Penulis Topik: Sholat dan pembahasannya  (Dibaca 49225 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

sleborboy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 22
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • just a simple boy
    • Lihat Profil
Re: sholat tanpa mukena (akhwat)
« Jawab #15 pada: April 24, 2007, 11:14:42 am »
bismillahirrahmanirrahim.
assalamualaikum wr wb.
mau tanya nih, tentang akhwat yg sholat tanpa mukena (mukena atasan tepatnya). begini saya sering sholat tanpa mukena atas. makanya saya mau tanya, walaupun tangan pake manset/deker tapi punggung tangan kan keliatan nah itu sholatnya sah/ga?
bahkan saya pernah sholat ga pake mukena sama sekali, krn waktu itu ga sempat dhuha dirumah, akhirnya sebelum praktikum saya dhuha di kampus, eh mukenanya pd dicuci semua.
jujur saja, saya termasuk males kalo bawa2 mukena kemana2, nah paling cuma bawa bawahan aja kan bisa diuntel-untel jd muat, ga berat bgt gitu.
jazakumullah khoiron.
wassalamualaikum wr wb.

intinya pakai mukena itukan agar tubuh wanita tertutup. yang penting supaya auratnya gak nampak.
nach.., menurut aku pribadi.., kalo emang dengan begitu bisa menutup aurat secara keseluruhan dan tidak kelihatan.., apalagi ama laki-laki..,?? itu sich gak masalah.. en sholatnya masih sah
tapi kalo kelihatan..?? nach.., sebaiknya pakai mukena yang sempurna dech..
kira-kira begitulah..
wa ALLAH a'lamu bisshowab

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #16 pada: Juni 18, 2007, 06:16:21 am »
Masalah mukena adalha bagian dari urf. Atau kita kenal kebiasaan di Indonesia, dan hal tersebut tidak bertentangan bagi syari'at. Sama halnya pakai kopyah, tentu kopyah di Indonesia dan di negara lain beda.

iwanarifs

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 40
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • spidy...
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #17 pada: Juni 30, 2007, 12:43:16 am »
langsung saja ya...

dalam shalat kita diwajibkan membaca surat alfatihah (masuk dalam rukun shalat). karena bersifat rukun shalat, jadi bacaan itu wajib dibaca. ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa, apabila dalam kondisi berjamaah maka kita tidak wajib membaca alfatihah karena imam telah membaca surat tersebut, namun aa pendapat yang sebaliknya. agar kita lebih berhati hati saya rasa lebih baik kita ikuti pendapat kedua. sekian terima kasih..


drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #18 pada: Agustus 15, 2007, 02:08:15 pm »
MEMBACA AL-FATIHAH DI BELAKANG IMAM [SHALAT JAHRIYAH]


Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashidruddin Al-Albani ditanya : Anda menyebutkan dalam kitab Shalat Nabi, dari hadits Abu Hurairah, tentang di nasahkkannya (dihapuskannya) bacaan Al-Fatihah dibelakang Imam yang sedang shalat jahar. Kemudian anda mengeluarkan hadits ini, dan anda sebutkan bahwa hadits tersebut mempunyai penguat dan hadits Umar. Akan tetapi dalam kitab Al-'Itibar Fi An-Nasikh wa Al-Mansukh yang dikarang oleh Al-Hazimii disebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh seorang yang tidak dikenal (majhul), dimana tidak ada yang meriwayatkan dari si majhul ini kecuali hadits tersebut, dan seandainya hadits ini tsabit, yang berisi larangan untuk membaca Al-Fatihah di belakang imam yang sedang membaca ayat, maka bagaimana pendapat anda tentang perkataan Al-Hazimi ?

Jawaban
Ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama dengan perselisihan yang banyak. Dan perkataan Al-Hazimi ini mewakili para ulama yang berpendapat wajibnya membaca Al-Ftihah di belakang imam yang menjaharkan bacaannya.

Di dalam perkataannya ada dua sisi ; yang pertama, dari sisi hadits, yang kedua dari sisi fiqih

Adapun dari sisi hadits, ialah tuduhan cacat terhadap ke shahihan hadits tersebut dengan anggapan bahwa di dalam hadits tersebut terdapat seorang yang majhul (tidak dikenal). Akan tetapi kemajhulan yang di maksud ternyata adalah seorang perawi yang riwayatnya diterima oleh Imam Az-Zuhri. Tentang perawi ini, memang terdapat banyak komentar mengenai dirinya, akan tetapi mereka menganggap tsiqah (terpercaya), disebabkan pentsiqohan Imam Az-Zuhri, bahkan beliau telah meriwayatkan hadits darinya.

