Perlihatkan Tulisan

Seksi ini mengijinkan Anda untuk melihat semua tulisan yang dibuat oleh anggota ini. Catatan bahwa Anda hanya bisa melihat tulisan yang dibuat dalam area di mana Anda memiliki akses terhadapnya.


Topik - Aswad

Halaman: [1] 2 3 4
1
Aqidah & Akhlaq / Orang Awam Membantah Ulama Qadariyyah
« pada: Maret 12, 2011, 03:42:33 pm »
يروى أن أعرابياً أضل ناقته، فجاء إلى عمرو بن عبيد _ وهو من أكابر القدرية _

Dalam sebuah riwayat dikisahkan ada seorang awam yang kehilangan untanya. Kemudian orang ini datang kepada ‘Amr bin ‘Ubaid, ia adalah ulama besar di kalangan Qadariyyah.

فقال: أيها الشيخ: إن ناقتي قد سرقت؛ فادع الله أن يردها علي.

Orang awam tadi berkata: “Wahai Syaikh, unta saya telah dicuri. Tolong doakan kepada Allah agar unta saya kembali”

فرفع عمرو بن عبيد يديه، وقال: اللهم إن ناقة هذا سُرِقتْ ولم تُرِدْ أن تسرق؛

‘Amr bin ‘Ubaid menengadahkan tangannya lalu berdoa: “Ya Allah, unta orang ini telah dicuri, namun bukan atas kehendak-Mu”

فأمسك الأعرابي يديه، وقال: الآن ضاعت ناقتي يا شيخ،

Serta-merta orang awam tadi menahan tangan ‘Amr, ia berkata: “Wahai Syaikh, kalau begitu sekarang biarkan saja unta saya (tidak perlu didoakan)”

قال له: ولِمَ؟

‘Amr bin ‘Ubaid bertanya: “Kenapa begitu?”

قال: لأنه إذا أراد ألا تسرق فسرقت فلا آمن أن يريد رَدَّها فلا تُرَدْ؛

Orang awam tadi berkata: “Kalau memang Allah tidak berkehendak unta saya dicuri, lalu nyatanya dicuri. Jangan-jangan nanti kalau Allah berkehendak unta saya kembali malah tidak kembali”

فوجم عمرو بن عبيد، ولم يجد جواباً

Seketika itu ‘Amr bin ‘Ubaid membisu dan tidak menemukan jawaban

+. شرح جواب ابن تيمية في قصيدته التائية في القدر للطوفي، مخطوط ص6، وانظر شرح أصول اعتقاد أهل السنة 4/739، وشرح العقيدة الطحاوية ص250، والقصيدة التائية في القدر لابن تيمية شرح وتحقيق محمد بن إبراهيم الحمد ص48_50

Kisah ini terdapat dalam:

  • Syarah Qashidah At Taiyyah Fil Qadar pada bagian sanggahan Ibnu Taimiyyah terhadap At Thuufi, halaman 6 di manuskrip
  • Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, 4/739
  • Qashidah At Ta-iyyah Fil Qadar karya Ibnu Taimiyyah
  • Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyyah, hal 250
  • Qashidah At Taiyyah Fil Qadar karya Ibnu Taimiyyah, hal.48-50, syarah dan tahqiq oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd
[Artikel ini diterjemahkan dari Al Iman Bil Qadha Wal Qadar, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd hafizhahullah]

http://kangaswad.wordpress.com/2010/08/31/orang-awam-membantah-ulama-qadariyyah/

2
Kajian Quran dan Hadits / Tidak Bisa Ibadah Tapi Dapat Pahala Ibadah
« pada: Februari 28, 2011, 08:28:25 pm »
Sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiallahu’anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا

Artinya: “Jika seorang ahli ibadah jatuh sakit atau safar, ia tetap diberi pahala ibadah sebagaimana ketika ia sehat atau sebagaimana ketika ia tidak dalam safar” [HR. Bukhari]

Ini adalah sebuah nikmat yang besar yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman. Yaitu jika seorang hamba terbiasa melakukan sebuah amal ibadah sunnah secara kontinu, kemudian suatu kala ia terhalang untuk melakukannya dikarenakan sakit atau safar, maka pada saat itu ia mendapat pahala ibadah tersebut secara utuh (!!)

Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui bahwa jika hamba-Nya tersebut tidak memiliki udzur (halangan) ia akan melakukan ibadah tersebut. Dalam hal ini, secara khusus untuk orang sakit, Allah memberi pahala karena niat orang tersebut. Selain itu juga secara umum, orang tersebut bisa mendapatkan pahala karena telah menunaikan kewajibannya untuk bersabar menghadapi sakitnya, bahkan pahalanya lebih sempurna jika ia ridha dan bersyukur dalam menghadapinya serta merendahkan diri terhadap Allah Ta’ala.

Demikian pula seorang musafir, ia mendapatkan pahala atas amal-amal kebaikan yang ia lakukan saat dalam perjalanan. Semisal, memberi pengajian, nasihat, atau bimbingan kepada orang lain dalam hal agama ataupun dalam masalah duniawi. Secara khusus juga, seorang musafir diberi pahala jika perjalanan yang ia tempuh dalam rangka kebaikan. Seperti safar dalam rangka jihad, haji, umroh atau semisalnya.

Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang beribadah namun terhalang untuk melakukannya dengan sempurna karena suatu udzur. Maka Allah Ta’ala akan menyempurnakan pahala bagi orang tersebut dikarenakan niatnya. Karena uzur yang membuatnya terhalang untuk melakukan ibadah dengan sempurna dapat dikatakan sebagai salah satu jenis penyakit dalam hadits ini. Wallahu’alam.

Hadits ini juga mencakup pembahasan tentang orang yang memiliki niat untuk melakukan amalan yang baik, namun ia terhalang untuk melakukannya karena ia melakukan amalan lain yang lebih baik dari amalan pertama. Dan orang tersebut tidak dapat melakukan kedua amalan tersebut semuanya (harus memilih salah satu). Maka dalam kondisi ini, ia lebih patut untuk diberi pahala yang lebih besar oleh Allah Ta’ala. Namun jika kegiatan lain tersebut tingkat kebaikannya setara dengan kegiatan pertama, maka sungguh karunia Allah Ta’ala sangatlah besar.

[Diterjemahkan dari syarah hadits no.30 dari kitab Bahjatul Qulubil Abrar Wa Qurratu A’yunil Akhyaar, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullahuta’ala]

3
Aqidah & Akhlaq / Andai Engkau Tahu Keburukanku
« pada: Februari 28, 2011, 08:25:48 pm »
لأبى السلام علي من يلقانيوالله لو علموا قبيح سريرتي
ولبؤت بعد كرامة بهوانولأعرضوا عني وملوا صحبتي
وحلمت عن سقطي وعن طغيانيلكن سترت معايبي ومثالبي
بخواطري وجوارحي ولسانيفلك المحامد والمدائح كلها
مالي بشكر أقلهن يدانولقد مننت علي رب بأنعم


Demi Allah, andai orang-orang tahu betapa buruknya kejelekanku…

Orang yang bertemu denganku akan enggan mengucap salam…

Sahabatku benci dan berpaling dariku…

Kemulian berganti kehinaan…

Namun Engkau Ya Allah, telah menutupi aib dan cacatku…

Namun Engkau Ya Allah, memberi tenggang padaku yang tersalah dan angkuh…

Bagi-Mu segala pujian…

Ku panjatkan dari hati, raga dan lisanku…

Dan Rabb-ku, Ia melimpahkan berbagai nikmat kepadaku…

Namun kedua tangan ini sangat sedikit sekali bersyukur…

(Dikutip dari Nuuniyyah Al Qah-thani, Abu Muhammad Al Qah-thani Al Andalusi)

4
Obrolan Ummat / Isra Mi'raj
« pada: Agustus 03, 2008, 11:42:48 am »
Secara bahasa, makna isra adalah berjalan di malam hari. Dan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam telah diperjalankan dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil aqsha (Palestina) dalam satu malam.
Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam diperjalankan oleh Jibril dengan perintah dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى
Artinya: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha” (Al Isra’: 1)
Ini adalah diantara mu’jizat beliau, karena jarak tempuh ini biasa ditempuh selama sebulan lebih perjalanan biasa, sedangkan Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam menempuhnya hanya dalam satu malam.
Adapun Mi’raj secara bahasa adalah alat untuk mendaki karena ‘araja maknanya adalah sha’ada (mendaki). Allah Ta’ala berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ
Artinya: “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap Rabb-Nya)” (Al Ma’arij: 4)
تَعْرُجُ  dalam ayat ini maknanya adalah  تَصْعُدُ sehingga العُرُوْجُ maknanya adalah الصُّعُوْدُ Dengan demikian المِعْرَاجُ maknanya adalah alat yang digunakan untuk naik.
Isra dan Mi’raj adalah tsabit bagi Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam. Isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha, sedangkan mi’raj adalah dari bumi ke langit. Semua ini terjdai dalam satu malam, Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam di-isra’-kan ke Baitul Maqdis dan di sana beliau shalat mengimami para nabi, kemudian beliau di mi’rajkan ke langit dan melewati tujuh tingkat langit, dimana Allah memerlihatkan kepada beliau tanda-tanda kekuasaan-Nya sebagaimana Allah memperlihatkan kepada beliau tanda Kuasa-Nya yang terbesar. Kemudian beliau turunke bumi, dimana Jibril membawa beliau kembali ke tempat di mana beliau di-Isra’-kan, dan itu terjdai dalam satu malam.
Tentang Al Isra’ disebutkan Allah di dalam surat Al Isra’ sedangkan tentang Al Mi;raj disebutkan Allah dalam surat An Najm:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى
Artinya: “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi”. (An Najm 1-7)

