Penulis Topik: Apa Layak Dilestarikan?  (Dibaca 7541 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Apa Layak Dilestarikan?
« pada: November 17, 2010, 04:37:10 am »
Apa kesan pertama ketika mendengar kata komunisme? Kebanyakan orang akan langsung mengidentikkan dengan tak Bertuhan, tidak beragama. Tak punya sopan-santun, kejam, pemberontak, serta berbagai konotasi. Namun, dibalik semua julukan tersebut, identifikasi tak Bertuhan merupakan jadi rujukan dominan.

Identifikasi tersebut pada dasarnya erat dengan kepentingan politik. Rezim Suharto dalam hal ini jadi tersangka utama pemberi label dan stigma tersebut. Ternyata tidak demikian. Labelisasi dan stigmatisasi atheis tersebut ternyata bukan saat Suharto berkuasa. Ia lahir dari rahim pertarungan politik menyambut Pemilu 1955. Entah apa penyebabnya.

Menurut Majalah Tempo Edisi 8-14 November 2010 (Hatta Kambing Hitam Madiun-Asvi Warman Adam), konklusi tersebut lahir pada 1954. Fatwa Masyumi pada Desember 1954 menyatakan, komunisme itu identik dengan atheisme. Fatwa tersebut bertemali erat dengan kepentingan untuk Pemilu 1955. Alhasil, hal itu dimanfaatkan rezim Suharto untuk kepentingan politik mereka, dan sampai sekarang, sedikit banyak, masih melekat juga di benak kita.

Apakah label dan stigma tersebut masih layak dilestarikan?

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #1 pada: November 17, 2010, 09:50:16 am »
maksudnya TS gimana ini??

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #2 pada: November 17, 2010, 11:00:32 pm »
label dan stigma komunis=atheis....

د ج ل

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.084
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • my personalities
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #3 pada: November 19, 2010, 12:33:28 pm »
he... judulnya aneh... :D
tapi biarlah... bair menarik :D

temanya berkaitan dengan sejarah, dan... saya termasuk orang yang tidak suka dengan pelajaran sejarah, karena isinya seringkali "diacak-acak" oleh kepentingan.
bagi saya, komunis tidak selalu atheis.
mau tau kenapa?
kita lihat aja nanti >:)

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #4 pada: November 20, 2010, 02:15:03 pm »
nah biar klaar dan meancing comment dari member lainnya...sebaiknya TS jelaskan dulu apa alasan membuat statement seperti itu... dan berikan data juga...

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #5 pada: November 22, 2010, 12:53:24 pm »
nah biar klaar dan meancing comment dari member lainnya...sebaiknya TS jelaskan dulu apa alasan membuat statement seperti itu... dan berikan data juga...

Maksudnya ya untuk pelurusan sejarah saja dan kita semua bisa terbuka terhadap semua pemikiran yang ada.

Klo datanya seh banyak. Kan sampeyan juga pasti tahu siapa itu Haji Misbach dan Tan Malaka. Mereka merupakan contoh otrang2 komunis yang sangat theis skali. Klo pun ada yang beda, itu persoalan lain, urusan individu. Klo soal data, sdh q tulis d trit soal fatwa atheis bagi komunis dr Masyumi. Padahal itu kan bentuk intrik2 politik, bukan fakta. apalagi pas Rezim Suharto berkuasa, semakin ga jelas saja hal itu.

.::senyum chandra::.

  • from djogdja with love...
  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.610
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Wanita
  • wong djogdja ^^
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #6 pada: November 23, 2010, 11:43:39 pm »
semua yang besar di negara ini pasti ada hubungannya dengan politik dan intrik2nya...
sampai sekarang kita kan tetap tidak bs menutup mata bahwa komunis itu masih ada..
entah apa bungkusnya, dan apa tujuannya...

jadi, inti thread ini...
haruskah tetap dilestarikan stigma bahwa komunis adalah atheis???
berkata bahwa, setiap yg komunis pasti adalah atheis??

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #7 pada: November 24, 2010, 10:14:02 am »
nah biar klaar dan meancing comment dari member lainnya...sebaiknya TS jelaskan dulu apa alasan membuat statement seperti itu... dan berikan data juga...

Maksudnya ya untuk pelurusan sejarah saja dan kita semua bisa terbuka terhadap semua pemikiran yang ada.

