Penulis Topik: "mana tafsir ulamanya??"  (Dibaca 27952 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #15 pada: Oktober 08, 2008, 04:15:10 am »
yaaaa jangan langsung gitu donk.....
dipilah-pilah dulu.
kalau yg jelas dan mudah tdk perlu tanya mana tafsir ulamanya.

tafsir itu sebagai penjelas. bukan sebagai 'pembodoh'. mereka punya manhaj tentunya, bukan sekedar asal bicara. contoh, wahbah zuhaili mengatakan tidak berani menulis tafsir sebelum beliau menulis ushul fiqh al-islami.fakhrudin al-razi seorang teolog sekaligus ushuly, mengatakan tidak berani menulis tafsir al-kabirnya sebelum merampungkan study ushulnya hingga menghasilkan al-mahsul.

lalu apa yang bisa kita tangkap? yang bisa kita tangkap ternyata sebelum menulis tafsir ada tahapan yang harus dilalui. ada beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai.

Kutip
ulama tdk pasti benar lho, kalau nabi Muhammad dijamin benar. tapi sebelum jadi nabi tdk dijamin, karena belum tahu iman, masih dhol terus dapat petunjuk jadi nabi umur 40 th. saat jadi nabi pun Nabi Muhammad pernah ditegur di abasa dan saat minta anak laki-laki.

saya tidak mengatakan ulama pasti benar. sekarang sederhana saja, jika ulama saja bisa salah, apalagi anda. jika mereka yang menguasai beberapa disiplin ilmu saja bisa terjadi kesalahan, bagaimana dg anda ? jika seorang teknisi mungkin untuk salah, apalagi yang bukan teknisi ?

Kutip
Lha ulama jangan di ikuti semuanya. Ulama-ulama juga banyak friksinya , salahnya, terutama kalau mengikuti kepentingan sesaat. banyak contohnya khan.


siapa contohnya ? konkret saja jawaban dan kasusnya. ga usah terlalu panjang.

Kutip
kalau menurut saya kebenaran bisa datang dari manapun. bukan orangnya/ulamanya yg dinilai tetapi ucapan dan perbuatannya yg dinilai. begitupun dalam menyampaikan ayat-ayat qur'an.

betul, kebenaran bisa datang dari manapun. tapi tidak dalam menyampaikan al-qur'an. ulama, termasuk juga sekelompok tabi'in sudah menetapkan beberapa kaidah penafsiran untuk diikuti.

Kutip
siapapun yg menyampaikan ayat al Qur'an , ayat al Qur'annya pasti benar alhaqqu mirrobbikum.
tapi ayatnya juga harus dibaca lengkap, tdk boleh sengaja memotong.

apakah anda lupa ayat "innalladzina yasytaruna bi ayatillah tsamanan qalila ulaika ashabunnar hum fiha khalidun" ????? ini membuktikan bahwa memang isi al-qur'an selalu benar, namun kadang ia bisa jadi salah jika yang menyampaikanpun salah.

Kutip
lah kalau sudah sulit, baru tanyakan tafsir ulamanya. dan tafsir ulama yg lainnya untuk perbandingan.
kalau nggak salah dalam hal keilmuan kita di bukakan sedikit demi sedikit, begitupun dgn al Qur'an.

bagi saya, memahami ayat al-qur'an itu sulit. ohya, saya sudah hafal nadzam alfiah 1000 bait, sudah hafal al-qur'an 30 juz, sudah pernah mengkaji ilmu fiqh dan ushul lumayan mendalam, sudah pernah belajar majaz-majaz yang berlaku dalam al-qur'an, sedikit banyak sudah tahu kaidah-kadiah penafsiran. dan saya sampai sekarang, masih belum berani untuk menafisirkan madlul ayat dg pemahaman saya.

sekarang begini, ayat "waman yusyrik billah faqadh dhalla dhalalan ba'idha". syirik itu sesat, begitu kata ayatnya. namun apakah yang dimaksud syirik ? jawabannya kita harus merujuk fiqh.

namun ketika kita membaca ayat" wa idza tuliyat 'alaihim ayatuhu zadathum imana", secara implisit ayat tersebut mengajarkan kesyirikan. yaitu "menyandarkan iman pada ayat". tapi akan berbeda jika kita merujuk pada ilmu balaghah, karena balaghah mengatakan bahwa penyandaran benda mati pada benda mati yang hakikatnya untuk yang hidup namanya " majaz 'aqli"

