Penulis Topik: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD  (Dibaca 5148 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« pada: Oktober 24, 2007, 08:07:07 pm »
DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD

Dan bila sudah jelas kepalsuan argumentasi yang menolak kehujjahan hadits ahad dalam masalah aqidah, maka dalil yang mewajibkan menerimanya banyak sekali, baik dari Al Qur’an maupun hadits, yaitu :

[1]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”[At Taubah : 122]

Ayat ini memerintahkan umat untuk belajar agama. Dan kata “golongan” (thaifah) tersebut dapat digunakan untuk seorang atau beberapa orang.

Imam Bukhari berkata : “Satu orang manusia dapat dikatakan golongan.” Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.” [Al Hujurat : 9]

Maka jika ada dua orang berperang, orang tersebut masuk dalam arti ayat di atas [15]. Jika perkataan seseorang yang berkaitan dengan masalah agama dan dapat diterima, maka ini sebagai dalil bahwa berita yang disampaikannya itu dapat dijadikan hujjah. Dan belajar agama itu meliputi akidah dan hukum, bahkan belajar akidah itu lebih penting daripada belajar hokum [16].

[2]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” [Al Hujurat : 6]

Dalam sebagian qira’ah, ((Fatasyabbatu : Berhati-hatilah))[17]. Ini menunjukkan atas kepastian dalam menerima hadits seorang yang terpecaya. Dan itu tidak membutuhkan kehati-hatian karena dia tidak terlibat kefasikan-kefasikan meskipun yang diceritakan itu tidak memberikan pengetahuan yang perlu untuk diteliti sehingga mencapai derajat ilmu [18].

[3]. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya).” [An Nisa’ : 59]

Ibnul Qayyim berkata : “Ummat Islam sepakat bahwa mengembalikan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah ketika beliau masih hidup, dan kembali kepada sunnahnya setelah beliau wafat. Mereka pun telah sepakat pula bahwa kewajiban mengembalikan hal ini tidak akan pernah gugur dengan sebab meninggalnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Bila hadits mutawatir dan ahad itu tidak memberikan ilmu dan kepastian (yakin), maka mengembalikan kepadanya itu tidak perlu [19].”

Adapun dalil-dalil dari hadits itu banyak sekali, antara lain :

[a]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengutus delegasi dengan hanya satu orang utusan kepada para Raja satu persatu. Begitu juga para penguasa negara. Manusia kembali kepada mereka dalam segala hal, baik hukum maupun keyakinan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengutus Abu Ubaidah Amir bin Al Jarrah radhiallahu 'anhu ke negara Najran [20], Muadz bin Jabbal radhiallahu 'anhu ke negara Yaman [21]. Dihyah Al Kalbi radhiallahu 'anhu dengan membawa surat kepada pembesar Bashrah [22] dan lain-lain.

. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhu, ia berkata :“Ketika manusia ada di Quba’ menjalankan shalat Shubuh ada orang yang datang kepada mereka, dia berkata sesungguhnya telah diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Al Qur’an pada waktu malam, dan beliau diperintah untuk mengahadap Ka’bah, maka mereka menghadap Ka’bah dan wajah mereka sebelumnya menghadap Syam, kemudian beralih ke Ka’bah [23].” Dan tidak dikatakan bahwa ini hukum amali karena perbuatan hukum ini berdasarkan atas keyakinan keshahihan hadits.

[c]. Dan dari Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Ada seorang shahabat Anshar, apabila dia tidak bertemu dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, saya mendatanginya dengan menyampaikan khabar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, bila saya tidak hadir, maka orang tersebut datang kepadaku membawa khabar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. [24]”

Maka inilah peristiwa yang dilakukan shahabat, yang memperlihatkan kepada kita bahwa satu orang dari kalangan shahabat sudah cukup untuk menerima hadits yang disampaikan oleh satu orang dalam urusan agamanya, baik yang berkaitan dengan keyakinan maupun perbuatan.

