Penulis Topik: feeling and thinking...  (Dibaca 8539 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #15 pada: April 13, 2011, 06:53:36 am »
”Ombak ria berkejar-kejaran

di gelanggang biru bertepi langit.

Pasir rata berluang dikecup,

tebing curam ditantang diserang,

dalam bergurau bersama angin,

dalam berlomba bersama mega".

 

Sejak itu jiwa gelisah,

Selalu berjuang, tiada reda,

Ketenangan lama rasa beku,

gunung pelindung rasa pengalang

Berontak hati hendak bebas,

menyerang segala apa mengadang.

 

(Penggalan sajak STA, “Menuju Kelaut”)
« Edit Terakhir: April 13, 2011, 06:57:28 am oleh lehrerin »

lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #16 pada: April 21, 2011, 08:23:45 pm »
"Mungkin Sekali Saya Sendiri Juga Maling"
oleh Taufiq Ismail
Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,

terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.

Penganggur 40 juta orang,anak-anak tak bisabersekolah 11 juta murid,

pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,

VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan

dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor

Pegadaian Jagat Raya,

dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan

Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah

paling murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh

harapan dan angan-angan

di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena

majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa

dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.

Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak bangsa.

Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin

mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.

Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,

begitu laporan penelitian.

Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,

dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi .

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,

ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,

jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,

yang di atas tukang tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.

Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.

Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.

Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.

Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.

Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,

membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah

dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.

Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.

Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?

Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi

dari atas sampai ke bawah?

Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata

dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),

tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,

kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,

otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,

tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,

malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,

penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,

barangkali sekitar satu juta orang ini,

cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali

perintah, eksekutif,

legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan

mengendalikan meriam,

yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?

Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?

Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?

Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan

Insya Allah tak akan terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?

Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia

mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun

dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.

Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka

orang yang shalat juga,

orang yang berpuasa juga,

orang yang berhaji juga.

Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada

hubungan darah atau teman sekolah,

maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.

Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,

orang seagama atau sedaerah,

Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dan

diam-diam berharap semoga kita

mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.

Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap. Kayu

kosen, tiang,kasau,

jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.

Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.

Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa,

televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah

Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.

Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.

Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.

"Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!" teriak mereka.

"Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.

Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.

Mereka mengejarkan lebih kencang lagi.

Mereka menangkapku.

"Ambil bensin!" teriak seseorang.

"Bakar Rayap," teriak mereka bersama.

Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.

Aku dibakar.

Bau kawanan rayap hangus.

Membubung Ke udara.

« Edit Terakhir: April 21, 2011, 08:30:27 pm oleh lehrerin »

parno

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 5
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #17 pada: Mei 23, 2011, 03:56:58 am »
menyinari & disinari..

akila

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 79
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • biarkan jiwa meluap lewat kata
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #18 pada: Mei 27, 2011, 03:20:20 pm »
penat, diraga yang tak lagi muda
rutinitas memahat jenuh di layar monitor
setumpuk aplikasi menjejali ruang hardisk
enggan dibuang kepalang menjadi tugas
enggan pula hiasi kepala dengan berita
raja-raja dunia

rehat di forum
curahkan angan dalam untaian kata
forum yang tenang
berkatapun tak bersuara
monolog, dialog maya
jauh dari hiruk-pikuk
kaum hipokrat

biar disini
ku menjadi apa yang
ingin ku menjadi
tanpa tirani kewajiban duniawi

biar disini ku berteriak
cacian yang tersimpan rapi
dalam senyum kemunafikan

biarlah dunia dengan segala
tingkahnya
melengkapi skenario
lauful mahfudz


lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #19 pada: Januari 03, 2012, 09:55:24 pm »
hwuaaa.. udah lama ga coret-coret puisi lagi..
bgitu dibuka thread ini.. muncul warning:
Peringatan: topik ini belum dituliskan setidaknya 120 hari.
Kecuali Anda yakin ingin menjawabnya, harap pertimbangkan untuk memulai sebuah topik baru.


Ingin mengutip syair indah ini..

Berkilaulah, Dalam Dekapan Ukhuwah*

Alangkah syahdu menjadi kepompong; berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan. Tetapi bila tiba waktu untuk menjadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari; melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan dunia.
Dan angin pun memeluknya, dalam sejuk dan wangi surga.
Alangkah damai menjadi bebijian; bersembunyi di kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam. Tapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri; bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di tiap musim pada segenap penghuni bumi.
Dan matahari pun mendekapnya, dalam hangat serta cahaya.
Aku cemburu.
Maka kutulis buku ini untuk jiwaku dengan harap dan rindu; berkilaulah dalam dekapan ukhuwah.