Yang dijelaskan oleh potongan ayat di atas adalah peristiwa mi’raj.
ثُمَّ دَنَا
Artinya: “Kemudian dia mendekat
Yaitu Jibril mendekat kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.
فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى
..lalu bertambah dekat lagi,  maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.” (An Najm: 8-10)

Maka Al Isra’ dan Al Mi’raj adalah benar adanya, dan barangsiapa yang mengingkarinya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi maka dia telah kafir kepada Allah Ta’ala, karena ia telah menolak banyak ayat Qur’an dan hadits yang membenarkan persitiwa ini. Dan barangsiapa yang menta’wilnya, mengatakan bahwa peristiwa ini hanya sebuah kiasan, maka ia telah menyimpang, dan tidak ada orang yang mengingkarinya kecuali orang-orang musyrik. Sejak dahulu, orang kafir Quraisy menganggap Rasulullah telah gila karena menceritakan peristiwa ini.
Kemudian barangsiapa yang mengatakan Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam di-Isra’-kan hanya dengan ruhnya tanpa jasadnya, atau mengatakan itu hanya mimpi, maka ini adalah perkataan yang menyimpang. Karena Allah telah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ...
Artinya: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya...
Dan sesuatu disebut sebagaiعَبْدٌ  (hamba) dalam Al Qur’an dan Hadits, pasti mencakup ruh dan jasadnya. Tidak disebut عَبْدٌ  (hamba), sesuatu yang hanya ruh atau hanya jasad tanpa ruh. Dan Isra terjadi dalam keterjagaan dan bukan mimpi. Karena kita tidak bisa mengambil hikmah atau pelajaran dari sebuah mimpi. Karena mimpi terjadi pada semua orang dan dalam mimpi orang-orang biasa pun seringkali terjadi hal-hal aneh. Artinya, jika ini mimpi hanya akan menjadi suatu hal yang biasa. Sedangkan peristiwa ini adalah sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai orang-orang Quraisy pun tercengang dengan pengakuan Rasulullah dan mengina beliau gila.

Wallahulmusta’an

[Artikel ini adalah terjemah dari kitab Ta'liqot Mukhtashoroh 'ala Matni Al Aqidah Ath Thohawiyah penjelasan matan no.78, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan]

5
Suami & Istri Sholehah / Hak Suami dan Istri
« pada: Juli 11, 2008, 04:54:23 pm »
Sungguh kunci keberhasilan dalam bermuamalah dengan orang lain adalah menunaikan hak orang lain atas kita. Kita memenuhi apa yang sepatut didapatkan oleh yang lain. Maka begitu pula dalam hubungan suami istri. Salah satu kunci langgengnya rumah tangga adalah sang suami menunaikan hak istrinya demikian juga sebaliknya.

Hak-hak Suami atas Istri
Hak-hak suami yang wajib dipenuhi istri banyak sekali dan sangat agung. Begitu agungnya sampai-sampai Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud dan Al-Hakim). Bahkan bagaimana seorang istri memenuhi hak suaminya bisa menjadi penentu nasibnya di akhirat kelak, sebagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Perhatikanlah selalu bagaimana hubungan engkau dengan suamimu, karena ia adalah surgamu dan nerakamu” (Shahih. Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Ath Thabrani).

Terhadap suaminya, seorang istri harus menjalankan etika-etika berikut ini:

1.  Taat kepada suami selama tidak dalam kemaksiatan kepada Allah Ta‘ala

Seorang istri wajib menta’ati suami Firman Allah Ta‘ala, "Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).

2.  Menjaga kehormatan suaminya, kemuliaannya, hartanya, anak-anaknya, dan urusan rumah tangga lainnya

Firman Allah Ta'ala, "Maka wanita-wanita yang shalihah ialah wanita-wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)." (An-Nisa': 34).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Seoranq istri adalah pemimpin di rumah suaminya, dan anaknya." (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Maka hak kalian atas istri-istri kalian ialah hendaknya orang-orang yang kalian benci tidak boleh menginjak ranjang-ranjang kalian, dan mereka tidak boleh memberi izin masuk ke rumah kepada orang orang yang tidak kalian sukai." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

3.  Tetap berada di rumah suami, dalam arti, tidak keluar kecuali atas izin dan keridhaannya, menahan pandangan dan merendahkan suaranya, menjaga tangannya dari kejahatan, dan menjaga mulutnya dari perkataan kotor yang bisa melukai kedua orang tua suaminya, atau sanak keluarganya, karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu." (Al-Ahzab: 33).

"Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Al-Ahzab: 32).

"Allah tidak menyukai ucapan buruk." (An-Nisa': 148).

"Katakanlah kepada wanita-wanita beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya'." (An-Nuur: 31).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Wanita (istri) terbaik ialah jika engkau melihat kepadanya, ia menyenangkanmu. Jika engkau menyuruhnya, ia taat kepadamu. Jika engkau pergi darinya, ia menjagamu dengan menjaga dirinya dan menjaga hartamu." (HR Muslim dan Ahmad).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Kalian jangan melarang wanita-wanita hamba-hamba Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah. Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin kepada kalian untuk pergi ke masjid, engkau jangan melarangnya." (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan At Tirmidzi).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Izinkan wanita-wanita pergi ke masjid pada malam hari."

Hak-hak Istri atas Suami

Terhadap istrinya, seorang suami harus menjalankan etika-etika berikut ini:

1.  Memperlakukannya dengan baik karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik." (An-Nisa': 19).

Ia memberi istrinya makan jika ia makan, memberinya pakaian jika ia berpakaian, dan mendidiknya jika ia khawatir istrinya membangkang seperti diperintahkan Allah Ta‘ala kepadanya dengan menasihatinya tanpa mencaci-maki atau menjelek-jelekkannya. Jika istri tidak taat kepadanya, ia pisah ranjang dengannya. Jika istri tetap tidak taat, ia berhak memukul dengan pukulan yang tidak melukainya, tidak mengucurkan darah, tidak meninggalkan luka, dan membuat salah satu organ tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya, karena firman Allah Ta‘ala,

"Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya (pembangkangannya), maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka." (An-Nisa': 34).

Sabda Rasulullah saw. kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hak istri atas dirinya, "Hendaknya engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, dan tidak mendiamkannya kecuali di dalam rumah." (HR Abu Daud dengan sanad yang baik).

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Ketahuilah bahwa hak-hak wanita-wanita atas kalian ialah hendaknya kalian berbuat baik kepada mereka dengan memberi mereka makan dan pakaian."

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, "Laki-laki Mukmin tidak boleh membenci wanita Mukminah. Jika ia membenci sesuatu pada pisiknya, ia menyenangi lainnya" (HR Muslim dan Ahmad).

2.  Mengajarkan persoalan-persoalan yang urgen dalam agama kepada istri jika belum mengetahuinya, atau mengizinkannya menghadiri forum-forum ilmiah untuk belajar di dalamnya. Sebab, kebutuhan untuk memperbaiki kualitas agama, dan menyucikan jiwanya itu tidak lebih sedikit dan kebutuhannya terhadap makanan, dan minuman yang wajib diberikan kepadanya. Itu semua berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka." (At-Tahrim: 6).

Wanita termasuk bagian dan keluarga laki-laki, dan penjagaan dirinya dan api neraka ialah dengan iman, dan amal shalih. Amal shalih harus berdasarkan ilmu, dan pengetahuan sehingga ia bisa mengerjakannya seperti yang diperintahkan syariat.

Sabda Rasulullah saw., "Ketahuilah, hendaklah kalian memperlakukan wanita-wanita dengan baik, karena mereka adalah ibarat tawanan-tawanan pada kalian." (Muttafaq Alaih).

Di antara perlakuan yang baik terhadap istri ialah mengajarkan sesuatu yang bisa memperbaiki kualitas agamanya, menjamin bisa istiqamah (konsisten) dan urusannya menjadi baik.

