Penulis Topik: Tafsir Surat aL - Ahzab ayat 33  (Dibaca 19764 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

BINGUNG !!!

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.384
  • Reputasi: 47
  • Jenis kelamin: Pria
  • 7 Agustus 2009, 06:50 pm
    • Lihat Profil
Tafsir Surat aL - Ahzab ayat 33
« pada: Desember 14, 2008, 05:54:03 am »
ada titipan dari kang Fahmie ( karena masih beLum bisa posting :)) )
Langsung copas aja ya :wink:

berikut ini kita tampiLkan, jreeeeeng :

========================================================================

Surat al-Ahzab 33 ; Kritik Tafsir Syiah
oLeh : Ahmad Hadidul Fahmi

    إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
(sesungguhnya allah menghilangkan kotoran ahl al-bait dan mensucikannya)

Adalah kesalahan fatal jika menafsirkan ayat tanpa melihat konteks, korelasi dan madlûl, wa al-'iyâdz billâh.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Menetaplah di rumah kalian ( para wanita ), dan jangan berdandan sebagaimana dandanan wanita-wanita jahiliyah. Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan patuhilah ( wahai para wanita) Allah dan rasul-Nya.

Secara sederhana kita bisa melihat, bahwa ayat sebelumnya diturunkan untuk para wanita. Hal tersebut terlihat jelas, yakni dengan pemakaian Nun Jama' Niswah (yaitu nun pada lafadz qar-na, tabarrajna, aqimna, dan athi'na) dalam ayat, yang secara implisit menegaskan ayat tersebut turun untuk para wanita. Lalu siapakah para wanita tersebut ?

Mari kita simak perkataan Mujahid bin Zubair radiyallah 'anhu:

هي في نساء النبي صلى الله عليه وسلم ومن شاء باهلته
Ayat ini diturunkan pada istri-istri nabi SAW, dan orang-orang yang ingin meninggalkannya.

Berkata Mahmud al-Lusy dalam rûh al-ma'ânî mengutip hadis yang ditakhrij oleh Bazzar :

عن أنس قال جئن النساء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلن : يا رسول الله ذهب الرجال بالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى فهل لنا عمل ندرك به فضل المجاهدين في سبيل الله تعالى فقال عليه الصلاة والسلام : « من قعدت منكن في بيتها فإنها تدرك عمل المجاهدين في سبيل الله تعالى »
Dari Anas bin Malik, berkata, telah datang istri-istri nabi SAW, dan mereka (para istri) berkata : Hai rasulallah, para lelaki telah pergi berjihad di jalan Allah. Lalu apakah bagi kita (para wanita) ada perbuatan yang pahalanya sama dengan para mujahid yang berjihad di jalan Allah ? maka berkata rasulullah SAW : barang siapa yang duduk di rumah kalian, maka sesungguhnya dia sudah menemukan pahala seorang mujahid yang berjihad di jalan Allah.

Kiranya saya tidak perlu memanjangkan masalah ini. karena pada ayat tersebut hampir tidak ada perbedaan yang signifikan diantara mufassir, yaitu turunnya ayat untuk para istri nabi SAW. Wallahu al-Musta'ân.

Jika ayat diatas turun untuk para istri nabi, begitupun ayat setelahnya, yaitu pada inti masalah kita kali ini ;  innâmâ yurîdullâh…..(sampai akhir ayat).

Lalu apakah yang dimaksud al-rijsu dan ahl al-bait itu sendiri ?

Al-rijsu secara bahasa adalah kotoran, dosa, maksiat, keraguan, syirik, dan syaithan.  Menurut al-Sadiyy adalah dosa, menurut al-Zujaj fasiq, menurut Ibnu Zaid Syaithan, dan menurut Hasan Syirik, serta bermacam persepsi lainnya yang tidak perlu disebutkan satu persatu.

Karena itu, Imam Ja'far al-Shadiq pun menafsirkan lafadz al-rijsu pada ayat diatas dengan makna ragu-ragu. Kita bisa melihat dalam salah satu riwayat dari beliau :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ  الرِّجْسَ  قال :, الرجس هو الشك

Pada ayat (Sesungguhnya allah menghilangkan dosa dari kalian), beliau ( Ja'far al-Shadiq) berkata : yang dimaksud dengan al-rijsu adalah ragu-ragu.

Lebih jauh, Imam Syiah yang lain, al-Baqir pun memaknai al-rijsu dengan ragu-ragu. Sedang menurut Ibnu Abbas adalah perbuatan syaithan yang tidak diridlai Allah. Dalam tafsir al-Khâzin disebutkan riwayat Ibnu Abbas :

وقال ابن عباس : يعني عمل الشيطان وما ليس الله فيه رضا
Berkata Ibnu Abbas : (yang dimaksud al-rijsu) adalah perbuatan Syeithan dan yang tidak diridlai oleh Allah.

