Penulis Topik: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....  (Dibaca 67883 kali)

0 Anggota dan 2 Pengunjung sedang melihat topik ini.

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Bagi teman-teman yang memiliki cerita/kisah/karangan fiksi pribadi yang mengandung pesan2 moral yang disampaikannya tolong dikirim kesini yach....

HIDUP BUKANLAH VDC PLAYER

Cerita ini adalah “kisah nyata” yang pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya,kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman.

Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.

Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari- jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal.

Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah Tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang trukmu.”

Kemudian, ia bertanya,”tetapi kapan jari-jariku akan tumbuh kembali?”

Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungkan cerita di atas!

Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya.
Waktu tidak dapat kembali…

Hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di backward… dan Forward…
HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja…

Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak……. ..
Yang menjadi sebuah inti hidup adalah “HATI” : Hati yang dihiasi belas kasih dan cinta kasih…
CINTA KASIH merupakan nafas kehidupan kita yang sesungguhnya.


dina inawaty

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 182
  • Reputasi: 8
  • Indahnya Persahabatan karena Allah ^_^
    • Lihat Profil
Kalung Anisa.

 Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang
 ceria berusia Lima tahun. Pada suatu sore, Anisa
 menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket.
 Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa
 melihat > sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih
 berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna
 pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu
 indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.
 Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan.
 Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia
 sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang
 sudah disetujui untuk dibeli.
 
 Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya
 kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung
 itu sangat indah, diberanikannya bertanya.
 "Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh
 kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Bunda segera
 mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya
 tertera harga Rp 15,000.
 
 Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh
 harap dan cemas.Sebenarnya dia bisa saja langsung
 membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak
 konsisten... "Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki
 Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih
 tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari
 kaos kaki itu,Ibu akan potong uang tabunganmu untuk
 minggu depan. Setuju ?"
 Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang
 mengembalikan kaos kaki ke raknya. "Terimakasih. ..,
 Ibu" Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung
 mutiaranya.. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak
 cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung
 itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika
 tidur.
 
 Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau
 berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu
 akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau...
 
 Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan
 cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika
 selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya
 "Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?"
 "Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah!"

 "Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu...
 "Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si
 Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga
"Ya sudahlah sayang,.... ngga apa-apa !". Ayah mencium
 pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa. Kira-kira
seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan
cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang
nggak sih, sama Ayah?"
 "Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada
 Ayah?".
 "Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."
 "Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil
 boneka Barbie ini.."Kata Anisa seraya menyerahkan
 boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.
 
 Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke
 kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya.
 Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis
 diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas
 pangkuan. air mata membasahi pipinya..."Ada apa Anisa,
 kenapa Anisa ?"
 Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangan-nya.
 Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya
 " Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa" Ayah
tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan
 mungil Anisa. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong
 celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan
 sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan
 kalung yang sangat disayangi Anisa..."Anisa. .. ini
 untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya,
 tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi
 hijau"
 
 Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli
 untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.
 
 Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia
 meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk
 menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun,
 kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif
 dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap
 amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila
 harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas,
 karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu
 dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang
 lebih baik.

kaizen

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 58
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
 :(( :(( :(( :(( :((...............hmmmm :cool:

dina inawaty

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 182
  • Reputasi: 8
  • Indahnya Persahabatan karena Allah ^_^
    • Lihat Profil
Another Stories

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki
yang senangf bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu
sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat
mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini
telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu
setiap harinya.
Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke
sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan
anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki
itu."Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi
kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa
mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. " Anak lelaki itu
sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan
pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak
pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang
melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon
apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus
bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat
tinggal. Maukah kau menolongku?" Duh, maaf aku pun tak memiliki
rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun
rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua
dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel
itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak
lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian
dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel
merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi
denganku," kata pohon apel."Aku sedih," kata anak lelaki itu."Aku
sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang
tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah ."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat
kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi
datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun
kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak
memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak
memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata
pohon apel."Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak
lelaki itu."Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku
berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan
sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.
"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah
setelah sekian lama meninggalkanmu. " "Oooh, bagus sekali. Tahukah
kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan
beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan
beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan
akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.


Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang
ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa
pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa
yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin
berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada
pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya;
dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan
diberikannya pada kita.
  @};-  @};- @};- @};- @};- @};- @};- @};- @};- @};-

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Ayam Negeri dan Ayam Kampung

Pada suatu hari, seorang ayah dan seorang anak laki-lakinya yang sudah menjelang dewasa tampak sedang bersama-sama memberi makanan pada ayam-ayam peliharaan mereka. Keluarga ini memang memelihara banyak ayam dari berbagai jenis, yang terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu ayam kampung dan ayam negeri.

Di sela-sela kesibukan itu, tiba-tiba sang ayah bertanya pada anaknya : “Nak, kalau kau harus memilih, yang mana kau lebih suka, jadi ayam negeri atau jadi ayam kampung?” Sang anak tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak mampu menjawab.

“Apa maksud ayah?” katanya sejurus kemudian.

“Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak engkau menjadi lebih dewasa nanti, ada dua cara hidup yang bisa engkau pilih, yaitu cara hidup seperti ayam negeri, atau sebagai ayam kampung”, jelas ayahnya.

“Ah, aku tahu ! Tentu aku memilih hidup seperti ayam kampung. Ia selalu bebas pergi ke mana saja ia mau..”, jawab sang anak dengan antusias.

Si ayah yang bijaksana ini tersenyum sambil membenarkan. “Selain kebebasan, masih banyak hal-hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding dengan kehidupan ayam negeri”, lanjut ayahnya. Lalu ia mulai berbicara panjang lebar untuk menjelaskan falsafah hidup ayam kampung kepada anak kesayangannyatersebut.

