Penulis Topik: tentang peristiwa isra' mi'raj  (Dibaca 82166 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #180 pada: Februari 09, 2010, 10:05:24 am »
trus cerita rasulullah yang mengatakan bahwa beliau pernah ke sidratul muntaha, yang dikonfirmasi oleh Allah melalui QS An-Najm 13-18?
itu juga perkataan beliau sebagai nabi... jadi tidak perlu didengar dan dipercaya?

Itu hanya kesimpulan anda ---> karena anda melihat dari susunan urut2 ayatnya,
memang demikian salah satu kaidah dalam memahami Al-Quran
harus melihat hubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya

anda lupa yg berkata itu (pemuka2 orang kafir) juga manusia, rasanya mustahil deh seorang manusia mengatakan kalo kamu percaya sama manusia kamu akan rugi.---> aneh kan !
ga aneh..
kalimat itu adalah bentuk pelecehan
sama kaya orang yang ngomong
"ngapain lo ngikutin dia.. orang sama2 makan nasi, sama2 manusia.. nyuruh kita repot2 shalat.. repot2 sedekah.. rugi amat nurutin maunye dia"

Ayat 23:34 diatas senada dengan :

Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.(QS 6:116)

apakah anda juga akan mengatakan QS 6:116 adalah perkataan orang kafir, bukan perkataan Allah.
liat kata yang saya bold.. kebanyakan... mayoritas

kita.. atau mungkin saya.. sedang membicarakan nabi, sejalan dengan konteks pembicaraan sebelumnya
apa anda mau mengatakan nabi muhammad seperti orang kebanyakan yang mengikuti persangkaan belaka?

Yang logis itu ucapan Allah untuk mengingatkan hambaNya agar tidak mentaati atau mengikuti manusia, krn yg dimaui Allah adalah agar jangan menjadikan manusia Tuhan selain Allah ---> manusia hanya diperintahkan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah :

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.(QS 39:2)

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama.(QS 39:11)

sekali lagi
saya sedang membicarakan muhammad rasulullah yang anda katakan
tidak ada perintah Allah untuk mentaati nabi, malah sebaliknya ada peringatan untuk mentaati manusia, krn itu merugikan diri kita sendiri. Dan orang yg merugi tempatnya di neraka :
apakah rasulullah meminta umatnya untuk menuhankannya?
apakah ada dari ucapan beliau yang merupakan dusta?
kalo ada... tolong sebutkan

saya tidak pernah melakukan penafsiran apapun anda boleh cek, bahkan mempelajaripun tidak saya hanya membaca saja berulang-ulang dan saya tidak takut tersesat krn itu perintah Allah ---> dan mustahil Allah menyesatkan orang yg mentaati perintahNya.
jika anda memberi makna pada sebuah ayat menurut apa yang anda pikirkan.. contohnya seperti yang pernah anda ungkapkan di sini itu namanya menafsirkan
bagaimana mungkin anda memahami Al-Quran jika anda tidak mempelajarinya?  :-/
Allah tidak menyesatkan orang yang mentaati perintah-Nya.. mempelajari Al-Quran dan ilmu-ilmu pendukungnya adalah bagian dari ajaran-Nya
jadi orang2 yang tidak mau belajar dan menambah ilmunya ya bisa saja tersesat

btw, pertanyaan anda
apa Allah itu jauh ? yg saya tahu Allah itu dekat buanget kagak sampai 1 meter, ---> jadi kalo nabi sampai ke langit malah jauhi Allah deh...kayaknya gak logis deh.
apa sudah mendapat jawaban?

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #181 pada: Februari 09, 2010, 10:07:20 am »
@ ARIF BUDIMAN  :great:

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #182 pada: Februari 09, 2010, 10:15:00 am »
diperlihatkan ayat ayat Nya dipelesetkan menjadi disuruh sholat 50x.
oke.. perihal rasulullah yang bolak-balik menawar jumlah shalat itu kita kesampingkan dulu aja
tapi pada prinsipnya melalui peristiwa mi'raj itu rasulullah dibawa ke sidratul muntaha dengan didampingi jibril
dan memperoleh perintah shalat wajib 5 waktu
anda percaya bagian itu khan?

apa anda tdk yakin dgn terjemah Al QUr'an depag kalau Muhammad mengada ada sebagian akan dipotong urat nadi jantungnya?
apa justru anda yakin pagi Al QUr'an sore hadits yg berbeda?
yup
saya yakin dan percaya rasulullah tidak akan mengada-ada

yg mencatat manusia itu diberi nama kitab markum, kiri dan kanan, lewat kuduk, secara otomatis.
itu hal baru buat saya.. bisa tolong dibagi referensinya mas..
tapi persoalan prinsipnya
apakah ayat .. Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (QS 50:16)
menunjukkan Dzat Allah yang dekat secara harfiah? atau mas yant punya pendapat lain?
« Edit Terakhir: Februari 09, 2010, 10:18:03 am oleh arif budiman »