3.  Mewajibkan istri melaksanakan ajaran-ajaran Islam beserta etika-etikanya, melarangnya buka aurat dan berhubungan bebas (ikhtilath) dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, memberikan perlindungan yang memadai kepadanya dengan tidak mengizinkannya merusak akhlak atau agamanya, dan tidak membuka kesempatan baginya untuk menjadi wanita fasik terhadap perintah Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya, atau berbuat dosa, sebab ia adalah penanggung jawab tentang istrinya dan diperintahkan menjaganya, dan mengayominya, berdasarkan firman Allah Ta‘ala, "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita." (An-Nisa' 34).

Dan berdasarkan sabda Rasulullah saw., "Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya, dan ia akan diminta pertanggungan jawab tentang kepemimpinannya." (Muttafaq Alaih).

4.  Berlaku adil terhadap istrinya dan terhadap istri-istrinya yang lain, jika ia mempunyai istri lebih dan satu. Ia berbuat adil terhadap mereka dalam makanan, minuman, pakaian, rumah, dan tidur di ranjang. Ia tidak boleh bersikap curang dalam hal-hal tersebut, atau bertindak zhalim, karena ini diharamkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya, "Kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah) seorang saja, atau budak-budak wanita yang kalian miliki." (An-Nisa': 3).

Rasulullah saw. mewasiatkan perlakuan yang baik terhadap istri-istri dalam sabdanya, "Orang terbaik dan kalian ialah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku orang terbaik dan kalian terhadap keluarganya." (HR Ath-Thabrani dengan sanad yang baik).

5.  Tidak membuka rahasia istrinya dan tidak membeberkan aibnya
, sebab ia orang yang diberi kepercayaan terhadapnya, dituntut menjaga, dan melindunginya.

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ialah suami yang menggauli istrinya, dan istrinya bergaul dengannya, kemudian ia membeberkan rahasia hubungan suami-istri tersebut." (Diriwayatkan Muslim).

[Ditulis untuk bulletin At Tauhid]

http://kangaswad.info/?p=4

6
Obrolan Ummat / Karena kuliah, kutingalkan da'wah
« pada: Juli 10, 2008, 01:11:15 pm »
Aktif da’wah, tapi kuliah berantakan

Semangat berda’wah, tapi ingin lulus cepat

Akhirnya da’wah ditinggalkan

Dan barisannya pun berguguran


Ikhwah fillah, masalah ini sudah cukup familiar bukan ditelinga kita? Ketika da’wah membutuhkan pemuda-pemudi yang bersemangat membela Al Haq, menyebarkan ilmu syar’i di tengah-tengah ummat, mereka pun berpaling karena takut dengan IPK rendah, takut tidak bisa lulus cepat, ingin cum laude, atau semacamnya. Maka ikhwah fillah ingatlah firman ALLOH yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu..” (QS. Muhammad: 7)

Inilah janji ALLOH. Dan siapakah yang lebih menepati janji daripada ALLOH?

Perhatikanlah, yang mendapat pertolongan ALLOH adalah orang yang menolong agama ALLOH. Dan yang dimaksud menolong agama ALLOH sungguh dapat dengan jelas dipahami maksudnya yaitu menegakkan dan menyebarkan agama ALLOH yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah, di muka bumi ini.

Nah, timbul pertanyaan dari sebagian ikhwan. “Kami sudah berda’wah, kami banyak membantu kegiatan da’wah, tapi kenapa IPK kami jelek, kelulusan kami malah tertunda, dimana pertolongan ALLOH?”. Ya akhi, renungkanlah, ketika kita merasa pertolongan ALLOH tidak sampai kepada kita maka hanya ada 2 kemungkinan:

1. Kita belum benar-benar menolong agama ALLOH
Renungkanlah apa yang kita lakukan! Apakah kesibukkan kita pada kegiatan da’wah telah berada pada jalan yang benar? Periksalah kembali apa yang kita da’wahkan selama ini. Apakah kita benar-benar menda’wahkan Al Haq, menda’wahkan Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman para sahabat dan orang yang mengikuti mereka? Ataukah selama ini kita malah menda’wahkan hal-hal yang diada-adakan dalam agama, kita malah menda’wahkan kesyirikan, kita menda’wahkan hizbiyyah, ashobiyyah, fanatik buta, dan penyimpangan-penyimpangan lain? Jika ya, maka tak perlu tanya mengapa pertolongan ALLOH tidak kunjung datang.

Renungkanlah apa yang kita lakukan! Apakah setiap aktifitas da’wah kita semata-mata hanya mengharap ridho ALLOH Ta’ala? Ataukah karena ingin dikenal orang, ingin populer, ingin bertemu akhowat cantik, ingin dikenal baik oleh dosen, dan semua niatan duniawi lainnya? Jika ya, maka tak perlu tanya mengapa pertolongan ALLOH tidak kunjung datang.

2. Pertolongan ALLOH telah datang tanpa kita sadari
Ikhwah fillah, jika kita telah merasa telah benar-benar berusaha menolong agama ALLOH, maka yakinlah akan pertolongan ALLOH.

Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS Ali Imran : 9)

Maka ketahuilah ada 4 keadaan seorang hamba, pertama, ia mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Kedua, ia mendapat kebaikan akhirat tapi tidak di dunia. Ketiga, ia mendapat kebaikan di dunia, tapi di akhirat nasibnya sengsara. Keempat, yang terburuk, ia mendapat keburukan dunia dan akhirat, wal’iyadzubillah. Ketahuilah, keadaan pertama dan kedua, itulah pertolongan ALLOH. Kadang ALLOH berkehendak menolong seorang hamba yang telah menolong agama-Nya sehingga ia mendapat kebaikan di akhirat dan kebaikan di dunia, dengan IPK tinggi, lulus cepat, cepat bekerja, hidup berkecukupan dan ni’mat dunia lainnya. Namun kadang, ALLOH berkehendak menolong seorang hamba dengan memberinya akhir yang baik di akhirat kelak, namun tidak disegerakan kepadanya ni’mat dunia. Kita tentunya ingin mendapat salah satu dari kedua keadaan ini bukan?

Maka ikhwah fiddien, kala kita merasa keni’matan dunia belum menyapa kita, padahal kita sudah bersungguh-sungguh mengikhlaskan diri menda’wahkan agama ini, jangan kecewa dulu, jangan berburuk sangka pada ALLOH. Mungkin ALLOH telah memberikan pertolongan pada kita dengan menjamin kebaikan di akhirat kelak.

Ikhwah fillah, ana nasehatkan kepada diri ana dan ikhwah semua, sebelum berharap pada pertolongan ALLOH, yang lebih penting adalah sebaiknya kita renungkan dahulu dalam-dalam apakah kita sudah menolong agama ALLOH dengan sebenar-benarnya?

http://kangaswad.info/?p=7

7
Jodoh & Pernikahan / Surat Perpisahan Untuk Masa Bujang
« pada: Maret 18, 2008, 02:22:01 pm »
Teruntuk masa bujang
Di tempat

Assalamu’alaikum Warahmatullah
Bersama ini aku membawa sebuah kabar. Mungkin kabar baik, mungkin kabar yang membuat sedih. Aku tahu selama ini kau selalu menemaniku, semenjak aku masih dalam pangkuan.Kemana-mana kita selalu bersama. Kadang kau membuatku bahagia, tapi akhir-akhir ini kau membuatku sedih.
Masa bujang, setiap yang datang pasti akan pergi. Begitulah hidup ini. Datang dan pergi. Maka aku kumpulkan segenap keberanianku. Telah bulat keputusanku untuk meninggalkanmu. Maaf, aku akan pergi meninggalkanmu selama-lamanya.
Selamat tinggal masa bujang. Tak akan kulupakan kenangan-kenangan semasa kita bersama.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah

Yogyakarta, 9 Maret 2008

Aswad


8
Pendidikan / Univ. Madinah Internasional, kuliah Islamiyah online
« pada: Desember 24, 2007, 10:13:14 pm »
Buat yang serius untuk menuntut ilmu syar'i sekarang dipermudah dengan adanya Universitas Madinah Internasional atau disebut juga MEDIU (Medina International Univ.) karena mengadopsi sistem e-learning. Peserta dapat belajar langsung dari 'ulama di saudi melalui teleconfrence dan beberapa mata kuliah tetap dengan sistem tatap muka bersama ustadz2 yang berkompeten lulusan Univ. Islam Madinah dan Univ.Islam terkemuka lainnya. Masa kuliah adalah 1 tahun, tanpa dikenai biaya kuliah, alias GRATIS, hanya biaya pendaftaran Rp 50.000,-
Karena ini memang diperuntukkan bagi yang ingin serius, maka ada seleksi dan peserta dipersyaratkan bisa bahasa Arab dan Inggris minimal secara pasif.
Infonya masih banyak, ana sedang tidak sempat ngetik banyak. Keterangan lebih lanjut bisa melalui jalur2 berikut:
- Lihat muslim.or.id
- Lihat mediu.edu.my
- Kirim email ke mediuinfo[at]gmail.com
- Telepon ke +628159860213 atau +62274 683637
- Datang langsung ke kantornya di:
PESANTREN VIRTUAL AL-MADINAH INTERNASIONAL
Jl. Kusumanegara No.222, Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta 55165
INDONESIA