Ayam kampung berbeda terhadap ayam negeri dalam banyak hal. Perbedaan pertama yang telah disebut di atas adalah hal kebebasan. Ayam kampung selalu hidup bebas di alam lepas. Pergi ke
sana ke mari mencari makan, bermain, dan bercengkerama. Sementara itu, ayam negeri selalu hidup di kandang yang bagus.

Pada malam hari, ayam kampung tidur seadanya, di mana saja. Tidak perlu di kandang, bahkan acapkali hanya di atas jerami atau pada seutas ranting. Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman, termasuk waktu tidur. Kandangnya itu, benar-benar dibuat nyaman, bersih karena setiap hari dibersihkan. Kesehatan lingkungannya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.

Ayam kampung mencari makan sendiri, berjuang menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan, berpanas dan berhujan menyantap apa saja yang bisa disantapnya. Tidak peduli kotoran dan tidak hirau pelimbahan, demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari.

Ayam negeri di lain pihak, disediakan makanan oleh majikannya dengan makanan khusus. Penuh gizi dan bebas
hama. Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-sekali pada waktu- waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.

Melihat kenyataan itu, tentu terpikir oleh kita bahwa sudah sepantasnya kalau ayam negeri memiliki kelebihan dalam segala hal dibanding ayam kampung. Tapi apa nyatanya? Ayam negeri sangat sensitif.
Ada keadaan yang sedikit saja menyimpang dari seharusnya, sakitlah ia. Satu sakit, yang lain pun sakit, dan akhirnya semua mati. Sebaliknya,.ayam kampung tidak pernah sakit, tubuhnya sehat dan kuat, berkat gemblengan alam. Itu yang membuatnya tidak pernah sakit. Ia pun berjuang setiap hari di alam terbuka, melawan kekerasan alam untuk mencari nafkahnya. Ayam kampung juga memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak- anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.

Sang ayah yang bijaksana tadi berkata lagi : “Lihat, meski bergelimang berbagai kenyamanan, ayam negeri itu sesungguhnya sudah kehilangan identitas sebagai makhluk yang bebas. Statusnya sudah diubah oleh mahluk lain yang bernama manusia, tidak lagi sebagai mahluk hidup, melainkan sebagai mesin. Mesin yang menghasilkan telur dan daging dalam jumlah besar bagi keperluan manusia..”

Moral apa yang bisa kita serap dari fenomena ayam kampung dan ayam negeri ini?

Manusia bisa berkaca dari cermin kehidupan ayam negeri dan ayam kampung. Dalam bekerja mencari nafkah serta meniti karir, kebanyakan generasi muda menghendaki kehidupan nyaman tidak ubahnya bagai kehidupan ayam negeri. Mendambakan hidup nikmat di mana segala kebutuhannya dipenuhi, jauh dari beratnya perjuangan hidup, jauh dari gemblengan dan tantangan alam, bahkan kalau perlu tidak usah tahu dengan yang namanya cucuran keringat serta beratnya banting tulang.

Sejak selesai sekolah, rata-rata pemuda sudah terpola untuk bias diterima bekerja di sebuah perusahaan besar, menerima gaji besar, mendapat sejumlah jaminan dan fasilitas-fasilitas tertentu, mampu membeli rumah dan mobil sendiri, serta berkantor di salah satu gedung megah dan mewah di kawasan bisnis bergengsi. Sekolah dianggap sebagai sarana yang memberikannya standar pengakuan sebagai tiket untuk mendapatkan semua itu.

Di
sana terselip sebuah pengharapan bahwa, semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula jabatan yang akan ia peroleh dari perusahaan, dan mereka mengira, semakin santai pula pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Hidup tenang dengan serba berkecukupan bahkan berkelimpahan.

Tak perlu disangsikan lagi bahwa pedoman hidup yang dianut generasi muda ini, sama dan sebangun dengan liku-liku kehidupan ayam negeri. Mereka menginginkan kenyamanan dan berbagai fasilitas yang diberikan oleh majikan, sama seperti ayam negeri menerima kenyamanan dan berbagai fasilitas dari majikannya.

Mereka menginginkan kesehatan dan jadwal hidup yang serba teratur, sama seperti ayam negeri menerima kesemua itu dari majikannya. Mereka memerlukan perhatian penuh tentang kesejahteraan diri dan keluarga, memerlukan tuntunan dan pimpinan untuk memperlancar tugas dan kewajibannya, sama seperti seperti yang diberikan majikan kepada ayam-ayam negeri itu.

Namun mereka tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, mereka telah kehilangan kebebasan dirinya, sebagai hak azasi manusia yang paling hakiki. Mereka tidak bisa lagi pergi dan terbang ke
sana ke mari seperti seekor elang di langit lepas. Sama seperti yang dialami oleh ayam negeri. Lebih-lebih lagi, mereka telah kehilangan identitas diri sebagai mahluk hidup, karena status dirinya, disadari atau tidak, telah dirubah menjadi mesin yang sangat produktif demi kepentingan majikannya. Juga sama seperti ayam negeri.

Falsafah hidup seperti ayam negeri, benar-benar merupakan suatu hal yang menyesatkan, terutama bagi kalangan muda. Orang akan terpedaya dengan perasaan nikmat dalam kehidupan yang terkungkung di antara sisi-sisi tembok beton kantor atau rumahnya yang mewah. Padahal di luar, masih teramat banyak orang yang tidak cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan, hidup susah di rumah-rumah kumuh dan pengap.

