Penulis Topik: Mengkritisi Paradigma Numerik-Matematika Al-Qur'an  (Dibaca 6900 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Anom

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 14
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Mengkritisi Paradigma Numerik-Matematika Al-Qur'an
« pada: Februari 05, 2011, 04:53:10 am »
Ada 2 nama yg sy ketahui yg berkompeten dalam meneliti paradigma Metode Numerik dalam Al-Qur'an, atau Ilmu Matematika Al-Qur'an:
1. Lukman AQ Soemabrata (LAQS)
2. Fahmi Basya Hamdi (FBH)

LAQS bahkan mengembangkannya ke arah pengobatan dan pengajian diri (Qitri, Juz Diri). Menurut LAQS, setiap orang ada juznya masing-masing. Salah satu web yg membahas tentang LAQS:
http://darulqohar.wordpress.com/

Sedangkan FBH dikenal dgn karya One Million Phenomena & Flying Book-nya. Baru-baru ini FBH mempublikasi temuannya yg kontroversial, tentang Candi Borobudur yg diklaimnya sbg milik umat Islam (Sleman dikatakan sebagai bekas kerajaan Nabi Sulaiman, Ratu Boko = Ratu Balqis, dll).

Beliau juga mendukung hipotesa bahwa kerajaan Majapahit adalah Kesultanan Islam. Dan satu lagi, fenomena Crop Circle di Sleman dikaitkannya dgn simbol yg ada pada Candi Borobudur. Benar atau tidak, itu masih perlu pembuktian lebih banyak lagi.
Web tentang hasil karya FBH:
http://www.ssq-dla.com/index.php?option=com_content&view=category&id=34&Itemid=61

Menarik jika semua itu dipandang sebagai dinamika berpikir dari para ilmuwan muslim. Tapi jangan terlalu gegabah dengan mengatakan bahwa itu adalah tafsir Al-Qur'an yg sebenarnya. Semua itu hanyalah HIPOTESIS kandungan ilmu dalam Al-Qur'an, dan bukan tafsir Al-Qur'an yg sesungguhnya.

Memang ada beberapa ayat Qur'an (dan Hadits) yg secara jelas menyebutkan angka matematis... seperti misalnya tentang penentuan waktu puasa, haji, dll. Tapi menghubung-hubungkan jumlah ayat, nomor urut surah, atau urutan juz secara matematis seperti yg dilakukan LAQS & FBH tentu saja bukanlah ilmu tafsir yg populer.

Adanya keterkaitan atau kecocokan dalam semua perhitungan itu boleh dibilang sebagai bagian dari kehebatan Al-Qur'an. Sebab meskipun hitung-hitungannya cocok, prosesnya dilakukan dengan cara menghubung-hubungkan. Akibatnya, konklusinya bisa berbeda-beda... tergantung siapa & bagaimana cara melakukannya.

Contohnya adalah perbedaan LAQS & FBH dalam menafsirkan Baitullah (Ka'bah) sebagai petunjuk (Hudan) pada QS. Ali Imran ayat 96-97:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi alam semesta." (96)

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (97)[/i]

Yg seringkali jadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa Ka'bah - yg notabene berupa bangunan batu berbentuk kubus:
  • bisa menjadi petunjuk (hudan) bagi alam semesta?
  • dan yg diberkahi?
  • dan yg memasukinya menjadi aman?

Lalu muncul juga pertanyaan selanjutnya:
Apakah BAKKAH dalam QS. Ali Imran: 96 itu memang benar maknanya adalah Mekkah?

Versi LAQS

LAQS berhipotesa bahwa ayat tsb memiliki makna tersirat. Ka'bah di Mekkah hanyalah simbol dari "Bait di Bakkah", tapi makna hakikatnya bukan itu (Bakkah tidak = Mekkah).

LAQS menghubung-hubungkan bangunan Ka'bah yg terbuat dari BATU dengan Surah Al-Hijr (Batu), yg berada pada urutan Surah ke-15. Surah tsb memiliki 99 ayat.
Jika dijumlahkan, maka: 15 + 99 = 114

Bilangan 114 itu adalah jumlah ayat Al-Qur'an. Jadi kesimpulannya, menurut LAQS, kata "bait (rumah; bangunan) di Bakkah" yg dimaksud dalam ayat di atas bermakna Kitab Al-Qur'an. Dan Kitab Al-Qur'an adalah "bangunan" yg selalu diberkati, menjadi petunjuk bagi manusia, terdapat maqam (millah) Ibrahim, dan yg masuk ke dalamnya (menerapkannya) menjadi aman.

Versi FBH

Dengan hitung-hitungan Matematika yg lebih kompleks... yakni dengan melibatkan variabel peristiwa Thawaf, Sa'i, Isra' Mi'raj, dll... kata "bait" pada ayat tsb menurut FBH bermakna Ka'bah. Singkatnya, kata petunjuk (hudan) pada QS. Ali Imran: 96 itu dihubungkan dengan makna petunjuk pada QS. Al-An'am: 97, "...bintang-bintang untuk menjadi petunjuk (litahtadu biha)".
Petunjuk di sini berarti penunjuk-arah (peta). Ujung-ujungnya, kesimpulan FBH bermuara pada kota Mekkah sebagai pusat bumi.

Uraian lebih lengkapnya silakan baca Flying-Book 5:
http://xa.yimg.com/kq/groups/13319078/1982491092/name/Flying-Book-5

Ya itulah hipotesa LAQS & FBH yg diperoleh dengan cara:
- menghubung-hubungkan,
- dan diolah secara logika Matematika manusia.

Sah-sah saja sebagai sebuah kreativitas ilmu pengetahuan yg sifatnya "mendukung", atau sebagai sebuah upaya pendekatan pemahaman secara sains, karena kandungan ilmu dalam Al-Qur'an itu memang amat sangat luas.
Tetapi sekali lagi, tetap itu semua bukan merupakan tafsiran ayat-ayat Al-Qur'an yg hakiki.***
« Edit Terakhir: Februari 05, 2011, 06:55:34 am oleh Anom »