Penulis Topik: HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK  (Dibaca 53998 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #30 pada: Juli 23, 2010, 01:34:23 pm »
NASAB, HAK WARIS, DAN WALI NIKAH DARI AYAH MUALLAF
Soal :

Ustadz, saya punya teman, Robert (bukan nama sebenarnya). Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya perempuan. Ketika orang tuanya menikah ayahnya beragama Kristen sedangkan ibunya beragama Islam. Mereka menikah di Kantor Catatan Sipil. Namun, setelah anak-anak mereka dewasa (waktu Robert semester dua), ayahnya masuk Islam. Kedua orang tuanya pun melakukan pernikahan ulang, bahkan kedua orang tuanya sudah berangkat haji. Yang menjadi pertanyaan adalah :
1. Bagaimana status nasab Robert, dan kakak adiknya?

2. Bagaimana hak waris untuk Robert dan kakak adiknya?

3. Bagaimana hak perwalian untuk kedua kakak adiknya? (Julaikha Chairunisa, Bekasi)

Jawab :

1. Pendahuluan

Pengasuh merasa turut gembira dan bersyukur bahwa ayah Robert sudah masuk Islam. Alhamdulillah. Sungguh, hidayah ini adalah anugerah yang tak ternilai dari Allah SWT. Betapa tidak, dengan masuk Islam, ayah Robert berarti telah keluar dari kegelapan menuju cahaya terang, dan telah selamat dari ancaman kekal di neraka. Allah SWT berfirman :

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS Al-Baqarah [2] : 257)

Pengasuh berdoa kepada Allah agar ayah Robert terus istiqomah dalam iman Islam hingga akhir hayat, serta senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Amin. Allah SWT berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran [3] : 102)

2. Nasab

Nasab Robert dan kakak adiknya bergantung pada status pernikahan yang pertama dari ayah ibunya, bukan pernikahan yang kedua (yang diulang) setelah ayah Robert masuk Islam. Sebab Robert dan kakak adiknya adalah anak-anak hasil pernikahan yang pertama (di Kantor Catatan Sipil), bukan anak-anak hasil pernikahan setelah ayah Robert masuk Islam.

Pernikahan ayah Robert waktu masih Kristen dengan ibunya yang beragama Islam adalah tidak sah. Sebab haram hukumnya seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, baik Ahli Kitab (beragama Yahudi maupun Nasrani) maupun musyrik. Dalil keharamannya antara lain firman Allah SWT :

"Mereka (perempuan-perempuan beriman) tiada halal bagi orang-orang kafir, dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka." (QS Al-Mumtahanah [60] : 10)

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir. Seluruh ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali sepakat mengenai keharamannya. (Lihat Syaikh Abdurrahan Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, Juz IV, hal. 188).

Jika ada pendapat yang membolehkan pernikahan semacam itu, maka pendapat itu batil dan jelas tidak benar. Sebab pendapat itu nyata-nyata melawan nash Al-Qur`an yang qath’i (pasti maknanya) serta bertentangan dengan kesepakatan seluruh ulama. Yang berpendapat seperti itu sebenarnya bukan ulama atau intelektual muslim, melainkan intelektual liberal-sekular yang berkiblat kepada ideologi Barat, bukan berkiblat kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah (Lihat misalnya pendapat Nurcholish Madjid dkk, Fiqih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif Pluralis, 2004, hal. 164).

Jelaslah bahwa pernikahan ayah Robert waktu masih Kristen dengan ibunya yang beragama Islam adalah tidak sah. Dengan demikian, anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut adalah anak-anak yang lahir di luar pernikahan yang sah. Dalam istilah hadits dan fiqih, anak-anak itu disebut anak zina (waladuz zina). Maksudnya, anak-anak yang dilahirkan karena zina, bukan karena hubungan suami isteri yang sah menurut agama Islam. Rasulullah SAW bersabda,"Siapa saja laki-laki yang berzina dengan wanita merdeka atau wanita budak, maka anaknya adalah anak zina (waladu zina), yang tidak mewarisi [laki-laki itu] dan tidak diwarisi [oleh laki-laki itu]." (HR Tirmidzi) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadits no 2567, hal. 1217).

