Penulis Topik: Syiah, Sunni, Ahlul bayt  (Dibaca 14947 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

d4vid_r5

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.926
  • Reputasi: 40
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dreaming...
    • Lihat Profil
Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« pada: Agustus 09, 2006, 07:18:07 am »
Teman - teman jelasin tentang syiah, sunni, dan ahlul bayt ya...

syukron, Jazakallah :)

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #1 pada: Agustus 09, 2006, 09:53:06 pm »
syiah dulu yah...

Sejarah MUncyulnya syi'ah(rafidhah)

KAPAN MUNCULNYA FIRQAH RAFIDHAH ?


Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.
Bagian Pertama dari Tigabelas Tulisan 1/13





SEPATAH KATA DARI PENTERJEMAH.
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Amma ba’du :
Sebenarnya, sudah lama saya ingin menterjemah buku kecil ini, yang penuh dengan bukti yang akurat dari buku-buku pegangan kaum syi’ah. Tatkala salah seorang ikhwan yang mulia mengirim email kepada saya untuk minta dikirimi makalah tentang syi’ah, disebabkan di kampusnya sedang gencar-gencarnya dakwah syi’ah, maka saya semakin terdorong untuk cepat-cepat menterjemahkan buku ini, agar kerusakan aqidah golongan yang sesat ini bisa diketahui oleh masyarakat umum.

Tulisan ini insya Allah akan saya kirim lewat group diskusi ini secara bertahap menjadi 16 edisi. Terjemahan ini diizinkan untuk disebarluaskan bagi siapa yang ingin menyebarkannya secara cuma-cuma, asalkan tidak dirobah sedikitpun dari tulisannya.

Akhirnya kepada Allah –lah kita memohon agar kita semua diberi keikhlasan dalam beramal shaleh, dan ditetapkan di atas agama-Nya yang lurus, dianugerahkan niat yang baik, dan pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat. Serta dijauhkan dari segala yang merusak akidah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Amiin.

Ditulis oleh :
Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.
Hail


PENDAHULUAN
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Amma ba’du :
Sesunguhnya motivasi yang mendorong untuk menulis makalah ini adalah apa yang terlihat belakangan ini, yakni, semakin gencarnya kegiatan Rafidhah (syi’ah) dalam mendakwahi ajaran mereka setaraf dunia Islam, dan bahaya terhadap agama Islam yang dimiliki oleh golongan yang keluar ini, serta kelengahan dari kebanyakkan dari awam kaum muslimin terhadap bahaya mereka, serta apa-apa yang terdapat dalam aqidah mereka berupa syirik, celaan terhadap Al Quran, celaan terhadap para sahabat, ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para imam. Sungguh penyusun telah bertekad untuk menulis makalah ini, dan menjawab apa yang menjadi problem dalam permasalahan ini secara ringkas, mengikuti metode syeikh kita Syeikh Alaamah abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin –semoga Allah menjaganya- dalam kitab beliau (At Ta’liiqaatu ‘Ala Matni Lum’atil ‘Itiqaad), dan dengan cara menukil dari buku-buku Rafidhah yang terkenal dan tersohor di kalangan mereka, serta dari buku-buku ahli sunnah dari kalangan para imam-imam terdalulu dan belakangan, dimana mereka telah membantah dan menerangkan kerusakan akidah mereka yang berdiri atas kesyirikan, ghuluw (sikap berlebih-lebihan), kedustaan, caci maki, celaan, tikaman, dll.

Sesungguhnya penyusun telah berusaha dalam makalah yang singkat dan kurang berharga ini, untuk membuktikan kesalahan mereka dari buku-buku mereka dan karangan-karangan yang terpercaya di kalangan mereka, sebagaimana perkataan Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Al Jabhan –semoga Allah menjaganya- : “Dari mulutmu aku menghukummu wahai pemeluk syi’ah”.

Akhirnya, penyusun memohon kepada Allah ‘Ajja wa Jalla semoga makalah ini bermanfaat bagi orang-orang yang bisa memandang dengan baik, sebagaimana firman Allah :

”INNA FII DZAALIKA LADZIKRA LIMAN KAANA LAHUU QALBUN AW ALQAA-SSAM’A WA HUWA SYAHIID”

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya “ [Qoof : 37]

Dan penyusun mengucapkan terima kasih, kepada setiap orang yang ikut menanam saham bersama penyusun dalam menerbitkan buku kecil ini, Wallahu ‘Alam, semoga Allah senantiasa menganugerahkan shalawat dan salam atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.


Ditulis oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.


KAPAN MUNCULNYA FIRQAH RAFIDHAH ?
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi’ah sendiri.

Al Qummi berkata dalam bukunya “Al Maqaalaat wal Firaq“[1] : Ia mengakui keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya keimaman Ali, dan raj’iyah Ali[2], dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di bukunya “Firaqus Syi’ah“[3]. Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di bukunya yang dikenal dengan “Rijaalul Kissyi“[4]. Pengakuan adalah tuan argumen (argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar Rafidhah.

Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.

Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.

Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas/ telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah[5] dan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya syi’ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.

Begitulah syiah membuat bid’ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan[6], karena mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.


[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Lihat “Al Maqaalaat wal Firaq” oleh Al Qummi, hal : 10-21.
[2] Keyakinan bahwa Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiyamat.
[3] Lihat “Firaqus Syi’ah” oleh An Nubakhti, hal : 19-20.
[4] Lihat : apa yang dicantumkan oleh Al Kissyi dalam beberapa riwayat dari Ibnu Saba dan akidah-akidahnya, lihat no : 170, 171, 172, 173, 174, dari hal : 106-108.
[5] Keyakinan menghilangnya imam Askari yang mereka tunggu-tunggu.
[6] Ushul ‘Itiqad Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Al Lalikaai, 1/22-23.

Luthi

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.155
  • Reputasi: 30
  • Jenis kelamin: Pria
  • forgiven
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #2 pada: Agustus 09, 2006, 10:41:00 pm »
http://www.eramuslim.com/ust/aqd/44d8f9d7.htm baca deh!

ato nih !! :D :D

Islamkah Syiah?

Assalamu'alaikum wr wb

Ustadzyangdimuliakan ALLAH SWT, saya tidak banyak tahu tentang kaum Syiah. Apakah mereka kafir karena beribadah tidah mengikut sunah Rasul SAW, tapi walaupun demikian mereka beriman pada ALLAH SWT. Apakah pandangan Islam terhadap kaum Syiah?

Mohon penjelasannya secara luas, semoga Ustadz berkenan menjawab pertanyaan saya ini.

Wassalam

Ana

Neneng
adek071 at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagian dari kelompok Syiah ada yang mengingkari mushaf Al-Quran yang dimiliki umat Islam sedunia. Mereka konon punya jenis mushaf sendiri yang berbeda isinya. Seandainya ada sekelompok orang dari kalangan Syiah atau selain Syiah yang punya i'tikad seperti, maka jelaslah kekafiran mereka.

Sebagian dari kelompok Syiah ekstrem ada yang tidak mengakui kenabian Muhammad SAW. Mereka berkeyakinan bahwa malaikat Jibril salah menurunkan wahyu, seharusnya bukan kepada nabi Muhammad SAW, tetapi seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka bukan saja mengingkari Abu Bakar, Umar dan Utsman, bahkan sampai mengingkari kenabian Muhammad SAW. Kalau ada sekelompok orang dari kalangan Syiah atau selain Syiah yang sudah sampai kepada keyakinan seperti ini, jelaslah kekafiran mereka.

Dua contoh kasus di atas hanyalah contoh kecil dari bentuk-bentuk penyimpangan aqidah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi. Sehingga siapa pun yang berpaham demikian, dianggap telah ingkar kepada esensi paling fudamental dari ajaran Islam. Dan wajar bila termasuk ke dalam kalangan kafir.

Tapi yang jadi pertanyaan di sini adalah: Apakah semua kalangan Syiah berpendapat demikian? Apakah setiap masyarakat yang punya latar belakang paham Syiah, lantas semuanya ingkar kepada Al-Quran dan kenabian Muhammad SAW?

Jawabannya tentu tidak. Lebih banyak di antara mereka yang beriman kepada Al-Quran yang dimiliki oleh umat Islam pada umumnya. Lebih banyak di antara mereka yang tetap mengakui kenabian Muhammad SAW.

