Penulis Topik: tempatnya resensor mereview / meresensi buku  (Dibaca 7241 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« pada: Juni 14, 2010, 12:10:07 am »
coba bikin trit baru buat para resensor yang hobi merensensi / mereview buku yang sudah dibaca.

@ om faritz
disticky ya ini trit. :D

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #1 pada: Juni 14, 2010, 12:11:46 am »


Judul: Jejak Jihad SM. Kartosuwiryo    
Penulis: Irfan S. Awwas
Cetakan: 5, Maret 2008
Penerbit: Uswah, Yogyakarta
Tebal: 252 halaman


Dulu, setiap kali mendengar nama Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo (SM. Kartosuwiryo / SMK) yang terlintas pertama kali di benak saya adalah pemberontakan Darul  Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII) akhir tahun 50-an. Setidaknya begitulah informasi yang menerpa saya (dan mungkin juga semua siswa sekolah) saat pelajaran sejarah di kelas. Sekarang, pemahaman saya tentang SMK dan DI/TII perlahan berubah. Buku ini sedikit banyak membuka rahasia tersembunyi di balik nama SMK dan DI/TII-nya saat itu.

Kartosuwiryo lahir di Cepu, 7 Februari 1905. Setelah menamatkan sekolah dasar di Rembang dan Bojonegoro, SMK melanjutkan jenjang pendidikan di sekolah tinggi kedokteran di Surabaya. Menginjak usia 20-an SMK telah aktif di dunia perpolitikan dan organisasi keislaman. Hal ini membuat wawasan dan pengetahuannya tentang politik begitu luas, selain juga pengetahuan agamanya yang berkembang pesat. Tak heran jika di usianya yang ke-23 SMK didaulat sebagai sekjen PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) dan redaktur Fajar Asia.

Sejak masa mudanya, SM. Kartosuwiryo telah memperlihatkan kecenderungan yang kuat terhadap pergerakan politik Islam. Hal ini ditunjukkan dengan kegiatannya di dalam Syarekat Islam pimpinan HOS. COkroaminoto. Di Syarekat Islam inilah ia berguru pada HOS. Cokroaminoto mengenai taktik dan perjuangan partai dan mendapatkan ide untuk membentuk sebuah negara yang berlandaskan Islam.

Jejak jihad SM. Kartosuwiryo dimulai ketika ia mulai memperkenalkan ide Darul Islam secara terang-terangan di dalam PSII dan mempertahankan strategi politik partai saat itu: "hijrah"; bahwa hampir setiap tempat di mana kata hijrah  digunakan dalam al-Quran selalu diikuti dan diasosiasikan dengan jihad fi sabilillah. Tidak ada hijrah dianggap absah, jika di dalam hijrah cita-cita jihad tidak dilaksanakan. SMK juga mempertahankan sikap non-cooperasi partai (dalam istilah sekarang mungkin dikenal sebagai oposisi) dengan pemerintah kolonial Belanda.

Lazimnya sebuah partai politik pasti didera perpecahan, PSII pun demikian adanya. Ketika PSII setuju dengan gerakan mencapai parlemen, SMK beserta sahabat-sahabatnya menyatakan penolakannya terhadap putusan partai. Hal itu menyebabkan ia -yang saat itu menjabat wakil presiden partai- dikeluarkan dari kepengurusan partai. Ia lalu membentuk Komite Pertahanan Kebenaran PSII (KPK PSII) untuk mempertahankan PSII yang sebenarnya pada cita-cita awal. Dalam suatu rapat umum pada tahun 1940, KPK PSII mendirikan laboratorium pendidikan untuk mendidik kader-kader mujahid dengan nama "Institut Shuffah" di daerah Malangbong, Garut, Jawa Barat yang menjadi cikal bakal kelahiran Tentara Islam Indonesia (TII) yang dikenal dengan pasukan Hizbullah dan Sabilillah.

Perjanjian Renville pada tanggal 17 Januari 1948 memutuskan bahwa pasukan RI harus ditarik mundur dari daerah-daerah yang resmi dikuasai Belanda, yaitu meninggalkan daerah pertahanan mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur sebelum daerah Malang. Daerah RI hanya menyisakan Yogyakarta dan beberapa daerah sekitarnya. Dengan alasan perjuangan harus diteruskan, KPK PSII sepakat untuk menolak kompromi dengan Belanda dan menolak perjanjian Renville yang diadakan oleh pihak RI dan Belanda. Oleh karena itu, seluruh pasukan Hizbullah dan Sabilillah tidak diijinkan ikut pindah ke Yogyakarta.

Pada 10 Februari 1948 PSII mengadakan konferensi Cisayong yang menelurkan beberapa keputusan antara lain membentuk Majelis Islam dan mengangkat SMK sebagai imam dan panglima tinggi DI/TII. Yang perlu dicatat adalah bahwa pada saat pembentukan Negara Islam Indonesia (NII) Jawa Barat bukan lagi daerah milik RI (mengacu pada perjanjian Renville), tetapi daerah milik Belanda. Dan pada Desember 1948 Yogyakarta berhasil dikuasai Belanda dalam waktu 6 jam saja. Soekarno dan Hatta ditangkap dan dibuang ke Bangka. Pemerintahan RI menjadi vacum dan eksistensi Negara RI secara de facto sudah tidak ada. Pada 20 Desember 1948 ummat Islam di bawah komando SMK mengobarkan perang suci melawan Belanda. Pasukan TII berhasil merebut beberapa kantong pertahanan Belanda. Lalu, pada 7 Agustus 1949 dikumandangkanlah Proklamasi NII di Gunung Cupu, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pasukan RI mengambil kesempatan untuk kembali menguasai Jawa Barat saat terjadi pertempuran antara pasukan TII dengan Belanda, sehingga terjadilah perang segi tiga antara TNI-TII-Belanda. Dalam pertempuran segi tiga ini, TNI selalu dalam keadaan kalah dan lemah karena mereka tidak memiliki basis yang kuat dan tidak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Hal tersebut menyebabkan munculnya para pengecut dan penghianat di dalam TNI. Sebagian dari mereka menyerah dan bergabung dengan tentara Belanda.

