Penulis Topik: "mana tafsir ulamanya??"  (Dibaca 27764 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #75 pada: Februari 19, 2010, 07:09:00 am »
Kutip
Jawab :

1. Ayat mutasyabihat harus di tafsirkan karena mengandung terjemahan atau arti ganda / jamak.
2. Mufassirin ada, salah satunya disebabkan karena adanya manusia yg ingin bertanya tentang maksud ayat ini - itu.
3. Saya setuju.
1. Kalo begitu siapa yg tahu tafsir/takwilnya selain Allah ?? apakah ayatnya gak jelas siapa yg tahu tafsirnya, ini dia :


Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #76 pada: Februari 19, 2010, 08:11:37 am »
Sorry, tulisan diatas salah pencet.

Kutip dari: Fauzi5994559
Jawab :

1. Ayat mutasyabihat harus di tafsirkan karena mengandung terjemahan atau arti ganda / jamak.
2. Mufassirin ada, salah satunya disebabkan karena adanya manusia yg ingin bertanya tentang maksud ayat ini - itu.
3. Saya setuju.
Kenapa harus ditafsirkan, bukankah hanya Allah yg tahu tafsirnya, ---> lantas bagaimana pula kalo tafsirnya tidak spt. yg dikehendaki Allah.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara (isi) nya :
- ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an,
- dan yang lain  mutasyaabihaat.
- Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.(QS 3:7)


Anda lihat ayat diatas, disana justru dikatakan : orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya

tidak ada larangan memang, tetapi hanya orang2 yg condong kepada kesesatanlah yg cenderung mengikuti, jadi agar kita tidak dikatakan cenderung kepada kesesatan, sebaiknya kita tidak mengikuti ayat2 yg mutasyabihat, kecuali Allah memberikan takwilnya kepada kita, krn memang sulit difahami  (samar).

Saya ingin memberikan contoh tentang ayat2 muhkamat, yaitu : bab tentang perkawinan, siapa2 yang dapat dikawini dan siapa2 yg dilarang dikawini,  ---> ayat2 AQ jelas tegas tidak bermakna ambivalent dan tidak akan dapat ditafsir ke arah manapun juga, dan jangan pernah mencoba untuk melanggarnya.
 
satu contoh lagi adalah bab tentang warisan, diayat itu jelas tercantum siapa2 yg berhak menerima warisan berikut berapa bagiannya, dan siapa2 pula yg terdinding, semuanya jelas dan terinci satu per satu dan tidak juga dapat ditafsirkan kearah manapun, siapa yg patuh dan siapa yg menyimpang dari yg sudah ditetapkan reward dan sanksinya adalah :

itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.(QS 4:13)

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(QS 4:14)


ayat2 tentang infaq/sedekah juga termasuk ayat muhkammat ---> silahkan anda browsing, anda akan menemukan reward dan punishnya.

itulah dia ciri2 ayat MUHKAMAT.

Jadi jelasnya kalo anda cenderung kepada kesesatan ikuti saja ayat2 yg mutasyabihat dan catatlah fitnah itu akan datang kepada yg membuatnya sendiri.



Salaam,

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #77 pada: Februari 19, 2010, 12:55:26 pm »
Sorry, tulisan diatas salah pencet.

Kutip dari: Fauzi5994559
Jawab :

1. Ayat mutasyabihat harus di tafsirkan karena mengandung terjemahan atau arti ganda / jamak.
2. Mufassirin ada, salah satunya disebabkan karena adanya manusia yg ingin bertanya tentang maksud ayat ini - itu.
3. Saya setuju.
Kenapa harus ditafsirkan, bukankah hanya Allah yg tahu tafsirnya, ---> lantas bagaimana pula kalo tafsirnya tidak spt. yg dikehendaki Allah.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab kepada kamu. Di antara (isi) nya :
- ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an,
- dan yang lain  mutasyaabihaat.
- Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal.(QS 3:7)


Anda lihat ayat diatas, disana justru dikatakan : orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya

tidak ada larangan memang, tetapi hanya orang2 yg condong kepada kesesatanlah yg cenderung mengikuti, jadi agar kita tidak dikatakan cenderung kepada kesesatan, sebaiknya kita tidak mengikuti ayat2 yg mutasyabihat, kecuali Allah memberikan takwilnya kepada kita, krn memang sulit difahami  (samar).

