Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - andaleh

Halaman: [1]
1
Artikel Pilihan / Ciri Hidup Yang Efektif
« pada: Januari 29, 2016, 08:58:27 am »


اَللَّهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR Ibnu Majah, Ahmad)

Seorang muslim sadar orientasi hidupnya adalah akhirat. Sementara itu ia hanya dibekali waktu yang sedikit untuk memupuk amal sholeh sebanyak-banyaknya.

Andai rerata hidup manusia 63 tahun, berapakah waktu efektifnya untuk beramal sholeh? Usia itu belum dikurangi waktu tidur dan aktivitas duniawi. Atau kalau mau dihitung dari waktu sholat wajibnya yang lima kali dalam sehari, hanya terkumpul 1 jam 15 menit sehari (kalau rerata sekali sholat beserta dzikir adalah 15 menit). Lalu bagaimana bila waktu beribadah itu dikurangi oleh perbuatan-perbuatan maksiat yang sadar tak sadar kita lakukan?

Karena itu penting agar hidup yang kita jalani ini efektif dalam kebaikan. Rasulullah saw memberi contoh. Dalam sebuah doa, ia saw meminta kehidupan yang efektif.

Ilmu Yang Bermanfaat/Pengetahuan Yang Aplikatif

Volume otak yang terpakai memang jauh lebih kecil dari kapasitasnya. Tapi ini bukan tentang otak kita yang mampu menyimpan banyak ilmu, tetapi tentang efektifitas waktu mempelajari sebuah ilmu.

Saat akses internet ada dalam genggaman, dan berbagai ilmu tersingkap melalui mesin pencari, tetap saja butuh waktu untuk mempelajari sebuah ilmu. Lalu bila waktu yang terpakai habis untuk mempelajari ilmu yang menjerumuskan pada kesyirikan, misalnya mempelajari ilmu ramalan bintang, shio, dll, betapa tidak efektifnya hidup kita.

Efektifitas hidup ada pada penguasaan pengetahuan yang applicable dalam hidup. Seorang anak mengoleksi berpuluh-puluh komik, seberapa banyak manfaat yang ia peroleh? Kalau sekedar memperoleh pesan cerita, ia bisa mendalami sejarah perjuangan para sahabat Rasulullah yang harum yang begitu tebal dengan pesan kehidupan.

Seorang satpam mempelajari bahasa pemrograman karena hobi. Ia mengoleksi buku-buku pemrograman komputer. Kalau dari ilmu itu ia bisa menambah pemasukan karena pekerjaan samping sebagai programmer, tentu bermanfaat sekali ilmunya. Tetapi kalau sekedar hobi dan tak ada input yang didapat, sayang sekali waktunya.

Seseorang penikmat sepakbola gemar membaca analisa sebuah pertandingan, mengamati perkembangan seorang pemain dan klub, mengikuti bursa transfer, tetapi pada akhirnya apa yang ia baca tak banyak manfaat dalam hidupnya. Hanya sekedar hobi. Tentu sayang sekali waktu yang habis mendalami dunia sepakbola.

Inilah yang diminta Rasulullah saw, agar tidak sibuk dalam menggali pengetahuan yang tidak ada manfaat apa-apa dalam hidup. Hanya sekedar menghadirkan keasyikan duniawi. Ia saw juga berdoa:

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”(HR Muslim)

Rezeki/Capaian Yang Baik

Apa yang diperoleh dari harta korupsi adalah rezeki seorang koruptor. Tetapi baikkah rezeki itu? Tentu kita sepakat, itu bukan rezeki yang baik. Rasulullah memohon agar hidupnya efektif melalui rezeki yang baik.

Harta koruptor berpotensi menyeretnya ke pengadilan suatu saat. Jabatan yang diraih dari menjilat atasan dan menyikut teman sejawat hanya menambah musuh dan pembenci. Itulah rezeki yang buruk.

Rezeki yang baik ditandai dari cara memperoleh dan pemanfaatannya yang juga baik. Rezeki yang diperoleh secara halal, tetapi dimanfaatkan untuk jalan maksiat, tetap saja membuat masalah di akhirat kelak.