Bagaimana nasab anak zina? Nasab anak zina adalah kepada ibunya. Anak zina terputus nasabnya dari bapaknya. Dalilnya adalah hadits-hadits Nabi SAW dalam masalah ini. Sahal bin Sa’ad RA berkata,"Pernah ada wanita hamil [karena zina] dan anaknya dinasabkan kepada ibunya, maka berlakulah ketentuan As-Sunnah yaitu anak itu mewarisi ibunya dan ibunya mewarisi anaknya dari harta waris yang ditetapkan oleh Allah bagi ibunya." (HR Bukhari dan Muslim) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadits no 2565, hal. 1217).

Ibnu Abbas RA berkata,"Rasulullah SAW pernah melangsungkan li’an antara Hilal bin Umayyah dengan isterinya dan memisahkan di antara keduanya. Dan Rasulullah SAW memutuskan bahwa anaknya tidak dipanggil dengan nama bapaknya." (HR Ahmad dan Abu Dawud). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadits no 2933, hal. 1363).

Dari dalil-dalil hadits tersebut jelaslah bahwa anak zina dinasabkan kepada ibunya. Anak zina telah terputus nasabnya dengan bapaknya. Jadi, Robert dan kakak adiknya dinasabkan kepada ibunya, bukan kepada bapaknya.

3. Hak Waris

Robert dan kakak adiknya berhak mendapatkan waris dari ibu mereka saja, tidak dari bapak mereka. Demikian pula ibu mereka (bukan bapak mereka) berhak mendapat waris dari Robert dan kakak adiknya. Dalilnya adalah hadits sahih di atas, yakni hadits riwayat Sahal bin Sa’ad RA bahwa ia berkata,"…maka berlakulah ketentuan As-Sunnah yaitu anak itu mewarisi ibunya dan ibunya mewarisi anaknya dari harta waris yang ditetapkan oleh Allah bagi ibunya." (HR Bukhari dan Muslim)

Jadi, jika ibu mereka meninggal, Robert dan kakak adiknya berhak mewarisi harta ibu mereka. Sebaliknya andaikata Robert atau kakak adiknya ada yang meninggal, maka ibu mereka dan juga kerabat-kerabat ibu mereka (yang menjadi ahli waris) berhak mewarisi harta Robert atau kakak adiknya (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1218).

Sedangkan bapak mereka, meskipun sudah masuk Islam, tidak mempunyai hubungan waris-mewarisi dengan Robert dan kakak adiknya. Sebab tidak ada hubungan nasab antara bapak mereka dengan Robert serta kakak adiknya. Rasulullah SAW bersabda,"Siapa saja laki-laki yang berzina dengan wanita merdeka atau wanita budak, maka anaknya adalah anak zina (waladu zina), yang tidak mewarisi [laki-laki itu] dan tidak diwarisi [oleh laki-laki itu]." (HR Tirmidzi).

Namun demikian, masuk Islamnya ayah Robert mempunyai pengaruh terhadap hukum waris dengan ibu Robert. Pada saat ayah Robert masih Kristen, dia tidak mempunyai hubungan waris-mewarisi dengan ibu Robert. Sebab dalam hukum waris Islam, seorang muslim tidak boleh mewarisi harta kafir dan seorang kafir tidak boleh pula mewarisi harta muslim. Rasulullah SAW bersabda,"Seorang muslim tidak mewarisi kafir dan seorang kafir [juga] tidak mewarisi muslim." (HR Jama’ah, kecuali Muslim dan Nasa`i) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadits no. 2580, hal. 1222).

Karena itu, pada saat ayah Robert masuk Islam, terwujudlah hubungan waris-mewarisi dengan ibu Robert, bukan dengan Robert dan kakak adiknya. Sebab status Robert dan kakak adiknya sebagai anak zina tidaklah berubah dengan masuk Islamnya ayah Robert.

Akan tetapi, menurut pengasuh, tidak ada larangan ayah Robert memberikan hartanya kepada Robert dan kakak adiknya, asalkan bukan pemberian karena waris. Ketika ayah Robert masih hidup, boleh dia menghibahkan hartanya kepada Robert dan kakak adiknya. Setelah meninggal, ayah Robert boleh mewasiatkan (bukan mewariskan) hartanya kepada Robert dan kakak adiknya. Sebab dibolehkan seseorang mewasiatkan hartanya setelah dia mati, asalkan bukan kepada ahli waris dan jumlahnya maksimal sepertiga dari harta orang itu.