Saya ingin memberikan contoh tentang ayat2 muhkamat, yaitu : bab tentang perkawinan, siapa2 yang dapat dikawini dan siapa2 yg dilarang dikawini,  ---> ayat2 AQ jelas tegas tidak bermakna ambivalent dan tidak akan dapat ditafsir ke arah manapun juga, dan jangan pernah mencoba untuk melanggarnya.
 
satu contoh lagi adalah bab tentang warisan, diayat itu jelas tercantum siapa2 yg berhak menerima warisan berikut berapa bagiannya, dan siapa2 pula yg terdinding, semuanya jelas dan terinci satu per satu dan tidak juga dapat ditafsirkan kearah manapun, siapa yg patuh dan siapa yg menyimpang dari yg sudah ditetapkan reward dan sanksinya adalah :

itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.(QS 4:13)

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(QS 4:14)


ayat2 tentang infaq/sedekah juga termasuk ayat muhkammat ---> silahkan anda browsing, anda akan menemukan reward dan punishnya.
itulah dia ciri2 ayat MUHKAMAT.

Jadi jelasnya kalo anda cenderung kepada kesesatan ikuti saja ayat2 yg mutasyabihat dan catatlah fitnah itu akan datang kepada yg membuatnya sendiri.



Salaam,

Bismillah...

Yang di pemasalahkan ayat mutasyabihat, kok kasih contoh dan jawabnya Ayat2 Muhkamat...?

Kalau begitu saya yg kasih contoh ayat mutasyabihat :

Alif..Laam..miim.. arti dan tafsirnya : -( Hanya Allah-lah yang tahu. )-
maksudnya : mufassirin yg krediblepun tidak tahu artinya, karena belum pernah ditemukan
dalam kaidah bahasa arab sebelumnya kalimah semacam ini, atau tidak ditemukan keterangannya dalam hadist atau ijma sahabat. Sehingga para mufassirin yg kredible tidak berani menafsirkannya atau hanya menduga2 saja ( yg tafsirnya tdk wajib dipercayai ).

Jadi samakan ? mufassirin saja tdk berani memastikan tafsirnya apa bedanya dg pendapat anda ?

Itulah pendirian saya dalam masalah mutasyabihat (dan juga anda?).

Wallahu alam.

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #78 pada: Februari 19, 2010, 08:52:26 pm »
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.

kalau kata ini masuk yg mana ya.
surga
neraka
kekal
abadi
mati
hidup

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #79 pada: Februari 20, 2010, 09:08:49 am »
Kutip
Yang di pemasalahkan ayat mutasyabihat, kok kasih contoh dan jawabnya Ayat2 Muhkamat...?

Kalau begitu saya yg kasih contoh ayat mutasyabihat :

Alif..Laam..miim.. arti dan tafsirnya : -( Hanya Allah-lah yang tahu. )-
maksudnya : mufassirin yg krediblepun tidak tahu artinya, karena belum pernah ditemukan
dalam kaidah bahasa arab sebelumnya kalimah semacam ini, atau tidak ditemukan keterangannya dalam hadist atau ijma sahabat. Sehingga para mufassirin yg kredible tidak berani menafsirkannya atau hanya menduga2 saja ( yg tafsirnya tdk wajib dipercayai ).

Jadi samakan ? mufassirin saja tdk berani memastikan tafsirnya apa bedanya dg pendapat anda ?

Itulah pendirian saya dalam masalah mutasyabihat (dan juga anda?).
Saya sengaja memang menyampaikan ayat2 yg muhkamaat, supaya anda saja yg menyampaikan ayat yg mutasyabihat.

Saya tahu persis bahwa anda akan menyampaikan : Alif..Laam..miim.. sebagai contoh ayat mutasyabihat. Dulu saya - spt. anda sekarang - mengira : Alif..Laam..miim.. adalah ayat yg mutasyabihat, tapi sekarang gak lagi.