Sehingga tafsiran ayat tersebut secara keseluruhan adalah : hai para wanita, tinggallah di rumah-rumah kalian. Dan janganlah berdandan sebagaimana dandanan wanita-wanita jahiliyyah. Dan ( saat berada di dalam rumah ), dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan patuhilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya, ( dengan keberadaan kalian di dalam rumah ) akan menghilangkan dosa dan perbuatan maksiat-maksiat lainnya.

Lalu siapakah yang dimaksud ahl al-bait ? Nah, disinilah korelasi ayat sangat diperlukan. Jika ayat sebelumnya membahas tentang para istri nabi yang disucikan karena mereka mematuhi Allah dan Rasul-Nya untuk selalu berada di dalam rumah, maka sebuah keniscayaan yang dimaksud ahl al-bait adalah para istri nabi.

Sebagai penguat, mari kita simak riwayat Sa'id bin Zubair yang termaktub dalam tafsir al-Khâzin :

الرجس الشك وقيل السوء { أهل البيت ويطهركم تطهيراً } هم نساء النبي صلى الله عليه وسلم لأنهن في بيته
Yang dimaksud al-rijsu adalah ragu-ragu. Menurut sebagian pendapat yaitu perbuatan jelek. Sedang pada ayat ( ahl al-bait dan mensucikannya ) adalah para istri nabi. Hal itu disebabkan mereka selalu berada di dalam rumah.

Baiklah, mari kita lihat beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada istri-istri nabi dan sekaligus menyiratkan bahwa istri nabi adalah ahl al-bait :


روي عن عكرمة رضي الله عنه ابن عباس رضي الله عنهما أن الآية نزلت في نساء النبي صلي الله عليه وآله وسلم خاصة
Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwasanya ayat tersebut ( ahl al-bait dan mensucikannya ) turun untuk para istri nabi SAW

Lalu :
عن عروة


رضي الله عنه قال يعني أزواج النبي
Dari Urwah, berkata : (yang dimaksud pada ayat ) adalah para istri nabi SAW.

Kemudian :

عن علقمة قال : نزلت في نساء النبي

Dari Alqamah, berkata : (ayat tersebut) turun untuk para istri nabi SAW.

Kritik Atas Tafsir Syiah
Secara garis besar sudah bisa kita lihat, bahwa ayat tersebut diturunkan untuk istri-istri nabi. Makna diatas bukan hanya berasal dari riwayat-riwayat yang datang dari beberapa shahabat dan tabi'in, namun juga berasal dari harmonisasi dengan ayat sebelum dan setelahnya.

Kesalahan Syiah disini yaitu menganggap ayat tersebut sebagai ayat yang independen. Dalam arti, tidak ada korelasi dengan ayat sebelumnya ; dengan menganggap ayat al-ahzab; ahl al-bait, sebagai struktur isti'nâfi (awalan ; kalimat baru). Mereka juga mengalami problematika bahasa (allughah), yakni pada lafadz ahl al-bait dan pemaknaan lafadz tahhara-yutahhiru itu sendiri. Sehingga, menurut mereka, penafsiran ahl al-bait hanya untuk 'Ali, Fatimah, Hasanain (Hasan dan Husain), serta generasi yang mempunyai nasab dengan mereka. 

Menginjak masalah pertama, mari kita lihat ayat-ayat dalam al-Qur'an yang terdapat lafadz tahhara-yutahhiru :


إذْ يُغشيكم النعاس أمنة منه وينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به ويذهب عنكم رجزَ الشيطان
Allah menjadikan kamu sekalian mengantuk sebagai suatu penentraman, dan Allah menurunkan untukmu hujan dari langit. Hal tersebut untuk mensucikanmu dari gangguan-gangguan syaithan serta untuk menguatkan hatimu dan memperteguh telapak kakimu.

Ayat ini turun untuk pasukan nabi pada perang badar. Apakah ini menunjukkan bahwa 300 orang tersebut maksum ?
Kemudian :

ولكن يريد ليطهركم ويتم نعمته عليكم لعلكم تشكرون
Tetapi Allah menghendaki untuk mensucikan kalian dan menyempurnakan nikmatNya supaya kalian bersyukur.

Khitâb ayat ini pada seluruh umat muslim. Apakah berarti umat muslim yang disucikan menjadi maksum ?

Serta firman Allah:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوا آلَ لُوطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ
Maka tidak lain jawaban mereka : Usirlah Luth beserta keluarganya dari  negerimu, karena mereka adalah orang-orang yang mendakwa dirinya bersih.

Jika kita ikuti penafsiran mereka, maka Luth beserta keluarganya juga termasuk orang yang maksum.

Lihat juga firman Allah untuk para shahabat nabi SAW :

رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Mereka adalah orang-orang yang suka membersihkan diri. Dan allah menyukai orang-orang yang membersihkan diri.

