Penulis Topik: KOLOM HISTORIAN  (Dibaca 11648 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
KOLOM HISTORIAN
« pada: September 04, 2009, 09:09:27 am »
yang Suka dengan sejarah...... saya undang sahabat untuk memberikan informasi seputar sejarah apapun disini..... Di tunggu loh !! yang paling banyak posting kuberikan reputasi +

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #1 pada: September 04, 2009, 09:43:24 am »
aku mulai nih :

Asal-usul Jam

Pada awal kehidupan, manusia tidak mengenal jam. Yang mereka tahu hanya bangun saat matahari terbit, lalu tidur saat bintang-bintang menghiasi langit. Begitulah dari hari ke hari. Untuk menghitung hari, mereka menghitung berapa kali matahari terbit. Di kemudian hari, orang Mesir kuno memeperhatikan bayangan matahari. Jika posisi matahari tegak lurus, bayangan yang terbentuk pendek. Sebaliknya, saat matahari mulai naik atau turun, bayangannya panjang. Pada pagi hari saat matahari di timur, bayangan ada di barat. Begitu sebaliknya pada petang hari.
Berdasarkan bayangan matahari, mereka lalu membuat jam matahari berupa balok berbentuk T yang berdiri tegak lurus. Di bawahnya ada balok atau batu yang diberi batasan-batasan. Benda ini mereka taruh di tempat terbuka yang tersorot matahari.
Berdasarkan bayangan mereka memperkirakan waktu. Benda inilah alat pengukur waktu yang pertama.
Di kemudin hari, mereka mencoba membuat alat pengukur waktu lain. Ada yang menggunakan gentong berisi air. Dinding gentong diberi angka-angka, dan dasarnya diberi lubang. Saat air menetes, permukaan air turun dari satu ruas ke ruas lain. Setiap ruas sama dengan 1 jam. Uniknya, orang Babilonia sudah menentukan 1 hari itu 2 x 12 jam.
Ada juga yang menggunakan lilin yang diberi batasan. Setiap ruas sama dengan 1 jam. Ada juga yang membuat gelas pasir. Tentu saja semua ini bukanlah alat pengukur dan penunjuk waktu yang akurat. Jam matahari tidak tepat bila matahari tertutup awan atau di musim dingin, ketika pemunculan matahari cuma sebentar. Sedangkan jam air akan terganggu pada musim dingin, karena airnya membeku. Walau demikian, cara ini dipakai selama berabad-abad untuk mengukur waktu.
Ketika peradaban semakin maju, orang mulai mengenal jam mekanik. Namun, asal muasal jam mekanik tidak jelas.
Sekitar tahun 1500-an, seorang tukang kunci Jerman mencoba membuat jam yang dilengkapi per. Kerja jam ini lebih baik daripada sebelumnya.
Pada akhir abad XVII Galileo, seorang ilmuwan, mengamati kerja sebuah bandul. Menurut pengamatannya, lama bandul berayun ke kiri dan ke kanan sama. Atas dasar teori ini, Christian Huygens, seorang ilmuwan Belanda, menciptakan jam bandul pertama. Jam ini jauh lebih akurat karena lama ayunan ke kiri dan kanan selalu sama.
Pada abad berikutnya, jam mekanis yang lebih rumit dibuat. Jam ini tetap dilengkapi dengan jarum penunjuk detik dan menit. Jam yang ada ketika itu besar hampir setinggi 2 meter. Agar tetap cantik kemudian dibuatkan rumah-rumahan yang indah. Maklum, jam ketika itu cuma milik orang-orang kaya. Jam tidak hanya berfungsi sebagai alat penunjuk dan pengukur waktu, tapi juga sebagai hiasan. Beberapa orang kaya bahkan menaruh jam tidak hanya di dalam rumah, tapi juga di tempat terbuka seperti halaman istana.
Karena merasa tidak praktis, para pembuat jam kemudian membuat jam yang lebih kecil. Jam ini pun diberi hiasan-hiasan yang cantik. Yang dikenal sebagai pembuat jam yang baik adalah orang Jerman.
Pada abad XIX jam mengalami kemajuan pesat. Georger Roskopff dari Swis memproduksi jam dalam jumlah banyak. Sejak saat itu, jam dapat dijual dengan harga murah sehingga hampir setiap orang mampu membelinya. Dari waktu ke waktu, dengan perkembangan teknologi, jam pun makin akurat, tidak lagi memakai bandul, tapi baterai. Bahkan kini dikenal jam digital yang tingkat keakuratannya lebih baik lagi.