4. Wali Nikah

Ayah Robert tidak berhak menjadi wali nikah bagi kakak adik Robert yang perempuan. Sebab antara ayah Robert dengan kakak adik Robert sebenarnya tidak ada hubungan nasab.

Dalam keadaan demikian, wali nikah kakak adik Robert adalah wali hakim (dari pemerintah). Rasulullah SAW bersabda,"Tidak sah nikah kecuali dengan wali. Siapa saja perempuan yang dinikahkan tanpa izin walinya maka nikahnya batil, batil, batil. Maka jika perempuan itu tidak mempunyai wali, maka penguasa (sulthaan) adalah wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali." (HR Abu Dawud) (Imam Syaukani, Nailul Authar, hadits no. 2664, hal. 1254)

Demikianlah jawaban pengasuh. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 12 Oktober 2006

Muhammad Shiddiq al-Jawi

bukan_malaikat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 885
  • Reputasi: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Menimba ilmu dan menjalin silaturrahim :)
    • Lihat Profil
Re: HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #31 pada: Juli 23, 2010, 06:20:55 pm »
Maa, ijin OOT.
Mas Fauzi jawab TS atau jawab Angela?
Mohon penjelasan. Makasih :)

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #32 pada: Juli 26, 2010, 09:33:58 am »
@not angle,

siapa aja yg kira2 nyangkut jawabannya.

Godelava

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 87
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #33 pada: Juli 31, 2010, 07:24:11 pm »
Ya ALLAH, rumit juga penjelasannya  :-/
ampe bingung nih  #:-S

kalau skr kan banyak perempuan yg hamil duluan, trs sama orangtua'nya cepat2 dinikahin.
yg salah siapa??

kalau perempuan hamil karena (maaf) diperkosa,
itu anak'nya gimana??  :-?

kalau dipikir lagi, status anak'nya jadi ga jelas gitu  :(   :((


Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #34 pada: Agustus 03, 2010, 11:21:58 am »
Ya ALLAH, rumit juga penjelasannya  :-/
ampe bingung nih  #:-S

kalau skr kan banyak perempuan yg hamil duluan, trs sama orangtua'nya cepat2 dinikahin.
yg salah siapa??

kalau perempuan hamil karena (maaf) diperkosa,
itu anak'nya gimana??  :-?

kalau dipikir lagi, status anak'nya jadi ga jelas gitu  :(   :((



kalau perempuan beranak diluar nikah atau krn diperkosa maka nasabnya ke ibunya.

hasnud

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 3
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #35 pada: Agustus 29, 2010, 12:19:16 pm »
@Orchid
kemarin ty ustad di tempat ta'lim...
eng..kayaknya si si anak ndak mahrom sama bapak biologisnya bahkan bisa di nikah sama si bapak? benarkah begitu?

Kebetulan itu baru dibahas di kuliah Hukum Islam ku kemarin. Silahkan anda lihat dan baca QS An Nisaa:23. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjabarkan kategori wanita yang diharamkan untuk dinikahi seorang pria.

Semoga berguna.

sy mu tanya, gimana dengan anak haram perempuan yang dipungut satu keluarga lain, lalu dia akan melangsungkan pernikahan, sedangkan orangtua yang diketahui hanya pihak IBU (dan sudah menikah dengan laki2 lain), dan tidak satupun dari mereka yang mau memberitahu dimana dan siapa sebenarnya BAPAK dari anak perempuan ini. Lalu bagaimana mengenai WALI NIKAHnya nanti? apakah jalan satu2ny harus WALI HAKIM mengingat tidak bisa diperoleh sama sekali informasi tentang ayah kandungnya? lalu jika digantikan oleh keluarga yang mengasuhnya bisa kah? atau ayah tiri yang sekarang menjadi suami baru ibunya bisa menjadi WALI NIKAH SAH? hal ini sangat penting mengingat sangat berpengaruh terhadap keABSAHan pernikahan anak perempuan tersebut. mohon sekali dibantu penyelesaiannya menurut agama kita...

