Penulis Topik: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN  (Dibaca 9694 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« pada: Juli 31, 2006, 05:15:58 am »
Dr. Yusuf Qardhawi

PERTANYAAN

Banyak perkataan dan fatwa seputar masalah (boleh  tidaknya)
laki-laki bergaul dengan perempuan (dalam satu tempat). Kami
dengar diantara ulama ada yang mewajibkan wanita untuk tidak
keluar  dari  rumah  kecuali ke kuburnya, sehingga ke masjid
pun   mereka   dimakruhkan.   Sebagian   lagi    ada    yang
mengharamkannya, karena takut fitnah dan kerusakan zaman.
 
Mereka mendasarkan pendapatnya pada perkataan Ummul Mu'minin
Aisyah r.a.: "Seandainya Rasulullah saw. mengetahui apa yang
diperbuat  kaum  wanita  sepeninggal  beliau, niscaya beliau
melarangnya pergi ke masjid."
 
Kiranya sudah tidak samar  bagi  Ustadz  bahwa  wanita  juga
perlu keluar rumah ketengah-tengah masyarakat untuk belajar,
bekerja, dan bersama-sama  di  pentas  kehidupan.  Jika  itu
terjadi,  sudah  tentu wanita akan bergaul dengan laki-laki,
yang boleh jadi merupakan teman sekolah, guru, kawan  kerja,
direktur perusahaan, staf, dokter dan sebagainya.
 
Pertanyaan  kami,  apakah  setiap pergaulan antara laki-laki
dengan perempuan itu terlarang atau  haram?  Apakah  mungkin
wanita  akan hidup tanpa laki-laki, terlebih pada zaman yang
kehidupan  sudah  bercampur  aduk  sedemikian  rupa?  Apakah
wanita  itu  harus  selamanya  dikurung  dalam sangkar, yang
meskipun berupa sangkar emas, ia tak lebih  sebuah  penjara?
Mengapa  laki-laki  diberi  sesuatu  (kebebasan)  yang tidak
diberikan   kepada   wanita?   Mengapa    laki-laki    dapat
bersenang-senang   dengan   udara  bebas,  sedangkan  wanita
terlarang menikmatinya? Mengapa persangkaan jelek itu selalu
dialamatkan   kepada  wanita,  padahal  kualitas  keagamaan,
pikiran, dan hati nurani wanita tidak lebih rendah  daripada
laki-laki?
 
Wanita   -   sebagaimana   laki-laki   -  punya  agama  yang
melindunginya, akal yang mengendalikannya, dan  hati  nurani
(an-nafs    al-lawwamah)    yang    mengontrolnya.   Wanita,
sebagaimana laki-laki, juga punya  gharizah  atau  keinginan
yang  mendorong  pada  perbuatan  buruk  (an-nafs al-ammarah
bis-su). Wanita dan laki-laki  sama-sama  punya  setan  yang
dapat  menyulap  kejelekan  menjadi keindahan serta membujuk
rayu mereka.
 
Yang menjadi pertanyaan, apakah semua peraturan  yang  ketat
untuk wanita itu benar-benar berasal dari hukum Islam?
 
Kami  mohon  Ustadz  berkenan  menjelaskan  masalah ini, dan
bagaimana seharusnya sikap kita? Dengan kata lain, bagaimana
pandangan  syariat  terhadap  masalah  ini?  Atau, bagaimana
ketentuan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang sahih,  bukan  kata
si Zaid dan si Amr.
 
Semoga  Allah memberi taufik kepada Ustadz untuk menjelaskan
kebenaran dengan mengemukakan dalil-dalilnya.

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #1 pada: Juli 31, 2006, 05:17:06 am »
JAWABAN

Kesulitan kita - sebagaimana yang sering  saya  kemukakan  -
ialah   bahwa  dalam  memandang  berbagai  persoalan  agama,
umumnya masyarakat berada dalam kondisi ifrath  (berlebihan)
dan  tafrith (mengabaikan). Jarang sekali kita temukan sikap
tawassuth   (pertengahan)   yang   merupakan   salah    satu
keistimewaan dan kecemerlangan manhaj Islam dan umat Islam.
 
Sikap  demikian  juga  sama  ketika mereka memandang masalah
pergaulan wanita muslimah di tengah-tengah masyarakat. Dalam
hal   ini,   ada   dua   golongan   masyarakat  yang  saling
bertentangan dan menzalimi kaum wanita.
 
Pertama,  golongan  yang  kebarat-baratan  yang  menghendaki
wanita  muslimah  mengikuti  tradisi Barat yang bebas tetapi
merusak nilai-nilai agama dan menjauh dari fitrah yang lurus
serta  jalan yang lempang. Mereka jauh dari Allah yang telah
mengutus para rasul  dan  menurunkan  kitab-kitab-Nya  untuk
menjelaskan dan menyeru manusia kepada-Nya.
 
