Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Pesan - Aswad

Halaman: [1] 2 3 ... 29
1
Aqidah & Akhlaq / Orang Awam Membantah Ulama Qadariyyah
« pada: Maret 12, 2011, 03:42:33 pm »
يروى أن أعرابياً أضل ناقته، فجاء إلى عمرو بن عبيد _ وهو من أكابر القدرية _

Dalam sebuah riwayat dikisahkan ada seorang awam yang kehilangan untanya. Kemudian orang ini datang kepada ‘Amr bin ‘Ubaid, ia adalah ulama besar di kalangan Qadariyyah.

فقال: أيها الشيخ: إن ناقتي قد سرقت؛ فادع الله أن يردها علي.

Orang awam tadi berkata: “Wahai Syaikh, unta saya telah dicuri. Tolong doakan kepada Allah agar unta saya kembali”

فرفع عمرو بن عبيد يديه، وقال: اللهم إن ناقة هذا سُرِقتْ ولم تُرِدْ أن تسرق؛

‘Amr bin ‘Ubaid menengadahkan tangannya lalu berdoa: “Ya Allah, unta orang ini telah dicuri, namun bukan atas kehendak-Mu”

فأمسك الأعرابي يديه، وقال: الآن ضاعت ناقتي يا شيخ،

Serta-merta orang awam tadi menahan tangan ‘Amr, ia berkata: “Wahai Syaikh, kalau begitu sekarang biarkan saja unta saya (tidak perlu didoakan)”

قال له: ولِمَ؟

‘Amr bin ‘Ubaid bertanya: “Kenapa begitu?”

قال: لأنه إذا أراد ألا تسرق فسرقت فلا آمن أن يريد رَدَّها فلا تُرَدْ؛

Orang awam tadi berkata: “Kalau memang Allah tidak berkehendak unta saya dicuri, lalu nyatanya dicuri. Jangan-jangan nanti kalau Allah berkehendak unta saya kembali malah tidak kembali”

فوجم عمرو بن عبيد، ولم يجد جواباً

Seketika itu ‘Amr bin ‘Ubaid membisu dan tidak menemukan jawaban

+. شرح جواب ابن تيمية في قصيدته التائية في القدر للطوفي، مخطوط ص6، وانظر شرح أصول اعتقاد أهل السنة 4/739، وشرح العقيدة الطحاوية ص250، والقصيدة التائية في القدر لابن تيمية شرح وتحقيق محمد بن إبراهيم الحمد ص48_50

Kisah ini terdapat dalam:

  • Syarah Qashidah At Taiyyah Fil Qadar pada bagian sanggahan Ibnu Taimiyyah terhadap At Thuufi, halaman 6 di manuskrip
  • Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, 4/739
  • Qashidah At Ta-iyyah Fil Qadar karya Ibnu Taimiyyah
  • Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyyah, hal 250
  • Qashidah At Taiyyah Fil Qadar karya Ibnu Taimiyyah, hal.48-50, syarah dan tahqiq oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd
[Artikel ini diterjemahkan dari Al Iman Bil Qadha Wal Qadar, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd hafizhahullah]

http://kangaswad.wordpress.com/2010/08/31/orang-awam-membantah-ulama-qadariyyah/

2
Kajian Quran dan Hadits / Tidak Bisa Ibadah Tapi Dapat Pahala Ibadah
« pada: Februari 28, 2011, 08:28:25 pm »
Sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

Artinya: “Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana ketika ia sehat atau sebagaimana ketika ia tidak dalam safar” [HR. Bukhari]

Ini adalah sebuah nikmat yang besar yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman. Yaitu jika seorang hamba terbiasa melakukan sebuah amal ibadah sunnah secara kontinu, kemudian suatu kala ia terhalang untuk melakukannya dikarenakan sakit atau safar, maka pada saat itu ia mendapat pahala ibadah tersebut secara utuh (!!)

Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui bahwa jika hamba-Nya tersebut tidak memiliki udzur (halangan) ia akan melakukan ibadah tersebut. Dalam hal ini, secara khusus untuk orang sakit, Allah memberi pahala karena niat orang tersebut. Selain itu juga secara umum, orang tersebut bisa mendapatkan pahala karena telah menunaikan kewajibannya untuk bersabar menghadapi sakitnya, bahkan pahalanya lebih sempurna jika ia ridha dan bersyukur dalam menghadapinya serta merendahkan diri terhadap Allah Ta’ala.

Demikian pula seorang musafir, ia mendapatkan pahala atas amal-amal kebaikan yang ia lakukan saat dalam perjalanan. Semisal, memberi pengajian, nasihat, atau bimbingan kepada orang lain dalam hal agama ataupun dalam masalah duniawi. Secara khusus juga, seorang musafir diberi pahala jika perjalanan yang ia tempuh dalam rangka kebaikan. Seperti safar dalam rangka jihad, haji, umroh atau semisalnya.

Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang beribadah namun terhalang untuk melakukannya dengan sempurna karena suatu udzur. Maka Allah Ta’ala akan menyempurnakan pahala bagi orang tersebut dikarenakan niatnya. Karena uzur yang membuatnya terhalang untuk melakukan ibadah dengan sempurna dapat dikatakan sebagai salah satu jenis penyakit dalam hadits ini. Wallahu’alam.

Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang memiliki niat untuk melakukan amalan yang baik, namun ia terhalang untuk melakukannya karena ia melakukan amalan lain yang lebih baik dari amalan pertama. Dan orang tersebut tidak dapat melakukan kedua amalan tersebut semuanya (harus memilih salah satu). Maka dalam kondisi ini, ia lebih patut untuk diberi pahala yang lebih besar oleh Allah Ta’ala. Namun jika kegiatan lain tersebut tingkat kebaikannya setara dengan kegiatan pertama, maka sungguh karunia Allah Ta’ala sangatlah besar.

[Diterjemahkan dari syarah hadits no.30 dari kitab Bahjatul Qulubil Abrar Wa Qurratu A’yunil Akhyaar, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullahuta’ala]

3
Aqidah & Akhlaq / Andai Engkau Tahu Keburukanku
« pada: Februari 28, 2011, 08:25:48 pm »
لأبى السلام علي من يلقانيوالله لو علموا قبيح سريرتي
ولبؤت بعد كرامة بهوانولأعرضوا عني وملوا صحبتي
وحلمت عن سقطي وعن طغيانيلكن سترت معايبي ومثالبي
بخواطري وجوارحي ولسانيفلك المحامد والمدائح كلها
مالي بشكر أقلهن يدانولقد مننت علي رب بأنعم


Demi Allah, andai orang-orang tahu betapa buruknya kejelekanku…

Orang yang bertemu denganku akan enggan mengucap salam…

Sahabatku benci dan berpaling dariku…

Kemulian berganti kehinaan…

Namun Engkau Ya Allah, telah menutupi aib dan cacatku…

Namun Engkau Ya Allah, memberi tenggang padaku yang tersalah dan angkuh…

Bagi-Mu segala pujian…

Ku panjatkan dari hati, raga dan lisanku…

Dan Rabb-ku, Ia melimpahkan berbagai nikmat kepadaku…

Namun kedua tangan ini sangat sedikit sekali bersyukur…

(Dikutip dari Nuuniyyah Al Qah-thani, Abu Muhammad Al Qah-thani Al Andalusi)

4
Aqidah & Akhlaq / Re: Celana Membawa Sengsara
« pada: Agustus 03, 2008, 07:04:29 pm »
Alhamdulilah, barakallahu fiikum

Ana bersyukur, diantara kita ada yang mengingatkan tentang adab khilafiyah. Ahsantum. Tidak ada pengingkaran dalam perkara yang diperselisihkan, ana setuju. Namun bukan berarti ini menghentikan diskusi tentang agama. Bukan berarti setiap khilafiyat, harus diterima dan ditoleransi, bisa dipilih yang mana saja, tidak demikian. Wajib bagi setiap muslim untuk berusaha mencari pendapat yang paling dekat dengan dalil.

Yang jelas dalam hal ini, bahwa tidak isbal atau meninggilkan pakaian adalah perkara yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu'alaihi wasallam, tidak ada khilaf, berdasarkan hadits:
Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. ” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12]
maka bukankah daripada harus terjerumus kepada perkara yang masih diperselisihkan dosa atau tidaknya, lebih baik jika memilih perkara yang sudah jelas bolehnya dan jelas disyariatkan?
Kemudian bagi yang memvonis seorang musbil (orang yg isbal) sebagai ahlunnar, jelas ini perbuatan keliru.

Ana pun tidak setuju bila ummat muslim sibuk dengan berdebat, bahkan ana berharap ummat muslim sibuk belajar agama. Dan jika berdebat, maka berebat dengan baik dan dengan ilmu tentunya.

5
Obrolan Ummat / Isra Mi'raj
« pada: Agustus 03, 2008, 11:42:48 am »
Secara bahasa, makna isra adalah berjalan di malam hari. Dan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam telah diperjalankan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil aqsha (Palestina) dalam satu malam.
Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam diperjalankan oleh Jibril dengan perintah dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى
Artinya: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (Al Isra’: 1)
Ini adalah diantara mu’jizat beliau, karena jarak tempuh ini biasa ditempuh selama sebulan lebih perjalanan biasa, sedangkan Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam menempuhnya hanya dalam satu malam.
Adapun Mi’raj secara bahasa adalah alat untuk mendaki karena ‘araja maknanya adalah sha’ada (mendaki). Allah Ta’ala berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ
Artinya: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap Rabb-Nya)” (Al Ma’arij: 4)
تَعْرُجُ  dalam ayat ini maknanya adalah  تَصْعُدُ sehingga العُرُوْجُ maknanya adalah الصُّعُوْدُ Dengan demikian المِعْرَاجُ maknanya adalah alat yang digunakan untuk naik.
Isra dan Mi’raj adalah tsabit bagi Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam. Isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha, sedangkan mi’raj adalah dari bumi ke langit. Semua ini terjdai dalam satu malam, Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam di-isra’-kan ke Baitul Maqdis dan di sana beliau shalat mengimami para nabi, kemudian beliau di mi’rajkan ke langit dan melewati tujuh tingkat langit, dimana Allah memerlihatkan kepada beliau tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagaimana Allah memperlihatkan kepada beliau tanda Kuasa-Nya yang terbesar. Kemudian beliau turunke bumi, dimana Jibril membawa beliau kembali ke tempat di mana beliau di-Isra’-kan, dan itu terjdai dalam satu malam.
Tentang Al Isra’ disebutkan Allah di dalam surat Al Isra’ sedangkan tentang Al Mi;raj disebutkan Allah dalam surat An Najm:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى
Artinya: “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi”. (An Najm 1-7)

Yang dijelaskan oleh potongan ayat di atas adalah peristiwa mi’raj.
ثُمَّ دَنَا
Artinya: “Kemudian dia mendekat
Yaitu Jibril mendekat kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.
فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى
..lalu bertambah dekat lagi,  maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (An Najm: 8-10)

