Penulis Topik: kewajiban berjilbab  (Dibaca 29935 kali)

0 Anggota dan 1 Pengunjung sedang melihat topik ini.

ghuroba

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 26
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #30 pada: Mei 08, 2008, 04:49:42 pm »
 Alhamdulillah, Shalawat dan Salam atas Rasulullah Shallallaahu `Alaihi Wasallam, ‘amma ba’du: Risalah ringkas ini ditujukan kepada Ukhti Muslimah, berkenaan dengan masalah Hijab dan masalah membiarkan wajah tanpa hijab. Tidak tersembunyi bagi siapapun bahwa di banyak negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, masih banyak kalangan wanita yang bertabarruj (berhias di luar kemestian), dan tiadanya komitmen mereka terhadap hijab. Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan satu kemunkaran yang besar, yang merupakan sumber datangnya malapetaka dan bencana.

Syaikh Shalih Utsaimin ditanya tentang sifat Hijab Syar`I, maka ia menjawab:"Pendapat yang paling rajih (benar) ialah bahwa hendaklah wanita menghijabi seluruh bagian yang dapat menimbulkan fitnah terhadap kaum lelaki, diantara sumber paling besar fitnah dalam diri wanita adalah wajah, maka wajib baginya untuk menutup wajahnya dari seluruh ajnabi (lelaki asing, bukan mahram), adapun terhadap orang-orang yang masih ada hubungan mahram maka tidak mengapa ia menampakkan wajahnya. 'Adapun orang-orang yang mengatakan bahwa Hijab Syar`ie adalah dengan menutupi rambutnya dan membiarkan wajahnya terbuka…maka ini merupakan pendapat yang sangat aneh!! Manakah penyebab fitnah yang paling besar, rambut ataukah wajah?! Dan manakah bagi orang yang menghendaki wanita, apakah mereka menanyakan wajah wanita ataukah rambutnya? 'Dua pertanyaan diatas tidak mungkin dijawab kecuali dengan : "Sesungguhnya sumber fitnah paling besar adalah terdapat pada wajah" Dan hal ini tidak diragukan lagi. Lelaki akan tertarik kepada wanita jika wajahnya cantik walaupun rambutnya dibawah kecantikan wajahnya. Dan, sebaliknya lelaki tidak akan tertarik kepada wanita yang berwajah buruk sekalipun rambutnya indah menawan. Maka pada hakikatnya hijab syar`I adalah yang menghijabi wanita sehingga tidak menimbulkan fitnah atau dengannya ia terfitnah, dan tidak diragukan lagi bahwa wajah lah sumber utama fitnah itu.

hadid fahmi

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 11
  • Reputasi: 0
  • indahnya kebersamaan walaupun penuh kemunafikan
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #31 pada: Juli 10, 2008, 03:36:10 am »
Sabab Nuzul
Dikemukakan Said bin Manshur, Saad, Abd bin Humaid, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abi Malik: Dulu istri-istri Rasulullah saw. keluar rumah untuk keperluan buang hajat. Pada waktu itu orang-orang munafik mengganggu dan menyakiti mereka. Ketika mereka ditegur, mereka menjawab, "Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja." Lalu turunlah ayat ini yang berisi perintah agar mereka berpakaian tertutup supaya berbeda dengan hamba sahaya.


hanya untuk berbeda dengan hamba sahaya ? kalau sekarang tidak ada hamba sahaya apakah kewajiban itu masih berlaku ?

Kata jalâbîb merupakan bentuk jamak dari kata jilbâb. Terdapat beberapa pengertian yang diberikan para ulama mengenai kata jilbab. Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai ar-ridâ' (mantel) yang menutup tubuh dari atas hingga bawah.2 Al-Qasimi menggambarkan, ar-ridâ' itu seperti as-sirdâb (terowongan).3 Adapun menurut al-Qurthubi, Ibnu al-'Arabi, dan an-Nasafi jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh.4 Ada juga yang mengartikannya sebagai milhafah (baju kurung yang longgar dan tidak tipis) dan semua yang menutupi, baik berupa pakaian maupun lainnya.5 Sebagian lainnya memahaminya sebagai mulâ'ah (baju kurung) yang menutupi wanita6 atau al-qamîsh (baju gamis).


atas dasar apa anda mengatakan ketika kalimat itu adalah khabar ( berita ) tapi menunjukan perintah ?

Terlepas dari perintah atau bukan dalam alqur'an menganai kewajiban berjilbab, sebenarnya konsep jilbab bukanlah kepunyaan  Islam. dalam kitab Taurat, kitab suci agama Yahudi, sudah dikenal beberapa istilah yang semakna dengan hijâb seperti tif’eret. Demikian pula dalam kitab Injil yang merupakan kitab suci agama Nasrani juga ditemukan isti-lah semakna. Misalnya istilah zammah, re’alah, zaif dan mitpahat

kemudian masalah penjuluran jilbab kebawah, mau diakui atau tidak, itu adalah reaksi kebudayaan arab jahiliah sebagaimana digambarkan ibnu katsir dan zamakhsyari dalam tafsirnya ( lihat tafsir ibnu katsir dan Al-kassyaf zamakhsyari ).

