Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - faritz

Halaman: [1] 2 3 ... 232
1
Silaturrahim / Re:Where is everybody???
« pada: Agustus 18, 2012, 02:29:39 am »
emang bener2 sepi...
kirain cuma saya aja sekarang yg jarang OL,
tapi setelah dicek beberapa hari ini yg posting cuma 1,
beberapa hari sebelumnya malah ngga ada yg posting... :(


padahal dulu bisa sampai ribuan postingan dalam satu hari....


(btw, setelah di cek di profil, hari ini adalah genap 6 tahun saya mendaftar jadi anggota forum ini)

2
Televisi dan Media Lainnya / Jakarta Lawyer Club
« pada: Februari 09, 2012, 07:59:59 pm »
bagaimana tanggapan kawan2 atas acara tersebut?
berbau sedikit politik nih... hehe

3
Movies / Re:3 idiots
« pada: Februari 09, 2012, 07:56:26 pm »
film lama, tapi ngga bosen2nya tuk nonton kembali....

dalemm...

4
Referensi Buku / Re:Apa memang harga buku di Indonesia terlalu MAHAL???
« pada: Februari 09, 2012, 07:55:03 pm »
royalty sekitar 10%
margin keuntungan penerbit sekitar 45-55%
sisanya ongkos cetak....


siapa yang untung?

5
Cerita Lucu / Re:Tempat OOT!
« pada: Februari 09, 2012, 07:48:46 pm »
lama sekali ngga posting....................................

6
OTOMOTIF / Apakah Nyawa Begitu MURAH!!!!
« pada: Juni 27, 2011, 08:22:54 pm »
Nyawa di sini murah, jangan jadi korban berikutnya

Rendahnya kesadaran berlalu lintas dan keselamatan mengemudi membuat angka kecelakaan terus meningkat. Tabrak lari pun menjadi berita sehari-hari.


Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun dibandingkan dengan kematian karena sebab lain. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi pada rentang tahun 2000 sampai 2015 sedikitnya 20 ribu jiwa meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, lebih dari 1 miliar orang luka-luka, cacat atau kehilangan tanggungan hidupnya karena menjadi korban kecelakaan di jalan. Dan sebagian besar korban itu berjatuhan di negara berkembang. Ironisnya, meski prediksi statistik ini mengkhawatirkan, kesadaran akan pentingnya upaya mencegah tragedi kematian dan luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas masih sangat rendah.

Di negara yang sedang berkembang pesat, khususnya di kawasan Asia dan Afrika, jumlah pemakai jalan bertambah dengan cepat, namun pertumbuhan itu tidak diimbangi dengan pemahaman dasar mengemudi serta sebab dan akibat dari kecelakaan lalu lintas pun tidak dimiliki. Untuk itu dibutuhkan pendidikan dan kesadaran publik untuk memperbaiki tingkat keselamatan mengemudi.
Di Indonesia, lebih dari 97% kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia (human error). Menurut data Asian Development Bank (ADB) jumlah korban kecelakaan di Indonesia pada tahun 2003 sekitar 1 juta korban luka-luka dan sekitar 30 ribu korban meninggal dunia. Jika pemahaman dasar mengemudi dan tentang pentingnya keselamatan di dalam mengemudi tidak diperbaiki, angka tersebut akan membengkak tajam.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia tidak dibarengi dengan pemahaman dasar mengemudi dan pemahaman tentang keselamatan mengemudi. Alhasil, pertengkaran di jalan raya, senggolan antar kendaraan dan riuh klakson menjadi pemandangan yang kerap dijumpai di jalan-jalan di Indonesia. Apalagi dengan adanya pertumbuhan sepeda motor yang pesat. Menurut harian Kompas 24/10/2006), sekitar 40 persen pengguna mobil di Jabodetabek merubah alat transportasinya dari kendaraan roda empat ke roda dua.

Sering kita jumpai ketika sedang mengemudi, tiba-tiba sebuah sepeda motor keluar dari jalan kecil menuju jalan raya tanpa memastikan terlebih dahulu apakah kondisi jalan aman baginya untuk berbelok atau menyebrang berpindah jalur. Alhasil, pengemudi mobil atau sepeda motor harus menekan klakson keras-keras atau mengerem keras maupun banting setir untuk menghindari terjadinya tabrakan. Bahkan sudah menjadi pemandangan yang lumrah di jalan-jalan di Jakarta, ketika sebuah mobil berhenti atau melambankan kecepatan mobil, kendaraan yang berada di belakangnya langsung berpindah jalur ke kanan atau ke kiri untuk mendahului tanpa memberikan lampu sein. Kalau pun memberikan lampu sein jarak antara kendaraan yang membelok dengan kendaraan di belakangnya sangat dekat di mana sebetulnya ruang kendaraan di depan untuk membelok tidak ada. Akibatnya, kendaraan di belakang harus mengerem mendadak atau memberikan klakson keras-keras untuk memperingatkan pengendara di depan. Bersyukur kalau si pengemudi di belakang bisa menghindar, jika tidak, tabrakan bisa tak terelakkan dan mendorong terjadinya tabrakan beruntun.

