Penulis Topik: Sholat dan pembahasannya  (Dibaca 49103 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

wa

  • Pengunjung
Sholat dan pembahasannya
« pada: Januari 11, 2007, 09:15:05 pm »
 
hukumnya baca surah Al fatehah setelah imam ketika suara di keraskan (sholat shubuh,magrib,isa)  tuh hukumnya apa?
« Edit Terakhir: Januari 21, 2007, 03:04:25 am oleh bangsholeh »

sarung_kotak2

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tanya?
« Jawab #1 pada: Januari 20, 2007, 07:48:39 am »
Assalamu alaikum ww
Bismillahirrahmanirrahim…

Sebelumnya saya memohon kiranya kepada teman teman untuk membukakan pintu maaf yang seluas luas nya karena saya yang dhoif dan faqir ini sudah berani membuka thread perihal shalat…di sini tidak lain dan tidak bukan hanya ingin sekedar “share” tentang pemahaman shalat yang saya dapatkan, adapun apabila terdapat perbedaan mohon kiranya untuk kembali berdiskusi di thread ini dan memang thread ini sengaja saya buat sebagai forum diskusi dan  forum tanya jawab seputar shalat …
Sekali lagi saya yang dhoif dan faqir ini bukan bermaksud menggurui teman teman semua karena saya yakin teman teman semua sudah mengetahui apa itu shalat ? apa hukum shalat ?dan lain sebagainya…
Mudah mudahan thread yang saya buat ini bermanfaat khususnya pada diri saya sendiri sehingga kita benar benar mengetahui akan makna shalat…

Shalat merupakan ibadah pokok yang pertama kali diwajibkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw dan umatnya. karena yang pertama kelak akan dihisab dihari kemudian adalah shalat, dengan demikian, shalat adalah penentu kita untuk pilihan surga dan neraka.

Didalam Al Quran dan dalam hadis-hadis Nabi SAW yang sahih; kita senantiasa menjumpai kata/kalimat “mendirikan salat” dan besar kemungkinannya kita tidak menjumpai kata/kalimat “mengerjakan sholat”. Adalah sebenarnya; kedua kata/kalimat diatas memiliki arti kata yang berbeda.

Mari kita sejenak memahami apa yang dikatakan oleh khalifah Rasul yang kedua, Umar bin khaththab. yaitu “Yang  mengerjakan shalat banyak, tetapi yang mendirikan shalat sedikit”

Sebelum kita melangkah lebih dalam atas perihal salat , adalah baiknya, kita sejenak untuk mau memahami perihal definisi tentang salat, yang bersumber dari para ahlinya.

1. Definisi salat menurut ahli Fikih adalah Perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadat kepada Allah sesuai syarat-syarat yang telah ditentukan.
 
2.Definisi salat menurut ahli hakekat adalah Menghadapkan jiwa kepada Allah, yangmana dapat melahirkan rasa takut kepada Allah SWT serta dapat membangkitkan kesadaran yang dalam terhadap kebesaran serta kesempurnaan kekuasaan_NYA.

3. Definisi salat menurut ahli makrifat adalah menghadap kepada Allah dengan sepenuh jiwa dan sebenar-benarnya khusyuk dihadapan_NYA, serta ikhlas kepada_NYA dengan disertai hati dalam berzikir, berdoa dan memuji.


Dari uraian penjelasan atas masing-masing point tersebut diatas, menunjuk bahwasanya bila kita telah mampu melakukan perpaduan antara gerak jiwa dan hati dengan gerak lahir (badan), berarti kita telah mendirikan salat. Akan tetapi; bila kita hanya mampu sebatas gerak lahiriah (badan), berarti kita hanya mengerjakan salat.

Sebagai contoh; apabila kita melihat seseorang berdiri untuk menegakkan salat, bertakbir dan memenuhi segala ketentuan cara salat, baik ruku atau sunnatnya serta memberi salam, maka kita boleh mengatakan sebatas “orang itu telah mengerjakan salat”. Namun demikian kita tidak bisa mengatakan bahwa orang itu telah mendirikan salat, sebab alasan hanya Allah yang tahu bahwa orang itu telah salat dengan gerak jiwa, hati dan lahir (badan).

Berikut adalah hadis Nabi SAW (H.R Thabarani).
Barang siapa yang mendirikan salat pada waktunya dan ia sempurnakan wudhunya, juga ia sempurnakan berdirinya, khusyuknya, rukunya, dan sujudnya, ke luarlah salat itu dalam keadaan puitih berseri-seri, seraya menyeru, “mudah-mudahan Allah memelihara engkau sebagaimana engkau memelihara aku”.
Dan barang siapa yang mengerjakan salat diluar waktunya dan tidak ia sempurnakan wudhunya, dan tidak ia menegakkan khusyuknya, tidak juga ruku dan sujudnya, ke luarlah salat itu dalam keadaan hitam gelap seraya berkata, “mudah-mudahan Allah menyia-nyiakan engkau sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku”. Sehingga apabila telah sampai salat itu kesuatu tempat yang ia kehendaki, dilipat-lipatlah salat itu seperti melipat kain yang buruk. Kemudian dipukulkan salat itu dimukanya.

