Penulis Topik: Kaidah menyikapi khilafiyah  (Dibaca 27995 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #30 pada: Januari 06, 2008, 04:32:51 pm »



Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran

Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.

Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya. Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.

Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.

Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain. Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.

Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani. Misalnya tentang hadits shalat tasbih. Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu adalah semata produk ijtihad manusiawi.


"barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak dicontohkan olehku(nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam) maka ia tertolak"(Bukhari Muslim).

dan Imam syafi'i berkata" jika telah shahih maka itulah madzhabku(Muqaddimah sifat shalat nabi karya syaikh albany rahimahullah).

"berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk"(Hadits riwayat Imam Abu Dawud dan at tirmidzi).

Jika hadits shahih saja tidak bisa di jadikan landasan, lantas apa yang akan dijadikan pegangan dalam menetapkan hukum akhi. Apa lagi jika yang menjadi pegangan sudah nyata-nyata dhaif. Bukankah kita diberi akal untuk mentarjih(mengambil mana yang lebih kuat).


arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #31 pada: Januari 08, 2008, 06:09:37 pm »
"barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak dicontohkan olehku(nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam) maka ia tertolak"(Bukhari Muslim).

dan Imam syafi'i berkata" jika telah shahih maka itulah madzhabku(Muqaddimah sifat shalat nabi karya syaikh albany rahimahullah).

"berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk"(Hadits riwayat Imam Abu Dawud dan at tirmidzi).
betul semua apa yang dikatakan abu ahmad syafiq.

Jika hadits shahih saja tidak bisa di jadikan landasan, lantas apa yang akan dijadikan pegangan dalam menetapkan hukum akhi.
bukan berarti tidak menjadikan hadits shahih sebagai landasan, tulisan di atas lebih menekankan bahwa dalam menetapkan tingkat keshahihan suatu hadits pun bisa terjadi perbedaan penafsiran/pemahaman sehingga terjadi khilafiyah.

Apa lagi jika yang menjadi pegangan sudah nyata-nyata dhaif. Bukankah kita diberi akal untuk mentarjih(mengambil mana yang lebih kuat).
memang mudah untuk mentarjih kalo yang satu shahih dan yang lain dhaif..
tapi akhi tau sendiri betapa sering kita semua di forum ini mendiskusikan suatu masalah dimana masing-masing memiliki argumentasi yang sama-sama kuat, sama-sama shahih..
pada akhirnya tidak akan tercapai satu kesimpulan yang sama, sehingga paling baik adalah menghormati perbedaan yang ada tanpa harus merasa terpecah-belah, karena memang berbeda itu adalah fitrah.


abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #32 pada: Januari 08, 2008, 09:42:47 pm »
bukan berarti tidak menjadikan hadits shahih sebagai landasan, tulisan di atas lebih menekankan bahwa dalam menetapkan tingkat keshahihan suatu hadits pun bisa terjadi perbedaan penafsiran/pemahaman sehingga terjadi khilafiyah.


Perlu diperinci dalam maslaha ini, bisa diberikan contoh dalam hal apa?


memang mudah untuk mentarjih kalo yang satu shahih dan yang lain dhaif..
tapi akhi tau sendiri betapa sering kita semua di forum ini mendiskusikan suatu masalah dimana masing-masing memiliki argumentasi yang sama-sama kuat, sama-sama shahih..


sama halnya diatas beri juga satu permisalan masalah saja ok... ;;)


[[/quote]
memang mudah untuk mentarjih kalo yang satu shahih dan yang lain dhaif..
tapi akhi tau sendiri betapa sering kita semua di forum ini mendiskusikan suatu masalah dimana masing-masing memiliki argumentasi yang sama-sama kuat, sama-sama shahih..

pada akhirnya tidak akan tercapai satu kesimpulan yang sama, sehingga paling baik adalah menghormati perbedaan yang ada tanpa harus merasa terpecah-belah, karena memang berbeda itu adalah fitrah.

[/quote]
dalam hal ini tidak da kaitan memecah belah. Tapi masalahnya proses tarjih mana yang lebih kuat untuk di amalkan (terapkan).

Satu contoh saja, ada riwayat yang menjelaskan bahwa jari telunjuk ada yang di gerakkan dan ada yang tidak digerakkan.

"Kemudian beliau duduk (duduk di sini dzahirnya duduk tahiyyat/tasyahhud bukan duduk di antara dua sujud karena Waail atau sebagian dari rawi meringkas hadits ini) lalu beliau menghamparkan kaki kirinya dan beliau letakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lutut kirinya dan beliau jadikan batas sikut kanannya di atas paha kanannya, kemudian beliau membuat satu lingkaran (dengan kedua jarinya yaitu jari tengah dan ibu jarinya), kemudian beliau mengangkat jari (telunjuk)nya, maka aku melihat beliau menggerak-gerakkannya beliau berdo’a dengannya"

[al Bukhari dalam Kitab Qurratul ‘Ainain bi Raf’,il Yadain Fish Shalah hal. 27 no. 30 secara ringkas dan telah meriwayatkan dari jalannya al Khathib al Baghdadi dalam Kitab al Fashlu lil Washlil Mudraj I/445].

"Dari Abdullah bin Zubair bahwa Nabi SAW menunjuk dengan telunjuknya ketika berdoa dan laa yuharrikuha (TIDAK MENGERAK-GERAKKANNYA). (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai dan Ibnu Hibban).

Dan kedua haidits tersebut sama-sama shahih. Itulah perbedaan yang tidak harus di hormati lagi tapi dua-duanya boleh di amalkan(kecuali kasus nasikh dan mansukh). Beda dengan maslah qunut subuh atau jumlah raka'at shalat tarawih.
« Edit Terakhir: Januari 08, 2008, 10:00:32 pm oleh abu_ahmad syafiq »

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #33 pada: April 14, 2008, 12:23:38 pm »
Untuk kang aswad dan abu ahmad syafiq,,,,saya ingin tahu definisi sampean berdua mengenai madzhab ?

selama saya belajar fiqh..madzhab di zaman tabi'in itu banyak sekali....begitu juga di zaman shahabat. masing2 punya madzhab...cuma ketika di zaman shahabat, belum ada spesifikasi pada penamaan madzhab itu sendiri.

bahkan,,,,dalam al-din wa al-hayat, syekh ali jum'ah menyebut ada 100 madzhab pada masalah fiqh. begitu juga dalam manahijuttasyri' al-islamy, Dr. baltajy juga menyebut madzhab2 selain madzahibul arba'ah...diantaranya ada auza'i, tsufyan atsauri, laits bin sa'id, ja'far shadiq...

cuma, karena yang paling lengkap kodifikasinya adalah pada madzhab 4, maka yang tersebar sampai ke penjuru dunia adalah 4 madzhab itu.

Semuanya berpegang pada qur'an dan sunah,,,,semuanya orang-orang mulya dan berilmu....

kemudian, sebagaimana anda bicara tarjih, saya ingin tahu banyak tentang tarjih,,,,tolong beritahu saya satu permasalahan yang para ulama madzhab berbeda pandangan, tentang pendapat yang paling rajih versi anda....