Penafsiran ini juga sejalan dengan firman Allah Swt. dalam QS an-Nur (24) ayat 31: Wa lâ yubdîna zînatahunna illâ mâ zhahara minhâ (dan janganlah mereka menampakkan kecuali yang biasa tampak daripadanya). Menurut Ibnu Abbas, yang biasa tampak adalah wajah dan dua telapak tangan. Ini adalah pendapat yang masyhur menurut jumhur ulama.18Pendapat yang sama juga dikemukakan Ibnu Umar, Atha', Ikrimah, Said bin Jubair, Abu asy-Sya'tsa', adh-Dhuhak, Ibrahim an-Nakhai,19 dan al-Auza'i.20 Demikian juga pendapat ath-Thabari, al-Jashash, dan Ibnu al-'Arabi.21


Kita semua harus tahu, bahwa ayat pada surat al-ahzab turun setelah perang khandaq, dan ayat pada surat al-nur turun setelah al-ahzab turun. jadi sifatnya sangat kondisional pada masa itu.

yaitu untuk menjawab tuduhan abdullah bin ubay dan balakurawanya yang memfitnah istri-istri nabi, seperti hadisul-ifk ( cerita tentang 'aisyah yang difitnah ).

ayat ini juga turun saat kondisi pada masa itu tidak aman. karena saat itu keadaan perempuan muslimah sangat memprihatinkan. oleh karena itu ayat ini datang untuk melindungi para muslimah dari cercaan dan godaan para pembuat fitnah

jadi mungkinkah untuk mengatakan, ketika kondisi sekarang tidak seperti dulu, maka kewajiban itu tidak ada lagi ?






 

mamat

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 766
  • Reputasi: 6
  • Jenis kelamin: Pria
  • Finally it will end this way...
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #32 pada: Juli 10, 2008, 05:58:56 am »
jadi mungkinkah untuk mengatakan, ketika kondisi sekarang tidak seperti dulu, maka kewajiban itu tidak ada lagi ?

@atasku
Aduh...aduh...
Kenapa semua selalu dikaitkan dengan dengan kondisi sekarang atau dulu.
Ane mau tanya neh...Katakanlah sekarang kondisinya beda dengan zaman Rosul trus jilbab jadi tidak wajib, eh... ternyata nanti tiba2 kondisinya sama seperti jaman Rosul. Apa lantas diwajibkan lagi. Habis itu beda lagi, sama lagi, beda lagi, sama lagi. Akhirnya diwajibkan, tidak diwajibkan, diwajibkan, tidak diwajibkan.

Ente kira apa syari'at Islam ini??? Satpam males??? Kalo ga ada motor ilang, kerjanya nyante... baru kalo ada motor ilang, serius jaga parkiran mahasiswa.

hadid fahmi

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 11
  • Reputasi: 0
  • indahnya kebersamaan walaupun penuh kemunafikan
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #33 pada: Juli 10, 2008, 12:25:33 pm »
@atasku
Aduh...aduh...
Kenapa semua selalu dikaitkan dengan dengan kondisi sekarang atau dulu.
Ane mau tanya neh...Katakanlah sekarang kondisinya beda dengan zaman Rosul trus jilbab jadi tidak wajib, eh... ternyata nanti tiba2 kondisinya sama seperti jaman Rosul. Apa lantas diwajibkan lagi. Habis itu beda lagi, sama lagi, beda lagi, sama lagi. Akhirnya diwajibkan, tidak diwajibkan, diwajibkan, tidak diwajibkan.

ga masuk akal

Ente kira apa syari'at Islam ini??? Satpam males??? Kalo ga ada motor ilang, kerjanya nyante... baru kalo ada motor ilang, serius jaga parkiran mahasiswa.

lho..bukan saya lho yang menyamakan syariat islam dg satpam males  :D

sebenarnya prinsip yang anda ajukan sudah lama diperdebatkan di ilmu ushul. yaitu ihtiath. atau mungkin lebih pas jika dinamakan saddudzari'ah ( menutup jalan kemaksiatan ).

jika mngatakan sesuatu yang sebetulnya hanya sebuah bentuk ihtiath ( hati-hti ) untuk menjadi wajib, bahkan mengatakan yang menginkari dg kufur, adakah ini anda jumpai dalam ilmu-ilmu fiqh dan ushul fiqh bahkan 'aqidah sekalipun ?

satu kesimpulan yang saya tangkap dari anda, bahwa anda setuju jilbab ini diwajibkan sebagai pelindung wanita muslimah dulu di zaman nabi

NB : nanti kalau mau diskusi jangan copas ya..saya males baca kalau copas kebanyakan  :D

oki_toink

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.635
  • Reputasi: 47
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #34 pada: Juli 16, 2008, 02:10:46 am »
wajib banget

oki_toink

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.635
  • Reputasi: 47
  • Jenis kelamin: Pria
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #35 pada: Juli 16, 2008, 02:14:04 am »
pada ribut deh

Luthi

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 3.155
  • Reputasi: 30
  • Jenis kelamin: Pria
  • forgiven
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #36 pada: Agustus 27, 2008, 11:56:12 am »
liat avatar oki

dia lagi belajar bejilbab

:))

Tabaria

  • Newbie
  • *
  • Tulisan: 4
  • Reputasi: 0
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #37 pada: September 25, 2009, 09:54:20 pm »
jadi mungkinkah untuk mengatakan, ketika kondisi sekarang tidak seperti dulu, maka kewajiban itu tidak ada lagi ?

