Penulis Topik: Susah juga ya  (Dibaca 6206 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

singapadangpasir

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 14
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Susah juga ya
« pada: Desember 25, 2010, 06:03:18 pm »
Kalo misalnya berniat untuk menikah tapi belum punya calon itu susah juga ya daripada sudah kenal lama kemudian bersepakat untuk menikah.
Maksud saya mungkin jadi berfikir yg sulit2 harus ini itu, padahal mungkin prosesnya semudah yg sudah kenalan lama tadi.

Contoh lain tapi kurang nyambung;
Misalnya kita ingin belajar Qiro'at lebih susah daripada yg dari kecil sudah dipersiapkan/dibiasakan.

Fikiran saya aja bilang 'ya iyalah',
tapi maksudnya barangkali saja tidak sesusah yg saya kira dalam memulai sesuatu yg baru, dan barangkali saja dudungers ada yg bersedia membagikan pengalamanya dalam melakukan hal yg baru khususnya dalam pernikahan ini.

arif budiman

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #1 pada: Desember 27, 2010, 10:54:53 am »
kalo emang udah siap nikah sih menurut saya justru lebih mudah..
di luar sana ada banyak wanita yang menunggu dilamar pria yang sudah siap nikah lahir batin..
« Edit Terakhir: Desember 27, 2010, 01:11:20 pm oleh arif budiman »

Husniyah Azah

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.575
  • Reputasi: 41
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Muhammad Izwan
    • Lihat Profil
    • Catatan Hati Ukhty Tini
Re:Susah juga ya
« Jawab #2 pada: Desember 27, 2010, 01:02:49 pm »
Mungkin tulisan saya yang sangat sederhana ini bisa membantu anda, bahwa memulai sesuatu yang baru itu memang tidak sulit, selama niat kita memang memulainya dengan baik.
Kutip

Menikah Tanpa Pacaran Bukan Berarti Tanpa Cinta

Wah judulnya... tak disangka tini bisa menulisnya he he _^_

Anda pernah membaca sebuah tulisan singkat di sini? http://www.tinisyifa.com/2010/03/memilih.html

Tulisan itu saya buat sebelum datang sebuah pengubah idealisme saya sebulan kemudian, Allah Sang Penggerak hati, mengilhamkan dan membulatkan tekad saya untuk bertaaruf pada seorang ikhwan yang belum pernah saya lihat, bahkan belum pernah saya dengar sepak terjangnya dalam dunia kependekaran, ups maksud saya dalam dunia dakwah.

"Kamu tipikal wanita nekad," begitu komentar sedap yang mampir ketelinga. Seperti dapat memahami keraguan kebanyakan wanita, bagaimana mungkin memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup dengan laki-laki yang belum dikenal lama. Namun saya berfikir, hidup saya sudah berjalan 24 tahun dan setiap keputusan yang saya ambil demi kemaslahatan hidup ini adalah "nekad", tapi bagi saya itu adalah tekad yang bersandar kepada Allah, rasa percaya penuh dan prasangka baik pada setiap garis takdirNya.

Dan siapapun boleh tidak percaya, bahwa masa berkenalan hingga pernikahan kami adalah dalam tempo 4 bulan. Karena ketidakpercayaan itu juga kami rasakan, bahkan pasca pernikahan kami, saya dan suami sering bilang "seperti mimpi." Sejujurnya dua-tiga hari menjelang pernikahan, saya dilanda rasa yang bercampur aduk -bahagia, haru, harap, takut-. Tapi saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa pernikahan adalah bagian dari episode hidup, ibadah yang harus dilakoni oleh setiap hamba yang mengaku umat Rosulullah Sholallahu'alaihi Wasalam. Dan saya maklum, saya tidak akan mengerti bagaimana rasanya memahamkan dua kepribadian yang berbeda dalam satu kebersamaan jika saya tidak menjalani pernikahan itu sendiri.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)

Sebuah cinta terlahir dari komitmen, halalnya sebuah hubungan memperindah cinta itu. Jikalau menafakuri ayat Nya, maka terpecik sadar bahwa hanya Allah lah yang menjadikan rasa kasih dan sayang antara seorang suami kepada isterinya. Seorang bijak pernah berkata "jika engkau menikahi seseorang, maka nikahilah kekurangannya, karena kelebihannya adalah hadiah yang diberikan Allah kepadamu"

Ada rasa tersendiri yang dirasakan seorang istri ketika suami pulang berjamaah dari masjid lalu mencium keningnya dan bertanya "sudah sholat?", dan  ada sebuah rasa syahdu menjadi makmum sang suami dalam sholat-sholat sunahnya.

