Penulis Topik: Celana Membawa Sengsara  (Dibaca 16667 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #15 pada: Juli 10, 2008, 01:10:32 pm »
Akhil Karim...
Barakallahu fiik...
Semoga Allah senantiasa menjagamu
Nasehat ana,
Katakanlah hukum isbal masih diperselisihkan haramnya. Maka apakah kita tidak khawatir (kalau-kalau) di sisi Allah Ta'ala ternyata (hukum yang benar) adalah haram?? Dengan meninjau dalil2 yang zhahirnya menyatakan demikian?
Katakanlah hukum isbal adalah makruh jika tanpa kesombongan. Lalu siapa seorang mu'min yang berani memastikan bersih dari kesombongan?? Saat ia berkata 'saya boleh isbal, soalnya saya tidak sombong', saat itu ia sedang menyombongkan diri.

Wallahu'alam.

Ini hukum mukhtalaf fih kang aswad. kang aswad tidak bisa berandai-andai, dg seandainya haram dll. karena jika semuanya dibuat andai-andai, maka berapa banyak hukum yang akan menyempitkan manusia ? seperti, bagaimana jika nabi ternyata melakukakn qunut setiap shalat subuh ? bagaimana jika trernyata shalat dg kaos kaki tidak shah ( ahmad bin hanbal membolehkan shalat dg kaos kaki ). dll.

tambahan dari saya, ulama syafi'iah ( ulama kalangan syafi'i ) membolehkan. tidak memakruhkan.

Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #16 pada: Juli 10, 2008, 03:40:56 pm »
Ini hukum mukhtalaf fih kang aswad. kang aswad tidak bisa berandai-andai, dg seandainya haram dll. karena jika semuanya dibuat andai-andai, maka berapa banyak hukum yang akan menyempitkan manusia ? seperti, bagaimana jika nabi ternyata melakukakn qunut setiap shalat subuh ? bagaimana jika trernyata shalat dg kaos kaki tidak shah ( ahmad bin hanbal membolehkan shalat dg kaos kaki ). dll.

tambahan dari saya, ulama syafi'iah ( ulama kalangan syafi'i ) membolehkan. tidak memakruhkan.

Akhil karim...

Yang ana maksudkan adalah sikap wara'. Sikap wara' dibenarkan dengan adanya qarinah. Dan dalam masalah isbal ini banyak hadits yang zhahirnya pengharaman, maka ini qarinah yang seharusya membuat seorang mu'min bersikap hati-hati dalam hal ini.

Setahu saya, ulama syafi'iyyah sendiri berbeda pendapat antara haram dan makruh. Walhamdulillah akhi Justice 4 All telah membawakan artikelnya.
Imam Syafi'i berkata: "Haram melakukan sadl dalam sholat dan di luar sholat karena bermaksud sombong. Jika tanpa bermaksud sombong maka itu lebih ringan (makruh)" (Al Mughni 3/177).
Ulama besar mahdzab Syafi'i, Imam Nawawi juga berkata: "Tidak boleh isbal melebihi 2 mata kaki bila karena sombong. Jika tanpa sombong, maka makruh" (Syarah Shahih Muslim, 14/62)
Dan Ulama besar mahdzab Syafi'i yang lain, Ibnu Hajar Al Asqolani mengharamkan isbal secara mutlak dan memberikan bantahan terhadap orang yang membolehkan isbal dengan berdalil hadits Abu Bakar. (Siyar Alamin Nubala, 3/234)

Wallahu'alam.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #17 pada: Juli 10, 2008, 04:23:04 pm »
Akhil karim...

Yang ana maksudkan adalah sikap wara'. Sikap wara' dibenarkan dengan adanya qarinah. Dan dalam masalah isbal ini banyak hadits yang zhahirnya pengharaman, maka ini qarinah yang seharusya membuat seorang mu'min bersikap hati-hati dalam hal ini.

