Penulis Topik: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....  (Dibaca 130643 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #15 pada: Juni 03, 2008, 08:52:11 am »
KARET GELANG



Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada.

Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan. Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa.

Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.

Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi. Dia
hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Itu pun kadang-kadang salah. Kemampuan dia memang sangat terbatas.

Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi, membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati. Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba-tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.

Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan
merepotkan.

Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari.Bukan beratnya perbekalan. Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu. Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun. Lebih-lebih meremehkan diri sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah. Yang salah kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.

dina inawaty

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 182
  • Reputasi: 8
  • Indahnya Persahabatan karena Allah ^_^
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #16 pada: Agustus 06, 2008, 08:23:15 am »
: Kisah Nyata...Tujuh kali naik Haji  tidak bisa melihat Ka'bah             
 Assalamu'alaikum..Wr.Wb.

Kisah  Nyata...Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka'bah

Sebagai  seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan
nama  sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam  yang
kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu,  tentu senang dengan
ajakan
anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu  secara materi, mereka memang
berkewajiban menunaikan ibadah  Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu  anak-anak ini
akhirnya
berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya  sehat wal afiat, tak kurang
satu
apapun. Tiba harinya mereka  melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas
menyeru panggilan Allah,  Tuhan Semesta Alam. "Labaik allahuma labaik,
aku
datang memenuhi  seruanMu ya Allah".


Hasan menggandeng ibunya dan berbisik,  "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu,
lihatlah
Ka'bah)." Hasan menunjuk  kepada bangunan empat persegi berwarna hitam
itu.


Ibunya  yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam.  Perempuan
itu
sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh  anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat  raut wajah
ibunya.
Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya  sendiri tak mengerti mengapa
ia
tak bisa melihat apapun selain  kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap
matanya, tetapi kembali yang  tampak hanyalah kegelapan.


Padahal, tak ada masalah dengan  kesehatan matanya. Beberapa menit yang
lalu
ia masih melihat  segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil
Haram  segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang  sholeh
itu
bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon  ampunan-Nya. Hati Hasan
begitu sedih. Siapapun yang datang ke  Baitulah, mengharap rahmatNYA.
Terasa
hampa menjadi tamu Allah,  tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa
merasakan kuasa-Nya dan  juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah  dan taubatnya yang
sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan  anugrah-Nya, dengan
menatap
Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu  berniat akan kmebali membawa ibunya
berhaji tahun depan. Ternyata  nasib baik belum berpihak kepadanya.


Tahun berikutnya  kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan
di dekat  Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang  merupakan
symbol
persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa  melihat Ka'bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke  tanah suci tahun
berikutnya.


Anehnya, ibunya tetap saja  tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di
Masjidil Haram, yang  tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap.
Begitulah keganjilan yang  terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu
berulang
Sampai tujuh  kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak  mengerti, apa yang menyebabkan ibunya
menjadi buta di depan Ka'bah.  Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah,
penglihatannya selalu  normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya
kesalahan sehingga  mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah
diperbuat
ibunya,  sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan
berkecamuk  dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang
alim  ulama, yang dapat membantu permasalahannya.


Beberapa saat  kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal
Karena  kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).  Tanpa
kesulitan
berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang  dimaksud.


Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh  ini. Ulama itu
mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu  dari hasan mau
menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang.  Setibanya di tanah
kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi  ulama di Abu  Dhabi
tersebut. Beruntung, sang Ibu mau  memenuhi permintaan anaknya. Ia pun
mau
menelpon ulama itu, dan  menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya
di
tanah suci.  Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat
kembali,  mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di
masa  lalu,
sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk  bersikap
terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah  dilakukannya.

"Anda harus berterus terang kepada saya, karena  masalah Anda bukan
masalah sepele," kata ulama itu pada Sarah. Sarah  terdiam sejenak.
Kemudian ia
meminta waktu untuk memikirkannya.  Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama
itu tidak mendapat kabar dari  Sarah. Pada minggu kedua setelah
percakapan
pertama mereka,  akhirnya Sarah menelpon. "Ustad, waktu masih muda, saya
bekerja  sebagai perawat di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya.  "Oh,
bagus.....Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong  ulama itu.


"Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan  berbagai cara, tidak
peduli,
apakah cara saya itu halal atau  haram," ungkapnya terus terang. Ulama
itu
terperangah. Ia tidak  menyangka wanita itu akan berkata demikian.

"Disana...." sambung  Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak
semua ibu senang  dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang
menginginkan anak  laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan,
dengan imbalan  uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan  keinginan
mereka."

Ulama tersebut amat terkejut mendengar  penjelasan Sarah.
"Astagfirullah......" betapa tega wanita itu  menyakiti hati para ibu
yang
diberi amanah Allah untuk melahirkan  anak. bayangkan, betapa banyak
keluarga yang telah dirusaknya,  sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahwa  dalam Islam menjaga nasab atau keturunan
sangat  penting.


Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi  tidak jelas. Padahal,
nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan,  terutama dalam masalah
mahram
atau muhrim, yaitu orang-orang yang  tidak boleh dinikahi.


"Cuma itu yang saya lakukan," ucap  Sarah. "Cuma itu ?" tanya ulama
terperangah. "Tahukah anda bahwa  perbuatan Anda itu dosa yang luar
biasa,
betapa banyak keluarga  yang sudah Anda hancurkan !". ucap ulama dengan
nada  tinggi.

"Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?" tanya ulama itu lagi  sedikit kesal.
"Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan  orang mati."
"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama. "Ya,  tapi saya
memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang  sihir."
"Maksudnya ?". tanya ulama tidak mengerti. "Setiap saya  bermaksud
menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit,  segala perkakas
sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di  dalam tanah. Akan
tetapi
saya tidak menguburnya di dalam tanah,  melainkan saya masukkan
benda-benda itu
ke dalam mulut orang yang  mati."

"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti  biasa, saya
memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum,  benang dan
lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu  seperti
terpental, tidak
mau masuk, walaupun saya sudah menekannya  dalam-dalam. Benda-benda itu
selalu kembali keluar. Saya coba lagi  begitu seterusnya berulang-ulang.
Akhirnya, emosi saya memuncak, saya  masukkan benda itu dan saya jahit
mulutnya. Cuma itu dosa yang saya  lakukan." Mendengar penuturan Sarah
yang datar dan tanpa rasa dosa,  ulama itu berteriak marah.
"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya  Allah....!!! Saya tidak bisa
bantu
anda. Saya angkat  tangan".
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan  Sarah. Tidak
pernah
terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia,  apalagi ia adalah wanita,
yang memiliki nurani begitu tega, begitu  keji. Tidak pernah terjadi
dalam
hidupnya, ada wanita yang  melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama
itu berkata, "Anda  harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah
yang
bisa  mengampuni dosa Anda."

Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama,  sekitar tujuh hari kemudian
ulama
tidak mendengar kabar  selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu
dengan  menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat
atas  segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan  mengampuni
dosa
Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya.  Karena tak juga
memperoleh
kabar, ulama itu menghubungi keluarga  Hasan di mesir. Kebetulan yang
menerima telepon adalah Hasan sendiri.  Ulama menanyakan kabar Sarah,
ternyata kabar duka yang diterima ulama  itu.

"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar  Hasan.
Ulama
itu terkejut mendengar kabar tersebut. "Bagaimana  ibumu meninggal,
Hasan ?".
tanya ulama itu. Hasanpun akhirnya  bercerita :


Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian  ibunya jatuh sakit dan
meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah  peristiwa penguburan Sarah.
Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian  dimasukkan jenazah atas ijin
Allah,
tanah itu rapat kembali,  tertutup dan mengeras. Para penggali  mencari
lokasi
lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali.  Tanah yang sudah
digali
kembali menyempit dan tertutup rapat.  Peristiwa itu berlangsung begitu
cepat, sehingga tidak seorangpun  pengantar jenazah yang menyadari bahwa
tanah itu kembali rapat.  Peristiwa itu terjadi berulang-ulang.
Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu  merasa ngeri dan
merasakan
sesuatu yang aneh terjadi. Mereka  yakin, kejadian tersebut pastilah
berkaitan dengan perbuatan si  mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan  kecapaian karena
pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu,  petang menjelang,
bahkan
sampai hampir maghrib, tidak ada satupun  lubang yang berhasil digali.
Mereka
akhirnya pasrah, dan beranjak  pulang. Jenazah itu dibiarkan saja
tergeletak
di hamparan tanah  kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat  kepada ibunya, Hasan tidak
tega
meninggalkan jenazah orang tuanya  ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun
dibawa pulang, rasanya tidak  mungkin. Hasan termenung di tanah
perkuburan
seorang diri. Dengan  ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki
yang
berpakaian  hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir.  Lelaki
itu
tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya  yang menjorok
ke
depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian  berkata padanya," Biar aku
tangani jenazah ibumu, pulanglah!". kata  orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia  berharap laki-laki itu
akan
menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur  mau menggali lubang untuk
kemudian
mengebumikan ibunya. "Aku minta  supaya kau jangan menengok ke belekang,
sampai tiba di rumahmu,  "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk, kemudian ia
meninggalkan  pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi  pemakaman,
terbersit
keinginannya untuk mengetahui apa yang  terjadi dengan kenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke  belakang. Betapa pucat wajah Hasan,
melihat jenazah ibunya sudah  dililit api, kemudian api itu menyelimuti
seluruhtubuh ibunya. Belum  habis rasa herannya, sedetik kemudian dari
arah yang
berlawanan,  api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan  langkah
seribu,
ia pun bergegas meninggalkan tempat  itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga  mengaku,
bahwa
separuh wajahnya yang tertampar api itu kini  berbekas kehitaman karena
terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan  seksama semua cerita yang
diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar  Hasan segera beribadah dengan
khusyuk dan meminta ampun atas segala  perbuatan atau dosa-dosa yang
pernah
dilakukan oleh ibunya. Akan  tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada
Hasan, apa yang telah  diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan  Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon
ampun
dengan  sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin  Allah
akan
hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan  kembali mengabari
ulama
itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa  sakit dan panas luar biasa,
semakin
hari bekas kehitaman hilang.  Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya
selama hidup, Hasan tetap  mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun
perbuatan
dosa yang telah  dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

Semoga kisah  nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita
semua.
Uang  Rp 50.000 atau S$50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak
derma  masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45
menit  terasa
terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu itu  untuk
pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga  tetapi tidak
ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana  untuk memasukinya.

Rukhawa

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 19
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
  • La Tahzan
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #17 pada: Agustus 29, 2008, 03:46:30 pm »


 :((:((:((:(( Ya Allah, berikanlah kesabaran
« Edit Terakhir: September 04, 2008, 09:34:27 am oleh salendra_kms »

