Heart to heart > Puisi

I Loved Quoting My Self

(1/53) > >>

qiozz:
puisiku bukan untuk kau baca
atau kau dengar
puisiku hanya buluh perindu
dari ragu yang merayu
untuk menggubah hati

qiozz:
biar kunikmati sendiri puisi ini
tanpa melewati saripati
yang membungkus baitnya kelak
inilah cikal bakal tubuh baruku

qiozz:
jemariku buta aksara
bergelimpang di mana-mana
menyusunnya
bukan lagi sebatas indah
tapi harus bermakna

qiozz:
sepeninggalan pagi
aku mulai mengeja
satu persatu warna malam
pelangi pun ternyata mampu
melebur dalam gelap

qiozz:
senyumnya tipis mengembang
di atas alis yang cuma segaris
ada kerut di dahi
yang tak bisa hilang
itu bukan kebimbangan
melainkan keniscayaan
petang di angka yang sulit terbilang
karena nyawa taruhannya
lalu akan kau bayar dengan apa harga matinya?
sementara dadanya
masih bergelantungan di kerongkongan
dan di aliran nadimu yang tak pernah usai

*Ibu*

Navigasi

[0] Indeks Pesan

[#] Halaman berikutnya

Ke versi lengkap