Penulis Topik: Kaidah menyikapi khilafiyah  (Dibaca 27603 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Aswad

  • Moderator
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Kaidah menyikapi khilafiyah
« pada: Maret 09, 2007, 11:05:20 am »
“Sudahlah jangan saling menyalahkan, ini khan permasalahan khilafiyah. Biarlah dia lakukan apa yang dianggap benar dan kamu lakukan yang kamu anggap benar“. Demi Allah, ketahuilah, perkataan yang sering kita dengar ini adalah perkataan yang kurang tepat.

Ketahuilah ikhwah fillah, bila kita melihat kemungkaran maka wajib bagi kita untuk mengubahnya dengan kemampuan yang kita miliki. Entah itu dengan kekuasaan, dengan lisan atau hanya sekedar mendoakan. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, bila tidak mampu, ubahlah dengan lisan, bila tidak mampu ubahlah dengan hati, namun yang demikian adalah selemah-lemahnya iman” (HR.Muslim)

Maka barangsiapa melihat kemungkaran wajib baginya memberikan nasehat pada yang berbuat kemungkaran. Lebih lagi jika orang tersebut adalah teman kita, saudara kita seiman, sesama muslim, maka lebih berhak dan lebih penting lagi untuk kita nasehati. Apakah kita berdiam diri bila saudara kita yang kita cintai terjerumus dalam kemungkaran? Maka perkataan “Sudahlah jangan mengurusi orang lain. Urus saja diri sendiri. Biar saja dia lakukan apa yang dianggap benar dan kamu lakukan yang kamu anggap benar” adalah kurang tepat. Sikap cuek dan berdiam diri seperti ini tidak diajarkan dalam Islam.
Namun tentunya nasehat harus disampaikan dengan cara yang baik, dengan hikmah, kasih sayang, dengan ilmu, dan cara yang baik dan efektif. Bukan mencela, menghujat atau menghinanya. Inilah yang sesuai sunnah. Karena tentunya dengan nasehat tadi kita berharap orang yang dinasehati kembali kepada kebaikan dan kebenaran. Bukan ingin membuatnya terpuruk dan terhina. Jika harus berdiskusi maka berdiskusilah dengan baik, dengan landasan dalil-dalil dan pemahaman yang benar, bukan berdasar atau rasa benci dan hawa nafsu belaka. “Serulah (manusia) ke jalan Robbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Kemudian tentang khilafiyah, banyak orang yang salah dalam menyikapinya. Banyak orang yang tatkala menghadapai khilafiyah, tidak mau mencari pendapat yang benar, tidak mau mempelajari, malah bersikap acuh dengan berkata “Sudahlah jangan diperdebatkan, ini khan permasalahan khilafiyah“. Seolah semuanya benar tidak ada yang salah, dan malah membenci orang yang mencari pendapat yang paling mendekati kebenaran. Ini adalah sebuah kekeliruan. Kenapa? Karena tidak semua khilafiyah itu bisa ditoleransi. Kita hanya wajib bertoleransi dan saling menghargai pada khilafiyah yang mu’tabar (yang dianggap). Bila pada semua khilafiyah kita bertoleransi maka sungguh kacau agama ini jadinya. Ketahuilah diantara ummat muslim ada yang menganggap shalat wajib 5 waktu itu tidak wajib. Itu pendapat mereka. Ada juga yang berpendapat memakai jilbab bagi wanita itu tidak wajib. Adanya pendapat seperti itu menjadikan hal ini khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat). Nah, apakah ini juga bertoleransi terhadap khilafiyah seperti ini? Apakah bila ada orang yang tidak sholat kemudian kita berkata “Sudahlah biar saja, itu khan pendapat dia“. Masya Allah. Padahal Rasulullah berkata bahwa shalat adalah batas antara iman dan kufur.

