Penulis Topik: Perbedaan Sunnatullah & Fenomena Alam  (Dibaca 2427 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

prince_darkness

  • Pengunjung
Perbedaan Sunnatullah & Fenomena Alam
« pada: Februari 15, 2007, 02:31:34 pm »
Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA
Lentera Hati - MetroTV
13 Pebruari 2005, 14.00 – 15.00 WIB
Disusun oleh
Teguh Sudibyantoro
tghs01@yahoo.com
Arief Wiryanto
ariefwiryanto@yahoo.com
http://ariefhikmah.blogdrive.com


Kita bicara yang sederhana, yang mudah-mudah, karena saya (pak Quraish) bukan ilmuwan. Kita pernah membuat air menjadi mendidih. Kita juga pernah membuat es. Itu semua dibuat dari air/zat yang sama. Itu adalah fenomena sehari-hari dan terulang kapan saja, di mana saja, asal melakukan prosedur/proses seperti dengan memakai kompor atau kulkas. Ini yang dinamakan hukum-hukum alam. Setiap saya memanaskan air sampai suhu tertentu maka air mendidih. Setiap saya mendinginkan air sampai katakan di bawah nol maka air membeku. Hanya sebelum ditemukan kulkas, belum bisa membuat es sedemikian mudah, tetapi es/proses itu sudah ada.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS. Al-Baqarah (2) ayat 30.

Sekarang kita lihat Quran. Ketika Allah akan menciptakan Adam, malaikat bertanya, "Ya Tuhan, Apakah Kamu akan menciptakan makhluk yang merusak di bumi. Kami kan bertasbih dan taat kepadaMu." Tuhan tidak menjawab Ya atau Tidak. Tetapi Tuhan membuktikan kewajaran makhluk yang diciptakanNya ini untuk menjadi khalifah di dunia dengan mengajarkan kepadanya al asma'. Adam diberi potensi utk memahami alam ini. Ada kemampuan kita kalau kita gunakan otak/pikiran, bisa mengetahui kenapa air menjadi beku, dapat mendidih, dan selalu mencari tempat rendah. Adam diajarkan, diberi potensi mengetahui hukum-hukum alam. Di sisi lain, alam tidak dijadikan punya kemauan, apa pun ketetapan Tuhan diikuti oleh alam. Matahari setiap hari terbit di Timur dan tenggelam di Barat. Lahir hukum alam [ bagi manusia ]. Matahari, gunung, angin, dll ada fenomenanya yang tetap. Apakah bumi ini bergerak atau tidak? Bergerak. Gunung itu bergerak atau tidak? Quran berkata bahwa gunung bergerak. Bergerak sedikit demi sedikit. Dulu jazirah Arabia menyatu dengan Afrika, bergerak, berpisah, dan lahir Laut Merah. Kata ilmuwan, jazirah Arab mendekat ke Iran, Australia mendekat ke Nusantara. Katanya bergerak setiap tahun sekian sentimeter. Tsunami yang terjadi bulan Desember 2004 lalu di Aceh juga begitu.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. An-Naml (27) ayat 88.

Allah memberi kita potensi untuk mengetahui itu. Kita ambil yang sederhana. Api bisa membakar. Kita bisa memanfaatkan. Api kalau dekat bensin akan terbakar. Bisa dihindari atau tidak? Bisa. Jangan dekatkan bensin dengan api. Kita diberi kemampuan oleh Allah, kalau kita mau belajar, mengerti alam. Itu sebabnya, dulu sebelum terjadi tsunami, orang berkata, pakar-pakar kita di Bandung menduga bakal terjadi seperti ini. Tetapi kita kurang tanggap. Setelah terjadi, dunia seluruhnya berkata kita harus pasang alat-alat untuk mempelajari supaya tidak terjadi bencana seperti ini lagi. Kita diberi kemampuan oleh Allah. Allah berfirman Allah menundukkan apa yang di langit & di bumi, semuanya anugerah Allah. Bagaimana caranya menundukkannya? Hukum-hukum alamNya tetap. Di mana pun pergi, api membakar. Kita tundukkan api, hei kamu jangan membakar, kita masak nasi aja. Di dapur begitu kan? Dengan kemampuan kita.