Syukron

bukan jalan satu2nya tp harus dengan wali hakim klau memang tu anak hasil perzinahan meskipun ud dinikah dan jelas dia adalah ayahnya (yang menghamili ibunya di luarnikah)si anak tu tetap harus nikah dengan wali hakim dan kalu sudah terlanjur nikah lebih baik nikah ulang dengan wali hakim,dan kalau ud punya anak prempuan anaknya harus dinikahkan dengan wali hakim,!!!
maap itu dari yang saya tahu

bukan_malaikat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 885
  • Reputasi: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Menimba ilmu dan menjalin silaturrahim :)
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #36 pada: September 15, 2010, 06:02:36 pm »
@Orchid
kemarin ty ustad di tempat ta'lim...
eng..kayaknya si si anak ndak mahrom sama bapak biologisnya bahkan bisa di nikah sama si bapak? benarkah begitu?

Kebetulan itu baru dibahas di kuliah Hukum Islam ku kemarin. Silahkan anda lihat dan baca QS An Nisaa:23. Dalam ayat tersebut Allah SWT menjabarkan kategori wanita yang diharamkan untuk dinikahi seorang pria.

Semoga berguna.

sy mu tanya, gimana dengan anak haram perempuan yang dipungut satu keluarga lain, lalu dia akan melangsungkan pernikahan, sedangkan orangtua yang diketahui hanya pihak IBU (dan sudah menikah dengan laki2 lain), dan tidak satupun dari mereka yang mau memberitahu dimana dan siapa sebenarnya BAPAK dari anak perempuan ini. Lalu bagaimana mengenai WALI NIKAHnya nanti? apakah jalan satu2ny harus WALI HAKIM mengingat tidak bisa diperoleh sama sekali informasi tentang ayah kandungnya? lalu jika digantikan oleh keluarga yang mengasuhnya bisa kah? atau ayah tiri yang sekarang menjadi suami baru ibunya bisa menjadi WALI NIKAH SAH? hal ini sangat penting mengingat sangat berpengaruh terhadap keABSAHan pernikahan anak perempuan tersebut. mohon sekali dibantu penyelesaiannya menurut agama kita...

Syukron

bukan jalan satu2nya tp harus dengan wali hakim klau memang tu anak hasil perzinahan meskipun ud dinikah dan jelas dia adalah ayahnya (yang menghamili ibunya di luarnikah)si anak tu tetap harus nikah dengan wali hakim dan kalu sudah terlanjur nikah lebih baik nikah ulang dengan wali hakim,dan kalau ud punya anak prempuan anaknya harus dinikahkan dengan wali hakim,!!!
maap itu dari yang saya tahu

Kita kesampingkan fakta bahwa anak tersebut diangkat dan diasuh oleh keluarga lain. Karena pada dasarnya, baik menurut hukum Islam maupun hukum perkawinan Indonesia, anak di luar nikah memang tidak mempunyai nasab pada ayah biologisnya.

Penjelasan lengkapnya bisa dibaca dalam tulisan Jumni Nelli, M.Ag (Dosen Tetap Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum UIN Suska) "NASAB ANAK LUAR NIKAH PERSPEKTIF
HUKUM ISLAM DAN HUKUM PERKAWINAN NASIONAL" dalam link berikut: http://www.uinsuska.info/syariah/attachments/145_JUmni%20Nelli.pdf

Secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 43 ayat 1, menyatakan:

"anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya."
 
Selain itu, Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 100, menyebutkan:

"anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya."

Atas dasar ketentuan dari kedua peraturan hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia tersebut, maka status anak di luar nikah yakni anak yang dibuahi dan dilahirkan di luar perkawinan yang sah,  disamakan dengan anak zina dan anak li’an.

Konsekwensinya adalah tidak ada hubungan nasab anak dengan bapak biologisnya; tidak ada hak dan kewajiban antara anak dan bapak biologisnya, baik dalam bentuk nafkah, waris dan lain sebagainya; bila kebetulan anak itu adalah perempuan, maka bapak biologisnya tidak dapat menjadi wali, sehingga yang dapat menjadi wali anak luar nikah hanya khadi atau wali hakim.

Demikian, semoga bermanfaat.

Kohir

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #37 pada: Oktober 04, 2011, 11:30:26 am »
 Kalo ada wanita yg pernah hamil diluar nikah trus anaknya di bawa pihak pria tanpa nikah itu gimana ya? Trus apa hukumnya apabila ada pria yg mau menikahi wanita tersebut?