Perang segi tiga tersebut berakhir setelah pada 27 Desember 1949 setelah adanya Konferensi Meja Bundar (KMB): RI menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat), Soekarno menjadi presiden RIS, dan RIS harus menghancurkan NII dan membayar rampasan perang. Maka, pada tahun 1950-an perang kembali meletus antara TNI yang dibantu Belanda melawan TII. Pada tahun-tahun tersebut beberapa divisi pasukan yang sebelumnya mendukung RI menyatakan bergabung dengan NII, antara lain pasukan Abu Daud Beureuh (Aceh), pasukan Ibnu Hajar (Kalimantan), pasukan Qahhar Muzakkar (Sulawesi), dan pasukan Mayor Munawar (Kudus).

Soekarno yang merasa posisinya terancam karena dukungan kepada NII semakin besar mulai mencari teman dan memperalat ummat Islam lain untuk memerangi NII dengan dalih bahwa NII adalah pemberontak terhadap Waliyyul Amri. Soekarno memanfaatkan dan membohongi ulama (NU) seluruh Indonesia pada pertemuan Cipanas tahun 1955.

SM. Kartosuwiryo tertangkap pada 4 Juni 1962 di gunung Geber. Setelah sebelumnya pada 1960-1962 pasukan RI dibawah pimpinan AH. Nasution menerapkan strategi PAGAR BETIS (PAsukan GAbungan Rakyat BErantas Tentara ISlam) dengan memanfaatkan rakyat sebagai umpan. SMK syahid dieksekusi regu tembak pada 5 September 1962 berdasarkan sidang tertutup secara kilat 14-16 Agustus 1962 yang memutuskan hukuman mati.

SM. Kartosuwiryo syahid sebelum cita-citanya tercapai, namun ia telah menebus cita-citanya yang mulia dengan darah dan jiwanya. Beberapa pernyataan ahli sejarah yang dicuplik dalam buku ini menyiratkan banyak sekali fakta sejarah yang telah disembunyikan oleh pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru. Oleh sebab itu, perlu keberanian untuk melakukan koreksi agar ummat Islam Indonesia tidak keliru dalam mengenal mujahid-mujahid Bangsa Indonesia.

Selamat membaca!
« Edit Terakhir: Juni 14, 2010, 12:18:24 am oleh ophelia »

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #2 pada: Juni 14, 2010, 12:24:10 am »


Judul: Kudeta Mekkah: Sejarah Yang Tak Terkuak
Penulis: Yaroslav Trofimov
Cetakan: I, Desember 2007
Penerbit: Pustaka Alvabet

Pada 20 November 1979, sebuah peristiwa besar terjadi di Kota Suci Mekkah. Sekelompok orang bersenjata pimpinan Juhaiman al-Utaibi, seorang Islamis -yang katanya radikal-, menguasai Masjidil Haram. Mereka memrotes maraknya korupsi di pemerintahan Arab Saudi. Gejolak politik pun meledak. Lalu, tentara Amerika dan Eropa bersatu membantu Pemerintahan Saudi memulihkan situasi di tanah suci.

Peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah modern Kota Mekkah. Meski demikian, kebanyakan orang, terutama kaum Muslim sendiri, tak paham apa yang sejatinya terjadi saat itu. Para pengamat politik dan sejarawan menganggap kejadian itu sebagai insiden lokal semata, dan karena itu tak bersangkut-paut dengan peristiwa internasional yang belakangan merebak: terorisme. Tetapi penulis buku ini -Yaroslav Trofimov- berpendapat sebaliknya. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori al-Qaeda.

Untuk menyibak detail peristiwa yang tak terkuak khalayak itu, Trofimov memburu sumber-sumber penting dan terpercaya, antara lain: pelaku 'gerakan 1979'; Paul Barril, kepala misi pasukan Perancis saat itu; tentara Arab Saudi; Perpustakaan British, satu-satunya tempat di Eropa yang menyimpan pelbagai surat kabar Saudi tahun 1979; arsip pemerintah AS dan Inggris yang berisi laporan rahasia dari para diplomat dan mata-mata; serta CIA dan British Foreign Office.

Selain tragedi 1970, buku ini juga memaparkan sejarah berdirinya kerajaan Saudi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia Internasional saat itu.  Buku ini disajikan dalam kemasan laporan berita berbentuk feature sehingga tidak membuat pembaca bosan saat membacanya.

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #3 pada: Juni 14, 2010, 12:26:28 am »


Judul: Gadis Kota Jerash
Penulis: Habiburrahman El Shirazy, dkk
Cetakan: I, November 2009
Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa (LPPH)

Kisah tentang Palestina memang salah satu topik cerita yang tidak akan pernah habis dibahas (sampai detik ini). Bagi umat Islam, Palestina memiliki sejarah tersendiri. Mulai dari yang membahagiakan, mengharukan, sampai yang membuat luka perih. Buku ini mencoba merangkum Palestina dari berbagai sudut. Kumpulan cerpen yang merupakan kado dari para penulis Forum Lingkar Pena (FLP) adalah salah satu bentuk kepedulian mereka atas kedzaliman Zionis di tanah Palestina.

Bagi saya yang seorang penggemar cerpen, beberapa cerita dalam buku ini terkesan sangat biasa. Tidak semua cerpen membuat saya memiliki keinginan untuk membacanya sampai habis. Sebagian saya paksakan untuk membacanya sampai titik terakhir. Tentu, karena mungkin selera cerita saya kurang sejalan dengan gaya bercerita beberapa cerpen dalam buku ini. Namun, ketujuhbelas cerita dalam kumpulan cerpen ini patut mendapat apresiasi karena banyak informasi berharga tentang Palestina di setiap ceritanya.

Gadis Kota Jerash, cerpen panjang tulisan Sinta Yudisia menjadi pembuka buku ini. Berkisah mengenai seorang gadis bernama Najma yang menistakan identitasnya sebagai putri Palestina. Najma justru lebih bangga disebut sebagai Gadis Yordania. Ia ingin melupakan darah Palestina yang mengalir di tubuhnya. Beruntung karena ada paman dan bibinya yang selalu menegaskan bahwa putri-putri Palestina adalah orang yang mulia.

Cinta dan Matahari karya Sakti Wibowo begitu memesonakan saya. Cerpen keenam dalam buku ini menggambarkan bagaimana kedua faksi yang berlawanan (Hamas dan Fatah) diceritakan begitu menawan melalui sosok kakak beradik (Mahmud dan Ismail). Seharusnya mereka (rakyat Palestina) sadar bahwa saat pertama kali Zionis merebut jengkal tanah Palestina, mereka adalah satu, tanpa mengenal faksi apapun, hanya Palestina. Sakti menyulap kata "jihad" dalam balutan kisah yang indah tanpa menghilangkan makna jihad itu sendiri.