Daisy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 3
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #34 pada: April 15, 2008, 04:31:03 pm »
Ada sebuah ayat yang isinya kurang lebih berpesan agar kita dalam memegang sebuah pendirian itu harus didasari ilmu, karena kelak pendengaran, penglihatan, dan fuad kita akan diminta pertanggungjawabannya.
Dari ayat itu saya punya keyakinan bahwa khilafiyah bisa jadi rahmat juga ketika masing-masing yang berikhtilaf punya dasar ilmiah (syar'iyah) dari sebuah masalah yang diperselisihkan. Dan biasanya ikhtilaf jadi bencana ketika yang berikhtilaf itu tidak tahu-menahu tentang apa yang diperselisihkan. Biasanya emosi yang dominan di sini. Dan jikapun yang berselisih faham sama-sama punya dasar ilmiyah yang kuat kemudian perselisihan itu menjadi bencana, biasanya dalam masalah yang diperselisihkan itu ada aspek kepentingan yang terancam di antara pihak-pihak yang berselisih. Dan jika sudah menyentuh kepentingan seperti itu, diperlukan kearifan lain untuk menyelesaikannya.
Tugas ulama sekarang harusnya mendewasakan umat agar bisa mensikapi khilafiyah dengan dasar-dasar ilmiah seperti tadi. Lebih jauh lagi sebagai contoh masalah qunut. Ada baiknya ulama-ulama yang masih berqunut itu misalnya menjelaskan posisi hadis-hadis atau dasar syar'i masalah qunut seperti pernah dibeberkan dalam forum ini, kepada umatnya. Termasuk menginformasikan berbagai analisis tentang kelemahan atau kekuatan hadisnya. Sehingga jika umat sudah tahu, mereka akan lebih bijak dalam menghadapai khilafiyah qunut.

Termasuk dalam mengamalkan segenap ajaran Islam, setiap muslim harus betul-betul sadar dan menyadari dasar-dasar ilmiah dari pengamalan itu. Masalah dakwah Islam, memang itu kewajiban yang pasti dan ada metode serta strateginya. Tetapi pada akhirnya kita harus juga mengimani sebuah ayat " faman sya'a fal yu'min wa man sya'a fal yakfur". Sementara ini juga saya belum membaca ayat/hadis tentang otoritas yang "merasa mukmin" dalam hal memperlakukan  orang yang "dianggap kafir". Karena biasanya kasus-kasus perselisihan dalam hal ini termasuk yang sering mencuat di tengah-tengah masyarakat kita.

Sakitu heula we panginten........

oki_toink

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.635
  • Reputasi: 47
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #35 pada: Oktober 17, 2008, 03:16:42 pm »
kalo masih masalah furu (cabang) cie is okay2 aja deh

kalo udah masalah akidah baru dah tuh

maaf ilmu saya kurang  :((  :((

 :D

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #36 pada: Maret 27, 2009, 12:44:04 am »
bagus nih artikelnya boleh comment dong. sepakat klu masalah khilafiyah jgn ditebas rata. bgi ane sih maslah khilafiyh tu sma2 pnya dalil yg kuat dr al-qur'an n sunnah dan ijtihad ulama yg isi ijtihad itu blum ad dalam qur'an dan sunnah n mslh kontemporer. klu mslh qunut sih sy org yg g pke qunut dalilny udh disebutin tp hrus lembut dan bjaksana menympaiknnya jgn grusah grusuh krn blm smua muslim indonesia mau diajak ngmng kyak gni, bg mreka ya udh mkan ya alhmdulillah. Jihad Ekonomi dan Pendidikan pntg bro di negara ini  :great:

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #37 pada: Agustus 03, 2009, 03:00:50 pm »
kalo masih masalah furu (cabang) cie is okay2 aja deh

kalo udah masalah akidah baru dah tuh

maaf ilmu saya kurang  :((  :((

 :D

 :great: :great:

whitenetral

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 34
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #38 pada: April 14, 2010, 10:59:30 am »
Beda Pendapat Tak Harus Berpecah Belah
   Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya tentang keanekaragaman jama’ah-jama’ah Islamiyah yang tak jarang di antara mereka saling menerapkan bara’ (berlepas diri), dan juga sikap yang harus diambil ketika terjadi perbedaan pendapat. Beliau memberikan penjelasan sebagai berikut:
   Tidak dapat disangkal lagi bahwa perpecahan, saling memvonis sesat, permusuhan, dan kebencian yang terjadi di kalangan para pemuda yang komitmen, sebagian terhadap sebagian yang lainnya yang tidak sepaham dengan manhaj masing-masing, adalah suatu hal yang menyedihkan dan sangat disayangkan, bahkan bisa jadi menimbulkan dampak yang serius.
   Perpecahan seperti ini ibarat penyejuk mata hati para syaithan dari bangsa jin dan manusia, sebab mereka tidak menyenangi apabila ahli kebajikan bersatu. Mereka menginginkan ahli kebajikan tersebut berpecah-belah karena mereka (para syaithan tersebut) mengetahui bahwa perpecahan akan meluluhlantakkan kekuatan yang dihasilkan oleh sikap komitmen dan ketaatan kepada Alloh SWT. Hal ini telah disinyalir oleh firman-Nya, artinya, “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu”. (QS. al-Anfal: 46).
   “Dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka”. (QS. Ali ‘Imran: 105)
   “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka”. (QS. al-An’am: 159)
   “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. (QS. asy-Syuro: 13)
   Alloh SWT telah melarang kita berpecahbelah dan menjelaskan tentang akibatnya yang sangat buruk. Sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk menjadi umat yang bersatu dan satu kata (bersepakat). Perpecahan hanyalah akan merusak dan meluluhlantakkan urusan serta mengakibatkan lemahnya umat Islam. Di antara para shahabat pun terjadi perbedaan pendapat, akan tetapi hal itu tidak menimbulkan perpecahan, permusuhan dan kebencian. Bahkan perbedaan pendapat itu terjadi pada masa Nabi SAW.
   Sepulang beliau dari perang Ahzab (Khandaq), ketika itu, Jibril datang dan memerintahkannya agar bergerak menuju perkampungan Bani Quraizhah sebab mereka telah membatalkan perjanjian. Beliau SAW lalu bersabda kepada para shahabatnya, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian melakukan shalat ‘Ashar kecuali (bila sudah tiba) di perkampungan Bani Quraizhah”. Mereka pun bergerak dari Madinah menuju perkampungan Bani Quraizhah, sementara waktu ‘Ashar pun sudah tiba, lalu sebagian mereka berkata, ‘Kita tidak boleh melakukan shalat, melainkan di perkampungan Bani Quraizhah meskipun matahari sudah terbenam sebab Nabi SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian melakukan shalat ‘Ashar melainkan (bila sudah tiba) di perkampungan Bani Quraizhah”, karenanya kita harus mengatakan, “Sami’na wa atha’na” (Kami dengar dan kami patuh).
   Sebagian mereka yang lain berkata “Sesungguhnya Rasulullah SAW bermaksud agar kita bergegas dan bergerak-cepat keluar, dan bukan bermaksud agar mengakhirkan shalat”. Perihal tersebut kemudian sampai ke telinga Rasulullah SAW, namun beliau SAW tidak mencerca salah seorang pun di antara mereka, tidak pula mencemooh pemahaman mereka. Jadi, mereka sendiri tidak berpecah-belah hanya karena berbeda pendapat di dalam memahami hadits Rasulullah SAW.
   Demikian juga dengan kita, wajib untuk tidak berpecah-belah dan menjadi umat yang bersatu. Sedangkan bila yang terjadi justru perpecahan, maka bahayanya sangat besar. Optimisme yang kita harapkan dan cita-citakan dari kebangkitan Islam ini akan menjadi sirna, manakala kita mengetahui bahwa ia hanya akan dimiliki oleh kelompok-kelompok yang berpecah-belah, satu sama lain saling memvonis sesat dan mencela.
   Solusi dari problematika ini adalah hanya dengan meniti jalan yang telah ditempuh oleh para shahabat, mengetahui bahwa perbedaan pendapat yang bersumber dari ijtihad ini adalah dalam taraf masalah yang masih bisa ditolerir beristijad di dalamnya dan mengetahui bahwa perbedaan pendapat ini tidak berpengaruh bahkan ia sebenarnya adalah persepakatan.
   Bagaimana bisa demikan? Saya berbeda pendapat dengan anda dalam satu masalah dari sekian banyak masalah karena indikasi dari dalil yang ada pada anda berbeda dengan yang ada pada pendapat saya. Realitasnya, kita bukan berbeda pendapat sebab pendapat kita diambil berdasarkan asumsi bahwa inilah indikasi dari dalil tersebut. Jadi, indikasi dari dalil itu ada di depan mata kita semua dan masing-masing kita tidak mengambil pendapatnya sendiri saja melainkan karena menganggapnya sebagai indikasi dari dalil. Karenanya, saya berterima kasih dan memuji anda karena anda telah berani berbeda pendapat dengan saya. Saya adalah saudara dan teman anda, sebab perbedaan pendapat ini merupakan bagian dari indikasi dari dalil yang menurut anda, sehingga wajib bagi saya untuk tidak menyimpan sesuatu ganjalan pun di hati saya terhadap anda bahkan saya memuji anda atas pendapat anda tersebut, demikian juga halnya dengan anda. Andaikata masing-masing kita memaksakan pendapatnya untuk diambil pihak lain, niscaya pemaksaan yang saya lakukan terhadapnya agar mengambil pendapat saya tersebut, tidak lebih utama daripada sikap pemaksaan yang sama yang dilakukannya terhadap saya.
   Oleh karena itu, saya tegaskan: Wajib bagi kita menjadikan perbedaan pendapat yang dibangun atas suatu ijtihad bukan sebagai perpecahan, tetapi persepakatan sehingga terjadi titik temu dan kebaikan dapat diraih.
   Akan tetapi, bila ada yang berkata, “Bisa jadi solusi seperti ini tidak mudah direalisasikan oleh kalangan orang awam, lalu apa solusi lainnya?”
   Solusinya, hendaknya para pemimpin kaum dan pemukanya yang meliputi semua pihak berkumpul untuk mengadakan tela’ah dan kajian terhadap beberapa permasalahan yang diperselisihkan di antara kita, sehingga kita bisa bersatu dan berpadu hati.
   Pada suatu tahun pernah terjadi suatu kasus di Mina yang sempat saya dan sebagian saudara saya tangani. Barangkali masalahnya terdengar aneh bagi anda. Ada dua pihak dihadirkan, masing-masing pihak beranggotakan 3-4 orang laki-laki, masing-masing saling menuduh kafir dan melaknat, padahal mereka sedang melaksanakan haji. Ceritanya begini; salah satu pihak menyatakan, “Sesungguhnya pihak yang lain itu ketika berdiri untuk melakukan shalat, meletakkan tangan kanan mereka di atas tangan kiri pada posisi atas dada.” Ini adalah kekufuran terhadap sunnah di mana sunnahnya menurut pihak ini mengulur tangan ke bawah, di atas kedua paha. Sementara pihak yang lain mengatakan, “sesungguhnya mengulur tangan ke bawah, di atas kedua paha dengan tidak meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri merupakan perbuatan kufur yang membolehkan laknatan.” Perseteruan di antara mereka sangat tajam. Akan tetapi, berkat anugerah dari Allah SWT, usaha yang dilakukan sebagian saudara saya itu dibarengi dengan penjelasan mengenai pentingnya perpaduan hati di antara umat Islam, mereka pun mau pergi dari tempat itu dan masing-masing mereka akhirnya saling ridla.
   Lihatlah, betapa syaithan telah mempermainkan mereka di dalam masalah yang mereka perselisihkan ini sampai kepada taraf saling mengafirkan satu sama lainnya. Padahal sebenarnya ia hanyalah salah satu amalan sunnah, bukan termasuk rukun Islam, bukan juga fardlu atau wajibnya. Inti dari permasalahan itu, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa meletakkan tangan di atas tangan kiri pada posisi di atas dada adalah sunnah hukumnya, sementara ulama yang lain menyatakan bahwa sunnahnya adalah mengulur tangan ke bawah. Padahal pendapat yang tepat dan didukung oleh as-Sunnah (hadits) adalah meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Sahl, di berkata, “Dulu orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan tangan kanan di atas pergelangan tangan kirinya di dalam shalat”.
   Saya memohon kepada Allah SWT agar menganugerahkan perpaduan hati, kecintaan dan kelurusan hati kepada saudara-saudara kami yang memiliki manhaj tersendiri di dalam sarana berdakwah. Bila niat sudah betul, maka akan mudahlah solusinya. Sedangkan bila niat belum betul dan masing-masing di antara mereka berbangga diri terhadap pendapatnya serta tidak menghiraukan pendapat yang lainnya, maka semakin jauhlah upaya mencapai kesuksesan.
   Catatan saya: Bila perbedaan pendapat itu terjadi pada masalah-masalah aqidah, maka hal itu wajib dibetulkan. Pendapat apa saja yang berbeda dengan madzhab Salaf, wajib diingkari dan diberikan peringatan terhadap orang yang meniti jalan yang menyelisihi madzhab salaf tersebut pada sisi ini.
Sumber: Fatawa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Dar ‘Alam al-Kutub, Riyadh 1991, Cet. I, juz. II, hal. 939-944, dengan meringkas.

