Penulis Topik: Tarekat  (Dibaca 19399 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

prince_darkness

  • Pengunjung
Tarekat
« pada: September 30, 2006, 11:38:04 am »
Setelah para sufi meninggal dunia, maka tinggallah murid-muridnya. Para murid berusaha melestarikan ajaran syaikhnya dengan cara taqlied.  Sekelompok orang yang mengikatkan diri secara taqlid kepada pendapat dan ajaran seorang sufi disebutlah Tarekat.  Kalau mereka mengikatkan diri kepada pendapat dan pengalaman suci syaikh Abdul Qadir Jailani, disebutlah Tarekat Qadiriyah.. Dikenallah nama-nama tarekat sesuai syaikh yang jadi anutannya, misalnya tarekat Naqsyabadiyah, Tarekat Tijaniyah, Tarekat Sanusiah, dll, Yang terakhir adalah tarekat  Muhhammadiyah atau tarekat  Suhaimiyah (Darul Arqam Malaysia),  sebab nama tokoh spiritualnya bernama Muhammad Suhaimi.
Penjelasan lebih rinci sbb :
Pengertian tarekat (thariqah, jamaknya taraiq) secara etimologis antara lain berarti jalan (kaifiyah), metode, sistem (al-uslub), haluan (madzhab), atau keadaan (al-halah).     Secara istilah tarekat bisa bermacam-macam, yakni (i). "Perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan".  (ii). Tarekat adalah organisasi keagamaan dalam Islam yang menghimpun anggota-anggota sufi yang sepaham bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.   Dalam pengertian ini maka tarekat adalah organisasi orang-orang yang mengikat diri kepada satu faham, pendapat (madzhab) dan pengalaman suci seorang sufi (mursyid), misalnya Tarekat Qadiriyah ialah sekelompok orang yang mengikatkan diri kepada faham, pendapat dan pengalaman suci Syaik Al-Tijani, dll. (iii) Tarekat bisa juga bermakna wirid atau dzikir-dzikir yang dirumuskan sedemikian rupa yang harus dibaca dengan jumlah tertentu. Adapun tarekat yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tarikat dalam pengertian ke dua.

prince_darkness

  • Pengunjung
Objek Kajian tarekat
« Jawab #1 pada: September 30, 2006, 11:38:45 am »
Masalah pokok yang sering dibicarakan dalam tarekat adalah konsep Wali Allah dan karamah. Dari kedua konsep ini akan berkembang kepada masalah-masalah lain, misalnya konsep tawashul (berdoa dengan menggunakan perantara), dan yaqazah wa al-musyafahah (bertemu dengan nabi dan bercakap, baik mimpi maupun jaga).