Harmonika, Sepatu Bayi, dan Sungai Darah adalah cerpen lain yang memikat saya. Saya suka bagaimana Hendra menarasikan foto genangan darah di sebuah daerah di Gaza pada cerpen ketujuh ini.

Cerita terakhir (cerpen ketigabelas) yang saya suka adalah Parese karya Ragdi F. Daye. Saya dibawa masuk menyusur ke dalam terowongan-terowongan yang menghubungkan Palestina - Mesir melalui cerpen ini. Dan merasakan bagaimana tegangnya jika tiba-tiba lubang tempat mereka keluar runtuh dihantam bom Zionis.

Berikut tigabelas cerpen lainnya (sesuai urutan daftar isi):
- Bayi-bayi Tertawa - Habiburrahman El-Shirazy.
- Tiga Jam - Rahmat Heldy H.S.
- 21 Hari untuk gaza - W.D. Yoga.
- Boikot - Nova Ayu Maulita.
- Bait Tanya Aleya - Meutia Geumala.
- Menanti Palestina - Billy Antoro.
- Orang-orang Terowongan - Noor H. Dee.
- Abi, Bacakan Aku Cnta - Mardinata.
- Valentine for Gaza - Ria Fariana.
- EO 13221 - Melvi Yenra.
- Peta Palestina di Meja Keluarga - Rose F.N.
- Taman Surga - Prima Agung Saputra.
- janwo@freedom.com - Muhammad Yulius.

Akhirnya, tidak setiap sejarah dikabarkan jujur seperti aslinya. Banyak sejarah yang diselewengkan dan tidak sedikit sejarah yang terselewengkan tersebut menempati posisi hegemonik di tataran kehidupan dan sulit dirubah. Setidaknya setiap kita menjadi saksi atas sejarah sehingga kita tidak salah dalam menilai sebuah sejarah. Seperti apa yang ditulis oleh Irfan Hidayatullah dalam kata pengantar buku ini, "Mari kita catat nakbah itu. Mari jadi saksi peradaban yang suatu saat akan dijadikan bukti otentik betapa radius kezaliman Zionis itu telah begitu mendunia." (Hal. xiii)

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #4 pada: Juni 14, 2010, 12:27:26 am »


Judul: Seribu Kunang-kunang di Manhattan
Penulis: Umar Kayam
Cetakan: VII, September 2009
Penerbit: PT. Pustaka Utama Grafiti

Apa yang bisa kalian bayangkan tentang Manhattan? Sebuah pulau. Ya, sebuah kota-pulau yang mengelilingi kota New York (dengan beberapa pulau kecil lain) dan membentuk apa yang sekarang dikenal sebagai New York Country.

Apa yang istimewa dari sebuah pulau bernama Manhattan dalam buku ini? Umar Kayam. Ya, sastrawan Indonesia ini mendeskripsikan Manhattan dengan sangat baik. Seolah-olah saat membaca beberapa cerita dalam buku ini kita diajak oleh Umar Kayam berkeliling dan menjelajahi Manhattan dan kota-kota lain di New York.

Amazing alias menakjubkan. 6 (enam) dari 10 (sepuluh) cerita dalam buku ini mengulas kota Manhattan, perilaku masyarakat Manhattan, kebiasaan, kesenangan, bahkan kriminalitas sebagai latar belakang cerita. Yang menarik adalah bahwa setiap cerita meninggalkan kesan sendiri-sendiri. Setiap cerita mengalir begitu cepat seakan-akan ingin cepat diselesaikan, tapi saat sampai di kalimat akhir cerita tersebut samar yang membuat pembaca seperti melihat lukisan yang belum selesai sepenuhnya tapi sudah selesai. Ah, susah mendefinisikannya.

Hebatnya, "Seribu Kunang-kunang di Manhattan" yang menjadi judul buku ini bahkan diterjemahkan ke dalam 13 bahasa daerah Indonesia dan diterbitkan dengan judul buku yang sama.

4 (empat) cerita lain mengajak kita pergi dari Manhattan dan terbang jauh ke Indonesia saat tahun 60-an. Ketika komunis mulai mengakar kuat dan menancapkan ideologinya di Indonesia dan ketika komunis mulai tercerabut akar-akarnya dari Indonesia. 4 (empat) cerita terakhir adalah cerita pendek yang panjang (bukan cerpen koran tapi cerpen yang biasa muncul di Horison). Saya yang biasanya kelelahan membaca cerita pendek yang panjang di Horison merasa beda saat membaca cerita Umar Kayam dalam buku ini. "Bawuk" dan "Sri Sumarah", salah dua karya terbaik Umar Kayam yang dimasukkan ke dalam buku ini.

Dan jangan tanyakan bagaimana Umar Kayam menggambarkan peristiwa tahun 60-an/komunis dan penggambaran tokoh-tokoh dalam 4 (empat) cerita tersebut. Semua sangat mengagumkan dan detil. Sekali lagi, cara bercerita Umar Kayam dalam buku ini sangat berbeda dengan bagaimana dia bertutur dalam bukunya yang lain, kumpulan tulisan kolom Umar Kayam: Mangan Ora Mangan Kumpul.

Berikut kesepuluh cerita tersebut:
1. Seribu Kunang-kunang di Manhattan
2. Istriku, Madame Schlitz, dan Sang Raksasa
3. Sybil
4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat
5. Chief Sitting Bull
6. There Goes Tatum
7. Musim Gugur Kembali di Connecticut
8. Bawuk
9. Kimono Biru buat Istri
10. Sri Sumarah

Dus, pokoknya saya merasa beruntung bisa membaca karya salah satu sastrawan terbaik Indonesia ini.

Selamat Membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #5 pada: Juni 14, 2010, 12:31:13 am »


Judul: Linguae (Sejumlah Cerita)
Penulis: Seno Gumira Ajidarma (SGA)
Cetakan: Maret, 2007
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Menyimak nama penulisnya sudah barang tentu menjadi jaminan kualitas isi dari buku ini. Buku ini berisi sejumlah cerita, tepatnya 14 (empatbelas) cerita yang mengagumkan. Bukan bermaksud untuk melebih-lebihkan, tapi memang kenyataan berbicara seperti itu. 10 (sepuluh) dari 14 (empatbelas) cerita dalam buku ini pernah terpublikasikan di 2 (dua) koran nasional terbesar: Kompas dan Koran Tempo, dan terdepan dalam publikasi karya sastra (cerpen dan puisi). Boleh dikata, seseorang belum bisa disebut sebagai pengarang kaliber nasional jika karyanya belum terbit di 2 (dua) koran tersebut.