Mereka  menghendaki wanita muslimah mengikuti tata kehidupan
wanita  Barat  "sejengkal  demi  sejengkal,   sehasta   demi
sehasta"  sebagaimana  yang  digambarkan  oleh  hadits Nabi,
sehingga andaikata wanita-wanita Barat itu masuk  ke  lubang
biawak niscaya wanita muslimah pun mengikuti di belakangnya.
Sekalipun lubang biawak tersebut melingkar-lingkar,  sempit,
dan pengap, wanita muslimah itu akan tetap merayapinya. Dari
sinilah lahir "solidaritas"  baru  yang  lebih  dipopulerkan
dengan istilah "solidaritas lubang biawak."
 
Mereka  melupakan  apa yang dikeluhkan wanita Barat sekarang
serta akibat buruk yang  ditimbulkan  oleh  pergaulan  bebas
itu,  baik  terhadap  wanita maupun laki-laki, keluarga, dan
masyarakat.    Mereka    sumbat    telinga    mereka    dari
kritikan-kritikan  orang yang menentangnya yang datang silih
berganti dari seluruh penjuru  dunia,  termasuk  dari  Barat
sendiri.  Mereka tutup telinga mereka dari fatwa para ulama,
pengarang,  kaum  intelektual,  dan   para   muslihin   yang
mengkhawatirkan  kerusakan yang ditimbulkan peradaban Barat,
terutama jika semua ikatan dalan pergaulan antara  laki-laki
dan perempuan benar-benar terlepas.
 
Mereka   lupa  bahwa  tiap-tiap  umat  memiliki  kepribadian
sendiri yang dibentuk oleh aqidah dan pandangannya  terhadap
alam  semesta,  kehidupan, tuhan, nilai-nilai agama, warisan
budaya, dan tradisi. Tidak boleh suatu masyarakat  melampaui
tatanan suatu masyarakat lain.
 
Kedua,  golongan  yang  mengharuskan  kaum  wanita mengikuti
tradisi dan kebudayaan  lain,  yaitu  tradisi  Timur,  bukan
tradisi  Barat.  Walaupun  dalam  banyak  hal  mereka  telah
dicelup oleh pengetahuan agama, tradisi mereka tampak  lebih
kokoh  daripada  agamanya. Termasuk dalam hal wanita, mereka
memandang rendah dan sering berburuk sangka kepada wanita.

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #2 pada: Juli 31, 2006, 05:18:42 am »
Bagaimanapun, pandangan-pandangan diatas bertentangan dengan
pemikiran-pemikiran lain yang mengacu pada Al-Qur'anul Karim
dan petunjuk  Nabi  saw.  serta  sikap  dan  pandangan  para
sahabat yang merupakan generasi muslim terbaik.
 
Ingin   saya   katakan   disini   bahwa   istilah  ikhtilath
(percampuran)  dalam  lapangan  pergaulan  antara  laki-laki
dengan  perempuan  merupakan  istilah  asing yang dimasukkan
dalam  "Kamus  Islam."  Istilah  ini  tidak  dikenal   dalam
peradaban  kita  selama  berabad-abad  yang  silam, dan baru
dikenal  pada  zaman  sekarang  ini  saja.   Tampaknya   ini
merupakan  terjemahan  dari  kata  asing yang punya konotasi
tidak menyenangkan terhadap perasaan umat Islam.  Barangkali
lebih   baik  bila  digunakan  istilah  liqa'  (perjumpaan),
muqabalah  (pertemuan),   atau   musyarakrah   (persekutuan)
laki-laki dengan perempuan.
 
Tetapi  bagaimanapun  juga,  Islam  tidak  menetapkan  hukum
secara   umum   mengenai   masalah   ini.    Islam    justru
memperhatikannya  dengan  melihat  tujuan  atau kemaslahatan
yang    hendak    diwujudkannya,    atau     bahaya     yang
dikhawatirkannya,  gambarannya, dan syarat-syarat yang harus
dipenuhinya, atau lainnya.
 
Sebaik-baik petunjuk dalam masalah ini ialah  petunjuk  Nabi
Muhammad saw., petunjuk khalifah-khalifahnya yang lurus, dan
sahabat-sahabatnya yang terpimpin.
 
Orang yang mau memperhatikan petunjuk ini, niscaya  ia  akan
tahu bahwa kaum wanita tidak pernah dipenjara atau diisolasi
seperti yang terjadi pada zaman kemunduran umat Islam.
 
Pada zaman Rasulullah saw.,  kaum  wanita  biasa  menghadiri
shalat berjamaah dan shalat Jum'at. Beliau saw. menganjurkan
wanita  untuk  mengambil  tempat  khusus  di  shaf   (baris)
belakang  sesudah  shaf  laki-laki. Bahkan, shaf yang paling
utama bagi wanita adalah shaf yang paling belakang. Mengapa?
Karena,  dengan  paling  belakang,  mereka lebih terpelihara
dari kemungkinan melihat aurat  laki-laki.  Perlu  diketahui
bahwa   pada  zaman  itu  kebanyakan  kaum  laki-laki  belum
mengenal celana.
 