Apakah karena mengandung lafadz tatahhara-yatatahharu lantas bisa begitu saja dimaknai maksum ? jika dimaknai maksum, dari ayat diatas, tentu saja shahabat nabi yang jumlahnya ribuan terhindar dari dosa.

Tentunya akan muncul pertanyaan : okelah, kita abaikan sejenak lafadz-lafadz pada ayat. Sekarang kita lihat pada kemaksuman nabi. Jika nabi maksum, maka sebuah keniscayaan akan kemaksuman keluarganya. Karena mereka (keluarga) mempunyai hubungan darah dengan nabi, dalam arti, kemaksuman tersebut timbul karena darah. Maka bisa dijawab :

1 Jika memang karena darah, hubungan darah dalam islam yang diperhitungkan adalah pada laki-laki. Bukan perempuan.  Silahkan lihat fenomena ibu tidak bisa menjadi saksi pernikahan anak laki-lakinya.

2. kemaksuman nabi karena wahyu. Sedang 12 imam – menurut syiah – karena mempunyai hubungan darah dengan nabi. Jika memang imam 12 maksum, maka darah kewahyuan secara otomatis berpindah ke 12 imam, yang mempunyai implikasi 12 imam adalah pewaris kenabian (dalam arti sesungguhnya). Dan ini jelas kafir karena bertentangan dengan dzahir ayat bahwa Muhamad SAW adalah nabi terakhir. Wa al-'iyâdz billâh.

3. Pernyataan mereka sendiri kontradiktif. Mereka menganggap Hasan maksum, dan Mu'awiyah kafir karena merebut kekuasaan dari ahl al-bait. Padahal menurut catatan sejarah, Hasan juga memba'iat Muawiyah. Bagaimana mungkin Hasan yang maksum mampu membai'at Muawiyah yang kafir? sehingga masalah kemaksuman Hasan cukup problematik.

4. Mengenai kemaksuman adalah perkara aqidah. Dan perkara aqidah harus ditetapkan dengan dalil qath'iy (pasti dan jelas). Mereka tidak akan pernah mampu untuk menunjukkan dalil Qath'i tentang kemaksuman 12 imam sebagaimana maksumnya nabi, selain dari surat al-Ahzab tadi (yang sebenarnya dari surat al-Ahzabpun belum bisa dikatakan qath'y).


Untuk masalah kedua (masalah bahasa ; penggunaan istilah ahl al-bait), mari kita simak pernyataan ulama berikut  :

وصح في روايات أخري أن أهل البيت يشمل الأزواج الطاهرات ويشمل المتصلين به صلي الله عليه وآله وسلم من النسب , فقد روي أنه صلي ضم إلي أهل الكساء وهم : علي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين بقية بناته وأقاربه وأزواجه وهذا هو المراد بالآية , وإن كان سبب النزول يدل علي الخصوص , بالأزواج , أو بأهل النسب . ثم خص العرف أهل البيت بنسل علي وفاطمة رضي الله عنهم أجمعين , والتعبير بقوله عنكم يشعر بالعموم وفيه تغليب المذكر علي المؤنث , وقوله : إنما يريد الله لا يدل علي أنهم معصومين والمخاطب علي الغائب
Dan telah datang riwayat lain yang menyatakan bahwa yang dimaksud ahl al-bait mencakup para istri nabi yang suci (al-tâhirât), dan mencakup yang bersambung darah (mempunyai nasab) dengan rasulillah SAW ; Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Juga mencakup anak-anak wanita nabi SAW, serta kerabat beliau. Walaupun sabab al-nuzul ayat khusus untuk istri nabi, namun tidak menutup kemungkinan untuk memasukkan yang mempunyai ikatan nasab dengan beliau (Ali, Fatimah, serta Hasan dan Husain), sebagai ahl al-bait.  Namun untuk selanjutnya, kebiasaan penamaan ahl al-bait menjadi pada yang mempunyai hubungan nasab saja. Dan perkataan Allah pada lafadz : innammâ yurîdullâhu, tidak menyiratkan bahwa ahl al-bait adalah orang maksum.

Demikian sekelumit perkataan mufassir tentang istilah ahl al-bait yang juga diperuntukkan pada istri-istri nabi. Pertanyaan selanjutnya, kenapa mereka disebut ahl al-bait?

Mari kita simak perkataan Mahmud al-Lusy dalam rûh al-Maâni-nya :

والظاهر أن المراد به بيت الطين والخشب لا بيت القرابة والنسب وهو بيت السكنى لا المسجد النبوي
Sudah demikian jelas, yang dimaksud dengan al-bait (pada lafadz ahl al-bait) adalah bait dengan arti rumah biasa. Yakni rumah yang terbuat dari tanah liat dan kayu, bukan ahl-bait secara nasab. Inilah yang dimaksud bait al-sukna, bukan masjid nabawi.

