidak haram begitu? Trus nonton kartun “sexy” di tv atau di game tidak dosa begitu? lantaran mereka bukan "perempuan" beneran. Trus gak dosa pula jika saya harus melihat banci yang "seksi"?. Please dehhhh
pelajari dulu tentang qiyas bung....saya rasa postingan diatas sudah cukup menjawqab ini seandainya anda tidak keras kepala.

Kutip
Anda salah duga!!!
Maaf saya tidak sok suci!!!. Tetapi, saya merasa tidak nyaman karena pandangan saya liar. Terkecuali tidak sengaja.

sudah saya jawab dengan ikhtilaf ulama mengenai ghaddulbashar.


Kutip
Jawab:
Mengapa Rasul melampirkan kata ZINAH di setiap anggota tubuh?
itu hanya majaz bung..majaz itu bukan haqiqi. kalau anda tetep ngotot, saya mohon untuk belajar dulu yang rajin tentang makna majaz. dan sepertinya dari zaman nabi sampai sekarang, dari sekian ribu ulama, cuma anda yang cenderung mengatakan maknamajazi dg haqiqi

Kutip
Jawab:
Mas ini bukan masalah tentang zinah tetapi masalah hukum.
ampuuun.....saya bener2 stress diskusi ma anda. ga nyambung tapikeras kepala.

Kutip
Jawab:
Ingat pacaran yang saya maksud bukan hubungan dengan status saja tetapi juga hubungan tanpa status. OK. Anda terlalu… kepada saya kyaknya ya???
sudah saya jawab diatas mas mengenai keumuman pacaran sehingga tidak sah mendalili pacaran dg ayat " la taqrabuzzina "


Kutip
Jawab:
Ya sudah… berarti saya tidak berzinah jika saya melihat atau memegang orang yang bukan mahram? Kan saya tidak bersetubuh. Klo begitu islam memperbolehkannya ya?
Lalu apa gunanya Surat Al’Isra’ 32? Katanya larangan menjauhi zinah?

ya tentu tidak...orang 'idady pun tahu bahwa peletakan kata zina pada zina mata dll itu hanya majaz....
 
Kutip
Jawab:
Sampai seseorang terlena karenanya . Dan skala terlena itu tergantung pada orang yang memikirkannya.

ini juga masalah saddudzari'ah...sudah saya jawab diatas...ampuuuuun deh...bener keras kepala.


Kutip
Jawab:
Ini beda? Pernikahan adalah ibadah. Dan karenanya seorang wanitapun dihalalkan untuk mengatakan kepada seorang pria yang diidamkannya ketika ingin menikah(bukan karena tidak ingin menikah). Tetapi sebatas ingin dan tidak terlena karena fikirannya itu. Sehingga perbuatan2x yang nantinya akan di lakukan akan tidak sia-sia.

mas mas...bab nikah dipelajari dulu lah...

sampean jangan keras kepala dulu lah. biar kita enak diskusinya. itu saran saya.



Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 05, 2008, 02:51:40 am
@kang fahmie
kalo memang merasa sudah sama, silakan tuliskan definisinya di sini, sebab saya belum tau apa definisi pacaran yang kang fahmie gunakan sebagai dasar diskusi. jangan lupa definisi tersebut berasal dari siapa dan ada di mana.

sebagai contoh, definisi pacaran yang saya jadikan pegangan hingga saat ini adalah
Kutip
“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807),
Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar].
Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.”
kencanberjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.(lihat halaman 542)
silakan cek kebenarannya (kebenaran dari isi tulisan definisi di atas)


jika ingin membicarakan sesuatu kita harus tau apa yang kita bicarakan, dan itu gunanya definisi. teh layla menyatakan kalo pacaran itu istilah yang kehilangan definisi, jika memang begitu maka sebuah keanehan jika muncul fatwa tentang pacaran, karena definisi nya sendiri tidak ada, dan lebih aneh lagi jka ada yang mengikuti fatwanya, karena bisa saja yang dimaksud pacaran oleh sang pemberi fatwa berbeda dengan definisi pacaran oleh yang menerima fatwa.

bagi seorang pelajar definisi sebuah istilah adalah sesuatu yang sangat penting, karena tanpa adanya definisi yang valid, sebuah penelitian tidak akan dapat diterima kevalidannya.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 05, 2008, 07:05:28 am
 
Kutip
Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar].
Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.”

sebenrnya kalau mau kritis...definisi inipun tidak valid. ini hanya mencakup dengan lawan jenis. bukan sejenis. berarti definisi ini dalam mantiq tidak jami'. sedangkan syarat definisi haruslah jami'  dan mani'. maka bathil dari sudut pandang mantiq.

saya katakan tidak jami', karena selama ini di indonesia banyak yang menganggap sesama jenisnya adalah pacar. misalkn homo atau lesbi, mereka menyebut pasangan yang dicintainya dengan pacar. kalau sampean mendefinisikan pacaran dg kata diatas, maka sampean secara otomatis menafikan pasangan homo disebut pacar. dan kalau sampean menafikan, berarti sampean tidak mau melihat realita yang ada. maka dari sini muncul komplain tentunya dari sampean :

Ya tentunya pacaran itu dg lawan jenis, dan itulah yang dipahami pada umumnya, serta itu juga yang sedang dibahas disini. bukan pacaran homo.

Nah...justru dg definisi sampean itulah yang membuka kesempatan untuk homo disebut pacaran.coba sampean ga mengajukan definisi itu, tentunya hati masing-masing yang akan menjawab, oh pacaran "itu". dan mafhumnya sudah sepakat.

Juga di negara arab umumnya...mengatakan sesama jenisnya pun dg kekasih. "ya maulaana" misalkan : hei kekasihku. ya habiibii dan sejenisnya. juga definisi dari sampean lah yang membuka mafhum ini.

seta juga tidak mani'...orang yang berkasih-ksihan, jika melihat definisi sampean, maka ibu dan anak yang saling mengasihi itu pacaran. padahal mafhum kita, antara anak laki-laki dan ibunya tidak bisa dikatakan pacaran. sedangkan definisi diatas mengatakan :Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.

dari sini diketahu mas...bahwa sebelum mendefinisikan pacaran , sampean konsekwensinya harus mendefiniskan dulu apa itu kekasih, apa itu kasih, dan apa itu cinta. maka saya katakan definisi sampean tidak valid.

oleh karena itu mas...kalau sampean baca kitab-kitab ushul dan mantiq khususnya, mereka-mereka yang membahas ta'rif  hampir menghabiskan beratus-ratus halaman pertama. dari muhtarazat, kulliyatnya, penggabungan dua kulliyatnya dll...bagi yang sudah pernah belajar mantiq pastinya paham maksud saya.

ketika satu definisi bawahnya ga valid, maka seterusnyapun ga valid. dalam mendefinisikan pacar sudah ga valid, maka berpacaran dan memacari secara otomatis tidak valid.

contoh tidak validnya..ketika ada seorang mufti bilang, pacaran haram yang menurut devinisi dari kamus bahasa indonesia ( definisi yang sampean bwakan ). maka secara otomatis, definisi hubungan  anak ( laki-laki ) dan ibunya masuk pacaran. sehingga hubungannyapun jadi haram. padahal ini bukan mafhum kita.

Justru akan lebih maslahat kalau mufti tidak mendefenisikan hal yang sulit didefinisikan, tapi hati semua sepakat dg maksudnya.

beda persoalan kalau hal mendefinisikannya sulit, serta maksud dari hati masing-masing sudah beda memahaminya. artinya tidak ada kesepakatan. inilah yang wajib didefinisikan untuk mengetahui hukumnya.

Kutip
jika ingin membicarakan sesuatu kita harus tau apa yang kita bicarakan, dan itu gunanya definisi. teh layla menyatakan kalo pacaran itu istilah yang kehilangan definisi, jika memang begitu maka sebuah keanehan jika muncul fatwa tentang pacaran, karena definisi nya sendiri tidak ada, dan lebih aneh lagi jka ada yang mengikuti fatwanya, karena bisa saja yang dimaksud pacaran oleh sang pemberi fatwa berbeda dengan definisi pacaran oleh yang menerima fatwa


untuk yang saya bold pertama...tidak harus. karena kalau mengajukan definisi, ( kalau memang mau pake adab diskusi yang baik dan terarah ), maka harus dikritisi definisi yang valid dan tidak. maka itu akan sangat membuang-buang waktu...cukuplah al-ma'na almustahdlir fidzihni ghaliiban.sedangkan kita dari awal bukan membahas tentang apa itu sih pacaran, tapi hukum pacaran. dan satu point lagi yang saya kira penting mas...idza utliqa ( jika diucapkan kata) pacaran, maka dalam hati sudah terbesit maknanya...oh itu....( khususnya bagi orang indonesia ), yang maksud "oh itu" nya sama dalam hati masing-masing. saya yakin seyakin yakinnya..pacaran dalam hati saya itu sama dg definisi sampean, dan definisi sampean juga sama dg yang lain disini.

Cinta...adalah.....( sangat sulit diucapkan )...tapi semuanya sudah mafhum bahwa cinta...Oh itu....dan mafhum juga bahwa cintanya ibu pada anak berbeda dg cintanya suami pada istri dan sterusnya....inilah yang saya maksud al-ma'na almustahdir fidzihni.

misalkan..fahmi dan x pacaran....maka ga mungkin orang menilai bahwa fahmi dan x itu kakak beradik, ga mungkin juga orang mengira fahmi dan x itu ibu dan anak. Justru kalau memakai definisi yang sampean pakai, memungkinkan fahmi dan x itu ibu dan anak.

seperti contoh zina, zina secara syar'i adalah masuknya alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan tanpa aqad yang sah. sedangkan zina yang dimaksud oleh zikirulqulub itu mencakup semuanya..ada zina mata, kaki, dll. maka definisi tadi sudah menyalahi definisi yang aghlabiah tentang zina. aghalabiah itu definisi tentang zina yang dipakai pada umunya.

Untuk yang saya bold kedua, tidak jarang seorang mufti mengatakan panjang lebar fatwa tentang nikah. tanpa mengatakan makna nikah yang dimaksud itu yang mana...padahal makna nikah ada 2 :

1. jima'
2. aqad
 
tapi secara otomatis hati sudah menangkap..Oh..makna yang dimaksud aqad.

kalau mau membahas ta'rif ( definisi ) pacaran, saya jamin...5 halaman ini akan habis untuk membahas itu. minimal bagi saya. dan silahkan dibuktikan kalau tidak percaya. karena pacaran masih amat sangat luas, sedangkan hati semuanya bersepakat maknanya " itu ".

Dalam ilmu ta'rif mantiq, ta'rif itu bisa valid jika memenuhi syarat-syarat tertentu. salah satunya ya itu tadi, harus jami' mani'. dan saya kira, untuk membahas jami' mani'nya sudah mengahbiskan banyak energi, apalagi syarat2 yang lain.

itu beda kalau sesuatu yang didefinisikan gampang-gampang saja..tidak membuang waktu. karena  membahas definisinya sebentar.

maka saya anggap itu bukanlah suatu keharusan. dan hanya malah buang-buang waktu, jika memang yang ditanyakan hukum pacaran. berbeda kalau yang jadi persoalan, apa sih definisi pacaran. itu baru perlu dibahas.

maka, saya tidak menyebut definisi pacaran karena :

1. makna pacaran, hati masing-masing sudah sepakat untuk itu. maka saya bilang, alma'na almustahdlir fidzihni.

2. ( walaupun tidak saya pungkiri ) bahwa untuk mengetahui hukum sesuatu harus tahu sesuatu itu dulu apa, tapi hal ini sudah terbantahkan dg kesepakatan hati masing-masing mengenai sepakatnya maksud pacaran.

3. untuk membahas definisi dan hukum pacaran sama-sama panjangnya. sehingga kalau mau membahas definisi pacaran, maka bersiaplah untuk OOT.

Syukran jaziilan sesudahnya.

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 05, 2008, 07:52:28 am
ya... saya sudah tau permasalahan dari definisi pacaran yang saya pegang, namun itulah satu-satunya definisi ilmiah tentang pacaran yang saya tau.

definisi lain belum layak dimasukkan ke dalam status ilmiah, karena tidak berasal dari ahlinya.

karena sekali lagi, setau saya, perlu sebuah definisi ilmiah yang disepakati bersama batasan-batasannya dalam suatu diskusi., karena jika tidak maka bisa jadi diskusi akan menjadi sebuah debat kusir yang tidak bermanfaat.

misalnya saja tentang zina yang dalam bahasan ini (kang zikrulqulub menyebutnya zinah, padahal setahu saya artinya sudah berbeda dengan zina)

atau kasus lain, apa definisi jilbab yang akang pegang? jika akang menganggap jilbab adalah pakaian wanita yang menutupi leher hingga seluruh tubuh, maka ketika akang berdiskusi di sini tanpa menyebutkan apa definisi jilbab yang sedang akang kemukakan, kemungkinan ga akan nyambung.

pembahasan tentang definisi pacaran di thread ini menurut saya tidak termasuk OOT, kecuali kalo moderator forum beranggapan lain. meskipun penjelasan tentang pacaran akan menghabiskan berlembar-lembar halaman, tetapi pasti akan ada suatu kesimpulan yang isinya ga akan lebih dari satu halaman, dah itulah definisi pacaran.

definisi cinta sudah banyak, dan sebagian besar sudah termasuk ilmiah. meskipun definisi nya berbeda-beda. salah satunya

penjelasan sebuah definisi sangat penting, itulah mengapa dalam sebuah penelitian, ada bab khusus yang membahas tentang definisi dari apa yang mau dibahas. dalam skripsi misalnya, ada bab Tinjauan Pustaka yang isinya adalah beragam pendapat para ahli terhadap apa yang sedang dibahas.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: layla azzahra pada April 05, 2008, 01:00:04 pm
@kang dajal

Saya mengatakan pacaran adalah sebuah istilah yang sudah kehilangan definisi berarti istilah tersebut pernah memiliki definisi namun kini kini definisi tersebut menjadi bias bahkan hilang (dalam pandangan saya) karena banyaknya pihak yang juga "mengeluarkan" definisi berdasarkan asumsi dan pemahamannya (tentunya mereka berasumsi atas dasar pemahaman yang didapat dari sumber yang mereka pegang terlepas itu ilmiah atau tidak).
Jadi karena banyaknya definisi yang bermunculan akhirnya kata pacaran itu meski terdefinisi namun sudah kehilangan maknanya.
Saya menganalogikannya sama dengan istilah ikhwan-akhwat-jilbab.
Bagi saya kata2 diatas adalah beberapa istilah yang kehilangan definisi dalam hal pemaknaan.
 :-??

Akhirnya ya begitu... Jadi ngalor-ngidul....
Saya sedang menunggu kesimpulan dari para "ahli" yang sedang berdiskusi saja.   
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 05, 2008, 01:08:09 pm
Kutip
Tapi saya coba semampu saya memberikan gambaran mengenai hukum pacaran.

Ibnu katsir dalam tafsirnya mengatakan :

{ وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا (32) } .
يقول تعالى ناهيًا عباده عن الزنا وعن مقاربته، وهو مخالطة أسبابه (6) ودواعيه { وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً } أي: ذنبًا عظيمًا { وَسَاءَ سَبِيلا } أي: وبئس طريقًا ومسلكًا.

bahwa allah melarang zina dan hal-hal yang bisa mendekatkan pada zina.

kemudian kita tahu bersama adanya larangan khalwat, larangan bersentuhan dg non muhrim,begitu juga larangan ciuman ( bagi yang belum nikah ), istimta' ( muqaddimah sebelum dukhul ), nah..ini semua oleh ulama dikatakan muqaddimatuzzina atau awal mula zina( bagi orang-orang yang belum nikah ).

Jawab:
Mengapa ulama tidak mencantumkan “pandangan liar” di dalamnya???. Padahal pandangan adalah anak panah syaitan.
Dan dari pandangan itulah asal mula zinah itu sendiri.
Mungkin “ulama” itu belum baca buku Ghudhul bashor kali yaa???
atau mungkin anda yang baru baca buku Ghadhul bashor tapi belum baca buku2 fiqh/tafsir lainnya  ;))

OK…ok…ok. Itu terserah anda, saya ikuti kemauan anda yang mengeksklusifkan diri anda dengan “pertanggung jawaban” atas segala “milik” orang lain. Ooh… saya harus menghargai ini… masalahnya ini adalah kemauan Anda!. Ok saya hapus cerita itu… demi ke-eksklusifan anda terhadap pendapat saya. Tetapi saya yakin saya tidak berbohong.
Tetapi yang saya sayangkan kenapa sih harus ekslusif???
apa sih maksudnya ekslusif?  :-/
anda mungkin memang tidak berbohong, tapi menyampaikan hal yang
saya tidak bisa pastikan dari mana dan dipertanggung jawabkan...
dan bersikeras tidak merasa bersalah.. hmm.. anda seharusnya bercermin diri sebelum berkata
Bisakah anda pertanggung jawabkan ini???. Atas dasar pemahaman apa sehingga anda memberikannya????
ITU HAK ANDA,,,TETAPI,, INGAT SEMUA ADA PERTANGGUNG JAWABANNYA TERMASUK MEMBERIKAN NILAI MINUS/PLUS TERHADAP SESEORANG.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. AlIsra: 27


selanjutnya menanggapi masalah reputasi yang saya berikan..
"Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku" al-kafirun[109] : 6
Ingat!!!. Reputasi itu dilihat oleh orang banyak!!! bukan buat "sendiri".
saya dengan sadar menulis reputasi tsb sebagai apresiasi kepada mas fahmie karena bisa menjelaskan sesuatu yang saya belum jelas tentangnya.. ada masalah dengan hal itu?
anda ini aneh sekali, semua hal dipermasalahkan dengan bawa2 ayat Al-Quran, tapi ga relevan dengan persoalan yang sedang dibahas.. mungkin anda perlu lebih banyak lagi belajar tentang ilmu tafsir dan fiqh sebelum "mengumbar" ayat-ayat Al-Quran.

Trus karena adanya HAK itu lalu boleh secara seenaknya menghukum sesuatu. Ingat!!! saya tidak mengkritik orang yang tidak sepaham dengan pendapat saya. Hanya saja saya "JIJIK" sama orang yang salah menggunakan WEWENANGNYA!!!.
SOK IDEAL!!!. SOK KRITIS!!!
tidak mengkritik tapi mengatakan "JIJIK", SOK IDEAL dan SOK KRITIS dengan tanda seru jejer 3..
saya rasa anda punya masalah koordinasi antara otak dan ucapan anda
dan mungkin ga berlebihan kalo dikatakan
anda itu adalah orang yang ga tahu, tapi keras kepala.

mohon maaf, saya merasa perlu menanggapi masalah ini
sebelum melanjutkan diskusi tentang pacaran
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: brewoxs pada April 05, 2008, 01:33:12 pm

saya cermati dua hadits tersebut bukanlah larangan pacaran. dalam islam apakah ada secara definitif mengenai pacaran? nah, dalam al qur'anpun kata/kalimat yang berhubungan pun berlafadzkan ta'aruf, taqorrub,tahabbub ... kawin bo!
kesemuannya memiliki penafsiran yang beragam pula. pacaran hanya sebuah istilah saja, sama halnya 'uang', itu istilah untuk alat pembayaran. maka, banyak orang yang menyimpulkan, ni lho pacar saya -sedang pacaran-, mereka sedang pacaran, dia pacarnya a. lontaran2 itulah yang kemudian muncul. sebenarnya kita sendiri yang memunculkan klaim/citra pacaran itu sendiri.
masalah perilaku asusila (zina/ngesex) yang sering muncul di kalangan anak muda itu masalah moral yang kembali pada si individu. nah itu boleh juga disebut pacaran juga tidak. tergantung citra/image yang dibangun di masyarakat perihal pacaran, palagi dalam islam.
masalah moral/etika ato akhlak (islam) jelasnya memberikan warna dan arahan pada perilaku setiap pemeluknya.
semisal masih terjadi perilaku menyimpang dalam hubungan/pertemanan lk vs pr tu suatu hal yang wajar terjadi. karena tuhan memberikan porsi yang berbeda-beda kepada makluk ciptaannya, tentang ibadah mahdoh dan ghoiru mahdoh.
skrg pacaran menurut penafsiran saya; pembelajaran untuk saling memahami satu sama lainnya. memahami yang bagaimana? anda berhubungan dengan orang lain (lawan jenis anda) secara tidak langsung anda akan belajar memahami lawan jenis anda, begitu pula memahami diri anda sendiri. inilah hidup.
spt 'tuhan dalam hatiku melihat tuhan dalam hatimu'. konsep pemahaman yang mendalam, paham seseorang tidak hanya melalui kulit luarnya doang,..
saya juga punya konsep pacaran, selain 4 step di atas dalam the noble of theory, pernah tahu belum,...? PR ja
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 05, 2008, 03:01:48 pm
Kutip
karena sekali lagi, setau saya, perlu sebuah definisi ilmiah yang disepakati bersama batasan-batasannya dalam suatu diskusi., karena jika tidak maka bisa jadi diskusi akan menjadi sebuah debat kusir yang tidak bermanfaat.

iya..betul sekali kang dajal...tapi khan sudah saya katakan seperti diatas, bahwa hati kita sudah sepakat apa itu pacaran. terkecuali pemahaman yang keluar dari aghlabiah. atau pemahaman tersendiri mengenai pacaran.

Ohya..diskusi ini bukanlah makalah yang harus runtut dari pertama, ada muqaddimah, definisi dll..ini hanyalah buang-buang waktu, jika memang yang ditanya hukum pacaran.

kalau begitu..ketika dithread iqh ada permalasahan mengenai sholat, kemudian terjadi debat panjang, maka itu bukanlah karena definisi. karena maksud hati sudah sepakat apa itu sholat.

padahal kalau anda baca fiqh, definisi sholat itu sangat banyak sekali.

kemudian masalah definisi cinta...menurut saya juga banyak yang tidak valid. saya sudah baca threadnya.

Kutip
itulah mengapa dalam sebuah penelitian, ada bab khusus yang membahas tentang definisi dari apa yang mau dibahas. dalam skripsi misalnya, ada bab Tinjauan Pustaka yang isinya adalah beragam pendapat para ahli terhadap apa yang sedang dibahas.

baiklah kang..kalau sampean tetap beranggapan bahwa harus menyebutkan definisi dulu...cobalah sampean cari definisi yang lain..karena menurut saya itu tidak valid. atau sampean tetap pada definisi diatas ?

saya coba cari-cari referensi mengenai definisi yang pas...

Ok...rapatkan barisan cari definisi yang pas! ;;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 05, 2008, 05:30:21 pm
Kutip
Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar].
Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.”

sebenrnya kalau mau kritis...definisi inipun tidak valid. ini hanya mencakup dengan lawan jenis. bukan sejenis. berarti definisi ini dalam mantiq tidak jami'. sedangkan syarat definisi haruslah jami'  dan mani'. maka bathil dari sudut pandang mantiq.

saya katakan tidak jami', karena selama ini di indonesia banyak yang menganggap sesama jenisnya adalah pacar. misalkn homo atau lesbi, mereka menyebut pasangan yang dicintainya dengan pacar. kalau sampean mendefinisikan pacaran dg kata diatas, maka sampean secara otomatis menafikan pasangan homo disebut pacar. dan kalau sampean menafikan, berarti sampean tidak mau melihat realita yang ada. maka dari sini muncul komplain tentunya dari sampean :
Definisi 'berpacaran' yang ada dalam KBBI sepertinya diturunkan dari kata 'courtship' => solicitation to marriage.
sementara gays tidak melakukan 'marriage'. There's no such thing as a gay marriage, though they can do civil unions.

marriage(en) diturunkan dari bahasa latin 'maritare' yang secara spesifik merujuk pada penyatuan pria-wanita (bukan pria-pria atau wanita-wanita).

Kutip
Juga di negara arab umumnya...mengatakan sesama jenisnya pun dg kekasih. "ya maulaana" misalkan : hei kekasihku. ya habiibii dan sejenisnya. juga definisi dari sampean lah yang membuka mafhum ini.
mungkin karena tidak ada kosa kata yang spesifik.

Kutip
seta juga tidak mani'...orang yang berkasih-ksihan, jika melihat definisi sampean, maka ibu dan anak yang saling mengasihi itu pacaran. padahal mafhum kita, antara anak laki-laki dan ibunya tidak bisa dikatakan pacaran. sedangkan definisi diatas mengatakan :Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Cinta yang dimaksud(dalam pacaran) jelas adalah affection, bukan love(secara global). Affection adalah love yang didasari oleh perasaan romantis. Hubungan ibu-anak tidak didasari oleh perasaan romantis.
Kata I(m) love her(f) dalam courtship maupun dating menunjuk pada affection secara spesifik.

Kutip
dari sini diketahu mas...bahwa sebelum mendefinisikan pacaran , sampean konsekwensinya harus mendefiniskan dulu apa itu kekasih, apa itu kasih, dan apa itu cinta. maka saya katakan definisi sampean tidak valid.

oleh karena itu mas...kalau sampean baca kitab-kitab ushul dan mantiq khususnya, mereka-mereka yang membahas ta'rif  hampir menghabiskan beratus-ratus halaman pertama. dari muhtarazat, kulliyatnya, penggabungan dua kulliyatnya dll...bagi yang sudah pernah belajar mantiq pastinya paham maksud saya.

ketika satu definisi bawahnya ga valid, maka seterusnyapun ga valid. dalam mendefinisikan pacar sudah ga valid, maka berpacaran dan memacari secara otomatis tidak valid.

contoh tidak validnya..ketika ada seorang mufti bilang, pacaran haram yang menurut devinisi dari kamus bahasa indonesia ( definisi yang sampean bwakan ). maka secara otomatis, definisi hubungan  anak ( laki-laki ) dan ibunya masuk pacaran. sehingga hubungannyapun jadi haram. padahal ini bukan mafhum kita.

Justru akan lebih maslahat kalau mufti tidak mendefenisikan hal yang sulit didefinisikan, tapi hati semua sepakat dg maksudnya.

beda persoalan kalau hal mendefinisikannya sulit, serta maksud dari hati masing-masing sudah beda memahaminya. artinya tidak ada kesepakatan. inilah yang wajib didefinisikan untuk mengetahui hukumnya.
apakah anda, saya, dan yang lainnya telah menggunakan definisi yang sama dari pacaran?
saya rasa belum.

Kutip
Cinta...adalah.....( sangat sulit diucapkan )...tapi semuanya sudah mafhum bahwa cinta...Oh itu....dan mafhum juga bahwa cintanya ibu pada anak berbeda dg cintanya suami pada istri dan sterusnya....inilah yang saya maksud al-ma'na almustahdir fidzihni.
tetap dapat didefinisikan dengan jelas menggunakan kosa kata.

Kutip
misalkan..fahmi dan x pacaran....maka ga mungkin orang menilai bahwa fahmi dan x itu kakak beradik, ga mungkin juga orang mengira fahmi dan x itu ibu dan anak. Justru kalau memakai definisi yang sampean pakai, memungkinkan fahmi dan x itu ibu dan anak.
tidak.
tentunya anda melihat kalimat "pacar adalah kekasih".
Apakah mungkin (dengan mengesampingkan incest) x adalah kekasih y sedangkan x adalah anak dari y?

Kutip
seperti contoh zina, zina secara syar'i adalah masuknya alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan tanpa aqad yang sah. sedangkan zina yang dimaksud oleh zikirulqulub itu mencakup semuanya..ada zina mata, kaki, dll. maka definisi tadi sudah menyalahi definisi yang aghlabiah tentang zina. aghalabiah itu definisi tentang zina yang dipakai pada umunya.
oleh karena itulah diperlukan penyetaraan definisi
karena ada yang mendefinisikan 'zina' keluar dari makna asli
sama seperti pacaran
pacaran banyak didefinisikan keluar dari makna asli, sehingga perlu dijelaskan apa makna asli pacaran.

Kutip
kalau mau membahas ta'rif ( definisi ) pacaran, saya jamin...5 halaman ini akan habis untuk membahas itu. minimal bagi saya. dan silahkan dibuktikan kalau tidak percaya. karena pacaran masih amat sangat luas, sedangkan hati semuanya bersepakat maknanya " itu ".
definisi pacaran hanya 'itu' (courtship dan dating). Tidak luas.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: eR-De pada April 05, 2008, 06:37:51 pm
cape neh bacanya...

panjang2 wuih OOT neh....

ayo semangat berjuang!!ribut lageeee.... ;))

seru liatnya, asli!! ;))

yang sabar ya mas fahmie, buat mas ziqrulqulub juga belajar menerima pendapat orang laen mungkin lebih baek.

thats all. :cool:terusin dong diskusinya...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 05, 2008, 07:24:14 pm
Kutip
Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar].
Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.”

sebenrnya kalau mau kritis...definisi inipun tidak valid. ini hanya mencakup dengan lawan jenis. bukan sejenis. berarti definisi ini dalam mantiq tidak jami'. sedangkan syarat definisi haruslah jami'  dan mani'. maka bathil dari sudut pandang mantiq.

saya katakan tidak jami', karena selama ini di indonesia banyak yang menganggap sesama jenisnya adalah pacar. misalkn homo atau lesbi, mereka menyebut pasangan yang dicintainya dengan pacar. kalau sampean mendefinisikan pacaran dg kata diatas, maka sampean secara otomatis menafikan pasangan homo disebut pacar. dan kalau sampean menafikan, berarti sampean tidak mau melihat realita yang ada. maka dari sini muncul komplain tentunya dari sampean :
Definisi 'berpacaran' yang ada dalam KBBI sepertinya diturunkan dari kata 'courtship' => solicitation to marriage.
sementara gays tidak melakukan 'marriage'. There's no such thing as a gay marriage, though they can do civil unions.

marriage(en) diturunkan dari bahasa latin 'maritare' yang secara spesifik merujuk pada penyatuan pria-wanita (bukan pria-pria atau wanita-wanita).

