Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - arif budiman

Halaman: [1] 2 3 ... 6
1
Saya temukan sosok ideal pegawai pajak pada mendiang suami saya. Hanya Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah menciptakan sosok yang hampir sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail Najib nama lengkapnya. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana di pelosok Jambi. “Ayah,” kami biasa memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya Mael. Teman kantornya memanggilnya Najib –atau Pak Najib.

Abang pergi mendahului kami. Ia menitipkan tiga buah-hati kami. Dafi Muhammad Faruq, putra, umur enam tahun, kini kelas satu SD. Adiknya, dua putri cantik kami, Kayyisah Zhillan Zhaliila, usia tiga tahun dan Mazaya Hasina Najib, tiga bulan. Ketika Abang mangkat pada 21 Februari 2011, si bungsu masih dalam kandungan empat bulan. Meski telah pergi, Abang mendidik saya menjadi orang kuat dan mandiri. Dengan kondisi long distance, saya memilih homebase di Kota Kembang demi pendidikan anak anak. Dengan bekal ilmu agama yang Almarhum berikan, sekarang saya menjadi tahu apa itu arti syukur, ikhlas, dan tawakal. Itulah yang membuat saya harus bangkit menyikapi keadaan ini.

Pegawai Pajak, pekerjaan yang luar biasa “banyak godaannya”. Abang memberikan pengertian pada saya bahwa materi yang identik melekat dengan pegawai Pajak, jangan menjadi patokan kebahagiaan dan kesenangan. Karena, tidak semua orang Pajak bermateri (saat itu saya tidak mengerti apa maksudnya).

Hingga sekitar 2005, Abang mengutarakan puncak kegundahannya. Setelah bekerja selama satu dekade , kebimbangan itu pun terucap, “Bunda, Ayah takut apa Ayah sudah menafkahi keluarga ini dengan halal?” ia bertanya kepada saya. Banyak pandangan negatif terhadap pegawai Pajak saat itu –bahkan hingga kini. Saya bekerja di satu bank BUMN. Banyak nasabah dan teman seprofesi yang “curhat” tentang tindak-tanduk pegawai Pajak dan betapa ribetnya mengurus pajak –waktu itu, sebelum modern.

Kami melihat kenyataan bahwa saat itu ada pegawai pelaksana yang punya rumah dan mobil mewah. Abang seorang kepala seksi, dan kondisi itu yang membuat Abang sering memberi pengertian pada saya. Sebagai seorang istri pegawai Pajak, saya harus hidup sederhana dengan gaji sebagai PNS. “Jangan pernah terpengaruh dan mempengaruhi suami untuk mendapatkan sesuatu yang tidak halal,” Abang memberi nasihat.

“Apa gaji yang ayah terima ini halal?” kembali ia gusar. “Nafkahilah keluarga ini dengan keringatmu. Bun percaya, Ayah akan memberikan yang terbaik untuk kami,” jawab saya.

“Kira kira bagaimana jika Ayah keluar saja? Jadi guru ngaji,” tuturnya membulatkan tekad. Matanya berlinang. Saya pun ikut menangis saat itu.

“Ayah, apa gak mau lingkungan Ayah jadi lebih baik? Kalau Ayah mundur sekarang, gak ada perubahan di Pajak. Ayah harus mengubah kebiasaan itu. Pajak memerlukan orang seperti Ayah untuk bisa berubah. Ayah pasti bisa,” tutur saya menyambung percakapan waktu itu.

“Iya yah, Bun,” jawabnya. Kegelisahan itu akhirnya terjawab dengan modernisasi dan reformasi birokrasi DJP. Pada 2006, sampailah juga gelombang kantor modern di Jawa Tengah –waktu itu Abang dinas di Pekalongan.

Abang orang yang sangat sabar, tenang, tak banyak bicara. Malah terkadang tanpa ekspresi. Namun dalam diamnya, saya tahu ia tak diam. Selama kami bersama, belum pernah ia marah sekalipun. Ia laki-laki yang hangat dan update –selalu tahu semua hal. Diajak segala macam diskusi, pasti langsung nyambung apapun topiknya, apalagi soal agama. Keseimbangan itu yang kami teladani di rumah. Ia orang yang ngocol, kadang jail dan sangat romantis. Dengan gitar kesayangan, ia sering bernyanyi bersama anak-anak dengan kekonyolannya, melucu sampai tertawa terbahak-bahak. Itu semua momen yang kami rindukan.