Kutip
kalau selalu tanya mana tafsir ulamanya, itu sepertina  ilmu Qur'an sdh mandeq.


tidak selalu. dan saya tidak mengatakan selalu. bagaimana agar tidak selalu mengatakan mana tafsir ulamanya ? belajarlah 'manhaj' penafsiran. al-qur'an itu mempunyai bermacam interpretasi, dan siapa saja bisa membelokkan 'seenak wudelnya'. hingga manhaj benar-benar diperlukan untuk menjaga qaddasah ( kemurnian ) al-qur'an. anda akan tahu pentingnya ulumul qur'an kalau anda sudah belajar. tapi, sudahkah anda belajar ?

orang melihat petani mencangkul di sawah akan mengatakan itu mudah. tapi setelah anda terjun ke sawah dan memegang pacul, baru anda tahu bahwa mencangkul tidak semudah yang seperti anda lihat. anda merasakan panas, tangan anda lecet, tenaga ngos-ngosan. kenapa anda melihat petani begitu mudahnya mempraktekkan 'ilmu cangkul' ? jawabannya karena itu adalah bidangnya. justru ketika anda mencangkul dg ketidak ahlian anda, anda hanya akan merusak sawah tersebut, dan bahkan merusak cangkulnya. maka, makanlah nasi yang dihasilkan oleh petani tersebut. itu sudah cukup mengenyangkan bukan ?

Kutip
padahal Al qur'an berlaku sepanjang zaman dan bila ditulis sampai 7 lautan  bumi belum tamat.
lha apa yg ditulis ulama sdh ada 1 lautan? belum ada khan. berarti masih ada ilmu yg sangat banyaaaaaak sekali yg belum diketahui ulama zaman dulu tetapi ilmu itu sdh ada dalam al qur'an.

betul, ilmu al-qur'an itu banyak yang belum tersingkap. tapi ini lain masalah. yang kita butuhkan adalah tafsir ulama seputar maksud ayat. nah yang jadi masalah, seperti penangkapan anda terhadap ayat itu berbeda dg pemahaman para ulama terhadap ayat yang sama. padahal, studi mereka tentang al-qur'an lebih komprehensif.

yang kita bahas adalah pemahaman terhadap "madlul ayat" dan atau dzahir ayat. nah, jika yang dzahir saja anda maknai dg takwil yang tak berdasar, bagaimana anda berani mengatakan bahwa ulama saja bisa salah ? nah, saya pun jadi bingung, kesalahan yang dimaksud dalam karya ulama itu "cuma" dalam perspektif anda yang tak berdasar, ataukah anda melihat kesalahan itu sebagai tabiat seorang manusia ?

jika hanya dari perspektif anda, ya saya cuma bisa mengatakan "lakum dinukum wa liyaddin".


salam,

fahmi
 

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #16 pada: Oktober 08, 2008, 07:00:15 am »
jika hanya dari perspektif anda, ya saya cuma bisa mengatakan "lakum dinukum wa liyaddin".
Nyengir  :D :great:

Jika kita sepakat dengan TSS dkk, maka secara tidak langsung kita telah menempatkan diri kita sebagai pentafsir Qur'an itu sendiri. Maka sesuai dengan apa yang dikatakan akh Fahmie, jika kita tidak bisa percaya pada ulama yang tingkat keilmuannya mumpuni, bagaimana kita bisa percaya dengan pemahaman kita. Lagian kalau ente2 mengatakan kalo untuk yang mudah2 tidak perlu tanya tafsir ulamanya... mudah itu yang seperti apa?? Ane yakin ulama tafsir tidak akan mengatakan kalo diantara sekian ayat Qur'an ada yang mudah ditafsirkan.

Secara pribadi ane tidak berani menyimpulkan maksud suatu ayat, meskipun ane merasa paham ayat itu hingga ane baca tafsir dari ulama. Biasanya ane compare dari beberapa ulama tafsir. Yaaa semata-mata karena keterbatasan ilmu ane dan kekurang-percaya-an ane pada perasaan ane. Lain kata kalo ane lebih pinter dari ulama salaf atau ane hidup dimasa Rosul, pasti ane berani menyimpulkan. Nah kalo untuk mentafsirkan ayat Qur'an kita harus hidup dijaman Rosul... jreeenggggg.... GAK AKAN ADA ULAMA TAFSIR daaan SEMUA ORANG OTOMATIS AKAN MENJADI PENTAFSIR-PENTAFSIR SOK FAHAM. Serem kedengerannya yah  ;D