Sejumlah cerita dalam buku ini memiliki ciri khas masing-masing dan tidak terfokus pada satu tema. Tema cinta lebih mendominasi sejumlah cerita dalam buku ini, meski beberapa tema lain hadir pula dalam beberapa cerita, seperti kemiskinan, wabah penyakit, dan seputar kehidupan. Tiap cerpen menceritakan aneka kisah dan menyimpan aneka makna. Pembaca bebas menafsirkannya. Cerita-cerita di dalam buku ini sarat metafor dan sangat di luar batas nalar. Sejumlah cerita meski puitis sering tanpa akhir yang jelas. Tapi, itulah salah satu kenikmatan ketika membaca buku ini.

Keempatbelas cerita tersebut adalah:

1. “Cermin Maneka”. Maneka memiliki cermin ajaib milik yang bisa membawanya ke berbagai tempat (mirip pintu kemana saja Doraemon). Maneka yang merasa hari-harinya membosankan dan menyebalkan berharap ada perubahan dalam kehidupannya. Dan, taraaa... cermin ajaib Maneka memberikan jalan keluar. Maneka berhasil keluar dari kehidupan yang membosankan dan menjelajahi indahnya hutan, pantai, dan padang rumput. Namun pada suatu senja, cermin Maneka membawanya menuju sebuah tempat yang dipenuhi mayat dan membuatnya berderai airmata.

2. “Cintaku Jauh Di Komodo”. Pernahkah Anda membayangkan kekasih Anda adalah seekor Komodo? Dalam cerita ini SGA menyajikannya. Sepasang kekasih yang ditakdirkan selalu bersama dan setiap kali mati lalu dihidupkan kembali dalam wujud manusia mereka selalu bisa saling mengenali kemudian bersatu. Namun, pada kehidupan yang kesekian mereka bertemu dalam wujud yang berbeda: manusia dan komodo. pada akhirnya sang manusia menyerahkan jiwanya untuk dimakan komodo kekasihnya sebagai wujud pengorbanan cinta.

3. “Rembulan dalam Cappuccino”. Sebuah kafe menyediakan rembulan sebagai menu utamanya: rembulan dalam cappuccino. Namun di kota cahaya, tidak seorang pun yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak kecuali orang-orang romatis dan sok romantis. Dan rembulan menjadi pengobat kesedihan bagi orang-orang romantis yang merasa terbuang karena perpisahan -perceraian.

4. “Tong Setan”. Anda pasti tahu apa itu tong setan. Dalam cerita ini Anda akan dibawa berputar dan terus berputar seperti perputaran sepasang sepeda motor dalam tong setan yang juga berputar dan terus berputar sampai kesetanan sampai tidak bisa dibedakan mana yang setan dan mana yang kesetanan.

5. “Badak Kencana”. Mitos dewa badak yang melindungi badak-badak di Ujung Kulon dari kepunahan. Bagaimana bdak kencana akan selalu muncul setiap kali jumlah badak sampai pada titik kritis kemudian mengawini badak betina. SGA menyelipkan informasi tentang penculikan dan penemuan mayat di sekitar Ujung Kulon di dalam cerita ini. Khas SGA.

6. “Senja di Pulau Tanpa Nama”. Merasakan perasaan mencintai seseorang yang tidak diketahui siapa nama dan dimana tinggalnya. Merasakan perasaan ragu atas cinta dan diri sendiri. Semua itu ada dalam cerita ini.

7. “Linguae”. Diceritakan bahwa cinta hanya memiliki arti ketika seseorang masih memiliki lidah. Cinta mungkin tidak perlu kata-kata tetapi bagaimana nasib cinta jika para pecinta kehilangan lidahnya?

8.“Joko Swiwi”. Joko Swiwi lahir tanpa jelas siapa ayahnya. Lahir telah memiliki sepasang sayap dan bisa langsung tertawa. Ia menjadi kebanggaan desa dan mengangkat desanya dari keterpurukan. Lalu terjadilah bencana di luar desa yang mengakibatkan semua burung (dan makhluk bersayap lainnya) mati mendadak. Warga luar desa yang iri pada desa Joko Swiwi yang maju pesat menuduh Joko Swiwi sebagai penyebab wabah tersebut. Dan diburulah Joko Swiwi oleh warga luar desa.

9. “SimSalabim”. Sebuah wilayah bencana yang kehidupan warga dan daerahnya tidak pernah pulih seperti semula (meski sudah berganti presiden dan banyak pejabat yang berkunjung) kedatangan seorang tukang sulap yang kebetulan melewati wilayah tersebut. Warga yang tidak tahu lagi harus berbuat apa meminta tukang sulap untuk menyulap kehidupan mereka seperti keadaan semula. Menurut mereka hanya sulaplah yang bisa mengubah nasib buruk mereka.

10.“Sebatang Pohon di tengah Padang”. Sebatang pohon yang menjadi oase dan tempat hidup bagi kehidupan sekitarnya yang begitu kering dan tandus. DImana kekeringan yang begitu luas dan padang tandus yang tak bertepi hanya berakhir di pohon tersebut. Selebar diameter bayangan pohon tersebut adalah daerah subur yang tidak pernah kekurangan apapun. Apakah ini seperti pohon beringin itu?

11. “Gerobak”. Gerobak-gerobak berisi manusia yang berasal dari Negeri Kemiskinan yang terendam lumpur selalu muncul setiap sepuluh hari sebelum Lebaran  dari berbagai sudut kota untuk mengemis di Kota. Mereka akan kembali pulang dan menghilang setelah Lebaran. Namun, Lebaran kali ini berbeda, mereka justru bertambah semakin banyak dan memenuhi setiap sudut kota.

12. “Perahu Nelayan Melintas Cakrawala”. Perpisahan membuat waktu berjalan sangat lambat seperti sebuah perahu yang bergerak lebih lambat dari waktu. Seolah-olah orang yang mengalami perpisahan terjebak dan terpenjara dalam sebuah kartu pos: waktu membeku dan di luarnya waktu terus berjalan.