sumber : http://pamanahrasa.blogsome.com/2006/11/30/asal-usul-jam/

Luthi

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.155
  • Reputasi: 30
  • Jenis kelamin: Pria
  • forgiven
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #2 pada: September 04, 2009, 11:18:35 am »
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin.

--------------
http://en.wikipedia.org/wiki/Wong_Fei_Hung
http://www.wongfeihung.com/
http://www.abdurrohim.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=312:wong-fei-hung-adalah-muslim-dan-berasal-dari-keluarga-muslim&catid=65:sejarah&Itemid=170
http://majalahummatie.wordpress.com/2009/01/12/wong-fei-hung-adalah-seorang-muslim/

d4vid_r5

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.926
  • Reputasi: 40
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dreaming...
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #3 pada: September 04, 2009, 12:27:02 pm »
yang Suka dengan sejarah...... saya undang sahabat untuk memberikan informasi seputar sejarah apapun disini..... Di tunggu loh !! yang paling banyak posting kuberikan reputasi +
lihat sigi ku dunk...daftar  disana


:go:

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #4 pada: September 04, 2009, 03:48:32 pm »
yang Suka dengan sejarah...... saya undang sahabat untuk memberikan informasi seputar sejarah apapun disini..... Di tunggu loh !! yang paling banyak posting kuberikan reputasi +
lihat sigi ku dunk...daftar  disana


:go:

biar ada thread ini didudung...... kalau ada informasi ya silahkan share....... OK deh tak buka kemaren juga sudah dibuka tapi belum daftar

LAVI

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.262
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Pria
  • However She is Still an Adolescent Child
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #5 pada: September 05, 2009, 06:54:52 pm »
buka Blog ku

harrypotter

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 37
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #6 pada: September 05, 2009, 07:43:19 pm »
Kutip
http://en.wikipedia.org/wiki/Wong_Fei_Hung
di situ tidak dijelaskan bahwa dia seorang muslim
(atau memang saya yg membacanya terlalu cepat?)

kalau dia seorang muslim taat, kenapa bisa ada Jurus Mabuk? atau jurus mabuk hanya rekayasa dari film Drunken Master? :-?

Luthi

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.155
  • Reputasi: 30
  • Jenis kelamin: Pria
  • forgiven
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #7 pada: September 07, 2009, 08:35:14 am »
Kutip
http://en.wikipedia.org/wiki/Wong_Fei_Hung
di situ tidak dijelaskan bahwa dia seorang muslim
(atau memang saya yg membacanya terlalu cepat?)

kalau dia seorang muslim taat, kenapa bisa ada Jurus Mabuk? atau jurus mabuk hanya rekayasa dari film Drunken Master? :-?
saya jg nanya hal itu...:))

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #8 pada: September 08, 2009, 02:08:44 pm »
Kutip
http://en.wikipedia.org/wiki/Wong_Fei_Hung
di situ tidak dijelaskan bahwa dia seorang muslim
(atau memang saya yg membacanya terlalu cepat?)

kalau dia seorang muslim taat, kenapa bisa ada Jurus Mabuk? atau jurus mabuk hanya rekayasa dari film Drunken Master? :-?
saya jg nanya hal itu...:))

Jika ia muslim yang taat tidak mungkin mabuk - mabukan..... atau mungkin Jurusnya memang dinamakan jurus mabuk tapi g minum - minuman keras karena karakter jurusnya yang memang kayak orang mabok ??