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #183 pada: Februari 09, 2010, 10:17:44 am »
OOT
@ ARIF BUDIMAN  :great:
icon mulu..
bagi2 juga dong ilmunya  :D

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #184 pada: Februari 09, 2010, 12:24:55 pm »
OOT
@ ARIF BUDIMAN  :great:
icon mulu..
bagi2 juga dong ilmunya  :D

Pusing aku ama logika dua orang ini. Definisi saya disangkal, padahal kesimpulannya sama. Opo..karepe sakjane.

dekade_akhir

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 588
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #185 pada: Februari 09, 2010, 01:21:13 pm »
okelah, lanjuutt.....!!!

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #186 pada: Februari 09, 2010, 01:24:35 pm »
1. oke.. perihal rasulullah yang bolak-balik menawar jumlah shalat itu kita kesampingkan dulu aja
2. tapi pada prinsipnya melalui peristiwa mi'raj itu rasulullah dibawa ke sidratul muntaha dengan didampingi jibril
3. dan memperoleh perintah shalat wajib 5 waktu
anda percaya bagian itu khan?

makasih mas bagian 1 dan 2 saya setuju.
ini ada riwayat mas,
istri nabi yg bernama khotijah sholat dibelakang nabi. kalau tdk sholat maka ia tdk ada hak masuk surga, ia istri yg taat.
saat awal awal kenabian ia sholat di masjidil haram, ( saat itu yg mengikut ajaran yg disampaikan dia dapat di hitung dengan jari.)

kalau dari Al Qur'an , maka nabi isa sholat, nabi musa sholat, nabi ibrahim sholat.
khusus nabi ibrahim maka kita mencontohnya dalam doa iftitah.
semua nabi sholat.
5 waktu sholat juga ditentukan dalam Al Qur'an. syariat tdk berubah, sunah tdk berubah.

jawaban no3. nabi sholat dulu baru ke muntaha, dgn 7an untuk diperlihatkan sebagian Ayat -ayatNya.
jadi tdk setuju.


Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #187 pada: Februari 10, 2010, 07:42:42 am »
Kutip dari: arif budiman
Kutip dari: Tobil
apa Allah itu jauh ? yg saya tahu Allah itu dekat buanget kagak sampai 1 meter, ---> jadi kalo nabi sampai ke langit malah jauhi Allah deh...kayaknya gak logis deh.
apa sudah mendapat jawaban?
belum tuh, ngapain sih muhammad mesti jauh pergi ke langit menjumpai Allah lha wong Allah deket kok. piye sih.

Ini adalagi perjalanan muhammad ke langit diisyukan pulang/pergi cuma 1 malam, padahal malaikat saja sekali jalan makan waktu satu hari, jadi pulang pergi 2 hari (itupun kalo kagak mampir2)... itu kalo menurut ukuran malaikat, kalo menurut ukuran manusia WOOOOW ... busyet dah .. gila bener ..... total p/p adalah 100.000 tahun.

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS 70:4)

Apa pendapat anda ?


Salaam,

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #188 pada: Februari 10, 2010, 07:55:40 am »
Kutip dari: arif budiman
oke.. perihal rasulullah yang bolak-balik menawar jumlah shalat itu kita kesampingkan dulu aja
tapi pada prinsipnya melalui peristiwa mi'raj itu rasulullah dibawa ke sidratul muntaha dengan didampingi jibril
dan memperoleh perintah shalat wajib 5 waktu
anda percaya bagian itu khan?
Saya sampai hari ini kok kagak pernah ngeliat hadist lengkap tentang shalat 5/17 seperti yg ada dalam buku pelajaran shalat ?

apa anda bisa mempostingkan untuk saya ?


Salaam,

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #189 pada: Februari 10, 2010, 11:58:50 am »
belum tuh, ngapain sih muhammad mesti jauh pergi ke langit menjumpai Allah lha wong Allah deket kok. piye sih.
jadi maksud anda Dzat Allah sekarang sedang berada di dekat urat leher anda?

Ini adalagi perjalanan muhammad ke langit diisyukan pulang/pergi cuma 1 malam, padahal malaikat saja sekali jalan makan waktu satu hari, jadi pulang pergi 2 hari (itupun kalo kagak mampir2)... itu kalo menurut ukuran malaikat, kalo menurut ukuran manusia WOOOOW ... busyet dah .. gila bener ..... total p/p adalah 100.000 tahun.

