Penulis Topik: Celana Membawa Sengsara  (Dibaca 16313 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Celana Membawa Sengsara
« pada: Januari 05, 2008, 04:51:44 pm »
Celana Membawa Sengsara       
Jumat, 28 Desember 2007 

Saudaraku… semoga Alloh merahmatimu. Tidak ada yang diinginkan oleh Alloh dan Rosul-Nya kecuali kemaslahatan dan kebaikan umat ini. Semua perintah dalam agama pasti di dalamnya mengandung kebaikan untuk diri kita. Begitu pula segala macam larangan, tidak diragukan lagi di dalamnya banyak mengandung kemudhorotan bagi umat ini, baik disadari hikmahnya ataupun tidak. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang sempurna. Karena segala sesuatu yang dapat menghantarkan makhluk kepada kebahagiaan dan segala hal yang dapat menjerumuskan makhluk ke dalam jurang kesengsaraan sudah dijelaskan dalam syari'at kita yang mulia ini dengan sejelas-jelasnya.

Ketahuilah wahai saudaraku… sesungguhnya ada celana yang dapat menjatuhkanmu ke lembah kesengsaraan (baca: neraka). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apa saja yang di bawah mata kaki maka di neraka." (HR. Bukhori). Maksudnya bagian kaki yang terkena sarung/celana yang berada di bawah mata kaki, akan diazab di neraka, bukan sarung/celananya. Jadi, perbuatan menurunkan pakaian hingga menutupi mata kaki (baca: isbal) baik dilakukan dengan kesombongan ataupun tidak, maka pelakunya (musbil) akan diazab di neraka. Hanya saja bedanya jika dilakukan dengan kesombongan maka ini lebih parah dan lebih dahsyat lagi siksanya. Sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ada tiga golongan yang Alloh tidak berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak memperhatikan mereka dan tidak mensucikan mereka (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal (musbil), pengungkit pemberian (mannan) dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR. Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, An Nasa’i)

Pakaian Rosululloh Sampai Setengah Betis

Alloh berfirman, " Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat." (Al Ahzab: 21). Saudaraku... apa yang menghalangimu untuk mengikuti dan mencontoh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah pakaian beliau! Beliau orang yang paling bertaqwa, paling takut kepada Alloh, paling tidak mungkin untuk sombong, paling rajin beribadah, paling mulia di sisi Alloh, tetapi pakaian yang beliau kenakan tidak menutup mata kaki beliau. Bahkan celana beliau hanya sampai setengah betis. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sarung seorang muslim hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis hingga mata kaki. Maka apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka. Barangsiapa yang menyeret sarungnya (sampai menyapu tanah-pen) karena sombong maka Alloh tidak akan melihatnya." (HR. Abu Dawud, Malik, dan Ibnu Majah) Bukankah Rosululloh adalah qudwah/teladan kita di segala aspek kehidupan?! Lalu mau dikemanakan hadits beliau, "Barangsiapa yang meniru-niru gaya suatu golongan, maka ia termasuk bagian dari golongan tersebut." ?! Apakah kita tidak ingin bergabung dengan golongan beliau?

Masalah Isbal Bukan Perkara 'kulit'

Lihatlah 'Umar bin Khoththob ketika dalam kondisi yang sangat kritis (setelah ditikam perutnya hingga robek ususnya), masih menyempatkan diri untuk melarang kemungkaran yang satu ini (baca: isbal). Ini menunjukkan bahwa isbal bukan masalah sepele. Kalau benar isbal adalah masalah sepele, lalu apakah kita akan mengatakan masuk neraka adalah masalah sepele?

Wahai saudaraku… semoga Alloh memberikan petunjuk kepada kita. Marilah kita mengenakan pakaian dengan menggunakan tuntunan agama. Jangan sampai pakaian yang kita pakai, celana yang kita kenakan justru menjadi bumerang bagi kita yang ujung-ujungnya menghantarkan kita sampai ke dalam neraka. Wal 'iyaadzu billah. Wallohu a'lam.

***
http://muslim.or.id/artikel/manhaj/celana-membawa-sengsara.html
 

si awam

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 114
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #1 pada: Januari 29, 2008, 11:15:46 am »
sekedar informasi tambahan saja mengenai hukum isbal, seperti dikutip dari eramuslim:

Assalamualaikum

Ustadz, saya ada pertanyaan: sebenarnya bagaimana hukumnya isbal/ memanjangkan kain sampai melebihi mata kaki untuk laki-laki? Ada yang mengatakan masih terdapat perbedaan pendapat dan mengatakan bolehnya isbal karena dalam menghukumi suatu perbuatan juga harus melihat kondisi sosioantropologi zaman nabi dulu. Mohon penjelasan selengkapnya.

Terima kasih atas perhatian dan bantuannya

Ipung

Ipung Notoatmojo
ipunxx
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perbedaan pendapat tentang isbal memang sudah lama ada, bukan sebuah hal yang qath'i, meski ada sebagian kalangan yang agaknya tetap memaksakan pendapatnya. Hal itu wajar dan kita harus berlapang dada.