Salah satu lagu pengantar tidur anak-anak yang sering dinyanyikan, “Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian,melainkan yang beriman dan yang beramal sholeh, ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum mati…”

Loyalitas dan dedikasinya yang tinggi tak diragukan. Saya acungi jempol. Saya ingat, saat itu saya sedang hamil enam bulan anak pertama. Tatkala terkena pengristalan batu ginjal, ia masih bekerja larut hingga hampir pingsan di sebuah klinik di Pekalongan. Opname yang dianjurkan dokter tak dihiraukannya. Saat itu hari-hari akhir penerimaan SPT wajib pajak. Operasi “tembak” adalah solusi yang kami pilih karena bisa lebih cepat pulih dan tidak usah dilakukan pembedahan. Saran dokter, opname selama dua minggu. Namun, bedrest hanya bertahan tiga hari. Kala itu belum ada mesin absen fingerprint. Masih serba manual dengan tanda tangan. “Titip absen saja, kenapa?” saya saking kesalnya memberi saran. “Lagi sakit kok mikirin kerjaan, gimana bisa orang sakit kerjanya maksimal?”

Abang hanya tersenyum mendengar kekesalan saya. Alhasil, dengan keadaan yang masih lemas, ia tetap kerja. “Sakit itu ujian dari Allah. Harus kita nikmati,dan jangan mengeluh,” jawabnya simpel.

Tiga tahun tugas di Pekalongan dilalui dengan baik. Lalu, Abang mutasi ke Palembang. Satu sisi lebih jauh dengan kami. Tapi di sisi lain, lebih dekat dengan kampung halamannya. Alhamdulillah, Agustus 2010, kami didekatkan. Abang mutasi di Kantor Pelayanan Pajak BUMN, kantor pajak dengan penerimaan terbesar, yang perlu effort lebih tentunya. Saya hanya bisa berdoa agar setiap langkah yang Abang ambil adalah yang terbaik. Saya dan Ibunda tercinta –mertua saya–
mengkhawatirkannya. Semoga ia selalu sehat dan jauh dari “godaan”. Setiap minggu Ibunda selalu mengingatkan, “Mael, hati-hati dalam setiap memutuskan sesuatu. Jadilah orang yang jujur dan jangan sampai tergoda dengan duniawi ya.”

“Kenapa suamimu gak minta pindah di Bandung saja? Kan bisa lewat Si Anu. Yah, minimal setor satu Kijang lah,” salah satu teman saya yang suaminya juga di Pajak mengipas-kipasi. Saya tak tahu maksud ucapannya, apakah ia bercanda atau serius.

Dan seperti biasanya, ia hanya tersenyum saat saya ceritakan hal itu. “Sudah, gak usah dipikir. Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita. Yah kita berdoa saja. Sekarang Pajak sudah modern udah gak perlu kayak gitu lagi kok. Yang penting kerja kita bagus. Apapun yang kita lakukan karena Allah. Malah jadi ibadah kan?”

Ketika kasus Gayus terekspos, tentu ini mengecewakan banyak pihak yang telah bekerja keras. Di satu sisi justru suami saya senang. “Pada akhirnya, biarlah yang benar yang akan menang,” tuturnya. Di sisi lain, kita harus membuktikan bahwa tidak semua orang Pajak seperti Gayus. “Orang Pajak sekarang beda dengan yang dulu. Sudah modern, sudah tidak ada lagi ‘kebiasaan’ Itu,” tuturnya yakin. Secara tidak langsung saya pun ikut menjadi “jubir” bagi teman-teman di lingkungan saya.

Kebiasaan Abang yang lain adalah ingin perfeksionis. Ia ingin segala hal sempurna, rapi, dan sangat teliti. Tak mau meninggalkan cela pada pekerjaannya. Contoh kecil saja, saya kalah bila harus menyetrika bajunya. Tanpa menyakiti hati saya, ia bilang lebih puas dengan hasil setrika sendiri.

Februari 2011, Abang mengemban amanat, jadi satu anggota tim yang menyusun sebuah buku coaching di Kantor Pusat. Ia siap mengutarakan sejumlah gagasan untuk penyempurnaan program itu. Sayang, dalam perjalanan menuju medan tugas itu, Abang menyongsong takdirnya. Satu titik dalam sebuah periode yang mengubah total kehidupan saya dan anak-anak.

