Penulis Topik: al-irsyad solo tolak hormat bendera  (Dibaca 3431 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
al-irsyad solo tolak hormat bendera
« pada: Juni 10, 2011, 10:33:04 am »
Kutip
Solo (Solopos.com) – Ketua Lajnah Pendidikan dan Pengajaran Al Irsyad Solo, Haydar Ahmad Sungkar, dalam rilis yang diterima Espos, Kamis (9/6/2011), menyatakan pernyataan awal Sutardi soal penolakan menghormat bendera oleh Al Irsyad Tawangmangu adalah pernyataan pribadi yang tidak bisa disamakan dengan pendapat keseluruhan Al Irsyad. Di Solo, pihaknya mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah dan selama ini telah terjalin kerja sama yang baik dengan Pemkot.

Sementara itu, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) prihatin terhadap adanya penolakan hormat kepada bendera Merah Putih di Karanganyar. Hal itu diungkapkan Mayjen TNI Puspo Djoko Purwanto dari Lemhanas, saat memimpin Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Lemhannas Angkatan XVII di Bale Tawangarum Balaikota Solo, Kamis.

”Hal ini tentunya menjadi sebuah keprihatinan tersendiri. Mengapa sebagai bangsa Indonesia menolak menghormat bendera apalagi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya? Sebab, kalau bukan kita sebagai bangsa Indonesia yang melakukannya, lalu siapa lagi?” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Puspo Djoko Purwanto, ancaman Bupati Karanganyar, Rina Iriani untuk menutup sekolah yang menolak menghormat bendera bisa diterima. Menurutnya, hal itu menjadi wewenang pemerintah daerah untuk membina jajarannya. Namun sesuai esensinya, pemerintah wajib menegakkan keutuhan NKRI dan semangat nasionalisme.

Di Semarang, Gubernur Bibit Waluyo meminta sekolah serta guru di Kabupaten Karanganyar yang menolak menghormat bendera Merah Putih ditindak tegas agar permasalahan ini tidak semakin berkembang. “Kalau hidup di Indonesia bukan seperti itu caranya, apalagi ini dilakukan guru yang seharusnya digugu dan ditiru,” kata Gubernur.



Kutip
dari www.muslim.or.id

Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Alu Ubaikan (salah seorang ulama di Kerajaan Saudi Arabia) berkata,

Di antara permasalahan kontemporer yang perlu ditelaah dengan pemahaman yang cermat adalah permasalahan yang muncul di zaman ini terkait dengan penghormatan terhadap negara dan sistemnya serta penghormatan terhadap symbol negara. Itulah permasalahan hormat bendera.

Yang dimaksud dengan hormat bendera di sini adalah berdiri untuk menghormati bendera. Sebagian orang telah berbicara mengenai hukum permasalahan ini tanpa menilainya dengan melihat akar permasalahannya dan analisis fikih yang tepat. Akibatnya mereka mengeluarkan hukum yang tidak sesuai dengan realita di lapangan dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera.

Jika kita melihat, bendera itu pada asalnya adalah benda yang dikerubungi oleh pasukan perang dan peperangan dilakukan di bawah kibarannya. Jadi bendera perang adalah simbol tegaknya kepemimpian seorang panglima perang sehingga jatuhnya bendera perang bermakna kalah perang. Di zaman ini bendera itu menjadi simbol negara yang dikibarkan di berbagai momentum. Dengan menghormati bendera berarti menghormati kepemimpinan pemimpin negara.

Demikian pula, kita perlu menimbang kondisi orang yang memberikan penghormatan kepada bendera. Realitanya mereka tidaklah menghormati jenis kain yang menjadi bahan pembuatan bendera namun mereka menghormati negara yang bendera merupakan simbolnya.

Ulama yang berpendapat bahwa hormat bendera itu bid’ah bermakna bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera beribadah kepada Allah dengan cara ini yaitu hormat bendera. Inilah makna bid’ah dalam hukum syariat. Namun tidak kami jumpai seorang pun yang bermaksud demikian ketika memberikan penghormatan terhadap bendera.