Kutip
Juga di negara arab umumnya...mengatakan sesama jenisnya pun dg kekasih. "ya maulaana" misalkan : hei kekasihku. ya habiibii dan sejenisnya. juga definisi dari sampean lah yang membuka mafhum ini.
mungkin karena tidak ada kosa kata yang spesifik.

Kutip
seta juga tidak mani'...orang yang berkasih-ksihan, jika melihat definisi sampean, maka ibu dan anak yang saling mengasihi itu pacaran. padahal mafhum kita, antara anak laki-laki dan ibunya tidak bisa dikatakan pacaran. sedangkan definisi diatas mengatakan :Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih.
Cinta yang dimaksud(dalam pacaran) jelas adalah affection, bukan love(secara global). Affection adalah love yang didasari oleh perasaan romantis. Hubungan ibu-anak tidak didasari oleh perasaan romantis.
Kata I(m) love her(f) dalam courtship maupun dating menunjuk pada affection secara spesifik.

Kutip
dari sini diketahu mas...bahwa sebelum mendefinisikan pacaran , sampean konsekwensinya harus mendefiniskan dulu apa itu kekasih, apa itu kasih, dan apa itu cinta. maka saya katakan definisi sampean tidak valid.

oleh karena itu mas...kalau sampean baca kitab-kitab ushul dan mantiq khususnya, mereka-mereka yang membahas ta'rif  hampir menghabiskan beratus-ratus halaman pertama. dari muhtarazat, kulliyatnya, penggabungan dua kulliyatnya dll...bagi yang sudah pernah belajar mantiq pastinya paham maksud saya.

ketika satu definisi bawahnya ga valid, maka seterusnyapun ga valid. dalam mendefinisikan pacar sudah ga valid, maka berpacaran dan memacari secara otomatis tidak valid.

contoh tidak validnya..ketika ada seorang mufti bilang, pacaran haram yang menurut devinisi dari kamus bahasa indonesia ( definisi yang sampean bwakan ). maka secara otomatis, definisi hubungan  anak ( laki-laki ) dan ibunya masuk pacaran. sehingga hubungannyapun jadi haram. padahal ini bukan mafhum kita.

Justru akan lebih maslahat kalau mufti tidak mendefenisikan hal yang sulit didefinisikan, tapi hati semua sepakat dg maksudnya.

beda persoalan kalau hal mendefinisikannya sulit, serta maksud dari hati masing-masing sudah beda memahaminya. artinya tidak ada kesepakatan. inilah yang wajib didefinisikan untuk mengetahui hukumnya.
apakah anda, saya, dan yang lainnya telah menggunakan definisi yang sama dari pacaran?
saya rasa belum.

Kutip
Cinta...adalah.....( sangat sulit diucapkan )...tapi semuanya sudah mafhum bahwa cinta...Oh itu....dan mafhum juga bahwa cintanya ibu pada anak berbeda dg cintanya suami pada istri dan sterusnya....inilah yang saya maksud al-ma'na almustahdir fidzihni.
tetap dapat didefinisikan dengan jelas menggunakan kosa kata.

Kutip
misalkan..fahmi dan x pacaran....maka ga mungkin orang menilai bahwa fahmi dan x itu kakak beradik, ga mungkin juga orang mengira fahmi dan x itu ibu dan anak. Justru kalau memakai definisi yang sampean pakai, memungkinkan fahmi dan x itu ibu dan anak.
tidak.
tentunya anda melihat kalimat "pacar adalah kekasih".
Apakah mungkin (dengan mengesampingkan incest) x adalah kekasih y sedangkan x adalah anak dari y?

Kutip
seperti contoh zina, zina secara syar'i adalah masuknya alat kelamin laki-laki ke alat kelamin perempuan tanpa aqad yang sah. sedangkan zina yang dimaksud oleh zikirulqulub itu mencakup semuanya..ada zina mata, kaki, dll. maka definisi tadi sudah menyalahi definisi yang aghlabiah tentang zina. aghalabiah itu definisi tentang zina yang dipakai pada umunya.
oleh karena itulah diperlukan penyetaraan definisi
karena ada yang mendefinisikan 'zina' keluar dari makna asli
sama seperti pacaran
pacaran banyak didefinisikan keluar dari makna asli, sehingga perlu dijelaskan apa makna asli pacaran.

Kutip
kalau mau membahas ta'rif ( definisi ) pacaran, saya jamin...5 halaman ini akan habis untuk membahas itu. minimal bagi saya. dan silahkan dibuktikan kalau tidak percaya. karena pacaran masih amat sangat luas, sedangkan hati semuanya bersepakat maknanya " itu ".
definisi pacaran hanya 'itu' (courtship dan dating). Tidak luas.

mas mas...justru sanggahan ini menunjukkan anda itu sama persepsi dg kita-kita tentang definisi pacaran. ga percaya ? baca kalimat-kalimat saya dari awal.

maksud saya ngomong panjang lebar diatas, adalah untuk menunjukkan bahwa definisi pacaran yang dipakai mas dajjal itu belum mencakup definisi yang pantas untuk masuk, dan belum menghalangi definisi yang tidak pants untuk masuk.

saya tidak sedang mengatakan gay itu pacaran, serta ibu dan anak itu pacaran, tapi secara eksplisit, definisi kang dajjal itu menunjukkan gay itu masuk pacaran, dan ibu dan anak juga pacaran.

Kutip
apakah anda, saya, dan yang lainnya telah menggunakan definisi yang sama dari pacaran?
saya rasa belum.

saya sudah bilang, bahwa pemaknaan kata pacaran itu sama dalam benak kita masing-masing, tapi pengucapannya itu yang berbeda-beda.

saya yakin, saya dan anda tidak mengatakan gay itu pacaran, serta ibu dan anak itu pacaran. mereka bukan pacaran dalam benak kita khan ? itulah maksud saya mengkritisi definisi mas dajjal.

Kutip
Cinta yang dimaksud(dalam pacaran) jelas adalah affection, bukan love(secara global). Affection adalah love yang didasari oleh perasaan romantis. Hubungan ibu-anak tidak didasari oleh perasaan romantis.
Kata I(m) love her(f) dalam courtship maupun dating menunjuk pada affection secara spesifik.

maka...saya menulis : konskwensi mas dajjal menyebut definisi pacaran, harus juga menyebut definisi kekasih, kasih dan cinta.

jika hanya menyebut definisi pacaran, maka hanya pemahaman tekstual. tanpa spesifikasi apa itu kasih, kekasih dan cinta. dan ini semua hanya buang-buang wakti, Jika yang ditanyakan hukum pacaran.

Kutip
tentunya anda melihat kalimat "pacar adalah kekasih".
Apakah mungkin (dengan mengesampingkan incest) x adalah kekasih y sedangkan x adalah anak dari y?

Ooo..anda salah persepsi...Untuk yang saya bold pertama, menunjukkan bahwa anda sama persepsi dg saya masalah pacaran, juga dg yang lain.  saya menulis itu bukan maksud saya mengatakan ibu dan anak adalah kekasih, tapi karena konskwensi definisi mas dajjal yang tidak lengkap, ( tanpa menyebutkan makna kekasih, dan apa itu cinta, serta pembagian cinta ), maka itulah yang akan terjadi. yaitu menyebut ibu dan anak sebagai pacar..padahal mereka bukan pacar. maka itu saya ulang lagi..konskwensi mas dajjal adalah menyebut juga apa arti dari masing-masing yang disebutkan dalam definisi pacaran ( kekasih, kasih, dan cinta dg spesifik ).

Kutip
oleh karena itulah diperlukan penyetaraan definisi
karena ada yang mendefinisikan 'zina' keluar dari makna asli
sama seperti pacaran
pacaran banyak didefinisikan keluar dari makna asli, sehingga perlu dijelaskan apa makna asli pacaran.
Kutip
definisi pacaran hanya 'itu' (courtship dan dating). Tidak luas.

ohya..? saya tidak mengatakan begitu dan tidak menduga begitu. silahkan keluarkan definisi anda...kita buktikan apakah sesederhana itu.

tanpaknya anda belum menangkap maksud saya mas...( atau mungkin saya yang tidak menangkap maksud anda )...silahkan saling mengoreksi...

NB ; saya sudah bilang mas...ini akan menyimpang dari tujuan. tapi it's ok..
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 06, 2008, 08:09:47 am
definisi pacaran hanya 'itu' (courtship dan dating). Tidak luas.
dalam hubungan pacaran tidak menutup kemungkinan terjadi hubungan suami-isteri yang tidak sah (zina)
apakah dalam courtship and dating hubungan semacam itu juga tercakup didalamnya? atw ada istilah lain untuk itu?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 06, 2008, 01:21:14 pm
mas mas...justru sanggahan ini menunjukkan anda itu sama persepsi dg kita-kita tentang definisi pacaran. ga percaya ? baca kalimat-kalimat saya dari awal.

maksud saya ngomong panjang lebar diatas, adalah untuk menunjukkan bahwa definisi pacaran yang dipakai mas dajjal itu belum mencakup definisi yang pantas untuk masuk, dan belum menghalangi definisi yang tidak pants untuk masuk.
nah, disitulah letak salah satu perpedaan penggunaan definisi pacaran antara anda dan saya.
Saya menganggap bahwa bahkan dengan mengesampingkan realita adanya gay yang berpacaran, definisi tsb masih sesuai konteks.
Why?
Pacaran atau tidak, (menurut opini personal saya) homoseksualitas itu sendiri telah haram.

Kutip
saya tidak sedang mengatakan gay itu pacaran, serta ibu dan anak itu pacaran, tapi secara eksplisit, definisi kang dajjal itu menunjukkan gay itu masuk pacaran, dan ibu dan anak juga pacaran.
terbalik mas
justru definisi tsb tidak mencakup kaum gay (mungkin karena kosa kata 'pacaran' dalam KBBI diturunkan dari kata 'courtship'(en), bukan 'dating')

Kutip
maka...saya menulis : konskwensi mas dajjal menyebut definisi pacaran, harus juga menyebut definisi kekasih, kasih dan cinta.

jika hanya menyebut definisi pacaran, maka hanya pemahaman tekstual. tanpa spesifikasi apa itu kasih, kekasih dan cinta. dan ini semua hanya buang-buang wakti, Jika yang ditanyakan hukum pacaran.

Ooo..anda salah persepsi...Untuk yang saya bold pertama, menunjukkan bahwa anda sama persepsi dg saya masalah pacaran, juga dg yang lain.  saya menulis itu bukan maksud saya mengatakan ibu dan anak adalah kekasih, tapi karena konskwensi definisi mas dajjal yang tidak lengkap, ( tanpa menyebutkan makna kekasih, dan apa itu cinta, serta pembagian cinta ), maka itulah yang akan terjadi. yaitu menyebut ibu dan anak sebagai pacar..padahal mereka bukan pacar. maka itu saya ulang lagi..konskwensi mas dajjal adalah menyebut juga apa arti dari masing-masing yang disebutkan dalam definisi pacaran ( kekasih, kasih, dan cinta dg spesifik ).
Menurut saya juga, dengan memasukkan kalimat "pacar adalah kekasih..." yang dapat berarti "2 orang yang berpacaran adalah sepasang kekasih...", definisi diatas secara otomatis menyebutkan bahwa "hubungan ibu-anak bukan pacaran" karena "ibu-anak bukan sepasang kekasih".

Kutip
Kutip
oleh karena itulah diperlukan penyetaraan definisi
karena ada yang mendefinisikan 'zina' keluar dari makna asli
sama seperti pacaran
pacaran banyak didefinisikan keluar dari makna asli, sehingga perlu dijelaskan apa makna asli pacaran.
Kutip
definisi pacaran hanya 'itu' (courtship dan dating). Tidak luas.
ohya..? saya tidak mengatakan begitu dan tidak menduga begitu. silahkan keluarkan definisi anda...kita buktikan apakah sesederhana itu.
Well, saya sudah menyebutkan definisi keduanya diatas (post sebelumnya).
Apakah anda memiliki definisi maupun translasi yang lain? (yang bermakna berbeda dari kedua kata diatas)


definisi pacaran hanya 'itu' (courtship dan dating). Tidak luas.
dalam hubungan pacaran tidak menutup kemungkinan terjadi hubungan suami-isteri yang tidak sah (zina)
apakah dalam courtship and dating hubungan semacam itu juga tercakup didalamnya? atw ada istilah lain untuk itu?
Adultery.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 06, 2008, 02:03:32 pm
Assalamu'alaikum...
Untuk mas arif...
Agar nggak OOT Link ke sini

http://forum.dudung.net/index.php/topic,10092.0.html
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 06, 2008, 02:27:21 pm
Kutip
nah, disitulah letak salah satu perpedaan penggunaan definisi pacaran antara anda dan saya.
Saya menganggap bahwa bahkan dengan mengesampingkan realita adanya gay yang berpacaran, definisi tsb masih sesuai konteks.
Why?
Pacaran atau tidak, (menurut opini personal saya) homoseksualitas itu sendiri telah haram.

iya..perbedaan kita adalah didefinisi..( seperti yang sudah saya katakan berulangkali ) tapi saya yakin, hati kita sudah sepakat tentang apa makna pacaran.

dan lagi, atas dasar apa anda mengatakan bahwa pacaran gay itu tidak masuk pada definisi mas dajjal ? atas dasar keterangan yang anda pakai ? ga mas..saya kira itu 'aridlah sifatnya...artinya penjelasan anda tidak melengkapi penjelasan mas dajjal yang sebelumnya bolong..tapi hanya menambahkan..terkecuali anda menyebutkan definisi tentang kasih, kekasih dan itu cinta ( yang secara otomatis mengeluarkan definisi pacaran gay ) baru itu bukan 'aridlah..( maaf, karena saya belajar tentang deinisi dari mantiq, jadi saya membahas 'aridlah ).

Kutip
terbalik mas
justru definisi tsb tidak mencakup kaum gay (mungkin karena kosa kata 'pacaran' dalam KBBI diturunkan dari kata 'courtship'(en), bukan 'dating')

Bisa diterngkan ke saya dg definisi mas dajjal tidak masuk kaum gay ? ah..saya tidak paham tentangmaksud anda dg kata courtship,...tolong dong diterangkan saya yang awam bahasa-bahasa kayak gt... ;D ;D

Kutip
Menurut saya juga, dengan memasukkan kalimat "pacar adalah kekasih..." yang dapat berarti "2 orang yang berpacaran adalah sepasang kekasih...", definisi diatas secara otomatis menyebutkan bahwa "hubungan ibu-anak bukan pacaran" karena "ibu-anak bukan sepasang kekasih".


maksudnya memasukkan ? bisa diperjelas lagi ?
 
Kutip
Cinta yang dimaksud(dalam pacaran) jelas adalah affection, bukan love(secara global). Affection adalah love yang didasari oleh perasaan romantis. Hubungan ibu-anak tidak didasari oleh perasaan romantis.
Kata I(m) love her(f) dalam courtship maupun dating menunjuk pada affection secara spesifik.

ini yang anda maksud definisi ? kemudian anda setuju dg definisi mas dajjal ? ohya...sudah berkali-kali saya bilang, dari definisi mas dajjal itu tidak ada kata affection atau apalah...artinya masih sangat umum( awal mulanya )..kemudian anda menambahkan pernyataan2 sendiri diatas. 'ala kulli hall...definisi itu hanyalah bisa dinikmati oleh anda seorang.

dan saya pun ga melihat definisi lengkap anda di postingan saya sebelumnya..

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 06, 2008, 02:28:38 pm
@mas zikirul qulub..seperti yangmas dajjal bilang...kita menyamakan definisi dulu..Ok... ;;) ;;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 06, 2008, 03:08:50 pm
Kutip
nah, disitulah letak salah satu perpedaan penggunaan definisi pacaran antara anda dan saya.
Saya menganggap bahwa bahkan dengan mengesampingkan realita adanya gay yang berpacaran, definisi tsb masih sesuai konteks.
Why?
Pacaran atau tidak, (menurut opini personal saya) homoseksualitas itu sendiri telah haram.

iya..perbedaan kita adalah didefinisi..( seperti yang sudah saya katakan berulangkali ) tapi saya yakin, hati kita sudah sepakat tentang apa makna pacaran.

dan lagi, atas dasar apa anda mengatakan bahwa pacaran gay itu tidak masuk pada definisi mas dajjal ? atas dasar keterangan yang anda pakai ? ga mas..saya kira itu 'aridlah sifatnya...artinya penjelasan anda tidak melengkapi penjelasan mas dajjal yang sebelumnya bolong..tapi hanya menambahkan..terkecuali anda menyebutkan definisi tentang kasih, kekasih dan itu cinta ( yang secara otomatis mengeluarkan definisi pacaran gay ) baru itu bukan 'aridlah..( maaf, karena saya belajar tentang deinisi dari mantiq, jadi saya membahas 'aridlah ).
Kutip
Bisa diterngkan ke saya dg definisi mas dajjal tidak masuk kaum gay ? ah..saya tidak paham tentangmaksud anda dg kata courtship,...tolong dong diterangkan saya yang awam bahasa-bahasa kayak gt... ;D ;D
Atas keberadaan frasa "teman lawan jenis" yang digunakan sebagai syarat premis.
Well, saya belajar 'definisi' dari sains.

Kutip
Kutip
Menurut saya juga, dengan memasukkan kalimat "pacar adalah kekasih..." yang dapat berarti "2 orang yang berpacaran adalah sepasang kekasih...", definisi diatas secara otomatis menyebutkan bahwa "hubungan ibu-anak bukan pacaran" karena "ibu-anak bukan sepasang kekasih".


maksudnya memasukkan ? bisa diperjelas lagi ?
menggunakan 1 atau beberapa syarat kedalam premis, yang berakibat ternegasikannya kelompok yang tidak sesuai dengan syarat.

Kutip
Kutip
Cinta yang dimaksud(dalam pacaran) jelas adalah affection, bukan love(secara global). Affection adalah love yang didasari oleh perasaan romantis. Hubungan ibu-anak tidak didasari oleh perasaan romantis.
Kata I(m) love her(f) dalam courtship maupun dating menunjuk pada affection secara spesifik.

ini yang anda maksud definisi ? kemudian anda setuju dg definisi mas dajjal ? ohya...sudah berkali-kali saya bilang, dari definisi mas dajjal itu tidak ada kata affection atau apalah...artinya masih sangat umum( awal mulanya )..kemudian anda menambahkan pernyataan2 sendiri diatas. 'ala kulli hall...definisi itu hanyalah bisa dinikmati oleh anda seorang.

Sepertinya anda tidak mengerti bahwa penekanan utama saya adalah pada keterbatasan kosa kata. Dan baik love(secara global) maupun affection(spesifik) dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata yang sama, cinta.

Tentu saja bung didin tidak menggunakan kata 'affection' karena kata 'pacaran' yang didiskusikan adalah Bahasa Indonesia.
Saya menggunakan English semata-mata untuk menjelaskan tentang keterbatasan kosa kata, hal yang saya tekankan sebagai inti permasalahan yang anda cuatkan.
Menggunakan bahasa Inggris, Latin, atau Arab or whatever dalam inisialisasi pendefinisian pacaran yang jelas adalah kata Bahasa Indonesia adala irrelevant.

Kutip
dan saya pun ga melihat definisi lengkap anda di postingan saya sebelumnya..
Silakan dibuka lagi. (http://forum.dudung.net/index.php/topic,5306.msg125114.html#msg125114) Ada penjelasan singkat tentang courtship maupun dating disitu.

Hmm
sekarang saya berpikir
mungkin definisi saya akan definisi berbeda dengan definisi anda terhadap definisi.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 07, 2008, 05:53:37 am
kalo ngebahas definisi dari definisi kayaknya jangan di sini deh :D

@kang sora
jangan pake didin donk... itu khusus keluarga sedarah saya aja :D
pake jalal aja, itu untuk orang umum :D

makasih dah ngejelasin permasalahan definisi dari pacaran versi KBBI, jadi saya ga perlu repot2 nulis dan nyari sumber lain :D


@kang fahmie
maaf saya masih belum bisa menuliskan definisi kasih (dan turunannya) dan cinta (juga turunannya) versi KBBI, soalnya temen saya yang punya KBBI lagi sibuk, kasihan :D


@teh layla
ya, agar orang ga sembarangan menggunakan definisi yang tidak ilmiah di kondisi resmi maupun semi resmi, kita perlu melihat lagi definisi ilmiah yang ada. sehingga kata tersebut ga kehilangan definisi



perbedaan kosa kata dalam bahasa memang jadi sebuah permasalahan tersendiri. terkadang kita perlu merujuk kembali asal sebuah kata. seperti yang pernah di kasih tau waktu SMP n SMA, bahasa indonesia itu berasal dari beragam bahasa yang digunakan selama perjalanan sebuah wilayah yang kini disebut Indonesia.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 07, 2008, 07:41:55 am
Maaf...kayaknya cuma saya dalam ketersendirian yang memandang deinisi dari mantiq. ;D ;D...( maklum, dalam keterbatasan ilmu saya, masalah definisi hanya mantiq yang saya pelajari )..

Maka jika mau membahas definisi selain dari mantiq,,,saya serahkan langsung bagi para ahlinya. soalnya ilmu saya belum cukup untuk itu. alias tidak pernah sama sekai menyinggung masalah definisi selain dari sudut pandang mantiq....

wabiljumlah...saya tinggal menonton para petarung yang akan bertarung memperjuangkan definisinya masing-masing dan mana yang akan disepakati nantinya. saya lepas tangan dulu untuk masalah definisi....silahkan......
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 07, 2008, 07:19:22 pm
Maaf...kayaknya cuma saya dalam ketersendirian yang memandang deinisi dari mantiq. ;D ;D...( maklum, dalam keterbatasan ilmu saya, masalah definisi hanya mantiq yang saya pelajari )..

bukan sebuah masalah
justru disitulah letak guna diskusi
untuk mengetahui dari sudut pandang lain

maaf, saya tidak seperti anggota 'aliran-aliran' tertentu yang hanya menggunakan 'definisi' menurut alirannya saja.

[OOT, 'definisi' secara kebahasaan]
'Definisi'(id), diterjemahkan dari 'Definition'(en), diterjemahkan dari 'dēfīnītiō'(la) yang berarti 'batasan'.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 07, 2008, 07:20:43 pm
[BTT]
Pacaran, hanyalah sebuah container/penampung dari berbagai kegiatan lain.
Dalam pacaran orang bisa makan malam, berciuman, ngobrol, berbicara romantis, menonton bioskop, merencanakan pernikahan, dan bahkan berzina(sex pranikah).

Muslim tentu bisa menilai kegiatan-kegiatan mana saja dalam 'penampung' diatas yang halal, dan yang haram. Sehingga yang dinilai adalah isi, bukan penampung(stereotip).

Ex: Jika saya -- seorang muslim -- melakukan tindak terorisme atas nama islam (hanya contoh, saya tidak setolol itu :p ), apakah islam(container) bisa dinilai sebagai teroris?

Islam ya islam, walau ada muslim teroris, tidak menyatakan bahwa islam adalah agama teroris.
Pacaran ya pacaran, walau ada orang berpacaran yang melakukan hal hal haram tidak otomatis menjadikan pacaran haram secara keseluruhan.

ps:
bagi orang orang yang mengharamkan pacaran tetapi sependapat dengan saya bahwa islam bukan agama teroris...well, kalian munafik.   ;))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 07, 2008, 07:50:56 pm
[BTT]
Pacaran, hanyalah sebuah container/penampung dari berbagai kegiatan lain.
Dalam pacaran orang bisa makan malam, berciuman, ngobrol, berbicara romantis, menonton bioskop, merencanakan pernikahan, dan bahkan berzina(sex pranikah).

Muslim tentu bisa menilai kegiatan-kegiatan mana saja dalam 'penampung' diatas yang halal, dan yang haram. Sehingga yang dinilai adalah isi, bukan penampung(stereotip).
agak mirip dengan pendapat mas fahmie..
seorang mufti dalam memberikan fatwa bagi mustaffi (orang yang diberi fatwa) tentang pacaran harus melihat kondisi "container"-nya..
kira2 bakal terisi dengan hal yang baik2 atw cuma jadi "tempat sampah".. lebih banyak manfaatnya atw madharatnya..
tapi terus terang saya belum pernah denger tu ada mufti yang memberi fatwa pada mustaffinya agar melakukan pacaran  ;D

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 07, 2008, 09:16:14 pm
^
well
seorang 'bijak' dalam memberikan 'saran' tentunya melakukan assessment terhadap orang yang diberikan saran. Bisa atau tidak orang yang diberikan saran melakukannya.
Lucu juga menyarankan seseorang yang (diketahui) tidak bisa berenang untuk menyeberangi lautan.  :D

Tetapi 'mengharamkan'/menyatakan 'tidak boleh' sangat berbeda dengan menyatakan 'sebaiknya jangan'.

Kasusnya sama seperti ketika saya menyatakan bahwa poligami tidak disarankan/sebaiknya tidak dilakukan di Indonesia karena faktor kuantitas penduduk dan ketidak-siapan dukungan sumber daya alam. Saya tidak mengharamkan/menyatakan tidak boleh dilakukan (walau ada seseorang dari aliran 'tertentu' yang menyatakan saya mengharamkannya :D

ps:
tapi terus terang saya belum pernah denger tu ada mufti yang memberi fatwa pada mustaffinya agar melakukan pacaran  ;D
yakin?
bagaimana dengan 'pertunangan' :D
dalam English, engagement cukup sering dianggap sebagai 'versi modern' dari courtship. (Pacaran serius, diikat pertunangan, dan hampir dipastikan menuju jenjang perkawinan). .......heheheh lagi lagi masalah bahasa... :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 07, 2008, 10:46:00 pm
Kutip
bukan sebuah masalah
justru disitulah letak guna diskusi
untuk mengetahui dari sudut pandang lain
ga mas..cara pandang saya dan anda sangant berbenturan. kalau saya menggunakan mantiq untuk mengetahui definisi, maka definisi anda bathil menurut mantiq.. dan ini hanya akan mengacaukan suasana tanpa ada kesepakatan nantinya. ada beberapa syarat dalam mantiq untuk kevalidan sebuah definisi.

Kutip
Pacaran, hanyalah sebuah container/penampung dari berbagai kegiatan lain.
Dalam pacaran orang bisa makan malam, berciuman, ngobrol, berbicara romantis, menonton bioskop, merencanakan pernikahan, dan bahkan berzina(sex pranikah).

Muslim tentu bisa menilai kegiatan-kegiatan mana saja dalam 'penampung' diatas yang halal, dan yang haram. Sehingga yang dinilai adalah isi, bukan penampung(stereotip).

Ex: Jika saya -- seorang muslim -- melakukan tindak terorisme atas nama islam (hanya contoh, saya tidak setolol itu tongue ), apakah islam(container) bisa dinilai sebagai teroris?

Islam ya islam, walau ada muslim teroris, tidak menyatakan bahwa islam adalah agama teroris.
Pacaran ya pacaran, walau ada orang berpacaran yang melakukan hal hal haram tidak otomatis menjadikan pacaran haram secara keseluruhan.
saya setuju dg ini, dan sudah saya katakan di awal mula saya posting di thread ini. bahwa pacaran itu haram ( jika memang keadaan mengharamkan, tapi lighairihi ). atau dg kata lain, ini hukum mu'allall. cuma mungkin cara penyampaian kita yang berbeda.

Kutip
yakin?
bagaimana dengan 'pertunangan' Nyengir
dalam English, engagement cukup sering dianggap sebagai 'versi modern' dari courtship. (Pacaran serius, diikat pertunangan, dan hampir dipastikan menuju jenjang perkawinan). .......heheheh lagi lagi masalah bahasa...

logika anda sangat baik..tapi pincang. artinya, itu penqiyasan ma'al fariq. kalau anda mengatakan tunangan dg pacaran, itu tidak benar.dalam islam istilah tunangan itu mustaqil. dan itu ta'abbudy, alias tidak bisa dilogikakan pada peletakan makna lain padanya. tunangan bahasa arabnya itu khitbah, ada rukun dan syarat juga dalam khitbah itu.