prince_darkness

  • Pengunjung
Konsep Wali Allah dan Karamah
« Jawab #2 pada: September 30, 2006, 11:39:27 am »
Dari segi bahasa Arab, wali berarti yang menolong atau yang mencitai. Sedangkan dari segi istilah bisa dua makna.
Pertama, wali bermakna manusia saleh atau manusia yang selalu bertaqwa. Jadi setiap orang saleh adalah wali. Siapapun—asal mampu—boleh menjadi wali dan oleh karena itu jumlah wali tidak terbatas. Akan tetapi tidak ada seorangpun dapat mengetahui apakah seseorang itu wali atau bukan. Ayat yang dipakai sandaran adalah surat Yunus ayat 62 – 63 : "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka yang selalu bertaqwa".
Kedua :  Wali dalam perspektif sufi atau literatur Orientas disebut Saint adalah orang-orang yang sangat saleh dengan menekankan dimensi mistiknya.  Wali dalam pengertian ini keistimewaan di luar kemampuan manusia biasa, atau disebut karamah.
Wali dalam pengertian pertama disepakati adanya, sedangkan wali dalam pengertian ke dua yang menekankan  aspek mistiknya tidak disepakati, sehingga banyak orang tidak setuju dengan sebutan wali Sanga misalnya, karena predikat wali hanya diberikan oleh Allah dan hanya Allahlah yang mengetahui siapa yang wali dan siapa yang bukan.
Bagaimana konsep wali, menurut Darul Arqam  ? Jawabannya dapat kita ketahui dari paparan berikut ini. Menurut Ashaari Muhammad, wali adalah orang yang rohaninya telah sangat bersih dan tingkat keimanannya sudah mencapi level iman Haqiqat..   
Menurut Abdul Halim (DA) , baik jalan mauhibah maupun suluk akan melahirkan wali-wali. Selanjutnya wali-wali ini diklasifikasi menjadi beberapa level, yakni wali Ahbab, Sadat, Autad, Nujabak dan wali Kutub.   Penjelasannya sbb :
1)  Wali Gaus (Kutub Al-Aktab) yakni wali ketua, disebut juga Sultan Aulia. Jumlahnya hanya satu orang dalam setiap tahun.
2)   Wali Kutub (Jamaknya Aktab). Dalam setiap zaman hanya empat orang.
3) Wali Najib (Jamaknya Nujabak), bilangan mereka untuk sezaman hanya 300 orang
4) Wali Watab (Jamaknya Autad) bilangan mereka dalam satu zaman hanya empat orang.
5) Wali Badal (Jamaknya Abdal), bilangan mereka untuk satu zaman antara 40 sampai 60 orang.
6) Wali Naqib (Jamaknya Nuqabak), bilangannya untuk sezaman hanya 40 orang.
Menurut Ashaari, nama-nama wali tersebut berdasarkan kepada hadits nabi, antara lain hadits dari Ali Ibn Abi Thalib : Rasulullah saw bersabda : wali Abdal sebanyak 40 orang lelaki dan 40 orang perempuan, tatkala mati seorang lelaki, Allah menggantikan di tempatnya dengan lelaki lain. Begitu pula setiap kali mati seorang perempuan, Allah menggantinya dengan perempuan lain di tempat itu".
"Sesungguhnya Ali Ibn Abi Thalib berkata : Wali Abdal dari syam, wali Nujaba' dari penduduk Mesir, dan wali Akhba dari penduduk Irak".
Orang-orang yang termasuk wali menurut DA adalah : (1). para sahabat nabi terutama Khulafa al-rasyidin (2). Imam madzhab terutama madhab yang Empat. (3). Para Mujaddid terutama Umar ib Abd Al- Aziz dan imam Al-Mahdi (4). Para perawi hadits seperti imam Bukhari dan muslim. (5). Pengasas-pengasas tarekat (6). Ulama-ulama besar terutama Imam Hasan Al-Bashri, Junaidi Al-Baghdaddi, Yazid Al-Bustami, Abdul Qadir Jailani, Al-Ghazali, Abu Hassan Syazali, Imam Sayuti, Imam Nawawi dan syaikh Ramli (7). Dikalangan wanita di antaranya isteri-isteri rasul, Fatimah puteri nabi, Nafisah, dan Rabi'ah al-Adawiyah.
Jumlah wali dalam berbagai klasifikasi untuk satu zaman di seluruh dunia hanya 500 orang, kebanyakan berada di Syiria, Irak dan Mesir. Apabila seorang wali meninggal maka Allah akan melantik wali yang baru.
Para wali di atas memiliki keistimewaan-keistimewaan sehingga dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan ghaib yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Hal itu karena para wali diberi karamah, yang baik karamah lahiriyah maupun karamah maknawiyah, juga diberi ilmu-ilmu Laduni (ilmu pengetahuan yang diperoleh tanpa belajar) seperti ilham, kasyaf, firasat, rasa hati serta kemampuan yaqadzah wa musyafahah atau bisa bercakap-cakap dan berhubungan dengan rijal al-ghaib yakni orng yang berada di tempat jauh, atau telah wafat, termasuk bercakap-cakap dengan rasulullah saw. 
Betulkah para wali itu memiliki keistimewaan ? Dalam hal ini Abdul Halim Abbas menjelaskan bahwa adanya ulama wali yang ber-karamah memiliki dasar yang kuat, yakni Alqur'an surat 3 : 37 tentang Maryam yang mendapat makanan langsung dari langit (dari Allah SWT). Surat 18 : 18 tentang pemuda Al-Kahfi yang ditidurkan oleh Allah selama 309. Juga surat 27 : 40 tentang kehebatan seorang pria bernama Assaf Ibn Barkhaya yang sanggup memindahkan singgasana ratu Bilkis ke dalam kerajaan nabi Sulaiman dalam tempo sangat singkat.  Mereka bukan nabi, mereka hanyalah orang saleh yang memilki keistimewaan.
Abdul Halim Abbas menjelaskan bahwa Wali al-Aqtab (wali Ghaus) memiliki kasyaf yakni kemampuan di luar dimensi kemampuan manusia. Kemampuan itu dimiliki karena jiwa seorang wali telah sangat suci, sehingga ia mampu berhubungan dengan alam Malakut. Dengan hubunan langsung ke alam Malakut, maka seorang wali mempunyai kemampuan luar biasa, misalnya mampu mengetahui sesuatu peristiwa lebih awal dari kejadiannya sehingga ia memiliki wawasan jauh ke depan dan mampu menyelesaikan masalah masyarakat jauh melebihi pemikiran manusia biasa. Mampu menyelesaikan masalah manusia yang berkaitan dengan roh, jin, syetan, dll. Sebagaimana Abdul Qadir Jailani  menyelamatkan anak Abu Said yang diculik jin dari negeri cina. Wali Allah pun dapat memberikan arahan kepada anak buah dari jarak yang sangat jauh tanpa alat komunikasi modern, sebagaimana Umar Ibn Khattab dapat melihat tentaranya di Nahawand yang tertangkap kepungan musuh dari Persia padahal Umar berada di Medinah. Dengan suara lantang, Umar memberikan komando dari mimbar mesijd :" Hai Saria, larilah kebukit !". Suara Umar terdengar dari jarak puluhan kilometer sehingga tentaranya segera berlindung dibukit. Dan atas pertolongan Allah, musuh pun dapat dipukul mundur.   
Senada dengan itu, Ashaari Muhammad menyatakan bahwa landasan pendapat bahwa wali Allah mempunyai ilmu Mukasayafah adalah hadits "Takutlah kamu kepada firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan nur Allah". (H.R. Tirmidzi).   Misalnya Abu Bakar dapat mengetahui jenis kelamin anaknya ketika masih dalam kandungan, padahal waktu itu kemampuan demikian merupakan sesuatu yang amat mustahil . Begitu juga Abdul Qadir Jailani dapat mengetahui asal muasal sekarung emas yang dihadiahkan oleh khalifah Al-Muntajid Billah kepadanya. Waktu itu Abdul Qadir menekankan telapak tangan ke tumpukan uang mas di karung, sehingga dari karung itu merembeslah darah, yang menandakan bahwa uang itu hasil pemerasan dari rakyat kecil.   Para wali pun bisa berada di tempat dalam satu waktuu, bisa mendatangkan makanan dari langit. Bahkan keistimewaan wali ini, menurut Ashaari Muhammad tidak sebatas ketika ia masih hidup, tetapi setelah mati pun masih melakukan hal-hal luar biasa.   Beberapa keistimewaan  tersebut adalah sebagai berikut di bawah ini.