Sehingga bisa kita maknai ahl al-bait yang dimaksud pada ayat adalah para wanita (istri-istri nabi) yang menempati/mempunyai rumah-rumah. Penamaan tersebut muncul karena kebiasaan orang arab yang menghadiahkan rumah jika selesai melangsungkan pernikahan, sehingga istri bisa juga disebut dengan pemilik/penghuni rumah (ahl al-bait)

Mungkin akan muncul pertanyaan, bagaimana dengan hadis 'Aisyah dan Umi Salamah yang menyiratkan bahwa Ali, Fatimah, Hasan dan Husain-lah yang dimaksud pada ayat ?

Maka bisa dijawab, hadis 'Aisyah dan Umi Salamah bisa dijama' (dikumpulkan) dengan penamaan ahl al-bait yang pertama ; istri-istri nabi. Karena ketika mengatakan ahl al-bait hanya yang mempunyai nasab, berarti hadis yang jumlahnya puluhan yang mengatakan istri-istri nabi juga termasuk ahl-bait muhmal (disia-siakan). Sedang jika memaknai ahl al-bait dengan hanya istri-istri nabi saja, berarti juga menyia-nyiakan hadis Umi Salamah dan 'Aisyah. Jadi, metode yang ditempuh oleh jumhur al-mufassirin (sebagian besar mufassir) adalah dengan pengumpulan kedua hadis tadi (hadis yang mengatakan ahl al-bait sebagai istri-istri nabi, dan hadis yang menyatakan ahl al-bait dengan nasab). Karena dalam kaidah dikatakan: isti'mal al-dalil khairun min ihmâlihi ; menggunakan dalil lebih baik daripada mengabaikan.

Baik…terakhir, saya akan tunjukkan ayat setelah "innamâ yurîdullâh…" yang akan semakin menguatkan bahwa ayat tersebut turun untuk istri-istri nabi.

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
Dan ingatlah (para istri-sitri nabi) tentang apa yang dibacakan di rumah kalian ( istri-istri nabi) dari Ayat-ayat Allah dan Sunah nabi. Sesungguhnya Allah maha lembut juga maha mengetahui.

Jika kita ikuti tafsir Syiah, maka pada ayat (waqar-na fî buyûtikunna), diselingi ayat yang independen (tidak ada hubungan dengan ayat sebelumnya) ; innamâ yurîdu, lalu muncul lagi ayat untuk meneruskan perbincangan "waqar-na fî buyûtikunna" ; yaitu wadzkurna mâ yutlâ. Tentu saja hal ini adalah pemahaman terbodoh dalam ilmu tafsir.

Jika mereka menganggap para imam maksum, seharusnya mereka juga menganggap istri-istri nabi maksum. Karena puluhan hadis yang menyatakan bahwa istri-istri nabi juga termasuk pada istilah ahl al-bait sudah tidak terbantahkan lagi.



Wallahu al-musta'an.




Kairo, 11 November 2008


========================================================================

@kang Fahmie
tenkyu kang, 1+ for U :cool:
« Edit Terakhir: Desember 14, 2008, 06:10:39 am oleh BINGUNG !!! »

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Tafsir Surat aL - Ahzab ayat 33
« Jawab #1 pada: Desember 14, 2008, 09:39:20 am »
makasih mas naruse...+ 1 untuk mas naruse dah mau bantu posting.. :cool:

12 Imam Suci

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Tafsir Surat aL - Ahzab ayat 33
« Jawab #2 pada: Juli 11, 2010, 05:22:56 am »
Bismillaahir rahmaanir rohiim...
Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu Wa asyhadu anna Muhammadun Rasuullaah.
Allahumma Shollii 'alaa Muhammad wa aali Muhammad.



Dalil Qur'an :
1. ... “Sesungguhnya Allah berkehendak menjaga kamu dari dosa-dosa hai ahlul bayt dan mensucikan kamu dengan se-suci-suci-nya.” (QS. Al-Ahzab, 33: 33).

2. “Tidak ada yang dapat menyentuhnya (memahami Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya pemahaman), kecuali orang-orang yang di-suci-kan” (QS. Al-Waqiah, 56: 79)

3.  Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah apapun atas seruan dalam dakwahku ini, kecuali kecintaanmu kepada kerabat keluargaku.” ( QS. Surat Asy-Syuura, 42 : 23)

4. "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya" (QS. An-Nisa' 4: 59)



Ass. Wr. Wb
Perkenalakan saya adalah seorang hamba Allah yang bodh. Yang benar-benar ingin mengenal Islam lebih dekat. Terlebih lagi saya begitu sangat mencitai ahlul bayt nabi. Entah mengapa setiap ada pengajian akbar yang disebutkan Sholawat atas Nabi dan Keluarganya, jantung hati saya serasa terbetot dan tubuh saya bergetar. Semoga Allah senantiasa melimpahkan Sholawat dan salam kepada Muhammad dan Ahl al-Bayt nya. Amiien...