Klo datanya seh banyak. Kan sampeyan juga pasti tahu siapa itu Haji Misbach dan Tan Malaka. Mereka merupakan contoh otrang2 komunis yang sangat theis skali. Klo pun ada yang beda, itu persoalan lain, urusan individu. Klo soal data, sdh q tulis d trit soal fatwa atheis bagi komunis dr Masyumi. Padahal itu kan bentuk intrik2 politik, bukan fakta. apalagi pas Rezim Suharto berkuasa, semakin ga jelas saja hal itu.
permasalahannya om Jin, komunisme di Indonesia itu unik...paling unik di dunia malah karena komunisme bisa sejajar dengan kehidupan agamis dan nasionalis demokratis...hal yang tidak kita temui di negara asal komunisme itu sendiri malah...di beberapa derah malah muncul keanggotaan ganda (PKI-NU, PKI-Masjumi, PKI-PNI) alasannya sederhana...ngikut panutan (bisa kyai, ustadz atau lurah) permasalahannya apa bisa statement anda itu berlaku untuk keseluruhan ??? saat aku melakukan wawancara di sebuah desa di Jawa Tengah soal komunisme ini (desanya mana..nggak usah gw sebut)...pandangan atheisme masyarakat terhadap pengikut komunisme ini justru sudah ada sejak awal komunis muncul (sebelum new order era)...di desa itu sering muncul penyerangan dan perusakan terhadap "langgar" (musholla), dan pembakaran Quran juga termasuk pencabutan tanaman padi dan penancapan paotk-patok di tanah sawah untuk alasan landreform...(untuk memahami konteks ini anda harus tahu 7 setan desa dalam terminologi PKI) karena konteks konflik agamis-komunis tidak sama di setiap daerah, bahkan di satu propinsi sekalipun bisa muncul perbedaan di wilayah desa dan kota... sementara ini dulu.
« Edit Terakhir: November 24, 2010, 10:20:21 am oleh LAVI »

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #8 pada: November 24, 2010, 12:25:03 pm »
nah biar klaar dan meancing comment dari member lainnya...sebaiknya TS jelaskan dulu apa alasan membuat statement seperti itu... dan berikan data juga...

Maksudnya ya untuk pelurusan sejarah saja dan kita semua bisa terbuka terhadap semua pemikiran yang ada.

Klo datanya seh banyak. Kan sampeyan juga pasti tahu siapa itu Haji Misbach dan Tan Malaka. Mereka merupakan contoh otrang2 komunis yang sangat theis skali. Klo pun ada yang beda, itu persoalan lain, urusan individu. Klo soal data, sdh q tulis d trit soal fatwa atheis bagi komunis dr Masyumi. Padahal itu kan bentuk intrik2 politik, bukan fakta. apalagi pas Rezim Suharto berkuasa, semakin ga jelas saja hal itu.
permasalahannya om Jin, komunisme di Indonesia itu unik...paling unik di dunia malah karena komunisme bisa sejajar dengan kehidupan agamis dan nasionalis demokratis...hal yang tidak kita temui di negara asal komunisme itu sendiri malah...di beberapa derah malah muncul keanggotaan ganda (PKI-NU, PKI-Masjumi, PKI-PNI) alasannya sederhana...ngikut panutan (bisa kyai, ustadz atau lurah) permasalahannya apa bisa statement anda itu berlaku untuk keseluruhan ??? saat aku melakukan wawancara di sebuah desa di Jawa Tengah soal komunisme ini (desanya mana..nggak usah gw sebut)...pandangan atheisme masyarakat terhadap pengikut komunisme ini justru sudah ada sejak awal komunis muncul (sebelum new order era)...di desa itu sering muncul penyerangan dan perusakan terhadap "langgar" (musholla), dan pembakaran Quran juga termasuk pencabutan tanaman padi dan penancapan paotk-patok di tanah sawah untuk alasan landreform...(untuk memahami konteks ini anda harus tahu 7 setan desa dalam terminologi PKI) karena konteks konflik agamis-komunis tidak sama di setiap daerah, bahkan di satu propinsi sekalipun bisa muncul perbedaan di wilayah desa dan kota... sementara ini dulu.

itu apakah karena komunisme-nya atau tindakan dari orangnya mas?