* * *

Dua kali kami tertunda berangkat haji. Pada akhir 2008, kami sudah siap. Namun, Abang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang tugas dari Palembang menuju Jambi. Tabungan kami untuk Ongkos Naik Haji pun akhirnya terpakai untuk biaya mengganti mobil dinas Livina yang ringsek. Abang tak mau memanfaatkan fasilitas asuransi kendaraan kantor. Dia memilih bertanggung jawab sendiri. Uang bisa dicari, mungkin Allah belum berkehendak. Yang penting Abang selamat. Tahun 2009 pun kami lewatkan. Maklum, masih belum cukup biaya untuk melunasi. Hingga akhirnya, 2010, saya mantap naik haji. Berapapun biayanya. Apapun kendalanya. Saya berdoa, “Mudahkan ya Allah, kami ingin beribadah.”Alhamdulillah, ada jalan walaupun kami harus memanfaatkan pinjaman kantor saya. Itupun Abang masih ragu, “Bunda, apakah ini hak kita?” tanya Abang. Padahal, dengan gajinya sekarang, mungkin Abang bisa saja langsung melunasi ONH. Namun tidak demikian. Abang masih bersikeras dengan alasannya. Alhamdulillah akhirnya saya dapat memantapkan hati Abang. Dengan izin-Nya, kami bisa melunasi ONH dari hasil tabungan gaji pokok PNS, bonus, dan sedikit tambahan pinjaman. November, tiga bulan sebelum kehilangannya, berangkatlah kami berdua.

Sepertinya Allah sudah menyusun rencana dengan sangat indah. Empat puluh hari saya bersamanya di tanah suci adalah waktu yang sangat indah dan tak dapat saya lupakan. Selama kami berumah tangga dari awal menikah, kami belum bisa kumpul bersama. Saat itulah saya merasakan indahnya kebersamaan yang tak ingin terpisahkan. Sempurna rasanya sebagai istri yang bisa melayani dan mengurus suami. Begitupun Abang. Ia menunjukka keceriaan yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Abang adalah tipe orang yang sangat perhatian dan romantis. Satu kali kami hendak salat dan saya berdiri di samping belakangnya. “Bunda salatlah di saf (barisan) perempuan.” “Tapi, Ayah… Bunda sendirian.” kebetulan saat itu suasana padat sekali di Masjidil Haram. Saya sempat mengelak.

“Berjihadlah, ayah bertanggung jawab mendidik Bunda dan anak-anak.” Sedih rasanya mendengar jawaban itu. “Bunda harus terbiasa sendiri,” sambung Abang.

“Kenapa, Yah?”

“Karena kita lahir sendiri. Mati pun sendiri.”

“Jangan bilang gitu yah. Anak-anak masih kecil.”

“Ada Allah yang menjaga anak-anak,” Senyumnya membuat hati saya merasa tenang dan yakin. Ternyata ini pesantren yang Allah berikan lewat ilmu agama yang baik dari Abang. Saya dapat pengetahuan banyak.Terima kasih ya Rabb, Kau telah memberikan kesempatan untuk kami dapat beribadah bersama. Sungguh, momen itu tak mungkin bisa terlupakan. Banyak nikmat yang kami terima sampai kami tiba ke tanah air dengan selamat. Hadiah terindah dari Tanah Suci, saya positif hamil.

Beberapa peristiwa merupakan pertanda yang tak saya sadari. Tanggal 9 Februari 2011, dua pekan sebelum hari celaka itu, kami nonton teve bareng. Ada berita tentang selebritis yang jadi politisi kehilangan suaminya –yang juga artis cum anggota Dewan. Sang istri menangis mengelus-elus nisan suami. “Kalau Bunda seperti itu gimana, ya Yah? Anak-anak masih kecil…” spontan saya nyeletuk dengan maksud bercanda.

Entah kenapa rasa humor yang seperti biasanya, hilang tergantikan dengan tausyiah. “Itu yang tidak boleh,” tuturnya tenang, “menangis, meratapi di pusara tidak baik. Yang diperlukan orang yang telah meninggal adalah doa dari yang masih hidup, bukan bunga yang wangi atau nisan yang indah. Saat Nabi Muhammad ditinggal istri tercinta Khadijah pun beliau merasakan kehilangan dan hanya berkabung tiga hari. Boleh menangis, asal jangan meratap.”