Pada zaman Rasulullah  saw.  (jarak  tempat  shalat)  antara
laki-laki  dengan perempuan tidak dibatasi dengan tabir sama
sekali,  baik  yang  berupa  dinding,  kayu,  kain,   maupun
lainnya.  Pada  mulanya  kaum  laki-laki dan wanita masuk ke
masjid lewat pintu  mana  saja  yang  mereka  sukai,  tetapi
karena  suatu  saat  mereka  berdesakan,  baik  ketika masuk
maupun keluar, maka Nabi saw. bersabda:
 
"Alangkah baiknya kalau kamu jadikan pintu ini untuk wanita"
 
Dari sinilah mula-mula diberlakukannya  pintu  khusus  untuk
wanita,  dan  sampai  sekarang  pintu  itu  terkenal  dengan
istilah "pintu wanita."

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #3 pada: Juli 31, 2006, 05:21:42 am »
Kaum wanita pada  zaman  Nabi  saw.  juga  biasa  menghadiri
shalat  Jum'at,  sehingga  salah seorang diantara mereka ada
yang hafal surat "Qaf."  Hal  ini  karena  seringnya  mereka
mendengar  dari  lisan  Rasulullah  saw.  ketika  berkhutbah
Jum'at.
 
Kaum wanita juga biasa menghadiri shalat  Idain  (Hari  Raya
Idul Fitri dan Idul Adha). Mereka biasa menghadiri hari raya
Islam yang besar ini bersama  orang  dewasa  dan  anak-anak,
laki-laki  dan  perempuan,  di tanah lapang dengan bertahlil
dan bertakbir.
 
Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyah, katanya:
 
"Kami diperintahkan  keluar  (untuk  menunaikan  shalat  dan
mendengarkan  khutbah)  pada  dua  hari  raya, demikian pula
wanita-wanita pingitan dan para gadis."
 
Dan menurut satu riwayat Ummu Athiyah berkata:
 
"Rasulullah saw. menyuruh kami mengajak keluar  kaum  wanita
pada  hari  raya  Fitri  dan Adha, yaitu wanita-wanita muda,
wanita-wanita yang sedang haid,  dan  gadis-gadis  pingitan.
Adapun   wanita-wanita   yang   sedang  haid,  mereka  tidak
mengerjakan  shalat,  melainkan  mendengarkan  nasihat   dan
dakwah  bagi umat Islam (khutbah, dan sebagainya). Aku (Ummu
Athiyah) bertanya, 'Ya  Rasulullah  salah  seorang  diantara
kami  tidak  mempunyai  jilbab.' Beliau menjawab, 'Hendaklah
temannya meminjamkan jilbab yang dimilikinya.'"1
 
Ini adalah sunnah yang telah dimatikan umat Islam  di  semua
negara   Islam,  kecuali  yang  belakangan  digerakkan  oleh
pemuda-pemuda Shahwah Islamiyyah (Kebangkitan Islam). Mereka
menghidupkan  sebagian  sunnah-sunnah  Nabi  saw. yang telah
dimatikan orang, seperti sunnah i'tikaf  pada  sepuluh  hari
terakhir  bulan  Ramadhan  dan  sunnah kehadiran kaum wanita
pada shalat Id.
 
Kaum  wanita  juga  menghadiri   pengajian-pengajian   untuk
mendapatkan  ilmu  bersama  kaum laki-laki di sisi Nabi saw.
Mereka  biasa  menanyakan  beberapa  persoalan  agama   yang
umumnya malu ditanyakan oleh kaum wanita. Aisyah r.a. pernah
memuji wanita-wanita Anshar yang tidak dihalangi  oleh  rasa
malu  untuk  memahami  agamanya,  seperti menanyakan masalah
jinabat,  mimpi  mengeluarkan  sperma,  mandi  junub,  haid,
istihadhah, dan sebagainya.
 
Tidak hanya sampai disitu hasrat mereka untuk menyaingi kaum
laki-laki dalam menimba-ilmu dari Rasululah saw. Mereka juga
meminta   kepada   Rasulullah  saw.  agar  menyediakan  hari
tertentu untuk mereka, tanpa disertai  kaum  laki-laki.  Hal
ini  mereka  nyatakan  terus  terang kepada Rasulullah saw.,
"Wahai Rasulullah,  kami  dikalahkan  kaum  laki-laki  untuk
bertemu  denganmu,  karena  itu  sediakanlah untuk kami hari
tertentu  untuk  bertemu  denganmu."  Lalu  Rasulullah  saw.
menyediakan  untuk  mereka  suatu hari tertentu guna bertemu
dengan   mereka,   mengajar   mereka,    dan    menyampaikan
perintah-perintah kepada mereka.2
 
