Penulis Topik: Kaidah menyikapi khilafiyah  (Dibaca 27610 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

ani hamida

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 188
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Wanita
  • :.Subhanalah...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #15 pada: Agustus 03, 2007, 04:02:59 pm »
padahal khilafiyah bukan satu-satunya dalil agar suatu permasalahan menjadi di anggap benar, dan menjadi sah untuk diamalkan.

Dan pada dasarnya masalah ibadah itu keseluruhan kaifiah pengamalannya sudah secara jelas di sampaiak oleh Rasululloh sholallohu 'alaihi wasallam. Tergantung orangnya mau mengikuti Rasul sholallohu 'alaihi wasallam atau bersikukuh pada madzhab yang di yakininya. Padahal secara tertulis semua Imam madzhab 4 pun telah berlepas diri dari apa yang menjadi pendapatnya jika berlainan dengan Al qur'an dan As Sunnah yang shahih.


aptx

  • Pengunjung
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #16 pada: Oktober 11, 2007, 06:38:16 am »
Saya setuju dengan semua INTI tulisan TS. Biarpun logika tulisannya agak kacau: Jangan "Janganlah berselisih". Maka bisa jadi maksud TS "marilah kita berselisih" :(

Mohon maaf kalau ada salah kata. Allahua'lam

abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #17 pada: Oktober 11, 2007, 08:26:06 am »
setuju, marilah kita sama-sama menyelisishi atas segala hal yang berselisih dengan manhajnya rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam OK... =D>

aptx

  • Pengunjung
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #18 pada: Oktober 11, 2007, 09:42:05 am »
Yup "berselisih" itu diperlukan untuk "keadaan" tertentu bila diperlukan (sesuai dengan syariat tertentu).

arifrahman

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 960
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • One Shoot One Kill -> U Are The Next Target :)
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #19 pada: Oktober 24, 2007, 04:22:49 pm »
Perbedaan adalah rahmat dan marilah kita mengembalikan semua perbedaan itu ke alloh dan rasulnya...


arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #20 pada: Oktober 24, 2007, 04:59:46 pm »
Perbedaan adalah rahmat
ngaco.. dalil darimana?

dan marilah kita mengembalikan semua perbedaan itu ke alloh dan rasulnya...
kalo ini bener

dajal007

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.017
  • Reputasi: 32
  • Jenis kelamin: Pria
  • di atas bumiNya lah kita semua berpijak
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #21 pada: Oktober 28, 2007, 09:36:24 am »
saya ga tau dalil yang menyebutkan kalo perbedaan itu rahmat

tapi kalo perbedaan itu adalah fitrah, saya yakin semua pada tau :D

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #22 pada: Oktober 29, 2007, 02:48:03 pm »
Ya begitulah doi, seolah dia doang yang mengikuti manhaj rasul, ya jawabnya begitu, ya itu (capek deh ) seribu kali tanya jawabnya ya itu
Kalau suatu masalah bisa ditarjih oleh semua Imam menghasilkan kesimpulan yang sama, ya bukan khilafiyah donk ?
Emang ada orang yang "normal" mau mengikuti pendapat yang lemah ?" gak de..h"
Tul gak Abul Fauza ?

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #23 pada: Oktober 30, 2007, 11:55:35 am »
saya ga tau dalil yang menyebutkan kalo perbedaan itu rahmat
dilogika aja
kalo perbedaan adalah rahmat
berarti persamaan adalah..
bencana
 ;))

tapi yang jelas
"perbedaan adalah rahmat"
itu bukan ucapan Rasulullah..

^_^chusni@.maniez

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.447
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Wanita
  • ^senyum^
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #24 pada: Oktober 30, 2007, 12:23:34 pm »
memang berat tugas kekhalifahan
tak bisa hanya di kerjakan oleh satu atau dua kelompok
sementara di Indonesia sendiri terpecah belah seperti ini
ada yang fokus di dakwah akidah, di pemerintahan dan hanya ke khalifah
sedangkan masalah sinergi antara kelompok dan pembagian tugas hanya tinggal wacana


abu_ahmad syafiq

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 599
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Rumah sederhana tapi penuh cinta
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #25 pada: Oktober 30, 2007, 12:25:05 pm »
saya ga tau dalil yang menyebutkan kalo perbedaan itu rahmat

tapi kalo perbedaan itu adalah fitrah, saya yakin semua pada tau :D

dalil yang menjelaskan perbedaan adalh rahmat statusnya dhaif.