“Hidup di dunia hanya sementara, justru hidup setelahnya yang akan kekal. Perbanyaklah bekal untuk di akhirat. Tiada daya upaya manusia untuk mencegah bila Allah telah berkehendak untuk mengambil nyawa manusia. Jangan takut, Allah lebih dekat dari urat nadi kita. Banyak baca buku tentang agama, yah Bun. Biar tambah banyak ilmunya.”

Dengan senyuman khas yang menenangkan, Abang tak pernah seperti sedang mengajari bila ia sedang berbagi ilmu. Abang berujar, “Tolong jaga anak-anak. Didik agamanya dengan baik. Istikamahlah karena bila agamanya kuat dan takut kepada Allah, dia bisa menghadapi dunia dengan ilmu. Bukan dengan harta dan ingat Allah selalu tahu apa yang kita perbuat.”

* * *

Semenjak pulang ziarah, Abang memperlakukan saya begitu istimewa. Mungkin karena saya sedang hamil. Saya begitu dimanjanya. Hingga Minggu malam itu (20/2)… Kehamilan dua anak sebelumnya, Abang tak pernah menuruti keinginan saya, sekalipun merajuk jika meminta sesuatu. Tapi malam itu… “Kita makan di luar yuk. Bunda pasti pengen apa deh. Kan lagi hamil muda. Ayo lagi kepengen apa?” ujarnya setengah memaksa untuk pergi. Akhirnya kami pergi makan di sebuah resto ikan bakar favoritnya. Karena lama tugas di Makassar, kuliner ikan wajib sebulan sekali buat kami. Abang memesan menu lebih banyak dari biasanya. Alasannya, bisa dibungkus untuk sahur. Alhamdulillah, Senin-Kamis tak pernah terlewatkan untuk puasa sunah. Apa ini yang disebut pertanda? Hendak berangkat ke resto, kami mendapati ban mobil kempes. “Bersyukur, Bunda. Kita keluar rumah nih. Ban kempes, kalo ketahuannya besok pagi, bisa-bisa Ayah kesiangan rapat di Kantor Pusat. Ayah yang menyiapkan ide, masak terlambat? Gak enak dong.”Lagi lagi dengan senyumanya.

Tengah malam, Kayyisah panas dan muntah. Rewel sekali. “Dede (panggilan Kayyisah) pengen tidur sama Ayah aja…. Pengen dipeluk Ayah… aku sayang Ayah. Ayah gak boleh kerja,” rengeknya. Abang pun membuka baju, dan memeluk Dede. Dan Alhamdulillah panasnya reda. Dede pun terlelap.

Pukul setengah tiga dini hari, kami bangun salat tahajud. Biasanya, kami selalu berjamaah. Setelah berdoa, kami berpelukan, saling meminta maaf. Ritual itu tak pernah absen kami lakukan sehabis salat. Tapi kali ini Abang minta salat sendirian. “Kita pisah yah. Ayah mau memperbanyak salat tahajudnya.”

“Kenapa?” pertanyaan itu mestinya saya ungkapkan. Tapi tertahan di hati saja.

Ikan bakar yang seharusnya jadi menu sahur tak Abang sentuh. Malah, Abang meminta buah. “Bun, tahu gak buah-buahan itu makanan di surga. Jadi Ayah cukup sahur dengan apel aja.” Saya tak bertanya, dua minggu terakhir ini Abang bertausyiah tentang kematian terus. Keanehan yang lain, Abang menitipkan Dede sama Mbak (pengasuh anak kami) berulang-ulang.

“Tak seperti biasanya, Bapak nyuruh jagain Dede berulang gitu. Kok kaya mau kemana aja,” ujar Mbak kepada saya. Jam 03.30 pagi. Saya dan Dafi mengantarnya hingga ke pool travel Xtrans di Metro Trade Center. Keanehan yang lain terjadi lagi. Abang tak mau memandang saya. Seperti orang yang sangat sedih mau pergi. “Ayah mau salat di mobil saja. Bun, hati-hati ya. Titip anak-anak,” itu kalimat terakhirnya. Biasanya Abang minta berhenti di rest area guna salat subuh.

