Penulis Topik: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....  (Dibaca 132251 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

panji_rachman_ramadhan

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 161
  • Reputasi: 4
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #30 pada: Desember 24, 2008, 10:14:37 pm »
Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.

"Untuk apa ?" tanya sang ayah.
"Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil.
"Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, "Pa, Pa ada hadiah untuk Papa."
Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab, "Sudahlah nanti saja."
Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa, sudah siang."
"Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."

Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.
"Hadiah apa nih?", tanya sang ayah.
"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang", jawab anaknya dengan penuh semangat.

Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.
"Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong. Buang-buang kertas kado apa. Kan mahal ?"
Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa."

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya.
"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !"

Perspektif :

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi ?
Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.

Kosong dan penuh -- dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

alakazam_vincent

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 1
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #31 pada: Januari 30, 2009, 04:26:37 pm »
LENTERA SI BUTA

".Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.
Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata : "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja
buat saya ! Saya bisa pulang kok."
Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu,
biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa
pelita itu.Tak berapa lama, dalam perjalanan, benar saja, seorang pejalan
menabrak si buta.Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata !
Beri jalan buat orang buta dong!"
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Selang beberapa lama, seorang pejalan lainnya menabrak si buta lagi.
Kali ini si buta bertambah marah,"Apa kamu buta ? Tidak bisa lihat ya?
 Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!"
Penabrak itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat,pelitamu sudah
padam!" Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf,
"Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat kalau Anda orang buta."
Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa,maafkan saya juga atas kata-kata
kasar saya tadi."  Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali
pelita si buta.
Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta
itu.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,
"Maaf, apakah pelita saya padam ?"

Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."
Senyap sejenak.
Secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta ?"
Secara serempak pun mereka menjawab,"Iya," untuk kemudian meledak dalam
tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang
berjatuhan akibat bertabrakan. Waktu itu juga seseorang lewat.
Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang
mencari-cari pelita tersebut.Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka
buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini,"rasanya saya perlu membawa pelita
juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik,dan orang lainpun bisa ikut
melihat jalan mereka."

                                                  ************ ***


Pelita melambangkan terang kebijaksanaan.
Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup.
Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain
dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pembawa pelita mungkin benar tidak membutuhkannya, tetapi pelita yg
dibawanya berguna buat orang lain....yang akhirnya berguna juga buatnya..

Sebuah pepatah kuno mengatakan:
"Selaksa pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita,
dan tidak membuat nyala pelita pertama meredup
« Edit Terakhir: Januari 30, 2009, 05:13:49 pm oleh alakazam_vincent »

Khawarizmy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Cerpen, Puisi, Sastra Religi
Re:Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #32 pada: Maret 03, 2009, 05:17:29 pm »
Hai, anak muda!
Seketika tubuhnya merinding. Seakan-akan surat itu bersuara. Yah, terdengar jelas suarnya. Menancapa dalam di dinding-dinding hatinya. Namun, ia tetap melanjutkan membaca tulisan yang ada di sana.
Mungkin kamu mengira aku sudah mati. Atau, kamu mendengar orang-orang meneriakkan kata-kata bahwa aku telah mati. Sebab, aku sudah tidak lagi membagi-bagikan rezeki. Tak lagi memcukupi kebutuhan kalian yang tak tercukupi.
Salah!! Itu prasangka yang sangat keliru. Aku tak mau kamu, wahai pemuda, terjerumus dalam hal-hal semacam itu. Ketahuilah! Aku tidak mati. Aku hanya pergi. Yah, hanya pergi.

Panji berusaha meyakinkan dirinya bahwa bukan surat itu yang mengeluarkan suara, tapi kata-kata itu terdengar jelas di telunga. Tapi, kenapa ia pergi?
Lihat ke sebelah kanan!
Panji pun menoleh ke arah kanan, berjalan mendekati jendela. Dari sana, ia dapat melihat cahaya pulan purnama yang sempurna menyinari gedung-gedung megah kotanya. Bagai kota yang terbuat dari emas. Kilau cahayanya ada di mana-mana.
Tahukah kamu, bagaimana keadaannya dulu???
Kini, cobalah pandang sebelah kiri!
Panji menuju sisi lain ruangan itu. Dari jendela di sana, ia dapat melihat cahaya lampu terpancar tinggi menembus langit di malam sunyi. Ia kenal dengan tempat itu. Yah, Warung Remaja tempat ia selalu menghabiskan masa-masa bersama teman-temannya.
Tahukah kamu keadaannya dulu???
Kini, aku pergi. Tak peduli lagi akan apa yang terjadi dengan kota ini.
Di bagian bawah pesan itu tertulis beberapa coretan. Ia tahu itu pesan dalam bahasa Arab, tapi huruf-huruf itu terlalu asing baginya. Terlalu sulit untuk memahami.