Kemudian sebagian orang salah dalam mengartikan permasalahan ushul (pokok) dan furu’(cabang). Ada yang berkata masalah aqidah adalah ushul, fiqih adalah furu. Jadi menurut mereka dalam masalah aqidah tidak boleh berbeda pendapat, dalam fiqih boleh berbeda pendapat dan harus ditoleransi bila ada yang berbeda. Ini sebuah kekeliruan. Misal, permasalahan tentang Allah bisa dilihat oleh hamba2Nya nanti di akhirat adalah ushul, tidak boleh ada yang mengingkari dan semua ulama telah sepakat. Namun, tentang apakah Rasulullah melihat Allah saat Isra Mi’raj adalah furu’, para ulama berbeda pendapat, padahal masalah aqidah juga. Kemudian, masalah makmum shalat maghrib membaca Al-Fatihah atau tidak, ini furu’, para ulama berbeda pendapat. Namun masalah wajibnya shalat Maghrib, ini ushul, tidak boleh ada yang mengingkari, padahal sama-sama masalah fiqih. Maka sebenarnya tidak ada patokan yang jelas untuk membedakan mana ushul, mana furu’. Namun dari studi kasus di atas patokan yang bisa kita pegang adalah, bila sudah ada dalil yang jelas dan shahih dan disepakati para sahabat dan ulama terdahulu, maka ini ushul. Dan bila terdapat dalil, namun ada kecenderungan untuk dipahami berbeda oleh para ulama terdahulu dan para sahabat, maka ini furu’.
Jadi, tidak semua khilafiyah itu mu’tabar (dianggap). Banyak khilafiyah yang tidak mu’tabar (dianggap) atau dengan kata lain di acuhkan oleh para ulama karena sudah jelas salahnya. Maka, dalam masalah ini khilafiyah dapat dibagi 3 macam:

1. Khilafiyah yang sudah jelas salahnya, karena menyelisihi Qur’an dan Sunnah
Contohnya seperti khilafiyah tentang wajibnya shalat yang sudah disebutkan di atas. Maka khilafiyah yang sudah jelas terdapat dalil shahih dari Qur’an dan Sunnah yang maknanya tidak bisa dita’wil (diselewengkan) kesana-kemari, wajib untuk diingkari. Barangsiapa yang menyelisihi Qur’an dan Sunnah padahal maksudnya sudah jelas, maka sama saja ia meragukan kebenaran Qur’an dan Sunnah dan ini adalah sebuah kekufuran. Maka khilafiyah seperti ini wajib diingkari, tidak boleh ditoleransi sama sekali.

2. Khilafiyah yang tidak menyelisihi sunnah, namun bisa ditarjih.
Kadang ada perbedaan pendapat yang semuanya berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah, namun setelah diteliti oleh para ulama ternyata dalil yang dipakai ada yang kuat dan ada yang lemah. Maka dalam hal ini bisa dilakukan tarjih, yaitu memilah pendapat yang didasari pada dalil2 yang kuat (rajih) saja. Alhamdulillah, para ulama dari sejak dahulu hingga sekarang sangat pernhatian dan serius dalam meneliti riwayat dan derajat hadist serta berhati-hati dalam pengambilan dalil, dan mereka sudah menjelaskannya dalam berbagai kitab-kitabnya. Untuk mengetahui mana pendapat yang kuat dan mana yang lemah kita tinggal mempelajari kitab-kitab mereka -rahimahumullah. Maka dalam hal ini WAJIB mengingkari pendapat yang lemah dan mengambil pendapat yang lebih rajih (kuat). Bertoleransi kepada orang yang mengamalkan pendapat yang lemah tadi, padahal ia sudah tahu pendapat itu lemah, adalah tercela. Namun kita tetap tidak boleh mencela ulama yang memiliki pendapat lemah. Karena Rasulullah bersabda: “Jika seorang hakim memutuskan suatu hukum, kemudian berijtihad maka jika benar ia mendapat dua pahala. Namun jika salah, baginya satu pahala.” (HR. Al Bukhori). Namun pendapat lemah nya tetap kita tinggalkan.