Gara-gara pemahaman dasar mengemudi rendah dan kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara minim, tabrakan beruntun di jalan tol akhirnya menjadi hal yang biasa. Penulis bahkan pernah membaca berita tentang tabrakan beruntun di Jalan Tol TB. Simatupang terjadi dalam tiga hari berturut-turut dengan insiden yang berbeda dan korban yang berbeda. Sudah menjadi pemandangan lumrah di jalan tol di negeri ini, jika para pengemudi tidak menjaga jarak dengan mobil yang ada depannya. Dalam kecepatan 100km/j, mobil-mobil di jalan tol yang berada di jalur paling kanan (jalur cepat) seperti parade dengan jarak hanya 7m dengan mobil di depannya, mirip sebuah balapan. Mungkin mereka mengira jalan tol memang dibuat untuk balapan? Apakah mereka tidak menyadari berapa jarak pengereman yang dibutuhkan mobil dari kecepatan 100km/j sampai mobil benar-benar berhenti untuk menghindari tabrakan dengan mobil di depannya jika terjadi sesuatu?

Pertumbuhan populasi sepeda motor di Indonesia yang meningkat pesat juga menimbulkan permasalahan baru. Sepeda motor memenuhi jalan dari berbagai penjuru dan ruas. Di kiri, kanan, depan, belakang, di mana-mana, khususnya di Jakarta pada jam sibuk seperti laron di musim hujan. Para pengendara pun harus ekstra hati-hati agar tidak bersentuhan dan bersenggolan. Sayang, meningkatnya populasi motor di Jakarta tidak dibarengi dengan kesadaran berlalu lintas dan keselamatan mengemudi. Setiap lampu merah di Jakarta menjadi seperti ranjau darat yang siap memakan korban, pasalnya perilaku pengendara motor yang tidak bisa diprediksi saat mendominasi barisan depan lampu merah. Mereka sering nyelonong di saat seharusnya berhenti dan memberikan jalan kepada pengendara di ruas lain yang terkena lampu hijau. Pengendara motor pun suka seenaknya membelok dan berpindah jalur, tanpa memperdulikan kendaraan di belakang, depan atau di sampingnya sehingga membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain. Walhasil, jalan-jalan di Jakarta setiap hari kerja dapat diibaratkan sebagai neraka yang siap menjerumuskan siapa saja.

Nyawa korban meninggal kecelakaan lalu lintas di Indonesia harganya hanya setara dua ekor kambing! Sebuah kisah nyata mungkin bisa dijadikan contoh. Tahun 1996, seorang korban meninggal ditabrak sebuah bus di daerah Sukabumi, Jawa Barat, hanya mendapatkan asuransi Jasa Raharja sebesar Rp 2,5 juta rupiah saja. Ketika keluarga korban mengurus surat kematian ke kepolisian , anggota keluarga tersebut dimintai uang administrasi membuat surat kematian oleh seorang anggota kepolisian Sukabumi sebesar 30ribu rupiah (orang mati dan terkena musibah kok dimintain duit, itu adalah bagian dari tugas polisi!). Yang lebih gila lagi, seorang anggota kepolisian datang ke rumah keluarga korban bersama keluarga supir bus yang menabrak dan polisi yang mendampingi mendesak keluarga korban agar menerima uang ganti rugi sekitar Rp 6 juta agar tidak menuntut pengemudi bus sehingga pengemudi bus terbebas dari hukuman penjara. Alasannya, pengemudi bus itu memiliki tiga orang anak dan seorang istri yang mesti ia hidupi. Keluarga korban menolak damai dan tetap menuntut supir ke penjara. Supir bus hanya dijatuhi hukuman penjara 7 bulan, tapi keluarga korban mendengar kabar si supir bus hanya menjalani masa hukuman 2 bulan saja!

Mungkin kalau saja rejim otoriter tidak sedang berkuasa, keadaan bisa terbalik. Sungguh ironis! Dan tentunya Anda tidak ingin menjadi korban kecelakaan dan ketidakadilan berikutnya?

Memang semrawutnya lalu lintas di kota-kota besar di Indonesia, khususnya, Jakarta tidak melulu kesalahan pemakai jalan,tapi juga disebabkan oleh infrastruktur jalan yang berantakan yang tanggung jawabnya ada di tangan pemerintah. Pertumbuhan kendaraan tidak diimbangi dengan pertumbuhan jalan, akibatnya beragam faktor membuat jalan-jalan di Jakarta semrawut dan membahayakan.