dari Dia [tak] Bisa Mati
Saat kita tak mampu memandang nikmatNya dengan sebagai anugerah, Ia akan pergi meninggalkan kita

qieyyah

  • Sr. Member
  • ****
  • Tulisan: 337
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #33 pada: Maret 29, 2009, 01:03:13 pm »
 Aih... Aih...

Cinta, duuuh cinta...
Virus cinta emang bisa bikin blingsatan dan jungkir balik gak karuan. Uring-uringan, hingga makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Bahkan dapat merubah pribadi seseorang, yang awalnya benci banget kata-kata puitis nan manis, mendadak jadi pujangga yang pandai menebar janji tuk memikat hati.

Sambil bersimpuh dengan seikat bunga mawar ditangan, sang pujangga pun merayu sang pujaan, "Duhai belahan hati, tak dapat kuhidup tanpa dirimu di sisi."

Kadang ia bergaya bagaikan bintang film India, "Adinda..., belahlah dadaku ini, kan kau lihat ada dirimu di sana."

Sang gadis pun tersipu malu, hidung kembang-kempis dan jempol kaki jadi gede, "Idih... abang bisa aja nih."

Tak peduli siang malam, yang dipikirkan hanya juwita sayang impian seorang. Tak tahan dengan rayuan maut sang pujangga karbitan, si gadis pun langsung jatuh cinta. Jiwa terbang ke awang-awang, bermain dengan bintang gemintang.

Akhirnya, adik jadi milik abang seorang.

Cihuiii... nikah juga!!!

Pesta tiga hari tiga malam pun diadakan, ngikutin tradisi bintang-bintang sinetron atau anak orang-orang kaya. Meriah, dengan orkes dangdut setiap malam yang memekakkan telinga, juga tak ketinggalan pemutaran layar tancap di depan rumah.

Tamu-tamu begitu banyak yang datang, dan tak henti-hentinya ucapan selamat dihaturkan, "Duuh neng, cantiknya...," seraya tangan mencubit gemes pengantin perempuan.

"Aduuh!" ternyata nyubitnya sakit juga, sambil ngedumel dalam hati,

"Iih... luntur deh make-up, nih ibu reseh banget sih!"

Tapi senyuman masih mengembang, memikirkan banyaknya amplop yang akan diterima, dan kembali berbisik dalam hati, "Sudah tradisi...," menirukan iklan produk biskuit di tivi.

Rasa puas serta bahagia terpancar dari kedua pasangan, dan tentu saja keluarga besar. Bangga, bisa membuat pesta gede-gedean karena katanya itu simbol kaum terhormat dan kaya raya.

Rencana bulan madu pun tak lupa dipikirkan, "Bang, ntar kita bulan madu kemana?" tanya istri sambil bergelayut manja.

"Kemana aja boleh, terserah adikku sayang," sambil mencium pipi dengan mesra, muaaah! Maklum, pengantin baru.

"Huu... yang benar dong jawabnya," pura-pura merajuk.

"Kalo ke bulan, adik mau ikut?"

"Ikuuut...," sambil memegang erat tangan kakanda tercinta.

Aih... aih...

* * *

Cinta, duuuh cinta...
Di awal pernikahan duhai sungguh indah, sayang-sayangan yang bikin mabuk kepayang. Makan saling suap-suapan, di jalan pun tangan saling bergandengan, hingga kadang membuat iri yang belum menemukan pasangan. Tak lupa foto adinda yang sedang tersenyum dipajang di meja kerja, dielus-elus saking cintanya, karena tak sabar ingin segera pulang ke rumah.

Jam kerja kadang digunakan untuk telpon-telponan, "Lagi ngapain, honey?"

Karena masih pengantin baru, masih gede rasa cemburu.

"Hani? Siapa tuh Hani? Kan namaku bukan Hani, pacar baru lagi ya?"