Walaupun sesungguhnya perbedaan pendapat itu tidak bisa dipungkiri. Sebagian mengatakan bahwa memanjangkan kain atau celana di bawah mata kaki hukumnya mutlak haram, apapun motivasinya. Namun sebagian lainnya mengatakan tidak mutlak haram, karena sangat tergantung motivasi dan niatnya.

1. Pendapat Yang Mengatakan Mutlak Haram

Tidak sulit untuk mencari literatur pendapat yang mengharamkan isbal secara mutlak. Fatwa-fatwa dari kalangan ulama Saudi umumnya cenderung memutlakkan keharaman isbal.

Kalau boleh disebut sebagai sebuah contoh, ambillah misalnya fatwa Syeikh Bin Baz rahimahullah. Jelas dan tegas sekali beliau mengatakan bahwa isbal itu haram, apapun alasannya. Dengan niat riya' atau pun tanpa niat riya'. Pendeknya, apapun bagian pakaian yang lewat dari mata kaki adalah dosa besar dan menyeret pelakunya masuk neraka.

Beliau amat serius dalam masalah ini, sampai-sampai fatwa beliau yang paling terkenal adalah masalah keharaman mutlak perilaku isbal ini. Setidaknya, fatwa inilah yang selalu dan senantiasa dicopy-paste oleh para murid dan pendukung beliau, sehingga memenuhi ruang-ruang cyber di mana-mana. Berikut ini adalah salah satu petikan fatwa beliau:

Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di Neraka " [Hadits Riwayat Bukhari dalam sahihnya]

"Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah di hari Kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." (HR Muslim)

Kedua hadits ini dan yang semakna dengannya mencakup orang yang menurunkan pakaiannya (isbal) karena sombong atau dengan sebab lain. Karena Rasulullah SAW mengucapkan dengan bentuk umum tanpa mengkhususkan. Kalau melakukan Isbal karena sombong, maka dosanya lebih besar dan ancamannya lebih keras.

Tidak boleh menganggap bahwa larangan melakukan Isbal itu hanya karena sombong saja, karena Rasullullah SAW tidak memberikan pengecualian hal itu dalam kedua hadist yang telah kita sebutkan tadi, sebagaiman juga beliau tidak memberikan pengecualian dalam hadist yang lain.

Beliau SAW menjadikan semua perbuatan isbal termasuk kesombongan karena secara umum perbuatan itu tidak dilakukan kecuali memang demikian. Siapa yang melakukannya tanpa diiringi rasa sombong maka perbuatannya bisa menjadi perantara menuju ke sana. Dan perantara dihukumi sama dengan tujuan, dan semua perbuatan itu adalah perbuatan berlebihan-lebihan dan mengancam terkena najis dan kotoran.

Adapun Ucapan Nabi SAW kepada Abu Bakar As Shiddiq ra. ketika berkata: Wahai Rasulullah, sarungku sering melorot (lepas ke bawah) kecuali aku benar-benar menjaganya. Maka beliau bersabda:

"Engkau tidak termasuk golongan orang yang melakukan itu karena sombong." [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Yang dimaksudkan oleh oleh Rasulullahbahwa orang yang benar-benar menjaga pakaiannya bila melorot kemudian menaikkannya kembali tidak termasuk golongan orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Karena dia (yang benar-benar menjaga ) tidak melakukan Isbal. Tapi pakaian itu melorot (turun tanpa sengaja) kemudian dinaikkannya kembali dan menjaganya benar-benar. Tidak diragukan lagi ini adalah perbuatan yang dimaafkan.

Adapun orang yang menurunkannya dengan sengaja, apakah dalam bentuk celana atau sarung atau gamis, maka ini termasuk dalam golongan orang yang mendapat ancaman, bukan yang mendapatkan kemaafan ketika pakaiannya turun. Karena hadits-hadits shahih yang melarang melakukan Isbal besifat umum dari segi teks, makna dan maksud.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati terhadap Isbal. Dan hendaknya dia takut kepada Allah ketika melakukannya. Dan janganlah dia menurunkan pakaiannya di bawah mata kaki dengan mengamalkan hadits-hadits yang shahih ini. Dan hendaknya juga itu dilakukan karena takut kepada kemurkaan Alllah dan hukuman-Nya. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi taufiq.

[Fatwa Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Bazz dinukil dari Majalah Ad Da'wah hal 218]

2. Pendapat Yang Mengharamkan Bila Dengan Niat Riya'

Sedangkan pendapat para ulama yang tidak mengharamkan isbal asalkan bukan karena riya, di antaranya adalah pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, seorang yang dengan sukses menulis syarah (penjelasan) kitab Shahih Bukhari. Kitab beliau ini boleh dibilang kitab syarah yang paling masyhur dari Shahih Bukhari. Beliau adalah ulama besar dan umat Islam berhutang budi tak terbayarkan kepada ilmu dan integritasnya.

Khusus dalam masalah hukum isbal ini, beliau punya pendapat yang tidak sama dengan Syeikh Bin Baz yang hidup di abad 20 ini. Beliau memandang bahwa haramnya isbal tidak bersifat mutlak. Isbal hanya haram bila memang dimotivasi oleh sikap riya'. Isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi sikap itu.