Pentingnya shalat terkadang tidak terlalu kita sadari. Sering kita saksikan orang melakukan shalat dengan tergesa-gesa. Tak jarang pula rukun-rukun dan sunah dalam shalat dilanggarnya. Kenyataan ini sangat bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Allah SWT, yakni kita harus mengerjakan shalat dengan khusyuk dan sabar.

''Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.'' (QS Thaha: 132).

Kesabaran dalam mendirikan shalat merupakan keharusan jika menginginkan shalat memiliki makna dalam kehidupan kita. Sabar dalam mendirikan shalat berarti kita telah berusaha meningkatkan kualitas shalat serta menyempurnakan rukun dan sunahnya. Sabar dalam mendirikan shalat hanya akan terwujud jika kita berusaha khusyuk mengerjakannya. Allah SWT telah menegaskan bahwa shalat itu merupakan ibadah yang berat,kecuali orang-orang yang khusyuk.

''Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.'' (QS Al-Baqarah: 45).

Nanti di lanjut lagi yak..nunggu respon dari teman2 neh...wass

sarung_kotak2

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tanya?
« Jawab #2 pada: Januari 20, 2007, 07:51:21 am »
eddie sud rahmat kartolo...
maksud loooo...?
ga ngerti neh dgn pertanyaan nya...

sarung_kotak2

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #3 pada: Januari 25, 2007, 09:29:06 am »
Saat terindah bagi seorang pecinta adalah ketika ia bertemu, bercengkrama, dan berdialog dengan orang yang dicintainya. Ketika itu, segala beban hidup dan kenestapaan akan hilang seketika. Bagi para shalihin, bertemu Allah lewat shalat adalah saat yang paling dinantikan, karena pada waktu itulah ia bisa mencurahkan semua isi hati dan bermi'raj menuju Allah. Walau demikian, ia akan kembali lagi ke alam realitas untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang didapat dari shalatnya. Inilah makna sesungguhnya dari khusyuk.

Khusyuk dalam shalat merupakan sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Mukminun: 1-3, "Beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya dan yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna".

Di lain pihak Rasulullah bersabda: Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi ialah kekhusyuan. (HR. At-Tabrani ) Dua keterangan di atas setidaknya mengadung pesan bahwa shalat seharusnya mampu membawa perbaikan kualitas hidup kita. Dengan kata lain, bila kita ingin sukses dan ingin berhasil dalam hidup ini, maka kuncinya adalah punya iman dan mampu khusyuk dalam shalat. Siapa pun di antara kita yang tidak pernah meneliti kualitas shalatnya, besar kemungkinan ia tidak akan sukses dalam hidup.

Dalam surat yang lain, Allah bersabda, "Celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dalam shalatnya" (QS. Al Ma'un: 4-5). Redaksi ayat tersebut bukan fi tapi an, yang menggambarkan bahayanya lalai sesudah shalat. Khusyuk ketika shalat hanya memakan waktu sekitar satu jam, sedangkan sehari 24 jam.

Karenanya, tidak mungkin shalat itu hanya efektif untuk yang satu jam. Yakinlah bahwa shalat yang satu jam harus bagus dan sisanya yang 23 jam harus lebih bagus lagi. Maka orang yang shalatnya khusyuk adalah orang yang mampu berkomunikasi dengan baik ketika shalat, dan sesudah shalat ia betul-betul produktif berbuat kebaikan terhadap umat.

Lalu, apa hikmah shalat yang bisa kita dapatkan?

Pelajaran Pertama, Allah mengingatkan kita lima kali sehari tentang waktu. Orang yang khusyuk dalam shalatnya dapat dilihat dari sikapnya yang efektif menggunakan waktu. Ia tidak mau waktunya berlalu sia-sia, karena ia yakin bahwa waktu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia.

Pelajaran kedua dari shalat adalah kebersihan. Tidak akan pernah diterima shalat seseorang apabila tidak diawali dengan bersuci. Hikmahnya, orang yang akan sukses adalah orang yang sangat cinta dengan hidup bersih. Dalam QS. As Syams: 9-10 Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan dirinya dan sesungguhnya sangat merugi orang yang mengotori dirinya". Dengan kata lain, siapa yang shalatnya khusyuk maka ia akan selalu berpikir bagaimana lahir batinnya bisa selalu bersih.

Mulai dari dhahir, rumah harus bersih. Bersih dari sampah, dari kotoran, dan bersih dari barang-barang milik orang lain. Sikap pun harus bersih. Mata, telinga, dan juga lisan harus bersih dari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Dan yang terpenting pikiran dan hati kita harus bersih. Bersihnya hati akan memunculkan kepekaan terhadap setiap titik dosa, dan inilah awal dari kesuksesan.

