Penulis Topik: Pernikahan yg sederhana, bisakah?  (Dibaca 11547 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

peLan9i

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 201
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #15 pada: Januari 18, 2007, 03:58:38 pm »
wah...

sama...
sama...

bisa koq...
bisa...

pasti bisa...

Insya Allah  :D :D

ani hamida

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 188
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Wanita
  • :.Subhanalah...
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #16 pada: Januari 25, 2007, 02:03:25 pm »
gini lho, kadang aku kepikiran (dan mungkin yg lain juga),
Pesta walimahku nanti bisa ngga sederhana, maunya seh akad nikah en walimah sekalian di mesjid aja, mulai jam 9 selesai jam 12.
sesederhana mungkin, aku ngga mau ribet...

cuman itu tadi, aku takut hal ini ngga bakal bisa diwujudkan.
okelah ortu setuju, tapi keluarga besarku setuju ngga?
tetangga dan masyarakat sekitarku sepakat ngga?
juga yg paling berat nih... calon mertuaku apa juga menyetujui?

Hmm... mungkin terdengar cengeng, apalagi calonnya aja belum ada. ;D ;D
tapi... yeah.. buat jaga-jaga aja. :)

so... :-? :-?



insyaAlloh bisa. emang yg nikah tu siapa? faritnya ato ortunya ato mertuanya. gitu aza ko repotz  :D

Hmm... mungkin terdengar cengeng, apalagi calonnya aja belum ada. ;D ;D
tapi... yeah.. buat jaga-jaga aja. :)

so... :-? :-?



ehem2, masa sih belum ada calonnya. jangan boong, hayooo?

ARCHER

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.080
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • Masjid Kampus UGM
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #17 pada: Januari 25, 2007, 02:08:40 pm »
Bukannya walimahan/atau merayakan pernikahan itu sunnah. Jadi sebaiknya juga ada walimahan walaupun cuma sederhana. Oh ya, walimahan yang sederhana tapi syar'i gimana ya? Yang nggak ada acara photo-photoan, yang nggak iktilat (campur baur laki-laki dan perempuan) yang nggak ada musik dan berbagai kemungkaran lainnya. Mungkin yasng udah nikah bisa menjelaskan!

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #18 pada: Januari 25, 2007, 02:19:54 pm »
ya.. semuanya uang yang mengatur... kalo ada uang mah... gampang!

mo di buat besar juga bisa,setengah besar juga bisa.... kalo gak ada duit?


ARCHER

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.080
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • Masjid Kampus UGM
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #19 pada: Januari 25, 2007, 02:34:33 pm »
ya.. semuanya uang yang mengatur... kalo ada uang mah... gampang!
Afwan koreksi Bang: Allah 'azza wa jalla yang mengatur!

bangsholeh

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 695
  • Reputasi: -14
  • Jenis kelamin: Pria
  • SoBat, MaLam TaK KaN PeRnAh 24 JaM !!!
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #20 pada: Januari 26, 2007, 09:07:35 am »
Afwan koreksi Bang: Allah 'azza wa jalla yang mengatur!

Ya betul, Alloh yang mengatur segalanya... Kun!... kataNya jadi!..
Terima kasih atas koreksiannya :)

Tapi tak salahkan aku ngomong seperti itu, walau pada hakekatnya ada di tanganNya...
Tidak berlebihan kalo aku berkata : Andaikata, seumpamanya, kalolah, seandainya... boleh menduakan Tuhan, maka uang lah yang akan di angkat manusai jadi Tuhan. Dengan uang segala bisa, segalanya ada, segalanya didapat... apa saja, dimana saja dan kapan saja. Walau kita sadar uang bukan segalanya.

Bek tu topik...

Aku juga sebenarnya sudah ada niat ingin mengikuti jejak mereka2 yang sudah menikah, tapi kayaknya masih terbentur di masalah UANG tadi, makanya aku ngotot ngomong seperti itu. Bukan berarti lupa diri dan tidak ingat Tuhan. Hamdulillah Allohu robbi wa robbukum. Jaman sekarang tau sendilah... jangankan mau ngambil anak orang, numpang tanya pun bayar... semuanya duit! duiiiiiit! duiiiiiiiit! kan gitu :D

maaf dan terima kasih

rindu_syurga

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 192
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
  • Tiga Ninja Kereennn....!!!!
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #21 pada: Februari 04, 2007, 10:50:24 am »
Afwan koreksi Bang: Allah 'azza wa jalla yang mengatur!

Ya betul, Alloh yang mengatur segalanya... Kun!... kataNya jadi!..
Terima kasih atas koreksiannya :)

Tapi tak salahkan aku ngomong seperti itu, walau pada hakekatnya ada di tanganNya...
Tidak berlebihan kalo aku berkata : Andaikata, seumpamanya, kalolah, seandainya... boleh menduakan Tuhan, maka uang lah yang akan di angkat manusai jadi Tuhan. Dengan uang segala bisa, segalanya ada, segalanya didapat... apa saja, dimana saja dan kapan saja. Walau kita sadar uang bukan segalanya.

Bek tu topik...

Aku juga sebenarnya sudah ada niat ingin mengikuti jejak mereka2 yang sudah menikah, tapi kayaknya masih terbentur di masalah UANG tadi, makanya aku ngotot ngomong seperti itu. Bukan berarti lupa diri dan tidak ingat Tuhan. Hamdulillah Allohu robbi wa robbukum. Jaman sekarang tau sendilah... jangankan mau ngambil anak orang, numpang tanya pun bayar... semuanya duit! duiiiiiit! duiiiiiiiit! kan gitu :D

maaf dan terima kasih



ada benernya... emang duit bukanlah segalanya di dunia ini, tapi kalo gak ada duit kagak bisa nikah
dan semua itu butuh modal bukan...

tapi kalo kita harus mejadikan UANG SEBAGAI TUHAN itu jelas salah


faritz

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #22 pada: Februari 09, 2007, 08:29:42 am »
dari milis tetangga...

Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan “persiapan” Fatimah. Mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak,kendi, dan sebuah piring.

Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. "Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimah?" tanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, "Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia."

Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal.

Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hambali.

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi "darah daging" kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika "pesta pernikahan" putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, "kemegahan" pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan "kemegahan" kesederhanaan dan "kemegahan" sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, "Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah".

Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, "Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap." (Agus Haris)

ARCHER

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.080
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • Masjid Kampus UGM
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #23 pada: Februari 09, 2007, 01:55:23 pm »

ada benernya... emang duit bukanlah segalanya di dunia ini, tapi kalo gak ada duit kagak bisa nikah
dan semua itu butuh modal bukan...

Menurut ane kalau memang bener-bener kagak punya ya maharnya kagak usah yang mahal-mahal dan nggak usah dirayakan besar-besaran.

allahu a'lam

nna50

  • Pengunjung
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #24 pada: Februari 10, 2007, 12:05:17 am »
Pengennya acara walimah nanti (entah kapan) sesederhana mungkin  :">
selain ngamalin sunah nabi, juga karna pengen hemat  ;D

bisakah?
sementara keluarga besar punya pandangan lain...
sementara masyarakat sekitar punya adat tersendiri...
sementara aku ngga ingin membebankan ortu...

bagaimana menurut kalian...  ;D

dari Riwayat Muslim
Rosul memerintahkan kita untuk mengadakan pesta walimahan walaupun hanya
memotong seekor kambing..

intinya ..
apa ya ??
koq jd bingung..

faritz

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #25 pada: Februari 10, 2007, 09:38:40 pm »
dari Riwayat Muslim
Rosul memerintahkan kita untuk mengadakan pesta walimahan walaupun hanya
memotong seekor kambing..

klo seekor kambing di sini mungkin dianggap relatif besar ya...
ana pernah diceritain seorang ustadz dari jamaah tablik yg cukup lama berada di timur tengah sono, klo seekor kambing disana dimakan hanya untuk 4-5 orang, beda klo disini mungkin bisa sampai 100 orang lebih...:D

dark_ipl

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 48
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #26 pada: Februari 11, 2007, 01:11:34 pm »
iya, masalah ini seringkali juga timbul dalam benak saya...

dan menurut saya solusinya saya sebagai laki-laki mesti punya persiapan materi untuk walimahan nanti karena walimah itu sunnah Rasulullah yg intinya untuk memberi kabar gembira tentang pernikahan kita. Juga sebagai media untuk silaturahmi...

namun ada baiknya kita mempertimbangkan beberapa masalah: misalnya kalo mau diadakan di gedung, tamu2nya pasti kebanyakan orang kaya dan yg berkecukupan.. kemungkinan banyak makanan yg terbuang... orang2 yg kurang mampu pastilah agak segan untuk datang k gedung yg mewah... padahal seharusnya kita lebih menggembirakan mereka yg miskin dan anak2 yatim...

juga kalau dipertimbangkan dari sisi keberkahan, lebih berkah acara yg diadakan sederhana dengan mengundang kerabat, tetangga, orang miskin dan anak yatim... karena mereka akan mensyukuri apa yg kita berikan walaupun ala kadarnya... dibandingkan dengan orang2 kaya yg sudah terbiasa makan enak... :)

juga perlu diusahakan memberi pengertian kepada orang tua kedua belah pihak.. baik yg pria maupun wanita.. dengan memberikan kedua pertimbangan di atas... Insya Allah mereka akan mengerti.. :)
« Edit Terakhir: Februari 11, 2007, 01:25:56 pm oleh dark_ipl »

faritz

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #27 pada: Februari 11, 2007, 04:52:04 pm »
dari milis tetangga lagi... :D


Benar bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kepada Abdurrahman bin Auf ra untuk menyembelih seekor kambing. Namun tipe shahabat yang satu ini memang bukan tipe sembarangan. Beliau termasuk dalam deretan orang banyak duit alias orang kaya di Madinah. Sehingga menyembelih seekor kambing buatnya untuk sekedar mengundang makan-makan dalam sebuah walimah tentu sangat tidak ada beratnya.

Sebab inti dari sebuah walimah itu adalah pengumuman atas sebuah pernikahan. Berikutnya adalah doa yang dipanjatkan kepada pasangan yang berbahagia. Selain tentu ada makanan yang dihidangkan sesuai dengan makna walimah secara bahasa.

Sehingga melakukan resepsi pernikahan mungkin saja dengan makanan yang sederhana. Bahkan dahulu Rasulullah SAW pernah melakukan walimah hanya dengan dua mud gandum. Dua mud gandung berarti gandum sebanyak yang bisa dipegang dengan kedua tapak tangan. Riwayat bahwa Rasulullah SAW melakukan hal itu terdapat dalam hadits Bukhari.

Intinya, tidak ada keharusan untuk melakukan acara walimah yang terlalu membuang-buang harta. Padahal makanan yang dihidangkan itu barangkali jauh lebih dibutuhkan oleh para fuqara dan orang-orang miskin. Sehingga jangan sampai makanan yang kita hidangkan dengan harga selangit itu justru dicap sebagai makanan yang paling buruk di sisi Allah SWT. Sebagaimana terdapat dalam hadits berikut ini.

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Makanan yang paling jahat adalah makanan walimah. Orang yang butuh makanan itu (si miskin) tidak diundang dan yang diundang malah orang yang tidak butuh (orang kaya). (HR. Muslim)

Inilah walimah yang paling jahat dan alangkah sedihnya bila orang-orang miskin malah tidak dapat tempat, karena si empunya hajat hanya mengundang mereka yang perutnya sudah buncit saja.

Maka marilah kita biasakan membuat acara walimah meski pun hanya sederhana saja. Tidak perlu mengejar gengsi dan sebutan orang, juga jangan merasa menjadi dianggap pelit oleh orang lain. Kita keluarkan harta untuk walimah semampunya dan sesanggupnya. Kalau tidak ada, tidak perlu diada-adakan. Sebab yang penting acara walimahnya bisa berjalan, karena memang anjuran dari Rasulullah SAW.

Dan tentu akan menjadi sangat baik bila kita limpahkan makanan itu kepada mereka yang miskin, fakir, yatim, kesusahan dan kelaparan. Sebab harta yang kita keluarkan akan lebih berguna dan pahala dari Allah SWT tentu akan semakin besar. Bukankah kita lebih mengharap pujian dari Allah SWT ketimbang pujian dari tamu undangan ?

Disisi lain, orang yang membuang-buang harta atau berboros-boros tentu akan menjadi teman syetan. Sebagaimana firman Allah SWT :

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’ : 27)


faritz

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.805
  • Reputasi: 28
  • Jenis kelamin: Pria
  • It's Not Just Black & White...
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #28 pada: Februari 11, 2007, 05:00:59 pm »
nambah lahi ah.... B-)

Pengantin Sederhana

Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan,apalagi pernik-pernik mahal. Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya.

Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki, Hanafi, Syafi'i, dan Hambali.

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi "darah daging" kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika "pesta pernikahan" putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan.

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, "kemegahan" pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan "kemegahan" kesederhanaan dan "kemegahan" sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, "Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah".

Iman, kesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, "Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenyap."

balyan

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 42
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Pernikahan yg sederhana, bisakah?
« Jawab #29 pada: Februari 11, 2007, 10:21:13 pm »
InsyaAllah bisa  :) Kemarin bulan syawal ane nikah sederhana banget Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan segalanya dengan hanya ta'aruf 7 hari ke keluarganya dan hari ke 7 kami menikah secara hukum agama dan hukum negara alhamdulillah semuanya lancar. semua tergantung dari "Niat Lillahita'ala" INSYAALLAH  ;) Semangatlah.... Allah selalu bersama dengan hamba-Nya yang sabar  ;)