[d]. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu, ia berkata : “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Allah memancarkan cahaya kepada orang yang mendengar hadits dari kami, yang dia hafalkan kemudian disampaikannya. Banyak orang yang menyampaikan itu lebih memadai daripada orang yang mendengar.[25]”

Dan ini tidak terbatas pada hadits yang berkaitan dengan amaliyah, tetapi bersifat umum, meliputi hadits amaliyah, hukum, dan i’tiqad. Apabila masalah-masalah akidah yang ditetapkan dengan hadits-hadits ahad itu tidak wajib diimani, tentu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam masalah ini tidak menyampaikan haditsnya secara mutlak, tetapi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menerangkan masalah itu terbatas pada hadits yang berkaitan dengan amaliyah saja tidak lainnya.

Dan pendapat yang mengatakan bahwa hadits ahad itu tidak bisa dijadikan dasar dalam hal aqidah, itu merupakan pendapat bid’ah dan mengada-ada yang tidak ada dasarnya dalam agama. Dan ulama Salafus Shalih tidak pernah ada yang mengatakan demikian, bahkan hal itu tidak pernah terlintas pada mereka. Andaikata kata dalil Qath’iy yang menunjukkan bahwa hadits ahad itu tidak layak untuk masalah aqidah, niscaya sudah dimengerti dan sudah dijelaskan shahabat dan ulama Salaf. Kemudian pendapat bid’ah tersebut berarti menolak beratus-ratus hadits shahih dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Maka orang yang tidak mengambil hadits ahad dalam masalah aqidah, niscaya mereka menolak beberapa hadits ahad tentang akidah lainnya, seperti tentang :

[1]. Keistimewaan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melebihi semua Nabi ‘Alaihimus Salam.
[2]. Syafaatnya yang besar di akhirat.
[3]. Syafaatnya terhadap umatnya yang melakukan dosa besar.
[4]. Semua Mu’jizat selain Al Qur’an.
[5]. Proses permulaan makhluk, sifat Malaikat dan Jin, sifat Neraka dan Surga yang tidak diterangkan dalam Al Qur’an.
[6]. Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur.
[7]. Himpitan kubur terhadap mayit.
[8]. Jembatan, telaga, dan timbangan amal.
[9]. Keimanan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan kepada semua manusia akan keselamatannya, sengsaranya, rizkinya, dan matinya ketika masih dalam kandungan ibunya.
[10]. Keistimewaan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang dikumpulkan oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al Khasha’is Al Kubra, seperti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam masuk ke Surga ketika beliau masih hidup dan melihat penduduknya serta hal-hal yang disediakan untuk orang yang bertakwa.
[11]. Berita kepastian bahwa sepuluh shahabat dijamin masuk Surga.
[12]. Bagi orang yang melakukan dosa besar tidak kekal selama-lamanya dalam neraka.
[13]. Percaya kepada hadits shahih tentang sifat Hari Kiamat dan Padang Mahsyar yang tidak dijelaskan dalam Al Qur’an.
[14]. Percaya terhadap semua tanda kiamat, seperti keluarnya Imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam, keluarnya api, munculnya matahari dari barat, dan binatang-binatang, dan lain-lain. Kemudian semua dalil akidah, menurut mereka tidak sah dengan hadits ahad. Dalil-dalil aqidah itu bukan dengan hadits ahad, tetapi dalilnya harus dengan hadits mutawatir. Akan tetapi karena sedikitnya ilmu orang yang mengingkari kehujjahan hadits ahad itu maka mereka menolak semua akidah yang berdasarkan hadits shahih [26].

[Disalin dari buku Asyratus Sa’ah, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, MA, Terbitan Pustaka Mantiq, Cetakan Kedua Nopember 1997. Hal. 38-45]
_________
Foote Note
[15]. Lihat Shahih Bukhari dan Fathul Bari 13/231.
[16]. Lihat Al Aqidah fii Allah halaman 51.
[17]. Lihat Tafsir Asy Syaukhani 5/60.
[18]. Lihat Kewajiban Mengambil Hadits Ahad Tentang Aqidah halaman 7, karya Syaikh Al Albani.
[19]. Lihat Mukhtashar Ash Shawwa’iq 2/352 karya Imam Ibnul Qayyim.
[20]. Lihat Shahih Bukhari 13/232.
[21]. Lihat Shahih Bukhari 3/261.
[22]. Lihat Shahih Bukhari 13/241.
[23]. Lihat Shahih Bukhari 13/232.
[24]. Lihat Shahih Bukhari 13/232.
[25]. Lihat Musnad Ahmad, 6/96, hadits nomor 4157 tahqiq Ahmad Syakir, Imam Ahmad meriwayatkan dengan dua sanad shahih, lihat tentang hadits : “Allah memancarkan cahaya kepada orang yang mendengar kata-kataku, baik secara riwayah maupun dirayah.” Halaman 33 dan seterusnya karya Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad Al ‘Abbad, cetakan Al Rasyid Madinah Al Munawarah, cetakan I, 1401 H.
[26]. Lihat Risalah Wajib Mengambil Hadits Ahad Tentang Aqidah halaman 36-39 dan kitab Aqidah halaman 54-55 karya Umar Asyqar.