Pelajaran Ketiga, sebelum memulai shalat kita harus memasang niat. Niat sangat penting dalam ibadah. Diterima tidaknya sebuh ibadah akan sangat dipengaruhi oleh niat. Seorang yang shalatnya khusyu akan selalu menjaga niat dalam setiap perbuatan yang dilakukannya. Ia tidak mau bertindak sebelum yakin niatnya lurus karena Allah. Ia yakin bahwa Allah hanya akan menerima amal yang ikhlas. Apa ciri orang ikhlas? Ia jarang kecewa dalam hidupnya. Dipuji dicaci, kaya miskin, dilihat tidak dilihat, tidak akan berpengaruh pada dirinya, karena semua yang dilakukannya mutlak untuk Allah.

Setelah niat, shalat memiliki rukun yang tertib dan urutannya. Jadi, Pelajaran keempat dari orang yang khusyuk dalam shalatnya adalah cinta keteraturan. Ketidakteraturan hanya akan menjadi masalah. Shalat mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan hanya milik orang yang mau teratur dalam hidupnya. Orang yang shalatnya khusyuk dapat dilihat bagaimana ia bisa tertib, teratur, dan
prosedural dalam hidupnya.

Pelajaran Kelima, hikmah dari manajemen shalat yang khusyuk adalah tuma'ninah. Tuma'ninah mengandung arti tenang, konsentrasi, dan hadir dengan apa yang dilakukan. Shalat melatih kita memiliki ritme hidup yang indah, di mana setiap episode dinikmati dengan baik. Hak istirahat dipenuhi, hak keluarga, hak pikiran dipenuhi dengan sebaiknya. Rasulullah pun menganjurkan kita untuk proporsional dalam beragama, karena itu salah satu tanda kefakihan seseorang. Bila ini bisa kita lakukan dengan baik insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan yang paripurna., yaitu sukses di kantor, sukses di keluarga, dan sukses di masyarakat.

Pelajaran Keenam, shalat memiliki gerakan yang dinamis. Sujud adalah gerakan paling mengesankan dari dinamisasi shalat. Orang menganggap bahwa kepala merupakan sumber kemuliaan, tapi ketika sujud kepala dan kaki sama derajatnya. Bahkan setiap orang sama Klik disini untuk info buku iniderajatnya ketika shalat. Ini mengandung hikmah bahwa dalam hidup kita harus tawadhu. Ketawadhuan adalah cerminan kesuksesan mengendalikan diri, mengenal Allah, dan mengenal hakikat hidupnya. Bila kita tawadhu (rendah hati) maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kesuksesan seorang yang shalat dapat dilihat dari kesantunan, keramahan, dan kerendahan hatinya. Apa cirinya? Ia tidak melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya.

Hikmah terakhir dari shalat yang khusyuk adalah salam. Shalat selalu diakhiri dengan salam, yang merupakan sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagimu. Ucapan salam ketika shalat merupakan garansi bahwa diri kita tidak akan pernah berbuat zalim pada orang lain. Ini adalah kunci sukses, karena setiap kali kita berbuat zalim, maka kezaliman itu akan kembali pada diri kita.

Inilah tujuh hikmah yang bisa kita ambil dari manajemen shalat khusyuk. Bila kita mampu mengaplikasikannya, insya Allah kesuksesan dunia dan akhirat ada dalam genggaman kita

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
sholat tanpa mukena (akhwat)
« Jawab #4 pada: Januari 27, 2007, 07:31:55 pm »
bismillahirrahmanirrahim.
assalamualaikum wr wb.
mau tanya nih, tentang akhwat yg sholat tanpa mukena (mukena atasan tepatnya). begini saya sering sholat tanpa mukena atas. makanya saya mau tanya, walaupun tangan pake manset/deker tapi punggung tangan kan keliatan nah itu sholatnya sah/ga?
bahkan saya pernah sholat ga pake mukena sama sekali, krn waktu itu ga sempat dhuha dirumah, akhirnya sebelum praktikum saya dhuha di kampus, eh mukenanya pd dicuci semua.
jujur saja, saya termasuk males kalo bawa2 mukena kemana2, nah paling cuma bawa bawahan aja kan bisa diuntel-untel jd muat, ga berat bgt gitu.
jazakumullah khoiron.
wassalamualaikum wr wb.

sarung_kotak2

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 6
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #5 pada: Februari 05, 2007, 08:23:48 am »
Kita semua tahu bahwasanya diri kita ini terdiri daripada dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Bilasaja kita mampu mendirikan salat sebagaimana mestinya, menunjuk bahwasanya kita senantisa berhubungan dengan Tuhan. Karenanya; ruh kita akan tetap bersih dan suci, sehingga kita selalu dituntun oleh_NYA senantiasa untuk berbuat kebaikan, kebenaran dan keadilan. Sebab alasan inilah; maka salat dapat membina jiwa dan membersihkan ruh.

Adalah sebenarnya salat merupakan suatu kewajiban bagi kita semua dengan waktu yang telah ditentukan. Kapan waktu salat Subuh, Dzuhur, Ashar, Magrib dan Isya, adalah sudah ditentukan oleh Rasulullah saw.

H.R Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda, “Salatlah kamu sebagaimana kamu lihat Aku salat”.

