Penulis Topik: Aurat Wanita Saat Sholat  (Dibaca 6097 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

arifrahman

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 960
  • Reputasi: 5
  • Jenis kelamin: Pria
  • One Shoot One Kill -> U Are The Next Target :)
    • Lihat Profil
Aurat Wanita Saat Sholat
« pada: Juni 17, 2008, 11:55:25 pm »

 Assalamu'alaikum ustadz..

 mau tanya nih.. aye pernah liat ada akhwat/ ibu2 yang solatNya tuh g pake mukena... bukan masalah mukenaNya seh.. tpi waktu beliau mengankat kedua tangan tuh tanganNya keliatan.. :)

 yang mau saya tanyakan adalah :

 1. apa batas2 aurat bagi wanita saat solat ?
 2. apakah kedua telapak tangan Luar itu termasuk aurat ?
 3. bagaimana jika kondisi diatas (tangan keliatan) terjadi, apakah sah solatNya ? => tangan yg saya maksud adalah anggota tangan dibawah telapak tangan..  alias pergelangan tangan..
4. trs kalo waktu pake mukena terus ngangkat tangan terlalu tinggi (takbir/ i'tidal) itu juga terkadang keliatan (bagi ce yg g pake jilbab).. itu gmn hukumNya kang ?

ok kang.. eh, pak ustadz.. terimakasih atas jawabanNya.. coz menurutku ini penting dan jarang sekali orang yang betul2 mengerti agama sekarang ini.. banyak sekali sekarang orang pinter dakwah/ khotbah, tpi tidak banyak orang 'alim -> berilmudan  mengamalkanNya juga.. :)


fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #1 pada: Juni 18, 2008, 05:22:24 pm »
batasan aurat perempuan dalam shalat itu seluruh tubuh kecuali wajah telapak tangan dan bagian bawah kaki ( telapak kaki )

lin_yank

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.479
  • Reputasi: 16
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Love Allah.. ^_^
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #2 pada: Juni 25, 2008, 01:19:07 pm »
telapak tangan itu yang bagian bawah kan..??

tapi kadang yang g pada pake mukena tuh,, punggung tangan atas(atasnya telapak tangan) pada kelihatan...

tu gimana..??itu kan termasuk aurat juga kan..?

ferry

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 1
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #3 pada: Juni 25, 2008, 01:21:49 pm »
kalo punggung telapak tangan termasuk aurat... :great:

lin_yank

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.479
  • Reputasi: 16
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Love Allah.. ^_^
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #4 pada: Juni 27, 2008, 01:41:25 pm »
berarti kl mbak2 yang g pd pake mukena ntu,, g sah dunk...
kan punggung tangannya pada keliatan...
kalo pas sedekap c mungkin g keliatan tapi kalo pas duduk diantara 2 sujud n tahiyat kan otomatis keliatan...

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #5 pada: Juli 02, 2008, 01:45:51 pm »
berarti kl mbak2 yang g pd pake mukena ntu,, g sah dunk...
kan punggung tangannya pada keliatan...
kalo pas sedekap c mungkin g keliatan tapi kalo pas duduk diantara 2 sujud n tahiyat kan otomatis keliatan...

ini masyaqat dalam shalat. jadi tidak masalah. karena seperti disyaratkan imam nawawi dalam majmu', telapak tangan harus menyentuh tanah ( tempat shalat ) tanpa penghalang, disisi lain punggung telapaktangan adalah aurat. jadi yang ditutup cuma punggung telapak tangan aja dan telapak tangan harus terbuka. shingga punggung tlpk tangan untuk kemungkinan terbuka sangat banyak sekali. taruhlah kalau keduanya termasuk aurat dan telapak tangan tidak disyaratkan menyentuh tanah, ini malah mudah. tinggal pakai kaos tangan, beres.

ez_crim_maniez

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 360
  • Reputasi: 7
  • ^_^ Indahnya persahabatan...;-)
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #6 pada: Juli 04, 2008, 02:44:09 pm »
 :)..Kang Fahmie sedkit pertanyaan kalau tumit pada saat solat kelihatan bagaimana, apakah masyaqat juga?
   

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #7 pada: Juli 04, 2008, 03:06:50 pm »
Tidak..soalnya letak masyaqatnya tidak ada.