9
Obrolan Ummat / Menghujat, menasehati, debat, atau diskusi?
« pada: November 06, 2007, 11:29:45 pm »
Berkaitan dengan adanya komplain dari Fadhillah dan Chandra ana berusaha menanggapi hal ini secara ilmiah dan adil. Dan adil yang ana maksud disini bukan adil dalam konsep demokrasi, dimana pendapat yang lebih banyak dimenangkan, namun adil yang benar adalah dengan kembali kepada Qur'an dan Sunnah. Karena demikianlah yang diperintahkan:
Jika berselisih tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya)” (QS. An Nisa`: 59)

Ana kira agak aneh jika melarang seseorang untuk membuka sebuah diskusi di sini. Karena disini memang tempatnya diskusi. Nah pertanyaannya, bagaimana hukum berdiskusi dalam pandangan syariat? ALLOH Ta'ala berfirman yang artinya:
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dengan nasihat yang baik dan berdebatlah dengan cara yang baik" (QS. An-Nahl [16] : 125)
Pada ayat di atas terdapat lafadz "Jaadilhum" (debatlah mereka) yang merupakan fi'il amr. Dalam kaidah ushul fiqh, hukum asal perintah adalah wajib, kecuali ada dalil yang menyimpangkan hukum wajibnya. Namun dari sini kita bisa menyimpulkan berdiskusi dalam masalah agama adalah masyru' (disyariatkan). Apakah ada dalil yang menyimpangkan dari hukum wajibnya? Ada. Rasulullah bersabda:
Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat.” ( HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)
Juga dalam hadits lain:
Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat.” (Muttafaq Alaihi)
ALLOH juga mencela sifat manusia yang gemar berdebat:
Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah” ( QS Al Kahfi :54 )
Maka dari dalil-dalil di atas bisa kita simpulkan bahwa berdiskusi dalam masalah dien, pada asalnya adalah boleh, namun kadang bisa menjadi wajib hukumnya, dan kadang bisa menjadi HARAM dan menjadi tanda bahwa orang tsb telah menyimpang.

Lalu, mana yang boleh mana yang wajib dan mana yang haram? Yuk kita tanya ulama...
Imam Nawawi rahimahullahu berkata:
Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq, maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atau berdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya berdebat.
Syaikh Ibn Utsaimin juga menjelaskan:
Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua:
Pertama: dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara yang terpuji. Adakalanya hukumnya wajib atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl: 125)
Kedua: dilakukan dengan tujuan bersikap berlebih-lebihan, untuk membela diri, atau membela kebatilan. Ini adalah perkara yang buruk lagi terlarang, berdasarkan firman-Nya:
"Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” (Ghafir: 4)
Dan firman-Nya:
“Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku.” (Ghafir: 5)


Jadi, dudunger yang baik.... Berdiskusilah dengan baik!

Bagaimana?
1. Jangan mencela
Hendaknya kita mengingat kembali nasehat Rasulullah shalallhu'alaihi wasallam:
Setiap muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan menzhaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya. Keburukan seseorang itu diukur dari sejauh mana dia meremehkan saudaranya” (HR.Muslim dan lainnya)
Dalam hadist lain juga ditegaskan
Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dan juga hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan, tulisan kita akan dicatat dan dimintai pertanggung-jawaban
Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS. Qaff : 18)
Nah, yang sering jadi masalah, kadang sulit dibedakan antara mencela dan menasehati....
tidak ada ruginya antum menyimak tulisan ini

2. Jangan bicara tanpa ilmu
Telah kita ketahui dari dalil-dalil di atas, diskusi yang tercela adalah diskusi tanpa ilmu, meskipun antum merasa di pihak yang benar. ALLOH mencela orang seperti ini:
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.” (Al-Hajj: 3)
Dan ilmu yang dimaksud tentulah Al Qur'an dan Hadist. Jangan gemar berdiskusi tentang agama kalau antum tidak memiliki pengetahuan hadits dan Qur'an. Yang harus dilakukan orang seperti ini adalah: banyak bertanya.

3. Gunakan bahasa yang baik
Jika kita merasa di atas al haq, merasa di atas ilmu, tunjukkanlah ilmu antum itu telah membuahkan akhlak yang mulia. Buktikan itu dengan bahasa yang baik, sopan. Karena demikianlah akhlak para anbiya dan 'ulama.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah swt?” (Al Fushilat : 33)
Jika kita melihat kesalahan pada saudara kita, dan kita memang ingin membuatnya sadar akan kesalahannya, bukankah disini lebih HARUS menegurnya dengan bahasa yang baik?? Bagaimana mungkin seseorang akan tersadar dari kesalahannya jika ia hanya ditahdzir dan dicela saja?

4. Sampaikan saja, jangan memaksa
Jika kita melihat ada saudara kita yang terjerumus ke dalam kesalahan. Maka kewajiban kita adalah menyampaikan. Bukan tanggung jawab kita nantinya ia sadar atau tidak. Apakah kita berharap saudara kita itu sadar setelah di nasehati 1 atau 2 kali? Didalam forum diskusi? Sungguh kewajiban kita hanya menyampaikan, soal hidayah ditangan ALLOH.
"Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka" (QS Ar Ra'du: 40)

5. Tidak membalas, bukan berarti kalah
Seringkali ana perhatikan di antara dudunger yang berdebat saling me-reply terus, bantah, dibantah lagi, dan seterusnya. Seolah-olah ia berpikiran "Ah, kalo ga dibantah lagi nanti saya dibilang kalah". Subhanalloh, tanya lagi pada hati kita tentng tujuan berdiskusi di sini: mau menyampaikan nasehat atau jadi jawara debat? Simak tulisan ini.


Maka ana sebagai moderator mengharapakan kerjasama antum semua dalam hal ini. Bila memang ada thread dengan diskusi yang sudah keluar dari adab-adab syar'i, kata-kata kurang sopan, tolong laporkan, dan tunjukkan buktinya, kutip kalimatnya, cukup dengan mengklik tombol [kutip] pada postingan yang mengandung kata-kata tersebut. Karena Rasulullah mewasiatkan:
"Seandainya setiap pengaduan manusia diterima, niscaya setiap orang akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka, karena itu (agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi pendakwa agar mendatangkan bukti dan sumpah bagi yang mengingkarinya" (HR Baihaqi , hadist hasan)
Bila memang thread, postingan yang dilaporkan memang telah melanggar batas syar'i, insya ALLOH akan di disikapi dengan pengeditan, penghapusan atau banning member.

Wallahu'alam.

11
Aqidah & Akhlaq / Takut yang benar dan salah
« pada: Juni 18, 2007, 03:41:11 pm »
Penulis  : Abu Usamah Ardhiasa Cahyadimulya (Alumni Ma'had Ilmi Yogyakarta)

Iihhh….takut!!! begitu anak muda mengekspresikan rasa takutnya. Mereka takut jika melihat sesuatu yang dianggap menyeramkan. Fenomena rasa takut pada setiap orang memang bermacam-macam, mulai dari takut dipecat dari jabatan sampai takut masuk neraka. Hanya saja rasa takut tersebut ada yang dibenarkan dan ada yang dilarang oleh syariat. Takut (khouf) adalah reaksi emosional yang muncul disebabkan oleh dugaan adanya kebinasaan, bahaya, atau gangguan yang akan menimpa.
   Para pembaca yang budiman, takut itu terbagi menjadi beberapa jenis, dan tidak seluruh jenis takut tersebut diperbolehkan oleh syariat Islam.