3. Khilafiyah yang tidak menyelisihi Qur’an dan Sunnah, namun tidak bisa ditarjih
Kadang ada perbedaan pendapat yang semuanya berdasarkan dalil dari Qur’an dan Sunnah dan semuanya shahih dan kuat, sehingga sulit ditarjih. Maka di sinilah baru berlaku perkataan “Sudahlah jangan saling menyalahkan, ini khan permasalahan khilafiyah. Biarlah dia lakukan apa yang dianggap benar dan kamu lakukan yang kamu anggap benar“. Karena dalam khilafiyah yang seperti ini HARAM mengingkari pendapat yang lain, artinya tidak boleh mencela pendapat yang lain, karena ia berdasarkan dalil yang shahih juga. Kemudian wajib menghargai pendapat yang berbeda, saling bertoleransi dan boleh mengambil salah satu pendapat yang lebih cenderung kepadanya atau boleh juga tidak mengambil sama sekali pendapat-pendapat tersebut.
Ikhwah fillah, bila antum pernah mendengar hadist “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat” maka ketahuilah bahwa ini adalah hadist palsu, baik sanad dan matan(isi)-nya. Dari segi sanad, Syaikh Al Albani rohimahulloh berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya (anonim).” (dalam kitab Silsilah Hadits-hadits Lemah dan Palsu). Dari segi isinya, ini sangat bertentangan dengan banyak dalil bahwa perbedaan dan perselisihan adalah keburukan, bukan rahmat. Ibnu Hazm berkata tentang hadist ini: “Ini merupakan perkataan yang paling rusak. Karena jika perbedaan adalah rahmat tentunya persatuan merupakan hal yang dibenci. Ini jelas bukan perkataan seorang muslim. Karena kemungkinan hanya dua, bersatu maka dirahmati Alloh atau berselisih sehingga Alloh murka.” (dalaml kitab Al Ihkam fi Ushulil Ahkam). Juga Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya perselisihan itu jelek.” (Shohih, riwayat Abu Dawud). Dan Allah juga berfirman:

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Ali Imron: 105)

Perbedaan asalnya adalah tercela, maka janganlah kita membiarkannya dengan sikap cuek dan berkata “Sudahlah jangan berselisih“. Seharusnya yang kita lakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi perbedaan yang ada dengan menyatukannya di atas kebenaran, bukan persatuan yang sembarangan, yaitu dengan mengembalikannya kepada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan ulama yang mutamakkin. Allah SWT berfirman:

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya).” (QS. An Nisa`: 59)

Maka bila ada beberapa pendapat tentang sesuatu, hendaknya teruslah mengkaji, mempelajari, mencari ilmu, berdiskusi, menjelaskan ilmu maka Insya Allah akan ditemui pendapat yang paling mendekati kebenaran dari pendapat-pendapat itu. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk.

abul-fawza

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 321
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar tak kenal henti...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #1 pada: Maret 13, 2007, 10:48:41 am »
...2. Khilafiyah yang tidak menyelisihi sunnah, namun bisa ditarjih.
... Maka dalam hal ini WAJIB mengingkari pendapat yang lemah dan mengambil pendapat yang lebih rajih (kuat). Bertoleransi kepada orang yang mengamalkan pendapat yang lemah tadi, padahal ia sudah tahu pendapat itu lemah, adalah tercela...

Mau tanya apakah tentang kutipan di atas ada dalilnya? Atau ijma' para ulama? Atau pendapat segolongan ulama tertentu? Atau ...
Terus siapa yang berwenang untuk mentarjih? Kalau di Indonesia MUI-kah? Atau...

Saya menangkap kesan ada upaya "pemaksaan" untuk hanya menggunakan satu pendapat dalam masalah khilafiyah jika bisa ditarjih. Dan kalau ini diterapkan oleh penguasa, potensinya sangat besar untuk memecah belah ummat. Saya pernah baca bahwa waktu al-Muwaththa'-nya Imam Malik hendak dijadikan standar fiqih oleh khalifah yang berkuasa, beliau (Imam Malik) justru menolak usulan tersebut.
Wallahu a'lam.

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #2 pada: Maret 13, 2007, 11:27:55 am »
...2. Khilafiyah yang tidak menyelisihi sunnah, namun bisa ditarjih.
... Maka dalam hal ini WAJIB mengingkari pendapat yang lemah dan mengambil pendapat yang lebih rajih (kuat). Bertoleransi kepada orang yang mengamalkan pendapat yang lemah tadi, padahal ia sudah tahu pendapat itu lemah, adalah tercela...