Khawarizmy

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 2
  • Reputasi: 0
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
    • Cerpen, Puisi, Sastra Religi
Menggapai Indahnya Ramadhan
« Jawab #18 pada: September 03, 2008, 11:20:48 pm »
Bumi bersinar biru menghiasi angkasa raya. Bulan memantulkan benderang sinar mentari, berseri. Namun, dari bawah sana, langit terlihat kelabu. Tanpa cahaya bulan, hanya bintang-bintang bersinar remang. Secercah cahaya merah terpancar rendah di ujung timur dunia. Menenggelamkan kumandang adzan shubuh yang semakin hilang. Bayu menghembuskan nafasnya. Menyeka tiap tetes keringat yang bercucuran di hati para insane yang pulang dari perjalanannya mengejar Lailatul Qadr.
Seluruh rumah lelap dalam kegelapan tanpa cahaya lampu. Kecuali rumah kecil di ujung gang.  Cahaya lampu kamar yang redup bersaing dengan lampu-lampu jalan yang berjajar sepanjang gang. Rumah dengandua kamar itu terselimuti kabut yang menggelantung rendah, seperti rumah-rumah lainnya. Kamar depan dijadikan warung oleh Ibu Martiyah, sang pemilik rumah, masih gelap gulita. Di pintunya tertempel kertas kecil bertuliskan “TUTUP”. Di kamar sebelah, Ibu Martiyah baru saja selesai mengerjakan shalat. Rambutnya yang kemerahan terlindungi romal putih yang membuat kulit wajahnya semakin gelap. Matanya sipit. Bibirnya pecah-pecah, kering. Benar-benar tidak menggambarkan usia sebenarnya yang baru menginjak tiga puluh tahun. Apalagi saat melihat kondisi badannya yang kurus. Tapi jangan salah, di dalam dirinya tersembunyi kekuatan yang membuatnya mampu pergi ke pasar –jalan kaki- setiap hari untuk membeli keperluan warung makannya yang tidak lagi ia buka sejak awal bulan Ramadhan. Dan dengan kekuatan itu pulalah, ia bertekad akan mudik ke tempat ibu mertuanya. Sekaligus memberitahukan kabar suaminya yang telah meninggal beberapa bulan lau, karena tidak ada biaya ia belum sempat mengabarkannya ke sanak keluarga suaminya di desa.
“Syid! Rasyid!” serunya datar, menggoyang-goyang badan Rasyid, anak pertamanya, lirih. Melihat anaknya yang masih tidur pulas, ia beralih memasukkan pakaian-pakaian ke dalam tas hitam yang tergeletak di pinggir satu-satunya tempat tidur di rumah itu.
Lemari pakaian di pojok kamar telah kosong, semua pakaian telah ia masukkan ke dalam tas. Bukan karena ia akan tinggal lama di kampung suaminya sehingga membawa semua pakaian yang ia punya. Namun, karena hanya ada beberapa potong pakaian yang ia punya.
“Rasyid! Rasyiiid!” serunya lagi.
Rasyid terbangun. Dengan wajah lusuh dan rambut yang amburadul, ia duduk di samping ibunya. Menyandarkan kepala ke tubuh ibunya. Matanya terpejam lagi.
Ibu Martiyah memeluk anaknya dengan penuh kehangatan. Anak yang selama ini –sejak suaminya meninggal- selalu membantunya berbelanja di pasar. Sampai-sampai kulit anaknya hitam menyerupai kulit tubuhnya. “Kita akan berangkat ke rumah simbah,” ucapnya lirih mengusap kepala Rasyid. “Sana! Cuci muka dulu.”
Dangan langkah gontai, Rasyid berjalan ke belakang. Tak lama berselang, ia kembali ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas pangkuan ibunya yang sedang berkemas-kemas. Di wajahnya masih tergambar rasa kantuk yang berat.
“Makan dulu. Itu sudah ibu siapkan,” jemarinya menunjuk kea rah meja makan di dekat pintu yang menghubungkannya ke kamar sebelah –warung. Di atas meja telah tertata sepiring nasi dengan sepotong tempe kedelai yang tiadk jadi ia makan saat sahur tadi. Ketika Rasyid makan, ia menggendong Zahra, anak perempuannya. Dengan sabar, ia mencoba menenangkan Zahra yang merasa tidak nyaman ia angkat dari tempat tidur.
Zahra berlindung dalam pelukan ibunya dari dingin fajar yang menyeruak dari celah-celah dinding kayu. Ia baru berumur satu setengah tahun, dua tahun lebih muda dari kakaknya, Rasyid. Rambutnya ikal dan tidak lebat, persis seperti rambut ayahnya, tertutup kerudung putih yang melekat indah di kepalanya.
Semua lampu telah dimatikan. Gelap menyelimuti seluruh pandangan. Jutaan angin berhembus menghantam sosok-sosok tubuh yang berdiri di depan pintu rumah Ibu Martiyah yang tidak lain adalah Ibu Martiyah sendiri bersama dua orang anaknya. Digenggam erat tangan Rasyid dengan tangannya. Sementara Zahra ia gendong dipundaknya. Di pundak yang lain tergantung tas hitam yang berisi pebekalan perjalanan panjang ini.
Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, Ibu Martiyah melangkahnya diikuti tapakan kaki Rasyid di sebelah. Tekadnya benar-benar sudah bulat. Sebulat purnama yang menyinari rumahnya beberapa hari lalu di pertengahan bulan. Ia berdiri sesaat di gang sempit tepat di depan rumahnya. Menatap rumah yang akan ia tinggalkan, sederhana. Lalu, dengan mantap kembali berjalan dalam balutan langit yang masih kelam, tapi sudah jelas untuk sekedar mengenali wajah tetangganya.
“Mudik, Bu?” Tanya seseorang. “Gasik pisan?”
“Iya.” Ibu Martiyah berhenti, “Biar tidak kemalaman.”
Rasyid di sini saja sama Pakde. Tidak usah ikut,” ujar satu orang lainnya.
Rasyid menggelengkan kepala. “Nggak, Rasyid ingin ketemu Mbah,” balas Rasyid sembari menarik tubuh ibunya.
“Titip rumah, Bu. Mari, Pak!” Ibu Martiyah melangkah penuh perasaan lega melihat tingkah Rasyid yang tidak sedikitpun keberatan dengan perjalanan yang akan mereka lalui.
“Ya, hati-hati di jalan,” tetangganya mengangguk.
Kabut yang menggantung rendah membuat tubuh mereka begitu cepat menghilang.
***
Ibu Martiyah terus berjalan. Tak sedetik pun ia melepas genggaman tangannya dari Rasyid. Serta tak pernah luput perhatiannya kepada Zahra yang ‘mengikuti’nya, tertidur lelap dalam gendongan.
Udara dingin semakin menghangat. Mentari telah menorehkan tinta-tinta gambaran kehidupan, menyengat. Kabut-kabut fajar berganti dengan kepul-kepul asap hitam yang pekat. Dalam perjalanan yang semakin berat, tangan kanan Ibu Martiyah memeluk erat Zahra yang mulai bergeliatan. Tangan kirinya lekat memegang Rasyid. tas hitam masih di pundaknya.
Kini, kaki Ibu Martiyah menapak di tepi jalan panjang. Kanan kirinya dipenuhi bangunan-bangunan bertingkat dengan pohon-pohon hijau dipelataran yang sesak oleh mobil-mobil mewah. Kendaraan yang berseliweran memantulkan cahaya mentari yang menyilaukan. Ia tertegun. Diam. Bukan karena bangunan-bangunan yang tinggi. Bukan karena pula mobil-mobil mewah. Ia berdiri mematung, saat matanya tepat memandang sepasang mata di hadapannya. Begitu dekat. Ditatapnya sepasang mata itu dengan penuh ketelitian. Bersinar. Berseri. Penuh dengan keberanian. Titik kecil di dalam mata itu memperlihatkan sebuah harapan besar. Sama seperti matanya. Ya, seperti matanya. Seperti yang pernah suaminya ucapkan di setiap waktu-waktu pacaran dulu. Masya Allah! Jerit hatinya. Memandang rambut hitam yang pendek terurai sepundak. Kemudian, ia beralih ke tangan yang memegang setumpuk kertas di depan dada. Dan tangan yang lain menenteng koper hitam yang terlihat membengkak penuh dengan berkas-berkas. Ia menatapnya seperti menatap bayangannya di cermin.
Sejurus kemudian ia terkesiap. “Maaf, Bu,” ucapnya lirih.
Wanita yang ada di hadapan Ibu Martiyah hanya diam. Mengambil satu langkah di sisi kiri Ibu Martiyah. Melangkah tanpa satu kata. Wanita itu melangkah begitu cepat. Terus memandangi kertas-kertas yang dipenggannya.
Mata Ibu Martiyah yang tak lepas mengikuti kepergian wanita itu. Memperhatikan bagaimana wanita itu dengan cepat berjalan sambil menunduk. Ibu Martiyah hampir menjerit spontan saat melihat wanita yang hampir ia tambrak tersandung bak sampah. Dengan cepat ia memalingkan wjahnya sebelum ketahuan oleh wanita itu, pura-pura tidak melihat. Tersemat tawa kecil di bibirnya yang kering. Kini, matanya menatap wanita lain di seberang jalan. Tidak seperti wanita yang pertama, wanita ini berjilbab dan lebih muda. Mengenakan celana panjang. Entah didorong perasaan apa, Ibu Martiyah tak mau melepaskan pandangan dari wanita muda berjilbab yang dengan tangkasnya menyeberang jalan. Bahkan, saking seriusnya memperhatikan wanita berejilbab, Ibu Martiyah mempercepat langkah kakinya secepat wanita itu berjalan. Sampai-sampai Rasyid tak mampu mengikutinya. Dan ia tersadar akan tingkahnya. Wanita itu hilang di balik pintu taksi yang berkaca hitam. Ia tidak bisa seleluasa itu.
Tapi ... Di mana suami-suami mereka? … Di mana anak-anak mereka? Mengapa tidak bersama? Siapa yang menjaga? Siapa yang mendidik? Siapa yang merawat? Siapa yang mencurahkan kasih sayang? Gerutu hati Ibu Martiyah masih dalam ketidak tahuan dorongan apa yang membuatnya seperti itu. Apa mereka tidak punya anak? Saying sekali. Ibu martiyah menatap lekat-lekat wajah kedua anaknya. Rasyid serta Zahra yang telah terjaga. Padahal, sungguh sebuah kebahagian yang tak terkira saat melihat anak-anakku bertingkah lucu dalam pengawasanku. Ia tersenyum. Memandangi wajah anak-anaknya. Tapi, kebahagiaan itu sesuatu yang relatif. Tiba-tiba hatinya mengatakan kata-kata yang ia sendiri tidak mengerti. Relatif. Apa itu relatif?
Ibu Martiyah mengencangkan genggaman dan dekapannya.
Puluhan jalan telah terlewati. Gedung-gedung berganti dengan sawah-sawah. Berganti menjadi tanah kosong yang lapang. Berganti lagi menjadi pemukiman-pemukiman. Dan terus berganti. Namun, tidak sedikitpun ia mengendorkan genggaman dan pelukannya, apalagi melepaskannya. Berkali-kali ia menatap wajah Rasyid  yang mulai mengkilap terlapisi keringat. Berkali-kali pula ia mengecup kening Zahra yang mulai merengek kepanasan dan kehausan. Air susunya sudah kering.
“Bu, lelah,” eluh Rasyid. matanya berbinar-binar pwnuh butiran air di setiap sudutnya. Sekonyong-konyong ia duduk di atas bak sampah di dekatnya. Disekanya gumpalan air yang terasa bagai butir pasir.
Ibu Martiyah manuruti kemuan Rasyid. ia pun sebenarnya sudah tidak kuat. Wajahnya sudah sangat pucat. Seharian ia belum makan, juga tidak sahur, walau sekedar sesuap nasi. Apalagi ia harus memberi ASI untuk Zahra. Tapi, ia tidak memperlihatkan rasa kecewa, lelah dan putus asa. Ia meletakkan tas hitam dari pundaknya yang sakit tak tertahan. Diambilnya botol minuman, ia berikan kepada Rasyid. ia masih bertekad meneruskan puasanya. Dikibas-kibaskan ujung selendang untuk menghilangkan panas dan tenggorokn yang kering.