Tapi sampai kapan kita harus menyalahkan pemerintah/penguasa, padahal kita harus menggunakan jalan di negeri ini setiap hari? Sambil menunggu jalan-jalan yang lebar, aman, menyenangkan dan memadai serta penegakan hukum yang benar-benar berkeadilan dan aparatur yang bersih, pengguna jalan justru harus meningkatkan kesadaran berlalu lintas yang baik dan pemahaman tentang pentingnya keselamatan mengemudi. Semua unsur yang berkepentingan dengan jalan raya harus meningkatkan kesadaran agar kecelakaan tidak menjadi barang lumrah dan ketidakpedulian menjadi budaya.

Dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah pabrikan mobil dan sepeda motor telah mengkampanyekan keselamatan berkendara kepada masyarakat luas –konsumen, media, partner kerjadan lain-lain- melalui workshop maupun pelatihan. Kampanye tersebut merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial pabrikan kendaraan dalam rangka menekan angka kecelakaan di jalan raya. Lewat kampanye ini, diharapkan perilaku para pengendara di jalan raya menjadi lebih tertib dan memahami keselamatan di jalan.

Berikut ini adalah tips-tips untuk mengurangi kecelakaan di jalan raya:
1 Camkan bahkan mengemudi adalah pekerjaan berat karena melibatkan kerja seluruh anggota tubuh dan membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi.

2 Sebelum menjalankan kendaraan, periksalah terlebih dahulu kondisi kendaraan, seperti ban, lampu sein dan lain-lain.

3 Jika Anda memakai kendaraan roda empat, pakailah sabuk keselamatan (seatbelt/ safety belt). Jika Anda pengendara motor, pakailah helm yang memadai yang melindungi kepala dengan baik jika terjadi benturan.

4 Pengemudi yang defensive yang mampu mengemudikan kendaraannya dengan tenang (tidak tegang) dan mampu mengantisipasi situasi kondisi lalu lintas di depannya.

5 Pastikan posisi mengemudi Anda benar dan nyaman.

6 Jangan menggunakan hanphone, makan atau baca Koran pada saat Anda mengemudi.

7 Kebiasaan pengendara di negeri ini adalah membelokkan kendaraan ke kanan atau ke kiri atau berpindah jalur untuk menyalip kendaraan yang ada di depannya karena kendaraan di depannya itu berhenti atau memberikan lampu sein untuk membelok. Padahal ruang untuk membelok dan menyalip tidak cukup sehingga menganggu keamanan kendaraan di belakangnya.

Sebaiknya Anda berhenti terlebih dulu di belakang mobil yang berhenti sambil melihat-lihat kondisi sudah aman untuk menyalip. Jika mobil di depan Anda menyalakan lampu sein untuk membelok, Anda seharusnya melambatkan laju kendaraan, jangan membelokkan mobil ke arah berlawanan karena kita tidak tahu kondisi mobil yang ada di depan. Kalau ternyata lampu seinnya rusak, di mana seharusnya ia berbelok ke kanan, tapi malah lampu sein kirinya yang menyala, dan Anda malah menyalip ke kanan, Habislah Anda!

8 Senantiasa menjaga jarak aman dengan mobil di depan. Safe driving rule mengatakan bahwa pengemudi harus memelihara jarak aman ketika beriringan dengan kendaraan di depannya yang ditetapkan dengan rumus tiga detik.

Jarak aman antar kendaraan saat beriringan adalah 3 detik. Dengan asumi bahwa manusia dalam bereaksi membutuhkan waktu sekitar 1 detik. Ditambah dengan waktu reaksi mekanis kendaraan (vehicle reaction time) 1 detik saat sistem rem mulai bekerja pada saat pengereman dan ditambah dengan ‘safety factor’ 1 detik. Jadi total waktu reaksi diperkirakan paling tidak sekitar 3 detik.

Di jalan-jalan tol, dalam kecepatan minimal 60km/jam dan maksimal 100km/j, pengemudi dianjurkan untuk menjaga jarak aman sejauh 50 - 100m. Anda bisa menggunakan rumusan tersebut, tapi kebiasaan pengendara mobil di tol di Indonesia adalah di atas 100km/jam, sehingga mungkin perhitungan yang dianjurkan adalah hitungan detik karena jarak pengereman mobil kecepatan 100km/jam dengan 110km/jam tentu saja berbeda. Namun sebagai pengemudi yang baiknya, sebaiknya kecepatan mobil Anda di jalan tol jangan di atas kecepatan maksimal atau minimal yang dianjurkan.