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #9 pada: September 08, 2009, 02:11:41 pm »
Masuknya Islam Ke Bengkulu

Sebagai salah satu pulau terbesar yang ada di Indonesia, pulau Sumatera terdiri dari beberapa propinsi, salah satunya adalah propinsi Bengkulu. Propinsi Bengkulu pernah menjadi jajahan kolonial Inggris dan Belanda. Pada masa pemerintahan kolonial Inggris berkuasa di Bengkulu, tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Rafless di tanah Bengkulu ditemukan satu jenis bunga raksasa yang diberi nama bunga Raflessia yang diambil dari nama gubernur jenderal Inggris tersebut, sehingga propinsi Bengkulu dikenal juga dengan nama Bumi Raflessia.
Bengkulu berasal dari nama sungai Bangkahulu yang berarti pinang yang hanyut dari haluan atau hulu. Propinsi Bengkulu terletak di Sumatera bagian Selatan di bagian Barat, yaitu pada garis lintang 2018- 400 L.S. dan 1010-1030 B.T. Secara administratif propinsi Bengkulu berbatasan dengan Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, propinsi Lampung dan Samudera Hindia. Daerahnya terbagi atas tiga jalur yakni daratan pantai, daratan lereng, pegunungan dan jalur pegunungan. Wilayah pegunungan memiliki puncak yang cukup tinggi seperti gunung Seblat dan gunung Dempo, dan diselingi oleh hutan tropis yang lebat. Sungai yang besar adalah sungai Musi bagian hulu, mengalir ke pantai Utara pulau Sumatera dan sungai Ketahun yang mengalir ke pantai Selatan. Propinsi Bengkulu sebagian besar merupakan daerah subur, karena curah hujan cukup memadai. Sejak dahulu Bengkulu sudah terkenal sebagai penghasil lada dan hasil pertanian lainnya seperti padi, sayur mayur, dan buah-buahan. Dari pertambangan di Bengkulu, dapat menghasilkan emas dan perak yang terdapat di Rejang Lebong dan Musi Hulu .
Sumber lain menyebutkan bahwa nama Bengkulu diambil dari kisah perang melawan orang Aceh yang datang melamar Putri Gading Cempaka, yaitu Soak Ratu Agung Raja Sungai Serut Akan tetapi lamaran tersebut ditolak sehingga menimbulkan perang. Suku Soak Dalam, adalah saudara kandung Putri Gading Cempaka yang menggantikan Raja Sungai Serut, saat terjadi peperangan berteriak “Empang ka Hulu-Empang ka hulu”: yang artinya hadang mereka (orang Aceh) jangan biarkan mereka menginjakkkan kakinya di tanah kita. Dari kata tersebut lahirlah kata Bangkahulu atau Bengkulu, bangsa Inggris menyebut Bengkulu dengan Bencoolen .
Suku kaum yang dianggap penduduk asal Bengkulu ada tiga puak Melayu, terdiri dari orang Rejang (pesisir dan dataran tinggi), orang Serawai di Selatan, dan Melayu Bengkulu di Bengkulu kota. Suku asli Enggano, merupakan minoritas dan hidup di pulau Enggano 114 Km Barat lepas pantai Bengkulu. Bahasa Melayu Bengkulu merupakan rumpun bahasa Melayu Sumatera dengan pengaruh silang dialek Minangkabau dan Melayu Palembang-Jambi. Sedangkan bahasa Rejang dan Serawai merupakan sub-bahasa Melayu Sumatera Selatan .
Berdasarkan tambo, orang Rejang (salah satu suku yang ada di Bengkulu) adalah berasal dari Bidara Cina melewati Pagaruyung, yang juga berasal dari Majapahit (Jawa). Demikian juga dengan suku Serawai pada umumnya mendiami daerah Bengkulu Selatan. Sedangakan suku Melayu mendiami kotamadya Bengkulu dan beberapa Kecamatan di pinggiran kota Bengkulu dan wilayah kabupaten Bengkulu Utara. Dengan demikian penduduk Bengkulu mempunyai latar belakang budaya Minangkabau, Jawa dan Melayu .