Maka Al Isra’ dan Al Mi’raj adalah benar adanya, dan barangsiapa yang mengingkarinya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi maka dia telah kafir kepada Allah Ta’ala, karena ia telah menolak banyak ayat Qur’an dan hadits yang membenarkan persitiwa ini. Dan barangsiapa yang menta’wilnya, mengatakan bahwa peristiwa ini hanya sebuah kiasan, maka ia telah menyimpang, dan tidak ada orang yang mengingkarinya kecuali orang-orang musyrik. Sejak dahulu, orang kafir Quraisy menganggap Rasulullah telah gila karena menceritakan peristiwa ini.
Kemudian barangsiapa yang mengatakan Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam di-Isra’-kan hanya dengan ruhnya tanpa jasadnya, atau mengatakan itu hanya mimpi, maka ini adalah perkataan yang menyimpang. Karena Allah telah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ...
Artinya: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya...
Dan sesuatu disebut sebagaiعَبْدٌ  (hamba) dalam Al Qur’an dan Hadits, pasti mencakup ruh dan jasadnya. Tidak disebut عَبْدٌ  (hamba), sesuatu yang hanya ruh atau hanya jasad tanpa ruh. Dan Isra terjadi dalam keterjagaan dan bukan mimpi. Karena kita tidak bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari sebuah mimpi. Karena mimpi terjadi pada semua orang dan dalam mimpi orang-orang biasa pun seringkali terjadi hal-hal aneh. Artinya, jika ini mimpi hanya akan menjadi suatu hal yang biasa. Sedangkan peristiwa ini adalah sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai orang-orang Quraisy pun tercengang dengan pengakuan Rasulullah dan mengina beliau gila.

Wallahulmusta’an

[Artikel ini adalah terjemah dari kitab Ta'liqot Mukhtashoroh 'ala Matni Al Aqidah Ath Thohawiyah penjelasan matan no.78, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan]

6
Suami & Istri Sholehah / Hak Suami dan Istri
« pada: Juli 11, 2008, 04:54:23 pm »
Sungguh kunci keberhasilan dalam bermuamalah dengan orang lain adalah menunaikan hak orang lain atas kita. Kita memenuhi apa yang sepatut didapatkan oleh yang lain. Maka begitu pula dalam hubungan suami istri. Salah satu kunci langgengnya rumah tangga adalah sang suami menunaikan hak istrinya demikian juga sebaliknya.

Hak-hak Suami atas Istri
Hak-hak suami yang wajib dipenuhi istri banyak sekali dan sangat agung. Begitu agungnya sampai-sampai Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim). Bahkan bagaimana seorang istri memenuhi hak suaminya bisa menjadi penentu nasibnya di akhirat kelak, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Perhatikanlah selalu bagaimana hubungan engkau dengan suamimu, karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (Shahih. Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ath Thabrani).

Terhadap suaminya, seorang istri harus menjalankan etika-etika berikut ini:

1.  Taat kepada suami selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Ta‘ala

Seorang istri wajib menta’ati suami Firman Allah Ta‘ala, "Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).

2.  Menjaga kehormatan suaminya, kemuliaannya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya

Firman Allah Ta'ala, "Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Seoranq istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan anaknya." (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan mereka tidak boleh memberi izin masuk ke rumah kepada orang orang yang tidak kalian sukai." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

3.  Tetap berada di rumah suami, dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya, karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (Al-Ahzab: 33).

"Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Al-Ahzab: 32).

"Allah tidak menyukai ucapan buruk." (An-Nisa': 148).

"Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya'." (An-Nuur: 31).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu." (HR Muslim dan Ahmad).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid, engkau jangan melarangnya." (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Izinkan wanita-wanita pergi ke masjid pada malam hari."

Hak-hak Istri atas Suami

Terhadap istrinya, seorang suami harus menjalankan etika-etika berikut ini:

1.  Memperlakukannya dengan baik karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik." (An-Nisa': 19).

Ia memberi istrinya makan jika ia makan, memberinya pakaian jika ia berpakaian, dan mendidiknya jika ia khawatir istrinya membangkang seperti diperintahkan Allah Ta‘ala kepadanya dengan menasihatinya tanpa mencaci-maki atau menjelek-jelekkannya. Jika istri tidak taat kepadanya, ia pisah ranjang dengannya. Jika istri tetap tidak taat, ia berhak memukul dengan pukulan yang tidak melukainya, tidak mengucurkan darah, tidak meninggalkan luka, dan membuat salah satu organ tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya, karena firman Allah Ta‘ala,

"Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).

Sabda Rasulullah saw. kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hak istri atas dirinya, "Hendaknya engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR Abu Daud dengan sanad yang baik).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Ketahuilah bahwa hak-hak wanita-wanita atas kalian ialah hendaknya kalian berbuat baik kepada mereka dengan memberi mereka makan dan pakaian."

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Laki-laki Mukmin tidak boleh membenci wanita Mukminah. Jika ia membenci sesuatu pada pisiknya, ia menyenangi lainnya" (HR Muslim dan Ahmad).

2.  Mengajarkan persoalan-persoalan yang urgen dalam agama kepada istri jika belum mengetahuinya, atau mengizinkannya menghadiri forum-forum ilmiah untuk belajar di dalamnya. Sebab, kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama, dan menyucikan jiwanya itu tidak lebih sedikit dan kebutuhannya terhadap makanan, dan minuman yang wajib diberikan kepadanya. Itu semua berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (At-Tahrim: 6).