Khouf Ibadah
Takut ibadah ialah takut kepada Alloh semata. Jenis ini merupakan ibadah hati yang melandasi ibadah kita kepada Alloh. Dengan takut pada adzab Alloh, takut karena kebesaran dan kekuasaan Alloh maka ibadah kita akan terbentuk dengan benar. Perasaan takut ini hanya boleh ditujukan untuk Alloh, bila tidak maka akan terjatuh ke dalam syirik akbar. Alloh berfirman yang artinya, “Dan bagi orang yang takut akan perjumpaan menghadap Rabbnya maka baginya ada dua surga.” (Ar Rohman : 46) “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (An-Naazi’aat : 40) “Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (An-Nahl : 50)
Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh mereka adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridho terhadap mereka dan merekapun ridho kepada-Nya. Demikian itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (Al-Bayyinah : 7-8)
Rosululloh bersabda yang artinya, “Tujuh golongan yang akan Alloh naungi dalam naungan-Nya pada hari kiamat kelak :pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Rabbnya, laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai dijalan Alloh, mereka berkumpul dan berpisah di jalan Alloh, seorang laki-laki yang digoda oleh wanita yang memiliki status sosial yang tinggi dan kecantikan (untuk melakukan zina) lalu ia mengatakan : sesungguhnya aku takut kepada Alloh, seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Alloh dalam keadaan sendirian lalu berlinanglah air matanya.” (HR.Bukhori, Muslim)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh Ta’ala berfirman : “Demi kemuliaan dan Keagungan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan bagi hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut. Jika dia merasa aman dari-Ku di dunia maka Aku akan membuatnya takut pada hari Aku mengumpulkan hamba-hamba-Ku. Jjika dia takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memerikan rasa aman untuknya pada hari Aku mengumpulkan hamba-hambaKu” (HR. Abu Nu’aim.lihat Al-Jaami’ush Shahih no.4332 dan Ash-Shahihah no.742)

Khouf Syirik
Takut yang merupaka kesyirikan ialah takut kepada selain Alloh dengan keyakinan bahwa yang ditakuti tersebut dapat memberikan bahaya dan menahan kemanfaatan. Misalnya takut kepada patung atau jin, mayat dan lain-lain, khawatir kalaus ia akan menimpakan atau mendatangkan sesuatu yang menyusahkan. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!. Setelah diwajibkan kepada mereka berperang. Tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Alloh, bahkan lebih sangat dari itu takutnya.” (An-Nisaa’ : 77) “Sesungguhnya yang demikian itu adalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan wali-walinya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka.” (Ali Imron : 175) ”Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kepada-Ku.” (Al-Maa’idah : 44)

Khouf Maksiat
Yaitu seorang hamba takut kepada seseorang atau sekelompok orang sehingga sampai meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara terlarang namun tidak sampai pada batasan dipaksa. Maka takut jenis ini adalah maksiat. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya yang demikian itu adalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan wali-walinya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imron: 175) “Maka jenganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku…” (Al Baqoroh : 150). “Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku…” (Al Ma’idah : 3). “Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kepada-Ku…” (Al Ma’idah : 44)

Takut yang Wajar
Setiap orang tentu punya rasa takut yang memang sudah menjadi fitrohnya. contohnya seperti takut kepada musuh, serangan binatang buas, dan lain-lain. Takut jenis ini adalah boleh selama tidak melampaui batas tabiat. Alloh berfirman yang artinya, “Karena itu, jadilah Musa dikota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir.“ (Al-Qoshosh : 18) “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir.” (Al-Qoshosh : 21) “Berkatalah mereka berdua : “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami takutbahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Janganlah kamu berdua takut, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.” (Thoha : 45-46) “Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata : janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul.” (Thoha 67-68)

Takut wahmi (Khayal)
Yaitu ketakutan yang tidak ada sebabnya sama sekali atau memiliki sebab yang lemah. Ketakutan jenis ini tercela, orangnya tergolong penakut. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari sifat takut ini, karena sifat takut merupakan akhlaq yang ini. Oleh karena itu iman yang sempurna, tawakal dan keberanian bisa menolak khouf jenis ini.

12
Bina Keluarga / Inilah hak tetangga anda!
« pada: Juni 18, 2007, 03:37:02 pm »
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim (Alumni Ma'had Ilmi Yogyakarta)

Kita pada umumnya mengharapkan tinggal dalam suatu lingkungan yang harmonis. Lingkungan yang saling menghargai, tidak saling menyakiti antara yang satu dengan yang lain, baik dalam bentuk perbuatan maupun hanya sekedar ucapan. Tidak berselisih walaupun di dalamnya terdapat orang yang berbeda-beda. Betapa indahnya! Kami yakin bahwa kita semua menginginkannya.

Islam Mewajibkan untuk Berbuat Baik pada Tetangga
Islam berusaha mewujudkan hal tersebut dan salah satu metodenya adalah dengan menekankan bagi pemeluknya untuk menunaikan hak-hak para tetangga. Islam memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik terhadap tetangganya dan tidak menyakiti mereka. Alloh Ta'ala berfirman yang artinya, "Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (QS. An Nisaa' : 36).
Orang yang tidak berbuat baik kepada tetangganya, bahkan tetangganya merasa terganggu dengan perbuatan ataupun perkataannya yang keji, maka orang seperti ini berhak untuk masuk neraka. Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda,"Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya" (HR. Bukhori dan Muslim).

Beberapa Hak Tetangga
Beberapa hak tetangga yang wajib kita ditunaikan adalah :
•   Tidak menyakitinya baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan.
Dalilnya telah disebutkan di atas. Sebagian kaum muslimin merasa 'enjoy' menyakiti tetangganya dengan cara menggunjing dan menceritakan kejelekannya. Wahai saudaraku, sungguh ucapan itu telah menyakiti tetangga kita walaupun dia tidak mengetahuinya. Hal ini lebih sering dilakukan oleh para istri. Namun anehnya, kadang para suami juga tidak mau ketinggalan, Dan sungguh ajaib karena mereka melakukannya di masjid dan tidak takut terhadap adzab Alloh.
     
•   Menolongnya dan bersedekah kepadanya jika dia termasuk golongan yang kurang mampu.
Termasuk hak tetangga adalah menolongnya saat dia kesulitan dan bersedekah jika dia membutuhkan bantuan. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan sesama muslim, maka Alloh akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari berbagai kesulitan di hari kiamat kelak" (HR. Bukhori). Beliau juga bersabda,"Sedekah tidak halal bagi orang kaya, kecuali untuk di jalan Alloh atau ibnu sabil atau kepada tetangga miskin …" (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

•   Menutup kekurangannya dan menasihatinya agar bertaubat dan bertakwa kepada Alloh Ta'ala.
Jika kita mendapati tetangga kita memiliki cacat maka hendaklah kita merahasiakannya. Jika cacat itu berupa kemaksiatan kepada Alloh Ta'ala maka nasihatilah dia untuk bertaubat dan ingatkanlah agar takut kepada adzab-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,"Barangsiapa menutupi aib muslim lainnya, maka Alloh akan menutup aibnya pada hari kiamat kelak" (HR. Bukhori).

•   Membagi-bagikan sesuatu kepada tetangga.
Jika kita memiliki nikmat berlebih maka hendaknya kita membagikan kepada tetangga kita sehingga mereka juga menikmatinya. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda, "Jika Engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya dan bagikan kepada tetanggamu" (HR. Muslim). Dan tidak sepantasnya seorang muslim bersantai ria dengan keluarganya dalam keadaan kenyang sementara tetangganya sedang kelaparan. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda,"Bukanlah seorang mukmin yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan" (HR.  Bukhori dalam Adabul Mufrod).

Jika Tetangga Menyakiti Kita
Untuk permasalahan ini, maka cara terbaik yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan berdo'a kepada Alloh Ta'ala agar tetangga kita diberi taufik sehingga tidak menyakiti kita. Kita menghibur diri kita dengan sabda Rosululloh,"Ada 3 golongan yang dicintai Alloh. (Salah satunya adalah) seseorang yang memiliki tetangga yang senantiasa menyakitinya, namun dia bersabar menghadapi gangguannya tersebut hingga kematian atau perpisahan memisahkan keduanya" (HR. Ahmad).

13
Fiqih Islam / Adzan
« pada: Juni 18, 2007, 03:34:34 pm »
Penulis : Abu Ahmad Adid Adep Dwiatmoko (Alumni Ma'had Ilmi Yogyakarta)

Hampir tidak ada seorang muslim pun yang tidak mengetahui tentang syariat adzan. Seruan yang sangat dikenal ini merupakan tanda yang khusus bagi kaum muslimin, yakni panggilan untuk menegakkan sholat secara berjamaah. Pada edisi kali ini, dengan idzin Alloh, akan dipaparkan hal-hal yang terkait dengan adzan.

Hukum Adzan
   Adzan adalah suatu ibadah yang hukumnya wajib kifayah, karena Nabi memerintahkan pelaksanaannya dalam beberapa hadits, dan selalu melaksanakannya dalam keadaan bermukim  maupun bepergian (safar). Jika salah seorang dari kaum muslimin sudah melaksanakannya, gugurlah kewajiban muslim yang lainnya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Malik bin Huwairist,“Jika telah datang waktu sholat, hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan.” (HR. Bukhori-Muslim). Kewajiban ini berlaku untuk orang yang sedang mukim di suatu tempat ataupun orang yang sedang bepergian (musafir).