prince_darkness

  • Pengunjung
Sorotan terhadap konsep wali dan karamah
« Jawab #3 pada: September 30, 2006, 11:42:49 am »
Dalil yang digunakan oleh DA tentang adanya wali Allah yang memiliki keistimewaan adalah Alqur'an surat 3 : 37 tentang Maryam yang dapat berkomunikasi dengan malaikat dan memperoleh makanan dari langit, QS. 18 : 18 tentang pemuda al-Kahfi yang ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun, juga QS. 27 : 40 tentang seorang pria bernama Assaf ibn Barkhaya yang sanggup memindahkan singgasanaratu Bilkis ke kerajaan nabi Sulaiman dalam sekejap mata (lihat kembali halaman 146-147).
Untuk menyoroti pendapat DA tentang wali dan karamah, dapat diketengahkan pendapat dari Sa'id Hawa.
Menurut Sa'id Hawa, kadang-kadang orang yang sedang menempuh taqararub kepada Allah mendapatkan mimpi yang benar, kasyaf (tersingkapnya tirai), merasakan ilham dan kadang-kadang pula tampak pada dirinya sebuah karamah. Semua itu bukanlah tujuan bagi penempuh jalan menuju Allah (al-Salik). Kejadian itu hanyalah pertanda keterkabulan, atau merupakan kabar gembira tentang suatu perkara bagi al-Salik. 
Sa'id Hawa juga menyatakan bahwa, adanya karamah pada wali Allah tidak dapat dibantah, sebagai contoh adalah Maryam yang di datangi Malaikat dan berbicara dengannya padahal Maryam bukan seorang nabi. Terdapat kemungkinan orang selain nabi bisa mendengar atau melihat malaikat. Keadaan semacam ini disebut oleh para sufi sebagai kasyaf. 
Didalam Hadits pun terdapat tentang kasyaf, antara di dalam kitab al-Tarhib hadits nomor 262 : Dari Abu Umamah, ia berkata: "Pada siang hari yang sangat terik, rasulullah saw melintas tanah warqad. Semua orang berjalan di belakang nabi. Setelah nabi mendengar suara sandal-sandal itu merasa senang. Kemudian ia duduk berhenti sehingga orang-orang berlalu jauh di depannya. Setelah nabi melewati tanah warqad, tahu-tahu ada dua kuburan yang di dalamnya ada dua orang laki-laki. Rasulullah saw berhenti lantas bertanya : "Siapakah yang kamu kuburkan hari ini disini?" Mereka menjawab :" Si fulan dan si  Fulan !". Mereka berkata lagi :" Wahai nabi, bagaimanakah mereka ?". Rasulullah saw menjawab:"Salah seorang dari mereka tidak membersihkan air kencingnya, sedangkan yang satu lagi berjalan-jalan dengan menggunakan azimat. Lalu nabi mengambil pelepah kurma yang kering dan meletakkannya di atas kuburan itu. Mereka bertanya :"Mengapa engkau melakukan hal itu wahai nabi ?". Nabi menjawab :" Agar meringankan keduanya". Mereka bertanya lagi :" Wahai rasulullah, sampai kapan mereka disiksa ?". Rasulullah menjawab :" Ini hal yang ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Kalau tidak karena hati kamu berbuih (kotor), dan sering menmbah-nambah pembicaraan, niscaya kamu akan mendengar apa yang aku dengar". (H.R. Ahmad).     
 