Tepat pukul 04.30. Ring tone hape yang sengaja saya bedakan berbunyi. Abang menelepon saya. Sayang, tak sempat saya angkat karena rasa kantuk. Kami begadang karena Dede rewel semalaman. Seandainya saja saya bisa angkat telepon itu, mungkin saya bisa mendengar suaranya yang terakhir kali…

bersambung...

2
Cerita Lucu / "GUE UDAH TAU SEMUANYA!"
« pada: September 29, 2011, 04:13:33 pm »
alkisah Paijo, pengen ngerjain orang dengan kata:
'GUE UDAH TAU SEMUANYA'

Yang pertama, dia nelepon temannya:

'Rit, gue udah tau semuanya!'
'Hah' Suara disana terdengar lemas.
'Jo, elu jangan bilang Indri kalo gue jalan sama cowoknya ya Jo. Gue ada voucher makan di HokBen, elu jangan bilang-bilang yah. Sorry gue cuma bisa ngasih itu doang.'

'Oke lah, gue sih terima aja, lu kan temen gue.'

Begitu telepon ditutup, Paijo langsung teriak girang. 'Wah oke juga nih, gue dapet voucher HokBen'

Coba gue praktekin lagi.'

Kali ini Paijo masuk kamar kakaknya dan langsung bicara pelan didekat kuping kakaknya yang lagi tiduran.
'Wa, gue udah tau semuanya.. Ternyata gitu ya Wa.' Dewa langsung bangun, mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Paijo.
'Jo, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue kasih bensinnya. Tapi jangan bilang Papi kalo gue nyimeng yah'

'Beres' Paijo benar-benar girang,

Kali ini dia mencegat Papinya yang baru pulang kerja.

'Papi' .... Paijo mengejar Papinya yang cuek bebek.
'Pih, Paijo mau ngomong'
'Ada apa sih Jo ?!! Papi capek nih.'
'Paijo udah tau semuanya Pih!'
Mendadak Papinya celingukan, mengeluarkan HP dan menelepon seseorang, lalu bicara dengan bisik2 ke Paijo,
'Jo, Credit Card kamu udah Papi aktifkan lagi. Tapi Jangan pernah bilang Mami soal si Inem ya..'

Paijo girang campur sebel. Ternyata Papinya menduakan Mami cuma demi pembantunya, si Inem..
Paijo langsung berlari tanpa sepatah katapun.

Diluar, Paijo bertemu Pak Udin, sopirnya yang sudah belasan tahun bekerja dirumahnya. Paijo mulai usil lagi. Dia kesal juga, pasti dia tau soal si Inem, tapi bungkam selama ini,
gue kerjain juga nih, pikirnya.

'Pak.. !!!' Suara Paijo benar-benar membuat kaget sopirnya,
'Saya sudah tau semuanya!!'
Pak Udin terbengong, dan perlahan meneteskan airmata.  Paijo jadi bingung??????

'Jo!!!...Peluklah Bapakmu ini Sayang...Akhirnya kau tau juga...   
Paijo PINGSAN dengan sukses !! :)) =))

3
Bina Keluarga / 30 Tahun Menikah Belum Pernah Melihat Wajah Istri
« pada: Maret 07, 2011, 02:50:06 pm »
http://kosmo.vivanews.com/news/read/207419-30-tahun-menikah-belum-lihat-wajah-istri

sempat bengong baca berita di atas...
apalagi istrinya malah ngancam cerai  #:-S
berarti tu suami selama 10 tahun banyakan baca bahasa/isyarat tubuh daripada ngeliat ekspresi wajah istri
ga kuat deh....

4
Cerita Lucu / Dialog Absurd di Jakarta
« pada: November 09, 2010, 12:43:44 pm »
dari milis (diedit):

Basa Basi Basi...
Pelayan Cewe:"Arigato go zai mas..."
Pemuda Playboy sok tau:"Arigato go zai mbak..."

Sumire-Grand Hyatt, didengar oleh rombongan ABG cewek yang cekikikan geli sambil ngeliatin si playboy sok tau


 
Itu mah sekali jepret langsung lari...
Pembeli rese:"Mas,ada kamera paranoid ga?"
Penjaga bingung:"Hah?"
Pembeli rese:(nada sok tau) "Itu yg sekali jepret langsung jadi..."

