Penulis Topik: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan  (Dibaca 11699 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

faritz

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« pada: Januari 13, 2007, 06:19:36 pm »
“Bisakah mengandalkan hidup dari menulis?” Pertanyaan seperti ini kerapkali diajukan kepada orang-orang yang berprofesi sebagai penulis. Umumnya, si penanya adalah orang yang ingin terjun ke dunia penulisan, tapi masih ragu dengan potensi materi yang akan ia peroleh. Dan, menjawab pertanyaan seperti ini ternyata tidak mudah. Sebab faktanya, banyak orang yang kaya dari menulis, namun banyak pula yang sebaliknya.

Maria Adelia (17 tahun) adalah contoh sosok penulis yang sukses dari segi materi. Siapa sangka, novel “Aku VS Sepatu Hak Tinggi” yang dikirimnya secara iseng-iseng ke Penerbit Gramedia, menjadi laku keras di pasaran. “Enggak nyangka, cetakan pertamanya laku hingga 10 ribu kopi,” ujarnya, sebagaimana dikutip harian Kompas, 16 Juli 2005.

Kini, novelnya ini sudah diangkat ke layar kaca, bahkan dijadikan sinetron berseri. Tentu, royalti pun membanjiri dompet Maria Adelia. Dalam sebulan, ia mendapat penghasilan kotor sekitar Rp 5 juta!

Kisah sukses lainnya dialami oleh Yanti Puspitasari (34 tahun). Dengan menjadi penulis skenario sejumlah sinetron (antara lain Kehormatan, Bidadari, dan Perkawinan Sedarah), ia dan suaminya dapat menikmati kehidupan yang layak. Namun karena mereka bekerja di rumah, banyak tetangga yang mengira mereka pengangguran dan dituduh memelihara tuyul. Pasalnya, mereka jarang ke luar rumah, tetapi punya mobil dan materi lain yang secara kasatmata bisa dilihat sebagai kekayaan, termasuk dua rumah di Nirwana Estat, Cibinong, Bogor (Kompas, 27 November 2005).

* * *

Dari kedua cerita di atas, apakah dapat dipastikan bahwa menjadi penulis merupakan pilihan yang amat menjanjikan dari segi materi? Ternyata tidak juga. Sebagai bahan perbandingan, coba simak penuturan Fira Basuki lewat blog pribadinya. Pengarang novel laris “Jendela Jendela” ini mengeluhkan, betapa sulitnya mengandalkan penghasilan dari menulis, khususnya di Indonesia. Di Amerika, menurutnya, profesi penulis mendapat penghargaan yang sama - dari segi finansial - seperti para aktor film. Penulis skenario pun dibayar amat mahal. Selain itu, dunia penulisan pun sudah menjadi industri. Ini ditandai dengan adanya agen penulis, maraknya ghost writer(*), dan sebagainya.

Berdasarkan info dari sejumlah pengamat, memang dunia penulisan di Indonesia tidak terlalu menjanjikan dari segi materi. “Kalau di Singapura, penulis bisa jadi jutawan,” ujar sastrawan Yanusa Nugroho dalam sebuah kesempatan, tahun 2005 lalu.

Sebagai gambaran, berikut disajikan contoh kasus tentang seorang penulis yang menerbitkan dua buku yang penjualannya biasa-biasa saja.

    1. Buku A
    Harga jual: Rp 35.000
    Royalti: 10 % dari total penjualan
    Masa pembayaran royalti: 6 bulan sekali, yakni Januari dan Juli.

    Selama periode Januari - Juni 2005, jumlah eksemplar buku A yang terjual adalah 600 kopi. Maka, royalti yang diterima si penulis adalah:
    [ ( Rp 35.000 X 600 kopi ) x royalti 10% ] - pajak 15 persen
    = Rp 1.785.000

    2. Buku B
    Harga jual: Rp 45.000
    Royalti: 10 % dari total penjualan
    Masa pembayaran royalti: 6 bulan sekali, yakni Januari dan Juli.

    Selama periode Januari - Juni 2005, jumlah eksemplar buku A yang terjual adalah 1.000 kopi. Maka, royalti yang diterima si penulis adalah:
    [ ( Rp 45.000 X 1.000 kopi ) x royalti 10% ] - pajak 15 persen
    = Rp 3.825.000

    Jadi, penghasilan si penulis selama 6 bulan dari kedua bukunya adalah Rp 5.610.000.

    Dengan kata lain, penghasilan rata-ratanya perbulan adalah Rp 935.000.



Jika si penulis tinggal di Jakarta, sudah menikah dan punya dua anak, cukupkah penghasilan sebesar itu untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya?

Perlu dicatat pula, contoh di atas kebetulan menggunakan angka-angka yang cukup tinggi. Coba Anda hitung sendiri, jika buku si penulis hanya terjual 300 kopi selama 6 bulan, dan harga jualnya Rp 20.000 atau Rp 18.000 per eksemplar.