Anda tahu mutasyabihat itu artinya "samar", kata samar itu "letaknya" diantara jelas dan gelap,
jadi : Alif..Laam..miim.. tidak bisa disebutkan sbg ayat mutasyabihat  tetapi ayat yg gelap, mutlak  gelapnya, yg  pasti juga tidak bisa ditafsirkan oleh siapapun.-

--> persis kata anda : "mufassirin saja tdk berani memastikan tafsirnya". ya, karena ayatnya "gelap" bukan "samar"

Allah tidak akan pernah salah, bahwa yg sering ditafsir2kan orang adalah ayat yg samar (mutasyabihat) yg posisinya antara terang dan gelap.----> itulah dia "makanan yg empuk" untuk orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, menafsir2 sesuai dengan selera, padahal telah jelas yg tahu cuma Allah.

Celakanya kebanyakan orang lebih suka mengikuti ayat2 yg mutasyabihat drpd ayat2 yg muhkammat padahal jelas ----> ayat2 yg muhkamatlah yg menjadi pokok2nya, ayat muhkamat jelas & terang tidak perlu dibantu oleh muffasir ---> ayat2 muhkamat jugalah menjadi perhitungan kelak di hari akhir.




Salaam,




Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #80 pada: Februari 20, 2010, 09:44:03 am »
Kutip dari: yant_138
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.

kalau kata ini masuk yg mana ya.
surga
neraka
kekal
abadi
mati
hidup
Yang saya ketahui ayat diatas adalah fakta bahwa kebanyakan orang hanya mengikuti agama yg juga dianut oleh orang tuanya, kalo bapaknya suni anak juga suni, kalo bapak syiah anak juga syiah, kebanyakan mereka tidak pernah berfikir apakah bapak2 mereka itu telah menempuh jalan yg lurus.

kalopun terjadi hijrah paling2 cuma ibarat pindah kamar saja spt. dr HT ke salafi, dr salafi ke LDII dsb. dan bukannya hijrah kepada agama ibrahim.

kata2 : "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul", hakikinya mengajak manusia untuk berhijrah ke jalan Allah, spt. yg dilakukan ibrahim, imam bagi seluruh umat manusia.

itulah sebabnya Allah memerintahkan kita untuk mengikuti agama Ibrahim.

Katakanlah: "Benarlah Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.(QS 3:95)

Dan yg aneh mereka yg mengaku pengikut nabi muhammad, mereka juga menjadi pengikut imam2 selain ibrahim -----> padalah yg diperintahkan kepada kita berimam dan menteladani hanya kepada nabi ibrahim, muhammad juga orang2 yg beriman adalah pengikut agama ibrahim.

Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim".(QS 2:124)

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.(QS 3:68)

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan,(QS 16:120)



Salaam,

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #81 pada: Februari 20, 2010, 06:35:42 pm »
ayat mustasyabihat yang tahu cuma Alllah.
mustasybihat adalah samar dan diulang ulang.
samar dan di ulang ulang di dalam Al Qur'an.
yang tahu cuma Allah -----------------> Al Qur'an
bertanyalah pada ahli dzikr ---------------> karena adz dzikr adalah  Al Qur'an, maka
bertanyalah pada ahli Al Qur'an

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #82 pada: Februari 22, 2010, 07:19:12 am »
Kutip dari: yant_138
ayat mustasyabihat yang tahu cuma Alllah.
mustasybihat adalah samar dan diulang ulang.
samar dan di ulang ulang di dalam Al Qur'an.
yang tahu cuma Allah -----------------> Al Qur'an
bertanyalah pada ahli dzikr ---------------> karena adz dzikr adalah  Al Qur'an, maka
bertanyalah pada ahli Al Qur'an
Yang aneh lagi ayat2 inilah yg justru sangat menarik perhatian orang, menimbulkan perdebatan dan yg lebih celaka menjadi sumber perpecahan dikalangan umat. Umat yg bersekte menjadikan ayat yg mustasyabihat  ini justru menjadi hal yg pokok, sementara yg muhkamat malah umumnya kurang mendapatkan perhatian.

Padahal jelas sekali bahwa ayat tersebut tidak bisa dilaksanakan tanpa bantuan tafsir - sementara cuman Allah yg tahu tafsirnya -, meskipun ayat tersebut merupakan perintah.

Namun yg perlu dicatat bahwa meskipun ayat2 tersebut merupakan perintah tetapi kalo tidak dilaksanakan (note : bukan diingkari) tidak ada sanksinya dan kalo dilaksanakan juga tidak adalah rewardnya sama sekali.

Beda halnya dengan ayat yg muhkamat, tidak menimbulkan perdebatan, punishnya jelas kalau diabaikan dan ada rewardnya, meskipun tidak selalu ada.