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #17 pada: Oktober 08, 2008, 08:19:19 pm »
asyyyik bisa rame.
untung kalau sholat di doa iftitah ada bacaan wa ana minal muslimin.
yg artinya dan aku mengaku muslim.
muslim adalah orang islam, jadi saya beragama /din islam, ktp saya ternyata juga islam.
kata mbah saya agama yg diridhoi Allah cuma islam.
trus apa itu "lakum dinukum wa liyaddin" ?
kalau saya islam, trus ..........

hanya karena cara pandang saya sedikit berbeda kok sampai begitu.
jangan marah donk, orang pintar itu tdk cepat marah.
tapi walau bagaimanapun,saya minta maaf kepada pembaca semuanya, kebetulan ini ditempatku bodo syawal. maaf lahir batin.

kalau spt itu terus kayaknya islam akan semakin mundur. maaf .... skr abad 15 H apa kemajuan kita? Abad keemasan berlalu begitu saja. Umat islam berkitab al Qur'an tapi jauh dari al Qur'an.
bahkan hukum Qur'an banyak yg tdk dipakai , yg berat diringankan, yg tdk wajib di tinggikan, kadang dikalahkan hukum ulama. ( melebihi suara nabi )
Tafsir yg harusnya memperjelas / mempermudah al Qur'an malah kadang membingungkan.






fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #18 pada: Oktober 09, 2008, 04:48:01 am »
asyyyik bisa rame.
untung kalau sholat di doa iftitah ada bacaan wa ana minal muslimin.
yg artinya dan aku mengaku muslim.
muslim adalah orang islam, jadi saya beragama /din islam, ktp saya ternyata juga islam.
kata mbah saya agama yg diridhoi Allah cuma islam.
trus apa itu "lakum dinukum wa liyaddin" ?
kalau saya islam, trus ..........

hanya karena cara pandang saya sedikit berbeda kok sampai begitu.
jangan marah donk, orang pintar itu tdk cepat marah.
tapi walau bagaimanapun,saya minta maaf kepada pembaca semuanya, kebetulan ini ditempatku bodo syawal. maaf lahir batin.

dalam tafsir itu ada yang namanya kaidah innal 'ibrah bu umumillafdzi, la bi khususissabab. jadi yang diambil itu keumumamn lafadznya.

al-din ( pada ayat lakum dinukum ), pada dasarnya mempunyai makna agama. namun saya gunakan makna al-inqiyadz ( tunduk ). bukan pada khususiah lafadznya. sehingga dimaknai, "silahkan ( lakukan ) apa yang engkau yakini, dan akupun ( melaksanakan ) apa yang aku yakini". jadi nyante aja, tidak ada yang menganggap anda murtad atau bukan seorang muslim lagi,,

Kutip
kalau spt itu terus kayaknya islam akan semakin mundur. maaf .... skr abad 15 H apa kemajuan kita? Abad keemasan berlalu begitu saja. Umat islam berkitab al Qur'an tapi jauh dari al Qur'an.
bahkan hukum Qur'an banyak yg tdk dipakai , yg berat diringankan, yg tdk wajib di tinggikan, kadang dikalahkan hukum ulama. ( melebihi suara nabi )
Tafsir yg harusnya memperjelas / mempermudah al Qur'an malah kadang membingungkan.

kalau melihat pemahaman anda, anda terkesan masuk pada inna al-ibrah bi khususissabab, la bi 'umumillafdzi. jadi anda akan masuk pada pemahaman yang nantinya malah menghentikan relevansi alqur'an.

saya sebetulnya suka berdiskusi dg siapapun, tapi bukan dg orang yang asal bicara seperti anda.

begini ya..saya akan sebutkan kenapa tafsir itu dapat menghilangkan qaddasah al-qur'an menurut perspektif liberal. dan perlu dicatat, buku2 yg sdh terbit untuk membantah ini sudah sangat banyak sekali..

1. tafsir cenderung berkutat pada masalah bahasa. nahwu sharaf ataupun balaghah, sehingga cenderung ingin mengatakan bahwa i'jaz al-qur'an itu ada pada bahasanya, bukan pada madmunnya. padahal yang namanya bahasa arab, kaidahnya sangat banyak dan terdapat banyak ikhtilaf. sehingga dg menarik al-qur'an pada aspek kebahasaan justru akan menghilangkan qaddasah ( kesucian ) alqur'an.