Syukron

bukan_malaikat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 885
  • Reputasi: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Menimba ilmu dan menjalin silaturrahim :)
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #38 pada: Oktober 09, 2011, 08:58:20 am »
Untuk pertanyaan pertama, bisa saja, namun sebagaimana jawaban saya sebelumnya, secara hukum negara RI, hubungan keperdataan si anak hanya dengan ibunya. Jadi walau ikut ayahnya, yang berhak bertindak untuk dan atas nama si anak hanya ibunya, khususnya bila berkaitan dengan administrasi pemerintahan dan hukum. Bila si anak beragama Islam, secara hukum Islam pun nasabnya hanya terkait dengan ibunya. Artinya si ayah tidak berhak menjadi wali, dan si anak tidak dapat mewarisi harta ayahnya, kecuali bila diizinkan oleh putusan resmi Pengadilan Agama RI atau Pengadilan Negeri RI (tergantung agama si anak).

Untuk masalah kedua, pertanyaan mas Kohir kurang jelas. Pria itu yang menghamili atau orang lain? Kemudian yang ditanyakan masalah nasab anak, keabsahan pernikahan, atau apa?

Kohir

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #39 pada: Oktober 09, 2011, 02:14:35 pm »
Trimakasih untuk jawabannya

Untuk pertanyaan yg kedua, yg mau menikahinya itu pria lain dan keabsahan pernikahannya secara agama dan hukum gimana yah?


Syukron

gufron fauzi za

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 11
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #40 pada: Desember 06, 2011, 01:50:12 am »
dia hamil, maka bolehkan dia dinikahi oleh laki-laki yang tidak menghamilinya? Dan kepada siapakah dinasabkan anaknya?

Jawabannya ; Dalam hal ini para ulama kita telah berselisih menjadi dua madzhab. Madzhab yang pertama mengatakan boleh dan halal dinikahi dengan alasan bahwa perempuan tersebut hamil karena zina bukan dari hasil nikah. Sebagaimana kita ketahui bahwa syara’ (agama) tidak menganggap sama sekali anak yang lahir dari hasil zina seperti terputusnya nasab dan lain-lain sebagaimana beberapa kali kami jelaskan di muka. Oleh karena itu halal baginya menikahinya dan menyetubuhinya tanpa harus menunggu perempuan tersebut melahirkan anaknya.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Syafi’iy dan Imam Abu Hanifah. Hanya saja Abu Hanifah mensyaratkan tidak boleh disetubuhi sampai perempuan tersebut melahirkan.

Adapun madzhab kedua mengatakan haram dinikahi sampai perempuan tersebut melahirkan, beralasan kepada beberapa hadits.

Hadits Pertama.
“Artinya : Dri Abu Darda dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah melewati seorang perempuan [29] yang sedang hamil tua sudah dekat waktu melahirkan di muka pintu sebuah kemah. Lalu beliau bersabda, “Barangkali dia [30] (yakni laki-laki yang memiliki tawanan [31] tersebut) mau menyetubuhinya!?”. Jawab mereka, “Ya”. Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku berkeinginan untuk melaknatnya dengan satu laknat yang akan masuk bersamanya ke dalam kuburnya [32] bagaimana dia mewarisinya padahal dia tidak halal baginya, bagaimana dia menjadikannya sebagai budak padahal dia tidak halal baginya!?” [33]
[Hadits Shahih riwayat Muslim 4/161]

Hadits Kedua
“Artinya : Dari Abu Said Al-khudriy dan dia memarfu’kannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tawanan-tawanan perang Authaas [34], “Janganlah disetubuhi perempuan yang hamil sampai dia melahirkan dan yang tidak hamil sampai satu kali haid”
[Hadits riwayat Abu Dawud (no.2157), Ahmad (3/28, 62, 87) dan Ad-Darimi (2/171)]

Hadits Ketiga
“Artinya : Dari Ruwaifi Al-Anshariy –ia berdiri di hadapan kita berkhotbah-, ia berkata : Adapaun sesungguhnya aku tidak mengatakan kepada kamu kecuali apa-apa yang aku dengan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada hari Hunain, beliau bersabda, “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [35] orang lain –yakni menyetubuhi perempuan hamil- [36] Dan tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyetubuhi perempuan dari tawanan perang sampai perempuan itu bersih. Dan tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk mejual harta rampasan perang sampai dibagikan. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menaiki kendaraan dari harta fa’i [37] kaum muslimin sehingga apabila binatang tersebut telah lemah ia baru mengembalikannya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memakai pakaian dari harta fa’i kaum muslimin sehingga apabila pakaian tersebut telah rusak ia baru megembalikannya”
[Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 2158 dan 2150) dan Ahmad (4/108-109) dengan sanad Hasan]

Dan Imam Tirmidzi (no. 1131) meriwayatkan juga hadits ini dari jalan yang lain dengan ringkas hanya pada bagian pertama saja dengan lafadz.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyiramkan air (mani)nya ke anak orang lain (ke anak yang sedang dikandung oleh perempuan yang hamil oleh orang lain)”.