Hiks... hiks... hiks...

Hah???

* * *

Waktu berlalu, hari berganti hari hingga tahun berganti tahun. Layaknya sebuah kehidupan, tentu ada pasang surut. Roda pun tak selalu di atas, selalu ganti berputar. Begitu juga perjalanan bahtera rumah tangga anak manusia, kadang manis tak jarang pula sebaliknya.

Gejolak cinta di masa muda yang begitu bergelora untuk mendapatkan pasangan jiwa lalu berganti dengan keluh kesah, hingga bosan pun meranggas cinta. Suami yang dulu begitu mesra, perlahan mulai lupa dengan yang di rumah. Sang istri kini lebih sering merenung sambil bersenandung lagu Kemesraan-nya Franky Sahilatua, berharap kemesraan yang dulu janganlah cepat berlalu.

Istri kadang sendirian, karena kekanda tercinta suka pulang larut malam. Makan malam yang dihidangkan pun kini tak lagi disentuh, karena restoran telah menjadi pilihan. Dilayani pelayan-pelayan yang berpenampilan rapih, bagi sang suami lebih menyenangkan daripada disambut istri yang wajahnya penuh dengan masker bengkoang dan celemek kucel penuh bau masakan beraneka-ragam. Bahkan tak jarang kepala bermahkotakan rol rambut aneka warna.

Ah...
Rumah tangga kini tak lagi tampak mesra. Suami yang dulunya selalu berjanji sehidup semati, kini lain di bibir, lain di hati. Sindir menyindir sering jadi luka yang menyayat pedih.

* * *

"Neng... manusia itu tak ada yang sempurna, semua pasti ada kekurangannya," nasehat Wak Haji di mushola kecil yang diapit rumah-rumah mewah di kompleks perumahan tersebut.

"Suami istri saling cekcok atau bertengkar itu hal yang biasa," beliau kembali menambahkan.

"Wak Haji juga dong?" cepat memotong.

"Lha iya, emang saya bukan manusia?" Wak Haji menjawab sambil mesem-mesem.

"Lho, mestinya Wak Haji ngasih contoh yang baik, masak udah haji kok bertengkar?"

Lalu kembali berkomentar, "Kalo Wak Haji yang udah tua gini masih juga suka berantem, lha kita yang muda ini nyontohnya ke siapa? Wak Haji mikir dong, mikir...!"

Wuaaah...!!!

"Aih... aih... Wak Haji gitu aja marah, terusin deh" senyum-senyum.

Sambil menahan gemes, Wak Haji pun melanjutkan, "Neng juga harus inspeksi diri sendiri..."

"Mungkin introspeksi ya Wak, maksudnya?" membenarkan.

"Oh iya, ya itu..., Neng juga harus intrupsi"

"Introspeksi Wak, bukan intrupsi!" kembali membenarkan, sembari menahan kesal.

"Aduuh... susah ya pakai istilah tingkat tinggi, apa tadi, inflasi?" Wak Haji bertanya kembali.

Wuaaah...!!!

"Aih... aih... Neng, gitu juga marah, he... he... he...," Wak Haji terkekeh-kekeh, girang banget bisa membalas.

"Tak ada gading yang tak retak, demikian juga rumah tangga. Lautan masih terlalu luas terbentang, ribuan karang siap menghadang, ombak pun kadang menerjang. Karena itu semua persoalan tak hanya dapat dipecahkan dengan cinta, tapi juga butuh sikap dewasa," nasehat Wak Haji.

Kembali beliau menambahkan, "Untuk bersikap dewasa harus ada yang namanya ujian. Nah..., jadikan ujian itu sebagai pernik-pernik dalam pernikahan, ia akan menjadi indah saat setiap pasangan menyikapinya dengan dewasa, bukan dengan amarah. Sikap dewasa akan menyuburkan cinta, sehingga istri atau suami akan lebih mengutamakan pasangannya. Misalnya nih contoh gampangnya, kadang si istri lebih senang berdandan untuk orang lain daripada suaminya, atau sebaliknya."

"Maksudnya Wak Haji?" bertanya, karena belum jelas.

"Iya, coba si Neng inspeksi, eh... apa tadi, inflasi?" sahut Wak Haji seraya membenarkan letak kopiahnya.