Dan hadits ini ternyata mempunyai penguat-penguat lain yang mewajibkan kita untuk menguatkan pendapat para ulama yang tidak membolehkan membaca Al-Fatihah di belakang imam yang membaca dengan jahar.

Yang paling pokok dalam hal ini, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan jika dibacakan Al-Qur'an maka perhatikanlah, dan diamlah, agar kalian mendapat rakhmat" [Al-A'raaf : 204]

Pendapat seperti ini merupakan pendapat Imam Ibnul Qayyim, Ibnu Taimiyah dan lain-lain. Setelah mengkompromikan semua dalil yang ada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa makmum wajib diam ketika imam menjaharkan bacaan, dan (makmum) wajib membaca ketika imam membaca perlahan.

Masalah sepelik ini tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan satu dua hadits saja. Tapi harus dilihat dari semua hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

Maka seandainya kita berpendapat wajibnya membaca Al-Fatihah dii belakang imam ketika jahar, ini jelas-jelas bertentangan dengan berbagaii masalah dan dalil, dimana tidak mungkin bagi kita menentang dalil-dalill tersebut.

Dalil yang pertama kali kita tentang adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'âla : "Dan jika dibacakan Al-Qur'an maka perhatikanlah dan diamlah", darii perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwasanya dijadikan imam itu untuk diikuti, jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, dan jika ia membaca, maka diamlah"

Termasuk juga satu pertanyaan bahwa jika seorang (makmum) mendapati imam dalah keadaan rukuk, maka ia telah mendapat satu rakaat, padahal dia ini belum membaca Al-Fatihah. Oleh karena itu hadits.

"Artinya : Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah"

Dan hadits-hadits lain yang semakna adalah merupakan dalil khusus, bukan dalil secara umum. Dan satu hadits (dalil) jika telah bersifat khusus, maka keumumannya menjadi lemah, dan iapun siap dimasuki pengkhususan yang lain, atau dimasuki oleh dalil yang lebih kuat tingkat keumumannya dari hadits tadi.

Maka disini, hadits : "Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah". Menurut kami menjadi hadits umum yang terkhususkan, dan pada saat itu juga hadits-hadits lain yang mengandung arti umum tentang wajibnya diam dibelakang imam dalam shalat jahar menjadi lebih kuat (tingkat keumumannya) dari hadits di atas.

Adapun hadits Al-Alaa".

"Artinya : Barangsiapa yang tidak membaca Al-Fatihah maka shalatnya tidak sempurna".

Maka hadits ini tidak marfu [1] kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi ia merupakan pendapat Abu Hurairah, ketika ia menjawab dengan jawaban.

"Artinya : Bacalah dalam hatimu"

Dan kalimat : "Bacalah dalam hatimu" tidak bisa kita artikan membaca sebagaimana lazimnya, yaitu membaca dengan memperdengarkan untuk dirinya, dengan mengeluarkan huruf-huruf dari makhraj-makhraj (tempat-tempaty) huruf.

Dan kalaupun kita dianggap bahwa maksudnya adalah membaca dalam hatii sebagaimana bacaan imam dalam shalat sirriyah atau bacaan ketika shalat sendiri. Maka pendapat seperti ini yang merupakan pendapat Abu Hurairah, bertentangan dengan pendapat sebagian besar shahabat, dimana mereka telah berselisih pendapat masalah ini.

Perselisihan ini bukan hanya terjadi setelah zaman para shahabat, tapii perselisihan ini justru dimulai dari zaman mereka. Pendapat Abu Hurairah inii harus dihadapkan dengan seluruh dalil yang terdapat dalam masalah ini, tidak boleh hanya berdalil dengan pendapat beliau saja, karena bertentangan dengan sebagian atsar para shahabat yang justru melarang membaca Al-Fatihah di belakang imam yang shalat jahar.

Adapun hadits.

"Artinya : Janganlah kalian membaca di belakang imam kecuali dengan Al-Fatihahâh".

Kami berpendapat bahwa pengecualian ini ia merupakan suatu tahapan, darii tahapan-tahapan syari'at.

Barangsiapa yang hanya berdalil dengan hadits ini, maka terdapat perkara-perkara yang harus dia ketahui bagaimana ia bersikap terhadap hadits-hadits tersebut. Diantaranya ialah perkataan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Janganlah kalian membaca", adalah suatu larangan. Dan perkataan beliau : "Melainkan Al-Fatihahâh" adalah pengecualian dari larangan tersebut. Apakah ini secara bahasa pengecualian ini menjelaskan adanya kewajiban yang dikecualikan (dalam hal membaca Al-Fatihah), atau hanya sekedar bolehnya ? Masalah ini harus diteliti lebih dalam lagi. Pendapat yang kuat, bahwa boleh membaca Al-Fatihah, bukan wajib.