Ketika beliau menerangkan hukum atas sebuah hadits tentang haramnya isbal, beliau secara tegas memilah maslah isbal ini menjadi dua. Pertama, isbal yang haram, yaitu yang diiringi sikap riya'. Kedua, isbal yang halal, yaitu isbal yang tidak diiringi sikap riya'. Berikut petikan fatwa Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة, وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا, لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا, فلا يحرم الجر والإسبال إذا سلم من الخيلاء

Di dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa isbal izar karena sombong termasuk dosa besar. Sedangkan isbal bukan karena sombong (riya'), meski lahiriyah hadits mengharamkannya juga, namunhadits-hadits ini menunjukkan adalah taqyid (syarat ketentuan) karena sombong. Sehingga penetapan dosa yang terkait dengan isbal tergantung kepada masalah ini. Maka tidak diharamkan memanjangkan kain atau isbalasalkan selamatdari sikap sombong. (Lihat Fathul Bari, hadits 5345)

Al-Imam An-Nawawi

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah ulama besar di masa lalu yang menulis banyak kitab, di antaranya Syarah Shahih Muslim. Kitab ini adalah kitab yang menjelaskan kitab Shahih Muslim. Beliau juga adalah penulis kitab hadits lainnya, yaitu Riyadhus-Shalihin yang sangat terkenal ke mana-mana. Termasuk juga menulis kitab hadits sangat populer, Al-Arba'in An-Nawawiyah. Juga menulis kitab I'anatut-Thalibin dan lainnya.

Di dalam Syarah Shahih Muslim, beliau menuliskan pendapat:

وأما الأحاديث المطلقة بأن ما تحت الكعبين في النار فالمراد بها ما كان للخيلاء, لأنه مطلق, فوجب حمله على المقيد. والله أعلم

Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a'lam.

والخيلاء الكبر. وهذا التقييد بالجر خيلاء يخصص عموم المسبل إزاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيلاء. وقد رخص النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك لأبي بكر الصديق رضي الله عنه, وقال, " لست منهم " إذ كان جره لغير الخيلاء

Dan Khuyala' adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, "Kamu bukan bagian dari mereka." Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

Maka klaim bahwa isbal itu haram secara mutlak dan sudah disepakati oleh semua ulama adalah klaim yang kurang tepat. Sebab siapa yang tidak kenal dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumallah. Keduanya adalah begawan ulama sepanjang zaman. Dan keduanya mengatakan bahwa isbal itu hanya diharamkan bila diiringi rasa sombong.

Maka haramnya isbal secara mutlak adalah masalah khilafiyah, bukan masalah yang qath'i atau kesepakatan semua ulama. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan itulah realitasnya.

Pendapat mana pun dari ulama itu, tetap wajib kita hormati. Sebab menghormati pendapat ulama, meski tidak sesuai dengan selera kita, adalah bagian dari akhlaq dan adab seorang muslim yang mengaku bahwa Muhammad SAW adalah nabinya. Dan Muhammad itu tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq.

Pendapat mana pun dari ulama itu, boleh kita ikuti dan boleh pula kita tinggalkan. Sebab semua itu adalah ijtihad. Tidak ada satu pun orang yang dijamin mutlak kebenaran pendapatnya, kecuali alma'shum Rasulullah SAW. Selama seseorang bukan nabi, maka pendapatnya bisa diterima dan bisa tidak.

Bila satu ijtihad berbeda dengan ijtihad yang lain, bukan berarti kita harus panas dan naik darah. Sebaliknya, kita harus mawas diri, luas wawasan dan semakin merasa diri bodoh. Kita tidak perlu menjadi sok pintar dan merasa diri paling benar dan semua orang harus salah. Sikap demikian bukan ciri thalabatul ilmi yang sukses, sebaliknya sikap para juhala' (orang bodoh) yang ilmunya terbatas.

Semoga Allah SWT selalu menambah dan meluaskan ilmu kita serta menjadikan kita orang yang bertafaqquh fid-din, Amin Ya Rabbal 'alamin.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #2 pada: Januari 29, 2008, 08:37:35 pm »
HUKUM ISBAL [MENURUNKAN PAKAIAN DIBAWAH MATA KAKI]-7/7-

Oleh
Syaikh Abdullah Bin Jarullah Al-Jarullah

HUKUM MEMANJANGKAN CELANA TANPA SOMBONG DIANGGAP SUATU YANG HARAM ATAU TIDAK ?
Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah menurunkan pakaian melewati kedua matakaki (Isbal) bila dilakukan tanpa sombong dianggap suatu yang haram atau tidak ?

Jawaban.
Menurunkan pakaian di bawah kedua mata kaki bagi pria adalah perkara yang haram. Apakah itu karena sombong atau tidak. Akan tetapi jika dia melakukannya karena sombong maka dosanya lebih besar dan keras, berdasarkan hadist yang tsabit dari Abu Dzar dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah bersabda.