Studio Foto, didengar oleh seorang wanita yang sedang membeli rol film sambil membayangkan ekspresi kamera ketakutan
 
 
Gak bisa diusahain, mas?

Internet addict:"Mas, di sini ada hotspot-nya gak?"
Pelayan:"Kebetulan restoran kami hanya menyediakan makanan Indonesia dengan penyajian standard, mbak."

Restoran di Kemang, didengar oleh seseorang pengunjung yang hampir tersedak tulang karena menahan tawa

 
Kan sekarang jaman mahal!
Si bungsu perempuan ngomong ke Ibunya:"Jadi nanti kita daftar TV Kabelnya di Kebon Jeruk yah"
Ibu dengan wajah berseri-seri:"Ya, mending begitu. Kebon Jeruk kan enggak terlalu jauh dari rumah. Jadi nanti kabelnya bisa lebih pendek. Lebih murah."

Rumah di Kemanggisan, didengar oleh kakak lelaki yang tiba2 ingin membenturkan kepalanya ke tembok.
 

Kalo sinyalnya menipis mungkin namanya berubah...
Ibu yang mau beli HP:"HP yang ini ada G-String-nya ngga?"
Penjual HP:(bengong, berharap salah denger) "Hah?"
Ibu yang mau beli HP:"Kalo yang ini (nunjuk HP lain) ada G-String-nya apa ngga?"
Penjual HP:(masih bengong dan masih berharap salah denger) "G-String?"
Ibu yang mau beli HP:"Iya. Itu lho, yang kalo nelepon kita bisa liat muka orang yang teleponan sama kita."
Penjual HP:"Ya amplop! 3G?"
Ibu yang mau beli HP:"Nah itu dia. Emang tadi ibu ngomongnya apa?"

Sebuah toko HP di Roxy, didengar oleh pembeli lain yang ngebayangin HP pake G-string.
 

Tambah satu kilo, saya lapar...

Pembeli:"Mas, beli paku tembok..."
Penjual:"Berapa?"
Pembeli:"Setengah kilo aja..."
Penjual:"Dibungkus?"
Pembeli:(dengan wajah kesal) "Ngga! Makan di sini!"

Toko bangunan di condet, didengar pelanggan yang jadi bingung, "ini toko bangunan apa warteg?"
 

Sehat bener ya, jaringannya...
Programmer 1:"Kemaren internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2:"Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!"
Coordinator:"Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand..."

Sebuah kantor IT, didengar oleh teman-temannya yang langsung cekakakan.
 

Tagihan di Papan Pengumuman..
Di sebuah restoran,
Teman #1:"Eh udahan yuk, kite cabut.."
Teman #2:"Gua aja yang bayar.. Mas! Mas! Tolong Billboard-nya bawa sini!

Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya
 
 
Kebiasaan ya Mbak?
Kasir:"Mau order apa, mas?"
Pembeli:"Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir:"Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?"

Restoran fastfood di Jakarta, didengar pembeli lain yang langsung geleng2 kepala heran "ni kasir di-training dulu ga sih?"
 

Terus jangan kemanisan ya...
Istri terlambat datang:"Yang, kamu tadi pesan apa?"
Suami:"Escargot."
Istri (ke pelayan):"Saya pesan itu juga, tapi es-nya jangan banyak-banyak ya.. lagi agak flu."

Restoran Perancis di Jakarta, didengarkan oleh semua hadirin di meja yang terbengong-bengong kegelian.

 
 
Money can't buy everything...
Bos Tajir1:"Wah, gua baru beli notebook baru, canggih, keren..."
Bos Tajir2:"Oh ya, notebook loe merknya apaan?"
Bos Tajir1:"Microsoft."

Restoran di Hotel Borobudur, didengar oleh pelayan restoran yang ngerasa otaknya lebih "tajir".

5
Cerita Lucu / Kiper Ke-PeDe-an
« pada: November 09, 2010, 11:49:25 am »

6
ada yang tau software yang bagus untuk convert file movie (mpeg, avi, mkv, dll) ke format DVD?
saya pake sonic tapi hasilnya suka bermasalah kalo diputer di DVD player..