Falsafah ayam negeri hanya mengajarkan manusia untuk memuja kenyamanan diri semata. Meski tidak ada yang salah untuk memperoleh kesejahteraan, kesenangan dan kemewahan bagi diri dan keluarga, namun pola hidup demikian cenderung membuat orang menjadi figur yang selfish dan egois, selalu mementingkan diri sendiri. Tidak ada lagi rasa prihatin dan empati kepada sesama. Apalagi keinginan berkorban untuk orang lain.

Sindrom kenikmatan juga akan menyebabkan kaum muda kehilangan semangat dan daya juang, sehingga tidak akan mau lagi ikut memikirkan bagaimana berpartisipasi untuk memajukan negara dan bangsa, mengentaskan kemiskinan rakyat jelata dan berbagai aspek social lainnya yang amat dibutuhkan oleh masyarakat banyak.

Di ujung rangkaian dari berbagai kesenangan yang memabukkan itu, akhirnya akan muncullah masalah yang paling berat, yaitu kenyataan bahwa generasi muda akan menjelma menjadi generasi yang ringkih, getas dan sensitif. Generasi yang mudah patah saat dihadapkan pada situasi krisis, sebagai akibat terlalu dimanjakan oleh kenikmatan. Lagi-lagi sama seperti ayam negeri yang sensitif terhadap berbagai penyakit.

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Kehidupan Sang Elang

Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat
mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat
suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan
membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya
telah tumbuh lebat dan tebal,sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu,
elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau Mengalami suatu proses
transformasi yang sangat menyakitkan - suatuproses transformasi yang panjang selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung
untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses
transformasi berlangsung.

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut
terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru.
Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan
ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu
proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru
sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang
tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!

Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat
berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau
membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu
yang menyenangkan dan melenakan.

Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi
menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan
beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan
untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap
masa depan dengan penuh keyakinan.

Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa
atas diri anda. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.
Karena Anda adalah elang-elang itu.

Perubahan pasti terjadi. Maka itu, kita harus berubah!

salendra_kms

  • Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.133
  • Reputasi: 11
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dream Light
    • Lihat Profil
    • Mengembalikan Jati Diri Bangsa||Web Blog Silampari Nan Cinde
 :) syukron atas artikelnya........saya merasa ini sangat bermanfaat tuk membangun motifasi kita semua :great:

tak kasih reputasi + 1 ya

kaizen

  • Jr. Member
  • **
  • Tulisan: 58
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil


transformasi yang sangat menyakitkan - suatuproses transformasi yang panjang selama 150 hari.

"....sukron, menyadarkan na yg lgi futur.... :cool:"

arif budiman

  • Moderators
  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 5.392
  • Reputasi: 71
  • Jenis kelamin: Pria
  • My little angels
    • Lihat Profil
copas dari http://www.andriewongso.com/awartikel-184-Artikel_Tetap-Menyeberangi_Sungai


Suatu hari di dalam kelas sebuah sekolah, di tengah-tengah pelajaran, pak guru memberi sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya : Anak-anak, jika suatu hari kita berjalan-jalan di suatu tempat, di depan kita terbentang sebuah sungai kecil, walaupun tidak telalu lebar tetapi airnya sangat keruh sehingga tidak diketahui berapa dalam sungai tersebut. Sedangkan satu-satunya jembatan yang ada untuk menyeberangi sungai, tampak di kejauhan berjarak kira-kira setengah kilometer dari tempat kita berdiri.

Pertanyaan saya adalah, apa yang akan kalian perbuat untuk menyeberangi sungai tersebut dengan cepat dan selamat? Pikirkan baik-baik, jangan sembarangan menjawab. Jawablah dengan memberi alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini.

Seisi kelas segera ramai, masing-masing anak memberi jawaban yang beragam. Setelah beberapa saat menunggu murid-murid menjawab di kertas, pak guru segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi. Ada sekelompok anak pemberani yang menjawab: kumpulkan tenaga dan keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai. Ada yang menjawab, kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang sampai ke seberang.

Kelompok yang lain menjawab : Kami akan mencari sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga lontaran dari tongkat tersebut. Dan ada pula yang menjawab : Saya akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai, walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman.

Setelah mendengar semua jawaban anak-anak, pak guru berkata, ”Bagus sekali jawaban kalian. Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian mempunyai semangat berani mencoba. Yang menjawab turun ke air berarti kalian mengutamakan praktek. Yang memakai tongkat berarti kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan. Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian lebih mengutamakan keamanan. Bapak senang kalian memiliki alasan atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai, tidak akan lari gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai. Pesan bapak, mulai dari sekarang dan sampai kapanpun, Kalian harus lebih rajin belajar dan berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai ke tempat tujuan”.



yang menarik menurut saya justru..
sikap pak guru yang tidak menyalahkan siapapun dan mengambil sisi positif dari setiap jawaban muridnya..



dina inawaty

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 182
  • Reputasi: 8
  • Indahnya Persahabatan karena Allah ^_^
    • Lihat Profil
Klo ada yg udah baca, afwan ya...mungkin yg lain belum :)

Cerpen: PERMATA

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Suara tangis...

Kudengar suara tangis seseorang dari dalam. Aku yang saat itu sedang
menonton putaran siaran langsung sepak bola Liga Inggris, menjadi
tergerak juga untuk mencari dimana sumbernya berada. Aku bangkit dari
depan tv. Kuperiksa kamar utama yang menjadi tempat tidurku bersama
istri. Tidak ada. Langsung aku menuju ke kamar anak kami satu-
satunya, Permata. Benar saja, suara tangis itu berasal dari dalam
kamarnya. Suara isak tangisan Permata sepertinya ditahan-tahan supaya
tidak terlalu didengar oleh orang lain. Namun tetap saja dapat
didengar terutama olehku yang berada di ruang tv, yang tidak berada
jauh dari kamarnya.