Subhanallah....

And the last, I just wanna say "I'm lucky marry this man and I love him so much".

Batam, 6 September 2010
Tini http://www.tinisyifa.com/2010/09/menikah-tanpa-pacaran-bukan-berarti.html

arif budiman

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #3 pada: Desember 27, 2010, 01:30:31 pm »
Ooo.. maksudnya susah membiasakan diri untuk kenal lebih dekat dengan si calon..
ngga juga sih..

saya taáruf sama istri cuma sebulan sebelum memutuskan untuk menikahinya
so far baik2 aja..

kakak saya yang sempat pacaran bertahun-tahun mengatakan bahwa tahun2 pertama pernikahannya adalah momen yang paling sulit, karena ternyata kehidupan pernikahan sangat berbeda dengan dunia orang pacaran..

jadi ya tetap harus mulai belajar lagi dari awal bagaimana memenuhi hak dan kewajiban baru selaku suami istri..
karena setau saya hak dan kewajiban seorang pacar ga dijamin dalam hukum Islam :p

singapadangpasir

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 14
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #4 pada: Desember 31, 2010, 10:40:14 pm »
Mungkin tulisan saya yang sangat sederhana ini bisa membantu anda, bahwa memulai sesuatu yang baru itu memang tidak sulit, selama niat kita memang memulainya dengan baik.
Kutip

Menikah Tanpa Pacaran Bukan Berarti Tanpa Cinta

Wah judulnya... tak disangka tini bisa menulisnya he he _^_

Anda pernah membaca sebuah tulisan singkat di sini? http://www.tinisyifa.com/2010/03/memilih.html

Tulisan itu saya buat sebelum datang sebuah pengubah idealisme saya sebulan kemudian, Allah Sang Penggerak hati, mengilhamkan dan membulatkan tekad saya untuk bertaaruf pada seorang ikhwan yang belum pernah saya lihat, bahkan belum pernah saya dengar sepak terjangnya dalam dunia kependekaran, ups maksud saya dalam dunia dakwah.

"Kamu tipikal wanita nekad," begitu komentar sedap yang mampir ketelinga. Seperti dapat memahami keraguan kebanyakan wanita, bagaimana mungkin memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup dengan laki-laki yang belum dikenal lama. Namun saya berfikir, hidup saya sudah berjalan 24 tahun dan setiap keputusan yang saya ambil demi kemaslahatan hidup ini adalah "nekad", tapi bagi saya itu adalah tekad yang bersandar kepada Allah, rasa percaya penuh dan prasangka baik pada setiap garis takdirNya.

Dan siapapun boleh tidak percaya, bahwa masa berkenalan hingga pernikahan kami adalah dalam tempo 4 bulan. Karena ketidakpercayaan itu juga kami rasakan, bahkan pasca pernikahan kami, saya dan suami sering bilang "seperti mimpi." Sejujurnya dua-tiga hari menjelang pernikahan, saya dilanda rasa yang bercampur aduk -bahagia, haru, harap, takut-. Tapi saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa pernikahan adalah bagian dari episode hidup, ibadah yang harus dilakoni oleh setiap hamba yang mengaku umat Rosulullah Sholallahu'alaihi Wasalam. Dan saya maklum, saya tidak akan mengerti bagaimana rasanya memahamkan dua kepribadian yang berbeda dalam satu kebersamaan jika saya tidak menjalani pernikahan itu sendiri.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar Rum : 21)

Sebuah cinta terlahir dari komitmen, halalnya sebuah hubungan memperindah cinta itu. Jikalau menafakuri ayat Nya, maka terpecik sadar bahwa hanya Allah lah yang menjadikan rasa kasih dan sayang antara seorang suami kepada isterinya. Seorang bijak pernah berkata "jika engkau menikahi seseorang, maka nikahilah kekurangannya, karena kelebihannya adalah hadiah yang diberikan Allah kepadamu"

Ada rasa tersendiri yang dirasakan seorang istri ketika suami pulang berjamaah dari masjid lalu mencium keningnya dan bertanya "sudah sholat?", dan  ada sebuah rasa syahdu menjadi makmum sang suami dalam sholat-sholat sunahnya.

