Penulis Topik: Refleksi ‘La ilaha ilallah muhammad rasulullah’  (Dibaca 2642 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

helix

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 118
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Wanita
  • homo sapiens juga merupakan homo religius
    • Lihat Profil
Refleksi ‘La ilaha ilallah muhammad rasulullah’
« pada: November 02, 2010, 06:09:56 pm »
Kalimat ini terkenal dengan sebutan syahadat dan sepertinya sudah menjadi stereotip bagi masyarakat indonesia bahwa selain diucapkan dalam solat kalimat ini juga diucapkan oleh seorang mualaf ketika masuk agama Islam.  Pernahkah kita mencari makna dibalik dua klausa ini? dan seberapa sering kalimat ini dibahas dalam pengajian-pengajian umum?. Mungkin terbilang langka atau bahkan belum pernah sama sekali dibahas dalam pengajian umum.

Setelah saya belajar di beberapa khalaqah, saya merasa bahwa kalimat ini memiliki arti yang luar biasa.  Jika kedua klausa ini dipisah, pertama kita akan dapati klausa ‘la ilaha ilallah’. Klausa ini sebenarnya pernah diucapkan oleh setiap jiwa manusia sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Jiwa-Jiwa ini dikumpulkan dan melakukan persaksian bahwa ‘tiada tuhan selain Allah’. Kemudian klausa kedua ‘muhammad rasulullah’, yang berarti bahwa manusia berkewajiban untuk ber-i’tiba kepada rasulullah muhammad. Mencontoh disini dalam arti mencontoh paradigma hidup rasul, memakai aturan yang telah diturunkan oleh Allah, menyusun tujuan hidup, merencanakan hidup yang dapat dipertanggung jawabkan dihadapan Allah.

Kedua klausa ini bukanlah sekadar kalimat yang  berarti tiada tuhan selain Allah dan muhammad utusan Allah. Tetapi kalimat ini merupakan kalimat yang menjadi landasan hidup bagi seorang muslim, dimana ia memberikan komitmen dan loyalitas-nya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, menjadikan Islam sebagai pandangan hidup, tujuan hidup, dan aturan hidup.  Tetapi seringkali  kita dapati  orang-orang di sekitar kita yang mengatakan,

‘saya muslim tetapi saya menganut materialisme’,

‘saya muslim tetapi paradigma saya liberalisme’,

‘saya muslim dengan berbagai isme’,

perlu dipertanyakan kembali pada diri kita,

‘patutkah kita, manusia yang telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah mengambil paradigma hidup selail ‘la ilaha ilallah muhammad rasulullah’?.

ali syarifudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 129
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:Refleksi ‘La ilaha ilallah muhammad rasulullah’
« Jawab #1 pada: Desember 12, 2010, 10:17:40 pm »
sekedar menambahkan tapi minta dikoreksi juga ya klo salah,

bahwa kalimat la ilaha ilallah merupakan bentuk tauhid uluhiah yang meniadakan ilah selain allah, tauhid uluhiah ini berbeda dengan tauhid ubudiah yang menerangkan sudah cukup dengan kita dengan meyakini allah pencipta alam semesta, allah yang maha kuasa, sebagaimana orang2 kafir kuraisy meyakini bahwa allah adalah yang maha kuasa.
sedangkan tauhid uluhiah tidak sekedar meyakini saja allah sebagai tuhan, akan tetapi juga dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya

artinya orang kafir quraisy zaman dahulu telah menjalankan tauhid ubudiah mereka tapi mereka tidak menjalankan tauhid uluhiahnya...
dan seorang yang sempurna tauhid dan islamnya ialah yang telah menjalankan tauhid ubudiah dan tauhid uluhiah....

jdi intinya tauhid kita bkn sekedar yakin allah yang menciptakan, allah yang menguasai alam semesta... tapi juga menjalankan perintah2nya dan menjauhi larangannya..

kalau iman kita sudah baik hanya yakin dengan kebesaran allah tapi tidak tunduk kpada perintahnya maka iblis lah yang paling baik imannya, karena iblis pernah berkomunikasi langsung dengan allah dan sudah pasti yakin dengan kebesran allah. sayangnya iman kita bukan sekedar kita yakin dengan kebesrannya saja tapi juga harus tunduk pada perintahnya....


afwan klo salah, masih newbie...
mohon dikoreksi :) :) :) :) :) :)