Penulis Topik: tentang peristiwa isra' mi'raj  (Dibaca 82169 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #210 pada: Februari 13, 2010, 04:37:31 pm »

apakah ga logis Allah mengundang rasulullah ke sidratul muntaha untuk memperlihatkan sebagian tanda2 kekuasan-Nya
dengan dasar ayat.


logis / haq mas, apalagi dasarnya ayat AQ, .
tapi kalau diceritakan dgn dasar hadits yg ada skr malah menjadi tdk logis / tidak haq.

diwahyukan samawat ada 7. aku berpendapat itu 7 planet (diatas bumi)
diplanets / samawat tersebut ada dabbah, berjalan 2 kaki 4 kaki melata, ada yg kafir dan beriman.
persamaan sama adalah ardhi. yg masih dilingkungan matahari sebagai pusat jatuh.
pemandangannya manusia tdk akan melampaui dari 7 sama' tadi.

trus saya cocokan dgn iptek ternyata benar, iptek membenarkan Al Qur'an.

ditemukannya planet ke 10 dilingkungan tatasurya bumi,
2 dibawah dan 7 diatas,
membuat orang yg tdk suka dengan AQ bingung karena hal tersebut membuat AQ terlihat benar lagi, padahal 15 abad yg lampau.
 untuk menyanggah AQ maka planet pluto dikelurkan dari daftyar planet.
sehingga planet diatas bumi tetap 6 bh.





yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #211 pada: Februari 13, 2010, 04:41:56 pm »
tapi kalau pengertian anda sidratil muntaha adalah surga yg dijanjikan maka anda akan bingung sendiri.
begitupun kalau masjid al aqsa ada dibumi maka anda akan tambah bingung ( saat itu blm ada ).

Jaya

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 3
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #212 pada: Februari 15, 2010, 05:03:57 pm »
Kalo menafsirkan Qur'an itu gak boleh sepenggal-sepenggal, jadi harus dicari runtun "cerita" nya. Setiap ayat itu punya tafsir yang gak sembarangan dan ada runtun sendiri.

Misal kita aja belajar ilmu kedokteran......
Gak bisa hanya dari satu buku saja.........
Kedokteran misalnya ada buku wajib bacaan, nah nanti kan didalam buku itu ada yang menjelaskan tentang struktur tubuh manusia, tapi untuk lebih detil kita mesti mencari lagi yang namanya referensi ato "tafsir" karena pasti ada makna dan maksud sendiri.

Itu hanya ilmu kedokteran, apalagi ilmunya Allah, gak akan cukup hanya ditulis dalam lembaran kertas dan dibukukan. Kalo Al Qur'an benar2 ditafsirkan gak akan cukup hanya satu buku saja. Oleh karena itu kita perlu yang namanya tafsir dari para ahli yang mereka memang kerjanya ngurusin Qur'an aja. Kita cuman modal baca doank takutnya nanti bisa salah tafsir.  Satu ayat Qur'an aja kalo ditafsirkan bener2 bisa sampai beratus halaman bahkan bisa jadi satu buku.

Jadi cuman mengingatkan Allah menciptakan manusia ini ada batasnya, begitu juga akal manusia ada batasnya jadi gak semua hal itu bisa menggunakan akal. Apalagi kalo berbicara kekuasaan Allah maka akan banyak yang susah diterima akal  ;D

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #213 pada: Februari 15, 2010, 07:40:10 pm »
buku yang di wajibkan adalah Al Qur'an.
justru untuk itu maka dengan terjemah mestinya tidak ada salah tafsir.
penerjemah seharusnya berilmu sangat tinggi, dari berbagai segi ilmu, kedokteran, astronomi, kimia, fisika, nuclear dll.  apa sudah ada?

kalau kita merasa bodoh, maka pelajari Al Qur,an. ( cari kata pelajaran )

19/97 Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur'an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

mengapa Allah mengatakan spt diatas? Al Qur'an dipermudah.
untuk belajar Al QUr'an juga tdk harus urut, dgn misal surat pertama turun tidak diurutan pertama.