"Artinya : Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di hari kiamat, tidak dibersihkan dari dosa serta mereka akan mendapatkan azab yang pedih."

Abu Dzarr berkata : "Alangkah rugi dan bangkrutnya mereka, wahai Rasulullah ! Beliau berkata:

"Artinya : (Mereka adalah) pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu" [ Hadits Riwayat Muslim dan Ashabus Sunan]

Hadis ini adalah hadist yang mutlak akan tetapi dirinci dengan hadist Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam, beliau bersada :

"Artinya : Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Taala pada hari kiamat." [Hadits Riwayat Bukhari]

Kemutlakan pada hadist Abu Dzar dirinci oleh hadist Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma. Jika dia melakukan karena sombong Allah tidak akan melihatnya, membersihkannya dan dia akan mendapatkan azab sangat pedih. Hukuman ini lebih berat dari pada hukuman bagi orang yang tidak menurunkan pakaian tanpa sombong. Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang kelompok ini dengan:

"Artinya : Apa yang berada dibawah kedua mata kaki berupa sarung maka tempatnya di neraka" [Hadits Riwayat Bukhari dan Ahmad]

Ketika kedua hukuman ini berbeda, tidak bisa membawa makna yang mutlak kepada pengecualian, karena kaidah yang membolehkan untuk megecualikan yang mutlak adalah dengan syarat bila kedua nash sama dari segi hukum.

Adapun bila hukum berbeda, maka tidak bisa salah satunya dikecualaikan dengan yang lain. Oleh karena ini ayat tayammum yang berbunyi :

"Artinya Maka sapulah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian dengan tanah itu." [Al Maidah :6]

Tidak bisa kita kecualikan dengan ayat wudlu yang berbunyi :

"Artinya : Maka basuhlah wajah wajah kalian dan tangan tangan kalian sampai siku". [Al Maidah : 6]

Maka kita tidak boleh melakukan tayammum sampai kesiku. Itu diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya dari dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sarung seseorang mukmin sampai setengah betisnya. Dan apa yang berada dibawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Dan siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya."

Disini Nabi menyebutkan dua contoh dalam hukum kedua hal itu , karena memang hukum keduanya berbeda. Keduanya berbeda dalam perbuatan, maka juga berbeda dalam hukum. Dengan ini jelas kekeliruan dan yang mengecualikan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ;

"Artinya : Apa yang dibawah mata kaki tempatnya di neraka."

Dengan sabda beliau :

"Artinya : Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Memang ada sebagian orang yang bila ditegur perbuatan Isbal yang dilakukannya, dia berkata: Saya tidak melakuakan hal ini karena sombong. Maka kita katakan kepada orang ini : Isbal ada dua jenis, yaitu jenis hukumnnya ; adalah bila seseorang melakukannya karena sombong maka dia tidak akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendapatkan siksa yang sangat pedih, berbeda dengan orang yang melakukan Isbal tidak karena sombong. orang ini akan mendapatkan adzab, tetapi ia masih di ajak bicara, dilihat dan dibersihkan dosanya. Demikian kita katakan kepadanya.

[Diambil dari As'ilah Muhimmah Syaikh Muhammad Ibn Soleh Utsaimin]

[Disalin dari kitab Tadzkiirusy Syabaab Bimaa Jaa'a Fii Isbaalis Siyab, edisi Indonesia Hukum Isbal Menurunkan Pakaian Dibawah Mata Kaki, alih bahasa Muhammad Ali bin Ismail, Terbitan Maktabah Adz-Dzahabi]

http://www.almanhaj.or.id/content/637/slash/0

tambahan, di akhir menjelang kematiannya Umar bin Khattab radiyallahu 'anhu berkata kepada seorang pemuda yang menjuluskan kainnya ke tanah. Beliau berkata:

 Artinya "Angkatlah pakaianmu, karena hal itu adalah sikap yang lebih taqwa kepada Rabbmu dan lebih suci bagi pakaianmu". [Riwayat Bukhari lihat juga dalam al Muntaqa min Akhbaril Musthafa 2/451 ].

Setiap perbedaan ada pemecahannya. Di antara salah satu jalan pemcahannya adalah dengan mentarjih mana yang lebih shahih.
« Edit Terakhir: Januari 29, 2008, 08:44:51 pm oleh abu_ahmad syafiq »

si awam

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 114
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #3 pada: Januari 30, 2008, 10:03:52 am »
Kutip
Abu Umair As-Sundawy berkata,

Syukran wa jazaakumullah khoiron atas tambahannya.Tidak terulang kok, karena dulu dalam diskusi ini saya hanya membawakan aqwal ulama atas persoalan ini yang memandang dari sisi muthlaq-muqoyyad. Diantaranya Ibnu Hajar dalam Fathul Baari,Imam As-Syaukani,Imam Nawawy dll sebagai bahan diskusi.