Mas aswad harus membedakan mana wira'i ( wara' ) dan mana fiqh. wira'i bukan fiqh, dan fiqh bukan wira'i. seperti orang yang selalu mencari tahu dari mana harta yang ada di tangannya, ini wira'i agar harta tidak masuk syubhat. tapi jika ditinjau dari segi fiqh, ini dibolehkan mutlaqan tanpa harus mencari tahu dari mana yang ada ditangannya. seperti orang yang sehabis beruwudhu kemudian dia ragu-ragu apakah sudah hadas atau belum, jika wira'i maka dia berwudhu lagi. tapi jika ditinjau dari fiqh dia suci menurut hukum asal. jadi tidak ada pertanyaan, saya harus wudhu lagi karena jika nanti benar2 batal bagaimana ? karena ini wira'i. secara fiqh, wudhu tetap shah mutlaqan ( jika keyakinan mengalahkan keraguan )/ al-yaqin layuzalu bi al-syaq.

Kutip
Setahu saya, ulama syafi'iyyah sendiri berbeda pendapat antara haram dan makruh. Walhamdulillah akhi Justice 4 All telah membawakan artikelnya.
Imam Syafi'i berkata: "Haram melakukan sadl dalam sholat dan di luar sholat karena bermaksud sombong. Jika tanpa bermaksud sombong maka itu lebih ringan (makruh)" (Al Mughni 3/177).
Ulama besar mahdzab Syafi'i, Imam Nawawi juga berkata: "Tidak boleh isbal melebihi 2 mata kaki bila karena sombong. Jika tanpa sombong, maka makruh" (Syarah Shahih Muslim, 14/62)
Dan Ulama besar mahdzab Syafi'i yang lain, Ibnu Hajar Al Asqolani mengharamkan isbal secara mutlak dan memberikan bantahan terhadap orang yang membolehkan isbal dengan berdalil hadits Abu Bakar. (Siyar Alamin Nubala, 3/234)

Imam taj al-din assubki, ibnu hajar al-haitami,  menganggap boleh/jawaz. tidak makruh. mereka juga dari pembesar syafi'iah. 

e91

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.321
  • Reputasi: 8
  • Jenis kelamin: Pria
  • Let's Learn pinguin
    • Lihat Profil
    • blog punya egi
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #18 pada: Juli 10, 2008, 05:09:18 pm »
saya ikut sepakat dengan abu ahmad syafiq dan kang aswad
Alhamdulillah saya tidak isbal dan istiqomah Insya Alloh

Akhina Ifa

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.247
  • Reputasi: 30
  • Jenis kelamin: Pria
  • The Frame of My Deepest Heart...
    • Lihat Profil
    • Uhibbuka Fillah | Aku Mencintaimu Karena Allah
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #19 pada: Juli 10, 2008, 05:58:32 pm »
Saat ia berkata 'saya boleh isbal, soalnya saya tidak sombong', saat itu ia sedang menyombongkan diri.
Wallahu'alam.
Keknya emg bener deh, karena tidak ada yang bisa menjamin niat di dalam diri atas kesombongan lantar org yang menyatakan dirinya tidak sombong pun secara sendirinya dia telah melakukan sesuatu kesombongan...
Wallahu 'Alam :)

Zuhdi

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 91
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #20 pada: Juli 10, 2008, 08:34:20 pm »
Dan Ulama besar mahdzab Syafi'i yang lain, Ibnu Hajar Al Asqolani mengharamkan isbal secara mutlak dan memberikan bantahan terhadap orang yang membolehkan isbal dengan berdalil hadits Abu Bakar. (Siyar Alamin Nubala, 3/234)

Wallahu'alam.

maaf mas,,
saya sedikit memberi komentar atas pernyataan anda yang satu ini, karena apa yang kami pelajari dari Syarah Shohih Bukhori, Al Hafidz, tidak ada mengharamkan isbal secara mutlak, berikut apa yang beliau katakan di Fath Syarahnya Shohih Bukhori dalam mengomentari hadist prihal isbalnya karena kesombongan

وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة, وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا, لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا, فلا يحرم الجر والإسبال إذا سلم من الخيلاء