whitenetral

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 34
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #39 pada: April 14, 2010, 11:00:08 am »
BAGAIMANA MENYIKAPI PERPECAHAN UMAT
   Derap langkah perkembangan dakwah Islamiyyah semenjak kepergian Rosululloh SAW mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan dalam satu sisi. Hal ini terbukti dengan makin melebarnya perluasan wilayah Islam yang telah dilakukan oleh para kholifah dan pemimpin kaum muslimin sepeninggal beliau. Namun, di sisi lain, umat ini pun mengalami kemerosotan yang memprihatinkan dengan munculnya benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin sendiri. Berbagai kelompok dan aliran bermunculan dengan latar belakang dan demi kepentingan rezim yang berbeda-beda. Akibatnya, persatuan yang sebelumnya menghiasi tubuh kaum muslimin mulai memudar tertutup oleh mendung fanatisme kelompok yang sangat berbahaya.
   Namun, di tengah-tengah perpecahan umat yang kian hari kian kritis ini, kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW dituntut untuk bisa menyikapinya dengan penuh kebijaksanaan sesuai dengan yang telah dituntunkan oleh Rosululloh SAW. Maka dari itu, dengan memohon kemudahan dari Zat yang Maha Rohman, kami akan menyajikan satu bentuk tulisan yang mudah-mudahan bisa menjadi sebagai spirit (penyemangat) dalam menghadapi segala bentuk fitnah dan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin. Wallohul Muwaffiq.
Perpecahan Adalah Sunnatulloh
   Perpecahan dan perselisihan yang selama ini banyak mengotak-ngotakkan kaum muslimin bukanlah fenomena baru dalam realitas umat. Demikian, karena sesungguhnya hal ini merupakan sunnah kauniyyah yang pasti terjadi dan tidak dapat dipungkiri dalam roda kehidupan umat manusia itu sendiri. Alloh SWT telah menandaskan dalam firman-Nya bahwa manusia akan senantiasa terbelenggu dalam lingkaran perselisihan:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rohmat oleh Tuhamnu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka…(QS. Hud [11]: 118-119)
   Demikian pula Rosululloh SAW, dalam sebuah hadits beliau mengabarkan bahwasannya umat ini akan berpecah-pecah layaknya umat-umat terdahulu. Sabda beliau: “Ketahuilah bahwasannya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat adapun umat ini maka akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di antaranya berada di neraka dan hanya satu golongan yang akan berada di surga yaitu mereka yang berpegang teguh dengan al-jama’ah.” (HR. Imam Ahmad: 4/102, Abu Dawud: 4597, dihasankan oleh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 3/115)
Bagaimana Menyikapi Perpecahan Umat
   Sesungguhnya perpecahan dan perselisihan sebagai realitas umat merupakan sunnatulloh yang pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan. Kendati demikian, bukan berarti kita sebagai umat Islam hanya diam berpangku tangan dan menyerah pada kenyataan ini. Semestinya hal ini malah menjadi motivator bagi kita untuk semakin berpegang teguh dengan agama yang hanif ini serta menjauhi segala bentuk perpecahan dan perselisihan. Alloh SWT berfirman:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai….(QS. Ali Imron [3]: 103)
   Sidang pembaca yang diromhati Alloh SWT, di tengah-tengah kemelut perpecahan yang tak terkendalikan ini, Rosululloh SAW sebagai utusan Alloh SWT yang mengeluarkan manusia dari gelapnya lingkaran hizbiyyah (kelompok/golongan) telah memberikan solusi jitu bagi umatnya sehingga mereka tidak akan tersesat dari jalan yang diridhoi Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW. Nasihat beliau tersebut terhimpun dalam satu untaian sabdanya yang diriwayatkan dari sahabat mulia Irbadh bin Sariyah. Beliau bersabda:
“… Barang siapa yang hidup sepeninggalku sungguh akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak. Oleh karenanya, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapat petunjuk setelahku. Berpegangteguhlah dengan sunnah(ku) tersebut dan gigitlah dengan gigi gerahammu, kemudian hindarilah segala bentuk perkara baru dalam agama karena setiap perkara baru adalah bid’ah sedangkah setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud: 4607, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 3/119)
Dalam hadits yang mulia ini terangkum tiga wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai perpecahan dan perselisihan setelah kepergian beliau: PERTAMA: kewajiban berpegang teguh dengan sunnah beliau, KEDUA: wajib menggandengkan sunnah beliau dengan pemahaman para sahabat, dan KETIGA: menjauhi segala bentuk hal yang baru dalam agama.
PERTAMA: BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH ROSULULLOH SAW
   Kewajiban bagi umat Islam ketika gemuruh perpecahan semakin menghantam adalah mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada al-Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW. Alloh SWT berfirman:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian …. (QS. an-Nisa’ [4]: 59)
   Syaikh Abdurrohman as-Sa’di berkata: “Kaum muslimin diperintahkan untuk mengembalikan setiap apa yang mereka perselisihkan baik dalam masalah aqidah (ushuluddin) maupun dalam cabang-cabang agama lainnya (furu’) kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW yaitu kepada al-Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW.” (Taisir Karimirrohman: 171)
   Dan dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwasannya suatu ketika Rosululloh SAW membuat satu garis di hadapan kami (para sahabat) lantas beliau bersabda: “Ini adalah jalan Alloh SWT.” Kemudian beliau kembali membuat beberapa garis di sisi kanan dan kiri garis sebelumnya seraya bersabda: “Ini adalah beberapa jalan dan di ujungnya setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat: “Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu hanya akan mencerai-beraikan kamu dar jalan-Nya.“ (HR. Imam Ahmad: 1/435, dengan sanad hasan sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)
KEDUA: WAJIB MENGGANDENGKAN SUNNAH ROSULULLOH SAW DENGAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT
   Mengamalkan sunnah Rosululloh SAW sesuai dengan pemahaman para sahabat adalah sebuah kewajiban yang telah diwasiatkan oleh Rosululloh SAW kepada umatnya di dalam banyak hadits. Di antaranya adalah sabda beliau ketika mengabarkan bahwasannya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya berada dalam api neraka kecuali satu golongan yang akan selamat, lantas para sahabat bertanya kepada beliau: “Siapakah mereka wahai Rosululloh?” Maka beliau pun menegaskan bahwasannya golongan yang akan selamat adalah mereka yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah para sahabatnya. (HR. Tirmidzi: 2641, dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunah Tirmidzi: 3/54)
   Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi berkata: “Menapaki sunnah para sahabat Rosululloh SAW merupakan biduk keselamatan. Hal ini dikerenakan mereka menyaksikan langsung bagaimana wahyu diturunkan, dan mereka pun menerima suguhan al-Qur’an dan as-Sunnah berserta realisasinya dari Rosululloh SAW sendiri dengan pemahaman yang sebenar-benarnya. Maka pantaslah jika Rosululloh SAW bersabda, ‘Apa yang saya dan para sahabat saya berada di atasnya.’ Dan sabdanya ‘Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapatkan petunjuk (sepeninggalku).” (Syarah Ushulus Sunnah: 15)
KETIGA: MENJAUHI SEGALA PERKARA BARU DALAM AGAMA
   Di akhir hadits iftiroq (perpecahan) ini Rosululloh SAW menutup wasiatnya dengan perintah untuk menghindari segala bentuk bid’ah dalam agama, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun mu’amalah, dan hal ini beliau peringatkan karena sesungguhnya di setiap jalan yang ditempuh oleh tujuh puluh dua golongan tersebut terdapat setan yang selalu menyeru menuju kepada jalan kebinasaan yang berpangkal pada bid’ah itu sendiri. Imam Ibnul Qoyyim pernah berkata: “Sesungguhnya pangkal setiap kejelekan dan keburukan kembali kepada bid’ah.” (I’lam al-Muwaqqi’in: 1/134)
   Saudaraku, itulah tiga rangkaian wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai kabut perpecahan di akhir zaman. Oleh karenanya, tiada pilihan bagi kita melainkan harus menjadikannya sebagai pegangan dalam menghadapi dan menyikapi perpecahan umat yang kian hari makin menjamur di tubuh kaum muslimin. Dan akhirnya, kita memohon semoga Alloh SWT menjaga kita semua dari belenggu setan yang selalu mengajak kepada jalan yang tiada Dia ridhoi. Amin ya Sami’ad du’a’.
Abu Kholid al-Atsari

whitenetral

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 34
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #40 pada: April 14, 2010, 11:09:42 am »
Perbedaan itu sunnatullah...
Bahkan diantara para sahabat yang pemahamannya lurus pun pernah terjadi perbedaan pendapat. Namun perlu diperhatikan, bahwa perbedaan yang terjadi diantara para sahabat dan salaful ummah adalah perbedaan yang ma'ruf. Artinya, setiap pendapat disasari dalil yang kuat dari Qur'an dan Sunnah yg shahih, bukan akal pikiran dan hawa nafsu. Maka pada perbedaan yang ma'ruf, disyariatkan untuk berlapang diri, saling menghargai dan mengambil pendapat yang lebih rajih (kuat).