Ada beberapa hal yang sifatnya ta'abbudi dalam islam yang tidak bisa dipecahkan hakikat serta hikmahnya oleh ulama. bahkan oleh para pembesar mantiq sekalipun seperti imam ghazali.

masalah ta'abudi adakalanya pada penamaan, seperti "khitbah" tadi yang saya sebutkan. anda tidak bisa menamakan sesuatu yang lain, dg nama khitbah, jika itu memang bukan khitbah. karena seperti saya bilang diatas, dalam khitbah ada syarat tertentu yang harus dipenuhi.

adapun jika mufti memfatwakan bolehnya khitbah, itu bukanlah pembolehan pacaran. ada banyak hadis yang berbicara tentang khitbah. dan itu memang masyru' filwadh'. serta memang sudah ada hukum tersendiri yang mengatur khitbah.

karena istilah pacaran dalam islam sendiri sampai sekarang masih majhul, disebabkan banyaknya pendapat, walhasil, pacaran itu sendiri, dan khitbah itu lain lagi.

silahkan dilanjut diskusinya.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 07, 2008, 11:23:33 pm
@kang fahmi
justru itulah gunanya menyamakan definisi

perbedaan pola pikir, perbedaan wawasan dan perbedaan-perbedaan lain dipadukan untuk menemukan definisi yang mencakup semua (atau setidaknya sebagian besar) apa yang akan dibahas selanjutnya.

dalam ilmu-ilmu sosial, definisi suatu permasalahan juga ada perbedaan dari masing-masing ahli. itu terjadi karena perbedaan pengetahuan dan pengalaman juga hal-hal lainnya. itulah mengapa perlu menyampaikan definisi yang digunakan dalam membahas permasalahan

nah, disini karena kita mau bahas pacaran kenapa tidak kita samakan definisi1 terlebih dahulu

1 : (dalam bahasan sains arti singkatnya batasan-batasan, silakan tulis arti definis menurut mantiq kalo beda)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada April 07, 2008, 11:33:25 pm
nyimak mode : on

pembahasan pacaran dipandang dari bahasa
arab - inggris - indonesia 8->

:D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 08, 2008, 12:12:08 am
bukan bahasa arab, tapi secara mantiq
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 08, 2008, 01:27:43 am
Kutip
@kang fahmi
justru itulah gunanya menyamakan definisi

perbedaan pola pikir, perbedaan wawasan dan perbedaan-perbedaan lain dipadukan untuk menemukan definisi yang mencakup semua (atau setidaknya sebagian besar) apa yang akan dibahas selanjutnya.

dalam ilmu-ilmu sosial, definisi suatu permasalahan juga ada perbedaan dari masing-masing ahli. itu terjadi karena perbedaan pengetahuan dan pengalaman juga hal-hal lainnya. itulah mengapa perlu menyampaikan definisi yang digunakan dalam membahas permasalahan

nah, disini karena kita mau bahas pacaran kenapa tidak kita samakan definisi1 terlebih dahulu

oh gt ya mas...ya udah ngikut aja...

dalam mantiq ada istilah kulliyat al-khams ( lafadz kulli yang jumlahnya 5 ). lafadz kulli adalah lafadz yang mencakup seluruh afrad ( individu ). misalkan : rajul ( laki-laki ), itu mencakup saya, mas dajjal, mas david dll...

kulliyat al-khams itu ada 5 :

1. jins
2. fasl
3. nau'
4. al-khasah
5. al-'ardl 'am..

kemudian, dalam mantiq ada istilah mahiyah. mahiyah adalah afrad ( individu yang dalam hal ini mu'arraf ). kulliyat khams adakalanya juz ul mahiyyah ( bagian dari mahiyyah ), juga ada kalanya khariijun 'anilmahiyyah ( sesuatu yang keluar dari mahiyyah ). nah..kulliyat al-khams yang masuk pada mahiyah adalah nau', jins dan fasl..sedangkan yang keluar dari mahiyyah adalah al-khassah dan al'ird 'am.

dalam mantiq...awal syarat yang harus dipenuhi dalam mendefinisikan sesuatu adalah :

1. ta'rif yang dg fasl dan jins...tapi fasl dan jinsqarib ( fasl dan jins ada dua : ba'id dan qariib )..maka berarti masuk pada mahiyyah
2. dg jins al-qariib ( jins ada dua : qariib dan ba'iid ). berarti bagian dari mahiyyah juga
3. dg khasah...yang ini keluar dari mahiyyah.

Untuk ta'rif pertama namanya al-ta'rif bi al-had, yang kedua namanya bi al-rasm, yang ketiga namanya al-tam. inilah syarat yang harus dipenuhi dalam definisi mantiq. ketida ta'rif inilah yang mu'tabar dalam mantiq.

kemudian yang namanya definisi menurut mantiq adalah, segala sesuatu yang bisa diucapkan untuk menggambarkan mu'arraf. tapi pengucapannya harus dg ta'rif bi al-tam, rasm dan al-had.

kemudian..karena kecondongan mas dajjal untuk menamakan definisi dg batas, maka untuk mantiq saya rasa cocok dg ta'rif bi al-had ( membatasi ). karena bi al-had, ada syarat yang lain yaitu harus jami' dan mani'. selain jami' mani', juga  harus dg fasl qariib. Oleh karena itu saya katakan ta'rif mas dajal tidak jami' dan tidak mani' sebagaimana saya sebutkan diatas.

karena hubungannya dg fasl, maka sedikit berbicara tentang fasl ...fasl ada dua, qarib dan ba'id.fasl adalah yang membedakan antara mahiyah dg selainnya dg pertanyaan " ayyu syain hua fi dzatihi" ( apa yang membedakan dg yang lain ). mahiyahnya disini pacaran...dalam mahiyah ada kasih..kasih inilah yang membedakan antara pacaran dan bukan pacaran.

kalau mas dajjal berbicara pacaran dg kasih ( dari mas dajal :
Kutip
Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar].
), maka kasih dsini adalah jins ba'iid. bukan qariib...sedangkan ta'rif bilhad adalah harus dg jins qariib. ba'iid karena kasih jika ditafsirkan bukan hanya pada pacaran ( laki-laki dan perempuan ), tapi pada ibu dan anak juga bisa.  oleh karena itu tata bahasanya masih perlu diperbaiki. kemudian jika mas dajjal mengatakan bahwa kasih disini tentunya maksudnya dg lawan jenis yang seperti kita ketahui....( lihat definisi ta'rif mas dajjal ), maka itu sifatnya 'aridlah ( penjelasan susulan ).sedangkan jins qariib adalah juz dari mahiyah. terkecuali mas dajjal itu lebih mengkhususkan makna kasih ( seperti yang saya bilang di awal mula ), baru ini sah di jins qariib. kalau hanya sekedar mengandalkan penalaran dalam definisi, misalkan seperti yang dikatakan diatas, bahwa penafsiran kasih disini tentu merujuknya pada hubungan pacaran yang diketahui bersama, maka dakwaan ini tidak sah seperti saya bilang berulang kali. karena itu sifatnya 'aridlah, sedangkan jins qariib juz dari mahiyyah.
 

Ohya...saya tidak menjelaskan apa maksud jins, fasl, alkhassah, nau', al-'ird al'aam..karena ini kaitannya dg pelajaran awal mula mantiq. dan bahasan ini dg bahasan sebelumnya selalu tasalsul ( berhubungan )..maka jika saya menerangkan ini, yang ada malah belajar mantiq keseluruhan. bukan diskusi.


Kutip
bukan bahasa arab, tapi secara mantiq

karena mas dajjal mengatakan tidak usah mbahas bahasa arabnya, jadi saya cukupkan mantiqnya saja.

.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 08, 2008, 01:38:54 am
Untuk lebih jelasnya...kasih adalah fasl..afradnya adalah : kasih ibu pada anak, kasih laki2 pada perempuan, dan yang lain. jadi jika hanya dg kata kasih, maka faslnya fasl ba'iid. konskwensi dari fasl ba'iid adalah, tidak jami' dan tidak mani'. kemudian muncul penjelasan mas "??" bahwa secara otomatis merujuknya pada kasih laki-laki pada perempuan ( mafhum pacaran ). maka dari mantiq,,,, dalam definisi tidak ada mafhum, tapi adanya mantuq.

kalau dibilang dalam mantiq..ta'rif yang dipakai mas dajjal namanya ta'riff bi al-mohaal ( termasuk ta'rif bathil )..seperti definisi nahwu misalkan : sekumpulan kaidah-kaidah nahwu. karena kaidah bukan hanya nahwu....adapun jika mengatakan mahumnya ya kaidah nahwu..maka saya ulang kembail, dalam mantiq tidak ada mafhum dalam definisi, yang ada mantuq. karena kalau menggunakan mafhum, tidak perlu panjang2 definisinya...karena nanti penalaran yang selanjutnya dipakai menjami'kan dan memani'kan.

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 08, 2008, 01:52:25 am
sebetulnya ada beberapa lagi kerancuan mas..tapi kalau saya menuliskan, konsekwensinya saya harus menuliskan pemahaman mantiq juga. seperti masalah jins qariib dan syarat2 lain yang belum saya sebutkan...karena jika saya menuliskan sepotong sepotong, itu namanya saya bicara sendiri. bukan diskusi....maka harus lengkap dan memahamkan...dan itu sangat melelahkan... :(( :(( :(( :(( :((
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dhani pada April 08, 2008, 11:16:37 am
Aswrwb. lansung nikah aja jek!!!!! :) :) :)

Kagak usah pake pacaran segala!!!!
 :cool: :cool: :cool:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 08, 2008, 11:21:55 am
Tetapi 'mengharamkan'/menyatakan 'tidak boleh' sangat berbeda dengan menyatakan 'sebaiknya jangan'.
sepakat.. dan inilah sebenarnya letak persoalan yang membedakan cara pandang mas zikrulqulub dengan saya atwpun mas fahmie

yakin?
bagaimana dengan 'pertunangan' :D
dalam English, engagement cukup sering dianggap sebagai 'versi modern' dari courtship. (Pacaran serius, diikat pertunangan, dan hampir dipastikan menuju jenjang perkawinan). .......heheheh lagi lagi masalah bahasa... :p
sudah dijelaskan mas fahmie tuh..
saya cuma nambahkan..
kalo pertunangan/engagement dalam Islam (mungkin) setara maknanya dengan khitbah
khitbah itu sudah punya nilai hukum dalam Islam..
misalnya.. seseorang yang sudah dikhitbah tidak boleh lagi dikhitbah orang lain.. ini adalah hukum yang diakui dalam Islam
sementara seseorang yang sudah dipacari tidak boleh lagi dipacari oleh orang lain menurut saya sih itu sifatnya normatif, tidak sampe pada tataran hukum

jika seseorang sudah diikat dalam khitbah kemudiah bermaksud membatalkannya, itu juga harus memenuhi kaidah syar'i (sesuai syariat, ada sebab2 yang dibolehkan oleh syariat, diluar itu dinilai berdosa)
sementara kalo mutusin pacar khan relatif tidak ada konsekuensinya secara hukum, paling2 beban moral  :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 08, 2008, 07:25:26 pm
Kutip
bukan sebuah masalah
justru disitulah letak guna diskusi
untuk mengetahui dari sudut pandang lain
ga mas..cara pandang saya dan anda sangant berbenturan. kalau saya menggunakan mantiq untuk mengetahui definisi, maka definisi anda bathil menurut mantiq.. dan ini hanya akan mengacaukan suasana tanpa ada kesepakatan nantinya. ada beberapa syarat dalam mantiq untuk kevalidan sebuah definisi.
masalahnya? tidak ada.
Sudut pandang saya (sains) juga memiliki syarat. Syarat yang menjadi batasan.

Cara pandang anda berbeda dari saya, so what?
jika anda mampu menghargai perbedaan, hasilnya mungkin hanya 'sepakat untuk tidak sepakat'

Lagipula saya tidak merasa perlu mengirimkan bom nuklir ke anda atas alasan perbedaan pandangan.

Kacau atau tidak suasana sepenuhnya di tangan anda. Dari bagaimana anda menghargai pendapat orang lain.

Kutip
Kutip
yakin?
bagaimana dengan 'pertunangan' Nyengir
dalam English, engagement cukup sering dianggap sebagai 'versi modern' dari courtship. (Pacaran serius, diikat pertunangan, dan hampir dipastikan menuju jenjang perkawinan). .......heheheh lagi lagi masalah bahasa...

logika anda sangat baik..tapi pincang. artinya, itu penqiyasan ma'al fariq. kalau anda mengatakan tunangan dg pacaran, itu tidak benar.dalam islam istilah tunangan itu mustaqil. dan itu ta'abbudy, alias tidak bisa dilogikakan pada peletakan makna lain padanya. tunangan bahasa arabnya itu khitbah, ada rukun dan syarat juga dalam khitbah itu.

Ada beberapa hal yang sifatnya ta'abbudi dalam islam yang tidak bisa dipecahkan hakikat serta hikmahnya oleh ulama. bahkan oleh para pembesar mantiq sekalipun seperti imam ghazali.

masalah ta'abudi adakalanya pada penamaan, seperti "khitbah" tadi yang saya sebutkan. anda tidak bisa menamakan sesuatu yang lain, dg nama khitbah, jika itu memang bukan khitbah. karena seperti saya bilang diatas, dalam khitbah ada syarat tertentu yang harus dipenuhi.

adapun jika mufti memfatwakan bolehnya khitbah, itu bukanlah pembolehan pacaran. ada banyak hadis yang berbicara tentang khitbah. dan itu memang masyru' filwadh'. serta memang sudah ada hukum tersendiri yang mengatur khitbah.

karena istilah pacaran dalam islam sendiri sampai sekarang masih majhul, disebabkan banyaknya pendapat, walhasil, pacaran itu sendiri, dan khitbah itu lain lagi.

silahkan dilanjut diskusinya.

Menyamakan tunangan dengan pacaran.
Tunangan, Bahasa Indonesia
Pacaran, Bahasa Indonesia
Dalam menghakimi pincang-tidaknya pendapat tsb, anda harus melakukannya dalam Bahasa Indonesia(id).
Jika anda melakukan penghakiman dalam Bahasa Arab, anda harus mentranslasikan kedua kata tsb ke dalam Bahasa Arab, tidak hanya salah satunya saja.

Saya menyamakan dalam English dengan menterjemahkan keduanya ke English. Courtship(en) dengan engagement(en), Tidak hanya salah satunya saja.



yakin?
bagaimana dengan 'pertunangan' :D
dalam English, engagement cukup sering dianggap sebagai 'versi modern' dari courtship. (Pacaran serius, diikat pertunangan, dan hampir dipastikan menuju jenjang perkawinan). .......heheheh lagi lagi masalah bahasa... :p
sudah dijelaskan mas fahmie tuh..
saya cuma nambahkan..
kalo pertunangan/engagement dalam Islam (mungkin) setara maknanya dengan khitbah
khitbah itu sudah punya nilai hukum dalam Islam..
misalnya.. seseorang yang sudah dikhitbah tidak boleh lagi dikhitbah orang lain.. ini adalah hukum yang diakui dalam Islam
sementara seseorang yang sudah dipacari tidak boleh lagi dipacari oleh orang lain menurut saya sih itu sifatnya normatif, tidak sampe pada tataran hukum

jika seseorang sudah diikat dalam khitbah kemudiah bermaksud membatalkannya, itu juga harus memenuhi kaidah syar'i (sesuai syariat, ada sebab2 yang dibolehkan oleh syariat, diluar itu dinilai berdosa)
sementara kalo mutusin pacar khan relatif tidak ada konsekuensinya secara hukum, paling2 beban moral  :p
ada perbedaan budaya
di negara saya, voorstel(lamaran) bisa dilakukan sebagai inisiasi 'pacaran', maupun 'pertunangan', dengan maupun tanpa pendampingan keluarga.

di Indonesia, setahu saya lamaran untuk menjadi 'pacar' biasanya dilakukan secara personal, dan lamaran 'perkawinan' dilakukan dengan didampingi keluarga.
Jadi konteks inisiasi 'pacaran' dan 'pertunangan' memang lebih banyak berbeda dalam kultur Indonesia.

Inisiasi berbeda.
Bagaimana dengan isi
adakah perbedaan dalam apa yang dilakukan dalam 'pacaran', dengan apa yg dilakukan dalam 'pertunangan'(ex: jika saya bisa berzina saat pacaran, bisakah saya melakukannya dalam pertunangan?). Pembahasan berpusat pada halal-haram, yang paling utama adalah menilai apa apa saja yang dilakukan.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 08, 2008, 08:20:25 pm
Kutip
masalahnya? tidak ada.
Sudut pandang saya (sains) juga memiliki syarat. Syarat yang menjadi batasan.

Cara pandang anda berbeda dari saya, so what?
jika anda mampu menghargai perbedaan, hasilnya mungkin hanya 'sepakat untuk tidak sepakat'

Lagipula saya tidak merasa perlu mengirimkan bom nuklir ke anda atas alasan perbedaan pandangan.

Kacau atau tidak suasana sepenuhnya di tangan anda. Dari bagaimana anda menghargai pendapat orang lain.
justru karena saya menghargai pendapat anda itulah lebih baik saya lepas tangan untuk masalah definisi.

maka saya tidak lagi dg memperuncing masalh hanya karena perbedaan saya tidak sepaham dg anda dg mempresentasikan definisi saya dari sudut pandang yang saya pakai.

Kutip
Menyamakan tunangan dengan pacaran.
Tunangan, Bahasa Indonesia
Pacaran, Bahasa Indonesia
Dalam menghakimi pincang-tidaknya pendapat tsb, anda harus melakukannya dalam Bahasa Indonesia(id).
Jika anda melakukan penghakiman dalam Bahasa Arab, anda harus mentranslasikan kedua kata tsb ke dalam Bahasa Arab, tidak hanya salah satunya saja.

Saya menyamakan dalam English dengan menterjemahkan keduanya ke English. Courtship(en) dengan engagement(en), Tidak hanya salah satunya saja.

siapa bilang ? dari dakwaan anda pada saya tentunya anda mau menganggap bahwa :
1. tunangan Mungkin saja sama dg pacaran dalam bahasa arab
2. bahwa tunangan dan pacaran itu sama maksudnya dalam bahasa indonesia.

Untuk yang nomor 1, jelas tidak ( seperti yang saya bilang pertama kali ).. yang nomor 2, sekarang dari sudut pandang mana anda menganggap bahwa tunangan dan pacaran itu sama ? simple saja saya ingin katakan pada anda....tunangan menurut pemahaman anda apa ? saya ga minta dijawab berdasarkan translasi anda. karena itu namanya pengertian bahasa. bukan istilah...

Kutip
ada perbedaan budaya
di negara saya, voorstel(lamaran) bisa dilakukan sebagai inisiasi 'pacaran', maupun 'pertunangan', dengan maupun tanpa pendampingan keluarga.

di Indonesia, setahu saya lamaran untuk menjadi 'pacar' biasanya dilakukan secara personal, dan lamaran 'perkawinan' dilakukan dengan didampingi keluarga.
Jadi konteks inisiasi 'pacaran' dan 'pertunangan' memang lebih banyak berbeda dalam kultur Indonesia.

Lamaran personal ? saya melihat anda mengartikan tunangan secara bahasa...bukan istilah. saya sangkutkan dg pernyatan anda di depan, bahwa mufti kadang memfatwakan bolehnya tunannagn yang anda anggap sama dg pacaran....lalu anda menganggap yang dimaksud mufti adalah pacaran ?

Kutip
Inisiasi berbeda.
Bagaimana dengan isi
adakah perbedaan dalam apa yang dilakukan dalam 'pacaran', dengan apa yg dilakukan dalam 'pertunangan'(ex: jika saya bisa berzina saat pacaran, bisakah saya melakukannya dalam pertunangan?). Pembahasan berpusat pada halal-haram, yang paling utama adalah menilai apa apa saja yang dilakukan.

tapi pada awal mula terjadinya pertunangan...harus ada syarat-syarat yang tidak boleh tidak agar tercipta nama tunangan. dan syarat itu bersifat ta'abbudy. ( entah anda bisa menangkap maksud saya atau tidak )

sangat sederhana...apakah saya dan x misalkan, sedang pacaran ( dalam pemahaman kita )..apakah lantas bisa disebut tunangan. saya kira tidak, begitu juga anda dan semua orang disini.

karena kita bicara tentang tunangan dari hukum islam, bukan dari bahasa indonesia. memang benar tunangan adalh bahasa indonesia, tapi praktek yang ada adalah mengikuti petunjuk nash nash resmi sunah nabi.

sebenarnya anda itu terlalu mempersulit sesuatu yang tidak seharusnya dibuat sulit.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 08, 2008, 08:56:40 pm
Kutip
Menyamakan tunangan dengan pacaran.
Tunangan, Bahasa Indonesia
Pacaran, Bahasa Indonesia
Dalam menghakimi pincang-tidaknya pendapat tsb, anda harus melakukannya dalam Bahasa Indonesia(id).
Jika anda melakukan penghakiman dalam Bahasa Arab, anda harus mentranslasikan kedua kata tsb ke dalam Bahasa Arab, tidak hanya salah satunya saja.

Saya menyamakan dalam English dengan menterjemahkan keduanya ke English. Courtship(en) dengan engagement(en), Tidak hanya salah satunya saja.

siapa bilang ? dari dakwaan anda pada saya tentunya anda mau menganggap bahwa :
1. tunangan Mungkin saja sama dg pacaran dalam bahasa arab
2. bahwa tunangan dan pacaran itu sama maksudnya dalam bahasa indonesia.

Untuk yang nomor 1, jelas tidak ( seperti yang saya bilang pertama kali ).. yang nomor 2, sekarang dari sudut pandang mana anda menganggap bahwa tunangan dan pacaran itu sama ? simple saja saya ingin katakan pada anda....tunangan menurut pemahaman anda apa ? saya ga minta dijawab berdasarkan translasi anda. karena itu namanya pengertian bahasa. bukan istilah...
"Periode waktu yang dimulai dari perencanaan(pernyataan atau persetujuan kedua-belah pihak) perkawinan, dan diakhiri saat event perkawinan."

Kutip
Kutip
ada perbedaan budaya
di negara saya, voorstel(lamaran) bisa dilakukan sebagai inisiasi 'pacaran', maupun 'pertunangan', dengan maupun tanpa pendampingan keluarga.

di Indonesia, setahu saya lamaran untuk menjadi 'pacar' biasanya dilakukan secara personal, dan lamaran 'perkawinan' dilakukan dengan didampingi keluarga.
Jadi konteks inisiasi 'pacaran' dan 'pertunangan' memang lebih banyak berbeda dalam kultur Indonesia.

Lamaran personal ? saya melihat anda mengartikan tunangan secara bahasa...bukan istilah. saya sangkutkan dg pernyatan anda di depan, bahwa mufti kadang memfatwakan bolehnya tunannagn yang anda anggap sama dg pacaran....lalu anda menganggap yang dimaksud mufti adalah pacaran ?

Justru tidak ada pemahaman secara bahasa disitu. Yang saya tulis adalah dari sisi 'siapa melakukan apa'(saat inisiasi)=> apakah A sendiri melakukan pelamaran, atau A didampingi keluarganya.

Kutip
Kutip
Inisiasi berbeda.
Bagaimana dengan isi
adakah perbedaan dalam apa yang dilakukan dalam 'pacaran', dengan apa yg dilakukan dalam 'pertunangan'(ex: jika saya bisa berzina saat pacaran, bisakah saya melakukannya dalam pertunangan?). Pembahasan berpusat pada halal-haram, yang paling utama adalah menilai apa apa saja yang dilakukan.

tapi pada awal mula terjadinya pertunangan...harus ada syarat-syarat yang tidak boleh tidak agar tercipta nama tunangan. dan syarat itu bersifat ta'abbudy. ( entah anda bisa menangkap maksud saya atau tidak )
inisiasi/initiation/awalan. (sudah saya tulis diatas)

Kutip
sangat sederhana...apakah saya dan x misalkan, sedang pacaran ( dalam pemahaman kita )..apakah lantas bisa disebut tunangan. saya kira tidak, begitu juga anda dan semua orang disini.
Jika anda dan X misalnya, telah bertunangan, bisa disebut pacaran?

Kutip
karena kita bicara tentang tunangan dari hukum islam, bukan dari bahasa indonesia. memang benar tunangan adalh bahasa indonesia, tapi praktek yang ada adalah mengikuti petunjuk nash nash resmi sunah nabi.
Anda mentranslasikan khitbah ke tunangan, tunangan bisa ditranslasikan ke engagement/courtship, courtship bisa ditranslasikan ke pacaran.

Disini anda berdiskusi dengan saya, seorang yang hanya menghabiskan waktu luang.
bagaimana jika anda berdebat dengan seorang ahli bahasa, di depan orang orang yang tidak paham agama.
Bagaimana anda menjelaskan bahwa pertunangan berbeda makna dengan pacaran. Dan, apakah memang berbeda? Apakah tidak hanya pikiran anda yang sudah terdoktrin bahwa 'semua pacaran tidak memiliki syarat, hanya khitbah ditempelkan syarat(islam)'?

Kutip
sebenarnya anda itu terlalu mempersulit sesuatu yang tidak seharusnya dibuat sulit.
Itu opini anda, saya tidak menganggapnya demikian.
Sederhana
Kunci ada pada kalimat "Pacaran yang seperti apa?"
Saat saya melamar seorang gadis, dan tidak menyebutnya sebagai pertunangan, melainkan pacaran biasa, so what?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 08, 2008, 10:14:38 pm
di Indonesia, setahu saya lamaran untuk menjadi 'pacar' biasanya dilakukan secara personal, dan lamaran 'perkawinan' dilakukan dengan didampingi keluarga.
Jadi konteks inisiasi 'pacaran' dan 'pertunangan' memang lebih banyak berbeda dalam kultur Indonesia.
betul

Inisiasi berbeda.
Bagaimana dengan isi
adakah perbedaan dalam apa yang dilakukan dalam 'pacaran', dengan apa yg dilakukan dalam 'pertunangan'(ex: jika saya bisa berzina saat pacaran, bisakah saya melakukannya dalam pertunangan?). Pembahasan berpusat pada halal-haram, yang paling utama adalah menilai apa apa saja yang dilakukan.
bisa.. semua hal yang bisa dilakukan pada saat pacaran bisa juga dilakukan pada saat masa pertunangan.. pada masa itu (khitbah/tunangan) meskipun sudah ada komitmen tapi tetap belum sah, sama seperti pacaran.. kalo ga ada kontrol dari masing2 pihak ya jatuhnya bisa juga sampe berzina..
sederhananya ya (dilihat dari pembahasan definisi, bukan substansi hukumnya).. masa khitbah itu adalah masa pacaran yang dilegal-formalkan dan punya konsekuensi hukum dalam Islam..
dari segi isi bisa sama dengan pacaran.. hanya mungkin dikemas dengan cara yang berbeda dengan pacaran..
khitbah merupakan suatu komitmen untuk mengambil langkah pasti menuju jenjang pernikahan
sementara pacaran sejauh pengetahuan saya (untuk penerapan di Indonesia) seringkali tidak menetapkan target (dijalanin aja.. nikahnya ga tau kapan.. yang penting have fun dulu). Tentu saya berpendapat begini juga tidak mengabaikan ada juga orang yang serius pacaran untuk penjajakan menuju kehidupan pernikahan.. tapi demikianlah umumnya pacaran gaya remaja di Indonesia.
jadi kalo kemudian masa pacaran disamakan dengan masa khitbah/tunangan nanti bisa salah kaprah memahaminya..
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 09, 2008, 12:14:19 am
Kutip
Menyamakan tunangan dengan pacaran.
Tunangan, Bahasa Indonesia
Pacaran, Bahasa Indonesia
Dalam menghakimi pincang-tidaknya pendapat tsb, anda harus melakukannya dalam Bahasa Indonesia(id).
Jika anda melakukan penghakiman dalam Bahasa Arab, anda harus mentranslasikan kedua kata tsb ke dalam Bahasa Arab, tidak hanya salah satunya saja.

Saya menyamakan dalam English dengan menterjemahkan keduanya ke English. Courtship(en) dengan engagement(en), Tidak hanya salah satunya saja.

siapa bilang ? dari dakwaan anda pada saya tentunya anda mau menganggap bahwa :
1. tunangan Mungkin saja sama dg pacaran dalam bahasa arab
2. bahwa tunangan dan pacaran itu sama maksudnya dalam bahasa indonesia.

Untuk yang nomor 1, jelas tidak ( seperti yang saya bilang pertama kali ).. yang nomor 2, sekarang dari sudut pandang mana anda menganggap bahwa tunangan dan pacaran itu sama ? simple saja saya ingin katakan pada anda....tunangan menurut pemahaman anda apa ? saya ga minta dijawab berdasarkan translasi anda. karena itu namanya pengertian bahasa. bukan istilah...
"Periode waktu yang dimulai dari perencanaan(pernyataan atau persetujuan kedua-belah pihak) perkawinan, dan diakhiri saat event perkawinan."

Kutip
Kutip
ada perbedaan budaya
di negara saya, voorstel(lamaran) bisa dilakukan sebagai inisiasi 'pacaran', maupun 'pertunangan', dengan maupun tanpa pendampingan keluarga.

di Indonesia, setahu saya lamaran untuk menjadi 'pacar' biasanya dilakukan secara personal, dan lamaran 'perkawinan' dilakukan dengan didampingi keluarga.
Jadi konteks inisiasi 'pacaran' dan 'pertunangan' memang lebih banyak berbeda dalam kultur Indonesia.

Lamaran personal ? saya melihat anda mengartikan tunangan secara bahasa...bukan istilah. saya sangkutkan dg pernyatan anda di depan, bahwa mufti kadang memfatwakan bolehnya tunannagn yang anda anggap sama dg pacaran....lalu anda menganggap yang dimaksud mufti adalah pacaran ?

Justru tidak ada pemahaman secara bahasa disitu. Yang saya tulis adalah dari sisi 'siapa melakukan apa'(saat inisiasi)=> apakah A sendiri melakukan pelamaran, atau A didampingi keluarganya.

Kutip
Kutip
Inisiasi berbeda.
Bagaimana dengan isi
adakah perbedaan dalam apa yang dilakukan dalam 'pacaran', dengan apa yg dilakukan dalam 'pertunangan'(ex: jika saya bisa berzina saat pacaran, bisakah saya melakukannya dalam pertunangan?). Pembahasan berpusat pada halal-haram, yang paling utama adalah menilai apa apa saja yang dilakukan.

tapi pada awal mula terjadinya pertunangan...harus ada syarat-syarat yang tidak boleh tidak agar tercipta nama tunangan. dan syarat itu bersifat ta'abbudy. ( entah anda bisa menangkap maksud saya atau tidak )
inisiasi/initiation/awalan. (sudah saya tulis diatas)

Kutip
sangat sederhana...apakah saya dan x misalkan, sedang pacaran ( dalam pemahaman kita )..apakah lantas bisa disebut tunangan. saya kira tidak, begitu juga anda dan semua orang disini.
Jika anda dan X misalnya, telah bertunangan, bisa disebut pacaran?