Perhatikan ucapan nabi yang terakhir :" Kalau tidak karena hati kamu berbuih (kotor) dan sering menambah-nambah pembicaraan, niscaya kamu mendengar apa yang saya dengar". Kata Sa'id Hawa, ucapan ini menjadi dasar bahwa seseorang bisa saja mendengar sesuatu dari alam gaib apa bola benar-benar hatinya bersih. Jadi adanya kasyaf memiliki dalil yang kuat.
Berdasarkan ayat Alqur'an dan hadits diatas, adanya kasyaf memiliki dalil yang cukup. Masalahnya kini adalah orang sering salah tafsir tentang kasyaf. Kesalahan itu antara lain (i). Hasil kasyaf bisa menjadi tambahan atau ketetapan baru setelah al-Qur'an, kalau begitu sama saja dengan beranggapan bahwa syari'at yang dibawa oleh nabi saw belum sempurna. (ii). Orang-orang taat total atau taqlied kepada para sufi yang mendapat kasyaf tanpa melihat dan berpedoman kepada hukum syari'at, seakan-akan sufi itu orang ma'shum, padahal mungkin saja itu bukan kasyaf tetapi istijrad.
Kasyaf mungkin didapat oleh orang-orang yang sedang menempuh perjalanan taqarrub kepada Allah tetapi kasyaf bukanlah aqidah baru dan bukan pula ibadah baru. Perlu diketahui, bahwa kasyaf merupakan ujian iman, mungkin saja seseorang tergelincir atau menggelincirkan orang lain dengan kasyafnya.
Selanjutnya Sa'id Hawa menjelaskan perihal mimpi para wali. Menurutnya mimpi para wali. Menurutnya mimpi itu beragam, yakni (I). Mimpi karena pengaruh kecemasan, kegelisahan dan dorongan nafsu yang disebut al-Ra'yun Nafsiyah. (ii). Mimpi karena syetan memanfaatkan kegelisahan atau hayalan. (iii). Mimpi yang berasal dari Tuhan yang disebut al-Ra'yun Rabbaniyah.  Mengenai mimpi Rabbani ini nabi menjelaskan "Tidak ada kenabian setelah aku, kecuali kabar-kabar gembira". Mereka bertanya :"Apakah kabar gembira itu?". Nabi menjawab :" Mimpi yang benar".  Hadits lain menegaskan :"Mimpi-mimpi seorang mukmin merupakan bagian dari ke 46 dari kenabian (Hadits riwayat Bukari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).
Sa'id Hawa menegaskan : Ada yang berkata bahwa jika seseorang bermimpi melihat nabi (bertemu, didatangi) rasulullah – padahal rasul tak dapat ditiru bentuk dan rupanya oleh syetan – lalu memerintahkan untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari'at Islam, maka dalam hal ini kami katakana anda telah menghayal, mengigau, dan dilarang untuk mengikuti mimpi itu". Banyak para syaikh yang melakukan amal perbuatan atas dasar mimpi. Hal itu menurut ahli fiqih termasuk katagori bid'ah".  Hemat penulis, pendapat Sa'id Hawa tentang kasyaf memiliki dalil yang kuat dan sangat dapat difahami.