Berbeda hal jika perbedaan itu adalah perbedaan yang bathil. Yang satu didasari atas dalil, namun yang satu berdasarkan akal dan hawa nafsu dalam menafsirkan hadits atau dalil yang sangat lemah. Maka dalam hal ini disyariatkan untuk mengambil pendapat yg berdasarkan dalil, meninggalkan pendapat yg bathil, kemudian menasehati orang yg berpendapat demikian, bila masih tetap 'ngeyel' maka di tahzir, bila masih ngeyel, maka disyariatkan berlepas diri darinya.
Walaupun para ulama tadi berbeda pendapat pada kenyataannya mereka saling memuji satu sama lain. Rupanya antum kurang paham deh tentang masalah ikhtilaf! Ikhtilaf bukanlah suatu cela sepanjang merupakan wilayah ijtihadiyah yang dilakukan oleh orang yang benar-benar alim. Ana jadi heran, apakah antum tidak mengetahui bahwa Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam beberapa hal beliau juga berbeda dengan gurunya Al-Imam Malik rahimahullah. Demikian pula antara Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam beberapa hal juga berbeda dengan gurunya Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah. Padahal mereka guru dan murid. Jadi sangat tidak tepat antum menggunakan pepatah tiada gading yang tak retak dalam hal ikhtilaf. Retaknya dimana? Hayo coba dijawab!
Selanjutnya, ana mengajak diri ana pribadi dan antum sekalian untuk rajin-rajin menghadiri majelis-majelis ilmu, jangan sampai kita gegabah dalam menghakimi sesuatau padahal kita minim ilmu. (Harusnya orang yang minim ilmunya tapi sok tahu, ngerasa nih!!)


Apakah yang antum maksud "tidak ada gading yang tak retak" adalah: salafy juga banyak ikhtilafnya?
Ikhtilaf di kalangan ulama adalah suatu hal yang lumrah bahkan yang tergolong dalam satu mazhab atau satu kelompok... toh mereka punya pemahaman dan landasan pemikiran yang memadai... dan karena itu pulalah mereka bisa saling menghormati.
Yang aneh adalah kalo seorang muslim bersikeras bahwa hanya ada satu kebenaran dalam hal-hal yang para ulama berselisih pendapat... apalagi sampai menjelekkan ulama yang berbeda pendapat dengannya (padahal dia sendiri awam)...



Jadi sangat tidak tepat antum menggunakan pepatah tiada gading yang tak retak dalam hal ikhtilaf. Retaknya dimana? Hayo coba dijawab!
Selanjutnya, ana mengajak diri ana pribadi dan antum sekalian untuk rajin-rajin menghadiri majelis-majelis ilmu, jangan sampai kita gegabah dalam menghakimi sesuatau padahal kita minim ilmu.


--

Kan saya sudah sampaikan, bahwa tidak ada ulama yang 100% benar, entah dalam cara memandang persoalan, dalam inti fatwa, atau dalam cara penyampaian, dlsb, ya tentu termasuk ulama salafy... siapapun dia termasuk Syaikh bin Baz, Syaikh Utsaimin, dll, atau juga Syaikh Nabhani, siapapun lah...
Hormati mereka karena perjuangan dan dakwah mereka, ambil kebaikan dari ilmu mereka, tinggalkan fatwa mereka yang kita tidak tenang untuk mengikutinya, terus kita doakan semoga kekurangan dan aib mereka diampuni dan ditutup oleh Allah swt.
Setuju??
PernikMuslim:
yup! setuju...

jadi jangan ulama yang salah berpendapat dijadikan hujjah. bisa saja beliau salah berpendapat karena sudah tingkat ijtihad. tapi bagi kita, ijtihad yang salah tetap tidak boleh diikuti.

bedakan antara hukum mengikuti ijtihad yang salah, dan hukum ulama yang salah berijtihad

Allahua'lam
ikhtilaf bukanlah hujjah...
bagaimana kita mau mengikuti yang shahih sementara masih suka berdalih demi pembenaran dengan menggunakan satu hal yang katanya"hal ini masih di perdebatkan". bagai mana bisa. Sedang imam Syafi'i berkata "jika telah sah satu hadits maka itulah madzhabku".


bisakah kita mengikuti jejak beliau? yaitu berhujjah dengan dalil atau hujjah yang shahih... ;)
PernikMuslim:
kalo sama2 shahih, itu baru disebut ikhtilaf :)

kalo yang satu gak ada hujjah, atau berhujjah dengan ijtihad yang salah, bukan ikhtilaf namanya ;)
kalo dua-duanya shahih masyhur di sebut menjama' dua pendapat yang shahih. Dan terhadap hukum ini(sama-sama shahih) di beri kebebasan mengamalkan salah satu di antara keduanya.

Beginilah Seharusnya Aktivis Bermanhaj Salaf Bersikap
Akhlak adalah salah muatan misi diutusnya Råsulullåh SAW. Karena itulah dalam kehidupan sehari-harinya beliau sarat dengan kilauan akhlak yang mulia. Akhlak bersama keluarga, sahabat, tamu, tetangga dan ketika menjalankan aktivitas dakwah. Akhlak beliau memperindah untaian kata-kata pesan dan nasehatnya.



Keindahan akhlak beliau kepada sesama manusia adalah ketika memaafkan kejahatan para penentang dakwahnya. Inilah salah satu yang diwarisi oleh ahlussunnah. Di antara sifat-sifat terpenting yang dimiliki oleh Ahlussunnah adalah pengusaan ilmu dan menyayangi semua makhluk Allåh. Mereka adalah para pemilik ilmu, pengikut setia, pengamal ilmu dan pengikut perbuatan Nabi SAW.



Mereka adalah orang-orang yang amat mengetahui kebenaran, yang paling bersemangat dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama, dan yang memerangi Ahlul Ahwa (para pengikut hawa nafsu) serta para pelaku bid’ah. Semua itu didasari atas perasaan kasih kepada sesama makhluk Allåh. Tidak ada yang mereka inginkan kecuali kebaikan dan petunjuk. Karenanya, merekalah orang-orang yang amat luas dan besar rasa belas kasihnya kepada sesama dan yang paling benar nasihatnya.