Saya mau melangkah lagi. Apa yang kita namai hukum-alam alam ini, apa pasti seperti itu? Nah kita baca Quran lagi ya? Pernahkah api tidak membakar? Ingat kisah Nabi Ibrahim? "naruquni bardan wa salaman ala' Ibrahim".

“Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",QS. Al-Anbiyaa (21) ayat 69.

Kalau begitu yang menetapkan hukum alam ini siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau begitu, apa yang saya katakan jika air selalu mencari tempat yang rendah, selalu pasti begitu atau tidak? Kebiasaan (yang ditangkap) kita, di mana-mana seperti itu. Jadi hukum alam itu, apa yang kita lihat sebagai fenomena alam ini, menurut ilmuwan, adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Bisa tidak suatu waktu matahari terbit dari sebelah barat? Naa, bisa ketika mendekati kiamat. Karena hukum alam ini adalah ikhtisar dari pukul rata statistik. Apa yang kita anggap kebetulan sekarang, boleh jadi merupakan proses menjadi kebiasaan, itu kata ilmuwan. Tidak ada lagi yang pasti sekarang. Itu sebabnya dalam ajaran agama, semua harus memakai "insya Allah". Sejak ditemukannya bahwa atom masih bisa terbagi lagi menjadi proton & elektron, sejak itu ilmuwan berkata bahwa tidak ada lagi sesuatu yang pasti.

“Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” QS. Al-Furqaan (25) ayat 2.

Sunnatullah. Segala sesuatu sudah Allah tentukan ukurannya. Quran: Allah menciptakan segala sesuatu dan semua diberi ukuran. Manusia ada ndak ukurannya? Bisa terbang seperti burung? Tidak, karena tidak mempunyai sayap seperti burung. Contoh lain, ibu membawa karet. Kalau saya lempar keras, melenting dia, lentingannya keras atau tidak? Keras. Ada ukurannya. Itu Tuhan yang atur. Quran: Matahari beredar di tempat peredaran itu takdir/ukuran yang diberikan Tuhan. 24 jam terbit lagi kamu. Tahun sekian, jam sekian, menit sekian kamu gerhana. Yang mengatur adalah Tuhan. Kalau Dia berkehendak, bisa Ia ubah. Tetapi Ia katakan waktu berbicara tentang sunnatullah, "walaa tajidu li sunnatina tahwila", kamu tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah.

“(Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perobahan bagi ketetapan Kami itu.” QS. Al-Israa (17) ayat 77.

“dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. “ QS. Yaasin (36) ayat 39.

Sunnatullah adalah bagian fenomena alam. Quran menggunakan kata "sunnatullah" untuk hukum-hukum yang mengatur kehidupan bermasyarakat manusia. Kita orang per orang punya ajal atau tidak? Punya. Sebagai bangsa punya ajal atau tidak? Punya.

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”. QS. Yunus ayat 49.

Ada ndak hukum-hukum yang mengatur kejayaan suatu bangsa? Ada. Mau jaya? Kerja keras, punya pengetahuan. Ada ndak hukum-hukum yang membuat suatu bangsa bisa menang? Ada, ada hukum-hukum kemasyarakatan. Dalam Quran ada 16 kali kata sunnah. Sunnah artinya kebiasaan. Ada kebiasaan-kebiasaan, sama dengan hukum alam. Ada kebiasaan Tuhan menyangkut masyarakat. Bagaimana Tuhan mengubah suatu masyarakat. Ada kebiasaan, ada hukumnya. "Innallah laa yughoyiru ma bi qaumin, hatta yughoyiru bi anfusihim...". “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” QS. Ar-Ra’d (13) ayat 11.

Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu masyarakat, kalau dia [masyarakat] tidak mengubah apa yang ada dalam pikirannya. Kalau tidak berubah nilai-nilai, tidak berubah pandangan hidup anda, anda tidak berubah. Bukan cuma tahu. Saya beri contoh. Saya tahu kereta akan berangkat dari Jakarta, katakanlah ke Bandung jam sekian. Saya tahu ada itu. [Ada kereta & jadwal]. Bisa mengantar saya ke Bandung? Kalau tahu saja, tidak. Harus apa? Saya harus mau. Kalau anda mau, mau saja sudah cukup atau tidak? Harus pergi ke stasiun dahulu, beli tiket dulu. Sudah punya tiket, sudah pasti sampai? Belum. Harus naik di keretanya dulu. Tidak bisa berubah ini. Itulah sunnatullah. Mau masyarakat ini maju. Ubah dulu pikirannya. Jangan malas. Harus rajin. Hargai waktu. Ini semuanya ada dalam benak kita. Sudah tahu itu, harus punya kemauan.

