Penulis Topik: "Rayuan Pulau Kelapa(ran)"  (Dibaca 2427 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

-nanonano-

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 41
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
"Rayuan Pulau Kelapa(ran)"
« pada: November 05, 2007, 09:48:09 am »
fd from Waspada, 23 Mei 07 02:34 WIB
WASPADA Online
Oleh Djoko Sugiarno

Selain Agustus, bulan Mei seharusnya menjadi bulan keramat Indonesia, mengingat di bulan ini ada dua peringatan sakral, Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei). Angka "2" pada tanggal 2 dan 20 itu memaknakan bahwa prioritas ke dua setelah merdeka adalah mendidik untuk membangkitkan rakyat, sedangkan angka "0" sisanya menggambarkan habisnya kebodohan dan kemiskinan. Memang, pendidikan - jika dikelola dengan tepat dan benar - seharusnya bisa menjadi tonggak kebangkitan kejayaan Indonesia untuk menjadi bangsa pemimpin di muka bumi ini.

Bagaimana tidak, kendati sudah 'diperas oleh Belanda selama 3,5 abad, toh ketika merdeka tahun 1945, rakyat Indonesia masih mewarisi harta alam yang sangat kaya, yang bisa membuat setiap nyawa manusia Indonesia sejahtera, bahkan seandainya tidak bekerja sekalipun. Sebagai negeri bayi pada tahun 45, Indonesia adalah bayi yang terlahir kaya raya, yang membuat bangsa mana pun akan melirik iri. Cukup hanya dengan mengeluarkan tangan dari jendela, bermacam buah sudah teraih di genggaman tangan. Hanya sekadar hendak cuci muka di sungai, pulang sudah membawa ikan. Cukup dengan menyapu sampah dapur, sudah bisa tumbuh tomat dan cabai. Kalau tanah digali, akan didapat sumur minyak, beraneka logam mulia dan barang tambang yang bernilai tinggi. Keperawanan hutannya menyediakan apa pun yang dibutuhkan rakyat dalam jumlah jauh lebih dari cukup. Indonesia adalah anak ayam yang menetas di penjemuran padi.

Menanam Tongkat Kayu dan Batu
Kalau timbul pertanyaan: "Semudah itukah kita hidup di bumi pertiwi ini?" hanya ada satu jawaban yang paling logis "Ya!". Tak ada alasan untuk hidup miskin dan kelaparan. Segalanya ada tersedia untuk hidup berkecukupan, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, kata Yon Koeswoyo. Jika tahun 70-an Koes Plus menciptakan lirik lagu itu untuk menggambarkan betapa suburnya tanah negeri ini, tetapi ternyata bisa ditafsirkan dengan pemahaman mutakhir sekarang ini. Tongkat kayu bisa dengan sempurna melambangkan hutan Indonesia yang luas dan kaya, yang bisa ditanam (diinvestasikan) menjadi sumber kekayaan tak berkesudahan bagi yang bisa mengelolanya. Batu bisa mewakili pasir (batu berukuran mikro) yang bisa ditanamkan sebagai investasi menggiurkan jika dijual ke Singapura seperti sekarang ini. Nah, bagaimana tidak kaya raya, jika hutan perawan dan pasir bisa dengan begitu saja menjadi sumber investasi menggiurkan.

Nah lho, setelah hutan dan pasir ditanam (baca : diuangkan), kok rakyat masih juga melarat, masih kesulitan mendapat beras dan minyak tanah. Kok petani masih saja hidup berkekurangan, padahal dari cangkulnyalah orang kota bisa makan nasi. Jadi, ketika hutan sudah gundul akibat kayunya dijual, dan Pulau-pulau Kelapa yang dulu pandai merayu kini tenggelam akibat pasirnya jadi Singapura, kok rakyat tetap juga miskin. Lalu, kalau kemudian seluruh Indonesia Raya ini sudah jadi tanaman (barang dagangan), apakah rakyat yang menikmati panennya, atau Negeri Singa yang tambah makmur ? Ada apa gerangan dengan rimba raya dan perut bumi pertiwi ?