2. imam ahmad bin hanbal dalam musnadnya mengatakan bahwa : tiga hal yang tidak mempunyai asal, diantaranya adalah tafsir. kenapa ? karena riwayat-riwayat seputar penafsiran itu sangat sedikit sekali, dan bahkan terkadang banyak yang maudlu'.

3. berdasarkan kedua alasan diatas, sudah cukup untuk mengatakan bahwa tafsir itu validitasnya tidak dapat dipertanggung jawabkan

dan hujjah2 untuk menolak penafsiran masih sangat banyak. jadi mereka tidak ada yang mengatakan bahwa menolak penafsiran itu berakibat mandegnya penalaran al-qur'an, yang mereka katakan, menolak penafsiran itu karena isi dari tafsir2 yang ada sekrang tidak bisa dipertanggung jawabkan. dan buku2 yang sudah terbit untuk menolak paham-paham ini sudah beredar di pasaran.

lalu anda ? nah, itu dia yang membuat saya malas berdiskusi dg anda. anda sebaiknya cari orang yang selevel untuk berdiskusi tentang hal-hal bodoh tersebut.

ecxo_doc

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 273
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • wie geht's ^_^
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #19 pada: Oktober 13, 2008, 09:49:26 am »
OOT

bagi saya, memahami ayat al-qur'an itu sulit. ohya, saya sudah hafal nadzam alfiah 1000 bait, sudah hafal al-qur'an 30 juz, sudah pernah mengkaji ilmu fiqh dan ushul lumayan mendalam, sudah pernah belajar majaz-majaz yang berlaku dalam al-qur'an, sedikit banyak sudah tahu kaidah-kadiah penafsiran. dan saya sampai sekarang, masih belum berani untuk menafisirkan madlul ayat dg pemahaman saya.

Subhanallah..
bro fahmie, gimana caranya sih biar gampang hafal Al-qur'an
ane sulit kali nih ngapal Al-qur'an...
JUZ 30 aja masih baru ampe Al-Fajr
 :(

All Fana

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 241
  • Reputasi: 3
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #20 pada: Oktober 13, 2008, 04:01:44 pm »
OOT

Subhanallah..
bro fahmie, gimana caranya sih biar gampang hafal Al-qur'an
ane sulit kali nih ngapal Al-qur'an...
JUZ 30 aja masih baru ampe Al-Fajr
 :(


pelajari bhs arab dulu ....
mondok jd santri...

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #21 pada: Oktober 13, 2008, 10:43:44 pm »
alhamdulillah ternyata ada yg tahu dan memuji saya bodoh.
terima kasih. kalau ada kesalahan tentu dari saya pribadi. kalau kebenaran tentu dari Allah.
orang bodoh spt saya , harus hati hati. supaya bisa mengikuti ulama yg benar.
di annisa 4 ayat 81 diceritakan orang-orang yg mendengar sabda rosul .
setelah berpisah dari rasul ada yg menyampaikan apa adanya. dan ada yg menyampaikan dgn perubahan.
padahal ulama zaman itu dinamai salaf, kenapa harus begini menilai ulama salaf?
pantas kalau ada yg tanya ulama salaf yg mana yg harus diikuti.
itu zaman nabi sdh spt itu, zaman ulama salaf apa tdk lbh parah. abad 3h, 4h apa tdk semakin parah.
harus diingat juga ulama salaf tdk meninggalkan tulisan. karena dilarang menulis selain Qur'an.
dan mereka patuh, yg sdh terlanjur malah dibakar. jadi zaman itu  1h orang mempelajari Qur'an dan mengajarkan Qur'an. Karena pedoman Islam ya memang cuma Qur'an ini, bukan kitab lain.

Bagaimana kalau ulama menerangkan trus kita tanya di Qur'an posisi disurah dan ayat mana?
bukankah kalau ada perselisihan disuruh kembali ke Qur'an.


Kalau orang sepintar itu mengatakan, memahami ayat ayat Qur'an sulit trus orang bodoh seperti saya bagaimana bisa paham. Atau mungkin sulit memahami karena terlalu banyak ilmu lain-lain.
katanya kalau sdh terlalu banyak isinya ditambahi terus malah tumpah. Apa perlu dibuang/direset dulu?