Jadi sunnatullah itu adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Tetapi sunnatullah dalam penggunaan Al Quran yang merupakan bagian dari hukum-hukum alam itu yang dinamai taqdir atau ukuran, sedangkan kata sunnatullah itu khusus untuk kehidupan bermasyarakat. Kalau ada masyarakat yang resah, pemerintahannya membuat keresahan, bisa bertahan pemerintahannya itu atau tidak? Itu hukum kemasyarakatan. Pasti orang ribut. Quran. Itu kaum musyrik Mekkah mau menggelisahkan kamu supaya mau mengusir kamu dari Mekkah, kalau sudah sampai puncak kegelisahan, masyarakat itu, pemerintahan itu akan runtuh. Di Indonesia terjadi itu. Dulu zaman komunisme bagaimana? Hancur, lahir orde baru. Orde baru muncul, mulai gelisah. Itu hukum kemasyarakatan. Itu yang dinamai sunnatullah.

Sunnatullah ini menurut Al Quran, adalah bagian dari hukum-hukum Tuhan yang berlaku di alam raya ini. Hukum-hukum Tuhan itu diantaranya ada hukum yang berkaitan dengan alam raya [dengan bumi, langit, matahari, bintang, dll], dan ada pula hukum yang berkaitan dengan manusia. Manusia sebagai perorangan, sebagai masyarakat. Kalau hukum Tuhan yang berlaku bagi manusia, dalam kehidupan bermasyarakatnya, dinamai sunnatullah. Kalau hukum Tuhan yang berkaitan dengan manusia dan juga alam semuanya dinamai taqdir. Kita bisa tahu taqdir, kita bisa pilih taqdir. Bisa ndak kita pilih taqdir? Nah kita lihat deh. Kalau buku tafsir ini di sini [ di atas meja ] . Kalau diangkat & dilepas, jatuh atau tidak? Taqdirnya jatuh. Kalau ditaruh di atas meja, jatuh atau tidak? Tidak. Bisa tidak saya pilih itu agar tidak jatuh? Bisa. Kalau saya angkat tafsir ini, bisa tidak? Bisa. Kalau saya angkat ada hukumnya. Kalau kamu mau angkat ini, kamu harus ulurkan tanganmu dan naikkan ke atas. Itu taqdir, ada ukurannya. Bisa tidak saya pertinggi ini lagi? Saya angkat tinggi sekali. Ada tidak ukurannya? Itu semua bisa saya pilih taqdir Tuhan. Ada tembok rapuh, saya sandar di situ, ambruk, bisa kena saya. Bisa tidak saya pindah dari situ? Nah kalau saya pindah pun itu taqdir Tuhan. Segala sesuatu ada taqdirnya. Ada hukum-hukum yang diatur Tuhan. Kalau berkaitan dengan manusia & masyarakatnya, dinamai sunnatullah. Tidak bisa maju jika tidak mengikuti sunnatullah. Ada hukumnya.

Bisa tidak, mendidihkan air jika tidak dipanaskan? Tidak bisa. Itu hukum alam. Bisa tidak, membeku jika tidak didinginkan? Tidak bisa. Itu ada hukumnya. Masak nasi terlalu lama, hangus tidak? Hangus, itu taqdirnya begitu. Masak nasi, kurang airnya? Keras, gosong. Nah ada ukurannya agar nasi bisa matang & enak. Bisa dipelajari kan? Bisa dihindari supaya tidak gosong/keras? Nah ini, Tuhan beri kita kemampuan untuk itu. Taqdir bisa dipilih? Bisa kan? Kenapa bisa masak bubur atau nasi? Karena kita bisa memilih. Tetapi ada ukurannya, yang ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu juga dengan hukum-hukum kemasyarakatan. Tsunami kemarin juga ada ukurannya. Kalau kita pandai, kita bisa menghindar, atau kita bisa mengurangi bahayanya. Kenapa di Jepang yang banyak terjadi gempa, tetapi mereka bisa lebih selamat ? Mereka membangun rumahnya yang sedemikian rupa, dan sebagainya. Ini namanya hukum alam. Kita dianugerahi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kemampuan untuk itu. Itu yang diisyaratkan oleh ayat "Wa 'alama Adamal asma 'al akulaha". “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 31.