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #26 pada: Oktober 30, 2007, 10:44:17 pm »
Kutip :
JIka mereka yang meyakini qunut subuh adalah wajib dan berdalil sebagai pendapatnya Imam syafi'i, perhatikan hujjah dari beliau yang sangat bagus itu...

Qunut subuh emang khilafiyah sejak lama ( udah gitu aja yang mau pake ya pake, yang gak jangan dipaksa ) Zaman salafus shalehnya udah beda, kalau ada yang ngaku salafy  tapi maksain, sopo iki mas ?

Pertanyaan kepada teman2 salafy ( begitu mereka menakan diri ), kalau shalat dengan imam yang qunut subuh bagaimana ? sederhana dan perlu jawaban yang hati-hati

dajal007

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.017
  • Reputasi: 32
  • Jenis kelamin: Pria
  • di atas bumiNya lah kita semua berpijak
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #27 pada: Oktober 31, 2007, 03:56:40 pm »
semoga ga ada yang salah penafsiran dengan pernyataan saya :D

perbedaan setahu saya memang bukan rahmat (kalo ngeliat rahmat itu sebagai sebuah kebaikan dari 4JJ1, dan hanya sebuah kebaikan). tapi tentu saja perbedaan adalah fitrah, karena manusia diciptakan secara berbeda, banyak banget dah dalil tentang perbedaan adalah fitrah manusia. fitrah dengan rahmat bukanlah hal yang sama :D begitu sedikit penjelasan saya ;)


yah, memang sulit menyatukan perbedaan, apalagi kalo udah ngerasa benar sendiri tanpa mau melihat kebenaran yang ada pada pihak yang lain.

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #28 pada: November 01, 2007, 04:48:54 pm »
panjang banget ni tulisan, tapi menurut saya bagus..

Kalau kita bicara pada konteks aqidah Islam yang bersifat asasi dan fundamental, maka prinsipnya kebenaran memang hanya ada satu. Pada masalah fiqhiyah yang bersifat qathi'i dan menjadi ijma' para ulama, kebenaran memang hanya ada satu.

Namun ketika kita memasuki wilayah furu' (cabang), kebenaran bisa menjadi banyak, karena pengaruh bias dalil yang ada. Boleh jadi nash atau dalil teks yang digunakan sama, namun cara mengambil kesimpulannya berbeda. Seperti dalam masalah quru', yaitu masa iddah seorang wanita yang ditalak suaminya. Bahkan terkadang ada beberapa nash dalil yang keshahihannya diperselisihkan, seperti masalah shalat tasbih.


Nash Yang Paling Kuat Tidak Selalu Sama Dengan Kebenaran

Mungkin anda heran dan kaget dengan pernyataan di atas. Tetapi ketahuilah bahwa tolok ukur kebenaran bukan semata-mata kekuatan nash. Bukan hanya karena suatu hadits dianggap shahih, lantas apa yang dipahami dari hadits itu adalah pasti kebenaran. Tidak demikian saudaraku.

Sebab boleh jadi suatu hadits itu sudah muttafaqun 'alaihi, tidak ada yang berselisih tentang keshahihannya. Namun tetap saja masih mungkin terjadi beda pendapat dalam menerapkan hadits itu dalam kasus hukum.

Adakah hadits yang lebih shahih dari ayat Al-Quran? Jawabnya pasti tidak ada. Al-Quran adalah hadits yang mutawatir dengan beberapa kelebihan. Tetapi tetap saja ulama berbeda pendapat tentang pengertian hukum dan kesimpulan aplikatif suatu ayat. Dan jumlah ayat ahkam yang diperselisihkan sejumlah ayah ahkam itu sendiri. Padahal semuanya shahih bahkan mutawatir, tetapi tetap saja ada khilaf di dalamnya.

Apalagi mengingat bahwa keshahihan suatu hadits ternyata bukan hal yang qath'i. Buktinya tidak semua hadits dalam shahih bukhari dikatakan shahih oleh Albani. Meski hal itu dikritik oleh para muhaddits lain. Bahkan Albani sendiri sering bersikap mendua ketika menyatakan status hukum suatu hadits. Di dalam satu kitab beliau mengatakan A dan di kitab lain beliau bilang B, untuk satu hadits yang sama.