Disamping itu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa orang yang mendapatkan ruku'nya imam berarti ia mendapatkan rakaat tersebut.

Bagaimanapun juga, dalam masalah ini kami mempunyai suatu pendapat, yang memperkuat pendapat jumhur, dan pendapat ini sama dengan pendapat Imam Malik dan Ahmad. Dan Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling adil. Dan dalam hal ini kami tidak ta'ashub (fanatik).


[Disalin dari buku Majmu'ah Fatawa Al-Madina Al-Munawarah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Albani, Penulis Muhammad Nashiruddin Al-Albani Hafidzzhullah, Penerjemah Adni Kurniawan, Penerbit Pustaka At-Tauhid]
_________
Foote Note
[1]. Hadist Marfu' adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,-pent

al manhaj.or.id

habibi rambe

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 4
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #19 pada: Oktober 19, 2007, 09:32:16 pm »
tidak masalah kita mengunakan kata qodho ataupun tidak menggunakannya dalam permasalahan shalat yag menjadi permaslahan adalah apakah orang yang sengaja meninggalakan shalat wajib mengqodho shalatnya?saya berpendapat bahwa orang yg sengaja meninggalkan shalat hukumnya adalah dosa tidak wajib baginya qodho dan ia harus bertaubat kepada Allah swt saya merujuk kepada hadits rasul "barang siapa yg meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia telah kafir" dari hadits ini rasul mengatakan bahwa kafir bagi orang yg meninggalkan shalat dengan sengaja bukan mengqodhonya. wallahua'lam bisshowaab
 

habibi rambe

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 4
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #20 pada: Oktober 19, 2007, 09:45:22 pm »
ada 2 pendapat tentang masalah makmum membaca al-fatihah dalam shalat berjamaah
1.tidak wajib membacanya, salah satu dalil mereka adalah ayat al-quran yang artinya"apabila dibacakan al-quran maka dengarkanlah dan diamlah mudah2an kamu mendapat rahmat"
2.wajib membacanya, salah satu dalil mereka adalah hadits rasul yg artinya"tidak sah salat seseorang bagi mereka yg tidak membaca al-fatihah"   
maka terserah kita mau ikut yang mana karena kedua2nya memiliki dalil yang kuat dan kedua2nya shahih. wallahua'lam bi murodihi

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: sholat tanpa mukena (akhwat)
« Jawab #21 pada: Oktober 20, 2007, 11:48:19 am »
bismillahirrahmanirrahim.
assalamualaikum wr wb.
mau tanya nih, tentang akhwat yg sholat tanpa mukena (mukena atasan tepatnya). begini saya sering sholat tanpa mukena atas. makanya saya mau tanya, walaupun tangan pake manset/deker tapi punggung tangan kan keliatan nah itu sholatnya sah/ga?
bahkan saya pernah sholat ga pake mukena sama sekali, krn waktu itu ga sempat dhuha dirumah, akhirnya sebelum praktikum saya dhuha di kampus, eh mukenanya pd dicuci semua.
jujur saja, saya termasuk males kalo bawa2 mukena kemana2, nah paling cuma bawa bawahan aja kan bisa diuntel-untel jd muat, ga berat bgt gitu.
jazakumullah khoiron.
wassalamualaikum wr wb.

Kan salah satu syarat syahnya sholat menutup aurat. Punggung tangan kan termasuk aurat, jadi harus ditutupi. Wallahu a'lam

tisa

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 338
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Wanita
  • alquran my way
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #22 pada: Oktober 21, 2007, 12:42:09 pm »
tisa sependapat dengan akh mamat,tisa pernah tahu sebuah hadits yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #23 pada: Oktober 22, 2007, 05:54:11 am »
Iya kan bener, ane bilang kan punggung tangan bukan telapak tangan. Hayo gak konsen ya....  ;)) ;)) ;)) minum ******

tisa

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 338
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Wanita
  • alquran my way
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #24 pada: Oktober 25, 2007, 11:30:01 am »
Iya kan bener, ane bilang kan punggung tangan bukan telapak tangan. Hayo gak konsen ya....  ;)) ;)) ;)) minum ******
tisa kan bilang seluruh wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajah,punggung tangan termasuk aurat,jadi telapak tangan bukan.............yang gak konsen sapa yach???? ;)) ;)) ;))