Amalan Yang Diterima Oleh Allah swt/Aktivitas Yang Efektif

Dan poin terakhir yang diminta oleh Rasulullah untuk mendapatkan hidup yang efektif adalah amal yang diterima oleh Allah swt.

Dalam sehari, hanya sedikit waktu yang kita alokasikan untuk ibadah mahdhoh. Aktivitas lain seperti bekerja, tidur, makan, dll bisa bernilai ibadah kalau kita niatkan untuk ibadah. Jangan biarkan aktivitas-aktivitas mubah itu sia-sia tanpa diniati untuk ibadah kepada Allah swt.

Dan upayakan sebisa mungkin agar amal sholeh yang kita lakukan berkualitas agar diterima oleh Allah swt. Rasulullah saw pernah mewanti-wanti umatnya,

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani)

Begitu juga banyak yang tidak mendapatkan apa-apa dari sholatnya kecuali letih. Ini karena ia mengabaikan ikhlas dan kekhusyukan dalam sholat. Sayang sekali, amalnya tidak efektif untuk menjaganya di akhirat.

Ciri Hidup yang Efektif

2
Artikel Pilihan / Lajang dan Uang
« pada: Januari 27, 2016, 05:31:03 pm »


Seorang lajang seringkali kurang memperhatikan urusan keuangannya. Bisa jadi karena masih belum memiliki visi yang jelas akan masa depannya, sehingga santai saja dan ikut kemana arah angin. Atau mungkin juga karena belum merasa perlu karena merasa perjalanan hidupnya masih panjang, belum punya kewajiban menafkahi siapapun.

Maka yang terjadi kemudian adalah si lajang asal-asalan dalam mengatur uang. Gaji pertama, untuk traktir teman-teman dan orangtua. Nanti saja mulai menabungnya, gaji kedua. Tapi yang terjadi di bulan kedua adalah merasa perlu untuk beli pakaian yang lebih layak untuk bekerja. Bulan ketiga ada lagi kebutuhan lainnya, cicil kendaraan. Bulan keempat, kelima, keenam dan seterusnya ada saja keperluan ini dan itu, dan lagi-lagi saving untuk masa depan cuma impian.

Padahal ketika sudah tidak lajang nantinya, saving jadi terasa susah lagi, tentu dengan alasan yang berbeda, “Sekarang kan sudah ada tanggungan, berat kalau harus saving.” Maka solusi pertama agar si lajang tidak mengacaukan kondisi keuangannya adalah dengan menetapkan visi masa depannya. Tetapkan tujuan-tujuan keuangan di masa depan untuk dicapai. Mulai dari rencana karir dan pendidikan, rencana berkeluarga, dan pencapaian-pencapaian pribadi lainnya.

Mulai dari yang sederhana, tetapkan target kapan akan menikah. Jangan sampai karena belum punya calonnya juga kemudian belum melakukan apa-apa untuk menyiapkannya. Karena biasanya, jika calonnya sudah ada, sudah terlambat untuk menyiapkan dananya. Yang benar adalah, siapkan dananya dari sekarang, sehingga saat calonnya sudah ada, sudah siap kapan pun juga.

Terkait dengan karir juga sebaiknya punya rencana yang jelas. Apakah akan bekerja atau buka usaha. Jangan jadikan karyawan sebagai pelampiasan karena gagal buka usaha. Atau sebaliknya, menjadikan bisnis sebagai pelarian karena tak diterima kerja dimana-mana. Kalau sudah jelas maunya, insya Allah terbuka jalannya.

Tips kedua, mulai dari langkah kecil untuk melakukan lompatan besar. Terkadang seorang lajang tak berani melangkah karena melihat besarnya tujuan di depan dengan keterbatasan kemampuan. Seringkali mereka bilang, “Bagaimana mau bercita-cita punya rumah sendiri kalau harganya naik terus?” Pertanyaan ini malah melemahkan keinginan kita untuk mandiri punya rumah sendiri. Seharusnya karena harga rumah naik terus, maka siapkan saja dulu semampunya. Agar rezeki yang turun berikutnya bisa dialokasikan untuk menutupi kekurangannya.

Dan tips ketiga, belajar. Banyak sekali produk keuangan yang ditawarkan, tapi tidak semua cocok untuk lajang. Banyak sekali produk keuangan yang tersedia, jangan sampai menutup diri dan hanya tahu seadanya sehingga tidak optimal dalam berinvestasi.