*oleh Salim A. Fillah dalam buku Dalam Dekapan Ukhuwah halaman 7 
« Edit Terakhir: Januari 03, 2012, 09:57:19 pm oleh lehrerin »

lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #20 pada: Januari 15, 2012, 01:43:58 am »
Seorang kawan, dalam doa dan salamnya
di berlalunya seperempat abad usiaku
kembali mengenangkanku sebuah kaidah
"bencilah kesalahannya, tapi jangan kau benci orangnya"
betulkah aku sudah mampu begitu
pada saudaraku, pada keluargaku
pada para kekasih yang kucinta?
saat mereka terkhilaf dan disergap malu
betulkah kemaafanku telah tertakdir
mengiringi takdir kesalahan mereka?
tapi itulah yang sedang kuperjuangkan
dalam tiap ukhuwwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang ALLAH jadi saksinya
karena aku tahu, bahwa terhadap satu orang
aku selalu mampu membenci luputnya
tapi tetap cinta dan sayang pada pelakunya
itulah sikapku selalu,pada diriku sendiri
kucoba cerap lagi kekata asy syafi'i
"aku mencintai orang-orang shalih"
begitu katanya,diiringi titik air mata
"meski aku bukanlah bagian dari mereka"
ya...mungkin dia benar
tapi dalam tiap ukhuwwah dan cinta
dalam tiap ikatan ... (to be continued)

Dalam Dekapan Ukhuwah, hlmn 274-275
 
« Edit Terakhir: Januari 15, 2012, 01:45:58 am oleh lehrerin »

faried_ahmad

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 25
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Murtakibudz Dzunub
Re:feeling and thinking...
« Jawab #21 pada: Januari 15, 2012, 10:12:43 am »
Kutip
"bencilah kesalahannya, tapi jangan kau benci orangnya"

Andai kalimah ini lahir darinya mungkin saat ini
bisa ku katakan
"akulah salah satu orang yang sedang berbahagia"

Hanya dengan setetes nila kekhilafan
Putus sebuah ikat persahabatan

Demi mendapati kata maaf tak ubahnya ku cari jarum dalam kubangan lumpur

Tumpukan syair malam itu seolah membisu
Bersama diamnya yang seribu

Ku hapus jejaknya satu demi satu
Meski sesulit merobohkan bukit batu

Sebagai pelipur lara...

"aku tidak pernah melupakanmu, biarlah saat ini kusimpan kisahmu dalam
peti kenanganku...."

#untuk seorang akhwat
_____________________
maaf ya, numpang coretan

lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #22 pada: Januari 17, 2012, 10:22:25 pm »
Kutip
"bencilah kesalahannya, tapi jangan kau benci orangnya"

Andai kalimah ini lahir darinya mungkin saat ini
bisa ku katakan
"akulah salah satu orang yang sedang berbahagia"

Hanya dengan setetes nila kekhilafan
Putus sebuah ikat persahabatan

Demi mendapati kata maaf tak ubahnya ku cari jarum dalam kubangan lumpur

Tumpukan syair malam itu seolah membisu
Bersama diamnya yang seribu

Ku hapus jejaknya satu demi satu
Meski sesulit merobohkan bukit batu

Sebagai pelipur lara...

"aku tidak pernah melupakanmu, biarlah saat ini kusimpan kisahmu dalam
peti kenanganku...."

#untuk seorang akhwat
_____________________
maaf ya, numpang coretan

weew... sedih nih kyakny pengalaman faried_ahmad..
Kalo udh terjadi, ga usah diingat dan disesali lagi. Pasti ada hikmah di setiap peristiwa. Semangaaaaaaaaaaaaaaat!!! :D

lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #23 pada: Januari 17, 2012, 10:33:06 pm »
Aku masih setia membaca surat-suratnya
Masih saja kuselami kata demi kata yang terangkai
Kurenungi setiap makna kata yang ada
Bahkan hingga kuhapal pernyataan-pernyataannya



lehrerin

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 683
  • Reputasi: 10
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:feeling and thinking...
« Jawab #24 pada: Maret 16, 2012, 06:11:00 pm »
Terikat, tak berdaya
Sistem menghancurkan segala asa
Berharap bisa menjangkau mimpi
Namun semua kini memudar pergi
Masya ALLAH...
Benar memang dunia ini hanyalah tipu
Semua berlindung dibalik khayal semu
hufhhhh...
Laa haula wa laa quwwata illa billah...
Deras air mata tak bisa lagi dibendung
rentetan peristiwa terlihat mendung
Semakin ku berpikir tentang negeri
Kembali hati bagai teriris

#total traurig  :((