Wanita termasuk bagian dan keluarga laki-laki, dan penjagaan dirinya dan api neraka ialah dengan iman, dan amal shalih. Amal shalih harus berdasarkan ilmu, dan pengetahuan sehingga ia bisa mengerjakannya seperti yang diperintahkan syariat.

Sabda Rasulullah saw., "Ketahuilah, hendaklah kalian memperlakukan wanita-wanita dengan baik, karena mereka adalah ibarat tawanan-tawanan pada kalian." (Muttafaq Alaih).

Di antara perlakuan yang baik terhadap istri ialah mengajarkan sesuatu yang bisa memperbaiki kualitas agamanya, menjamin bisa istiqamah (konsisten) dan urusannya menjadi baik.

3.  Mewajibkan istri melaksanakan ajaran-ajaran Islam beserta etika-etikanya, melarangnya buka aurat dan berhubungan bebas (ikhtilath) dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, memberikan perlindungan yang memadai kepadanya dengan tidak mengizinkannya merusak akhlak atau agamanya, dan tidak membuka kesempatan baginya untuk menjadi wanita fasik terhadap perintah Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, atau berbuat dosa, sebab ia adalah penanggung jawab tentang istrinya dan diperintahkan menjaganya, dan mengayominya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita." (An-Nisa' 34).

Dan berdasarkan sabda Rasulullah saw., "Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan diminta pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya." (Muttafaq Alaih).

4.  Berlaku adil terhadap istrinya dan terhadap istri-istrinya yang lain, jika ia mempunyai istri lebih dan satu. Ia berbuat adil terhadap mereka dalam makanan, minuman, pakaian, rumah, dan tidur di ranjang. Ia tidak boleh bersikap curang dalam hal-hal tersebut, atau bertindak zhalim, karena ini diharamkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, "Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah) seorang saja, atau budak-budak wanita yang kalian miliki." (An-Nisa': 3).

Rasulullah saw. mewasiatkan perlakuan yang baik terhadap istri-istri dalam sabdanya, "Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap keluarganya." (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).

5.  Tidak membuka rahasia istrinya dan tidak membeberkan aibnya
, sebab ia orang yang diberi kepercayaan terhadapnya, dituntut menjaga, dan melindunginya.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ialah suami yang menggauli istrinya, dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut." (Diriwayatkan Muslim).

[Ditulis untuk bulletin At Tauhid]

http://kangaswad.info/?p=4

7
Aqidah & Akhlaq / Re: Celana Membawa Sengsara
« pada: Juli 10, 2008, 03:40:56 pm »
Ini hukum mukhtalaf fih kang aswad. kang aswad tidak bisa berandai-andai, dg seandainya haram dll. karena jika semuanya dibuat andai-andai, maka berapa banyak hukum yang akan menyempitkan manusia ? seperti, bagaimana jika nabi ternyata melakukakn qunut setiap shalat subuh ? bagaimana jika trernyata shalat dg kaos kaki tidak shah ( ahmad bin hanbal membolehkan shalat dg kaos kaki ). dll.

tambahan dari saya, ulama syafi'iah ( ulama kalangan syafi'i ) membolehkan. tidak memakruhkan.

Akhil karim...

Yang ana maksudkan adalah sikap wara'. Sikap wara' dibenarkan dengan adanya qarinah. Dan dalam masalah isbal ini banyak hadits yang zhahirnya pengharaman, maka ini qarinah yang seharusya membuat seorang mu'min bersikap hati-hati dalam hal ini.

Setahu saya, ulama syafi'iyyah sendiri berbeda pendapat antara haram dan makruh. Walhamdulillah akhi Justice 4 All telah membawakan artikelnya.
Imam Syafi'i berkata: "Haram melakukan sadl dalam sholat dan di luar sholat karena bermaksud sombong. Jika tanpa bermaksud sombong maka itu lebih ringan (makruh)" (Al Mughni 3/177).
Ulama besar mahdzab Syafi'i, Imam Nawawi juga berkata: "Tidak boleh isbal melebihi 2 mata kaki bila karena sombong. Jika tanpa sombong, maka makruh" (Syarah Shahih Muslim, 14/62)
Dan Ulama besar mahdzab Syafi'i yang lain, Ibnu Hajar Al Asqolani mengharamkan isbal secara mutlak dan memberikan bantahan terhadap orang yang membolehkan isbal dengan berdalil hadits Abu Bakar. (Siyar Alamin Nubala, 3/234)

Wallahu'alam.

8
Obrolan Ummat / Karena kuliah, kutingalkan da'wah
« pada: Juli 10, 2008, 01:11:15 pm »
Aktif da’wah, tapi kuliah berantakan

Semangat berda’wah, tapi ingin lulus cepat

Akhirnya da’wah ditinggalkan

Dan barisannya pun berguguran


Ikhwah fillah, masalah ini sudah cukup familiar bukan ditelinga kita? Ketika da’wah membutuhkan pemuda-pemudi yang bersemangat membela Al Haq, menyebarkan ilmu syar’i di tengah-tengah ummat, mereka pun berpaling karena takut dengan IPK rendah, takut tidak bisa lulus cepat, ingin cum laude, atau semacamnya. Maka ikhwah fillah ingatlah firman ALLOH yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu..” (QS. Muhammad: 7)

Inilah janji ALLOH. Dan siapakah yang lebih menepati janji daripada ALLOH?

