Penulis Topik: BAGAIMANA MENYIKAPI PERPECAHAN UMAT  (Dibaca 1365 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

whitenetral

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 34
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
BAGAIMANA MENYIKAPI PERPECAHAN UMAT
« pada: April 14, 2010, 10:45:51 am »
BAGAIMANA MENYIKAPI PERPECAHAN UMAT
   Derap langkah perkembangan dakwah Islamiyyah semenjak kepergian Rosululloh SAW mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan dalam satu sisi. Hal ini terbukti dengan makin melebarnya perluasan wilayah Islam yang telah dilakukan oleh para kholifah dan pemimpin kaum muslimin sepeninggal beliau. Namun, di sisi lain, umat ini pun mengalami kemerosotan yang memprihatinkan dengan munculnya benih-benih perpecahan di tubuh kaum muslimin sendiri. Berbagai kelompok dan aliran bermunculan dengan latar belakang dan demi kepentingan rezim yang berbeda-beda. Akibatnya, persatuan yang sebelumnya menghiasi tubuh kaum muslimin mulai memudar tertutup oleh mendung fanatisme kelompok yang sangat berbahaya.
   Namun, di tengah-tengah perpecahan umat yang kian hari kian kritis ini, kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW dituntut untuk bisa menyikapinya dengan penuh kebijaksanaan sesuai dengan yang telah dituntunkan oleh Rosululloh SAW. Maka dari itu, dengan memohon kemudahan dari Zat yang Maha Rohman, kami akan menyajikan satu bentuk tulisan yang mudah-mudahan bisa menjadi sebagai spirit (penyemangat) dalam menghadapi segala bentuk fitnah dan perpecahan dalam tubuh kaum muslimin. Wallohul Muwaffiq.
Perpecahan Adalah Sunnatulloh
   Perpecahan dan perselisihan yang selama ini banyak mengotak-ngotakkan kaum muslimin bukanlah fenomena baru dalam realitas umat. Demikian, karena sesungguhnya hal ini merupakan sunnah kauniyyah yang pasti terjadi dan tidak dapat dipungkiri dalam roda kehidupan umat manusia itu sendiri. Alloh SWT telah menandaskan dalam firman-Nya bahwa manusia akan senantiasa terbelenggu dalam lingkaran perselisihan:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia sebagai umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rohmat oleh Tuhamnu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka…(QS. Hud [11]: 118-119)
   Demikian pula Rosululloh SAW, dalam sebuah hadits beliau mengabarkan bahwasannya umat ini akan berpecah-pecah layaknya umat-umat terdahulu. Sabda beliau: “Ketahuilah bahwasannya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahli kitab telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat adapun umat ini maka akan terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di antaranya berada di neraka dan hanya satu golongan yang akan berada di surga yaitu mereka yang berpegang teguh dengan al-jama’ah.” (HR. Imam Ahmad: 4/102, Abu Dawud: 4597, dihasankan oleh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 3/115)
Bagaimana Menyikapi Perpecahan Umat
   Sesungguhnya perpecahan dan perselisihan sebagai realitas umat merupakan sunnatulloh yang pasti terjadi dan tidak dapat dielakkan. Kendati demikian, bukan berarti kita sebagai umat Islam hanya diam berpangku tangan dan menyerah pada kenyataan ini. Semestinya hal ini malah menjadi motivator bagi kita untuk semakin berpegang teguh dengan agama yang hanif ini serta menjauhi segala bentuk perpecahan dan perselisihan. Alloh SWT berfirman:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai-berai….(QS. Ali Imron [3]: 103)
   Sidang pembaca yang diromhati Alloh SWT, di tengah-tengah kemelut perpecahan yang tak terkendalikan ini, Rosululloh SAW sebagai utusan Alloh SWT yang mengeluarkan manusia dari gelapnya lingkaran hizbiyyah (kelompok/golongan) telah memberikan solusi jitu bagi umatnya sehingga mereka tidak akan tersesat dari jalan yang diridhoi Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW. Nasihat beliau tersebut terhimpun dalam satu untaian sabdanya yang diriwayatkan dari sahabat mulia Irbadh bin Sariyah. Beliau bersabda:
“… Barang siapa yang hidup sepeninggalku sungguh akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak. Oleh karenanya, wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapat petunjuk setelahku. Berpegangteguhlah dengan sunnah(ku) tersebut dan gigitlah dengan gigi gerahammu, kemudian hindarilah segala bentuk perkara baru dalam agama karena setiap perkara baru adalah bid’ah sedangkah setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud: 4607, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam shohih Sunan Abu Dawud: 3/119)
Dalam hadits yang mulia ini terangkum tiga wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai perpecahan dan perselisihan setelah kepergian beliau: PERTAMA: kewajiban berpegang teguh dengan sunnah beliau, KEDUA: wajib menggandengkan sunnah beliau dengan pemahaman para sahabat, dan KETIGA: menjauhi segala bentuk hal yang baru dalam agama.