Andai ada orang yang mengatakan bahwa dalam penghormatan terhadap bendera terdapat pengagungan terhadap bendera itu sendiri sebagaimana pengagungan terhadap sesuatu yang disembah. Tidaklah diragukan bahwa hal tersebut adalah kemusyrikan kepada Allah namun kami tidak mengetahui seorang pun yang melakukannya.

Dengan mengkaji ‘illah atau sebab hukum yang bisa dijadikan sebagai landasan penilaian dalam masalah ini sangatlah jelas bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera tidaklah bermaksud dengan dengan maksud-maksud di atas. Namun maksud penghormatan bendera adalah penghormatan terhadap negara dan simbol negara.

Terkait dengan bendera Kerajaan Saudi Arabia, bendera tersebut memuat kalimat tauhid (laa ilaha illallah) yang wajib dihormati oleh setiap muslim.

Suatu hal yang sudah kita ketahui bersama, dalam hukum syariat penghormatan terhadap makhluk itu jika tidak semisal dengan penghormatan terhadap Allah hukumnya boleh. Dalilnya saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkirim surat kepada Heraklius dalam suratnya Nabi mengatakan, “Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraklius seorang yang dihormati oleh bangsa Romawi”. Ketika Saad bin Muadz datang untuk menjatuhkan hukuman kepada Yahudi Bani Quraizhah Nabi bersabda, “Berdirilah kalian-wahai para anshar-untuk pemimpin kalian”.

Berdiri untuk menghormati orang yang datang adalah penghormatan biasa, bukan penghormatan dengan level penghambaan. Sehingga berdiri tersebut tidaklah sampai level pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah. Penghormatan semisal ini hukumnya boleh diberikan kepada makhluk sebagaimana dalil-dalil di atas”.

bukan_malaikat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 885
  • Reputasi: 27
  • Jenis kelamin: Pria
  • Menimba ilmu dan menjalin silaturrahim :)
    • Lihat Profil
Re:al-irsyad solo tolak hormat bendera
« Jawab #1 pada: Juni 15, 2011, 08:24:28 pm »
Bagi sekian banyak orang, mungkin hal yang bodoh untuk berdiri berbaris berpanas-panasan mengelilingi bendera, bernyanyi, membacakan hal-hal yang mungkin hanya dianggap retorika, lalu memberi hormat pada bendera, semua dengan sikap takzim.

Bagi mereka, lebih terlihat bodoh lagi ketika ada orang yang menangis tersedu-sedu sambil mencium bendera.

Tak apa... Kalau memang demikian, berarti aku termasuk orang-orang bodoh itu, karena mereka tidak merasakan bagaimana berterimakasihnya aku pada kakekku dan pakde-pakdeku yang tertumpah darahnya untuk memperjuangkan status "MERDEKA" bagi negeri ini, sehingga aku dan orang-orang yang menganggapku bodoh (bahkan mungkin menganggapku syirik) bisa lahir, tumbuh, berdiri dan hidup dengan "tenang" di tanah ini, sebagai orang Indonesia, bukan sebagai orang jajahan negara manapun. Sehingga setiap kali aku melihat bendera Merah Putih berkibar dan atau lagu Indonesia Raya dikumandangkan, bulu kudukku berdiri membayangkan andai kita saat ini masih menjadi negara jajahan kolonial...naudzubillahimindzalik... dan akhirnya kembali, airmata itu tertumpah karena rasa terimakasihku pada mereka yang sudah rela berkorban demi kemerdekaan Indonesia, dan tentunya sekaligus utamanya karena syukurku pada Allah Subhana Wa Ta'ala yang karena ridhaNya lah kita bisa mengatakan "saya orang Indonesia".
« Edit Terakhir: Juni 15, 2011, 08:26:07 pm oleh bukan_malaikat »

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Re:al-irsyad solo tolak hormat bendera
« Jawab #2 pada: November 01, 2011, 11:05:32 am »

Kutip
dari www.muslim.or.id

Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir Alu Ubaikan (salah seorang ulama di Kerajaan Saudi Arabia) berkata,

Di antara permasalahan kontemporer yang perlu ditelaah dengan pemahaman yang cermat adalah permasalahan yang muncul di zaman ini terkait dengan penghormatan terhadap negara dan sistemnya serta penghormatan terhadap symbol negara. Itulah permasalahan hormat bendera.