Masuk dan berkembangnya dakwah Islam di Bengkulu menurut hemat penulis sedikit terlambat dibandingkan dengan masuknya dakwah Islam di daerah-daerah lain di nusantara yang telah tersentuh ajaran Islam pada abad ke-7. Hal ini ada kemungkinan disebabkan oleh letak geografis Bengkulu yang berada di tepi Samudera Hindia bukan berada di antara selat pulau, dengan kondisi seperti tersebut membuat pelayaran mengalami kesulitan untuk berlayar menuju Bengkulu. Persentuhan Bengkulu dengan Islam saat Bengkulu masih terbentuk dalam sistem pemerintahan berupa kerajaan-kerajaan kecil yang berada di kawasan dataran tinggi ataupun berada di wilayah pesisir propinsi Bengkulu.
Berdasar pada beberapa data yang ada, salah satunya menurut Azra, penyebaran Islam yang berasal dari Timur Tengah dan sekitarnya menuju kepulauan nusantara, terlebih dahulu singgah di Malaka. Dari Malaka inilah kemudian Islam tersebar menuju nusantara. Dari Malaka Islam tersebar ke pulau Sumatera melaui Sriwijaya (Palembang) lalu menyebar ke daerah-daerah lainnya di Sumatera. Dari Malaka Islam juga dibawa ke Aceh (Samudera Pasai) dan menyebar ke daerah sekitarnya di pulau Sumatera. Sedangkan Sumatera Barat menerima Islam melalui Palembang dan Aceh . Bila melihat jalur penyebaran agama Islam di nusantara tersebut, ada kemungkinan Islam masuk ke Bengkulu melalui Minangkabau (1500) atau melalui Palembang, dan pada masa-masa tersebut Bengkulu masih berbentuk dalam tata pemerintahan berupa kerajaan-kerajaan.
Salah satu kerajaan tertua di Bengkulu adalah Kerajaan Sungai Serut dengan raja pertamanya Ratu Agung (1550 – 1570) yang berasal dari Gunung Bungkuk . Dari sumber lokal yang terhimpun dalam Gelumpai diperoleh keterangan bahwa pada tahun 1417 M seorang da’i dari Aceh bernama Malim Mukidim datang ke Gunung Bungkuk Sungai Serut Awi, kawasan Lematang Ulu. Malim Mukidim berhasil mengislamkan raja Ratu Agung penguasa Gunung Bungkuk saat itu . Menurut sumber lain, agama Islam masuk di Bengkulu sekitar abad ke 16 .
Persentuhan Palembang dengan Islam, sangat memungkinkan Palembang menjadi salah satu pintu masuknya Islam ke Bengkulu. Hal ini sebagaimana yang di kemukakan oleh Badrul Munir Hamidy :
Masuknya Islam ke Bengkulu melalui lima pintu yaitu ; pintu pertama melalui kerajaan Sungai Serut yang dibawa oleh ulama Aceh Tengku Malim Mukidim, pintu kedua melalui perkawinan Sultan Muzafar Syah dengan putri Serindang Bulan, inilah awal masuknya Islam ke tanah Rejang pada pertengahan abad XVII. Pintu ketiga melalui datangnya Bagindo Maharajo Sakti dari Pagaruyung ke kerajaan Sungai Lemau pada abad XVII, pintu keempat melalui dakwah yang dilakukan oleh da’i-da’i dari Banten, sebagai bentuk hubungan kerjasama kerajaan Banten dan kerajaan Selebar, pintu kelima masuknya Islam ke Bengkulu melalui daerah Mukomuko setelah menjadi kerajaan Mukomuko. Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat mempunyai kekuasaan yang luas dari Sikilang Aia Bangih adalah batas Utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu (daerah pesisir Selatan hingga ke Mukomuko). Durian Ditakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi yang terakhir, Sialang Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, Riau sekarang .