Ayo silahkan anda tebak ayat yang manakah itu yg disebut ayat mustasyabihat ??????



Salaam,

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #83 pada: Februari 22, 2010, 02:01:04 pm »
Kutip
Yang di pemasalahkan ayat mutasyabihat, kok kasih contoh dan jawabnya Ayat2 Muhkamat...?

Kalau begitu saya yg kasih contoh ayat mutasyabihat :

Alif..Laam..miim.. arti dan tafsirnya : -( Hanya Allah-lah yang tahu. )-
maksudnya : mufassirin yg krediblepun tidak tahu artinya, karena belum pernah ditemukan
dalam kaidah bahasa arab sebelumnya kalimah semacam ini, atau tidak ditemukan keterangannya dalam hadist atau ijma sahabat. Sehingga para mufassirin yg kredible tidak berani menafsirkannya atau hanya menduga2 saja ( yg tafsirnya tdk wajib dipercayai ).

Jadi samakan ? mufassirin saja tdk berani memastikan tafsirnya apa bedanya dg pendapat anda ?

Itulah pendirian saya dalam masalah mutasyabihat (dan juga anda?).
Saya sengaja memang menyampaikan ayat2 yg muhkamaat, supaya anda saja yg menyampaikan ayat yg mutasyabihat.

Saya tahu persis bahwa anda akan menyampaikan : Alif..Laam..miim.. sebagai contoh ayat mutasyabihat. Dulu saya - spt. anda sekarang - mengira : Alif..Laam..miim.. adalah ayat yg mutasyabihat, tapi sekarang gak lagi.

Anda tahu mutasyabihat itu artinya "samar", kata samar itu "letaknya" diantara jelas dan gelap,
jadi : Alif..Laam..miim.. tidak bisa disebutkan sbg ayat mutasyabihat  tetapi ayat yg gelap, mutlak  gelapnya, yg  pasti juga tidak bisa ditafsirkan oleh siapapun.-

--> persis kata anda : "mufassirin saja tdk berani memastikan tafsirnya". ya, karena ayatnya "gelap" bukan "samar"

Allah tidak akan pernah salah, bahwa yg sering ditafsir2kan orang adalah ayat yg samar (mutasyabihat) yg posisinya antara terang dan gelap.----> itulah dia "makanan yg empuk" untuk orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, menafsir2 sesuai dengan selera, padahal telah jelas yg tahu cuma Allah.

Celakanya kebanyakan orang lebih suka mengikuti ayat2 yg mutasyabihat drpd ayat2 yg muhkammat padahal jelas ----> ayat2 yg muhkamatlah yg menjadi pokok2nya,



Salaam,





yup ... :cool:
« Edit Terakhir: Februari 22, 2010, 02:03:59 pm oleh Fauzi5994559 »

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #84 pada: Februari 23, 2010, 05:54:04 am »
Kutip
yup ...
bingung ....... lantas bagaimana muffasirin menjelaskan hal ini ?? atau asbabun nuzul atau apa saja deh




Salaam,






Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #85 pada: Februari 23, 2010, 12:28:51 pm »
Kutip
yup ...
bingung ....... lantas bagaimana muffasirin menjelaskan hal ini ?? atau asbabun nuzul atau apa saja deh




Salaam,







Bismillah,

Sebelum kita mengadopsi tafsir dari salah satu mufassirin, seharusnya kita mengetahui metodologi ushul tafsir yang di pakai oleh mufassirin tsb. Sehingga kurang lebih kita bisa paham maksud tafsirnya thd suatu ayat.

Hal ini yg kebanyakan dari kita tidak tahu atau tidak mau tahu pentingnya ushul ini. Atau campur2 memakai metodologi ushulnya, ayat ini pake ushulnya mufassirin "a" ayat itu pake metodologi ushulnya "b".

Wassalam dulu,

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #86 pada: Juli 09, 2010, 08:02:10 am »
Kutip dari: Fauzi5994559
Sebelum kita mengadopsi tafsir dari salah satu mufassirin, seharusnya kita mengetahui metodologi ushul tafsir yang di pakai oleh mufassirin tsb. Sehingga kurang lebih kita bisa paham maksud tafsirnya thd suatu ayat.

