Penulis Topik: Menjadi Istri Kedua  (Dibaca 21926 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

^_^chusni@.maniez

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.447
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Wanita
  • ^senyum^
    • Lihat Profil
Menjadi Istri Kedua
« pada: November 04, 2007, 10:58:13 am »
Beberapa waktu lalu saya di tanya.
" mau nggak kalau seandainya nanti menjadi istri kedua. Tentu saja atas seizin istri pertama ?" pertanyaan yang....
Polygami, saya tahu bahwa di Al Quran pun telah tersirat dan tersurat dengan jelas. Jika memang muslim dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman tentu tak harus mempermasalahkannya kan?
Menjadi istri ke dua? Tak pernah terlintas sebelumnya, namun obrolan itu membuat saya terus berfikir keras.
Bagaimana dengan istrinya? Bagaimana pandangan masyarakat kepadaku sebagai istri kedua? Di anggap perebut suami orang.
Selama ini yang saya fikirkan adalah menjadi yang pertama. Namun bagaimana bila takdir menjadikan saya yang kedua? Persiapan belum ada sama sekali.
karena jodoh itu adalah msiteri yang tak pernah bisa terpecahkan manusia sepanjang abad.
Saya tidak dapatmenulis panjang lebar, karena di dada ini rasanya membucah haru. Yang kita lupa adalah, bahwa kita harus mempersiapkan diri sebagai yang pertama ataupun sebagai madu. Agar ketika kita benar - benar mengalaminya telah memiliki bekal yang cukup. Meskipun ketika di praktekan teori hanyalah sejengkal  debu.
Jang pernah menyalahkan yang kedua, karena kita tidak tahu bagaimana hati dan kehidupan seseorang. Karena menjadi kedua bukan kesalahan. Bukan pula dosa apalagi nista. Yang nista dan di laknat adalah perzinahan.
Sebagai wanita.......jangan pernah merasa malu menjadi kedua. Tentu saja dengan cara yang akhsan. Dan sebagai yang pertama, jangan  pernah menentang sesuatu yannnnng telah tersirat meskipun say atahu ikhlas itu begitu sulit.
Marilah kita semmmua sama - sam amerenung dan belajar tentang itikad dan makna polyagmi yang sesuangguhnya. Mentadaburi makna kitabullah. Karena hidup seseorang itu tidak ada yang tahu. Perjalanan hidup seseorang memang berbeda satu sama lainnnnnya.
Yang telahmenjadi yang pertama terus belajar dan memproses agar siap di madu karena sesuatu hal bisa saja terjadi tanpa terduga atas seizinnya
Dan kepada para laki - laki, jangan menjadikan Al Quran sebagai pembela nafsu atau keinginan kalian. Tapi jadikanlah itu sebagai dakwah, sebagai sebuah ibadah yang tentu saja di landasi niat yang benar. Niat yang lurus karena ingin menegakan sunnahnya.
Amien....

hudi

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #1 pada: November 05, 2007, 01:47:23 pm »
sulit memang apabila kenyataan tdk sesuai dg harapan,,,bisa-bisa putus asa.menjadi yg kedua memang sulit....tapi apabila kita memang faham ilmunya....insyaalloh....poligami menjadi ladang keridhoan Alloh.tp bagi yg krn ikutan........ jangan sekali2 ya....krn kita harus tahu faktor2 kita berpoligami. Rosullulloh sendiri berpoligami ketika setelah Khodijah wafat...dan hanya aisyah satu2nya istri beliau yg masih perawan.
jadi bagi yg sdh mjd madu...terima kenyataan itu,krn tdk bisa menerima kenyataan adl pertanda awal ruang hati kita menyempit,,,,
bagi yg dimadu....juga terima kenyataan itu,,,,,bersabar....dan bersyukur...

semoga manfaat,,,,

^_^chusni@.maniez

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.447
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Wanita
  • ^senyum^
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #2 pada: November 05, 2007, 02:06:57 pm »
semua itu kan pilihan   dan hak?