prince_darkness

  • Pengunjung
Yaqadzah wa musyafahah
« Jawab #4 pada: September 30, 2006, 11:44:02 am »
Yaqadzah wa musyafahah adalah bertemu bercakap dengan rijal al-ghaib termasuk bertemu dengan rasulullah dalam keadaan jaga (bukan mimpi) bahkan sampai mampu bercakap-cakap dengan rasulullah. Alasannya sbb :
Alasan pertama, surat Albaqarah ayat 154 : " Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan sebenarnya mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya".
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang mati di jalan Allah pada hakikatnya tidak mati namun tetap hidup. Akan tetapi orang-orang di dunia tidak menyadarinya.
Alasan ke dua, ketika seseorang memasuki daerah pekuburan muslimin disunnatkan mengucap-kan assalamu'alaikum ya ahl al-diyar.
Alasan ketiga, di dalam kitab Zarkoni syarah Mawahib al-Ladunya Juz 5 pasal 332 terhadap hadts riwayat Baihaki dari Annas yang menyebutkan :Para nabi hidup di dalam kubur mereka, senantiasa dalam keadaan shalat".
Demikian juga hadits riwayat Ahmad, Muslim dan Nasa-i :"Saya (Nabi) bertemu dengan Musa di Katib Ahmar, beliau berdiri shalat di kuburannya ".
Alasan Keempat, Imam Abu Shaik di dalam kitab Ghaus al-Ibad menulis sebuah hadits :" Sesungguhnya sebahagian sahabat nabi telah mendirikan sebuah bangunan (kemah) diatas sebuah kuburan yang tidak diduga bahwa itu kuburan manusia, tiba-tiba dari dalam kuburan itu terdengar ada orang yang membaca surat al-Muluk sampai selesai. Lantas sahabat memberitahukan kejadian ini kepada nabi, maka nabipun bersabda: "Itulah surat yang dapat menghindarkan dan menyelamatkan kamu dari siksa kubur".
Alasan ke lima : Hadits riwayat Imam Bukhari : “Barang siapa melihatku dalam keadaan mimpii, maka ia akan melihatku di dalam keadaan jaga. Dan syetan tidak bisa menyerupai wajahku.
Berdasarkan hadits itu, orang-orang Darul Arqam berpendapat bahwa  orang saleh yang telah wafat sebenarnya tidak wafat tetapi masih hidup. Dengan demikian tidaklah aneh jika mereka bisa ditemui. Ashaari menegaskan : "Jadi kalau nabi-nabi itu hidup di dalam kubur dan melakukan amalan-amalan, maka memanglah mungkin mereka itu boleh ditemui secara jaga dan bercakap-cakap serta belajar".     Selanjutnya ia menerangkan, bahwa perintah dan larangan yang dihasilkan dari yaqadzah bisa dijadikan pegangan. Ia mengutip dari kitab Al-Qashash al-Kubra Imam Al- Sayuti yang menyatakan sbb: "Seseorang yang berjumpa dengan nabi saw baik dalam mimpi atau jaga, dan nabi menyurh sesuatu perbuatan sunnah, atau melarang sesuatu larangan atau menunjukkan sesuatu yang baik, maka tidak ada pertikaian antara para ulama, itu termasuk sunnat untuk mengamalkannya".
Berdasarkan itu, maka (i) seorang wali Kutub bisa bertemu dengan nabi dalam keadaan jaga dan bercakap-cakap atau Yaqazah wa musyafahah.(ii). Amalan-amalan sunnat dan larangan-larangan yang diterima oleh wali ketika dia bertemu dengan nabi baik dalam mimpi atau dalam keadaan jaga adalah sunnat untuk diamalkan.

prince_darkness

  • Pengunjung
Sorotan terhadap Yaqadzah wa musyafahah
« Jawab #5 pada: September 30, 2006, 11:45:25 am »
Masih berkaitan dengan kasyaf, adalah persoalan yaqadzah wa musyafahah, yakni Syekh tarekat bertemu dan berbicara dengan nabi dalam keadaan jaga (buka mimpi) di tengah malam di dalam ka'bah selepas wafat nabi. Pada saat itulah para syaikh mendapatkan tuntunan wirid (aurad) untuk diamalkan oleh para pengikut tarekat.

Yaqadzah wa musyafahah merupakan keyakinan sebahagian besar pengikut tarekat. Mereka berkeyakinan bahwa cerita tersebut adalah mutawatir dari orang-orang saleh.    Alasan yang dipakai oleh mereka adalah :

Alasan pertama, Nabi Muhammad saw bertemu dengan para nabi sewaktu Isra Mi'raj di Baitul Maqdis dan di langit dalam keadaan jaga, bahkan nabi menjadi imam shalat bersama-sama mereka.

Alasan kedua, hadits :” Barang siapa yang bermimpi melihat aku, dia akan melihat aku pula dalam keadaan jaga.

Menurut Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits ini di dalam kitab Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa lafadz :" akan melihat aku dalam keadaan jaga" hanya mengandung tiga pengertian, yakni (i). Bagi orang-orang yang sezaman dengan nabi saw yang tidak sempat berhijrah tetapi bermimpi bertemu nabi saw akan berhijrah dan bertemu nabi. (ii). Dia akan bertemu nabi di akhirat sebagai membenarkan mimpinya itu. (iii). Melihat nabi secara khusus di akhirat secara dekat seta mendapat safaat.  Jika membenarkan adanya yaqadzah sekarang atau di dunia.

Lebih tegas lagi adalah pendapat Qadhi Syaikh Muahammad Khudar al-Syanjiti di dalam buku Musytahi al-Kharif menyatakan bahwa melihat nabi dalam keadaan mimpi memiliki dasar hadits yang sahih akan tetapi bertemu dengan nabi dalam keadaan jaga (yaqadzah), sama sekali tidak disebutkan oleh hadits, baik oleh hadits maudlu, maukuf atau pun hadits matruk. 