Lebih dari itu kaum wanita juga turut serta dalam perjuangan
bersenjata untuk membantu tentara dan para  mujahid,  sesuai
dengan  kemampuan  mereka dan apa yang baik mereka kerjakan,
seperti merawat yang sakit dan terluka, disamping memberikan
pelayanan-pelayanan lain seperti memasak dan menyediakan air
minum. Diriwayatkan dari Ummu Athiyah, ia berkata:
 
"Saya turut berperang bersama Rasulullah saw. sebanyak tujuh
kali,  saya tinggal di tenda-tenda mereka, membuatkan mereka
makanan, mengobati yang terluka, dan merawat yang sakit."3
 
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Anas:
 
"Bahwa Aisyah dan Ummu Sulaim pada waktu perang Uhud  sangat
cekatan  membawa qirbah (tempat air) di punggungnya kemudian
menuangkannya ke mulut orang-orang, lalu mengisinya lagi."4
 
Aisyah r.a.   yang waktu itu sedang  berusia  belasan  tahun
menepis   anggapan   orang-orang   yang   mengatakan   bahwa
keikutsertaan kaum wanita dalam  perang  itu  terbatas  bagi
mereka  yang  telah  lanjut  usia.  Anggapan ini tidak dapat
diterima, dan apa yang dapat  diperbuat  wanita-wanita  yang
telah berusia lanjut dalam situasi dan kondisi yang menuntut
kemampuan fisik dan psikis sekaligus?
 
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa enam orang wanita mukmin turut
serta dengan pasukan yang mengepung Khaibar. Mereka memungut
anak-anak panah, mengadoni  tepung,  mengobati  yang  sakit,
mengepang  rambut,  turut berperang di jalan Allah, dan Nabi
saw memberi mereka bagian dari rampasan perang.
 
Bahkan terdapat riwayat yang sahih yang  menceritakan  bahwa
sebagian  istri  para  sahabat  ada  yang  turut serta dalam
peperangan  Islam  dengan  memanggul  senjata,  ketika   ada
kesempatan   bagi   mereka.  Sudah  dikenal  bagaimana  yang
dilakukan Ummu Ammarah Nusaibah  binti  Ka'ab  dalam  perang
Uhud,  sehingga  Nabi  saw.  bersabda mengenai dia, "Sungguh
kedudukannya lebih baik daripada si Fulan dan si Fulan."

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #4 pada: Juli 31, 2006, 05:23:11 am »
Demikian pula Ummu Sulaim menghunus badik pada waktu  perang
Hunain untuk menusuk perut musuh yang mendekat kepadanya.
 
Imam  Muslim  meriwayatkan  dari  Anas,  anaknya  (anak Ummu
Sulaim) bahwa Ummu Sulaim menghunus badik pada waktu  perang
Hunain,  maka  Anas menyertainya. Kemudian suami Ummu Sulaim
Abu Thalhah, melihatnya lantas berkata,  "Wahai  Rasulullah,
ini Ummu Sulaim membawa badik." Lalu Rasululah saw. bertanya
kepada Ummu Sulaim, "Untuk apa badik ini? Ia menjawab, "Saya
mengambilnya,  apabila  ada  salah seorang musyrik mendekati
saya akan saya tusuk perutnya dengan  badik  ini."  Kemudian
Rasulullah saw. tertawa.5
 
Imam Bukhari telah membuat bab tersendiri didalam Shahih-nya
mengenai peperangan yang dilakukan kaum wanita.
 
Ambisi kaum wanita muslimah pada zaman Nabi saw. untuk turut
perang  tidak hanya peperangan dengan negara-negara tetangga
atau yang berdekatan dengan negeri Arab seperti Khaibar  dan
Hunain  saja  tetapi  mereka  juga ikut melintasi lautan dan
ikut menaklukkan daerah-daerah yang jauh  guna  menyampaikan
risalah Islam.
 
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bahwa
pada suatu hari Rasulullah saw. tidur  siang  di  sisi  Ummu
Haram  binti  Mulhan  -  bibi  Anas - kemudian beliau bangun
seraya tertawa. Lalu Ummu Haram  bertanya,  "Mengapa  engkau
tertawa,  wahai  Rasulullah?" Beliau bersabda, "Ada beberapa
orang dari umatku yang diperlihatkan kepadaku  berperang  fi
sabilillah.  Mereka  menyeberangi  lautan  seperti raja-raja
naik kendaraan."  Ummu  Haram  berkata,  "Wahai  Rasulullah,
doakanlah  kepada  Allah  agar  Dia menjadikan saya termasuk
diantara mereka." Lalu Rasulullah saw. mendoakannya.6
 
Dikisahkan bahwa Ummu Haram ikut  menyeberangi  lautan  pada
zaman  Utsman  bersama suaminya Ubadah bin Shamit ke Qibris.
Kemudian ia jatuh dari  kendaraannya  (setelah  menyeberang)
disana,  lalu  meninggal  dan  dikubur  di  negeri tersebut,
sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli sejarah.7
 