mBell

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 974
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Selamat Tahun Baru Hijriyah => mBell & Keluarga
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #3 pada: November 10, 2007, 08:35:12 am »
Yah tapi saya coba untuk tetap setia

ani

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.582
  • Reputasi: 26
  • "Ya Allah kukuhx persaudaraan ini smp kejannahMu"
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #4 pada: November 16, 2007, 12:11:48 pm »
mengetahui ilmunya itu lbh baik agar ke depan jika terjadi sst yg diluar harapan kita bisa menyikapinya dgn bijak n terbaik untuk semua... :)

open your heart

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.224
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • .: Dunia Ini Panggung Sandiwara :.
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #5 pada: November 20, 2007, 09:14:10 pm »
Salut aku bagi yang sanggup....

fitrah

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 99
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #6 pada: Oktober 09, 2008, 09:18:19 pm »
doch..mumet..jadi ingat waktu ditawari poligami jadi yang kedua
sedih...bertanya2 apa ini memang garis nasib dari Allh.....gmn bapak ibu ya mikirnya??? campur aduk jadi satu
akhirnya cuma satu kata tauk ah gelap.... :p
 

hamzah tl

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 142
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • tersenyumlah
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #7 pada: Oktober 27, 2008, 03:58:23 pm »
mengutip cerita dari web www.hidayatullah.com


KDNY (Kabar Dari New York):

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
Masa SMU wanita Amerika itu hancur tatkala dirinya hamil diusia 17 tahun. Ia terpaksa menjadi 'single mother' diusia muda. Namun hidupnya merasa nyaman setelah menjadi istri kedua seorang pria Muslim

Sekitar tiga bulan lalu, the Islamic Forum yang diadakan setiap Sabtu di Islamic Center New York kedatangan peserta baru. Pertama kali memasuki ruangan itu saya sangka wanita Bosnia. Dengan pakaian Muslimah yang sangat rapih, blue eyes, dan kulit putih bersih. Pembawaannya pun sangat pemalu, dan seolah seseorang yang telah lama paham etika Islam.

Huda, demikianlah wanita belia itu memanggil dirinya. Menurutnya, baru saja pindah ke New York dari Michigan ikut suami yang berkebangsaan Yaman. Suaminya bekerja pada sebuah perusahaan mainan anak-anak (toys).

Tak ada menyangka bahwa wanita itu baru masuk Islam sekitar 7 bulan silam. Huda, yang bernama Amerika Bridget Clarkson itu, adalah mantan pekerja biasa sebagai kasir di salah satu tokoh di Michigan. Di toko inilah dia pertama kali mengenal nama Islam dan Muslim.

Biasanya ketika saya menerima murid baru untuk bergabung pada kelas untuk new reverts, saya tanyakan proses masuk Islamnya, menguji tingkatan pemahaman agamanya, dll. Ketika saya tanyakan ke Huda bagaimana proses masuk Islamnya, dia menjawab dengan istilah-istilah yang hampir tidak menunjukkan bahwa dia baru masuk Islam. Kata-kata “alhamdulillah”.”Masya Allah” dst, meluncur lancar dari bibirmya.

Dengan berlinang air mata, tanda kebahagiaannya, Huda menceritakan proses dia mengenal Islam.

“I was really trapped by jaahiliyah (kejahilan)”, mengenang masa lalunya sebagai gadis Amerika. “I did not even finish my High School and got pregnant when I wan only 17 years old”, katanya dengan suara lirih. Menurutnya lagi, demi mengidupi anaknya sebagai ‘a single mother’ dia harus bekerja. Pekerjaan yang bisa menerima dia hanyalah grocery kecil di pinggiran kota Michigan.

Suatu ketika, toko tempatnya bekerja kedatangan costumer yang spesial. Menurutnya, pria itu sopan dan menunjukkan ‘respek’ kepadanya sebagai kasir. Padahal, biasanya, menurut pengalaman, sebagai wanita muda yang manis, setiap kali melayani pria, pasti digoda atau menerima kata-kata yang tidak pantas. Hingga suatu ketika, dia sendiri berinisiatif bertanya kepada costumernya ini, siapa namanya dan tinggal di mana.

Mendengar namanya yang asing, Abdu Tawwab, Huda semakin bingung. Sebab nama ini sendiri belum pernah didengar. Sejak itu pula setiap pria ini datang ke tokonya, pasti disempatkan bertanya lebih jauh kepadanya, seperti kerja di mana, apa tinggal dengan keluarga, dll.