 

ecxo_doc

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 273
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • wie geht's ^_^
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #22 pada: Oktober 14, 2008, 10:23:07 am »
OOT

Subhanallah..
bro fahmie, gimana caranya sih biar gampang hafal Al-qur'an
ane sulit kali nih ngapal Al-qur'an...
JUZ 30 aja masih baru ampe Al-Fajr
 :(


pelajari bhs arab dulu ....
mondok jd santri...

wah harus jadi santri dulu ya baru bisa menghafal 30 juz Al-Qur'an
ga bisa sambil bekerja atau berkatifitas di luar pondok gitu..
 :(

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #23 pada: November 06, 2008, 03:53:27 pm »
mas fahmie apa benar ada ayat yg dihapus?
kalau ada kasih contoh ya.

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #24 pada: November 06, 2008, 05:02:28 pm »
OOT
Hmm kok gak dibales ya  :-? Pasti ada yang gak beres tuh :D

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #25 pada: November 10, 2008, 04:18:03 pm »
mas fahmie apa benar ada ayat yg dihapus?
kalau ada kasih contoh ya.

banyak yang di mansukh. seperti ayat "wala taqrabu al-shalat wa antum sukara...."

jerry_spy

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 825
  • Reputasi: -2
  • Jenis kelamin: Pria
  • beramal dan beramal
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #26 pada: November 13, 2008, 09:29:25 pm »
gi mana dengan tafsir mufassar mufassir ...?

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #27 pada: November 14, 2008, 04:19:56 am »
gi mana dengan tafsir mufassar mufassir ...?

maksudnya gimana kang jerry ? mufassar dan mufassir ( yang ditafsiri dan menafsiri ), beginikah ?

dzikr

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 3
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #28 pada: November 20, 2008, 08:42:47 am »
Assalam...
Salam kenal semua!
menurut saya tafsir ulama memang perlu untuk dipahami (jika perlu cari dasar2 mengapa ulama mentafsirkan sedemikian rupa), dengan tujuan mendeteksi apakah penafsirannya logis atau tidak! karena kita tahu, ulama juga manusia yang tidak menutup kemungkinan terjadi khilafiah. mungkin sebagian orang akan berpendapat, kalau tidak mengerti nahwu sorof atau kaidah2 dalam mengartikan bahasa Alquran maka orang tersebut belum bisa menarik analisa dari sebuah atau beberapa ayat Alquran! saya kurang setuju dengan pendapat ini. alasan saya, memang untuk menterjemahkan ayat Alquran harus memahami tatabahasa arab kalau perlu belajar sastra arab tapi ini untuk menterjemahkan belum tentu analisa. belum tentu orang yang bisa menterjemahkan bisa mentafsirkan! dan juga sebaliknya ada orang yang bisa mentafsirkan tapi tidak terlalu menguasai tatabahasa arab, dia akan mentafsir terjemahan yang sudah ada (terjemahan DEPAG mungkin). dan yang paling baik bisa menterjemahkan sekaligus mentafsirkan!
Saya pernah baca buku tentang sejarah Alquran, bahwa dulu ketika masa turunnya Alquran pada umunya orang2 arab belum bisa baca tulis. sedikit terbesit dibenak saya, kalau baca tulis saja belum dikuasai keseluruhan berarti tata bahasa ataupun kaidah2 juga belum dipelajari. tapi karena mereka orang2 arab jadi mengerti bahasa arab untuk berkomunikasi, seperti halnya orang Indonesia bisa bahasa Indonesia tapi kalau tidak sekolah ya tidak mengerti tata bahasa indonesia.
entah salah atau tidak, lantas saya bertanya2, sahabat2 rasul apakah mereka sudah menguasai nahwu sorof atau tata bahasa arab secara luas? kita tahu, kita dapat mempelajari tata bahasa Indonesia lewat pendidikan yang cukup panjang nah apakah sahabat2 rasul juga belajar bahasa arab lewat pendidikan yang cukup panjang, sedangkan kita tahu banyak orang2 arab ketika itu belum bisa baca tulis?
Kesimpulan saya kali ini, menguasai tata bahasa arab memang perlu, tapi bukan berarti kita harus membuang mentah2 penafsiran orang2 yang tidak tahu tata bahasa arab! semua penafsiran, baik itu dari orang yang paham tata bahasa arab atau yang tidak menguasai tatabahasa arab harus tetap kita analisa secara logis! karena bisa menterjemahkan belum tentu bisa menafsirkan, dan begitu juga sebaliknya!
Maaf bila ada salah! mohon tanggapannya, bisa juga melalui email!
Wassalam...

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: "mana tafsir ulamanya??"
« Jawab #29 pada: Desember 14, 2008, 01:40:08 pm »
 seberapa banyak ayat yg dimansukh?
mungkin jumlahnya atau berapa persennya?
kira kira saja menurut mas fahmi ?