Dalam kehidupan bermasyarakat kaum wanita juga  turut  serta
berdakwah:   menyuruh   berbuat  ma'ruf  dan  mencegah  dari
perbuatan munkar, sebagaimana firman Allah:
 
"Dan  orang-orang  yang  beriman,  laki-laki  dan  perempuan
sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang
lain. Mereka menyuruh (mengerjakan)  yang  ma'ruf,  mencegah
dari yang munkar..." (at-Taubah: 71 )
 
Diantara  peristiwa  yang terkenal ialah kisah salah seorang
wanita muslimah pada zaman khalifah Umar  bin  Khattab  yang
mendebat beliau di sebuah masjid. Wanita tersebut menyanggah
pendapat Umar mengenai masalah mahar (mas  kawin),  kemudian
Umar  secara terang-terangan membenarkan pendapatnya, seraya
berkata, "Benar wanita itu,  dan  Umar  keliru."  Kisah  ini
disebutkan   oleh   Ibnu   Katsir  dalam  menafsirkan  surat
an-Nisa', dan beliau berkata, "Isnadnya  bagus."  Pada  masa
pemerintahannya,  Umar juga telah mengangkat asy-Syifa binti
Abdullah al-Adawiyah sebagai pengawas pasar.

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #5 pada: Juli 31, 2006, 05:24:32 am »
KESIMPULAN
 
Dari penjelasan  di  atas,  kita  dapat  menyimpulkan  bahwa
pertemuan  antara  laki-laki  dengan  perempuan tidak haram,
melainkan  jaiz  (boleh).  Bahkan,  hal  itu   kadang-kadang
dituntut  apabila  bertujuan  untuk  kebaikan, seperti dalam
urusan  ilmu  yang  bermanfaat,   amal   saleh,   kebajikan,
perjuangan,  atau  lain-lain  yang memerlukan banyak tenaga,
baik dari laki-laki maupun perempuan.
 
Namun,  kebolehan  itu  tidak  berarti   bahwa   batas-batas
diantara  keduanya menjadi lebur dan ikatan-ikatan syar'iyah
yang baku dilupakan. Kita tidak perlu menganggap  diri  kita
sebagai  malaikat  yang  suci  yang  dikhawatirkan melakukan
pelanggaran, dan kita pun  tidak  perlu  memindahkan  budaya
Barat  kepada  kita.  Yang  harus kita lakukan ialah bekerja
sama dalam kebaikan serta  tolong-menolong  dalam  kebajikan
dan  takwa,  dalam  batas-batas  hukum yang telah ditetapkan
oleh Islam. Batas-batas hukum tersebut antara lain:
 
1. Menahan pandangan dari kedua belah pihak. Artinya, tidak
   boleh melihat aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat,
   tidak berlama-lama memandang tanpa ada keperluan. Allah
   berfirman:
   
   "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,
   'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
   kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi
   mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
   mereka perbuat.' Katakanlah kepada wanita yang beriman,
   'Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara
   kemaluannya ..."(an-Nur: 30-31)
   
2. Pihak wanita harus mengenakan pakaian yang sopan yang
   dituntunkan syara', yang menutup seluruh tubuh selain muka
   dan telapak tangan. Jangan yang tipis dan jangan dengan
   potongan yang menampakkan bentuk tubuh. Allah berfirman:
   
   "... dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali
   yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka
   menutupkan kain kudung ke dadanya ..." (an-Nur: 31 )
   
   Diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa perhiasan yang
   biasa tampak ialah muka dan tangan.
   
   Allah berfirman mengenai sebab diperintahkan-Nya berlaku
   sopan:
   
   "... Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
   dikenal, karena itu mereka tidak diganggu ..." (al-Ahzab:
   59)
   
   Dengan pakaian tersebut, dapat dibedakan antara wanita yang
   baik-baik dengan wanita nakal. Terhadap wanita yang
   baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya,
   sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang
   yang melihatnya untuk menghormatinya.
   
3. Mematuhi adab-adab wanita muslimah dalam segala hal,
   terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki:
   
a. Dalam perkataan, harus menghindari perkataan yang merayu
   dan membangkitkan rangsangan. Allah berfirman:
   
   "... Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga
   berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan
   ucapkanlah perkataan yang baik." (al-Ahzab: 32)
   
b. Dalam berjalan, jangan memancing pandangan orang. Firman
   Allah:
   
   "... Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
   perhiasan yang mereka sembunyikan..." (an-Nur: 31)
   
   Hendaklah mencontoh wanita yang diidentifikasikan oleh Allah
   dengan firman-Nya:
   
   "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua
   wanita itu berjalan kemalu-maluan ..." (al-Qashash: 25)
   
c. Dalam gerak, jangan berjingkrak atau berlenggak-lenggok,
   seperti yang disebut dalam hadits:
   
   "(Yaitu) wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan
   menjadikan hati laki-laki cenderung kepada kerusakan
   (kemaksiatan).8 HR Ahmad dan Muslim)
   
   Jangan sampai ber-tabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana
   yang dilakukan wanita-wanita jahiliah tempo dulu atau pun
   jahiliah modern
   
4. Menjauhkan diri dari bau-bauan yang harum dan warna-warna
   perhiasan yang seharusnya dipakai di rumah, bukan di jalan
   dan di dalam pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.
   