Kalau tidak salah, banyak mukena yang langtsung terus sampai kebawah. masyaqat itu, jika keadaan sulit untuk dan terlalu berat untuk dilaksanakan, itu yang dianggap masyaqat.

kalau masalah punggung tangan yang diatas itu khan masyaqat karena sulit untuk menutupinya, walaupun penutupnya tersedia sekalipun.

zafirah

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 67
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #8 pada: Juli 04, 2008, 04:02:00 pm »
memang aurat wanita didalam sholat & diluar sholat dibedakan ya?  :-?
setau ana sama saja, jika wanita kluar rumah diwajibkan utk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya
[QS. al ahzab:59] & hanya boleh terlihat yg biasa terlihat padanya (muka&telapak tangan). jd pada kondisi itu sdh sah aurat tertutup & sdh sah pula utk melaksanakan sholat pada keadaan demikian. mukena tidak bisa dijadikan ganti penutup aurat (setau ana di arab, wanita disana memakai apa yg telah dipakainya diluar rumah). andaikan hanya mukena saja yg dianggap sah utk seorang wanita menutup aurat & digunakan utk sholat, maka niscaya mukena tsb harus digunakan oleh setiap wanita muslim setiap ia keluar rumah. ini menurut pemahaman ana
wallahu'alam.

zafirah

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 67
  • Reputasi: 2
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #9 pada: Juli 04, 2008, 04:10:44 pm »
ana copaskan sedikit penjelasan yg sama dari eramuslim
smoga bisa membantu
=============

Assalamu'alaikum,

Pak ustadz, saya sering melihat perempuan ketika sedang sholat kelihatan punggung tangannya dari pergelangan tangan sampai jarinya), apakah itu diperbolehkan?

Yang saya tahu, kalau perempuan sedang sholat itu semuanya harus tertutup kecuali muka dan telapak tangan. Apakah punggung tangan yang saya maksud itu juga termasuk telapak tangan? Apakah ada contoh atau haditsnya bahwa punggung tangan boleh terlihat ketika sholat? Terima kasih banyak atas jawaban ustadz.

Siti Maryam
izma

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Para ulama secara mayoritas telah bersepakat berdasarkan dalil-dalil yang ada untuk menetapkan bahwa batas aurat seorang wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua tapak tangan. Dalam bahasa arab, disebutkan jami'u badaniha illa al-wajha wal kaffaini (seluruh tubuhnya kecuali wajah dan dua tapak tangan).

Mungkin yang jadi titik masalah di sini adalah tentang istilah telapak tangan. Dalam bahasa Indonesia, kalau al-kaffaini diterjemahkan sebagai telapak tangan, sebenarnya bukan penerjemahan yang tepat. Sebab yang dimaksud dengan al-kaffaini adalah tapak tangan, mencakup bagian dalam (bathinul kaff) dan juga bagian luar atau punggung (zhahirul-kaf). Sedangkan bila diterjemahkan dengan telapak tangan, maka yang dimaksud hanya bagian dalam tapak tangan saja.

Penerjemahan yang tepat adalah tapak tangan yang mencakup bagian dalam dan luarnya. Sehingga batas mulainya aurat adalah pada pergelangan tanganya (ar-risghu).

Dengan demikian, ketika ada seorang wanita shalat dengan terlihat punggung tangannya, belum termasuk terlihat auratnya. Sebab punggung tangan bukan termasuk aurat, jadi memang boleh terlihat.

Sebagai sebuah perbandingan, mungkin anda masih ingat bahwa seorang wanita yang hendak dilamar diperbolehkan memperlihatkan wajah dan kedua tapak tangannya. Tentu bukan hanya bagian dalamnya saja yang boleh dilihat, tetapi punggung tangannya termasuk yang boleh dilihat juga. Sebab punggung tangan memang bukan termasuk aurat.

Khilaf Para Ulama Tentang Batasan Aurat Wanita dalam Shalat

Sebenarnya kalau mau lebih diperdalam lagi, masih bisa kita dapati beberapa perbedaan sederhana dari pandangan para ulama tentang batasan aurat wanita dalam shalat. Beberapa di antaranya yang dapat kami sebutkan di sini antara lain:

a. Mazhab Hanafiyah

Menurut mazhab ini, batas aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali bathinul kaffaini (bagian dalam tapak tangan) dan dzahirul qadamaini (bagian luar tapak kaki). Maka shalat dengan terlihat bagian dalam tapak tangan hukumnya boleh. Sebagaimana bolehnya terlihat kedua tapak kaki bagian luar hingga batas mata kaki.

b. Mazhab Malikiyah

Dalam mazhab ini ada dua macam aurat, yaitu mughalladzah (berat/besar) dan mukhaffafah (ringan/kecil). Aurat mughalladzah batasnya antara pusat dan lutut. Sedangkan aurat mukhaffafah antara seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua tapak tangan luar dan dalam.