Subhanallah....

And the last, I just wanna say "I'm lucky marry this man and I love him so much".

Batam, 6 September 2010
Tini http://www.tinisyifa.com/2010/09/menikah-tanpa-pacaran-bukan-berarti.html
Sangat berguna, terimakasih

singapadangpasir

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 14
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #5 pada: Desember 31, 2010, 10:41:20 pm »
Ooo.. maksudnya susah membiasakan diri untuk kenal lebih dekat dengan si calon..
ngga juga sih..

saya taáruf sama istri cuma sebulan sebelum memutuskan untuk menikahinya
so far baik2 aja..

kakak saya yang sempat pacaran bertahun-tahun mengatakan bahwa tahun2 pertama pernikahannya adalah momen yang paling sulit, karena ternyata kehidupan pernikahan sangat berbeda dengan dunia orang pacaran..

jadi ya tetap harus mulai belajar lagi dari awal bagaimana memenuhi hak dan kewajiban baru selaku suami istri..
karena setau saya hak dan kewajiban seorang pacar ga dijamin dalam hukum Islam :p
Wah.. sebulan ya,semakin memotivasi nih,terimakasih

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #6 pada: Januari 13, 2011, 05:24:13 pm »
Kalo misalnya berniat untuk menikah tapi belum punya calon itu susah juga ya daripada sudah kenal lama kemudian bersepakat untuk menikah.
Maksud saya mungkin jadi berfikir yg sulit2 harus ini itu, padahal mungkin prosesnya semudah yg sudah kenalan lama tadi.

Contoh lain tapi kurang nyambung;
Misalnya kita ingin belajar Qiro'at lebih susah daripada yg dari kecil sudah dipersiapkan/dibiasakan.

Fikiran saya aja bilang 'ya iyalah',
tapi maksudnya barangkali saja tidak sesusah yg saya kira dalam memulai sesuatu yg baru, dan barangkali saja dudungers ada yg bersedia membagikan pengalamanya dalam melakukan hal yg baru khususnya dalam pernikahan ini.
yang belum punya calon juga susah lo...apalagi kalo ada sedikit rasa khawatir...misal kita udah tentuin akh yang mau dijadiin calon tapi karena khawatir macem2 misal (mau nggak ya dia sama cowok ky gw, udah punya calon belum ya, kedepannya gimana ya..., mau tinggal dimana ya kalo udah nikah, nikah butuh biaya berapa banyak ya, kalo punya anak nyusahin nggak ya, dlll...dll..) jadinya malah nggak nikah-nikah trus jadi bujang lapuk...

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #7 pada: Januari 14, 2011, 09:22:00 am »
tapi.. menyamakan pernikahan dgn proses belajar qiro'at sepertinya kok kurang pas...
kalo yg dimaksud adalah mempersiapkan diri sejak jauh2 hari ya mungkin itu benar...
krn kalau berhubungan dgn seseorang terlalu lama, rasanya ga bagus jg..
si perempuan/laki2 (pasangan) pasti jg keberatan kalau harus menunggu lama2 tanpa kepastian...

nah kalo udah pacaran lama2, terus malah bubar di tengah jalan dan ga jd nikah?? kan malah malu sm orang2 sekitar...

kalo terlalu cepat, (kalo di jogja) bisa timbul fitnah...
dikira hamil duluan...

arif budiman

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #8 pada: Januari 14, 2011, 11:18:05 am »
kalo terlalu cepat, (kalo di jogja) bisa timbul fitnah...
dikira hamil duluan...
sepanjang right on track..
saya rasa sih jangan juga
pernikahan ditunda2 dengan alasan takut kena fitnah..

lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #9 pada: Januari 14, 2011, 11:22:07 am »

apalagi kalo ada sedikit rasa khawatir...misal kita udah tentuin akh yang mau dijadiin calon tapi karena khawatir macem2 misal (mau nggak ya dia sama cowok ky gw, udah punya calon belum ya, kedepannya gimana ya..., mau tinggal dimana ya kalo udah nikah, nikah butuh biaya berapa banyak ya, kalo punya anak nyusahin nggak ya, dlll...dll..)