http://www.almanhaj.or.id/content/2100/slash/1

faritz

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #1 pada: Oktober 24, 2007, 08:14:43 pm »
mending sebaiknya digabung saja dalam pembahasan di thread ini:

http://forum.dudung.net/index.php/topic,1523.0.html

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #2 pada: Oktober 29, 2007, 09:12:32 pm »
mas-mas emang kelemahan HT hanya masalah hadist ahad ?
emang tujuan da'wah antum mencegat jalan orang yang berjuang ?
apa lagi yang orang HT belum berikan tentang hadist ahad tidak bisa dijadikan hujjah dalam aqidah ?
imam-imam madzhab aja gak jadikan hadist ahad sebagai hujjah dalam aqidah
khan teman-teman HT udah jelaskan semua, bahkan berulang-ulang
jadi antum sudah baca, bahwa HT hanya mengambil dari para pendahulu ( salafy yang dulu )

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #3 pada: Oktober 29, 2007, 09:36:12 pm »
 Akhi-akhi Tolong dibaca (Ane Khawatir antum males baca watu ini disampaikan disini)

Akhi,

HIZBUT TAHRIR bukanlah peletak dasar yang mengeluarkan pendapat bahwa Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah. Ketika HT lahir (1953), kedua pendapat itu sudah ada. HT hanya memilih diantara dua pendapat yang berbeda tersebut kemudian dijadikan / ditabani sebagai pendapat HT. Jadi Claim antum yang menyebutkan bahwa pendapat tersebut adalah hanyalah pendapat Nyleneh HIZBUT TAHRIR Insya Allah akan terbantah dengan sendirinya. Berikut pendapat ulama yang menyatakan bahwa Hadits Ahad tidak bisa dijadikan dasar dalam masalah aqidah tetapi bisa digunakan dalam masalah hukum syariat.

Sayyid Qutub dalam tafsir Fi Dzilalil Quran menyatakan, bahwa, hadits ahad tidak bisa dijadikan sandaran (hujjah) dalam menerima masalah ‘aqidah.  Al-Quranlah rujukan yang benar, dan kemutawatirannya adalah syarat dalam menerima pokok-pokok ‘aqidah .

Imam Syaukani menyatakan, “Khabar ahad adalah berita yang dari dirinya sendiri tidak menghasilkan keyakinan. Ia tidak menghasilkan keyakinan baik secara asal, maupun dengan adanya qarinah dari luar…Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama.   Imam Ahmad menyatakan bahwa, khabar ahad dengan dirinya sendiri menghasilkan keyakinan.  Riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Hazm dari Dawud al-Dzahiriy, Husain bin ‘Ali al-Karaabisiy dan al-Harits al-Muhasbiy.’

Prof Mahmud Syaltut menyatakan, ‘Adapun jika sebuah berita diriwayatkan oleh seorang, maupun sejumlah orang pada sebagian thabaqat –namun tidak memenuhi syarat mutawatir [pentj]—maka khabar itu tidak menjadi khabar mutawatir secara pasti jika dinisbahkan kepada Rasulullah saw.  Ia hanya menjadi khabar ahad. Sebab, hubungan mata rantai sanad yang sambung hingga Rasulullah saw masih mengandung syubhat (kesamaran).  Khabar semacam ini tidak menghasilkan keyakinan (ilmu) .” 

Beliau melanjutkan lagi, ‘Sebagian ahli ilmu, diantaranya adalah imam empat (madzhab) , Imam Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’iy dan Imam Ahmad dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa hadits ahad tidak menghasilkan keyakinan.”