Inilah yang menjadi madzhabnya Imam Ahmad dan Imam Malik. Dan madzhab yang kedua ini lebih kuat dari madzhab yang pertama dan lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

Adapun masalah nasab anak dia dinasabkan kepada ibunya tidak kepada laki-laki yang menzinai dan menghamili ibunya dan tidak juga kepada laki-laki yang menikahi ibunya setelah ibunya melahirkannya. Atau dengan kata lain dan tegasnya anak yang lahir itu adalah anak zina!

Bacalah dua masalah di kejadian yang ke lima ini di kitab-kitab.
[1]. Al-Mughni Ibnu Qudamah Juz 9 hal. 561 s/d 565 tahqiq Doktor Abdullah bn Abdul Muhsin At-Turkiy.
[2]. Al-Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 15 hal. 30-31
[3]. Al-Ankihatul Faasidah (hal. 255-256])
[4]. Fatawa Al-Islamiyyah Juz 2 halaman 353-354 dan 374-375 oleh Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin dan lain-lain.

[6]. Kejadian Yang Keenam : Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil
Apabila terjadi akad nikah yang fasid (rusak) atau batil yaitu setiap akad nikah yang telah diharamkan syara’ (agama) atau hilang salah satu dari rukunnya sehingga akad nikah tersebut tidak sah seperti ;
1). Nikah dengan mahram [38]
2). Nikah dengan ibu susu atau saudara sepersusuan
3). Nikah dengan istri bapak atau istri anak atau mertua atau dengan anak tiri
4). Nikah mu’tah
5). Nikah lebih dari empat orang istri
6). Nikah dengan istri orang lain
7). Nikah dengan perempuan yang sedang ‘iddah
8). Nikah seorang muslim dengan wanita selain dari wanita ahlul kitab (Yahudi dan Nashara)
9). Nikah tanpa wali
10). Nikah sir (rahasia) tanpa saksi
11). Mengumpulkan dua orang bersaudara dalam satu perkawinan
12). Mengumpulkan seorang perempuan dengan bibinya dalam satu perkawinan

Dan lain-lain dari perkawinan yang rusak menurut agama. [39]

Maka apabila keduanya tidak mengetahui fasid dan batilnya akad keduanya, maka keduanya tidak berdosa dan tidak dikenakan hukuman dan anak dinasabkan kepada bapaknya seperti pernikahan yang sah meskipun keduanya langsung dipisahkan karena fasidnya akad keduanya. Dan disamakan dengan orang yang tidak mengetahui yaitu orang yang mendapat fatwa tentang sahnya nikah yang fasid dan batil tersebut sebagaimana banyak terjadi pada zaman kita sekarang ini khususnya mengenai nikah mut’ahnya kaum Syi’ah rafidhah [40]. Adapun apabila mereka telah mengetahui tentang fasid dan batilnya akad nikah tersebut, maka tidak syak lagi tentang dosanya dan wajib bagi mereka dikenakan hukuman kemudian anak tidak dinasabkan kepada bapaknya.

Masalah : Bagaimana hukumnya apabila yang mengetahui tentang haramnya perkawinan tersebut hanya salah satu pihak, imam pihak laki-laki atau pihak perempuan?.

Jawabanya : Maka hukumnya terkena kepada yang mengetahui tidak kepada yang tidak mengetahui. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak laki-laki, maka dia berdosa dan dikenakan hukuman dan anak tidak dinasabkan kepadanya. Kalau yang mengetahui hukumnya itu pihak perempuan, maka dia yang berdosa dan dikenakan hukuman kepadanya dan anak tetap dinasabkan kepada bapaknya (pihak laki-laki). Wallahu a’lam.