Yang dimaksud dengan hormat bendera di sini adalah berdiri untuk menghormati bendera. Sebagian orang telah berbicara mengenai hukum permasalahan ini tanpa menilainya dengan melihat akar permasalahannya dan analisis fikih yang tepat. Akibatnya mereka mengeluarkan hukum yang tidak sesuai dengan realita di lapangan dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera.

Jika kita melihat, bendera itu pada asalnya adalah benda yang dikerubungi oleh pasukan perang dan peperangan dilakukan di bawah kibarannya. Jadi bendera perang adalah simbol tegaknya kepemimpian seorang panglima perang sehingga jatuhnya bendera perang bermakna kalah perang. Di zaman ini bendera itu menjadi simbol negara yang dikibarkan di berbagai momentum. Dengan menghormati bendera berarti menghormati kepemimpinan pemimpin negara.

Demikian pula, kita perlu menimbang kondisi orang yang memberikan penghormatan kepada bendera. Realitanya mereka tidaklah menghormati jenis kain yang menjadi bahan pembuatan bendera namun mereka menghormati negara yang bendera merupakan simbolnya.

Ulama yang berpendapat bahwa hormat bendera itu bid’ah bermakna bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera beribadah kepada Allah dengan cara ini yaitu hormat bendera. Inilah makna bid’ah dalam hukum syariat. Namun tidak kami jumpai seorang pun yang bermaksud demikian ketika memberikan penghormatan terhadap bendera.

Andai ada orang yang mengatakan bahwa dalam penghormatan terhadap bendera terdapat pengagungan terhadap bendera itu sendiri sebagaimana pengagungan terhadap sesuatu yang disembah. Tidaklah diragukan bahwa hal tersebut adalah kemusyrikan kepada Allah namun kami tidak mengetahui seorang pun yang melakukannya.

Dengan mengkaji ‘illah atau sebab hukum yang bisa dijadikan sebagai landasan penilaian dalam masalah ini sangatlah jelas bahwa orang yang memberikan penghormatan terhadap bendera tidaklah bermaksud dengan dengan maksud-maksud di atas. Namun maksud penghormatan bendera adalah penghormatan terhadap negara dan simbol negara.

Terkait dengan bendera Kerajaan Saudi Arabia, bendera tersebut memuat kalimat tauhid (laa ilaha illallah) yang wajib dihormati oleh setiap muslim.

Suatu hal yang sudah kita ketahui bersama, dalam hukum syariat penghormatan terhadap makhluk itu jika tidak semisal dengan penghormatan terhadap Allah hukumnya boleh. Dalilnya saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkirim surat kepada Heraklius dalam suratnya Nabi mengatakan, “Dari Muhammad utusan Allah untuk Heraklius seorang yang dihormati oleh bangsa Romawi”. Ketika Saad bin Muadz datang untuk menjatuhkan hukuman kepada Yahudi Bani Quraizhah Nabi bersabda, “Berdirilah kalian-wahai para anshar-untuk pemimpin kalian”.

Berdiri untuk menghormati orang yang datang adalah penghormatan biasa, bukan penghormatan dengan level penghambaan. Sehingga berdiri tersebut tidaklah sampai level pengagungan sebagaimana pengagungan kepada Allah. Penghormatan semisal ini hukumnya boleh diberikan kepada makhluk sebagaimana dalil-dalil di atas”.



Enaknya klo gini, ga masalah jadi negara dengan sejarah hitam, pembantaian 2 juta manusia non-Wahabi. Pokoknya pake simbol2 agama saja, sah melakukan apa pun..... :))