Ibnu Taimiyah berkata, “Para imam Ahlussunah dan para ulamanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu. Mereka berlaku adil kepada orang yang menyelisihi kebenaran, meskipun mereka dizhalimi.”



Sebagaimana firman Allåh SWT,

$pkš‰r‘¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. šúüÏBº§qs% ¬! uä!#y‰pkଠÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( Ÿwur öNà6¨ZtBÌ�ôftƒ ãb$t«oYx© BQöqs% #’n?tã žwr& (#qä9ω÷ès? 4 (#qä9ωôã$# uqèd Ü>t�ø%r& 3“uqø)¬G=Ï9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 žcÎ) ©!$# 7Ž�Î6yz $yJÎ/ šcqè=yJ÷ès? ÇÑÈ


“Hai orang-orang yang beriman,hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allåh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al-Maidah:8)



Mereka amat belas kasih kepada makhluk Allåh. Karenanya, mereka berusaha agar manusia dapat memperoleh kebaikan, petunjuk, dan ilmu. Mereka tidak pernah bermaksud untuk menimpakan kejelekan kepada manusia. Kalaupun mereka menghukum Ahlu Bid‘ah, menjelaskan kesalahan, kebodohan dan kezaliman mereka, tujuannya adalah semata-mata menjelaskan kebenaran dan karena rasa kasihan kepada mereka dan umat secara keseluruhan.



Ibnu Rajab berkata, “Para rasul dan para pengikutnya yang sejati semuanya bersabar menahan derita dalam dakwah di jalan Allåh SWT demi terlaksananya perintah-perintah Allåh. Mereka rela menerima siksaan yang sangat pedih dari manusia. Mereka menjalani semua itu dengan sabar bahkan dengan rela dan ikhlas, sebagaimana Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz berkata kepada ayahnya, ketika ayahnya menjabat khalifah, ‘Wahai ayah, demi terlaksananya kebenaran dan tegaknya keadilan, aku rela seandainya diriku dan dirimu dimasukkan ke dalam kuali-kuali yang berisi air mendidih karena Allåh SWT.’”



Sebagian orang saleh berkata, “Aku rela tubuhku dipotong-potong kalau dengan itu kemudian menjadikan semua manusia mau taat kepada Allåh SWT.” Maksud perkataannya bias jadi karena dia kasihan terhadap sesama akan adzab Allåh di akhirat kelak. Karenanya dia rela menjadi tebusan adzab Allåh walau dirinya menderita di dunia. Atau bisa jadi karena dia telah mengetahui begitu agungnya Allåh SWT sehingga berhak untuk diagungkan, dimuliakan, ditaati, dan dicintai. Sehingga dia berkeinginan agar semua makhluk taat kepada Allåh SWT, walaupun dia harus mengorbankan dirinya di dunia.”



Ahlus Sunnah wal Jamaah mewarisi sifat-sifat terpuji ini dari pemilik akhlak yang agung yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling besar kasih sayangnya. Untuk menampakkan kebenaran, beliau sampaikan risalah Allåh dan menunaikan amanah dengan terus berjihad di jalan Allåh. Semua itu beliau lakukan disertai dengan rasa kasih sayang dan keinginan yang besar untuk membukakan pintu-pintu hidayah di dalam hati manusia. Hal ini dinyatakan sebagaimana tersebut dalam firman Allåh SWT,

ô‰s)s9 öNà2uä!%y` Ñ^qß™u‘ ô`ÏiB öNà6Å¡àÿRr& ͕tã Ïmø‹n=tã $tB óOšGÏYtã ëȃÌ�ym Nà6ø‹n=tæ šúüÏZÏB÷sßJø9$$Î/ Ô$râäu‘ ÒOŠÏm§‘ ÇÊËÑÈ


“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Al-Taubah:128)



Aisyah s berkata, “Tidaklah Råsulullåh SAW dihadapkan kepada dua perkara melainkan beliau akan memilih yang paling ringan bagi umatnya, selama hal itu tidak termasuk ke dalam perbuatan dosa.”[a]



Coba kita ingat dan renungkan kembali berbagai penderitaan yang dialami oleh Råsulullåh SAW dalam berdakwah di jalan Allåh SWT. Bagaimana saat beliau menyeru penduduk Thåif. Dakwah beliau ditolak, bahkan dilempari dengan batu, sehingga harus kembali ke Makkah dengan membawa nestapa yang mendalam.



Tatkala beliau sampai di Qårnil Manazil, malaikat pengurus gunung mendatangi beliau menawarkan untuk melemparkan dua gunung di Makkah kepada penduduknya jika beliau berkehendak. Akan tetapi karena rasa sayang beliau terhadap ummatnya beliau menjawab, “Semoga Allåh mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allåh semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.”



Berbelas kasih kepada sesama manusia dan berpegang teguh kepada kebenaran merupakan salah satu sifat yang melekat pada nabi-nabi terdahulu. Hal ini masih bisa kita saksikan dalam catatan perilaku kehidupan yang tampak jelas di dalam kisah-kisah mereka. Ibnu Mas‘ud ra berkata, “Råsulullåh SAW bercerita tentang seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu. Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya sehingga wajahnya mengucurkan darah. Nabi tersebut mengusap darah di wajahnya sambil berkata, ‘Ya Allåh, ampunilah kaumku karena mereka belum mengetahui kebenaran.’”



Generasi awal umat ini dan para ulama-ulama yang saleh juga menempuh jalan sebagaimana yang dicontohkan oleh para rasul. Abu Umamah al-Bahili rahimahullahu telah mengeluarkan ungkapan yang benar dan menunjukkan belas kasihnya terhadap sesama makhluk, ketika beliau melihat 70 kepala orang-orang Khawarij dipancangkan di pinggir jalan raya Damaskus. Beliau berkata, “Hal ini dilakukan karena untuk menunjukkan kebenaran kepada umat. Mahasuci Allåh, alangkah buruknya apa yang diperbuat oleh setan terhadap anak Adam. Mereka, pengikut faham Khawarij yang dipancangkan kepalanya, adalah anjing-anjing Jahannam, sejelek-jelek orang yang dibantai di kolong langit ini.”[c] Kemudian beliau menangis seraya berkata, “Aku menangis karena kasihan kepada mereka.”



Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu yang tetap kokoh di atas kebenaran, tidak gentar terhadap celaan para pencela. Beliau mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa al-Quran adalah kalamullah (firman Allåh) dan bukan makhluk. Beliau tetap bersabar menghadapi berbagai macam intimidasi dan fitnah yang dilancarkan oleh musuh-musuh beliau yaitu para pemuka Mu’tazilah dan pengikutnya, termasuk di dalamnya Khålifah al-Ma’mun, al-Mu‘tashim, dan al-Watsiq. Meskipun berat penderitaan yang ditimpakan kepada beliau, tatkala ke luar dari penjara beliau berkata, “Mereka yang pernah menyakitiku semuanya aku maafkan kecuali ahli bid‘ah. Dan aku juga telah memaafkan Abu Ishaq, yakni al-Mu‘tashim (khålifah yang paling keras menyakiti beliau).”