Tentunya sebagaimana kalangan kebanyakan masyarakat Sunni, tidak sedikit juga muncul paham-paham ekstrim yang sesungguhnya sudah keluar dari batas-batas paham aqidah Sunni sendiri. Misalnya, paham takfir yang berkeyakinan bahwa semua orang yang tidak ikut berbaiat kepada imam dari kalangan mereka adalah kafir. Paham takfir ini banyak melanda kelompok-kelompok sesat, di mana latar belakang aqidahnya sebenarnya terbilang Sunni.

Oleh karena itu kita tidak bisa main pukul rata dalam menjatuhkan vonis kafir kepada suatu kelompok. Kecuali setelah kita bedah secara mendalam dan dengan kepala dingin. Rupanya, di dalam tubuh Syiah sendiri ada begitu banyak paham dan variasi keyakinan, mulai dari kutub yang paling ekstrim hingga kutub yang paling moderat. Tentu sangat tidak adil untuk menuduh semuanya kafir.

Sebagaimana tidak adil bila kita mengatakan semua Sunni itu kafir, hanya lantaran adanya kelompok-kelompok sempalan yang mengerucutkan aqidahnya hingga keluar batas yang benar.

Benarkah Syi'ah Itsna Asy'ariyah Lebih Berbahaya dari Yahudi?

Beredar di kalangan sebagian umat Islam fatwa yang membingungkan. Yaitu haram hukumnya umat Islam membantu perjuangan Hizbullah karena dianggap bukan Islam, bahkan dianggap lebih berbahaya dari Yahudi itu sendiri.

Syeikh Faishal Maulawi, wakil ketua Majelis Kajian dan Fatwa Eropa telah mengeluarkan fatwa yang intisarinya sebagai berikut:

Jumhur ulama di masa lalu dan di masa kini telah menyepakati bahwa Syiah Itsna Asy-'ariyah termasuk orang-orang Islam dan termasuk ahlul qiblah. Sebab mereka mengikrarkan tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji.

Memang ada sebagian kecil dari ulama yang memandang kelompok ini kafir, lantaran ada sebagian lafadz dari kitab-kitab mereka yang bisa ditafsirkan keluar dari aqidah yang benar. Tetapi tuduhan ini dijawab oleh para ulama lain bahw kita tidak bisa menuduh kafir hanya dengan menafsirkan tulisan mereka. Sebab perkara menjatuhkan vonis kafir tidak bisa hanya berdasarkan penafsiran semata.

Sehingga bila kita lihat ke belakang, sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada larangan bagi penganut paham Syiah Itsna Asy'ariyah untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah. Seandainya mereka divonis kafir, seharusnya mereka tidak boleh masuk ke tanah haram, lantaran danggap bukan muslim. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa umat Islam sepanjang masa tidak pernah menganggap mereka kafir.

Syeikh juga membantah anggapan sementara orang bahwa Syiah Itsna Asy'ariyah termasuk paham yanglebih berbahaya dari Yahudi. Menurut beliau tuduhan seperti ini mengada-ada dan keterlaluan. Seorang muslim tidak layak untuk mengatakan hal yang demikian. Sebab tingkat keberbahayaan Yahudi sudah sangat jelas, baik aqidah, manhaj, idealisme, sistem hidup dan semua. Sesuatu yang tidak demikian pada kelompok Syiah ini.

Demikian petikan fatwa beliau yang berisi bantahan atas tuduhan yang kurang tepat atas kelompok Syiah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

jerry_spy

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 825
  • Reputasi: -2
  • Jenis kelamin: Pria
  • beramal dan beramal
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #3 pada: Agustus 11, 2006, 06:06:56 am »
http://www.eramuslim.com/ust/aqd/44d8f9d7.htm baca deh!

ato nih !! :D :D

Islamkah Syiah?

Assalamu'alaikum wr wb

Ustadzyangdimuliakan ALLAH SWT, saya tidak banyak tahu tentang kaum Syiah. Apakah mereka kafir karena beribadah tidah mengikut sunah Rasul SAW, tapi walaupun demikian mereka beriman pada ALLAH SWT. Apakah pandangan Islam terhadap kaum Syiah?

Mohon penjelasannya secara luas, semoga Ustadz berkenan menjawab pertanyaan saya ini.

Wassalam

Ana

Neneng
adek071 at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagian dari kelompok Syiah ada yang mengingkari mushaf Al-Quran yang dimiliki umat Islam sedunia. Mereka konon punya jenis mushaf sendiri yang berbeda isinya. Seandainya ada sekelompok orang dari kalangan Syiah atau selain Syiah yang punya i'tikad seperti, maka jelaslah kekafiran mereka.

Sebagian dari kelompok Syiah ekstrem ada yang tidak mengakui kenabian Muhammad SAW. Mereka berkeyakinan bahwa malaikat Jibril salah menurunkan wahyu, seharusnya bukan kepada nabi Muhammad SAW, tetapi seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka bukan saja mengingkari Abu Bakar, Umar dan Utsman, bahkan sampai mengingkari kenabian Muhammad SAW. Kalau ada sekelompok orang dari kalangan Syiah atau selain Syiah yang sudah sampai kepada keyakinan seperti ini, jelaslah kekafiran mereka.

Dua contoh kasus di atas hanyalah contoh kecil dari bentuk-bentuk penyimpangan aqidah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi. Sehingga siapa pun yang berpaham demikian, dianggap telah ingkar kepada esensi paling fudamental dari ajaran Islam. Dan wajar bila termasuk ke dalam kalangan kafir.

Tapi yang jadi pertanyaan di sini adalah: Apakah semua kalangan Syiah berpendapat demikian? Apakah setiap masyarakat yang punya latar belakang paham Syiah, lantas semuanya ingkar kepada Al-Quran dan kenabian Muhammad SAW?

Jawabannya tentu tidak. Lebih banyak di antara mereka yang beriman kepada Al-Quran yang dimiliki oleh umat Islam pada umumnya. Lebih banyak di antara mereka yang tetap mengakui kenabian Muhammad SAW.

Tentunya sebagaimana kalangan kebanyakan masyarakat Sunni, tidak sedikit juga muncul paham-paham ekstrim yang sesungguhnya sudah keluar dari batas-batas paham aqidah Sunni sendiri. Misalnya, paham takfir yang berkeyakinan bahwa semua orang yang tidak ikut berbaiat kepada imam dari kalangan mereka adalah kafir. Paham takfir ini banyak melanda kelompok-kelompok sesat, di mana latar belakang aqidahnya sebenarnya terbilang Sunni.

Oleh karena itu kita tidak bisa main pukul rata dalam menjatuhkan vonis kafir kepada suatu kelompok. Kecuali setelah kita bedah secara mendalam dan dengan kepala dingin. Rupanya, di dalam tubuh Syiah sendiri ada begitu banyak paham dan variasi keyakinan, mulai dari kutub yang paling ekstrim hingga kutub yang paling moderat. Tentu sangat tidak adil untuk menuduh semuanya kafir.

Sebagaimana tidak adil bila kita mengatakan semua Sunni itu kafir, hanya lantaran adanya kelompok-kelompok sempalan yang mengerucutkan aqidahnya hingga keluar batas yang benar.

Benarkah Syi'ah Itsna Asy'ariyah Lebih Berbahaya dari Yahudi?

Beredar di kalangan sebagian umat Islam fatwa yang membingungkan. Yaitu haram hukumnya umat Islam membantu perjuangan Hizbullah karena dianggap bukan Islam, bahkan dianggap lebih berbahaya dari Yahudi itu sendiri.

Syeikh Faishal Maulawi, wakil ketua Majelis Kajian dan Fatwa Eropa telah mengeluarkan fatwa yang intisarinya sebagai berikut:

Jumhur ulama di masa lalu dan di masa kini telah menyepakati bahwa Syiah Itsna Asy-'ariyah termasuk orang-orang Islam dan termasuk ahlul qiblah. Sebab mereka mengikrarkan tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji.