Saya menangkap kesan ada upaya "pemaksaan" untuk hanya menggunakan satu pendapat dalam masalah khilafiyah jika bisa ditarjih. Dan kalau ini diterapkan oleh penguasa, potensinya sangat besar untuk memecah belah ummat. Saya pernah baca bahwa waktu al-Muwaththa'-nya Imam Malik hendak dijadikan standar fiqih oleh khalifah yang berkuasa, beliau (Imam Malik) justru menolak usulan tersebut.
Wallahu a'lam.


Mau tanya apakah tentang kutipan di atas ada dalilnya? Atau ijma' para ulama? Atau pendapat segolongan ulama tertentu? Atau ...
Terus siapa yang berwenang untuk mentarjih? Kalau di Indonesia MUI-kah? Atau...

semua telah rajih dari semua ulama ahus sunnah wal jama'ah di antaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad dan masih banyak yang lainnya rahimahumulloh.

Satu contoh yang menjadi madzhab Imam syafi'i adalah"idzaa shahhal hadiitsi fahuwa madzhabi" artinya jika telah sah satu hadits itulah madzhabku".(lihat muqadimah sifat shaolat nabi karya Saikh Albany rahimahulloh, di situ tertulis semua hujjah para ulama bahwa yang sah tidak bisa di tolak).

dan Umar bin khattan radiyallohu 'anhu pernah berkata, pendapat seseorang bisa di tolak kecuali orang ini(yang di maksud Nabi sholallohu 'alaihi wasallam)"

abul-fawza

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 321
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar tak kenal henti...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #3 pada: Maret 13, 2007, 04:57:10 pm »
semua telah rajih dari semua ulama ahus sunnah wal jama'ah di antaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad dan masih banyak yang lainnya rahimahumulloh.

Satu contoh yang menjadi madzhab Imam syafi'i adalah"idzaa shahhal hadiitsi fahuwa madzhabi" artinya jika telah sah satu hadits itulah madzhabku".(lihat muqadimah sifat shaolat nabi karya Saikh Albany rahimahulloh, di situ tertulis semua hujjah para ulama bahwa yang sah tidak bisa di tolak).

dan Umar bin khattan radiyallohu 'anhu pernah berkata, pendapat seseorang bisa di tolak kecuali orang ini(yang di maksud Nabi sholallohu 'alaihi wasallam)"

Saya tegaskan pertanyaannya:
Apakah kewajiban mengingkari pendapat yang lemah dan mengambil pendapat yang lebih rajih (kuat) serta larangan bertoleransi kepada orang yang mengamalkan pendapat yang lemah padahal ia sudah mengetahuinya, ada dalilnya?

Kalimatnya Umar bin Khattab dan Imam Syafi'i hanya menunjukkan komitmen beliau terhadap kebenaran Sunnah Rasulullah atau hadits yang sah, tidak bicara harusnya men-tarjih jika ada khilafiyah atau harus mengingkari bla bla bla atau tercelanya bertoleransi kepada bla bla bla. Saya merasa pertanyaan saya belum dijawab.

Perlu dipahami  bahwa hasil tarjih dari dua orang imam/ulama bisa jadi berbeda satu sama lain, dan jika kemudian ada salah satu dari sekian banyak ulama yang hasil tarjih-nya dinyatakan paling benar atau apalagi dijadikan aturan dalam negara, maka bagaimana kemudian dengan ulama yang berbeda pendapatnya (...makanya saya bawakan contoh penolakan Imam Malik). Kalau setiap ulama berhak mentarjih, maka pasti akan banyak hasil tarjih. Contoh di Muhammadiyah ada Majlis Tarjih yang mengeluarkan panduan fiqih utk kalangannya, dan biasanya di ormas Islam yang lain (NU, Syarikat Islam, dll) ada lembaga atau institusi yang tugasnya juga tarjih.