Keutamaan Adzan
(a). Sebab terampuninya dosa. Dari Uqbah bin Amir, Rosululloh bersabda,“Rabb-mu merasa takjub terhadap seorang penggembala kambing di puncak gunung, dia adzan dan sholat. Maka Allah berfirman,’Lihatlah hambaKu ini, dia mengumandangkan adzan dan sholat karena takut kepadaKu. Sungguh Aku telah mengampuni hambaKu dan Aku memasukkannya ke surga” {HR. Abu Dawud, dishohihkan Syaikh Al Albani} (b). Setan lari terbirit-birit ketika mendengar adzan. Abu Hurairah berkata, Rosululloh bersabda,”Apabila adzan dikumandangkan, setan lari terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengarkan adzan. Apabila adzan telah selesai, dia (setan) datang mengganggu seorang dalam hatinya, dia membisikkan,’Ingatlah ini dan ingatlah itu, suatu hal yang tidak teringat sebelumnya, hingga seorang hamba tidak mengetahui lagi berapa rokaat dia sholat.” {HR. Bukhori dan Muslim} (c). Doa setelah adzan adalah mustajab. Dari Anas bin Malik, Rosululloh bersabda,”Doa antara adzan dan iqomah tidak tertolak (mustajab).” {HR. Abu Dawud, dishohihkan Syaikh Al Albani} (d). Para muadzin merupakan orang yang paling panjang lehernya di hari kiamat. Dari Muawiyah, beliau berkata,”Saya mendengar Rosululloh bersabda,’Para muadzin adalah manusia yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” {HR. Muslim}. Hal ini menunjukkan tentang keutamaan dan kemuliaan mereka dibandingkan dengan yang lainnya pada hari kiamat.

Diperangi karena Meninggalkan Adzan
   Imam atau pemerintah kaum muslimin boleh memerangi suatu kaum (muslimin) yang tidak melaksanakan adzan, namun dalam rangka hukuman ta’zir, bukan karena kaum tersebut sudah kafir dan keluar dari Islam. Hal tersebut dilakukan karena adzan adalah salah satu tanda bahwa daerah tersebut merupakan wilayah negeri Islam. Sehingga dahulu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika hendak memerangi suatu kaum, beliau menunggu hingga datang waktu sholat. Jika beliau mendengar adzan, beliau tidak memerangi kaum tersebut. Namun, apabila tidak mendengar adzan, mereka diperangi. (HR. Bukhori).

Seorang Muadzin Haram Minta Upah dari Adzannya
   Adzan adalah salah satu bentuk ibadah, maka tidak boleh seorang muadzin minta upah dari adzan yang dilakukannya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”.... dan angkatlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya.”  {HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al Albani}. Adapun upah yang tidak tentu, atau pemberian tanpa perjanjian/akad sebelumnya -dalam hal ini seperti mukafaah- bagi muadzin, maka hal seperti ini dibolehkan.

Lafadz Adzan Ketika Turun Hujan
   Jika sedang turun hujan atau pada keadaan malam yang sangat dingin, seorang muadzin diperintahkan untuk mengganti/menambah lafadz adzan. Dari Nafi’,”Bahwasannya Ibnu Umar beradzan untuk sholat pada waktu malam yang sangat dingin dan adanya angin kencang, kemudian beliau mengucapkan (alaa sholluu firrihaal, ‘ketahuilah, sholatlah di rumah-rumah’) –tatkala beliau selesai adzan-. Lalu beliau berkata,’Sesungguhnya Rosulullah memerintahkan muadzin untuk mengucapkan (alaa sholluu firrihaal) ketika malam yang sangat dingin atau sedang turun hujan’”. (HR. Bukhari-Muslim). Pengucapan (alaa sholluu firrihaal) boleh dilakukan setelah adzan, sesudah lafadz (laa ilaaha illalloh) (HR. Muslim dari Ibnu Umar), atau dibaca 2 kali setelah lafadz (asyhadu anna muhammadar rasulullooh) sebagai pengganti lafadz (hayya ‘alas sholaah). (HR. Muslim 1602 dari Ibnu Abbas). [disarikan dari As Syarhul Mumti’, Al Imam Al ‘Utsaimin dan majalah Al Furqon]

14
Berita & Politik / Awas!!! Pemurtadan massal Dibalik Pengobatan
« pada: Mei 25, 2007, 09:00:55 am »
Kaum muslimin -semoga selalu dirahmati Allah-, sesungguhnya bahaya yang sangat besar tengah mengancam kaum muslimin di negeri kita ini. Berbagai macam upaya dilancarkan oleh musuh-musuh Islam untuk merongrong keutuhan umat Islam. Mereka berupaya mencabut kaum muslimin dari akar dan jantung kehidupan mereka. Mereka bekerja keras untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang murni yaitu tauhid dan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka bekerja keras untuk menyebarkan agama dan pemikiran mereka yang batil agar kaum muslimin ikut terseret dalam kesesatan mereka. Allah ta'ala berfirman yang artinya, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah: 120). Allah ta'ala juga berfirman yang artinya, ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (QS. Al Maa-idah: 3). Oleh sebab itu, Allah menjamin kerugian bagi siapa saja yang mencari agama selain Islam. Allah ta'ala berfirman yang artinya, ”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron: 85)

Pengertian Murtad
Murtad berasal dari kata irtadda yang artinya raja'a (kembali), sehingga apabila dikatakan irtadda 'an diinihi maka artinya orang itu telah kafir setelah memeluk Islam. (lihat Mu'jamul Wasith, 1/338). Perbuatannya yang menyebabkan dia kafir atau murtad itu disebut sebagai riddah (kemurtadan). Secara istilah makna riddah adalah : menjadi kafir sesudah berislam. Allah ta'ala berfirman yang artinya, ”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 217) (Lihat At-Tauhid li Shaffits Tsaalits 'Aliy, hal. 32). Kemurtadan (riddah) akan menghapuskan amal perbuatan seseorang. Jika orang yang murtad tersebut bertaubat maka amalnya akan menjadi baru seperti semula. Namun jika dia mati sebelum bertaubat, maka dia termasuk penghuni neraka dan akan kekal di dalamnya. (Aysarut Tafasir, Abu Bakr Jabir Al Jazairi)

Macam-Macam Kemurtadan
1. Murtad karena ucapan

Seperti contohnya ucapan mencela Allah ta'ala atau Rasul-Nya, menjelek-jelekkan malaikat atau salah seorang rasul. Atau mengaku mengetahui ilmu gaib, mengaku sebagai Nabi, membenarkan orang yang mengaku Nabi. Atau berdoa kepada selain Allah, beristighotsah (meminta dihilangkan kesusahan yang sedang menimpa, pen) kepada selain Allah dalam urusan yang hanya dikuasai Allah atau meminta perlindungan kepada selain Allah dalam urusan semacam itu.

2. Murtad karena perbuatan
Seperti contohnya melakukan sujud kepada patung, pohon, batu atau kuburan dan menyembelih hewan untuk diperembahkan kepadanya. Atau melempar mushaf di tempat-tempat yang kotor, melakukan prkatek sihir, mempelajari sihir atau mengajarkannya. Atau memutuskan hukum dengan bukan hukum Allah dan meyakini kebolehannya.

3. Murtad karena keyakinan
Seperti contohnya meyakini Allah memiliki sekutu, meyakini khamr, zina dan riba sebagai sesuatu yang halal. Atau meyakini bahwa sholat itu tidak diwajibkan dan sebagainya. Atau meyakini keharaman sesuatu yang jelas disepakati kehalalannya. Atau meyakini kehalalan sesuatu yang telah disepakati keharamannya.

4. Murtad karena keraguan
Seperti meragukan sesuatu yang sudah jelas perkaranya di dalam agama, seperti meragukan diharamkannya syirik, khamr dan zina. Atau meragukan kebenaran risalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau para Nabi yang lain. Atau meragukan kebenaran Nabi tersebut, atau meragukan ajaran Islam. Atau meragukan kecocokan Islam untuk diterapkan pada zaman sekarang ini (Lihat At-Tauhid li Shaffits Tsaalits 'Aliy, hal. 32-33)

Mengenal Dr. Peter Youngren
Dr. Peter Youngren ialah seorang penginjil dari Kanada. Dia telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 85 negara di dunia. Di Indonesia, dia telah mengadakan Festival Penyembuhan di berbagai kota, seperti Semarang, Bandung dan Manado. Dia juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar 'Global Harvest Praise'. Tentang penyembuhan atau mukjizat yang ditawarkannya, dia mengatakan,"Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja." (Bethanygraha.org dan Wikipedia). Dia juga mengatakan, "Saya sudah berkunjung ke banyak negara selama 30 tahun. Baik negara dengan penduduk Hindu, Islam, Budha, sampai penganut atheis sekalipun dan responnya cukup positif" (Denpost). Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufiq dari Allah, di antara program kunjungan Dr. Peter Youngren adalah rencana kedatangannya di kota Yogyakarta pada hari Rabu, 30 Mei 2007 sampai dengan hari Sabtu, 2 Juni 2007 di Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Tema Acara ini adalah Jogja Festival 2007 yang berisi acara pengobatan/penyembuhan massal yang diiringi dengan kebaktian rohani.