Memang ada sebagian kecil dari ulama yang memandang kelompok ini kafir, lantaran ada sebagian lafadz dari kitab-kitab mereka yang bisa ditafsirkan keluar dari aqidah yang benar. Tetapi tuduhan ini dijawab oleh para ulama lain bahw kita tidak bisa menuduh kafir hanya dengan menafsirkan tulisan mereka. Sebab perkara menjatuhkan vonis kafir tidak bisa hanya berdasarkan penafsiran semata.

Sehingga bila kita lihat ke belakang, sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada larangan bagi penganut paham Syiah Itsna Asy'ariyah untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah. Seandainya mereka divonis kafir, seharusnya mereka tidak boleh masuk ke tanah haram, lantaran danggap bukan muslim. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa umat Islam sepanjang masa tidak pernah menganggap mereka kafir.

Syeikh juga membantah anggapan sementara orang bahwa Syiah Itsna Asy'ariyah termasuk paham yanglebih berbahaya dari Yahudi. Menurut beliau tuduhan seperti ini mengada-ada dan keterlaluan. Seorang muslim tidak layak untuk mengatakan hal yang demikian. Sebab tingkat keberbahayaan Yahudi sudah sangat jelas, baik aqidah, manhaj, idealisme, sistem hidup dan semua. Sesuatu yang tidak demikian pada kelompok Syiah ini.

Demikian petikan fatwa beliau yang berisi bantahan atas tuduhan yang kurang tepat atas kelompok Syiah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,



tul .........ga bisa kita hanya bedasarkan nama saja mendukung atau mengkafirkan harus kita liat dulu isi ya ,sunni banyak juga sessat maaf yang ngaku  sunni tapi sessat

d4vid_r5

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.926
  • Reputasi: 40
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dreaming...
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #4 pada: Mei 31, 2008, 05:35:24 pm »
trus yang sunni,ahlul bayt kok ga ada yang jawab :-/ hampir 2 tahun belum ada yang jawab :-?

albiaqy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 20
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #5 pada: Juni 03, 2008, 08:40:20 am »
Pokok-Pokok Kesesatan Syiah

Asal-usul Syiah
Syiah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara', Syi'ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, lalu Abdullah bin Saba' mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi saw sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Namun, menurut Abdullah bin Saba', Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

Aliran Syi'ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 hijriyah dan abad-abad berikutnya.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syiah pada Periode Pertama:
1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib ra.

2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa)

3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.

4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.

5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba' dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.

6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut

7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa' wal Firaq wal Bida' wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237)

Pada abad ke-2 hijriyah, perkembangan keyakinan Syi'ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi'ah Secara Umum:
1. Pada Rukun Iman:
Syiah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qadha dan Qadar- yaitu: 1. Tauhid (keesaan Allah), 2. Al-'Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah (kepemimpinan Imam), 5.Ma'ad (hari kebangkitan dan pembalasan). (Lihat 'Aqa'idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll)

2. Pada Rukum Islam:
Syiah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu: 1.Shalat, 2.Zakat, 3.Puasa, 4.Haji, 5.Wilayah (perwalian) (lihat Al-Khafie juz II hal 18)

3. Syi'ah meyakini bahwa Al-Qur'an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti:
"wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna 'ala 'abdina FII 'ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)
Ada tambahan "fii 'Aliyyin" dari teks asli Al-Qur'an yang berbunyi:
"wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna 'ala 'abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih" (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa: Abu Abdillah a.s (imam Syiah) berkata: "Al-Qur'an yang dibawa oleh Jibril a.s kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur'an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi'ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy)

4. Syi'ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi saw, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244) 

5. Syi'ah menggunakan senjata "taqiyyah" yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217)

6. Syi'ah percaya kepada Ar-Raj'ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

7. Syi'ah percaya kepada Al-Bada', yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja'far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).

8. Syiah membolehkan "nikah mut'ah", yaitu nikah kontrak dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Nikah Mut'ah
Nikah mut'ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut'ah dan nikah sunni (syar'i):
1. Nikah mut'ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
2. Nikah mut'ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia
3. Nikah mut'ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.
4. Nikah mut'ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.
5. Nikah mut'ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.
6. Nikah mut'ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

Dalil-Dali Haramnya Nikah Mut'ah
Haramnya nikah mut'ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi saw juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.

Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma'bad Al-Juhaini, ia berkata: "Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: "Ada selimut seperti selimut". Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah saw sedang berpidato diantara pintu Ka'bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut'ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut'ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024)

Dalil hadits lainnya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad saw melarang nikah mut'ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71)

Pendapat Para Ulama
Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:

- Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: "Nikah mut'ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada'i Al-Sana'i fi Tartib Al-Syara'i (II/272) mengatakan, "Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut'ah"

- Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, "hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut'ah mencapai peringkat mutawatir" Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, "Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil."

- Dari Madzhab Syafi', Imam Syafi'i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, "Nikah mut'ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan." Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu' (XVII/356) mengatakan, "Nikah mut'ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu."

- Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, "Nikah Mut'ah ini adalah nikah yang bathil." Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut'ah adalah haram.

Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi'ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi'ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama "Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait", sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. Lebih lanjut bagi yang ingin tahu lebih banyak, silakan membaca buku kami "Mengapa Kita Menolah Syi'ah".


 
« Edit Terakhir: Juni 03, 2008, 08:45:15 am oleh albiaqy »

albiaqy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 20
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #6 pada: Juni 03, 2008, 09:43:34 am »
emank benar sunni banyak yang sesat...
islam di dunia adalah sunni ato ASWJ (Ahlusunnah Wal jama'ah).
islam telah ter pecah ke dalam firqoh2/kelmpk2 yang masing2 menganggap ajaran nya bener.
menurut gw islam yang yang bener adalah yang mengikuti al qur'an, sunnah dan ijma..
namun belakangan ini yang gw liat sunnah telah MATI ato diputar balikkan..
ada yang bilang islam q ini sudah umum dari kakek ato nenek moyang.
tp apakah sudah sesuai dengan al qur'an dan sunnah belm???
liat dulu manhaj nya.
ada ulama yang mo hidupin sunnah dibilang sesat..
kan ada tuh pedoman qt para ahli hadits, muhaddits, mujaddid yang bisa qt ikuti pemahaman nya ttg hadits. namun bukan berarti taklid ma mereka. tp ikuti sunnah2 yang telah mereka telaah dari imam hadits sebelum mereka yang berasal dari rasulullah.

syiah salah satu firqoh sesat liat penjelasan di atas...
mereka taklid buta kepada ahlul bait (keluarga/ketrunan rasulullah).

sunnni a.k.a ASWJ juga sangat mencintai ahlul bait.
tp tidak seperti syiah...
banyak ibadah2 yang di tujukan kpd ahlul bait yang masya allah telah jauh dari agama islam.
sehingga mrka menghina sahabat karena mengambil hak kekhalifahan yang seharusnya "menurut mereka' u ALI BIN ABI THALIB ra.
liat penjelasan di atas.


التشيع

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #7 pada: Juni 21, 2008, 05:22:13 am »
KAPAN MUNCULNYA FIRQAH RAFIDHAH ?
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan, hal ini diakui oleh buku-buku syi’ah sendiri.

ِAssalamu'alaikum Saudaraku......................
Adalah sesuatu hal yang didustakan jika menuduh syi'ah menuhankan shahabat 'ali karamallah wajhah.saya minta dari buku/kitab/pernyataan syiah yang mana yang menyatakan itu?antum menyatakan dari 'dari buku syiah sendiri' tentulah sudah tahu buku syiah yang mana.kami tidak pernah mengatakan bahwa kami mentuhankan imam 'ali karamallah wajhah.tapi aqidah kami adalah menganggap bahwa keimanan beliau aalah keimanan yang yang paling tinggi dalam umat setelah nabi.

Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebihan lagi, sehingga ia mendakwakan bahwasanya Ali adalah Allah.

Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka, bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.

Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas/ telah ditetapkan, dan ia menyebutkan juga dari kelompok Sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah (golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah[5] dan akidah raj’iyah, kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya syi’ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.

Begitulah syiah membuat bid’ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat, raj’iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan[6], karena mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.
saudaraku................
Sangat mustahil mengkaitkan syi'ah dg abdullah bin saba' sedangkan buku/kitab/pernyataan dari jamahir ulama syiah melaknat akan 'abdullah bin saba'.dalam buku Al-Ta'rifat syekh Al-Jurjani syi'ah adalah suatu kelompok yang mengikuti shahabat 'ali karamallah wajhah dan meyakini beliaulah yang sebenarnya berhak mengganti nabi SAW sebagai khalifah.