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS 70:4)

Apa pendapat anda ?
pendapat saya:
apapun yang akan saya sampaikan kepada anda
selama hati anda tertutup untuk mengimaninya
tidak akan ada gunanya

semua tulisan saya sepertinya hanya sampah buat anda
jadi silahkan menjawabnya sendiri dan memuaskan akal anda sendiri dengan pemahaman semau anda

Saya sampai hari ini kok kagak pernah ngeliat hadist lengkap tentang shalat 5/17 seperti yg ada dalam buku pelajaran shalat ?

apa anda bisa mempostingkan untuk saya ?
ada
mungkin karena anda tidak sungguh2 dalam mencari
kalo niat anda untuk belajar, saya postingkan redaksinya
tapi kalo anda hanya berniat berbantah-bantahan
silahkan cari sendiri kitabnya
atau via goggling mungkin bisa ketemu

sai

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.929
  • Reputasi: 68
  • Jenis kelamin: Pria
  • matahari pertama
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #190 pada: Februari 10, 2010, 12:15:44 pm »
OOT...

@ bro Zuhdi

tolong biasakan memanggil lawan komunikasi anda dengan baik, meski sedang berdiskusi. kata "dul" yang anda gunakan bisa jadi menyinggung banyak orang. ingat bro, meski cuma dunia maya, tapi tulisan anda bisa jadi cerminan anda sebenarnya.

anda mau ane panggil "nyet"?

@ all

silakan lanjut...

saya memantau saja

@mod
kayaknya perlu di split nih.melebar

Fauzi5994559

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 753
  • Reputasi: 0
  • One God, One Guider, but Why not One Leader ?
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #191 pada: Februari 10, 2010, 03:46:14 pm »
UNDANGAN KAJIAN USHUL TAFSIR
PESANTREN : AL-ABQORI, SERANG BANTEN
SABTU, 13 FEBRUARI 2010
JAM : 0800 S/D 1200.
GRATIS

KETERANGAN LENGKAPNYA : FACE BOOK : YASSIN MUTTHOHAR

Berikut Sinopsisnya :

Mengenal Kitab At-Taysir fî Ushûl at-Tafsir (Syaikh Atha‘ Abu Rasytah)

Pengantar

Penafsiran al-Quran memerlukan metodologi. Tanpa metodologi tafsir, upaya penafsiran al-Quran akan berjalan tanpa kaidah dan lebih bersifat arbitrer, alias suka-suka tanpa alasan rasional.

Di sinilah urgensi metodologi tafsir, atau istilah teknisnya ushul at-tafsir, yang didefinisikan sebagai sekumpulan kaidah (qawâ’id) atau dasar (asas) yang wajib digunakan oleh mufassir untuk menafsirkan al-Quran secara benar. (Al-’Ak, Ushûl at-Tafsîr wa Qawâ’iduh, hlm. 30; ar-Rumi, Buhûts fî Ushûl at-Tafsîr wa Manâhijuh, hlm. 11; Haqqi, ‘Ulûm al-Qur’ân min Khilal Muqaddimât at-Tafâsîr, I/52).

Tulisan ini bertujuan menjelaskan metodologi tafsir yang digagas Syaikh Atha‘ Abu Rasytah, pemimpin Hizbut Tahrir kini, dalam kitabnya At-Taysir fî Ushûl at-Tafsir (Beirut: Darul Ummah, 2006).


Latar Belakang dan Tujuan

Abu Rasytah berpandangan bahwa penafsiran al-Quran yang paling baik terjadi pada masa Rasulullah saw. dan masa Sahabat. Pada masa ideal ini, umat Islam memahami al-Quran berdasarkan tiga hal, yaitu: penjelasan Rasulullah saw., kaidah-kaidah bahasa Arab dan akal dalam batas-batas kemampuannya (hlm. 11-13).

Pada saat Allah memerintahkan mereka shalat (QS al-Baqarah [2]: 34), mereka memahami kata shalat dari praktik shalat yang dilakukan Rasulullah saw. Ketika Allah mengharamkan bangkai (QS al-Maidah [5]: 3), mereka memahami artinya berdasarkan kaidah bahasa Arab, yaitu pengharaman memakan bangkai (tahrîm akli al-maytah). Mereka pun memahami ayat-ayat al-Quran dengan akal dalam batas-batas kemampuannya, yaitu hanya pada objek-objek yang dapat diindera, misalnya alam semesta; bukan pada hal-hal yang gaib, misalnya memikirkan sifat-sifat Allah, apakah ia menyatu atau terpisah dengan Zat Allah. (hlm. 11-13).