Apa yang dibilang sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Albani. Misalnya tentang hadits shalat tasbih. Maka, kebenaran bukan ditentukan oleh semata shahih atau tidaknya suatu nash. Bahkan keshahihan itu adalah semata produk ijtihad manusiawi.


Khilaf Sudah Ada Sejak Masa Nabi SAW

Di masa nabi sendiri, khilaf bukan tidak pernah terjadi. Bahkan khilaf terjadi di depan hidung Rasulullah SAW sendiri. Ingat peristiwa shalat Ashar di perkampungan bani Quraidhah?

Para shahabat terpecah dua, sebagian shalat Ashar di perkampungan Bani Quraidhah, meski telah lewat Maghrib, karena pesan nabi adalah, "Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah." Namun sebagian yang lain tidak shalat di sana, tetapi di tengah jalan namun pada waktunya.

Lalu apa komentar nabi, adakah beliau membela salah satu pendapat. Jawabnya tidak. Beliau tidak menyalahkan kelompok mana pun karena keduanya telah melakukan ijtihad dan taat kepada perintah. Hanya saja, ada perbedaan dalam memahami teks sabda beliau. Jadi, khilaf di masa kenabian sudah terjadi dan tetap menjadi khilaf.


Khilaf Perang Badar

Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara nabi SAW dengan para shahabatnya.

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah SAW dengan seorang shahabat. Menurut shahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.

Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang shahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.

Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.

Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Al-Anfal: 68)


Khilaf di Antara Para Nabi

Kalau para shahabat nabi Muhammad SAW sering berbeda pendapat, maka ternyata para nabi pun sering berbeda pendapat.

Lihat bagaimana nabi Musa as berselisih dengan saudaranya, nabi Harun as. Bahkan sampai menarik kepalanya dengan marah dan kecewa.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan luh-luh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata, "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim"(Q. Al-A'raf: 150)

Konon Musa as kecewa dengan sikap Harus as yang dianggapnya terlalu lemah dan tidak bisa bersikap tegas di hadapan kedegilan kaum mereka, kaum yahudi. Padahal keduanya nabi dan sama-sama dapat wahyu dari Allah SWT. Tetapi urusan berbeda pendapat dan pendekatan, adalah urusan yang bersifat manusiawi. Sangat mungkin ikhtilaf terjadi di kalangan para nabi 'alaihimussalam.

Bukankah kisah Musa as dengan nabi Khidhir as juga demikian? Keduanya selalu berselisih dan beda pendapat dalam perjalanan. Musa as selalu mempertanyakan semua tindakan shahabatnya itu, meski pada akhirnya beliau selalu harus dibuat mengerti. Tetapi intinya, beda pemahaman itu adalah sesuatu yang wajar dan mungkin terjadi, bahkan di kalangan sesama para nabi. Dan tidak ada kebenaran tunggal dalam hal ini.


Para Malaikat Berikhtilaf

Bahkan sesama malaikat yang mulia dan tanpa hawa nafsu sekali pun tetap terjadi beda pendapat.

Masih ingat kisah seorang yang taubat karena telah membunuh 99 dan 1 nyawa?
Dalam perjalanan menuju taubatnya, Allah mencabut nyawanya. Maka berikhtilaflah dua malaikat tentang nasibnya. Malaikat kasih sayang ingin membawanya ke surga lantaran kematiannya didahului dengan taubat nashuha. Namun rekannya yang juga malaikat tetapi job-nya mengurusi orang pendosa ingin membawanya ke neraka, lantaran masih banyak urusan dosa yang belum diselesaikanya terkait dengan hutang nyawa.

Bayangkan, bahkan dua malaikat yang tidak punya kepentingan hewani, tidak punya perasaan, tidak punya kepentingan terpendam, tetap saja ditaqdirkan Allah SWT untuk berbeda pendapat.

Walhasil, ihtilaf itu adalah sesuatu yang melekat pada semua makhluq Allah, danbukan hal yang selalu jelek atau hina. Ikhtilaf di kalangan umat Islam adalah sesuatu yang nyaris tidak mungkin hilang, apalagi di zaman sekarang ini.


Ikhtilaf Yang Diharamkan


Namun ada jenis-jenis ikhtilaf yang diharamkan dan kita wajib menghindari diri dari sifat dan sikap itu.