Zahra masih terus merengek. Bahkan lebih keras.
Ibu Martiyah merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Ia ingin secepatnya melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Tapi, keinginannya membentur wajah Rasyid yang sangat kelelahan. Ditatapnya wajah anak laki-lakinya, tak ada lagi keceriaan seperti tadi pagi.
Rasyid terduduk. Diam. Matanya menatap ujung jalan. Perlahan ia beralih ke ujung lainnya. Ingatannya mencoba membuka kembali masa silam saat ia dan ibunya melakukan perjalanan ini bersama ayahnya. Bertiga mengendarai sepeda motor. Tapi, sepeda motor itu kini tel;ah dijual. Ibunya tidak mampu memperbaiki sepeda motor yang rusak dalm kecelakaan yang juga merenggut nyawa ayahnya.
“Rasyid! Ayo, jalan!” seru Ibu Martiyah. Meletakkan tas hitamnya ke pundak. Didapatinya Rasyid masih terdiam. Setetes air mata mengalir di pipinya yang hitam penuh keringat. Segara ia menyapunya sebelum terlihat oleh Rasyid.
Tanpa melirik sedikitpun ke arah ibunya, Rasyid membiarkan tangannya di genggam. Tangan yang lain memainkan botol minuman yang hampir habis. Langkahnya terlihat berat. Lelah. Kesal. Tapi, tidak mungkin untuk melawan.
Sinar mentari semakin melemahkan langkah kaki. Telapak terasa sakit tercabik-cabik. Ibu martiyah terus berusaha mendiamkan Zahra yang terus menangis. Dan menenangkan Rasyid yang terus-terusan berseru, “Bu, lapar! Lapar, Bu!” Nafas terengah-engah. Suara melemah, serak. Tak mungkin meminta Allah untuk merubah qadrat.
“Bu, lapar!” seru Rasyid untuk kesekian kalinya. Dengan nada datar.
Ibu Martiyah memandang wajah Rasyid yang tampak pucat. Tak kalah pucat dengan wajahnya yang tak dapat ia lihat. “Iya. Nanti kalau ada warung makan,” jawabnya. “Sekarang kita ke masjid dulu, sebentar lagi dhuhur.”
***
Sucinya udara Ramadhan mengalunkan gaung adzan kembali memasuki masjid. Mentari yang mulai condong tak mengendorkan sengatannya. Merangsek dalam menembus kulit-kulit tenggorokan. Haus. Kering. Lemas.
Ibu Martiyah merasakan reasapan air wudhu di dalam kulitnya. Sejuk. Meleburkan setiap butir-butir kotoran di pembuluh darah. Mengalir ke satu titik di dadanya. Membangkitkan ketenangan sekaligus kerinduan yang mampu menghanyutkannya ke dalam kekhusyu’an yang tuma’ninah. Membangkitkan rasa hina sekaligus percaya dalam setiap rayuan do’a.
Rasyid dan Zahra berlarian di serambi masjid. Berebut borol air minum yang telah kosong. Setiap kali Zahra merengek, Rasyid mendekatkan botol air minum yang dipegangnya. Dan setiap kali adiknya hampir menjangkaunya, dengan cepat ia menjauhkan kembali botol itu. Wajah mereka bersinar di bawah atap masjid yang megah. Terlindung dari cahaya mentari yang membahana.
Rasyid menghampiri Ibu Martiyah yang telah berdiri di depan pintu beberapa saat lamanya. Bersembunyi di balik tubuh ibunya. Tergurat senyum di wajah hitam wanita yang telah menginjak tiga puluh tahun itu. Zahra menyusul dari belakang dengan larinya yang belum sempurna. Jatuh di pelukan ibunya.
Ketiganya duduk berdampingan bersandar ke dinding. Sekedar merenggangkan otot-otot yang tegang. Melepas keletihan. Tak jauh dari tas hitam yang sejak pagi “membuntuti” mereka. Ibu Martiyah menatap lekat setiap sudut pelataran masjid. Penuh dengan atribut. Bendera. Spanduk berisi slogan-slogan dan tulisan-tulisan. Di antaranya “Tutup Tempat-Tempat Maksiat”, “Segel tempat Hiburan Malam”. Satu per satu atribut itu mulai diambil. Di bawa ke dekat kumpulan orang-orang yang berkerumun di halaman masjid. Semakin lama warna putih semakin membanjiri halaman masjid. Ternyata tidak hanya laki-laki. Ibu Martiyah mendapati beberapa perempuan ikut dalam kerumunan itu dalam barisan tersendiri. Perempuan! Ibu Martiyah berusaha meyakinkan hatinya melihat cadar-cadar yang menutup setiap wajah perempuan di sana. Alhamdulillah, puji hatinya. Ternyata tidak hanya aku yang merasakan kesusahan ini. Ya, mereka tentunya tidak kalah haus, lelah dan letih seperti yang aku rasakan. Aku berjanji akan mempertahankan puasaku inn. Aku tidak akan mengkhianati kalian, seru hatinya. Wahai saudaraku!
“Ayo! Kita lanjutkan perjalanan,” ujar Ibu Martiyah penuh semangat. Seakan-akan mendapat tambahan tenaga.
“Ok!” ujar Rasyid. Ia langsung berjingkak. Mengangkat kedua tangannya.
Ibu Martiyah tesenyum. Diulurkan kedua tangannya ke arah Zahra, “Zahra!” serunya.
Dengan senyumnya ia segera berlari ke arah ibunya. Sempoyongan.
Ibu Martiyah dengan kedua anaknya berjalan di sisi kerumunan yang terkonsentrasi di halaman masjid. Ia semakin yakin bahwa sebagian dari mereka adalah perempuan. Ya, hampir setengahnya. Ia melempar senyum ke arah mereka sebagai penyemangat dan dukungan kepada saudara-saudaranya. Entah apa yang mereka tangkap, Ibu Martiyah tetap tersenyum ke arah mereka. Mereka seakan-akan tidak melihat kehadirannya. Diam. Tak memandang. Tapi, Ibu martiyah tetap tidak ambil pusing. Senyuman itu pun sangat berarti bagi dirinya. Yah, pembangkit semangat dalam menjaga warisan suaminya, kedua anaknya.
Baru saja sampai di tepi jalan di depan masjid, Zahra merengek kepanasan. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengibaskan ujung selndang di dekat kepala Zahra yang berkerundung kecil putih. Kakai Ibu Martiyah seperti tidak kenal lelah. Ia terus berjalan sembari tidak melepaskan perhatian dari anak-anaknya sedikitpun.
***
   “Bu!” seru Rasyid. Menepuk perutnya yang semakin merasakan lapar. “Katanya ke warung makan.” Rasyid mengarahkan tangannya ke deretan warung-warung di tepi jalan.
   “Ayo!” seru Ibu Martiyah. Tak tega membiarkan anaknya dalam kelaparan. Berjalan ke arah yang ditunjuk Rasyid. Ia memasuki warung makan. Puluhan pasang mata serentak menatap sinis ke arahnya. Tatapan yang membuatnya merasa dipojokkan. Ia tidak menyangka akan ada orang sebanyak itu. Kenapa mereka menatapku –seperti itu? Apakah karena aku berjilbaj?! Sehingga tidak pantas berada di sini –di bulan Ramadhan Ataukah ... Ya, mereka menatapku hanya karena simpati mendengar Zahra yang menangis keras. Ujar hatinya meyakinkan dirinya. Tapi, masih saja tidak nyaman. Mengapa mereka hanya menatap? Bukankah lebih baik jika mereka berucap? Rasa malu dan gugup di hatinya mengantarkan kaki duduk secepat mungkin di kursi terdekat. Meja paling dekat dengan pintu. Paling dekat dengan dinding sekaligus dengan jendela. Tak henti-hentinya ia berusaha menenangkan Zahra, tapi tidak mungkin karena air susunya telah kering. Aku harus makan, tapi aku telah berjanji. Ini untuk anakku… Pikirannya mulai berkecamuk.
Pelayan datang. Membawa kertas dan alat tulis.
Ibu Martiyah menatap mata pelayan itu. Didapatinya tatapan yang sama seperti tatapan orang-orang di sana. Beralih ke wajah Rasyid yang duduk di depannya. Setelah mendapat isyarat dari ibunya, Rasyid memesan makanan yang ia inginkan. Kini, pelayan itu manatapnya lagi. Masih dengan tatapan yang sama. Ya Allah! Bukannya aku ingin mempermainkan ibadah ini, ucap hatinya datar. Memesan makanan.
Ibu Martiyah menatap keluar di sela-sela pintu yang terbuka. Sambil terus mengayun-ayunkan tangan menenagkan Zahra yang menangis tersedu-sedu. Kendaraan berlalu lalang dalam kebisingan. Gedung-gedung dan pertokoan berdiri kokoh di seberang jalan. Setiap kali ia menatap sudut-sudut ruangan itu, didapatinya tatapan seperti saat pertama ia datang. Secepat kilat ia memalingkan wajahnya ke luar. Dan yang didapatinya hanya gedung dan pertokoan.
Pelayan yang ama kembali. Ibu Martiyah tak mampu lagi menatap wajahnya. Tak ingin mendapati tatapan yang membuatnya merasa dipersalahkan. Pelayan meletakkan dua piring nasi di atas meja lengkap dengan lauknya serta dua gelas minuman. Tanpa pikir panjang, Rasyid menyambar makanan yang dihidangkan. Ibu Martiyah menggeleng dengan melempar senyum kecil ke arah Rasyid. “Baca do’a dulu,” ucapnya.
Seketika Rasyid berhenti mengunyah. Dengan mulut penuh makanan ia menengadahkan tangan.
Melihat tingkah anaknya, Ibu Martiyah tersenyum. Ia tidak juga memakan makanannya. Ia menyuapi Zahra dengan beberapa nasi, tapi Zahra membuangnya kembali. Pikirannya bertambah semrawut. Ia berikan minuman, tapi tetap tidak mau. Malah, Zahra menangis lebih keras. Ia butuh air susu, bisik hatinya. Aku harus makan, tapi …Ingatannya kembail ke masjid tampat ia melihat kerumunan orang-orang serba putih.
Wahai Saudaraku! Maaf, bukannya aku ingin mengkhianati kalian. Apalagi mengingkari janji. Tapi, ini demi anakku.
Baru saja ia mendekatkan sendok ke mulutnya, terdengar jeritan dari luar. Berbaur dengan teriakan-teriakan dan tangisan. Ia urungkan niat untuk makan. Matanya mengikuti pelayan yang melangkah menuju pintu.
“Preman ngamuk! Preman ngamuk!!”
Suara gemuruh semakin dekat. Semakin jelas diselingi bunyi benturan benda-benda keras. Tiba-tiba dengan naluri laki-lakinya, Rasyid berlari mengikuti pelayan ke depan pintu. Jeritan, teriakan, tangisan dan benturan semakin keras. Semakin dekat.,
“Ada ninja! NINJAAA!” seru Rasyid keras sesaat setelah ia dapat menyaksikan dengan jelasn puluhan orang dengan penutup kepala terlihat beringas tak jauh darinya. Hanya terpisah beberapa kios saja. Ia segera berlari ke arah ibunya.
“RASYID!!” seru Ibu Martiyah menatap Rasyid yang terlihat begitu ketakutan.
Dan… sejurus kemudian. BRAKK!! Daun pintu melayang. Menimpa Rasyid yang mencoba berlari. Rasyid menjerit, tapi langsung hilang ditelan suara berisik.
Ibu martiyah menjerit tak kalah kerasnya. Terperanjak. Ia hampir melangkah ingin menyelamatkan Rasyid. Tapi, puluhan orang-orang berbaju putih sekonyong-konyong masuk menginjak-injak daun pintu yang menimpa anaknya. Ia menutup mulutnya yang ingin menjerit. Ia hanya dapat menagis. Takut. Sedih. Ia segera menggendong Zahra merapat ke tembok. Dipalingkannya wajah Zahra ke pundaknya. Tak dibiarkan anaknya melihat peristiwa seperti itu.