Perhatikanlah, yang mendapat pertolongan ALLOH adalah orang yang menolong agama ALLOH. Dan yang dimaksud menolong agama ALLOH sungguh dapat dengan jelas dipahami maksudnya yaitu menegakkan dan menyebarkan agama ALLOH yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah, di muka bumi ini.

Nah, timbul pertanyaan dari sebagian ikhwan. “Kami sudah berda’wah, kami banyak membantu kegiatan da’wah, tapi kenapa IPK kami jelek, kelulusan kami malah tertunda, dimana pertolongan ALLOH?”. Ya akhi, renungkanlah, ketika kita merasa pertolongan ALLOH tidak sampai kepada kita maka hanya ada 2 kemungkinan:

1. Kita belum benar-benar menolong agama ALLOH
Renungkanlah apa yang kita lakukan! Apakah kesibukkan kita pada kegiatan da’wah telah berada pada jalan yang benar? Periksalah kembali apa yang kita da’wahkan selama ini. Apakah kita benar-benar menda’wahkan Al Haq, menda’wahkan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat dan orang yang mengikuti mereka? Ataukah selama ini kita malah menda’wahkan hal-hal yang diada-adakan dalam agama, kita malah menda’wahkan kesyirikan, kita menda’wahkan hizbiyyah, ashobiyyah, fanatik buta, dan penyimpangan-penyimpangan lain? Jika ya, maka tak perlu tanya mengapa pertolongan ALLOH tidak kunjung datang.

Renungkanlah apa yang kita lakukan! Apakah setiap aktifitas da’wah kita semata-mata hanya mengharap ridho ALLOH Ta’ala? Ataukah karena ingin dikenal orang, ingin populer, ingin bertemu akhowat cantik, ingin dikenal baik oleh dosen, dan semua niatan duniawi lainnya? Jika ya, maka tak perlu tanya mengapa pertolongan ALLOH tidak kunjung datang.

2. Pertolongan ALLOH telah datang tanpa kita sadari
Ikhwah fillah, jika kita telah merasa telah benar-benar berusaha menolong agama ALLOH, maka yakinlah akan pertolongan ALLOH.

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS Ali Imran : 9)

Maka ketahuilah ada 4 keadaan seorang hamba, pertama, ia mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Kedua, ia mendapat kebaikan akhirat tapi tidak di dunia. Ketiga, ia mendapat kebaikan di dunia, tapi di akhirat nasibnya sengsara. Keempat, yang terburuk, ia mendapat keburukan dunia dan akhirat, wal’iyadzubillah. Ketahuilah, keadaan pertama dan kedua, itulah pertolongan ALLOH. Kadang ALLOH berkehendak menolong seorang hamba yang telah menolong agama-Nya sehingga ia mendapat kebaikan di akhirat dan kebaikan di dunia, dengan IPK tinggi, lulus cepat, cepat bekerja, hidup berkecukupan dan ni’mat dunia lainnya. Namun kadang, ALLOH berkehendak menolong seorang hamba dengan memberinya akhir yang baik di akhirat kelak, namun tidak disegerakan kepadanya ni’mat dunia. Kita tentunya ingin mendapat salah satu dari kedua keadaan ini bukan?

Maka ikhwah fiddien, kala kita merasa keni’matan dunia belum menyapa kita, padahal kita sudah bersungguh-sungguh mengikhlaskan diri menda’wahkan agama ini, jangan kecewa dulu, jangan berburuk sangka pada ALLOH. Mungkin ALLOH telah memberikan pertolongan pada kita dengan menjamin kebaikan di akhirat kelak.

Ikhwah fillah, ana nasehatkan kepada diri ana dan ikhwah semua, sebelum berharap pada pertolongan ALLOH, yang lebih penting adalah sebaiknya kita renungkan dahulu dalam-dalam apakah kita sudah menolong agama ALLOH dengan sebenar-benarnya?

http://kangaswad.info/?p=7

9
Obrolan Ummat / Re: PKS
« pada: Juli 10, 2008, 12:58:03 pm »
Hanya comment sedikit !!!

EMang ada sunnah buat partai ....???
Emang rosulullah SAW pernah buat partai ...???
Emang para sahabat pernah buat partai ...???
Emang para tabi'in pernah buat partai ...???
Emang para tabiuttabi'in pernah buat partai ...???
Emang para salafusholeh pernah buat partai ...???

Kalau emang membuat partai islam merupakan perbuatan baik tentulah generasi terbaik ummat ( pada masa  rosulullah , sahabat  , tabi'in , tabiuttabi'in,salafusholeh  ) itu akan melakukan perbuatan tersebut . Mana buktinya kalau mereka semua melakukan perbuatan tersebut ???

Tolong di jawab dengan dalil dan ilmu yang haq berdasarkan Al-Qur'an & Assunnah bukan dijawab dengan hawa nafsu ???


apakah anda tidak pernah mendengar kata kelompok dalam siroh nabi?
bukankah ada Muhajirin dan Anshor?
ingat mereka bukanlah suku tetapi kelompok yang dibentuk oleh Rasul!!
jadi jangan asal teriak tak ada kelompok pada zaman nabi
janganlah anda taqlid pada satu ustad or kelompok saja!!!

'Afwan, sebenarnya pembahasan di sini perlu rincian. Kelompok, organisasi dan partai ini semua berbeda pembahasannya. Membuat kelompok atau organisasi untuk bekerjasama melakukan amalan kebaikan, maka tidak diragukan lagi ini adalah ta'awan ala albirr wat taqwa, dan ini disyariatkan:
"Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya." (Al-Maa`idah:2)
Berorganisasi dan berkelompok akan menjadi terlarang ketika organisasi atau kelompok tersebut dijadikan acuan wala wal bara' (loyal dan benci).
Namun tentang partai, yaitu organisasi politik yang merupakan bagian dari sistem politik demokrasi, ini berbeda pembahasannya.