AQ menerangkan dirinya sendiri

... penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu .............2/185

Jaya

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 3
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #214 pada: Februari 15, 2010, 10:27:36 pm »
Bahasa Qur'an bukanlah bahasa yang mudah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan yang namanya terjemahan saja. Terjemahan hanyalah salah satu sarana untuk mempermudah mempelajari alqur'an, tapi agar bisa lebih mendalami maka harus dengan mempelajari bahasa asli qu'ran itu sendiri. Karena didalam bahasa arab (bahasa yang digunakan Al Qur'an) terdapat yang namanya istilah2, itulah makanya ada yang namanya ilmu "nahwu" yaitu ilmu yang mempelajari bahasa arab. Saya tahu anda akan bilang "al qur'an itu dibuat bukan untuk mempersulit kok, kalo belajar al qur'an itu sulit berarti orang akan malas dunk belajar" nah disitulah letak rahmat Allah. Allah ingin agar kita lebih berusaha lagi menggali al qur'an dengan mempelajari secara detil.

Al qur'an diturunkan waktu itu salah satu tujuan adalah untuk menandingi yang namanya kehebatan syair orang2 pada masa itu. Dan ketika ditantang ternyata tidak ada satu pun yang bisa membuat bahasa seperti al qur'an walau se-ayat pun. Kalo mau bicara logika, yang namanya syair ato puisi itu kan penuh dengan perumpamaan dan yang namanya perumpamaan itu  janganlah kita mengartikan secara harfiah.

Contoh kecil saja, "Home=rumah, house=rumah" untuk bahasa indonesia itu kelihatan seperti sama saja, tapi dalam pengertian itu sangat berbeda jauh. Kita selalu mengatakan "rumah" sebagai tempat tinggal, tapi kalo anda mengerti bahasa inggris pasti anda tahu perbedaan antara "Home dan House". Nah begitu juga dengan bahasa Al Qur'an yang penuh dengan istilah dan perumpamaan. Oleh karena itu ada orang yang namanya Hafidz Qur'an yang memang mendapatkan anugerah dari Allah untuk bisa memahami al qur'an dan dari mereka lah kita2 ini belajar.

Saya sengaja tidak mencantumkan ayat-ayat al qur'an ataupun hadist2 karena dari rekan2 diatas saya rasa sudah lebih dari cukup untuk menerangkan. Buat apa ada sekolah yang mempelajari agama islam atau al qur'an kalo kita bisa hanya dengan membaca apalagi terjemahan. Ingat al qur'an itu mukjizat bukan buku2 yang bisa kita pelajari sendiri hanya dengan membaca, kita butuh yang namanya pembimbing, butuh yang namanya penjelasan. Salah satu penjelasan adalah melalui hadist nabi. Di al qur'an sendiri bukan tidak ada yang menjelaskan tentang gerakan sholat? Kalo hanya suruhan untuk meniru sholat seperti nabi2 terdahulu, memagnya nabi2 terdahulu gerakan sholat seperti apa, apakah ada di dalam al qur'an? Saya hanya mengingatkan saja yang namanya belajar ilmu itu butuh pengajar, janganlah kita mentafsirkan sesuatu tanpa ilmu, ingat tafsir itu berbeda dengan arti atau terjemahan.

Maaf saja kalo saya disini hanya berbicara secara logika, karena sepertinya rekan2 diatas yang lebih mahir sudah mengemukakan berdasarkan ayat al qur'an dan hadist dan bahkan tafsir para ulama2 terkenal. Dinamakan ulama ya karena ilmu mereka, ulama itu sendiri asal katanya kan ilmu, artinya mereka yang mempunyai ilmu tentang hal2 yang berkaitan dengan yang dipelajarinya.

Semoga bisa menjadi renungan, wassalam.