Perkenalannya dengan pria itu ternyata semakin dekat, dan pria itu juga semakin baik kepadanya dengan membawakan apa yang dia sebut ‘reading materials as a gift”. Huda mengaku, pria itu memberi berbagai buku-buku kecil (booklets).

Dan hanya dalam masa sekitar tiga bulan ia mempelajari Islam, termasuk berdiskusi dengan pria tersebut. Huda merasa bahwa inilah agama yang akan menyelamatkannya.

“Pria tersebut bersama isterinya, yang ternyata telah mempunyai 4 orang anak, mengantar saya ke Islamic Center terdekat di Michigan. Imam Islamic Center itu menuntun saya menjadi seorang Muslimah, alhamdulillah!”, kenang Huda dengan muka yang ceria.

Tapi untuk minggu-minggu selanjutnya, kata Huda, ia tidak komunikasi dengan pria tersebut. Huda mengaku justeru lebih dekat dengan isteri dan anak-anaknya. Kebetulan lagi, anaknya juga berusia tiga tahun, maka sering pulalah mereka bermain bersama. “Saya sendiri belajar shalat, dan ilmu-ilmu dasar mengenai Islam dari Sister Shaima, nama isteri pria yang mengenalkannya pada Islam itu.


Kejamnya Poligami


Suatu hari, dalam acara The Islamic Forum, minggu lalu, datang seorang tamu dari Bulgaria. Wanita dengan bahasa Inggris seadanya itu mempertanyakan keras tentang konsep poligami dalam Islam. Bahkan sebelum mendapatkan jawaban, perempuan ini sudah menjatuhkan vonis bahwa “Islam tidak menghargai sama sekali kaum wanita”, katanya bersemangat.

Huda, yang biasanya duduk diam dan lebih banyak menunduk, tiba-tiba angkat tangan dan meminta untuk berbicara. Saya cukup terkejut. Selama ini, Huda tidak akan pernah menyelah pembicaraan apalagi terlibat dalam sebuah dialog yang serius. Saya hanya biasa berfikir kalau Huda ini sangat terpengaruh oleh etike Timur Tengah, di mana kaum wanita selalu menunduk ketika berpapasan dengan lawan jenis, termasuk dengan gurunya sendiri.

“I am sorry Imam Shamsi”, dia memulai. “I am bothered enough with this woman’s accusation”, katanya dengan suara agak meninggi. Saya segera menyelah: “What bothers you, sister?”. Dia kemudian menjelaskan panjang lebar kisah hidupnya, sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga kemudian hamil di luar nikah, bahkan hingga kini tidak tahu siapa ayah dari anak lelakinya yang kini berumur hampir 4 tahun itu.

Tapi yang sangat mengejutkan saya dan banyak peserta diskusi hari itu adalah ketika mengatakan: “I am a second wife”. Bahkan dengan semangat dia menjelaskan, betapa dia jauh lebih bahagia dengan suaminya sekarang ini, walau suaminya itu masih berstatus suami wanita lain dengan 4 anak. “I am happier since then“, katanya mantap.

Dia seolah berda’wah kepada wanita Bulgaria tadi: “Don’t you see what happens to the western women around? You are strongly opposing polygamy, which is halaal, while keeping silence to free sex that has destroyed our people”, jelasnya. Saya kemudian menyelah dan menjelaskan kata “halal” kepada wanita Bulgaria itu.

“I know, people may say, I have a half of my husband. But that’s not true“, katanya. Lebih jauh dia menjelaskan bahwa poligami bukan hanya masalah suami dan isteri. Poligami dan kehidupan keluarga menurutnya, adalah masalah kemasyarakatan. Dan jika seorang istri rela suaminya beristri lagi demi kemaslahatan masyarakat, maka itu adalah bagian dari pengorbananya bagi kepentingan masyarakat dan agama.

Kami yang dari tadi mendengarkan penjelasan Huda itu hanya ternganga. Hampir tidak yakin bahwa Huda adalah isteri kedua, dan juga hampir tidak yakin kalau Huda yang pendiam selama ini ternyata memiliki pemahaman agama yang dalam. Saya kemudian bertanya kepada Huda: “So who is your husband?” Dengan tertawa kecil dia menjawab “the person who introduced me to Islam”. Dan lebih mengejutkan lagi: “his wife basically suggested us to marry”, menutup pembicaraan hari itu.