7
Bina Keluarga / Behind the Scene: Smart Parenting Talkshow
« pada: Maret 10, 2010, 06:47:28 pm »
Ayah dan Bunda tahukah anda, Salah memilih sekolah membuat potensi kecerdasan Buah hati sulit berkembang…

So, jalan keluarnya bagaimana dong..??

Temukan Solusinya di : Smart Parenting TALKSHOW


"Bijak Memilih Sekolah yang Sesuai dengan Potensi Anak dan Cerdas Membangun Kesiapan Anak Masuk Sekolah"


8
Puisi / MOVED: [bukan puisi gw, tapi bagus] Kabut Putih di Tanahku
« pada: Maret 10, 2010, 10:44:54 am »
Tulisan yang tidak mengusung agama ini sepertinya cukup islami untuk bisa menempati Topik Islami Artikel Pilihan.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=18644.0

9
Suami & Istri Sholehah / DIPINDAHKAN: Dan aku pun mulai SELINGKUH.
« pada: Desember 31, 2009, 12:54:11 pm »
Karena menurut TS sendiri ini adalah cerita novel yang ditulisnya, maka lebih pas kalo topik ini dipindahkan ke Referensi Buku.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=17058.0

Terima kasih atas pengertiannya :)

10
Suami & Istri Sholehah / DIPINDAHKAN: Musti gimana? Mohon saran...
« pada: Desember 11, 2009, 05:46:05 pm »
Topik ini lebih cocok di Jodoh & Pernikahan.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=16965.0

Terima kasih atas pengertiannya :)

11
Jodoh & Pernikahan / DIPINDAHKAN: Mimpi di patuk (digigit) ular
« pada: September 01, 2009, 12:21:15 pm »
Walaupun terkait masalah jodoh tapi substansinya adalah membahas tafsir mimpi, jadi topik ini saya pindahkan ke Freedom of Speech.

http://forum.dudung.net/index.php?topic=16298.0

12
Bina Keluarga / DIPINDAHKAN: Lafadz Talaq
« pada: Agustus 25, 2009, 04:38:05 pm »

13
Traveling / Travel Cek?
« pada: Juli 15, 2009, 06:37:17 pm »
pls..

ada yang tau ga dimana tempatnya kalo mau mencairkan travel cek dari LN ?
apa harus cabang/corp bank yang menerbitkannya? atw bisa di bank lain?
sukur2 ada yang bisa berbagi bagaimana proses mencairkannya  ;D

14
Jodoh & Pernikahan / DIPINDAHKAN: acara TAKE ME OUT
« pada: Juli 10, 2009, 05:56:28 pm »

15
Artikel Pilihan / Formulasi Einstein
« pada: Juni 13, 2009, 05:58:47 pm »
Message from Lebah Cerdas

Renungan Malam Jum'at (11/06/2009)
Mukhammad Najib

Beberapa tahu lalu, seorang sahabat mengingatkan saya mengenai pentingnya energi untuk meraih visi. “Impian-impian besar memerlukan energi besar”, begitu sahabat saya mengatakan. Banyak orang berhenti ditengah jalan hanya karena kehilangan daya tahan ditengah banyaknya rintangan. Karena memang impian besar akan selalu ditemani oleh besarnya tantangan.

Bagi yang belajar Fisika, tentu sangat familiar dengan formula energi yang dirumuskan Einstein. Energi menurutnya adalah fungsi dari massa (bobot) dikalikan kuadrat dari kecepatannya (E=MC2). Jadi kalau kita ingin meningkatkan energi, menurut teori ini, kita bisa melakukannya dengan meningkatkan bobot, kecepatan atau kedua-duanya.

Bobot manusia tidak terletak pada besar kecilnya fisik yang dimiliki, melainkan pada seberapa beriman dan berilmu dia. Alquran mengatakan bahwa Allah meninggikan orang beriman dan berilmu beberapa derajat (QS. Mujadalah:11). Mengenai kecepatan, hal ini terletak dari kesegeraan manusia dalam melakukan berbagai kebaikan. Allah mengatakan “Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,”(QS. Al Insyirah:7). Allah tidak mengatakan “setelah selesai suatu urusan maka istirahatlah”, justru kita diminta bersegera menyelesaikan urusan lain, meminjam istilah JK “lebih cepat, lebih baik”.