10
Aqidah & Akhlaq / Re: Celana Membawa Sengsara
« pada: Juli 10, 2008, 09:43:01 am »
@atas

Justru pernyataan antum yang mengada-ada.

Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama) menyatakan bahwa Isbal tanpa kesombongan adalah tidak haram.

Arabnya:
http://www.islam-qa.com/index.php?ref=102260&ln=ara

Inggrisnya:
http://www.islamqa.com/index.php?ref=102260&ln=eng

Indonesianya:
Ada yang mau terjemahin? :)

Adalah indah kalau kita mencontoh Syaikh Salih Al Munajjid. Beliau sendiri mengikuti pendapat Isbal adalah haram mutlak, tetapi beliau tidak MENYEMBUNYIKAN amanat ilmiyyah, bahwa sesungguhnya justru pendapat yang tidak mengharamkan isbal secara mutlak, dari Jumhur Ulama.

Bahwa tidak isbal itu adalah terpuji, dan sunnahnya adalah di pertengahan betis, tidak ada yang memungkiri. Tetapi hendaknya kita beradab ikhtilaf seperti perkataan Ibnu Taimiyyah (yang oleh Ibnu Muflih, beliau dikutip sebagai ulama yang tidak mengharamkan isbal secara mutlak, lihat al-Adaab al-Shar’iyyah (3/521)):

"al-a'imma ijtima`uhum hujjatun qati`atun wa ikhtilafuhum rahmatun wasi`a " (Mukhtasar al-Fatawa al-Misriyya)

Akhil Karim...
Barakallahu fiik...
Semoga Allah senantiasa menjagamu

Yang antum sampaikan benar. Dan ana pun telah mengatakan sebelumnya bahwa haramnya isbal karena sombong adalah ijma. Sedangkan keharaman isbal tanpa sombong, fiihi khilaf, terdapat perbedaan pendapat.
Namun jika antum berkenan, coba baca sekali lagi artikel bahasa arab yang antum bawakan tersebut, di sana jelas disampaikan pendapat jumhur adalah tidak mengharamkan, namun memakruhkan. Seperti perkataan Ibnu Qudamah, ulama bermahdzab Hambali: "Dibenci (makruh) seseorang yang isbal dalam berpakaian, baik pada gamis, kain, atau celana panjang. Jika ia melakukannya karena sombong, maka haram" (Kitab Al Mughni 1/139).
Makruh artinya dibenci, tidak disukai. Bagaimana seseorang yang mengaku berpegang pada sunnah menyikapi hal yang dihukumi makruh? Menjauhi yang makruh? Atau membiarkan diri terbiasa melakukan yang makruh setiap hari?
Kemudian, isbal dihukumi makruh adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Dan pendapat jumhur bukanlah hujjah!! Dalilnya firman Allah Ta'ala yang artinya:
"Jika engkau mengikuti kebanyakan orang, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah" (Al An’am : 116)
Na'am. Suara terbanyak bukanlah hujjah (penentu benar dan salah). Berbeda dengan ijma ulama, maka itu hujah. Sebagaimana perkataan sebagian salaf yang antum bawakan itu:
"al-a'imma ijtima`uhum hujjatun qati`atun wa ikhtilafuhum rahmatun wasi`a "
(Ijma para ulama adalah hujah, dan perbedaan pendapat diantara para ulama adalah rahmat yang luas)
Jika bukan hujjah, maka masih bisa di kritisi dan dibantah, dengan dalil syar'i tentunya. Maka kita sama-sama mengetahui sebagian ulama tidak setuju dengan pendapat jumhur dengan meninjau pada dalil-dalil isbal yang tegas pelarangannya.

Nasehat ana,
Katakanlah hukum isbal masih diperselisihkan haramnya. Maka apakah kita tidak khawatir (kalau-kalau) di sisi Allah Ta'ala ternyata (hukum yang benar) adalah haram?? Dengan meninjau dalil2 yang zhahirnya menyatakan demikian?
Katakanlah hukum isbal adalah makruh jika tanpa kesombongan. Lalu siapa seorang mu'min yang berani memastikan bersih dari kesombongan?? Saat ia berkata 'saya boleh isbal, soalnya saya tidak sombong', saat itu ia sedang menyombongkan diri.

Wallahu'alam.

11
Fiqih Islam / Re: Kita menjawab yang mengatakan qunut subuh bid'ah
« pada: April 16, 2008, 09:06:07 pm »
Barokallohu fiik...
Semoga ALLOH menambahkan kepada akhi fahmi ilmu yang bermanfaat

Memang benar bahwa tentang qunut shubuh terdapat ikhtilaf diantara para ulama. Masing-masingnya berdasarkan dalil yang shahih.
Maka hal ini dapat menjadi teguran bagi sebagian orang yang mengingkarinya dengan keras tanpa ilmu.