- الشيعة هم الذين شايعوا عليا رضي الله عنه وقالوا إنه الإمام بعد رسول الله واعتقدوا أن الإمامة لا تخرج عنه وعن أولاده
Syi'ah adalah mereka yang mengikuti shabat 'ali karamallah wajhah.Mereka berkata bahwa shahabat 'ali imam setelah rasul SAW wafat.Dan mereka meyakini beliau dan anak keturunannya adalah orang-orang yang paling berhak akannya.

Adalah suatu fitnah jika mendakwa syi'ah sebagai pengikut abdullah bin saba' la'natullah 'alaih.Padahal shahabat Nabi SAW seperti 'Ammar bin Yasar, Jabir bin Abdullah, dan tabi'in seperti Sa'id bin Musayyab dan masih banyak lagi, Mereka adalah syi'ah murni.Walaupun abdullah bin Saba' mendakwa dirinya sebagai syi'ah, Tapi tidak seharusnya mendakwa juga bahwa syi'ah adalah selalu dg abdullah bin saba'.Layaknya Ulama yang menodai namanya sendiri tidak lantas semua ulama ikut tercemar dengan perbuatannya.

Wallahu A'lam
« Edit Terakhir: Juni 21, 2008, 05:24:06 am oleh التشيع »

التشيع

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #8 pada: Juni 21, 2008, 05:43:25 am »
http://www.eramuslim.com/ust/aqd/44d8f9d7.htm baca deh!

ato nih !! :D :D

Islamkah Syiah?

Assalamu'alaikum wr wb

Ustadzyangdimuliakan ALLAH SWT, saya tidak banyak tahu tentang kaum Syiah. Apakah mereka kafir karena beribadah tidah mengikut sunah Rasul SAW, tapi walaupun demikian mereka beriman pada ALLAH SWT. Apakah pandangan Islam terhadap kaum Syiah?

Mohon penjelasannya secara luas, semoga Ustadz berkenan menjawab pertanyaan saya ini.

Wassalam

Ana

Neneng
adek071 at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagian dari kelompok Syiah ada yang mengingkari mushaf Al-Quran yang dimiliki umat Islam sedunia. Mereka konon punya jenis mushaf sendiri yang berbeda isinya. Seandainya ada sekelompok orang dari kalangan Syiah atau selain Syiah yang punya i'tikad seperti, maka jelaslah kekafiran mereka.

Sebagian dari kelompok Syiah ekstrem ada yang tidak mengakui kenabian Muhammad SAW. Mereka berkeyakinan bahwa malaikat Jibril salah menurunkan wahyu, seharusnya bukan kepada nabi Muhammad SAW, tetapi seharusnya kepada Ali bin Abi Thalib. Mereka bukan saja mengingkari Abu Bakar, Umar dan Utsman, bahkan sampai mengingkari kenabian Muhammad SAW. Kalau ada sekelompok orang dari kalangan Syiah atau selain Syiah yang sudah sampai kepada keyakinan seperti ini, jelaslah kekafiran mereka.

Dua contoh kasus di atas hanyalah contoh kecil dari bentuk-bentuk penyimpangan aqidah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi. Sehingga siapa pun yang berpaham demikian, dianggap telah ingkar kepada esensi paling fudamental dari ajaran Islam. Dan wajar bila termasuk ke dalam kalangan kafir.

Tapi yang jadi pertanyaan di sini adalah: Apakah semua kalangan Syiah berpendapat demikian? Apakah setiap masyarakat yang punya latar belakang paham Syiah, lantas semuanya ingkar kepada Al-Quran dan kenabian Muhammad SAW?

Jawabannya tentu tidak. Lebih banyak di antara mereka yang beriman kepada Al-Quran yang dimiliki oleh umat Islam pada umumnya. Lebih banyak di antara mereka yang tetap mengakui kenabian Muhammad SAW.

Tentunya sebagaimana kalangan kebanyakan masyarakat Sunni, tidak sedikit juga muncul paham-paham ekstrim yang sesungguhnya sudah keluar dari batas-batas paham aqidah Sunni sendiri. Misalnya, paham takfir yang berkeyakinan bahwa semua orang yang tidak ikut berbaiat kepada imam dari kalangan mereka adalah kafir. Paham takfir ini banyak melanda kelompok-kelompok sesat, di mana latar belakang aqidahnya sebenarnya terbilang Sunni.

Oleh karena itu kita tidak bisa main pukul rata dalam menjatuhkan vonis kafir kepada suatu kelompok. Kecuali setelah kita bedah secara mendalam dan dengan kepala dingin. Rupanya, di dalam tubuh Syiah sendiri ada begitu banyak paham dan variasi keyakinan, mulai dari kutub yang paling ekstrim hingga kutub yang paling moderat. Tentu sangat tidak adil untuk menuduh semuanya kafir.

Sebagaimana tidak adil bila kita mengatakan semua Sunni itu kafir, hanya lantaran adanya kelompok-kelompok sempalan yang mengerucutkan aqidahnya hingga keluar batas yang benar.

Benarkah Syi'ah Itsna Asy'ariyah Lebih Berbahaya dari Yahudi?

Beredar di kalangan sebagian umat Islam fatwa yang membingungkan. Yaitu haram hukumnya umat Islam membantu perjuangan Hizbullah karena dianggap bukan Islam, bahkan dianggap lebih berbahaya dari Yahudi itu sendiri.

Syeikh Faishal Maulawi, wakil ketua Majelis Kajian dan Fatwa Eropa telah mengeluarkan fatwa yang intisarinya sebagai berikut:

Jumhur ulama di masa lalu dan di masa kini telah menyepakati bahwa Syiah Itsna Asy-'ariyah termasuk orang-orang Islam dan termasuk ahlul qiblah. Sebab mereka mengikrarkan tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan berhaji.

Memang ada sebagian kecil dari ulama yang memandang kelompok ini kafir, lantaran ada sebagian lafadz dari kitab-kitab mereka yang bisa ditafsirkan keluar dari aqidah yang benar. Tetapi tuduhan ini dijawab oleh para ulama lain bahw kita tidak bisa menuduh kafir hanya dengan menafsirkan tulisan mereka. Sebab perkara menjatuhkan vonis kafir tidak bisa hanya berdasarkan penafsiran semata.

Sehingga bila kita lihat ke belakang, sepanjang sejarah Islam tidak pernah ada larangan bagi penganut paham Syiah Itsna Asy'ariyah untuk menunaikan ibadah haji ke baitullah. Seandainya mereka divonis kafir, seharusnya mereka tidak boleh masuk ke tanah haram, lantaran danggap bukan muslim. Sejarah telah membuktikan kepada kita bahwa umat Islam sepanjang masa tidak pernah menganggap mereka kafir.

Syeikh juga membantah anggapan sementara orang bahwa Syiah Itsna Asy'ariyah termasuk paham yanglebih berbahaya dari Yahudi. Menurut beliau tuduhan seperti ini mengada-ada dan keterlaluan. Seorang muslim tidak layak untuk mengatakan hal yang demikian. Sebab tingkat keberbahayaan Yahudi sudah sangat jelas, baik aqidah, manhaj, idealisme, sistem hidup dan semua. Sesuatu yang tidak demikian pada kelompok Syiah ini.

Demikian petikan fatwa beliau yang berisi bantahan atas tuduhan yang kurang tepat atas kelompok Syiah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Betul Saudaraku.............
Sesungguhnya Fitnah yang keji jika mengatakan syi'ah mengingkari alqur'an.Itu hanya beberapa oknum yang mengaku syi'ah tapi sebetulnya bukan syia'h sebagaimana riwayat-riwayat dari imam-imam kami.

Syukran atas Fatwanya saudaraku.tapi satu hal untuk digaris bawahi untuk tidak memasukkan Itsna Al-asy'ariah dalam Golongan syi'ah.