13. “Kopi, dan Lain-lain”. Saat sebuah perpisahan menjadi sebuah keharusan dan ketiadaan harapan merupakan sebuah kepastian, nilai sebuah barang yang memiliki kenangan menjadi sangat berharga. Dalam cerita ini kopi, bungkus gula, bekas bungkus gula, bungkus garam, dan bungkus merica menjadi kenangan yang tidak akan mungkin terlupakan.

14.  “Senja di Kaca Spion”. Apa yang akan terjadi jika matahari menjadi tiga? Di kaca spion mobilnya, matahari senja menjadi tiga buah: tengah, kanan, dan kiri. Ternyata apa yang telah tertinggal di belakang yang dilihatnya melalui tiga kaca spionnya) tidak bisa diulang kembali. Begitulah kehidupan ini.

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #6 pada: Juni 14, 2010, 12:35:01 am »


Judul: Aku Kesepian, Sayang, Datanglah Menjelang Kematian
Penulis: Seno Gumira Ajidarma (SGA)
Cetakan: Februari, 2004
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Rumah adalah semesta manusia. Semesta adalah rumah manusia. Suka atau tidak, manusia berumah dalam semesta, menjadikan rumah dan semesta sebagai dunianya -dan tiada tempat lain ke mana ia bisa pergi jika tidak bisa hidup di dalamnya. Limabelas cerita dalam buku ini berkisah tentang mereka yang harus hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga mereka terasing -seperti mungkin dialami setiap orang yang terlanjur lahir meski tidak meminta: mungkin saja seperti Anda.

Begitu-lah bunyi sinopsis yang melekat di cover belakang buku ini. Buku ini memuat (15) limabelas cerita tentang kesepian dan keterasingan, meski berada di rumah sendiri. SGA berusaha menceritakan kesepian dan keterasingan yang ia temui di tiap perjalanannya melancong ke berbagai kota (di Indonesia maupun di dunia). Berikut ke-limabelas cerpen dalam buku ini dan petikan tentang kesepian dan keterasingan tersebut (menurut saya tentu saja):

1. “Aku Kesepian Sayang, Datanglah Menjelang Kematian”


Malam adalah suatu akhir, namun bagi perempuan itu, malam adalah awal dari sebuah perjalanan yang panjang.
(hal. 2)

2. “Hari Pertama di Beijing”
 
Saya tidak pernah melupakan tatapan itu, tatapan mata dua manusia yang masing-masing sebelah tangannya terborgol dan dikuncikan ke pagar, sementara orang-orang yang lewat hanya menoleh sejenak tanpa pernah menghentikan langkahnya. Termasuk saya. (hal. 22)

3. “Melodrama di Negeri Komunis”


"Di negeri ini, gagasan tentang ketidakjelasan adalah sesuatu yang harus dijauhi, atau dihapuskan sama sekali, seperti bagaimana menghapuskan apa yang kamu sebut Tuhan..."
(hal. 44)

4. “Mmmwwwhhh!”
 
"Berapa lama kita akan berciuman sampai mati rasa?"
"Kenapa emang?"
"Jam berapa gitu aku mesti pulang."
"Kenapa mesti pulang?"
"Yah, tahu sendirilah..."
"Nggak, aku nggak tahu."
"Payah, kamu sendiri seorang istri, kan? Apa nggak pernah pura-puranya mengharap suamimu pulang?"
"Pura-puranya sih selalu."
"Hahahaha!"
(hal. 55-56)

5. “Kyoto Monogatari”

Terbuat dari apakah kenangan? Bagaimanakah caranya melepaskan diri dari kenangan, dari masa lalu yang tiada pernah sudi melepaskan cengkeraman kepahitannya pada masa kini?
(hal. 63)

6. “Legenda Wongasu”

"Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah," kata istrinya dahulu. (hal. 73)

7. “Topeng Monyet”

Apa maksud Tuanku memberi tugas seperti ini, mengikuti roh keluar masuk tubuh dari abad ke abad?
(hal. 108)

8. “Layang-layang”

Bisakah kau bayangkan suatu perasaan apabila kita memegang benang dari layang-layang yang tidak kelihatan di langit malam, dengan pengetahuan bahwa benang itu menghubungkan kita dengan sesuatu yang belum kita ketahui di atas sana?
(hal. 112)

9. “Avi"

"Aku ingin tetap berada di dalam dunia mimpi ini, dunia tempat aku bisa berpose dengan abadi, tanpa diganggu oleh kenyataan sama sekali. Biarlah aku tetap di sini, dunia mimpi yang indah dan abadi..."
(hal. 134)

10. “Dua Perempuan dengan HP-nya”

Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Dua perempuan yang tampaknya matang, tampaknya dewasa, dan tampaknya tahu benar apa yang dikehedakinya. (hal. 136)

11. “Hhhhh…”

"Hidup kok seperti ini. Sepi. Sunyi seperti di bulan. Udara hampa. Sibuk berangan-angan. Tiada berkawan. Tiada berlawan. Hidup kok seperti ini. Lebih baik mati..." (hal. 147)

12. “Aku dan Bayanganku”

Aku makin jauh dari diriku. Menyatu dalam bayang-bayang gerak orang yang lalu lalang di jalan. (hal. 156)

13. “Dunia Gorda”

"Aku tak tahan lagi Ella, aku tak tahan, segalanya serba melelahkan...Dua kali terlalu banyak untukku Ella, aku mau hidup di satu alam saja, itu sudah cukup memusingkan dan cukup membahagiakan, aku tak menuntut terlalu banyak."  (hal. 171)

14. “Penjaga Malam dan Tiang Listrik”

Ia selalu menjaga malam, agar malam tetap menjadi malam yang paling dimungkinkan oleh malam. Ia menjaga malam, agar bulan tetap menjadi rembulan seperti yang dipandang manusia di dari bumi setiap malam.
(hal. 176)

15. “Komidi Putar”

Dari jendela dapur, ibunya memandang anak di kandang kuda yang kosong itu dengan sedih. "Lagi-lagi anak itu bicara dengan dirinya sendiri," gumamnya. (hal. 189)

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #7 pada: Juni 14, 2010, 12:37:32 am »