Jadi yaqadzah atau bertenu dengan nabi dalam keadaan jaga bukan berasal dari hadits yang sharih, tetapi hanya karena banyaknya para ahli tarekat yang menafsirkan bahwa yaqadzah dalam hadits tersebut bertemu dalam keadaan jaga di dunia ini. Adapun alasan naqli yang abash sampai saat ini belum ditemukan. Oleh karena keyakinan tentang yaqadzah wa musyafahah adalah keyakinan yang bathil.

prince_darkness

  • Pengunjung
Sorotan terhadap wirid tarekat
« Jawab #6 pada: September 30, 2006, 11:47:32 am »
Pertama :" Betulkah seseorang salih bisa bertemu dengan nabi dalam keadaan jaga (yaqadzah)?".
Tentang persoalan ini telah dikemukakan pada halaman 173-175 ketika penulis membahas persoalan yaqadzah. Kesimpulannya, bertemu dengan nabi di dalam mimpi adalah benar dan memiliki dalil yang kuat, sedangkan bertemu dengan nabi dalam keadaan terjaga (yaqadzah) tidak memiliki dasar, hadits dhaif sekalipun.

Kedua : "Bagaimana jika di dalam mimpi itu, nabi menyampaikan sesuatu yang bersifat baru misalnya amalan-amalan atau wirid-wirid ?

Untuk menjawab persoalan ini, silahkan lihat kembali uaraian-uaraian terdahulu tentang kasyaf, dan mimpi Rabbaniyah. Ditegaskan bahwa apabila seseorang bermimpi bertemu dengan nabi, nabi maka itulah wajah nabi sebenarnya. Akan tetapi tidak ada satu hadits pun yang menyatakan kemungkinan-kemungkinan nabi memberikan ajaran baru atau tambahan, karena agama Islam sudah dianggap sempurna.
 Sa'id Hawa sebagaimana telah dikemukakan di depan, menegaskan :"…apabila seseorang bermimpi melihat nabi…lalu memerintahkan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syari'at Islam, maka dalam hal ini kami katakana anda telah menghayal, mengigau dan dilarang untuk mengikuti mimpi itu !".
Dengan demikian, pengakuan bahwa seseorang pernah bermimpi bertemu dengan nabi memberikan wirid-wirid atau amalan-amalan baru yang memang tidak ada anjuran sebelumnya, adalah keyakinan yang batil, dan amalannya adalah bid’ah.

prince_darkness

  • Pengunjung
Istighotzah
« Jawab #7 pada: September 30, 2006, 11:48:40 am »
Berdasarkan ayat Alqur'an, hadits dan berita-berita dari orang saleh sebagaimana disebutkan di atas, Ashaari Muhammad (Darul Arqam)  menyimpulkan bahwa para rasul, para nabi, syuhada, para wali, dan shalihin yang sudah meninggal dunia sebenarnya masih tetap hidup dan bekerja di dalam kuburnya.  Ia menegaskan :"… maknanya mukjizat dan karamah-karamah mereka itu tidak sahaja berlaku semasa hidup mereka tetapi juga sesudah mati  atau ghaib mereka. Malah apabila mati gaib mereka lebih bebas lagi bergerak dan bekerja sebab tidak terikat lagi oleh benda".   Oleh karena itu mereka masih bisa berhubungan dengan para muridnya, baik menasehati ataupun menegur manakala muridnya berbuat maksiat. "Hubungan guru dengan murid itu bagaikan hubungan elektrik, tak ubahnya kipas yang dapat bergerak karena berhubungan dengan listrik".   Jadi murid bisa saja meminta bantuan kepada para wali yang sudah meninggal dunia, ini disebut dengan istighatsah.
Alasan lainnya tentang istighatsah adalah sbb :
Alasan Pertama : Hadits Dari Utbah ibn Ghazwan, Apabila salah seorang kamu tersesat atau butuh pertolongan sedang ia berada disuatu daerah yang tak ada seorangpun manusia, maka hendaklah dia berkata :" Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah aku". Maka sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang tidak dapat dilihat". (HR. Thabrani di dalam kitab Al-Kabir).
Alasan Kedua : Hadits dari Ibn Abbas, “sesungguhnya bagi Allah itu ada Malaikat selain penjaga, mereka pun bertugas menuliskan daun yang jatuh dari pohon. Apabila menemui kepincangan (kesulitan) di bumi yang luas, hendaklah dia merayu, tolonglah aku wahai hamba Allah.                 
Alasan ketiga : Hadits dari Abdullah ibn Mas'ud, dia berkata, bahwa rasulullah saw telah bersabda : apabila terlepas binatang salah seorang di antaramu di sebuah area yang luas, maka hendaklah dia menyeru, wahai hanba-hamba Allah kurunglah olehmu. Maka bagi Allah, ada hamba-hamba-Nya yang mengurung.
Berdasarkan ayat Alqur'an dan hadits di atas, DA berpendapat bahwa masalah tawashul dan istighatsah tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak syirik.