Al-Ghazali berkata, ‘Khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan.  Masalah ini –khabar ahad tidak menghasilkan keyakinan—merupakan perkara yang sudah dimaklumi.  Apa yang dinyatakan sebagian ahli hadits bahwa ia menghasilkan ilmu, barangkali yang mereka maksud dengan menghasilkan ilmu adalah kewajiban untuk mengamalkan hadits ahad.  Sebab, dzan kadang-kadang disebut dengan ilmu.”

Imam Asnawiy menyatakan, “Sedangkan sunnah, maka hadits ahad tidak menghasilkan apa-apa kecuali dzan ”

Imam Bazdawiy menambahkan lagi, ‘Khabar ahad selama tidak menghasilkan ilmu tidak boleh digunakan hujah dalam masalah i’tiqad (keyakinan).  Sebab, keyakinan harus didasarkan kepada keyakinan.  Khabar ahad hanya menjadi hujjah dalam masalah amal. ”

Imam Asnawiy menyatakan, “Riwayat ahad hanya menghasilkan dzan.  Namun, Allah swt membolehkan dalam masalah-masalah amal didasarkan pada dzan….”

Al-Kasaaiy menyatakan, “Jumhur fuqaha’ sepakat, bahwa hadits ahad yang tsiqah bisa digunakan dalil dalam masalah ‘amal (hukum syara’), namun tidak dalam masalah keyakinan…” 

Imam Al-Qaraafiy salah satu ‘ulama terkemuka dari kalangan Malikiyyah berkata, “..Alasannya, mutawatir berfaedah kepada ilmu sedangkan hadits ahad tidak berfaedah kecuali hanya dzan saja.” 

Al-Qadliy berkata, di dalam Syarh Mukhtashar Ibn al-Haajib berkata, “’Ulama berbeda pendapat dalam hal hadits ahad yang adil, dan terpecaya, apakah menghasilkan keyakinan bila disertai dengan qarinah. Sebagian menyatakan, bahwa khabar ahad menghasilkan keyakinan dengan atau tanpa qarinah. Sebagian lain berpendapat hadits ahad tidak menghasilkan ilmu, baik dengan qarinah maupun tidak.”
Syeikh Jamaluddin al-Qasaamiy, berkata, “Jumhur kaum muslim, dari kalangan shahabat, tabi’in, dan ‘ulama-ulama setelahnya, baik dari kalangan fuqaha’, muhadditsin, serta ‘ulama ushul; sepakat bahwa khabar ahad yang tsiqah merupakan salah satu hujjah syar’iyyah; wajib diamalkan, dan hanya menghasilkan dzan saja, tidak menghasilkan ‘ilmu.” 

Dr. Rifat Fauziy, berkata, “Hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang,dua orang, atau lebih akan tetapi belum mencapai tingkat mutawatir, sambung hingga Rasulullah saw. Hadits semacam ini tidak menghasilkan keyakinan, akan tetapi hanya menghasilkan dzan….akan tetapi, jumhur ‘Ulama berpendapat bahwa beramal dengan hadits ahad merupakan kewajiban.”

Perlu diketahui Akhi, bahwa ulama-ulama di atas sepengetahuan saya bukan anggota HIZBUT TAHRIR. Jadi pendapat bahwa hadits Ahad tidak bisa digunakan untuk masalah Aqidah, tetapi hanya bisa digunakan untuk masalah syariat adalah pendapat "Nyleneh" para ulama2 di atas.   



Sebagai penutup saya ingin mengingatkan rosul pernah menyampaikan. Bahwa tidak akan masuk Syurga orang yang dihatinya ada kesombongan. Dan, salah satu bentuk kesombongan adalah menolak kebenaran karena kebenaran tersebut disampaikan oleh orang yang bukan dari kelompoknya.


Wallahu'alam Bishowab
Saudaramu,




M. Mahfudz Ali
Orang "Nyleneh"
« Edit Terakhir: Oktober 29, 2007, 09:41:29 pm oleh Jaenudin »

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #4 pada: Oktober 30, 2007, 05:17:32 am »
akhi, bukannya sombong tulisan sebegitu banyak bukan apa-apa bagi ana ana udah biasa baca artikel yang banyak akhi.