Berikut sebagai tambahan dari tulisan Al-Akh Abu Ishaq di diawal-awal diskusi kami dulu di milis mengenai subject ini:

Masalah isbal ada dua, karena khuyalaa’ dan tanpa khuyalaa’. Keduanya
punya dalil tekstual yang jelas. Pendapat dengan atau tanpa khuyalaa’
mungkin itu yang dipegang oleh kebanyakan peserta milist ini -kalau tidak
saya katakan semua peserta-.

Namun demikian, pendapat boleh kalau tanpa khuyalaa’ adalah pendapat jumhur dari madzhab Maliki, Syafi’I dan Hambali. Demikian juga Ibnu Taimiyyah (Syarh Umdah hal. 360an) serta para ulama lain.

Dari kalangan muta-akhkhirin juga banyak. Syaikh Khalid bin Abdullah
Al-Mushlih yang termasuk jejeran tetua dari para murid Imam Ibnu Utsaimin
sekaligus menantu beliau dan salah seorang dari 4 orang murid beliau yang
berhak menggantikan beliau di majelisnya pun berpendapat demikian. Kita
tahu, bahwa Imam Ibnu Utsaimin berikut murid-muridnya dikenal cukup kuat
dalam masalah ushul fiqh, namun demikian silakan lihat bagaimana guru dan murid memiliki pendapat yang berbeda dalam masalah isbal ini. Keduanya menggunakan dalil-dalil yang sama serta kaedah ushul fiqih yang sama yaitu muthlaq dan muqayyad. Tetapi tentunya keduanya berujung pada kesimpulan yang berbeda.

Imam Ibnu Utsaimin berhenti pada keseimpulan bahwa baik dengan khuyalaa atau tanpa khuyalaa hukumnya adalah haram. Hanya saja berbeda dalam adzabnya.
Jika dengan khuyalaa maka diadzab dengan ini dan jika tanpa khuyalaa maka diadzab dengan itu. Adapun sang murid sekaligus menantu tersebut berhenti pada kesimpulan, yang haram adalah jika dengan khuyalaa…adapun jika tanpa khuyalaa maka tidak mengapa.


Nah, berminat untuk membahas detilnya? Lughah pasti terlibat. Mushtholah
hadits juga demikian. Ushul fiqih? Itu pasti karena dari sinilah mereka
berujung pada kesimpulan yang berbeda.

sumber


atau silahkan baca disini:

http://www.islamqa.com/index.php?ref=102260&ln=eng&txt=garment%20ankle

dinisi, kita bisa melihat, bahwa masalah isbal ini adalah perkara khilafiyah, dimana ulama sendiri masih berbeda pendapat ttg status keharamannya. maka nasihat dari Ust Ahmad Sarwat berikut ini sungguh patut utk kita renungkan:

Kutip
Pendapat mana pun dari ulama itu, boleh kita ikuti dan boleh pula kita tinggalkan. Sebab semua itu adalah ijtihad. Tidak ada satu pun orang yang dijamin mutlak kebenaran pendapatnya, kecuali alma'shum Rasulullah SAW. Selama seseorang bukan nabi, maka pendapatnya bisa diterima dan bisa tidak.

Bila satu ijtihad berbeda dengan ijtihad yang lain, bukan berarti kita harus panas dan naik darah. Sebaliknya, kita harus mawas diri, luas wawasan dan semakin merasa diri bodoh. Kita tidak perlu menjadi sok pintar dan merasa diri paling benar dan semua orang harus salah. Sikap demikian bukan ciri thalabatul ilmi yang sukses, sebaliknya sikap para juhala' (orang bodoh) yang ilmunya terbatas.

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #4 pada: Januari 31, 2008, 01:17:17 pm »
ana tanya ulama mana yang berselisih tentang keharamannya...

si awam

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 114
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #5 pada: Januari 31, 2008, 01:43:28 pm »
@atas

anda baca dulu dong semuanya dari atas. kalau anda sudah baca, seharusnya pertanyaan anda itu tidak ada lagi.

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #6 pada: Januari 31, 2008, 04:02:09 pm »
ana tanya, kebetulan punya syarah shahih muslimnya akh. Dalam kitab apa Imam nawawy perpendapat demikian?

si awam

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 114
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #7 pada: Januari 31, 2008, 04:54:27 pm »
@abu_ahmad syafiq

anda benar2 blm membaca tulisan yg saya postingkan yah? sampai2 anda masih bertanya pendapat Imam Nawawi tsb dimuat dimana. Bgmn mau berdiskusi dgn baik kalau anda enggan membaca postingan orang yg anda ajak diskusi? yah ini sekedar mengingatkan anda saja.

tapi gpp lah, saya ulangi kutipan saya di atas, mudah2an kali ini anda bersedia membacanya, karena saya hanya mengutip bagian yg anda tanyakan:

Kutip
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah ulama besar di masa lalu yang menulis banyak kitab, di antaranya Syarah Shahih Muslim. Kitab ini adalah kitab yang menjelaskan kitab Shahih Muslim. Beliau juga adalah penulis kitab hadits lainnya, yaitu Riyadhus-Shalihin yang sangat terkenal ke mana-mana. Termasuk juga menulis kitab hadits sangat populer, Al-Arba'in An-Nawawiyah. Juga menulis kitab I'anatut-Thalibin dan lainnya.