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #215 pada: Februari 16, 2010, 12:16:19 am »
makasih bang jaya.
apakah butuh pengajar? jawabnya "ya"
apakah butuh pembimbing? jawabnya "ya"
apakak butuh ulama? jawabnya "ya"

apakah kebutuhan itu 100%? jawabnya "tidak"
bagaimana kalau mereka berbeda dgn Al Qur'an? inilah masalahnya.
bukankah mereka pintar? jawabnya "ya"
masalah mendasar yaitu mereka tidak menjadikan Al Qur'an sebagai pemikiran, sumber hukum, sumber ilmu dsb.
contoh sehari hari adalah kata syaitan. AQ menyatakan syaitan itu nyata, bisa terdengar bisa terlihat. tapi apa kata buku lain, setan itu tdk terlihat.
dan yg ngomong seperti itu jugaulama, sudah ribuan tahun.
ulama yg wajib kita ikuti adalah yang mengajak kita membaca kitab Allah, mengajak menjelajah ayat ayatNya, mengajak mempelajari petunjukNYa, mengajak mentilawah penjelasan penjelasanNya, mengajak mempraktekkan ayat ayat yang harus dipraktekkan. boleh ulama dulu atau ulama sekarang, boleh yang sudah meninggal atau yang masih hidup.
ulama yg tidak boleh diikuti adalah ulama yang bertantangan dengan isi Al Qur'an. contoh kata syaitan tadi.
begitu juga dgn hadits, walau shohih kalau bertentangan dgn AQ jangan dipakai.
taurat = sebagai cahaya (saat ini tdk ada)
injil = sebagai cahaya(saat ini tidak ada)

Al Qur'an = sebagai cahaya.
sunnah Allah, tiada perubahan pada sunnah Allah 33/62



Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #216 pada: Februari 16, 2010, 07:38:42 am »
Kutip dari: jaya
Kalo menafsirkan Qur'an itu gak boleh sepenggal-sepenggal, jadi harus dicari runtun "cerita" nya. Setiap ayat itu punya tafsir yang gak sembarangan dan ada runtun sendiri.
setiap ayat punya tafsir ??? apa iya  ?? siapa pula yg diberikan hak untuk menafsirkan ?

lantas untuk apa kita disuruh membaca ??  apakah maksudnya yg disuruh membaca itu baca tafsirnya, bukan baca AQ, spt. kitab syech kutb, jalalain, dsb.

ayat ini jelas yg disuruh dibaca adalah AQ bukan kitab tafsirnya :

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,(QS 35:29)

soal penjelasannya itu urusan Allah bukan urusan penafsir :

Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (QS. 75:19)

Jadi percayakan saja semua pada Allah bukan kepada penafsir. Oke.



Salaam

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re:tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #217 pada: Februari 16, 2010, 10:27:54 am »

apakah ga logis Allah mengundang rasulullah ke sidratul muntaha untuk memperlihatkan sebagian tanda2 kekuasan-Nya
dengan dasar ayat.


logis / haq mas, apalagi dasarnya ayat AQ, .
tapi kalau diceritakan dgn dasar hadits yg ada skr malah menjadi tdk logis / tidak haq.

syukron mas..
itu saja yang saya ingin tegaskan
perjalanan mi'raj rasulullah adalah haq
jangan mengukurnya dengan logika manusia yang terbatas

persoalan detail mengenai naik apa kesana, diantar siapa, lalu bagaimana dialog antara rasulullah dengan Allah..
silahkan dikembalikan kepada masing-masing sesuai apa yang diyakininya
wallahu a'lam


Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #218 pada: Februari 17, 2010, 08:23:46 am »


Kutip dari: arif budiman
syukron mas..
itu saja yang saya ingin tegaskan
perjalanan mi'raj rasulullah adalah haq
jangan mengukurnya dengan logika manusia yang terbatas

persoalan detail mengenai naik apa kesana, diantar siapa, lalu bagaimana dialog antara rasulullah dengan Allah..
silahkan dikembalikan kepada masing-masing sesuai apa yang diyakininya
wallahu a'lam
Kayaknya anda gak nangkap deh tulisan yant_138, coba anda perhatikan  yg ini :

"tapi kalau diceritakan dgn dasar hadits yg ada skr malah menjadi tdk logis / tidak haq."