"Idih mulai lagi nih, introspeksi, Wak Haji" sambil menahan senyum.

"Eh iya, si Neng coba introspeksi diri, apa iya kalo dandan di rumah juga seperti ini? Padahal Islam menganjurkan kalo berdandan untuk suami di rumah itu jauh lebih baik daripada untuk orang lain," nasehat Wak Haji bagaikan air bening yang merembes di telaga hati.

Si Neng hanya terdiam, membenarkan. Kemudian ia merenung betapa indah, bahkan teramat indah Islam mengajarkan syariat kepada para pemeluk-Nya, hingga mengatur hal-hal yang sangat sederhana. Ia tertunduk malu, karena terkadang terlalu berlebihan berdandan untuk orang lain saat keluar rumah, padahal yang lebih utama semestinya itu adalah hak kekanda, sang belahan jiwa.

* * *

Krek...
Suara pintu dibuka, suami tercinta baru pulang kerja.

"Aih... aih..., mau kemana malam-malam begini?" tanya suami curiga, melihat istri yang berdandan begitu cantiknya.

Ia hanya diam, dan tersenyum manis sementara kekanda tercinta masih bengong, menatap tak percaya.

"Nggak kemana-mana, emangnya gak boleh tampil cantik di rumah?" jelas adinda sambil mengedipkan genit sebelah matanya.

"Kata Wak Haji, istri itu harus melayani suami dengan baik, termasuk tampil cantik saat ia ada di rumah," menirukan apa yang telah didengarnya di mushola.

Suami terharu, aaah... ia memang telah tampil beda. Suami pun sadar bahwa dirinya dan juwita tercinta memang sudah beranjak jauh dari masa-masa muda yang penuh gelora, tapi kekuatan cinta akan selalu menjadikan seseorang berusaha memberikan yang terbaik kepada yang dicintainya. Sang pujangga lalu berjanji dalam hati, untuk selalu menjadi pujangga cinta bagi adinda, sang belahan jiwa.

"Abang...," istri berkata perlahan.

Dalam hati sudah mengira, pasti adinda akan meminta maaf atas segala kekhilafan yang dilakukannya, sehingga dengan cepat ia berkata, "Sudahlah dek, abang juga salah, suka mengabaikan tanggung jawab di rumah," terharu, mata tambah berkaca-kaca.

"Aih... aih..., emangnya saya mau ngomong apa," gerutunya dengan manja, "Cuma mau nanya, kan udah awal bulan, uang gajiannya mana?"

Hah???

Wallahua'lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,


Rizki Amalia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.002
  • Reputasi: 29
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #34 pada: April 14, 2009, 01:16:12 pm »
jadi nangis klo baca ini..

CINTA SEORANG IBU

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua
dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.

Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya
mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu
ayam dan banyak lagi. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang
malang. Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan:

'Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa
lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku
mati.'

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya,
sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang
dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa,
namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk
diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke
seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa
dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak
yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, 'Tuhan ampuni anak
hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya.'

Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya
dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani
hukuman.. Dengan hati hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tak hentinya dia
berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena
kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat ber-bondong2
menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya
dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya
yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan
tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana
mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng
datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali
lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir
darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat.
Dengan jantung ber-debar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang
naik ke atas menyelidiki sumber darah.

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur
berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan
lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur
di dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air
mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah
diturunkan, menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan
mengikat dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk
menghindari hukuman pancung anaknya.

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahat
si anak, ibu akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya.

Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih
mampu, karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini.

Sesuatu untuk dijadikan renungan untuk kita... agar kita selalu mencintai
sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

There is a story living in us, that speaks of our place in the world. It
is a story that invites us to love what we love and simply be ourselves.

Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan.

Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang
abadi.

Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.

Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksana.

Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa
yang diberikan Tuhan.

Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.

Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.

Ambillah waktu untuk memberi, itu membuat hidup terasa berarti.

Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.

Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci untuk menuju Surga.

Gunakan waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar
kembali. .

dari group facebook

Rizki Amalia

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 2.002
  • Reputasi: 29
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re:Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #35 pada: Mei 02, 2009, 05:15:48 pm »
Berikut ini adalah cerita masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi - Pendiri Lembaga M.K.Gandhi)

Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan.

Kami tinggal jauh dipedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”

Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya. Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menunju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayah menanyai saya, “Kenapa kau terlambat?”

Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.” Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong.

Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”

Lalu, ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.

Sejak itu saya tidak pernah akan berbohong lagi.

“Sering kali saya berpikir mengenai peristiwa ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

http://www.facebook.com/inbox/?ref=mb#/topic.php?uid=58154708600&topic=7085

Jukut Pija

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #36 pada: Mei 13, 2009, 10:17:07 am »
copas dari http://www.andriewongso.com/awartikel-184-Artikel_Tetap-Menyeberangi_Sungai


Suatu hari di dalam kelas sebuah sekolah, di tengah-tengah pelajaran, pak guru memberi sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya : Anak-anak, jika suatu hari kita berjalan-jalan di suatu tempat, di depan kita terbentang sebuah sungai kecil, walaupun tidak telalu lebar tetapi airnya sangat keruh sehingga tidak diketahui berapa dalam sungai tersebut. Sedangkan satu-satunya jembatan yang ada untuk menyeberangi sungai, tampak di kejauhan berjarak kira-kira setengah kilometer dari tempat kita berdiri.

Pertanyaan saya adalah, apa yang akan kalian perbuat untuk menyeberangi sungai tersebut dengan cepat dan selamat? Pikirkan baik-baik, jangan sembarangan menjawab. Jawablah dengan memberi alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini.

Seisi kelas segera ramai, masing-masing anak memberi jawaban yang beragam. Setelah beberapa saat menunggu murid-murid menjawab di kertas, pak guru segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi. Ada sekelompok anak pemberani yang menjawab: kumpulkan tenaga dan keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai. Ada yang menjawab, kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang sampai ke seberang.

Kelompok yang lain menjawab : Kami akan mencari sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga lontaran dari tongkat tersebut. Dan ada pula yang menjawab : Saya akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai, walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman.

Setelah mendengar semua jawaban anak-anak, pak guru berkata, ”Bagus sekali jawaban kalian. Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian mempunyai semangat berani mencoba. Yang menjawab turun ke air berarti kalian mengutamakan praktek. Yang memakai tongkat berarti kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan. Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian lebih mengutamakan keamanan. Bapak senang kalian memiliki alasan atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai, tidak akan lari gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai. Pesan bapak, mulai dari sekarang dan sampai kapanpun, Kalian harus lebih rajin belajar dan berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai ke tempat tujuan”.



yang menarik menurut saya justru..
sikap pak guru yang tidak menyalahkan siapapun dan mengambil sisi positif dari setiap jawaban muridnya..




wa

  • Pengunjung
Re:Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #37 pada: Juli 08, 2009, 11:00:53 am »
Moisha Krivitsky, dari Sinagog Pindah ke Masjid


Setiap orang menempuh jalannya masing-masing dalam menuju kebenaran. Bagi seorang Moisha Krivitsky, jalan yang ditempuhnya melewati fakultas hukum, sebuah sinagog dan penjara. Ia seorang calon pengacara yang menjadi rabi, lalu memeluk Islam dan pernah dijebloskan ke penjara.

Sekarang Musa — demikian nama yang yang dipilihnya setelah ia menjadi seorang Muslim, tinggal di sebuah masjid kecil di Al-Burikent, sebuah daerah pegungungan di Makhachkala, dan bekerja sebagai seorang penjaga di Masjid Jami Pusat.

Dalam sebuah kesempatan, kami berbincang-bincang mengenai dirinya, bagaimana ia menjadi seorang Muslim dan tinggal di sebuah masjid.

Musa mengawali ceritanya dengan menyampaikan bahwa ia seperti begitu saja tiba di masjid itu dan kemudian tinggal di sana. Namun sebelumnya ia menempuh perjalan yang cukup sulit.

“Jika Anda mendalami Islam, Anda akan mengerti bahwa Islam adalah agama yang sangat mudah. Namun, perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Islam bisa jadi sangat sulit. Seringkali orang tidak paham mengapa seseorang bisa berpindah agama, memeluk Islam. Islam itu seperti apa yang kita bayangkan dan yang tidak kita bayangkan,” katanya.