Terpikir juga di benak saya seperti ini: Saya berhusnuzh-zhan bahwa Imam Syafi'i dalam berfatwa di bidang fiqih adalah berdasar hadits yang sah sesuai keilmuan beliau yang luar biasa, demikian pula Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Contohnya terkait sunnahnya untuk selalu ber-qunut di sholat shubuh saya yakin beliau punya landasan dalil yang kuat (nggak mungkin asal fatwa), walaupun pada kenyataannya beliau menyelisihi pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Kalau dalam kasus ini, apakah kita bisa berpegang pada tarjih-nya Imam Syafi'i atau tarjih-nya dua imam yang lain? Atau memang tarjih hasilnya bisa lebih dari satu pendapat atau dengan kata lain kedua pendapat itu (yaitu qunut shubuh sunnah atau bid'ah) adalah rajih? Atau menurut Antum khilafiyah ttg qunut subuh termasuk kategori khilafiyah yang tidak bisa ditarjih?
Mohon penjelasan. Jazakallah khair.

Aswad

  • Moderator
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #4 pada: Maret 13, 2007, 08:40:47 pm »
Mau tanya apakah tentang kutipan di atas ada dalilnya? Atau ijma' para ulama? Atau pendapat segolongan ulama tertentu? Atau ...
Terus siapa yang berwenang untuk mentarjih? Kalau di Indonesia MUI-kah? Atau...

Jawabannya..
tentu bukan ana, bukan antum, bukan pula ustadz ana, bukan para thulabul ilmi, melainkan para ULAMA ahlussunnah yang baik pemahamannya. Jika kita sering membuka kitab-kitab para ulama, maka akan kita dapati mereka telah mentarjih semua permasalahan yang ada dalam dien ini.

abul-fawza

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 321
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar tak kenal henti...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #5 pada: Maret 14, 2007, 11:31:13 am »
Jawabannya..
tentu bukan ana, bukan antum, bukan pula ustadz ana, bukan para thulabul ilmi, melainkan para ULAMA ahlussunnah yang baik pemahamannya. Jika kita sering membuka kitab-kitab para ulama, maka akan kita dapati mereka telah mentarjih semua permasalahan yang ada dalam dien ini.

Yah, okelah kalo cuma itu jawaban versi Antum walaupun saya belum merasa plong karena banyak rincian pertanyaan saya yang belum terjawab. Tolong juga kalo bisa, dijawab pertanyaan2 saya terkait kasus ikhtilaf qunut shubuh di atas...
Atau barangkali ada dudunger lain yang bisa bantu jawab... Jazakumullah khair.

sophie ceaucescu

  • Pengunjung
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #6 pada: Maret 20, 2007, 12:01:14 pm »
setiap orang bebas. set ur self free !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #7 pada: Maret 22, 2007, 08:28:38 pm »
Jawabannya..
tentu bukan ana, bukan antum, bukan pula ustadz ana, bukan para thulabul ilmi, melainkan para ULAMA ahlussunnah yang baik pemahamannya. Jika kita sering membuka kitab-kitab para ulama, maka akan kita dapati mereka telah mentarjih semua permasalahan yang ada dalam dien ini.

Yah, okelah kalo cuma itu jawaban versi Antum walaupun saya belum merasa plong karena banyak rincian pertanyaan saya yang belum terjawab. Tolong juga kalo bisa, dijawab pertanyaan2 saya terkait kasus ikhtilaf qunut shubuh di atas...
Atau barangkali ada dudunger lain yang bisa bantu jawab... Jazakumullah khair.

qunut subuh jelas haditnya dhaif,
demikian rinciannya:

Dalil yang paling kuat yang dipakai oleh para ulama yang menganggap qunut subuh itu sunnah adalah hadits berikut ini :
مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Terus-menerus Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam qunut pada sholat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia”.
Dikeluarkan oleh ‘Abdurrozzaq dalam Al Mushonnaf 3/110 no.4964, Ahmad 3/162, Ath-Thoh awy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wamansukhih no.220, Al-Ha kim dalam kitab Al-Arba’in sebagaimana dalam Nashbur Royah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugro 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no.639, Ad-Daruquthny dalam Sunannya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtaroh 6/129-130 no.2127, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no.689-690 dan dalam Al-’Ilal Al-Mutanahiyah no.753 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al Jama’ wat Tafr iq 2/255 dan dalam kitab Al-Qunut sebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.
Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Rozy dari Ar-Robi’ bin Anas dari Anas bin Malik.
Hadits ini dishohihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashotul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata : “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shohih sedang rowi yang meriwayatkannya dari Ar-Rob i’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Rozy mutakallamun fihi (dikritik)”. Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i : “Laysa bil qowy (bukan orang yang kuat)”. Berkata Abu Zur’ah : ” Yahimu katsiran (Banyak salahnya)”. Berkata Al-Fallas : “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya)”. Dan berkata Ibnu Hibban : “Dia bercerita dari rowi-rowi yang masyhur hal-hal yang mungkar”.”
Dan Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad jilid I hal.276 setelah menukil suatu keterangan dari gurunya Ibnu Taimiyah tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Rozy, beliau berkata : “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-R ozy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya”.
Dan bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-R ozy ini, ia akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah Jarh mufassar (Kritikan yang jelas menerangkan sebab lemahnya seorang rawi). Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqrib-Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata : “Shoduqun sayi`ul hifzh khususon ‘anil Mughiroh (Jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah).
Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan hadits yang mungkar.
Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab :
Satu : Makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shohih yang menunjukkan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ
“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa a lihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdo’a untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdo’a (kejelekan atas suatu kaum)” . Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 639.
Kedua : Adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Rozy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan lemahnya dan tidak tetapnya ia dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Nabi shollahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 2/104 no.7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh imam Al Maqdasy dalam Al Mukhtarah 6/129.
emudian sebagian para ‘ulama syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan-jalan lain yang menguatkannya, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut :
Jalan Pertama : Dari jalan Al-Hasan Al-Bashry dari Anas bin Malik, beliau berkata :
قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ
“Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (rawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah denga mereka”.
Hadits ini diriwayatkan dari Al Hasan oleh dua orang rawi :
Pertama : ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’ani Al Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al Baihaqy 2/202, Al Khatib dalam Al Qunut dan dari jalannya Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no.693 dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkiroh Al Huffazh 2/494. Dan ‘Amru bin ‘Ubaid ini adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan dalam periwayatan hadits ia dianggap sebagai rawi yang matrukul hadits (ditinggalkan haditsnya).
Kedua : Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Da raquthny dan Al Baihaqy. Dan Isma’il ini dianggap matrukul hadits oleh banyak orang imam. Baca : Tahdzibut Tahdzib.
Catatan :
Berkata Al Hasan bin Sufyan dalam Musnadnya : Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihr on, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf dari Al Hasan dari Anas beliau berkata :
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ
“Saya sholat bersama Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa alihi wa Sallam maka beliau terus-menerus qunut pada sholat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau”.
Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihron sebagaimana yang dikatakan oleh imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418. Karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf tapi dari ‘Amru bin ‘Ubeid sebagaiman dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar – dan beliau ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya , mau lebih lengkap lagi?

abul-fawza

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 321
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar tak kenal henti...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #8 pada: Maret 26, 2007, 11:59:12 am »
@mas drai,
terimakasih atas jawabannya. Saya juga pernah baca penjelasan dari beberapa sumber termasuk pendukung qunut shubuh... rasanya ini ikhtilaf sepanjang masa deh.

Tapi qunut shubuh itu cuma sekedar contoh yang saya angkat, intinya saya menginginkan lebih ke filosofi masalah tarjih-nya bukan pembahasan contoh itu. Ok?
Apakah ada kewajiban tarjih? apakah jika suatu pendapat kita yakini rajih maka yang tidak atau kurang rajih harus ditinggalkan serta berdosa jika kita bertoleransi tentangnya...? Ini nih yang perlu dibahas terkait contoh qunut shubuh itu...
(Ditunggu tanggapan mas drai atau mas Aswad.)

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #9 pada: April 02, 2007, 03:06:55 pm »
@mas drai,
terimakasih atas jawabannya. Saya juga pernah baca penjelasan dari beberapa sumber termasuk pendukung qunut shubuh... rasanya ini ikhtilaf sepanjang masa deh.