Pertama, apabila sudah ada nash yang bersifat qath'i dan tidak ada multi tafsir. Bahkan para ulama telah berijma' di dalamnya. Mengingkari ijma' adalah kufur. Seperti mengatakan bahwa semua agama sama, jelas bukan bagian dari ikhtilaf yang dibenarkan, karena tidak ada satu pun ulama yang membenarkan agama selain Islam.

Kedua, ikhtilaf yang diteruskan dengan kerasa kepala, sombong, takabbur, merasa benar sendiri dan semua orang yang tidak sama pendapatnya dengan dirinya dianggap salah, bodoh, ahli bid'ah, ahli neraka, murtad, keluar dari manhaj salaf, melawan sunnah, bahkan kafir. Naudzu billah min zalik.
Sikap merasa diri paling benar dan paling mendapat hidayah dari Allah adalah sikap seorang yang kurang ilmu dan kurang sifat tawadhu'. Dia merasa hanya dirinya saja yang punya kebenaran, sementara pendapat siapa pun yang dianggapnya bertentangan dengan pendapat dirinya, harus dilukai dengan kata-kata tajam yang merendahkan, menghinakan, melecekan, kalau perlu dengan memboikotnya seolah orang lain itu musuh agama.

Ketiga, ikhtilaf yang tidak pakai ilmu tetapi mengandalkan taqlid dari seseorang tokoh, padahal jauh dari disiplin ilmu yang benar. Berbeda pendapat bahkan berdebat sementara dirinya bukan ahli di bidang itu. Ini tentu kesalahan maha fatal dan kekonyolan maha konyol.

Kalau ada ribuan ahli astronomi sepanjang masa berijma' bahwa pusat edar tata surya adalah matahari dan bumi mengelilinginya, tentu kita lebih percaya. Sementara kalau ada seorang kiyai yang mengatakan bahwa bumi itu rata seperti meja dan pusat edar tata surya adalah bumi dan matahari mengelilingi bumi, boleh jadi bukan ayatnya yang salah, tetapi ilmu pengetahuan si kiyai itu yang out of date alias ketinggalan zaman.

Setidaknya, si kiyai itu harus mawas diri karena ilmu yang dikuasainya bukan ilmu falak dan bukan astronomi. Beliau tidak punya teropong, tidak punya teleskop, tidak pernah naik wahana luar angkasa, tidak pernah membayangkan sebuah satelit yang mengorbit bumi.

Dan kasus seperti ini, sayangnya, sering terjadi lantaran fanatisme buta dan taqlid bukan pada tempatnya. Kalau kiyai bilang langit itu hijau, maka santrinya akan bilang hijau, walau pun langit itu biru. Maka taqlid tidak karuan kepada kiyai adalah sebuah kesalahan dalam berikhitlaf.

Wallahu a'lam bishshawab



Ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber: Eramuslim

Jaenudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 191
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #29 pada: November 03, 2007, 05:27:10 am »
memang berat tugas kekhalifahan
tak bisa hanya di kerjakan oleh satu atau dua kelompok
sementara di Indonesia sendiri terpecah belah seperti ini
ada yang fokus di dakwah akidah, di pemerintahan dan hanya ke khalifah
sedangkan masalah sinergi antara kelompok dan pembagian tugas hanya tinggal wacana


Insya Allah mari kita mulai dari dudunger ini, untuk menjadi perekat umat.
menjadikan berbagai kelompok yang berbeda fokus da'wah "sinergi"
Ane siap, Mas Arif siap ?, Mas Chusnie siap ?, Abu Ahmad syafiq siap ?, Mas Luthi Siap ?
Oh ya Saudara kita siap mundur " M.Mahfud Ali", karena perktaan Abu ahmad syafiq.
Pertanyaan untuk Abu ahmad syafiq, apakah antum akan membiarkan mundurnya saudara kita dari forum ini dengan alasan pernyataan antum ?
karena beliau menganggap bahwa penyataan " kafir" kepada saudara muslim udah diluar konteks
Ane berharap antum berdua ishlah, apa yang maksud antum " kafir ?"
Karena tuduhan kafir kepada sesama muslim berakibat kekafiran pada penuduh, jika tertuduh tidak terbukti
sekali lagi apakah terlalu berat bagi antum untuk "minta maaf" dari perktaan yang terlanjur antum lontarkan ?
Afwan ane bukan penasehat, inilah kewajiban kita sesama muslim
Mari kita bersatu sesuai dengan seruan dari Allah "
(3:103) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.