Namun, sejak generasi tâbi’it at-tâbi’în dan sesudahnya (sejak abad ke-2 H), kualitas penafsiran al-Quran umat mengalami kemerosotan. Abu Rasytah menyebut tiga macam musibah beruntun yang kemudian merusak pola pikir umat dalam menafsirkan al-Quran. Musibah pertama terjadi ketika kemampuan bahasa Arab umat melemah sehingga al-Quran ditafsirkan tidak sesuai lagi dengan kaidah bahasa Arab. Musibah kedua terjadi saat sebagian umat membebaskan akal dalam memahami al-Quran, tanpa mengenal batas-batas kemampuan akal, semisal membahas kemakhlukan al-Quran (khalq al-Qur’ân). Musibah ketiga terjadi ketika ada sebagian umat yang mengadopsi berbagai konsep rusak dari filsafat Yunani, lalu menggunakannya untuk menafsirkan al-Quran (hlm. 14). (Lihat Abu Ulbah, Syawâ’ib at-Tafsîr, hlm. 33-51).

Rasa prihatin melihat kemerosotan penafsiran al-Quran inilah yang melatarbelakangi Abu Rasytah menulis kitabnya, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr. Tujuan yang beliau harapkan adalah merumuskan metodologi tafsir yang sahih seperti yang pernah digunakan umat Islam pada masa Rasulullah saw. dan para Sahabat (hlm. 32)


Pokok-Pokok Metodologi Tafsir

Metodologi tafsir Abu Rasytah secara garis besar tidak keluar dari lingkup metodologi tafsir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Beliau banyak mengembangkan gagasan pendahulunya, yakni Imam Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, Ays-Syakhshiyah al-Islâmiyah Juz I (Bab Tafsir) dan Juz III (Ushul Fiqih).

Metodologi tafsir beliau dapat diringkas dalam pokok-pokok berikut:

1. Menjadikan bahasa Arab penafsir al-Quran.

Abu Rasytah menegaskan tak mungkin seseorang memahami al-Quran dengan benar tanpa memahami bahasa Arab. Sebab, al-Quran telah diturunkan dalam bahasa Arab (QS Yusuf [12]: 2; QS an-Nahl [16]: 103) (Hlm. 22).

Prosedur pemaknaan al-Quran dengan bahasa Arab adalah sebagai berikut:

a) Suatu ayat hendaknya lebih dulu ditafsirkan menurut haqîqah syar’iyyah, yaitu makna hakiki menurut syariah. Misalkan kata shalat (QS al-Baqarah [2]: 34) harus ditafsirkan secara syar’i sebagai shalat yang dicontohkan Rasulullah saw. meski makna asal shalat secara bahasa adalah ad-du’â (doa).

b) Jika tidak ada makna syar’i-nya, hendaklah ayat ditafsirkan menurut haqîqah ‘urfiyah, yaitu makna hakiki menurut kebiasan orang Arab berbicara. Jika makna haqîqah ‘urfiyah juga tak ada, maka ayat ditafsirkan menurut haqiqah lughawiyah, yaitu makna hakiki sebagai makna asal bahasa. Misalkan firman Allah SWT:

Demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang berkaki empat dan binatang-binatang ternak, ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya) (QS Fathir [35]: 28).

Pada ayat ini, kata an-nas diartikan sebagai Adam as. dan keturunannya (haqîqah lughawiyah), kata al-an’âm diartikan unta, sapi dan domba (haqîqah lughawiyah). Namun, kata ad-dawâb diartikan binatang yang berkaki empat (haqiqah ‘urfiyah), tidak diartikan “binatang yang melata di bumi” (haqîqah lughawiyah). Sebab, haqiqah ‘urfiyah menurut bahasa Arab harus didahulukan daripada haqîqah lughawiyah (hlm. 33).

c) Jika suatu ayat tidak dapat ditafsirkan dalam ketiga makna hakikinya mengikuti tertib di atas, ia diartikan menurut makna majazinya. Makna majazi adalah makna sekunder, setelah makna primernya (yaitu makna hakiki) tidak dapat digunakan dalam pengertian aslinya. Misal kata wajh[un] dalam ayat yang berbunyi wa yabqa wajhu rabbika (QS ar-Rahman [55]: 27). Kata wajh[un] tidaklah tepat jika diartikan dalam makna hakikinya (wajah): Tetap kekal wajah Tuhanmu.” Sebab, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah. (QS asy-Syura [42]: 11). Karena itu, kata wajah itu hendak-lah dialihkan menuju makna majazinya, yaitu zat, sehingga makna ayat menjadi: Tetap kekal Zat Tuhanmu (hlm. 27-28).