Judul: Girl-ism
Penulis: Desi Puspitasari
Cetakan: November 2009
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Sufiks -isme berasal dari bahasa Yunani -ismos, Latin -ismus, dan Perancis Kuna -isme. Akhiran ini menandakan suatu faham atau ajaran atau kepercayaan. Beberapa agama yang bersumber kepada kepercayaan tertentu memiliki sufiks -isme. Misal, untuk agama ada Buddhisme, Yudaisme, Mormonisme, dll; untuk doktrin atau filosofi ada pasifisme, olimpisme, nihilisme, dll; untuk teori yang dikembangkan oleh orang tertentu ada Marxisme, Maoisme, Leninisme, dll. (sumber: wikipedia)

Novel ini -Girl-ism- adalah faham tentang ke-cewek-an. Ialah 10 (sepuluh) faham atau hal-hal mengenai cara menjadi cewek sejati. Misalnya: tidak mengupil di tempat umum, tidak kentut sembarangan, tidak bersendawa keras-keras, harus merawat kehalusan kulit supaya tidak ber"tato", dan masih banyak yang lain. Namun 10 (sepuluh) hal tersebut tidak tuntas dijelaskan dalam novel ini.

Justru saya mendapatkan "jurus" lain dalam novel ini yang bisa jadi ampuh untuk menaklukan apapun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, yaitu menjadi diri sendiri.

"Kamu lagi jatuh cinta, ya?" tuduh Fandhy langsung. "Kan aku pernah bilang, jangan pernah mencoba berubah karena cinta! Just be yourself!" (hal. 194)

Desi, seorang cewek SMA yang tomboi. Gendut, jago silat, pintar fisika, suka memasak, senang musik jazz dan rock, juga seorang montir sepeda motor amatir. Menurut teman-temannya, Desi dengan dandanan sehari-harinya lebih menyerupai seorang preman daripada sosok seorang cewek. Itu sebabnya, Tina dan Dini, begitu bersemangat untuk merubah Desi menjadi seorang cewek sejati. Begitu juga Desi, selalu penuh semangat mengindari ajaran-ajaran mereka.

Hingga cinta-lah yang mampu merubah pendirian Desi. Mendadak Desi ingin belajar menjadi seorang cewek: memakai rok, dandan, menggerai rambutnya, bertanya ini-itu tentang ke-cewek-an pada Tini dan Desi, dan rajin mandi.

Malang, cinta Desi bertepuk sebelah tangan. Agung -cowok yang ditaksir Desi- ternyata sudah memiliki kekasih. Rontoklah pendirian baru Desi. Dia berubah lagi menjadi seorang preman.

Namun akhirnya Desi sadar bahwa menjadi diri sendiri adalah yang terpenting. Dia tetap menjadi cewek yang jago silat, tapi juga bisa bikin kue. Dia suka musik jazz dan rock, namun tetap pintar fisika. Dan dia bisa tetap memakai rok sambil benerin motor sendiri.

Mm, saya suka tokoh Tina yang serba tau hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang cewek. Dia tahu:

"Sepuluh hal yang nggak boleh dilakuin sama cewek..."
(hal. 11)

"Sepuluh hal yang nggak boleh cewek lakuin di muka umum."
(hal. 41)

"...sepuluh tanda cewek jatuh cinta..."
(hal. 81)

"...sepuluh cara mendapatkan cowok idaman kita yang udah punya cewek."
(hal. 120)

"...sepuluh cara mengubah preman menjadi cewek sejati."
(hal. 137)

"...sepuluh tanda cowok putus cinta..."
(hal. 167)

"...sepuluh cara mengubah tatanan rambut dalam beberapa menit..."
(hal. 182)

"...sepuluh cara membalas kejahatan teman kita yang merusak rambut."
(hal. 183)

"Sepuluh hal yang nggak boleh dilakuin kalau lagi pacaran."
(hal. 186)

"...sepuluh cara menjaga si preman supaya tetap mau pakai rok."
(hal. 191)

"...sepuluh cara menjaga Desi biar tetap gendut, pipinya tembem, hitam, ceroboh, suka ketawa-ketawa sendiri."
(hal. 196)

Ini novel teenlit kedua yang saya baca. Sebelumnya ada "Dealova" milik sepupu dan itu sudah lamaaa sekali. Faktor penulis yang paling memengaruhi saya untuk membeli dan membacanya.

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #8 pada: Juni 14, 2010, 12:39:25 am »


Judul: Galaksi Kinanthi, Sekali Mencintai Sudah itu Mati?
Penulis: Tasaro GK
Cetakan: 2009
Penerbit: Salamadani


Kisah cinta yang sangat melelahkan. Itu poin saya untuk novel ini.

Bisakah kalian bayangkan bagaimana rasanya menahan perasaan cinta untuk orang lain hampir selama 20 tahun hanya untuk cinta kalian kepada seseorang yang setiap malam menghantui mimip-mimpi kalian? Bisakah kalian bayangkan pula jika kalian kehilangan perasaan untuk mencintai orang lain sepanjang hidup kalian? Ya, sangat melelahkan.

Saya merasakan lelah yang dirasakan oleh Kinanthi -tokoh utama dalam novel ini. Perjalanan yang menguras banyak tenaga dan emosi Kinanthi dari Gunung Kidul - Bandung - Riyadh - Kuwait - Miami - New York - Washington DC sampai ia kembali lagi ke Gunung Kidul.

Perjalanan melelahkan itu dimulai dari masa kecil Kinanthi yang tidak menyenangkan. Dijauhi teman-teman, penuh cibiran dan ejekan, bahkan dijual oleh orang tua kandung dialami Kinanthi kecil sampai tamat sekolah dasar. Masa sekolah menengah pertama (hanya satu tahun tidak sampai tamat) dijalani sebagai pembantu rumah tangga dengan akhir yang tragis: dijual ke perusahaan jasa tenaga kerja (PJTK).

Masa remaja yang getir. Belum genap 17 tahun usianya, Kinanthi harus merasakan pahitnya hidup sebagai tenaga kerja wanita di tanah Arab. Disiksa, dirampas hak-haknya, dilecehkan, melarikan diri, bahkan menjadi korban trafficking -mafia perdagangan manusia. Sebelum akhirnya mendapat suaka dari pemerintah Amerika dan mendapat hak untuk mengenyam pendidikan.

Amerika telah menjadikan Kinanthi semakin cerdas. Kinanthi dewasa menjadi seorang profesor ternama, pengarang buku nomor 1 (satu) di Amerika dan mendapat julukan Queen of New York.