"Adapun di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa isbal izar karena sombong termasuk dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya'), meski lahiriyah hadits mengharamkannya juga, namun hadits-hadits ini menunjukkan adalah taqyid (syarat ketentuan) karena sombong. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini. Maka tidak diharamkan memanjangkan kain atau isbal asalkan terhindar dari sikap sombong. (Silahkan lihat Fathul Bari, hadits 5345)

Maaf bila kurang berkenan

Wallahu a'lam

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #21 pada: Juli 11, 2008, 02:41:57 am »
Keknya emg bener deh, karena tidak ada yang bisa menjamin niat di dalam diri atas kesombongan lantar org yang menyatakan dirinya tidak sombong pun secara sendirinya dia telah melakukan sesuatu kesombongan...
Wallahu 'Alam :)

orang yang tidak isbal mengatakan dg tidak isbalnya saya berarti saya tidak sombong/paling tidak ciri2 orang yang tidak sombong, maka dia juga sudah berlaku sombong. dia sombong karena telah menganggap orang lain sombong yang tidak seharusnya dianggap sombong

dalam masalik al-'illah ada yang namanya tahqiqul manath. setelah di tahqiqul manath ternyata sombong memang hukum asalnya tidak boleh. kenyataannya apakah seseorang mau tidak isbal, tapi disetai kesombongan , hukumnya tetap ga boleh. jadi bukan pada isbalnya. tapi pada sombongnya

di indonesia khan sudah jadi 'adah( kebiasaan ) orang isbal. isbal disini bukan untuk adu kesombongan. dulu di zaman rasul saw isbal menandakan bahwa pelakunya mempunyai watak sombong. dalam kaidah : La nunkiru taghayyuralhukmi bitaghayyur al-azminah ( kita tidak boleh menginkari perubahan hukum disebabkan perkembangan zaman ). apakah berarti zaman bisa menghapus ketetapan dari nabi ? bukan. bukan ini maksudnya. tapi lafadz pada nash hadis memang menyebabkan ihtimal ma'na, karena memang dilalahnya dzani. bukan qath'y.

justru saya melihat orang yang tidak isbal ketika menganggap yang isbal sombong, dia yang sudah memperlihatkan kesombongannya.  orang yang tidak sombong ( dalam hal mutadayyin ) adalah orang yang selalu merasa dirinya kurang dalam beribadah walapun pada hakikatnya ibadahnya dilakukan siang malam. dia selalu merenungi dirinya, apakah sudah berbuat yang semaksimal mungkin atau belum dalam menjalankan agama ini. tidak menganggap yang lain salah/tidak wira'i dalam persoalan khilafiah seperti ini

bukan hanya kalangan syafi'iah, sebagaimana al-syaukani dalam nailul authar mengutip riwayat ahmad bin hanbal bahwa ahmad bin hanbal menganggap boleh. bukan makruh. dan dari kalangan ulama yang mengharamkan, tidak menganggap ahmad bin hanbal tidak wira'i ketika membolehkan isbal.

seperti dalam kaidah yang sudah masyhur : La nunkiru al-mukhtalaf fih, w lakin nunkir fi al-muttafaq 'alaih. ( tidak ada saling menginkari dalam hal mukhtalaf fih, tapi inkar jika ada orang yang menginkari suatu hal yang sudah muttafaq 'alaih ). ini kaidah penting untuk dipahami dalam masalah khilafiah

ketahuilah, ulama itu bukan orang bodoh. mereka orang pintar. mereka tahu dan sudah benar2 meneliti tentang hadis isbal ini. mereka juga tidak membaca satu dua hadis kemudian menghukumi dg sekehendak hatinya. mereka tidak menafikan bahwa isbal disatu keadaan tidak boleh, tapi disisi lain menjadi boleh karena meneliti 'illat yang ada pada hadis.

hemat saya, mau tidak isbal silahkan. itu baik. tapi jangan menyalahkan yang isbal. masing-masing punya dalil.


justice 4 all

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 5
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #22 pada: Juli 17, 2008, 03:50:14 pm »

@Akh Fahmie

Setahu saya antum masih sangat muda, namun saya melihat kebijaksanaan dan wawasan yang luas dari diri antum. Semoga ilmu yang antum pelajari bisa menjadi barokah.