[Disalin dari kitab Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti, Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam Jakarta, Cetakan I – Th 1423H/2002M]
__________
Foote Note
[29].Perempuan ini adalah seorang tawanan perang yang tertawan dalam keadaan hamil tua.
[30]. Disini ada lafadz yang hilang yang takdirnya beliau bertanya tentang perempuan tersebut dan dijawab bahwa perempuan tersebut adalah tawanan si Fulan.
[31]. Hadits yang mulia ini salah satu dalil dari sekian banyak dalil tentang halalnya menyetubuhi tawanan perang meskipun tidak dinikahi. Karena dengan menjadi tawanan dia menjadi milik orang yang menawannya atau milik orang yang diberi bagian dari hasil ghanimah (rampasan perang) meskipun dia masih menjadi istri orang (baca ; orang kafir). Maka dengan menjadi tawanan fasakhlah (putuslah) nikahnya dengan suaminya. (Baca Syarah Muslim Juz 10. hal.34-36).
[32]. Hadits yang mulia ini pun menjadi dalil tentang haramnya menyetubuhi tawanan perang yang hamil sampai selesai iddahnya yaitu sampai ia melahirkan dan yang tidak hamil ber’iddah satu kali haid sebagaimana ditunjuki oleh hadits yang kedua insya Allah.
Berdasarkan hadits yang mulia ini madzhab yang kedua mengeluarkan hukum tentang haramnya menikahi dan menyetubuhi perempuan yang hamil oleh orang lain sampai ia melahirkan.
[33]. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana dia mewarisinya … dan seterusnya”, yakni bagaimana mungkin laki-laki itu mewarisi anak yang dikandung oleh perempuan tersebut padahal anak itu bukan anaknya. Dan bagaimana mungkin dia menjadikan anaknya itu sebagai budaknya padahal anak itu bukan anaknya. Wallahu a’lam.
[34]. Authaas adalah satu tempat di Thaif
[35]. Ke rahim orang lain yang telah membuahkan anak
[36]. Penjelasan ini imma dari Ruwaifi atau dari yang selainnya
[37]. Harta fa-i harta yang didapat oleh kaum muslimin dari orang-orang kafir tanpa peperangan. Akan tetapi imam kaum kuffar menyerah sebelum berperang atau mereka melarikan diri meninggalkan harta-harta mereka.
[38]. Mahram ialah setiap perempuan yang haram dinikahi seperti ibu, saudara, anak, bibi, dan lain-lain.
[39]. Baca Al-Ankihatul Faasidah
[40]. Bacalah risalah kami tentang masalah ini dengan judul Nikah Mut’ah = Zina

http://www.almanhaj.or.id/content/2254/slash/0
[/quote]

buYanto

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 126
  • Reputasi: 3
  • Laa ilaha illalloh Muhammad rosululloh
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #41 pada: Januari 14, 2012, 11:10:57 am »
wahduh  tobat  ampuuuuun   gw nyasar  kesini jadi ikut  pusiiiiiisng  ,, ngabur  ah

gancanester

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 26
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • modal gaul paling asyik
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #42 pada: Januari 20, 2012, 03:18:26 pm »
ijin nyimak dulu deh... sy belum menegrti nih, hehe... #belum nikah, dan belum saatnya, heehe

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re:HAMIL DI LUAR NIKAH DAN MASALAH NASAB ANAK
« Jawab #43 pada: Mei 09, 2012, 03:44:21 pm »
Nasab Anak Zina Dengan Ayah Biologisnya, Adakah?
Soal :

Ustadz, dapatkan anak zina dihubungkan nasabnya dengan ayah biologisnya, yaitu laki-laki yang berzina dengan ibu anak zina itu?


Ali,Bogor

Jawab :

Anak zina adalah anak yang dilahirkan oleh ibunya melalui jalan yang tak syar’i, atau anak dari hasil hubungan yang diharamkan. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 8/430).

Mengenai nasab anak zina dengan ayah biologisnya, seluruh fuqaha sepakat jika seorang perempuan telah bersuami atau menjadi budak dari tuannya (sayyid), lalu dia mempunyai anak zina, maka anak itu tak dapat dinasabkan kepada ayah biologisnya. Anak itu wajib dinasabkan kepada suami sah perempuan tadi, selama tak ada pengingkaran oleh suami dengan li’an. (Wahbah Zuhaili, Ahkam Al Aulad An Natijin an Az Zina, hlm. 13; Ahmad Abdul Majid Husain, Ahkam Walad Az Zina fi Al Fiqh Al Islami, hlm. 28; M. Ra`fat Utsman, Hal Yashihhu Nisbah Walad Az Zina ila Az Zani, hlm. 8; Abdul Aziz Fauzan, Hukm Nisbah Al Maulud Ila Abihi min Al Madkhul Biha Qabla Al ‘Aqad, hlm. 21).