prince_darkness

  • Pengunjung
Sorotan terhadap istighotzah
« Jawab #8 pada: September 30, 2006, 11:49:57 am »
Orang-orang Tarekat berkeyakinan bahwa wali dalam tingkat tertentu, walaupun sudah mati masih bisa berhubungan batin dengan para muridnya, bahkan wali tersebut bisa memberikan pertolongan manakala muridnya ada dalam kesulitan. Ini dikenal dengan istighatsah.
Sorotan terhadap argumentasi yang digunakan nutuk mengabsahkan istighatsah adalah sbb :
Alasan pertama : Al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 154 : "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup. tetapi kamu tidal menyadarinya".
Setelah penulis melakukan penelitian terhadap sejumlah kitab tafsir diperoleh data sebagai berikut : Menurut al-Razi di dalam tafsir al-Razi disebutkan bahwa asbab al-muzul ayat ini karena gugurnya 14 orang muslim di medan tempur, terdiri dari enam orang Muhajirin dan 8 orang Anshar. kaum Muhajirin yang gugur antara lain Ubaidah bin Haris bin Abdil Muthallib, Umar bin Abi Waqas, dan Amir bin Bakr. Sedangkan dari kaum Anshar antara lain Qais ibn Abi Mundir, Zaid ibn Harits, dan Haritsah ibn Suraqah. Ketika mereka gugur, para sahabat berseru ": si Fulan gugr, si fulan mati!". Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mereka tidak mati namun tetap hidup. Selanjutnya al-Razi menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan hidup disini adalah hidup di dalam kubur dan mendapat nikmat. 
Menurut Abi Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Thabary dengan menguntip hadits dari Ibn Ashim, hadits dari Qatadah, hadits dari Abdur Razaq dari Qatadah, serta hadits dari Muhammad ibn Ja'far dari Utsman ibn Ghiyas dari Ikrimah, menyatakan bahwa para syuhada itu di beri rizki dari buah-buahan syurga. Mereka bagaikan burung-burung.
Abu Abdillah al-Qurthubi di dalam al-Ahkam al-Qur'an menyatakan bahwa kalau yang dimaksud hidup dan diberi rizki setelah kiamat, hal itu sama saja dengan manusia biasa. Akan tetapi yang dimaksud hidup di sini adalah Mereka mati dan mereka pun hidup.  Senada dengan itu Muhammad Mahmud Hijazi didalam al-Tafsir al-Wadhih, menyatakan bahwa syuhada itu berbeda dengan kematian manusia biasa, sebab mereka hidup di dalam quburnya, yakni diberi rizki namun bagaimana bentuk dan sifatnya wallau a'lam.
Menurut Sayyid Quthub di dalam tafsir Fi Dlilal al-Qur'an bahwa pada hakikatnya syuhada tetap hidup tapi dalam suatu kehidupan di luar pengetahuan manusia. Oleh karena itu syahid tidak dimandikan karena mandi adalah membersihkan jasad padahal dia sudah lebih suci lahir batin. Syahid pun tidak dikafani sebab pakaiannya menjadi saksi. Quthub pun menegaskan bahwa maksud Hidup di sini adalah hidup mulia sebagaimana dijelaskan oleh syuhada itu bagaikan burung-burung yang bertengger di syurga.
Syaikh Ahmad Mushtafa al-Maraghi di dalam Tafsir al-Maraghi menyatakan bahwa para syuhada itu hidup di suatu alam yang berbeda dengan alam kita, alam yang ghaib, arwahnya agung dibandingkan dengan arwah segenap manusia, namun manusia tidak mengetahui hakikat kehidupan ini dan rizki yang diperolehnya. Dan kita tak dapat membahasnya karena itu alam ghaib. Yang jelas itu adalah kehidupan ruhaniyah yang tak dapat diketahui rahasianya.