Silahkan anda jawab pertanyaan ini : dgn dasar apa isra' diceritakan ? AQ atau hadist.

Coba sekali lagi anda perhatikan ayat ini :

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (QS 70:4)

atas dasar ayat diatas bisakah muhammad yg diantar jibril menghadap Tuhan dan pulang kembali ke bumi dlm waktu semalam.?

Anda perhatikan lagi cara Allah berkomunikasi langsung dengan hamba-Nya :

Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa".(QS 20:11), Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.(QS 20:12)

Jelas sekali komunikasi yg dilakukan Allah kepada hamba-Nya (Musa) ------> langsung, tanpa mesti mengundangnya ke langit.

apakah anda gak percaya kalo itu bisa dilakukan Allah .

ini konfirmasinya :

Dan rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.(QS 4:164)

Allah berfirman: "Hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur".(QS 7:144)

Jadi penjelasan yg dapat saya berikan :

1. Jika Allah hendak berbicara dengan hambaNya, pasti dilakukan langsung tidak perlu mengundang untuk menghadap spt. dilakukan (hanya) terhadap  Musa.

2. Dan Musa adalah satu2nya Rasul yg di ajak langsung berdialog dgn Allah, ini buktinya :

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang ta'bir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.(QS 42:51)

Jadi penjelasan apapan yg bertentangan atau tidak sejalan dengan AQ sudah selayaknya tidak diimani jika kita beriman kepada Allah.








Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #219 pada: Februari 17, 2010, 09:23:35 am »
Atas dasar ayat diatas kalo ada orang bertanya : dari mana anda tahu bahwa Allah bicara langsung dengan Musa ?????

Maka jawaban saya : Allah.

Terus kalo anda saya tanya : dari mana anda tahu bahwa Allah bicara langsung dengan Muhammad ?????

apa jawaban anda,  dari Allahkah ? atau  wallahu a'lam ?


Jadi kalo anda tanya : apakah ga logis Allah mengundang rasulullah ke sidratul muntaha untuk memperlihatkan sebagian tanda2 kekuasan-Nya.

Saya bilang :

- tidak logis krn faktanya Allah tidak pernah mengundang Muhammad ke sidratul muntaha ?

- gak logisnya lagi kenapa cuma muhammad yg diperlihatkan sebagian tanda2 kekuasan-Nya ? kenapa tidak kepada ibrahim, musa, isa dan rasul2 yg lain ?? apakah Allah membeda2kan Rasul2 nya ??  lantas apakah kita tidak berhak melihat  tanda2 kekuasan-Nya ?

- gak logisnya lagi siapa sih yg bilang sidratul muntaha ada di langit, emang Allah yg ngasih tahu ???

- Logisnya tanda2 kekuasaan-Nya diperlihatkan kepada hamba2Nya agar mereka bersyukur, bukan kepada hanya satu orang saja. ini ayat2 nya :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di laut seperti gunung-gunung.(QS 42:32)

Kami memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?(QS 41:53)

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.(QS 41:37)

Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.(QS 39:52)

jadi tidak ada alasan sedikitpun Allah mengundang muhammad ke sidratul muntaha, hanya untuk memperlihatkan tanda2 kekuasaannya, supaya apa ?  supaya muhammad percayakah kepada Allah, supaya muhammad bersyukurkah ?

Kalo kita beriman pastilah kita bisa melihat tanda2 kekuasaan Allah yg disebutkan dalam ayat2 diatas.



Salaam


yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #220 pada: Februari 17, 2010, 02:01:19 pm »
kalau ayah Allah bicara langsung kepada nabi Muhammad memang tdk ada. ( Yg ada kpd nabi Musa )
kalau ayat ayat yg menerangkan memperlihatkan ayat ayatNya.