Kutip
karena kita bicara tentang tunangan dari hukum islam, bukan dari bahasa indonesia. memang benar tunangan adalh bahasa indonesia, tapi praktek yang ada adalah mengikuti petunjuk nash nash resmi sunah nabi.
Anda mentranslasikan khitbah ke tunangan, tunangan bisa ditranslasikan ke engagement/courtship, courtship bisa ditranslasikan ke pacaran.

Disini anda berdiskusi dengan saya, seorang yang hanya menghabiskan waktu luang.
bagaimana jika anda berdebat dengan seorang ahli bahasa, di depan orang orang yang tidak paham agama.
Bagaimana anda menjelaskan bahwa pertunangan berbeda makna dengan pacaran. Dan, apakah memang berbeda? Apakah tidak hanya pikiran anda yang sudah terdoktrin bahwa 'semua pacaran tidak memiliki syarat, hanya khitbah ditempelkan syarat(islam)'?

Kutip
sebenarnya anda itu terlalu mempersulit sesuatu yang tidak seharusnya dibuat sulit.
Itu opini anda, saya tidak menganggapnya demikian.
Sederhana
Kunci ada pada kalimat "Pacaran yang seperti apa?"
Saat saya melamar seorang gadis, dan tidak menyebutnya sebagai pertunangan, melainkan pacaran biasa, so what?

Oh gt...saya baru menangkap maksud anda setelah ada penjelasan dari mas arif ( maklum ga prnah ubek-ubek dg bahasa inggris ).... ;D ;D ;D mohon maklum...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 09, 2008, 08:57:07 pm
masa khitbah itu adalah masa pacaran yang dilegal-formalkan dan punya konsekuensi hukum dalam Islam..
setuju, dari sisi Islam.
dari sisi hukum negara,
Di Eropa dahulu pernah ada(perlindungan/pengaturan negara atas courtship). Sekarang tidak lagi.
Di Indonesia? Adakah perlindungan negara terhadap pertunangan? (kaitan dengan kata 'pacaran') => tidak perlu dibahas karena memang tidak ada, dan tidak sedang membahas hukum negara.

Kutip
dari segi isi bisa sama dengan pacaran.. hanya mungkin dikemas dengan cara yang berbeda dengan pacaran..
khitbah merupakan suatu komitmen untuk mengambil langkah pasti menuju jenjang pernikahan
sementara pacaran sejauh pengetahuan saya (untuk penerapan di Indonesia) seringkali tidak menetapkan target (dijalanin aja.. nikahnya ga tau kapan.. yang penting have fun dulu). Tentu saya berpendapat begini juga tidak mengabaikan ada juga orang yang serius pacaran untuk penjajakan menuju kehidupan pernikahan.. tapi demikianlah umumnya pacaran gaya remaja di Indonesia.
Komitmen adalah urusan hati
tidak diketahui pasti kecuali oleh individu pemilik hati. Tidak ada jaminan seseorang yang bertunangan selalu memiliki komitmen lebih dibanding yg berpacaran. Khususnya perempuan :p (biasanya perempuan yg berpacaran menganggap hubungannya sudah seserius pertunangan).

Secara umum perbedaan yang jelas terlihat hanya dari sisi perlindungan hukum(islam). perbedaan lain mungkin dapat dinyatakan tidak ada, kecuali jika ingin mengambil sample satu-satu.

Kutip
jadi kalo kemudian masa pacaran disamakan dengan masa khitbah/tunangan nanti bisa salah kaprah memahaminya..
selama kosa kata-nya 'hanya itu' kesamaan akan terus ada.
entah disukai atau tidak.
Judul: Relatifely perspective of the words is responsible response or not?
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 09, 2008, 09:18:12 pm
Duhhh... kapan lagi diskusinya... :102: :102:
Sudahlah lebih baik kita samakan aja definsinya dengan definisi paling sederhana. :-*
Seperti yang dikatakan oleh Kang fahmie bahwa pacaran adalah "ooh... itu."  :D :D
Ngapain di persulit. Emang lagi pada di suruh sama dosennya buat makalah untuk mendefinisikan pacaran ya? ;D  :))
Duhh... Pee Er deh  :))
Afwan :-j
 
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 11, 2008, 02:30:53 am
ehm...gini aja mas"??".., kita ikut definisi anda aja...tapi jangan lupa, anda tuliskn deinisi menurut anda, lalu batasan batasannya dijelasin biar jelas. Ok..? gimana mas arif budiman dan mas zikirulqulub ?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: najzwa pada April 11, 2008, 09:36:59 am
waahhh.... thread yang bener2 'hot'....  ;;)

tapi kok aku blm bisa menyimpulkan yah... aku jadi bingung  :-/

sekarang aku nanya pertanyaan yang simpel n krusial :

"menurut islam, pacaran boleh atau nggak ?"

.....
ps = mohon dijawab singkat aja, iya atau nggak, kalaupun ingin menambahkan alasan, tolong yah dibuat singkat sesingkat-singkatnya. intisarinya aja, essensi nya aja
jgn yg memancing perdebatan lagi  %-(

dan kudu aku garis bawahi.... dalam menjawab pertanyaan ini tolong berpikir dari kacamata 'orang awam'..
....yah, di luar konteks definisi 'pacaran' yg beda2, ataupun pemahaman2 yg beda2...

maksut saya.... saya yakin klo 'para ahli2' yang sdh berdebat panjang lebar, yg punya bekal agama yg cukup kuat, pemahaman yg cukup kuat....tentu beda dong dgn " orang awam"

memangnya bisa kita sederhanakan klo pacaran itu fine2 aja...?
apa kita yakin "orang lain -awam (red) " bisa memaknai hal tersebut,,, sama halnya dgn " para ahli2" kita memaknainya??

lhaa...kok malah saya yg jadi panjang lebar...
hoho...buat " orang awam" muaaf.... maksutnya bukan anda koook...  :D

udah....
silakan dijawab.....singkat

nuhun.....   ;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 11, 2008, 10:08:22 am
Komitmen adalah urusan hati
tidak diketahui pasti kecuali oleh individu pemilik hati. Tidak ada jaminan seseorang yang bertunangan selalu memiliki komitmen lebih dibanding yg berpacaran. Khususnya perempuan :p (biasanya perempuan yg berpacaran menganggap hubungannya sudah seserius pertunangan).
betul
memang tidak ada jaminan untuk masalah hati
bahkan yang tinggal tunggu akad nikah (setelah khitbah), bisa aja terjadi tiba2 calon laki2-nya menghilang dan ga muncul pas hari H (berdasarkan kisah nyata..)
tapi dari kacamata umum kita bisa menilai (terutama untuk kultur masyarakat Indonesia), mana yang lebih serius dan punya komitmen untuk menikah.. orang yang mengajukan proposal khitbah atw yang mengajukan "proposal" untuk jadi pacar..

Secara umum perbedaan yang jelas terlihat hanya dari sisi perlindungan hukum (islam). perbedaan lain mungkin dapat dinyatakan tidak ada, kecuali jika ingin mengambil sample satu-satu.
sepakat

jadi kalo kemudian masa pacaran disamakan dengan masa khitbah/tunangan nanti bisa salah kaprah memahaminya..
selama kosa kata-nya 'hanya itu' kesamaan akan terus ada.
entah disukai atau tidak.
memang
tapi dengan begitu kita paham bahwa hal tersebut tidak bisa digeneralisasi maknanya
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 11, 2008, 10:57:40 am
sekarang aku nanya pertanyaan yang simpel n krusial :
"menurut islam, pacaran boleh atau nggak ?"
saya rasa kalo kita sepakat bahwa "pacaran" adalah sebuah "kontainer" yang didalamnya bisa berisi berbagai macam aktivitas (dari yang madharat sampe yang ada manfaatnya), maka untuk mengatakan pacaran itu boleh/mubah atau nggak/haram, perlu dijabarkan dulu aktivitas2 apa saja yang akan dilakukan pada saat pacaran.

tapi kalo menurut pendapat saya, meskipun aktivitas yang dilakukan "hanya" telpon2-an, sms-an, juga menghindari khalwat dan tidak pernah saling bersentuhan.. selama target untuk menikah belum ditetapkan, apalagi hubungan tersebut tidak melibatkan orangtua kedua belah pihak, secara pribadi saya akan mengatakan "sebaiknya jangan dilakukan"..

disisi lain, jika memang ada yang menilai pacaran itu haram apapun bentuk aktivitasnya, perlu lebih bijak dalam memberikan nasihat kepada pelakunya.. karena pacaran suka atw tidak suka sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat.  Al-Quran dalam mengkonfrontasi suatu persoalan yang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat adalah dengan melalui bimbingan secara bertahap, contohnya bimbingan terkait dengan larangan khamr dimulai dengan:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.. [Al-Baqarah (2): 219]

selanjutnya mulai diberikan batasan supaya tidak minum pada waktu2 yang dekat dengan shalat 5 waktu:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan [An-Nisaa (4): 43]

baru setelah dirasa masyarakat siap untuk menerimanya maka turun ayat yang secara eksplisit melarang khamr:

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) [Al-Maa'idah (5): 91]

dalam diskusi disini saya rasa kita perlu bijak juga dalam menghadapi para pelaku pacaran.. ga langsung asal tuding "haram".. karena tingkat ilmu dan keimanan dari masing2 ga sama..
saya rasa pake metode bimbingan secara bertahap akan lebih mudah diterima oleh yang bersangkutan.

wallahu a'lam

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: wied pada April 11, 2008, 11:03:26 am
@mas arif

Untuk yang dari tafsir alkabirnya arrazi..terjemah bebasnya : ghaddulbashar itu masalah furu' saja. sedangkan konsekwensi masalh furu', adalah mahallul khilaf( tempatnya khilaf ).

saya sebutkan kurang lebihnya khilaf mengenai ghaddul bashar seingat saya ( jika salah diingatkan karena saya tidak lihat kitab ) :

1. Ada ulama yang mengatakan batasan ghaddul bashar itu adalah pada pandangan kedua. ini jika pandangan yang pertama tidak disengaja. sehingga ketika melihat dg pandangan yang kedua, itu sudah berdosa.

2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

3. pendapat yang mengatakan bolehnya melihat perempuan non muhrim dg mutlak, tapi jika tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ). artinya, sepanjang memandangnya itu untuk mu'amalah misalkan, atau keperluan apapun, dan itu tidak tasyaddud, maka itu boleh-boleh saja.

Nah inilah gambaran khilaf mengenai ghaddulbashar. jadi itu bukan sesuatu yang mutlak batasannya yaitu tidak boleh sama sekali melihat perempuan. tapi ini makhallul khilaf. saya harap mas zikirulqulub bisa lebih bijak dalam melihat persoalan.

 

saya rasa yang diatas sudah cukup jelas untuk menentukan boleh dan tidaknya pacaran..
Pacaran/Tunangan bisa boleh dan bisa tidak.
bila pacaran/tunangan bisa menjurus kearah mendekati zina sudah barang tentu tidak boleh, tapi jika pacaran/tunangan tidak diikuti atau tidak mengarah ke mendekati zina tentu boleh..

walau sudah pacaran/tunangan tetep tidak boleh memandang pasangannya yang dibarengi dengan menikmati keindahannya..
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 11, 2008, 12:35:01 pm
@mas arif

Untuk yang dari tafsir alkabirnya arrazi..terjemah bebasnya : ghaddulbashar itu masalah furu' saja. sedangkan konsekwensi masalh furu', adalah mahallul khilaf( tempatnya khilaf ).

saya sebutkan kurang lebihnya khilaf mengenai ghaddul bashar seingat saya ( jika salah diingatkan karena saya tidak lihat kitab ) :

1. Ada ulama yang mengatakan batasan ghaddul bashar itu adalah pada pandangan kedua. ini jika pandangan yang pertama tidak disengaja. sehingga ketika melihat dg pandangan yang kedua, itu sudah berdosa.

2. Ada juga Ulama yang tasyaddud ( memberatkan ) dalam hal ini, yaitu dilarang sama sekali melihat  perempuan yang bukan mahram. saya kira pendapat ini yang dipakai mas zikirulqulub.

3. pendapat yang mengatakan bolehnya melihat perempuan non muhrim dg mutlak, tapi jika tidak dibarengi taladzudz ( menikmati ). artinya, sepanjang memandangnya itu untuk mu'amalah misalkan, atau keperluan apapun, dan itu tidak tasyaddud, maka itu boleh-boleh saja.

Nah inilah gambaran khilaf mengenai ghaddulbashar. jadi itu bukan sesuatu yang mutlak batasannya yaitu tidak boleh sama sekali melihat perempuan. tapi ini makhallul khilaf. saya harap mas zikirulqulub bisa lebih bijak dalam melihat persoalan.

 

saya rasa yang diatas sudah cukup jelas untuk menentukan boleh dan tidaknya pacaran..
Pacaran/Tunangan bisa boleh dan bisa tidak.
bila pacaran/tunangan bisa menjurus kearah mendekati zina sudah barang tentu tidak boleh, tapi jika pacaran/tunangan tidak diikuti atau tidak mengarah ke mendekati zina tentu boleh..

walau sudah pacaran/tunangan tetep tidak boleh memandang pasangannya yang dibarengi dengan menikmati keindahannya..

Jawab:
Yee... itumah bukan pacaran kali. Itu mungkin teman sepersaudaraan. :D

Janganlah kita berada di tepi, karena cenderung kita akan terjatuh.
Sekarang mungkin tidak "berzinah" tetapi kita harus tahu kemanakah kita nantinya dibawa oleh musuh nyata kita. ;) ;) ;)

Jadilah Islam yang Kaffah(seluruhnya) :great: :great: :great:


Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 11, 2008, 03:13:31 pm
@teh najzwa
saat ini memang belom ada yang bisa disimpulkan selain kita belum sepakat tentang definisi pacaran. seandainya menyatakan pacaran hanya berdasarkan "oh, itu.." saja maka itu sifatnya hanya personal dan tidak ilmiah.

pertanyaan yang sederhana belum tentu bisa dijawab secara sederhana dengan hanya "ya" atau "tidak".

permasalahan dari pertanyaan yang teteh kemukakan adalah :
apa yang dimaksud dengan pacaran di sini. apa saja batasan-batasannya. seperti apa saja aktivitasnya. itulah mengapa sulit bagi saya untuk menjawab secara sederhana pertanyaan teteh tanpa mendeskripsikan permasalahn tentang pacaran itu sendiri. sesuatu yang tidak bijak jika saya mengatakan pacaran itu halal dalam islam, karena saya tau bahwa didalam pikiran orang-orang kebanyakan, aktivitas pacaran sebagian besar adalah hal-hal yang melanggar aturan islam.

pacaran adalah bahasa indonesia (terlepas dari mana asal kata pacaran tersebut) maka kita perlu melihat arti pacaran dalam kamus besar bahasa indonesia, yang merupakan sumber valid dan ilmiah yang diakui di Indonesia.

arti pacaran menurut KBBI bisa dilihat di beberapa halaman ke belakang.

kalo hanya berdasarkan definisi tersebut, maka pacaran adalah sesuatu yang dibolehkan (belum terlihat halal-haramnya), namun jika menjawab pertanyaan dari teh nazwa dengan jawaban tersebut, masih ada permasalahn yang perlu dibahas, yaitu definisinya masih terlalu umum, walaupun dengan keumuman tersebut masih bisa dijadikan dasar pemikiran. karena dengan definisi berdasar KBBI, bisa muncul yang disebut pacaran islami (pacaran yang sesuai dengan aturan/nilai islam) dan pacaran non islami (dilihat dari sudut pandang seorang muslim)

tapi jika teteh memaksa untuk menjawab secara sederhana dan singkat, maka jawaban saya terhadap pertanyaan teteh adalah :
--->boleh, asal sesuai dengan syariat islam.

sederhana bukan? tapi pasti akan membuat kebingungan.


@kang sora
tuh... ditantang buat nulisin definisi pacaran yang kang sora pegang :D


@kang zikrulqulub
definisi kita masih berbeda, maka jangan membahas pacaran dulu
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada April 11, 2008, 05:14:13 pm
nyimak mode on:::

sambil nawarin pendingin aja deh...

cabe...cabe...

cabenya pak...
mumpung masih anget...

kompor...kompor...

kompornya bu...

:D

lanjuuuut...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 11, 2008, 05:24:05 pm
@kang zikrulqulub
silakan baca penjelasan yang saya tulis sebelum memberi jawaban dari pertanyaan teh najzwa
jawaban saya sangat retoris, karena apapun yang sesuai dengan syriat islam pasti boleh dan halal. ekstremnya, bid'ah asal sesuai dengan syariat islam pun boleh.

taukan apa yang dimaksud dengan syariat islam?


[OOT mode on]
@kang sai
punya golok ga kang? atau pistol :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 11, 2008, 05:35:11 pm
[OOT mode on]
@kang sai
punya golok ga kang? atau pistol :p
[OOT mode on]
sabar kang..
bunuh diri itu dosa besar lho  ;D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 11, 2008, 07:44:07 pm
Sedikit sulit mendefinisikan 'pacaran' dalam Bahasa Indonesia karena masalah kepemilikan makna ganda. Saya memilih English sebagai alat bantu tetapi tidak menutup digunakannya bahasa lain sebagai alat bantu selama kata yang digunakan jika ditranslasikan ke Bahasa Indonesia tetap menjadi 'pacaran'.

ehm...gini aja mas"??".., kita ikut definisi anda aja...tapi jangan lupa, anda tuliskn deinisi menurut anda, lalu batasan batasannya dijelasin biar jelas. Ok..? gimana mas arif budiman dan mas zikirulqulub ?
definisi yang sedikit lepas dari pemahaman literal tetapi saya anggap masih sesuai konteks adalah "hubungan antar sepasang manusia yang didasari oleh perasaan romantis dan dilakukan diluar batasan waktu perkawinan (bisa sebelum, sesudah, maupun diantara).


Batasan pacaran
pertama adalah waktu => dimulai dengan kesepakatan untuk membina hubungan romantis dan diakhiri dengan 'putus/break-off' atau perkawinan.

kedua adalah pasangan. Walau A bisa berpacaran dengan B,C,D,E sekaligus, yang dilihat secara internal adalah hubungan A dengan B, A dengan C, A dengan D, etc. Bukan     
 hubungan mereka secara berkelompok.

ketiga, manusia.

keempat, perasaan romantis.

Waktu berakhir (oleh perkawinan) dapat dimiliki oleh pacaran(dating) dan harus dimiliki oleh pacaran(courtship).

Pacaran(dating) dapat berlangsung selamanya tanpa diakhiri perkawinan tetapi pacaran(courtship) bersyarat diakhiri dengan perkawinan.

Hal-hal yang dapat dilakukan pada masa pacaran menurut opini saya tidak dapat dijadikan batasan karena hal hal tersebut tidak mensyaratkan pacaran untuk dapat dilakukan. i.e.: seseorang dapat berzina saat berpacaran, tetapi tidak harus berpacaran untuk dapat berzina dan tidak semua orang berpacaran pasti berzina.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 11, 2008, 07:58:29 pm
Komitmen adalah urusan hati
tidak diketahui pasti kecuali oleh individu pemilik hati. Tidak ada jaminan seseorang yang bertunangan selalu memiliki komitmen lebih dibanding yg berpacaran. Khususnya perempuan :p (biasanya perempuan yg berpacaran menganggap hubungannya sudah seserius pertunangan).
betul
memang tidak ada jaminan untuk masalah hati
bahkan yang tinggal tunggu akad nikah (setelah khitbah), bisa aja terjadi tiba2 calon laki2-nya menghilang dan ga muncul pas hari H (berdasarkan kisah nyata..)
tapi dari kacamata umum kita bisa menilai (terutama untuk kultur masyarakat Indonesia), mana yang lebih serius dan punya komitmen untuk menikah.. orang yang mengajukan proposal khitbah atw yang mengajukan "proposal" untuk jadi pacar..
Mungkin kita bisa sepakat bahwa jika tidak menggunakan perkawinan sebagai batasan(tidak merencanakan perkawinan) pacaran sebaiknya tidak dilakukan.
=> Saya sendiri tidak bisa melihat sisi positif dilakukannya pacaran tanpa keinginan untuk kawin.

Dari pengamatan saya, untuk masyarakat Indonesia(dan masyarakat lain), saya rasa yang sering terjadi adalah pertunangan dilakukan dalam masa pacaran.
Terlihat dari mereka bahwa keinginan untuk menikah sudah ada saat pacaran dimulai, tetapi karena 'beberapa' alasan perencanaan matang belum dapat dilakukan.
e.g. masih bersekolah, pendapatan finansial belum memadai, etc.
Setelah alasan hilang, baru perencanaan diputuskan untuk dimatangkan dengan pertunangan (seperti kapan, dimana, dan bagaimana perkawinan akan dilaksanakan).

Dapat terlihat bahwa sebenarnya keseriusan itu sudah ada, yang belum ada adalah detail pelaksanaan.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 13, 2008, 08:54:27 am
@kang zikrulqulub
silakan baca penjelasan yang saya tulis sebelum memberi jawaban dari pertanyaan teh najzwa
jawaban saya sangat retoris, karena apapun yang sesuai dengan syriat islam pasti boleh dan halal. ekstremnya, bid'ah asal sesuai dengan syariat islam pun boleh.

taukan apa yang dimaksud dengan syariat islam?


[OOT mode on]
@kang sai
punya golok ga kang? atau pistol :p

Jawab:
Wah maaf banget nih akhi. Tetapi yang namanya bid'ah ya tetap bid'ah, klo emang ada baik dari bid'ah berarti itu bukan bid'ah melainkan tuntunan Ibadah dan bukan berarti itu bid'ah.
Seperti naik motor, ada yang bilang itu bid'ah karena Rasulullah tidak pernah melakukannya, tetapi motor itu baik bagi kita, karena dengan motor kita mendapatkan waktu yang lebih efesien untuk menempuh jarak.
Itu mah bukan bid'ah, justru itu ibadah, karena kita menginginkan sesuatu  yang lebih baik lantaran kita belajar untuk menemukan yang baru. Jika seandainya Rasulullah hidup di jaman kita, saya yakin bahwa Beliau akan wajar-wajar saja untuk naik motor bahkan naik Jumbo Jet, masa' naik onta.  :D.
Nggak jaman lagi sekarang pakai onta, kecuali di Ragunan =))

Etth... udah deh jangan di larut-larut masalah ini, senang terima, tidak senang lebih baik diam, :-j  :-j atau kirim PM karena takunya nanti OOT. OK :great: :great:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 13, 2008, 09:20:46 am
nyimak mode on:::

sambil nawarin pendingin aja deh...

cabe...cabe...

cabenya pak...
mumpung masih anget...

kompor...kompor...

kompornya bu...

:D

lanjuuuut...


Akhi ini apa:
 :-c
 :-c
 :-c
 :-c

Ha Pe Deeeh................:))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ZikrulQulub pada April 13, 2008, 09:30:00 am
[OOT mode on]
@kang sai
punya golok ga kang? atau pistol :p
[OOT mode on]
sabar kang..
bunuh diri itu dosa besar lho  ;D

Pak Arief mungkin bukan buat bunuh diri kali, Mungkin saja pengen potong ayam buat di panggang dan dimakan rame-rame :D :D :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada April 13, 2008, 10:59:36 pm
Mungkin kita bisa sepakat bahwa jika tidak menggunakan perkawinan sebagai batasan (tidak merencanakan perkawinan) pacaran sebaiknya tidak dilakukan.
=> Saya sendiri tidak bisa melihat sisi positif dilakukannya pacaran tanpa keinginan untuk kawin.
ya.. saya sepakat dengan hal tersebut

Dari pengamatan saya, untuk masyarakat Indonesia (dan masyarakat lain), saya rasa yang sering terjadi adalah pertunangan dilakukan dalam masa pacaran.
Terlihat dari mereka bahwa keinginan untuk menikah sudah ada saat pacaran dimulai, tetapi karena 'beberapa' alasan perencanaan matang belum dapat dilakukan.
e.g. masih bersekolah, pendapatan finansial belum memadai, etc.
Setelah alasan hilang, baru perencanaan diputuskan untuk dimatangkan dengan pertunangan (seperti kapan, dimana, dan bagaimana perkawinan akan dilaksanakan).
I've a different point of view..
dari contoh di atas..
masih bersekolah = tidak siap menikah
pendapatan finansial belum memadai = tidak siap menikah
orang yang tidak siap menikah sebaiknya jangan "berpacaran"
setelah alasan/kendala hilang, starting point "pacaran" baru dimulai, direncanakan dan dimatangkan dengan khitbah/pertunangan, selanjutnya menikah.
alasannya.. diantaranya..
rencana2 yang diajukan pria kepada "pacar"-nya tanpa menetapkan target menikah (disebabkan berbagai alasan/kendala) bisa dijadikan sekedar dalih untuk mengikat hati sang wanita.. 
nasib sang wanita bisa saja tergantung-gantung seiring berjalannya waktu, sementara sang pria dengan 'enteng'-nya menjadikan alasan/kendala tsb untuk menunda-nunda terwujudnya ikatan yang sah.
salah satu bentuk "penyalahgunaan kepercayaan" yang sering terjadi  ;D

Dapat terlihat bahwa sebenarnya keseriusan itu sudah ada, yang belum ada adalah detail pelaksanaan.
indikator keseriusan menurut saya adalah sudah siap menikah
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 14, 2008, 06:23:47 pm
I've a different point of view..
dari contoh di atas..
masih bersekolah = tidak siap menikah
pendapatan finansial belum memadai = tidak siap menikah
orang yang tidak siap menikah sebaiknya jangan "berpacaran"
setelah alasan/kendala hilang, starting point "pacaran" baru dimulai, direncanakan dan dimatangkan dengan khitbah/pertunangan, selanjutnya menikah.
alasannya.. diantaranya..

Kutip
rencana2 yang diajukan pria kepada "pacar"-nya tanpa menetapkan target menikah (disebabkan berbagai alasan/kendala) bisa dijadikan sekedar dalih untuk mengikat hati sang wanita.. 
nasib sang wanita bisa saja tergantung-gantung seiring berjalannya waktu, sementara sang pria dengan 'enteng'-nya menjadikan alasan/kendala tsb untuk menunda-nunda terwujudnya ikatan yang sah.
salah satu bentuk "penyalahgunaan kepercayaan" yang sering terjadi  ;D
bisa...
bisa putus
bisa bercerai
bisa...
sesuatu yang bisa terjadi, tidak harus terjadi dan tidak pasti terjadi. Tidak semua orang melakukannya.

dahulu 'terbang' adalah sesuatu yang sangat beresiko. Melakukanyya sangat bisa membuat seseorang kehilangan nyawa
resiko
hidup adalah resiko
bahkan bangun dan bernafas adalah sebuah resiko
anda bisa menghirup udara terkontaminasi saat bernafas
apakah alasan tersebut dapat digunakan dalam pernyataan 'sebaiknya jangan bernafas'?

Kutip
Dapat terlihat bahwa sebenarnya keseriusan itu sudah ada, yang belum ada adalah detail pelaksanaan.
indikator keseriusan menurut saya adalah sudah siap menikah
(Menurut saya) ada perbedaan jauh antara keseriusan dengan kesiapan.
Seseorang yang serius belajar untuk menghadapi ujian. Belum tentu orang itu siap. Tetapi ia serius dalam mempersiapkan dirinya (supaya siap/menuju kesiapan, bukan sudah siap).

ps: starting point bisa dimulai dari mana saja
sepasang manusia yang dijodohkan dari lahir oleh orang tuanya juga dapat dikatakan sebagai sebuah starting point. Terlepas dari apa outcome-nya nanti.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 14, 2008, 07:04:47 pm
[OOT]
Saya tidak memiliki rahasia;
hm... gak punya rahasia ya... ;))
ya... memang bagi yang sudah tau itu bukanlah sebuah rahasia, tapi kalo yang belom tau tetep aja jadi rahasia
duh.... ngomong apa sih.. :p

so.... gimana nih... definisi pacarannya?
kan definisi saya yang diambil dari KBBI dianggap tidak valid (walaupun ada bebeapa alasan yang bisa menjadikannya valid), adakah definisi lain yang bisa mendekati kevalidan? atau benar2 valid.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 14, 2008, 10:49:30 pm
[OOT]
@kang zikrulqulub
untuk tau apa yang ada di balik tanda ??, akang perlu menginstall font bahasa jepang, saya lupa itu huruf kanji apa hiragana atau katakana atau shushi? lho....kok???

dan huruf itu dibaca sora artinya... maaf saya lupa-->bukn arti dari sora lho.... :D


dah donk oot nya.... kapan lanjut lagi diskusinya.....
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 14, 2008, 11:06:52 pm
hm.... kalo definisi pacaran hanya didasarkan pada perasaan "oh, itu" saja maka akan sangat luas batasan-batasannya, tergantung pemilik perasaan itu. dan karena itu, maka fatwa pacaran tidak bisa berlaku umum.

misalnya saja. bagi saya pacaran adalah aktivitas menyalurkan rasa cinta kepada hal lain (bisa hidup atau mati). maka say apun bisa mengatakan, "pacar saya adalah komputer". saya tidak menganggap pacaran itu harus berpegangan, atau berduaan, atau menjadi manusia romantis. apakah fatwa bahwa pacaran itu haram akan berlaku pula untuk saya? padahal saya sangat cinta dengan komputer saya.

menurut akang, apa sebutan bagi hubungan saya dengan komputer saya itu? tidak sahkah jika disebut pacaran?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 15, 2008, 06:57:48 am
Tetapi, kamu udah musrik yaa?. Masa cinta sama komputer :D :D :D
Cinta ALLah dunx :cool:
bercandakah anda? mempertanyakan kemusyrikan seseorang karena menyatakan diri mencintai komputer.
apakah kita tidak boleh mencintai sesuatu selain Allah Subhanahuwata'ala?
apakah kita hanya boleh berpacaran dengan Nya?


menurut akang, apa sebutan bagi hubungan saya dengan komputer saya itu? tidak sahkah jika disebut pacaran?
jika berdasar definisi akang, maka hubungan saya dengan komputer tidak bisa disebut pacaran


Nb:
Akh, saudara-saudara kita yang lain udah nggak sabar nih untuk mendengar diskusinya kita lagi, ayolah sebaiknya di percepat :D ,
Yaa Allah Sucikanlah diriku...
maaf, saya belum berani berdiskusi, jika apa yang didiskusikan saja masih belum jelas. saya sedang berusaha untuk hanya mendiskusikan sesuatu yang sudah jelas definisinya. tidak hanya berdasar perasaan.


definisi pacaran saya dengan definisi pacaran anda sudah berbeda, maka akan banyak perbedaan pendapat yang tidak perlu dalam prosesnya


NB:
karena thread ini berjudul "tentang pacaran" maka sebaiknya kita menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu pacaran, langkah awalnya adalah memunculkan definisi-definisi pacaran. dalam setiap diskusi-diskusi yang ilmiah, selalu memunculkan definisi di awal kegiatan. sebaiknya kita pun bersikap seperti itu, agar tidak terjadi debat kusir karena perbedaan definisi. definisi disini sebaiknya memiliki dasar yang kuat, bukan hanya pada perasaan.

kecuali jika kita ingin diskusi ini tidak berstatus ilmiah :)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fahmie ahmad pada April 19, 2008, 05:30:03 am
@kang dajjal...

mana definisinya ? kok belum kelar juga... :-/ :-/ :-/

@kang "??"...kalau sekiranya ditanggapin OOT, ga usah dilayani dulu kang...argumen anda cukup berdsar kok.. :great: :great:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dajal007 pada April 19, 2008, 11:15:48 am
@kang fahmie
kalo definisi pacaran dari saya ya... berdasar KBBI.
kalo definisi kekasih, saya masih belom ketemu temen saya, mungkin ada temen2 yang tau definisi kasih dan turunannya berdasarkan KBBI?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: vian pada April 26, 2008, 09:01:51 pm
To All...