Jadi, posisi Abu Rasytah memang menerima adanya makna majazi dalam bahasa Arab dan al-Quran. Ini berbeda dengan posisi Ibnu Taimiyah dan pengikutnya, seperti Ibn al-Qayyim Jauziyah, yang menolak keberadaan makna majazi. (Ya’qub, Asbâb al-Khathâ’ fî at-Tafsîr, hlm. 239; ad-Dahasy, Al-Aqwâl asy-Syadzah fî at-Tafsîr, hlm. 169; Al-Fanisan, Ikhtilâf Mufassirîn Asbâbuhu wa Atsaruhu, hlm. 105; ar-Rumi, Buhûts fî Ushûl at-Tafsir wa Manâhijuhu, hlm. 105).

d) Suatu ayat dapat ditafsirkan dengan mengetahui isytiqâq, yaitu proses derivasi berbagai kata yang berasal dari sebuah akar kata. Misalkan kata rahmah, rahîm dan rahmân, yang berasal dari kata rahima. Proses isytiqâq menurut wazan (pola baku pembentukan kata) dalam bahasa Arab meski melahirkan banyak kata, namun memiliki makna umum yang sama. Misalnya kata rahmân (QS al-Isra’ [17]: 110), artinya adalah kasih sayang yang banyak (katsîr ar-rahmah), yang masih satu makna secara umum dengan akar katanya, yakni rahima (mengasihi/menyayangi) (hlm. 33).

e) Suatu ayat dapat ditafsirkan dengan mengetahui ta’rîb, yaitu proses arabisasi suatu kata yang berasal dari bahasa non-Arab sesuai dengan wazan bahasa Arab. Misalkan kata sundus dan istabraq (QS al-Insan [76]: 21) yang berasal dari bahasa Nabatean (an-nabathiyah). Kedua kata itu dapat diberi makna oleh orang Arab mengikuti makna aslinya dari bahasa yang non-Arab, yaitu sundus berarti sutra halus; sedangkan istabraq berarti sutra kasar (hlm. 34).

2. Menjadikan Akal Penafsir al-Quran dalam batas kemampuannya.

Akal hanya dapat berfungsi jika obyek yang dipikirkan adalah fakta yang dapat diindera. Jika yang dipikirkan bukan fakta yang dapat diindera, berarti akal sudah melampaui batas kemampuannya.

Karena itu, perkara-perkara gaib tidak dapat dibahas menggunakan akal, melainkan harus menggunakan sarana lain, yaitu dalil naqli (berita yang dinukil dari al-Quran dan as-Sunnah). Contoh: kata kalâmullâh (QS at-Taubah [9]: 6). Allah sendiri telah menyebut bahwa al-Quran adalah kalamullah. Dalam hal ini, tidak perlu dibahas lagi mengenai kayfiyah (bagaimana) caranya Allah ber-kalam (berfirman) itu. Sebab, pembahasan ini sudah berada di luar kemampuan akal manusia (hlm. 35).

3. Menjadikan muhkam hakim untuk mutasyâbih.

Muhkam artinya ayat yang hanya memiliki satu makna. Mutasyâbih adalah ayat yang mengandung makna lebih dari satu. Muhkam adalah induk al-Quran atau makna asal yang wajib menjadi rujukan (QS Ali ‘Imran [3]: 7). Karena itu, muhkam menjadi hakim (penentu) makna mutasyâbih (hlm.28-29). Contoh mutasyâbih adalah kata wajh[un] (QS ar-Rahman [55]: 27). Kata ini tidak dapat diartikan “wajah tetapi tak seperti wajah kita”. Sebab, pemaknaan ini masih tetap mengikuti arti hakikinya, yakni wajah. Padahal akidah Islam tidak membolehkan adanya tasybîh (penyerupaan) Allah dengan makhluk-Nya. Jadi, kata wajh[un] yang mutasyâbih (QS ar-Rahman [55]: 27) ini wajib dipalingkan ke arah makna majazinya, karena ada ayat muhkam (QS asy-Syura [42]: 11) sebagai hakim yang tidak membenarkan makna hakikinya, yakni firman Allah yang muhkam:

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (QS asy-Syura [42]: 11).

4. Memperhatikan hubungan ayat sebelumnya dengan sesudahnya.

Abu Raystah menegaskan bahwa ada hubungan antara ayat sebelumnya dan sesudahnya. Misalkan QS al-Baqarah [2]: 3-5, misalnya, adalah ayat yang menerangkan ciri-ciri tertentu, yaitu ciri muttaqîn yang disebut dalam ayat sebelumnya (QS al-Baqarah [2]: 2). Kedua kelompok ayat ini memiliki hubungan bahwa orang beruntung (muflihûn) dicirikan dengan iman dan amal salih (hlm. 43).