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #9 pada: November 24, 2010, 12:58:52 pm »
komunismenya....konsep landreform (dalam komunisme dasar), serta dipadu terminologi 7 setan desa dalam buku merah partai komunis (salah satu dari 7 setan desa adalah alim ulama), salah satu permasalahan kenapa timbul pertentangan hingga pembunuhan dalam pelaksanaan landreform di beberapa daerah Indonesia oleh PKI adalah....jumlah keseluruhan tanah baik di Jawa maupun Sumatra yang tidak sebanding dengan jumlah orangnya sehingga asas sama rata tidak bisa diterapkan (disisi lain anda bisa merasakan bagaimana tanah yang anda beli dan rawat dengan susah payah disita dan dibagi-bagi ke orang lain), selain itu jual beli tanah juga bisa jadi masalah...tanah-tanah yang sudah ditanamidicabuti tanamannya dengan seenaknya dan dipatok, hal sama terlebih jika tanah itu milik lawan politik mereka (Masyumi/PNI/NU) kalo ada yang melawan bisa dibunuh...salah satu warga bahkan pernah menyumpah saat suatu malam PKI mencabuti tanaman padi di sawahnya yang baru ditanam dengan kata2 "lihat saja..besok suatu saat orang-orang yang mencabuti padi2 itu nasibnya akan sama dengan tanaman-tanaman yang seenaknya mereka cabuti"

د ج ل

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.084
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • my personalities
    • Lihat Profil
    • amgidarap kilab kitit
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #10 pada: November 24, 2010, 09:07:15 pm »
ng... berarti bener ya?
kebijakan kaum komunis indonesia yang dipimpin... siapa tuh namanya... DN Aidit kalo ga salah, dapet "panduan" dari kaum komunis internasional?

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #11 pada: November 25, 2010, 10:02:39 am »
komunismenya....konsep landreform (dalam komunisme dasar), serta dipadu terminologi 7 setan desa dalam buku merah partai komunis (salah satu dari 7 setan desa adalah alim ulama), salah satu permasalahan kenapa timbul pertentangan hingga pembunuhan dalam pelaksanaan landreform di beberapa daerah Indonesia oleh PKI adalah....jumlah keseluruhan tanah baik di Jawa maupun Sumatra yang tidak sebanding dengan jumlah orangnya sehingga asas sama rata tidak bisa diterapkan (disisi lain anda bisa merasakan bagaimana tanah yang anda beli dan rawat dengan susah payah disita dan dibagi-bagi ke orang lain), selain itu jual beli tanah juga bisa jadi masalah...tanah-tanah yang sudah ditanamidicabuti tanamannya dengan seenaknya dan dipatok, hal sama terlebih jika tanah itu milik lawan politik mereka (Masyumi/PNI/NU) kalo ada yang melawan bisa dibunuh...salah satu warga bahkan pernah menyumpah saat suatu malam PKI mencabuti tanaman padi di sawahnya yang baru ditanam dengan kata2 "lihat saja..besok suatu saat orang-orang yang mencabuti padi2 itu nasibnya akan sama dengan tanaman-tanaman yang seenaknya mereka cabuti"

land reform itu bukan bagian dr epistimologi komunisme. Secara aksiologi pun, tak ada relasi antara komunisme dengan land reform. Ingat, semua negara maju sebelumnya pernah melakukan land reform, spt: inggris dan Jepang. Hanya tuan tanah saja yang akan ketakutan dengan konsepsi land reform ini. Land reform sangat beda dengan konsepsi sama rata sama rasa. Lebih ke arah bagaiaman membuka akses bagi masyarakat miskin untuk meraih kesejahteraan dengan tanah. Tak bisa dilepaskan antara rakyat dengan bumi yang diinjaknya (lihat UUPA).

So, klo begini, bagian mana dari komunisme sebagai suatu pemikiran yang salah menurut anda (ontologi dan epistimologi)? 


ng... berarti bener ya?
kebijakan kaum komunis indonesia yang dipimpin... siapa tuh namanya... DN Aidit kalo ga salah, dapet "panduan" dari kaum komunis internasional?