Saya membaca tulisan Sdr. Fahmi Ahmad yang mencoba mengkritisi Tafsir Syiah atas ayat Thathhir QS. Al-Ahzab, 33 :33. Yang perlu digarisbawahi yang menyebutkan sbb:

- Secara garis besar sudah bisa kita lihat, bahwa ayat tersebut diturunkan untuk istri-istri nabi. Makna diatas bukan hanya berasal dari riwayat-riwayat yang datang dari beberapa shahabat dan tabi'in, namun juga berasal dari harmonisasi dengan ayat sebelum dan setelahnya.

- Kesalahan Syiah disini yaitu menganggap ayat tersebut sebagai ayat yang independen. Dalam arti, tidak ada korelasi dengan ayat sebelumnya ; dengan menganggap ayat al-ahzab; ahl al-bait, sebagai struktur isti'nâfi (awalan ; kalimat baru). Mereka juga mengalami problematika bahasa (allughah), yakni pada lafadz ahl al-bait dan pemaknaan lafadz tahhara-yutahhiru itu sendiri. Sehingga, menurut mereka, penafsiran ahl al-bait hanya untuk 'Ali, Fatimah, Hasanain (Hasan dan Husain), serta generasi yang mempunyai nasab dengan mereka. 

Sehingga dalam diri saya yang bodoh ini, timbul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :

1. Jikalau memang ayat ini terlihat jelas diturunkan untuk isteri-isteri nabi, mengapa ayat tersebut berbunyi : "...ankumur rjsa ahlal bayti wayuthohirokum taththiro". Perlu digarisbawahi kata yang digunakan adalah "ankum" (red. kata ganti untuk laki-laki/rizal). Mengapa Al-Qur'an tidak menggunakan kata dhamir "kunna" (red. kata ganti untuk perempuan/nisa') karena isteri-isteri nabi atau ummul mukminin tersebut jelas berkelamin perempiuan seperti kalimat sebelumnya dalam kesatuan ayat 33, dan atau ayat-ayat sebelumnya.

2. Jikalau memang ayat ini terlihat jelas diturunkan untuk isteri-isteri nabi, maka ayat Al-Qur'an tersebut seharusnya akan berbunyi : "...ankunnar rjsa ahlal bayti wayuthohirokunna taththiro", seperti kalimat sebelumnya dalam kesatuan ayat 33 yang menerangkan isteri-isteri nabi, dan atau demikian pula dengan ayat sebelumnya.

3. Menurut Hadist-hadist yang berkaitan dengan ayat Tathhir ini turun (Asbabun Nuzul) banyak haidist yang Shahih, Sunan, dan Musnad, yang bersumber dari sahabat Nabi saw yang terkemuka: seperti Ibnu Abbas, Jabir Al-Anshari, Zaid bin Arqam, Said bin Abi Waqqash, Ummu Salamah dan Aisyah sendiri yang menentang pendapat antum. Diantaranya salah satunya dapat saya sampaikan di sini adalah sebagai berikut:

Dalam Shahih Muslim[1], kitab Fadhail Ash-Shahabah, bab Fadhail Ahlul bait (sa):
Aisyah berkata: Pada pagi hari Nabi SAWW  keluar dari rumah, membawa kain berbulu yang menyerupai rambut yang hitam. Kemudian datang Hasan bin Ali, lalu datang Husein kemudian masuk bersamanya, kemudian datang Fatimah lalu beliau mempersilahkan masuk, kemudian datang Ali lalu beliau mempersilahkan masuk. Kemudian beliau membaca ayat:

إنَّما يُريد اللهُ ليُذْهِبَ عنكم الرّجسَ أهلَ البيت ويُطهّركم تطهيراً

Jikalau Aisyah dan Ummu Salamah sendiri meriwayatkan hadist yang menyatakan bahwa Ia sendiri sebagai isteri-isteri nabi bukan termasuk ahl al bayt nabi, lalu kenapa antum memaksakan kehendak diri sendiri untuk memasukkan isteri-isteri nabi sebagai ahl al bayt nabi? 
Tentu secara logika, ummat Islam sekarang ini (red. generasi kta sekarang) akan lebih menerima riwayat ummul mukminin Aisyah dan Ummu Salamah dari pada kesimpulan antum itu sendiri, mohon maaf, karena beliau hadir sebagai saksi sejarah atas turunnya ayat tersebut. Bukankah begitu?


Terlepas dari semua itu, pertanyaan-pertanyaan ini muncul dalam benak saya  semata-mata dilandasi ingin belajar Islam lebih dekat dan rasa Cinta kasih saya yang sebesar-besarnya kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAWW. dan Ulil Amri yang terpilih dari Ahl Al-Baytnya di http://12imamsuci.blogspot.com,  dan atau http://amanahrasul.blogspot.com, dan atau http://theholy12imams.blogspot.com.