Ketika dikatakan kepadanya bahwa seorang rabi pindah agama memeluk Islam adalah sesuatu yang cukup menghebohkan, ia berkata, “Sebenarnya itu sudah tidak lagi menghebohkan — sudah lebih dari satu tahun saya menjadi Muslim. Awalnya memang aneh juga buat saya. Tapi keputusan yang saya buat itu bukanlah keputusan yang tiba-tiba. Sebelum menjadi Muslim, saya membaca buku-buku tentangnya, dan saya pun tertarik.”

“Saya lulus sekolah agama setingkat sekolah menengah atas. Setelah kelulusan saya pergi ke Makhachkala dan menjadi seorang rabi di sana.”

“Saya berasal dari sebuah daerah yang sangat jauh. Tapi sekarang saya sudah seperti menjadi orang Daghestan sejati. Di sini saya punya banyak teman, Muslim dan juga orang-orang yang sangat jauh dari Islam.”

Musa kemudian menceritakan pengalamannya ketika masih di sinagog.

“Ketika itu situasinya cukup paradoks. Ada sebuah masjid di dekat sinagog tempat saya bekerja. Sebuah masjid kota. Kadang-kadang teman-teman saya yang merupakan jama’ah masjid itu datang ke tempat saya, hanya untuk berbincang-bincang. Kadangkala saya pun mendatangi masjid itu, untuk melihat bagaimana peribadatan di sana dilakukan. Saya sangat tertarik. Jadilah kami hidup layaknya bertetangga yang baik. Dan pada suatu saat di bulan Ramadhan, seorang wanita datang mengunjungi saya — yang kemudian saya ketahui berasal dari keluarga yang turun-temurun memeluk Islam. Ia meminta pendapat saya mengenai terjemahan Al-Qur’an yang dibuat oleh Krachkovsky. Sebagai balasannya, ia meminta saya untuk memberikan Taurat. Maka kemudian Al-Qur’an itu saya baca, kira-kira sepuluh kali.”

“Awalnya sangat sulit, tapi kemudian setahap demi setahap saya saya mulai mengerti, dan bisa menangkap ajaran dasar Islam.”

Sejenak Musa menghentikan ceritanya. Ia melihat ke arah seorang putra teman saya, Ahmad kecil yang berusia enam tahun tertidur di pelataran masjid. Ia menyarankan agar bocah itu dipindahkan ke dalam masjid.

Kemudian Musa melanjutkan ceritanya.

“Wanita itu mengembalikan Tauratnya. Menurut dia sangat sulit baginya untuk membaca serta memahami isinya. Sebagaimana membaca literatur agama, diperlukan konsentrasi dan perhatian yang sangat tinggi.”

“Saya menemukan jawaban di Qur’an tentang banyak pertanyaan Tapi tentu tidak semuanya, karena yang saya baca bukan asli bahasa Arab, melainkan terjemahannya.” Jawab Musa ketika ditanya apakah ketika itu ia mulai membandingkan antara Al-Qur’an dengan Taurat.

“Meskipun demikian saya mulai memahami banyak hal,” lanjutnya.

Kami bertanya apakah itu artinya ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Taurat?

“Saya tidak tahu, dalam setiap hal ada yang Allah kehendaki di sana,” katanya.

“Sepertinya, orang-orang Yahudi yang masuk Islam pada jaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, tidak menemukan jawaban di Taurat atas beberapa pertanyaan mereka. Namun, mereka menemukannya dalam Islam. Mungkin juga mereka tertarik akan kepribadian Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, akhlaknya, dan caranya berkomunikasi dengan orang. Itu semua adalah hal yang penting.”

Lalu pertanyaan seperti apa yang tidak bisa dijawab oleh Taurat?

“Sebelum saya ada kontak dengan Islam, ada pertanyaan-pertanyaan yang bahkan tidak saya upayakan untuk mencari jawabannya. Sepertinya sebuah buku berperan penting di sini, yaitu yang ditulis oleh Ahmad Deedat, cendikiawan yang berasal dari Afrika Selatan. Buku yang membandingkan Al-Qur’an dengan Bibel.”

“Ada satu kalimat kunci, yang sangat dikenal oleh mereka yang akrab dengan masalah-masalah keagamaan, yaitu ikutilah Nabi Muhammad, seorang rasul yang akan datang kemudian. Dan ketika saya mempelajari Islam, saya yakin bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam, adalah nabi yang benar, yang harus diikuti. Keduanya, Bibel dan Taurat menyuruh kita untuk melakukannya.”