Kemudian batasan itu dikaitkan dengan hukum batalnya shalat lantaran terbukanya masing-masing jenis aurat ini. Bila yang terbuka aurat mughalladzah, shalatnya batal dan dia harus mengulangi shalatnya dari awal lagi. Hal itu seandainya dia mampu menutupnya tapi membiarkannya saja.

Sedangkan bila yang terbuka aurat mukhaffafah, shalatnya tidak batal, meskipun membiarkannya hukumnya haram atau makruh. Dan dia pun tidak harus mengulang shalatnya, hukumnya sebatas mustahab (dianjurkan) untuk mengulangi shalat seandainya waktunya masih tersisa.

c. Mazhab Asy-Syafi'i

Menurut mazhab ini, batas aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua tapak tangan, dzhahiruhma wa bathinuhuma. Maksudnya yang bukan termasuk aurat adalah wajah dan kedua tapak tangan baik bagian dalam maupun bagian luar. Maka shalat dengan terlihat wajah dan kedua tapak tangan bagian dalam dan luar hukumnya boleh, karena bukan termasuk aurat.

d. Mazhab Hambali

Menurut mazhab ini, batas aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali hanya wajahnya saja. Sedangkan kedua tapak tangan baik bagian dalam tapak tangan bagian luarnya termasuk aurat. Maka di dalam shalat yang boleh terlihat hanya wajahnya saja, sedangkan tapak tangan luar dalam termasuk aurat yang wajib ditutup.

Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #10 pada: Juli 04, 2008, 04:26:49 pm »
memang aurat wanita didalam sholat & diluar sholat dibedakan ya?  :-?
setau ana sama saja, jika wanita kluar rumah diwajibkan utk mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya
[QS. al ahzab:59] & hanya boleh terlihat yg biasa terlihat padanya (muka&telapak tangan). jd pada kondisi itu sdh sah aurat tertutup & sdh sah pula utk melaksanakan sholat pada keadaan demikian. mukena tidak bisa dijadikan ganti penutup aurat (setau ana di arab, wanita disana memakai apa yg telah dipakainya diluar rumah). andaikan hanya mukena saja yg dianggap sah utk seorang wanita menutup aurat & digunakan utk sholat, maka niscaya mukena tsb harus digunakan oleh setiap wanita muslim setiap ia keluar rumah. ini menurut pemahaman ana
wallahu'alam.

Dibedakan. karena adanya hadis nabi yang mengatakan bahwa aurat wanita dalam shalat..hakadza hakadza...

berikut hadisnya :

رُوِيَ عن محمد بن زيد بن قنفذ عن أمه (أم حرام) عن أم المؤمنين أم سلمة   t أنها سألت النبي   r: «أتصلي المرأة في دِرْع (أي قميص) وخمار (غطاء الرأس) ليس لها إزار؟». فقال: «لا بأس إذا كان الدرع سابغاً يغطي ظهور قدميها (أي أعلاهما وظاهرهما، وليس أسفلهما)». وهذا الحديث احتجوا به على مذهب أبي حنيفة (والثوري والمزني) الذي أجاز فيه للمرأة إظهار قدمها في الصلاة قياساً على الكف. وليس في الحديث إشارة إلى خارج الصلاة ولا إلى باطن القدم.

 ( langsung pada matan )..dari umi salamah beliau bertanya pada nabi SAW..apakah perempuan memakai qamis dan khimar ( penutup kepala ) tapi tidak memakai sarung ( bawahan ) ? tidak masalah jika qamis tersebut menjulur kebawah dan menutup punggung telapak kakinya ( maksudnya atasnya, bukan bawah telapak kaki ). Hadis ini dijadikan hujjah oleh abu hanifah dan tsauri yang mengatakan bahwa bagian bawah telapak kaki bukan aurat dalam shalat.

Dari satu hadis ini ( disamping masih banyak yang lain ), ulama akhirnya membuat pembahasan tersendiri seputar aurat wanita dalam shalat. walaupun pada prakteknya diluar dan pada saat shalat sama saja.