6/75
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di samawat dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.
17/1
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

kami perlihatkan dalam perjalanan tersebut, kami perlihatkan tanda tanda keagungan kekuasaan kami,
kami perlihatkan cuma dalam satu malam ( tdk lebih dari 12 jam )

yant_138

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 195
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #221 pada: Februari 17, 2010, 11:35:08 pm »
kalau anda kembali membaca tulisan saya, maka yg terlihat di ufuk adalah salah satu sidrah / planet.
dan sidrah itu diliputi sesuatu ( atmosfer )

50 tahun gerak malaikat

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam yaum yang kadarnya lima puluh ribu tahun. 70/4
 yaum bisa hari bisa masa. satu hari disisi Allah = 1000 tahun kita.

50.000 x 1000 = 50.000.000  tahun kita bila dikali kecepatan malaikat maka betapa luas kekuasaanNYA.

tapi sdh ada batasannya yaitu " pemandangannya tdk melampauinya "
maka cuma di lingkup matahari sebagai pusat jatuh / bawah yang diperlihatkanNYA.
selain Muhammad maka mbah kita Ibrahim juga miraj.
kapan? waktu itu semua sama' / samawat  dalam satu garis lurus.
makanya cukup satu malam sampai ke masjid yg jauuuuuuuuuuuh sekali.

Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #222 pada: Februari 18, 2010, 10:18:58 am »
Kalo kita mau "melihat" tanda2 kekuasaan Allah maka itu tidak akan pernah dapat dihitung ada berapa, bahkan terhadap diri kita pun terdapat tanda2 itu, sayangnya banyak diantara kita yg tidak mau "melihat" tanda2 itu. Itu sebabnya Allah berkata :

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.(QS 35:19)

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.(QS 40:58)

Mari kita "lihat" tanda2 kekuasaan Allah yg ada pada diri kita, siapakah yg menumbuhkan tubuh kita, ibu bapak kitakah atau Allah ---> ibu bapak hanya bisa memberi kita makan dan minum.

Demikian pula perkembangan otak dari mulai anak2 sampai dewasa, siapa yg sanggup melakukannya. Kalo kita sakit siapakah yg dapat menyembuhkannya selain Allah, dokterkah ??? dokter hanya bisa mendiagnosa penyakit kemudian menuliskan resep yg sesuai dengan penyakit atau bahkan sering kejadian di dokter A kita tidak dapat sembuh tetapi di dokter B kita sembuh padahal obat yg diberikannya sama.

atau obat ???

kalo anda mau "melihat" ini semua pasti akan "terlihat" hanya Allah yg melakukan itu semua. Jangan pernah anda berfikir bahwa anda pandai membaca atau menulis krn diajarkan oleh guru sekolah, it's nonsens, itu hanya yg terlihat di mata tetapi hakikinya Allah yg mengajarkannya.

Anda perhatikan juga tanaman yg ada disekitar anda, manusiakan yg menumbuhkan atau Allah ??? mudah2 an saja kita mau melihat tanda2 kekuasaan Allah disekitar kita.

Dengan demikian tidak selayaknya Allah mengundang muhammad dilangit ke 7 atau di sidratul muntaha hanya utk memperlihatkan tanda2 kekuasaannya, dengan mengabaikan nabi2/rasul lainnya ?


Salaam,


arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #223 pada: Februari 19, 2010, 11:17:52 am »
jadi apa yang dimaksud sidratul muntaha menurut mas tobil?


Tobil

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 301
  • Reputasi: -2
    • Lihat Profil
Re: tentang peristiwa isra' mi'raj
« Jawab #224 pada: Februari 20, 2010, 07:34:57 am »
Saya juga gak tahu, apa itu SM, tapi ada 2 ayat yg mengalih bhskan kata "SIDR" sebagai pohon bidara, ini ayat2nya :

56.28.  Fee sidrin makhdoodin
Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri,(QS 56:28)

34.16.  FaaAAradoo faarsalna AAalayhim sayla alAAarimi wabaddalnahum bijannatayhim jannatayni thawatay okulin khamtin waathlin washay-in min sidrin qaleelin
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.(QS 34:16)

trus terjemahan yg saya dapat :

SDR = to rend (a garment), hang or let down a garment, lose (one's hair), be dazzled/confounded/perplexed, be dazzled by a thing at which one looked.
sidratun - Lote-tree. when the shade of lote-tree becomes dense and crowded it is very pleasant and in the hot and dry climate of Arabia the tired and fatigued travelers take shelter and find rest under it and thus it is made to serve as a parable for the shade of paradise and its blessings on account of the ampleness of its shadow. The qualification of sidrah by the word al-muntaha shows that it is a place beyond which human knowledge does not go.