Diskusi Islamic Forum hari itu kita akhir dengan penuh bisik-bisik. Ada yang setuju, tapi ada pula yang cukup sinis. Yang pasti, satu lagi rahasia terbuka. Saya sendiri hingga hari ini belum pernah ketemu dengan suami Huda karena menurutnya, “he is a shy person. He came to the Center but did not want to talk to you”, kata Huda ketika saya menyatakan keinginan untuk ketemu suaminya.

“Huda, may Allah bless you and your family. Be strong, many challenges lay ahead in front of you”, nasehatku. Doa kami menyertaimu Huda, semoga dikuatkan dan dimudahkan!


New York, 10 Mei 2006


*) Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com

serunting

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.349
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Secrets makes a ninja NINJA!!!
    • Lihat Profil
    • Suka Sejarah
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #8 pada: November 02, 2008, 12:24:22 am »
Salut aku bagi yang sanggup....

Contoh nyata nih. Ada kekaguman dari ikhwan bagi seorang istri yang rela dipoligami.

Makanya kalo jadi istri harus mau dipoligami, biar sang suami salut ama istrinya, kagum. dan nantinya si istri akan semakin di sayang.  :[-/

doch..mumet..jadi ingat waktu ditawari poligami jadi yang kedua
sedih...bertanya2 apa ini memang garis nasib dari Allh.....gmn bapak ibu ya mikirnya??? campur aduk jadi satu
akhirnya cuma satu kata tauk ah gelap.... :p

Non, itumah tiga kata!

woery

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #9 pada: November 02, 2008, 01:08:27 pm »
Assalamualaikum,

Saya hanya mau berbagi pengalaman hidup.

Saat saya masih gadis mengalami kehidupan yang bebas. Saya bekerja sebagai marketing yang otomatis sering berhubungan langsung dg klien. Karena itu saya cukup populer diantara klien yang 90% orang Asing.
Sebut saja A adalah salah satu klien yang penasaran dengan "nama besar" saya yang jadi bahan gunjingan diantara klien. Suatu saat saya diminta kantor untuk mengantarkan berkas Mr. A ke kedutaan. Di situ lah awal saya bertemu dengan Mr. A yang di saat itu pula dia mengatakan Would U marry me ?
"Gila X nee orang" cuma itu yang ada d pikiran aku saat itu.
Tapi ternyata dia meyakinkan saya melalui teman2nya yang membujuk aku menyetujui permintaan Mr. A.
Ajaib "kebebasan" saya hilang dan saya jadi bgitu patuh dengan permintaan dia untuk menjadikan saya orang yang lebih baik. Akhirnya saya bersedia menikah dengan dia yang ternyata saya adalah istri ke tiga bagi dia.
Saya hanya diperkenalkan lewat telpon dengan istri2 dan mertua. Walaupun diantaranya ada yang sinis tapi di akhiri dengan kata daripada suami saya berzinah di negara orang, dan aku anggap itu sebagai kata setuju.

Aku menjalani pernikahan selama 8th. Selama menjadi istri dia, saya tidak pernah ada sedikitpun membanding2kan, iri, cemburu, atau prasangka jelek sedikitpun sama keluarga suami saya di negaranya. Bahkan saat suami saya di jkt, saya selalu mengingatkan suami untuk menelpon keluarganya dan membawakan oleh2 klo dia mo pulang ke negaranya.
Saya benar2 merasa menjadi istri yang berbakti dan ikhlas. Walaupun umur pernikahan kami tidak panjang.

Saat ini saya terbentur dengan permasalahan yang sama.
Saya terlibat hubungan dengan laki2 yang sudah beristri dan dia menyatakan ingin menjadikan saya yang ke dua, dengan izin istrinya. Dan diapun mengatakan seandainya istri dia tidak menyetujui, dia akan memilih saya.
Mungkin seharusnya saya TERSANJUNG karena dia lebih memilih saya. Tapi saya menolak.
Karena sayapun tidak yakin dengan perasaan saya.
Saya betul2 heran apa yang terjadi pada saya karena saya tidak bisa sedikitpun bersikap IKHLAS. Seharusnya saya sadar diri akan posisi saya, tapi tetap tidak bisa.