"Salam'alaikum sayang…, sedang apa di dalam? Boleh Ayah masuk?"
kataku sambil mengetuk pelan pintu kamarnya.

Tiba-tiba, suara tangisannya menghilang.

"Sayang…, ini Ayah. Bolehkan Ayah masuk?"

Pintu-pun terbuka dengan Permata, anak semata wayangku, di depanku.
Wajahnya memerah dengan mata sembab dan berkaca-kaca. Rambutnya yang
hitam panjang sebahu tampak awut-awutan. Bajunya yang berwarna merah
jambu dengan gambar bunga-bunga kecil, basah oleh air mata dan
keringatnya.

"Loh kok…, kenapa putri Ayah menangis? Biasanya putri Ayah selalu
ceria. Ada apa gerangan? Boleh Ayah tahu ada apa?" kataku yang
langsung berjongkok di depan Permata sambil memegang bahunya dan
menyeka air matanya.

Belum lagi Permata menjawab pertanyaanku. Ia langsung saja menabrakku
dengan pelukannya, lalu menangis kembali dan berkata, "Ibu jahat,
Ayah. Ibu jahat!"

"Loh…, kenapa Ibu jahat? Masa sih, Ibu jahat sama Permata yang cantik
dan baik hati," kataku sambil mengangkat dan menggendongnya lalu
menuju ke tempat tidurnya. Kuletakkan ia di kasur dan aku duduk di
sampingnya. Ku elus-elus rambutnya yang halus seperti sutra.
Kupancarkan senyuman kepadanya untuk mencoba meredakan tangisannya.

Sedikit demi sedikit tangisannya mulai mereda dan akhirnya berhenti.
Wajah Permata memancarkan rasa sedih karena ia barusan dimarahi sama
Ibunya, yaitu istriku. Sebenarnya aku-pun agak heran juga, tidak
biasanya istriku marah terhadap anak semata wayangnya ini. Biasanya
ia sangat lembut dan penuh kasih sayang didalam mengurus Permata.

"Ayah… Ibu kok jahat sama Permata? Tadi Permata dimarahi sama Ibu.
Permata sedih, Ayah. Kenapa Ibu sampai memarahi Permata seperti tadi,
Ayah?" kata Permata sambil mau menangis kembali.

"Eee…, kok mau nangis lagi… Enggak apa-apa kok, Ibu tidak jahat dan
tidak marah sama Permata. Memangnya, kenapa Ibu sampai demikian sama
Permata?"

Permata diam sebentar. "Tadi Permata belum mengerjakan salat lalu
ditegur sama Ibu. Namun, Permata belum juga mengerjakan salat karena
Permata masih mau menyelesaikan PR Permata dulu, Ayah. Lalu Ibu
datang kembali dan menanyakan apakah Permata sudah salat. Setelah Ibu
tahu bahwa Permata belum salat juga, lalu Ibu memarahi Permata.
Permata hanya diam pas dimarahi sama Ibu. Setelah Ibu pergi, Permata
jadi sedih, mengapa Ibu yang biasanya baik sama Permata tapi kali ini
kok tidak. Permata jadi sangat sedih, Ayah."

"Ooo…, begitu. Nah, sekarang Permata sudah salat belum?"

Permata mengangguk.

"Bagus…, itu baru namanya anak Ayah dan Ibu yang cantik dan pintar.
Permata tahu nggak, kenapa Ibu sampai marah sama Permata karena
Permata melalaikan salat. Itu berarti…, Ibu sayang sama Permata. Ayah
dan Ibu memang sangat senang bila anak Ayah dan Ibu rajin didalam
mengerjakan salat. Ayah dan Ibu tidak mau Permata masuk Neraka dan
disiksa sama Allah SWT, nanti di Akhirat. Permata tahu kan, bila ada
orang yang tidak mengerjakan salat maka ia akan disiksa dan
dimasukkan oleh Allah SWT, ke dalam Neraka Jahannam selama-lamanya.
Iiiiihhh…, ngeri kan," kataku menggeliat dan memasang wajah takut
sambil bercanda.

Permata pun tersenyum.

"Ok…, sekarang Permata harus janji…, untuk tidak melalaikan salat
lima waktu lagi, bagaimana?"

"Iya, Ayah. Permata janji tidak akan melalaikan salat lagi," katanya
sambil memelukku.

Aku-pun memeluknya, mencium keningnya sambil berdo'a di dalam
hati, "Ya Allah…, ampuni dosa-dosa kami, ampuni dosa-dosa kedua orang-
tua kami dan jadikanlah keturunan kami, anak-anak yang sholeh dan
sholehah yang ta'at kepada perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu.
Aamiin."

"Ayah…, Ayah…, kata Ibu Guru, di surga itu ada Bidadari ya?"

"Iya, benar."

"Apa Bidadari itu cantik, Ayah?"

"Sangat cantik. Bahkan kecantikannya tiada tara."

"Ayah…, apakah Permata kalau sudah besar nanti akan secantik
bidadari?"

Aku-pun tersenyum. "Iya…, kalau kamu besar nanti akan secantik
Bidadari. Karena kamu, bagi Ayah dan Ibu, adalah Bidadari yang
menghiasi rumah ini." Permata-pun tersenyum. Terlihat gigi-giginya
yang masih belum rapih. "Tapi Permata, kecantikan wajah itu tidaklah
penting, yang terpenting adalah kecantikan hati, disini…, dihati,"
kataku menambahkan sembari menunjuk ke dadanya.

