Penulis Topik: Pembayaran hutang yang berlebih sesuai perubahan nilai uang  (Dibaca 3122 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

riyan-m

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 23
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Pembayaran hutang yang berlebih sesuai perubahan nilai uang
« pada: November 26, 2007, 10:18:50 am »
Ada seorang yang berhutang misalkan 500 ribu pada tahun 1992. Hutang ini baru dibayar oleh dia pada tahun 2005. Oleh dia yang berhutang dia bayar lebih(tapi tidak dengan perjanjian) sesuai dengan perubahan nilai uang. Nilai uang disamakan dengan harga jual emas. sehingga uang 500 ribu tahun 1992 mungkin sama dengan 1 juta sekarang. Pertanyaannya apakah pembayaran yang lebih itu dianggap riba atau tidak.

1 bungkus mi th 92 cuma 200
1 bungkus mi sekarang  1200

adakah dalil2 atau hadist yang menerangkan tentang masalah diatas.
Mohon bantuannya.
« Edit Terakhir: November 26, 2007, 10:21:11 am oleh riyan-m »

budhie

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 1
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Pembayaran hutang yang berlebih sesuai perubahan nilai uang
« Jawab #1 pada: Oktober 03, 2010, 08:52:42 pm »
Assalam,
Ana punya pertanyaan yang sama dengan akh riyan di atas, tp kok udah hampir 3 th ga ada yg respon atw jawab ya?? Mas moderator "tolong di bantu yaa.."

andaleh

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 19
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • d kampung sebelah saya suka oot.d sini bole ga? :D
    • Lihat Profil
    • Blog Pribadi
Re:Pembayaran hutang yang berlebih sesuai perubahan nilai uang
« Jawab #2 pada: Oktober 21, 2010, 01:04:36 pm »
Memang nilai harga barang bisa berubah-ubah. makanya Rasulullah menyuruh kita melakukan pertukaran barang dengan barang yang sejenis.

Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takarannya dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba. (HR Muslim)

Kasus TS kan dilebihkan dengan kerelaan pengutang dan tanpa perjanjian sebelumnya. Ini mah sah2 saja.

Tapi kalau ada yang mau ngasih hutang tapi takut terjadi inflasi, lebih baik beri hutang sesuai dengan benda yang jadi patokan. Misalnya si A mau memberi B hutang, tapi khawatir inflasi. Maka si A memberi hutang berupa emas (dan tentu saja pembayarannya harus dengan emas). Kemudian emas itu akan dijual lagi sehingga si B bisa mendapat uang tunai.

Tapi kalau karena kekhawatiran inflasi, kemudian si A menentukan tambahan, itu tidak dibenarkan karena inflasi itu bukan sesuatu yang pasti. Apalagi nilai inflasinya,lebih tidak pasti lagi. Bukan tidak mungkin kemudian malah terjadi deflasi.

Allahua'lam bish-showab.

Ibnu Sabiil

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 15
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re:Pembayaran hutang yang berlebih sesuai perubahan nilai uang
« Jawab #3 pada: November 24, 2011, 03:01:12 pm »
Gue pikir hal tsb masuk dalam perkara riba, karena walau dikatakan saya pinjamkan anda uang senilai membeli emas, tetap saja yang diganti atau dibayarkan hutangnya adalah dalam mata uang tertentu (Rupiah), maka status hukumnya sama dengan riba.

Allah SWT dalam QS 2:276 berfirman :

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (QS 2:276)

setelah ayat tentang riba di QS2:275.

Ini sepertinya mengisyaratkan agar si Penghutang memberikan kelapangan (dengan jalan sedekah) kepada yang dihutanginya. Artinya bisa dengan tidak menuntut pembayaran lebih selain yang dipinjamkan pada masa lampau, sedangkan berkurangnya daya beli nilai uang (karena faktor waktu) adalah bagian dari sedekah penghutang kepada yang dihutanginya.


Kecuali jika (misal) si penghutang berkata, saya pinjamkan anda uang senilai membeli emas 1 gram, nanti kamu kembalikan ke saya dalam bentuk emas tsb. Maka bisa jadi, ini di luar larangan tukar-menukar barang sejenis.


Allahu A'lam


« Edit Terakhir: November 25, 2011, 01:48:49 pm oleh Ibnu Sabiil »