Kenapa saya selalu merasa iri dengan istrinya? Padahal dalam segala hal saya 75% lebih baik dari dia (saya mengenal baik istrinya)
Kenapa saya ingin memiliki dia sepenuhnya?
Kenapa saat dia dengan istrinya saya sll mencari alasan supaya dia memperhatikan saya?
Kenapa setiap dia menyebut nama istrinya dada ini panas, sesak dan penuh amarah?
Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Kemanakah rasa ikhlas yang dulu?
Apa karena mereka ada di depan mata?


 

nichan

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 143
  • Reputasi: -3
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #10 pada: November 06, 2008, 11:58:51 am »
PNS kan susah meried lagi

calon_akhwat

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.737
  • Reputasi: 56
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #11 pada: November 06, 2008, 02:46:33 pm »
Contoh nyata nih. Ada kekaguman dari ikhwan bagi seorang istri yang rela dipoligami.

Makanya kalo jadi istri harus mau dipoligami, biar sang suami salut ama istrinya, kagum. dan nantinya si istri akan semakin di sayang.  :[-/

hehehe,omong kosong, karena mau dipoligami, nantinya justru semakin disayang  :p
kalau sayang, ndak akan poligami, bro  :p

oia lupa, syarat dan ketentuan berlaku  :D

dencutez

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 220
  • Reputasi: -3
  • Jenis kelamin: Pria
  • superdeni
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #12 pada: November 16, 2008, 05:46:41 am »
Contoh nyata nih. Ada kekaguman dari ikhwan bagi seorang istri yang rela dipoligami.

Makanya kalo jadi istri harus mau dipoligami, biar sang suami salut ama istrinya, kagum. dan nantinya si istri akan semakin di sayang.  :[-/

hehehe,omong kosong, karena mau dipoligami, nantinya justru semakin disayang  :p
kalau sayang, ndak akan poligami, bro  :p

oia lupa, syarat dan ketentuan berlaku  :D

ciye yg nggak mau dipoligami pake ada syarat dan ketentuan berlaku...
ya jgn suka begitu.. ntar kalo nanti dipoligami, baru tau.. hehehehhe
semangat!
baksos today! opss oot

Nakiva_hanif

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 46
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re: Menjadi Istri Kedua
« Jawab #13 pada: Desember 29, 2008, 02:08:10 am »
mau menyatakan pendapat ^^

seperti pada tred2 yang sebelumnya
"saya takut kalo saya tidak pro poligami...Allah murka sama saya"

tapi calon suami pernah ngomongin seseorang...ngomongnya gini...
"dia hebat loh...blablabla...trus istrinya 2" DEG -_-

hmmmhhh...speechless...apalagi kalau saya yang jadi istri ke-2
jadi berasa punya kesalahan...
kejadian di rumah dimana "yang bontot harus ngalah sama yang tua" mungkin bisa terulang lagi... -jangan dong-

IMUT_4EVER

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 235
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:Menjadi Istri Kedua
« Jawab #14 pada: Januari 14, 2009, 02:28:42 pm »
Kalau di tanya mau ga menjadi istri ke 2 jujur saya mantap mengatakan "TIDAK",  apalagi untuk poligamy tentu saya tidak mau..Dengan alasan lebih baik di cerai dari pada di poligamy (Menurut saya kalu bercerai sang suami tidak akan bertanggung jawab lagi dalam lahir dan batin, dan pihak wanita juga bisa bebas menentukan kehidupnya kelak tanpa harus menjadi tanggung jawab sang suami lagi. Terlebih lagi saya akan menghidari yg namanya sifat iri dan dengki dalam hati akibat poligamy tersebut..) dan kalau berpoligamy sang suami semakin berat sebelah krn sifat adil itu sulit untuk diterapkan..:(

Kalau milih poligamy or cerai mendingan aku dicerai....

Bagi yang di poligamy or yang berpoligamy mohon maaf kalau pernyataan saya ini tanpa sengaja menyakiti hati...