Selain jalur-jalur ataupun pintu masuknya dakwah Islam ke Bengkulu yang dikemukakan di atas, salah satu jalur masuknya Islam ke Bengkulu adalah adanya hubungan kerajaan Sungai Lemau dengan Singaran atau Suanda yang berasal dari Palembang. Pada tahun 1527 M datang seseorang yang berasal dari Lembak Beliti, dusun Taba Pingin Pucuk Palembang yang bernama Singaran atau Suanda kepada Baginda Sebayam raja Sungai Lemau dengan tujuan untuk meminta suaka politik. Pengganti Baginda Sebayam adalah putranya yang tertua bernama Baginda Sana yang bergelar Paduka Baginda Muda. Pada masa pemerintahan Paduka Baginda Muda datang seorang laki-laki dari dusun Taba Pingin yang bernama Abdul Syukur yang masih termasuk kerabat Singaran (Suanda). Abdul Syukur inilah yang mula-mula mengembangkan agama Islam di wilayah Sungai Itam hingga ke Lembak Delapan .
Singaran atau Suanda yang datang dari Lembak Beliti dusun Taba Pingin Pucuk – Palembang dalam sumber lain nama Singaran atau Suanda disebut juga dengan nama Aswanda. Karena Aswanda berkelakuan baik dan berasal dari keturunan bangsawan maka oleh baginda Sebayam diambil menjadi menantu dan diberi sebagian wilayah kerajaannya, yaitu daerah pesisir yang terbentang antara Sungai Itam dan sungai Bengkulu ke hulu sampai sungai Renah Kepahiang dan ke hilir sampai ke pinggir laut, peristiwa ini terjadi pada tahun 1650 . Kedatangan kerabat Singaran (Suanda atau Aswanda) yang beragama Islam (Abdul Syukur) pada masa pemerintahan Paduka Baginda Muda dari kerajaan Sungai Lemau berarti telah terjadi kontak hubungan antara masyarakat Sungai Lemau khususnya di wilayah Sungai Itam hingga ke Lembak Delapan dengan agama Islam sekitar tahun 1650.
Pada tahun 1668 M (1079 H) kerajaan Sungai Lemau dan kerajaan Sillebar yang ada di Bengkulu mengadakan hubungan kerjasama dengan sultan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa). Utusan kerajaan Sungai Lemau diwakili oleh Depati Bangsa Raja, sedangkan utusan dari kerajaan Sillebar diwakili oleh Depati Bangso Radin. Kedua utusan dari dua kerajaan tersebut menyatakan wilayahnya di bawah kekuasan sultan Banten. Selanjutnya sultan Banten bermufakat dengan Inggris untuk memberikan gelar pangeran kepada kedua utusan dari Bengkulu tersebut, setelah menghadap sultan Banten, Depati Bangsa Raja dari kerajaan Sungai Lemau mendapat gelar Pangeran Raja Muda. Sedangkan Depati Bangsa Radin dari kerajaan Sillebar oleh Sultan Banten diberi gelar Pangeran Nata Diraja. Menurut riwayat, Pangeran Nata Diraja menikah dengan Puteri Kemayun anak perempuan Sultan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa). Pangeran Nata Diraja kembali ke kerajaan Sillebar di Bengkulu disertai dengan dua belas tentara kesultanan Banten .
Dengan demikian dakwah Islam juga masuk ke Bengkulu melalui pintu kerjasama antara kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu pada abad ke-16. Selain itu peninggalan sejarah menyangkut kontak hubungan masyarakat Bengkulu dengan agama Islam yang masih dapat dilihat sampai sekarang adanya perayaan ritual Tabut yang dilaksanakan untuk memperingati kematian cucu Nabi Muhammad S.A.W. yakni Hasan dan Husein.
Awal datangnya Tabut di Bengkulu dibawa oleh orang Benggali India pada tahun 1714 dikepalai oleh Syekh Burhanudin, bergelar imam Senggolo. Di Bengkulu Syekh Burhanudin mempersunting dua orang dara yang masing-masing berasal dari dusun Cinggri (pen. Cenggri) dan Sungai Leman (pen. Sungai Lemau) (Pondok Kelapa sekarang) menetap disebuah perkampungan yang terletak dipesisir bantai Berkas dengan anak dan cucunya . Masuknya budaya Tabut ke Bengkulu pada masa penjajahan Inggris abad XVII yang dibawa oleh orang-orang Islam berasal dari India yang berasal dari suku Sipai dan Benggali.
Pada masa kolonial Inggris berada di Bengkulu, orang-orang Benggala termasuk kelompok ke lima dalam pelapisan sosial. Orang-orang Benggala lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan orang Cina. Tabiat orang Benggala penuh curiga, suka berkelahi, dalam bekerja lebih lamban dari orang-orang Melayu. Selain itu mereka menciptakan suatu tradisi perayaan yang lain dari kebudayaan orang-orang Melayu yang ada di Bengkulu, orang Benggala dikenal juga sebagai Sipaijer atau orang Sipai . Kebudayaan dan tradisi yang diciptakan oleh orang Benggala tersebut sampai saat ini dikenal dengan perayaan Tabut.
Selain bukti sejarah berupa kebudayaan, tulisan, dan lain sebagainya, bukti lain yang mengindikasikan masuknya dakwah Islam ke suatu daerah antara lain adalah adanya makam orang Islam atau makam yang bercorak Islam. Seperti ditemukannya batu nisan yang bertuliskan dan atau berarsitektur Timur Tengah.
