Penulis Topik: KEMISKINAN UMAT ISLAM DISEBABKAN BANYAKNYA KETURUNAN  (Dibaca 1042 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

ibn_hambal

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 18
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Tegakkan Tauhid.. Hidupkan Sunnah...
    • Lihat Profil
KEMISKINAN UMAT ISLAM DISEBABKAN BANYAKNYA KETURUNAN
« pada: Juni 17, 2007, 01:46:55 pm »
HUKUM ORANG YANG BERKATA : SESUNGGUHNYA KEMISKINAN YANG MELANDA UMAT ISLAM DISEBABKAN LEDAKAN PENDUDUK DAN BANYAKNYA KETURUNAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum syara’nya pada pendapat Syaikh terhadap orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya kemiskinan, kelemahan dan keterbelakangan umat Islam di masa sekarang sebagai akibat ledakan (pertambahan) penduduk dan banyaknya keturunan dengan memandang peningkatan ekonomi gizi’. Apa nasehat Syaikh kepada orang yang meyakini hal tersebut?

Jawaban
Kami melihat bahwa pendapatnya itu adalah sebuah kesalahan besar ; karena hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang meluaskan dan menyempitkan rizki bagi orang yang tidak dikehendakiNya, bukan disebabkan banyaknya penduduk ; karena tidak ada binatang melata di muka bumi ini melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengatur rizkinya. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan rizki karena suatu hikmah dan mencegah rizki juga karena suatu hikmah.

Nasehat saya kepada orang yang meyakini hal ini adalah bawha hendaklah ia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan keyakinan yang batil ini, hendaklahn ia mengetahui bahwa alam semesta, seberapapun banyaknya, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki niscaya Dia meluaskan rizki mereka, tetapi Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman dalam KitabNya.

“Artinya : Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat” [Asy-Syura : 27]

[Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani]


[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]