Melelahkan, sungguh melelahkan. Hidup Kinanthi tak sesempurna yang tampak dari luar karena bayangan Ajuj yang terus hidup dalam benak Kinanthi. Ajuj: seseorang yang selalu menemani hari-hari Kinanthi kecil. Ajuj juga sosok yang siap Kinanthi andalkan kapanpun ia butuh di tengah kegetiran hidupnya kala itu.

Setelah melalui episode suram hidupnya dan memperoleh kesuksesannya, Kinanthi masih harus berjuang untuk melupakan Ajuj. Ajuj terpenjara dan terus bersemayam dalam otak Kinanthi. Ia selalu mendatangi mimpi Kinanthi meski mereka telah terpisah jarak waktu hampir 20 tahun.

Hingga akhirnya Kinanthi memutuskan kembali ke Gunung Kidul.

Disinilah perjalanan melelahkan itu kembali dimulai. Kembali mencari Ajuj. Mencari sosok yang membuatnya menangis dalam mimpi. Lelaki yang membuatnya menutup pintu hati untuk lelaki lain. Lelaki yang Kinanthi cintai dengan sangat melelahkan.

Hal yang menarik bagi saya adalah gaya penceritaan Tasaro yang mengagumkan. Membaca novel ini seperti menonton film. Bagian per bagian berpindah cepat ke bagian lain namun tidak terburu-buru dan sangat pas (tidak terlalu panjang atau pendek). Hal lain adalah informasi yang begitu luas yang disuguhkan Tasaro dalam novel ini, terutama tentang astronomi (konstelasi bintang) dan tempat-tempat menakjubkan di Amerika.

Dan tahukah kalian? Bahwa:

“…, bagiku, Galakis Cinta tidak akan pernah tiada. Ketika malam tak terlalu purnama, lalu kausaksikan bintang-bintang membentuk rasi menurut keinginan-Nya cari aku di Galaksi Cinta. Aku tetap akan ada disana.
Tersenyumlah… Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu.”
(hal. 374-375)

“Simbok tahu apa yang dialami Kinanthi selama belasan tahun ini, Mbok? Dia berjuang sendirian menempuh maut, dijual berulang-ulang seperti barang. Dan, dia hanya ingin berbagi ceritan denganku. Dan aku,” suara Ajuj benar-benar pecah, hancur, “dan aku sama sekali tidak pernah tahu dia mengirimiku surat setiap hari. Setiap hari, Mbok.”
“Simbok hanya ndak mau kamu berharap banyak, Le. Bapakmu….”
“Ini tidak ada hubungannya dengan Bapak, orang-orang dusun, atau siapapun, Mbok. Kinanthi hanya butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Mengapa kita begitu kikir untuk memberikan telinga kita, sekadar untuk mendengarkan?”
(hal. 367)

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #9 pada: Juni 14, 2010, 12:42:08 am »


Judul: Senja Bersama Rosie
Penulis: Darwis Darwis
Cetakan: I, Oktober 2008
Penerbit: Grafidia (PT. Grafindo Media Pratama)



Apa yang akan terjadi jika kita dihadapkan pada kesempatan kedua untuk mendapatkan cinta pertama yang telah terlupakan selama tiga belas tahun? Sementara pada saat yang sama kita dihadapkan dengan cinta yang baru?

Hal tersebut yang saya dapatkan setelah selesai membaca novel ini. Cinta pertama dan perasaan cinta yang sangat besar, kesempatan, dilema, dan cinta segitiga . Sejatinya cinta pertama tidak akan pernah terlupakan. Setidaknya begitulah yang terekam di benak semua orang. Cinta pertama adalah perasaan cinta yang sangat besar dan luar biasa. Itulah sebabnya ia menjadi sebuah keindahan yang menakjubkan saat mendapatkan sambutan dan akan menjadi menyakitkan dan sangat sulit dilupakan saat ia tidak bersambut.

Tegar, tokoh utama dalam novel ini mengalaminya. Lima tahun waktu yang dibutuhkannya untuk berdamai dengan perasaan yang sangat besar tersebut. Mengubur dalam-dalam dan melupakan Rosie, cinta pertamanya. Hanya karena satu hal sepele: mengungkapkan, Tegar harus merasakan pedihnya saat-saat sendirian selama lima tahun. Ya, Tegar tidak berani mengungkapan rasa cintanya kepada Rosie. Begitu pula dengan Rosie (di bagian akhir novel diceritakan bahwa sebenarnya Rosie juga sangat mencintai Tegar). Hingga datanglah Dani, teman Tegar dan Rosie yang mendahului Tegar mengungkapkan perasaannya kepada Rosie dan meminangnya lalu hidup berselimut bahagia selama tiga belas tahun dengan empat orang putri.

Dan dalam rentang waktu tiga belas tahun (dikurangi lima tahun proses berdamai) Tegar menemukan cinta yang baru: cinta dengan pengertian baru, yaitu Sekar. Mereka (Tegar-Sekar) berencana menikah. Sekar seperti halnya Tegar mencintai Rosie, Perasaannya begitu besar kepada Tegar.

Hingga bom Bali 2 mengacaukan segalanya: pernikahan Tegar-Sekar dan kebahagiaan keluarga Rosie-Dani.

Dani meninggal akibat bom dan Rosie depresi berat. Mau tidak mau Tegar harus mengurusi Rosie dan anak-anaknya. Waktu Tegar terkuras habis di Bali untuk memulihkan kondisi Rosie dan di Lombok untuk mengurus anak-anak. Sementara waktu menelantarkan hidupnya, karir dan cintanya yang baru.

Boleh dikata, Tegar mengalami dilema cinta. Antara memilih Sekar (yang ternyata masih menunggunya selama dua tahun waktunya di Bali dan Lombok) atau Rosie dan anak-anaknya (cinta Tegar yang ternyata masih saja besar kepada mereka).

Dan Tegar akhrinya memilih Sekar demi janji dan kesempatan yang telah diberikan Sekar kepadanya selama proses berdamai dengan masa lalu. Di hari pernikahan mereka, kejutan datang, Rosie dan anak-anaknya menghadiri upacara pernikahan mereka. Dan bisa ditebak ending novel ini: mirip kisah-kisah di film India (Misal, Kuch-kuch ho ta hai). Sebenarnya saya tidak suka ending novel ini. Sangat biasa. Namun, meski biasa, ada kredit tersendiri buat penulis karena penyampaiannya yang aduhai.