Kalolah itu benar tentu lebih dulu ulama-ulam ahli hadits telah menukilkan dari pada saudara Mahfudz Ali. Karena Syakh Albany, Syaikh Bin Baaz dan lainnya rahimahumullah lebih faqih tentang ilmu hadits.

Apakah Imam Ghazali ahli Hadits? Dan kalaulah juga Pendapat Imam-Imam tersebut benar tentu pendapat tersebut bagian dari satu pendapat jumhurul 'ulam yang tidak diambil.

Para Sahabat dan orang-orang sesudahnya yang terdiri dari para tabi'in dan generasi Salaf umat ini, baik yang mengatakan, bahwa hadits Ahad itu menunjukkan ilmu yang yakin maupun yang berpendapat hadits Ahad menunjukkan zhann, mereka berijma' (sepakat) atas wajibnya mengamalkan hadits Ahad, tidak ada yang berselisih dari mereka kecuali kelompok yang tidak masuk hitungan, seperti sebagian Mu'tazilah dan Rafidhah.[Al-Ahkaam oleh al-Amidi (2/64), Irsyad al-Fukul (hal. 48-49)].

Maka Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Maha Suci Allah! Apakah kamu melihat saya dalam bai’at, kamu melihat saya diikat? Saya berkata kepadamu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah menetapkan, dan kamu bertanya, ‘bagaimana pendapatmu?’ ”[lihat Mukhtashar Ash Shawwa’iq Al Mursalah ala Al Jahmiyah wa Al Mu’aththilah 2/350, karya Ibnul Qayyim diringkas oleh Muhammad bin Al Masih, diedarkan oleh Lembaga Kajian Ilmiyah dan Fatwa Riyadh dan lihat Ar Risalah Imam Syafi’i halaman 401, tahqiq Ahmad Syakir terbitan Al Muhtar Al Islamiyyah cetakan II 1399 H, dan lihat Syarah Ath Thahawi halaman 399 karya Ibnu Abil Izz]. Kemudian Imam Syafi’i rahimahullah menjawab : “Apabila saya meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, lalu saya tidak mengambilnya, maka saya akan meminta kamu agar menjadi saksi bahwa akal saya telah hilang[lihat Mukhtashar Ash Shawwa’iq 2/350].” Imam Syafi’i rahimahullah tidak membedakan antara hadits ahad atau mutawatir, hadits tentang aqidah atau amaliyah. Namun yang dibicarakannya hanya berkisar tentang shahih atau tidaknya suatu hadits.

Hadits Ahad menunjukkan zhann secara mutlak, baik disokong oleh beberapa indikasi maupun tidak. Pendapat mi merupakan pendapat para ulama ushul fiqih secara umum yang diikuti oleh sebagian ahli hadits mutaakhkhirin seperti Imam an-Nawawi rahimahullah[lihat Kitab Tadrib ar-Rawi (1/132) dan Syarah Shahih Muslim (1/20)]. .

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Hadits ini menunjukkan, bahwa hadits Rasulullah harus diambil, sekalipun nash yang sesuai dengan kandungannya tidak di dapati dalam Kitabullah. Tetapi nash itu ada di tempat lain."

Dalil lain yang dikemukakan oleh Imam asy-Syafi'i rahimahullah adalah peristiwa perpindahan arah kiblat yang dilakukan oleh penduduk Quba' ke Ka'bah dengan hadits Ahad.

Dengan sanadnya yang sampai kepada 'Abdullah bin 'Umar, Imam asy-Syafi'i rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu 'Umar:

"Ketika orang-orang di Quba' sedang shalat shubuh, datanglah seseorang, lalu ia berkata: 'Telah turun al-Qur'an kepada Rasulullah, beliau disuruh shalat menghadap Ka'bah.' Maka ketika mendengar berita itu, mereka langsung memutar badannya yang pada waktu itu sedang menghadap ke arah negeri Syam menjadi ke Ka'bah."[Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam as-Shalat (1/157), Muslim dalam as-Shaleh (1/148), yang terdapat dalam al-Umm (1/81)].

Jika HTI mengambil pendapat demikian(menolak hadits ahad untuk aqidah), bisakah antum jawab kenapa hadits ahad untuk hukum diterimanya padahal hal yang menerangkannya hadits ahad yang didalamnya terdapat unsur dzanni.