5. Jangan berduaan (laki-laki dengan perempuan) tanpa
   disertai mahram. Banyak hadits sahih yang melarang hal ini
   seraya mengatakan, 'Karena yang ketiga adalah setan.'
   
   Jangan berduaan sekalipun dengan kerabat suami atau istri.
   Sehubungan dengan ini, terdapat hadits yang berbunyi:
   
   "Jangan kamu masuk ke tempat wanita." Mereka (sahabat)
   bertanya, "Bagaimana dengan ipar wanita." Beliau menjawab,
   "Ipar wanita itu membahayakan." (HR Bukhari)
   
   Maksudnya, berduaan dengan kerabat suami atau istri dapat
   menyebabkan kebinasaan, karena bisa jadi mereka duduk
   berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.
   
6. Pertemuan itu sebatas keperluan yang dikehendaki untuk
   bekerja sama, tidak berlebih-lebihan yang dapat mengeluarkan
   wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah, atau
   melalaikannya dari kewajiban sucinya mengurus rumah tangga
   dan mendidik anak-anak.

fie_vie

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.417
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Wanita
  • no body's perfect
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #6 pada: Juli 31, 2006, 12:11:58 pm »
subhanallah.............
panjang sekali.......... ??? ???

PernikMuslim

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.033
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Pria
  • Silahkan hubungi saya, saya akan membantu anda :)
    • Lihat Profil
    • PERNIKMUSLIM.com :: Toko Buku Muslim OnLine PENUH KEJUTAN!! :)
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #7 pada: Juli 31, 2006, 01:50:45 pm »
Ini saya sertakan FATWA dari samahatus syaikh Abdul Aziz bin Baz

CAMPUR BAURNYA PEREMPUAN DENGAN LAKI-LAKI DI PABRIK


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz







Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa hukum memperlakukan kaum wanita seperti kaum laki-laki di pabrik-pabrik atau kantor-kantor yang tidak Islami ? Dan apa hukum pemeriksaan wanita yang terancam bahaya karena menderita penyakit berbahaya yang menghruskannya untuk disendirikan dalam kondisi ini, walaupun itu di negara-negara Islam, sementara para dokter semuanya laki-laki ?

Jawaban.
Mengenai hukum campur baurnya kaum wanita dengan kaum laki-laki di pabrik-pabrik dan kantor-kantor, yang mana pekerjanya terdiri dari kaum kuffar dan berada di negara-negara kafir, maka hal ini tidak boleh. Namun sebenarnya ada yang lebih dari itu, yaitu kufurnya mereka terhadap Allah Azza wa Jalla, tentu tidak aneh jika terjadi kemungkaran semacam ini pada mereka.

Adapun campur baurnya kaum wanita dengan laki-laki di negara-negara Islam, yang mana mereka pun sebagai orang-orang Islam, maka hal ini haram, dan para pemimpin instansi bersangkutan yang di kantor-kantornya terjadi ikhtilat wajib memisahkan kaum wanita dari kaum laki-laki dengan menempatkan masing-masing kaum di tempat tersendiri, karena ikhtiltat ini mengandung perusak moral yang tidak luput dari pengetahuan orang yang dangkal akalnya sekalipun.

Adapun menyendirikan seorang wanita muslimah untuk tujuan pengobatan, jika untuk pengobatannya menuntut demikian dan tidak ada yang bisa mengobatinya kecuali laki-laki maka hal ini boleh, tapi hendaknya dihadiri oleh suaminya jika memungkinkan atau dengan keberadaan wanita-wanita lainnya. Hendaknya dalam masalah ini seorang wanita tidak disendirikan kecuali karena darurat, misalnya karena untuk pemeriksaan tubuhnya.

Dasar pembolehannya adalah prinsip mudahnya syari’at dan peniadaan kesempitan terhadap umat pada saat darurat, sebagaimana disebutkan Allah dalam firmanNya.

“Artinya : Allah tidak hendak menyulitkan kamu� [Al-Ma’idah : 6]

Dalam ayat lain disebutkan.