Membongkar Kedok Pemurtadan di Balik Pengobatan Dr. Peter Youngren
Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufiq dari Allah, keimanan seorang muslim terhadap Allah dan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tidaklah boleh ada keragu-raguan sedikit pun di dalamnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hujurat: 15)

Seorang muslim haruslah yakin bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah dan sesembahan selain Allah adalah batil. Dalam suatu wawancara, Dr. Peter Youngren pernah ditanya, “Seringkali orang Kristen memiliki suatu konsep yang salah dalam hal bersaksi tentang Kristus kepada orang lain yaitu dengan cara membawa orang ke gereja atau menjadikan dia Kristen dan bukan memberitakan Kristus kepada orang tersebut. Apakah pendapat Bapak tentang hal ini?” Kemudian ia menjawab, “Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menjadi Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus (Jesus' believers). Bukan merubah agama orang itu. Yesus dan Petrus sendiri tidak pernah menggunakan istilah Kristen untuk orang percaya. Saya juga tidak gunakan istilah ini. Kalau hal ini terjadi maka kita akan disangka mengkristenkan mereka. Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.”(Bethanygraha.org)

Dalam festival penyembuhan massal yang dilakukannya, dia juga menyatakan, “Saya doakan mereka secara umum dan dalam doa kesembuhan itu saya ucapkan apa yang Yesus telah lakukan.” Ia juga menyatakan, “Kesembuhan massal didasarkan pada penanganan Tuhan secara pribadi dengan umat-Nya, juga iman si individu di dalam Kristus. Tetapi itu semua terjadi pada waktu yang bersamaan.” (Bethanygraha.org)

Dari ucapan di atas, dapat diketahui bahwa Dr. Peter Youngren ingin agar setiap orang (pemeluk agama selain Nashrani) percaya pada Yesus atau beriman kepadanya. Setelah mereka beriman kepadanya barulah dia akan terseret masuk ke gereja (alias ‘murtad’ secara perlahan-lahan). Dan seseorang tidaklah mungkin menjadi sembuh dari sakitnya dalam acara festival tersebut kecuali setelah sebelumnya ia yakin (beriman) pada Yesus yang dengan ini dapat membuatnya keluar (murtad) dari Islam.

Dr. Peter Youngren juga telah mengelabui kaum muslimin dengan memberi nama acara pengobatan massal yang dia lakukan dengan nama ’Festival’ semacam Jogja Festival, Bandung Festival, atau Balikpapan Festival. Padahal di dalam acara festival pengobatan massal tersebut diiringi pula dengan acara peribadatan ala Nashrani (kebaktian rohani) yaitu diiringi dengan lagu-lagu kidung rohani versi Nashrani. Mengapa dia tidak menamai acara tersebut dengan Kebaktian Rohani Kristen saja[?!] Malah umat Islam dikelabui dengan Festival yang seolah-olah terbuka untuk semua umat beragama. Ada apa di balik itu semua?!

Dalam suatu wawancara, Dr. Peter pernah ditanya, “Mengapa dalam ibadah kesembuhan anda menyebutnya sebagai Festival dan bukan Crusade atau Revival Meetings (KKR-Kebaktian Kebangunan Rohani-). Ia menjawab, “Kata Crusade (KKR) adalah kata yang melukai saudara sepupu kita dari agama lain (maksudnya adalah umat islam, pen), sedangkan kata Revival tidak kita gunakan dalam ibadah kita. Kita menyebutnya Festival atau Celebration (perayaan). Misalkan kalau diadakan di Surabaya, kami menyebutnya di poster sebagai Surabaya Festival bukan Jesus Festival atau Festival Injil. Ini sama sekali tidak memberikan kesan agamawi. Orang bertanya apa ini? Mereka tidak tahu dan datang menghadirinya. Kita bahkan tidak gunakan lambang gereja seperti salib dan sebagainya. Ada yang bertanya kepada saya apakah saya telah berkompromi? Kita tidak berkhotbah di poster atau di iklan tetapi kita berkhotbah di festival. Setelah mereka ada di festival, baru kita sampaikan Injil kepada mereka.” (Bethanygraha.org)

Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufik dari Allah, bentuk pemurtadan yang lain dalam acara festival tersebut adalah ditujukannya suatu ibadah kepada selain Allah. Padahal memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah termasuk kesyirikan. Dan di antara bentuk ibadah yang paling agung adalah do’a, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Do’a adalah ibadah.” (HR.Tirmidzi, hasan shohih). Apabila seseorang berdo’a kepada selain Allah (seperti berdo’a kepada Yesus, jin, mayit, atau bahkan kepada para Nabi yang telah wafat) maka ia telah berbuat kesyirikan dan pelakunya adalah kafir (keluar dari Islam). Demikian pula orang yang meridhoi perbuatan kesyirikan dan tidak membencinya, maka ia juga telah kafir.

Himbauan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan, mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan ’Balikpapan Festival 2003’, yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 Oktober 2003 di Gelora Patra, dengan menghadirkan pembicara utama Pdt. Peter Youngren dari Kanada. Ketua komisi Fatwa MUI Balikpapan mengatakan,”Jadi kalau ada umat Islam yang menghadiri acara ritual itu dan meyakini bahwa pengobatan yang diberikan Peter Youngren bakal membawa kesembuhan, maka bisa digambarkan bahwa keyakinan yang bersangkutan mulai goyah. Bahkan condong ke arah kemurtadan.” (Kaltim Post, Cybernews, Rabu 1 Oktober 2003) Oleh sebab itu, kami juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat muslim untuk tidak hadir dalam acara-acara tersebut, meskipun mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah kristenisasi. Karena tentu saja kalau acara kekufuran itu disebut kristenisasi niscaya tidak ada seorang pun di antara kaum muslimin yang mau menghadirinya. Inilah tipu muslihat mereka untuk menjerat kaum muslimin !

Wajib bagi kaum muslimin untuk mengingkari acara-acara semacam ini sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila tidak sanggup maka dengan lisannya, apabila tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). Jadi hendaknya setiap kaum muslimin juga melarang anggota keluarga, saudara, kerabat, dan tetangganya untuk tidak manghadiri acara pemurtadan berkedok pengobatan/penyembuhan massal tersebut.

Sikap seorang muslim dalam menghadapi musibah Kaum muslimin -semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita- dalam hidup di dunia ini tentunya kita tidak akan lepas dari berbagai macam cobaan. Allah berfirman yang artinya, ”Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3). Allah juga berfirman yang artinya, ”Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’:35).

Kaum muslimin -semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus-, Nabi kita, Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam telah bersabda,”Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Demikianlah keadaan seorang mukmin .... Jika ia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan menggunakan kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah. Namun apabila ia mendapatkan cobaan atau musibah (misalnya dengan kebutaan dan lumpuh) tidaklah hal itu menjadikankan berpaling dari Allah atau bahkan kafir kepada-Nya -na’udzubillah-, akan tetapi ia bersabar menghadapi cobaan itu dengan mengharap pahala dari Allah. Sungguh indah dan mulia agama kita.

Perlu diingat pula bahwa di balik musibah terdapat hikmah yang begitu banyak. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah (yang dapat kita gali, pen). Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas).

Ingatlah pula bahwa cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih). Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini.

Jadi carilah sebab agar mendapatkan kesembuhan dari penyakit dengan berobat. Karena Rasulullah menganjurkan pada umatnya untuk berobat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Wahai hamba Allah berobatlah karena tidaklah ada suatu penyakit kecuali Allah memberi obatnya.” (HR. Tirmidzi, hasan shohih) Namun seseorang harus memperhatikan pula hukum yang terkait dengan pengambilan sebab. Pertama, sebab yang diambil harus terbukti secara syar’i atau qodari (penelitian ilmiah). Kedua, tidak bersandar pada sebab namun bersandar pada Allah. Maka hendaklah setiap yang ingin berobat tidak menyandarkan hatinya kepada dokter atau obat, namun hendaklah selalu bertawakkal pada Allah. Ketiga, keampuhan suatu sebab hanya tergantung pada taqdir Allah. Maka pahami dan perhatikanlah ketiga hukum pengambilan sebab ini ketika hendak berobat dari suatu penyakit.