Dari beberapa penafsiran di atas dapat diringkaskan bahwa (i). Orang yang mati di jalan Allah pada hakikatnya adalah hidup. (ii). Mereka hidup di suatu alam yang sangat dirahasiakan oleh Allah sehingga manusia tidak dapat mengetahuinya. (iii). Di alam itu mereka mendapatkan rizki yakni kenikmatan alam yang luar biasa.
Dari beberapa kitab tafsir yang diteliti, tak ada satupun yang menafsirkan bahwa syuhada masih beribadah atau yang menafsirkan bahwa mereka masih bisa berhubungan dengan orang di dunia. Jadi pendapat bahwa orang yang sudah wafat masih bisa dimintai bantuan belum ditemukan dasar hukumnya, apalagi bagi mereka (wali) yang matinya bukan di medan tempur.
Alasan kedua, Perintah mengucapkan assalamu'alikum ya ahla al-diyar ketika menziarahi kubur memang menjadi dalil bahwa manusia di dalm kubur adalah hidup dialam lain, akan tetapi tidak menjadi dalil pengabsahan istigatsah, bahkan sebaliknya, yakni perlunya mendoakan (membantu) orang yang telah mati.
Alasan ketiga, Mengenai ruh para nabi bisa shalat di dalam kubur, jadi dia bisa memberikan pertolongan. Dari Anas ra, sesungguhnya Rasulullah saw, berkata :"Saya telah berjumpa dengan Musa pada malam Mi'raj, ia sedang berdiri shalat di kuburnya".  Sanad hadits ini adalah dari Salman, dari Khatib Banani dari Anas ibn Malik. Di dalam kitab Dalail Nubuwah, Al-Baihaki menyatakan bahwa kualitas hadits ini shahih,  tetapi Nashiruddin al-Bani menyatakan ini hadits sangat lemah.  Menurut hemat penulis hadits inipun bertentangan dengan hadits yang lebih kuat, yakni hadits yang menyatakan bahwa amal maunsia akan putus manakala ajal tiba kecuali tiga, yakni amal jariyah, ilmu yang dimanfaatkan serta anak yang saleh yang mendoakan (HR. Bukhari). 
Dengan demikian dasar-dasar yang menjadi rujukan istighatsah seluruhnya tertolak.  Sebelum mengakhiri pembahasan tentang istighatsah ini penulis kemukakan pendapat Sa'id Hawa sebagai berikut dibawah ini.
Menurut Sa'id Hawa, Allah SWT menyuruh mukminin untuk mendoakan mereka yang telah wafat lebih, bukan menyuruh mereka untuk berdoa. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa :"Ya Tuhan kami, berilah kami ampunan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…."(Al-Hasyr : 10). Menurut Sa'id Hawa, beberapa tarekat melakukan istighatsah karena didasarkan kepada hadits di bawah ini :

Thabrani meriwayatkan dalam kitab al-Kabir : Dari Utbah Ibn Ghazwan diangkat kepada Rasulullah saw : Nabi bersabda : Jika seorang di antara kamu ingin minta tolong, dan dia berada di suatu daerah yang tidak ada manusianya, maka hendaklah ia berkata : Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah aku, wahai hamba-hamba Allah tolonglah aku !. Sesungguhnya Allah meiliki ham
ba-hamba yang tidak terlihat.
Tabarri dan Bazzar meriwayatkan : Dari Ibn Abbas marfu kepada Rasulullah saw : Allah memiliki malaikat di bumi. Selain diberi tugas memelihara, kerja mereka mencatat daun-daunan yang jatuh. Maka jika salah seorang di antara kamu terperosok di padang sahara, berserulah, wahai hamba-hamba Allah tolonglah aku!. 
Abu Ya'li dan Thabrani meriwayatkan di dalam al-Kabir : Dari Ibn Mas'ud r.a dari rasulullah saw, beliau bersabda :" Jika ternak salah seorang diantara kamu lepas dari suatu daerah, maka berserulah :" Wahai hamba-hamba Allah, tahankanlah (tangkaplah)". Sesungguhnya Allah memiliki (malaikat) yang hadir di bumi, dan ia akan menangkapnya.
Hadits ini dijadikan landasan istighatsah, padahal tidak tepat dengan alasan bahwa hadits pertama adalah hadits munqathi' (terputus sanadnya). Hadits ke dua dalam sanadnya terdapat nama Ma'ruf ibn Hasan ia dhaif. Sedangkan hadits ke tiga adalah hadits Hasan dan hanya berbicara soal melaikat. Jadi tak dapat dikiaskan kepada makhluk-makhluk lain.
Akhirnya Sa'id Hawa menyatakan bahwa masalah istighatsah kepada orng-orang saleh, para syaikh, dan para wali perlu disisihkan dari riwayat tasawuf.

prince_darkness

  • Pengunjung
Catatan akhir
« Jawab #9 pada: September 30, 2006, 11:50:44 am »
Banyak sekali pokok-pokok ajaran tarekat yang batil atau bid’ah, oleh karena itu agar kita terhindar  dari kekeliruan syar’I, maka cukuplah beragama dengan menggunakan Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak perlu beramal dengan amalan yang bersumber dari mimpi seorang syaikh tarekat.