"Iya, Ayah…"

"Sudah ya…, Ayah keluar dulu. Salam'alaikum sayang."

"Wa'alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh, Ayah," kata Permata
sambil mencium tangan kananku.

Aku-pun keluar dari kamarnya.

Memang. Terkadang didalam rumah-tangga, apabila ada salah satu orang-
tua yang keras didalam mendidik anak-anaknya, maka harus ada orang-
tua yang bersikap lembut sebagai penyeimbangnya. Sehingga nantinya
tidak akan menimbulkan suasana rumah-tangga yang memanas, yang
berdampak akan adanya tekanan mental yang berlebihan pada anggota
keluarga. Kalau bisa, kedua orang-tua haruslah bersikap lembut
didalam mendidik anak-anaknya supaya tidak menurunkan sifat-sifat
kasar dan pemarah pada anak-anaknya nanti.

Di suatu Minggu pagi.

"Ayah…, Permata pamit dulu, ya. Ntar Permata kasih kabar kalau sudah
sampai di tempat piknik lewat Hand Phone Ibu, ya Bu ya…"

"Iya, iya…," kata istriku. "Aku pamit juga, ya Mas," sembari mencium
tangan kananku.

Kami-pun saling berangkulan dan memberi salam.

"Salam'alaikuuum, " kata mereka berdua.

Di hari Minggu ini, sekolahnya Permata mengadakan acara piknik
bersama. Mereka berencana pergi ke Bogor untuk mengunjungi Taman
Safari dan Kebun Raya Bogor. Seharusnya, Aku-pun harus pergi juga
bersama mereka. Namun, Aku sudah memiliki janji yang tidak boleh
kuingkari. Aku sudah janji untuk menemui klien-ku yang membutuhkan
pertolongan untuk dibela di ruang sidang pengadilan . Kasus yang akan
kutangani ini cukup serius. Kasus korupsi yang menelan uang
triliyunan rupiah. Tapi kali ini, aku harus membela si tertuduh
karena si tertuduh telah lebih dahulu meminta tolong kepadaku untuk
melawan pengacara-pengacara terkenal yang membela pemerintah.
Walaupun mungkin, orang yang akan kubela ini memang benar korupsi,
aku harus tetap membelanya sampai berhasil. Aku tahu, membela orang
yang salah adalah salah, tetapi aku tidak punya pilihan lain karena
aku juga sudah terikat sumpah jabatan sebagai pengacara dimana
seorang pengacara harus selalu siap untuk membela semua perkara orang-
orang yang meminta pertolongan jasanya. Itu kode etiknya.

Semua berkas yang telah kupersiapkan tadi malam telah kutaruh di
dalam mobil. Dengan Bismillah, aku-pun berangkat. Baru tiga puluh
menit berlalu saat aku masih menikmati kemacetan di jalan raya.
Telepon genggamku berbunyi.

"Selamat pagi, Pak. Apa benar Bapak yang bernama Muhammad Yusuf?"

"Benar, Pak. Ini dari siapa, ya?"

"Kami dari Kepolisian Satlantas Bogor, Pak. Kami mau mengabarkan
berita duka untuk Bapak."

"DEGGG!!!" Hatiku tersentak kaget. "Berita duka, Pak? Berita duka
apa?"

"Sekarang, di jalan tol menuju Bogor sedang terjadi kecelakaan
beruntun, Pak. Setelah kami melakukan pemeriksaan terhadap para
korban. Teridentifikasi bahwa ada keluarga Bapak, yaitu istri dan
anak Bapak yang menjadi korban kecelakaan. Sekarang mereka telah
dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati dan kini berada di ruang gawat
darurat. Mungkin cuma itu yang bisa kami kabarkan kepada Bapak."

"Innalillahi wa inna Ilaihi roji'un. Allahu Akbar! Istri dan anakku
dalam keadaan kritis. Kendaraan mereka mengalami kecelakaan. Ya
Allah…, masih adakah harapan untuk mereka?" kataku membatin. Cepat
aku membanting setir untuk mencari jalan pintas menuju ke Rumah Sakit
Fatmawati. Tidak kuhiraukan lagi semua rambu-rambu lalu-lintas.
Kunyalakan lampu depan mobil yang menandakan aku dalam keadaan
terdesak waktu.

Sesampainya di Rumah Sakit Fatmawati. Setelah kutanya lewat bagian
informasi dimana pasien yang baru datang akibat kecelakaan di jalan
tol dengan nama istri dan anakku. Mereka menunjuk ke kamar darurat.
Kularikan kakiku dengan cepat untuk sampai disana. Setelah kubuka
pintu ruang darurat itu. Ramai sekali para dokter yang menangani para
korban. Namun, aku masih belum boleh masuk dan diminta untuk menunggu
di ruang tunggu.

"Ya Allah… Selamatkah istri dan anakku? Bagaimanakah keadaan mereka?"
dalam keadaan tidak menentu, aku mencoba menghubungi para keluargaku
untuk memberitahu hal ini serta memberitahu pegawaiku untuk menemui
klienku dan memberitahu bahwa aku berhalangan datang kesana.

"Bapak Muhammad Yusuf!" panggil salah satu dokter.

"Ya, saya Dok."

"Mari ikuti saya, Pak."

Dibawanya aku ke suatu ruangan dokter. "Silahkan duduk, Pak."

"Dokter, bagaimana istri dan anak saya? Bagaimana keadaannya?" kataku
cemas.

"Hhhmmm…" Dokter itu menarik dan menghembuskan nafasnya dalam-
dalam. "Pertama-tama. .., saya ingin mengucapkan ma'af kepada anda
karena kami tidak bisa menolong istri anda, sedangkan anak anda
sekarang dalam keadaan kritis. Kondisinya sekarang koma, banyak
bagian tubuhnya yang remuk dan patah. Untuk saat ini, kami belum bisa
berbuat apa-apa, hanya menunggu perkembangan selanjutnya dari anak
anda."

