Penulis Topik: polygami  (Dibaca 87632 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re:polygami
« Jawab #465 pada: Desember 28, 2009, 11:15:07 am »
Diakui atau tidak, disadari atau enggak, mau atau tidak mau, poligami itu ada dalam dien kita; Islam. Istri mana yang hatinya rela dibagi, akan tetapi hal itu jangan sampai membuat kita menolak dan atau menentang hukum yang telah Allah tetapkan.
Bagi para istri, berusahalah !!! Tingkatkan kualitas pelayanan terhadap suami, jaga hak-haknya, ta'ati perintahnya dalam hal yang ma'ruf, berikan perhatian yang lebih kepada suami, jaga penampilan di depan suami, dll yang mungkin Anda semua lebih faham dengan apa yang suami butuhkan dari Anda. Berusahalah bagaimana agar hati suami Anda hanya terpaut pada Anda seorang sehingga suami akan berpikir 1000 kali untuk berpoligami karena kebaikan yang telah Anda berikan kepadanya yang tidak mungkin didapatkan dari wanita lain.
OK Para Istri, berjuanglah!!! Dan jangan lupakan untuk terus menuntut ilmu Dien dengan pemahaman yang lurus, pemahaman salaf ash-shalih.  :)

Alhamdulillah,

Smoga Allah SWT merahmati anda dan wanita2 muslimah spt anda. Tidak minder dg ajaran poligami yg kebanyakan membuat orang islam khususnya muslimah sendiri malu untuk mengatakan ada/bolehnya poligami.

Amin.

lia Hapriza

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 101
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:polygami
« Jawab #466 pada: Januari 14, 2010, 12:40:52 pm »
dapat email dari teman ni,

JERITAN HATI SEORANG PERAWAN TUA

Semula saya sangat bimbang sebelum menulis untuk kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu bahwasanya mereka akan mengatakan bahwa aku ini sudah gila, atau kesurupan.
Akan tetapi, realita yang aku alami dan dialami pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengetahuinya, membuatku memberanikan diri.
Saya akan menuliskan kisahku ini dengan ringkas.
Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya memimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia.
Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik anak-anak kami... dan.. dan...
Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi poligami.
Hanya semata mendengar orang berkata kepadaku, "Fulan menikah lagi yang kedua"", tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka.
Saya berkata, "Kalau saya adalah istrinya -yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku".
Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai masalah poligami.
Mereka berusaha agar saya mau menerima poligami, sementara saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari'at poligami.
Saya katakan kepada mereka, "Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku".
Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami-istri karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya sehingga ia melawan kepada suaminya.
Begitulah, hari terus berlalu sedangkan aku masih menanti pemuda impianku. Saya menanti... akan tetapi ia belum juga datang dan saya masih terus menanti.
Hampir 30 tahun umurku dalam penantian.
Telah lewat 30 tahun... oh Illahi, apa yang harus kuperbuat? Apakah saya harus keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini tidak punya malu.
Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa saya perbuat, selain dari menunggu.
Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang dari wanita berkata, "Fulanah jadi perawan tua".
Aku berkata kepada diriku sendiri, "Kasihan Fulanah jadi perawan tua", akan tetapi... Fulanah yang dimaksud itu ternyata aku.
Ya Illahi!
Sesungguhnya itu adalah namaku... saya telah menjadi perawan tua.
Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa merasakannya.
Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua.
Saya mulai mengulang kembali perhitungan-perhitunganku, apa yang saya kerjakan?
Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit.
Saya ingin seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah naungannya, membantuku menyelesaikan problema-problemaku...
Saudaraku yang laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti seorang suami.
Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan.
Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki.
Mereka akan mengatakan, "Wanita ini tidak malu".
Tidak ada yang bisa saya lakukan selain daripada diam.
Saya tertawa... akan tetapi bukan dari hatiku.
Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api? Saya tidak sanggup...
Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, "Hari ini telah datang calon pengantin", tapi saya menolaknya...
Tanpa terasa saya berkata, "Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!" Ia berkata kepadaku, "Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kamu sangat memerangi poligami".
Hampir saja saya berteriak di hadapannya, "Kenapa kamu tidak menyetujuinya?" Saya rela menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat...
Kedua tanganku didalam api.
Saya setuju, ya saya yang dulu memerangi poligami, sekarang menerimanya. Saudaraku berkata, "Sudah terlambat".
Sekarang saya mengetahui hikmah dalam poligami.
Satu hikmah ini telah membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya Allah, ampunilah dosaku.
Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui.
Kata-kata ini saya tujukan untuk kaum laki-laki, "Berpoligami-lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil.
Saya ingatkan kalian dengan firman-Nya, "... Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu..." Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami.
Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah bersuami, "Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api menjadi perawan tua.
Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah lagi dengan wanita lain.
Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia.
Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu.
Akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi Allah.
Lihatlah keadaan saudarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu"
Engkau mungkin mengatakan kepadaku, "Akan datang seorang bujangan yang akan menikahinya".
Saya katakan kepadamu, "Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya".
Engkau mungkin juga mengatakan, "Semua itu tidak penting bagiku, yang penting suamiku tidak menikah lagi."
Saya katakan kepadamu, "Tangan yang berada di air tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois, dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri".
Demi Allah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu. "Menikahlah dengan saudariku dan jagalah ia. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, dan suami yang shalih".

« Edit Terakhir: Januari 14, 2010, 12:48:28 pm oleh lia Hapriza »

alhikmah99

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 741
  • Reputasi: -38
  • ada yang punya free
    • Lihat Profil
Re:polygami
« Jawab #467 pada: Januari 14, 2010, 03:16:20 pm »
Betul, betul, betul ..!
ana pernah baca surat serupa di sebuah buku
yang ditulis oleh seorang wanita
yang menggugat para feminis dan akhwat ..!
terasa air mata menetes dan bara amarah di dada menyala
sedih membaca kisahnya dan marah kepada para feminis dan akhwat

suratnya termuat di buku o. ********
seorang mantan syabab hti yang sekarang sering mencaci ht

cadenza

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 14
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re:polygami
« Jawab #468 pada: Januari 16, 2010, 06:49:17 am »
Ternyata ALLAH menunjukkan kebenaran firmannya dengan cara sederhana pada orang2 yang menjadikan akal dan perasaannya sebagai imam daripada ALLAH dan SUNNAH NABI.

angela

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 447
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
D
« Jawab #469 pada: Februari 17, 2010, 10:42:59 am »
Daripada selingkuh mending poligami, tp kalau anak ma bini atu aja msh kelaparan msh ngebet poligami, pancung aja tu orang,

drai

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.604
  • Reputasi: 7
  • "masih selalu bahagia"
    • Lihat Profil
Re: polygami
« Jawab #470 pada: Februari 19, 2010, 02:13:07 pm »
jangan ada yang tersakiti dengan berpoligami...

Oshin Syalala

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 352
  • Reputasi: 24
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Wanna be a strongger woman....
    • Lihat Profil
Re: polygami
« Jawab #471 pada: Februari 20, 2010, 05:41:17 am »
jangan ada yang tersakiti dengan berpoligami...
Ga mungkin tidak ada perasaan yang tersakiti dalam poligami, allohu'alam.

bukan_malaikat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 885
  • Reputasi: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Menimba ilmu dan menjalin silaturrahim :)
    • Lihat Profil
Re: polygami
« Jawab #472 pada: Maret 05, 2010, 01:56:55 pm »
Lelaki Cerdas Lebih Suka Monogami

Irna Gustia - detikHealth

London, Lelaki cerdas alias yang memiliki tingkat IQ tinggi jarang membohongi istrinya dan lebih suka memilih monogami. Sebuah penelitian baru menunjukkan lelaki cerdas lebih suka hubungan seks yang eksklusif dengan satu orang.

Peneliti Inggris meneliti perilaku lelaki cerdas ini yang menempatkan monogami dan hubungan seks yang eksklusif. Perilaku ini berbeda dengan teman-teman yang seumuran mereka tapi memiliki tingkat kecerdasan yang kurang.

Tapi hubungan antara moralitas perilaku seks konvensional dan tingkat intelijen tidak tercermin pada wanita. Peneliti tidak menemukan bukti bahwa perempuan yang lebih cerdas dalam populasi umum akan lebih setia.

Penelitian pola-pola perilaku tersebut dilakukan oleh Dr Satoshi Kanazawa dari London School of Economics and Political Science yang hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal Social Psychology Quarterly edisi Maret.

Dalam penelitiannya Dr Kanazawa menganalisa dua survei utama di AS yang berhubungan dengan perilaku sosial dan tingkat IQ yang telah dilakukan terhadap ribuan partisipan mulai remaja hingga orang dewasa.

"Sebagai analisis empiris, hasil penelitian menunjukkan bahwa lelaki dengan tingkat kecerdasan tinggi cenderung monogami dan menilai hubungan seksual adalah eksklusivitas dibandingkan dengan laki-laki yang kurang cerdas," bunyi kesimpulan hasil penelitian Dr Kanazawa seperti dilansir dari Telegraph, Selasa (2/3/2010).

Dr Kanazawa mengklaim bahwa hubungan antara tingkat kecerdasan dan monogami oleh pria cerdas itu terkait dengan perkembangan evolusi perilaku yang terjadi.

Dalam evolusi perilaku tersebut, dunia moderen memandang tidak ada lagi keuntungan memiliki hubungan seksual dengan banyak mitra. Dan orang-orang cerdas mampu melepaskan beban psikologis tersebut dengan mengadopsi cara-cara berperilaku yang baru.

Sebelumnya, Profesor Martha Bailey dan Bita Amani dari Queen's University menyebutkan bahwa istri dan anak akan menjadi korban dalam rumah tangga kerika seorang suami memilih untuk melakukan poligami.

"Mereka lebih banyak mengalami depresi dan stres karena perasaan cemburu. Mereka juga cenderung menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga," ujar Bailey.

Sementara suami yang melakukan poligami mendapat pemenuhan seks yang baik, istri yang dipoligami justru menderita karena harus menghadapi kenyataan suaminya berbagi seks dengan wanita lain dan kemungkinan penyakit menular seksual.

Ketika seorang wanita depresi, pola pengasuhan anaknya pun menjadi kacau. Dan itu akan memberi dampak negatif bagi anak. Anak juga berisiko mengalami trauma dan dikucilkan oleh teman-temannya. Perilaku mereka pun menurut peneliti lebih sulit terkontrol karena peran ayah menjadi berkurang.(ir/ir)

Sumber: http://health.detik.com/read/2010/03/02/081512/1309023/766/lelaki-cerdas-lebih-suka-monogami
___________________________________________________________________________________________

Jadi bagaimana dengan hasil penelitian di atas? Wallahu'alam bi shawab... Kembali kepada pilihan anda.
« Edit Terakhir: Maret 05, 2010, 02:05:17 pm oleh bukan_malaikat »

parno

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 5
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: polygami
« Jawab #473 pada: Mei 23, 2011, 03:04:29 am »
aq adalah gadis pencemburu..
Jadi,sepertinya jika suatu saat nanti aq menikah,mungkin akan ada perjanjian hitam di atas putih untuk tidak berPOLYGAMI:)


mo beli Tanah kavlingan?....