Terakhir, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan ’Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un, Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha’. Maka Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibah yang dihadapi dan Allah akan memberi ganti yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah menjaga dan meneguhkan keimanan kita sampai datangnya kematian, menjaga urusan kaum muslimin dari makar musuh-musuhnya serta menjadikan para pemimpin kita termasuk orang-orang yang memperjuangkan syariat-Nya dan berjalan di atas jalan Islam yang lurus. Amin Yaa Mujibad Da’awat.
[Disusun oleh Al-Akh Ari Wahyudi, Al-Akh Ibnu Sutopo & Al-Akh Muhammad Abduh T, Pengurus LBIA Al-Atsary. Tulisan ini juga diterbitkan dalam Bulletin At-Tauhid edisi 118, 25 Mei 2007]

15
Jilbab / Akhowat genit
« pada: Mei 06, 2007, 10:26:59 am »
Akhowat; sebutan akrab untuk para wanita muslim. Akhowat secara bahasa arab artinya saudara perempuan. Namun sudah ma’lum (diketahui) bahwa ’saudara’ yang dimaksud disini adalah saudara seiman, sama-sama muslim. Hal ini bukan tak berdasar, karena nabi SAW bersabda: “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain” (HR. Muslim, no. 2564). Namun memang sebagian orang menggunakan istilah akhowat untuk makna yang lebih sempit. Ada yang menggunakan istilah akhowat khusus untuk para muslimah yang aktifis dakwah, yang bukan aktifis dakwah bukan akhowat. Ada juga menggunakan istilah akhowat khusus untuk para muslimah yang berjilbab lebar, yang berjilbab pendek bukan akhowat. Ada yang lebih parah lagi, istilah akhowat hanya diperuntukkan bagi muslimah yang satu ‘aliran’, yang beda aliran bukan akhowat. Tentu saya lebih setuju makna yang umum, bahwa setiap muslimah yang mentauhidkan Allah, adalah akhowat. Namun yang lebih dikenal banyak orang, akhowat adalah para muslimah aktifis dakwah yang biasanya berjilbab lebar. Dan makna ini yang kita pakai didalam tulisan saya ini.

Demi Allah. Sungguh anggunnya para muslimah dengan hijab syar’inya, melambai diterpa angin, memancarkan cahaya indah dari sebuah keimanan yang mantap. Ya, ke-istiqomah-an seorang muslimah untuk menjaga auratnya dengan jilbab yang syar’i adalah cermin keimanannya, setidaknya dalam hal berpakaian. Sungguh beruntung mereka yang telah menyadari bahwa Allah telah memerintahkan para muslimah untuk berhijab syar’i, dan sungguh tidak akan Allah memerintahkan sesuatu kepada hambanya kecuali itu adalah sebuah kebaikan. Namun sayang sungguh sayang. Sebagian akhowat yang berhijab syar’i belum menyadari esensi dari hijab yang dipakainya, yaitu untuk menjaga dirinya dari fitnah syahwat. Sebagian dari mereka hanya mengganngap hijab syar’i hanya sekedar tuntutan berpakaian dari syari’at, atau ada pula yang hanya menganggapnya sebagai tuntutan mode, supaya terlihat anggun, terlihat cantik, keibuan, dll. Wa’iyyadzubillah. Akhirnya ditemukanlah tipe muslimah yang saya sebut akhowat genit, yaitu mereka (muslimah) yang sudha berhijab syar’i, jilbab lebar, namun tidak menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Mereka tidak menjaga diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah (kerusakan;bencana) yang ditimbulkan dari pergaulan laki-laki dan wanita yang melanggar batas-batas syariat. Padahal seharusnya merekalah (para akhowat) yang mendakwahkan bagaimana cara bergaul yang syar’i.

Mungkin saja para akhowat genit ini belum tahu tentang tuntunan Islam dalam bergaul dengan lawan jenis. Ketahuilah, memang Allah SWT telah mewajibkan ummat muslim berbuat baik dalam segala hal. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu” (HR. Muslim) Dan memang benar bahwa Allah telah memerintahkan hamba-Nya mempererat persaudaraan, ukhuwah sesama muslim, bersikap santun, sopan, banyak memuji. Namun perlu diperhatikan, hal-hal baik tersebut akan berbeda hukum dan akibatnya jika diterapkan kepada lawan jenis. Berkata manis, santun, mendayu-dayu, itu baik. Namun bila diterapkan kepada lawan jenis, bisa berbahaya. Menanyakan kabar kepada seorang kawan, itu baik. Namun bila sang kawan itu lawan jenis, bisa berbahaya. Sering memberi nasehat-nasehat kepada seorang kawan, itu baik. Namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Senyum dan menyapa saat berpapasan dengan kawan, itu baik. Namun jika ia lawan jenis, bisa berbahaya. Karena Allah SWT telah berfirman yang artinya: “Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menundukkan pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya” (QS. An-Nur : 24) Berbuat baik memang diperintahkan, namun Allah juga memerintahkan untuk menjaga pandangan dan pergaulan terhadap lawan jenis. Maka janganlah mencampurkan hal-hal baik dengan hal yang dilarang.

Ciri-ciri akhowat genit:

Berpakaian yang mengundang pandangan
Mungkin ia memakai jilbab lebar, gamis, namun jilbab dan busana muslimah yang digunakannya dibuat sedemikian rupa agar menggoda pandangan para ikhwan. Warna yang mencolok, renda-renda, atau aksesoris lain yang membuat para pria jadi terpancing untuk memandang.

Senang dilihat
Akhowat genit, senang sekali bila banyak dilihat oleh para ikhwan. Maka ia pun sering tampil di depan umum, sering mencari-cari perhatian para ikhwan, sering membuat sensasi-sensasi yang memancing perhatian para ikhwan dan suka berjalan melewati jalan yang terdapat para ikhwan berkumpul.

Kata-kata mesra yang ‘Islami’
Seringkali akhowat-akhowat genit melontarkan ‘kata-kata mesra’ kepada para ikhawn. Tentu saja kata-kata mesra mereka berbeda dengan gayanya orang berpacaran, namun mereka menggunakan gaya bahasa Islami.
“Jazakalloh yach akhi”
“Akh, antum bisa saja dech”
“Pak, jangan sampai telat makan lho, sesungguhnya Alloh menyukai hamba-Nya yang qowi”
“Kaifa haluka akhi, minta tausiah dunks…”
“Akh, besok syuro jam 9, jangan mpe telat lhoo..”


SMS tidak penting
Biasanya akhowat-akhowat genit banyak beraksi lewat SMS. Karena aman, tidak ketahuan orang lain, bisa langsung dihapus. Ia sering SMS tidak penting, menanyakan kabar, mengecek shalat malam sang ikhwan, mengecek shaum sunnah, atau SMS hanya untuk mengatakan “Afwan…” atau “Jazakalloh”

Banyak bercanda
Akhowat genit banyak bercanda dengan para ikhwan. Mereka pun saling tertawa tanpa takut terkena fitnah hati. Betapa banyak fitnah hati, VMJ, yang hanya berawal dari sebuah canda-mencandai.

Tidak khawatir berikhtilat
Ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindari khalwat dan ikhtilat. Namun seharusnya saat berada pada kondisi tersebut seorang mu’min yang takut kepada Allah sepatutnya memiliki rasa khawatir berlama-lama di dalamnya. Bukan malah enjoy dan menikmatinya. Demikian si akhowat genit. Saat terjadi ihktilat akhowat genit tidak khawatir. Bukannya ingin cepat-cepat keluar dari kondisi tersebut, akhowat genit malah menikmatinya, berlama-lama, dan malah bercanda-ria dengan pada ikhwan laki-laki di sana.

Berbicara dengan nada
Maksudnya berbicara dengan intonasi kata yang bernada, mendayu, atau agak mendesah, atau dengan gaya agak kekanak-kanakan, atau dengan gaya manja, semua gaya bicara seperti ini dapat menimbulkan ‘bekas’ pada hati laki-laki yang mendengarnya. Dan ketahuilah wahai muslimah, hal ini dilarang oleh syariat. Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32) Para ulama meng-qiyaskan ‘merendahkan suara’ untuk semua gaya bicara yang juga dapat menimbulkan penyakit hati pada lelaki yang mendengarnya.

Maka mari sama-sama kita perbaiki diri. Kita tata lagi pergaulan kita dengan lawan jenis. Karena inilah yang telah diperintahkan oleh syariat. Dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu kebaikan. Dan tidaklah Allah melarang sesuatu kepada hamba-Nya, kecuali itu keburukan. Dan sesungguhnya Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada ummatnya bahwa fitnah (cobaan) terbesar bagi kaum laki-laki adalah cobaan syahwat, yaitu yang berasal dari wanita: ”Tidaklah ada fitnah sepeninggalanku yang lebih besar bahayanya bagi laki-laki selain fitnah wanita. Dan sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah disebabkan oleh wanita.” (HR. Muslim)

http://yulian.web.ugm.ac.id/?p=62

Halaman: [1] 2 3 4