Di dalam Syarah Shahih Muslim, beliau menuliskan pendapat:

وأما الأحاديث المطلقة بأن ما تحت الكعبين في النار فالمراد بها ما كان للخيلاء, لأنه مطلق, فوجب حمله على المقيد. والله أعلم

Adapun hadits-hadits yang mutlak bahwa semua pakaian yang melewati mata kaki di neraka, maksudnya adalah bila dilakukan oleh orang yang sombong. Karena dia mutlak, maka wajib dibawa kepada muqayyad, wallahu a'lam.

والخيلاء الكبر. وهذا التقييد بالجر خيلاء يخصص عموم المسبل إزاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيلاء. وقد رخص النبي صلى الله عليه وسلم في ذلك لأبي بكر الصديق رضي الله عنه, وقال, " لست منهم " إذ كان جره لغير الخيلاء

Dan Khuyala' adalah kibir (sombong). Dan pembatasan adanya sifat sombong mengkhususkan keumuman musbil (orang yang melakukan isbal) pada kainnya, bahwasanya yang dimaksud dengan ancaman dosa hanya berlaku kepada orang yang memanjangkannya karena sombong. Dan Nabi SAW telah memberikan rukhshah (keringanan) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra seraya bersabda, "Kamu bukan bagian dari mereka." Hal itu karena panjangnya kain Abu Bakar bukan karena sombong.

silahkan dicek akh, dan tlg tampilkan disini, siapa tau saja memang Ust Ahmad Sarwat telah 'keliru' dalam menukil pendapat Imam Nawawi dalam perkara isbal ini :)

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #8 pada: Januari 31, 2008, 05:01:03 pm »
ternyata ustadz sarwat gak menjelaskan di kiatab mana sumber itu berasal. Padahal Imam muslim membagi Kitabanya dimuali dari kitabul Iman, kitabut Taharah dan sebagianya....

Dab jawaban ana silahkan baca di sini:

http://forum.dudung.net/index.php/topic,9240.msg114572.html#msg114572
« Edit Terakhir: Januari 31, 2008, 05:16:47 pm oleh abu_ahmad syafiq »

si awam

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 114
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #9 pada: Januari 31, 2008, 06:35:22 pm »
ahsan pembahasan ttg isbal memang kita fokuskan disini saja, sedangkan di thread sebelah untuk membahas khilafiyah dalam hal lain, setuju akh?

saya sudah membaca postingan terakhir anda di link yg anda sebutkan. tanggapan saya:
1. anda berjanji akan membawakan tulisan asli Imam Nawawi, bukan begitu? jd bisa tlg dibawakan terlebih dahulu?

2. kaidah fiqh yg anda sebutkan, apakah ulama yg mengharamkan isbal jika disertai dengan niat riya' tidak memahami kaidah fiqh yg anda maksud? kalau saya, memang iya, tapi untuk ulama sekelas Imam Nawawi serta
jumhur dari madzhab Maliki, Syafi’I dan Hambali & juga Ibnu Taimiyyah (Syarh Umdah hal. 360an? (sumber) benarkah mereka tidak memahami kaidah fiqh tsb hingga mereka lantas memiliki pendapat yg berbeda? sebegitu sulitnya kah memahami kaidah fiqh tsb hingga yg 'keliru' dalam memahaminya tidak hanya 1 ulama? disini lah letak keheranan saya akh & membuat saya masih berpendapat bhw ini adalah perkara khilafiyah. lain halnya kalau dlm hal ini, telah terdapat ijma', maka dengan senang hati saya akan meralat seluruh tulisan saya di thread ini & di tempat lain seputar khilaf dalam masalah isbal.

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #10 pada: Februari 01, 2008, 09:15:20 pm »
ana membawakan syarhanya akhi, bukan tulisan Imam Nawawinya, karena yang ana puya adalah syarah Shahih Muslim.

Untuk pendapat ulama, Siapa saja yang mengakui bahwa semua pendapat para ulama mujtahid dalam suatu masalah adalah benar dan setiap mujtahid itu benar, maka berarti dia telah mengucapkan kaidah yang tidak memiliki dalil, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah atau ijma para sahabat serta tidak dapat diterima oleh akal sehat.

klikselengkapnya:
http://www.almanhaj.or.id/content/2337/slash/0

Kita tidak tidak menyalahkan ulama karena jasa besar mereka dalam menghidupkan Islam ini. Ustadz Hakim bin Amir Abdat hafidzullah mengatakan, berbahagialah mereka yang menunut ilmu jika terjadi permsalah(subhat dalam dirinya) ia bahas dan mentarjih mana yang lebih sesuai dengan nas yang shahih. Tidak taklid pada satu ulama saja, tapi ia patuh dan tunduk pada nash sahih dari pada mengikuti pemahaman saja dan meninggalkan nash yang shahih.

Pertanyaan ana bagai mana pendapat antum dengan dua hadits tentang isbal yang telah ana sebutkan di muka?