Atas perhatiannya sebelumnya saya sampaikan jazakumullaah khoiron jaza.


Wass. Wr. Wb.
Hamba Yang Bodoh


Rujukan :
1. Shahih Muslim, kitab Fadhail Ash-Shahabah, bab Fadhail Ahlul bayt Nabi, jilid 2 halaman 368; cetakan Isa Al-Halabi; jilid 15 halaman 194 dalam syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.

Hadis-hadis tersebut dan yang semakna terdapat:
2. Shahih At-Tirmidzi, jilid 5 halaman 30, hadis ke 3258; halaman 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.
3. Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 5 halaman 25, cetakan Darul Ma’arif Mesir.
4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 133, 146, 147.
5. Mu’jam Ash-Shaghir Ath-Thabrani, jilid 1 halaman 65 dan 135.
6. SyawahidutTanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 2, halaman 11-92, hadis 637, 638,639, 640, 641, 644, 648, 649, 650, 652, 653, 656, 657, 658, 659, 660, 661, 663, 664, 665, 666, 667, 668, 671, 672, 673, 675, 678, 680, 681, 686, 690, 691, 694, 707, 710, 713, 714, 717, 718, 729, 740, 751, 754, 755, 756, 757, 758, 759, 760, 761, 762, 764, 765, 767, 768, 769, 770, 774, cet pertama, Bairut.
7. Khashaish Amirul Mu’minin, oleh An-Nasa’i Asy-Syafi’i, halaman 8, cet, Bairut; halaman 49,, cet. Al-Haidariyah.
8. Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tarikh Damsyiq, oleh Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, jilid 1, halaman 185.
9. Kifayah Ath-Thalib, oleh Al-Kanji Asy-Syafi,i, halaman 45, 373, 375
10. Musnad Ahmad, jilid 3,halaman 259 dan 285;jilid 4, halaman 107; jilid 6, halaman 6: 292, 296, 298, 304, dan 306, cet. Mesir
11. Usdul Ghabah fi Ma’rifati Ash-Shahabah, oleh Ibnu Atsir Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 12 dan 20; jilid 3, halaman 413; jilid 5, halaman 521 dan 589.
12. Dzakhairul ‘Uqba, oleh Ath-Thabari Asy-Syafi’i halaman 21, 23, dan 24.
13. Asbabun Nuzul, oleh Al-Wahidin, halaman 203, cet Al-Halabi, Mesir.
14. Al-Manaqib, oleh Al-Khawarizmi Al-Hanafi, halaman 23 dan 224.
15. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 6,7 dan 8, cet Al-Halabi, Mesir.
16. Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi, jilid 5, halaman 198 dan 199.
17. Ahkamul Qur’an, oleh Al-Jashshash, jilid 5, halaman 230, cet Abdurrahman Muhammad; halaman 443, cet. Cairo.
18. Manaqib Ali bin
19. Mashabih As-Sunnah, oleh Al-Baghawi Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 278, cet. Muhammad Ali Shabih; jilid 2, halaman 204, cet. Al-Khasyab
20. Misykat Al-Mashabih, oleh Al-’Amri, jilid 3, halaman 354.
21. Al-Kasysyaf, oleh Zamakhsyari, jilid 1, halaman 193, cet. Mushthafa Muhammad; jilid 1, halaman 369, cet. Bairut.
22. Tadzkirah Al-Khawwash, oleh As-Sibt bin Al-Jauzi Al- Hanafi, halaman 233.
23. Mathalib As-Saul, oleh IbnuThalhah Asy-Syafi’i, jilid 1, halaman 19 dan 20. Ahkamul Qur’an, oleh Ibnu ‘Arabi, jilid 2, halaman 166, cet. Mesir.
24. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 14, halaman 182, cet. Kairo.
25. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman: 483, 494, dan 485, cet. Mesir.
26. Al-Fushul Al-Muhimmah, oleh Ibnu Shabagh Al-Maliki, halaman 8.
27. At-Tashil Li’ulumi AtTanzil, oleh Al-Kalbi, jilid 3, halaman 137.
28. Tafsir Al-Munir Lima’alim At-Tanzil, Al-Jawi, jilid 2, halaman 183.
29. Al-Ishabah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, jilid 2, halaman 502; jilid 4, halaman 367, cet. Musththafa Muhammad; jilid 2, halaman 509; jilid 4, halaman 378, cet. As-Sa’adah. Mesir.
30. Al-Itqan fi’Ulumil Qur’an, oleh As-Suyuthi, jilid 4, halaman 240, cet. Mathba’ Al-Mashad Al-Husaini, Mesir.
31. Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar, halaman 85, cet. Al-Maimaniyah; halaman 141 dan 227, cet. Al-Muhammadiyah.
32. Muntakhab Kanzul ‘Ummul Kanzul ‘Ummul (catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hambal, jilid 5, halaman 96.
33. As-Sirah An-Nabawiyah, oleh Zaini Dahlan (catatan pinggir) As-Sirah Al-Halabiyah, jilid 3, halaman 329 dan 330, cet. Al-Mathba’ Al-Bahiyah, Mesir; jilid 3, halaman 365, cet. Muhammad Ali Shabih, Mesir.
34. Is’afur Raghibin, oleh Ash- Shabban (catatan pinggir) Nurul Abshar, halaman: 104,105, dan 106, cet. As-Sa’idiyah; halaman 97 dan 98, cet. Al-Utsmaniyah; halaman 105, cet. Mushthafa Muhammad, Mesir.
35. Ihqaqul Haqq, oleh At-Tustari, jilid 2, halaman 547-502.
36. Fadhailul Khamsah, jilid 1, halaman 223 dan 224.
37. Al-Isti’ab, oleh Ibnu Abd Al-Birr (catatan pinggir) Al-Ishabah, jilid 3, halaman 37, cet. As-Sa’adah;jilid 3, halaman 317, cet. Mushthafa Muhammad.
38. Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi, halaman: 107, 108, 228, 229, 230, 244, 260, dan 294. cet. Istambul; halaman: 124, 125, 126, 135, 196, 229, 269, 272, 352, dan 353, cet. Al-Haidariyah.


Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: Tafsir Surat aL - Ahzab ayat 33
« Jawab #3 pada: Juli 13, 2010, 09:40:37 am »
Perdebatan yg lucu, hanya gara2 ngikut2 tafsiran orang jadinya kok berantem sendiri si sunii berkeras kalo yg namanya "ahlul bait" itu isteri nabi plus dalil2 dari hadist, tafsir dan pendapat orang, tak kalah serunya si syiah pake rujukan yg seabrek2 untuk mempertahankan "kebenaran persangkaannya", make AQ tapi hanya sebagai alat utk mempertahankan persangkaan sendiri ato menyerang orang.

Padahal sudah jelas kalo ayat2 yg mutasyabihat itu hanya Allah yg tahu takwilnya, sedang orang yg sok tahu menafsir2kan ayat yg mutasyabihat supaya orang tersesat. Anda berfkir dengan tafsir itu menjadi jelas, pada hal malah sebaliknya orang menjadi tersesat.

Mari kita lihat apakah kata Allah itu benar atau tidak dalam Surah Ali Imran : 7.

PERTAMA :

Coba mari kita pelototin ayat berikut :

dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?".(QS 28:12)

baca baik2 bung sunni dan bung syiah, kemudian jawablah pertanyaan saya :

- diayat itu ada perkataan AHLUL BAIT, anda II tahu tidak siapa yang dimaksudkannya : IBU NABI MUSA, bukan ?

- lantas apakah AHLUL BAIT (Ibu Nabi Musa) itu ISTERI atau KELUARGA (istri, anak, cucu, menantu) Nabi Muhammad ---------> NGAWUR, bukan ?


--------------> TERBUKTI TIDAK ?, kalo tukang2 tafsir itu cuma membuat persangkaan kalo AHLUL BAIT itu isteri ato  isteri anak cucu menantu nabi ---------> atau anda akan tetap membuat persangkaan trus berantem rebutan pepesan kosong.

Kedua :

saya mengambil ayat dari apa yg dikanibal dan ditambah2 i oleh bung sunni :

Kutip
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Menetaplah di rumah kalian ( para wanita ), dan jangan berdandan sebagaimana dandanan wanita-wanita jahiliyah. Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan patuhilah ( wahai para wanita) Allah dan rasul-Nya.

lengkapnya ini :

dan tetaplah di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(QS 33:33)

1. ayat diatas sama sekali tidak diperuntukkan bagi orang2 yg berjenis kelamin "(para wanita)"

2. lihat baik2 anak kalimat yg dibuang bung sunni : "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kotoran dari kamu"
pertanyaannya :

kalo Allah berkeinginan untuk menghilangkan kotoran bagi isteri2 nabi atau isteri anak cucu menantu nab, mestinya mereka diperintahkan untuk beriman dan berbuat kebaikan --------------> bukannya disuruh tinggal dirumah saja, bagaimana mungkin mereka dapat berbuat kebaikan spt. diperintahkan ayat ini, kalo mereka hanya tinggal dirumah saja. :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,(QS 4:36)



Perlu anda ingat bahwa fasilitas penghapusan dosa diberikan Allah hanya kepada orang2 yg beriman dan berbuat kebaikan :

Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.(QS 29:7)

jadi fasilitas ini hanya diberikan kepada orang yg beriman dan beramal saleh, dan bukan kepada "orang tinggal dirumah saja".