Jika kita implementasikan formula Einstein, maka Energi adalah fungsi dari Keimanan, Keilmuan dan Kesegeraan. Semakin tinggi keimanan, keilmuan dan kesegeraan akan semakin besar energi yang ditimbulkan. Sehingga kita dapat mengatakan kombinasi variabel keimanan, keilmuan dan kesegeraan dalam melaksanakan berbagai agenda merupakan sumber energi bagi manusia yang ingin meraih impian. Semakin besar impian yang ingin diwujudkan, maka semakin besar varibel-variabel ini harus ditingkatkan.

Alquran dalam surat Al Baqarah 246-251 menceritakan kisah menarik yang menjelaskan betapa energi manusia ternyata tidak tergantung pada banyaknya logistik yang dikonsumsi, melainkan seberapa tinggi keyakinan dan ketaatannya pada perintah Allah. Kisah ini dimulai saat Musa telah meninggal dan Bani Israil menjadi bangsa yang lemah lagi terancam.

Sebelum kemunculan Nabi Daud ada kekosongan kenabian selama beberapa ratus tahun. Saat itu hanya ada beberapa Nabi lokal diantaranya bernama Syamwil. Bani Israil meminta Syamwil menunjuk seorang pemimpin guna menghadapi Jalut yang berusaha memperluas daerah jajahannya. Kemudian diberitahu bahwa Allah SWT telah mengutus Thalut sebagai pemimpin. Bani Israil menolak karena Thalut dianggap orang miskin. Namun Syamwil mengatakan Thalut mempunyai kelebihan Ilmu dan fisik, akhirnya mereka menerima Thalut sebagai pemimpin.

Setelah diangkat sebagai pemimpin Thalut melakukan perjalanan bersama pasukannya menuju Jalut. Thalut, yang mengetahui dari ilmunya, menyampaikan bahwa mereka akan menemui sungai, dan Tuhan akan menguji mereka dengan sungai tersebut. Setelah perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah mereka di sungai yang membatasi tentara Thalut dan Jalut. Thalut berkata bahwa mereka yang akan berperang tidak boleh minum air sungai itu, kalau pun minum hanya boleh satu cakupan tangan.

Mendengar perintah Thalut, terpisahlah tentara Thalut menjadi dua golongan. Mereka yang taat dan tidak minum atau hanya minum seteguk, dan mereka yang cuek dan minum sepuasnya. Mereka berfikir sungguh tak masuk akal tentara yang kelelahan setelah berjalan jauh malah tidak boleh minum padahal sebentar lagi akan berperang dengan musuh yang menakutkan.

Ternyata apa yang terjadi?

Setelah minum, golongan yang ingkar dan minum sepuasnya, tiba-tiba diliputi kecemasan dan ketakutan, gentar hati mereka dan bergetarlah lutut mereka. Sementara golongan yang taat dan beriman terhadap apa yang disampaikan Thalut ternyata bersemangat dan memiliki kekuatan menghadapi musuh. Mereka yang telah minum banyak berkata,“Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Sementara mereka yang taat menjawab, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Thalut dan pasukannya yang beriman lalu menyeberangi sungai untuk menyambut tentara Jalut. Pertempuran dengan jumlah tentara yang tidak seimbang itu akhirnya dimenangkan pasukan kecil Thalut, dimana Daud yang masih belia berhasil membunuh Jalut yang perkasa.

Kisah Thalut meyakinkan kita bahwa ternyata energi tidak tergantung pada banyaknya logistik, melainkan justru pada seberapa dekat kita dengan Allah, seberapa berilmu kita, dan seberapa cepat kita dalam melaksanakan perintahNya. AlQuran menceritakan dengan jelas bagaimana pasukan Thalut yang minum lebih sedikit dan Daud yang masih belia mampu mengalahkan Jalut yang sangat perkasa.

Kepatuhan Thalut dan Daud pada semua perintah Allah, kesabaran mereka mengendalikan diri dari godaan materi, memberikan mereka energi yang tak tertandingi. Dengan energi yang mereka miliki, mereka tidak hanya mampu meraih impian mereka, melainkan juga menuntaskan impian bangsanya untuk memenangkan pertarungan dan melindungi bangsanya dari penjajahan Jhalut.

Semoga kita mampu melipatgandakan energi yang kita miliki dengan kombinasi ilmu, iman dan kesegeraan, sehingga kita mampu meraih semua impian besar kita. Amin.

Halaman: [1] 2 3 ... 6