Kutip
(setau ana di arab, wanita disana memakai apa yg telah dipakainya diluar rumah). andaikan hanya mukena saja yg dianggap sah utk seorang wanita menutup aurat & digunakan utk sholat, maka niscaya mukena tsb harus digunakan oleh setiap wanita muslim setiap ia keluar rumah. ini menurut pemahaman ana
wallahu'alam.

betul tidak hanya mukena. semuanya sah jika pakaian menutup aurat digunakan untuk shalat.  Saya mengatakan mukena, karena rata2 perempuan indonesia menggunakan mukena.

Sebenarnya yang dibahas pada inti aurat wanita saat shalat, adalah aurat antara hubungan perempuan dg tuhannya. sedangkan dalam mu'amalah, antara hubungan perempuan dan lelaki ajnabi. jadi ada landasan mengapa dibedakan dalam bab fiqh antara aurat wanita dalam shalat dan diluar itu, yaitu antara praktek 'ubudiah dan mu'amalah. walaupun pada hakikatnya hampir sama.

Zuhdi

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 91
  • Reputasi: 1
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #11 pada: Juli 04, 2008, 05:28:36 pm »
sekali lagi maaf ya mas fahmie,,

Sepengetahuan saya (madzhab Syafi'ie) tapak kaki itu adalah aurat dalam sholat. Tetapi dikala berdiri hashillah penutupnya nya itu adalah dengan tanah atau tempat dimana ia diletakkan apakah dilantai, di tikar atau dipan. Tetapi jika ketika sujud terbuka, baik ada yang melihat atau tidak maka batallah sholatnya. Ini pulalah apa yang kami baca dalam Hasyiatul Bajury karangan As-Syeikh Al-Bajuri pada Juz 1 hal 140 sebagai berikut :

"Adapun perkataan Syarah : Selain mukanya dan dua telapak tangannya artinya adalah sehingga rambut kepalanya dan bathin telapak dua kakinya. Dan memadailah menutupnya itu dengan bumi tempat ketika ia berdiri. Maka bila nyata dari padanya sesuatu dari tapak kakinya diwaktu sujudnya atau nyata tumitnya seketika ruku'nya atau sujudnya, maka batallah sembahyangnya."

demikian Al-Bajuri dalam Hasyiahnya..

Wallahu a'lam

fahmie ahmad

  • Pengunjung
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #12 pada: Juli 05, 2008, 12:15:44 am »
Hehehe...betul mas...

tidak perlu minta maaf begitu mas..langsung nulis aja ga papa.

saya memang  bermadzhab syafi'i. tapi ketika menulis jawaban saya lebih cenderung dg madzhab yang tidak menimbulkan masyaqat asal tidak talfiq ( mengambil yang ringan-ringan ).

Sebenarnya madzhab syafi'ipun ada bermacam qaul mengenai hal ini, walaupun yang masyhur telapak kaki itu termasuk aurat.

Hemat saya, semua benar. baik syafi'i maupun hanbali malik ataupun hanafi. cenderung keyakinan hati lebih condong kemana. setelah saya telaah dan pelajari, dalam hal ini saya lebih setuju madzhab hanafi atas dasar tarjih yang dilakukan oleh Dr.'abdul karim ziidan ( salah satunya ).

Berikut nukilannya :

ودليل القول بأن القدمين عورة، الحديث الشريف عن أم سلمة أنها سألت النبي صلى الله عليه وسلم: أتصلى المرأة في درع وخمار ليس عليها إزار ؟ قال: إذا كان الدرع سابغًا يغطي ظهور قدميها.
ويمكن أن يقال: إن تغطية القدمين في الصلاة ورد على وجه الندب والاستحباب لا على وجه الحتم والإيجاب، فلا تكون القدمان من العورة الواجب سترها، يقوي هذا التأويل أن الحاجة تدعو إلى كشف القدمين، إذا مشت حافية؛ لعدم تيسير ما تلبسه في قدميها، ثم إن الاشتهاء لا يحصل بالنظر إلى القدم كما يحصل بالنظر إلى الوجه، فإذا لم يكن الوجه عورةمع كثرة الاشتهاء فالقدم أولى أن لا يكون عورة.(انتهى)


Dalil pendapat yang mengatakan bahwa kedua telapak kaki termasuk aurat adalah hadis dari umi salamah yang bertanya pada nabi : apakah ( boleh ) perempuan qamis dan penuitup kepala tapi tidak memakai sarung ? berkata nabi SAW : jika qamis menutup punggung telapak kaki. selesai hadis.