Teladan lain yang telah dicontohkan oleh para imam Ahlus Sunnah adalah apa yang diperbuat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Beliau tidak hanya mendakwahkan akidah salafussaleh tetapi juga berjihad dengan lisan dan pedang melawan kelompok-kelompok sesat dan meyimpang. Beliau membantah Ahlul Kitab, menelanjangi kedustaan kaum Bathiniyyah, mendebat kaum Shufi dan juga ahli filsafat. Semua itu beliau lakukan guna menjelaskan dan menyampaikan kebenaran. Namun demikian, dalam waktu yang bersamaan beliau juga menunjukkan sikap belas kasih dan ihsan kepada para penentangnya. Di antara bukti-bukti yang menunjukkan hal itu, adalah apa yang dikisahkan oleh murid beliau Imam Ibnu Qåyyim al-Jauziyah. Beliau berkata, “Suatu hari aku mendatangi Ibnu Taimiyah dengan maksud untuk memberi kabar gembira tentang kematian salah seorang musuh besarnya yang paling keras permusuhannya dan paling banyak menyakitinya. Akan tetapi beliau justru menghardikku dan memarahiku. Saat itu juga beliau segera pergi menuju rumah keluarga mayit dan berkata kepada keluarganya, “Mulai sekarang aku yang akan menggantikan tanggung jawabnya. Apapun yang kalian butuhkan akan aku usahakan untuk memenuhinya.” Maka merekapun bergembira dan mendoakan kebaikan untuk Imam Ibnu Taimiyah rahimahullahu.” Ketika beliau sakit menjelang wafat, salah seorang musuhnya menjenguk beliau memohon udzur dan minta dimaafkan. Maka beliau berkata, “Aku telah memaafkanmu dan semua orang-orang yang memusuhiku, yang tidak menyadari bahwa aku berada di atas kebenaran.”



Ketika ahlussunnah mampu mengaplikasikan metode dakwah Rasulullah dengan konsisten dihiasi dengan keluhuran akhlak yang mulia, maka, biidznillah, dakwah ahlussunnah akan dimudahkan oleh Allåh dalam menuntun manusia pada jalan-Nya. Wallåhu a‘lam.


whitenetral

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 34
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #41 pada: April 14, 2010, 11:25:27 am »
Bahkan terkadang ada beberapa nash dalil yang keshahihannya diperselisihkan, seperti masalah shalat tasbih.


Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran

Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.

Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya. Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.

Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.

Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain. Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.

Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani. Misalnya tentang hadits shalat tasbih. Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu adalah semata produk ijtihad manusiawi.


Untuk orang-orang yang berkata-kata seperti di atas, hendaknya kita jangan langsung percaya. Karena banyak sekali orang-orang fasik yang berlagak 'alim, bijak, sok tau melontarkan beberapa kalimat yang merupakan fitnah terhadap para imam hadits. Seperti waktu itu, ada yang mengatakan bahwa syekh nashiruddin al-albani menghalalkan/memperbolehkan demokrasi, ternyata setelah saya baca salah satu buku karangan syekh nashiruddin al-albani...syekh nashiruddin al-albani menolak prinsip politik (saat ini (demokrasi) yang tak sesuai dengan syari'at islam. Waktu itu juga pernah ada orang fasik yang menulis "biografi/kata pengantar" di buku-buku karangan ustadz/ulama salaf.di biografi tersebut disebutkan bahwa ulama seperti imam syafi'i keliru dalam hal x, y, z menghalalakn/melakukan x, y, z.......padahal itu semua adalah fitnah terhadap para 'ulama. DEMI ALLAH. SAYA TIDAK PERCAYA PADA BERITA ORANG_ORANG FASIK YANG SERING membolak-balik fakta dan ingin agar umat islam binguuung dalam berpegang teguh pada ulama yang mana!!!! Padahal sudah jelas kewajiban umat islam adalah MEMBENCI BID'AH (SOLAT TASBIH, dll) dan wajib berpegang teguh pada ulama salafussoleh dengan hujjah yang nyata

whitenetral

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 34
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #42 pada: April 14, 2010, 11:42:30 am »
Soal Sesat, Benarkah Hanya Tuhan yang Tahu?    

   
Tidak berdasar orang muslim yang mengatakan bahwa manusia tidak berhak mengatakan siapa manusia yang sesat dan siapa tidak sesat

Oleh: Zarnuzi Ghufron*

Hidayatullah.com--"Siapa yang punya otoritas untuk menilai sesat, siapa yang yang tahu faham ini sesat atau tidak, tiada yang berhak untuk menilai sesat kecuali Tuhan".

Kalimat-kalimat seperti ini akhir-akhir ini sering kita dengar, baik di televisi atau di media tulis, diungkapkan oleh orang yang menolak penilaian suatu faham tertentu, seperti Ahmadiyah, Lia Aminudin, dan lainnya sebagai faham yang sesat. Menurut mereka, yang mengetahui sesat atau tidak hanyalah Tuhan. Di antara mereka ada yang mencoba menukil sebuah ayat dari Al-Quran:

"Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang dapat petunjuk." (QS An-Nahl:125)

Bisakah ayat ini dijadikan legitimasi pendapat mereka? Sepertinya kita perlu memperhatikan ayat sebelumnya dan segala hal yang terkait dengan ayat ini untuk mengetahui kejelasan pemahaman ayat ini.

Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ketika berselisih dengan kaum Yahudi dalam menetapkan hari yang diagungkan Allah swt di setiap minggunya untuk dijadikan hari raya dan hari berkumpul bersama untuk beribadah. Sebelumnya, Allah swt telah menetapkan hari Jumat kepada Nabi Ibrahim as., kepada kaum Yahudi lewat lisan Nabi Musa as., dan kepada kaum Nasrani lewat lisan Nabi Isa as. Akan tetapi kaum Yahudi menolak dan memilih hari Sabtu, serta kaum Nasrani menolak dan memilih hari Minggu.

Nabi Muhammad saw mengajak kaum Yahudi untuk kembali mengikuti petunjuk Tuhan dan mereka pun tetap menolak dan memilih dalam kesesatan. Dan Allah swt berkata kepada Nabi Muhammad bahwa Dia yang lebih mengetahui siapa yang berhak Dia beri petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan, dan tugas Nabi hanyalah menunjukan jalan kebenaran yang telah Tuhan berikan agar terhindar dari kesesatan, adapun hidayah adalah hak absolut Tuhan. (lihat:Tafsir Ibnu Katsir, dll)

Dari keterangan ini dapat kita fahami bahwa pemahaman ayat tersebut bukan menunjukan manusia tidak bisa mengetahui siapa yang sesat dan bukan, akan tetapi siapa yang berhak Tuhan beri petunjuk dan Dia sesatkan setelah Dia mengutus para Rasul untuk memberi tahu umat manusia; mana jalan sesat dan mana jalan yang benar.

Menjadi mentahlah argumen orang yang mengatakan, "Manusia tidak berhak menilai tentang sesat atau bukan, karena hanya Tuhan yang tahu," karena Allah swt sendiri telah memberi tahu kepada kita, siapa yang yang menurut Dia sesat atau bukan lewat Rasul yang Dia utus dan Kitab Suci yang Dia turunkan yang berisi firman-firman-Nya.

"Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka Sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri". (QS Al-Zumar:41)

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)."(QS.Al-Baqoroh:185)

Orang yang menolak adanya klaim sesat di dunia --karena menurutnya hanya Tuhan yang tahu, sebenarnya memiliki kerancuan di dalam berpikir. Mereka seolah-olah ingin mengagungkan Tuhan, akan tetapi sebenarnya malah sebaliknya. Di sini dapat kita ketahui kerancuan cara berpikir mereka:

Pertama, kita tahu Allah swt akan menempatkan orang yang sesat di dalam neraka, sebagai balasan atas perbuatannya ketika di dunia. Jika dilihat dari cara berpikir mereka, seolah Tuhan tidak bijaksana (Maha Suci Allah dari ketidakbijaksanaan), karena Tuhan menempatkan orang-orang yang menurut Dia sesat di neraka, sedangkan mereka tidak tahu kalau perbuatan mereka selama di dunia adalah sesat, karena hanya Tuhan yang tahu. Jika demikian, sama dengan mengganggap Tuhan berbuat tidak adil (Maha Suci Allah dari ketidakadilan) karena ingin menghukum manusia yang tersesat tanpa memberi tahu apa itu sesat terlebih dahulu, atau dalam bahasa kita, tidak ada sosialisai atau informasi sebelumnya.

Di dalam Al-Quran, penghuni neraka mengeluh karena menyesal tidak mengikuti petunjuk Tuhan ketika mereka hidup di dunia. Hal ini akan berbeda jika kita mengikuti asumsi tentang sesat yang tahu hanya Tuhan, maka keluhan ahli neraka akan berubah menjadi perotes:

" Ya Tuhan...! Kenapa Kau masukan aku ke neraka karena menurutmu aku sesat, kami kan tidak tahu kalau apa yang aku lakukan selama di dunia ternyata sesat, yang tahu kan hanya Engkau. Kenapa Engkau tidak memberi tahu kami, agar kami bisa menjauhinya".

Kedua, seolah Tuhan telah melakukan kesia-siaan (Maha Suci Allah dari kesia-siaan dari apa yang Dia perbuat) di dalam mengutus para Nabi dan menurunkan Kitab Suci kepada hamba-Nya, karena manusia tetap saja tidak mendapat informasi apa itu sesat atau bukan, padahal dengan jelas Dia berfirman di dalam Al-Quran bahwa Dia mengutus para rasul dengan membawa kitab suci untuk menjadi petunjuk bagi manusia.

Ketiga, jika mereka benar-benar tetap mengatakan bahwa hanya Tuhan yang tahu, kenapa mereka tidak mencari informasi dari firman Tuhan itu sendiri (Kitab Suci: Al-Quran) atau lewat para utusan-Nya(Rasul), atau mereka memang tidak mengimani keduanya sebagai sumber dari Tuhan? Lalu dengan petunjuk apa dan siapa mereka dapat mengetahui tentang sesat, sedangkan neraka telah menanti orang-orang yang sesat di dunia, apakah mereka ingin langsung bertanya dengan Tuhan?

Maha suci Allah swt yang Maha Bijaksana, yang telah mengutus Rasul dan menurunkan Kitab Suci sebagai pemberi informasi tentang kebenaran dan kesesatan kepada manusia, sehingga mereka dapat memilih jalan mana yang harus ditempuh dengan segala konsekuensinya.

Dan Maha Adil Allah swt yang tidak akan menyiksa hamba yang tersesat karena Dia belum menurunkan informasi tentang jalan yang benar dan jalan yang sesat, dan Dia yang akan menyiksa setiap orang yang menolak untuk mengikuti petunjuk yang telah Dia berikan kepada umat manusia lewat para Rasul.

"Barang siapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah swt), maka sesungguhnya dia telah berbuat untuk (keselamatan) diri sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) diri sendiri, dan seseorang yang berdosa tidak bisa memikul dosa orang lain dan kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang Rasul." (QS.Al- Isro:17)

Itulah kebijaksanaan Tuhan, yang tidak akan meminta pertanggung jawaban kepada hamba-Nya kecuali bagi mereka yang telah diberi tahu tentang tanggung jawab apa yang harus dipikulnya di hadapan-Nya.

Dari sinilah pula kita mengetahui fungsi diutusnya para Rasul dengan membawa Kitab Suci, yang tidak lain adalah untuk memberi petunjuk kepada kita, mana jalan yang sesat yang harus kita jauhi dan mana jalan yang lurus yang harus kita tempuh.

"Dialah (Allah) yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (QS Al-Taubah:33)

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah." (QS:Al-Nisa:80)

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS:Al-Nisa:115)

Saya rasa sangat tidak berdasar orang -terlebih jika orang muslim- yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengetahui; siapa manusia yang sesat dan bukan, karena tidak mau memahami fungsi diturunkannya Kitab Suci dan diutusnya rasul oleh Allah swt. Dan sekarang bukan saatnya lagi untuk mengatakan tidak adanya informasi tentang hal ini, karena Rasul telah diutus, firman Tuhan telah diturunkan, yang tertuang dalam kitab suci dan pewaris para nabi (ulama) sangat banyak untuk kita jadikan tempat bertanya tentang agama.

"(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah swt sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah swt Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." QS: Al-Nisa:165)

"Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi ingkar/kafir, padahal ayat-ayat Allah swt dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah swt, maka sesungguhnya ia Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus."( QS: Ali Imron:101)

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya mereka para ulama adalah pewaris para nabi." (HR.Bukhori)

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui." (Al-Nahl : 43)

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengungkapkan apa dan siapa yang sesat, karena sangat banyaknya kriteria sesat yang tertulis di dalam Al-Quran dan As-Sunah. Tulisan ini hanya bertujuan memberi informasi bahwa informasi tentang sesat itu terdapat di dalam dua kitab tersebut. Dan bukan saatnya lagi untuk mengatakan bahwa yang tahu hanya Tuhan dan kita tidak ada yang tahu, karena Tuhan sendiri telah memberi tahu kita lewat Al-Quran dan Sunah rasul-Nya, dan kita pun bisa mengetahui. Walaupun kita tidak mengingkari bahwa Tuhan lebih mengetahui, akan tetapi informasi yang telah Tuhan berikan sudah sangat mencukupi untuk dijadikan petunjuk.

Sekarang tinggal diri kita, mau atau tidak untuk memanfaatkan kedua sumber informasi tersebut. Bagi yang belum mampu memahami isi kedua kitab tersebut dengan baik, lebih baik bertanya kepada ulama yang berkompeten di bidangnya atau mengikuti fatwa-fatwa mereka agar terhindar dari kesalahfahaman.

COPAS dari-*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Sariah Universitas Al Ahqoff, Hadramaut,Yaman

lida

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 1
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #43 pada: Juli 26, 2010, 09:11:59 am »
Laisa Azharian man la yahfadz al-Quran" wasiat terakhir yg pernah kudengar. budi pekertimu, paras santunmu, kebijakanmu dan ilmumu akan slalu km ingat, terima kasih ya syaikh, semoga amal baikmu diterima disisi-Nya, amiin ya Rabb!!!



_________________________________
gucci handtaschen/buy cheap ed hardy/tiffany sale shop/authentic pandora beads

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #44 pada: Juli 26, 2010, 09:42:20 am »
baca dulu.