Apakah hadits yang shahih bisa dikalahkan oleh sebuah pemahaman?
Perlu diperhatikan, apakah hanya karena meninggalkan pendapat seorang 'ulama besar lantas kita bisa dikatakan mencela 'ulam atau menganggap tdiak faham tentang fiqih?Tidak akhi, sama sekali bukan itu maksudnya. Kita menghormati ulama dengan pengormatan yang tinggi.

Jika kita sekedar melihat perbedaan 'ulama dan dengan jalan itu kita mencela dan merendahkannya, tentu cara demikian sebodoh-bodohnya orang dalam memahami Islam. Bukankah Imam Madzhab empat sendiri jika pendapatnya berlainan dengan sunnah maka mereka rahimakumullah menyuruh kita unutk meninggalkan pendapatnya, apalagi Imam nawawi rahimahullah tentu lebih menyurhnya lagi karena beliau 'ulama besar yang belau juga salah satu "ulamayang bernadzhab Syafi'i.






Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #11 pada: Februari 06, 2008, 12:04:24 pm »
Ana yakin akh "Si Awam" sudah mengetahui bahwa bila terjadi perselisihan dalam agama, maka harus kembali kepada Qur'an dan Sunnah. Karena masalah yang diperselisihkan di sini adalah masalah isbal dengan sombong atau tidak sombong, maka kita perlu tahu dulu makna 'sombong' menurut syariat. Dalam sebuah hadits Rasulullah sendiri mendefinisikan makna sombong:
Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR: Muslim)
Maka sombong bukan hanya berbesar diri, meremehkan orang, suka pamer, atau semacam itu saja. Tapi menolak ayat, menolak hadits shohih, menolak ijma ulama juga termasuk kesombongan. Qur'an dan hadits berkata begini, namun ditolak dengan berbagai macam alasan, itu pun sombong, bahkan ini jenis sombong yang paling parah.
Nah, kaitan isbal dengan kesombongan telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits lain, yang apabila seseorang mengetahui hadits ini dengan hati jernih, jauh dari taqlid, jauh dari sombong, jauh dari 'godaan selera nafsu' maka ia akan memahami permasalahn ini dengan jelas. Perhatikan hadits berikut:
…dan berhati-hatilah kamu terhadap isbalnya sarung (pakaian), karena sesungguhnya isbalnya sarung (pakaian) itu adalah bagian dari kesombongan, dan Allah tidak menyukai kesombongan” [HR. Bukhori]
Hadits tersebut shahih, bisa di cek di Ash-Shahihah Al Albani. Dan hadits di atas menjelaskan bahwa justru isbal itu sendiri adalah kesombongan. Haditsnya shahih, barang siapa yang menolaknya dialah orang sombong.

Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #12 pada: Februari 06, 2008, 01:06:36 pm »
Adapun yang ana ketahui, wal'ilmu 'indallah, ulama berijma tentang haramnya isbal karena sombong, namun terdapat khilaf tentang isbal tanpa disertai sombong. Namun khilaf yang terjadi tidaklah sampai kepada hukum mubah. Salah satu ulama yang tidak mengharamkan isbal tanpa sombong sepeti disebut di atas adalah Imam Nawawi rahimahullah. Namun Imam Nawawi berpendapat isbal karena sombong adalah makruh. Silakan cek di Syarah Shahih Muslim. Namun pendapat Imam Nawawi ini adalah pendapat yang lemah dan sudah dikritisi oleh banyak ulama.

Sedangkan makruh, secara bahasa artinya sesuatu yg dibenci. Secara istilah makruh adalah larangan yang perintah untuk meningalkannya tidak sampai wajib (Lihat di Ushul min 'ilmil ushul). Maka, sungguh mengherankan ada seorang muslim yang tahu suatu perkara hukumnya makruh namun malah beramal dengan perkara itu. Lebih lagi orang yang mengaku juru da'wah atau da'i yang seharusnya mengajak ada apa yang diperintahkan oleh ALLOH dan menjauhi apa yang dibenci oleh ALLOH malah mendakwahkan perkara yang dibenci bahkan ia sendiri melakukannya. Ajib...! (Sungguh mengherankan).

Dan terlalu banyak hadits-hadits shahih selain hadits di atas yg menunjukkan haramnya isbal walau tanpa sombong. Maka siapa yang berani menandingkan perkataan Rasulullah dengan pendapat Imam Nawawi atau Ibnu Hajar?

Wallahu'alam.

justice 4 all

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 5
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #13 pada: Juli 08, 2008, 07:57:55 pm »
@atas

Justru pernyataan antum yang mengada-ada.

Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama) menyatakan bahwa Isbal tanpa kesombongan adalah tidak haram.

Arabnya:
http://www.islam-qa.com/index.php?ref=102260&ln=ara

Inggrisnya:
http://www.islamqa.com/index.php?ref=102260&ln=eng

Indonesianya:
Ada yang mau terjemahin? :)

Adalah indah kalau kita mencontoh Syaikh Salih Al Munajjid. Beliau sendiri mengikuti pendapat Isbal adalah haram mutlak, tetapi beliau tidak MENYEMBUNYIKAN amanat ilmiyyah, bahwa sesungguhnya justru pendapat yang tidak mengharamkan isbal secara mutlak, dari Jumhur Ulama.