PERTAMA: BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH ROSULULLOH SAW
   Kewajiban bagi umat Islam ketika gemuruh perpecahan semakin menghantam adalah mengembalikan segala bentuk perselisihan kepada al-Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW. Alloh SWT berfirman:
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian …. (QS. an-Nisa’ [4]: 59)
   Syaikh Abdurrohman as-Sa’di berkata: “Kaum muslimin diperintahkan untuk mengembalikan setiap apa yang mereka perselisihkan baik dalam masalah aqidah (ushuluddin) maupun dalam cabang-cabang agama lainnya (furu’) kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW yaitu kepada al-Qur’an dan sunnah Rosululloh SAW.” (Taisir Karimirrohman: 171)
   Dan dalam sebuah hadits yang diceritakan oleh Ibnu Mas’ud bahwasannya suatu ketika Rosululloh SAW membuat satu garis di hadapan kami (para sahabat) lantas beliau bersabda: “Ini adalah jalan Alloh SWT.” Kemudian beliau kembali membuat beberapa garis di sisi kanan dan kiri garis sebelumnya seraya bersabda: “Ini adalah beberapa jalan dan di ujungnya setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.” Kemudian beliau membaca ayat: “Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu hanya akan mencerai-beraikan kamu dar jalan-Nya.“ (HR. Imam Ahmad: 1/435, dengan sanad hasan sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth)
KEDUA: WAJIB MENGGANDENGKAN SUNNAH ROSULULLOH SAW DENGAN PEMAHAMAN PARA SAHABAT
   Mengamalkan sunnah Rosululloh SAW sesuai dengan pemahaman para sahabat adalah sebuah kewajiban yang telah diwasiatkan oleh Rosululloh SAW kepada umatnya di dalam banyak hadits. Di antaranya adalah sabda beliau ketika mengabarkan bahwasannya umat ini akan berpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga golongan yang semuanya berada dalam api neraka kecuali satu golongan yang akan selamat, lantas para sahabat bertanya kepada beliau: “Siapakah mereka wahai Rosululloh?” Maka beliau pun menegaskan bahwasannya golongan yang akan selamat adalah mereka yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah para sahabatnya. (HR. Tirmidzi: 2641, dihasankan Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunah Tirmidzi: 3/54)
   Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkholi berkata: “Menapaki sunnah para sahabat Rosululloh SAW merupakan biduk keselamatan. Hal ini dikerenakan mereka menyaksikan langsung bagaimana wahyu diturunkan, dan mereka pun menerima suguhan al-Qur’an dan as-Sunnah berserta realisasinya dari Rosululloh SAW sendiri dengan pemahaman yang sebenar-benarnya. Maka pantaslah jika Rosululloh SAW bersabda, ‘Apa yang saya dan para sahabat saya berada di atasnya.’ Dan sabdanya ‘Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapatkan petunjuk (sepeninggalku).” (Syarah Ushulus Sunnah: 15)
KETIGA: MENJAUHI SEGALA PERKARA BARU DALAM AGAMA
   Di akhir hadits iftiroq (perpecahan) ini Rosululloh SAW menutup wasiatnya dengan perintah untuk menghindari segala bentuk bid’ah dalam agama, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun mu’amalah, dan hal ini beliau peringatkan karena sesungguhnya di setiap jalan yang ditempuh oleh tujuh puluh dua golongan tersebut terdapat setan yang selalu menyeru menuju kepada jalan kebinasaan yang berpangkal pada bid’ah itu sendiri. Imam Ibnul Qoyyim pernah berkata: “Sesungguhnya pangkal setiap kejelekan dan keburukan kembali kepada bid’ah.” (I’lam al-Muwaqqi’in: 1/134)
   Saudaraku, itulah tiga rangkaian wasiat Rosululloh SAW bagi umatnya yang akan menjumpai kabut perpecahan di akhir zaman. Oleh karenanya, tiada pilihan bagi kita melainkan harus menjadikannya sebagai pegangan dalam menghadapi dan menyikapi perpecahan umat yang kian hari makin menjamur di tubuh kaum muslimin. Dan akhirnya, kita memohon semoga Alloh SWT menjaga kita semua dari belenggu setan yang selalu mengajak kepada jalan yang tiada Dia ridhoi. Amin ya Sami’ad du’a’.
Abu Kholid al-Atsari