Akhi-akhi Tolong dibaca (Ane Khawatir antum males baca watu ini disampaikan disini)
Imam Syaukani menyatakan, “Khabar ahad adalah berita yang dari dirinya sendiri tidak menghasilkan keyakinan. Ia tidak menghasilkan keyakinan baik secara asal, maupun dengan adanya qarinah dari luar…Ini adalah pendapat jumhur ‘ulama.   Imam Ahmad menyatakan bahwa, khabar ahad dengan dirinya sendiri menghasilkan keyakinan.  Riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Hazm dari Dawud al-Dzahiriy, Husain bin ‘Ali al-Karaabisiy dan al-Harits al-Muhasbiy.’


Untuk Pendapatnya Imam Syaukani rahimahullah yang antum posting ada hal yang terpotong dalam nukilan tersebut. Padahal Imam Syaukani rahimahullah mengatakan :

"Ketahuilah, bahwa selisih pendapat yang kami sebutkan pada awal pembahasan ini, yaitu pembahasan tentang hadits Ahad, bahwa hadits Ahad menunjukkan ilmu (yang yakin) atau zhann, terikat oleh syarat, yaitu bila hadits tersebut tidak ada hadits lain yang memperkuatnya. Adapun jika ada hadits yang memperkuatnya, atau hadits tersebut masyhur atau mustafidh, maka tak ada selisih pendapat antara ulama, seperti yang telah disebutkan"[lihat kitab Irsyad al-Fuhul (hal. 49)].

Terdapat cacat nukilan yang saudara mahfudz ali nukilkan...

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata:

"Menurut hemat saya, tidak boleh bagi seorang ulama untuk menetapkan banyak hadits Ahad, kemudian ia menghalalkan dan mengharamkan sesuai dengannya, akan tetapi la juga menolak hadits sepertinya (dalam beberapa hal) kecuali jika ia memiliki hadits yang bertolak belakang dengannya akan lebih kuat atau orang yang riwayat-nya diambil lebih tsiqah (terpercaya) bagmya dan orang yang meriwayatkan kepadanya dengan riwayat yang berbeda, atau orang yang meriwayatkannya bukan hafizh (orang yang hafal hadits). Atau orang itu dicurigai/dituduh berdusta atau perawi yang di atasnya tertuduh (berdusta) atau karena hadits itu mengandung kemungkinan dua makna hingga dita'wil dan salah satu maknanya diambil. Bila tidak karena alasan ini, maka apa yang diperbuatnya itu adalah satu kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Wallhua a’lam [lihat Ar-Risalah 459-460].

Syaikh al-Islam rahimahullah dalam karangannya yang berjudul "Rafu al-Malam min A'immati al-A'lam" telah menyebutkan 10 sebab mengapa ulama tidak mengambil/mengamalkan hadits Nabi, insya Allah jika terdapat salah satu sebab pada mereka, dapat dimaklumi. Di antara sebab itu adalah:

1. Hadits itu tidak sampai kepadanya.
2. Hadits itu sampai kepadanya tetapi menurutnya hadits itu tidak shahih karena lupa atau salah menilai, atau karena ia tidak menemukan makna yang dimaksudnya saat berfatwa, atau ia meyakini hadits itu tidak mengandung makna yang dimaksud.
3. Meyakini, bahwa hadits tersebut bertentangan dengan sesuatu yang menunjukkan kelemahannya atau menunjukkan, bahwa hadits itu telah mansukh (tidak berlaku/ dihapus), atau harus di ta'wil[Majmu'al-Fatawa (20/232). Lihat Mukhtashar Sbawa'iq al-Mursalah (2/370) dan Lawami' ]

nukilan sepenuhnya diambil dari:
http://www.bicaramuslim.com/bicara6/viewtopic.php?t=8257
« Edit Terakhir: Oktober 30, 2007, 05:22:04 am oleh abu_ahmad syafiq »