Kutip
Karena terlalu panjang, selengkapnya cerpen tersebut dapat dibaca di www.wafiq.net.tf
« Edit Terakhir: September 03, 2008, 11:22:19 pm oleh Khawarizmy »

MuThia

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 1
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #19 pada: September 07, 2008, 02:13:21 pm »
CINTA SEORANG IBU


Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.

Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang . Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan:

'Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.'

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk
diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan, 'Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya.'

Dengan tertatih-tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani hukuman.. Dengan hati hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena
kelelahan. Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinan tika n akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.

Tahukah apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan, menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahat si anak, ibu akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya.



Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #20 pada: Oktober 07, 2008, 04:00:55 pm »
Nikmatilah Kopinya, Bukan Cangkirnya


Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah tua.
Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stress di pekerjaan dan kehidupan mereka.

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah - dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan : "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja.
Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."

"Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain."

Sekarang perhatikan hal ini :

Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah
cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis
cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi.
Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya.
Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya.

Sadarilah jika kehidupan anda itu lebih penting dibanding pekerjaan anda.
Jika pekerjaan anda membatasi diri anda dan mengendalikan hidup anda, anda
menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan.
Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri anda sebagai manusia.
Pastikan anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan anda.

dedysagita

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 39
  • Reputasi: 3
  • Dari hamba-NYA yang HINA !
    • Lihat Profil
KISAH NYATA: Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Alloh
« Jawab #21 pada: Oktober 14, 2008, 07:45:42 am »
Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Alloh

Awalnya, aku bertemu dengannya di sebuah acara yang diselenggarakan di rumahku sendiri. Gadis itu sangat berbeda dengan cewek-cewek lain yang sibuk berbicara dengan laki-laki dan berpasang-pasangan. Sedangkan dia dengan pakaian muslimah rapi yang dikenakannya membantu mamaku menyiapkan hidangan dan segala kebutuhan dalam acara tersebut. Sesekali gadis itu bermain di taman bersama anak-anak kecil yang lucu, kulihat betapa lembutnya dia dengan senyuman manis kepada anak-anak.

Dari sikapnya itu aku tertarik untuk mengenalnya. Akhirnya dengan pede-nya keberanikan diri untuk mendekatinya dan hendak berkenalan dengannya. Namun, kenyataannya dia menolak bersalaman dengannku, dan Cuma mengatakan, “Maaf...” dan berlalu begitu saja meninggalkanku.

Betapa malunya aku terhadap teman-teman yang berada di sekitarku. “Ini cewek kok jual mahal banget !” Padahal begitu banyak cewek yang justru berlomba-lomba mau jadi pacarku. Dia, mau kenalan saja tidak mau !” ujarku.

Dari kejadian itu aku menjadi penasaran dengan gadis tersebut. Lalu aku mencari tahu tentangnya. Ternyata dia adalah anak tunggal sahabat rekan bisnis papa. Setiap ada acara pertemuan di rumah gadis itu, akku selalu ikut bersama papa.

Gadis itu bernama Nina, kuliah di Fakultas Kedokteran dan dia anak yang tidak suka berpesta, berfoya-foya, dan keluyuran seperti cewek kebanyakan di kalangan kami. Aku pun jarang melihatnya jika aku pergi ke rumahnya; dengan berbagai alasan yang kudengar dari pembantunya: sakitlah, lagi mengerjakan tugas, atau kecapaian. Pokoknya, dia tidak pernah mau keluar.

Hingga suatu hari aku dan papa sedang bertamu ke rumahnya. Pada saat itu, Nina baru saja pulang dengan busana muslimahnya yang rapi, terlihat turun dari mobil. Namun belum jauh melangkah dia pun terjatuh pingsan dan mukanya terlihat sangat pucat. Kami yang berada di ruang tamu bergegas keluar dan papanya pun menggendong ke kamar serta meminta tolong kami untuk menghubungi dokter. Dari hasil pemeriksaan dokter, Nina harus dirawat di rumah sakit.

Keesokan harinya, aku datang ke rumah sakit bermaksud untuk menjenguknya. Betapa kagetnya aku ketika kutahu Nina terkena leukimia (kanker darah). Aku bertanya, “Kenapa gadis selembut dan sesopan dia harus mengalami hal itu ?”

Perasaan kesalkku padanya kini berubah menjadi kasihan dan khawatir. Setiap usai kuliah, kusempatkan untuk datang menjenguknya. Aku mendapatinya sering menangis sendirian. Entah itu karena tidak ada yang menjaganya atau karena penyakit yang diderita.

Beberapa hari di rumah sakit, Nina memintaku keluar setiap kali aku masuk. Aku pun mendatanginya di rumah, tapi dia tidak perah mau kelauar menemuiku dan hanya mengrung diri di dalam kamar. Aku tidak menyerah begitu saja, kucoba menelpon Nina dan berharap dia mau bicara denganku. Namun, dia tetap tidak mau mengangkat telpon dariku, lalu kukirimkan SMS padanya agar dia mau menjadi pacarku, tetapi tidak ada balasan malah HP-nya dinonaktifkan semalaman.

Keesokan harinya aku nekat datang ke rumahnya untuk meminta maaf atas kelancanganku. Ternyata ia akan berangkat ke Makasar, ke kampung orang tuanya. Karena orang tuanya tak dapat mengantarnya, aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Nina lebih memilih naik taksi dengan alasan tidak mau merepotkan orang lain. Sebelum naik ke mobil, dia menitipkan kertas untukku kepada mamanya.

Alangkah hancur hatiku ketika membaca sebait kalimat yang berbunyi, “Maaf saat ini aku hanya ingin berkonsentrasi kuliah.” Hatiku remuk dan aku pulang dengan perasaan kesal sekali. Ini pertama kalinya aku ingin pacaran, tapi ditolak. Sebenarnya, aku tidak begitu suka dengan hubungan seperti pacaran itu karena begitu banyak dampak negatifnya, sampai ada yang rela bunuh diri karena ditinggalkan kekasihnya –na’udzubillahi min dzalik.

Namun entah mengapa ketika aku melihat Nina hatiku pun tergoda untuk menjalin hubungan itu.

Sejak perpisahan itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai gelar sarjana aku raih. Lalu aku pun bekerja di perusahaan milik keluargaku sebagai satu-satunya ahli waris. Melihat ketekunanku dalam bekerja, papa Nina ,menyukaiku hingga hubungan kami menjadi akrab dan kuutarakanlah maksudku bahwa akku menyukai Nina, anaknya, dan ternyata papa Nina setuju untuk menjadikanku sebagai menantunya.

24 Oktober 2006, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri, aku dan orang tuaku bersilaturahmi ke rumah keluarga Nina dengan maksud untuk membicarakan perjodohan antara aku dan Nina. Tapi pada saat itu Nina baru dirawat di rumah sakit sejak bulan Ramadhan. Saat kutemui, Nina terlihat sangat pucat, lemah, dan senyumannya seakan menghilang dari bibirnya. Hari itu orang tua kami resmi menjodohkan kami. Bahkan aku diminta untuk menjaganya karena orang tuanya akan berangkat ke luar negeri. Tetapi Nina tidak pernah mau meladeniku.

Suatu hari aku mendapati Nina terlihat kesakitan, terlihat darah keluar dari hidung dan mulutnya. Aku bermaksud utuk membantu mengusap darah dan keringat yang ada di wajahnya, tetapi secara spontan  dia menamparku pada saat aku menyentuh wajahnya. Betapa kaget diriku dibuatnya, aku tidak menyangka sama sekali Nina akan manamparku. Sungguh betapa istiqomahnya dia dalam menjaga kehormatan untuk tidak disentuh laki-laki yang bukan muhrimnya.

Saat itu aku belum mengetahui tentang masalah ini dalam agama.
Kejadian tersebut secara tak sengaja terlihat mama Nina maka Nina pun dimarahi habis-habisan hingga sebuah tamparan mendarat di pipinya. Kulihat Nina segera melepas infusnya dan berlari menuju kamar mandi. Nina pun mengurung diri di kamar mandi tersebut. Dengan terpaksa kami mendobrak pintu kamar mandi dan kami dapati Nina tergeletak di lantai tak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang keluar.