Sebab itu; dengan senantiasa mendirikan salat, kita dilatih untuk disiplin dan patuh terhadap aturan-aturan salat yang telah ditetapkan, mulai dari yang bersifat gerak badan, sampai pada bacaan, dzikir, doa, demikian juga gerak akal dan gerak jiwa, semuanya haruslah menurut sunnah Rasulullah saw dan tidak boleh ditambah-tambah, dirubah ataupun dikurangi.

Hanya saja yang acapkali kita jumpai, tidaklah seperti maksud uraian diatas, bahkan menciptakan cara salat yang tidak berdasar, walaupun maksud/tujuannya dapat kita mengerti. Namun demikian; benar atau tidak salat hasil ciptaan ini, tentulah kita harus kembali pada syarat dan rukun salat serta ketentuan salat sebagaimana mestinya.

H.R Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengada-ada dalam agama kami ini sesuatu yang bukan daripadanya, maka yang diada-adakan itu ditolak”.

Walhasil; dengan mendirikan salat sebagaimana mestinya, kita dididik untuk disiplin dan mematuhi aturan.

Pada umumnya kita acapkali alpa dalam mendirikan salat secara berjamaah, yangmana sebenarnya dalam jamaah inilah terdapat hikmah yang sangat dalam. Yaitu kita diwajibkan untuk disiplin dan patuh pada imam dalam salat jamaah. Dan selain itu; masing-masing kita wajib untuk meluruskan shaf, yangmana mau tidak mau dan secara sadar, kita sama-sama saling mengatur shaf.

H.R Bukhari dan Muslim Rasulullah bersabda, “Luruskan shafmu, karena meluruskan shaf itu menentukan kesempurnaan salat”.

Dalam urusan pengaturan shaf inilah, kita juga dituntun untuk saling disiplin tanpa lagi melihat apa dan siapa kita-kita ini, dalam artian berpangkat atau hanya rakyat biasa. Bahkan; sebelum kita mendirikan salat jamaah, umumnya kita-kita yang lebih awal datang (semisal di masjid), secara sadar dapat menempati shaf pertama bilamana belum ada yang menempati. Demikian untuk seterusnya, tidak lagi melihat apa dan siapa kita-kita ini.

H.R Albazzaar Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kamu ialah orang yang paling lunak bahunya dalam salat dan tidak ada satu langkahpun yang lebih besar pahalanya dari langkah seseorang yang dilakukannya untuk mengisi tempat yang kosong dalam shaf dan menutupi/menempatinya”.

Jelaslah sudah; dengan mendirikan salat dapat membina persatuan dan persamaan antar kita, tanpa lagi terjadi bentuk dan sifat membeda-bedakan.

Adalah sebenarnya; bila kita senantiasa mendirikan salat sebagaimana mestinya, tentunya kita senantiasa ingat pada Allah SWT. Dalam keadaan inilah, berarti kita juga senantiasa tenang dan tenteram setiap menghadapi segala keadaan dan peristiwa. Kita tidak akan angkuh dan sombong selama dalam keadaan senang, atau kita tidak akan kecewa, berduka cita dan berputus asa, karena kita senantiasa sadar bahwasanya segala sesuatu adalah kehendak dan ketentuan_NYA.

Untuk itu; salat dapat menanamkan ketenangan dan ketentraman didalam jiwa kita Rasulullah bersabda, “Supaya kamu tidak berputus asa karena ada yang luput daripadamu dan supaya jangan terlalu gembira dengan apa yang datang kepadamu dan Allah tidak suka kepada orang yang angkuh lagi sombong”.

Sebagaimana telah dikemukan sebelum ini, bahwasanya mendirikan salat sebagaimana mestinya adalah kita harus mampu melakukan perpaduan antara gerak jiwa dan hati dengan gerak lahir (badan), sesuai dengan aturan semestinya salat. Hal yang demikian; akan membiasakan kita terlatih berkonsentrasi serta memusatkan pikiran, perhatian, perasaan dan kemauan. Dimana; selanjutnya kita akan senantiasa dapat menimbang dengan seksama, memperhatikan dengan teliti dan mengkaji masalah dengan sebaik-baiknya. Juga kita secara sadar mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar serta bertindak rapih dan teliti, tanpa lagi me_reka2.

Karenanya; dengan kita salat sebagaimana mestinya, dapat melatih konsentrasi kita serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan kita

H.R Muslim Rasulullah bersabda, “Hendaklah mengimami kaum itu orang yang paling ahli membaca kitab Allah. Jika mereka sama dalam soal bacaan, hendaklah orang yang paling mengetahui sunnah Rasul. Maka jika mereka sama pengetahuannya tentang sunnah Rasul, maka hendaklah orang yang dahulu hijrah. Dan jika sama dalam soal hijrah, maka hendaklah orang yang lebih tua usianya. Dan janganlah seseorang mengimami orang lain dalam kekuasaannya dan janganlah ia duduk dirumah orang di atas tikarnya melainkan dengan izinnya”.

Yang dimaksud orang yang ahli membaca Al Quran disini adalah tidaklah semata ahli membaca dalam artian faseh, tetapi juga ahli dalam mengartikannya serta pengertiannya. Adalah sebenarnya kita harus mampu dengan seksama apakah imam kita seperti demikian?