Wallahu a'lam

التشيع

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #9 pada: Juni 21, 2008, 07:20:55 am »
Pokok-Pokok Penyimpangan Syiah pada Periode Pertama:
1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib ra.
Ini adalah benar adanya.Bahkan Nabi sendiri telah berwasiat pada shahabat 'ali karamallah wajhah
2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa)
Ini tidak lain hanya Fitnah pada kelompok kami.
3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
Ini juga fitnah yang dilayangkan pada syi'ah.
4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
Na'am.Telah sahih beberapa riwayat yang menyatakan hal ini
5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba' dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.
Patut untuk direnungkan bahwa mengaitkan syi'ah dengan 'Abdullah bin Saba' hanya tuduhan keji pada kelompok syi'ah.Tidak lain itu adalah permainan oknum
6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut
Na'am.Ada banyak riwayat dan kejadian-kejadian yang menyatakan hal ini
7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa' wal Firaq wal Bida' wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237)
Dusta dan fitnah yang dinisbatkan pada kaum syi'ah

Pada abad ke-2 hijriyah, perkembangan keyakinan Syi'ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi'ah Secara Umum:
1. Pada Rukun Iman:
Syiah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qadha dan Qadar- yaitu: 1. Tauhid (keesaan Allah), 2. Al-'Adl (keadilan Allah) 3. Nubuwwah (kenabian), 4. Imamah (kepemimpinan Imam), 5.Ma'ad (hari kebangkitan dan pembalasan). (Lihat 'Aqa'idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll)

2. Pada Rukum Islam:
Syiah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu: 1.Shalat, 2.Zakat, 3.Puasa, 4.Haji, 5.Wilayah (perwalian) (lihat Al-Khafie juz II hal 18)

3. Syi'ah meyakini bahwa Al-Qur'an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti:
"wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna 'ala 'abdina FII 'ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)
Ada tambahan "fii 'Aliyyin" dari teks asli Al-Qur'an yang berbunyi:
"wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna 'ala 'abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih" (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa: Abu Abdillah a.s (imam Syiah) berkata: "Al-Qur'an yang dibawa oleh Jibril a.s kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur'an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi'ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy)

4. Syi'ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi saw, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244)
Ini bukanlah ajaran-ajaran syi'ah.Tapi permainan beberapa kelompok yang mengatasnamakan syi'ah karena melihat keunggulan kami

6. Syi'ah percaya kepada Ar-Raj'ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.
Masalah raj'ah kami tidak menginkari juga tidak meyakini.Kita sebagai muslim tidaklah pantas untuk terlalu dalam membahas masalah raj'ah karena itu adalah termasuk perkara ghaib.

7. Syi'ah percaya kepada Al-Bada', yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja'far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).
Dusta yang kembali dilemparkan pada kami

Dalil-Dali Haramnya Nikah Mut'ah
Haramnya nikah mut'ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi saw juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.

Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma'bad Al-Juhaini, ia berkata: "Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: "Ada selimut seperti selimut". Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah saw sedang berpidato diantara pintu Ka'bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut'ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut'ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024)
Telah shah datangnya ayat qur'an yang menjelaskan halalnya nikah mut'ah.Yaitu dalam surat An-Nisa ;
قال الله سبحانه : فما استمتعتم به منهن فاتوهن اجورهن فريضة ولا جناح عليكم في ما تراضيتم به من بعد الفريضة ان الله كان عليما حكيما - النساء

Allah Subhanah Wata'ala berfirman : Dan istri-istri yang telah engkau nikmati dari perempuan-perempuan itu Maka berikanlah maharnya sebagai suatu kewajiban.Dan tiada mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu sekalian telah merelakannya.Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana
Kami akan bawakan satu tafsir saja yaitu dari imam al-qurthuby disamping masih banyak bukti-bukti lain untuk menguatkan pendapat kami :
وقال الجمهور : المراد نكاح المتعة الذي كان في صدر الاسلام وقرأ ابن عباس وابي وابن جبير " فما استمتعتم به منهن إلى اجل مسمى فآتوهن اجورهن "
Berkata Jumhur: Yang dimaksud adalah nikah mut'ah pada masa awal islam.Demikian yang dibacakan Ibnu 'abbas dan ibnu Jubair pada ayat -Famastamta'tum min-hun ila ajal Al-musamma Fa atuu Hun Ujurahunn-


- Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: "Nikah mut'ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada'i Al-Sana'i fi Tartib Al-Syara'i (II/272) mengatakan, "Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut'ah"

- Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, "hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut'ah mencapai peringkat mutawatir" Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, "Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil."

- Dari Madzhab Syafi', Imam Syafi'i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, "Nikah mut'ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan." Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu' (XVII/356) mengatakan, "Nikah mut'ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu."

- Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, "Nikah Mut'ah ini adalah nikah yang bathil." Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut'ah adalah haram.
Adalah kebohongan mengatasnamakan madzhab empat untuk mengharamkan mut'ah.Telah datang riwayat-riwayat yang shahih yang menegaskan halalnya nikah mut'ah hingga masa khalifah 'Umar.Beliaulah yang mengharamkan nikah mut'ah.Bahkan dari madzhab-madzhab yang sudah disebutkan diatas,mereka juga mengakui nikah mut'ah baru diharamkan dizaman 'Umar.Akan kami bawakan beberapa riwayat tentang hal ini.

Kami akan menaqal beberapa riwayat yang telah sah.
Menaqal dari Ibn rusyd pentasnif kitab Bidayah Al-mujtahid :
ونصفا من خلافة عمر ثم نهى عنها عمر الناس
Sampai ke khilafah 'umar kemudian beliau melarangnya.Ini adalah dalil yang teramat kuat untuk mengungkap kepalsuan dimuka yang mengatasnamakan ibnu rusyd.Sehingga menurut penalaran yang sehat jika keharamanya baru pada zaman 'umar, berarti Nabi tidak pernah mengharamknya.

Ahmad Bin Hanbal menaqal dari Abi sa'id al-khudzri dalam musnadnya :
عن ابي سعيد الخدري ، قال : كنا نتمتع على عهد رسول الله
Dari Abi Said al-khudzri berkata : Kita ber-mut'ah pada zaman rasulullah.Selain di Musnad ahmad,Riwayat ini Juga Termaktub dalam mujma' zawaid 4/264.

Tiada lain kami hanya membela 'aqidah kami tanpa ingin membuat permusuhan.

Terakhir kami akan kuatkan lagi dg Menaqal dari Al-imam Suyuthi bahwa ayat tentang Mut'ah tidak mansukh karena ada sebagian Golongan yang memalsukan pernyataan bahwa ayat surat An-nisa diatas adalah Mansukh:
وفي تفسير السيوطي حديث ابي ثابت وابى نضرة ورواية قتادة وسعيد بن جبير عن قراءة ابي وحديث مجاهد والسدي ، وعطاء عن ابن عباس وحديث الحكم ان الاية غير

منسوخة

Dalam Yafsir Al-Suyuthi hadis Abi tsabit dan Abi Nadhrah beserta riwayat dari Qathadah dan Sa'id Bin Jubair dari bacaan Abi dan hadis Mujahid dan Suda, serta 'Atha' dari Ibnu 'Abbas Dan hadis Hakam bahwasanya ayat diatas tidak mansukh.

ٍSebetulnya masih banyak lagi riwayat selain yang sudah kami sebutkan.Tapi karena keterbatasan waktu,kami tidak bisa menaqal satu persatu

Saya pribadi hanya menghimbau pada sesama muslim untuk tidak menyalahkan sesama muslim yang lain.Kita semua adalah bersaudara sebagaimana firman allah : Dan berpeganglah kalian pada tali allah dan janganlah kalian bercerai berai.

Mohon Maaf sekiranya ada kata-kata yang tidak berkenan.

Wallahu a'lam

Wassalamu'alaikum
« Edit Terakhir: Juni 21, 2008, 07:31:36 am oleh التشيع »

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #10 pada: Juni 21, 2008, 02:09:54 pm »
Sebelumnya salut untuk anda...kesopanan dan keramahan serta solidaritas yang tinggi adalah ciri2 orang syiah pada umumnya...termasuk anda.. :great:..

Ada beberapa hal yang anda sampaikan memang benar seperti itu adanya, dan saya sepakat sepenuhnya dg anda. tapi anda juga  ternyata  bersikap berlebih dalam memberikan beberapa fakta yang lain.