***


Setelah sadar, aku berusaha bicara dan meminta maaf kepadanya atas kejadian tadi, namun
Nina terus-terusan menangis. Aku pun bertambah bingung apa yang mesti aku lakukan untuk menenangkannya. Tanpa pikir panjang aku memeluknya, tapi Nina malah mendorongku dengan keras dan berlari keluar dari kamar menuju taman. Ketika kudekati Nina berteriak hingga menjadikan orang-orang memukulku karena menyangka aku mengganggu Nina. Karena itulah, Nina semalaman tidur di taman dan aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Setelah waktu subuh menjelang kulihat Nina beranjak untuk melaksanakan shalat shubuh di masjid, aku pun turut shalat.

Namun setelah shalat, tiba-tiba Nina menghilang entah kemana. Aku mencarinya berkeliling rumah sakit tersebut. Dan lama berselang kulihat banyak kerumunan orang dan ternyata Nina sudah tak sadarkan diri tergeletak dengan HP berada di sampingnya, sepertinya dia barusan telah berbicara dengan seseorang. Keadaan Nina saat itu sangat kritis sehingga pernafasannya harus dibantu dengan oksigen. Kata dokter, paru-paru Nina basah yang mungkin diakibatkan semalaman tidur di taman.

Nina tak kunjung juga sadar. Dengan perasaan khawatir dan bingung aku berdoa dengan menatap wajahnya yang pucat pasi...

Tiba-tiba ada sebuah SMS yang masuk ke HP Nina, tanpa sadar aku pun membaca dan membalas SMS tersebut. Akku juga membuka beberapa SMS yang masuk ke HP-nya dan aku sangat terharu dengan isinya, tenyata banyak sekali orang yang menyayanginya. Di antaranya adalah orang yang bernama Ukhti. Dulu sebelum aku mengetahui Ukhti adalah panggilan untuk saudari perempuan, aku sempat cemburu dibuatnya. Aku mengira Ukhti itu adalah pacar Nina yang menjadi alasan dia menolakku.

Setelah Nina tersadar dari pingsannya, aku menunjukkan SMS yang dikirimkan saudari-saudarinya dan dia sangat marah ketika tahu aku sudah membaca dan membalas SMS dari saudari-saudarinya. Dia pun akhirnya melarangku untuk memegang HP-nya apalagi mengangkat atau menghubungi saudari-saudarinya.

Namun, tetap saja aku sering ber-SMS-an dengan saudari-saudarinya untuk mengetahui kenapa sikap Nina begini dan begitu. Dari sinilah aku mendapat sebuah jawaban bahwa Nina tidak mau bersentuhan apalagi berduaan denganku karena aku bukan mahramnya dan Nina menolak untuk berpacaran serta bertunangan denganku karena di dalam Islam tidak ada hal-hal sepeti itu dan hal itu merupakan kebiasaan orang-orang non Muslim.

Aku tahu juga Nina mencari seorang ikhwan yang mencintai karena Alloh bukan ats dasar hawa nafsu. Akhirnya aku tahu akan sikap Nina selama ini semata-mata dia hanya ingin menjalankan syariat Islam secara benar.

Hari berlalu dan aku terus belajar sedikit demi sedikit tentang Islam dari Nina dan saudari-saudarinya, terutama dalam melaksanakan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Saat itu aku merasakan ketenangan dan ketentraman selama menjalankannya dan menimbulkan perasaan rindu kepada Alloh untuk senantiasa beribadah kepada-Nya. Niatku pun muncul untuk segera menikahi Nina agar tidak terjadi fitnah, namun kondisi Nina semakin memburuk. Dia selalu mengigau memanggil saudari-saudarinya yang dicintainya karena Alloh.....

Melihat hal itu, aku membawanya ke kot Makassar, kampung mama kandung Nina untuk mempertannya dengan saudari-saudarinya, Qadarulloh (atas kehendak Alloh), aku tidak berhasil mempertemukan mereka. Ng ada kondisi Nina semakin parah dan penyakitku juga tiba-tiba kambuh sehingga aku pun harus dirawat di rumah sakit.

Orang tua Nina datang dan membawanya kembali ke kota Makassar tanpa sepengetahuanku karena pada saat itu aku juga diopname. Di kota Makassar, Nina diawasi dengan ketat oleh papanya, karena papa Nina kurang suka dengan akhwat, apalagi yang bercadar.


Rumah sakit dan rumah yang ditmpati Nina dirahasiakan. Dan Nina pun tak tahu di manakah ia berada. Karena kondisinya masih lemah, akupun tak bisa berbuat apa-apa, bahkan ia kadang dibius, apalagi ketka akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat yan g satunya agar tidak tahu di mana keberadaaannya, karena papanya tidak ingin ada akhwat yang menjenguk Nina. Sampai-sampai HP-nya pun diambil dari Nina. Namun, karena Nina masih mempuny HP yang ia sembunyikan dari papanya, sehingga beberapa kali Nina berusaha kabur untuk menemui saudari-saudarinya, akhirnya Nina dikurung di dalam kamar.

Mendengar hal itu, aku langsung menyusul Nina ke Makassar dan aku sempat bicara dengannya dari balik pintu. Nina menyuruhku untuk menemui seorang ustadz di sebuah masjid di kota itu. Dari pertemuanku dengan ustadz tersebut ku pun diajak ta’lim beberapa hari dan aku menginap di sana.

Papa Nina menyangka Nina telah mengusirku sehingga ia pun dimarahi. Setibanya di rumah, aku jelaskan duduk perkaranya kepada papa Nina, bahwa ia tidak bersalah dan aku mengatakan agar pernikahan kami dipercepat.

Hari Kamis, 24 November 2006. Kami melangsungkan pernikahan dengan sagat sederhana. Acara tersebut Cuma dihadiri oleh orangtua kami beserta dua orang rekanan papa. Setelah akad nikah aku langsung mengantar ustadz sekalian shalat dhuhur. Betapa senangnya hatiku, akkhirnya aku bisa merasakan cinta yang tulus karena Alloh. Semoga kami bisa membentuk keluarga sakinah mawaddah, wa rahmah dan senantiasa dalam ketaatan kepada Alloh.....
Itulah doaku saat itu.

Sepulang dari mengantar ustadz, perasaan bahagia itu seakan buyar mendapati Nina yang baru saja menjadi istriku tergeletak di lantai, dari hidung dan mulutnya kembali berlumuran darah. Dan tangannya terlihat ada goresan.

Kami langsung membawanya ke rumah sakit, di peralanan, kondisi Nina terlihat sangat lemah. Terdengar suaranya memanggilku dan berkata agar akku harus tetap di jalan yang diridhai-Nya sambil memegang erat tanganku dengan tulus, air mataku tak tertahankan melihat keadaan Nina yang terus berdzikir sambil menangis.....Dia juga selalu menanyakan saudari-saudarinya di mana ?

Setibanya di rumah sakit, aku bertanya-tanya kenapa tangan Nina tergores. Aku pun menulis SMS kepada saudari-saudari Nina. Ternyata, tangan Nina tergores ketika hendak menemui saudari-saudainya dengan keluar dari kamar. Karena pintu kamar terkunci, Nina ingin keluar melalui jendela sehingga menyebabkan tangannya tergores.

Nina tak kunjung sadar hingga larut malam, akku pun tertidur dan tidak menyadari kalau Nina bangkit dari tempat tidurnya. Dia ingin sekali menemui saudari-saudarinya dan dia tidak menyadari kalau hari telah larut malam. Dia Cuma berkata, “Pengin ketemu saudariku karena sudah tak ada waktu lagi.” Berhubung Nina masih lemah, dia pun jatuh pingsan setelah beberapa saat melangkah.

Aku benar-benar kaget dan bingung mau memanggil dokter tapi tidak ada yang menemani Nina. Akhirnya, aku menghubungi salah seorang saudarinya untuk menemani.
Setelah aku dan dokter tiba, Nina sudah tidak bernafas dan bergerak lagi. Pertahananku runtuh dan hancurlah harapanku melihat Nina tidak lagi berdaya....

Dokter menyuruhku keluar. Pada saat itu kukira Nina telah tiada, makanya aku segera menulis SMS kepada saudari Nina untuk memberitahu bahw Nina telah tiada. Namun begitu dokter keluar, masya Alloh ! Denyut jantung Nina kembali berdetak dan ia dinyatakan koma. Aku hendak memberi kabar kepada saudari Nina tapi baterai HP-ku habis dan tiba-tiba penyakitku pun kambuh lagi sehingga aku harus diinfus juga.....