Di blog salafyitb, diceritakan bahwa Syaikh Uthaimin rh termasuk yang mengharamkan isbal mutlak, namun menantu beliau yang paling senior, Syaikh Khalid bin Abdullah, berpendapat bahwa ketika tidak sombong, maka tidak haram.

Adab berbeda pendapat, sebagaimana generasi salaful ummah beradab dalam persoalan khilafiyah, adalah kesimpulan dari masalah seperti ini.

Tanpa adab ikhtilaf, barangkali ummat Islam akan menghabiskan waktunya hanya untuk berdebat, misalnya kenapa Syaikh Albani tidak mewajibkan cadar (apakah beliau tidak mengedepankan wara'?), atau misalnya kenapa Syaikh Abdul Wahhab "tidak menghujat" mereka yang bertawassul dengan Rasulullah atau orang salih yang telah wafat, dan ratusan persoalan lain, sedangkan sudah jelas bahwa persoalan tersebut adalah khilafiyah mu'tabar.

Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #23 pada: Agustus 03, 2008, 07:04:29 pm »
Alhamdulilah, barakallahu fiikum

Ana bersyukur, diantara kita ada yang mengingatkan tentang adab khilafiyah. Ahsantum. Tidak ada pengingkaran dalam perkara yang diperselisihkan, ana setuju. Namun bukan berarti ini menghentikan diskusi tentang agama. Bukan berarti setiap khilafiyat, harus diterima dan ditoleransi, bisa dipilih yang mana saja, tidak demikian. Wajib bagi setiap muslim untuk berusaha mencari pendapat yang paling dekat dengan dalil.

Yang jelas dalam hal ini, bahwa tidak isbal atau meninggilkan pakaian adalah perkara yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu'alaihi wasallam, tidak ada khilaf, berdasarkan hadits:
Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. ” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12]
maka bukankah daripada harus terjerumus kepada perkara yang masih diperselisihkan dosa atau tidaknya, lebih baik jika memilih perkara yang sudah jelas bolehnya dan jelas disyariatkan?
Kemudian bagi yang memvonis seorang musbil (orang yg isbal) sebagai ahlunnar, jelas ini perbuatan keliru.

Ana pun tidak setuju bila ummat muslim sibuk dengan berdebat, bahkan ana berharap ummat muslim sibuk belajar agama. Dan jika berdebat, maka berebat dengan baik dan dengan ilmu tentunya.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #24 pada: Agustus 14, 2008, 05:11:14 pm »
Alhamdulilah, barakallahu fiikum

Ana bersyukur, diantara kita ada yang mengingatkan tentang adab khilafiyah. Ahsantum. Tidak ada pengingkaran dalam perkara yang diperselisihkan, ana setuju. Namun bukan berarti ini menghentikan diskusi tentang agama. Bukan berarti setiap khilafiyat, harus diterima dan ditoleransi, bisa dipilih yang mana saja, tidak demikian. Wajib bagi setiap muslim untuk berusaha mencari pendapat yang paling dekat dengan dalil.

khilaf diantara ulama juga bukan asal khilaf saja. tapi mereka mempunyai ushul khilaf akan suatu nash. tidak ada vonis dalam masalah fiqh tentang khilaf yang paling dekat terhadap qur'an dan hadis.

sebab-sebab khilaf diantaranya :

1. khilaf antara tetapnya nash dalam suatu permalasahan dan tidak tetapnya nash tersebut.  ada banyak hadis yang tidak didengar oleh suatu kaum, dan didengar oleh kaum yang lain. atau khilaf tentang dha'if suatu hadis dan ketsiqahan suatu rijal dalam hadis yang tentunya berkonskwensi berbedanya hukum.