ctzone

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 20
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Innallaaha ma'anaa
    • Lihat Profil
    • http://nunoah.multiply.com
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #25 pada: November 17, 2007, 10:09:39 pm »
Assalaamu'alikum Wr.Wb
Bismillaah Alhamdulillaah Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'ala aalihi washahbihi wasallam
Saya baru gabung nih.... >:D<
Mohon maaf bila ana salah tlng perbaiki
ma'na kafain(yang sering di artikan dalam bahasa Indonesia dengan kedua telapak tangan) sebenarnya adalah dhohron wabaathinan ilal kuu'aini maksudnya bagian punggung beserta dalam (telapak) tangan sampai ke pertemuan antara tulang hasta dengan tulang telapak tangan
Itu yang ana dapat dari  Safiinatunnajaa
Maaf bila ada yang salah....Silahkan untuk dikoreksi oleh orang yang ahli dalam bahasa Arab
Wassalaamu'alikum Wr.Wb

*bintang*

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 5
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #26 pada: Desember 19, 2007, 01:56:11 pm »
Assalaamu'alikum Wr.Wb
Bismillaah Alhamdulillaah Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'ala aalihi washahbihi wasallam
Saya baru gabung nih.... >:D<
Mohon maaf bila ana salah tlng perbaiki
ma'na kafain(yang sering di artikan dalam bahasa Indonesia dengan kedua telapak tangan) sebenarnya adalah dhohron wabaathinan ilal kuu'aini maksudnya bagian punggung beserta dalam (telapak) tangan sampai ke pertemuan antara tulang hasta dengan tulang telapak tangan
Itu yang ana dapat dari  Safiinatunnajaa
Maaf bila ada yang salah....Silahkan untuk dikoreksi oleh orang yang ahli dalam bahasa Arab
Wassalaamu'alikum Wr.Wb

saya sependapat....pernah baca buku HIJAB lupa tulisan siapa, disana juga di jelaskan bahwa telapak tangan yang dimaksud adalah yang kelihatan (punggung tangan) dan yang tidak kelihatan (telapak tangan). Dan pernah juga mendengar dr kajian bahwa tidk ada arti kata kafain yang lebih cocok selain "telapak tangan" jika diterjemahkan dalam bahasa indonesia, karena jika di terjemahkan "tangan" pasti akan semakin jauh dari maksud asli dalam bahasa arab. jika ada yang salah mohon dikoreksi

*bintang*

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 5
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
makmum masbuk
« Jawab #27 pada: Desember 19, 2007, 02:06:19 pm »
Assalamu'alaikum
maaf mohon penjelasaanya, jika kita terlambat dalam sholat jama'ah dan masih mendapatkan rukuk apakah kita terhitung mendapat 1 rakaat sholat, karena belum lama ini saya mendengar kajian bahwa kita mendapatkan 1 rakaat sholat  jika telah membaca al-fatihah, jadi kalau kita terlambat dan  baca al-Fatihahnya belum selesai tidak mendapat 1 rakaat sholat? terus terang saya masih ragu karena belum mendapatkan dalil dari pendapat yang kedua, mohon bantuananya, matur nuwun.............

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #28 pada: Desember 20, 2007, 08:10:56 am »
Tolong di cek hadis ini :
"Apabila seseorang diantara kamu datang untuk salat sewaktu kami sujud, hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rakaat; dan barangsiapa yang mendapati rukuk beserta imam, maka ia telah mendapat satu rakaat" (Riwayat Abu Dawud)

Jumhur ulama menggunakan sependapat dengan hadis ini.

Sebagian ulama berpendapat seperti yang disampaikan TS dengan menggunakan hadis berikut :
"Bagaimana keadaan imam ketika kamu dapati, hendaklah kamu ikuti; dan apa yang ketinggalan olehmu, hendaklah kamu sempurnakan" (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tolong yang lebih paham, dijelasin. Masih sedikit ilmu nih.

tarie_914l

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 40
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #29 pada: Februari 03, 2008, 02:55:53 pm »

assalamu'alaikum wr wb

maap saya cm mo nanya karna ini mengganjal bgt di hati aku

"apakah boleh ketika kita shalat tanpa sengaja qta menangis??? "

karna pas sedih bgt , gak tau knapa air mata ini gak dapat di tahan lagi pdhl biasanya bisa pura2 tegar tp klo pas shalat aku gak dapet nahan kesedihan aku


maap jika ini gak pd tempatnya tolong di pindahkan aja ,habis aku gak tau di mn tempatnya


wassalamu'alaikum wr wb