Adapun syarat sah salat ialah, Mengetahui telah masuk waktu salat, Bersih dari hadats, Suci badan, pakaian dan tempat dari najis, Menutup aurat, serta Menghadap kiblat. Syarat disini adalah sesuatu yang wajib dilakukan sebelum kita salat, akan tetapi tidak merupakan bagian dari salat.

Surat An Nisaa’ ayat 103 (V:4:103)
Maka apabila kamu telah menunaikan salat, ingatlah Allah dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk dan dalam keadaan berbaring. Dan apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin.

yatti

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 262
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
MengQodho Sholat
« Jawab #6 pada: Maret 13, 2007, 08:53:38 am »
Assalamu'alaikum wr.wb

Ikhwa fillah...
Suatu hari,yatti melihat sepupu melaksanakan sholat maghrib,setelah itu beliau sholat lagi 3 raka'at.Yatti jadi bertanya2 dalam hati,"bukankah beliau tadi sudah sholat maghrib,lalu sekarang sholat apalagi?".

Ketika beliau selesai sholat,yatti langsung menanyakannya kepada beliau.sebut aja beliau dengan inisial N."bukannya tadi N sudah sholat maghrib?,btw N sholat apa lagi?Beliau langsung menjawab,"ooohh,itu sholat Qodho,yaitu mengganti sholat yang pernah tertinggal pada hari2 sebelumnya".Yatti langsung menyanggah perkataan beliau,"setahu yatti,sholat itu gak bisa di Qodho,hanya puasalah yg bisa di Qodho.

Tolong kasih masukannya ya

wassalam
« Edit Terakhir: Maret 13, 2007, 02:54:01 pm oleh yatti »

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #7 pada: Maret 13, 2007, 11:32:01 am »
ukhti yang baik, bisa di qadha lah hatta yang sunnahpun bisa di qada.
suatu hari rasul pernah menqada sholat tahajjudnya di siang hari mana kala malam hari terlewat tidak melaksanakan qiyamullail(redaksi haditsnya insyaAlloh mewnyusul).

Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #8 pada: Maret 13, 2007, 11:49:39 am »
Ukthi...
Sebagaimanakita ketahui bersama, bahwa shalat 5 waktu itu hukumnya fadhu 'ain. Setiap orang WAJIB melaksanakannya  dimanapun, dalam kondisi apapun, sekalipun orang yang sedang sakit (namun masih sadarkan diri). Bahkan meninggalkan shalat fadhu ini adalah salah satu batas antara muslim dan kafir. Rasulullah SAW bersabda:
Batas antara seseorang muslim dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat wajib.” (HR. Muslim)

Maka, orang yang meninggalkan shalat fardhu ada 3 kemungkinan:
1. Tidak sengaja
Bila ia tidak sengaja meninggalkan shalat karena tertidur, lupa, atau sebab-sebab yang lain, maka sungguh Allah tidak akan menghukum hamba-Nya yang tersalah karena lupa. Maka, WAJIB baginya segera meng-qadha shalat yang telah ia lewatkan saat ia ingat. Jadi, misalnya tidak shalat Dzuhur karena ketiduran, baru ingat ketika setelah selesai shalat Maghrib, maka pada saat itu juga segera meng-qadha shalat Dzuhur.

2. Sengaja, namun masih mengimani
Sebagian kaum muslimin sengaja meninggalkan shalat karena malas, atau karena sibuk dengan dunianya. Namun ia masih mengimani bahwa shalat itu wajib dan mengimani bahwa yang meninggalkannya berdosa. Ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang seperti ini telah kafir. Pendapat yang lain mengatakan bahwa orang seperti ini dosa besar namun tidak kafir karena masih ada iman di dalam hatinya, selain itu mereka meninggalkan shalat karena dorongan hawa nafsu dan kejahilan (ketidaktahuan) mereka terhadap dalil2 ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat. Wallahu'alam pendapat yang kedua ini lebih rajih. Namun tetap wajib bagi mereka yang meninggalkan shalat meng-qadha shalatnya untuk menggugurkan kewajibannya. Nah, bila seseorang malas shalat shubuh, kemudian saat setelah dzuhur ia mendapat hidayah dan ia sadar akan kesalahannya, maka ia WAJIB mengqadha shalat subuhnya saat itu juga.

3. Sengaja dan tidak mengimani
Ada sebagian kaum muslimin yang tidak mengimani wajibnya shalat 5 waktu. Mereka menganggap shalat 5 waktu itu tidak wajib, atau ada diantara mereka menganggap muslim itu tidak perlu shalat, cukup percaya kepada Allah saja. Maka para ulama sepakat orang yang demikian telah kafir. Bila ia telah kafir, maka tidak ada kewajiban meng-qadha shalat.
« Edit Terakhir: Maret 13, 2007, 11:53:57 am oleh Aswad »

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #9 pada: Maret 13, 2007, 12:03:59 pm »
QADHA SHALAT YANG TERTINGGAL


Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam

"Artinya : Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, dia berkata. 'Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berrsabda, 'Barangsiapa lupa shalat, hendaklah dia mengerjakannya ketika mengingatnya, tiada kafarat baginya kecuali yang demikian itu'. Lalu beliau membaca firman Allah. 'Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku'".