Alam ini tidak bisa menghindar. Waktu Allah menciptakan alam raya, Allah berfirman kpd langit & bumi, " i'tiyar... " "Datang kamu, suka atau tidak suka". " ataina tha'in", "kami datang secara sukarela, kami tidak bisa membangkang".

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati.". QS. Fushshilat (41) ayat 11.

Kalau manusia bisa membangkang, kan? Hukum alam adalah ikhtisar dari pukul rata statistik, yang kita ketahui, Allah yang mengaturnya. Makanya kita tetap harus bermohon kepadaNya.

Al Quran menggunakan istilah sunnatullah utk hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat, walaupun sementara ilmuwan muslim menjadikan istilah sunnatullah itu adalah hukum-hukum yang mengatur alam raya ini baik itu manusia secara individu atau kolektif maupun alam raya ini [bintang bulan dll], tetapi Quran membedakan itu.

Tanya : Seperti yang disampaikan bapak Quraish, gejala alam itu hukum Tuhan. Mengingat tsunami kemarin, apakah ini termasuk taqdir disamping hukum alam. Seperti diketahui, ahli Geologi sudah meramalkan ada benturan lempeng tetapi diramalkan berada di pantai Sumatera Barat, tetapi ternyata terjadi di Aceh. Antara pengetahuan manusia, koq ada kesenjangan dengan realisasinya. Selanjutnya, ketika terjadi musibah besar itu, ada dua pendapat yang saya baca di koran & majalah, ada yang tidak bisa menerima bahwa ini merupakan azab dari Allah atau musibah, tetapi meniadakan hal itu bahwa Allah itu tidak jahat sehingga menghukum orang-orang Aceh. Kenapa diberi azab, kenapa tidak di Jakarta. Di mana letak taqdir, ketika sebagai manusia telah berusaha dengan ilmu pengetahuan, terjadi musibah.

Jawab: Yang pertama, taqdir ada banyak & bermacam-macam. Sebagian dapat / sudah kita ketahui, sebagian ada yang tidak kita ketahui. Sebagian ada yang sudah jelas bagi kita, dan ada yang belum jelas bagi kita. Itu taqdir. Jadi kalau ibu tadi berkata bahwa ilmuwan memperkirakan di Sumatera Barat, jadinya di Aceh. Itu karena pengetahuan ilmuwan itu tidak menyeluruh. Seandainya pengetahuannya menyeluruh, ia bisa mendeteksi bahwa itu terjadi di Aceh. Itu kalau kita berbicara dari segi ilmu. Yang kedua, tidak terjadi kecuali atas dasar taqdir & ukuran / ketetapan Tuhan. Tetapi ketetapan Allah ini ada yang kita ketahui dan ada yang tidak kita ketahui. Ada yang bisa kita jangkau, dengan pengetahuan & mempelajarinya, seperti contoh air membeku / mendidih, ada yang kita tidak/belum tahu. Dulu orang-orang tua kita, 600 - 700 tahun yang lalu, belum tahu bagaimana membuat es. Nah kemajuan ilmu menjadikan kita tahu. Boleh jadi nanti suatu ketika kemajuan ilmu akan lebih tepat, ooh ini jadinya di sini. Seperti gerhana, sekarang saja kita bisa tahu kapan & di mana terjadinya dengan tepat, ya kan? Itu perkembangan ilmu. Kemudian, hukum-hukum alam ini tidak selalu pasti seperti itu. Ada faktor lain bisa mengubahnya. Itu sebabnya di atas saya katakan bahwa sejak ditemukannya atom terbagi lagi menjadi proton & elektron, ilmuwan berkata tidak ada lagi yang dinamakan pasti. Saya hanya bisa mengatakan, kalau terjadi A kemungkinan terjadi B, saya tidak bisa berkata pasti B yang terjadi. A kalau terjadi bisa terjadi B atau terjadi C, tetapi kemungkinannya terjadi B lebih besar, saya tidak bisa pastikan B. Karena yang mengatur adalah Allah yang Maha Berkehendak. Saya tidak ingin berkata bahwa yang terjadi di Aceh itu adalah murka Tuhan. Kadang ada musibah yang terjadi justru untuk mengangkat derajat orang-orang di sisi Allah. Sahabat-sahabat Nabi pernah berperang & gugur. Apakah orang-orang yang gugur itu dibenci Tuhan atau bagaimana? Itu satu. Yang kedua, kita harus berprasangka baik pada Tuhan. Orang-orang yang meninggal, kalau pun bergelimang dosa, kita juga harus menyebut kebaikan-kebaikannya. Kemarin, saya baru dari Mekkah, ada badai, apakah itu orang-orang jahat yang ada di Mekah? Mereka orang-orang yang sedang beribadah! Hujan lebat, menghanyutkan barang-barang. Ini bisa ujian atau peringatan Allah. Orang yang diberi peringatan Allah apakah dirahmati atau tidak? Dirahmati. Saya beritahu anak saya, "Hati-hati nak, di jalan ada beling", apa itu karena saya benci dia? Atau saya beri peringatan karena saya sayang? Saya akan berkata begitu, Tuhan masih sayang, beri kita peringatan. Jadi jangan berkata bahwa Tuhan murka. Sangka baik kepada Allah. Saya berkata, bahwa Tuhan akan mengubah wajah Aceh menjadi lebih baik. Tuhan menyadarkan bangsa ini agar lebih bersatu. Ya kan? Itu kalau kita mau bersangka baik kepada Allah.

