Penulis Topik: "Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"  (Dibaca 13662 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #15 pada: November 15, 2010, 08:20:13 pm »
Hari gene mencintai nggk memiliki. Mencintai harus memiliki. Apa gunanya bersabar menahan? Entar sia-sia donk. So kalo belum siap jangan mencinta. Kasihan pasangannya yang masih gaib.
apa gunanya bersabar menahan?
ya berguna dong mas.. kalo ga ditahan namanya menuruti hawa nafsu

ada masanya
ketika hati terpaku memandangnya
berbunga-bunga dibuatnya
mau menolak tak ada daya
karena kalbu ada di tangan-Nya
Dia yang membolak-balikannya

tapi orang berakal tau caranya
dengan bekal iman di dada dan rasio di kepala
jika belum mampu dirinya
tidak diturutkan itu rasa cinta
disimpanlah ia dalam dzikirnya
percaya yang terbaik akan datang untuknya

cintai dalam diam
kurang lebih seperti yang ditulis mbak rabasimlisitkhu
mencintainya.. tapi tidak memaksakan cintanya
bukan mencintai untuk memiliki.. tapi mencintai Yang Memiliki

ah... lebay... :p

Quest2

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 12
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #16 pada: November 15, 2010, 09:59:11 pm »
Hari gene mencintai nggk memiliki. Mencintai harus memiliki. Apa gunanya bersabar menahan? Entar sia-sia donk. So kalo belum siap jangan mencinta. Kasihan pasangannya yang masih gaib.
apa gunanya bersabar menahan?
ya berguna dong mas.. kalo ga ditahan namanya menuruti hawa nafsu

ada masanya
ketika hati terpaku memandangnya
berbunga-bunga dibuatnya
mau menolak tak ada daya
karena kalbu ada di tangan-Nya
Dia yang membolak-balikannya

tapi orang berakal tau caranya
dengan bekal iman di dada dan rasio di kepala
jika belum mampu dirinya
tidak diturutkan itu rasa cinta
disimpanlah ia dalam dzikirnya
percaya yang terbaik akan datang untuknya

cintai dalam diam
kurang lebih seperti yang ditulis mbak rabasimlisitkhu
mencintainya.. tapi tidak memaksakan cintanya
bukan mencintai untuk memiliki.. tapi mencintai Yang Memiliki

ah... lebay... :p

Maksud saya, buat apa menahan untuk sesuatu yang tidak jelas? Kan tidak jelas apa dia yang kan jadi jodoh kita atau tidak.

Yang mas sebut dengan hati terpukau dan berbunga-bunga itu 'jatuh hati' dalam hemat saya. Saya mengatakan ini karena ingin mengingatkan tema disini itu cinta, bukan jatuh hati.
Semua orang mengalami jatuh hati. Sayang 'jatuh hati' ini dengan tergesa-gesa divonis oleh sebagian orang sebagai cinta. Cinta itu lebih dari jatuh hati, ada hal-hal yang harus dipenuhi.
Saya berani jamin siapa yang membiarkan perasaan 'jatuh hati' nya  pada seseorang bersemayam dalam dirinya dengan alasan mencintai dalam diam akan terjebak pada hayalan, angan yang dihembuskan setan ke dalam hati dan pikirannya. Nanti kita begini...nanti kita akan begitu. Meski kecil pasti ada.

So kalo jatuh hati atau katakanlah mencintai seperti yang anda-anda percayai, bila belum siap untuk mewujudkannya dengan pernikahan, ya stop. Lupakan. Hentikan. Jangan bermain pada hal-hal yang syubhat. Ini hati bung.

Lagi-lagi sebuah keanehan bagi orang yang mengaku punya iman dan rasio. Rasa tertarik sesaat ini-yang tidak jelas kemana ujungnya- akan anda simpan dalam dzikir? Kenapa harus disimpan? Tanggung mas. Anda mengatakan pada diri anda "Saya sedang mengendalikan hawa nafsu dengan tidak mengungkapkan perasaan saya ini karena saya memang belum siap" Tapi di waktu yang sama anda memendam, menyimpan perasaan yang mungkin menggelincirkan anda pada angan, hayalan yang muluk-muluk.

Dari saya dan untuk saya, kalau kasih alasan jangan pake puisi donk. Terlalu luas tafsirnya nanti. Nggk paham dan nggk nyambung ngobrolnya.   
 

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #17 pada: November 16, 2010, 01:30:15 pm »
hihihi...
kebagusan tulisan saya kalo dibilang puisi  :p

ini definisi jatuh cinta dan jatuh hati menurut KUBI
jatuh cinta:  menaruh cinta kpd
jatuh hati: menaruh cinta (kasih) kpd
ada bedanya?  :-??

salah satu jenis cinta menurut Ibnul Qayyim rahimahullahu:
Cinta mubah (yang dibolehkan) . Seperti cinta seorang laki-laki ketika disebutkan kepadanya sosok seorang wanita jelita, atau ketika seorang laki-laki melihat wanita secara kebetulan lalu hatinya terpaut kepada wanita tersebut, dengan catatan tidak ada unsur maksiat dalam jatuh cinta itu. Cinta semacam ini pelakunya tidak dibebani dosa dan siksa, namun lebih baik menghindar dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan yang lebih bermanfaat lagi positif, serta wajib baginya merahasiakan hal itu. Apabila menjaga dan sabar terhadap suatu hal yang berbau negatif, niscaya Allah ta’ala akan memberikan ganjaran pahala kepadanya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.
itu juga "cinta" dalam diam khan?  :-??

samakan dulu deh persepsi kita..
apa definisi jatuh hati menurut anda?
apa definisi cinta menurut anda?
 :)

oiya satu lagi...
ada yang salah dengan menyimpan cinta dalam zikir kepada Allah?
bukannya justru dalam zikir kepada Allah, cinta itu tidak membuat si pecinta tergelincir, berangan-angan dan berkhayal?
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" [QS Ar-Ra'du (13): 28]

calon_akhwat

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.737
  • Reputasi: 56
    • Lihat Profil
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #18 pada: November 16, 2010, 04:35:58 pm »
mencintai dalam diam justru lebih sulit loh :)
karena "diam" yg dimaksud disini bukan diam tanpa usaha, tapi berharap dan berusaha untuk merengkuh cinta itu dalam Ridho Alloh swt...
berharapnya, agar sosok tersebut menjadi "ia" yg Alloh swt taqdirkan
dan berusahanya mendapat "simpati" dari Alloh swt dengan berbuat baik terus menerus supaya terkabulnya harapan.

ali syarifudin

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 129
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #19 pada: November 30, 2010, 03:04:31 pm »
betul ni kisah ali dan fatimah....


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan! ‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” ”Aku?”, tanyanya tak yakin. ”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?” ”Entahlah..” ”Apa maksudmu?” ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!” ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

?

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” :) :) :)

indahamisani

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 19
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
    • Face Lift Cream Tips and Guide
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #20 pada: Mei 21, 2011, 09:46:47 am »
Belum siap atau tidak pernah akan siap??



ir_one

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 525
  • Reputasi: 4
  • undzur shurotii......
    • Lihat Profil
Re:"Jika belum siap, Cintai ia dalam DIAM"
« Jawab #21 pada: Oktober 28, 2012, 01:54:55 pm »
mengingatkan nasihat slah satu akhwat padaku beberapa tahun yang lalu.....^^
semoga dia tetap dalam lindunganNya....Aamiin...