“Artinya : Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan� [Al-Haj : 78]

[Fatwa Ha’iah Kibaril Ulama, Juz 2, hal. 613, Syaikh Ibnu Baz]


[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, hal 521 – 522 Darul Haq]

PernikMuslim

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.033
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Pria
  • Silahkan hubungi saya, saya akan membantu anda :)
    • Lihat Profil
    • PERNIKMUSLIM.com :: Toko Buku Muslim OnLine PENUH KEJUTAN!! :)
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #8 pada: Juli 31, 2006, 02:03:13 pm »
setelah memperhatikan kedua tulisan, kok ana nggak melihat dengan apa Dr. Qardhawi berdalil pada penetapan hukum ikhtilath, kecuali dengan akal dan logika yah ;)

coba anta lihat tulisan ini :

Kaum wanita pada  zaman  Nabi  saw.  juga  biasa  menghadiri
shalat  Jum'at,  sehingga  salah seorang diantara mereka ada
yang hafal surat "Qaf."  Hal  ini  karena  seringnya  mereka
mendengar  dari  lisan  Rasulullah  saw.  ketika  berkhutbah
Jum'at.

Apakah ini benar?? kalo iya mana dalilnya? sipa yang meriwayatkan??

tentang sholat 'Ied, memang kaum wanita di perintahkan untuk ikut keluar rumah. tapi apakah dengan ini menjadikan wanita diperbolehkan keluar rumah, sementara Rasulullah memakruhkan shalat wajib di masjid?? dan anta pasti sudah tahu tentang pendapat 'Aisyah tentang wanita yang keluar rumah. maka kenapa tidak kau cukupkan pendapat dari seorang sahabiah itu??

kalo mau ditanya, yang mana yang lebih utama, sholat 'Ied, ato sholat fardhu?
nah, lalu kenapa anta mengumumkan dalil boleh keluarnya saat sholat 'Ied, tapi mengesampingkan makruhnya sholat fardhu di luar rumah???

PernikMuslim

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.033
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Pria
  • Silahkan hubungi saya, saya akan membantu anda :)
    • Lihat Profil
    • PERNIKMUSLIM.com :: Toko Buku Muslim OnLine PENUH KEJUTAN!! :)
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #9 pada: Juli 31, 2006, 02:05:11 pm »
sekalian nih ada fatwa satu lagi yang berhubungan ;) selamat membaca

APAKAH SHALATNYA SEORANG WANITA DI RUMAH LEBIH UTAMA ATAUKAH DI MASJDIL HARAM


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin





Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah shalatnya seorang wanita di rumah lebih utama ataukah di Masjidil haram ?

Jawaban
Shalat sunnah di rumah adalah lebih utama baik bagi kaum pria ataupun bagi kaum wanita, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat-shalat fardhu"

Karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat-shalat sunnah di rumahnya, padahal beliau sendiri bersabda :

"Artinya : Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di tempat-tempat lain kecuali Masjidil Haram"

Berdasarkan sabda ini maka kami katakan : Jika telah dikumandangkan adzan Zhuhur, sementara saat itu Abda sedang ada di rumah Anda, yang mana Anda berdomisili di Mekkah, dan Anda hendak melakukan shalat Zhuhur di Masjidil Haram, maka yang paling utama Anda lakukan adalah hendaknya Anda melaksanakan shalat Rawatib Zhuhur di rumah Anda kemudian Anda datang ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat Zhuhur dan sebelumnya Anda melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid. Sebagian ulama berpendapat bahwa berlipat gandanya pahala shalat di ketiga masjid ini adalah khusus pada shalat-shalat fardhu, karena shalat fardhu inilah yang hendaknya dilaksanakan di masjid-masjid itu, adapun shalat sunnah maka pahalanya tidak dilipat gandakan. Namun pendapat yang benar adalah bahwa berlipat gandanya pahala adalah bersifat umum, yaitu untuk semua shalat baik shalat fardhu maupun shalat sunnat, hanya saja shalat sunnat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi atau Masjid Al-Aqsha tidak berarti lebih baik jika dibanding dengan di rumah, bahkan shalat sunat yang dilakukan di rumah adalah lebih utama. Akan tetapi jika seseorang masuk ke dalam Masjidil Haram lalu ia melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid di Masjidil Haram. maka itu lebih baik seratus ribu kali kebaikan dari pada shalat Tahiyatul Masjid di masjid-masjid lainnya, dan shalat Tahiyatul Masjid di Masjid Nabawi lebih baik dari seribu shalat tahiyatul masjid di masjid-masjid lainnya. Begitu juga jika Anda datang dan masuk ke dalam Masjidil Haram lalu Anda melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid, kemudian untuk menanti tiba waktunya shalat fardhu Anda melaksanakan shalat sunah, maka sesungguhnya shalat sunah itu lebih baik dari seratus ribu shalat sunah serupa dari pada di masjid-masjid lainnya.

Masih ada pertanyaan lain sehubungan dengan hal tadi, yaitu tentang shalat malam (shalat tarawih pada bulan ramadhan), apakah bagi wanita lebih utama melaksanakannya di Masjidil Haram atau di rumah .?