12 Imam Suci

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Hubungan Qur'an Surat aL - Ahzab ayat 33 dengan Al Waqiah ayat 79
« Jawab #4 pada: Oktober 26, 2010, 06:37:18 pm »
Bismillaahir rahmaanir rohiim...
Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu Wa asyhadu anna Muhammadun Rasuullaah.
Allahumma Shollii 'alaa Muhammad wa aali Muhammad. Amma ba'dlu

 >:D<Ass.wr.wb.

Dalil Al Qur'an :

"Dan ingatlah kalian (red. kata ganti perempuan/nisa') agar di dalam rumah dan jangan berkeliaran seperti masa jahiliyah, dan tegakkanlah sholat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhya Allah berkehendak menghapus semua rijs dari padamu sekalian (red. kata ganti laki-laki/ rizal) hai keluarga Rasul dan membersihkan kamu sekalian (red. kata ganti laki-laki/ rizal) sesuci-sucinya"  (QS. Al Ahzab, 33 : 33)

“Tidak ada yang dapat menyentuhnya (memahami Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya pemahaman), kecuali orang-orang yang di-suci-kan” (QS. Al-Waqiah, 56: 79)


Dari kedua ayat tersebut di atas, jelas sekali jaminan Allah atas derajat ke-maksum-an dari Ahl Al Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW. dan hanyalah orang-orang yang “maksum “(red. terjaga dari segaa rijs) saja, yang mampu memahami Al-Qur’an dengan “sebenar-benarnya pemahaman”.

Sedangkan mustahil sekali bagi orang-orang kebanyakan yang “tidak maksum” (red. tidak terjaga dari dosa-dosa), mereka pasti tidak akan mampu mencapai derajat pemahaman tertinggi dengan “sebenar-benarnya pemahaman”, karena dirinya masih diliputi oleh sifat  “ke-ego-an” dan penuh “hawa nafsu” rendah duniawi dari sisi sifat-sifat ke-manusiaan-nya.

Dengan demikian jaminan Allah SWT. di dalam QS. Al-Ahzab, 33: 33) hanya untuk ahlul bayt nabi saja yang mendapat anugerah derajat “ke-maksum-an” (red. dimaksumkan) adalah sangatlah penting sekali setelah ke-nabi-an dan ke-rasul-an yang sudah berakhir, guna memberikan pencerahan kepada seluruh umat manusia di seluruh alam semesta ini, dalam memahami Al-Qur’an dengan pemahaman “sebenar-benarnya pemahaman”, karena hanya ahlul bayt nabi lah yang mampu memahami dan mengamalkan Al-Qur’an secara murni dan konsekuen, terjaga dari dominasi ke-ego-annya dan hawa nafsu rendah duniawi.

Ahlul bayt nabi yang mendapat anugerah derajat “ke-maksum-an” (red. di-maksum-kan) sangatlah berperan penting dalam relevansinya untuk amaliyah ibadah sehari-hari kepada Allah SWT, sehingga syariat agama Islam sebagaimana telah dirisalahkan oleh Nabi Muhammad SAWW. (red. Shollallaahu ‘alaihi wa aalihi was salaam) sebagai “nabi terakhir” dan “nabi penutup segala nabi” dapat terjaga dari segala bentuk penyimpangan hingga akhir zaman. Amiin....

Bukanlah suatu hal yang mustahil, jika Rasulullah mendapat limpahan “anugerah” yang begitu besar dari Allah SWT. Melihat dari sosok pribadi agung beliau, tutur katanya, sikap perilaku, ahlak dan ibadah beliau yang merupakan suri tauladan (uswatun hasanah) bagi kita semua.

Jelaslah “anugerah” itu tidaklah mungkin akan dianugerahkan kepada kita atau kepada makhluk Allah yang lainnya, karena Rasulullah Muhammad SAWW. adalah sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. di seluruh alam semesta.

“Subhanallah… Maha Suci Allah. Segala puji-pujian semata hanya bagi-Mu ya Allah”. Mungkin hanya kalimat “thoyibah” yang akan terucap dari lisan ini, turut merasakan kebahagiaan atas limpahan “anugerah” Allah SWT.  yang tak ternilai itu, kepada junjungan kami, Imam kami, Kekasih kami, Rasul yang ummi, Nabi terakhir dan penutup segala nabi, Nabi Besar Muhammad SAWW.  Sholawat dan salam atasnya dan keluarganya. Amiin...

 :(Wass. Wr. Wb.

Hamba yang bodoh
Konsep, Suksesi Kepemimpinan Isam dan Biografi Ringkas 12 Imam Suci Ahl Al Bayt Nabi http://12imamsuci.blogspot.com, http://theholy12imams.blogspot.com dan http://amanahrasul.blogspot.com

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re:Tafsir Surat aL - Ahzab ayat 33
« Jawab #5 pada: November 15, 2010, 06:32:52 am »
kang 12 Imam Suci, apa anda sudah baca tulisan yang diatas, silakan dijawab pertanyaan saya diatas, jangan pandenya cuma mosting artikel karangan orang doang ------------------> ayo silahkan.