Jazakumulloh khoir

12
Aqidah & Akhlaq / Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« pada: April 16, 2008, 07:57:48 pm »
Barokallohu fiik...
Jazakumulloh khoiron katsiiro
Semoga kita senantiasa dalam penjagaan Alloh Ta'ala

Takhshish adalah mengeluarkan sebagian anggota lafadz 'aam (umum) dari hukum umum. Dalam hadits كل بدعة ضلالة terdapat lafadz كل yang merupakan salah satu jenis lafadz 'aam. Maka hukum perbuatan bid'ah adalah umum, artinya berlaku bagi semua jenis perkara baru dalam agama. Berkata Al Hafidz Ibnu Rojab Al Hambali (bermahzab Hambali) dalam menafsirkan hadits ini: "كل بدعة ضلالة  adalah perkataan perkataan singkat yang padat makna. Tidak terkecualikan darinya sesuatu apapun. Dan ini adalah salah satu landasan agama sebagaimana hadits 'Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada dasarnya maka tertolak'. Maka semua perbuatan baru yang disandarkan kepada agama yang tidak tedapat dasarnya dari agama ini maka ia adalah perbuatan menyimpang, Islam berlepas diri darinya".
Dan tidak tepat hadits من سن سنة karena hadits ini tidak membicarakan tentang bid'ah sehingga tidak bukan bagian dari lafadz 'amm hadits كل بدعة ضلالة . Sehingga tidak bisa dikatakan takhshish.

Kenapa ana katakan menjama'? Thread Starter (member yang memulai diskusi ini) mengatakan bahwa hadits من سن سنة adalah takhshish dari hadits bid'ah. Maka pembahasan 'amm (umum) dan takhshish (khusus) adalah salah satu bagian dari bab ta'arudh (pertentangan dalil) dalam ushul fiqh. Ana tegaskan, pada hakikatnya antara dalil2 tidak ada pertentangan. Kesan adanya pertentangan disebabkan karena kurangnya ilmu dari orang yang membacanya. Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: "Tidak mungkin ada pertentangan antara dalil-dalil dalam realitanya. Karena Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah menyampaikan dan menerangkan semuanya. Adapun adanya kesan bertentangannya dalil karena kekurangan pemahaman mujtahid" (Ushul min 'ilmil uhsul). Maka TS di sini melihat antara kedua hadits ini terdapat hal yang bertentangan. Yang pertama semua bid'ah dikatakan sesat. Hadits kedua dikatakan jika kita menunjukkan sesuatu amalan baik dikatakan mendapat banyak pahala. Maka ana katakan, wajib menjama' diantara keduanya. Yaitu semua bid'ah tetap sesat, dan amalan yang jika menunjukkannya mendapat banyak pahala adalah amalan2 yang sudah disyariatkan, bukan amalan yang diada-adakan.

Bid'ah dalam pengetian istilah syar'i hukumnya haram dan tertolak. Sedangkan bid'ah secara bahasa arab, hukumnya dirinci tergantung amalannya. Semisal adanya mobil, motor, pesawat terbang, secara bahasa arab disebut bid'ah. Hukumnya boleh. Adanya pompa air untuk menarik ari dari tanah untuk wudhu, secara bahasa disebut bid'ah juga. Hukumnya boleh, bahkan bisa jadi jadi wajib jika hanya dengan itu air bisa didapat. Sebagaimana kaidah "apa saja yang hanya dengannya bisa terlaksana sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib". Jadi berbeda antara pembahasan bid'ah secara istilah syar'i dan istilah bahasa. Adapun yang banyak dibahas seputar maulid nabi, tahlilan, dan semacamnya adalah bid'ah secara istilah syar'i, sedangkan perkataan Umar radhiyallahu'anhu adalah bid'ah secara bahasa. Karena shalat tarawih adalah perkara yang sudah disyariatkan,jadi tidka termasuk dalam pengertian bid'ah secara istilah syar'i.

Adapun penulisan dan pembukuan Al Qur'an bukanlah perbuatan bid'ah karena ia memiliki dasar dari syariat. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah memerintahkan para sahabat untuk menulis Al Qur'an namun saat itu ia ditulis terpisah. Kemudian para sahabat setelah wafatnya Rasulullah menggabungkan menjadi satu untuk menjaga agar Al Qur'an tidak musnah karena banyak penghafal yang wafat. Selain itu pengumpulan dan pembukuan Al Qur'an ini dilakukan oleh para Khulafaurasyidin. Telah ana jelaskan bahwa perbuatan Khulafaurasyidin juga termasuk sunnah yang diperintahkan untuk diikuti. Jadi ini bukan perbuatan bid'ah.

Dan sungguh mengherankan jika ada yang berusaha melegalkan peringatan maulid nabi dengan dasar qiyas terhada pembukuan Al Qur'an. Sungguh ini adalah qiyas ma'al faariq. Karena dua hal ini sangatlah berbeda!!

Wallahu'alam.

13
Barokallahu fiik...
Jazakumullah khoir...

Semoga Alloh senantiasa menjaga akhi fahmi...

Ana kira teman-teman dudungers, semoga Alloh merahmati mereka semua, di sini sudah sepakat, bahwa forum ini bukan untuk cari menang dan kalah sehingga hanya akan menimbulkan permusuhan. Bahkan forum ini tempat yang baik untuk saling menasehati, dimana nasehat adalah menginginkan kebaikan atas orang yang dinasehati.

Ana memandang apa yang ana sampaikan sudah cukup jelas, jika ada yang kurang insya ALLOH ana tambahkan. Kalau ana kira sudah cukup jelas, maka ana tidak posting lagi. 'Afwan jika dengan hal itu antum merasa tersinggung. Ana menyampaikan qur'an dan hadits dengan pemahaman para ulama ahlussunnah. Jika mau menerima, walhamdulillah. Jika tidak, ma'a salamah, ya ndak apa2. Ana hanya menyampaikan.