5. Men-tarjîh dalâlah (makna) yang berbilang.

Abu Rasytah tidak membiarkan satu ayat memiliki beberapa makna sekaligus. Beliau cenderung melakukan tarjîh (memilih yang terkuat) dari beberapa kemungkinan makna ayat. Contoh: arti alif lâm mîm pada awal QS al-Baqarah. Menurut Abu Rasytah, arti alif lâm mîm yang paling tepat adalah nama bagi surah al-Baqarah itu (hlm. 41). Wallahu a’lam.

Daftar Bacaan

Abu Ar-Rasytah, Atha’ bin Khalil, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Beirut: Darul Ummah, 2006).

Abu Syuhbah, M. Muhammad, Al-Madkhal li Dirâsah al-Qur’ân al-Karîm (Riyadh: Darul Liwa’, 1987).

Abu Ulbah, Abdurrahim Faris, Syawâib at-Tafsîr fî al-Qarn ar-Râbi’ ‘Asyara al-Hijri (Beirut: t.p, 2005).

Al-’Ak, Khalid Abdurrahman, Ushûl at-Tafsîr wa Qawâ’iduhu (Beirut: Darun Nafa’is, 1986).

Al-Baghdadi, Abdurrahman, Beberapa Pandangan Mengenai Penafsiran al-Quran (Nazharât fî at-Tafsîr al-‘Ashri li al-Qur’ân al-Karîm) Penerjemah Abu Laila & Muhammad Tohir, (Bandung: Almaarif, 1988).

Adz-Dzahabi, Muhammad Husain, At-Tafsîr wa Mufassirûn, Juz I-III (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000).

—————, Ilmu Al-Tafsîr (Kairo: Darul Ma’arif, t.t.).

Al-Fanisan, Su’ud, Ikhtilâf Mufassirîn Asbâbuhu wa Atsaruhu (Riyadh: Markaz Ad-Dirasat wa Al-I’lam, 1997).

Al-Hasan, M. Ali, Al-Manâr fî ‘Ulûm al-Qur’ân, (Amman: Mathba’ah Al-Syarq, 1983).

Al-Hasani, Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Zubdah al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, (Jeddah: Dar Al-Syuruq, 1983).

Al-Muhtasib, Abdul Majid Abdus Salam, Ittijâhât at-Tafsîr fî al-’Ashr ar-Rahin (Amman: Maktabah an-Nahdhah al-Islamiyah, 1982).

An-Nabhani, Taqiyuddin, Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah, Juz I (Beirut: Darul Ummah, 2003).

—————, Al-Syakhshiyah al-Islâmiyah, Juz III (Beirut: Darul Ummah, 2005).

Ad-Dahasy, Abdurrahman, Al-Aqwâl asy-Syadzdzah fî at-Tafsîr (Manchester: Al-Hikmah, 2004).

Al-Qaththan, Mana’, Mabâhits fî ’Ulûm al-Qur’ân, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000).

Ar-Rumi, Fahad, Buhûts fî Ushûl at-Tafsîr wa Manâhijuhu, (t.tp: Maktabah at-Taubah, 1419 H).

As-Sabat, Khalid bin Ustman, Qawâ’id at-Tafsîr Jam’[an] wa Dirâsat]an] (Madinah: Dar Ibn Affan, 1421 H).

As-Sa’di, Abdurrahman Nashir, 70 Kaidah Penafsiran al-Quran (Al-Qawâ’id al-Hisan li Tafsîr al-Qur’ân), Penerjemah Marsuni Sasaky & Mustahab Hasbullah (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997)

Ash-Shabuni, Muhammad Ali, At-Tibyân fî ’Ulûm al-Qur’ân (Beirut: Alam al-Kutub, 1985).

Al-Shalih, Shubhi, Mabâhits fî ’Ulûm al-Qur’ân, (Beirut: Darul Ilmi lil Malayin, 1988).

Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran al-Quran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000).

Dahlan, Abd. Rahman, Kaidah-Kaidah Penafsiran al-Quran (Bandung: Mizan, 1998).

Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam (A History of Islamic Philosophy), Penerjemah R. Mulyadi Kartanegara, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986).

Goldziher, Ignaz, Madzâhib at-Tafsîr al-Islâmi, Penerjemah Abdul Halim an-Najjar (Kairo: Maktabah al-Khanja, 1955).

Haqqi, Muhammad Shafa, ‘Ulûm al-Qur’ân min Khilal Muqaddimât at-Tafâsîr, Juz I-II (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 2004).

Ibnu Taimiyah, Muqaddimah fî Ushûl at-Tafsîr, (Kuwait: Darul Quran al-Karim, 1971).