Bahwa tidak isbal itu adalah terpuji, dan sunnahnya adalah di pertengahan betis, tidak ada yang memungkiri. Tetapi hendaknya kita beradab ikhtilaf seperti perkataan Ibnu Taimiyyah (yang oleh Ibnu Muflih, beliau dikutip sebagai ulama yang tidak mengharamkan isbal secara mutlak, lihat al-Adaab al-Shar’iyyah (3/521)):

"al-a'imma ijtima`uhum hujjatun qati`atun wa ikhtilafuhum rahmatun wasi`a " (Mukhtasar al-Fatawa al-Misriyya)


Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Celana Membawa Sengsara
« Jawab #14 pada: Juli 10, 2008, 09:43:01 am »
@atas

Justru pernyataan antum yang mengada-ada.

Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama) menyatakan bahwa Isbal tanpa kesombongan adalah tidak haram.

Arabnya:
http://www.islam-qa.com/index.php?ref=102260&ln=ara

Inggrisnya:
http://www.islamqa.com/index.php?ref=102260&ln=eng

Indonesianya:
Ada yang mau terjemahin? :)

Adalah indah kalau kita mencontoh Syaikh Salih Al Munajjid. Beliau sendiri mengikuti pendapat Isbal adalah haram mutlak, tetapi beliau tidak MENYEMBUNYIKAN amanat ilmiyyah, bahwa sesungguhnya justru pendapat yang tidak mengharamkan isbal secara mutlak, dari Jumhur Ulama.

Bahwa tidak isbal itu adalah terpuji, dan sunnahnya adalah di pertengahan betis, tidak ada yang memungkiri. Tetapi hendaknya kita beradab ikhtilaf seperti perkataan Ibnu Taimiyyah (yang oleh Ibnu Muflih, beliau dikutip sebagai ulama yang tidak mengharamkan isbal secara mutlak, lihat al-Adaab al-Shar’iyyah (3/521)):

"al-a'imma ijtima`uhum hujjatun qati`atun wa ikhtilafuhum rahmatun wasi`a " (Mukhtasar al-Fatawa al-Misriyya)

Akhil Karim...
Barakallahu fiik...
Semoga Allah senantiasa menjagamu

Yang antum sampaikan benar. Dan ana pun telah mengatakan sebelumnya bahwa haramnya isbal karena sombong adalah ijma. Sedangkan keharaman isbal tanpa sombong, fiihi khilaf, terdapat perbedaan pendapat.
Namun jika antum berkenan, coba baca sekali lagi artikel bahasa arab yang antum bawakan tersebut, di sana jelas disampaikan pendapat jumhur adalah tidak mengharamkan, namun memakruhkan. Seperti perkataan Ibnu Qudamah, ulama bermahdzab Hambali: "Dibenci (makruh) seseorang yang isbal dalam berpakaian, baik pada gamis, kain, atau celana panjang. Jika ia melakukannya karena sombong, maka haram" (Kitab Al Mughni 1/139).
Makruh artinya dibenci, tidak disukai. Bagaimana seseorang yang mengaku berpegang pada sunnah menyikapi hal yang dihukumi makruh? Menjauhi yang makruh? Atau membiarkan diri terbiasa melakukan yang makruh setiap hari?
Kemudian, isbal dihukumi makruh adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama). Dan pendapat jumhur bukanlah hujjah!! Dalilnya firman Allah Ta'ala yang artinya:
"Jika engkau mengikuti kebanyakan orang, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah" (Al An’am : 116)
Na'am. Suara terbanyak bukanlah hujjah (penentu benar dan salah). Berbeda dengan ijma ulama, maka itu hujah. Sebagaimana perkataan sebagian salaf yang antum bawakan itu:
"al-a'imma ijtima`uhum hujjatun qati`atun wa ikhtilafuhum rahmatun wasi`a "
(Ijma para ulama adalah hujah, dan perbedaan pendapat diantara para ulama adalah rahmat yang luas)
Jika bukan hujjah, maka masih bisa di kritisi dan dibantah, dengan dalil syar'i tentunya. Maka kita sama-sama mengetahui sebagian ulama tidak setuju dengan pendapat jumhur dengan meninjau pada dalil-dalil isbal yang tegas pelarangannya.

Nasehat ana,
Katakanlah hukum isbal masih diperselisihkan haramnya. Maka apakah kita tidak khawatir (kalau-kalau) di sisi Allah Ta'ala ternyata (hukum yang benar) adalah haram?? Dengan meninjau dalil2 yang zhahirnya menyatakan demikian?
Katakanlah hukum isbal adalah makruh jika tanpa kesombongan. Lalu siapa seorang mu'min yang berani memastikan bersih dari kesombongan?? Saat ia berkata 'saya boleh isbal, soalnya saya tidak sombong', saat itu ia sedang menyombongkan diri.

Wallahu'alam.
« Edit Terakhir: Juli 10, 2008, 10:04:07 am oleh Aswad »