Di Bengkulu, salah satu peninggalan makam yang bercorak Islam terdapat pada makam Sentot Ali Basya tertulis tanggal pemakaman 17 April 1885. Menurut penuturan masyarakat, bangunan cungkup yang ada di atas makam Sentot Alibasyah adalah bangunan baru. Hal itu menunjukan bangunan makam tersebut pada awalnya sangat sederhana, tanpa bangunan tambahan. Makam tidak ditandai dengan nisan, berbeda dengan umumnya makam-makam muslim di Nusantara .
Lokasi makam Sentot Alibasyah ini berada di daerah Kampung Bali atau lebih tepatnya berada pada arah Barat propinsi Bengkulu. Kondisi makam cukup terawat dengan baik, dipasang cungkup berwarna putih, serta disekelilingnya terdapat makam-makam lain yang berasal dari masyarakat sekitar. Lokasi makam mudah dijangkau dengan kendaraan, karena berada sekitar 200 meter dari jalan raya.
Bukti-bukti sejarah masuknya Islam di Bengkulu belum teridentifikasi secara utuh, karena sedikitnya peninggalan sejarah yang menunjukkan kapan masuknya Islam di Bengkulu dan penulis belum menemukan hasil penelitian tentang hal tersebut. Namun demikian perkembangan sejarah dakwah di Bengkulu dapat juga dilihat dari beberapa manuskrip yang menunjukkan corak ke-Islam adalah adanya naskah yang ditulis pada ruas/gelondong (Gelumpai) dari bambu, yang dikenal dengan tulisan Rencong Ka-Ga-Nga, atau aksara Ulu. Masyarakat turunan Pasemah khususnya masyakat yang ada di Padang Guci kabupaten Kaur menyebut tulisan Ka-Ga-Nga dengan sebutan tulisan Ke-Ge-Nge, dan dari informasi yang penulis dapatkan tidak ada perbedaan antara Ka-Ga-Nga orang suku Rejang dengan tulisan Ke-Ge-Nge yang pernah ada di Padang Guci.
Walaupun demikian tulisan Rencong Ka-Ga-Nga merupakan tulisan suku Rejang Bengkulu pertengahan abad XV, dan dikenal dengan sebutan tulisan Rencong, yang cara menulisnya dilakukan dari kiri ke kanan secara melintang (horizontal) . Istilah Rencong lazim dipergunakan oleh sarjana Belanda. Tulisan aksara rencong disebut juga dengan aksara Ka-Ga-Nga, atau Ulu (Surat Ulu) . Dari sumber lokal yang terhimpun dalam tulisan pada ruas-ruas bambu (Gelumpai) diperoleh keterangan bahwa pada tahun 1417 M seorang da’i dari Aceh bernama Malim Mukidim datang ke Gunung Bungkuk Sungai Serut Awi, kawasan Lematang Ulu. Ia berhasil mengislamkan raja Ratu Agung penguasa Gunung Bungkuk saat itu . Dengan demikian tulisan-tulisan tersebut dengan jelas menceritakan Islam di Bengkulu.
Selain peninggalan tulisan, makam, dan artefak, masjid merupakan sebuah bukti sejarah Islam. Sehingga untuk mengkaji sejarah Islam, tidak jarang masjid menjadi tolok ukur masuk dan berkembangnya Islam di suatu daerah. Masjid sebagai sentral kegiatan ibadah dan dakwah Islam yang dapat menjadi bukti sejarah masuknya Islam di Bengkulu, namun di sayangkan sangat sedikit dapat ditemukan masjid-masjid tua yang menunjukkan indikasi bahwa masjid tersebut dibangun pada awal masuknya Islam di Bengkulu. Pada umumnya masjid yang ada di Bengkulu dibangun setelah abad ke -19.
Sebagai bukti masuk dan berkembangnya Islam di Bengkulu, tidak salah kiranya ditelusuri melalui masjid-masjid tua yang ada di Bengkulu. Dalam tulisannya Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia Abdul Baqie Zein mengemukakan ada beberapa masjid tertua dan bersejarah di kota Bengkulu adalah : masjid Baiturrahim simpang lima th 1910, masjid Taqwa Jl Sutoyo Rt. 4 th 1910, masjid Al-Muhtadin Jl S. Parman Rt. 10 th 1912, masjid Lembaga Pemasyarakatan th 1915, masjid Al-Muhtadin th 1920, masjid Al-Iman Jl. Sutoyo Rt. 5 th 1921. masjid-masjid inilah yang tercatat dalam direktori masjid Kanwil Depag Bengkulu tahun 1997 . Sumber lain menyebutkan bahwa masjid-masjid yang bersejarah di Bengkulu di antaranya masjid Jamik di Jl. Suprapto, masjid Syuhada di kelurahan Dusun Besar, masjid Al-Mujahidin di kelurahan Pasar Baru, dan masjid Baitul Hamdi di kelurahan Pasar Baru.
Di Bengkulu Selatan terdapat sebuah masjid yang bernama Masjid Al Mannar yang kondisinya saat ini telah dipugar karena mengalami kerusakan berat setelah gempa tahun 2000. Menurut Burhanuddin (Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Mannar) masjid Al-Manar merupakan masjid tertua di Kota Manna, karena dibangun sekitar tahun 1905 Masehi atau 1327 Hijriyah. Masjid Al-Mannar yang berlokasi di perkampungan nelayan Pasar Bawah memiliki nilai-nilai historis, karena terkait erat dengan sejarah perkembangan Islam di Bengkulu Selatan. Di masjid tersebut, dimakamkan pula Syech Moh Amin, yang merupakan penyebar agama Islam dan pendiri masjid pertama di Bengkulu Selatan tersebut .