Mustaqim, Abdul, Madzahibut Tafsir Peta Metodologi Penafsiran Al-Qur‘an Periode Klasik Hingga Kontemporer (Yogyakarta: Nun Pustaka, 2003).

Mustaqim, Abdul & Syamsudin, Sahiron (Ed.), Studi al-Quran Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002).

Ushama, Thameem, Metodologi Tafsir al-Quran Kajian Kritis, Objektif, dan Komprehensif (Methodologies of The Quranic Exegesis), Penerjemah Hasan Basri & Amroeni (Jakarta: Riora Cipta, 2000).

Ya’qub, Thahir Mahmud Muhammad, Asbâb al-Khathâ’ fî at-Tafsîr (Damam: Dar Ibnul Jauzi, 1425 H).

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #192 pada: Februari 11, 2010, 11:29:36 am »
Kutip dari: arif budiman
jadi maksud anda Dzat Allah sekarang sedang berada di dekat urat leher anda?
Saya tidak tahu apakah itu dzat Allah krn Allah ghaib, yg saya tahu Allah dekat :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,(QS 50:16)

jadi saya hanya "menangkap" substansinya, Allah lebih dekat dari siapapun.

Kutip
pendapat saya:
apapun yang akan saya sampaikan kepada anda
selama hati anda tertutup untuk mengimaninya
tidak akan ada gunanya
mengimani  kata anda,  apa atau siapa yg harus diimani ?? kisahnya atau yg menyampaikan kisah tersebut ?

Kalo kisahnya yg harus diimani ---> saya sudah menyampaikan argumen saya bahwa kisah tersebut tidak match dengan AQ. ----> Apakah menurut anda saya harus mengimani kisah tersebut dengan mengabaikan AQ ? Bukankan kita sudah diperingatkan untuk mengikuti yg terbaik ...... QS 39:18.

kalo orangnya yg menyampaikan kisah dimaksud harus diimani ----> wah gak ada dasarnya.

Kutip
semua tulisan saya sepertinya hanya sampah buat anda
jadi silahkan menjawabnya sendiri dan memuaskan akal anda sendiri dengan pemahaman semau anda
kenapa emosi begitu ???? kita disini berdiskusi atau berdebat dengan argumen yg menjadi dasar bukan emosi, mas. Silahkan anda berargumentasi semampu anda untuk mematahkan argumen saya, bukan merasa   saya menganggap tulisan anda sbg sampah. gak donk !

Perlu anda ketahui bahwa saya tidak berada di barisan anda, saya bukan dari golongan sunni atau atau syiah atau apapun. Jadi jangan pernah berfikir saya harus mengikuti apa yg anda anda ikuti selain AQ. ---> Saya  tetap akan selalu berada dalam koridor taat kepada Allah dan RasulNya serta mengikuti apa yg diwahyukan Allah.

----> Saya juga tidak pernah menolak hadist, tafsir2 atau kitab apapun juga sepanjang tidak bertentangan dengan AQ serta sejalan dengan AQ. Misalnya adanya hadist yg mengatakan : "makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang" ---> hadist ini sangat baik untuk kesehatan kita.

Kalau anda menganggap apa yg saya lakukan itu salah, saya justru sangat berterima kasih kepada anda, jika anda menunjukkan kesalahan saya, tapi jangan seperti kata orang yg hanya nuduh sesat tanpa bisa menunjukkan dimana letak kesesatannya.

Kutip
ada
mungkin karena anda tidak sungguh2 dalam mencari
kalo niat anda untuk belajar, saya postingkan redaksinya
tapi kalo anda hanya berniat berbantah-bantahan
silahkan cari sendiri kitabnya
atau via goggling mungkin bisa ketemu
kalo ada silahkan diposting ... donk... soal niat saya jangan dibaca deh. yg mengakibatkan anda su'udzon kepada saya, kalo anda keberatan saya juga gak masalah kok. Tapi kalo itu anda anggap benar, jangan sembunyikan kebenaran itu, meskipun saya mungkin tidak menganggap itu benar. Sejauh mungkin saya akan menunjukkan alasan ketidak benarannya melalui AQ, jadi bukan asal bilang gak benar. Oke,

Jangan marah ya...., saran saya kalo lagi marah jangan memposting dulu deh .. cooling down dulu, hindarilah perkataan2 yg kotor, krn perkataan yg kotor hanya keluar dari hati yg kotor.