Klo dr literatur yang saya baca, kayaknya ga deh. Pada masa Aidit, kebijakannya lbh condong berporos ke China, bukan komintern Soviet....Ga tau laghi klo ada referensi lainnya.. :)

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #12 pada: November 27, 2010, 10:15:28 am »
Om jin, anda membahas konteks komunisme dalam pola pikir sosialisme... komunisme baik di Indonesia maupun di dunia adalah konsep yang rumit dan tidak hanya bergantung pada konsep 1 mashab... demikian juga dengan konsep land reform disini sangat berbeda konsep landreform di eropa barat dengan ala sistem komunis...di Indonesia sendiri partai komunis juga terpecah pemahamannya dimana terdapat 2 kubu (aliran tan malaka dan aliran muso) yang akhirnya berujung pecahnya partai ini menjadi PSI dan PKI...kalo bicara soal PKI anatara mashab Muso dan Aidit juga beda karena pola ajaran yang dibawa juga beda (Muso ala komunisme Stalin dan Aidit ala Mao) dan dalam perjalanan di Indonesia seperti saya singgung sebelumnya juga berbeda di tiap daerah ...bahkan di satu wilayah propinsi antara dua desa bertetangga juga berbeda...tetapi yang pasti untuk sistem recruitment antara PKI di Perkotaan dan di Pedesaan sangat berbeda, tolong untuk soal ini jangan gunakan pendekatan tahun 2000an, karena kita berbicara soal kondisi fisiologi, kultur dan infrastruktur Indonesia era 50-60an...yang mana di satu desa hanya ada 1 unit radio untuk ratusan KK...masyarakat di desa cenderung ikut PKI bukan karena mereka sadar politik tetapi karena PKI adalah satu2nya partai Indonesia saat itu yang memiliki jaringan penetrasi masyarakat secara menyeluruh (ingat ormas PKI mencakup banyak bidang mulai dari petani hingga pegawai negeri) dan tidak mensyaratkan anggotanya untuk menjadi atheis, namun cenderung lebih sekuler (KTP pada era 60-an tidak mencantumkan agama seseorang dan juga untuk recruitmen parpol yang lain, dan agama baru dicantumkan dalam KTP dan syarat biodata pencarian kerja pada era 70an), dan juga memungkinkan seseorang memiliki keanggotaan partai politik ganda. kembali kpada soal landreform...di Indonesia berbeda dengan Soviet (itu kenapa saya minta anda mencermati konsep 7 setan desa dalam buku merah PKI)  di Indonesia tidak ada landlord secara jelas (dalam pengertian bangsawan, beda dengan konsep landlord di Inggris) yang ada hanya orang biasa yang kaya yang mampu membeli tanah dalam jumlah besar..dan di sejumlah daerah di Jawa Tengah landlord ini adalah Kyai atau Ulama...(ingat orang dengan gelar Haji...hanya orang kaya yang mampu naik haji dan kaya pada masa itu sama dengan memiliki tanah dalam jumlah besar) anda juga harus mencermati konsep kuli dalam masyarakat pedesaan Jawa (istilah kuli kenceng, kuli 1/2 kenceng, kuli kendho, tumpang tlosor) hal ini tidak akan anda temukan dalam masyarakat manapun...anda tidak bisa membuat korelasi antara landreform dalam pemahaman UUPA dan konsep komunisme Indonesia karena akan sangat berbeda baik dari segi konsep dasar, maupun waktu.