1.  Thread ini "tentang pacaran" maka segala hal yg berkaitan dg pacaran bisa dibahas disini dg syarat tidak boleh melebar terlalu jauh utk menghindari diskusi yg berlarut2.

2.  Segala postingan yg bersifat personal atau tertuju kepada satu orang tanpa ada hubungannya dg diskusi yg sedang berlangsung, atau postingan yg sangat tidak berhubungan dg topik, atau postingan yg bersifat menyerang, menghujat, memprovokasi, menjelek2an akan saya hapus tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

3.  Tolong, jaga emosi, jaga sikap, hormati pendapat orang lain. Jika sekiranya pendapat kita berseberangan dan dalam 1-2 argumen tetap gak ketemu, JANGAN DITERUSKAN. Karena akan memicu debat yg berujung pada konflik. Silahkan lanjutkan dg yg bersangkutan secara pribadi.

- V -
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada April 28, 2008, 09:33:35 pm
@kang fahmie
kalo definisi pacaran dari saya ya... berdasar KBBI.
kalo definisi kekasih, saya masih belom ketemu temen saya, mungkin ada temen2 yang tau definisi kasih dan turunannya berdasarkan KBBI?
mengapa tidak menggunakan bantuan bahasa lain
seperti vriend(in) :D => pasangan dalam hubungan romantis.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: cute_misaki pada Mei 04, 2008, 08:24:27 pm
hmm, begini yah, menurut saki...
saki pun anak remaja, yang insya allah tahu rasanya, temen2 saki udah punya pacar semua
tapi...pacaran itu kan nggak enak? kita cuma berdua sama lawan jenis, jalan ke sebuah tempat, berusaha jaim sekuat tenaga, menekan diri supaya kelihatan keren di depan dia...emangnya enak ya?
saki belum punya pacar dan belum pernah pacaran, tapi setelah mikir lagi, saki lebih seneng kalo punya temen cowok daripada pacaran. kalo pun saki ada hang out sama cowok, itu bukan mau pacaran, dan itu pun selalu nggak kurang dari empat orang yang jalan sama-sama.
so...? pacaran itu kan nggak seenak yang dibayangin, bukan? kalo mau capek dikit polling ke anak-anak SMP/SMA, mereka sebenernya punya pacar bukan sepenuhnya karena cinta sejati, lebih karena pengen diakui kalo mereka cukup cantik/ganteng buat bisa dapet pacar. demi jaga image di depan temen2 aja.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 06, 2008, 04:41:27 pm
hmm, begini yah, menurut saki...
saki pun anak remaja, yang insya allah tahu rasanya, temen2 saki udah punya pacar semua
tapi...pacaran itu kan nggak enak? kita cuma berdua sama lawan jenis, jalan ke sebuah tempat, berusaha jaim sekuat tenaga, menekan diri supaya kelihatan keren di depan dia...emangnya enak ya?
saki belum punya pacar dan belum pernah pacaran, tapi setelah mikir lagi, saki lebih seneng kalo punya temen cowok daripada pacaran. kalo pun saki ada hang out sama cowok, itu bukan mau pacaran, dan itu pun selalu nggak kurang dari empat orang yang jalan sama-sama.
so...? pacaran itu kan nggak seenak yang dibayangin, bukan? kalo mau capek dikit polling ke anak-anak SMP/SMA, mereka sebenernya punya pacar bukan sepenuhnya karena cinta sejati, lebih karena pengen diakui kalo mereka cukup cantik/ganteng buat bisa dapet pacar. demi jaga image di depan temen2 aja.

Jawab:
Salam kenal,,, :D
Nah ini baru keren ... Sip Lah
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: mujahidcinta pada Mei 13, 2008, 01:26:23 pm
Pacaran = Zina
(Zina mata, zina hati)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Z.S.Maula pada Mei 14, 2008, 10:29:37 am
Aku, setuju a' odz, pacaran itu zina...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Mei 14, 2008, 10:42:28 am
Aku, setuju a' odz, pacaran itu zina...
jadi kalo orang pacaran
hukumannya dirajam?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 14, 2008, 05:07:38 pm
Pacaran = Zina
(Zina mata, zina hati)

Aku, setuju a' odz, pacaran itu zina...

Tuh khan bener kit musti hati-hati untuk mengambil suatu hukum.... karena nantinya jawabannya ini

jadi kalo orang pacaran
hukumannya dirajam?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Mei 15, 2008, 10:04:04 am
Tuh khan bener kit musti hati-hati untuk mengambil suatu hukum....
nah itu anda tau... (meski aku yakin anda tulis itu cuma untuk 'menyindir' ;)) )

Kutip
karena nantinya jawabannya ini
bukan jawaban anak muda. itu pertanyaan.
aku jabarkan deh pertanyaan mas arif.

hukuman untuk zina adalah rajam
a -> b

pacaran adalah zina
c -> a

berarti, hukuman untuk pacaran adalah rajam
c -> b


a -> b
c -> a
--------- jadi,
c -> b


begitukah? (ingat!ini pertanyaan. untuk yang menyatakan pacaran = zina. silakan sanggah dengan cerdas. lebih baik lagi jika disanggah dengan ilmiah. paling tidak, patahkan dengan tabel kebenaran)

anda orang IT kan?pasti belajar yang ginian kan.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: reycaman pada Mei 15, 2008, 10:57:35 am
Tuh khan bener kit musti hati-hati untuk mengambil suatu hukum....
nah itu anda tau... (meski aku yakin anda tulis itu cuma untuk 'menyindir' ;)) )

Kutip
karena nantinya jawabannya ini
bukan jawaban anak muda. itu pertanyaan.
aku jabarkan deh pertanyaan mas arif.

hukuman untuk zina adalah rajam
a -> b

pacaran adalah zina
c -> a

berarti, hukuman untuk pacaran adalah rajam
c -> b


a -> b
c -> a
--------- jadi,
c -> b


begitukah? (ingat!ini pertanyaan. untuk yang menyatakan pacaran = zina. silakan sanggah dengan cerdas. lebih baik lagi jika disanggah dengan ilmiah. paling tidak, patahkan dengan tabel kebenaran)

anda orang IT kan?pasti belajar yang ginian kan.

lgika algoritma =D>

ok tentang apcaran mungkin ana g komen banyak tp menurut ana pacaran tu g haram asal dah nikah  :). kalau kita mang lagi cinta seseorang gunakan cinta itu dengan mendekatkan diri kita kepadNya jgn sampai cinta kita mebutakan kita dan berpaling dariNya
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Mei 15, 2008, 11:06:18 am
ok tentang apcaran mungkin ana g komen banyak tp menurut ana pacaran tu g haram asal dah nikah  :). kalau kita mang lagi cinta seseorang gunakan cinta itu dengan mendekatkan diri kita kepadNya jgn sampai cinta kita mebutakan kita dan berpaling dariNya

kalo dah nikah mah bukan haram mas, wajib :D

prinsip mas lebih bisa aku terima daripada prinsip ekstrimis yang membabat habis, menyamaratakan.

nah mas, kalo pacaran = ta'aruf gimana? setuju gak?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 15, 2008, 01:36:49 pm
Kutip
bukan jawaban anak muda. itu pertanyaan.
aku jabarkan deh pertanyaan mas arif.

Jawab:

Maaf... waduh, Jujur deh Ifa tahu bener klo kalimat itu sebuah pertanyaan. Tapi pertanyaan itu adalah pertanyaan retorika, dimana suatu pertanyaan tidak perlu dijawab karena sudah berbentuk menjadi sebuah pernyataan... Gi thu lho...

Ok deh Ifa cabut Thread Ifa yang diatas, jika pertanyaan itu tidak bersifat retorika... Ok... ;))

Kutip
a -> b
c -> a
--------- jadi,
c -> b

Jawab:

Ifa yakin deh klo logaritma di atas itu belum bisa menyatakan pacaran  > (harus) dirajam.
Masalahnya bentuk dari persamaan di atas bernilai identik yang dimana c = a . Jika demikian, maka antara c dan a tidak ada perbedaan, padahal pacaran(c) dan zinah(a) spesifikasinya berbeda. Jika demikian maka c = a akan selalu sama, jika tidak di spesifikiasikan secara kongkret. Contoh:

Pisang adalah makanan monyet
Nasi adalah makanan manusia

Monyet makan Pisang
Manusia makan nasi

Nah apakah jika:
Manusia makan pisang maka sama dengan monyet?.
Dan monyet makan nasi maka sama dengan manusia?.

Ya endak toh?.

Contoh lagi:

4 x 0 = 0
4 / 0 = 0

Tetapi apakah:

0 / 0 = 4(?)    fungsi pembalik dari x
0 x 0 = 4(?)    fungsi pembalik dari /

Ngak juga khan?

Jika kita ingin membuat persamaan atas faktor (a)(b)dan(c) sebaiknya kita harus
menspesifikasikan masing2x definisi dari faktor2x itu.
Dalam pendekatan logaritma kali ini Ifa akan menentukan spesifikasi masing2x nilai dari faktor2x tersebut.

A(zina) = 1   karena a = b
B(rajam) = 1 karena b = a
C(pacaran) = 0 (Karena pacaran tidak sama dengan zinah besar)

Kita test

A = B karena (A = 1) dan (B = 1) jika demikian maka pernyataan ini benar.

Tapi apakah akan berlaku sama jika:

C = B(?) padahal (C = 0) dan (B = 1) jika demikian pernyataan ini salah.

Nah untuk membenarkan ini sebaiknya Ifa memberikan faktor tambahan. Bagai mana jika:

(A + C) = B, Nah , ini baru bisa dijadikan patokan di mana (A = 1), (C = 0) dan (B = 1) sehingga:

(1 + 0) = 1, ini baru bener, bukan.

Sehingga orang yang pacaran tidak pantas dirajam jika dia tidak berzina besar... Bukan begitu?. :D

Salam Damai (Lha kyak di Isagala aja :D)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 15, 2008, 01:49:42 pm
nah mas, kalo pacaran = ta'aruf gimana? setuju gak?

nah klo ini kita tinggal membuat persamaan atas faktor spesifikasi "pacaran" dan "taaruf" itu sendiri sehingga kita baru dapat membuat sebuah persamaan yang sesuai.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Mei 15, 2008, 01:50:17 pm
Sehingga orang yang pacaran tidak pantas dirajam jika dia tidak berzina besar... Bukan begitu?. :D

sehingga

pacaran = zina adalah gugur

(penjelasan sebelumnya tidak kutanggapi.sesama orang IT dilarang saling mendahului, kata bus Setia Mandala.)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 15, 2008, 02:02:52 pm
Asslm wr wb

sehingga

pacaran = zina adalah gugur


Ok deh :great:

Kutip
(penjelasan sebelumnya tidak kutanggapi.sesama orang IT dilarang saling mendahului, kata bus Setia Mandala.)

Jawab:

Afwan Paman, saya yang duluan ngambil setoran paling depan ya... afwan Ifa belom dapet setoran dari tadi pagi :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: azzura pada Mei 15, 2008, 02:53:41 pm
c -> b

a -> b
c -> a
--------- jadi,
c -> b

yakin nih?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Mei 16, 2008, 12:50:21 pm
c -> b

a -> b
c -> a
--------- jadi,
c -> b

yakin nih?

ssstttt....



























sebenernya tidak...
tadinya kupikir bakal disanggah sama yang bersangkutan, ternyata langsung ditelen :))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 16, 2008, 09:33:50 pm
Hmmm... Siapa siapa siapa :p

Ifa juga bingung mana ada "->" bersubject dengan "="
Ifa juga yang g**l*k :D

Yaudah deh, Ifa do'a biar pinter ;))

Yaa Alloh, Bikin Ifa Jadi Pinter yaa...
Yaa Alloh, Bikin Ifa jadi Cermat yaa...
Yaa Alloh, Bikin Ifa makin Sabar ya...
Amienn
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: barich pada Mei 18, 2008, 09:19:40 pm
serem juga ya akibat yang dihasilkan dari pacaran.mudaratnya banyak daripada manfaatnya.ih!!! serem buanget.palagi klo denger da yang sampe bunuh diri gara2 putus cinta naudzubillahi min dzalik. moga para akhwat yang belum terkena dengan syndrom pacaran bisa menjaga hati agar tidak terkena syndrom tersebut.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: mujahidcinta pada Mei 19, 2008, 10:17:25 am
Afwan sebelumnya, ana baru masuk tred ini lg.waduh jd rame gni yah...
Pernyataan ana mnyangkut pacaran=zina (zina mata,zina hati), udah dsbutin kan, zinanya zina mata,zina hati,zina telinga,zina tangan sprti yg disabdakan Rasulullah(konteks haditsnya lupa,nyusul aja.tp da yg tau?)
Nah..pakah ada dizaman skrng pacaran tanpa pandang2an,pegang2an?bahkan sampe keprbuatan zina yg sbnarnya kan?
Yg zina itu gk smbarangan,harus ada minimal 4 orng saksi yg melihat langsung.
Afwan, IT itu apaan sih?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: mujahidcinta pada Mei 19, 2008, 10:24:59 am
Jadi...tetep:

Pacaran = zina
(Zina mata,zina hati)

Ini bukan kata saya, tpi kata yg menyatakan bahwa zina nya mata adalah memandang..

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 19, 2008, 02:39:22 pm
Afwan, IT itu apaan sih?

Jawab:

Information Teknology(teknologi Informasi) ;)

Mungkin bingung dengan logaritma(alogaritm) matematika di atas yang lebih menjurus kepada matematika dasar.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 19, 2008, 02:41:27 pm
Jadi...tetep:

Pacaran = zina
(Zina mata,zina hati)
Ini bukan kata saya, tpi kata yg menyatakan bahwa zina nya mata adalah memandang..

Jawab:

Ya Ampun Kk... klo masalah yang seperti ini tuh sudah ada yang mengajukan, dan ternyata (maaf lho kang fahmie)"ditolak" lantaran yang dimaksud zina di sini adalah zina majasi...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: mujahidcinta pada Mei 19, 2008, 08:04:16 pm
ohh... udah ya...
ya... udah...
:D ;D :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 19, 2008, 11:41:03 pm
Kk... itu.. tuh... Hidungnya masih kelihatan ;))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Luthi pada Mei 24, 2008, 04:11:36 pm
kadang2 pacaran itu mengganggu aqidah loooh, bahaya banget

percaya deh !! ;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Mei 26, 2008, 02:18:08 pm
Makanya itu K... :great:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: hujan air pada Juni 05, 2008, 07:58:36 pm
Aku, setuju a' odz, pacaran itu zina...
jadi kalo orang pacaran
hukumannya dirajam?

waduh!! koq jd syerem...  :-/
jgn trllu mudah ngjatuhin hukum dong om2 & tante2
nnt kualat lho [-X

zina dlm definisi fiqih itu dalem, ga bs dijelaskan panjang x lebar x tinggi disini
seorang pezina yg dihukumi rajam oleh seorang qadhi pun syaratnya ribet.... banget
harus ada 4 orang saksi
yang empat-empatnya harus melihat langsung prosesnya
blm syarat2 yg lain.

ayat dalam Al-Qur'an "...dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya itu adalah benar-benar perbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan"

zina & perbuatan mendekati zina itu adalah perbuatan yang berbeda
perbuatan yg berbeda akan berimplikasi pada hukum yg berbeda pula

gmn, akur???
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: LiaCute pada Juni 16, 2008, 05:23:35 pm
kLo diitung2 kyana Bnyakan Mudharatnya diBanding Manfaatnya Dari Pacaran/Dating or apaLah itu...
Lagian gaQ seRu kLo pacaran duLu...gaq SuRprise..???
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: lin_yank pada Juni 23, 2008, 11:02:25 am
Pacaran ....?
makasih dech...
dah kapok bwt pacaran lagi...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arifrahman pada Juli 02, 2008, 07:36:35 pm
Pacaran ....?
makasih dech...
dah kapok bwt pacaran lagi...

ehm.. ehm.. ehm..

pengalaman adalah guru yang terbaik..

bukan begitu kk ?? ;))

pacaran ya ??
hmm....

ada pacaran islami g ya ?? :D
pasti g ada ya... ;))

hmm...
paling enak pacaran tpi g pernah ketemu...

tpi ada yg ngingetin solattt, ngaji, bangunin tahajjud, ngingetin shoum... dll... ;))

kan g contact mata ;)) tpi ada kebaikannya.. :)
mending begitu.. daripada pacarannya anak2 sekarang.. :)) => kek orang tua ajah ngasih taunya.. :))

hmm...
so, pacaran ??

pacaran aja setelah nikah... malah lebih  nikmattt... ;)) boleh diapa²in... n g mungkin dapat rajam..  :cool: :great: :great: :)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: yahyaman pada Juli 11, 2008, 07:37:07 am
ehm,,mo nanya nih, klo HTS gmna y?
ngakunya gk pcaran, tp berbuat ky org pcaran.. gmna tuh,sama aja kan ya..
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Juli 12, 2008, 04:28:43 pm

ehm,,mo nanya nih, klo HTS gmna y?
ngakunya gk pcaran, tp berbuat ky org pcaran.. gmna tuh,sama aja kan ya..
:)
Gimana ya bilangnya..
Klo menurut aku justru ini lebih berbahaya, knp karena diantara pasangan akan ada yang merasa menderita lebih dari pacaran. Kenapa karena org yang HTS tidak hanya merasakan penderitaan seperti org yang berpacaran(seperti cemburu + patah hati dll) tapi juga dia akan diderita 2 masalah lagi yaitu perasaan yang menggantung dan pengharapan yang mendalam kepada si doi apalagi jika salah satunya sudah sangat merasa nyaman sehingga salah satunya merasakan ketergantungan hati :)
Parah kan :)
Ngak sayang apa sama cwe/cwo nya klo emg kita merasa sayang sama si doi :)
Klo Sayang, yaudah bererti harus berkorban....
Yaitu Pernikahan ;) :)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Juli 12, 2008, 04:33:19 pm
tpi ada yg ngingetin solattt, ngaji, bangunin tahajjud, ngingetin shoum... dll... ;))
kan g contact mata ;)) tpi ada kebaikannya.. :)
mending begitu.. daripada pacarannya anak2 sekarang.. :)) => kek orang tua ajah ngasih taunya.. :))

Haduh Akh :)
Mendingan sama ana aja akh
Lebih pasti, bisa ngasih tausiyah tiap hari tanpa kemungkinan adanya syahw** di dalamnya
Bayangkan, antum akan dijamin ngak merasakan cemburu, patah hati apalagi sampai mengalami kanker(kantong kering) :D
iYa khan...
Apalagi sampe ngabisin pulsa buat nelfon or di telfon ana :)
Ok akh, ana tunggu Telpon mu :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arifrahman pada Juli 12, 2008, 10:29:11 pm
^
tumben sikapnya baek.. ;))

g mau...

males telfon kamu... :))

syahw** apa ??

tergantng cara kita membawakan diri...
patah hati ?? enggak mungkin lah...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Juli 12, 2008, 11:02:25 pm
males telfon kamu... :))
Ra ngarep aku [-(
Tidak dipergunakan oleh lansia :D ;)) Afwan :->-

Kutip
syahw** apa ??
tergantng cara kita membawakan diri...
Yakin bisa??? Jamin?? Sedangkan Nabi Adam yang dah tahu iblis bagaimana aja masih bisa tergoda. apalagi kita yut ;))

Kutip
patah hati ?? enggak mungkin lah...
Kata siapa? Org ngak pacaran aja bisa patah hati, apalagi pacaran ;))
Ada jaminan, bahwa pacaran itu tidak menyebabkan patah hati? Sedangkan yang namanya pacaran tidak memiliki tali resmi yang mengikat mereka(sehingga mereka terkadang khawatir atas apa kepercayaan mereka kepada si doi). Jgnkan pacaran pernikahan yang telah memiliki tali kusus saja bisa terjadi peristiwa kesalah pahaman :) So?. yang perlu kita perlukan saat ini adalah sikap kehati-hatian agar kita tidak mengikuti langkah2x syaitan, karena syaitan itu cerdik dan menjadikan sesuatu yang dilarang bisa menjadi sesuatu yang halal :)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (AnNur:21)

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman(Al Araf:27)

Wallahu Alam :)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arifrahman pada Juli 12, 2008, 11:28:39 pm

cerewet!!!

u are the next target....

(hapus mod)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Juli 12, 2008, 11:42:48 pm
hus.. hus.. hus [-(
Baca nieh :)

Bismillah :)
1.mengedepankan ketakwaan kepada allah, bermaksud bertaqarub keopadanya, dan mencari ridhaNya.
2.harus diniatkan untuk memastikan kebenaran sebagaikebenaran dan membatilkan yang batil.
3.tidak dimaksud untuk mencari kebanggaan, kedudukan, meraih dukungan, berselisih,dan ingin dilihat.
4.harus diniatkan memberikan nasihat kepada allah, agamaNya,dan kepada lawan debatNya.karena agama adalah nasihat.
5.harus  diawali dengan memuji kepada allah dan membaca salawat kepada rosul.

6.harus memohon dengan sungguh-sungguh kepada alllah agar diberi taufik terhadap perkara yang diridoinya.
7.singkat dan padat dalam berbicara.
8.tidak mengeraskan suaranya kecuali dalam batas supaya terdengar.
9. tidak bioleh meredahkan lawan diskusi dan meremehkan persoalannya.
10. harus bersabar terhadap penyimpangan lawan diskusi.
11.tidak boleh bermaksud merendahkan lawan diskusi.
tidak boleh bermaksud ingin mengalahkan lawan diskusi.
12.tidak boleh mengacaukan jawaban.

kurang lebih itulah adab dalam berdebat, mudah-mudahan perdebatan di dudung dot net adalah perdebatan yang dibenarkan syara.

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (Asy Syura' :10)


satu lagi:
15. jangan hanya memandang dari satu sudut pandang
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ardli pada Oktober 09, 2008, 04:21:11 pm
pacaran harus x.
klo pacaran g boleh, gmana cara nya tau keburukan n kelebihan calon istri?
kita kan harus selektif ;) ;) ;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dhayat pada Oktober 28, 2008, 01:19:46 pm
cara mengatasi jika kita ingin pacaran gimana ya????
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: oki_toink pada Oktober 29, 2008, 11:05:49 am
cara mengatasi jika kita ingin pacaran gimana ya????

yah jangan pacaran

gitu aja kok repot  :)) :)) :))


canda


yang pasti hindari pacaran deh bro

banyak rugi dan dosa nya

pikir dua kali yah
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Luthi pada Oktober 29, 2008, 11:12:36 am
1000 x ki mikirnya

pacaran yg jelas buang2 uang  #:-S =))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: oki_toink pada Oktober 29, 2008, 11:15:08 am
capek deh

soal uang?????


hahahah rugi la yaw buat pacaran mah
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Luthi pada Oktober 29, 2008, 11:24:35 am
ssst ntar ketauan kalo antum tuh  PELIIT
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: oki_toink pada Oktober 29, 2008, 11:33:09 am
yeeh

ane dah pernah pacaran

tapi sekarang tobat
  :)) :))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: reezckhy pada November 02, 2008, 09:24:19 pm
ada yang bilang kalo pacaran itu bikin kita jadi tambah bokek
hehee...
bisa aja gak gitu
asal saling ngerti
truz..
ada yg bilang kalo pacaran bikin kita cepet bhong ama ortu
hagz...
yo kalo ortunya udah kenal dan udah tau
ngapain bhong
ada yang bilang pacaran bikin zina
kalo mau duduk bareng yo bawa triplex aja..
hagz... ;D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: vian pada November 04, 2008, 05:51:21 pm
ada yang bilang pacaran bikin zina
kalo mau duduk bareng yo bawa triplex aja..
hagz... ;D

triplex buat apaan? alas duduk? mending tiker lebih enak :p

yg bener tuh bawa orang tua....dijamin aman  :great:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: F.A.K.H.R.I pada November 10, 2008, 03:32:15 pm
Pacaran....
Dilema remaja zaman ini....
Bisa dibilang kurang kerjaan, kenapa mikirin nya cari pacar melulu bukan kejar prestasi....
Untung2 buat kemajuan Bangsa....

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada November 15, 2008, 02:23:25 pm
pacaran harus x.
klo pacaran g boleh, gmana cara nya tau keburukan n kelebihan calon istri?
kita kan harus selektif ;) ;) ;)
Dengan cara Taaruf yang dicontohkan rasul :)
Ketika seseorg taaruf maka semua berita tentang si calonnya itu akan diberitahu bukan hanya dari dirinya melainkan dari keluarga bahkan sahabat2xnya, jadi dengan demikian tidak ada hal-hal yang dapat menyebabkan manipulasi berita yang dilakukan secara perorangan(seperti pacaran.(Kita tahu bahwa pacaran itu perkenalannnya("taaruf-nya") hanya kepada 2 insan saja, laki2x dan perempuan.. yang dimana ditakutkan akan terdapat manipulasi berita dari mereka berdua tentang baik-buruk antara masing2x pihak lantaran klo org pacarankan ngak pasti memberikan berita yang buruk2x buat "kekasihnya"(ya, jelas aja masa yang jelek2x, gengsi dong :D ;)) ))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Areyou pada November 18, 2008, 01:22:14 pm
Tentang Pacaran yah..


Hmmm....
Daku memang suka sama Kamu
Ya sepertinya aku juga tau kalau kamu suka aku
Ya Sudahlah yaaaa....


Apa mau dikata....
AKu tak bisa berkata-kata
Mungkin hanya senyum saja.... :"> :">
Senyum.....
Sabar....
Semua akan Indah pada WAktunya  :x :x :x :"> :">
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: SOBRY pada Desember 01, 2008, 05:50:54 pm
YA EMANG LEBIH BAIK NIKAH AJA,PACARANYA ABIZ NIKAH KAN ENAK ;) ;) ;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Loveless pada Desember 13, 2008, 11:39:05 am
huhuhuhu.....

tapi kan pacaran ituw aciik... :(
ga boleh yach? :(
knp ci?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: soto_ayam pada Desember 13, 2008, 12:12:48 pm
huhuhuhu.....

tapi kan pacaran ituw aciik... :(
ga boleh yach? :(
knp ci?
ya ndak kenapa2 sich...

selama pacarannya masih sehat en bisa tetap konsisten menjaga batas2an dalam pacaran...

monggo...

tapi klo bisa langsung nikah ndak pake pacaran dulu... ya itu lebih baik...

tiap2 individu memang berbeda2... ada toh yang bisa tahan untuk tdk pacaran en tetap konsisten hingga langsung nikah...
tapi ada juga individu yang tidak bisa klo tidak pacaran dulu baru nikah... tapi selama konsisten menjaga batas2annya... (termasuk sy  B-) B-) )
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 13, 2008, 01:32:53 pm
(1)tapi ada juga individu yang tidak bisa klo tidak pacaran dulu baru nikah... tapi (2)selama konsisten menjaga batas2annya... (termasuk sy  B-) B-) )
(1)Alasannya?
(2)Sampai berapa lama?.
Kita ngak usah banyak menganalisa dan berfikir naif, sebaiknya kita lihat aja yang sudah2x, Seperti peristiwa Nabi Adam dan Siti Hawa yang harus Allah turunkan ke bumi dari Syurga lantaran dapat digoda oleh syaitan. Bayangkan, Seorg nabi, dan juga pernah melihat iblis, masih dapat digoda pula, apalagi org2x biasa seperti kita yang bukan nabi dan tidak pernah melihat iblis.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqoroh:208)

Allah menyuruh kita Islam secara keseluruhan artinya, ajaran islam yang kita pegang adalah seluruhnya dan tidak setengah2x, ataupun berarti ajaran yang hati kita sukai ataupun tidak kita sukai sekalipun kita harus menjalankannya, Islam tidak memaksa, namun seharusnya kita tahu bahwa dengan cara Islam lah sesuatu itu akan menjadi suatu yang baik. Begitupun dengan hal pacaran ataupun sejenisnya maupun lain hal, apabila Islam tidak Mencintai Hal tersebut lalu mengapa kita harus mempertahankan kesenangan kita itu, padahal Islam lebih mengetahui dibanding kita atas dampak yang akan terjadi.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqoroh:216)

Lalu setelah kita ber-Islam secara penuh, Allah pun menyuruh kita agar kita tidak melakukan hal2x yang dapat menjadikan kita mengikuti langkah2x syaitan, seperti pacaran tadi atau hal2x yang berpotensi buruk bagi diri kita dan org lain :)

Dengan cara syaitan menjadikan hal yang seharusnya ditidakkan menjadi suatu yang diperbolehkan maka setelah kita terlena dengan kenikmatan2x semu itu , sehingga kita dapat mati rasa dalam membedakan yang benar dan mana yang salah. Bisa dipastikan kita akan cenderung akan memilih apa2x yang lebih menyenangkan hati. Jika demikian, penginderaan kita kepada kebenaran itu berkurang...