Selanjutnya tentang "muntaha" saya dapatkan alih bhsnya adalah :

NUN-HA-WAW/YA =  to prevent, forbid, chide away, prohibit, make one to stop from, restrain, interdict, hinder, desist, refrain.

Di dalam AQ ada 56 ayat yg menggunakan root : NUN-HA-WAW/YA , masing2 ayatnya :

wanahā (وَنَهَى) verb
3rd person masculine singular perfect verb (فعل ماض)

    * (79:40:6) ... and restrained ...

wanahaw (وَنَهَوْا۟) verb
3rd person masculine plural perfect verb (فعل ماض)

    * (22:41:12) ... and forbid ...

nuhū (نُهُوا۟) verb (5)
3rd person masculine plural passive perfect verb (فعل ماض مبني للمجهول)

    * (4:161:4) ... they were forbidden ...
    * (6:28:13) ... they were forbidden ...
    * (7:166:5) ... they were forbidden ...
    * (58:8:5) ... were forbidden ...
    * (58:8:11) ... they were forbidden ...

nuhītu (نُهِيتُ) verb (2)
1st person masculine singular passive perfect verb (فعل ماض مبني للمجهول)

    * (6:56:3) ... am forbidden ...
    * (40:66:3) ... have been forbidden ...

yanhā (يَنْهَىٰ) verb
3rd person masculine singular imperfect verb (فعل مضارع)

    * (96:9:3) ... forbids ...

yanhawna (يَنْهَوْنَ) verb (3)
3rd person masculine plural imperfect verb (فعل مضارع)

    * (6:26:2) ... forbid (others) ...
    * (7:165:8) ... forbade ...
    * (11:116:9) ... forbidding ...

wayanhawna (وَيَنْهَوْنَ) verb (4)
3rd person masculine plural imperfect verb (فعل مضارع)

    * (3:104:9) ... and forbidding ...
    * (3:114:7) ... and forbid ...
    * (9:67:8) ... and forbid ...
    * (9:71:8) ... and forbid ...

tanhā (تَنْهَىٰ) verb
3rd person feminine singular imperfect verb (فعل مضارع)

    * (29:45:11) ... prevents ...

atanhānā (أَتَنْهَىٰنَآ) verb
2nd person masculine singular imperfect verb (فعل مضارع)

    * (11:62:9) ... Do you forbid us ...

tun'hawna (تُنْهَوْنَ) verb
2nd person masculine plural passive imperfect verb (فعل مضارع مبني للمجهول)

    * (4:31:5) ... you are forbidden ...

watanhawna (وَتَنْهَوْنَ) verb
2nd person masculine plural imperfect verb (فعل مضارع)

    * (3:110:8) ... and forbidding ...

wayanhāhum (وَيَنْهَىٰهُمْ) verb
3rd person masculine singular imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (7:157:15) ... and forbids them ...

yanhāhumu (يَنْهَىٰهُمُ) verb
3rd person masculine singular imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (5:63:2) ... forbid them, ...

yanhākumu (يَنْهَىٰكُمُ) verb (2)
3rd person masculine singular imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (60:8:2) ... Allah (does) not forbid you ...
    * (60:9:2) ... Allah forbids you ...

wayanhā (وَيَنْهَىٰ) verb
3rd person masculine singular imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (16:90:9) ... and forbids ...

anhākum (أَنْهَىٰكُمْ) verb
1st person masculine singular imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (11:88:20) ... I forbid you ...

anhakumā (أَنْهَكُمَا) verb
1st person masculine singular imperfect verb, jussive mood (فعل مضارع مجزوم)

    * (7:22:18) ... I forbid you both ...

nanhaka (نَنْهَكَ) verb
1st person masculine plural imperfect verb, jussive mood (فعل مضارع مجزوم)