seperti khabar mmastur yang diterima oleh suatu kaum, dan tapi ditolak oleh sekelompok golongan lain.  diantara yang menerima khabar mastur adalah abu hanifah dan ashabnya

2. khilaf ketika ada seorang perawi yang menginkari suatu hadis.
menurut syafi'i, bisa dijadikan hujjah, menurut abu hanifah, tidak bisa dijadikan hujjah

seperti hadis : ayyuma imraatin nakahat bighairi idzni waliyyiha fa nikahuha batil...hadis ini diriwayatkan oleh 'aisyah. ketika ibnu juraij menanyakan hadis ini pada zuhri, beliau tidak mengetahui. maka oleh abu hanifah hadis tersebut mardud ( tertolak ). tapi tidak menurut syafi'i

3. khilaf dalam memahami suatu nash hadis/qur'an

masing-masing mempunyai kaidah untuk memahami nash. adakalanya lafadz dalam nash musytarak, seperti 'ain, yang bisa bermakna mata/mata-mata/mata air. seperti ayat : walmutallaqatu yatarabbashna bi anfusihinna tsalatsata quru'. menurut abu 'amru, quru' diartikan haidh, juga menurut sebagian besar ahli kufah, diantaranya ibnu mas'ud, abu musa mujahid......lain lagi menurut ahli hijaz yang menganggapnya masa suci. ini adalah qaul 'aisyah, aban bin 'ustman dan syafi'i

masalah hadis diatas ( isbal ) adalah jama' hadis yang pada dzahirnya ta'arudh. sehingga tidak ada inkar terhadap yang lain untuk masalah ini.


Kutip
Yang jelas dalam hal ini, bahwa tidak isbal atau meninggilkan pakaian adalah perkara yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu'alaihi wasallam, tidak ada khilaf, berdasarkan hadits:
“Keadaan sarung seorang muslim hingga setengah betis, tidaklah berdosa bila memanjangkannya antara setengah betis hingga di atas mata kaki. ” [Hadits Riwayat. Abu Dawud 4093, Ibnu Majah 3573, Ahmad 3/5, Malik 12]
maka bukankah daripada harus terjerumus kepada perkara yang masih diperselisihkan dosa atau tidaknya, lebih baik jika memilih perkara yang sudah jelas bolehnya dan jelas disyariatkan?
Kemudian bagi yang memvonis seorang musbil (orang yg isbal) sebagai ahlunnar, jelas ini perbuatan keliru.

betul diperintahkan, tapi hanya pada saat itu. satu bukti bahwa 'illat diharamkan isbal adalah karena kesombongan adalah abu bakar juga musbil. nabi tidak melarangnya karena nabi yakin abu bakar adalah orang yang tidak mungkin mempunyai hati sombong

satu bukti lagi, imam ahmad, pengarang kitab musnad..yang perjalannya menuntut ilmu difokuskan pada hadis, ternyata beliau juga membolehkan. tidak makruh.

cukuplah saya tuliskan perkataan para fuqaha tentang ada khilafiah :

sufyan atsauri berkata : jika engkau melihat seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan dan yang berbeda dgmu sedangkan engkau melihat selainnya, maka jangan larang dia.

al-khatib al-baghdadi berkata : sesuatu yang menjadi  perselisihan para ahli fiqh, jika aku tidak akan melarang seseorang yang berbeda dgku untuk melakukan seperti yang aku lakukan.

walillahi al-taufiq


 