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).(1) Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (Al-AnAm:112)
(1)Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.

Logisnya begini, apa mungkin sesuatu yang haram akan menjadi suatu yang halal walaupun diturunkan kadarnya?
Seperti menghalalkan Zinah. Apakah mungkin hal ini bisa diperbolehkan?

Sebagai penutup, silahkan perhatikan ayat ini:
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al'Araf:27)

Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: soto_ayam pada Desember 13, 2008, 04:01:48 pm
@mbak ifa...
hihihi... panjang betul mbak...

jawaban saya :

(1)alasannya? = kita tidak bisa memungkiri bila smua orang yang ada disekitar kita dan yang akan ada disekitar kita merupakan orang - orang yang bisa membawa dampak positif bagi diri kita... dan tidak mungkin juga kita menerima seseorang yang masih asing bagi kehidupan kita begitu saja... apalagi langsung mengambil peranan penting dalam kehidupan... (hidup saya udah tidak penting bila di campuri sama orang asing bisa2 jadi makin ndak penting hidup saya... malangnya)... Seorang sahabat yang selama bertahun-tahun berjuang bersama... masih bisa menusuk kita dari belakang... bahkan bisa membunuh kita tanpa peduli dengan apa yang dulu pernah terjadi...

(2)Sampai berapa lama? = maksudnya? hmm... mudah2an persepsi sy ttg pertanyaan ini ndak tlalu jauh dari maksud mbak... insy4jJ1 tidak lama... 1-3 tahun adalah waktu yang cukup untuk mencari pacar dan mengenalnya sejauh apa yang kita perlukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa dia adalah pasangan hidup kelak...

Bayangkan, Seorg nabi, dan juga pernah melihat iblis, masih dapat digoda pula, apalagi org2x biasa seperti kita yang bukan nabi dan tidak pernah melihat iblis.

biasanya sich saya nyeletug begini... justru itu kita ndak salah klo masih tergoda sama iblis  ;D ;D toh masih manusia ;D ;D

Allah menyuruh kita Islam secara keseluruhan artinya, ajaran islam yang kita pegang adalah seluruhnya dan tidak setengah2x, ataupun berarti ajaran yang hati kita sukai ataupun tidak kita sukai sekalipun kita harus menjalankannya, Islam tidak memaksa, namun seharusnya kita tahu bahwa dengan cara Islam lah sesuatu itu akan menjadi suatu yang baik. Begitupun dengan hal pacaran ataupun sejenisnya maupun lain hal, apabila Islam tidak Mencintai Hal tersebut lalu mengapa kita harus mempertahankan kesenangan kita itu, padahal Islam lebih mengetahui dibanding kita atas dampak yang akan terjadi.

insy4jJ1 saya faham ini mbak...

Lalu setelah kita ber-Islam secara penuh, Allah pun menyuruh kita agar kita tidak melakukan hal2x yang dapat menjadikan kita mengikuti langkah2x syaitan, seperti pacaran tadi atau hal2x yang berpotensi buruk bagi diri kita dan org lain   dan Logisnya begini, apa mungkin sesuatu yang haram akan menjadi suatu yang halal walaupun diturunkan kadarnya?
Seperti menghalalkan Zinah. Apakah mungkin hal ini bisa diperbolehkan?


hmm... blum tentu smua orang yang pacaran itu mengikuti langkah2 syaitan kan?... saya tidak berfikir dan menganggap bahwa orang2 yang pacaran itu melulu orang2 yang lebih menyukai bermesraan atau apapun itu bentuknya hingga pacaran digolongkan sebagai langkah syaitan... dimata saya, pacaran = ta'aruf ... mungkin yang membedakan hanya rentang waktunya saja... bila ada kasus begini ... seseorang berpacaran dalam kurun waktu yang tidak begitu lama... kemudian dia menikah... selama proses pacaran itu dia melakukan hal-hal yang sama seperti yang dilakukan para ikhwan dan akhwat dalam proses ta'aruf (tidak melakukan hal2 yang membuat pacaran itu tergolong jalan syaitan)... apa orang tersebut masih dikatakan tetap mengikuti kesenangannya semata.... apa orang tersebut masih dikatakan mengikuti langkah2 syaitan??

mungkin yang terjadi disini adalah pendangkalan makna dari pacaran tersebut... maaf... untuk saya pribadi... lebih nyaman menggunakan kata pacaran di bandingkan dengan ta'aruf, selama saya memiliki keyakinan dan ikhtiar bahwa sy tetap bisa menjaga diri saya dan dirinya hingga kelak menuju ikatan suci yang kami impikan...

duh... ngelantur saya... maaf yach
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 13, 2008, 06:20:07 pm
Kutip
kita tidak bisa memungkiri bila smua orang yang ada disekitar kita dan yang akan ada disekitar kita merupakan orang - orang yang bisa membawa dampak positif bagi diri kita... dan tidak mungkin juga kita menerima seseorang yang masih asing bagi kehidupan kita begitu saja... apalagi langsung mengambil peranan penting dalam kehidupan... (1)(hidup saya udah tidak penting bila di campuri sama orang asing bisa2 jadi makin ndak penting hidup saya... malangnya)...(2)Seorang sahabat yang selama bertahun-tahun berjuang bersama... masih bisa menusuk kita dari belakang... bahkan bisa membunuh kita tanpa peduli dengan apa yang dulu pernah terjadi...
Maaf, jika aku berkata bahwa aku merasa jawaban ini kurang mengenai sasaran.

(1)Yang bilang hidup kamu ngak penting itu siapa?, Anggapan kamu atau kamu lebih percaya kepada perkataan org lain? Lalu bagaimana dengan ini:

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Al-Qiyamah:36)

(2)Tawakal kepada Allah, bahwa usahamu mempercayai dia sebagai temanmu itu ngak sia2x di hadapan Allah, dan Allah akan memberikan pahala yang sesuai dengan apa yang telah kamu lakukan.

Kutip
(2)Sampai berapa lama? = maksudnya? hmm... mudah2an persepsi sy ttg pertanyaan ini ndak tlalu jauh dari maksud mbak... insy4jJ1 tidak lama... 1-3 tahun adalah waktu yang cukup untuk mencari pacar dan mengenalnya sejauh apa yang kita perlukan untuk mendapatkan keyakinan bahwa dia adalah pasangan hidup kelak...
Tidak lama? 1-3 tahun itu tidak lama? Ngapain aja selama itu? Bukankah itu dapat mengundang sesuatu :-?
Apa lupa dengan ayat ini?
“...Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.”(Al-Araf:27)

Kutip
biasanya sich saya nyeletug begini... justru itu kita ndak salah klo masih tergoda sama iblis  toh masih manusia
Klo tahu begitu knp syaitan itu masih ditantang?
padahal:
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(AnNur:21)
Kutip
insy4jJ1 saya faham ini mbak...
hati-hati lho...
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (AsShaaf:2-3)
Maaf, bukan maksud :)

Kutip
(1)hmm... blum tentu smua orang yang pacaran itu mengikuti langkah2 syaitan kan?... [2]saya tidak berfikir dan menganggap bahwa orang2 yang pacaran itu melulu orang2 yang lebih menyukai bermesraan atau apapun itu bentuknya hingga pacaran digolongkan sebagai langkah syaitan... (3)dimata saya, pacaran = ta'aruf ... mungkin yang membedakan hanya rentang waktunya saja... bila ada kasus begini ... seseorang berpacaran dalam kurun waktu yang tidak begitu lama... kemudian dia menikah... selama proses pacaran itu dia melakukan hal-hal yang sama seperti yang dilakukan para ikhwan dan akhwat dalam proses ta'aruf (tidak melakukan hal2 yang membuat pacaran itu tergolong jalan syaitan)... (4)apa orang tersebut masih dikatakan tetap mengikuti kesenangannya semata.... (5)apa orang tersebut masih dikatakan mengikuti langkah2 syaitan??

(6)mungkin yang terjadi disini adalah pendangkalan makna dari pacaran tersebut... maaf... untuk saya pribadi... lebih nyaman menggunakan kata pacaran di bandingkan dengan ta'aruf, (7)selama saya memiliki keyakinan dan ikhtiar bahwa sy tetap bisa menjaga diri saya dan dirinya hingga kelak menuju ikatan suci yang kami impikan...

(8)duh... ngelantur saya... maaf yach

(1)Lalu apa? Sekrg gini aja, org tersebut pengecut atau tidak mampu, sehingga dia lebih memilih pacaran, ketimbang menikah?
Pengecut?. Klo emg “cinta suci” mengapa tidak dengan menikah?
Tidak mampu?
Padahal Allah telah Berfirman:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (AnNur:32)
lalu mengapa yang dipilih itu pacaran?
Apa mungkin karena untuk “ngetest” pasangan kita? Oh, itu kah yang dinamakan cinta suci? Apa kamu merasa betah bahwa ternyata selama ini kamu hanya di jadikan bahan percobaan perasaan dari pasangan kamu? Kalo kamu punya hati, seharusnya hati kamu teriris mendengar kalimat ini. Maaf

Lanjut mengenai langkah2x syaitan:
Ketika kamu meng-iya-kan sesuatu yang haram lantaran yang haram itu dikurangi kadarnya, maka kamu jadikan yang haram itu menjadi suatu yang boleh tanpa dilengkapi oleh ilmu yang cukup, Bukankah ini sama aja mancing2x masalah? Nah karena kalimat mancing masalah ini lah, bisa disebut mengikuti langkah2x syaitan ataupun terjebak syaitan.
 Ingatlah, bahwa kita hidup bukan di dunia statik yang segala sesuatu hal itu serasa statis alis begitu-begitu aja, melainkan kita hidup di dunia yang dimanis dimana 1+1 belum tentu akan selalu bernilai 2 lantaran banyak faktor2x lain yang mempengaruhinya. Kamu bisa bilang pacarn yang dilakukan secara tidak extreem itu adalah diperbolehkan lantaran tidak melakukan tindakan2x yang berdosa, namun, seberapa lamakah keimananmu akan terjaga sedangkan syaitan itu selalu mengintaimu?

(2)hehehe, lalu apakah aku menganggap bahwa pacaran yang kamu maksud itu adalah tentang kemesraan dll?. Sungguh salah besar, justru aku hanya melihat maksud pacaran kamu itu dengan suka-sukaan dan beberapa kali telfon2xan(mungkin lebih “suci” dari apa yang kamu kira bukan?), namun yaitu tadi, dari masalah2x kecil seperti inilah syaitan menipu targetnya. Aku sangat wanti2x terhdp hal ini kepada kalian.

...yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)...(Al-An'Am:112)

(3)Akhi, taarufnya Ikhwan-akhwat ada etikanya, bagaimana mereka mengenal satu sama lain dan keluarganya dan lain2x. Dan itu tidak dilakukan secara berlarut2x. Dan yang jelas kepastian menikah itu lebih serius. Sedangkan pacaran?  Tidak ada kata kepastian. Kecuali “Nanti...”
Bayangkan betapa menderitanya seseorg yang berharap kepada seseorg yang tidak pasti...?

Sekrg gini aja deh, sejauh yang saya lihat dari surah Al-Baqoroh:226, Bayangkan suami yang halal untuk istrinya saja dilarang “menggantung”, apalagi kalian yang tidak ada tali yang disahkan oleh Allah?(apalagi 1-3 tahun #:-S )

Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya[141] diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al-Baqoroh:226)

[141]. Meng-ilaa' isteri maksudnya: bersumpah tidak akan mencampuri isteri. Dengan sumpah ini seorang wanita menderita, karena tidak disetubuhi dan tidak pula diceraikan. Dengan turunnya ayat ini, maka suami setelah 4 bulan harus memilih antara kembali menyetubuhi isterinya lagi dengan membayar kafarat sumpah atau menceraikan.
Masih kah, kamu tega mengatakan pacaran itu taaruf?

(4)Wallahu alam, tapi yang jelas:
...Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al'Araf:27)

Nabi aja bisa tergoda... apalagi manusia biasa...

(5)Kata siapa taarufnya Ikhwan akhwat dapat terhindar dari langkah2x syaitan?

(6)Monggo, namun ngak etis jika harus menyamakan pacaran dengan taaruf...
(7)Bagaimana jika ikhtiar itu terkikis?
(8)Biasa aja :)

***
Pertanyaanku:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(AnNur:32)

[1035]. Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.
 
...(Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (AnNisa:25)

Adakah, menyuruh pacaran atau sejenisnya?

***
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqoroh:147)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: soto_ayam pada Desember 13, 2008, 06:35:45 pm
Bendera putih telah berkibar  O:) O:)

Ingatlah, bahwa kita hidup bukan di dunia statik yang segala sesuatu hal itu serasa statis alis begitu-begitu aja, melainkan kita hidup di dunia yang dimanis dimana 1+1 belum tentu akan selalu bernilai 2 lantaran banyak faktor2x lain yang mempengaruhinya.

untuk itu aja... maklum lah... saya tipikal orang yang hidup penuh dengan angka2  :-& :-& jadi hampir semuanya bisa di perhitungkan dan didapatkan hasil pastinya...

masalah pertanyaan Mas... hmm... no comment  :-$ :-$

 :go: :go: :go:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada Desember 13, 2008, 06:51:55 pm
1+1 belum tentu akan selalu bernilai 2 lantaran banyak faktor2x lain yang mempengaruhinya.
:great: :great: :great:
bener banget
:great::great::great:

 :)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Loveless pada Desember 13, 2008, 07:49:05 pm
huhuhuhu.....

tapi kan pacaran ituw aciik... :(
ga boleh yach? :(
knp ci?
ya ndak kenapa2 sich...

selama pacarannya masih sehat en bisa tetap konsisten menjaga batas2an dalam pacaran...

monggo...

tapi klo bisa langsung nikah ndak pake pacaran dulu... ya itu lebih baik...

tiap2 individu memang berbeda2... ada toh yang bisa tahan untuk tdk pacaran en tetap konsisten hingga langsung nikah...
tapi ada juga individu yang tidak bisa klo tidak pacaran dulu baru nikah... tapi selama konsisten menjaga batas2annya... (termasuk sy  B-) B-) )

emank,batasan²na ituw seperti apa yach kk?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Loveless pada Desember 13, 2008, 07:52:36 pm
(1)tapi ada juga individu yang tidak bisa klo tidak pacaran dulu baru nikah... tapi (2)selama konsisten menjaga batas2annya... (termasuk sy  B-) B-) )
(1)Alasannya?
(2)Sampai berapa lama?
1. yaaaa....biar tahu bibit,bebet ama bobotna....(xixixi.....)
2. campe.....Alloh menakdirkan ^o^
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Loveless pada Desember 13, 2008, 08:05:49 pm
(1)Lalu apa? Sekrg gini aja, org tersebut pengecut atau tidak mampu, sehingga dia lebih memilih pacaran, ketimbang menikah?
Pengecut?. Klo emg “cinta suci” mengapa tidak dengan menikah?
Tidak mampu?
Padahal Allah telah Berfirman:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (AnNur:32)
lalu mengapa yang dipilih itu pacaran?
Apa mungkin karena untuk “ngetest” pasangan kita? Oh, itu kah yang dinamakan cinta suci? Apa kamu merasa betah bahwa ternyata selama ini kamu hanya di jadikan bahan percobaan perasaan dari pasangan kamu? Kalo kamu punya hati, seharusnya hati kamu teriris mendengar kalimat ini. Maaf
xixixixixi.......
eemmmm....trus,kak Akhina Ifa cudah nikah lom?cudah penah bilang sayang ke lawan jenis lom?
kalau cudah....AsShaaf:2-3 boeat kak Akhina Ifa ajah yach....xixixixixi
(2)hehehe, lalu apakah aku menganggap bahwa pacaran yang kamu maksud itu adalah tentang kemesraan dll?. Sungguh salah besar, justru aku hanya melihat maksud pacaran kamu itu dengan suka-sukaan dan beberapa kali telfon2xan(mungkin lebih “suci” dari apa yang kamu kira bukan?), namun yaitu tadi, dari masalah2x kecil seperti inilah syaitan menipu targetnya. Aku sangat wanti2x terhdp hal ini kepada kalian.

...yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)...(Al-An'Am:112)

(3)Akhi, taarufnya Ikhwan-akhwat ada etikanya, bagaimana mereka mengenal satu sama lain dan keluarganya dan lain2x. Dan itu tidak dilakukan secara berlarut2x. Dan yang jelas kepastian menikah itu lebih serius. Sedangkan pacaran?  Tidak ada kata kepastian. Kecuali “Nanti...”
Bayangkan betapa menderitanya seseorg yang berharap kepada seseorg yang tidak pasti...?

Sekrg gini aja deh, sejauh yang saya lihat dari surah Al-Baqoroh:226, Bayangkan suami yang halal untuk istrinya saja dilarang “menggantung”, apalagi kalian yang tidak ada tali yang disahkan oleh Allah?(apalagi 1-3 tahun #:-S )

Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya[141] diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al-Baqoroh:226)

[141]. Meng-ilaa' isteri maksudnya: bersumpah tidak akan mencampuri isteri. Dengan sumpah ini seorang wanita menderita, karena tidak disetubuhi dan tidak pula diceraikan. Dengan turunnya ayat ini, maka suami setelah 4 bulan harus memilih antara kembali menyetubuhi isterinya lagi dengan membayar kafarat sumpah atau menceraikan.
Masih kah, kamu tega mengatakan pacaran itu taaruf?

(4)Wallahu alam, tapi yang jelas:
...Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al'Araf:27)

Nabi aja bisa tergoda... apalagi manusia biasa...

(5)Kata siapa taarufnya Ikhwan akhwat dapat terhindar dari langkah2x syaitan?

(6)Monggo, namun ngak etis jika harus menyamakan pacaran dengan taaruf...
(7)Bagaimana jika ikhtiar itu terkikis?
(8)Biasa aja :)

***
Pertanyaanku:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian[1035] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(AnNur:32)

[1035]. Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.
 
...(Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (AnNisa:25)

Adakah, menyuruh pacaran atau sejenisnya?

***
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqoroh:147)

2. hayooooo kak Akhina Ifa udach gag ney.....spti ituw...... xixixixixi
3. taaruf itu apah siyh?tus,etikanya apa saja?
6. emank,pacaran artinya apa siy?taaruf?bedanya? ehmmmm.....
7. huhuhuhu...itu takdir,toch,Alloh jg cudah menetapkan, khan? (kta guru agama gitcu...),kalau terkikis,teman²nya bantuin,biar tdk terkikis.... ^o^

xixixixi....kalau kk kutip ituw,ya tidk ada perintah...xixixixi
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: BINGUNG !!! pada Desember 13, 2008, 08:33:17 pm
Kutip
"member dudung ga tahu malu,telah nembak seorang chelsea olivia"
saLah
yg benar, "cheLsea oLivia akhirnya LuLuh di hadapan member dudung yg keren" B-)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 13, 2008, 08:51:19 pm
xixixixixi.......
eemmmm....(1)trus,kak Akhina Ifa cudah nikah lom?(2)cudah penah bilang sayang ke lawan jenis lom?
(3)kalau cudah....AsShaaf:2-3 boeat kak Akhina Ifa ajah yach....xixixixixi
(1). Belum...
(2)Pernah
(3) Masya Allah, Gubrak, loh ko :-/ apa maksudnya :-/ ,

Kutip
2. hayooooo kak Akhina Ifa udach gag ney.....spti ituw...... xixixixixi
3. taaruf itu apah siyh?tus,etikanya apa saja?
6. emank,pacaran artinya apa siy?taaruf?bedanya? ehmmmm.....
7. huhuhuhu...itu takdir,toch,Alloh jg cudah menetapkan, khan? (kta guru agama gitcu...),kalau terkikis,teman²nya bantuin,biar tdk terkikis.... ^o^

(8)xixixixi....kalau kk kutip ituw,ya tidk ada perintah...xixixixi
(2)Maksudnya? :-/
(3)Perkenalan, etikanya... mungkin ini (http://kumpay87.blogspot.com/2008/07/taaruf-itu-apaan-sih.html) bisa membantu
(6) Pacaran? Taaruf? ya jelas bedalah, klo taaruf jelas, tujuan pernikahan dan setelah menikah udah difikirkan bukan hanya mengerti bibit bebet bobotnya saja, sedangkan pacaran?Belum tentu memikirkan tujuan pernikahan dan tujuan setelah pernikahan.
(7)Takdir gmn?
terus, klo temenya tidak berada di tempat, gmn?
(8)maksudnya? :-/
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 13, 2008, 08:56:53 pm
1. yaaaa....biar tahu bibit,bebet ama bobotna....(xixixi.....)
2. campe.....Alloh menakdirkan ^o^
(1) Hanya itu?
(2):-? Jadi selama ini kamu mengira, Allah belum menentukan takdir2xmu? padahal.. ketika kita masih berada diharim, Allah telah menentukannya...
CMIIW
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 13, 2008, 08:58:43 pm
kog no comments siy.... :(
Takut salah ngomong
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Desember 14, 2008, 10:39:11 am
emank,batasan²na ituw seperti apa yach kk?
ga boleh zina..
jadi segala hal yang mengantar pada perbuatan zina juga dilarang

(1)tapi ada juga individu yang tidak bisa klo tidak pacaran dulu baru nikah... tapi (2)selama konsisten menjaga batas2annya... (termasuk sy  B-) B-) )
(1)Alasannya?
(2)Sampai berapa lama?
1. yaaaa....biar tahu bibit,bebet ama bobotna....(xixixi.....)
2. campe.....Alloh menakdirkan ^o^
1. begitu akad nikah terucap, kamu tinggal serumah dengan orang yang selama ini jadi pacar kamu, saat itu life is start from beginning ga peduli berapa taun kamu pacaran..
mo bilang udah kenal bertaun-taun tapi belum pernah khan ngerasain tinggal serumah, bangun tidur ketemu dia, mau tidur ketemu dia lagi, mo ngapa-ngapain ketemu dia lagi.. percaya deh, dunia seperti itu ga ada dalam dunia pacaranmu..

2. you create your own destiny, jangan menjadikan takdir Allah sebagai dalih
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: soto_ayam pada Desember 14, 2008, 11:42:30 am

1. begitu akad nikah terucap, kamu tinggal serumah dengan orang yang selama ini jadi pacar kamu, saat itu life is start from beginning ga peduli berapa taun kamu pacaran..
mo bilang udah kenal bertaun-taun tapi belum pernah khan ngerasain tinggal serumah, bangun tidur ketemu dia, mau tidur ketemu dia lagi, mo ngapa-ngapain ketemu dia lagi.. percaya deh, dunia seperti itu ga ada dalam dunia pacaranmu..



Pengalaman pribadi ya mas...  :D :D jadi mau cepat2 nikah nich...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Desember 14, 2008, 12:01:07 pm
Pengalaman pribadi ya mas...  :D :D jadi mau cepat2 nikah nich...
hehehe.. istri saya yang ini ga pake pacaran..
itu pengalaman kakak saya  ;D

ya udah.. sana gih nikah.. udah punya penghasilan sendiri khan..  ;D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: soto_ayam pada Desember 14, 2008, 12:14:59 pm
Pengalaman pribadi ya mas...  :D :D jadi mau cepat2 nikah nich...
hehehe.. istri saya yang ini ga pake pacaran..
itu pengalaman kakak saya  ;D

ya udah.. sana gih nikah.. udah punya penghasilan sendiri khan..  ;D
Maunya juga gitu mas... tapikan nikah ndak semudah 1+1 mas...
Harus banyak yang di perhitungkan dan di cari solusinya...
ndak lucukan kita menikah justru membuat orang yang kita sayangi tersenyum dalam kepedihan...

doain aja mas...  :"> :">
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Gidza pada Desember 14, 2008, 12:51:33 pm
^^
OOT
Mkan'Y ditraturin Dulu..Baru Nikah...... =)) (apa HubunganY ya? )  :p

 :go:
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 06:36:47 pm
emank,batasan²na ituw seperti apa yach kk?
Introspeksi diri
lihat kondisi anda saat ini
bandingkan dengan target anda 10 tahun mendatang

masukkan unsur unsur pacaran yang dapat menyebabkan anda gagal mencapai target 10 tahun tersebut.

unsur-unsur tersebut adalah sesuatu yang 'melewati batas'.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: BINGUNG !!! pada Desember 14, 2008, 06:40:15 pm
Kutip
masukkan unsur unsur pacaran yang dapat menyebabkan anda gagal mencapai target 10 tahun tersebut.
uang keLuar secara cuma2 ( katanya sih gitu, tp kog sya ama cheLsea oLivia ga tuh :D ) shg tabungan bisa menipis :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 06:45:03 pm
[OOT?]
Kutip
masukkan unsur unsur pacaran yang dapat menyebabkan anda gagal mencapai target 10 tahun tersebut.
uang keLuar secara cuma2 ( katanya sih gitu, tp kog sya ama cheLsea oLivia ga tuh :D ) shg tabungan bisa menipis :D
materi?

keluar biaya USD1000 per menit untuk pacaran juga tidak masalah jika anda bisa menghasilkan berlipat setiap menitnya :p

batasan ditentukan oleh kemampuan anda sendiri
jika tidak bisa anda handle, berarti anda telah melewati batas.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 06:57:19 pm
mo bilang udah kenal bertaun-taun tapi belum pernah khan ngerasain tinggal serumah, bangun tidur ketemu dia, mau tidur ketemu dia lagi, mo ngapa-ngapain ketemu dia lagi.. percaya deh, dunia seperti itu ga ada dalam dunia pacaranmu..
Yakin? :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: BINGUNG !!! pada Desember 14, 2008, 07:03:27 pm
Kutip
batasan ditentukan oleh kemampuan anda sendiri
jika tidak bisa anda handle, berarti anda telah melewati batas.
nah itu dia mksud sya, Lha nabung aja jarang :D

kecuaLi kaLo si pacar ga minta macam2 >:)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 07:12:16 pm
Kutip
batasan ditentukan oleh kemampuan anda sendiri
jika tidak bisa anda handle, berarti anda telah melewati batas.
nah itu dia mksud sya, Lha nabung aja jarang :D

kecuaLi kaLo si pacar ga minta macam2 >:)
well
pacar saya tidak pernah meminta macam macam
walau saya sudah mendapatkan bermacam macam :D

tetapi tentunya saya juga bukan seorang dense yang tidak memberikan gifts sesekali pada seseorang yang saya anggap spesial.

mungkin permintaannya yang saya kabulkan (dan sedikit saya sesali :D) adalah hak censorship pada laptop dan PSP saya...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: d4vid_r5 pada Desember 14, 2008, 08:59:24 pm
mungkin permintaannya yang saya kabulkan (dan sedikit saya sesali :D) adalah hak censorship pada laptop dan PSP saya...
:)) permintaan yang mantep banget :))
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Desember 14, 2008, 09:14:13 pm
mo bilang udah kenal bertaun-taun tapi belum pernah khan ngerasain tinggal serumah, bangun tidur ketemu dia, mau tidur ketemu dia lagi, mo ngapa-ngapain ketemu dia lagi.. percaya deh, dunia seperti itu ga ada dalam dunia pacaranmu..
Yakin? :p
90%
yang 10%-nya mungkin anomali  :))

itu pendapat pribadi dari ngeliat gaya pacaran orang2 yang selama ini saya temui
yang berlanjut pada pernikahan
kemudian mendengar cerita dari ybs
lalu diolah berdasarkan pengalaman pribadi..
masih bisa diperdebatkan keabsahannya kok, silahkan sharing dari sisi yang lain  :p

Introspeksi diri
lihat kondisi anda saat ini
bandingkan dengan target anda 10 tahun mendatang

masukkan unsur unsur pacaran yang dapat menyebabkan anda gagal mencapai target 10 tahun tersebut.

unsur-unsur tersebut adalah sesuatu yang 'melewati batas'.
kalo target 10 tahun mendatang
punya anak 3
jangan2 ntar dicicil pas lagi pacaran  :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 10:42:23 pm
mungkin permintaannya yang saya kabulkan (dan sedikit saya sesali :D) adalah hak censorship pada laptop dan PSP saya...
:)) permintaan yang mantep banget :))
dan berakhir merepotkan...
software medical ES tidak dapat diinstall karena mengandung faktor nudity, etc
hhh


mo bilang udah kenal bertaun-taun tapi belum pernah khan ngerasain tinggal serumah, bangun tidur ketemu dia, mau tidur ketemu dia lagi, mo ngapa-ngapain ketemu dia lagi.. percaya deh, dunia seperti itu ga ada dalam dunia pacaranmu..
Yakin? :p
90%
yang 10%-nya mungkin anomali  :))

itu pendapat pribadi dari ngeliat gaya pacaran orang2 yang selama ini saya temui
yang berlanjut pada pernikahan
kemudian mendengar cerita dari ybs
lalu diolah berdasarkan pengalaman pribadi..
masih bisa diperdebatkan keabsahannya kok, silahkan sharing dari sisi yang lain  :p
well
yang biasanya saya lihat dari pacaran justru si wanita sudah masuk ke kehidupan si pria.
pagi dibangunkan, dibuatkan sarapan, etc
walau belum tinggal 1 rumah

setidaknya itu yang saya dan kebanyakan teman saya alami
sesuatu yang disebut dengan 'perhatian lebih'.