Hal ini yg kebanyakan dari kita tidak tahu atau tidak mau tahu pentingnya ushul ini. Atau campur2 memakai metodologi ushulnya, ayat ini pake ushulnya mufassirin "a" ayat itu pake metodologi ushulnya "b".

Sebeluim ke metodologi ushul tafsir, kita tetapkan dulu ayat yang akan ditafsirkan : AYAT YANG JELAS (MUHKAMAAT) ato YANG GAK JELAS (MUTASYABIHAT).

Kalo  AYAT YANG JELAS (MUHKAMAAT)  buat apa ditafsir2kan lha wong udah jelas, spt. orang2 yg diharamkan dinikahi, ayat2 tentang pembagian warisan, ayat2 tentang infaq/sodaqoh.

kalo yg mau ditafsirkan  YANG GAK JELAS (MUTASYABIHAT), -----> inipun tafsirnya HANYA Allah yg tahu dan orang2 suka menafsirkan/mentakwilkan adalah ORANG2 YG CENDERUNG KEPADA KESESATAN.

Jadi ayat yg mana donk yg akan ditafsirlkan make :   metodologi ushul tafsir ?

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #87 pada: Juli 09, 2010, 08:48:27 am »
Kutip dari: Fauzi5994559
Sebelum kita mengadopsi tafsir dari salah satu mufassirin, seharusnya kita mengetahui metodologi ushul tafsir yang di pakai oleh mufassirin tsb. Sehingga kurang lebih kita bisa paham maksud tafsirnya thd suatu ayat.

Hal ini yg kebanyakan dari kita tidak tahu atau tidak mau tahu pentingnya ushul ini. Atau campur2 memakai metodologi ushulnya, ayat ini pake ushulnya mufassirin "a" ayat itu pake metodologi ushulnya "b".

Sebeluim ke metodologi ushul tafsir, kita tetapkan dulu ayat yang akan ditafsirkan : AYAT YANG JELAS (MUHKAMAAT) ato YANG GAK JELAS (MUTASYABIHAT).

Kalo  AYAT YANG JELAS (MUHKAMAAT)  buat apa ditafsir2kan lha wong udah jelas, spt. orang2 yg diharamkan dinikahi, ayat2 tentang pembagian warisan, ayat2 tentang infaq/sodaqoh.

kalo yg mau ditafsirkan  YANG GAK JELAS (MUTASYABIHAT), -----> inipun tafsirnya HANYA Allah yg tahu dan orang2 suka menafsirkan/mentakwilkan adalah ORANG2 YG CENDERUNG KEPADA KESESATAN.

Jadi ayat yg mana donk yg akan ditafsirlkan make :   metodologi ushul tafsir ?

setuju banget kali ini sama mas tobil.

naruse07

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 623
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Life is simple, but sometimes we make it confused.
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #88 pada: Juli 09, 2010, 09:49:26 pm »
kalo yg mau ditafsirkan  YANG GAK JELAS (MUTASYABIHAT), -----> inipun tafsirnya HANYA Allah yg tahu dan orang2 suka menafsirkan/mentakwilkan adalah ORANG2 YG CENDERUNG KEPADA KESESATAN.
trus buat apa al-quran d turunkan? (-__-')7

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #89 pada: Juli 12, 2010, 08:20:01 am »
Kutip dari: naruse07
]
Kutip dari: tobil
kalo yg mau ditafsirkan  YANG GAK JELAS (MUTASYABIHAT), -----> inipun tafsirnya HANYA Allah yg tahu dan orang2 suka menafsirkan/mentakwilkan adalah ORANG2 YG CENDERUNG KEPADA KESESATAN.

trus buat apa al-quran d turunkan? (-__-')7

Jawabannya hanya Allah yg tahu kenapa Dia menurunkan ayat yg mutasyabihat, tetapi kan sudah diberikan penjelasan bahwa yg poko adalah ayat yg muhkamaat.

Tetapi secara umum, pertanyaan anda :  buat apa al-quran d turunkan?

jawabannya ada di ayat ini :

Ketika Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(QS 16:89)

sayangnya ditangan kebanyakan orang AQ bukannya didudukkan sebagai SUBYEK ----> yang menjelaskan, tetapi didudukan sebagai OBYEK -----> yg dijelaskan.

jadilah AQ dibaca orang hanya untuk cari pahala.