Apakah yang Taurat katakan mengenai nabi yang terakhir itu?

“Kita tidak akan menemukan namanya di dalam Taurat. Tapi, kita bisa mengetahui ciri-cirinya dengan kunci khusus. Sebagai contoh, kita bisa mengetahuinya dengan melihat sejarah orang ini dalam masalah peribadatan. Satu hal yang menggambarkan tentang Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam adalah beliau akan menyembah hanya kepada satu Tuhan saja, Pencipta Tunggal dari dunia ini. Dan Nabi Muhammad cocok dengan ciri-ciri yang diberikan.”

“Ketika saya membaca mengenai hal itu, saya menjadi sangat tertarik. Saya tidak tahu apa-apa tentang Islam sebelumnya. Kemudian saya berusaha mengkajinya lebih dalam, dan mencari tahu apakah ada mukjizat dan tanda-tanda berkaitan dengan nabi itu.”

“Dalam Bibel dikatakan bahwa Tuhan memberikan mujizat kepada para nabi untuk menegaskan tugas khusus yang diberikan kepadanya di mata orang banyak

“Saya bertanya kepada para ulama tenang hal ini, mereka mengatakan, ‘Ini sekumpulan hadits shahih yang menggambarkan mukjizat-mukjizat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam. Kemudian saya membacanya dan menemukan bahwa beliau sering berkata, ada para nabi dan rasul yang pernah diutus sebelum dirinya.”

“Kita dapat menemukan nama-namanya dalam Bibel dan juga Taurat. Ketika saya mulai tertarik lebih dalam, hal itu kedegarannya seperti aneh bagi saya.”

“Akhirnya, apa yang saya lakukan membawa saya kepada keadaan sekarang ini. Kadang saya berpikir, mengapa saya lakukan ini semua? Mungkin saya harus bertaubat karena punya pikiran seperti itu.”

Kami bertanya kepadanya, setelah menjadi Muslim, apakah ia merasa punya tanggung jawab yang lebih terhadapnya, atau ada perasaan lain.

Musa menjawab, “Ya, ada rasa tanggung jawab. Tapi juga ada yang lain. Saya katakan dengan tegas, ketika seseorang menjadi Muslim, berarti ia menapakkan kedua kakinya ke tanah dengan kuat. Islam sangat membantu orang-orang. Saya tidak jujur jika mengatakan bahwa di Daghestan ini semua adalah Muslim yang sebenarnya.”

“Kadang kami berdiskusi mengenai hal itu di masjid. Saya katakan tidak banyak orang Islam yang benar-benar Muslim di Daghestan. Hanya para ustadz dan murid-muridnya. Selebihnya, kita ini hanya orang-orang yang ‘calon Muslim’. Saya tidak bisa mengatakan bahwa kita ini umumnya telah mengikuti apa yang diajarkan dalam sunnah nabi. Kita hanya berusaha mengikutinya. Dan kita masih banyak tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Sebaliknya, kita malah berusaha berkelit mencari alasan-alasan yang masuk akal.”

Kenyataan bahwa banyak orang Islam yang tidak memegang teguh dan menjalankan agamanya dengan benar, sempat membuat Musa bingung.

“Kita harusnya berusaha keras menjalankan kewajiban kita. Sulit bagi saya menyaksikan hal ini, kadang saya dibuyarkan oleh apa yang terjadi di sekitar. Saya berusaha mengatasinya, dan kelemahan saya terlihat jelas di sini. Bukan berarti saya putus asa. Tapi saya juga tidak berhak mengatakan bahwa saya sudah menjalankan Islam dengan sebenarnya.”

Ada hal yang ia tidak pernah pikirkan sebelum masuk Islam.

“Ketika saya memutuskan bahwa saya harus menjadi seorang Muslim, saya pikir Islam itu tidak ‘bercabang-cabang’, hanya satu jalan atau seperti sebuah samudera yang tidak terbelah. Tapi kemudian saya menemukan ada beberapa cabang pemikiran dalam Islam. Dan sejak itu mulai muncul beberapa pertanyaan. Cabang-cabang pemikiran itu seperti pusaran air [yang menarik orang masuk ke dalamnya] yang berputar, terus berputar dengan keras. Orang berkata kepada Anda, ‘Lihat, kami mengikuti hadits, hanya kami yang mengerti Qur’an dengan benar’. Lalu Anda mengikuti orang itu, karena Anda pikir orang itu berkata hal yang benar. Dan karena Anda ingin membuat Allah ridha.”