Diantara kesepakatan saya dg anda adalah tentang 'abdullah bin saba' itu hanya oknum. dan tidak ada sangkut pautnya namanya dg golongan syi'ah

Kemudian saya tidak menginkari bahwa nikah mut'ah itu halal pada masa kejayaan islam. Yang jadi perbedaan saya dg anda adalah bahwa nikah mut'ah menurut kami ( golongan selain syi'ah ) sudah mansukh.

Bukti tidak sahnya dalil anda :

1. Dari ayat qur'an yang anda ajukan bukanlah tentang nikah mut'ah. qira'ah yang anda ajukan juga syadz menurut riwyat2 yang masyhur.

2. kemudian hadis-hadisnya memang benar mengenai kehalal nikah mut'ah. tapi waktu nikah mut'ah masih halal dan belum di mansukh.

'Ala kulli hal....Dalil-dalil yang anda sampaikan sifatnya tidak mendukung mut'ah sama sekali. Saya tahu dalil-dalil orang syiah untuk menghalalkan mut'ah bukan ini. ini masih terlalu lemah. dan saya yakin juga anda pasti tahu tentang hal ini.
« Edit Terakhir: Juni 21, 2008, 03:08:07 pm oleh fahmie ahmad »

التشيع

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #11 pada: Juni 21, 2008, 09:52:34 pm »
Sebelumnya salut untuk anda...kesopanan dan keramahan serta solidaritas yang tinggi adalah ciri2 orang syiah pada umumnya...termasuk anda.. :great:..

ٍSyukran katsiran saudaraku.............Atas pujiannya dan atas tanggapannya terhadap tulisan saya bukan dengan caci-maki

Kemudian saya tidak menginkari bahwa nikah mut'ah itu halal pada masa kejayaan islam. Yang jadi perbedaan saya dg anda adalah bahwa nikah mut'ah menurut kami ( golongan selain syi'ah ) sudah mansukh.

Saudaraku...........
Mengatasnamakan mansukh untuk mengharamkan mut'ah tidak bisa diterima oleh akal sehat.Kami akan sebutkan Alasan tentang hal ini
Shahabat 'Umar adalah Dalil yang sangat bisa diterima Oleh akal sehat bahwa beliau adalah orang yang pertama kali menghalalkan mut'ah

Kami akan naqalkan tafsir Al-tabhari sebagai bukti keabsahan perkatahan kami
حدثنا محمد بن المثنى قال، حدثنا محمد بن جعفر قال، حدثنا شعبة، عن الحكم قال: سألته عن هذه الآية:"والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم" إلى هذا الموضع:"فما استمْتَعتم به منهن"، أمنسوخة هي؟ قال: لا = قال الحكم: وقال علي رضي الله عنه: لولا أن عمر رضي الله عنه نهى عن المتعة ما زنى إلا شَقِيٌّ
Menceritakan padaku Muhamad bin Mutsanna, berkata menceritakan padaku muhamad bin ja'far, berkata menceritakan padaku syu'bah dari hakam berkata ;Aku bertanya tentang ayat ini'Walmuhsanah min al-nisa illa ma Malakat Aimanukum' Sampai pada ayat ; 'Famastamta'tum bih minhun' apakah sudah di mansukh?berkata ; tidak.kemudian berkata Hakam;Berkata 'Ali;Jikalau 'Umar tidak mengharamkan nikah mut'ah,tidak akan ada orang yang berzina kecuali dia benar-benar celaka

Tambahan juga akan kami bawakan riwayat dari Al-imam Suyuthi dalam Tarikh Khulafa'

قال العسكري: هو أول من سمى أمير المؤمنين وأول من كتب التاريخ من الهجرة وأول من أتخذ بيت المال وأول من سن قيام شهر رمضان وأول من عس بالليل وأول من عاقب على الهجاء وأول من ضرب في الخمر ثمانين وأول من حرم المتعة وأول من نهى عن بيع أمهات الأولاد وأول من جمع الناس في صلاة الجنائز

Bekata 'Askary;Dia['Umar]adalah orang yang pertama kali menamakan amirulmu'minin dan orang yang pertama kali membuat tanggalan hijriah dan orang yang pertama mengambil baitulMal - dan dia adalah ORANG YANG PERTAMA KALI MELARANG MUT'AH

Dan riwayat diatas adalah shahih dan akurat.Kalau memang 'Umar yang telah melarang nikah mut'ah,Berarti Nabi SAW sama sekali tidak melarangnya.Dan secara akal sehat jika dikatakan ayat diatas mansukh,berarti sama dengan mengatakan ayat alqur'an sudah mansukh oleh perkataan dari shahabat.Maka teranglah pada kita sekarang bahwa ayat mut'ah tidaklah mansukh.

1. Dari ayat qur'an yang anda ajukan bukanlah tentang nikah mut'ah. qira'ah yang anda ajukan juga syadz menurut riwyat2 yang masyhur.
Na'am saya tahu ada sebagian Ulama yang menghukumi syadz seperti imam Al-razy.Tapi itu tidak mengurangi sedikitpun kehalalan mut'ah.

Baiklah akan kami naqalkan dari tafsir Al-imam zamakhsyari ;
وعن ابن عباس هي محكمة يعني لم تنسخ ، وكان يقرأ : «فما استمتعتم به منهنّ إلى أجل مسمى» .
Dari ibn 'Abas bahwasanya ayat tersebut Muhkamat yang artinya tidak dinasakh.Beliau membaca;Famastamta'tum Minhun Fa atuhun Ujurahun.

Lalu apakah syadz qira'ah ini?Ternyata tidak akhi.
والأمة ما أنكروا عليهما في هذه القراءة ، فكان ذلك إجماعا من الأمة على صحة هذه القراءة ، وتقريره ما ذكرتموه في أن عمر رضي الله عنه لما منع من المتعة والصحابة ما أنكروا عليه كان ذلك إجماعا على صحة ما ذكرنا ، وكذا ههنا ، واذا ثبت بالاجماع صحة هذه القراءة ثبت المطلوب

Umat tidaklah menginkari qira'ah ini.Dan itu seakan sudah menjadi ijma' dari pada ulama atas shahihnya qira'ah ini.Penetapannya adalah apa yang disebutkan 'Umar bin khatab saat melarang nikah mut'ah dan sahahab tidak menginkarinya sehingga seakan menjadi ijma' terhadap keshahihan qira'at tadi, begitu juga disini, apabila ditetapkan atas dasar ijma' atas kesahihanya, maka inilah yang diminta

2. kemudian hadis-hadisnya memang benar mengenai kehalal nikah mut'ah. tapi waktu nikah mut'ah masih halal dan belum di mansukh.

Insyaallah sudah saya jawab dimuka akhi mengenai mansukh atau tidak ayat ini menaqal dari tafsir Al-qurthubi. :)



Wallahu A'lam



fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #12 pada: Juni 22, 2008, 03:23:30 am »
Syukran katsiran saudaraku.............Atas pujiannya dan atas tanggapannya terhadap tulisan saya bukan dengan caci-maki



Sama sama  ;)


Sebelumnya salut untuk anda...kesopanan dan keramahan serta solidaritas yang tinggi adalah ciri2 orang syiah pada umumnya...termasuk anda.. :great:..

ٍSyukran katsiran saudaraku.............Atas pujiannya dan atas tanggapannya terhadap tulisan saya bukan dengan caci-maki

Kemudian saya tidak menginkari bahwa nikah mut'ah itu halal pada masa kejayaan islam. Yang jadi perbedaan saya dg anda adalah bahwa nikah mut'ah menurut kami ( golongan selain syi'ah ) sudah mansukh.