Sumber : http://japarudinstain.blogdetik.com/2009/07/21/islam-di-bengkulu/

d4vid_r5

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.926
  • Reputasi: 40
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dreaming...
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #10 pada: September 08, 2009, 02:27:57 pm »
kalau dia seorang muslim taat, kenapa bisa ada Jurus Mabuk? atau jurus mabuk hanya rekayasa dari film Drunken Master? :-?
jurus dewa mabuk (Zui Quan) bukan rekayasa, emang ada jurus itu kalo englishnya drunken boxing. ga mesti mabuk dlu kalo pake jurus ini...

harrypotter

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 37
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #11 pada: September 08, 2009, 11:44:51 pm »
atau mungkin Jurusnya memang dinamakan jurus mabuk tapi g minum - minuman keras karena karakter jurusnya yang memang kayak orang mabok ??
atau mungkin oleh beberapa 'oknum' yg memang sengaja ingin 'mengambil' wong fei hung sbg muslim? :D

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #12 pada: September 17, 2009, 11:27:47 am »
daku mau kasih +1 untuk si luthi atas infonya  :great: :great:

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #13 pada: September 17, 2009, 11:33:48 am »
Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, "pulau Atlas") adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.

Pada buku Timaeus, Plato berkisah:


    "Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam." (Tsunami kali ya)

ada beberapa catatan Plato yang menggambarkan kemegahan Atlantis ini. menurut sahabat dudung ini fakta sejarah atau hanya mitos ??

(Copy forum sebelah)

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re:KOLOM HISTORIAN
« Jawab #14 pada: September 18, 2009, 02:30:44 pm »
nih ada info tentang atlantis kota yang hilang :

Kata Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya,  kekayaan alam, ilmu pengetahuan-teknologi, dan lain-lainnya. Plato menduga bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es di muka bumi mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos, dengan mengutip teori para geolog, menamakannya sebagai Heinrich Events, bencana katastrop yang berdampak global.  Beberapa artikel resume dari buku Aryso Santos ini dipublikasikan di situs internetnya di http://www.atlan.org.