JinKura2

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: 11
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #13 pada: November 27, 2010, 10:55:09 am »
Om jin, anda membahas konteks komunisme dalam pola pikir sosialisme... komunisme baik di Indonesia maupun di dunia adalah konsep yang rumit dan tidak hanya bergantung pada konsep 1 mashab... demikian juga dengan konsep land reform disini sangat berbeda konsep landreform di eropa barat dengan ala sistem komunis...di Indonesia sendiri partai komunis juga terpecah pemahamannya dimana terdapat 2 kubu (aliran tan malaka dan aliran muso) yang akhirnya berujung pecahnya partai ini menjadi PSI dan PKI...kalo bicara soal PKI anatara mashab Muso dan Aidit juga beda karena pola ajaran yang dibawa juga beda (Muso ala komunisme Stalin dan Aidit ala Mao) dan dalam perjalanan di Indonesia seperti saya singgung sebelumnya juga berbeda di tiap daerah ...bahkan di satu wilayah propinsi antara dua desa bertetangga juga berbeda...tetapi yang pasti untuk sistem recruitment antara PKI di Perkotaan dan di Pedesaan sangat berbeda, tolong untuk soal ini jangan gunakan pendekatan tahun 2000an, karena kita berbicara soal kondisi fisiologi, kultur dan infrastruktur Indonesia era 50-60an...yang mana di satu desa hanya ada 1 unit radio untuk ratusan KK...masyarakat di desa cenderung ikut PKI bukan karena mereka sadar politik tetapi karena PKI adalah satu2nya partai Indonesia saat itu yang memiliki jaringan penetrasi masyarakat secara menyeluruh (ingat ormas PKI mencakup banyak bidang mulai dari petani hingga pegawai negeri) dan tidak mensyaratkan anggotanya untuk menjadi atheis, namun cenderung lebih sekuler (KTP pada era 60-an tidak mencantumkan agama seseorang dan juga untuk recruitmen parpol yang lain, dan agama baru dicantumkan dalam KTP dan syarat biodata pencarian kerja pada era 70an), dan juga memungkinkan seseorang memiliki keanggotaan partai politik ganda. kembali kpada soal landreform...di Indonesia berbeda dengan Soviet (itu kenapa saya minta anda mencermati konsep 7 setan desa dalam buku merah PKI)  di Indonesia tidak ada landlord secara jelas (dalam pengertian bangsawan, beda dengan konsep landlord di Inggris) yang ada hanya orang biasa yang kaya yang mampu membeli tanah dalam jumlah besar..dan di sejumlah daerah di Jawa Tengah landlord ini adalah Kyai atau Ulama...(ingat orang dengan gelar Haji...hanya orang kaya yang mampu naik haji dan kaya pada masa itu sama dengan memiliki tanah dalam jumlah besar) anda juga harus mencermati konsep kuli dalam masyarakat pedesaan Jawa (istilah kuli kenceng, kuli 1/2 kenceng, kuli kendho, tumpang tlosor) hal ini tidak akan anda temukan dalam masyarakat manapun...anda tidak bisa membuat korelasi antara landreform dalam pemahaman UUPA dan konsep komunisme Indonesia karena akan sangat berbeda baik dari segi konsep dasar, maupun waktu.

Koreksi: Tan Malaka itu Partai Murba....

Maka dari itu, perlu ada pembatasan jelas antara forum internum (pemikiran) dan eksternum (tindakan)...selama ini kita salah kaprah menilai. Si A yg punya ideologi X melakukan kesalahan. Ideologi X itu pun turut disalahkan pdhal itu krn aksi si A....Mirip terorisme saat ini. Banyak yang menuduh klo aksi itu krn ajaran islam spt celoteh wilder. Padahal bukan to? Itu hanya tindakan orangnya saja krn Islam tak mengajarkan demikian.....

Bener to klo land reform bkn bag dr ontologi&epistema komunisme? Klo negara ingin maju, memang hrs ada land reform biar ga ada lagi warga desa yg jadi buruh tani di desanya sendiri krn tanah2 dikuasai orang2 dr kota spt yg terjadi saat ini.....:(

OOT: Kolom agama di KTP ga berguna, bisa jd ajang adu domba. Gara2 itu, ada sebagian warga yang beragama di luar agama resmi kehilangan haknya. Padahal istilah agama resmi ga pernah diatur dlm UU, hanya tata cara pengisian KTP saja....Apa urusannya negara dengan agama yang dianut warganya.... :)


LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:Apa Layak Dilestarikan?
« Jawab #14 pada: November 27, 2010, 11:06:32 am »
^^
Kutip
Bener to klo land reform bkn bag dr ontologi&epistema komunisme? Klo negara ingin maju, memang hrs ada land reform biar ga ada lagi warga desa yg jadi buruh tani di desanya sendiri krn tanah2 dikuasai orang2 dr kota spt yg terjadi saat ini.....:(
sekali lagi...jangan pake pendekatan waktu sekarang....pake pendekatan masa itu...istilah kuli kenceng adalah landlord yang sekaligus penggarap sawah so...petani penggarap di masyarakat jawa saat itu juga adalah pemilik tanah.... (memang ada istilah lainnya yang bisa anda cari sendiri)