9 Manfaatkan selalu sinyal-sinyal yang dimiliki oleh kendaraan Anda pada tempatnya dan pada saat dibutuhkan.

10 Selalu patuhi rambu-rambu lintas.

7
OTOMOTIF / Fakta-fakta gila seputar mobil F1
« pada: Juni 27, 2011, 08:18:57 pm »
Fakta-fakta gila seputar mobil F1

1 Mesin mobil F1 beratnya kurang dari 90kg dan dapat menyemburkan sekitar 800 tenaga kuda.

2 Mobil F1 terbuat dari 80.000 komponen dan kalau dirakit 99,9 persen benar, pada saat start masih memiliki 80 kesalahan.

3 Jika dirangkai, panjang kabel yang dipakai pada mobil F1 lebih dari 1km yang dihubungkan ke sekitar 100 sensor yang memonitor dan mengendalikan komponen-komponen mobil.

4 Mobil F1 dapat melaju dari kecepatan 0 – 160km dan kembali ke posisi diam (0km) hanya dalam waktu 4 detik!

5 Ketika seorang pembalap F1 menginjak pedal rem, maka perlambatan yang terjadi dapat disamakan dengan mobil biasa ketika menabrak tembok beton dengan kecepatan 300km

6 Berat mobil F1 kurang dari 550kg, atau setengah berat mobil Mini Cooper

7 Putaran mesin mobil F1 bisa mencapai 18000rpm (di mana piston bergerak ke atas dank e bawah 300kali dalam satu detik). Bandingkan dengan mobil sedan biasa yang putaran mesinya hanya sampai 6000 – 8000rpm. Alias tiga kali lebih pelan.

8 Pada tahun 2007, tim Ferrari, Toyota dan McLaren menghabiskan biaya berkisar antara 300 – 400 juta dollar AS (sekitar 3 - 4 trilyun) dalam satu tahun.

9 kru pit tim f1 papan atas bisa mengisi bahan bakar dan mengganti ban dalam waktu 3 detik.

sumber: http://eka-zulkarnain.blogspot.com

8
Pendidikan / Buat yang pengen tahu tentang BOS di sekolah
« pada: Juni 27, 2011, 08:12:16 pm »
Buat yang pengen tahu tentang BOS di sekolah

Tulisan ini hanya sedikit panduan untuk orang tua/wali murid dan masyarakat yang ingin tahu tentang program Bantuan Operasional Sekolan (BOS). Mudah-mudahan bermanfaat....

Tahun ajaran baru sekolah di negeri ini sudah dimulai. Banyak orang tua yang pusing untuk menyekolahkan anak-anaknya karena biaya sekolah yang sangat tinggi dan kadang-kadang tidak masuk akal.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita kerap kali mendengar kata Bantuan Operasional Sekolah alias disingkat BOS. Yakni sebuah program yang diluncurkan pemerintah untuk membantu meringankan beban orang tua /wali murid dalam membiayai anak-anaknya bersekolah dan program ini khususnya ditujukan kepada orang-orang yang tidak mampu. Artinya, orang tua murid dibebaskan membayar sejumlah beban biaya yang semestinya ditanggung, dan beban tanggungan itu sudah diambil oleh negara.

Namun pada prakteknya banyak terjadi penyimpangan baik yang disebabkan karena ketidaktahuan orang tua terhadap program BOS atau pun karena pihak sekolah yang memang sengaja melakukan penyimpangan. Berikut ini adalah panduan singkat tentang BOS

Apa sih program BOS itu?
Program ini telah diluncurkan sejak tahun 2005 sebagai bentuk kompensasi atas pencabutan subsidi bahan bakar minyak dalam rangka meringankan beban masyarakat. Di dalam perkembangannya, BOS telah menjadi upaya nyata pemerintah meringankan beban masyarakat – terutama masyarakat tidak mampu/miskin- dari pembiayaan pendidikan bagi seluruh siswa SD/Ibtidaiyah dan SMP/Madrasah Tsanawiyah atau pun yang sederajat baik negeri maupun swasta.

Tapi BOS tidak berlaku bagi sekolah bertaraf internasional (SBI) dan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).