Mat.Peci

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 90
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Celana Membawa Sengsara
« Jawab #25 pada: Desember 18, 2009, 02:44:25 am »
Wah wah wah.. Emang kalo motong2 hadits, gunting tambel ntu bisa ngejebak umat. Coba kite liat matan haditsnya. (kalo blm ngarti apa ntu matan, klik aje topiknye @calon akhwat) ~~ Rasul saw bersabda : "Barangsiapa yg menyeret nyeret pakaiannya (menjela pakaiannya/jubahnya krn sombong maka Allah tidak akan melihatnya dihari kiamat (murka)" lalu berkata Abubakar shiddiq ra : Wahai Rasulullah..., pakaianku menjela.., maka berkata Rasul saw : "Sungguh kau memperbuat itu bukan karena sombong" (Shahih Bukhari Bab Manaqib).
berkata AL Hafidh Imam Ibn Hajar mengenai syarah hadits ini : "kesaksian Nabi saw menafikan makruh perbuatan itu pada ABubakar ra" (Fathul Baari bisyarh shahih Bukhari Bab Manaqib).
jelaslah sudah bahwa perbuatan itu tidak makruh apalagi haram, kecuali jika diperbuat karena sombong,
dimasa itu bisa dibedakan antara orang kaya dg orang miskin adalah dilihat dari bajunya, baju para buruh dan fuqara adah pendek hingga bawah lutut diatas matakaki, karena mereka pekerja, tak mau pakaiannya terkena debu saat bekerja,
dan para orang kaya dan bangsawan memanjangkan jubahnya menjela ketanah, karena mereka selalu berjalan diatas permadani dan kereta, jarang menginjak tanah,
maka jadilah semacam hal yg bergengsi, memakai pakaian panjang demi memamerkan kekayaannya, dan itu tak terjadi lagi masa kini, orang kaya dan miskin sama saja, tak bisa dibedakan dengan pakaian yg menjela.
jelas dibuktikan dengan riwayat shahih Bukhari diatas, bahwa terang2an abubakar shiddiq ra berpakaian spt itu tanpa sengaja, namun Rasul saw menjawab : "Kau berbuat itu bukan karena sombong"
berarti yg dilarang adalah jika karena sombong. ~~ kire2 begitu. Afwan :shy

Mat.Peci

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 90
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Celana Membawa Sengsara
« Jawab #26 pada: Desember 18, 2009, 02:53:22 am »
Waduh ! Sori aye ngeplud. Gprs nye lemot, hehe :shy ..Lanjuuut

angela

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 447
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
D
« Jawab #27 pada: Februari 13, 2010, 08:15:26 am »
Weleh weleh, ntar klu smua celana pada ke atas di bilang porno atau norak jg dosa kan? Se7 ma mat peci. Haram gak nya biar ALLAH saja yg tau niat kita. Yang mau isbal monggo. Gak mau yo kerso,

open your heart

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.224
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • .: Dunia Ini Panggung Sandiwara :.
    • Lihat Profil
Re:Celana Membawa Sengsara
« Jawab #28 pada: Februari 13, 2010, 10:38:05 am »
tergantung pada niat intinya

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: D
« Jawab #29 pada: Februari 18, 2010, 10:29:06 pm »
Weleh weleh, ntar klu smua celana pada ke atas di bilang porno atau norak jg dosa kan? Se7 ma mat peci. Haram gak nya biar ALLAH saja yg tau niat kita. Yang mau isbal monggo. Gak mau yo kerso,

Hmmm, begitu yah, jika demikian. bagaimana dengan dalil dalin yang telah lau. bukankah apa yang berasl dari rasul juga berasal dari Allah"wamaa yanthiqul hawa illa wahyu yuha"...

trus norak menurut ukuran siapa, beranikah kita mengatakan syariat islam itu norak? tentu kitapun nggak terima khhan jilbab lebar juga norak kayak taplak...

apakah lantaran ada orang yang mnegatakan lcelana ngatung nora trus sariat Islam yakni larangan isbal jadi gugur?

sebuah cerita yang dikemukakan oleh Imam Bukhari dalam manaqibu Umar bin khatab rdiyallahu 'anhu, suatu hari ketika menjelang wafatnya Umar bin Khatab karena terluka seorang pemuda menjenguknya dan kemudian mendoakan beliau. Beberapa saat kemudian seorang pemuda beranjak pulang, akan tetapi tiba-tiba Umar bin khattab memanggil seorang pemuda tersebut dan berkata,"wahai pemuda, angatlah kainmu, karena yang demikian lebih menunjukkan kesucian dan ketakwaan bagi kamu".(labih lengkapnya silahkan merujuk ke shahih Bukhari yah...)