Salaam,

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #193 pada: Februari 11, 2010, 01:01:02 pm »
Kutip dari: arif budiman
jadi maksud anda Dzat Allah sekarang sedang berada di dekat urat leher anda?
Saya tidak tahu apakah itu dzat Allah krn Allah ghaib, yg saya tahu Allah dekat :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,(QS 50:16)

jadi saya hanya "menangkap" substansinya, Allah lebih dekat dari siapapun.
tau slogan telkomsel?
"begitu dekat begitu nyata"
keluarga di medan bisa kerasa dekat dengan yang di jakarta karena adanya teknologi komunikasi
apakah sama bicara misalnya melalui video call
dengan mengundang keluarga di medan untuk datang ke jakarta?
apakah "dekat" yang dimaksud slogan telkomsel itu sama dengan dekat secara harfiah?
apakah "dekat" yang dimaksud Allah dalam ayat tersebut adalah dekat secara harfiah?

seinget saya anda juga belum menanggapi penjelasan saya terkait ayat di atas
http://forum.dudung.net/index.php/topic,11935.msg244079.html#msg244079

mengimani  kata anda,  apa atau siapa yg harus diimani ?? kisahnya atau yg menyampaikan kisah tersebut ?

Kalo kisahnya yg harus diimani ---> saya sudah menyampaikan argumen saya bahwa kisah tersebut tidak match dengan AQ. ----> Apakah menurut anda saya harus mengimani kisah tersebut dengan mengabaikan AQ ? Bukankan kita sudah diperingatkan untuk mengikuti yg terbaik ...... QS 39:18.

kalo orangnya yg menyampaikan kisah dimaksud harus diimani ----> wah gak ada dasarnya.
khan ayat AQ yang menjelaskan perjalanan mi'raj rasulullah ke sidratul muntaha sudah saya sampaikan sebelumnya
tapi anda belum menanggapinya
ini adalah ucapan Allah dalam Al-Quran:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar." [QS An-Najm (53): 13 - 18]

lalu ketika saya tanyakan kembali
trus cerita rasulullah yang mengatakan bahwa beliau pernah ke sidratul muntaha, yang dikonfirmasi oleh Allah melalui QS An-Najm 13-18?
itu juga perkataan beliau sebagai nabi... jadi tidak perlu didengar dan dipercaya?
anda lagi2 tidak menggubrisnya
malah membuka poin baru

jadi ya mohon maaf kalo saya mengira
Kutip
semua tulisan saya sepertinya hanya sampah buat anda

kalo ada silahkan diposting ... donk... soal niat saya jangan dibaca deh. yg mengakibatkan anda su'udzon kepada saya, kalo anda keberatan saya juga gak masalah kok. Tapi kalo itu anda anggap benar, jangan sembunyikan kebenaran itu, meskipun saya mungkin tidak menganggap itu benar. Sejauh mungkin saya akan menunjukkan alasan ketidak benarannya melalui AQ, jadi bukan asal bilang gak benar. Oke,
yang mau diketahui apa mas
waktu2 shalat? atau rincian gerakan shalat?

Jangan marah ya...., saran saya kalo lagi marah jangan memposting dulu deh .. cooling down dulu, hindarilah perkataan2 yg kotor, krn perkataan yg kotor hanya keluar dari hati yg kotor.
makasih sarannya..
mohon maaf kalo ada kata2 saya yang salah  :)

satu pertanyaan lagi untuk mengerucutkan masalah, yang tidak dipercaya oleh mas tobil tu perjalanan mi'raj rasulullah-nya atau perintah shalat 5 waktu-nya sebagai hasil perjalanan tersebut (seperti yang diungkapkan mas yant)?

OOT
----> Saya juga tidak pernah menolak hadist, tafsir2 atau kitab apapun juga sepanjang tidak bertentangan dengan AQ serta sejalan dengan AQ. Misalnya adanya hadist yg mengatakan : "makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang" ---> hadist ini sangat baik untuk kesehatan kita.
perkataan itu memang populer, tapi sejauh pengetahuan saya bunyi haditsnya
Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan sampai kami lapar, dan apabila kami makan maka kami berhenti sebelum kenyang. yang dinisbatkan pada ucapan rasulullah meskipun sanadnya lemah..
jadi ya lebih tepat kalo nasihatnya "makanlah saat lapar dan berhentilah sebelum kenyang"

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #194 pada: Februari 11, 2010, 01:20:25 pm »
jawaban no3. nabi sholat dulu baru ke muntaha, dgn 7an untuk diperlihatkan sebagian Ayat -ayatNya.
jadi tdk setuju.
iya mas..
makasih atas pendapatnya
saya juga akan cari2 referensi lagi..
kenapa isra mi'raj selalu dikaitkan dengan perintah shalat 5 waktu
padahal dalam periode awal kerasulan pun sudah ada ayat2 tentang shalat?

ada yang bisa bantu menjelaskan?