"Ya Allah… Allahu Akbar! Inna lillahi wa inna Ilaihi roji'un. Telah
Engkau ambil istriku dari sisiku. Dan sekarang, anakku dalam keadaan
kritis."

Tidak bisa kubayangkan apa yang telah terjadi. Tubuhku sudah merasa
lemas semua. Keringat dingin bercucuran bak mata air. Mataku sedikit
berkunang-kunang. Tapi aku masih sadar. Dengan jalan yang bergontai,
aku menuju ke ruang jenazah. Fikiranku sedikit mengambang. Tapi aku
berusaha untuk terus sadar.

Sesampainya di kamar jenazah. Kulihat jasad-jasad kaku terbujur di
tempat tidur ditutupi kain berwarna putih. Suara tangisan dari
keluarga yang lain seperti mau membelah bumi. Kucari istriku. Pas di
pojok dinding, kulihat wajah yang tidak asing lagi. Wajah yang dulu
penuh cinta kepadaku. Wajah yang dulu selalu tersenyum kepadaku.
Wajah yang dulu penuh rasa sabar mendampingiku disaat susah. Wajah
yang dulu pernah bersamaku, berjanji menjalin ikatan suci di
pelaminan. Wajah itu, wajah istriku. Kudatangi perlahan jasadnya.
Kupandangi wajahnya. "Ohhh…, aku tak sanggup. Hatiku menjerit.
Tangisanku mau meledak. Tapi kalau saja aku tidak ingat sama Tuhan.
Aku pasti sudah bergabung dengan orang-orang yang meratapi kepergian
keluarganya itu. Aku berusaha tersenyum melihat wajah istriku. Kusapa
ia dengan salam. Kuucapkan do'a untuknya supaya ia mendapat ampunan
dari Allah swt dan tempat yang layak di sisi-Nya. Setelah itu kukecup
keningnya. Kututupi wajahnya dengan kain putih. Sekali lagi. Ku
berdo'a untuknya.

Kembali aku menuju ke ruangan gawat darurat. Saat menuju kesana.
Datang serombongan keluargaku dan keluarga istriku. Mereka memelukku
satu persatu. Mencium pipi dan keningku dan berusaha menghiburku.
Sebagian dari keluargaku dan keluarga istriku menangis. Langsung saja
aku menunjukkan dimana jasad istriku berada. Sebagian kesana dan
sebagian lagi ikut denganku ke ruang gawat darurat, dimana Permata
berada.

Sampai sore hari, Permata belum boleh dikunjungi. Baru setelah malam
harinya, kami boleh masuk ke kamarnya dirawat.

"Permata sayang, ini Ayah. Permata sayang, ma'afkan Ayah, Nak.
Ma'afkan Ayah…" kataku lirih dan tidak dapat meneruskan kata-kata.
Yang kubisa hanya membelai lembut kepalanya yang sudah dicukur botak
karena ada jahitan di kepalanya.

Pas jam sepuluh malam.

"Aayaaahhh…" suara Permata pelan.

Kami yang sudah duduk di kursi langsung berhamburan menghampiri
Permata.

"Iya, sayang. Iya, sayang. Ini Ayah, sayang."

"Aayaaahhh… Sakiiitt."

"Iya sayang. Ayah tahu. Sabar ya… Insya Allah, Allah akan
menyembuhkan Permata."

"Aayaaahhh… Ibu mana…?"

Ya Allah…, mendengar anakku bertanya tentang Ibunya, aku hanya bisa
diam.

"Aayaaahhh… Ibu mana…?"

"Ibu…, Ibu ada sayang..., tapi sekarang sedang tidak disini."

Permata diam. Matanya melirik kesana dan kemari seperti mencari
sesuatu. Sesaat, bibirnya bergerak tersenyum.

"Ayah… Bidadari itu sudah datang. Mereka melihat kepadaku, Ayah.
Wajahnya sangat cantik sekali, Ayah."

Aku dan keluargaku bingung. Kami tidak bisa melihat apa-apa.

"Sayang…, Bidadarinya mungkin datang untuk mendo'kan Permata. Mereka
sangat senang bila Permata sehat," kataku untuk menghiburnya.

"Tidak, Ayah. Kata mereka, mereka datang untuk menjemput Permata.
Mereka tersenyum pada Permata, Ayah."

"Ya Allah…, apakah ini yang dinamakan ajal dengan malaikat mautnya
yang akan menjemput anakku? Kalau memang iya, tidak ada yang bisa aku
lakukan kecuali membantunya mengucapkan kalimat tauhid."

"Ayah…, Bidadarinya menghampiri Permata. Mereka menjulurkan
tangannya, Ayah."

"Permata. Bidadarinya mungkin mau mengajak Permata bermain-main ke
surga. Kalau begitu, Permata harus siap ya sayang. Mari Ayah bimbing,
coba Permata mengucapkan kalimat dua syahadat seperti yang telah Ayah
ajarkan. Ash-hadu an laa ilaaha illa Allah… wa ash-hadu anna muhammad
rasulullah…"

"Ash-hadu an laa… ilaaha illa Allah… wa ash-hadu anna… muhammad
rasulullah…" Dengan terbata-bata, akhirnya Permata dapat mengucapkan
kalimat tauhid dengan lancar.