Saya kutipkan beberapa hal yang saya suka dari novel ini:

Bagiku waktu selalu pagi. Di antara seluruh potongan 24 jam sehari, bagiku pagi adalah waktu terindah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan, ketika harapan-harapan baru merekah seiring kabut yang mengambang di pesawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari lagi yang melelahkan telah terlampaui. Satu malam lagi dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati. Malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan dan helaan napas tertahan. (hal. 1-2)

Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta yang sangat besar justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun itu bukan dengan lelaki yang dicintainya.

Tapi, bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya
. (hal. 172)

"Kau terlampau mencintai Rosie, Tegar.... Maka hatimu terkadang sering menelikung. kau dulu sering bertanya apakah kau punya kesempatan? Biarlah Oma yang menjawab malam ini.... Kalian berdua tidak pernah berani membuat kesempatan itu dengan tangan sendiri.... Betapa tidak beruntungnya! Kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatan itu kepada suratan nasib...." (hal.444-445)

Dan sepanjang membaca novel ini, saya dimanjakan dengan deskripsi senja yang sangat indah saat selama 47 detik matahari perlahan tenggalam di garis cakrawala dan menghilang. Juga keindahan pantai dan laut Lombok. Dan yang paling penting: karakter empat anak Rosie yang digambarkan begitu sempurna.

Selamat membaca!

ophelia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.713
  • Reputasi: 13
  • Jenis kelamin: Pria
  • ophelia: that is me
    • Lihat Profil
Re: tempatnya resensor mereview / meresensi buku
« Jawab #10 pada: Juni 24, 2010, 03:14:44 am »


Judul: The Road to the Empire    
Penulis: Sinta Yudisia
Cetakan: Kedua, Februari 2009
Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Tebal: ix + 573 halaman


Bagi sebagian orang novel berhalaman tebal cepat membuat mereka bosan dan mungkin malas untuk membacanya, tetapi tidak untuk novel ini.

Takudar, Arghun, dan Buzun adalah tiga putra Tuqluq Timur Khan, penguasa kekaisaran Mongolia, keturunan Jengiz Khan. Semasa hidupnya Tuqluq Timur Khan berjanji kepada Syaikh Jamaluddin bahwa ia akan menjadi seorang Muslim usai menyatukan Mongolia. Belum sempat menunaikan janjinya terjadi kudeta yang menewaskan Tuqluq Timur Khan dan Permaisuri Ilkhata. Sebelum meninggal, Tuqluq Timur Khan telah mewariskan janjinya kepada Takudar, sedangkan Syaikh Jamaluddin kepada Rasyiduddin.

Tuqluq Timur Khan memimpin Mongolia dengan sangat bijaksana dan arif, namun semua berubah setelah kematiannya. Kekaisaran Mongol beralih kepada pemimpin yang kejam dan sangat mencintai peperangan.

Arghun, Pangeran Kedua naik tahta secara otomatis dengan penuh konspirasi atas bantuan Albuqa Khan, panglima kepercayaan Kaisar Tuqluq setelah Pangeran Kesatu, Takudar, pewaris sah tahta kekaisaran menghilang bersama pelayan setianya. Sementara Buzun, Pangeran Ketiga, tetap mengabdi di kekaisaran dan sesekali mencari tahu keberadaan Takudar.

Di bawah bayang-bayang Albuqa Khan, Arghun menjadi Kaisar yang sangat ambisius dan bersemangat menaklukan dunia. Sebagai Panglima Besar Mongol dan satu-satunya penasihat Kaisar, Albuqa Khan dengan mudah menyetir Arghun untuk bertindak sesuai keinginannya. Albuqa Khan meyakinkan Arghun akan wasiat Jengiz Khan kepada putra-putranya bahwa hanya ada satu matahari di langit dan meneruskan ekspansi Mongol ke wilayah barat ke arah jantung dunia: Jerusalem. Arghun yang berhati keras dan mudah terpengaruh ucapan Albuqa Khan mulai menyiapkan pasukan demi mewujudkan cita-cita Jengiz Khan tersebut.

Sementara itu dalam pelariannya, Takdir Tuhan mempertemukan Takudar dengan Rasyiduddin atau Salim di Syakhrisyabz. Di wilayah muslim Mongol tersebut Takudar berikrar menjadi seorang Muslim dengan nama Islam Takudar Muhammad Khan. Agar tidak membahayakan dirinya, Takudar lalu menyembunyikan identitas diri dengan menyamar menjadi rakyat jelata dan mengubah namanya menjadi Baruji.

Bersama orang-orang Muslim, Baruji merencanakan perlawanan dan menggalang pasukan untuk merebut tahta kekaisaran. Kepercayaan umat Muslim akan janji Kaisar Tuqluq Timur Khan terwariskan kepada Baruji. Mereka percaya bahwa Pangeran Kesatu akan memenuhi janji tersebut. Bagi Muslim Mongol, Baruji adalah sebuah harapan, Asa akan sebuah keadilan dan naungan bagi ribuan rakyat dalam prahara.

Layaknya sebagian besar fiksi lain, novel ini pun berbalut bumbu romantisme dengan kehadiran perempuan-perempuan yang memiliki peran masing-masing. Uchatadara atau Almamuchi, dayang pribadi Pangeran Kesatu yang mendapat mandat dari Permaisuri Ilkhata untuk melayani dan menjaga Takudar meski harus berkorban nyawa. Urghana, putri Albuqa Khan yang dicintai Arghun tapi mencintai Buzun. Selir Albuqa Khan, Han Shiang yang sama liciknya dengan Albuqa Khan. Juga Karadiza, gadis muslim pemberani dan lugas.

Novel ini adalah jawaban dari kisah panjang menggetarkan yang dimulai oleh "Sebuah Janji" Kaisar Tuqluq Timur Khan untuk menyatukan Mongol di bawah kepemimpinan kekaisaran Muslim (http://www.goodreads.com/book/show/1893685.Sebuah_Janji) dan pelarian lama nan melelahkan Takudar dalam "The Lost Prince" (http://www.goodreads.com/book/show/6692469-the-lost-prince).

Selamat membaca!
« Edit Terakhir: Juni 24, 2010, 03:32:44 am oleh ophelia »