Jam 11.30, perasaanku mengatakan Nina memangilku, maka aku segera bangkit dari tempat tidur dan melepas infus dari tanganku menuju kamar Nina. Kutatap wajah Nina bersamaan dengan kumandang adzan shalat Jum’at. Sembari menjawab adzan, aku terus menatap wajah Nina berharap dia akan membuka matanya.

Begitu lafadz laa ilaaha illallah, suara mesin pendeteksi jantung berbunyi, menandakan bahwa Nina telah tiada. Aku berteriak memanggil dokter, tapi qadarulloh istriku sayang telah pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini. Nina langsung dimandikan dan sishalatkan selepas shalat Jum’at, lalu diterbangkan ke rumah papanya di Malaysia. Untuk terakhir kalinya kubuka kain putih yang menutupi wajah Nina. Wajahnya terlihat berseri.....

Aku harus merelakan semua ini, aku harus kuat dan menerima takdir-Nya.
Teringat kata-kata Nina, “Berdoalah jika memang Alloh memangilku lebih awal dengan doa, “Ya Alloh, berilah kesabaran dan pahala dari musibah yang menimpaku dan berilah ganti yang lebih baik.”

Setelah pemakaman, aku langsung balik ke Jakarta karena kondisiku yang kurang stabil...Astaghfirullah !!! aku lupa memberitahu saudari-saudari Nina. Mungkin karena aku terlalu larut dalam kesedihan, hingga secara spontanitas aku menghubungi mereka dan menyampaikan bahwa Nina benar-benar talah tiada. Aku tahu pasti, mereka pasti sedih dengan kepergian saudari mereka yang mereka cintai karena Alloh. Dari ketiga saudari Nina, ada seorang yangtidak percaya da nsepertinya dia sangat membenciku. Entah, mengapa sikapnya seperti itu ?

Sekirnaya mereka tahu, bahwa sebelum kepergiannya, Nina selalu memanggil nama mereka, tentulah mereka semakin sedih.
Dalam HP Nina terlihat banyak SMS yang menunjukkan betapa indahnya ukhuwah dengan saudari-saudarinya. Semoga saudari-saudari Nina memaafkan kesalahannya dan kesalahan diriku pribadi.

“Salam sayang dari Nina tu kakak Rini, Sakinah, dan Aisyah serta akhwat di Makassar. Teruslah berjuang menegakkan dakwah ilallah. Syukran atas perhatian kalian....”


**********************************************************************

Tak beberapa lama setelah kisah ini dimuat di Media Muslim Muda Elfata, redaksi Elfata menerima SMSdari seorang ukhti, saudari Nina. Isi SMS tersebut adalah,

“Afwan , mungkin perlu Elfata sampaikan kepada pembaca mengeani kisah ‘Akhirnya Cintaku Berlabuh karena Alloh’ di mana Kak Nina telah meninggal dan kini Kak Adhit pun telah tiada. Kurang lebih 2 pekan (Kak Adhit –red) dirawat di rumah sakit karena penyakit pada paru-parunya. Sebelum sempat dioperasi, maut telah menjemputnya. Ana menyampaikan hal ini karena masih banyak yang mengirim salam, memberi dukungan ke Kak Adhit yang kubaca di Elfata dan beberapa orang yang kutemui di jalan juga selalu bertanya, Kak Adhit bagaimana ? Ana salah satu ukhti dalam cerita tersebut...Syukran."               


PERCIK RENUNGAN
Subhanalloh ! Kisah Adhit dan Nina di atas dapat kita jadikan sebuah cermin untuk berkaca. Renungkanlah keteguhan Nina untuk tak meladeni tawaran cinta asmara yang tak terselimuti indahnya syariat. Padahal Nina adalah seorang yang sedang membutuhkan dukungan, pertolongan, dan sandaran bahu tempat menangis.

Nina berprinsip, meski dalam situasi sesulit apapun, kemurnian syariat tetap harus dijaga dan diamalkan. Gelombang kesulitan tak harus menjadikan kita surut dalam berkonsisten dengan syariat ini. Bahkan bisa jadi kesulitan demi kesulitan yang kita alami menjadi parameter seberapa jauh kita telah mengamalkan ajaran agama ini.

Di lain sisi, ketidaktahuan seseorang akan syariat ini seringkali menjadikan pelakunya bertindak tanpa adanya rambu-rambu yang telah dicanangkan agama. Namun, bisa jadi ketidaktahuan akan syariat ini menjadi titik awal seseorang merasakan indahnya agama dan manisnya iman sebagaimana yang terjadi pada Adhit, ikhwan yang menceritakan kisahnya ini.
Semoga Alloh merahmati mereka, menerima ruh mereka berdua dan menjadikan mereka berdua termasuk hamba-hamba-Nya yang shalih yang dijanjikan surga-Nya.Amiin.

Sumber:
Kumpulan KISAH NYATA UNGGULAN Majalah ELFATA ‘Seindah Cinta ketika Berlabuh’, 2008, FAtaMeDia
SMS Redaksi ElFata +6281329429363
« Edit Terakhir: Oktober 16, 2008, 11:24:23 am oleh dedysagita »

dina inawaty

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 182
  • Reputasi: 8
  • Indahnya Persahabatan karena Allah ^_^
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #22 pada: November 12, 2008, 12:14:28 pm »
Kepada Ananda yang Ibu cintai sepenuh hati

Buah hatiku ..
Assalamualaikum warohmatullaahi wabarokatuh
Bagaimana kabarmu sayang? Ibu harap ananda selalu dalam lindungan Allah. Ibu terpaksa menulis ini? karena ibu tidak tahu sampai kapan umur ibu untuk bisa melihat ananda lagi. Ibu takut jika ibu tidak sempat menyampaikan ini kepada Ananda.
Sayang?.ingin rasanya Ibu ikut mengikuti kemana kamu pergi dan mencari ilmu. Wajah ananda selalu muncul di mimpi Ibu. Tapi niat Ibu itu selalu Ibu kubur dalam-dalam. Hanya satu alasan Ibu sayang?. Ibu ingin anak Ibu bisa mandiri ?..Ibu ingin anak Ibu bisa merenungi kesendirian tanpa kehadiran Ibu disamping ananda.

Anakku yang Ibu sayangi??.Ibu bangga dengan Ananda. Ananda telah berusaha menjadi anak yang sholeh seperti yang bunda harapkan. Sungguh senaaaa?ng sekali hati Ibu ini. Sebagaimana yang Ibu harapkan ketika Ibu berjuang dengan susah payah melahirkan ananda…

Ketika wajah lucu ananda yang mungil baru muncul di dunia ini, hanya satu do'a Ibu saat itu.."Duhai Allah, Engkaulah yang menggenggam takdir anakku ini. Aku mohon ya Allah jadikan anak yang ada dihadapanku sebagai anak yang sholeh..
Jadikanlah ia anak yang bisa membahagiakanku kelak dihadapan-Mu ya Allah?. Jadikanlah ia anak yang dapat membuatku bangga kelak di hadapan-Mu ya Allah. Pertemukan kami kelak di surgaMu ya Allah . Jangan Engkau pisahkan kami ya Allah. Jangan Kau biarkan aku memasuki surga-Mu tanpa anak ini disampingku..

Sampai sekarang Ibu selalu ulang doa Ibu itu. Ibu sangat berharap doa Ibu itu menjadi kenyataan. Dan sekarang Ibu mulai yakin bahwa anak Ibu adalah anak yang shaleh. Sungguh bahagiaaaa ..sekali hati Ibu ini.

Anak-ku yang sholeh..Ibu tidak tahu berapa lama lagi Ibu diberi kepanjangan umur oleh Allah . Ibu merasa sudah tua. Ibu merasa malaikat maut tidak lama lagi akan datang menjemput Ibu. Mungkin surat ini surat terakhir Ibu untuk ananda. Mungkin ketika ananda pulang, Ibu sudah tidak ada lagi di rumah. Maafkan Ibu ya sayang.. kalau selama ini Ibu banyak salah sama ananda.

Maafkan Ibu kalau Ibu sering marah dengan ananda. Nyuruh ananda mengaji, belajar, puasa, sholat yang mungkin ananda merasa nggak suka. Jangan dendam pada Ibu ya sayang. Bantu Ibu dengan do'a-do'amu ya sayang. Hanya do'a ikhlas yang Ibu harapkan dari ananda. Hanya do'a ananda, amal jariyah dan kerja dakwah Ibu selama ini yang dapat meringankan beban Ibu di hadapan Allah kelak.