Misalnya ketika saya menjelaskan tentang reksadana, masih ada pertanyaan “bagaimana hasil reksadana dibanding deposito?”. Ini pertanyaan yang menurut saya lucu. Karena tidak ada hasil investasi yang lebih rendah dari deposito, jadi produk apapun pasti lebih tinggi dari deposito. Tentu dengan risiko yang juga lebih tinggi. Pertanyaan seperti ini muncul karena pemahaman yang masih terbatas.

Kesalahan umum yang juga sering terjadi yaitu sang lajang yang berasuransi padahal ia tak memiliki tanggungan untuk diproteksi. Tujuan utama asuransi jiwa adalah untuk melindungi orang-orang yang kita nafkahi jika terjadi sesuatu pada diri kita sendiri sebagai pencari nafkah. Maka jika belum ada yang dinafkahi, belum prioritas untuk berasuransi.
Lajang keren bukan lajang yang bisa tenteng gadget beken di atas sepeda motor mentereng. Lajang keren adalah lajang yang jelas maunya, fokus pada tujuannya dan tidak galau dengan isi kantongnya.

Ahmad Gozali


Lajang dan Uang

3
Artikel Pilihan / Membuka Pintu Rezeki dengan Taqwa
« pada: Januari 25, 2016, 10:23:18 am »


Bila rezeki diibaratkan loker-loker, atau laci-laci, atau pintu-pintu yang tertutup, maka kita perlu kunci untuk membuka pintu itu. Memang ada sebagian yang terbuka sesuai takdir, tetapi bila ingin mendapat tambahan rezeki, kita perlu membuka lebih banyak lagi.

Kunci untuk membuka pintu-pintu itu adalah taqwa.

Allah swt dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an menjanjikan tambahan keluasan rezeki bagi orang-orang yang bertaqwa.

Pertama

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS Ath-Thalaq: 2-3).

Ibnu Abbas r.a. memberi penjelasan bahwa jalan keluar itu mencakup kesusahan dunia maupun di akhirat.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Ayat ini dipuji oleh sahabat ahli Qur’an: Abdullah bin Mas’ud r.a. Ia berkata: Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah: “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya.

Kedua

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiriâ€. (QS Al-A’raf: 96).

Menafsirkan kalimat “Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi,” Abdullah bin Abbas r.a. menjelaskan: Niscaya Kami lapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkannya dari segala arah.

Sayid Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan, “Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadapNya dan mengharapkan karuniaNya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik di akhirat.”

Mengenai makna keberkahan, Syaikh Ibnu Asyur menjelaskan, “Makna Al-Barkah adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya di akhirat. Dan ini adalah sebaik-baik jenis nikmat.”

Ketiga

Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka. (QS Al-Ma’idah: 66).

Tentang Ahli Kitab yang seandainya mereka mengaplikasikan ajaran di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, Ibnu Abbas r.a. menjelaskan, “niscaya Allah memperbanyak rizki yang diturunkan kepada mereka dari langit dan yang tumbuh untuk mereka dari bumi.”

Syaikh Yahya bin Umar Al-Andalusi berkata: “Allah menghendaki  – wallahu’alam – bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yang diturunkan di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an, niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Maknanya – wallahua’lam – niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan nikmat dunia.”

Seorang yang bertaqwa memiliki kedudukan istimewa di hadapan Allah swt. Dengan keistimewaan itu, wajar saja Allah swt memberinya banyak kemudahan dan rezeki.

Ayo kejar kedudukan itu!

Membuka Pintu Rezeki dengan Taqwa

4
Artikel Pilihan / Ballighu ‘Anni Walau Ayah
« pada: Januari 17, 2016, 01:38:39 pm »


Sebuah hadits yang sangat populer, tidak hanya terkenal di kalangan da’iyah tapi juga di masyarakat umum berbunyi: “Ballighu ‘anni walau ayah”. Sampaikan dariku walau satu ayat. Hadits riwayat Bukhori ini menjadi salah satu dasar perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Dalam sebuah kata perintah yang pendek ini, sesungguhnya mengandung maksud yang sangat dalam dan menjadi tuntutan untuk du’at. Antara lain:


1. Sampaikanlah

Al Ma’afi An Nahrawani berkomentar tentang hadtis ini: “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.

Kata “sampaikan” ini membantah orang yang beranggapan “Gak perlu mengurusi orang lain. Urusi dulu diri kita.”

Agama ini intinya adalah nasehat. Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW Bersabda : Agama adalah nasehat, (para sahabat bertanya): Untuk siapa ?  Beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya (HR Bukhori Muslim). Saling menasehati hanya akan berjalan dengan cara menyampaikan kebenaran.

2. Dariku

Jelas sekali yang diinginkan Rasulullah adalah kita menyebarkan ilmu yang shohih, yang punya landasan dan rujukan yang tepat. Seseorang penceramah membawakan sebuah perkataan “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”, dan ia katakan bahwa kalimat itu adalah hadits Rasulullah saw. Tepatkah penceramah itu disebut mengamalkan “Ballighu ‘anni walau ayah” bila para ulama ahli hadits mengatakan bahwa kalimat yang disebut penceramah itu adalah hadits palsu?

Harap diperhatikan untuk du’at, muballigh, murobbi, dan sebagainya; bahwa ancaman untuk orang yang berdusta atas nama Rasulullah itu tidak main-main. Sebuah hadits dari Salamah bin Akwa, ia berkata. Aku telah mendengar Nabi SAW bersabda : ”Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku apa-apa (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.(HR Bukhari)

Karena itu kehati-hatian adalah keharusan dalam berdakwah. Hendaklah seorang du’at terlebih dahulu memastikan sebuah perkataan itu benar-benar hadits Rasulullah (berdasar rujukan yang shohih) sebelum mengatakan bahwa perkataan itu hadits.

Kata “dariku” ini juga mengandung tuntutan agar du’at dalam menyampaikan risalah Islam kepada umatnya harus mengambil sumber dari para ulama salafush-sholih dan atau ulama masa kini yang lurus. Karena para ulama itu adalah orang yang mengkaji dan mengamalkan sunnah Rasulullah saw. Mengambil sumber dari para orientalis barat yang kafir, atau mengambil rujukan dari kalangan liberalis tentu akan menyebabkan apa yang kita sampaikan itu menyimpang jauh dari ajaran Rasulullah saw. Sebab orang kafir hanya ingin memadamkan cahaya agama Allah.

Tuntutan lain, agar para du’at tidak membuat sesuatu yang mengada-ada dalam agama (bid’ah). Berapa banyak kita temui anjuran untuk mengamalkan sesuatu padahal kita ketahui bahwa anjuran itu tidak bersumber dari Rasulullah saw. Zaman ini semakin marak dengan anjuran bid’ah. Anjuran sholat dua bahasa beberapa waktu lalu, jelas seruan yang batil. Penyampaian itu sama sekali bukan bersumber dari Rasulullah saw. Juga yang harus diperhatikan adalah misalnya menganjurkan untuk mengucapkan bacaan tertentu dalam hitungan sekian kali lalu diiming-imingi fadhilah-fadhilah tertentu, yang sesungguhnya aktifitas itu tidak pernah Rasulullah ajarkan.

Penggalan kata ini menuntut para du’at yang telah mendengar hadits “sampaikanlah…” agar terus meningkatkan kapasistas mereka dengan menghafal hadits-hadits yang shohih dan mengenali hadits-hadits palsu. Dan juga mereka dituntut mengenal mana ajaran yang besumber dari sunnah Rasulullah saw, dan mana yang diada-adakan (bid’ah) atau seruan yang terkandung liberalisme.

3. Walau

Penggalan kata ini mengandung makna bahwa seluruh upaya harus dikerahkan dalam mengamalkan perintah “sampaikan dariku..” Kata walau membuat kita tidak bisa mengutarakan alasan untuk menghindar dari perintah ini. Mungkin akan ada yang beralasan ilmunya tidak cukup banyak untuk memberi nasihat, tapi Rasulullah tidak menginginkan alasan ini. Ada kata “walau” yang memaksa kita menyampaikan nasehat dari sedikit apa yang kita tahu.

Ada keringanan bagi orang yang tidak bisa melaksanakan sholat fardhu dengan berdiri. Walau tidak bisa berdiri, kita harus melakukan sholat. Alternatifnya, kita melakukannya dengan duduk. Begitu juga dalam dakwah, tidak semua orang mampu mencapai kapasitas ulama, sedangkan agama itu adalah nasihat, maka ada keringanan untuk menyampaikan walau sedikit yang kita tahu. Yang penting, mekanisme nasehat dalam agama harus berjalan.

Kata walau ini juga bermakna agar kita tidak menunda-nunda untuk menyampaikan apa yang kita tahu dalam agama ini. Tidak perlu menghafal sepuluh hadits lain baru kita menyampaikan sebuah hadits yang baru kita dengar. Tidak perlu menunggu membaca sepuluh kitab lain bila kita telah menyelesaikan sebuah kitab. Pokoknya, begitu ada yang kita tahu, maka segera sampaikan.

Di masa kini dengan adanya jejaring sosial yang memudahkan setiap orang berinteraksi, menyampaikan apa yang kita tahu walau sedikit itu semakin mudah. Bila yang kita tahu cukup banyak, maka tulislah di sebuah blog. Bila yang kita tahu sedikit, maka status twitter atau facebook bisa menjadi sarana dalam saling menasehati karena Allah. Walau pun 140 karakter, sampaikanlah!

4. Satu Ayat

Sebuah pepatah yang sangat familiar kita dengar berbunyi: Orang yang tidak memiliki apa-apa tidak akan bisa memberi apa pun. Dengan kata lain, kita hanya bisa memberi apa yang kita punya. Hadits “Ballighu ‘anni…” menginginkan kita agar ada yang disampaikan walau pun satu ayat. Di sini seorang da’i dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas mereka. Seorang da’i tidak boleh kosong pemahaman keislamannya. Ia dituntut untuk selalu mendengar, bahkan “berburu” ajaran Rasulullah saw agar ada yang bisa disampaikan.

Begitulah renungan dari sepenggal hadits yang pendek, namun penuh tuntunan untuk du’at.

Sampaikanlah Dariku Walau Satu Ayat

5
Artikel Pilihan / Sifat Orang Mukmin Pada At-Taubah 71
« pada: Januari 15, 2016, 04:21:16 pm »


Bila kita mengklaim sesuatu, maka kita harus menyiapkan bukti yang mendukung klaim itu. Karena sesuatu dikenal dari cirinya. Maka bila kita – misalnya – mengaku sebagai orang yang pekerja keras, harus dibuktikan bahwa kita memiliki sifat-sifat pekerja keras.

Begitu pula seorang yang mengaku muslim, tentu saja harus dibuktikan bahwa ia memiliki sifat-sifat seorang muslim. Seperti memahami makna dua kalimat syahadat dan mengimplementasikan syahadat itu dalam perilakunya.

Sebagian dari sifat-sifat seorang muslim tergambar dalam firman Allah pada Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 71. “Dan orang-orang Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” (At-Taubah: 71). Sifat-sifat ini harus lah diperiksa oleh setiap orang yang mengaku mukmin, termasuk diri kita.

Penolong


Seseorang yang tidak memiliki kepedulian menolong sesama, tidak tergerak hatinya untuk menolong ketika melihat seorang muslim membutuhkan bantuan, maka orang tersebut tidak memiliki sifat sebagaimana sifat orang mukmin yang Allah firmankan. Bahkan seorang muslim yang zholim pun wajib kita berikan pertolongan. Rasulullah saw bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zholim atau yang dizholimi. Mereka berkata : “Ya Rasulullah kami menolong yang dizholimi, bagaimana kami menolong yang menzholimi ?”. Beliau menjawab : “Ambil tangannya (cegah kezholimannya)”.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Karakter inilah yang diharapkan oleh Allah dalam Al-Ma’idah ayat 2. “…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al Maidah: 2)

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sifat mukmin lain dalam At-Taubah 71 adalah amar ma’ruf nahi munkar. Ini juga termasuk tolong-menolong dalam kebaikan. Karena orientasi mukmin adalah akhirat, maka perlu ada bantuan dari mukimin yang lain untuk menyokong agar sampai di tujuan dengan selamat. Menolong mukmin yang menzholimi – seperti hadits di atas – pun termasuk dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.

Sifat ini yang Allah mau dalam Qur’an surat Ali-Imron ayat 104. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran :104)

Sholeh Vertikal dan Horizontal

Dalam At-Taubah ayat 71 ini, kita menemukan perintah sholat dan zakat disebut secara beriringan. Aktifitas sholat dan zakat adalah aktifitas yang memenuhi baiknya “hablum minallah wa hablum minan naas” (hubungan kepada Allah dan hubungan dengan manusia). Sholat mewakili kesholehan vertikal, sedangkan zakat melambangkan kesholehan horizontal. Di beberapa tempat Allah swt menggandengkan perintah sholat dan zakat. Itu karena kekuatan hubungan yang lengkap: horizontal dan vertikal, adalah sifat seorang mukmin.

Mendirikan sholat dan membayar zakat adalah dua karakter orang mukmin yang Allah gambarkan dalam awal surat Al-Mukminuun. Orang mukmin itu beruntung, kata Allah (QS 23:1). Yaitu yang khusyu’ dalam sholatnya (QS 23:2), dan juga memelihara sholatnya (QS 23:9). Orang mukmin yang beruntung itu juga tak lupa membayar zakat (QS 23:4). Itu lah orang yang dijanjikan Surga Firdaus oleh Allah swt (QS 23:10-11).

Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya

Sifat selanjutnya adalah taat kepada Allah dan Rasul-nya. Cara menta’ati Allah swt adalah dengan sikap “sami’na wa atho’na”, dan dengan mengerjakan seluruh perintah-Nya secara kaffah (menyeluruh).

Sikap “sami’na wa atho’na” (kami dengar dan kami ta’at) Allah inginkan dalam surat An-Nur ayat 51. “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Sikap itu mencerminkan ruhul istijabah (semangat menyambut seruan) yang tinggi. Berbeda dengan jawaban orang yang tidak beriman dari kalangan Bani Israil yang menjawab seruan dengan “Sami’na wa ashoina” (Kami mendengar tetapi tidak mentaati) (QS 2:-93)

Selain itu dalam rangka ta’at pada Allah dan Rasul-Nya, kita harus ber-Islam secara kaffah (menyeluruh). Dengan begitu, kita mentaati semua perintah Allah – menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya – secara keseluruhan tanpa menyeleksi dan meninggalkan sebagian perintah dengan sengaja. “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kamu.” (Qs al-Baqarah: 208).

Taat secara keseluruhan lah yang Allah inginkan. Allah mencela orang yang ta’at dengan tidak utuh (setengah-setengah). “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Alloh dengan berada di tepi (setengah hati); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (kekafiran). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S. Al – Hajj : 11)

Begitulah watak orang mukmin seperti yang tercantum dalam QS At-Taubah ayat 71. Semoga kita bisa mentadabburinya. Allahua’lam bish-showab.

Sumber: Sifat Orang Mukmin Pada At-Taubah 71

6
Puisi / Puisi ultah anak
« pada: Oktober 21, 2010, 05:18:08 pm »
Hari ini, pas anakku ultah yang ke-2. Setahun yang lalu saya sempat membuatkan puisi untuknya :)

Puisi Untuk Anakku

I

Itu dunia anakku, gengamlah!
Kau milik zamanmu, maka bersiaplah!
Buaian hanya sementara
Selanjutnya kertas dan pena
Kau hadirkan pada mereka
Keilmuan seluas samudra
Hadirkan cahaya sibak gulita
Kau tembus bumi, merobek angkasa
Dan semua sulthon persembahkan untuk-Nya.

Itu cakrawala anakku, rengkuhlah
Kau milik zamanmu, bersiagalah
Pelukan bunda hanya sementara
Selanjutnya keringat dan air mata
Kau suguhkan pada mereka
Hujjah dan qoulan syadida
Datangkan haq, dan kebatilan lenyap tak bersisa
Walau kaum kafir, munafiq, dan fasiq tak suka
Tetap istiqomahlah al-haq itu kau jaga
Hingga kau diterima dalam ridho-Nya

II

Terus terang padaku, bintang mana yang mau kau petik
Aku bukan peramal, tapi hebat sebagai pendidik
Dan sini, biar kususun manjamu dengan apik
Hingga kau tak menjadi cengeng, tapi petarung yang baik

Aku bukan pemikul beban yang terpaksa
Tapi aku penggembala penuh cinta
Dan padaku Tuhan memberi amanah luar biasa
menitipkanmu tuk kubentuk menjadi insan mulia

III

Melihat kau hadir di bumi, adalah keajaiban
Melihat kau makin meninggi, adalah keajaiban
Melihat kau berguling ke kanan ke kiri, adalah keajaiban
Melihat kau duduk sendiri, menapakkan kaki, ketawa ketiwi, tumbuh gigi, dan padamu semua yang terjadi, adalah keajaiban

Kau seperti membelah aku & istriku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti mengusik tidurku, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku letih menggendongmu, tapi tidak karena kau hadirkan cinta
Kau seperti membuatku penat menitahmu, tapi setiap apa yang kulakukan padamu, adalah pembuktian cinta.

http://andaleh.blogsome.com/2009/10/20/puisi-untuk-anakku/

7
Artikel Pilihan / Mengangkat Beban
« pada: Oktober 21, 2010, 12:44:52 pm »
http://andaleh.blogsome.com/2008/07/05/mengangkat-beban/

Mengangkat Beban



Kisah ini aku dapat ketika membaca suatu novel ilmiah ketika SMP, kemudian aku gubah untuk mendapatkan hikmahnya.

Sebutlah Adi dan Dodi sedang berwisata di pantai dalam acara sekolah. Ketika mereka tengah dalam candaan, ada tantangan dari Dodi kepada Adi. Dodi yang bertubuh besar dan gemuk menantang Adi yang bertubuh kecil untuk mengadakan kompetisi. Dodi mengangkat Adi, setelah itu gantian Adi mengangkat Dodi. Mereka akan mengukur siapa yang paling lama mengangkat temannya.

Dodi yakin seyakin yakinnya bahwa Adi tidak akan sanggup berlama-lama mengangkat badannya. Karena itu Dodi menantang Adi. Dan Dodi yakin juga bahwa Adi akan menolak tantangan itu.

Tapi Dodi salah. Rupanya Adi menyambut dengan baik, walau dengan syarat.

“Memangnya, syaratnya apa?” Tanya Dodi.

“Kamu mengangkat saya di atas pasir, sedangkan saya mengangkat kamu di laut.” Ujar Adi.

“Boleh.” Ujar Dodi.

Maka dimulailah pertarungan itu.

Alhasil, di luar dugaan. Adi berhasil lebih lama mengangkat Dodi yang tubuhnya lebih besar. Mengakui kekalahannya, Dodi bertanya, “apa rahasianya?”

“Jawabannya adalah, karena saya dibantu oleh gaya apung yang ada pada air laut. Sehingga ringan bagi saya untuk mengangkat kamu.” Ujar Adi. “Gaya itu ditemukan oleh Archimedes. Kalau kamu simak pelajaran fisika kemarin, kamu pasti paham.” Tambah Adi dengan senyuman.

*****

Hidup ini serupa dengan kompetisi di atas. Bahwasanya masing-masing kita memiliki tugas untuk mengangkat beban masing-masing. Beban yang diangkat tentu saja sesuai dengan kemampuan seorang manusia. Begitulah sunnatullah.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS 2:286).

Tetapi ada perbedaan antara seorang muslim yang bertaqwa dengan seorang kafir. Seorang muslim mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di air, sedangkan seorang kafir mengangkat bebannya laksana mengangkat beban di atas pasir. Ada ‘gaya apung yang dimiliki oleh air’ yang membantu seorang muslim yang bertaqwa untuk mengangkat bebannya. Gaya apung itu adalah bantuan dari Allah SWT.

“…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” Ath-Thalaq : 4.

Dengan bantuan ‘gaya apung’ inilah seorang muslim yang bertaqwa bisa mengangkat bebannya lebih lama. Sedangkan orang kafir yang tanpa bantuan gaya apung tersebut, berpotensi besar untuk menyerah, membanting bebannya lalu dia pun terjatuh.

Seorang muslim yang bertaqwa tidak akan mengenal akhir seperti itu.

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS Ath-Thalaq : 2).

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47 : 7)

Allahu’alam bish-showab.

---------

Semoga bermanfaat :)

Halaman: [1]