Dalam riwayat Muslim disebutkan. “Barangsiapa lupa shalat atau tertidur sehingga tidak mengerjakannya, maka kafaratnya ialah mengerjakannya selagi mengingatnya".

MAKNA HADITS
Shalat memiliki waktu tertentu dan terbatas, awal dan akhirnya, tidak boleh memajukan shalat sebelum waktunya dan juga tidak boleh mengakhirkan shalat hingga keluar dari waktunya.

Namun jika seseorang tertidur hingga tertinggal mengerjakannya atau dia lupa hingga keluar dari waktunya, maka dia tidak berdosa karena alasan itu. Dia harus langsung mengqadha'nya selagi sudah mengingatnya dan tidak boleh menundanya, karena kafarat pengakhiran ini ialah segera mengqadha'nya. Maka Allah berfirman.

"Artinya : Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" [Thaha : 14]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat ini ketika menyebutkan hukum ini, mengandung pengertian bahwa pelaksanaan qadha' shalat itu ialah ketika sudah mengingatnya.

PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN ULAMA
Para ulama saling berbeda pendapat, apakah boleh menundanya ketika sudah mengingatnya ataukah harus langsung mengerjakannya .?

Jumhur ulama mewajibkan pelaksanaannya secara langsung. Mereka yang berpendapat seperti ini ialah tiga imam, Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan para pengikut mereka. Sementara Asy-Syafi'i mensunatkan pelaksanaannya secara langsung dan boleh menundanya.

Asy-Syafi'i berhujjah bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat tertidur, mereka tidak melaksanakan qadha' shalat di tempat mereka tidur. Tapi beliau memerintahkan agar mereka menghela hewan-hewan mereka ke tempat lain, lalu beliau shalat di tempat tersebut. Sekiranya qadha' ini wajib dilaksanakan secara langsung seketika itu pula, tentunya mereka juga shalat di tempat mereka tertidur.

Adapun jumhur berhujjah dengan hadits dalam bab ini, yang langsung menyebutkan shalat secara langsung. Mereka menanggapi hujjah Asy-Syafi'i, bahwa makna langsung di sini bukan berarti tidak boleh menundanya barang sejenak, dengan tujuan untuk lebih menyempurnakan shalat dan memurnikannya. Boleh menunda dengan penundaan yang tidak seberapa lama untuk menunggu jama'ah atau memperbanyak orang yang berjama'ah atau lainnya.

Masalah ini dikupas tuntas oleh Ibnul Qayyim di dalam kitab 'Ash-Shalat' dan dia menegaskan pendapat yang menyatakan pembolehan penundaannya.

Mereka saling berbeda pendapat tentang orang yang meninggalkan secara sengaja hingga keluar waktunya, apakah dia harus mengqadha'nya ataukah tidak..?

Kami akan meringkas topik ini dari uraian Ibnul Qayyim di dalam kitab 'Ash-Shalat', karena uaraiannya di sana disampaikan secara panjang lebar.

Para ulama telah sepakat bahwa orang yang menunda shalat tanpa alasan hingga keluar dari waktunya, mendapat dosa yang besar. Namun empat imam sepakat mewajibkan qadha' di samping dia mendapat hukuman, kecuali dia memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya itu.

Ada segolongan ulama salaf dan khalaf yang menyatakan, siapa menunda shalat hingga keluar dari waktunya tanpa ada alasan, maka tidak ada lagi qadha' atas dirinya sama sekali, bahwa qadha'nya tidak akan diterima, dan dia harus bertaubat dengan 'taubatan nashuha', harus memperbanyak istighfar dan shalat nafilah.

Orang-orang yang mewajibkan qadha' berhujjah bahwa jika qadha' ini diwajibkan atas orang yang lupa dan tertidur, yang keduanya di ma'afkan, maka kewajibannya atas orang yang tidak dima'afkan dan orang yang durhaka jauh lebih layak. Disamping itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat pernah shalat Ashar setelah masuk waktu Maghrib pada perang Khandaq. Sebagaimana yang diketahui, mereka tidak tertidur dan tidak lupa, meskipun sebagian di antara mereka benar-benar lupa, tapi toh tidak mereka semua lupa. Yang ikut mendukung kewajiban qadha' ini ialah Abu Umar bin Abdul-Barr.

Adapun di antara orang-orang yang tidak mewajibkan qadha' bagi orang yang sengaja menunda shalat ialah golongan Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Di dalam kitab Ash-Shalat, Ibnul Qayim menyebutkan berbagai macam dalil untuk menolak alasan yang tidak sependapat dengannya. Di antaranya ialah apa yang dapat di pahami dari hadits ini, bahwa sebagaimana yang dituturkan, kewajiban qadha' ini tertuju kepada orang yang lupa dan tertidur. Berati yang lainnya tidak wajib. Perintah-perintah syari'at itu dapat dibagi menjadi dua macam : Tidak terbatas dan temporal seperti Jum'at hari Arafah. Ibadah-ibadah semacam ini tidak diterima kecuali dilaksanakan pada waktunya. Yang lainnya ialah shalat yang ditunda hingga keluar dari waktunya tanpa alasan.

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Barangsiapa mendapatkan satu raka'at dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar", sekiranya shalat Ashar itu dikerjakan setelah Maghrib, justru lebih benar dan mutlak, tentu orangnya lebih mendapatkan shalat Ashar, baik dia mendapatkan satu raka'at atau kurang dari satu raka'at atau dia sama sekali tidak mendapatkan sedikitpun darinya. Orang-orang yang berperang juga diperintahkan shalat, meski dalam situasi yang genting dan rawan. Semua itu menunjukkan tekad pelaksanannya pada waktunya. Sekiranya di sana ada rukhsah, tentunya mereka akan menundanya, agar mereka dapat mengerjakannya lengkap degan syarat dan rukun-rukunnya, yang tidak mungkin dapat dipenuhi ketika perang sedang berkecamuk. Hal ini menunjukkan pelaksanaannya pada waktunya, di samping mengerjakan semua yang diwajibkan dalam shalat dan yang disyaratkan di dalamnya.

Tentang tidak diterimanya qadha' orang yang menunda shalat hingga keluar dari waktunya, bukan berarti dia lebih ringan dari orang-orang yang diterima penundaannya. Mereka ini tidak berdosa. Kalaupun qadha'nya tidak diterima, hal itu dimaksudkan sebagai hukuman atas dirinya. Ibnul Qayyim menguaraikan panjang lebar masalah ini. Maka siapa yang hendak mengetahuinya lebih lanjut, silakan lihat kitabnya.

Uraian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang masalah ini disampaikan di dalam 'Al-Ikhiyarat'. Dia berkata, "Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak disyari'atkan qadha' bagi dirinya dan tidak sah qadha'nya. Tapi dia harus memperbanyak tathawu'. Ini juga merupakan pendapat segolongan orang-orang salaf seperti Abu Abdurrahman rekan Asy-Syafi'i, Daud dan para pengikutnya. Tidak ada satu dalil pun yang bertentangan dengan pendapat ini dan bahkan sejalan dengannya. Yang condong kepada pendapat ini ialah Syaikh Shiddiq hasan di dalam kitabnya, 'Ar-Raudhatun Nadiyyah'.

Inilah yang dapat kami ringkas tentang masalah ini, dan Allah-lah yang lebih mengetahui mana yang lebih benar.

KESIMPULAN HADITS DAN HUKUM-HUKUMNYA
[1]. Kewajiban qadha' shalat bagi orang yang lupa dan tertidur, yang
dilaksanakan ketika mengingatnya.
[2]. Kewajiban segera melaksanakannya, karena penundaannya setelah
mengingatkannya sama dengan meremehkannya.
[3]. Tidak ada dosa bagi orang yang menunda shalat bagi orang yang mempunyai alasan, seperti lupa dan tertidur, selagi dia tidak mengabaikannya, seperti tidur setelah masuk waktu atau menyadari dirinya tidak memperhatikan waktu, sehingga dia tidak mengambil sebab yang dapat membangunnkannya pada waktunya. Kafarat yang disebutkan di sini bukan karena dosa yang dilakukan, tapi makna kafarat ini, bahwa karena meninggalkan shalat itu dia tidak bisa mengerjakannya yang lainnya, seperti memberi makan, memerdekakan budak atau ketaatan lainnya. Berarti dia tetap harus mengerjakan shalat itu.

[Disalin dari kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul Ahkam, Edisi Indonesia Syarah Hadits Pilihan Bukhari Muslim, Pengarang Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, Penerbit Darul Fallah]

almanhaj.or.id


rindu_syurga

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 192
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Tiga Ninja Kereennn....!!!!
    • Lihat Profil
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #10 pada: Maret 13, 2007, 02:28:55 pm »
hmm....  :-? :-? :-?

ternyata boleh ya kalo meng qdho sholat

tapi kenapa ada yang mengatakan... kalo menqodho itu tetap tidak boleh, apapun alasannya

membinungkan sekali....  :-/ :-/

tapi kalo menurut ane sendiri, kita tidak harus mengkonsumsi dari satu pendapat saja... sebab semakin banyak pendapat yang kita terima maka kita akan mengetahui kebenaran suatu perkara tersebut...  :great: :great:

thread yang bagus... kasi nilai plus dong buat TSnya  :D  ;;) ;;)

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #11 pada: Maret 14, 2007, 03:32:32 am »
Islam itu mudah tapi jangan dipermudah!

Sehemat pikir aku sesuai dengan yang kupelajari dan buku yang pernah ku baca, tidak ada istilah mengqodho sholat.

Lupa, tidur, mabuk mengerjakan sholat  yang tinggalkan saat dia sadar, terbagun dari tidurnya.

Bukan mengqodho sholat namanya tapi mengerjakan sholat seperti biasanya.

Aku belom pernah mendapat hadist atau ayat al-quran yang membahas tentang mengqodho sholat.

Kalo mengqodho puasa jelas! fa iddatum min ayyamin ukhor <<< itu pun harus dengan alasan yang tepat >>> kalo tidak punya alasan yang tepat tidak ada qodho baginya. Konon sholat yang ditinggalkan dengan sengaja pada hari kemaren mau dikerjakan hari ini. NAUZDULLAHI MIN ZDALIK

Kalo kamu lupa, tidur, mabuk... kerjakan pas kamu sadar, karna tidak akan di tagih kewajibanmu saat kamu terlupa,tertidur dan mabuk. Kamu akan ditagih saat kamu sadar.




yatti

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 262
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: Sholat dan pembahasannya
« Jawab #12 pada: Maret 14, 2007, 07:33:03 am »
Islam itu mudah tapi jangan dipermudah!

Sehemat pikir aku sesuai dengan yang kupelajari dan buku yang pernah ku baca, tidak ada istilah mengqodho sholat.

Lupa, tidur, mabuk mengerjakan sholat  yang tinggalkan saat dia sadar, terbagun dari tidurnya.

Bukan mengqodho sholat namanya tapi mengerjakan sholat seperti biasanya.

Aku belom pernah mendapat hadist atau ayat al-quran yang membahas tentang mengqodho sholat.

Kalo mengqodho puasa jelas! fa iddatum min ayyamin ukhor <<< itu pun harus dengan alasan yang tepat >>> kalo tidak punya alasan yang tepat tidak ada qodho baginya. Konon sholat yang ditinggalkan dengan sengaja pada hari kemaren mau dikerjakan hari ini. NAUZDULLAHI MIN ZDALIK

Kalo kamu lupa, tidur, mabuk... kerjakan pas kamu sadar, karna tidak akan di tagih kewajibanmu saat kamu terlupa,tertidur dan mabuk. Kamu akan ditagih saat kamu sadar.







idem

Aswad

  • Moderators
  • Sr. Member
  • *****
  • Tulisan: 439
  • Reputasi: 7
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Kang Aswad
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #13 pada: Maret 14, 2007, 09:40:51 am »
Islam itu mudah tapi jangan dipermudah!
Sehemat pikir aku sesuai dengan yang kupelajari dan buku yang pernah ku baca, tidak ada istilah mengqodho sholat.
Lupa, tidur, mabuk mengerjakan sholat  yang tinggalkan saat dia sadar, terbagun dari tidurnya.
Bukan mengqodho sholat namanya tapi mengerjakan sholat seperti biasanya.
Aku belom pernah mendapat hadist atau ayat al-quran yang membahas tentang mengqodho sholat.
Kalo mengqodho puasa jelas! fa iddatum min ayyamin ukhor <<< itu pun harus dengan alasan yang tepat >>> kalo tidak punya alasan yang tepat tidak ada qodho baginya. Konon sholat yang ditinggalkan dengan sengaja pada hari kemaren mau dikerjakan hari ini. NAUZDULLAHI MIN ZDALIK
Kalo kamu lupa, tidur, mabuk... kerjakan pas kamu sadar, karna tidak akan di tagih kewajibanmu saat kamu terlupa,tertidur dan mabuk. Kamu akan ditagih saat kamu sadar.

Istilah Qadha memang tidak ada dalam text Qur'an atau hadist dalam pembahasan shalat. Namun istilah qadha sudah ma'lum (hal yang secara umum sudah diketahui) diantara para ulama untuk menyebutkan pelaksanaan suatu amalan yadi luar waktu seharusnya. Kalau kita sering membuka kitab2 fiqih para ulama, maka akan banyak menemukan istilah ini. Seperti Syaikhul Islam pada artikel yang di-post akh Drai di atas, dalam kitab Al-Ikhtiyaraat beliau -rahimahullah- berkata: "Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak disyari'atkan qadha' bagi dirinya dan tidak sah qadha'nya..."

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: MengQodho Sholat
« Jawab #14 pada: Maret 14, 2007, 11:05:27 am »
Istilah Qadha memang tidak ada dalam text Qur'an atau hadist dalam pembahasan shalat. Namun istilah qadha sudah ma'lum (hal yang secara umum sudah diketahui) diantara para ulama untuk menyebutkan pelaksanaan suatu amalan yang di luar waktu seharusnya. Kalau kita sering membuka kitab2 fiqih para ulama, maka akan banyak menemukan istilah ini. Seperti Syaikhul Islam pada artikel yang di-post akh Drai di atas, dalam kitab Al-Ikhtiyaraat beliau -rahimahullah- berkata: "Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak disyari'atkan qadha' bagi dirinya dan tidak sah qadha'nya..."

Iya aku tau dan aku paham itu...

Namun dalam hal sholat tidak ada maaf dan tidak ada ampun. apa kata Nabi, man tarokassota muta'ammidan fa hua kafir (yang meninggalkan sholat dengan sengaja maka dia telah kafir) aku lupa perowinya, bagi yang tau silahkan tuliskan.

Kalo kamu tertidur, terlupa dan mabuk umpamanya... hadist diatas berlaku ama kamu dan kamu belom terhitung meninggalkan sholat. Setelah kamu sadar dan kamu tidak malaksanakan sholat dengan segera barulah barulah hadist tersebut berlaku.