    * (15:70:3) ... we forbid you ...

wa-in'ha (وَٱنْهَ) verb
2nd person masculine singular imperative verb (فعل أمر)

    * (31:17:6) ... and forbid ...

wal-nāhūna (وَٱلنَّاهُونَ) active participle
nominative masculine plural active participle (اسم مرفوع)

    * (9:112:9) ... and those who forbid ...

nahākumā (نَهَىٰكُمَا) noun
nominative noun (اسم مرفوع)

    * (7:20:13) ... forbid you both ...

nahākum (نَهَىٰكُمْ) noun
nominative noun (اسم مرفوع)

    * (59:7:29) ... he forbids you ...

l-nuhā (ٱلنُّهَىٰ) noun (2)
genitive plural noun (اسم مجرور)

    * (20:54:9) ... (of) intelligence. ...
    * (20:128:17) ... (of) intelligence. ...

Form VI
yatanāhawna (يَتَنَاهَوْنَ) verb
3rd person masculine plural (form VI) imperfect verb (فعل مضارع)

    * (5:79:3) ... forbidding each other ...

Form VIII
fa-intahā (فَٱنتَهَىٰ) verb
3rd person masculine singular (form VIII) perfect verb (فعل ماض)

    * (2:275:31) ... and he refrained, ...

intahaw (ٱنتَهَوْا۟) verb (3)
3rd person masculine plural (form VIII) perfect verb (فعل ماض)

    * (2:192:2) ... they cease, ...
    * (2:193:10) ... they cease ...
    * (8:39:11) ... they cease, ...

yantahūna (يَنتَهُونَ) verb
3rd person masculine plural (form VIII) imperfect verb (فعل مضارع)

    * (9:12:18) ... cease. ...

yantahū (يَنتَهُوا۟) verb
3rd person masculine plural (form VIII) imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (8:38:5) ... they cease ...

tantahū (تَنتَهُوا۟) verb
2nd person masculine plural (form VIII) imperfect verb, subjunctive mood (فعل مضارع منصوب)

    * (8:19:7) ... you desist, ...

yantahi (يَنتَهِ) verb (2)
3rd person masculine singular (form VIII) imperfect verb, jussive mood (فعل مضارع مجزوم)

    * (33:60:3) ... cease ...
    * (96:15:4) ... he desists, ...

yantahū (يَنتَهُوا۟) verb
3rd person masculine plural (form VIII) imperfect verb, jussive mood (فعل مضارع مجزوم)

    * (5:73:17) ... they desist ...

tantahi (تَنتَهِ) verb (3)
2nd person masculine singular (form VIII) imperfect verb, jussive mood (فعل مضارع مجزوم)

    * (19:46:9) ... you desist ...
    * (26:116:4) ... you desist, ...
    * (26:167:4) ... you desist, ...

tantahū (تَنتَهُوا۟) verb
2nd person masculine plural (form VIII) imperfect verb, jussive mood (فعل مضارع مجزوم)

    * (36:18:7) ... you desist, ...

intahū (ٱنتَهُوا۟) verb
2nd person masculine plural (form VIII) imperative verb (فعل أمر)

    * (4:171:32) ... desist ...

fa-intahū (فَٱنتَهُوا۟) verb
2nd person masculine plural (form VIII) imperative verb (فعل أمر)

    * (59:7:31) ... refrain. ...

muntahūna (مُّنتَهُونَ) active participle
nominative masculine plural (form VIII) active participle (اسم مرفوع)

    * (5:91:20) ... the ones who abstain? ...

muntahāhā (مُنتَهَىٰهَآ) passive participle
nominative masculine (form VIII) passive participle (اسم مرفوع)

    * (79:44:3) ... (is) its finality. ...

l-muntahā (ٱلْمُنتَهَىٰ) passive participle (2)
genitive masculine (form VIII) passive participle (اسم مجرور)

    * (53:14:3) ... (of) the utmost boundary, ...
    * (53:42:4) ... (is) the final goal. ...

Semoga bermanfaat,



Salaam,