“Tapi beberapa bulan kemudian Anda akan tahu, bahwa semua klaim seperti itu adalah keliru. Allah yang menjadikan kita bisa berbuat baik. Tentu Anda akan berpikir, jika mereka mengaku menempuh jalan yang benar, maka mengapa mereka juga melakukan hal yang salah?”

Kemudian Musa bercerita tentang pengalamannya dijebloskan ke penjara.

“Allah berkehendak atas segala sesuatunya. Dan itu termasuk kehendak Allah.”

“Dari apa yang saya alami selama ini, hidup di balik jeruji besi, mengajarkan sesuatu kepada saya.”

“Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah acara di televisi yang menampilkan seorang wakil dari Republik Chechnya di Moskow. Saya lupa namanya, hanya ingat jika namanya itu bagus dan kedengaran seperti nama orang Perancis, seperti Binaud atau semacamnya. Ia mengatakan bahwa penguasa akan melakukan tindakan seperti sebelumnya, yaitu menyatroni rumah-rumah, menyusupkan obat terlarang dan senjata kepada orang-orang [sebagai jebakan]. Kemudian orang akan turun ke jalan melakukan protes. Hal seperti itu sering terjadi di sini.”

“Mereka juga menyusupkannya kepada saya. Kemudian pada malam harinya mereka mendatangi dan membawa saya pergi. Sebelumnya, saya menangkap ada semacam permainan hukum di sini. Saya tidak percaya mereka tega melakukan hal seperti itu. Itu bukanlah cara yang benar. Saya tidak boleh berkata kasar mengomentariya, karena Islam melarang hal itu. Yang pasti Allah Maha Mengetahui, dan orang-orang itu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya di akhirat nanti.”

“Tiga bulan di penjara, justru menebalkan iman saya.”

“Saya melihat bagaimana orang-orang bertahan dalam situasi yang sangat parah, baik itu Muslim maupun non Muslim. Seharusnya mereka yang memegang kekuasaan berpikir dengan baik. Bahwa mereka tidak perlu berusaha membasmi Islam dengan cara yang tidak baik.”

Kami bertanya, mungkin saja ia membuat takut penguasa.

Musa menjawab, “Tidak mungkin, bahkan anak kecil saja tidak takut kepada saya.”

Pembicaraan kami terputus ketika adzan yang sangat indah dikumandangkan.

“Apakah ada seorang muadzin di masjid ini?” kami bertanya karena penasaran.

“Ya, namanya Muamat Tarif. Yang barusan kita dengar adalah suaranya,” kata Musa.

“Apakah hanya Anda dan dia yang bekerja di masjid ini?” tanya kami lebih lanjut.

“Sebenarnya hanya dia yang bekerja di sini. Saya masih agak canggung setelah keluar dari penjara. Ia mengijinkan saya tinggal di sini. Agak sulit untuk menceritakannya. Ada sedikit masalah dengan orang-orang yang tinggal satu flat dengan saya. Sepertinya tidak ada saling memahami antara kami. Dan saya mulai melihat mereka agak berbeda,” cerita Musa.

Ingin rasanya mendengar cerita Musa lebih banyak lagi. Tapi tidak baik mencari-cari tahu tentang kehidupan seseorang lebih jauh.

Orang-orang mulai berdatangan ke masjid. Kami pun bangkit dan bergegas untuk bersama-sama menunaikan shalat. [di/msc dengan narasumber/hidayatullah]

khaira asyifa

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 951
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Wanita
  • bismillahi tawakkaltu 'alallah
    • Lihat Profil
    • http://www.chefsari.blogspot.com
Doa Untuk Sekerangjang TEMPE
« Jawab #38 pada: Juli 07, 2010, 08:31:33 am »
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk akan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe .

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.

Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe . Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar...merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ..."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ..." "Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" "Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"

Ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali berdoa, dan "memaksa" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.
Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa.
Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS. Al Baqarah 216)

Godelava

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 87
  • Reputasi: 2
  • Jenis kelamin: Wanita
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #39 pada: Juli 10, 2010, 02:23:14 pm »
terima kasih sudah berbagi  :(