Benar apa yang dikatakan oleh akh Fahmi, bahwa Islam itu mudah.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” [Al-Baqarah : 185]
Berislam itu mudah. Kita hanya dituntut untuk menjalankan yang sudah ada, yg diperintahkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallhu'alaihi wasallam. Dan tidak perlu repot2 dan pusing2 membuat yang baru-baru. Renungkanlah wahai ikhwah, jika kita mau berpikir sederhana, mengapa kita menyibukkan diri melegalkan atau terlibat perkara-perkara yang baru dalam agama, yang banyak pertentangannya, harus berdebat sana-sini? Bukankah lebih enak dan lebih mudah kita menyibukkan diri pada yang jelas-jelas saja. Yang jelas bolehnya, yang jelas sudah diperintahkan dan dicontohkan. Sehingga hati kita pun tidak was-was mengerjakannya.
Renungkan perkataan sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu: "Ikutilah sunnah Rasulullah dan jangan membuat perkara baru, sesungguhnya kalian sudah tercukupi". Ikhwah, perkara dalam agama ini yang perintahkan dan dicontohkan oleh Nabi sudah banyak sekali. Sampai-sampai anak tidak yakin ada orang dizaman ini yang bisa mengerjakan seluruhnya. Setiap detik kita dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan pada saat tidur sudah banyak perkara sunnah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu'alaihi wasallam. Cukuplah kita menyibukkan diri dengan itu semua. Ana yakin dengan itu saja kita sudah sangat sibuk. Lalu mengapa ada sebagian kita yang masih mencari-cari dan membuat-buat yang baru?? Wallahul musta'an.

Berikut ana lampirkan tulisan Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan (Anggota Hai'ah Kibaril 'Ulama Kerajaan Saudi Arabia) yang berjudul hukmu al ihtifal bidzikri maulid an nabawi (Hukum pesta peringatan maulid nabi). Tapi 'afwan belum ada terjemahnya.

14
Jilbab / Re: hal penting yg sering terlupakan oleh akhwat
« pada: April 16, 2008, 05:42:06 pm »
Berdasarkan hadits:
Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : "Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).

Hadits jelas ini melarang muslimah memakai baju ketat. Dari zhahir hadits, batasan ketat adalah terlihat bentuk tulangnya. Dan dengan memasukkan jilbab ke dalam jaket, bentuk tubuh bagian depan akan terlihat, bentuk lengan terlihat, lebih lagi bila jaketnya tidak terlalu lebar, bentuk pinggul akan terlihat. Maka disarankan memakai jaket di dalam jilbab. Justru kibaran2 jilbab itu akan menyembunyikan bentuk tubuh.
Wallahu'alam.

15
Barokallahu fiik...
Wafaqokallah...
Jazakallah khoir
Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan...

Adapun pengertian ibadah, banyak sekali yang sampaikan oleh para ulama. Yang paling baik adalah sebagaimana disampaikan Syaikhul Islam: "Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik dalam perbuatan atau perkataan lahir dan batin". Maka ibadah adalah segala yang dicintai ALLOH. Bagaimana kita tahu suatu perbuatan dicintai ALLOH? Dengan adanya dalil tentang perbuatan tersebut, baik dari Qur'an maupun hadits. Jika dalil mengatakan suatu perbuatan itu baik, atau diperintahkan maka itu ibadah. Nah, misal menulis artikel di dudung.net, termasuk ibadah? Jelas bukan. Karena tidak ada dalil yang memerintahkan atau menganjurkan atau memberitakan menulis artikel di dudung.net adalah perbuatan baik. Jadi hukumnya mubah, boleh-boleh saja. Namun jika seseorang melakukannya dalam rangka menyebarkan ilmu syar'i, maka perbuatannya bernilai ibadah walaupun perbuatannya sendiri tidak dinamakan ibadah. Karena menyebarkan ilmu syar'i adalah suatu hal yang diperintahkan, بلغوا عني و لو أية, "Sampaikan dariku walau 1 ayat" (HR. Tirmidzi). Karena perbuatannya bukan ibadah maka bukan bid'ah. Berbeda jika seseorang menulis artikel di dudung dengan meniatkan perbuatannya itu sendiri adalah ibadah. Iya merasa yakin apapun yang iya lakukan di dudung.net pasti berpahala, maka ini bisa tergolong bid'ah.
Adapun tentang hadits :
"Hai Bilal, ceritakanlah kepadaku amal yang engkau kerjakan dalam Islam yang penuh dengan pengharapan. Karena aku mendengar suara sandalmu (terompah;sandal) diantara hadapanku di dalam Sorga (ketika aku bermimpi).” Bilal menjawab : “Tidak ada satupun amalan yang sangat penuh pengharapan, kecuali setiap selesai berwudhu baik dimalam atau disiang hari, aku melakukan Shalat” ( HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Wallahu'alam. Yang pertama, Bilal Ibn Rabbah adalah seorang sahabat Rasulullah. Dan kita juga diperintahkan menjalankan sunnah para sahabat, apalagi sunnah tersebut sudah disetujui oleh Rasulullah. Berdasarkan hadits: "Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu, dan hati - hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid'ah itu adalah sesat." (HR. Ahmad). Maka perbuatan bilal bukanlah bid'ah.
Kedua, shalat sunnah wudhu bukan perbuatan baru yang diadakan oleh Bilal. Namun memang sudah diajarkan oleh Rasulullah, berdasarkan hadits dari Utsman Ibn Affan: "Barang siapa berwudhu (seperti wudhuku ini) lalu shalat dua raka’at dan tidak berbicara terhadap diri sendiri, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”(HR. Al-Bukhari-Muslim)

Halaman: [1] 2 3 ... 29