Tapi qunut shubuh itu cuma sekedar contoh yang saya angkat, intinya saya menginginkan lebih ke filosofi masalah tarjih-nya bukan pembahasan contoh itu. Ok?
Apakah ada kewajiban tarjih? apakah jika suatu pendapat kita yakini rajih maka yang tidak atau kurang rajih harus ditinggalkan serta berdosa jika kita bertoleransi tentangnya...? Ini nih yang perlu dibahas terkait contoh qunut shubuh itu...
(Ditunggu tanggapan mas drai atau mas Aswad.)

padahla jelas banget, Imam syafi'i berkata" jika telah sah satu hadits maka itulah madzhabku"{lihat ala adabus syafi'i karya Imam baihaqi}

JIka mereka yang meyakini qunut subuh adalah wajib dan berdalil sebagai pendapatnya Imam syafi'i, perhatikan hujjah dari beliau yang sangat bagus itu...

Abu Bakar radiyallou 'anhu"pendapat semua orang bisa salah dan bisa benar, kecuali penadapt Rasululloh.
Masalahnya, apakah hanya mengikuti pendapat maka yang shahih di tingalkan?...

ukhti

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 7
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #10 pada: April 11, 2007, 11:19:26 am »
sebaiknya masalah-masalah khilafiyah tidak perlu diperdebatkan karena itu adalah masalah-masalah yang boleh berbeda dalam islam, jika diperdebatkan hanya akan membuat ummat islam terpecah belah, masih banyak masalah-masalah lain yang wajib di pecahkan misalnya masalah penerapan syariat islam.

Aswad

  • Moderator
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #11 pada: April 11, 2007, 02:26:59 pm »
sebaiknya masalah-masalah khilafiyah tidak perlu diperdebatkan karena itu adalah masalah-masalah yang boleh berbeda dalam islam, jika diperdebatkan hanya akan membuat ummat islam terpecah belah, masih banyak masalah-masalah lain yang wajib di pecahkan misalnya masalah penerapan syariat islam.

Ukhti yang baik, anti belum membaca tulisan ana di atas ya?

Ketahuilah, tidak semua masalah khilafiyah itu mu'tabar. Maksudnya, tidak semua permasalahan khilafiyah itu boleh bertoleransi dan boleh memiliki pendapat sendiri-sendiri. Yang boleh berbeda dan harus bertoleransi hanyalah khilafiyah yang didasari oleh dalil yang shahih saja, atau bila tidak ada sama sekali dalil yang jelas dalam permasalahan tersebut.

Ukhit yang baik, sebelum bicara mengenai syariat Islam, tahukah anti apa syariat Islam itu?

Ketahuilah, permasalahan yang terdapat khilafiyah padanya, itu pun syariat Islam. Misalnya ulama berbeda pendapat saat i'tidal itu tangan kita bersedekap atau tidak. Nah, apakah masalah i'tidal (dan yg berkaitan dengannya) itu bukan termasuk syariat Islam? Ketahuilah, syariat Islam itu Qur'an dan Sunnah. Apa yang diperintahkan dan dilarang Allah dalam Qur'an dan melalui sunnah Rasul-Nya, itulah syariat Islam.
« Edit Terakhir: April 11, 2007, 02:56:06 pm oleh Aswad »

XiaoTian

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 135
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
    • see my web
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #12 pada: Mei 04, 2007, 07:10:13 pm »
rasanya , ini topik yang sudah lalu2 deh..cuma buat pertentangan aja nantinya antar newbie..

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #13 pada: Juli 08, 2007, 06:02:17 pm »
Peliknya masalah khilafiyah tidak lebih pelik daripada diskusi disini.
:D :D

abul-fawza

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 321
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Belajar tak kenal henti...
    • Lihat Profil
Re: Kaidah menyikapi khilafiyah
« Jawab #14 pada: Agustus 01, 2007, 02:51:37 pm »
Peliknya masalah khilafiyah tidak lebih pelik daripada diskusi disini.
:D :D

Diskusi soal khilafiyah bisa jadi memang lebih pelik daripada permasalahannya, agak2 mirip komentator sepakbola yang ngalor ngidul padahal pemain bolanya santai aja...
Makanya saya pribadi cenderung "longgar" dalam masalah khilafiyah, pilih salah satu yang menurut saya paling OK dan hormati perbedaan yang ada...