Menurut Santos, dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Priyatna mengatakan: ”Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos  dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.”

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Menurut Priyatna, bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.

Koran Republika, Sabtu, 18 Juni 2005 menulis bahwa para peneliti AS menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia. Hingga kini cerita tentang benua yang hilang ‘Atlantis’ masih terselimuti kabut misteri. Sebagian orang menganggap Atlantis cuma dongeng belaka, meski tak kurang 5.000 buku soal Atlantis telah ditulis oleh para pakar.

Bagi para arkeolog atau oceanografer moderen, Atlantis tetap merupakan obyek menarik terutama soal teka-teki di mana sebetulnya lokasi sang benua. Banyak ilmuwan menyebut benua Atlantis terletak di Samudera Atlantik.

Sebagian arkeolog Amerika Serikat (AS) bahkan meyakini benua Atlantis dulunya adalah sebuah pulau besar bernama Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.

”Para peneliti AS ini menyatakan bahwa Atlantis is Indonesia,” kata Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Umar Anggara Jenny, Jumat (17/6), di sela-sela rencana gelaran ‘International Symposium on The Dispersal of Austronesian and the Ethnogeneses of the People in Indonesia Archipelago, 28-30 Juni 2005.

Kata Umar, dalam dua dekade terakhir memang diperoleh banyak temuan penting soal penyebaran dan asal usul manusia. Salah satu temuan penting ini adalah hipotesa adanya sebuah pulau besar sekali di Laut Cina Selatan yang tenggelam setelah zaman es.

Hipotesa itu, kata Umar, berdasarkan pada kajian ilmiah seiring makin mutakhirnya pengetahuan tentang arkeologi molekuler. Tema ini, lanjutnya, bahkan menjadi salah satu hal yang diangkat dalam simposium internasional di Solo, 28-30 Juni 2005

Menurut Umar, salah satu pulau penting yang tersisa dari benua Atlantis — jika memang benar — adalah Pulau Natuna, Riau. Berdasarkan kajian biomolekuler, penduduk asli Natuna diketahui memiliki gen yang mirip dengan bangsa Austronesia tertua.

Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut-sebut dalam mitos Plato. Ketika zaman es berakhir, yang ditandai tenggelamnya ‘benua Atlantis’, bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru.

Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Harry Truman Simanjuntak, mengakui memang ada pendapat dari sebagian pakar yang menyatakan bahwa benua Atlantis terletak di Indonesia. Namun hal itu masih debatable.

Yang jelas, terang Harry, memang benar ada sebuah daratan besar yang dahulu kala bernama Sunda Land. Luas daratan itu kira-kira dua kali negara India. ”Benar, daratan itu hilang. Dan kini tinggal Sumatra, Jawa atau Kalimantan,” terang Harry. Menurut dia, sah-sah saja para ilmuwan mengatakan bahwa wilayah yang tenggelam itu adalah benua Atlantis yang hilang, meski itu masih menjadi perdebatan yang perlu diverifikasi secara ilmiah oleh berbagai pihak yang berwenang (otoritatif), misalnya Badan Arkeologi Nasional RI.

Dominasi Austronesia

Menurut Umar Anggara Jenny, Austronesia sebagai rumpun bahasa merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang.

”Pertanyaannya dari mana asal-usul mereka? Mengapa sebarannya begitu meluas dan cepat yakni dalam 3500-5000 tahun yang lalu. Bagaimana cara adaptasinya sehingga memiliki keragaman budaya yang tinggi,” tutur Umar.

Salah satu teori, menurut Harry Truman, mengatakan penutur bahasa Austronesia berasal dari Sunda Land yang tenggelam di akhir zaman es. Populasi yang sudah maju, proto-Austronesia, menyebar hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban.

Apa yang diungkap Prof. Dr. Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini dibenarkan oleh Prof.Dr. Abdul Hadi WM, budayawan dan sastrawan terkemuka Indonesia

(Info lengkap baca : http://ahmadsamantho.wordpress.com/2009/05/23/misteri-negara-atlantis-mulai-tersingkap/)

Mungkinkah atlantis itu Indonesia ??