Jawabannya adalah : Untuk shalat-shalat fardhu, maka lebih utama dilaksanakan di rumah, sebab sehubungan dengan shalat fardhu bagi kaum wanita, maka Masjidil Haram seperti masjid-maasjid lainnya. Adapun shalat malam Ramadhan, sebagian ahli ilmi mengatakan : Bahwa yang lebih utama bagi kaum wanita adalah melaksanakan shalat malam di masjid-masjid, berdasarkan dalil bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan keluarga serta mengimami mereka dalam melaksanakan shalat malam du bulan Ramadhan, dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'anhu dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu 'anhu, bahwa kedua sahabat Rasulullah ini memerintahkan seorang pria untuk mengimami shalat kaum wanita di masjid dan dalam masalah in saya belum bisa memastikan karena dua atsar yang diriwayatkan dari Umar dan Utsaman itu lemah sehingga tidak bisa diajdikan hujjah, begitu juga yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan keluarganya tidak menjelaskan bahwa beliau mengumpulkan mereka di masjid untuk shalat berjama'ahg. Dan saya belum bisa memastikan, manakah yang lebih utama bagi seorang wanita, melaksanakan shalat tarawih di rumahnya atau di Masjidil Haram ? Dan yang lebih utama baginya adalah shalat di rumahnya, kecuali jika ada nash yang menyebutkan dengan jelas bahwa shalatnya di Masjidil Haram adalah lebih utama. Akan tetapi jika ia datang ke Masjidil Haram maka diharapkan mendapatkan pahala sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Shalat di Masjidil Haram sama dengan seratus ribu shalat (di masjid-masjid lain)"

Namun jika kehadirannya dapat menimbulkan fitnah, maka tidak diragukan lagi bahwa shalat di rumahnya adalah lebih utama.

[Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/228]


[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal.144-145, penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin]

fadhillah

  • Pengunjung
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #10 pada: Agustus 02, 2006, 07:10:19 pm »
ass wr wb...

saya akan berusaha memberi komentar bukan menjawab tapi hendak memberikan pemahaman saya ...

pergaulan pria dab wanita bukan mahromnya sudah banyak di sebutkan dalam hadist dan all quran sendiri

contoh : surah an nur 30-31
disitu jelas sekali tertulis agar pria-wania menundukkan pandangannya
jadi memang pria dan wanita itu diciptakan untuk saling berpasangan

allah mengetahui bahwa setiap insan punya naluru cinta , maka ditunjukan jalan dengan pernikahan . bukan dengan cara pacaran,kumpul kebo, tau sebagainya.

pemisahan pria dan wanita merupakan konsep islami
anda bisa baca di buku2 yang membahas tata pergaulan islami
kecuali da;lam 3 hal pria dan wanita boleh berinteraksi
1.muamalah
2.kesehatan
3.pendidikan

jadi selain ketiga hal tersebuat no way !!!

wallhualam
« Edit Terakhir: September 04, 2006, 08:33:18 pm oleh vian »

Ahmad Damai

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 4
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #11 pada: Agustus 14, 2006, 07:16:34 pm »
asslamualaikim bang soleh pakaber hari ini
ane mo nanya sebaik bagai mana kita bergaul dengan lawan jenis kita ?
pada umum nya anak ank bergaul dengan semaunya jaman sekarang ini  bagai mana solusinya?
« Edit Terakhir: September 04, 2006, 08:32:31 pm oleh vian »

Laily Oktar

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.601
  • Reputasi: 24
  • Jenis kelamin: Wanita
  • here and there
    • Lihat Profil
    • Nai elye hiruva...
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #12 pada: Agustus 17, 2006, 02:49:38 pm »
WHO ARE YOU 'pernik muslim'?
u r distrubing
but
it's OK in the same time
« Edit Terakhir: September 04, 2006, 08:33:49 pm oleh vian »

PernikMuslim

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.033
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Pria
  • Silahkan hubungi saya, saya akan membantu anda :)
    • Lihat Profil
    • PERNIKMUSLIM.com :: Toko Buku Muslim OnLine PENUH KEJUTAN!! :)
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #13 pada: Agustus 17, 2006, 04:30:15 pm »
pernikmuslim? its me ;) toko buku muslim online PENUH KEJUTAN ;)

nggak gangguin sapa2 kok ukh, cuma ingin menyampaikan kebenaran :)
« Edit Terakhir: September 04, 2006, 08:34:10 pm oleh vian »

fie_vie

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.417
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Wanita
  • no body's perfect
    • Lihat Profil
Re: PERGAULAN LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
« Jawab #14 pada: Agustus 21, 2006, 09:50:16 am »
pernikmuslim? its me ;) toko buku muslim online PENUH KEJUTAN ;)

nggak gangguin sapa2 kok ukh, cuma ingin menyampaikan kebenaran :)

lo neng kene entuk iklan to?
 :D
« Edit Terakhir: September 04, 2006, 08:30:37 pm oleh vian »