* * *

Dari gambaran di atas, kita kini memiliki gambaran, bahwa profesi penulis - secara umum - sebenarnya belum terlalu prospektif dari segi finansial. Ini adalah kondisi di Indonesia, bukan di negara-negara lain.

Memang, ada sebagian penulis yang bisa hidup berkecukupan dari menulis. Namun biasanya, orang yang bernasib seperti ini adalah:

   1. Penulis yang buku-bukunya laris manis di pasaran, mungkin terjual hingga ribuan bahkan jutaan eksemplar. Bahkan pula, buku-bukunya diangkat menjadi film atau sinetron (ini sudah dialami oleh Hilman Hariwijaya).
   2. Penulis skenario sinetron yang laris, karya-karyanya sering dipakai sebagai bahan cerita. Tapi sekadar info, menjadi penulis skenario sinetron kejar tayang bisa menimbulkan rasa stress tersendiri. Bagaimana tidak! Si penulis terus diburu deadline, sehingga harus sering lembur dan nyaris tak ada waktu untuk istirahat.
   3. Penulis yang berwirausaha dari hobi mereka. Biasanya, potensi materi dari bidang ini cukup menjanjikan. Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang bisa digarap; Mulai dari menjadi editor dan penerjemah freelance, mengerjakan company profile, hingga menggarap media internal bagi perusahaan besar.
   4. Penulis yang telah menerbitkan puluhan buku. Mungkin hasil penjualan buku-bukunya biasa-biasa saja, sehingga royalti per buku hanya sedikit. Tapi karena ia telah menerbitkan banyak buku, total royalti yang ia peroleh per bulan bisa sangat besar.

Jika anda adalah penulis yang tidak memenuhi keempat kriteria di atas, jangan berkecil hati dulu. Tapi sebaiknya, jadikanlah menulis sebagai pekerjaan sampingan saja. Tentunya, Anda harus punya pekerjaan yang bisa diandalkan dari segi materi, misalnya menjadi karyawan pada perusahaan tertentu, atau membuka usaha di bidang lain.
Lagipula, materi atau finansial seharusnya bukanlah tujuan utama bagi seorang penulis. Ada tujuan-tujuan lain yang jauh lebih mulia. Misalnya, si penulis dapat menularkan ide, gagasan, dan prinsip hidup yang dianutnya kepada para pembaca. Jika yang “ditularkan” adalah nilai-nilai kebaikan, tentu si penulis merupakan manusia yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Tentunya, setiap penulis akan senang jika ide-ide yang ia tuangkan lewat goresan penanya, diikuti dan diterapkan oleh para pembaca. Jika ini terjadi, kepuasan yang didapatkan tentu tak ternilai harganya.

Sebagai penutup, coba simak penuturan Yanusa Nugroho. Sastrawan yang satu ini punya prinsip hidup yang unik. “Saya punya dua tangan, yang kanan dan yang kiri. Tangan kanan saya gunakan untuk menulis karya sastra. Di sini, saya bebas berekspresi, tidak bisa diintervensi oleh siapa dan apapun. Dan saya tidak berorientasi uang. Sedangkan tangan kiri saya gunakan untuk mencari uang dari bidang penulisan.”

Yanusa pun menambahkan, ia pernah menjadi ghost writer untuk naskah pidato mantan Presiden BJ Habibie dan menulis naskah iklan produk-produk Netsle. Hasilnya sangat lebih dari lumayan.

(Jonru/berbagai sumber)

Keterangan:
(*) Ghost writer adalah orang yang menulis naskah atas nama orang lain, misalnya seorang pejabat atau public figur. Si pejabat (dan sebagainya) biasanya tidak sempat menulis. Karena itu, ia menyewa orang lain (biasanya adalah orang yang sudah ia kenal dekat dan tahu persis karakter tulisan dan pola pikirnya) untuk menulis atas nama dia.

faritz

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #1 pada: Januari 13, 2007, 06:23:39 pm »
Bisnis di Bidang Penulisan

Umumnya, seorang penulis mengandalkan penghasilan dari honor/royalti tulisan-tulisan mereka. Jumlahnya sebenarnya tidak seberapa, kecuali jika buku Anda best seller. Untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, kenapa tidak mencoba berwirausaha? Ya, wirausaha di bidang penulisan!

Langkah seperti ini, antara lain telah dirintis oleh Dudun Parwanto (31 tahun). Bermodalkan pengalaman 7 tahun sebagai wartawan, ia melihat peluang yang sangat besar di bidang jasa content provider. “Dari seluruh corporate besar di Indonesia, dana yang dihabiskan pada sektor ini sekitar Rp 80 miliar. Sayangnya, belum ada pelaku bisnis content provider ini yang berskala besar,” ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang ini.

Maka, Dudun pun mulai merintis bisnisnya. Ia menghubungi sejumlah relasi yang dikenalnya ketika masih jadi wartawan, lantas menawarkan jasa pembuatan media berbentuk buletin. Alhamdulillah, proposalnya disetujui. Ia diberi kesempatan untuk mengelola buletin “Speedy” milik PT Telkom Indonesia.