Ananda tersayang..Ibu titip..rawat Ayah dengan baik ya sayang. Sayangi beliau sebagaimana ananda menyayangi Ibu selama ini. Ayah sudah bekerja keras supaya ananda bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Buat lah Ayah bahagia dengan keshalehan dan budi pekerti yang baik. Jangan sakiti hatinya sedikitpun ya sayang?
Salam rindu dan sayang selalu?

Wassalamu ?alaikum warahmatulLaahi wabarakaatuh
Dari Ibumu
Wujudkan segera cintamu kepada orang tua, dengan selalu mendoakannya…

untuk muhasabah  [-O<

ena

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 225
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Wanita
  • hmmm
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #23 pada: November 12, 2008, 01:06:32 pm »
^
kak dina....ceritanya sedih :(( :(( :((
jadi inget ibu aku yg dikampung, aku takut ibuku mengirimkan surat seperti itu, aku gak mau :(

mom.....miss u :x

alakadzam

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 88
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #24 pada: Desember 03, 2008, 01:59:34 pm »
Semangkuk Nasi Putih.....
 
Based on True story
 
 
Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang
kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan
sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu
direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia
masuk kedalam restoran tersebut.
 
"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih."
 
Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.
 
Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini
hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu
menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.
 
Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :
 
"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."
 
Istri pemilik rumah makan berkata sambil tersenyum :
 
"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !"
 
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : "kuah sayur gratis."
 
Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
 
"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi
nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.
 
"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan dibawa ke sekolah sebagai
makan siang saya !"
 
Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini
tentu dari keluarga miskin diluar kota , demi menuntut ilmu datang kekota,
mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.
 
 
 
Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong
daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus
nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan
memberikan kepada pemuda ini.
 
Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini,
 
hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi ?
 
 
 
Suaminya kemudian membisik kepadanya :
 
"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita
bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan
datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada
gizi untuk bersekolah."
 
"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."
 
"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?"
 
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
 
"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka.
 
Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat
dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
 
"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !"
 
katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda
ini besok jangan segan-segan datang lagi.
 
Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore
pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari
hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk
bekal keesokan hari.
 
 
 
Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang
tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak
pernah muncul lagi.
 
Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih,
 
pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur,
 
tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan
diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini
berpelukan menangis dengan panik.
 
 
 
Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya
seperti direktur dari kantor bonafid.
 
"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh
 
direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami
telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian
kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."
 
"Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami?
saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" sepasang suami istri ini
berkata dengan terheran.
 
"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling
 
suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang
lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."
 
Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul,
setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun
kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses
untuk kerajaan bisnisnya.
 
 
 
Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini,
jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya
dan menjadi sesukses sekarang.
 
Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.
 
Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk
dalam-dalam berkata kepada mereka :"bersemangat ya ! dikemudian hari
perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"
 
Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah
suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.
 
 
 
TERHARU?, ayo mulai jangan sungkan untuk berbuat baik hari ini...
 
You never know... what will happens tommorow?

khaira asyifa

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 951
  • Reputasi: 23
  • Jenis kelamin: Wanita
  • bismillahi tawakkaltu 'alallah
    • Lihat Profil
    • http://www.chefsari.blogspot.com
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #25 pada: Desember 03, 2008, 02:07:59 pm »
Kalo yg di tulis disini bukan cerita2 panjang gmn?
Crita sehari-hari yg memiliki pesan moral dan ketauladanan...boleh tak?
Atw buat thread baru aja apa yah...?

alakadzam

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 88
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #26 pada: Desember 03, 2008, 02:10:06 pm »
KENYATAAN  HIDUP DIBALIK PERMAINAN INI

Seorang guru wanita sedang mengajarkan sesuatu kepada murid – muridnya.
Ia duduk menghadap murid – muridnya. Ditangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus.
Guru itu berkata, “ saya ada satu permainan … caranya begini, ditangan kiri saya ada kapur, ditangan kanan saya ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini maka katakan “kapur”, jika saya angkat penghapus ini . maka katakan  “penghapus”.

Murid – muridnya pun mengerti dan mengikuti, guru berganti – gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin cepat. Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, “baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka sebutlah “penghapus” , jika saya angkat penghapus maka sebutlah “kapur”.
Dan diulangkan seperti tadi, tentu saja murid – murid  tadi keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun mereka terbiasa dan tidak lagi kikuk, selang beberapa saat kemudian permainan berhenti.

Sang guru tersenyum kepada murid –muridnya. “murid – murid begitulah kita umat ISLAM, mulanya yang haq itu haq.yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh – musuh kita memaksakan kepada kita dengan berbagai cara untuk merubah dari yang haq menjadi bathil dan sebaliknya. Pada awalnya mungkin akan sukar bagi kita untuk menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisikan dengan cara – cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kamu akan terbiasa dengan hal itu, dan mulai dapat mengikutinya. Musuh – musuh kamu tidak pernah berhenti membalik dan menukar. “

“keluar berduaan, berkasih – kasihan tidak lagi menjadi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi menjadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, tanpa rasa malu, sex sebelum nikah menjadi suatu kebiasaan dan trend, hiburan yang asyik dan panjang sehingga melupakan yang wajib adalah biasa, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain – lain. “ semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, anda sedikit demi sedikit menerimanya tanpa ada perasaan  itu adalah satu dosa dan kemaksiatan. Paham ?” Tanya guru kepada murid – muridnya “ paham guru”.

“ baik permainan kedua…” gurunya berkata.

“Guru  ada Qur’an, guru akan meletakan di tengah karpet. Sekarang anda berdiri diluar karpet. Permainannya adalah bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada ditengah tanpa menginjak karpet?”
murid – muridnya berpikir, ada  yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain – lain.

Akhirnya guru memberikan jalan keluar, di gulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak. “murid – murid begitulah umat Islam dan musuh–musuhnya… musuh–musuh Islam tidak akan menginjak – injak  anda dengan terang – terangan … karena anda akan menolaknya dengan mentah – mentah. Orang awampun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tapi musuh Islam akan menggulung anda perlahan – lahan dari pinggir, sehingga anda tidak sadar.

“jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka akan dibuat pondasi yang kuat.Begitulah Islam, jika ingin kuat maka bangunlah aqidah yang kuat .
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah tentu susah kalau dimulai dari dari pondasinya dulu.Tentu saja hiasan – hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari dibuang dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan …”

“begitulah musuh – musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang terangan, tapi ia akan perlahan – lahan membuat anda lalai. Mulai dari sikap anda, gaya hidup, pakaian dan lain – lain, sehingga meskipun anda muslim, tapi anda telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara mereka,… dan itulah yang mereka inginkan. “ini semua adalah fenomena Gwazhul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh – musuh kita…”

“kenapa mereka tidak berani terang – terangan menginjak guru” Tanya murid

“sesungguhnya dahulu mereka terang – terangan menyerang, misalnya perang salib, perang tar – tar dan lain – lain. Tapi sekarang tidak lagi.
Begitulah Islam … kalau diserang perlahan – lahan mereka tidak akan sadar, lalu akhirnya hancur. Tapi  kalau diserang serentak terang – terangan, maka kita akan bangkit serentak, baru kita sadar”.

“ kalau begitu kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…” matahari bersinar terik tatkala anak – anak itu keluar meninggalkan tempat belajar dengan dengan pikiran masing – masing dikepala.

RENUNGILAH SAHABAT SEMUA

alakadzam

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 88
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #27 pada: Desember 03, 2008, 02:39:48 pm »
Sungguh kisah2 disini sangat bagus, semoga kita yang membacanya mendapat manfaat dan hidayahNya amin ...

apriliya

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.607
  • Reputasi: 34
  • Jenis kelamin: Wanita
  • Sudah kutemukan dia...........
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #28 pada: Desember 03, 2008, 02:46:19 pm »
Sungguh kisah2 disini sangat bagus, semoga kita yang membacanya mendapat manfaat dan hidayahNya amin ...

amin......
semoga dapat dilaksanakan di dunia nyata
 :x :x

alakadzam

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 88
  • Reputasi: 1
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #29 pada: Desember 09, 2008, 02:51:56 pm »
Belum ada Judul

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya
menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan,
seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.


"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi
penutup bakul kue jajanannya. "Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi
menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

 

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi
cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu
dia tanya, "Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.

 

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan,
terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah
atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh
di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya
menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca
jendela. Membalas senyumannya. "Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue
saya untuk adik- adik, Ibu atau Ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.

Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

 

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet,
dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. "Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli
kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak.
Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima
deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya. Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan.
Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada
seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu.


"Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya. "Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis
itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja
mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih
banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu
lancar. Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya
berapa harga semua kue dalam bakul itu. "Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma
mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang...." Selepas
dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima
kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

 

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati
mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar
kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya
saya kagum dengan sikap anak itu. Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya…