Penulis Topik: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT  (Dibaca 4794 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

jgj-jongen

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 17
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« pada: Maret 27, 2008, 01:04:11 pm »
TIDAK  SEMUA  BID’AH  ADALAH  SESAT
Dalil yang digunakan sebagai dasar pelarangan semua bid’ah adalah:
Hadits Jabir dalam shahih Muslim:
”Rasulullah bila berkhutbah tampak matanya kemerah-merahan dan dengan suara keras bersabda:”Sesungguhnya tutur kata yang terbaik adalah Kitabullah (Al quran) dan petunjuk yang terbaik adalah petunjuk Muhammad SAW. Sedangkan persoalan yang terburuk adalah hal-hal yang diadakan dan setiap hal yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
Dalam hadits ini menggunakan kata kullu yang secara tekstual diartikan seluruh/semua.Sebenarnya kata kullu tidak selamanya berarti keseluruhan atau semua.
Perhatikan:
1.Surat Al-Ahqaf:25
yang artinya: “Angin taufan itu menghancurkan segala sesuatu atas perintah TuhanNya....
Kalimat segala sesuatu dalam ayat tersebut bersifat umum. Angin taufan tidak menghancurkan segala sesuatu dalam arti harfiah. Yang hancur hanyalah apa yang ada pada kaum Tsamud; jiwa, harta benda lain-lain: Tidak menghancurkan langit, bumi, bulan, matahari, bintang-bintang dsb.
Perhatikan juga:
2.Surat An Najm:39
yang artinya: ”Dan bahwasannya setiap manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya...”
Kalimat ”selain apa yang diusahakannya” itu bersifat umum dan mengandung makna lain di luar pengertian harfiahnya. Sebab banyak sekali Hadits-Hadits shahih dan mutawatir yang menunjukkan kepada kita, bahwa seorang muslim dapat memperoleh kebajikan orang Muslim yang lain. Seperti sholat jenazah, doa orang lain, shadaqoh yang dilakukan oleh anak untuk kebajikan orang tuanya yang telah wafat dsb.
Cermati:
3.Surat Al Anbiya’:30
Yang artinya:”Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air”.
Walaupun ayat ini menggunakan kata kullu, namun tidak berarti semua benda yang ada di dunia ini diciptakan dari air. Buktinya Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala (QS Al Rahman:15).
Jadi dalil yang mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat merupakan dalil umum. Dalil tersebut ditaksis oleh hadits Riwayat Imam Muslim:
” Barangsiapa yang di dalam Islam merintis jalan kebajikan ia memperoleh ganjarannya dan ganjaran orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikitpun juga. Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kejahatan ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikitpun juga.”
Oleh karena itu dalam memahmi suatu hadits tidak gampang, tidak bisa hanya dilihat secara parsial atau hanya melihat arti lahiriyah sebuah teks. Bisa sangat berbahaya! Ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika membaca serta menafsirkan Al quran/Hadits. Misalnya kondisi masyarakat ketika ayat itu turun, termasuk pula meneliti teks tersebut dari aspek kebahasaannya, yakni dengan perangkat Ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah, Mantiq, dsb.
Cermati juga tentang peristiwa Pembukuan Al quran dalam satu mushaf, pemberian harokat dalam Al quran dsb. Peristiwa tersebut juga tidak dilakukan pada masa Nabi/Nabi tidak pernah memerintahkan para sahabat. Akan tetapi Para sahabat memiliki inisiatif sendiri. Kalau mengacu pada semua yang diadakan adalah sesat, beranikah kamu mengatakan para sahabat sesat?
Perhatikan juga pernyataan Sahabat Besar, Umar ibn Khattab ra:”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah).”
Beranikah kalian mengatakan bahwa Umar adalah sesat?
Masih banyak contoh-contoh lainnya.
Oleh karena itu jangan mudah menuduh bid’ah kepada orang lain, cermati dulu, pahami dulu, kuasai dulu ilmunya. Bagaimana caranya? Ngaji donkz!
Wallahu a’lam


Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #1 pada: April 12, 2008, 10:27:05 am »
بركالله فيك و زادك الله حرصا
Semoga Allah memberi barokah dan tambahan semangat dalam menuntut ilmu agama...

Adapun hadits diatas, dimanakah sisi takhshish-nya? Karena hadits tersebut membicarakan hal yang berbeda jenis, hadits pertama tentang bid'ah, sedangkan yang kedua tentang amal kebaikan dan maksiat. Maksiat berbeda dengan bid'ah. Bahkan bid'ah lebih bahaya dari maksiat. Sufyan At-Tsauri berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati dan bid’ah tidak (diharapkan) tobat darinya.”

Bahkan hadits kedua adalah ta'kid bagi hadits pertama. Karena bid'ah pada hakekatnya adalah perbuatan maksiat, sebab pelaku bid'ah tidak ubahnya mendurhakai syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallhu'alaihi wasallam. Maka barang siapa berbuat bid'ah, ia berdosa. Bila perbuatan bid'ahnya diikuti orang lain maka bertambah besarlah dosanya.

Adapun perkataan Umar ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah) ". Tidak ada satupun ulama ahlussunnah yang menganggap Umar radhiyallahu'anhu telah berbuat bid'ah. Karena shalat tarawih berjama'ah bukan perbuatan baru, melainkan sudah pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Sehingga perkataan Umar tentang "bid'ah" di sini adalah bid'ah secara bahasa arab bukan dengan pengertian syariat. Karena secara bahasa segala sesuatu yang mulanya ada menjadi ada itu disebut bid'ah. Hal ini dapat dipahami karena pelaksanaan shalat tarawiih sempat ditiadakan oleh Rasulullah kemudian diadakan kembali oleh Umar radhiyallahu'anhu. Jadi ini bukan perbuatan bid'ah.

Adapun pembukuan Al Qur'an sepengetahuan ana tidak ada ulama ahlussunnah yang memahaminya sebagai perbuatan bid'ah. Karena hal ini tidak dianggap ibadah. Dan hal ini merupakan kemashlahatan besar yang dapat menunjang tercapainya syariat. Bayangkan jika mushaf tidak dibukukan atau tidak kodifikasi maka ummat Islam akan kesulitan dalam membaca dan mempelajarinya, dan ini mudhorot yang besar. Berbeda dengan perbuatan bid'ah yang ada semisal maulid nabi. Ketika tidak dilaksanakan maulid nabi, tidak mudhorot yang besar dan mendesak untuk harus dilaksanakan maulid nabi.

Wallahu'alam.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #2 pada: April 12, 2008, 03:38:45 pm »
Kutip
Adapun hadits diatas, dimanakah sisi takhshish-nya? Karena hadits tersebut membicarakan hal yang berbeda jenis, hadits pertama tentang bid'ah, sedangkan yang kedua tentang amal kebaikan dan maksiat. Maksiat berbeda dengan bid'ah. Bahkan bid'ah lebih bahaya dari maksiat. Sufyan At-Tsauri berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati dan bid’ah tidak (diharapkan) tobat darinya.”

mungkin karena anda kurang mengetahui takhsis itu apa...sehingga bertanya takhsisnya dimana...

Kutip
Bahkan hadits kedua adalah ta'kid bagi hadits pertama. Karena bid'ah pada hakekatnya adalah perbuatan maksiat, sebab pelaku bid'ah tidak ubahnya mendurhakai syariat yang dibawa oleh Rasulullah shallallhu'alaihi wasallam. Maka barang siapa berbuat bid'ah, ia berdosa. Bila perbuatan bid'ahnya diikuti orang lain maka bertambah besarlah dosanya.

الخامس عشر: فليست كل بدعة محرّمة، ولو كان كذلك لحرُم جمع أبي بكر وعمر وزيد رضي الله عنهم القرآن وكتبه في المصاحف خوفاً على ضياعه بموت الصحابة القراء رضي الله عنهم، ولحرم جمع عمر رضي الله عنه الناس على إمام واحد في صلاة القيام مع قوله ( نعمت البدعة هذه ) وحرم التصنيف في جميع العلوم النافعة ولوجب علينا حرب الكفار بالسهام والأقواس مع حربهم لنا بالرصاص والمدافع والدبابات والطيارات والغواصات والأساطيل، وحرم الأذان على المنائر واتخاذ الربط والمدارس والمستشفيات والإسعاف ودار اليتامى والسجون، فمن ثَم قيّد العلماء رضي الله عنهم حديث (كل بدعة ضلالة ) بالبدعة السيئة، ويصرّح بهذا القيد ما وقع من أكابر الصحابة والتابعين من المحدثات التي لم تكن في زمنه صلّىالله عليه وسلّم، ونحن اليوم قد أحدثنا مسائل كثيرة لم يفعلها السلف وذلك كجمع الناس على إمام واحد في آخر الليل لأداء صلاة التهجد بعد صلاة التراويح، وكختم المصحف فيها وكقراءة دعاء ختم القرآن وكخطبة الإمام ليلة سبع وعشرين في صلاةالتهجد وكنداء المنادي بقوله ( صلاة القيام أثابكم الله ) فكل هذا لم يفعله النبي صلّىالله عليه وسلّم ولا أحد من السلف فهل يكون فعلنا له بدعة ؟

Kutip
Adapun perkataan Umar ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini (shalat tarawih dengan berjamaah) ". Tidak ada satupun ulama ahlussunnah yang menganggap Umar radhiyallahu'anhu telah berbuat bid'ah. Karena shalat tarawih berjama'ah bukan perbuatan baru, melainkan sudah pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Sehingga perkataan Umar tentang "bid'ah" di sini adalah bid'ah secara bahasa arab bukan dengan pengertian syariat. Karena secara bahasa segala sesuatu yang mulanya ada menjadi ada itu disebut bid'ah. Hal ini dapat dipahami karena pelaksanaan shalat tarawiih sempat ditiadakan oleh Rasulullah kemudian diadakan kembali oleh Umar radhiyallahu'anhu. Jadi ini bukan perbuatan bid'ah.

kalau yang anda maksud ahlusunah hanya bin baz dan albani tentu mereka tidak mengatakan..kita lihat...siapa saja yang membagi bid'ah pada bahasa sehingga bisa diartikan pada hasanah dan sayyiah...:

- الإمام أبو سليمان أحمد بن محمد الخطابي البستي في كتابه "معالم السنن شرح سنن أبي داود"4/301
2- الإمام الحافظ أبو عمر يوسف بن عبد البر النمري الأندلسي في كتابه "الاستذكار سرح الموطأ"5/152-153
3- العلامة الحجة الفقيه المحدث الإمام زين الدين أبو الفرج عبدالرحمن بن أحمد المعروف بابن رجب الحنبلي في كتابه "جامع العلوم والحكم" 2/128
4- الإمام شيخ الإسلام محيي الدين أبو زكريا يحيى النووي في كتابه "شرح صحيح مسلم"6/154
5- الحافظ ابن حجر العسقلاني في كتابه "فتح الباري شرح صحيح البخاري"4/318
6- الشيخ محمد بن إسماعيل الصنعاني في كتابه "سبل السلام شرح بلوغ المرام"2/48
7- الإمام اللكنوني الإمام محمد بن علي الشوكاني فقد نقل في كتابه "نيل الأوطار" في شرح حديث صلاة التراويح عند قول سيدنا عمر :نعمت البدعة هذه..كلام ابن حجر في تقسيم البدعة ولم يعترضه بشيء.
8- الإمام الحافظ القاضي أبو بكر محمد بن عبدالله المعروف بابن العربي المالكي في كتابه "عارضة الأحوذي شرح الترمذي" 10/147
9- العلامة الفقيه الشيخ محمد بن عبدالباقي الزرقاني في كتابه "شرح الموطأ" 1/340
10- الإمام القاضي أبو الوليد سليمان بن خلف الباجي في كتابه "المنتقى شرح الموطأ"1/207-208


kemudian masalah tarawih...seperti yang saya bilang, itu adalah makna bid'ah secara bahasa, tapi lughawi yang 'am. kalau ga percaya...silahkan buka al-i'tishamnya syatibi....

Kutip
Adapun pembukuan Al Qur'an sepengetahuan ana tidak ada ulama ahlussunnah yang memahaminya sebagai perbuatan bid'ah. Karena hal ini tidak dianggap ibadah. Dan hal ini merupakan kemashlahatan besar yang dapat menunjang tercapainya syariat. Bayangkan jika mushaf tidak dibukukan atau tidak kodifikasi maka ummat Islam akan kesulitan dalam membaca dan mempelajarinya, dan ini mudhorot yang besar. Berbeda dengan perbuatan bid'ah yang ada semisal maulid nabi. Ketika tidak dilaksanakan maulid nabi, tidak mudhorot yang besar dan mendesak untuk harus dilaksanakan maulid nabi.


apa perlu saya nuqilkan syarah shahih muslim imam nawawi ? untuk membuktikan kengawuran anda ini ?

kalau bukan bid'ah apa ? maslahah mursalah ? ketahuilah...tidak semua ulama ushul sepakat akan hujjiatulmaslahah mursalah. kemudian kalau saya nukilkan pendapat ulama ushul yang menolak hujjiatulmaslahah mursalah anda mau berkata apa ? mereka salah ?

« Edit Terakhir: April 12, 2008, 03:54:03 pm oleh fahmie ahmad »

Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #3 pada: April 13, 2008, 11:06:13 am »
Barakallohufiik akhi fahmi...
Jazakumullah khair wa hadakallah
Semoga teman2 dudunger semakin terpicu semangat belajar agama dengan adanya member seperti antum ini...

Adapun tentang jika memang antum merasa lebih faham tentang takhshis, silakan jelaskan sisi takhshish pada hadits من سن سنة, dan mana mukhoshoshnya? Karena jika sebagian orang menganggap hadits tersebut adalah takhshish bagi hadits2 bid'ah maka ada 3 tinjauan:
Pertama, yang dimaksud سن سنة (menunjukkan suatu sunnah) menetapkan suatu amalan yang sifatnya tanfidz (pelaksanaan), bukan amalan tasyri’ (penetapan hukum). karena hak tasyri' hanya milik ALLOH dan Rasul-Nya. Maka yang dimaksud sunnah dalam hal ini adalah segala perkara yang disyariatkan, bukan perkara yang diada-adakan. Selain itu sababul wurud hadits tersebut adalah tentang amalan shodaqoh. Yang mana amalan shodaqoh itu telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Nabi.
Kedua, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda
“Barangsiapa yang membuat satu sunnah yang baik di dalam Islam.”
Beliau juga bersabda:
“Semua bid’ah itu adalah sesat”
Mungkinkah Rasulullah yang digelari Ash Shodiq Al Mashduq mengatakan hal yang berlawanan? Tidak mungkin. MAka wajib kita menjama' 2 hadits tersebut, yaitu sunnah yang dimaksud adalah yang sudah disyariatkan, sehingga 2 hadits tersebut tidak memiliki pertentangan sedikitpun.
Ketiga, hadits tersebut jelas mengatakan من سن سنة حسنة  yang diberi sifat hasanah adalah sunnah dan Nabi tidak mengatakan من سن بدعة حسنة dan sunnah berbeda dengan bid'ah secara istilah lughowi maupun syar'i.

Antum sudah membaca Al 'Itishom? Ahsanta. Buku bagus karya seorang ulama besar ahlus sunnah, Imam Asy Syatibi. Berkata Asy Syatibi dalam bukunya tentang pengetian bid'ah:
"Bid'ah adalah thoriqoh (cara;metode) dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syariat dan mengerjakannya untuk mengharap pahala"
Kemudian beliau menjelaskan tentang haram dan bahaya bid'ah beserta dalil2nya. Dan memang benar beliau dalam Al I'tishom membagi bid'ah menjadi 5: Bid'ah haram, bid'ah makruh, bid'ah mubah, bid'ah sunnah dan bid'ah wajib. Namun perhatikan, jika sejak awal beliau sudah menjelaskan tentang tercelanya bid'ah, mengapa beliau mengatakan ada bid'ah mubah, sunnah bahkan wajib? Jawabannya yang beliau maksudkan bid'ah terbagi 5 adalah bid'ah secara bahasa. Sedangkan yang kita hukumi bid'ah itu harom dan tercela adalh secara pengertian syariat. Sebagaimana zakat, secara bahasa artinya mensucikan diri. Namun pengertian syariat, zakat adalah mengerluarkan harta dengan kadar yg ditentukan saat sampai nishobnya. Begitu pula ulama2 lain seperti Al Izz Ibn Abdissalam, Imam Syafi'i, dll yang membagi bid'ah menjadi sayyi'ah dan hasanah adalah bid'ah secara bahasa.
Adapun bid'ah secara bahasa, maka segala sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada, baik dalam ibadah maupun muamalah tercakup dalam bid'ah secara bahasa. Pesawat terbang, rumah sakit, madrasah, panti asuhan, dll secara bahasa arab ya memang disebut bid'ah. Apakah semunya dilarang? Tentu tidak, maka ada 5 rincian hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh dan harom.
Adapun bid'ah dilarang dalam nash2 hadits adalah bid'ah dalam pengertian syariat. Sebagaimana yang disampaikan Asy Syatibi.
Bukti bahwa yang dimaksud Asy Syatibi tentang bid'ah sunnah atau bid'ah wajib bukanlah bid'ah hasanah yang dianggap sebagian orang adalah bahwa sikap Imam Asy Syatibi sendiri sangat keras terhadap bid'ah dan beliau pun melarang dzikir jama'i dan selamat kematian. Berbeda dengan sebagian orang yang menganggap adanya bid'ah hasanah, mereka menganggap dzikir jama'i dan selamatan kematian adalah bid'ah hasanah.
Adapun pembukuan Al Qur'an, kitab-kitab para ulama, pembuatan madrosah, tidak dapat dikatakan bid'ah. Bahkan benar yang antum katakan, ini adalah maslahatulmursalah. Sebab, perhatikanlah, diantara kaidah untuk membedakan bid'ah atau bukan adalah, apakah perbuatan (dalam agama) tersebut sanggup dan perlu dillakukan oleh Rasulullah pada semasa hidupnya? Jika Rasulullah berkemampuan melakukannya tapi tidak ia lakukan, jika ada yang melakukannya dikemudian hari maka itu bid'ah. Misal, peringatan Maulid Nabi. Kira2 sanggupkah Rasulullah mengumpulkan kaumnya untuk berkumpul, menyediakan hidangan, dan berceramah untuk menyampaikan kebaikan?? Tentu beliau sangat sanggup, beliau pemimpin kaum muslimin, tentu sanggup. Namun ternyata beliau tidak pernah melakukannya, berarti kegiatan ini tidak perlu dilakukan.
Sedangkan pembukuan Al Qur'an, semasa Rasulullah dan para sahabat hidup, Al Qur'an ada di dada-dada mereka. Mereka tidak kesulitan mempelajari walau tidak berbentuk tulisan. Artinya ini suatu hal yang tidak perlu di masa Rasulullah hidup. Sedangkan semakin lama, penghafal Qur'an meninggal, orang yang alim thd Qur'an semakin sedikit jika dibiarkan maka Al Qu'an akan hilang dan kaum muslimin akan kesulitan mempelajarinya maka dilakukan pembukuan Al Qur'an karena besar maslahat-nya dan untuk menolak mudhorot yang besar. Begitu juga dengan pembuatan madrosah ilmiyyah, panti asuhan, pembukuan kitab para ulama, semuanya karena maslahat besar dan menolak mudhorot yang besar pula. Selain itu terdapat dalil umum yang memerintahkan masing-masing yang termasuk maslahatulmursalah.

Wallahu'alam.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #4 pada: April 13, 2008, 01:19:40 pm »
Kutip
Pertama, yang dimaksud سن سنة (menunjukkan suatu sunnah) menetapkan suatu amalan yang sifatnya tanfidz (pelaksanaan), bukan amalan tasyri’ (penetapan hukum). karena hak tasyri' hanya milik ALLOH dan Rasul-Nya. Maka yang dimaksud sunnah dalam hal ini adalah segala perkara yang disyariatkan, bukan perkara yang diada-adakan. Selain itu sababul wurud hadits tersebut adalah tentang amalan shodaqoh. Yang mana amalan shodaqoh itu telah disyariatkan dan dicontohkan oleh Nabi

Ah ah ah.....sunah itu ma'nanya apa aja sih ? :)) :))

Kutip
Mungkinkah Rasulullah yang digelari Ash Shodiq Al Mashduq mengatakan hal yang berlawanan? Tidak mungkin. MAka wajib kita menjama' 2 hadits tersebut, yaitu sunnah yang dimaksud adalah yang sudah disyariatkan, sehingga 2 hadits tersebut tidak memiliki pertentangan sedikitpun.

tidak ada yang berlawanan...semua bangkai adalah haram, kemudian ada bangkai ikan halal,,,apa berarti berlawanan ?

menjama' itu apa sih ? Lucu mas anda itu...yang namanya menjama' itu jika ada 2 hadis bertentangan. Lha wong anda bilang sendiri katanya hadisnya tidak ada pertentangan kok di jama'.  :)) :)) ( kita lihat anda akan jawab apa maslah ini )

Kutip
Ketiga, hadits tersebut jelas mengatakan من سن سنة حسنة  yang diberi sifat hasanah adalah sunnah dan Nabi tidak mengatakan من سن بدعة حسنة dan sunnah berbeda dengan bid'ah secara istilah lughowi maupun syar'i.

Kita lihat hadis umar dulu...umar menyebut shalawat taraweh sebagai bid'ah..padahala nabi pernah melakukan itu. bukankah bid'ah adalah yang tidak pernah dilakukan oleh nabi sama sekali ? anda bisa ga jawab ini ?

Kutip
"Bid'ah adalah thoriqoh (cara;metode) dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syariat dan mengerjakannya untuk mengharap pahala"
Kemudian beliau menjelaskan tentang haram dan bahaya bid'ah beserta dalil2nya. Dan memang benar beliau dalam Al I'tishom membagi bid'ah menjadi 5: Bid'ah haram, bid'ah makruh, bid'ah mubah, bid'ah sunnah dan bid'ah wajib. Namun perhatikan, jika sejak awal beliau sudah menjelaskan tentang tercelanya bid'ah, mengapa beliau mengatakan ada bid'ah mubah, sunnah bahkan wajib? Jawabannya yang beliau maksudkan bid'ah terbagi 5 adalah bid'ah secara bahasa. Sedangkan yang kita hukumi bid'ah itu harom dan tercela adalh secara pengertian syariat. Sebagaimana zakat, secara bahasa artinya mensucikan diri. Namun pengertian syariat, zakat adalah mengerluarkan harta dengan kadar yg ditentukan saat sampai nishobnya. Begitu pula ulama2 lain seperti Al Izz Ibn Abdissalam, Imam Syafi'i, dll yang membagi bid'ah menjadi sayyi'ah dan hasanah adalah bid'ah secara bahasa.

ya..karangan ahlussunah...yang lain ahlunnar semua gt ya ?

siapa bilang saya mengatakan bid'ah yang dibagi imam syafi'i secara istilah. bukankah saya sudah bilang....bid'ah yang saya pakai itu Lughawi 'aam, dan yang anda pakai itu istilahi khoos. bingung ga istilah2 ini ?


Kutip
Adapun bid'ah secara bahasa, maka segala sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada, baik dalam ibadah maupun muamalah tercakup dalam bid'ah secara bahasa. Pesawat terbang, rumah sakit, madrasah, panti asuhan, dll secara bahasa arab ya memang disebut bid'ah. Apakah semunya dilarang? Tentu tidak, maka ada 5 rincian hukum: wajib, sunnah, mubah, makruh dan harom.

ya saya tahu..saya kira kita disini bukan kursus bid'ah ya...coba jawab perkataan saya ...apakah bid'ah yang di maksud umar itu bid'ah secara bahasa ? kalau iya...bagaimana anda menuliskan pengertian bid'ah secara bahasa untuk hadis umar, disisi lain anda menuliskan definisi bid'ah secara bahasa seperti yang saya bold ? bukankah bertentangan ?

Kutip
Adapun bid'ah dilarang dalam nash2 hadits adalah bid'ah dalam pengertian syariat. Sebagaimana yang disampaikan Asy Syatibi.
Bukti bahwa yang dimaksud Asy Syatibi tentang bid'ah sunnah atau bid'ah wajib bukanlah bid'ah hasanah yang dianggap sebagian orang adalah bahwa sikap Imam Asy Syatibi sendiri sangat keras terhadap bid'ah dan beliau pun melarang dzikir jama'i dan selamat kematian. Berbeda dengan sebagian orang yang menganggap adanya bid'ah hasanah, mereka menganggap dzikir jama'i dan selamatan kematian adalah bid'ah hasanah.

itu bukan urusan saya mau sangat keras atau sangat lemah...kita sekarang lagi diskusi. bukan lagi iklan ulama.

untuk masalah rasul tidak melakukan,,,pertanyaan saya di thread sebelah juga anda tidak jawab...

Kutip
Rasulullah berkemampuan melakukannya tapi tidak ia lakukan, jika ada yang melakukannya dikemudian hari maka itu bid'ah. Misal, peringatan Maulid Nabi. Kira2 sanggupkah Rasulullah mengumpulkan kaumnya untuk berkumpul, menyediakan hidangan, dan berceramah untuk menyampaikan kebaikan?? Tentu beliau sangat sanggup, beliau pemimpin kaum muslimin, tentu sanggup. Namun ternyata beliau tidak pernah melakukannya, berarti kegiatan ini tidak perlu dilakukan.

sepertinya pengetahuan anda tentang sunah benar-benar dangkal...orang berilmu tidak pernah ada yang mengatakan seperti ini. mas mas...Ushul fiqh itu sumbernya dari mana ? sunah dan qur'an khan ? sekarang tunjukkan pada saya nash dari ushul fiqh,,,terserah dari siapa..yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak diakukan nabi haram. ada ga ? padahal halal haram dari sunah nabi, sudah dikemas dalam ilmu ushul.

Memahami sunah tidak boleh serampangan. model model anda ini lah yang memahami serampangan.


Kutip
Sedangkan pembukuan Al Qur'an, semasa Rasulullah dan para sahabat hidup, Al Qur'an ada di dada-dada mereka. Mereka tidak kesulitan mempelajari walau tidak berbentuk tulisan. Artinya ini suatu hal yang tidak perlu di masa Rasulullah hidup. Sedangkan semakin lama, penghafal Qur'an meninggal, orang yang alim thd Qur'an semakin sedikit jika dibiarkan maka Al Qu'an akan hilang dan kaum muslimin akan kesulitan mempelajarinya maka dilakukan pembukuan Al Qur'an karena besar maslahat-nya dan untuk menolak mudhorot yang besar. Begitu juga dengan pembuatan madrosah ilmiyyah, panti asuhan, pembukuan kitab para ulama, semuanya karena maslahat besar dan menolak mudhorot yang besar pula. Selain itu terdapat dalil umum yang memerintahkan masing-masing yang termasuk maslahatulmursalah.
]

anda belum jawab saya...bagaimana jika ada yang menolak hujjiatulmaslahah mursalah ? coba dong mas...saya ingin lihat, seberapa jauh anda tahu maslahah mursalah. saya minta definisinya dari anda.

ingat...ada sebagian ulama yang memasukkan maslahah mursalah pada qiyas..seperti imam syafi'i... ada yang menolak maslahah mursalah sama sekali.


Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #5 pada: April 16, 2008, 07:57:48 pm »
Barokallohu fiik...
Jazakumulloh khoiron katsiiro
Semoga kita senantiasa dalam penjagaan Alloh Ta'ala

Takhshish adalah mengeluarkan sebagian anggota lafadz 'aam (umum) dari hukum umum. Dalam hadits كل بدعة ضلالة terdapat lafadz كل yang merupakan salah satu jenis lafadz 'aam. Maka hukum perbuatan bid'ah adalah umum, artinya berlaku bagi semua jenis perkara baru dalam agama. Berkata Al Hafidz Ibnu Rojab Al Hambali (bermahzab Hambali) dalam menafsirkan hadits ini: "كل بدعة ضلالة  adalah perkataan perkataan singkat yang padat makna. Tidak terkecualikan darinya sesuatu apapun. Dan ini adalah salah satu landasan agama sebagaimana hadits 'Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada dasarnya maka tertolak'. Maka semua perbuatan baru yang disandarkan kepada agama yang tidak tedapat dasarnya dari agama ini maka ia adalah perbuatan menyimpang, Islam berlepas diri darinya".
Dan tidak tepat hadits من سن سنة karena hadits ini tidak membicarakan tentang bid'ah sehingga tidak bukan bagian dari lafadz 'amm hadits كل بدعة ضلالة . Sehingga tidak bisa dikatakan takhshish.

Kenapa ana katakan menjama'? Thread Starter (member yang memulai diskusi ini) mengatakan bahwa hadits من سن سنة adalah takhshish dari hadits bid'ah. Maka pembahasan 'amm (umum) dan takhshish (khusus) adalah salah satu bagian dari bab ta'arudh (pertentangan dalil) dalam ushul fiqh. Ana tegaskan, pada hakikatnya antara dalil2 tidak ada pertentangan. Kesan adanya pertentangan disebabkan karena kurangnya ilmu dari orang yang membacanya. Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: "Tidak mungkin ada pertentangan antara dalil-dalil dalam realitanya. Karena Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah menyampaikan dan menerangkan semuanya. Adapun adanya kesan bertentangannya dalil karena kekurangan pemahaman mujtahid" (Ushul min 'ilmil uhsul). Maka TS di sini melihat antara kedua hadits ini terdapat hal yang bertentangan. Yang pertama semua bid'ah dikatakan sesat. Hadits kedua dikatakan jika kita menunjukkan sesuatu amalan baik dikatakan mendapat banyak pahala. Maka ana katakan, wajib menjama' diantara keduanya. Yaitu semua bid'ah tetap sesat, dan amalan yang jika menunjukkannya mendapat banyak pahala adalah amalan2 yang sudah disyariatkan, bukan amalan yang diada-adakan.

Bid'ah dalam pengetian istilah syar'i hukumnya haram dan tertolak. Sedangkan bid'ah secara bahasa arab, hukumnya dirinci tergantung amalannya. Semisal adanya mobil, motor, pesawat terbang, secara bahasa arab disebut bid'ah. Hukumnya boleh. Adanya pompa air untuk menarik ari dari tanah untuk wudhu, secara bahasa disebut bid'ah juga. Hukumnya boleh, bahkan bisa jadi jadi wajib jika hanya dengan itu air bisa didapat. Sebagaimana kaidah "apa saja yang hanya dengannya bisa terlaksana sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib". Jadi berbeda antara pembahasan bid'ah secara istilah syar'i dan istilah bahasa. Adapun yang banyak dibahas seputar maulid nabi, tahlilan, dan semacamnya adalah bid'ah secara istilah syar'i, sedangkan perkataan Umar radhiyallahu'anhu adalah bid'ah secara bahasa. Karena shalat tarawih adalah perkara yang sudah disyariatkan,jadi tidka termasuk dalam pengertian bid'ah secara istilah syar'i.

Adapun penulisan dan pembukuan Al Qur'an bukanlah perbuatan bid'ah karena ia memiliki dasar dari syariat. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah memerintahkan para sahabat untuk menulis Al Qur'an namun saat itu ia ditulis terpisah. Kemudian para sahabat setelah wafatnya Rasulullah menggabungkan menjadi satu untuk menjaga agar Al Qur'an tidak musnah karena banyak penghafal yang wafat. Selain itu pengumpulan dan pembukuan Al Qur'an ini dilakukan oleh para Khulafaurasyidin. Telah ana jelaskan bahwa perbuatan Khulafaurasyidin juga termasuk sunnah yang diperintahkan untuk diikuti. Jadi ini bukan perbuatan bid'ah.

Dan sungguh mengherankan jika ada yang berusaha melegalkan peringatan maulid nabi dengan dasar qiyas terhada pembukuan Al Qur'an. Sungguh ini adalah qiyas ma'al faariq. Karena dua hal ini sangatlah berbeda!!

Wallahu'alam.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #6 pada: April 19, 2008, 05:04:41 am »
Kutip
Barokallohu fiik...
Jazakumulloh khoiron katsiiro
Semoga kita senantiasa dalam penjagaan Alloh Ta'ala
wa iyyaka ya akhii

Kutip
Takhshish adalah mengeluarkan sebagian anggota lafadz 'aam (umum) dari hukum umum. Dalam hadits كل بدعة ضلالة terdapat lafadz كل yang merupakan salah satu jenis lafadz 'aam. Maka hukum perbuatan bid'ah adalah umum, artinya berlaku bagi semua jenis perkara baru dalam agama. Berkata Al Hafidz Ibnu Rojab Al Hambali (bermahzab Hambali) dalam menafsirkan hadits ini: "كل بدعة ضلالة  adalah perkataan perkataan singkat yang padat makna. Tidak terkecualikan darinya sesuatu apapun. Dan ini adalah salah satu landasan agama sebagaimana hadits 'Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada dasarnya maka tertolak'. Maka semua perbuatan baru yang disandarkan kepada agama yang tidak tedapat dasarnya dari agama ini maka ia adalah perbuatan menyimpang, Islam berlepas diri darinya".
Dan tidak tepat hadits من سن سنة karena hadits ini tidak membicarakan tentang bid'ah sehingga tidak bukan bagian dari lafadz 'amm hadits كل بدعة ضلالة . Sehingga tidak bisa dikatakan takhshish.
kita lihat apa kata arti kata sanna : dalam ta'rifaat :

- السنة في اللغة الطريقة مرضية كانت أو غير مرضية والعادة وفي الشريعة هي الطريقة المسلوكة في الدين من غير افتراض وجوب فالسنة ما واظب النبي ص - عليها مع الترك أحيانا فإن كانت المواظبة المذكورة على سبيل العبادة فسنن الهدى وإن كانت على سبيل العادة فسنن الزوائد

sunnah dalam bahasa adalah jalan yang diridhai maupun tidak, termasuk juga kebiasaan. dlam syari'at yaitu jalan yang diikuti dalam hal agama tanpa ada kata kewajiban ( untuk diikuti ). maka sunah adalah apa yang dilakukan nabi. adapun jiika dalam hal ibadah maka namnya sunanulhuda, jika dalam 'adah namanya sunanuzzawaid.

anda mengatakan sunah diatas tidak membicarakan tentang bid'ah, lalu apa ? sanna sunnatan disana artinya mengadakan sesuatu hal baru.ini dalam bahasa. oleh karena itu ada qayyid sunnatan sayyiatan. yaitu perbuatan jelek. maka tidak ada keraguan lagi bahwa sanna sunnatan disana artinya adalah bid'ah secara bahasa. bukan istilah.

Kutip
Kenapa ana katakan menjama'? Thread Starter (member yang memulai diskusi ini) mengatakan bahwa hadits من سن سنة adalah takhshish dari hadits bid'ah. Maka pembahasan 'amm (umum) dan takhshish (khusus) adalah salah satu bagian dari bab ta'arudh (pertentangan dalil) dalam ushul fiqh. Ana tegaskan, pada hakikatnya antara dalil2 tidak ada pertentangan. Kesan adanya pertentangan disebabkan karena kurangnya ilmu dari orang yang membacanya. Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: "Tidak mungkin ada pertentangan antara dalil-dalil dalam realitanya. Karena Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah menyampaikan dan menerangkan semuanya. Adapun adanya kesan bertentangannya dalil karena kekurangan pemahaman mujtahid" (Ushul min 'ilmil uhsul). Maka TS di sini melihat antara kedua hadits ini terdapat hal yang bertentangan. Yang pertama semua bid'ah dikatakan sesat. Hadits kedua dikatakan jika kita menunjukkan sesuatu amalan baik dikatakan mendapat banyak pahala. Maka ana katakan, wajib menjama' diantara keduanya. Yaitu semua bid'ah tetap sesat, dan amalan yang jika menunjukkannya mendapat banyak pahala adalah amalan2 yang sudah disyariatkan, bukan amalan yang diada-adakan.
BUkan tidak ada pertentangan.saya tegaskan lebih tegas lagi, bahwa dalam hadis nabi banyak pertentangan. cuma itu bukan pertentangan haqiqi, tapi idhafii. bukan tanaqudh, tapi ta'arudh. bukan menjama' tapi mentakhsis.

Kutip
Bid'ah dalam pengetian istilah syar'i hukumnya haram dan tertolak. Sedangkan bid'ah secara bahasa arab, hukumnya dirinci tergantung amalannya. Semisal adanya mobil, motor, pesawat terbang, secara bahasa arab disebut bid'ah. Hukumnya boleh. Adanya pompa air untuk menarik ari dari tanah untuk wudhu, secara bahasa disebut bid'ah juga. Hukumnya boleh, bahkan bisa jadi jadi wajib jika hanya dengan itu air bisa didapat. Sebagaimana kaidah "apa saja yang hanya dengannya bisa terlaksana sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib". Jadi berbeda antara pembahasan bid'ah secara istilah syar'i dan istilah bahasa. Adapun yang banyak dibahas seputar maulid nabi, tahlilan, dan semacamnya adalah bid'ah secara istilah syar'i, sedangkan perkataan Umar radhiyallahu'anhu adalah bid'ah secara bahasa. Karena shalat tarawih adalah perkara yang sudah disyariatkan,jadi tidka termasuk dalam pengertian bid'ah secara istilah syar'i.


Sekarang kelihatan semakin jelas sudah,,,,,jawab pertanyaan saya biar bisa melihat semua orang disini....dasar dan hadis yang diambil oleh 'ulama ushul bahwa "segala sesuatu dalam mu'amalah itu boleh"hadinya apa ? apa namanya, kalau hadis dalam bid'ah itu umum, kemudian anda khususkan dg kaidah ushul ???????????? apa ini namanya bukan memakan perkataan sendiri. sedangkan anda tahu, bahwa kaidah ushul diambil dari hadis. anda mengatakan bahwa hadis itu adalah umum, tapi dikhususkan dg kaidah ushul?????????? justru ini sebenarnya bukan takhsis. anda sudah membuat hal-hal baru membuat takhsis dg kaidah. bid'ah ini lho.

Yang kedua..perhatikan fatwa syekh 'atiyyah shaqar ( mufti mesir terdahulu )...

يقول فضيلة الشيخ عطية صقر رئيس لجنة الفتوى الأسبق بالأزهر ـ رحمه الله ـ:

‏ جاء في كتاب "النهاية في غريب الحديث والأثر" لابن الأثير في مادة "بدع " وفي حديث عمر رضي الله عنه في قيام رمضان :‏ نعمت البدعة هذه :‏ البدعة بدعتان بدعة هُدَى وبدعة ضلال ، فما كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم فهو في حَيز الذم والإنكار، وما كان واقعا تحت عموم ما ندب الله إليه وحض عليه الله أو رسوله فهو في حيز المدح وما لم يكن له مثال موجود كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف فهو من الأفعال المحمودة ، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما ورد الشرع به ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم قد جعل له في ذلك ثوابا فقال "من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها" وقال في ضده "ومن سن سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها" وذلك إذا كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم .‏

ومن هذا النوع قول عمر رضي الله عنه "نعمت البدعة هذه " لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح سماها بدعة ومدحها ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يُسنَّها لهم وإنما صلاها ليالي ثم تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس لها ، ولا كانت في زمن أبى بكر ، وإنما عمر رضي الله عنه جمع الناس عليها وندبهم إليها .‏ فلهذا سماها بدعة وهى على الحقيقة سنة بقوله صلى الله عليه وسلم "عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدى" وقوله "اقتدوا باللذين من بعدى أبى بكر وعمر وعلى هذا التأويل يحمل الحديث الآخر "كل محدثة بدعة" إنما يريد ما خالف أصول الشريعة ولم يوافق السنة .‏ وأكثر ما يستعمل المبتدع عرفا في الذم ، انتهى ما قاله ابن الأثير .

Kutip
Adapun penulisan dan pembukuan Al Qur'an bukanlah perbuatan bid'ah karena ia memiliki dasar dari syariat. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah memerintahkan para sahabat untuk menulis Al Qur'an namun saat itu ia ditulis terpisah. Kemudian para sahabat setelah wafatnya Rasulullah menggabungkan menjadi satu untuk menjaga agar Al Qur'an tidak musnah karena banyak penghafal yang wafat. Selain itu pengumpulan dan pembukuan Al Qur'an ini dilakukan oleh para Khulafaurasyidin. Telah ana jelaskan bahwa perbuatan Khulafaurasyidin juga termasuk sunnah yang diperintahkan untuk diikuti. Jadi ini bukan perbuatan bid'ah.

Dan sungguh mengherankan jika ada yang berusaha melegalkan peringatan maulid nabi dengan dasar qiyas terhada pembukuan Al Qur'an. Sungguh ini adalah qiyas ma'al faariq. Karena dua hal ini sangatlah berbeda!!

Wallahu'alam.

anda heran karena anda tidak tahu.

perhatikan fatwa lanjutan syekh 'atiyyah shaqar yang mana disini beliau sangat bersikap obyektif tanpa menjelek-jelekan yang tidak sepaham..artinya beliau mencoba memadukan pendapat yang ada...perhatikan baik-baik ( saya ga terjemahkan, karena sampean saya anggap sudah paham bahasa arab )

وتحديد مفهوم البدعة التي هي ضلالة في النار فيه صعوبة.‏ ومن ركام التعريفات التي ملئت بها الكتب أستطيع أن أقول:‏ إن للعلماء في تعريف البدعة منهجين ، أولهما لغوى عام ، والآخر اصطلاحي خاص .‏

ا -‏فأصحاب المنهج الأول نظروا إلى مادة "البدعة " التي تدل على اختراع على غير مثال سبق فعرفوها بأنها ما أحدث بعد النبي صلى الله عليه وسلم وبعد القرون المشهود لها بالخير .‏

وهذا التعريف يدخل فيه ما كان خيرا وما كان شرا ، وما كان عبادة وما كان غير عبادة ، والذي حملهم على هذا التعريف الشامل ورود لفظ البدعة مرة محمولا عليه الذم ، ومرة محمولا عليه المدح ، وبهذا عرف أن البدعة قد تكون ممدوحة وقد تكون مذمومة ، قال الشافعى رضي الله عنه :‏ المحدثات من الأمور ضربان ، أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا ، فهذه البدعة الضلالة ، والثاني ما أحدث من الخير وهذه محدثة غير مذمومة.‏

وعلى هذه الطريقة في تعريف البدعة وشمولها للممدوح والمذموم جرى عز الدين بن عبد السلام ، فقسم البدعة إلى واجبة كوضع العلوم العربية وتعليمها ، وإلى مندوبة كإقامة المدارس ، ومحرمة كتلحين القرآن بما يغير ألفاظه عن الوضع العربي ، ومكروهة كتزويق المساجد ومباحة كوضع الأطعمة ألوانا على المائدة.‏

‏2-‏وأصحاب المنهج الثاني عرفوا البدعة بأنها الطريقة المخترعة على أنها من الدين وليست من الدين في شيء ، أو بأنها طريقة في الدين مخترعة تضاهى الطريقة الشرعية ويقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية ، ويدخل فيها العبادات وغيرها وقصرها بعضهم على العبادات ، وعلى هذا التعريف تكون البدعة مذمومة على كل حال ولا يدخل في تقسيمها واجب ولا مندوب ولا مباح .‏ وعلى هذا المعنى يحمل الحديث "كل بدعة ضلالة" ويحمل قول مالك رضي اللّه عنه :‏ من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة ، لأن اللّه قال {‏اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا}‏ المائدة :‏ ‏3 ، وأصحاب هذا المنهج يحملون قول عمر في صلاة التراويح على المعنى اللغوي .‏

  إن اسم البدعة ظهر بوضوح في زحمة الخلافات الفكرية ، التي من أجلها ألف أبو الحسن الأشعري المتوفي سنة ‏304 هـ كتابه "اللمع في الرد على أهل الزيغ والبدع " ثم ظهرت مؤلفات في البدع المتعلقة بالفروع وأن الإمام الغزالى في الإحياء "ج ‏1 ص ‏248" قال :‏ كم من محدث حسن كما قيل في إقامة الجماعات في التراويح إنها من محدثات عمر رضي الله عنه وإنها بدعة حسنة ، وإنما البدعة المذمومة ما تصادم السنة القديمة أو ما يكاد يفضى إلى تغييرها ، وأن البدعة المذمومة ما كانت في الدين ، أما أمور الدنيا فالناس أعلم بشئونها ، مع صعوبة الفصل بين أمور الدين وأمور الدنيا ، لأن دين الإسلام نظام شامل ، الأمر الذي جعل بعض العلماء يقصرون البدعة على العبادي دون العادي ، وعممها البعض الآخر .‏

و نرى أن البدعة تكون في العقيدة وفي العبادة وفي المعاملات والأخلاق ، وأن أفعال الرسول صلى الله عليه وسلم وهو الأسوة الحسنة ، هل تعد كلها سنة تتبع وجوبا وندبا، أو لا تعد كلها من هذا القبيل ؟ وأن ما تركه هل نتأسى به فيه أو لا نتأسى ؟؟ كالأذان الأول لصلاة الجمعة وزيادة درجات المنبر على ثلاث درجات ، والركعتين قبل صلاة الجمعة ، وقراءة سورة في المسجد قبل صلاة الجمعة بصوت مرتفع ،ورفع المؤذن صوته بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بعد الأذان ، ومصافحة المصلين بعضهم بعضا عقب الخروج من الصلاة ، وقول سيدنا محمد في الأذان والتشهد في الصلاة ، وحلق اللحية .

 

ونؤكد على أن تقصر البدعة على ما يتصل بالدين ، وتترك أمور الدنيا لمواكبة العصر في التطور، وعلى أن العبرة بالمسميات لا بالأسماء ، كجواز الاحتفال بيوم المولد وعدم جوازه ، وعلى تغيير المنكر إن أجمع على أنه منكر يكون بالحكمة والموعظة الحسنة ، وما يكون فيه اختلاف لا ينبغى أن يكون التخاصم والتنازع من أجله ، وأن من انخدع برأيه وظن أو اعتقد أنه هو وحده الناجى وأن غيره هالك فهو أول الهالكين كما في حديث رواه مسلم

وجاء في كتاب بيان للناس الصادر عن الأزهر :

من الكلمات التي جرت كثيرًا على الألسنة كلمة "بدعة" ومقولة: "كل بدعة ضلالة. وكل ضلالة في النار". وشغل بعض الناس بذلك حتى تفرقوا شِيَعًا وأحزابًا، وانصرفوا عن قضاياهم الهامة ومشكلاتهم الضاغطة، ورمى بعضهم بعضًا، إن لم يكن بالكفر والإلحاد، فبالفسوق والعِصْيان، وترتب على ذلك ما لم يكن ينبغي أن يكون.

ومن الواجب أن نُنَبِّه إلى وجوب تحديد المفاهيم، وبيان المراد من الألفاظ التي يدور حولها النِّقاش، كما بَيَّنَّا ذلك في مواضع كثيرة من الجزء الأول من هذا البيان. وبعيدًا عن التفاصيل التي أُلِّفت فيها كتُب خاصة أُنَبِّه إلى ما يلي:

1ـ يجب أن يُفَرَّق بين معنى البدعة في اللغة ومعناها في الاصطلاح، فربما لا تكون بمعناها اللغوي ضلالة في النار، ومن ذلك قول عمر ـ رضي الله عنه ـ: "نِعمت البِدعة هذه" (رواه البخاري) حين رأى المسلمين يصلون التراويح جماعة خلف أبي بن كعب. يقول الإمام الغزالي في كتابه "الإحياء" (ج 1 ص 248) حين تكلم عن كتابة القرآن ونَقْطه: ولا يمنع من ذلك كونه مُحْدَثًا، فكم من مُحْدَث حسن، كما قيل في إقامة الجماعات في التراويح: إنها من مُحْدَثات عمر ـ رضي الله عنه ـ وإنها بدعة حسنة، إنما البدعة المذمومة ما يُصادم السنة القديمة أو يكاد يُفضي إلى تغييرها.

 

2ـ البدعة المذمومة لا تكون إلا في الدين، وهو ما يدل عليه حديث: "مَن أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رَدٌّ" (رواه البخاري ومسلم) وتحديد الأمور الدينية وفصلها تمامًا عن أمور الدنيا من الصعوبة بمكان؛ لأن دين الإسلام نظام شامل لم يترك شيئًا من أمور هذه الحياة إلا بيَّنه نصًّا أو إشارة، تصريحًا أو تلويحًا، والنصوص الدالة على ذلك كثيرة، لكن ورد أن هناك أمورًا دنيوية لا يَلْزَمُنا فيه الاتباع، كما جاء في تأبير النخل وقول الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ لهم: "أنتم أعلم بأمر دنياكم" (رواه مسلم).

 

3ـ إن الكلام عن البدعة واضح فيما ورد في الكتاب والسنة من أقوال، لكن ما هو الرأي فيما وراء ذلك وهو الأفعال التي صدرت عن الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ ولم تصدر عنه فيها أقوال، هل تُعَدُّ كلها سنة تُتْبَع وجوبًا أو ندبًا، أو لا تُعَدُّ من هذا القَبِيل؟

أـ ما كان خاصًّا بالرسول كالوِصال في الصيام بين الليل والنهار لا تَأَسِّي فيه.

بـ ما صدر عنه على وجه الجِبِلَّة والطبيعة والعادة كالأكل والشرب والنوم، لا تأسي فيه من جهة فعله، بل التأسي فيما ورد فيه قول عنه. وغاية ما يدل عليه مجرد فعله هو الإباحة، ولا يَصِح أن يُقال لمَن خالَف ذلك: إنه بدعي تارك للسنة.

ج ـ ما عُرِف كونه بيانًا للقرآن كقطع اليد اليُمنى للسارق لقراءة ابن مسعود، فيه التأسي وجوبًا أو ندبًا كحكم المبين.

د ـ ما ليس من الأمور السابقة، أي ليس خاصًّا ولا جِبِلِّيًّا ولا بيانًا، وهو نوعان:

نوع عُلِمت فيه صفته في حق الرسول من وجوب أو ندب أو غيرهما، فأمته تابعة له، لقوله ـ تعالى ـ: (لقدْ كانَ لكُمْ في رسولِ اللهِ أسوةٌ حسنةٌ) (سورة الأحزاب: 21).

ونَوْع لم تُعْلَم صفته في حق الرسول، أي لم يقم دليل خاص على أنه للوجوب أو غيره، فيُنْظَر فيه، فإن ظهر فيه معنى القُرْبة كافتتاح الرسائل بـ"بسم الله"، فيُحمَل على أقل مراتبه، وهو الندب ففيه التأسي والاتِّباع، وإن لم يظهر فيه معنى القربة كإرسال شعر رأسه إلى شحمة أذنه وإرخاء العذَبة بين كَتِفيه، قال: قوم لا تأسي فيه، غاية الأمر أنه مأذون فيه غير ممنوع، وقال آخرون: إنه مندوب كالنوع السابق.

4ـ هذا فيما فعله الرسول، فما الحكم في تركه؟ قال العلماء:

أـ ما تركه جِبِلَّة وطبيعة كأكل الضبِّ فلا تأسي فيه، وذلك أن خالد بن الوليد قال له: أحرام هو يا رسول الله؟ قال: "لا، ولكنه لم يكن بأرض قومي فأجدُني أُعافه"، وقد أكله خالد أمامه (رواه البخاري ومسلم).

 

ب ـ ما ترَكَه خصوصية له كأكل الثوم؛ فقد ورد أنه لما أهدي إليه طعام فيه ثوم أرسل به إلى أبي أيوب الأنصاري، فقال: يا رسول الله تكرهه وترسل به إليَّ؟ فقال: "إني أناجي مَن لا تُناجي" (رواه البخاري ومسلم). وهذا لا تأسي فيه لعدم وجود المُقْتَضى، وما ورد من النهي عن أكله فذلك لمَن أراد حضور الجماعة في المسجد، منعًا للإيذاء ـ أما مَن لم يُرِد الحضور فلا حرَج عليه في أكله.

 

جـ ما تركه لا جِبِلَّة ولا خصوصية، فيُنْظَر فيه: فإن عُلِم حكم الترك في حقه ـ صلى الله عليه وسلم ـ حرمة أو كراهة فالناس تبَع له، وإن لم يُعلَم دل على عدم الإذن فيه، وأقل مراتبه الكراهة، فيُحْمَل عليه حتى يقوم الدليل على ما فوقها وهو التحريم.

 

د ـ وإن ترك شيئًا لمانع من فعله، وقد صرَّح به كترك صلاة التراويح جماعة خشية الفرضية فهذا لا تأسي فيه بعد وفاته لعدم خشية الفرضية بانقطاع الوحي، ولهذا رجع عمر إلى الأصل وصلَّاها جماعة ومدحها. ومثله عدم قتل الرسول لحاطب بن أبي بلتعة الذي حاول إخبار قريش بمسيرة الرسول إلى مكة لفتحها، وذلك لقوله: "إنه شهد بدرًا" فأي جاسوس غيره يُقْتَل إن رأى الإمام ذلك كما قال مالك، وذلك لعدم وجود مانع منه وهو شهود بدر.

 

هـ ـ وإذا ترك شيئًا لعدم المقتضى لفعله ثم حصل المقتضى بعد موته كان للمجتهد أن يرى رأيه، وذلك كجمع المصحف، حيث لم يكن له داعٍ في حياة الرسول، لكن لما تُوفِّي وكثُر القتل في القرَّاء في الغزوَات رأى أبو بكر صواب جمعه لوجود المقتضى له، ومثله الأذان الأول للجمعة الذي أحدثَه عثمان على الزَّوْرَاء لإسماع الناس وإعلامهم بدخول وقت الصلاة بعد كثرتهم وشُغْلِهم بالتجارة.

 

وـ وإذا ترك أمرًا لم يُوجَد ولم تتهيأ أسبابه كعلامات التوقيت ورصد القمر خلف السحاب لمعرفة أوائل الشهور، ثم تَهَيَّأت الأسباب لذلك فلا تأسى في تركه، وليس ذلك مُخالفًا للسنة، فهو من قبيل المسكوت عنه يَجْتَهِد فيه العلماء.

أما الترك الذي يدل على عدم الإذن فيه فهو ما نُقِل عنه بلفظ صريح، كتركه الأذان والإقامة للعيدين، وتركه غسل شُهَداء أحد والصلاة عليهم.

 

5ـ لا ينبغي أن يُسَمَّى "بدعة" إلا شيئًا عمليًّا حدث جديدًا لم يكن أيام النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وصحابته الراشدين المهديين؛ لأن هذا هو معنى "أحدث". أما ترك شيء كان يفعله النبي وخلفاؤه فلا يُسَمَّى بدعة، بل يُسَمَّى مخالفة، سواء وصلت إلى درجة التحريم أو بَقِيَت في درجة الكراهة، اللهم إلا إذا اتُّخِذ الترك دينًا يُتَعَبَّد به فيكون بدعة، كمَن حرَّموا على أنفسهم أكل اللحوم لا لسبب طبيعي، ولكن للتدين وترك الحلال، فتحريمها من هذه الوجهة بدعة، أما الزهد، والتقشف وإيثار الآخرة فلا بأس به.

 

6ـ البدعة الدينية: تكون في الأصول المُتَّفَق عليها، أما الفروع التي هي محل الاجتهاد وفيها خلافات للعلماء فلا ينبغي أن تُوصَف بالبدعة، وقد قال العلماء: إن العمل المُسْتَحْدَث إذا استند إلى حديث ولو كان ضعيفًا يُخرِجه عن نطاق البدعة.

 

7ـ الشيء الجديد الذي يُنْتِج خيرًا على المستوى الفردي أو الجماعي، لا ينبغي أن نُسارع إلى إطلاق اسم البدعة عليه، والحكم بأنه ضلالة وفي النار، بل يجب أن ننظر أولاً إلى عدم وجود نص يمنعه، وإلى عدم وجود ضرَر فيه، ويُحكَم عليه بأصل الحِلِّ، وبما تَقَرَّر من أنه إذا وُجِدت المصلحة فثَمَّ شرع الله، وإذا أُطلِق اسم على هذا الشيء الجديد يُشبِه اسمًا دينيًّا فلننظر إلى المحتوى لا إلى القالَب الذي قد يكون من باب التشبيه الذي يُقْصَد فيه المعنى المجازي لا الحقيقي.ا.هـ

والله أعلم

 

Ohya...saya ingin bilang aja..mungkin balesnya agak lamaan. karena nunggu waktu yang agak longgar ( mohon maklum ).
« Edit Terakhir: April 19, 2008, 05:18:25 am oleh fahmie ahmad »

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #7 pada: April 19, 2008, 05:52:07 am »
SEdikit referensi baca untuk anda...dari mustashfanya imam ghazali tentang 'aam dan khaas...:

وَمَعْنَاهُمَا اعْلَمْ أَنَّ الْعُمُومَ ، وَالْخُصُوصَ مِنْ عَوَارِضِ الْأَلْفَاظِ لَا مِنْ عَوَارِضِ الْمَعَانِي ، وَالْأَفْعَالِ ، ، وَالْعَامُّ عِبَارَةٌ عَنْ اللَّفْظِ الْوَاحِدِ الدَّالِ مِنْ جِهَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى شَيْئَيْنِ فَصَاعِدًا مِثْلَ : الرِّجَالِ ، وَالْمُشْرِكِينَ ، " وَمَنْ دَخَلَ الدَّارَ فَأَعْطِهِ دِرْهَمًا " وَنَظَائِرِهِ كَمَا سَيَأْتِي تَفْصِيلُ صِيَغِ الْعُمُومِ ، وَاحْتَرَزْنَا بِقَوْلِنَا مِنْ جِهَةٍ وَاحِدَةٍ عَنْ قَوْلِهِمْ ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا ، وَعَنْ قَوْلِهِمْ ضَرَبَ زَيْدًا عَمْرٌو ؛ فَإِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى شَيْئَيْنِ ، وَلَكِنْ بِلَفْظَيْنِ لَا بِلَفْظٍ وَاحِدٍ ، وَمِنْ جِهَتَيْنِ لَا مِنْ جِهَةٍ وَاحِدَةٍ ، وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّفْظَ إمَّا خَاصٌّ فِي ذَاتِهِ مُطْلَقًا كَقَوْلِكَ : زَيْدٌ ، وَهَذَا الرَّجُلُ ، وَإِمَّا عَامٌّ مُطْلَقًا كَالْمَذْكُورِ ، وَالْمَعْلُومِ ، إذْ لَا يَخْرُجُ مِنْهُ مَوْجُودٌ ، وَلَا مَعْدُومٌ ، وَإِمَّا عَامٌّ بِالْإِضَافَةِ كَلَفْظِ الْمُؤْمِنِينَ " فَإِنَّهُ عَامٌّ بِالْإِضَافَةِ إلَى آحَادِ الْمُؤْمِنِينَ خَاصٌّ بِالْإِضَافَةِ إلَى جُمْلَتِهِمْ إذْ يَتَنَاوَلُهُمْ دُونَ الْمُشْرِكِينَ ، فَكَأَنَّهُ يُسَمَّى عَامًّا مِنْ حَيْثُ شُمُولُهُ لِمَا شَمِلَهُ خَاصًّا مِنْ حَيْثُ اقْتِصَارُهُ عَلَى مَا شَمِلَهُ وَقُصُورُهُ عَمَّا لَمْ يَشْمَلْهُ .
، وَمِنْ هَذَا الْوَجْهِ يُمْكِنُ أَنْ يُقَالَ : وَلَيْسَ فِي الْأَلْفَاظِ عَامٌّ مُطْلَقٌ لِأَنَّ لَفْظَ الْمَعْلُومِ لَا يَتَنَاوَلُ الْمَجْهُولَ ، وَالْمَذْكُورَ لَا يَتَنَاوَلُ الْمَسْكُوتَ عَنْهُ .

فَإِنْ قِيلَ : فَلِمَ قُلْتُمْ : إنَّ الْعُمُومَ مِنْ عَوَارِضِ الْأَلْفَاظِ لَا مِنْ عَوَارِضِ الْمَعَانِي ، وَالْأَفْعَالِ ؟ وَالْعَطَاءُ فِعْلٌ وَقَدْ تُعْطِي عَمْرًا ، وَزَيْدًا ، وَتَقُولُ : عَمَّمَهُمَا بِالْعَطَاءِ ، وَالْوُجُودُ مَعْنًى يَعُمُّ الْجَوَاهِرَ ، وَالْأَعْرَاضَ ؟ قُلْنَا عَطَاءُ زَيْدٍ مُتَمَيِّزٌ عَنْ عَطَاءِ عَمْرٍو مِنْ حَيْثُ إنَّهُ عْلٌ ، فَلَيْسَ فِي الْوُجُودِ فِعْلٌ وَاحِدٌ هُوَ عَطَاءٌ ، وَتَكُونُ نِسْبَتُهُ إلَى زَيْدٍ ، وَعَمْرٍو وَاحِدَةً .
وَكَذَلِكَ وُجُودُ السَّوَادِ يُفَارِقُ وُجُودَ الْبَيَاضِ ، وَلَيْسَ الْوُجُودُ مَعْنًى وَاحِدًا حَاصِلًا مُشْتَرَكًا بَيْنَهُمَا ، وَإِنْ كَانَتْ حَقِيقَتُهُ وَاحِدَةً فِي الْعَقْلِ ، وَعُلُومُ النَّاسِ وَقَدْرُهُمْ ، وَإِنْ كَانَتْ مُشْتَرَكَةً فِي كَوْنِهَا عِلْمًا وَقُدْرَةً لَا يُوصَفُ بِأَنَّهُ عُمُومٌ ، فَقَوْلُنَا : الرَّجُلُ لَهُ وُجُودٌ فِي الْأَعْيَانِ ، وَفِي الْأَذْهَانِ ، وَفِي اللِّسَانِ ، أَمَّا وُجُودُهُ فِي اللِّسَانِ فَلَفْظُ الرَّجُلِ قَدْ وُضِعَ لِلدَّلَالَةِ ، وَنِسْبَتُهُ فِي الدَّلَالَةِ إلَى زَيْدٍ ، وَعَمْرٍو وَاحِدَةٌ يُسَمَّى عَامًّا بِاعْتِبَارِ نِسْبَةِ الدَّلَالَةِ إلَى الْمَدْلُولَاتِ الْكَثِيرَةِ ، وَأَمَّا مَا فِي الْأَذْهَانِ مِنْ مَعْنَى الرَّجُلِ فَيُسَمَّى كُلِّيًّا مِنْ حَيْثُ إنَّ الْعَقْلَ يَأْخُذُ مِنْ مُشَاهَدَةِ زَيْدٍ حَقِيقَةَ الْإِنْسَانِ ، وَحَقِيقَةَ الرَّجُلِ فَإِذَا رَأَى عَمْرًا لَمْ يَأْخُذْ مِنْهُ صُورَةً أُخْرَى وَكَانَ مَا أَخَذَهُ مِنْ قَبْلِ نِسْبَتِهِ إلَى عَمْرٍو الَّذِي حَدَثَ الْآنَ كَنِسْبَتِهِ إلَى زَيْدٍ الَّذِي عَهِدَهُ أَوَّلًا ؛ فَهَذَا مَعْنَى كُلِّيَّتِهِ ؛ فَإِنْ سُمِّيَ عَامًّا بِهَذَا فَلَا بَأْسَ .

Bahwa 'am dan khaas itu lafdzaan, bukan ma'nan...



dajal007

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.017
  • Reputasi: 32
  • Jenis kelamin: Pria
  • di atas bumiNya lah kita semua berpijak
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #8 pada: April 19, 2008, 07:13:26 am »
kalo tidak memberatkan, sebaiknya kasih terjemahan dari apa yang ditulis, karena mungkin yang lain ingin belajar juga, minimal saya. atau kalo berat untuk menerjemahkan semua, silakan berikan ringkasannya :)

salendra_kms

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.133
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dream Light
    • Lihat Profil
    • Mengembalikan Jati Diri Bangsa||Web Blog Silampari Nan Cinde
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #9 pada: April 19, 2008, 08:04:38 am »
iya sama kang saya juga mintak terjemahaanya  :) biar bisa baca

andromeda

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.051
  • Reputasi: 19
  • Jenis kelamin: Pria
  • The unforgettable moment
    • Lihat Profil
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #10 pada: April 19, 2008, 11:46:53 am »
Iya tadz,
Bacanya aja susah apalagi ngartiin n mahamin :D

Lanjuuut..

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #11 pada: April 20, 2008, 04:01:08 pm »
جاء في كتاب "النهاية في غريب الحديث والأثر" لابن الأثير في مادة "بدع " وفي حديث عمر رضي الله عنه في قيام رمضان :‏ نعمت البدعة هذه :‏ البدعة بدعتان بدعة هُدَى وبدعة ضلال ، فما كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم فهو في حَيز الذم والإنكار، وما كان واقعا تحت عموم ما ندب الله إليه وحض عليه الله أو رسوله فهو في حيز المدح وما لم يكن له مثال موجود كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف فهو من الأفعال المحمودة ، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما ورد الشرع به ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم قد جعل له في ذلك ثوابا فقال "من سن سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها" وقال في ضده "ومن سن سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها" وذلك إذا كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم .‏

ومن هذا النوع قول عمر رضي الله عنه "نعمت البدعة هذه " لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح سماها بدعة ومدحها ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يُسنَّها لهم وإنما صلاها ليالي ثم تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس لها ، ولا كانت في زمن أبى بكر ، وإنما عمر رضي الله عنه جمع الناس عليها وندبهم إليها .‏ فلهذا سماها بدعة وهى على الحقيقة سنة بقوله صلى الله عليه وسلم "عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدى" وقوله "اقتدوا باللذين من بعدى أبى بكر وعمر وعلى هذا التأويل يحمل الحديث الآخر "كل محدثة بدعة" إنما يريد ما خالف أصول الشريعة ولم يوافق السنة .‏ وأكثر ما يستعمل المبتدع عرفا في الذم ، انتهى ما قاله ابن الأثير .

dalam kitab targhib fi gharib al-hadis wa al-atsar karangan ibni atsir mengenai pembahasan lafadz bada'a ( bid'atan ). Dalam hadi umar dalam melaksanakan shalat tarawih ; sebaik baik bid'ah adalah ini. maka ( dilalah ) hadis ini menunjukkan bid'ah ada 2. bid'ah huda dan dhalal. Jika sesuatu yang baru berselisih dg sunah rasul, maka itulah dhalal ( sesat ).adapun jika masih dibawah JUZIATnya sunah rasul, itulah huda ( kebaikan ). salah satu penguat pendapat ini adalah adanya hadis : man sanna sunnatan hasanatan....ila akhirihi.yang disebutkan juga sebaliknya...man sanna sunnatan syyiatan...ila akhirihi.

kenapa 'umar menyebutnmya bid'ah...karena disyari'atkan berjama'ahnya taraweh itu oleh umar sendiri. bukan oleh nabi. walaupn toh 'umar menyebutnya bid'ah, tapi sesungguhnya itu adalah sunah. berdasarkan hadis " 'alaikum bisunnati wa sunnati khulafaurrasyidin". kalau sunnah, maka secara tidak langsung keumuman hadis "kullu bid'atin dhalalah" sudah ditakhsis oleh hadis 'umar. Oleh karena itu, yang namanya bid'ah disini adalah segala sesuatu yang baru yang menyelisihi sunnah nabi. selesai perkataan ibnu atsir.

وتحديد مفهوم البدعة التي هي ضلالة في النار فيه صعوبة.‏ ومن ركام التعريفات التي ملئت بها الكتب أستطيع أن أقول:‏ إن للعلماء في تعريف البدعة منهجين ، أولهما لغوى عام ، والآخر اصطلاحي خاص .‏

batasan mafhum bid'ah yang mengatakan semuanya semua bid'ah sesat adalah sangat sulit sekali. Oleh karena itu, saya ( 'athiyah shaqar ) menyimpulkan, definisi bid'ah yang dipakai oleh kebnayakan ulama bisa terbagi pada dua manhaj. 1) lughawi 'aam dan 2) istilahi khoos.

 -‏فأصحاب المنهج الأول نظروا إلى مادة "البدعة " التي تدل على اختراع على غير مثال سبق فعرفوها بأنها ما أحدث بعد النبي صلى الله عليه وسلم وبعد القرون المشهود لها بالخير .‏

وهذا التعريف يدخل فيه ما كان خيرا وما كان شرا ، وما كان عبادة وما كان غير عبادة ، والذي حملهم على هذا التعريف الشامل ورود لفظ البدعة مرة محمولا عليه الذم ، ومرة محمولا عليه المدح ، وبهذا عرف أن البدعة قد تكون ممدوحة وقد تكون مذمومة ، قال الشافعى رضي الله عنه :‏ المحدثات من الأمور ضربان ، أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا ، فهذه البدعة الضلالة ، والثاني ما أحدث من الخير وهذه محدثة غير مذمومة.‏

وعلى هذه الطريقة في تعريف البدعة وشمولها للممدوح والمذموم جرى عز الدين بن عبد السلام ، فقسم البدعة إلى واجبة كوضع العلوم العربية وتعليمها ، وإلى مندوبة كإقامة المدارس ، ومحرمة كتلحين القرآن بما يغير ألفاظه عن الوضع العربي ، ومكروهة كتزويق المساجد ومباحة كوضع الأطعمة ألوانا على المائدة.‏

manhaj yang pertama ( lughawi 'aam ) melihat pembagian bid'ah atas dasar penunjukannya pada segala hal baru yang tiak dicontohkan sebelumnya, sehingga mereka mendifiniskan segala sesuatu yang diada adakan setelah masa nabi dan setelah masa shabat dan tabi'in ( al-masyhud laha bi al-khair )

Dalam ta'rif ini, maka masuk segala bid'ah yangjelek dan yang baik, juga bid'ah yang masuk kategori ibadah dan bukan ibadah. salah satu yang menggunakan definisi ini adalah imam syafi'i.

begitu juga 'izzuddin bin 'abdissalam..bahkan membagi bid'ah pada wajib, sunah mubah makruh dan haram.

-‏وأصحاب المنهج الثاني عرفوا البدعة بأنها الطريقة المخترعة على أنها من الدين وليست من الدين في شيء ، أو بأنها طريقة في الدين مخترعة تضاهى الطريقة الشرعية ويقصد بالسلوك عليها ما يقصد بالطريقة الشرعية ، ويدخل فيها العبادات وغيرها وقصرها بعضهم على العبادات ، وعلى هذا التعريف تكون البدعة مذمومة على كل حال ولا يدخل في تقسيمها واجب ولا مندوب ولا مباح .‏ وعلى هذا المعنى يحمل الحديث "كل بدعة ضلالة" ويحمل قول مالك رضي اللّه عنه :‏ من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة ، لأن اللّه قال {‏اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا}‏ المائدة :‏ ‏3 ، وأصحاب هذا المنهج يحملون قول عمر في صلاة التراويح على المعنى اللغوي .‏

  إن اسم البدعة ظهر بوضوح في زحمة الخلافات الفكرية ، التي من أجلها ألف أبو الحسن الأشعري المتوفي سنة ‏304 هـ كتابه "اللمع في الرد على أهل الزيغ والبدع " ثم ظهرت مؤلفات في البدع المتعلقة بالفروع وأن الإمام الغزالى في الإحياء "ج ‏1 ص ‏248" قال :‏ كم من محدث حسن كما قيل في إقامة الجماعات في التراويح إنها من محدثات عمر رضي الله عنه وإنها بدعة حسنة ، وإنما البدعة المذمومة ما تصادم السنة القديمة أو ما يكاد يفضى إلى تغييرها ، وأن البدعة المذمومة ما كانت في الدين ، أما أمور الدنيا فالناس أعلم بشئونها ، مع صعوبة الفصل بين أمور الدين وأمور الدنيا ، لأن دين الإسلام نظام شامل ، الأمر الذي جعل بعض العلماء يقصرون البدعة على العبادي دون العادي ، وعممها البعض الآخر .


adapun manhaj kedua ( istilahi 'aam ) mendefinisikan bid'ah dg segala sesuatu hal yangbaru dan memasukkannya dalam agama, tapi aslinya bukan termasuk agama.  dg definisi ini,,,maka yang namanya bid'ah itu jelek dan sesat mau dalam kondisi apapun. dg penafsiran semua bid'ah itu sesat dan tidak ada bid'ah baik, mereka menguatkan dg perkataan imam malik : barang siapa yang menyangkan ada bid'ah baik, maka dia telah mengkhianati risalah nabi muhamad, karena allah berfirman.." al yauma akmaltu lakum...ila akhirihi ". Dan manhaj ini mengatakan bahwa yang dimaksd oleh 'umar dalam hadisnya itu bid'ah dg makna bahasa. (sebenarnya pembelokan makna bid'ah yang dimaksud oleh umar pada makna bid'ah secara bahasa,,,ADALAH PENGAKUAN SECARA TIDAK LANGSUNG PADA ADANYA BIDAH BAIK, DAN PENGAKUAN TIDAK LANGSUNG BAHWA BIDAH TIDAK HANYA DALAM AGAMA )

Penggunaaan bid'ah sudah muncul ketika sedang ada pergolakan pemikiran, yang abu al-hasan al-asy'ari menyusun kitab tentang bid'ah yang berjudul alluma' fi al-raddi 'ala ahli al-ziyyagh wa al- bida'. setelah ini muncul jika kitab2 yangmembahas tentang bid'ah dalam furu'...seperti karangan imam ghazali " ihyau 'ulumi al-din ", yang berkata : sungguh banyak perkara2 baru yang baik. seperti mengadakan tarawih jam'ah sebagaimana yang dilakukan oleh 'umar. Adapun bid'ah yang jelek adalah segala hal baru yang bertentangan dg sunah nabi, atau hampir2 merubah isi sunah nabi itu sendiri. Bid'ah madzmumah adalah bid'ah dalam agama, karena perkara dunia, manusia lebih tahu tentang itu. tapi yang perlu digaris bawahi disini, bahwa sulitnya membedakan mana perbuatan yang masuk kategori agama, dan mana yang masuk kategori dunia. itu karena agama islam adalah agama yang mencakup semuanya.

و نرى أن البدعة تكون في العقيدة وفي العبادة وفي المعاملات والأخلاق ، وأن أفعال الرسول صلى الله عليه وسلم وهو الأسوة الحسنة ، هل تعد كلها سنة تتبع وجوبا وندبا، أو لا تعد كلها من هذا القبيل ؟ وأن ما تركه هل نتأسى به فيه أو لا نتأسى ؟؟ كالأذان الأول لصلاة الجمعة وزيادة درجات المنبر على ثلاث درجات ، والركعتين قبل صلاة الجمعة ، وقراءة سورة في المسجد قبل صلاة الجمعة بصوت مرتفع ،ورفع المؤذن صوته بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بعد الأذان ، ومصافحة المصلين بعضهم بعضا عقب الخروج من الصلاة ، وقول سيدنا محمد في الأذان والتشهد في الصلاة ، وحلق اللحية .

 

ونؤكد على أن تقصر البدعة على ما يتصل بالدين ، وتترك أمور الدنيا لمواكبة العصر في التطور، وعلى أن العبرة بالمسميات لا بالأسماء ، كجواز الاحتفال بيوم المولد وعدم جوازه ، وعلى تغيير المنكر إن أجمع على أنه منكر يكون بالحكمة والموعظة الحسنة ، وما يكون فيه اختلاف لا ينبغى أن يكون التخاصم والتنازع من أجله ، وأن من انخدع برأيه وظن أو اعتقد أنه هو وحده الناجى وأن غيره هالك فهو أول الهالكين كما في حديث رواه مسل

saya ( 'atiyyah shaqar ) melihat, bid'ah itu tidak terbatas pada 'ibadat saja. tapi juga pada 'aqidah 'ibadah mu'amalaat, dan akhlaq. PErbuatan rasul itu uswah khasanah, dan apakah semuanya itu masuk kategori sunnah yang wajib diikuti, atau tidak semuanya dihitung kewajiban ? seperti adzan pertama pada shalat jum'at, menambah minbar 3 tingkatan dan shalat dua rakaat sebelum 2 shalat jum'ah, dan membaca surat di masjid sebelum shalat jum'at dg suara keras serta muadzin mengeraskan suaranya saat shalawat pada nabi setelah adzan, dan bersalaman salamannya orang sehabis shalat, juga perkataan sayyidina muhamad pada lafadz adzan dan tasyahud akhir dalam shalat, juga mencukur jenggot.

kemudian saya cukupkan, penamaan bid'ah dg sesuatu yang berhubungan dg agama. serta tidak memasukkan segala hal yang berkaitan dg dunia karena yangnamanya zaman senantiasa berkembang, sedangkan 'ibrah itu pada yang dinamakan, bukan pada namanya. seperti boleh atau tidaknya peryaan maulid. kemudian yang perlu digaris bawahi, bahwa khilaf pada masalah ini tidak seharusnya menjadikan pertewntangan dan permusuhan. Maka barang siapa yang menyangka dirinya sendiri yangbenar dan selamat, sedangkan orang lain salah, maka dia adalah orang pertama yang akan hancur sebagaimana hadis yang diriwayatkan muslim.

وجاء في كتاب بيان للناس الصادر عن الأزهر :

من الكلمات التي جرت كثيرًا على الألسنة كلمة "بدعة" ومقولة: "كل بدعة ضلالة. وكل ضلالة في النار". وشغل بعض الناس بذلك حتى تفرقوا شِيَعًا وأحزابًا، وانصرفوا عن قضاياهم الهامة ومشكلاتهم الضاغطة، ورمى بعضهم بعضًا، إن لم يكن بالكفر والإلحاد، فبالفسوق والعِصْيان، وترتب على ذلك ما لم يكن ينبغي أن يكون.

ومن الواجب أن نُنَبِّه إلى وجوب تحديد المفاهيم، وبيان المراد من الألفاظ التي يدور حولها النِّقاش، كما بَيَّنَّا ذلك في مواضع كثيرة من الجزء الأول من هذا البيان. وبعيدًا عن التفاصيل التي أُلِّفت فيها كتُب خاصة أُنَبِّه إلى ما يلي:

DAlam kitab bayan linnasi yang diterbitkan oleh azhar :

kalimat yang sangat sering diucapkan adalah bid'ah serta perkataan kullu bid'ah dhalalah dan setiap kesesatan ada di neraka. manusia2 itu sibuk memikirkan masalah ini sampai2 terpecah belah. sehingga mereka mengabaikan permasalahan yang penting, dan sibuk sendiri dg mengatakan yang lain kafir, murtad, fasiq, maksiat, sehingga karena itu terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

kewajiban kita sekarang adalah memperingatkan untuk membatasi pemahaman. dan akan menerangkan lafadz yang kerapkali memunculkan perdebatan.....

ـ يجب أن يُفَرَّق بين معنى البدعة في اللغة ومعناها في الاصطلاح، فربما لا تكون بمعناها اللغوي ضلالة في النار، ومن ذلك قول عمر ـ رضي الله عنه ـ: "نِعمت البِدعة هذه" (رواه البخاري) حين رأى المسلمين يصلون التراويح جماعة خلف أبي بن كعب. يقول الإمام الغزالي في كتابه "الإحياء" (ج 1 ص 248) حين تكلم عن كتابة القرآن ونَقْطه: ولا يمنع من ذلك كونه مُحْدَثًا، فكم من مُحْدَث حسن، كما قيل في إقامة الجماعات في التراويح: إنها من مُحْدَثات عمر ـ رضي الله عنه ـ وإنها بدعة حسنة، إنما البدعة المذمومة ما يُصادم السنة القديمة أو يكاد يُفضي إلى تغييرها.

kita wajib membedakan makna bid'ah secara bahasa dan istilah,,,karena mungkin saja, bid'ah yang dimaksud secara bahasa itu tidaklah sesat. karena itu berkata 'umar : sebaik baik bid'ah adalah ini. ( riwayat bukhari ) sehingga muslimun shalat taraweh secara jama'ah di belakang ubai bin ka'ab. imam ghazali berkata dalam ihya ketika bicara tentang pembukuan al-qur'an : ini adalah sesuatu hal baru. berapa banyak perkara baru yang baik, sebagaimana dikatakan ketika dijama'ahkannya taraweh : pensunahan jama'ah taraweh adalah perbuatan baru yang dilakukan oleh 'umar. dan itu adalah bid'ah hasanah, sedangkan bid'ah jelek adalah bid'ah yang menyelisihi sunah nabi / hampir2 merubah sunah nabi.( ihya )

ـ[size=15 ;Dpt] البدعة المذمومة لا تكون إلا في الدين، وهو ما يدل عليه حديث: "مَن أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رَدٌّ" (رواه البخاري ومسلم) وتحديد الأمور الدينية وفصلها تمامًا عن أمور الدنيا من الصعوبة بمكان؛ لأن دين الإسلام نظام شامل لم يترك شيئًا من أمور هذه الحياة إلا بيَّنه نصًّا أو إشارة، تصريحًا أو تلويحًا، والنصوص الدالة على ذلك كثيرة، لكن ورد أن هناك أمورًا دنيوية لا يَلْزَمُنا فيه الاتباع، كما جاء في تأبير النخل وقول الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ لهم: "أنتم أعلم بأمر دنياكم"[/size]

bid'ah yang jelek adalah segala hal baru dalam agama. sebagaimana dikatakan hadis : man ahdasa fi amrina hadza....( hadis ). Adapun pembatasan mana perkara agama dan pemisahannya dari perkara dunia adalah sesuatu yang sangat sulit. itu karena agama islam adalah agama yang mencakup semuanya.

seperti itu terjemah harfiahnya mas. ada beberapa point yang saya tidak terjemahkan, biar kang aswad baca sendiri.

sebagaimana disebutkan kang aswad bahwa takhsis kata bid'ah dg hadis 'umar itu tidak tepat. karenma hadis kullu bid'ah dhalalah itu bid'ah dalam syari'at, sedangkan maksud 'umar itu bid'ah lughawi. maka saya jawab perkataan ini tidaklah tepat....karena yang namanya takhsis itu lafdzan, bukan ma'nan. Oleh karena itu saya kutipkan mustashfanya imam ghazali di atas.

Adapun perkataan kang aswad yang mengatakan bahwa perbuatan 'umar itu bukan bid'ah, tapi sunah. oleh karena itu tidak dinamakan takhsis...maka sebagaimana jawaban saya diatas, inilah 'ainuttakhsis. inilah yang dinamakan takhsis. hadis bid'ah, ditakhsis dg hadis " 'alaikum bisunnati....( hadis ) "...kemudian, kang aswad juga makan perkataan sendiri :

saya urutkan permasalahn :

kang aswad mengatakn saya tidak boleh mentakhsis makna bid'ah karena beda makna. jawaban dari ini ada beberapa segi :
1) rupanya kang aswad perlu belajar lebih jauh tentang takhsis.( silahkan kang buka-buka ushul fiqh tentang takhsis )
2) kang aswad menelan perkataan sendiri,,,disatu hal kang aswad mengatakan bahwa saya ga boleh mentakhsis karena beda istilah,,,,tapi kang aswad malah mentakhsis.

Lihat ini : 'alaikum bisunnatii wa sunnati khulafaurrasyidiin ( ikutilah sunahku dan sunah khulafaurrasyidiin ).

makna sunah secara istilah adalah : segala sesuatu yang muncul dari nabi entah itu perbuatan, perkataan , keinginann atau ketetapan. ( kalau dari khulaaurrasyidin bukanlah sunnah ). adapun penamaan sunnah, itu adalah sunnah secara bahasa.

kalau sunah dikatakan juga milik khulafaurrasyidin, itu namanya penggunaan sunah secara bahasa.

sedangkamn kang aswad mencampur adukkan mana sunnah dari nabi, dan mana sunnah dari khulafaurrasyidin sebagai makna istilah. ini sungguh tidak pas.

keterangannya cukup ini dulu,,,yang lain segera menyusul. lagi agak sibuk....:D ;D
 



jerry_spy

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 825
  • Reputasi: -2
  • Jenis kelamin: Pria
  • beramal dan beramal
    • Lihat Profil
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #12 pada: April 20, 2008, 07:40:12 pm »
Barokallohu fiik...
Jazakumulloh khoiron katsiiro
Semoga kita senantiasa dalam penjagaan Alloh Ta'ala

Takhshish adalah mengeluarkan sebagian anggota lafadz 'aam (umum) dari hukum umum. Dalam hadits كل بدعة ضلالة terdapat lafadz كل yang merupakan salah satu jenis lafadz 'aam. Maka hukum perbuatan bid'ah adalah umum, artinya berlaku bagi semua jenis perkara baru dalam agama. Berkata Al Hafidz Ibnu Rojab Al Hambali (bermahzab Hambali) dalam menafsirkan hadits ini: "كل بدعة ضلالة  adalah perkataan perkataan singkat yang padat makna. Tidak terkecualikan darinya sesuatu apapun. Dan ini adalah salah satu landasan agama sebagaimana hadits 'Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada dasarnya maka tertolak'. Maka semua perbuatan baru yang disandarkan kepada agama yang tidak tedapat dasarnya dari agama ini maka ia adalah perbuatan menyimpang, Islam berlepas diri darinya".
Dan tidak tepat hadits من سن سنة karena hadits ini tidak membicarakan tentang bid'ah sehingga tidak bukan bagian dari lafadz 'amm hadits كل بدعة ضلالة . Sehingga tidak bisa dikatakan takhshish.

Kenapa ana katakan menjama'? Thread Starter (member yang memulai diskusi ini) mengatakan bahwa hadits من سن سنة adalah takhshish dari hadits bid'ah. Maka pembahasan 'amm (umum) dan takhshish (khusus) adalah salah satu bagian dari bab ta'arudh (pertentangan dalil) dalam ushul fiqh. Ana tegaskan, pada hakikatnya antara dalil2 tidak ada pertentangan. Kesan adanya pertentangan disebabkan karena kurangnya ilmu dari orang yang membacanya. Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: "Tidak mungkin ada pertentangan antara dalil-dalil dalam realitanya. Karena Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah menyampaikan dan menerangkan semuanya. Adapun adanya kesan bertentangannya dalil karena kekurangan pemahaman mujtahid" (Ushul min 'ilmil uhsul). Maka TS di sini melihat antara kedua hadits ini terdapat hal yang bertentangan. Yang pertama semua bid'ah dikatakan sesat. Hadits kedua dikatakan jika kita menunjukkan sesuatu amalan baik dikatakan mendapat banyak pahala. Maka ana katakan, wajib menjama' diantara keduanya. Yaitu semua bid'ah tetap sesat, dan amalan yang jika menunjukkannya mendapat banyak pahala adalah amalan2 yang sudah disyariatkan, bukan amalan yang diada-adakan.

Bid'ah dalam pengetian istilah syar'i hukumnya haram dan tertolak. Sedangkan bid'ah secara bahasa arab, hukumnya dirinci tergantung amalannya. Semisal adanya mobil, motor, pesawat terbang, secara bahasa arab disebut bid'ah. Hukumnya boleh. Adanya pompa air untuk menarik ari dari tanah untuk wudhu, secara bahasa disebut bid'ah juga. Hukumnya boleh, bahkan bisa jadi jadi wajib jika hanya dengan itu air bisa didapat. Sebagaimana kaidah "apa saja yang hanya dengannya bisa terlaksana sesuatu yang wajib maka hukumnya wajib". Jadi berbeda antara pembahasan bid'ah secara istilah syar'i dan istilah bahasa. Adapun yang banyak dibahas seputar maulid nabi, tahlilan, dan semacamnya adalah bid'ah secara istilah syar'i, sedangkan perkataan Umar radhiyallahu'anhu adalah bid'ah secara bahasa. Karena shalat tarawih adalah perkara yang sudah disyariatkan,jadi tidka termasuk dalam pengertian bid'ah secara istilah syar'i.

Adapun penulisan dan pembukuan Al Qur'an bukanlah perbuatan bid'ah karena ia memiliki dasar dari syariat. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah memerintahkan para sahabat untuk menulis Al Qur'an namun saat itu ia ditulis terpisah. Kemudian para sahabat setelah wafatnya Rasulullah menggabungkan menjadi satu untuk menjaga agar Al Qur'an tidak musnah karena banyak penghafal yang wafat. Selain itu pengumpulan dan pembukuan Al Qur'an ini dilakukan oleh para Khulafaurasyidin. Telah ana jelaskan bahwa perbuatan Khulafaurasyidin juga termasuk sunnah yang diperintahkan untuk diikuti. Jadi ini bukan perbuatan bid'ah.

Dan sungguh mengherankan jika ada yang berusaha melegalkan peringatan maulid nabi dengan dasar qiyas terhada pembukuan Al Qur'an. Sungguh ini adalah qiyas ma'al faariq. Karena dua hal ini sangatlah berbeda!!

Wallahu'alam.

kang kalo ga ada titik temu dan ga bakalan ada titik temu akhiri saja.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #13 pada: April 21, 2008, 04:23:06 am »
jerry_spy mengatakan :
Kutip
kang kalo ga ada titik temu dan ga bakalan ada titik temu akhiri saja.

kalau ilmu belum sampai untuk diskusi, lebih baik jadi penonton ajah. kalau ga paham baca postingan saya,,,lebih baik simpan deh rasa mangkelnya.

saya udah ga heran dg tipe2 orang kayak anda ini...diajak diskusi malah ngacir, atau mengompori agama bukan untuk diperdebatkan,,,,,eh tahu2nya memancing perdebatan.

Yang buat ga ada kesepakatan itu orang yang sejenis dg watak anda. ilmu masih pas-pasan hingga ga bisa menangkap penjelasan orang lain, udah mengklaim ga akan ada kesepakatan. ah ah ah....

terserah deh mau menilai saya sombong atau apapun. tapi sekali kali orang sejenis anda ini emang perlu dikasih pelajaran agar sadar dan mau bercermin. cukuplah saya ingat perkataan imam ghazali : lau sakata man lam ya'lam, la qalla al-khilaaf.

albiaqy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 20
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: TIDAK SEMUA BID’AH ADALAH SESAT
« Jawab #14 pada: Mei 26, 2008, 02:32:58 pm »
orang yang berilmu gak mgkn sampe emosi berdebatnya..
bkn itu cara penyelesaian...