Imam Ibnu Qudamah berkata, “Para ulama sepakat bahwa jika lahir seorang anak dari seorang perempuan yang berstatus istri dari seorang laki-laki, lalu ada laki-laki lain yang mengklaim itu anaknya, maka anak itu tak dapat dinasabkan dengan laki-laki lain tadi.” (Lihat Ibnu Qudamah, Al Mughni, 9/123; Ibnu Abdil Barr, At Tamhid, 3/569).

Dalilnya sabda Rasulullah SAW,”Al walad li al firasy wa li al ‘ahir al hajar” (Anak itu adalah bagi pemilik firasy [laki-laki berstatus suami/pemilik budak], dan bagi yang berzina hanya mendapat batu). (HR Bukhari, no 6749). Firasy secara harfiyah artinya tempat tidur (bed). Dalam hadits ini firasy artinya perempuan yang sah digauli secara syar’i, baik sebagai istri melalui nikah maupun sebagai budak perempuan (milkul yamin). (M. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha, hlm. 260).

Adapun jika seorang perempuan tak bersuami atau bukan budak perempuan, lalu mempunyai anak zina, maka di sini ada khilafiyah. Pertama, jumhur ulama dari empat mazhab, juga mazhab Zhahiri, berpendapat anak zina itu tak dapat dinasabkan kepada ayah biologisnya. Kedua, sebagian ulama, seperti Hasan Bashri, Ibnu Sirin, Ibrahim Nakha`i, Ishaq bin Rahawaih, juga Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, berpendapat anak zina yang demikian itu sah dinasabkan kepada ayah biologisnya. (Imam Kasani, Bada`i’us Shana`i’, 6/243; Imam Sarakhsi, Al Mabsuth, 17/154; Imam Maliki, Al Mudawwanah Al Kubra, 2/556; Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 9/123; Ibnu Hazm, Al Muhalla, 10/142; Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/425).

Pendapat jumhur berdalil antara lain dengan keumuman hadits “wa li ‘aahir al hajar” (bagi orang yang berzina hanya mendapat batu), yang maknanya pezina hanya mendapat kerugian (khaibah), yakni tak dapat mengklaim anak zina sebagai anaknya. (Ibnu Hajar Asqalani, Fathul Bari, 12/36).

Pendapat kedua berdalil bahwa hadits “al walad li al firasy” hanya berlaku jika terjadi kasus rebutan klaim anak zina antara pemilik firasy (suami/pemilik budak) dengan laki-laki yang berzina. Dalam kondisi ini  anak zina adalah hak pemilik firasy, bukan hak laki-laki yang berzina. Hal ini menurut mereka sejalan dengan sababul wurud hadits tersebut, yaitu kasus rebutan klaim anak zina dari seorang budak perempuan. Jadi jika anak zina lahir dari perempuan tak bersuami atau bukan budak, hadits itu tak berlaku sehingga anak zina tak ada halangan untuk dinasabkan kepada ayah biologisnya. (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/425).

Pendapat yang rajih adalah pendapat jumhur, sebab diperkuat dengan keumuman hadits-hadits lain yang menggugurkan dalil pendapat kedua. Sabda Rasulullah SAW, “Siapa saja laki-laki yang berzina dengan seorang budak perempuan atau perempuan merdeka, maka anaknya adalah adalah anak zina, dia (anak zina) itu tak dapat mewariskan dan menerima waris.” (HR Tirmidzi, disahihkan oleh Al Albani; Sunan At Tirmidzi Ma’a Ahkam Al Albani, hlm. 477). Penafian hubungan waris ini menunjukkan penafian nasab, sebab hubungan waris adalah implikasi dari nasab. Maka anak zina secara mutlak tak dapat dinasabkan kepada ayah biologisnya, baik perempuan yang dizinai bersuami atau tidak. (Ahmad Abdul Majid Husain, Ahkam Walad Az Zina fi Al Fiqh Al Islami, hlm. 68). Wallahu a’lam. (Ustadz Siddiq al Jawie)
http://hizbut-tahrir.or.id/2012/04/04/nasab-anak-zina-dengan-ayah-biologisnya-adakah/