Hwarakadhah, petani kita yang sangat lihai menanam padi dan sangat tangguh membajak sawah, ternyata tidak memiliki kemampuan untuk menikmati nasi pulen dari sawahnya. Indonesia yang agraris itu ternyata harus membeli beras Thailand dan Vietnam untuk memenuhi kebutuhan karbohidratnya. Sawah di Jakarta sudah habis ditanami gedung perkantoran. Ladang di Jakarta sudah habis jadi jalan raya. Pematangnya tidak lagi dilalui kerbau dan lembu pembajak sawah, tetapi jadi jalan bagi Kijang 2500 cc dengan ban radial. Bahkan profesi pembajak sawah sudah beralih menjadi pembajak pesawat, pembajak KA dan pembajak bantuan bencana alam. "Petani?", no way gitu looh !!! Dan jutaan petani Indonesia tercenung di simpang jalan, sesekali menggumam "Kapan kami bisa bangkit, masihkah ada tersisa tongkat kayu dan batu untuk kami tanam?"

Bangkit, Kapan??
Bahkan dalam kondisi harga komoditas Indonesia membaik di pasar dunia, rakyat tetap tertindas. Ketika harga CPO dunia meningkat tajam, harga migor nasional juga bertengger di pucuk Kelapa Sawit alias tak terbeli rakyat. Reaksi berantai berikutnya adalah meningkatnya harga kebutuhan yang terkait CPO. Membaiknya harga komoditas pertanian perkebunan di pasar dunia memang diakui Menko Budiono menjadi berkah bagi Indonesia. Nilai ekspor Indonesia untuk pertama kalinya menembus angka psikologis 100,6 miliar US dolar. Cadangan devisa pun meningkat tajam sampai minggu ini bisa mencapai 49 miliar US dolar. Sebuah kondisi yang membanggakan (di atas kertas, pen) yang beriring dengan masih sangat lemahnya ekonomi rakyat bawah. Harga-harga yang sudah melangit tak terjangkau itu pun masih tidak dijamin tidak akan naik lagi. Pertamina sudah berancang-ancang untuk mengoreksi harga gas, justru ketika pemerintah mendorong rakyat untuk mengganti minyak tanah dengan gas.

Ya, benar. Kita ingin bangkit, mau bangkit, berencana bangkit dan merasa perlu untuk bangkit, tegak berdiri, menepuk dada dan berteriak lantang. Tapi kapan? Rakyat sudah semakin miskin, semakin lapar. Yang sebelumnya tidak miskin dan tidak lapar, kini harus merelakan rumah dan segala isinya dijadikan sawah sejuta hektare secara paksa oleh Lapindo (yang hingga kini belum ditanami sama sekali). Para penguasa dan pengusaha masih sibuk melawan kekuatan alam dengan menyumpal lubang semburan lumpur. Emangnya ember bocor, kok ditambal segala. Luberan lumpur di satu sisi, dan hilangnya pulau kecil di sisi lain adalah dua fakta antagonis yang mengiris hati rakyat. Mengapa tidak dijual saja itu lumpur Lapindo ke Singapura, toh produksinya mencapai 150.000 m3 sehari. Itu bisa mereklamasi Singapura ribuan kilometer lagi. Apa rakyat disuruh membajak di mega sawah, atau Lapindo yang sudah membajak ribuan hektare lahan rakyat?

Segala kondisi miris itulah yang kini sedang memeluk bangsa (yang mengaku pernah) besar ini. Sebuah bangsa yang sarat beban dan kelelahan menanggung dosa korupsi. Bangsa yang pemimpinnya hanya bisa mengatur angka, bukan mengasuh rakyat. Sebuah bangsa yang berotasi dari 20 Mei ke 20 Mei sepanjang 60 tahun sejarahnya, tanpa bisa keluar dari turbulensi krisis. Penggal-penggal sejarah hanya berjalan melintasi untaian panjang kesengsaraan rakyat. Jika dulu rakyat dijajah oleh bangsa asing, kini masih terjajah oleh bangsa sendiri. Reformasi yang nampak seperti sebuah gerbang emas ternyata hanya fatamorgana yang menjanjikan hanya kehampaan segala puja puji tanah air, kini sedang berhadapan dengan rangkaian fakta caci maki tanpa henti yang mengusir segala impian indah tentang hidup di lemah gemah ripah loh jinawi. Kolam susu dan Rayuan Pulau Kepala yang dulu terdengar merdu, kini tinggal lengkingan kesakitan yang menyuarakan dalamnya penderitaan rakyat. 20 Mei tahun ini baru saja
lewat, dan masih meninggalkan rakyat dalam kesengsaraan dan kesakitan. Kolam Susu sudah jadi Kolam Lumpur yang menyenandungkan Rayuan Pulau Kelapa(ran).

* Penulis adalah Ketua Divisi Educatio Watch IPBI Dan Wasekjen PINWAJA, joko_sugiarno@ yahoo.com