Saudaraku...........
Mengatasnamakan mansukh untuk mengharamkan mut'ah tidak bisa diterima oleh akal sehat.Kami akan sebutkan Alasan tentang hal ini
Shahabat 'Umar adalah Dalil yang sangat bisa diterima Oleh akal sehat bahwa beliau adalah orang yang pertama kali menghalalkan mut'ah

Kami akan naqalkan tafsir Al-tabhari sebagai bukti keabsahan perkatahan kami
حدثنا محمد بن المثنى قال، حدثنا محمد بن جعفر قال، حدثنا شعبة، عن الحكم قال: سألته عن هذه الآية:"والمحصنات من النساء إلا ما ملكت أيمانكم" إلى هذا الموضع:"فما استمْتَعتم به منهن"، أمنسوخة هي؟ قال: لا = قال الحكم: وقال علي رضي الله عنه: لولا أن عمر رضي الله عنه نهى عن المتعة ما زنى إلا شَقِيٌّ
Menceritakan padaku Muhamad bin Mutsanna, berkata menceritakan padaku muhamad bin ja'far, berkata menceritakan padaku syu'bah dari hakam berkata ;Aku bertanya tentang ayat ini'Walmuhsanah min al-nisa illa ma Malakat Aimanukum' Sampai pada ayat ; 'Famastamta'tum bih minhun' apakah sudah di mansukh?berkata ; tidak.kemudian berkata Hakam;Berkata 'Ali;Jikalau 'Umar tidak mengharamkan nikah mut'ah,tidak akan ada orang yang berzina kecuali dia benar-benar celaka

Tambahan juga akan kami bawakan riwayat dari Al-imam Suyuthi dalam Tarikh Khulafa'

قال العسكري: هو أول من سمى أمير المؤمنين وأول من كتب التاريخ من الهجرة وأول من أتخذ بيت المال وأول من سن قيام شهر رمضان وأول من عس بالليل وأول من عاقب على الهجاء وأول من ضرب في الخمر ثمانين وأول من حرم المتعة وأول من نهى عن بيع أمهات الأولاد وأول من جمع الناس في صلاة الجنائز

Bekata 'Askary;Dia['Umar]adalah orang yang pertama kali menamakan amirulmu'minin dan orang yang pertama kali membuat tanggalan hijriah dan orang yang pertama mengambil baitulMal - dan dia adalah ORANG YANG PERTAMA KALI MELARANG MUT'AH

Dan riwayat diatas adalah shahih dan akurat.Kalau memang 'Umar yang telah melarang nikah mut'ah,Berarti Nabi SAW sama sekali tidak melarangnya.Dan secara akal sehat jika dikatakan ayat diatas mansukh,berarti sama dengan mengatakan ayat alqur'an sudah mansukh oleh perkataan dari shahabat.Maka teranglah pada kita sekarang bahwa ayat mut'ah tidaklah mansukh.




Tidak ada yang bertentangan dg logika menurut saya. karena ketika sahahabat umar melarang mut'ah, belum tentu karena memang waktu itu halal.  Baiklah,,,,karena anda mengutip dari thabari, mari kita lihat apa yang ada didalam tafsir tabhari sesungguhnya :

أولى التاويلين في ذلك بالصواب تأويل من تأوله فما نكحتموه منهن فجامعتموهن فآتوهن أجورهن لقيام الحجة بتحريم الله تعالى متعة النساء على لسان رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya : ta'wilan yang paling bagus adalah untuk nikah shahih karena firman allah sudah sedemikian jelas mengenai keharaman nikah mut'ah yang disampaikan melalui lisan nabi SAW

Kemudian dalam tafsir khazin juga disebutkan mengenai mansukhnya ayat diatas :

وكان هذا في ابتداء الإسلام ثم نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن المتعة فحرمها ( م ) عن سبرة بن معبد الجهني أنه كان مع رسول الله صلى الله عليه وسلم : « فقال يا أيها الناس إني كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء وإن الله قد حرّم ذلك إلى يوم القيامة فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيله ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئاً » وإلى هذا ذهب جمهور العلماء من الصحابة فمن بعدهم أي أن نكاح المتعة حرام والآية منسوخة واختلفوا في ناسخها فقيل نسخت بالسنة وهو ما تقدم من حديث سبرة الجهني ( ق ) عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال : « نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن متعة النساء يوم خيبر  » وهذا على مذهب من يقول إن السنة تنسخ القرآن ومذهب الشافعي في أن السنّة لا تنسخ القرآن فعلى هذا يقول : إن ناسخ هذه الآية قوله تعالى في سورة المؤمنون : { والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين }

Yang artinya : Ini adalah pada awal mula islam, kemudian rasul SAW melarangnya dan mengharamknya. dari Sabrah bin ma'bad al-jahni bahwasanya beliau bersama rasul SAW, kemudian beliau ( nabi ) berkata : hai manusia sekalian...saya telah mengizinkan kalian untuk nikah mut'ah, dan sekarang allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat. dan barang siapa yang sekarang sedang melakukan nikah mut'ah, maka pisahkanlah perempuan itu dari kalian dan janganlah kalian mengambil upah dari yang sudah kalian berikan pada mereka ( perempuan ). Pendapat ini diusung oleh jumhur shahabat dan Ulama2 setelahnya. yaitu bahwa nikah mut'ah haram dan ayat diatas sudah mansukh. dan mereka berbeda pendapat tentang nasikhnya. sebagian dari mereka nasikhnya adalah hadis sabrah diatas. Dari 'Ali bin Abi thalib : Rasul SAW melarang mut'ah di hari khubair. ini dari madzhab yang mengatakan bahwa sunah bisa menasakh al-qur'an. Adapun imam syafi'i yang tidak mengatakan hal tersebut menganggap bahwa yang menasakh adalah ayat : walladzina lifurujihim hafidzuun....ila akhirihi.

karena saya melihat inti dari perkataan anda adalah karena hadis dari ibnu 'abbas, maka akan saya kutipkan riwayat lain dari yang sudah anda sebutkan, yaitu dari riwayat 'Atha' al-khurrasan :

وروى عطاء الخرساني عن ابن عباس في قوله فما استمتعتم به منهن إنها صارت منسوخه وبقوله : { يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن }

Artinya : Diriwayatkan dari 'atho alkhurrasani dari ibni 'abbas di ayat terkait ( famastamta'tum ) telah dinasakh oleh ayat : ya ayyuhannabiy idza thalaqtum...ila akhiriha )

Sebagai tambahan atas riwayat dari imam syafi'i menurut versi anda di atas, saya juga akan bawakan riwayat dari imam syafi'i yang sudah sangat masyhur :

قال الشافعي : لا أعلم في الإسلام شيئاً أحل ثم حرم ثم أحل ثم حرم غير المتعة

Berkata imam syafi'i : saya tidak melihat dalam agama islam yang dihalalkan kemudian diharamkan kemudian dihalalkan lagi kemudian diharamkan lagi selain nikah mut'ah

Adapun shahabat 'umar yang menyatakan bahwa beliau melarang nikah mut'ah ada 3 kemungkinan sebagaimana dalam Mafatih Al-ghaibnya Fakhrurrazi :

 انهم كانوا عالمين بحرمة المتعة فسكتوا ، أو كانوا عالمين بأنها مباحة ولكنهم سكتوا على سبيل المداهنة ، أو ما عرفوا إباحتها ولا حرمتها . فسكتوا
لكونهم متوقفين في ذلك ، والأول هو المطلوب

Artinya :

1)Mereka mengetahui keharaman nikah mut'ah dan memang sengaja diam

2)Mereka mengetahui bahwa mut'ah mubah tetapi diam karena 'mudahanah'

3)Atau tidak tahu apa itu sebenarnya hukum mut'ah apakah haram/halal dan mereka sengaja diam karena mereka setuju dg mut'ah

dan pendapat pertama adalah yang paling rajih.

1. Dari ayat qur'an yang anda ajukan bukanlah tentang nikah mut'ah. qira'ah yang anda ajukan juga syadz menurut riwyat2 yang masyhur.
Na'am saya tahu ada sebagian Ulama yang menghukumi syadz seperti imam Al-razy.Tapi itu tidak mengurangi sedikitpun kehalalan mut'ah.

Baiklah akan kami naqalkan dari tafsir Al-imam zamakhsyari ;
وعن ابن عباس هي محكمة يعني لم تنسخ ، وكان يقرأ : «فما استمتعتم به منهنّ إلى أجل مسمى» .
Dari ibn 'Abas bahwasanya ayat tersebut Muhkamat yang artinya tidak dinasakh.Beliau membaca;Famastamta'tum Minhun Fa atuhun Ujurahun.