Tanya: Gunung katanya bergerak, apakah bernafas? Seperti makhluq hidup?
Jawab: Kita tidak harus berkata bahwa yang bergerak itu bernafas. Boleh jadi sesuatu itu bergerak dikarenakan sesuatu yang lain. Seperti lempeng yang bergerak karena didorong sesuatu. Saya tidak ingin berkata dapat bernafas, tetapi boleh jadi kita bisa berkata bahwa ia hidup dengan kehidupannya. Dalam Al Quran, bumi ini dianggap hidup. Gunung-gunung "dianggap" hidup. Nabi menamai gunung Uhud, "Uhud yuhibbuna, wa yuhibbuhu", " "Gunung Uhud ini mencintai kita, dan kita pun cinta kepadanya". Tapi ini dalam pengertian metafora. Nabi memberi nama-nama bagi benda-benda tak bernafas, tak bernyawa. Cerminnya dinamai "Al Midallah". Gelasnya dinamai As Shoddiq. Pedangnya dinamai Zulfiqor. Ini seakan-akan seperti makhluq hidup yang perlu persahabatan punya personality [kepribadian]. Jadi kalau ibu berkata gunung bernafas secara metafora Al Quran juga menamakannya hidup. Nabi menjadi rahmatan lil 'alamin. Berarti juga nabi memberikan rahmat kepadkepada seluruh alam termasuk gunung-gunung, dll, seakan-akan dia hidup.

Tanya: Apa beda antara taqdir dengan qadha qadar?
Jawab: Qadar itu taqdir. Qadha itu pengetahuan Tuhan secara menyeluruh menyangkut segala sesuatu. Taqdir itu adalah ketetapanNya menyangkut rincian. Semua manusia, semua yang bernyawa pasti mati. Tuhan tahu itu. Tuhan sudah tetapkan itu. Tetapi, kematian si A itu kapan? Itu taqdir. Taqdir itu menyangkut orang per orang. Oo ini taqdirNya, dia meninggal karena "ini" pada tanggal sekian bulan sekian tahun sekian. Qadhanya apa? Semua ini akan meninggal. Itu salah satu yang dikemukakan ulama menyangkut perbedaan antara qadha & qadar. Jadi, tidak ada yang terjadi kecuali Tuhan sudah tahu terlebih dahulu. Itu qadhanya. Tetapi kejadiannya itu adalah taqdirnya.

Garis besarnya. Kita harus percaya bahwa ada hukum-hukum alam, segalanya sudah Tuhan atur sedemikian rupa dalam bentuk sistem / hukum. Kita perlu mempelajari itu supaya kita dapat memilih taqdirNya yang terbaik untuk kita. Tsunami adalah taqdir Tuhan. Bencana, ni'mat juga taqdir Tuhan. Kita hadir sekarang di sini juga taqdir Tuhan. Semua taqdir Tuhan. Yang baik yang buruk adalah taqdir Tuhan. Nah kita tinggal pilih-pilih. Mau ke Metro atau ke Niteclub? Kita punya kemampuan memilih.