Tanpa kalimat tauhid yang sempat terucap sebelum mati, sangat
mustahil seorang Muslim akan masuk surga. Kalimat tauhid merupakan
kuncinya pintu surga. Dan jika seseorang belum juga mengucapkan
kalimat tauhid sebelum ajalnya tiba, maka ia dipastikan mati dalam
keadaan kafir. Neraka-lah tempatnya. Na'udzubillahi min dzalik.

Perlahan…, mata Permata sedikit demi sedikit tertutup. Kulit tubuhnya
berangsur-angsur memucat, dingin. Sebuah senyum manis terukir di
bibirnya. Wajahnya ceria. Ia telah puas. Puas bertemu dengan Bidadari
yang sangat cantik. Bidadari yang selalu diimpikannya untuk bertemu.

Semua keluargaku menangis. Hanya aku yang tersenyum. Kuusap wajah
Permata dan mentelungkupkan tangannya ke dadanya seperti ia sedang
salat. Kuciumi keningnya sekali lagi dan sambil berucap, "Tidurlah
dengan tenang, sayang. Temani Ibumu yang sudah menunggu disana.
Katakan pada Ibumu. Aku menyayangi kalian berdua. Dan semoga Allah
swt, juga mengasihi kalian berdua. Selamat jalan sayang. Inna lillahi
wa inna ilaihi roji'un."

Kutarik nafas panjang. Semua keluargaku memelukku. Kemudian aku
keluar dari kamar itu. Kucari sebuah musholla. Lalu disana aku
mengadu kesedihan kepada-Nya.

Besoknya. Kukuburkan jenazah istri dan anakku berdampingan di sebuah
pemakaman khusus untuk keluarga. Saat itu, suasana begitu teduh
disana. Pepohonan yang rimbun menambah kesejukan disekitarnya.
Terdengar suara burung-burung berkicauan di atas pohon sana. Harumnya
bunga melati dan kamboja, menusuk hidung mewangikan sekitar.

Setelah acara pemakaman selesai. Kini yang tinggal disitu hanyalah
Aku. Kupandangi dua makam yang berisi orang yang sangat kusayangi.
Sekali lagi, kubacakan do'a-do'a untuk mereka berdua sambil melihat
ke sebidang ruang tanah lagi di samping makam mereka berdua…, dimana
itu nanti…, adalah tempatku kelak.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

"Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan
beramal saleh ke dalam surga-surga yang sungai-sungai mengalir di
bawahnya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (Q.S.
al-Hajj : 14).

"Di dalamnya ada bidadari yang menundukkan pandangannya yang belum
pernah disentuh manusia dan jin sebelumnya. Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang kamu dustakan? Mereka laksana permata yaqut dan merjan.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Tiadalah balasan
kebaikan itu melainkan kebaikan (pula). Maka nikmat Tuhanmu yang
manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. ar-Rahmaan : 56 – 61).

dina inawaty

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 182
  • Reputasi: 8
  • Indahnya Persahabatan karena Allah ^_^
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #10 pada: Mei 29, 2008, 09:25:26 am »
SEPATU BAPAK TUA

 

Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

 

Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'''' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''''

Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.

 

Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.

 

Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.

Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya. Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.

 

Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur. Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ''''perpanjangan tangan'''' Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''''titipan'''' Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.

 

Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.

 

Tapi, bukankah dalam proses memberi dan menerima ada pihak yang akan bertambah sementara pihak yang lain menjadi berkurang? Kalau Anda berpendapat demikian berarti Anda sudah teracuni konsep Zero Sum Game yang mengatakan kalau ada yang bertambah pasti ada yang berkurang, kalau ada yang untung pasti ada yang rugi, kalau ada yang menang pasti ada yang kalah. Padahal esensi hidup yang sebenarnya adalah menang-menang. Kalau kita memberi kepada orang lain, milik kita sendiri pun akan bertambah.

 

Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Ambilah contoh kasus bapak tua tadi. Kalau ia tetap menahan sepatunya maka tak ada pihak yang dapat memanfaatkan sepatu tersebut. Kondisi ini adalah kalah-kalah (loose-loose). Sebaliknya dengan melemparkannya, sepatu ini akan bermanfaat bagi orang lain. Lalu apakah si bapak tua benar-benar kehilangan? Tidak. Ia memperoleh kenikmatan batin karena dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Betul, secara fisik ia kehilangan tetapi ia mendapatkan gantinya secara spiritual.

 

Perasaan inilah yang selalu akan Anda dapatkan ketika Anda membantu orang lain: menolong teman yang kesulitan, memberikan uang pada pengemis di jalan, dan sebagainya. Kita kehilangan secara fisik tapi kita mendapatkan ganti yang jauh lebih besar secara spiritual.

Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak:

''''Engkau tidak pernah memiliki sesuatu
Engkau hanya memegangnya sebentar
Kalau engkau tak dapat melepaskannya,

engkau akan terbelenggu olehnya.
Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan
tanganmu seperti engkau menggenggam air.
Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas.

Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya.
Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya''''
 

 

ORANG AWAM

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.442
  • Reputasi: 25
  • Membawa Pergi Dari Kegelapan Menuju Cahaya Terang
    • Lihat Profil
Re: JAGUAR
« Jawab #11 pada: Mei 30, 2008, 09:26:07 am »
JAGUAR

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.

Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

"Buk....!" Aah..., ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
 
"Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

"Apa yang telah kau lakukan? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku! Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. "Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya. "Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa." Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. "Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti.... "

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.

"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak.

Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya. "
 
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.

Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.

Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: "Janganlah melaju terlalu cepat dalam hidupmu, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu. "

 
--oo0oo--

 
« Edit Terakhir: Mei 30, 2008, 09:29:19 am oleh ORANG AWAM »

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #12 pada: Juni 03, 2008, 08:43:15 am »
KERAN AIR

Ada seorang yang hidup di daerah pedalaman yang selama hidupnya belum tersentuh kemajuan dunia modern. Suatu saat ia diajak oleh anaknya mengunjungi ibu kota untuk sekedar menikmati dan mengetahui adanya gaya hidup yang lain dari yang biasa ia hadapi. Selama di kota ia tinggal di hotel yang aduhai mewahnya. Segalanya bagai mimpi. Ia merasakana adanya surga di dunia.

Bayangkan saja, Masuk di kotak kecil, berdiri beberapa menit, tiba-tiba saja sudah berada di lantai yang tinggi (lift). Hanya dengan menekan sebuah alat kecil (remote control), tiba-tiba sebuah kotak mengeluarkan sinar, dan di dalamnya ada gambar hidup (televisi). Ia tak habis-habisnya berdecak kagum akan segala keanehan dunia ibu kota yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Ketika akan pulang ke tempat asalnya, ia ditanya apa yang ingin dibawanya pulang sebagai kenangan. Tanpa berpikir panjang ia berkata: ‘Saya ingin membawa pulang dua keran air.’ Semua pada bengong. Namun ia lalu menjelaskan bahwa setelah pulang, kedua keran air itu akan ditempelkan pada dinding rumahnya. Ia berpikir, hanya dengan memutarkan keran air itu, ia akan mendapatkan air yang amat dibutuhkan terutama ketika terik matahari menyengat keras. Ia tidak tahu kalau keran air di kamar hotel itu dihubungkan dengan pipa ke sumber airnya.

——————-
- Jika tak dihubungkan dengan sang ASAL, maka hidup ini cumanlah sebuah mimpi kosong.
- Penampakan lahiriah tak mewakili kebenaran batiniah seseorang

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #13 pada: Juni 03, 2008, 08:45:51 am »
KEMBANG BAKUNG

Seorang anak sambil menangis kembali ke rumah. Ia menangis semakin keras ketika bertemu ibunya. Ia merasa segala usahanya tidak dihiraukan baik oleh guru maupun teman-teman kelasnya. Ia telah berusaha, namun seakan-akan usahanya tidak layak dihargai. Ia menjadi benci akan teman-temannya. Ia menjengkeli gurunya.

Setelah mendengar keluhan anaknya, sang ibu bertanya: ‘Pernahkan engkau memperhatikan kembang bakung milik tetangga di lorong jalan ke rumah kita?’ Anak itu menggelengkan kepala.

‘Bakung itu berkembang setiap pagi, dan di akhir hari kembang bakung tersebut akan layu dan mati. Namun sebelum mati, ia telah memberikan yang terbaik, ia telah memancarkan keindahannya.’ Anak itu berhenti menangis dan mendengarkan dengan penuh hati.

‘Setiap hari ia memberikan keindahan yang sama. Setiap hari ia memberikan keharuman yang sama walau kadang tak dihiraukan orang. Keindahannya tak pernah berkurang karena engkau tak pernah memperhatikannya. Ia tidak pernah bersedih bila tak diperhatikan orang, karena ia tahu bahwa dalam hidupnya ia cuman punya satu misi yakni memberikan keindahan.’ Anak itu memahami maksud ibunya.

___________
-Kembang bakung seorang guru yang mengajar: ‘Hidupmu ada di
telapakmu sendiri, bukannya dalam genggaman tangan orang lain.’

Heriyadifiles

  • Full Member
  • ***
  • Tulisan: 115
  • Reputasi: 3
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: Cerita-Cerita yang memiliki pesan moral dan bermanfaat kesini yach.....
« Jawab #14 pada: Juni 03, 2008, 08:50:08 am »
KEBIJAKSANAAN PENGGALI TAMBANG

Ada beberapa penggali tambang. Setiap hari mereka bekerja dalam tambang. Karena tambang itu kaya mineral alam, maka sudah beberapa tahun mereka tak pernah pindah tempat kerja. Jadi bisa dibayangkan bahwa semakin digali tambang tersebut semakin dalam. Hari itu mereka berada di dasar terdalam dari tambang itu.

Secara tiba-tiba semua saluran arus listrik dalam tambang itu putus. Lampu-lampu semuanya padam. Gelap gulita meliputi dasar tambang itu, dan dalam sekejap terjadilah hirup pikuk di sana. Setiap orang berusaha menyelamatkan diri sendiri. Namun mereka sungguh kehilangan arah. Setiap gerakan mereka pasti berakhir dengan benturan dan tabrakan, entah menabrak sesama pekerja atau menabrak dinding tambang. Situasi bertambah buruk disebabkan oleh udara yang semakin panas karena ketiadaan AC.

Setelah capai bergulat dengan kegelapan, mereka semua duduk lesu tanpa
harapan. Satu dari para pekerja itu angkat bicara: ‘Sebaiknya kita duduk tenang dari pada secara hiruk-pikik mencari jalan ke luar. Duduklah
secara tenang dan berusahalah untuk merasakan hembusan angin. Karena
angin hanya bisa berhembus masuk melalui pintu tambang ini.’

Mereka lalu duduk dalam hening. Saat pertama mereka tak dapat merasakan hembusan angin. Namun perlahan-lahan mereka menjadi semakin peka akan hembusan angin sepoi yang masuk melalui pintu tambang. Dengan mengikuti arah datangnya angin itu, mereka akhirnya dengan selamat keluar dari dasar tambang yang dicekam gelap gulita itu.

——————-
- Bila bathin anda sedang gundah dan kacau, anda tak akan pernah melihat jalan keluar yang tepat.
- Anda butuh untuk pertama-tama menenangkan diri. Hanya dalam keheningan anda bisa melihat pokok masyalah secara tepat, serta secara tepat pula membuat keputusan.