Lalu apakah syadz qira'ah ini?Ternyata tidak akhi.
والأمة ما أنكروا عليهما في هذه القراءة ، فكان ذلك إجماعا من الأمة على صحة هذه القراءة ، وتقريره ما ذكرتموه في أن عمر رضي الله عنه لما منع من المتعة والصحابة ما أنكروا عليه كان ذلك إجماعا على صحة ما ذكرنا ، وكذا ههنا ، واذا ثبت بالاجماع صحة هذه القراءة ثبت المطلوب

Umat tidaklah menginkari qira'ah ini.Dan itu seakan sudah menjadi ijma' dari pada ulama atas shahihnya qira'ah ini.Penetapannya adalah apa yang disebutkan 'Umar bin khatab saat melarang nikah mut'ah dan sahahab tidak menginkarinya sehingga seakan menjadi ijma' terhadap keshahihan qira'at tadi, begitu juga disini, apabila ditetapkan atas dasar ijma' atas kesahihanya, maka inilah yang diminta


Syadz pengertian saya bukan lafadznya. tapi ma'nanya. Mari kita lihat riwayat dari zujaj mengenai hal ini :

قال الزّجاج ومعنى قوله فما استمتعتم به منهن فما نكحتموه على الشرائط التي جرت وهو قوله محصنين غير مسافحين أي عاقدين التزويج


berkata al-zujaj : makna firman allah Famastamta'tum ......adalah nikah yang sudah sebagaimana mestinya, hal yang menunjukkan itu adalah firman allah ghairu musafihiin yaitu orang yang mengunakan aqad yang shahih.

وقد تكلف قوم من مفسري القرآن فقالوا : المراد بهذه الآية نكاح المتعة ثم نسخت بما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى عن متعة النساء وهذا تكلف لا يحتاج إليه لأن النبي صلى الله عليه وسلم أجاز المتعة ثم منع منها فحرمها فكان قوله منسوخاً بقوله وأما الآية فإنها لم تتضمن جواز المتعة لأنه تعالى قال فيها إن تبتغوا بأموالكم محصنين غير مسافحين فدل ذلك على النكاح الصحيح .

Artinya : Terlalu berlebihan suatu kaum dari segolongan ahli tafsir dg perkataan mereka : yang dimaksud dg ayat ini ada'ah nikah mut'ah kemudian di nasakh atas dasar riwayat dari nabi. ini tidak bisa dijadikan hujjah karena nabi SAW membolehkan mut'ah kemudian melarang. jadi yang menasakh perkataannya sudah dinasakh. adapun ayat tersebut, tidak mengandung sama sekali kebolehan nikan mut'ah karena allah berkata didalamnya : in tabtaghu bi amwalikum ghairu muhsinin ghairu musafihin. sehingga ayat ini menunjukkan nikah shahih.


Masalah riwayat ibnu 'abbas tentang tidak dinasakhnya ayat tadi, sebenarnya dari ibnu 'abbas sendiri ada 3 riwayat yang berbeda :

Pertama :

 أما ابن عباس فعنه ثلاث روايات : احداها : القول بالاباحة المطلقة ، قال عمارة : سألت ابن عباس عن المتعة : أسفاح هي أم نكاح؟ قال : لا سفاح ولا نكاح ، قلت : فما هي؟ قال : هي متعة كما قال تعالى ، قلت : هل لها عدة؟ قال نعم عدتها حيضة ، قلت : هل يتوارثان؟ قال لا

intinya ibnu 'abbas menyatakan boleh secara mutlak

kedua :
والرواية الثانية عنه : أن الناس لما ذكروا الأشعار في فتيا ابن عباس في المتعة قال ابن عباس : قاتلهم الله إني ما أفتيت باباحتها على الاطلاق ، لكني قلت : إنها تحل للمضطر كما تحل الميتة والدم ولحم الخنزير له .

ibnu 'abbas menginkari bahwa beliau membolehkan nikah mut'ah secara mutlak. tapi juga tidak melarang secara mutlak

ketiga :
والرواية الثالثة : أنه أقر بأنها صارت منسوخة . روى عطاء الخرساني عن ابن عباس في قوله : { فَمَا استمتعتم بِهِ مِنْهُنَّ }

Beliau mengatakan bahwa ayat diatas mansukh

Disamping ada qaul juga yang menyatakan beliau mengakui khilafnya. dan beliau segera bertobat


Dan mana yang menurut anda paling benar dari ketiga riwayat tersebut ?  ;D

2. kemudian hadis-hadisnya memang benar mengenai kehalal nikah mut'ah. tapi waktu nikah mut'ah masih halal dan belum di mansukh.

Insyaallah sudah saya jawab dimuka akhi mengenai mansukh atau tidak ayat ini menaqal dari tafsir Al-qurthubi. :)



Wallahu A'lam



Hasanan....saya akan berikan satu riwayat tentang dimansukhnya ayat tadi dan yang jadi bahan persengketaan paling utama yaitu karena mengharamkannya shahabat 'umar terhadap nikah tadi :

وروى سالم بن عبدالله بن عمر أن عمر بن الخطاب صعد المنبر فحمد الله واثنى عليه ثم قال ما بال أقوام ينكحون هذه المتعة وقد نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عنها لا أجد رجلاً نكحها إلا رجمته بالحجارة

Artinya : Salim bin 'abdillah bin 'umar meriwayatkan bahwasanya 'umar bin khattab berkhutbah diatas mimbar dan memuji allah kemudian berkata : kenapa suatu kaum masih saja menikah mut'ah padahal nabi SAW sudah melarangnya. dan jika saya menemukan seorang laki-laki menikah dg cara mut'ah, maka saya akan merajamnya dan dg batu

coba anda lihat kalimat yang saya bold. kata sudah berarti memang telah terlampaui. dan logikanya juga sudah mansukh. :)

« Edit Terakhir: Juni 22, 2008, 03:30:24 am oleh fahmie ahmad »

التشيع

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #13 pada: Juni 23, 2008, 02:17:00 am »
Subhanallah...........................

Syukran Katsira saudaraku Atas pencerahannya......Salam kenal dari saya  :)

« Edit Terakhir: Juni 23, 2008, 02:45:17 am oleh التشيع »

BINGUNG !!!

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.384
  • Reputasi: 47
  • Jenis kelamin: Pria
  • 7 Agustus 2009, 06:50 pm
    • Lihat Profil
Re: Syiah, Sunni, Ahlul bayt
« Jawab #14 pada: Agustus 06, 2008, 01:45:18 pm »
sya pernah sdkit mempeLajari ttg syi'ah & pernah berdiaLog dg seorang syi'ah :

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."(Q.S Al-Ahzab ayat 33)

ayat d atas sbg daLiL mereka bahwa ahLuL bayt adaLah org2 yg ma'shum

siapakah ahLuL bayt?

"Dari Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib yang berkata, 'Ketika Rasulullah SAWW memandang ke arah rahmat yang turun, Rasulullah SAWW berkata, 'Panggilkan untukku, panggilkan untukku.' Shafiyyah bertanya, 'Siapa, ya Rasulullah?!' Rasulullah menjawab, 'Ahlul Baitku, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.' Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah SAWW meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah SAWW mengangkat kedua tangannya dan berkata, 'Ya Allah, mereka inilah keluargaku (maka sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).' Lalu Allah SWT menurunkan ayat 'Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.'" (Mustadrak al-Hâkim, jld 3, hal 197 – 198).

Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa dari Ummu Salamah yang berkata, "Di rumah saya turun ayat yang berbunyi 'Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya'. Lalu Rasulullah SAWW mengirim Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, 'Mereka inilah Ahlul Baitku.'"( Mustadrak al-Hâkim, jld 3, hal 197 – 198).

Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Aisyah yang berkata, "Rasulullah SAWW pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah SAWW memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husain datang, dan Rasulullah SAWW memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah SAWW pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah SAWW memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah SAWW berkata, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya."( Sahih Muslim, bab keutamaan-keutmaan Ahlul Bait).

oLeh sebab itu syi'ah menganggap bahwa aLi bin abi thaLib adaLah org yg ma'shum

apa ini benar? :-/ (sbnar na msih banak permasaLahan & pertanaan sya, tp smentara ni dLu denk) :D