Kutip
Introspeksi diri
lihat kondisi anda saat ini
bandingkan dengan target anda 10 tahun mendatang

masukkan unsur unsur pacaran yang dapat menyebabkan anda gagal mencapai target 10 tahun tersebut.

unsur-unsur tersebut adalah sesuatu yang 'melewati batas'.
kalo target 10 tahun mendatang
punya anak 3
jangan2 ntar dicicil pas lagi pacaran  :p
apakah dengan 'mencicil' tersebut tidak akan merusak target target yang lain?
manusia pada umumnya tidak hanya memiliki 1 target
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: layla azzahra pada Desember 14, 2008, 10:47:25 pm
well
yang biasanya saya lihat dari pacaran justru si wanita sudah masuk ke kehidupan si pria.
pagi dibangunkan, dibuatkan sarapan, etc
walau belum tinggal 1 rumah
Saya tertarik dengan kalimat "si wanita sudah masuk ke kehidupan pria" dan itulah realita kebanyakan yang terjadi.
Bentuk pengabdiankah?
(Padahal belum tentu dinikahi  :D)
Atau apa ya...
Saya yang wanita aja ga terlalu mengerti.
Soalnya dulu ga gitu sih....
Meski pengen (sesekali pernah punya keinginan seperti itu  :D), tapi sistem "keamanan" yang dipasang Abi dan bunda kelewat Rapat.  ;D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 11:13:35 pm
well
yang biasanya saya lihat dari pacaran justru si wanita sudah masuk ke kehidupan si pria.
pagi dibangunkan, dibuatkan sarapan, etc
walau belum tinggal 1 rumah
Saya tertarik dengan kalimat "si wanita sudah masuk ke kehidupan pria" dan itulah realita kebanyakan yang terjadi.
Bentuk pengabdiankah?
(Padahal belum tentu dinikahi  :D)
Atau apa ya...
well
secara psikologis memang manusia selalu merefleksikan perasaan dengan perbuatan
perbuatan diatas (bangun pagi, membuatkan makanan) adalah 'keahlian umum' wanita
keahlian adalah hal pertama yang ditunjukkan manusia dalam cinta (tidak hanya cinta romantis)

logika 'belum tentu dinikahi' secara praktis nonexistant
dalam cinta logika tidak bermain penuh.

Kutip
Saya yang wanita aja ga terlalu mengerti.
bagi saya tidak perlu dimengerti 'mengapa'
cukup dihargai dan tidak disia-siakan.

Kutip
Soalnya dulu ga gitu sih....
time manusia memang berbeda-beda

Kutip
Meski pengen (sesekali pernah punya keinginan seperti itu  :D), tapi sistem "keamanan" yang dipasang Abi dan bunda kelewat Rapat.  ;D
tipe orang tua juga berbeda-beda :D
mungkin beda budaya.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: layla azzahra pada Desember 14, 2008, 11:25:48 pm
^ Pakde
Setiap perbuatan kita merupakan cermin dari  berbagai input yang sudah terseleksi dalam kehidupan kita.
Budaya salah satunya...
Sebagai contoh dikeluarga saya....
Tidak ada istilah dilarang pacaran.
Dengan kata lain, pacaran diperbolehkan tapi jangan bermimpi bisa bertingkah kaya orang pacaran zaman sekarang  :D
Karena kalau sudah tercurigai berpacaran, bodyguard2 akan" menempel" terus.
Dan anehnya (Paling tidak bagi saya), belum ada satupun (sejauh yang saya dengar) mengeluhkan aturan tidak tertulis itu.
Sejauh ini kami enjoy2 aja.
Toh yang dilakukan para tetua keluarga itu masih dalam rambu yang benar dan tidak memiliki kesan mengintimidasi.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 14, 2008, 11:41:57 pm

pacaran diperbolehkan tapi jangan bermimpi bisa bertingkah kaya orang pacaran zaman sekarang  :D
Karena kalau sudah tercurigai berpacaran, bodyguard2 akan" menempel" terus.
Dan anehnya (Paling tidak bagi saya), belum ada satupun (sejauh yang saya dengar) mengeluhkan aturan tidak tertulis itu.
Sejauh ini kami enjoy2 aja.
Toh yang dilakukan para tetua keluarga itu masih dalam rambu yang benar dan tidak memiliki kesan mengintimidasi.
well
'pacaran' secara historis tidak berubah banyak sejak 100 tahun terakhir :p

bodyguard?  :-/

ps:
dalam kasus orang tua
bagi saya orang tua memiliki hak melarang apapun alasannya jika si anak masih dalam tanggungannya
dan memiliki hak melarang dengan alasan riil (tidak didasarkan pada 'jika'), selamanya.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: layla azzahra pada Desember 15, 2008, 12:01:36 am
well
'pacaran' secara historis tidak berubah banyak sejak 100 tahun terakhir :p
Oya?
Boleh tau gambaran pacaran secara historis itu yang seperti apa  :p

bodyguard?  :-/
Ya....
Bodyguard versi keluarga saya adalah penjaga orang pacaran, hehehe.
Bisa om, kakak atau orang2 yang dipercaya bisa mengawasi kami dengan "benar".


Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 15, 2008, 06:57:37 pm
well
'pacaran' secara historis tidak berubah banyak sejak 100 tahun terakhir :p
Oya?
Boleh tau gambaran pacaran secara historis itu yang seperti apa  :p
well
saya membandingkan apa yang saya lakukan dalam pacaran saat ini
dengan apa yang mum dan grandmum 'n great grandmum lakukan dalam masa pacaran mereka dengan jembatan diary :D

perubahan tidak terlalu signifikan untuk pacaran fase saya, tetapi ada perbedaan cukup besar pada fase awal masa pacaran.

Kutip
bodyguard?  :-/
Ya....
Bodyguard versi keluarga saya adalah penjaga orang pacaran, hehehe.
Bisa om, kakak atau orang2 yang dipercaya bisa mengawasi kami dengan "benar".
heheh
entah mengapa
saya paling tidak suka diawasi
dimata-matai
:D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Loveless pada Desember 18, 2008, 06:18:34 pm
heheh
entah mengapa
saya paling tidak suka diawasi
dimata-matai
:D
kog maw dipasangin chip laptopna?xixixixi ma PSPna...xixixixi

logika 'belum tentu dinikahi' secara praktis nonexistant
dalam cinta logika tidak bermain penuh.
cetujuuuuuuu!!! ^_^

Kutip
bagi saya tidak perlu dimengerti 'mengapa'
cukup dihargai dan tidak disia-siakan.
kog cama cieh..... :">

unsur-unsur tersebut adalah sesuatu yang 'melewati batas'.
yang 'melewati batas' tuch spti apa yach?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: そら pada Desember 19, 2008, 07:14:15 pm
heheh
entah mengapa
saya paling tidak suka diawasi
dimata-matai
:D
kog maw dipasangin chip laptopna?xixixixi ma PSPna...xixixixi
tidak dimata-matai
dan tidak ada chip

hanya parental control

pernah mencoba membuka situs porno dan mendapatkan tulisan C_FILTER: FORBIDDEN besar berwarna merah pada browser?
Seperti itulah salah satu parental control.

Kutip
unsur-unsur tersebut adalah sesuatu yang 'melewati batas'.
yang 'melewati batas' tuch spti apa yach?
sepertinya tulisan saya diatas sudah cukup jelas.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 24, 2008, 11:31:20 am
Aku seneng pacaran......
Meningkatkan imunitas  >:D<
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 24, 2008, 08:23:36 pm
imunitas???
maksudnya  :-/
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 24, 2008, 08:58:19 pm
OOT
Aku seneng pacaran......
Meningkatkan imunitas  >:D<
Masya Allah, hehehe... parah, masa udah gede harus di-Imunisasi terus :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 11:27:30 am
Masya Allah, hehehe... parah, masa udah gede harus di-Imunisasi terus :p
OOT juga
 :))
Justru udah gede harus terus diberi imun...
Pernah dan sering denger imunisasi buat orang gedekan?
Penyakitnya lebih ngeri.

BTT (hehehe istilahnya bener ga tuh?)
Jangan pada suudzon dulu sis and bro...
Bawaannya negatif thinking melulu kalo denger kata pacaran.
Maksud saya pacaran yang sehat lah...
Sesuai dengan kaidah dan tuntunan yang berlaku.
Kalo pacaran "model anak2 sekarang" boro2 meningkatkan sistem imun malah menurunkan sistem imun.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Desember 25, 2008, 11:34:40 am
^
hmm..
menarik..
definisikan pacaran yang sehat
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 11:40:28 am
^
hmm..
menarik..
definisikan pacaran yang sehat
Baik mr. Arif, i'll try to answer it.
Pacaran yang sehat salah satu diantaranya boleh sayang-sayangan, cinta-cintaan, sentuh-sentuhan dan sebagainya asal udah dapat ijab sah.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Desember 25, 2008, 11:42:40 am
^
hmm..
menarik..
definisikan pacaran yang sehat
Baik mr. Arif, i'll try to answer it.
Pacaran yang sehat salah satu diantaranya boleh sayang-sayangan, cinta-cintaan, sentuh-sentuhan dan sebagainya asal udah dapat ijab sah.
hehehe..
itu mah pacaran setelah menikah  ;D
ya udah..
sepakat deh
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 11:44:20 am
hehehe..
itu mah pacaran setelah menikah  ;D
ya udah..
sepakat deh
Pan dari awal emang begitu maksud ane,mister.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 25, 2008, 11:44:56 am
 =)) kirain chika beneran ada pacaran yang sehat sebelum nikah

kalo udah nikah mah emang boleh buanget  ;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 11:48:39 am
Btw
Kalo pacaran sebelum nikah itu modelnya seperti:
1.No touch
2.No meet
3.No call
4.NO attention
Bisa dikatakan sehat ga  :D
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 11:52:57 am
Kutip
Sesuai dengan kaidah dan tuntunan yang berlaku.
Seperti apa dan kayak apa?, Kaidahnya siapa? Tuntunan yang berlaku-nya Siapa? Dilihat dari segi apa?, dasarnya darimana? Terus, Contohnya siapa? dan Landasannya Apa?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 25, 2008, 11:54:44 am
Btw
Kalo pacaran sebelum nikah itu modelnya seperti:
1.No touch
2.No meet
3.No call
4.NO attention
Bisa dikatakan sehat ga  :D

tapi kalo hati masih terikat mah sama aja kali...
yang ada pacaran itu sudah nikah,, halal...
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 11:55:34 am
Seperti apa dan kayak apa?, Kaidahnya siapa? Tuntunan yang berlaku-nya Siapa? Dilihat dari segi apa?, dasarnya darimana? Terus, Contohnya siapa? dan Landasannya Apa?
Tulisan ane diatas udah cukup jelas kayanya bro.
(Jawaban ane untuk pak Arif)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 11:56:16 am
Btw
Kalo pacaran sebelum nikah itu modelnya seperti:
1.No touch
2.No meet
3.No call
4.NO attention
Bisa dikatakan sehat ga  :D
Apanya yang sehat?
Sehat dari segimananya?

Klo emg semua dari cara diatas dikatakan tidak sehat(saya ngikutin apa yang kamu bicarain deh) berarti org yang ngak pacaran jauh lebih sehat lantaran sa,a sekali ngak kepengaruh dan kecantol sama doi :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 11:57:51 am
tapi kalo hati masih terikat mah sama aja kali...
yang ada pacaran itu sudah nikah,, halal...
Kalo masa ta'aruf bisa disebut masa pacaran ga sis?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 11:59:21 am
Seperti apa dan kayak apa?, Kaidahnya siapa? Tuntunan yang berlaku-nya Siapa? Dilihat dari segi apa?, dasarnya darimana? Terus, Contohnya siapa? dan Landasannya Apa?
Tulisan ane diatas udah cukup jelas kayanya bro.
(Jawaban ane untuk pak Arif)

v^.^ :D v^.^
v^.^
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 12:01:25 pm
Kalo masa ta'aruf bisa disebut masa pacaran ga sis?
Emg ta'aruf itu terdapat keterikatan hati yak? :-/
Baru tahu... :-?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 25, 2008, 12:01:40 pm
tapi kalo hati masih terikat mah sama aja kali...
yang ada pacaran itu sudah nikah,, halal...
Kalo masa ta'aruf bisa disebut masa pacaran ga sis?

beda kali euy...(tanya ama yang dah pengalaman taaruf)...  ;)
takut chika salah ngomong ntar...
tapi nih setau chika taarufnya lewat perantara,,,
ortu, keluarga dan juga orang2 terdekat...

perlu diperhatikan taaruf tujuan nya=> insyaAllah ingin langsung mnikah
pacaran => just for fun
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 12:05:22 pm
beda kali euy...(tanya ama yang dah pengalaman taaruf)...  ;)
apa yangg perlu ditanyakan kepadaku? :D
Kabuurr...
v^.^

Kutip
pacaran => just for fun
Kalo ngak for fun berarti boleh ya, De? :-? ;))
Enak aja [-(
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 12:05:52 pm
Apanya yang sehat?
Sehat dari segimananya?
Hehehe, nyante bro....
Ane bertanya, ente juga nanya.
Lah yang jawab siapa  :D
berarti org yang ngak pacaran jauh lebih sehat lantaran sa,a sekali ngak kepengaruh dan kecantol sama doi :p
Orang ga pacaran belum tentu ga kecantol ama doi bro.
Dan belom tentu tidak terpengaruh (seperti istilah ente  ;D)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 010101 pada Desember 25, 2008, 12:08:19 pm
Emg ta'aruf itu terdapat keterikatan hati yak? :-/
Menurut ente?

v^.^ :D v^.^
v^.^
Yah malah nyengir  :D
Diskusinya kita sambung ntar ya bro...
Ane dzuhuran dulu..
Ente dah dzuhuran belum?
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 25, 2008, 12:13:21 pm
beda kali euy...(tanya ama yang dah pengalaman taaruf)...  ;)
apa yangg perlu ditanyakan kepadaku? :D
Kabuurr...
v^.^

Kutip
pacaran => just for fun
Kalo ngak for fun berarti boleh ya, De? :-? ;))
Enak aja [-(

wekekek...
salah paham euy
nih,, pacaran anak muda skarang ya just for fun karena salah mendefinisikan...

yang boleh itu pacaran udah nikah. titik.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 12:17:32 pm
Orang ga pacaran belum tentu ga kecantol ama doi bro.
Dan belom tentu tidak terpengaruh (seperti istilah ente  ;D)
Maksud ana, adanya keterikatan hati antara dua insan non-muhrim dan itu terjadi secara timbal balik di antara keduanya(bukan hanya satu arah melainkan dua2xnya memiliki keterikatan hati dan mereka berdua mengetahui serta menerima atas apa yang dimiliki "pasangannya"(sehingga terjadilah "hubungan khusus" itu)) :)
Gitu Bro...

Kutip
Menurut ente?
Klo Ta'aruf yang intensif, ya ngak lah. Taaruf itu dijadikan tempat untuk melakukan pengenalan, "jual-beli" keadaan diri kepada calon pasangan, supaya calon pasangan dapat mengkondisikan dan mengetahui atas calon pasangannya sebelum mereka menikah. Setahu saya hanya itu. Klo masalah Cinta di dalam taaruf itu sendiri, itu masalah Fitrah :) namun, ketika taaruf, cenderung cinta tersebut "bergerak" satu arah bahkan dua arah namun mereka tidak terikat karena cenderung tidak mengetahui secara pasti hal "pribadi" calon pasangannya itu :)

Kutip
Ane dzuhuran dulu..
Ente dah dzuhuran belum?
Na'am..
Ayuk ;;) ;)
Makasih ya AKhi, dah ingetin >:D<
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 12:19:42 pm
wekekek...
salah paham euy
nih,, pacaran anak muda skarang ya just for fun karena salah mendefinisikan...
yang boleh itu pacaran udah nikah. titik.
Yaudah, klo anak muda mengganti definisinya dari pacaran just for fun ke pacaran just for marriage, gmn? apakah dibolehkan? ;;)
Hati2x ade, bisa jadi hanya dengan definisi maka suatu aturan itu dapat diubah :D ;;) Upss afwan adee v^.^
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 25, 2008, 12:23:12 pm
wekekek...
salah paham euy
nih,, pacaran anak muda skarang ya just for fun karena salah mendefinisikan...
yang boleh itu pacaran udah nikah. titik.
Yaudah, klo anak muda mengganti definisinya dari pacaran just for fun ke pacaran just for marriage, gmn? apakah dibolehkan? ;;)
Hati2x ade, bisa jadi hanya dengan definisi maka suatu aturan itu dapat diubah :D ;;) Upss afwan adee v^.^
sama aja kali,, namanya juga pacaran sebelum nikah...
gx ada halal nya...
dekat2 zina aja gx boleh aplg
ngelakuinnya
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 12:40:04 pm
^
Nah, klo gini lebih enak dengerinnya :D

Kutip
dekat2 zina aja gx boleh aplg
ngelakuinnya
emg pacaran pasti zinah ya? :-/
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 25, 2008, 12:44:51 pm
^
Nah, klo gini lebih enak dengerinnya :D

Kutip
dekat2 zina aja gx boleh aplg
ngelakuinnya
emg pacaran pasti zinah ya? :-/

 #:-S kak ifa  :102:
masa gx ngerti maksud chika sih...

kalo pcaran dah nikah masa dibilang zina... ya gx donk,,,
yang zina itu yang seblum nikah
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Akhina Ifa pada Desember 25, 2008, 12:57:32 pm
kalo pcaran dah nikah masa dibilang zina... ya gx donk,,,
yang zina itu yang seblum nikah
Berarti temenku yang pacaran sebelum nikah itu zinah dunx? :(
Aneh, perasaan mereka ngak pernah ketemuan, Ko dibilang Zinah? :-/
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Desember 26, 2008, 07:59:56 am
Btw
Kalo pacaran sebelum nikah itu modelnya seperti:
1.No touch
2.No meet
3.No call
4.NO attention
Bisa dikatakan sehat ga  :D

yang di bold. agak berlebihan menurutku.
gimana bisa menentukan pasangan kalo ketemu aja ga boleh
kecuali
2.No meet, kecuali didampingi yang lain yang berhak. orang tua misal
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: chika pada Desember 26, 2008, 08:48:15 am
kalo pcaran dah nikah masa dibilang zina... ya gx donk,,,
yang zina itu yang seblum nikah
Berarti temenku yang pacaran sebelum nikah itu zinah dunx? :(
Aneh, perasaan mereka ngak pernah ketemuan, Ko dibilang Zinah? :-/


 :(( kak ifa mah gx ngerti2 apa yang chika bilang,,,
padahal tuh dah tau kan

kalo menurut kak ifa sendiri gmana  ;;)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: د ج ل pada Januari 06, 2009, 12:34:21 am
ikutan aahhh.... >:)

emang apa aja sih yang dilakuin sama orang-orang yang pacaran, dan perbuatan itu sebenarnya dilarang dalam islam?

NB: perbuatan di sini bisa berbentuk kontak fisik maupun bukan
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: RoSa ^_^ pada Januari 13, 2009, 09:11:33 am
jawabannya adalah karena pacaran dalam Islam tidak dilarang.
lihat penjelasan berikut


Begitu kah ?
Saya masih awam soal struktur-menytruktur ini pak そら 
(harap maklum ;D)

Saya pikir pembahasan thread itu tentunya sesuai dengan pemahaman orang indonesia tentang yang namanya 'pacaran'...
sehingga temen2 dudunger yang lainnya juga menanggapinya sesuai dengan 'kapasitas pemahaman' orang Indonesia...
Tepat
dengan pemahaman Bahasa Indonesia
sayangnya makna yang digunakan adalah yang sempit, bukan yg luas.
'Berpacaran' memiliki 2 makna.
1. Yang tepat sama dengan 'dating'(sempit) => (pertemuan 'fisik' antar sepasang kekasih)
2. Yang tepat sama dengan 'courting'(luas) => (perkenalan menuju pernikahan)

Makna yang kedua adalah ada, dan jelas. Saya yakin setiap guru Bahasa Indonesia pasti mengetahuinya.
hanya saja nilainya telah disusutkan sehingga tidak populer di kalangan remaja. Hasilnya adalah banyak remaja Indonesia sekarang menganggap yang dilakukan pra-perkawinan adalah 'dating', bukan 'courting'. Efek negatif lanjutannya ya, hal hal 'kurang islami' yang banyak terdapat dalam 'dating'-lah yang populer dilakukan.


disini saya melihat tindak dari para 'aktivis dakwah'<dengan kutip>(para 'ikhwan'-'akhwat') yang kontraproduktif. Mereka bukan menjelaskan bahwa "pacaran seharusnya/aslinya tidak seperti itu", tetapi justru ikut ikutan menyusutkan makna literal 'pacaran'.


Konklusi:
Pacaran(courting) tidak dilarang dalam Islam. Pembatasan makna pacaran pada 'dating' seperti kalimat anda "nasehatin teman2 kita yang pacaran itu bahwa pacaran dalam islam itu memang 'DILARANG'" justru semakin memperburuk minset bahwa pacaran hanyalah 'dating'.

Buku buku yang anda baca (termasuk anda sendiri) adalah sekelompok bagian yang paling perperan dalam mengukir mindset bahwa jika seseorang berpacaran, ia harus melakukan hal hal yang ada dalam 'dating'. Mengerti?

Bagaimana rasanya berperan dalam religious backfire?

tapi............ dlm hubungan yg seperti itu pasti ada keterkaitan batin, dan itu bisa menyebabkan kita selalu kepikiran dan terbayang-bayang oleh si dia. bukankah itu juga zina hati?

 :)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Januari 13, 2009, 12:31:37 pm
tapi............ dlm hubungan yg seperti itu pasti ada keterkaitan batin, dan itu bisa menyebabkan kita selalu kepikiran dan terbayang-bayang oleh si dia. bukankah itu juga zina hati?

 :)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah)

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

seperti apa zina hati?
apa sangsinya dalam Islam?
cuma terpikir dan terbayang-bayang wajahnya udah masuk dosa zina?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: muhammad_aldo pada Januari 28, 2009, 08:34:33 am

godaan pacaran untuk seorang bujangan emang berat X(

jalan terbaik ya nikah aja. :D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: 4isyah_4ulia pada Februari 05, 2009, 10:58:17 am
pacaran lagi???
udah, gak usah aja...kan semua udah tau hukumnya, udah tau aturannya, jadi pastinya juga tau apa yg harus dilakukan juga :cool:
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: dhayat pada Februari 13, 2009, 02:25:32 pm
jangan mengkaburkan sesuatu yang jelas2 tidak baik menjadi seperti baik...
bukankah itu perbuatan seta?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ALEXANDER pada Februari 16, 2009, 04:20:21 pm
ane mah mendingan nikah aja :)

n, punya sebuah kisah unik mengenai masalah perjodohan tersebut

coz, dulu pernah ngerasain pacaran, mpe 2 kali, tapi ternyata tidak membawa ketenangan, malah kekacauan :)

akhirnya, alhadullilah, ALLAH MAHA PENGASIH, saya mendapat hidayahnya, yakni saya diputusin sama pacar saya yang kedua dan terakhir untuk selamanya.Disana, saya merenung, mengapa bisa begini hidupku.setelah sempat berusaha mencari pacar baru, n alhamdulillah ga dapet juga, akhirnya teringat akan kata ta'aruf

awalnya sempat penasaran juga akan hal itu.Jujur, sebelumnya saya kurang berminat terhadap akhwat, tetapi lebih berminat kepada wanita biasa alias cewe.Aneh tapi nyata, dikala itu, tiba2 saya menyukai seorang seorang aktivis ROHIS di kampus saya, berinisial N.entah kenapa, saya jadi begitu.setelah saya cari tahu, bahwa akhwat itu lebih memiliki banyak kelebihan dalam hal keimanannya kepada ALLAH dan kesolehan serta akhlaknya, saya semakin tertarik saja kepada makhluk bernama AKHWAT, yang sebelumnya saya tahu pun tidak.ditambah, seringnya kontak dengan teman2 saya yang kebetulan ikhwan2 rohis kampus; n, juga mengetahui bahwa pacaran itu TIDAK ADA DALILNYA dalam ISLAM, saya memutuskan UNTUK TIDAK PACARAN LAGI

awalnya, tidak enak juga n masih banyak godaan datang.Tetapi, alhamdulillah, saya bisa mengatasinya, n akhirnya mantap untuk memutuskan menikah saja.

tetapi, sempat terpikir, BAGAIMANA SAYA MAU MENIKAH, WONG NAFKAH SAJA BELUM PUNYA???JUGA, SAYA BUKANLAH IKHWAN, HANYA SEORANG LAKI-LAKI BIASA YANG ILMUNYA TIDAK SETINGGI IKHWAN????:) dan juga pertanyaan2 yang menjatuhkan, yang terlintas di otak saya waktu itu

akhirnya, saya berkuat niat saja, untuk tetap melajang sambil mencari akhwat

alhamdulillah, tidak dapat :) malah, pernah ngajakin seorang kenalan akhwat untuk ta'aruf, alhamdulilah DITOLAK!!!

sempat putus asa lagi, ya sudah, saya berserah diri saja kepada ALLAH, masalah akhwat, dana, n maisyahnya , habis saya sebagai manusia merasa tidak punya chance lagi, n ditambah teman saya yang PALING JAHAT SEDUNIA, SYAITAN, terus membisiki kata-kata yang menjatuhkan kedalam hati saya

tiba-tiba............alhamdulillah, ALLAH YANG MAHA PERKASA LAGI MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG, memberikan jalan!!!!

entah kenapa, saya tiba2 mendapatkan jalan untuk mendapatkan dana n maisyah untuk menikah kelak

lalu, masalah akhwat,alhamdulillah mendapatkan ilham, yang saya tindak lanjuti dengan istikoroh 2 kali, na hasilnya mantap, AKHWAT itu akan saya ta'arufi kelak

wali ta'aruf, entah bagaimana, tiba2 ada salah seorang teman ikhwan yang menawarkan bantuan untk saya, menjadi wali ta'aruf saya :)

alhamdulillah, saya juga tidak menduga semua itu sebelumnya.so, its true thats ALLAH MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG!!!

n, juga kehidupan saya sekarang lebih bersinar dan membaik, dibanding dulu ketika pacaran :)

sekian kisah saya tu, semoga bisa menjadi bahan renungan :)

waslm.
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: iiz pada Maret 06, 2009, 03:37:32 pm
saya mempunyai Pacar dan sama sekali belum prnah menyentuh apapun, kami sudah 1,5 tahun berpacaran dan pacar saya sekarang tinggal di medan sedangkan saya di jakarta, kita berkomunikasi seperti biasa contohnya:

saling mengingatkan dalam beribadah
saling mendengarkan curhat masing2
saling mendoakan satu sama lain

dan pasti kami menjadikan semuanya sebagai motivasi kami b2 "tapi kan status kami pacaran"!!




tetap saja hal ini dinamakan pacaran, karena komunikasi diantara keduanya. untuk mencapai derajat iman dan meningkatkan ibadah kita, kita tidak ingin cara yang kita lakukan salah. apalagi ketika hal itu malahan akan menimbulkan kita tidak dapat menjaga hati.
saran nya 
sebagai hamba Allah kita seharusnya kembali kepada aturannya, islam melarang kita untuk berpacaran. La taqrabu zina (janganlah engkau mendekati zina). perbuatan yang kalian lakukan termasuk kedalamnya. berikan penjelasan bahwa anti tidak ingin melanggar aturan Allah. untuk menambah semangat, motivasi dan tempat curhat tentu ada jalan keluarnya. bagi yang perempuan kepada perempuan, demikian juga laki-laki. kalau kalian berdua berniat ikhlas ingin menjalankan perintah Allah, Insya Allah ini akan mudah dilakukan. ketika itu tidak diterima oleh teman kita, beretrti kita harus berfikir apakah benar teman yang selalu memberikan kita motivasi, mengingatkan kita ibadah, memberikan solusi terhadap masalh-masalah kita telah memhami hukum-hukum Allah (syariat islam). semoga Allah memudahkan dan memberikan pintu hidayah kepada anti.
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: aku_bintang pada Maret 10, 2009, 04:36:43 pm
 :-/ aku bingung......kata nya kalo kita ga pacaran ga akan bisa nikah2 :( bener ga ya.....soal nya setiap cwo yang nyatain cinta ke aku......selalu aku tolak soal nya kata mama aku ga boleh pacaran.... :-/ gmn cara na.....aku ga ngerti......soal na temen2 ku semua na pacaran....binun
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: lyceum_salf pada Maret 29, 2009, 12:37:32 pm
bro n sis sebenarnya definisi pacaran tuh apa sih ????? bru bilg boleh or tidak ????? :x
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Maret 30, 2009, 07:28:41 pm
bro n sis sebenarnya definisi pacaran tuh apa sih ????? bru bilg boleh or tidak ????? :x
sejauh yang saya tau
sampe halaman segini
belum ada kesepakatan yang baku mengenai definisi pacaran 
:p
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ummulhidayah pada Mei 23, 2009, 03:42:16 pm
pacaran??? enggak dulu dech... entar aja kalau dah ada suaminya....