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #5 pada: Oktober 30, 2007, 09:20:52 am »
Syukron Ustadz, jelas bagi ane kalau suatu perkara emiliki keterangan lain yang menguatkan bukan persoalan yang dibahas disini, justru yang jadi persoalan adalah hadist ahad itu bertentangan dengan keterangan lain yang lebih kuat.
Tapi ane juga udah jelas bahwa antum hanya menjadikan rujukkan pada Ulama antum sendir.
sykron, semoga Allah senantiasa membimbing kita sehingga hati kita mengeras sepert batu
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 74)
Ayat ini saya kutif bukan saya menuduh, hanya untuk saling mengingatkan ( afwan ustadz sekali lagi ilmu antum ane akui jauh dari yang ane miliki tapi kalau apa yang sudah dijalaskan seperti itu tidak mau terima juga, karena bukan dari ustadz kelompok antum ini menjadi persoalan bagi saya)
Afwan Ustadz mengajak manusia tidak dengan "menggiring seperti kebo" tapi dengan memberikan pemahaman atas dasar hujjah yang lebih kuat
Dan ane terus terang jadi gak ( tsiqoh ), padahal terus terang ane berharap dapat menjadikan antum sebagai Narasumber(guru), masa ane minta tolong cari hadist itu aja gak mau, mungkin antum takut menjadi hujjah ane dalam dialog dengan antum ( Insya Allah ane cari sendiri, karena ane sering mendengarnya ).
Maaf ane disini tidak bermaksud membela HT atau siapapun, yang ane ingin adalah kebenaran dengan hujjah yang kuat sengga dalam menjalani kehidupan menjadi qanaah.
Gagal deh ane punya guru
Setahu ane teman-teman dari HT bisa belajar dari siapa saja, termasuk dari salafy ( yang mengaku salafy ), tapi saya yakin orang HT tidak akan mau kalau pola mengajak mereka "seperti menggiring kebo"
Setahu ane, ide HT yang mungkin tidak terlalu populer hanya dalam tahapan da'wah menuju tegaknya Khilafah, Sedangkan aqidahnya dari salafy, Khilafahnya sendri dari salafy, ibadanya salafy, muamalahnya dari salafy.
Sekali lagi afwan Ustadz
Perang di bulan haram adalah dosa besar tapi menghalang-halangi manusia dari jalan Allah lebih besar dosanya
Assalamu'alaikum wr.wb

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #6 pada: Oktober 30, 2007, 11:51:11 am »
silahkan dibahas disini mumupung waktunya tepat.


Tapi ane juga udah jelas bahwa antum hanya menjadikan rujukkan pada Ulama antum sendir.

bukan "ulama ana akhi, tapi jumhurul 'ulama. Dan...yang mengusung tertolaknya hadits ahad untuk aqidah yang populer adalah diambil oleh HTI. Dan ternyata mayoritas kaum muslimin tidak seperti hal yang diambil(hadits ahad untuk aqidah tertolak) oleh HTI

Dan yang menerima hadits ahad untuk aqidah mayoritas kaum muslimin antum, boleh tanya kepada semua yang hadir di sini bukan saja mereka yang bermadzhab salafy...
« Edit Terakhir: Oktober 30, 2007, 11:55:32 am oleh abu_ahmad syafiq »

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #7 pada: Oktober 30, 2007, 11:55:47 am »
Wah Ane baru dengan mazhab salafy ?
Ane minta pendapat yang lain nih, masalahnya baru tau hari ini bahwa salafy itu mazhab ?

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #8 pada: Oktober 30, 2007, 11:56:58 am »
Maaf ikhwan yang belum shalat ? shalat dulu ini bisa dilanjutkan nanti

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #9 pada: Oktober 30, 2007, 12:11:09 pm »
Wah Ane baru dengan mazhab salafy ?
Ane minta pendapat yang lain nih, masalahnya baru tau hari ini bahwa salafy itu mazhab ?
ya, emang salafy yang antum tahu apa? madzhab salafy adalah cara beragamanya orang-orang terdahulu generasi terbaik dari ummat Islam.

Pembahasan rincinya telah terurai dalam ulasan terdahulu yang terpisah...

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #10 pada: Oktober 30, 2007, 12:25:25 pm »
Berarti salafy bukan lagi milik seluruh kaum muslimin ?
Padahal para imam madzhab terdahulu tetap saling menghormati, walaupun berbeda madzhab

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #11 pada: Oktober 30, 2007, 12:39:03 pm »
bisa antum bikin thread baru? ;;)

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: DALIL-DALIL KEHUJAHAN HADITS AHAD
« Jawab #12 pada: Oktober 30, 2007, 12:41:44 pm »
Gak usah mas ane udah jelas