Dan kini, pembiayaan Program BOS bukan berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan juga dana hibah dari negara-negara sahabat dan lembaga donor yang dikelola oleh Bank Dunia. Namun pelaksanaan BOS berada di bawah tanggung jawab Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Berapa biaya satuan BOS?
• SD/SDLB di kota : Rp 400.000,-/siswa/tahun.
• SD/SDLB di kab : Rp 397.000,-/siswa/tahun.
• SMP/SMPLB/SMPT di kota: Rp 575.000,-/siswa/tahun
• SMP/SMPLB/SMPT di kab : Rp 570.000,-/siswa/tahun
Biaya satuan ini sudah termasuk untuk BOS Buku

Apa saja yang ditanggung oleh BOS?
1. Untuk membeli buku teks pelajaran (BOS Buku)
2. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru: mulai dari biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan tersebut (misalnya untuk fotocopy, konsumsi panitia, dan uang lembur dalam rangka penerimaan siswa baru).
3. Pembelian buku referensi untuk dikoleksi di perpustakaan
4. Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pembelajaran pengayaan, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja dan sejenisnya (misalnya untuk honor jam mengajar tambahan diluar jam pelajaran, biaya transportasi dan akomodasi siswa/guru dalam rangka mengikuti lomba
5. Dan lain-lain, namun biasanya penggunaan dana BOS antar sekolah berbeda-beda tergantung pada kebutuhannya.

Bagaimana peran masyarakat khususnya orang tua/wali murid dalam program BOS?
seluruh pelaku pendidikan, orangtua/ wali murid dan masyarakat diajak terlibat sesuai peran dan fungsinya mulai dari proses pendataan siswa, verifikasi jumlah siswa dan dana yang diperoleh serta pengawasan terhadap pengelolaan dan penggunaan dana BOS. Partisipasi masyarakat di dalam Program BOS sudah dilibatkan sejak pendataan siswa penerima BOS di mana pelaku sekolah bersama Komite Sekolah dan wakil masyarakat di luar Komite Sekolah di setiap sekolah mendata siswa-siswa penerima BOS dan hasil pendataan itu akan diverifikasi keabsahan dan keakuratannya secara berjenjang oleh Tim Manajemen BOS.

Dana BOS harus dikelola secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan oleh sekolah; dan penggunaannya harus didasarkan pada KESEPAKATAN dan KEPUTUSAN BERSAMA antara pihak sekolah, Komite Sekolah dan wakil dari masyarakat.

Bagaimana pengawasannya?
sekolah WAJIB mengelola dana secara profesional dengan mengumumkan daftar komponen yang boleh dan yang tidak boleh dibiayai oleh dana BOS serta penggunaan dana BOS di sekolah menurut komponen dan besar dananya di papan pengumuman sekolah. Sekolah juga wajib mengumumkan besar dana yang diterima dan dikelola oleh sekolah dan rencana penggunaan dana BOS di papan pengumuman sekolah yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah, Bendahara dan Ketua Komite Sekolah.

Sekolah juga HARUS membuat laporan bulanan pengeluaran dana BOS dan barang-barang yang dibeli oleh sekolah yang ditandatangani oleh Kepala Sekolah, Bendahara dan Ketua Komite Sekolah dan mengumumkan mengumumkan laporan bulanan pengeluaran dana BOS dan barang-barang yang dibeli oleh sekolah tersebut di atas di papan pengumuman setiap 3 bulan.

Jika pelaksanaan program BOS di sekolah-sekolah tidak memenuhi kriteria di atas, maka masyarakat berhak untuk memberikan kritik dan pertanyaan terkait informasi itu.

Tapi sayang, penyimpangan BOS tetap aja banyak sehingga merugikan masyarakat. Padahal kan sekolah SD dan setingkat SMP bebas dari biaya, betul enggak?

Kalau Anda ingin informasi lebih lanjut, silakan klik saja: http://www.kemdiknas.go.id/satuan-pendidikan/program-kemdiknas/program-bantuan-operasional-sekolah.aspx

(Eka Zulkarnain, wartawan)
http://eka-zulkarnain.blogspot.com

9
Referensi Buku / Kenapa minat baca masyarakat indonesia rendah?
« pada: Juni 27, 2011, 07:59:17 pm »
Kenapa minat baca masyarakat indonesia rendah?

 

Oleh: SETIAWAN HARTADI
Pustakawan STIE Perbanas Surabaya

 
“Negara disebut maju dan berkembang kalau penduduknya atau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi dengan dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri tersebut.”
Minat Baca di Indonesia
Kalau kita berbicara mengenai minat baca, maka sudah sering  ditulis di berbagai media masa dan juga sering dibicarakan dan diseminarkan, namun  masih saja  topik ini masih sangat manarik dibicarakan, hal ini disebabkan karena sampai detik ini peningkatan minat baca masyarakat masih tetap berjalan ditempat walaupun disana-sini usaha telah dilakukan oleh pihak pemerintah dengan dibantu oleh pihak-pihak tertentu yang sangat berkaitan dengan minat baca masyarakat, seperti Guru, Pustakawan, Penulis, Media masa dan Gerakan Cinta Buku.  Padahal jika dicermati sejenak penerbitan majalah dan koran, dalam sepuluh tahun terakhir jumlah nama/judulnya sangat meningkat tajam. Mestinya semakin banyak penerbitan Koran dan majalah, maka akan berimbas pada peningkatan minat baca terhadap buku. Tetapi sayang, minat baca ini hanya sebatas peningkatan minat bacara masyarakat terhadap koran dan majalah saja. Sebagai masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan  kita mesti bertanya, kenapa hal ini terjadi atau apa penyebabnya sehingga minat baca masyarakat Indonesia dikatakan rendah dan berjalan di tempat ?.

Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat minat baca

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dan bisa menghambat masyarakat untuk mencintai dan menyenangi buku sebagai sumber informasi layaknya membaca koran dan majalah, yaitu:

-    Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat siswa/mahasiswa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang diajarkan dan mencari informasi atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di kelas.
-    Banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat  perhatian anak atau orang dewasa untuk menjauhi buku. Sebenarnya dengan berkembangnya teknologi internet akan membawa dampak terhadap peningkatan minat baca masyarakat kita, karena internet merupakan sarana visual yang dapat disinosimkan dengan sumber informasi yang lebih abtudate,   tetapi hal ini disikapi lain karena yang dicari di internet kebanyakan berupa visual yang kurang tepat bagi konsumsi anak-anak.
-    Banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket dll. 
-    Budaya baca  masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita, hal ini terlihat dari kebiasaan Ibu-Ibu  yang sering mendongeng kepada putra-putrinya sebelum anaknya  tidur dan ini hanya diaplikasikan secara verbal atau lisan saja dan tidak dibiasakan mencapai pengetahuan melalui bacaan.
-    Para ibu disibukan dengan berbagai kegiatan di rumah/di kantor serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, sehingga waktu untuk membaca sangat minim.
-    Buku dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal dan begitu juga  jumlah perpustakaan masih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk yang ada dan  kadang-kadang letaknya jauh.

Peran Orang Tua dalam menumbuhkan minat baca

Untuk mensiasati supaya masyarakat kita gemar membaca dan membaca adalah suatu kebutuhan sehari-hari, maka tidak ada jalan lain peranan orang tua sangat dibutuhkan dengan cara membiasakan anak-anak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan untuk membaca.dan bercerita terhadap buku yang dibacanya. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat  dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu kebutuhan bukan sekedar hobi melulu.

Peran Pemerintah dalam menumbuhkan minat baca

Peranan pemerintah daerah dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media masa, gerakan masyarakat cinta buku untuk  bersama-sama merangkul pihak-pihak swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil dilingkungan masyarakat seperti desa/kampung dengan bantuan berupa sarana dan prasarana dan koleksi perpustakaan yang pengelolaannya diserahkan kepada Ibu-Ibu PKK atau Karang Taruna.   Supaya gebyarnya lebih meluas  perlu diadakan lomba yang bisa di ekspos oleh media massa lokal maupun  nasional dengan iming-iming berupa hadiah yang menarik sebagaimana  lomba green and clean di Surabaya, dan ini harus dilakukan secara continue setiap tahunnya.

Peran Lembaga Pendidikan dalam menumbuhkan minat baca

Peranan kepala sekolah sangat penting sebagai ujung tombak terhadap pendirian perpustakan dan fungsi guru dan pustakawan sebagai pengembangan perpustakaan harus selalu mendapat perhatian serius dari pihak pemerintah daerah,  karena banyak sekolah dasar sampai menengah belum memiliki perpustakaan dan kalaupun ada sifatnya stagnasi  dan tidak berkembang karena kesulitan dana.  Pemerintah Daerah yang  sebenarnya harus  memfasilitasi perpustakaan sekolah dengan cara menggandeng pihak-pihak swasta sebagai sponsor atau sebagai mitra.  Perpustakaan keliling yang sudah ada sekarang ini perlu ditingkatnya dan  diperluas jangkauannya dengan penambahan armada dan koleksi setiap tahunnya dan  bukan malah sebaliknya  semakin  tahun semakin menurun dan akhirnya tidak beroperasi lagi  dan ini harus mendapat perhatian serius dari kita semua kalau   menginginkan bangsa kita cerdas dan pandai sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju.

Kalau kita cermati secara seksama sebenarnya untuk menciptakan dan mengembangkan minat baca masyarakat  akan bisa terwujud  kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan,  Orang tua, pecinta buku maupun  elemen masyarakat  mau duduk bersama-sama satu meja dan sama-sama berusaha untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui  pemasyarakatan perpustakaan.  Kalau semua sekolah/perguruan tinggi maupun dalam lingkungan kampung/desa tersedia perpustakaan maka  tentu banyak buku yang diperlukan untuk mengisi perpustakaan tersebut.  Dengan demikian betapa banyak penulis buku, penerbit, dan toko buku yang memproduksi dan mengedarkan buku serta mengisi perpustakaan di seluruh negeri. Dengan demikian lapangan kerja terbuka luas dan berpotensi besar dan inilah yang diharapkan oleh pengarang maupun penerbit  supaya dunia buku tidak lesu dan gulung tikar.

sumber: http://library.perbanas.ac.id

10
Referensi Buku / Apa memang harga buku di Indonesia terlalu MAHAL???
« pada: Juni 27, 2011, 07:56:12 pm »
Harga buku mahal, minat baca masyarakat rendah


SURABAYA, kabarbisnis.com: Mahalnya harga buku di Indonesia mengakibatkan sulitnya akses masyarakat untuk bisa menyalurkan minat membaca. Sementara jumlah perpustakaan yang ada juga sangat terbatas.

Tidak mengherankan jika kemudian jumlah penghobi baca di Indonesia sangat kecil. Padahal pertumbuhan tingkat baca berbanding lurus dengan pertumbuhan kecerdasan bangsa.

Hasil penelitian Organization for Economic Co-Operation and Development (0ECD) menyatakan bahwa dari 52 negara di kawasan Asia Timur, Indonesia menempati urutan terbawah dalam hal budaya membaca.

"Sebenarnya, tidak benar jika dikatakan minat baca masyarakat Indonesia rendah. Karena dari penelitian yang pernah kami lakukan kepada sekitar 400 responden, 70% mengatakan selalu membaca buku. Ada yang satu bulan satu buku, malah ada yang satu minggu membaca satu buku. Namun karena harga buku sangat mahal, mereka mengaksesnya melalui perpustakaan," ungkap General Manager Kompas Gramedia Group, Nugroho F. Yudho, usai jumpa pers Pameran Buku Media Kompas Gramedia Fair di Library Cafe Gramedia Expo, Surabaya, Rabu (13/4/2011).

Padahal jumlah perpustakaan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya Jatim sangat terbatas. Data yang ada menunjukkan, dari total jumlah Sekolah Dasar (SD) di Jatim yang mencapai 198.000 unit sekolah, hanya 1,6% yang memiliki perpustakaan. Sementara jumlah perpustakaan di seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Jatim mencapai 30%, di Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai 40% dan Perguruan Tinggi mencapai sebesar 60%.

"Untuk itu, kami saat ini mencoba berkonsentrasi bantu pembangunan perpustakaan komunitas di kampung-kampung dan memberikan bantuan mobil perpustakaan keliling," ungkapnya.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf bahwa dibanding Malaysia dan Singapura, Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 230 juta jiwa, tingkat baca masyarakat Indonesia masih sangat kecil. Ini karena aksesbilitas ke arah suka membaca belum terfasilitasi.

Karenanya, Pemprov Jatim terus berupaya menambah jumlah perpustakaan di seluruh wilayah Jatim, khususnya di beberpa wilayah terpencil, karena pertumbuhan jumlah perpustakaan di wilayah tersebut sangat kecil, tidak seperti di Surabaya dan kota besar lainnya. Per tahun, lanjutnya ada dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jatim yang dialokasikan untuk pembangunan perpustakaan sebesar 30 unit perpustakaan.

"Dan saya akan menganjurkan, mobil perpustakaan yang disumbangkan oleh Kompas Gramedia Group ini akan diletakkan di wilayah terpencil agar akses mendapatkan buku bagi masyarakat di wilayah tersebut bisa terpenuhi dan disparitas layanan perpustakaan akan semakin kecil," tegas Saifullah.

sumber: http://www.kabarbisnis.com

11
Membuka Kunci Gudang Ilmu, Menggali Kekayaan Hidup


Setelah Hari Buku Internasional (World Book Day) yang jatuh pada tanggal 23 April setiap tahunnya, Indonesia juga memiliki Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei.  Tanggal tersebut dipilih karena merupakan tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Jakarta, 17 Mei 1980.

Buku adalah jendela dunia.  Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya.  Pepatah-pepatah tersebut tentu tidak asing lagi di telinga kita, dan memang, buku merupakan sumber berbagai ilmu pengetahuan dan informasi.  Dengan membaca buku, kita dapat membuka wawasan, mengetahui, mempelajari serta memahami banyak hal.  Buku membantu kita melihat dunia tanpa perlu mengelilinginya, mengenal berbagai sudut pandang, menemui bermacam-macam karakter dan perbedaan, serta belajar dari pengalaman orang lain.  Membaca buku memperkaya jiwa, melatih imajinasi, mengasah pikiran kita dan memudahkan kita dalam mencerna berbagai hal serta mencoba hal-hal baru, membantu kita untuk lebih bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu, menularkan semangat dan menimbulkan inspirasi dalam menjalani hidup serta terus berkarya.  Tidak salah bila dikatakan bahwa buku merupakan sumber kemajuan peradaban suatu bangsa.