PACARAN NO
TA'ARUF YES!!!
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Ummu_Nuha pada Juni 12, 2009, 11:56:30 am
Kebanyakan orang berpacaran untuk menuruti hawa nafsu aja
sedikiiiiit sekali yang berpacaran tanpa pegang2 dll
(ini karena melihat kenyataan disekeliing t4 tinggal ana)
maklum banyak anak2 muda perantauan, otomatis ga ada ortu yg mengawasi
jadi mereka seenak udelnya aja gonta ganti pacar
tentu saja pihak perempuannya yang dirugikan karena udah pernah dipegang2,
atau entah "diapain". Anehnya mereka kok ga merasa rugi, malah ganti lg dgn yang lain.
Ini ana ga asal ngomong lho, tapi karena ana sendiri dan banyak yg jadi saksi
Mereka ga malu2 berpelukan di tempat umum, dicium, dan sebagainya
yang jelas2 melanggar syariat, ana yang menyaksikan jadi malu sendiri.
Mbok ya kalo mau berbuat maksiat itu jangan dipertontonkan didepan umum  :102:
sebegitu parahkah gaya pacaran anak muda skr?  :102: :102:

Afwan OOT sedikit ya buat bagi2 pengalaman aja
Jujur ana dulu juga pernah pacaran saat usia 19
tapi ga tau kenapa, hati ana merasa ga tenang terus seperti perasaan bersalah yg terus2an
mengganggu pikiran, ana merasakan perang batin, disatu sisi ana ingin pacaran krn masih sayang
tapi disisi lain ana tau kalo dalam islam itu ga boleh pacaran. Ana kenal pacar
dari majis ta'lim dan ana juga ga pernah berkhalwat apalagi melakukan hal2
yg melanggar syariat. Tapi ana tetap terus2an merasa berdosa. Mungkin krn ana tau
bahwa dlm islam ga ada pacaran2 segala.   
Perasaan yg ga enak itu ana ungkapkan kpd pacar dan ana minta putus saat itu juga.
Jelas saja pacar ana kaget krn ga ada masalah apa2. Ana jelaskan kalo memang qta jodoh,
Allah pasti menyatukan qta kembali. Akhirnya dengan berat hati pacar ana menyetujui
keputusan ana tersebut. Alhamdulillah Allah menjaga kami berdua dari dosa, karena tak lama
(sekitar 1 th) setelah putus kami pun menikah walaupun secara sederhana. Saat itu 
usia ana masih tergolong muda 21 th dan suami 1 th lebih tua.

Semoga teman-teman bisa mangambil hikmahnya, bahwa untuk menikah tidak harus pacaran dulu.
Allah sudah menentukan jodoh qta dari saat qta masih ada di dalam rahim ibu qta. Yakin aja
suatu saat jodoh antum akan datang. Belum tentu yang sudah pacaran bertahun2 akan berjodoh.
Banyak juga yang putus walaupun udah merencanakan pernikahan. Wallahualam bishowab   
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: fie_vie pada Juni 12, 2009, 12:34:20 pm
aq pacaran setelah nikah,,  :x :x
lebih santai dibanding masalalu waktu sma,,
lebih asyik,,
lebih menyenangkan,,
lebih banyak manfaatnya,,
tambah mesra tambah pahala,,
ga mesra tp pacaran jg dapet pahala,,
pokoke enak deh!!  :cool:
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Ummu_Nuha pada Juni 12, 2009, 04:55:34 pm
Betul mba Fie. kalo qta mesra2an (sama pacar) waktu sebelum nikah kan dosa dapatnya apalagi sampai
melakukan hub suami istri (zina) dosa besar.
Tapi kalo qta mesra2an sama pacar setelah menikah (kebetulan suami adalah mantan pacar  :D)
kan dapatnya pahala, apalagi kalo qta "melayaninya" pahala besar.
Gimana... mau pilih mana ? Udah jelas dong...
mau mesra2an, santai aja udah halal ini  ;;) ;;) ;;)
   
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: inoex135 pada Juni 12, 2009, 05:09:01 pm
aq pacaran setelah nikah,,  :x :x
lebih santai dibanding masalalu waktu sma,,
lebih asyik,,
lebih menyenangkan,,
lebih banyak manfaatnya,,
tambah mesra tambah pahala,,
ga mesra tp pacaran jg dapet pahala,,
pokoke enak deh!!  :cool:

betul betul...

kalo dulu pas sma pacaran suka deg-degan gitu, karena tahu salah tapi tetep ngelakuin...

tapi kalo sekarang... lucu hehehe
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Juni 12, 2009, 05:41:15 pm
saya juga pacaran pasca menikah..
tapi setelah punya anak 3 sambung menyambung..
susah deh mau pacaran berdua-duaan lagi  ;D

jadi yang belum dikasih momongan..
puas2-in deh tu pacaran..
ntar kalo udah repot ngurusin balita
ga tega mau ninggalin mereka sekedar untuk kencan berdua  ;D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: zaim muhammad pada Juni 14, 2009, 02:14:59 am
apa sih bedanya menikah sekarang dengan besok... kalo ujung-ujungnya takut bosan.. karena bosan itu pasti datang...
bagaimana dengan orang yang saling suka.. seperti laila majnun... selama lebih dari 6 tahun, dan menjalani hubungan long distance... sementara kegombalan seseorang rata-rata bertahan 3-4 tahun.. menikah hanya melegalkan secara hukum positif maupun agama. kalo hal itu cuma dimaknai nafsu..
orang menikah tidak semuanya karena ibadah adakalanya karena tidak kuat artinya karena nafsu... orang seperti ini biasa menggunakan agama sebagai kamuflase syahwat pribadinya... poligamilah, laki-laki penguasalah dan sebagainya..???
janganlah jadi manusia yang sombong. dihadapan diri sendiri dan Tuhanmu... seakan kaulah yang berhak mendapat rahmatnya. sementara orang lain tidak..........
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Juni 15, 2009, 10:21:07 am
apa sih bedanya menikah sekarang dengan besok... kalo ujung-ujungnya takut bosan.. karena bosan itu pasti datang...
bagaimana dengan orang yang saling suka.. seperti laila majnun... selama lebih dari 6 tahun, dan menjalani hubungan long distance... sementara kegombalan seseorang rata-rata bertahan 3-4 tahun.. menikah hanya melegalkan secara hukum positif maupun agama. kalo hal itu cuma dimaknai nafsu..
orang menikah tidak semuanya karena ibadah adakalanya karena tidak kuat artinya karena nafsu... orang seperti ini biasa menggunakan agama sebagai kamuflase syahwat pribadinya... poligamilah, laki-laki penguasalah dan sebagainya..???
janganlah jadi manusia yang sombong. dihadapan diri sendiri dan Tuhanmu... seakan kaulah yang berhak mendapat rahmatnya. sementara orang lain tidak..........
ga mudheng..
sampeyan mau bilang apa tho?
coba pelan2 disampaikan apa maksudnya?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Ummu_Nuha pada Juni 15, 2009, 06:49:11 pm
ga mudheng..
sampeyan mau bilang apa tho?
coba pelan2 disampaikan apa maksudnya?

Sama Pak saya juga ga mudheng, lha wong yang diomongin mbuleeeet ga tau juntrungannya.
Kalo ga salah sih mas zaim intinya menyebut orang yang meyakini bahwa "pacaran setelah
menikah mendapatkan pahala" itu orang2 yang sombong  :-/ :-/ Kok bisa ya ?
Atas dasar apa nih ?

janganlah jadi manusia yang sombong. dihadapan diri sendiri dan Tuhanmu... seakan kaulah yang berhak mendapat rahmatnya. sementara orang lain tidak..........

Apakah anda termasuk pendukung/pelaku pacaran sebelum menikah?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: lyceum_salf pada Juni 15, 2009, 10:29:44 pm
apa sih bedanya menikah sekarang dengan besok... kalo ujung-ujungnya takut bosan.. karena bosan itu pasti datang...
bagaimana dengan orang yang saling suka.. seperti laila majnun... selama lebih dari 6 tahun, dan menjalani hubungan long distance... sementara kegombalan seseorang rata-rata bertahan 3-4 tahun.. menikah hanya melegalkan secara hukum positif maupun agama. kalo hal itu cuma dimaknai nafsu..
orang menikah tidak semuanya karena ibadah adakalanya karena tidak kuat artinya karena nafsu... orang seperti ini biasa menggunakan agama sebagai kamuflase syahwat pribadinya... poligamilah, laki-laki penguasalah dan sebagainya..???
janganlah jadi manusia yang sombong. dihadapan diri sendiri dan Tuhanmu... seakan kaulah yang berhak mendapat rahmatnya. sementara orang lain tidak..........

kayaknya buat thread baru aja lah mas.....
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ALEXANDER pada Juli 16, 2009, 11:57:12 pm
pacaran = mengikhlaskan diri menjadi "barang bekas"

sementara, rata2 lelaki umum dan juga ikhwan pengajian atau akhwat pengajian , mencari "barang baru", alias original, YANG BELUM PERNAH DIBUKA "SEGEL"-NYA OLEH SIAPAPUN  B-)

maaf bila kurang berkenan, tetapi begitulah yang seharusnya  B-)

PS : memang keras, kehidupan ini ckckckckckckckck....
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Juli 17, 2009, 04:55:25 pm
definisikan dan samakan dulu persepsi
"barang bekas" dan "SEGEL"
apakah orang pacaran selalu identik dengan zina alias "membuka SEGEL"?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: muharam pada Juli 21, 2009, 05:16:53 pm
pada umumnya di Indo pacaran menjurus ke zina..kan ada ayat yang nyuruh jgn deketin zina
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada Juli 21, 2009, 09:01:53 pm
pada umumnya di Indo pacaran menjurus ke zina..kan ada ayat yang nyuruh jgn deketin zina

umumnya <> semua

sepakat?


* "<>"  = bukan
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: downloadmaster pada Agustus 02, 2009, 02:43:36 pm
pacaran sebenernya gak di larang dalam islam sejauh, caranya benar sesui islam.. gak aneh aneh... tapi kata anak anak  gak seru :), tapi sebaiknya hindari hal yang mengarah ke perbuatan tercela
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: angela pada Agustus 13, 2009, 02:53:32 pm
apapun prediksi tentang pacaran,,, dalam islam sudah sangat di jelaskan bahwa mengjauhi zina lebih utama, saya lebih setuju pacaran itu HARAM!!!
ya penilaian orang terhadap pacaran memang berbeda2,, namun orang normal jika di sandingkan kepada lawan jenis, dan orang yang sudah jatuh cinta,,, pasti akan datang yang namanya NAFSU.
kalau pacaran itu di anggap ta'aruf... sya justru ingin tertawa, ta'aruf dan pacaran jelas2 sangat berbeda,,
ta'aruf melibatkan banyak manusia, sedangkan pacaran lebih konsisten kepada dua insan saja

kalau memang udah saling cinta, mesi usia masih 18 tahun kenaapa gak nikah,,,,?
berani jatuh cinta ya harus berani nikah dong,,,
apa mau nunggu kaya raya dapat ijasa sarjana baru nikah,,,??
emang nya orang kaya dan sarja akan mudah lebih mudah dalam mengarungi bahtera rumah tangga??
justru dengan kemiskinan itulah cinta akan terlihat wujud ketulusan nya,,,
jika menikah saja gak berani atau alasan belum berani, bagi saya perlu di pertanyakan perasaan itu cinta atau nafsu saja,,,
meski dengan alasan saling mengingatkan dalam hal ibadah, dalam hal kebaikan,, itu adalah tanda2 orang yang gak pernah mengingatkan teman untuk ibadah, dia lebih condong kepada pacar,,,

arti kebenaran dan membenarkan itu sangat berbeda,,
manusia lebih condong pada membenarkan karena tak mampu menerima kebenaran,,,

bukan untuk berantem menjadi yang benar, tapi kita cari kebenaran itu sama2,,,
yang mau pacaran ya sialahkan,,,
kalau pacaran dikatakan untuk saling lebih mengenal,,,
saya jamin, setelah menikah pun, akan ada rasa ingin pacaran dengan orang lain, naudzubillah,,,
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: gadis_mencari_hidayah pada September 17, 2009, 07:50:40 am
setuju
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: e91 pada September 17, 2009, 02:32:44 pm
pacaran sebenernya gak di larang dalam islam sejauh, caranya benar sesui islam.. gak aneh aneh... tapi kata anak anak  gak seru :), tapi sebaiknya hindari hal yang mengarah ke perbuatan tercela

darimana sumbernya sehingga anda yakin dengan pernyataan anda
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Vino pada September 22, 2009, 09:37:14 pm
Pacaran itu boleh asal ALLOH SWT tidak melihat :) :)
Pacaran itu boleh asal setelah nikah :) :)
Pacaran itu boleh bermesraan dan berduaan,yaitu dengan ALLOH SWT :) :)
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada September 23, 2009, 12:33:59 pm
Pacaran itu boleh asal ALLOH SWT tidak melihat :) :)
Pacaran itu boleh asal setelah nikah :) :)
Pacaran itu boleh bermesraan dan berduaan,yaitu dengan ALLOH SWT :) :)

ngaco bin ngawur
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Vino pada September 24, 2009, 09:19:37 pm
JIka kita ingin dakwah tuk bilang pacaran gak boleh secara langsung,nanti objek dakwah kita langsung kabur mas..
makanya kita bikin kalimat larangan dgn halus..
misalnya bilang "pacaran boleh,asal ALLOH SWT tidak melihat"..itu maksudnya melarang,sebab mustahil ALLOH tidak melihat..kalau mas sai bilang ngaco bin ngawur, berarti mas belum mengerti kalimat dari saya..BAROKALLAHU FIK :)
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada September 25, 2009, 11:11:59 am
JIka kita ingin dakwah tuk bilang pacaran gak boleh secara langsung,nanti objek dakwah kita langsung kabur mas..
makanya kita bikin kalimat larangan dgn halus..
misalnya bilang "pacaran boleh,asal ALLOH SWT tidak melihat"..itu maksudnya melarang,sebab mustahil ALLOH tidak melihat..kalau mas sai bilang ngaco bin ngawur, berarti mas belum mengerti kalimat dari saya..BAROKALLAHU FIK :)
kalo kalimatnya begitu
objek dakwahnya juga jadi bingung  :p
sebenarnya sama aja kalimat anda juga melarang, bedanya cuma nyuruh si obyek mikir dulu

kalo mau berdakwah coba pake metode Al-Quran
suatu bentuk perilaku yang sudah menjadi budaya di masyarakat
dihadapi Al-Quran secara bertahap, kecuali hal-hal yang langsung berhubungan dengan akidah
contohnya khamr ga langsung dilarang karena sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat arab pada masa itu
tapi dengan bimbingan secara bertahap sehingga si pelaku akhirnya meninggalkannya dengan penuh kesadaran

wallahu a'lam
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: lyceum_salf pada September 25, 2009, 01:13:23 pm
yang pertama adalah kita harus paham terlebih dahulu apa itu definisi pacaran, konsep dan konteksnya... karena satu kata dimaknai A disuatu daerah namun didaerah lain dimaknai B.... jadi kurang bijak rasanya langsung mengklaim hukumnya haram..... jika ini yang terjadi, apakah pacaran masih haram jika :

1. benar kata diatasku bagaimana dengan orang yang telah menikah ? wajib malah hukumnya ia berpacaran dengan istrinya ya kan ?  :D :D
2. Di daerahku ada suatu desa dimana kata pacaran (Metean, bahasanya) konsepnya berbeda dengan apa yang saat ini kita fikirkan....... dimana pacaran konsepnya seorang laki - laki yang ingin menikah datang kerumah perempuan untuk melamar... nah ini bagaiman juga hukumnya ?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada September 25, 2009, 01:23:40 pm
yang pertama adalah kita harus paham terlebih dahulu apa itu definisi pacaran, konsep dan konteksnya... karena satu kata dimaknai A disuatu daerah namun didaerah lain dimaknai B.... jadi kurang bijak rasanya langsung mengklaim hukumnya haram.....
ini yang pernah dibahas panjang tapi belum sepakat masalah definisinya

Pacaran adalah sebuah istilah yang kehilangan definisi.
:D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada September 25, 2009, 02:02:42 pm
@salf
udah baca tulisannya fahmie tentang pacaran di sini (http://forum.dudung.net/index.php/topic,5306.msg124526.html#msg124526)?

menurut saya sejauh ini konsep mengenai haram tidaknya pacaran yang paling pas ya itu
silahkan kalo punya pendapat lain
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada September 27, 2009, 12:09:10 pm
JIka kita ingin dakwah tuk bilang pacaran gak boleh secara langsung,nanti objek dakwah kita langsung kabur mas..
makanya kita bikin kalimat larangan dgn halus..
misalnya bilang "pacaran boleh,asal ALLOH SWT tidak melihat"..itu maksudnya melarang,sebab mustahil ALLOH tidak melihat..kalau mas sai bilang ngaco bin ngawur, berarti mas belum mengerti kalimat dari saya..BAROKALLAHU FIK :)
metode dakwah situ yang bikin kabur. teorinya sih lumayan, ga boleh langsung alias bertahap, tapi prakteknya ngaco.xixixi... tuh jawab pertanyaan salf. yang udah nikah gimana?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Luthi pada September 28, 2009, 09:55:51 am
JIka kita ingin dakwah tuk bilang pacaran gak boleh secara langsung,nanti objek dakwah kita langsung kabur mas..
makanya kita bikin kalimat larangan dgn halus..
misalnya bilang "pacaran boleh,asal ALLOH SWT tidak melihat"..itu maksudnya melarang,sebab mustahil ALLOH tidak melihat..kalau mas sai bilang ngaco bin ngawur, berarti mas belum mengerti kalimat dari saya..BAROKALLAHU FIK :)
metode dakwah situ yang bikin kabur. teorinya sih lumayan, ga boleh langsung alias bertahap, tapi prakteknya ngaco.xixixi... tuh jawab pertanyaan salf. yang udah nikah gimana?
aku bilang terang2an pacaran haram malah g digubris ma orang2,padahal ngomongnya santai :D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: oki_toink pada September 28, 2009, 09:58:37 am
bilang kebenaran itu emang pahit thi :)
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada September 28, 2009, 10:15:21 am
aku bilang terang2an pacaran haram malah g digubris ma orang2,padahal ngomongnya santai :D
udah biasa denger orang bilang pacaran haram
jadi udah ga aneh lagi  :p
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: sai pada September 28, 2009, 10:51:21 am
aku bilang terang2an pacaran haram malah g digubris ma orang2,padahal ngomongnya santai :D
udah biasa denger orang bilang pacaran haram
jadi udah ga aneh lagi  :p

sepakat sepakat sepakat...

udah 'ga peduli' ada yang bilang pacaran=haram.

anggap aja mereka 'belum tau enaknya pacaran' :D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: prince pada September 28, 2009, 07:40:19 pm
sebagai pelaku pacaran

aku bilang, pacaran itu seperti meniti balok yg cuma beberapa centi di atas ketinggian
bukan berarti ga ada yang berhasil melewatinya

tapi manusia banyak merasa bisa melaluinya
merasa sombong bahwa ia takkan terjerumus atau jatuh

aku termasuk yang terjerumus.
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ^_^chusni@.maniez pada September 28, 2009, 07:51:52 pm
pacaran????
menurut tu hak tiap orang kok
krn setiap pribadi bertanggungjawabnya ma yang di atas sana
yang gak pacaran belum tentu lbh baik daripada yang pacaran
ya kalau gak pacaran, tapi cheting 24 jam non stop,telp 30 kali sehari ma aja boong ci
 ;D ;D ;D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada September 28, 2009, 07:56:18 pm
sebagai pelaku pacaran

aku bilang, pacaran itu seperti meniti balok yg cuma beberapa centi di atas ketinggian
bukan berarti ga ada yang berhasil melewatinya

tapi manusia banyak merasa bisa melaluinya
merasa sombong bahwa ia takkan terjerumus atau jatuh

aku termasuk yang terjerumus.
jadi?
kalo pacaran lagi akan berhati-hati
atw pilih tidak pacaran?
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Luthi pada September 28, 2009, 08:01:17 pm
pacaran adalah segala hal tentang perasaan..jadi hati2 distu
mending g usah dah..
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: prince pada September 28, 2009, 10:55:11 pm
sebagai pelaku pacaran

aku bilang, pacaran itu seperti meniti balok yg cuma beberapa centi di atas ketinggian
bukan berarti ga ada yang berhasil melewatinya

tapi manusia banyak merasa bisa melaluinya
merasa sombong bahwa ia takkan terjerumus atau jatuh

aku termasuk yang terjerumus.
jadi?
kalo pacaran lagi akan berhati-hati
atw pilih tidak pacaran?

kalau waktu bisa diulang sebelum aku pertama kali pacaran
aku ingin tidak pacaran

makanya bagi yang belum pernah pacaran, mendingan ga usah coba2 deh

pacaran sama kayak narkoba
itu membuatmu kecanduan
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ksitc pada Oktober 12, 2009, 03:23:36 pm
enak kali punya pacar...
ckckckckckk
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: arif budiman pada Oktober 22, 2009, 01:32:20 pm
kalau waktu bisa diulang sebelum aku pertama kali pacaran
aku ingin tidak pacaran

makanya bagi yang belum pernah pacaran, mendingan ga usah coba2 deh

pacaran sama kayak narkoba
itu membuatmu kecanduan
kalo udah kecanduan
obatnya nikah..

kalo belum sanggup nikah
ya harus ikut rehabilitasi
 :D
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: hasanah pada Oktober 22, 2009, 01:33:48 pm
pacaran itu enak, menyenangkan, membuat hati berbunga-bunga, membuat mesem2, wajah jadi memerah dan yang paling penting
hati bahagia dan jiwa terasa tenang,  :-$ tapi klo udah nikah  ;))
Jadi enak lho pacaran setelah menikah, Subhanallah Anah bersyukur bisa pacaran stelah menikah, sungguh Allah akan memberikan yg lebih baik jika kita lebih memilih 'Dia' daripada pacaran, dan buktikan sendiri.
Pacaran setelah menikah,  lebih nikmat dari pada di cerita2  :">
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: awom pada Oktober 22, 2009, 01:49:00 pm
Coba ngasih sudut pandang berbeda..

Beberapa hari lalu aku ketemu blognya Pa Shodiq..
http://shodiq.com/ (http://shodiq.com/)
beliau malah gembor2in tentang pacaran islami.

Menurut temen2 gimana..
Judul: indahnya pernikahan.
Ditulis oleh: my jojo pada Februari 24, 2010, 07:26:00 am
mungkin saya nggak tau seperti apa enaknya atau susahnya pacaran, karna alhamdulilah saya nggak pernah pacaran ( nggak ada yang mau he he ), klu dulu proses ku cepat nggak lama, cukup bilang ke ustad, aq dahsiap nikah, alhamdulilah satu bulan kemudia calonnya dah ada, nadhor + taaruf :) :) :), cocok :x :x empat hari kemudia nikah deh. sudah halal. :D

Enaknya.

1. irit biaya.
2. sedikit dosa
3. tambah banyak pahala
4. dll yang uenak, uenak.

so gimana, ingin mencoba ??? atau, masih ingin pacaran..?
Judul: Re: indahnya pernikahan.
Ditulis oleh: lehrerin pada Februari 24, 2010, 01:12:21 pm
mungkin saya nggak tau seperti apa enaknya atau susahnya pacaran, karna alhamdulilah saya nggak pernah pacaran ( nggak ada yang mau he he ), klu dulu proses ku cepat nggak lama, cukup bilang ke ustad, aq dahsiap nikah, alhamdulilah satu bulan kemudia calonnya dah ada, nadhor + taaruf :) :) :), cocok :x :x empat hari kemudia nikah deh. sudah halal. :D

Enaknya.

1. irit biaya.
2. sedikit dosa
3. tambah banyak pahala
4. dll yang uenak, uenak.

so gimana, ingin mencoba ??? atau, masih ingin pacaran..?

wahhh.. slmat pak/bu.. bs langsung menikah tanpa melalui hal2 yg membahayakan itu (pacaran, red)

BTT..
huh.. capekk.. klo ngobrolin urusan yg satu ini, intinya bila tak ingin terbakar jgnlah bermain api.
Yang pasti2 aja deh hidup ini, pasti kuliah, pasti bekerja, pasti nikah, pasti bahagia dunia akhirat.. Amien allahumma amien
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: naruse07 pada Februari 24, 2010, 02:18:17 pm
Yang pasti2 aja deh hidup ini, pasti kuliah, pasti bekerja, pasti nikah, pasti bahagia dunia akhirat.. Amien allahumma amien
yah, kurang seru donk. . .hidup tu yg seru kalau berspekulasi, biar ga datar2 aja >:)
Judul: D
Ditulis oleh: angela pada Maret 09, 2010, 06:31:20 am
11 tahun dekat dg lawan jenis, akrab dg lawan jenis, byk hal2 yg dilalui bersama TANPA MESUM TANPA ZINA, apakah dosa? Tp gk perlu dijawab juga, toh kenyataan orang yang dekat slama itu bukan jodoh tp merusak hubungan dg pendamping hdp. Intinya meski pcrn na tdk melakukan hal2 negatif tetap aja brdampak negatif pasca pernikahan.  Dicemburui, dicurigai dsb, kok tau? PENGALAMAN SEE, anyway yg blm pernah pcrn usahain jauh2 aja deh ma pcrn. N yg msh atau pernah pcrn hati2 aja
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: ukh_put pada April 04, 2010, 03:31:14 am
susah yaa jadi anak muda :-O

terlalu banyak godaan
pacaran lah
sex bebas lah
narkoba lahh

waah,dasar masa muda,loohh OOT yaa,hehhehe

intinya mendingan ROHIS-an (mksudnya ikut acara2 ROHIS girtu ) daripada PACARAN
hihih
krill krikk krikk


 B-) B-) B-) B-)
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: naruse07 pada April 04, 2010, 07:57:43 am
^
^
belum tau gmna rasanya pacaran sih
*om vian mode ON :p
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: bahar sudrajat pada Juni 21, 2010, 01:05:59 am
sa7
Judul: Re: Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Rizki Amalia pada Juni 21, 2010, 07:10:22 am
Sekarang yg saya rasakan, pacaran itu seperti semacam kekurangyakinan kalau Allah sudah menyediakan jodoh terbaik buat kita
memang mungkin katanya pacaran itu indah, tapi yang pro pacaran apa sudah tahu kalau menyengaja tidak pacaran itu malah lebih indah? Apalagi kalau pacarannya baru abis nikah, pasti lebih indah :D. Tetap saja bakal ada bedanya rumahtangga yg orang2nya pernah pacaran sebelumnya dengan yang tidak pernah..
Ya mungkin saya ga bisa dikatakan pernah pacaran, tapi saya pernah juga main hati. Dan perasaan kehilangan setelah semuanya berakhir itu lebih mirip sebuah "kutukan" bagi siapa saja yang mencoba sedikit memperturutkan hawa.

Maaf kalau ada yg kurang berkenan dg tulisan saya. Ini hanya salah satu pelajaran hidup yang sangat berharga yg pernah saya dapatkan
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: jonet pada September 23, 2011, 05:32:35 pm
assalamu'alaikum wr wb..
salam kenal sya baru di forum ini..
terimakash banget buat tmen2 smua yg sdh mmberikan bnyak penglman2nya disini...sebenarnya pertama kali sya melihat frum ini karena sy lg ada mslh skitar pcran..
usiaku hampr 21 thun dan slma ini blm prnah pcran dan nyaman2 saja..tapi blakangan banyak ganjalan2 yang sering hinggap dihati...awal cerita, selama kurang lbih 2 minggu ini sya ada pelathn lomba,nah disitu proses lathannya bareng antara ahwat & ihwan..entah kebetuln atau bagaimna,disana ada ahwat yg nggak mw salaman dg lain jenis dan tidk sekalipun lepas jilbab dihadapn tmen2..pokoknya kelihatan perfect-lah..sya jga tw klo pcran itu dilarang dan sya jga tdk mw salaman lawan jenis klo bkan mahrom..tapi tdk tw kenapa belakangan hati ini bimbang,pingin sekali mendekatinya dan menjadikannya wallijah..nah singkat certa skarang lombanya telah berahr dan kami kembli ke sokolah masing2 dan otomatis tdk lagi ktemu..namun perasaan ingin mendekatinya masih ada dan bahkan semakin menggebu2.
mohon nasihat dari rekan2 semua..semoga sya tidak  terjerumus lebih dlam lagi dlam masalah ini...sya sering kali kwatr kalo2 pada saat sya siap nikah ahwat itu sdah ada yg pnya... :)
Judul: Re:Tentang Pacaran...
Ditulis oleh: Rizki Amalia pada September 24, 2011, 07:43:00 pm
Memangnya kenapa kalau nanti sidia sudah ada yg punya? Itu berarti ada seseorang yg lebih baik darinya untuk anda. :)