Setelah yakin dengan usahanya, pria asal Solo ini pun membentuk badan usaha (CV Bianglala Kreasi Media). Modalnya sekitar Rp 2 jutaan, mencakup pengurusan SIUP, NPWP, PKP, dan akte notaris/pengesahan kehakiman. Ia juga mengeluarkan dana Rp 18 juta untuk sewa tempat dan penyediaan peralatan pendukung. Untuk karyawan, ia merekrut tiga tenaga, yang masing-masing bertugas sebagai tenaga desain, reporter, dan marketing.

Menurut Dudun, omset pertahun yang ia hasilkan sekitar Rp 100 juta. Labanya sekitar 25 - 30 persen.

Apakah untuk mendirikan bisnis di bidang penulisan, harus bermodal besar seperti Dudun? Sebenarnya tidak juga. Anda yang bermodal pas-pasan pun bisa memulainya tanpa harus mendirikan badan hukum. Modal yang paling penting di dalam bisnis seperti ini adalah kemampuan menulis dan jaringan berupa perusahaan atau individu yang membutuhkan jasa penulisan Anda. Adapun sarana dan modal lainnya, dapat Anda cicil sesuai perkembangan usaha.

Ada begitu banyak peluang di bidang ini, tidak hanya content provider seperti yang dilakoni Dudun. Anda bisa mengerjakan company profile, web content, naskah iklan, editor freelance, translator, dan masih banyak lagi. Yang penting adalah kreativitas dan kejelian dalam menangkap peluang. (jonru)

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Media Optimis

prince_darkness

  • Pengunjung
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #2 pada: Januari 13, 2007, 07:58:44 pm »
saya dulu pernah saran ke kang dudung...
gimana kalo kita buat buku kumpulan puisi dudungers dan kumpulan cerpen dudungers???

faritz

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #3 pada: Januari 15, 2007, 12:17:17 pm »
bagus tuh usulnya, tapi cerpen ama puisi itu karya sendiri ngga, jangan2 kebanyakan cuma copas...

sweetheart

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 149
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #4 pada: Januari 15, 2007, 02:59:05 pm »
iya usul bagus, bisa kita terbitin atas nama dudung dot net...
pasti keren uei...

prince_darkness

  • Pengunjung
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #5 pada: Januari 15, 2007, 09:18:10 pm »
bagus tuh usulnya, tapi cerpen ama puisi itu karya sendiri ngga, jangan2 kebanyakan cuma copas...
kalo yang kupublikasikan di blog...cerpen ma puisinya original mas....di dudung aku dah lama ga bikin puisi sejak forum yang lama dulu.....

Amarylis tuh ma kang drai setauku puisinya keren2 banget.....

faritz

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #6 pada: Januari 17, 2007, 10:33:52 am »
padahal diluar negeri para penulis sangat dihargai dan bisa dijadikan profesi yg membanggakan...
kapan Indonesia bisa menghargai lebih para penulis...

prince_darkness

  • Pengunjung
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #7 pada: Januari 18, 2007, 04:47:19 pm »
aku mau tau gimana kabar eliza v handayani ....
apa novelnya jadi ya dibuat film???
pasti keren banget tuh..bisa nyaingin film2 hollywood(Hymne Angkasa Raya)

sweetheart

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 149
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #8 pada: Januari 19, 2007, 08:31:48 am »
padahal diluar negeri para penulis sangat dihargai dan bisa dijadikan profesi yg membanggakan...
kapan Indonesia bisa menghargai lebih para penulis...

Kayaknya masih sulit, minat baca di Indonesia sendiri masih sangat memprihatinkan. akhirnya penerbit sendiri lebih cenderung nerbitin buku-buku yang marketable. akhirnya idealisme penulis ditantang...

tapi bagaimanapun juga buat para penulis muslim/ah. teruslah berkarya...

faritz

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #9 pada: Juli 01, 2007, 04:24:11 pm »
padahal diluar negeri para penulis sangat dihargai dan bisa dijadikan profesi yg membanggakan...
kapan Indonesia bisa menghargai lebih para penulis...

Kayaknya masih sulit, minat baca di Indonesia sendiri masih sangat memprihatinkan. akhirnya penerbit sendiri lebih cenderung nerbitin buku-buku yang marketable. akhirnya idealisme penulis ditantang...

tapi bagaimanapun juga buat para penulis muslim/ah. teruslah berkarya...

amien...
memang motivai menulis tuk mendapatkan uang kayaknya perlu diluruskan,
menulis adalah untuk berdakwah,
menulis adalah untuk berkarya,
kalaupun ada uang yang didapat itu adalah efeknya saja. :)

ade khalid azzam

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • ",,,,,Semangat,,,,,"
    • Lihat Profil
    • ade-sugio.blogspot.com
Re:Mengais Rejeki dari Dunia Penulisan
« Jawab #10 pada: Oktober 22, 2010, 06:28:27 am »
ehm bole juga nih dipasarkan >:D<