Bagaimana dengan Indonesia?

Data Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang mencari informasi baru dengan membaca berjumlah sekitar 23,5 % dari total jumlah penduduk. Bandingkan dengan jumlah penonton TV sebanyak 85,9 % dan pendengar radio, yaitu sekitar 40,3%.

Pada tahun yang sama, Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) mengeluarkan hasil studi lima tahunannya, yang melibatkan siswa Sekolah Dasar (SD).  Berdasarkan hasil studi tersebut, Indonesia menempati posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian, di atas Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.  Bahkan, menurut UNESCO, organisasi PBB di bidang pendidikan dan kebudayaan, minat baca bangsa Indonesia adalah yang paling rendah di ASEAN.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh United Nations Development Programme (UNDP), juga disimpulkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah, dilihat dari rata-rata orang Indonesia yang hanya membaca nol sampai satu judul buku per tahun.  Jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia juga turut mendukung pernyataan ini.  Dalam setahun, Indonesia hanya menerbitkan kurang lebih 8.000 judul. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul buku per tahun dan Vietnam yang per tahunnya bisa menerbitkan 45.000 judul buku.

Sungguh disayangkan bukan?  Padahal, seperti yang kita ketahui, begitu banyak manfaat buku yang tidak kita dapatkan dengan menonton televisi atau mendengar radio.  Dengan minat dan budaya baca yang begitu rendah, tidak heran jika kita jauh tertinggal dari negara-negara lain, khususnya yang memiliki budaya baca yang tinggi.

Jepang misalnya.  Di negara sakura itu, budaya membaca sudah diperkenalkan sejak dini.  Masyarakat Jepang menghabiskan banyak waktunya untuk membaca, dimana dan kapan saja, hingga mereka pun menjadi bangsa yang maju. Sedangkan di Indonesia, membaca sepertinya belum dianggap sebagai sesuatu yang penting.  Hal ini dapat dilihat dari kurikulum pendidikan formal yang belum mendukung pembentukan budaya membaca, juga sarana dan prasarana, seperti perpustakaan, yang belum mendapat perhatian sehingga masih sangat kurang dari segi jumlah maupun kualitas.

Data dari Center for Social Marketing (CSM) menunjukkan bahwa jumlah buku yang wajib dibaca oleh siswa SMA di Amerika Serikat sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, sedangkan Indonesia 0 buku.

Hari Buku Nasional ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya buku bagi kehidupan dan kemajuan kita. Karenanya, sangat penting bagi kita untuk mulai membiasakan diri membaca buku, kemudian menularkan kebiasaan itu pada orang-orang di sekitar kita.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5). [aca]


sumber: http://www.alifmagz.com

12
Televisi dan Media Lainnya / Re: Hidup Ini Indah (host Mas Narko)
« pada: Juni 01, 2010, 03:56:40 pm »
kayak gni memang harusnya acara2 yg memotivasi, kebanyakan malah acara2 televisi bicara tentang kesusahan dan penderitaan, fyuh... sama aja menyebarkan energi2 negatif.

13
Referensi Buku / Re: Kumpulan e-book bhs Indonesia & Asing
« pada: Mei 04, 2010, 04:40:21 pm »
yang butuh ebook politik, novel/cerpen, bisnis, motivasi, kesehatan, dsb...japri saya ke: langlang_buana2002@yahoo.com  ;)

terlalu banyak untuk di list disini soalnya...

salam,

ada alamat webnya ngga?

14
KARIR & LOWONGAN KERJA / Re: Kenapa pengen jadi PNS?
« pada: Maret 31, 2010, 07:20:30 pm »
temanku baru 3 minggu masuk jadi PNS,

dan sekarang keadaannya..................... rada2 stress... hehehe..
dia benar2 ngga tahan masuk kerja ngga jelas apa yang dikerjakan dan memang kebanyakan ngga kerja.
katanya ada yang senior dari jam 9 sampai jam 3 an (dipotong istirahat) kerjaannya main solitaire... gubrak..
trus yang lain rame2 gantian main zuma.... pyuh...

kena batunya dia, dia orangnya sangat agresif dan suka petualangan, sekarang terasa jadi PNS, selamat berpetualang... hehehe...

15
KARIR & LOWONGAN KERJA / Re: Kenapa pengen jadi PNS?
« pada: Maret 22, 2010, 07:18:53 pm »
katanya berdasarkan survey lebih dari 60% yang jadi PNS karena memenuhi keinginan orang tua, benarkah?

Halaman: [1] 2 3 ... 232