@atasku
Aduh...aduh...
Kenapa semua selalu dikaitkan dengan dengan kondisi sekarang atau dulu.
Ane mau tanya neh...Katakanlah sekarang kondisinya beda dengan zaman Rosul trus jilbab jadi tidak wajib, eh... ternyata nanti tiba2 kondisinya sama seperti jaman Rosul. Apa lantas diwajibkan lagi. Habis itu beda lagi, sama lagi, beda lagi, sama lagi. Akhirnya diwajibkan, tidak diwajibkan, diwajibkan, tidak diwajibkan.

Ente kira apa syari'at Islam ini??? Satpam males??? Kalo ga ada motor ilang, kerjanya nyante... baru kalo ada motor ilang, serius jaga parkiran mahasiswa.

Menyebarkan syariah Islam sebaiknya dengan kepala dingin dan hati yang ikhlas. Kelemahan kebanyakan di antara kita kaum Muslim dalam menyebarkan syariah Islam adalah sikap tidak bijak, mudah terjebak nafsu amarah, dan keras kepala tapi kurang ilmu. Mohon maaf, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Anda seperti itu. Insya Allah, tidak. Allah sendiri melarang kita 'mengikuti' Quran jika kita belum memahaminya secara mendalam. Maksudnya, Allah mungkin lebih suka jika kita mempelajarinya dulu dengan sungguh-sungguh lalu mengamalkannya kemudian menyiarkan. Jadi memang hukum syariah dibahas dalam Fiqh, dan Ushul Fiqh jika terdapat hal-hal yang menjadi perdebatan. Allah yang lebih tahu apa yang Dia maksudkan dalam ayat-ayat yang didelegasikan kepada Rasulullah SAW. Kita manusia memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk mampu memahami kalimat2Nya dengan sebenar-benarnya. Faizaa azamta, fatawakkal alallah.  

lyceum_salf

  • Hero Member
  • *****
  • Tulisan: 1.581
  • Reputasi: 9
  • Jenis kelamin: Pria
  • Dimana Engkau Berada TUHAN Selalu Melihatmu
    • Lihat Profil
Re: kewajiban berjilbab
« Jawab #38 pada: Oktober 13, 2009, 02:15:16 pm »
jadi mungkinkah untuk mengatakan, ketika kondisi sekarang tidak seperti dulu, maka kewajiban itu tidak ada lagi ?

@atasku
Aduh...aduh...
Kenapa semua selalu dikaitkan dengan dengan kondisi sekarang atau dulu.
Ane mau tanya neh...Katakanlah sekarang kondisinya beda dengan zaman Rosul trus jilbab jadi tidak wajib, eh... ternyata nanti tiba2 kondisinya sama seperti jaman Rosul. Apa lantas diwajibkan lagi. Habis itu beda lagi, sama lagi, beda lagi, sama lagi. Akhirnya diwajibkan, tidak diwajibkan, diwajibkan, tidak diwajibkan.

Ente kira apa syari'at Islam ini??? Satpam males??? Kalo ga ada motor ilang, kerjanya nyante... baru kalo ada motor ilang, serius jaga parkiran mahasiswa.

Menyebarkan syariah Islam sebaiknya dengan kepala dingin dan hati yang ikhlas. Kelemahan kebanyakan di antara kita kaum Muslim dalam menyebarkan syariah Islam adalah sikap tidak bijak, mudah terjebak nafsu amarah, dan keras kepala tapi kurang ilmu. Mohon maaf, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Anda seperti itu. Insya Allah, tidak. Allah sendiri melarang kita 'mengikuti' Quran jika kita belum memahaminya secara mendalam. Maksudnya, Allah mungkin lebih suka jika kita mempelajarinya dulu dengan sungguh-sungguh lalu mengamalkannya kemudian menyiarkan. Jadi memang hukum syariah dibahas dalam Fiqh, dan Ushul Fiqh jika terdapat hal-hal yang menjadi perdebatan. Allah yang lebih tahu apa yang Dia maksudkan dalam ayat-ayat yang didelegasikan kepada Rasulullah SAW. Kita manusia memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk mampu memahami kalimat2Nya dengan sebenar-benarnya. Faizaa azamta, fatawakkal alallah.  


ilmu diatas amal.....

tapi jangan menggunakan ilmu demi meringan - ringankan bahkan bebas dari amal