tak dipungkiri emang kekhawatiran yang tak beralasan sperti disebutkan di atas mungkin pernah muncul di benak banyak orang yang akan menikah..
Bagi Bapak/Ibu yang sudah menikah, gimana solusinya untuk ngilangin kekhawatiran di atas? terima kasih sebelumnya.. O, iya maaf, sepertinya ini jadi topik baru aja.. 

arif budiman

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #10 pada: Januari 14, 2011, 12:58:29 pm »
khawatir itu wajar
selama masih proporsional..
karena dengan kekhawatiran itu jadi ada antisipasi
misalnya..
khawatir, setelah nikah mau tinggal dimana ya?
antisipasi.. tinggal di tempat ortu/mertua --> berarti harus siap beradaptasi dengan mertua baru
atau cari kontrakan --> berarti butuh duit untuk ngontrak --> berarti harus punya tabungan untuk ngontrak paling nggak selama 1-2 tahun --> berarti selama 1-2 tahun harus bisa menyisihkan uang supaya bisa ngontrak di tahun2 berikutnya..

kekhawatiran jadi berlebihan kalo trus muncul ketakutan.. misalnya: nanti setelah kontrakan habis mau tinggal dimana? nanti gimana kalo ga cukup uang tiap bulan untuk menyisihkan bayar buat kontrakan?

selesaikan satu persatu masalah yang ada di depan mata..
jangan terbebani ketakutan pada masalah yang akan muncul di masa depan
cukuplah Allah sebagai penolong dan tempat bertawakal  :)

orang yang siap menikah bukanlah orang yang punya solusi atas semua masalah rumah tangga..
tapi orang yang siap mencari solusi dari setiap permasalahan yang muncul
dengan bekal ilmu dan istiqamah menjaga keutuhan rumah tangga


Husniyah Azah

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.575
  • Reputasi: 41
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Muhammad Izwan
    • Lihat Profil
    • Catatan Hati Ukhty Tini
Re:Susah juga ya
« Jawab #11 pada: Januari 14, 2011, 01:03:25 pm »
+1 buat pak Arif :)

arif budiman

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #12 pada: Januari 14, 2011, 01:12:24 pm »
+1 buat pak Arif :)
makasih :)
ikutan sharing dong.. pasti punya pengalaman juga khan..  ;)

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #13 pada: Januari 16, 2011, 08:57:49 am »

apalagi kalo ada sedikit rasa khawatir...misal kita udah tentuin akh yang mau dijadiin calon tapi karena khawatir macem2 misal (mau nggak ya dia sama cowok ky gw, udah punya calon belum ya, kedepannya gimana ya..., mau tinggal dimana ya kalo udah nikah, nikah butuh biaya berapa banyak ya, kalo punya anak nyusahin nggak ya, dlll...dll..)

tak dipungkiri emang kekhawatiran yang tak beralasan sperti disebutkan di atas mungkin pernah muncul di benak banyak orang yang akan menikah..
Bagi Bapak/Ibu yang sudah menikah, gimana solusinya untuk ngilangin kekhawatiran di atas? terima kasih sebelumnya.. O, iya maaf, sepertinya ini jadi topik baru aja..


baiklah...
saya jadikan thread baru ya...

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
Re:Susah juga ya
« Jawab #14 pada: Januari 16, 2011, 09:10:49 am »
kalo terlalu cepat, (kalo di jogja) bisa timbul fitnah...
dikira hamil duluan...
sepanjang right on track..
saya rasa sih jangan juga
pernikahan ditunda2 dengan alasan takut kena fitnah..


saya jg heran, tp stigma itu seperti sudah melekat di masyarakat...
kecuali kalau dia memang di kehidupan sehari2 terlihat baik2 saja, ga pernah terlihat bergaul dgn lawan jenis (baca -> pacaran)..
memang tidak mengundang curiga tetangga ketika dia memutuskan utk menikah. bahkan dibilang baik.. krn sudah jelas dia ga mau pacaran..
tapi kalo cuma orang biasa2 aja, bahkan cenderung nakal.. ketika memutuskan utk menikah, pasti dikira hamil duluan...
mungkin karena memang sudah terlalu umum terjadi di masyarakat ya...  :-? :-?