Tetapi mungkin untuk dikatakan ( tarjih dari madzhab hanafiah ) : bahwasanya menutup telapak kaki dalam shalat itu datang atas dasar kesunahan, tidak atas dasar wajib, maka kedua telapak kaki bukan termasuk 'aurat yang wajib ditutup. yang mennguatkan ta'wil ini adalah, bahwasanya hajat mengharusjan membuka kedua telapak kaki karena sulitnya menggunakan penutup untuk kedua telapak kaki. juga karena ketika melihat pada 'aurat perempuan itu tidak menimbulkan syahwat. jika wajah saja bukan 'aurat, maka telapak kaki lebih utama untuk tidak disebut 'aurat.

Kemudian untuk pertanyaan yang ini :

Kutip
..Kang Fahmie sedkit pertanyaan kalau tumit pada saat solat kelihatan bagaimana, apakah masyaqat juga?

dan saya jawab seperti ini :

Kutip
Tidak..soalnya letak masyaqatnya tidak ada.

Kalau tidak salah, banyak mukena yang langtsung terus sampai kebawah. masyaqat itu, jika keadaan sulit untuk dan terlalu berat untuk dilaksanakan, itu yang dianggap masyaqat.

kalau masalah punggung tangan yang diatas itu khan masyaqat karena sulit untuk menutupinya, walaupun penutupnya tersedia sekalipun.

itu karena mba es krim manis sepertinya lebih cenderung menganggap bahwa telapak kaki 'aurat. jadi saya anggap bahwa mba es krim manis lebih cenderung dg madzhab syafi'i.oleh karena itu saya jawab dg standar madzhab syafi'i. begitu mas  :)
« Edit Terakhir: Juli 05, 2008, 12:17:59 am oleh fahmie ahmad »

d4vid_r5

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 4.925
  • Reputasi: 40
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dreaming...
    • Lihat Profil
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #13 pada: Juli 05, 2008, 04:56:04 pm »
bedakah aurat wanita saat sholat dengan keadaan saat di luar rumah?

5y4ff4

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 40
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • Fama liainaika in qultakfufa hamata.
    • Lihat Profil
    • jejak inspirasi dan cinta
Re: Aurat Wanita Saat Sholat
« Jawab #14 pada: Juli 06, 2008, 04:15:47 am »
adapun perbedaan aurat wanita ketika sholat dan di luar sholat
adalah sebagai berikut :
seperti yang di terangkan dalam kitab fatawa kubra ibnu hajar alhaitami

وحاصل مذهبنا أن إمام الحرمين نقل الإِجماع على جواز خروج المرأة سافرة الوجه وعلى الرجال غضّ البصر"
dan dari fatwa dari yusuf qardhawi

 إنه يجوز لها كشف وجهها إجماعاً وعلى الرجال غضُّ البصر، ولا ينافيه الإِجماع على أنها تؤمر بستره لأنه لا يلزم من أمرها بذلك للمصلحة العامة وجوبه

: عورة المرأة بالنسبة للرجال الأجانب عنها وكذلك النساء غير المسلمات جميع بدنها ما عدا الوجه والكفين، على ما اخترناه

intinya, bahwa aurat wanita diluar keadaan shalat adalah semua badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan
fatwa dai dar al-ifta al-mishriah
 ودليل القول بأن وجه المرأة وكفيها ليسا بعورة، أن ابن عباس رضي الله عنهما قال في قوله تعالى: "ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها" قال: الوجه والكفين. ولأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى المحرمة في الحج عن لبس الثقازين والنقاب، ولو كان الوجه والكفان عورة لما حرم سترهما للمحرمة، ولأن الحاجة تدعو إلى كشف الوجه للبيع والشراء، والكفين للأخذ والعطاء.

yang intinya aurat wanita dalam shalat semua badannya terkecuali wajah dan kedua telapak tangan.

jadi..aurat wanita dalam shalat dan diluar shalat pada hakikatnya sama saja. hanya 'alaqah yang membedakannya.
ini adalah pendapat dari golongan madzhab syafi'i.
sebetulnya pada intinya itu semua sama, tapi karena ada dua 'alaqah, maka menjadi berbeda. walaupun dalilnya sama.



« Edit Terakhir: Juli 06, 2008, 08:02:32 pm oleh 5y4ff4 »